Home Blog Page 1086

Jelang Lebaran, Disperdagin Gelar Bazar Murah di Area Pemkab Bogor

Bogordaily.net – Jelang lebaran, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Bogor melaksanakan bazar murah di Lapangan Tegar Beriman, Kecamatan Cibinong, pada Kamis 20 Maret 2025.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperdagin) Kabupaten Bogor Arif Rahman menjelaskan bahwa,  kegiatan bazar murah ini dilakukan untuk memberikan kebutuhan kebutuhan dengan harga murah, ditengah kenaikan harga menjelang hari raya idul fitri.

Salah satunya, Minyakita dengan harga Rp.14.700 dari harga pasaran mencapai Rp.17.700 kemudian telur dengan harga Rp. 24.000, dari harga Rp. 27.000.

“Jadi menjelang idul fitri ternyata kan harga di pasaran juga kan naik. Kita coba memberikan kesempatan kepada warga masyarakat untuk memperoleh harga pangan di bawah pasaran,” kata Arif kepada wartawan, Kamis 20 Maret 2025.

Ia menjelaskan, kegiatan itu akan berlangsung selama dua hari, tentunya untuk bisa memberikan kesempatan masyarakat di Kabupaten khususnya Cibinong untuk dapat  berbelanja.

“Iya besok kita masih, sama kok jual produk dan kebutuhan menjelang lebaran, jadi kita berikan kesempatan pada masyarakat lah, 2 hari cukup buat kita berikan kesempatan,” jelasnya.

Arif menambahkan, pihaknya turut bekerja sama dengan Dinas Koperasi dan UMKM untuk menyediakan berbagai tenant tenant bagi kebutuhan harian masyarakat.

“UMKM kita hampir 19 tenda, kemudian ada bidang dari kadin, terus SKPD, dinas perikanan dan peternakan kemudian ada dari tenant modern indomaret alfamart dan sebagainya,” ujar Arif.

Lebih lanjut, pihaknya juga mengaku menjual berbagai kebutuhan pokok hari raya lainya, seperti parcel, pakaian, hingga kue lebaran.

“Produk yang kita jual ini kebutuhan pangan dan kebutuhan menjelang idul fitri, kat kue lebaran kemudian daging, telor, baju baju muslim,” ungkapnya.***

Albin Pandita

Algoritma dan Filter Bubble di Media Sosial

0

Bogordaily.net – Platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube telah mengubah cara orang berinteraksi dengan konten, berbagi, dan berkomunikasi melalui penggunaan sistem berbasis algoritma yang mempersonalisasi pengalaman pengguna. Alih-alih menampilkan konten secara kronologis, algoritma menganalisis berbagai faktor untuk menentukan konten yang paling relevan dan menarik bagi setiap individu, sehingga memengaruhi jenis konten yang dilihat dan pola keterlibatan pengguna. Dampak algoritma ini tidak hanya terbatas pada perilaku pengguna, tetapi juga membentuk tren masyarakat, dinamika sosial, dan bahkan kesehatan mental.

Algoritma media sosial memainkan peran penting dalam menentukan pengalaman pengguna di berbagai platform digital. Algoritma ini dirancang untuk menyaring, mengurutkan, dan menyajikan konten kepada pengguna berdasarkan preferensi dan perilaku mereka (Tri Andini et al., 2024). Namun, personalisasi ini menciptakan filter bubble. Menurut Bradshaw & Howard (2019), filter bubble menyebabkan hasil informasi yang tampil di beranda media sosial bukanlah hasil dari pilihan yang disengaja oleh pengguna, melainkan apa yang muncul sebagai saran didasarkan pada pengumpulan informasi dari beragam platform media sosial yang kemudian dijadikan bahan oleh algoritma sebagai dasar pemrosesan data. Akibatnya, terbentuklah echo chamber yang memperkuat keyakinan dan menciptakan lingkungan informasi yang homogen.

Filter Bubble dan Echo Chamber dalam Pembentukan Opini

 Dengan menyajikan konten yang sesuai dengan preferensi pengguna, algoritma memperkuat filter bubble yang membatasi paparan terhadap perspektif berbeda dan mendorong echo chamber yang memperkuat opini homogen dalam kelompok tertentu. Kondisi ini memicu polarisasi sosial serta mempermudah penyebaran hoaks dan distorsi informasi karena pengguna cenderung lebih percaya pada konten yang sejalan dengan pandangan mereka. Akibatnya, dialog sosial yang sehat terhambat dan toleransi terhadap perbedaan opini dalam ruang publik digital semakin berkurang.

Algoritma media sosial telah dikaitkan dengan polarisasi politik di Amerika Serikat, terutama selama pemilihan presiden. Algoritma dapat menyebarkan disinformasi dan propaganda digital, yang memperburuk polarisasi dan mempengaruhi opini publik. Selain itu, Menurut Maisaroh, Novianty, dan Azalea (2024), algoritma Facebook berperan signifikan dalam memperkuat polarisasi politik di Medan selama Pemilu 2024. Algoritma Facebook mempersonalisasi konten berdasarkan interaksi dan preferensi pengguna, yang menciptakan echo chamber dan filter bubble, memperkuat keyakinan politik yang sudah ada, dan mengurangi keterbukaan terhadap pandangan yang berbeda. Konten yang cenderung sensasional atau kontroversial sering kali mendapatkan perhatian lebih besar, yang dapat mempercepat penyebaran disinformasi atau hoaks.

Strategi Mengatasi Dampak Algoritma

Untuk mengatasi dampak negatif algoritma dan filter bubble, diperlukan literasi digital yang lebih baik agar pengguna lebih kritis dalam mengonsumsi informasi dan menyadari bias algoritma. Edukasi mengenai cara kerja algoritma dan pentingnya mengeksplorasi sumber informasi yang beragam dapat membantu memperluas perspektif pengguna dan mengurangi efek echo chamber. Selain itu, transparansi algoritma oleh platform media sosial menjadi penting untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada pengguna mengenai bagaimana konten dipersonalisasi. Pendekatan ini perlu didukung dengan regulasi yang mendorong platform digital agar lebih akuntabel dalam mengelola algoritma dan distribusi informasi.

Selain itu, representasi kelompok minoritas dalam konten yang disajikan oleh algoritma juga perlu diperhatikan. Menurut Maisaroh, Novianty, dan Azalea (2024), ketidakseimbangan representasi dapat memperkuat bias algoritma dan mempersempit perspektif pengguna. Dengan memastikan keberagaman konten, algoritma dapat membantu menciptakan ruang publik digital yang lebih inklusif dan mendorong dialog sosial yang lebih sehat.***

 

Asyri Abghi Rahmah, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Asty Khairi Inayah: Perjalanan Akademisi dari Perbankan ke Dunia Pendidikan dan Riset

0

Bogordaily.net – Asty Khairi Inayah lahir pada 20 Agustus 1992 di London. Ia adalah seorang dosen dan akademisi yang mengkhususkan diri di bidang manajemen, keuangan, dan akuntansi.

Meskipun hanya menghabiskan empat tahun di luar negeri akibat pekerjaan ayahnya yang seorang banker, ia akhirnya kembali ke Indonesia dan menetap di Tangerang Selatan.

Keluarga besar Asty berasal dari keturunan Betawi, yang menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup serta identitasnya.

Pendidikan awal Asty dimulai di Madrasah Pembangunan Jakarta, diikuti oleh SMP 87 Pondok Pinang, lalu SMA 82 Kebayoran Baru di Jakarta Selatan.

Ia kemudian melanjutkan studi tinggi di Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan mengambil jurusan Statistika melalui jalur PMDK, dan berhasil meraih gelar Sarjana pada tahun 2014.

Usai menyelesaikan pendidikan S1, Asty melanjutkan studi S2 di Program Magister Manajemen Konsentrasi Keuangan di PPM Manajemen.

Tak lama setelah itu, ia juga meneruskan pendidikan S2 di Universitas Indonesia (UI) dengan fokus pada Ilmu Manajemen dan konsentrasi dalam Strategi Manajemen, yang ia selesaikan pada tahun 2017.

Sambil menempuh pendidikan S2, Asty memulai karir profesionalnya di dunia perbankan. Ia memperoleh pekerjaan pertamanya di Permata Bank sebagai banker pada tahun yang sama.

Namun, seiring berjalannya waktu, ia merasa kurang berkembang di sektor perbankan akibat terbatasnya peluang riset dan pengembangan diri.

Hal ini mendorongnya untuk beralih ke dunia akademik, yang dinilai lebih sesuai dengan keinginan untuk menjelajahi berbagai bidang keilmuan serta mengasah kemampuan komunikasi, terutama dalam public speaking.

Akhirnya, Asty bergabung sebagai dosen tetap di SV IPB program studi Akuntansi dan mulai mengajar di berbagai program.

Pada 2023, ia melanjutkan studi S3 di Universitas Indonesia, sebagai bentuk komitmennya untuk terus belajar dan berkarya di dunia akademik.

Dalam perjalanan mengajarnya, Asty menghadapi tantangan besar, yaitu kurangnya kesadaran mahasiswa untuk membaca dan menggali informasi dengan mendalam.

Ia berkeyakinan bahwa mahasiswa perlu mengembangkan kemampuan mandiri, seperti mengalokasikan waktu untuk membaca dan mencari informasi.

Menurutnya, mahasiswa yang proaktif dalam berusaha akan lebih siap menghadapi tantangan di dunia kerja setelah lulus.

Selain sebagai pengajar, Asty juga aktif dalam penelitian. Salah satu fokus penelitiannya adalah keuangan mikro serta pemberdayaan UMKM.

Ia menyadari pentingnya literasi keuangan bagi para pelaku UMKM, mengingat banyak di antara mereka yang belum memisahkan uang pribadi dari uang usaha, yang dapat menjadi kendala dalam pengelolaan keuangan yang baik.

Asty berkomitmen untuk melakukan penelitian yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam pengembangan UMKM.

Melihat perkembangan akuntansi di era digital, Asty memperhatikan perubahan signifikan di mana teknologi terus berkembang pesat.

Pekerjaan yang dahulu dianggap aman dalam bidang akuntansi kini harus beradaptasi dengan kemajuan teknologi.

Ia menekankan pentingnya integrasi antara akuntansi dan teknologi, serta kemampuan untuk beradaptasi dengan dinamika zaman yang terus berubah.

Dalam dunia pendidikan, Asty memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan vokasi di bidang akuntansi.

Ia meyakini bahwa pendidikan vokasi seharusnya berfokus pada pengajaran yang aplikatif dan dapat diimplementasikan secara langsung di dunia kerja.

Salah satu kontribusinya yang mencolok adalah pengembangan aplikasi yang membantu lembaga keuangan mikro dalam mengidentifikasi daerah-daerah potensial untuk dijadikan lokasi pendanaan.

Harapannya, perkembangan digital di sektor permodalan dapat berlangsung lebih cepat dan transparan, sehingga semakin banyak Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang merasakan manfaatnya.

Asty juga menyampaikan pesan motivasi kepada mahasiswa yang bercita-cita berkarir di bidang akuntansi.

Ia menekankan pentingnya terus belajar dan mengintegrasikan ilmu yang diperoleh dengan disiplin ilmu lainnya demi mencapai kesuksesan.

“Dalam menekuni dunia akuntansi, mahasiswa harus juga menekuni bidang lain, karena akuntansi sangat memiliki keterikatan dengan profesi atau bidang lain,” ujar Asty, Kamis (20/3/2025).

Dengan berbagai pengalaman hidup dan karir yang kaya, Asty Khairi Inayah telah menjadi sosok inspiratif bagi banyak orang, terutama mahasiswa yang berminat berkarir di bidang akuntansi dan manajemen.

Dedikasinya dalam pendidikan dan penelitian senantiasa memberikan kontribusi bagi perkembangan dunia akademik dan praktik profesional di Indonesia. ***

Hip Dut: Sekadar Tren atau Akan Bertahan?

0

Oleh: Asyri Abghi Rahmah, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Dalam dunia musik Indonesia, tren baru selalu muncul dan menarik perhatian. Salah satu fenomena yang sedang naik daun adalah Hip Dut, perpaduan unik antara hip hop dan dangdut, atau beberapa warga dunia maya menyebutnya dengan “Dangdut Gen Z”. Namun, pertanyaannya adalah, apakah Hip Dut hanya sekadar tren sesaat, ataukah ini menjadi pertanda evolusi musik Indonesia?

Istilah Hip Dut pertama kali mencuat ke publik setelah lagu Garam dan Madu (Sakit Dadaku) viral di media sosial. Lagu ini menggabungkan elemen hip hop yang modern dengan dangdut yang kental dengan budaya lokal. Keberhasilan lagu ini mengantarkan Hip Dut ke panggung utama industri musik dan menjadikannya trendsetter di kalangan anak muda. Namun, mengingat sifat tren musik yang cenderung cepat berubah, muncul pertanyaan apakah Hip Dut akan bertahan lama atau hanya menjadi fenomena sesaat.

Kesuksesan Garam dan Madu tidak hanya berhenti di situ, tetapi juga membuka jalan bagi lagu-lagu lain dengan konsep serupa, seperti Aku Dah Lupa, yang juga mendapatkan respons positif. Musik ini digemari oleh anak muda karena menghadirkan sesuatu yang fresh, memadukan dua genre yang berbeda dengan cara yang unik, serta memiliki lirik yang relatable dengan kehidupan sehari-hari.

Popularitas Hip Dut juga dapat dilihat dari jumlah streaming yang tinggi di platform digital seperti Spotify. Sebagai contoh, lagu Aku Dah Lupa menempati posisi tinggi di tangga lagu dan menjadi bahan pembicaraan di media sosial. Selain itu, elemen catchy dalam lirik dan melodi lagu ini membuatnya mudah diingat dan disukai oleh pendengar, khususnya mereka yang mengalami proses move on dari hubungan masa lalu. Ini menunjukkan bahwa Hip Dut berhasil menarik perhatian audiens yang luas, khususnya generasi muda yang aktif di dunia digital.

Sejarah musik telah menunjukkan bahwa tren bisa datang dan pergi dengan cepat. Misalnya, tren musik boy band dan girl band yang diadaptasi dari Korea juga sempat muncul di Indonesia pada 2010-an, dan koplo remix yang pernah viral. Pergeseran tren ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perkembangan teknologi, perubahan selera pasar, serta munculnya genre baru yang lebih menarik bagi pendengar.

Anak muda sebagai konsumen utama industri musik cenderung cepat bosan dan selalu mencari sesuatu yang baru. Genre yang saat ini digemari mungkin akan tergeser oleh tren lain dalam beberapa tahun ke depan. Oleh karena itu, meskipun Hip Dut sedang berada di puncak popularitas, ada kemungkinan besar bahwa genre ini akan mengalami nasib serupa dengan tren-tren sebelumnya, kecuali jika ada inovasi yang menjaga relevansinya.

Agar tetap relevan, Hip Dut perlu berkembang dan beradaptasi. Salah satu cara yang mungkin dilakukan adalah dengan memadukan elemen lain dari genre berbeda, seperti EDM atau pop modern, untuk menciptakan variasi yang lebih luas. Selain itu, inovasi dalam produksi musik dan pengolahan lirik juga dapat membantu mempertahankan daya tariknya.

Selain dari segi musikalitas, strategi pemasaran juga berperan penting. Jika musisi Hip Dut mampu memanfaatkan media sosial dan platform digital dengan baik, mereka bisa memperpanjang umur tren ini. Kolaborasi dengan musisi dari genre lain juga dapat membuka peluang baru bagi Hip Dut untuk tetap bertahan di industri musik yang kompetitif.

Secara keseluruhan, Hip Dut adalah fenomena musik yang sedang populer di kalangan anak muda. Perpaduan hip hop dan dangdut berhasil menciptakan sesuatu yang unik dan menarik perhatian. Namun, mengingat sifat tren musik yang dinamis, ada kemungkinan besar bahwa popularitas Hip Dut akan meredup seiring berjalannya waktu.

Untuk bertahan, musisi Hip Dut perlu terus berinovasi, baik dalam segi musikalitas maupun strategi pemasaran. Hal ini dapat menjadi pelajaran bahwa tren musik selalu mencerminkan perubahan budaya dan selera masyarakat. Oleh karena itu, selagi Hip Dut masih populer, tidak ada salahnya untuk menikmatinya, sambil tetap membuka diri terhadap perkembangan musik lainnya di masa depan.

 

 

Pejabat Liburan, Rakyat Sengsara

0

Oleh: Aldy Satya Roosputranto Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Isu pengelolaan keuangan negara sering kali menjadi topik kontroversial serta dapat memicu perdebatan berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia. Dalam rapat evaluasi 100 hari kinerja Presiden Prabowo Subianto, ia mengatakan bahwa perlunya rencana pemotongan anggaran untuk perjalanan dinas luar negeri bagi para pejabat negara. Hal ini merupakan langkah yang sangat baik untuk meningkatkan efisiensi anggaran serta memperioritaskan penggunaan dana publik untuk kepentingan rakyat Indonesia. Anggaran perjalanan pejabat keluar negeri memakan dana sebesar Rp.47 triliun. Angka tersebut merupakan angka yang fantatis menginggat masih banyak yang perlu diperbaiki didalam negeri kita. Banyak masyarakat yang masih kesusahan untuk menjalani hidup dikarenakan biaya yang tinggi.

Penderitaan Masyarakat

Melihat kondisi ekonomi saat ini, pemotongan anggaran perjalanan dinas luar negeri bagi pejabat negara merupakan langkah yang sangat diperlukan. Peristiwa COVID-19 menjadi salah satu penyebab ketidak stabilan ekonomi Indonesia akhir-akhir ini. COVID-19 merupakan tantangan yang sangat berat bagi negara kita. Mengingat sulitnya mencari biaya apabila ekonomi negara tidak berjalan. Dalam pemotongan biaya ini pemerintah harus cermat dalam mengelola keuangan yang terbatas. Pemotongan anggaran ini dapat dialokasikan untuk program-progam mendesak seperti Pendidikan, Kesehatan, dan infrastruktur.

Alasan saya mendukung program pemotongan anggaran pejabat adalah efisiensi pengguaan dana publik. Setiap rupiah yang dikeluarkan oleh pemerintah harus memberikan sebuat dampak terhadarp masyarakat. Pasalnya anggaran yang dikeluarkan untuk dinas luar negeri seringkali memakan biaya yang sangat tinggi mulai dari biaya tiket, akomodasi, hingga makan dan transportasi selama di negara orang. Banyak pejabat yang telah menggunakan anggaran tersebut namun tidak memberikan dampak positif yang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

Pemotongan anggaran ke luar negeri juga dapat meningkatkan transparansi dana dan akuntabilitas pemerintahan. Masyarakat Indonesia berhak mengetauhi bagaimana uang pajak yang mereka bayar untuk keperluan negara. Pada saat pejabat melakukan dinas ke luar negeri, masyarakat sering kali sulit untuk menilai apakah perjalanan tersebut memberikan sebuah dampak atau hanya sebagai formalitas saja. Transparansi dana dalam pemerintah juga sangat penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap kinerja para pejabat. Ketika masyarakat melihat bahwa pemerintah mengambil langkah-langkah konkret untuk mengurangi pemborosan dana, masyarakat akan merasa bahwa pejabat negara melakukan dinas dengan baik. Dengan memotong anggaran perjalanan dinas ke

 

luar negeri, pemerintah dapat menunjukan kepada masyarakat untuk memperlihatkan komitmenya terhadap pengelolaan keuangan yang baik dan bertanggung jawab.

Pemotongan anggaran perjalanan dinas luar negeri juga dapat mendorong inovasi dalam cara pemerintahan beroperasi. Pejabat negara perlu berpikir kreatif tentang bagaimana mereka dapat mencapai tujuan diplomatik dan kebijakan tanpa harus melakukan perjalanan fisik ke luar negeri. Ini bisa mencakup peningkatan penggunaan video conference atau forum online lainnya yang memungkinkan interaksi langsung dengan mitra internasional tanpa biaya tinggi.

Dari Rakyat Untuk Negara

Dari sudut pandang moral dan etika, pemotongan anggaran ini juga mencerminkan komitmen pemerintah terhadap prinsip kesederhanaan dan kepedulian terhadap kondisi masyarakat. Di tengah tantangan ekonomi yang dihadapi oleh banyak warga negara Indonesia akibat pandemi dan krisis global lainnya, tidak etis jika pejabat negara terus melakukan perjalanan mewah sementara rakyat harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Dengan mengambil langkah-langkah penghematan seperti ini, pemerintah menunjukkan bahwa mereka memahami kesulitan yang dialami oleh rakyat dan berusaha untuk berbagi beban tersebut.

Kebijakan pemotongan anggaran ini harus dilakukan dengan bijaksana. Ini bukan berarti bahwa semua perjalanan dinas luar negeri harus dihentikan sepenuhnya; ada kalanya perjalanan tersebut memang diperlukan untuk kepentingan nasional atau diplomasi internasional yang mendesak. Namun, dengan menetapkan batasan yang jelas dan memastikan bahwa setiap perjalanan memiliki tujuan yang jelas serta manfaat yang terukur bagi masyarakat, pemerintah dapat memastikan bahwa penggunaan dana publik tetap efisien.

Secara keseluruhan, pemotongan anggaran perjalanan dinas luar negeri bagi pejabat negara adalah langkah positif dalam upaya meningkatkan efisiensi penggunaan dana publik dan memperkuat transparansi serta akuntabilitas pemerintahan. Di tengah tantangan ekonomi yang dihadapi oleh bangsa kita saat ini, penting bagi pemerintah untuk menunjukkan komitmen terhadap pengelolaan keuangan yang baik dan bertanggung jawab.Dengan memprioritaskan penggunaan dana publik untuk program-program yang lebih mendesak dan bermanfaat bagi masyarakat luas seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur pemerintah tidak hanya akan mendapatkan kepercayaan masyarakat tetapi juga akan memperkuat fondasi pembangunan bangsa di masa depan. Melalui langkah- langkah penghematan seperti ini, kita dapat berharap agar Indonesia menjadi lebih kuat dan lebih siap menghadapi berbagai tantangan global di masa depan. Dengan demikian, kita semua dapat berkontribusi pada Pembangunan bangsa untuk menuju masa depan yang lebih baik.

Satu Hari, Seribu Cerita di TMII

0

Bogordaily.net – Sore itu, matahari mulai turun perlahan, mengubah langit Bogor menjadi gradasi jingga yang indah. Udara yang sebelumnya panas perlahan menjadi lebih sejuk, menciptakan suasana yang nyaman setelah seharian mengikuti kuliah. Aku dan teman-teman masih mengenakan pakaian kuliah saat kami berjalan keluar dari gedung kampus, membawa tas yang tidak hanya berisi buku dan laptop, tetapi juga kebutuhan lainnya seperti kain batik untuk digunakan saat foto di tempat yang akan kami tuju.

Hari itu, kami memutuskan untuk pergi ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Bukan untuk sekadar berwisata, melainkan untuk memenuhi tugas mata kuliah Festival Budaya. Kami mendapat kesempatan untuk menggali lebih dalam tentang budaya Riau, dan tentu saja kami memutuskan untuk datang langsung ke Anjungan Riau di TMII.

Namun, perjalanan ini bukan sekadar perjalanan biasa. Kami harus menempuh perjalanan cukup panjang dari Bogor ke Jakarta, menggunakan transportasi umum yang sudah sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari yaitu KRL dan LRT. Meskipun jaraknya jauh, ada sesuatu yang membuat perjalanan ini terasa lebih menyenangkan karena pergi bersama teman-teman, berbagi cerita, tawa, dan tentu saja, pengalaman yang baru.

Perjalanan dimulai dari Stasiun Bogor, tempat kami bergegas menuju pintu masuk dan menempelkan kartu elektronik di mesin tap-in. Waktu sudah menunjukkan sore hari, dan suasana stasiun masih dipenuhi oleh orang-orang yang baru pulang kerja atau kuliah. Kami ikut berbaur dalam keramaian itu, menunggu kereta yang akan membawa kami menuju Stasiun Cawang.  Begitu KRL datang, kami segera masuk dan mencari tempat yang nyaman. Sayangnya, jam pulang kantor membuat gerbong penuh sesak. Untungnya, beberapa dari kami masih ada yang mendapatkan tempat duduk tetapi ada juga yang berdiri berdesakan dengan penumpang lainnya. Udara di dalam gerbong terasa lebih panas dibandingkan di luar, tetapi tidak mengurangi semangat kami untuk melanjutkan perjalanan.

Perjalanan dari Bogor ke Cawang memakan waktu hampir satu jam. Selama itu, aku bisa melihat kegiatan yang dilakukan dalam setiap perjalanan menggunakan KRL. Ada yang sibuk dengan ponselnya, ada yang tertidur sambil berdiri, dan ada pula yang seperti kami, menikmati perjalanan dengan tawa dan cerita-cerita ringan.  Setibanya di Stasiun Cawang, kami turun dan berjalan menuju jalur LRT. Ini pertama kalinya bagi beberapa teman kami naik LRT, sehingga ada sedikit kebingungan saat mencari peron yang tepat. Namun, begitu kami naik dan duduk di dalam kereta yang modern dan bersih, suasana berubah menjadi penuh semangat. Dari atas rel yang membentang di ketinggian, kami bisa melihat Jakarta dari sudut yang berbeda. Gedung-gedung tinggi berdiri megah, kendaraan berlalu lalang di bawah sana, dan langit yang mulai berubah warna semakin menambah keindahan perjalanan ini.

Setelah beberapa saat, kami akhirnya sampai di TMII. Begitu turun dari LRT, kami berjalan menuju area utama taman budaya ini. Waktu sudah semakin sore, dan lampu-lampu mulai dinyalakan, memberikan suasana yang lebih hangat. Kami berjalan bersama-sama menuju Anjungan Riau, tempat utama dalam perjalanan ini. Meskipun lelah setelah menempuh perjalanan panjang, semangat kami tidak surut. Langkah kami semakin mantap ketika melihat bangunan rumah adat khas Riau yang berwarna kuning itu berdiri megah di depan mata.

Di sana, kami disambut oleh pengelola anjungan, yang dengan ramah menyapa kami dan mempersilakan kami masuk. Kami langsung diajak berbincang tentang budaya Riau antara lain tentang adat istiadat, sejarah, dan bagaimana budaya ini tetap dijaga hingga saat ini. Kami juga mengamati berbagai koleksi yang ada di dalam anjungan. Salah satu yang menarik adalah pakaian adat Riau dengan motif dan warna khas. Selain itu, ada juga senjata tradisional khas Riau, yang memiliki makna tersendiri dalam sejarah dan kehidupan masyarakatnya.

Salah satu momen yang paling kami nantikan adalah sesi foto. Kami mengenakan kain batik yang sengaja kami bawa dari rumah. Dengan latar belakang rumah adat Riau yang megah, kami berfoto bersama mengenakan kain batik tersebut. Hasilnya? Luar biasa! Foto-foto ini tidak hanya sekadar dokumentasi, tetapi juga kenangan yang tak terlupakan apalagi tentang kebersamaannya. Setelah puas berfoto, pengalaman paling berkesan lainnya adalah ketika kami mencicipi makanan khas Riau. Hidangan yang kaya akan rempah dan cita rasa khas Melayu, makanan ini benar-benar bagian dari identitas budaya yang menghubungkan masyarakat dengan tradisi mereka.  Waktu terasa berjalan begitu cepat. Setelah selesai berbincang dan menikmati hidangan khas Riau, kami menyadari bahwa malam sudah semakin larut. Kami harus segera pulang sebelum transportasi umum berhenti beroperasi.

Perjalanan pulang kami lakukan dengan rute yang sama dari TMII menuju stasiun LRT, lalu kembali ke Stasiun Cawang untuk naik KRL menuju Bogor. Namun, perjalanan pulang ini terasa berbeda. Ada rasa puas dan senang karena kami tidak hanya menyelesaikan tugas kuliah, tetapi juga mendapatkan pengalaman baru yang tak ternilai. Di dalam KRL, suasana lebih tenang dibandingkan saat berangkat. Sebagian dari kami mulai merasa mengantuk, sementara yang lain masih asyik membahas pengalaman yang baru saja kami lalui.

Kami tiba di Stasiun Bogor larut malam, lebih lelah dari biasanya, tetapi dengan hati yang penuh cerita. Festival budaya yang awalnya hanya kami anggap sebagai tugas, kini terasa lebih bermakna. Bukan hanya tentang kunjungan atau mencari informasi, tetapi tentang bagaimana perjalanan ini membuka mata kami terhadap keindahan budaya Indonesia dan kebersamaan bersama teman. Karena sesungguhnya, perjalanan bukan hanya tentang tiba di tujuan, tetapi juga tentang pengalaman dan sebuah cerita  yang kita dapatkan di sepanjang jalan.***

 

Adzra Nur Hidayat Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Toxic Atau Positif? Mencermati Pola Komunikasi di Game Online

0

Bogordaily.net – Diera digital seperti saat ini, popularitas video game terus meningkat setiap tahunnya. Seiring dengan perkembangan teknologi, industri game mengalami kemajuan pesat, baik dari segi grafis, mekanisme permainan, hingga fitur-fitur yang semakin interaktif. Salah satu fitur yang semakin banyak diadopsi oleh berbagai game modern adalah fitur Co-op atau multiplayer, yang memungkinkan pemain untuk bermain bersama dalam satu dunia virtual yang sama. Fitur ini tidak hanya memberikan pengalaman bermain yang lebih seru dan menantang, tetapi juga membuka ruang bagi komunikasi antar pemain, yang dikenal sebagai in-game communication

In-game communication sendiri hadir dalam berbagai bentuk, tergantung pada kebijakan dan inovasi dari masing-masing pengembang game. Beberapa game menyediakan text chat, di mana pemain dapat berkomunikasi menggunakan tulisan dalam kotak percakapan. Fitur ini sering digunakan dalam game berbasis strategi atau MMORPG (Massively Multiplayer Online Role-Playing Game), di mana pemain perlu menyusun rencana dan berbagi informasi secara tertulis. Selain itu, ada pula game yang menyediakan voice chat, yang memungkinkan pemain berbicara langsung dengan rekan satu tim menggunakan mikrofon, seperti saat melakukan panggilan telepon. Fitur ini sangat umum ditemukan dalam game-game kompetitif, seperti first-person shooter (FPS) di mana komunikasi cepat dan efektif sangat penting untuk dapat menjadi pemenangnya.

Namun, komunikasi dalam game tidak hanya terbatas pada kebutuhan strategi saat bermain. Banyak pemain yang menggunakan fitur ini sebagai sarana untuk bersosialisasi dan membangun hubungan dengan pemain lain. Sudah lumrah, pertemanan yang dimulai dari game bisa berkembang menjadi hubungan yang erat di dunia nyata. Banyak komunitas game yang terbentuk dari interaksi dalam game, mulai dari grup kecil hingga forum besar yang berisi ribuan anggota dari berbagai belahan dunia. Selain itu, game online juga memberikan peluang bagi individu yang pemalu untuk lebih mudah bersosialisasi. Bagi sebagian orang, berbicara dalam dunia virtual terasa lebih nyaman dibandingkan interaksi tatap muka, karena tidak ada tekanan sosial yang sering dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kemampuan game untuk menghubungkan orang-orang dari berbagai latar belakang ini menunjukkan bahwa in-game communication bukan sekadar alat bantu dalam bermain, tetapi juga berperan dalam membentuk pola komunikasi baru di era digital. Dengan semakin berkembangnya fitur komunikasi dalam game, batas antara dunia virtual dan dunia nyata semakin menipis, menjadikan game sebagai salah satu sarana utama bagi anak muda untuk berinteraksi dan membangun relasi sosial.

Perubahan Pola Komunikasi di Game Online

Seiring berkembangnya game online, pola komunikasi antar pemain pun ikut berubah. Salah satu yang paling mencolok adalah munculnya istilah-istilah khusus yang hanya dipahami oleh komunitas gamer. Misalnya, kata “GG” (Good Game) digunakan untuk menunjukkan rasa sportivitas setelah pertandingan, sementara istilah “noob” sering digunakan untuk menyebut pemain yang masih pemula atau kurang “jago”. Adapula istilah-istilah seperti “AFK” yaitu yang merupakan singkatan dari Away From Keyboard, yang berarti sang pemain sedang tidak aktif di dalam game. Penggunaan istilah-istilah ini tidak hanya mempercepat komunikasi, tetapi juga menciptakan budaya tersendiri di dalam komunitas game. Hal ini bermanfaat untuk mempercepat komunikasi di dalam game, khususnya pada game yang memiliki alur cepat seperti MMORPG.

Selain itu, komunikasi multikultural juga dapat terjadi di dalam game. Pasalnya, pemain dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan pemain lainnya yang memiliki perbedaan latar belakang budaya, maupun pemain-pemain yang berasal dari berbagai negara lain. Hal ini membuat pemain terbiasa mendengar berbagai bahasa dan gaya komunikasi yang berbeda. Dalam beberapa game, seperti MMORPG, pemain harus bekerja sama dengan orang-orang dari berbagai negara, sehingga mereka mulai mengadaptasi bahasa yang dapat dimengerti semua orang, seperti menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama mereka untuk berkomunikasi pada saat game dimulai, atau mengandalkan komunikasi non-verbal seperti emoji. Dengan adanya interaksi ini, banyak pemain yang secara tidak sadar meningkatkan kemampuan bahasa asing mereka dan belajar memahami perbedaan budaya antar pemain.

Mencermati Pola Komunikasi di Game online

Komunikasi dalam game online memiliki banyak manfaat, salah satunya melatih kerja sama tim. Banyak game yang mengharuskan pemain untuk berdiskusi dan berkoordinasi agar bisa memenangkan pertandingan, yang secara tidak langsung mengasah keterampilan komunikasi dan strategi.Selain itu, game juga membantu meningkatkan keterampilan sosial, terutama bagi individu yang pemalu atau sulit berinteraksi di dunia nyata. Banyak pemain yang lebih percaya diri berbicara dalam lingkungan virtual dan bahkan menjalin pertemanan yang berlanjut ke dunia nyata. Tidak hanya itu, game online juga dapat menjadi media pembelajaran bahasa, karena pemain terbiasa membaca instruksi dalam bahasa asing serta memahami istilah baru dalam konteks yang interaktif. Di sisi lain, komunikasi dalam game online juga memiliki dampak negatif. Salah satu yang paling umum adalah toxic behavior, di mana pemain menggunakan kata-kata kasar, menghina rekan satu tim, atau bahkan melakukan cyberbullying, terutama dalam game kompetitif. Masalah lain adalah diskriminasi dan pelecehan, terutama terhadap pemain perempuan yang sering menerima komentar tidak pantas. Selain itu, beberapa pemain juga mengalami diskriminasi berdasarkan aksen atau negara asal mereka, yang memperburuk pengalaman bermain game.

Pola-pola komunikasi ini dapat terjadi akibat dari faktor pengalaman masing-masing pemain. Sebuah penelitian di Bandung yang menggabungkan antara 10 pemain game online “Mobile Legends” telah membuktikan hal ini. Dalam penelitiannya, Irwanto (2023) menemukan bahwa setiap pemain game online memiliki pola komunikasi yang berbeda-beda. Faktor pengalaman mempengaruhi pola komunikasi yang terjadi antar pemain. Selain itu, ditemukan adanya kesenjangan komunikasi jika pengalaman antar individu memiliki perbedaan yang signifikan.

Untuk menciptakan lingkungan yang lebih positif dalam game online, pemain perlu menerapkan etika komunikasi yang baik. Salah satunya adalah menggunakan bahasa yang sopan dan menghargai pemain lain, baik saat menang maupun kalah. Selain itu, penting untuk menghindari toxic behavior, seperti berkata kasar atau menghina tema  satu tim. Pemain juga harus menggunakan komunikasi secara bijak, misalnya dengan tidak menyebarkan informasi pribadi serta menghormati perbedaan budaya dan bahasa dalam game. Dengan menerapkan etika yang baik, game online dapat menjadi sarana yang positif untuk bersosialisasi, belajar, dan bekerja sama, tanpa adanya perilaku negatif yang merusak pengalaman bermain.

 

Saskia Salsabila | Komunikasi Digital dan Media IPB University

 

Salah Paham dalam Melihat Kekerasan Musik Beatdown-hardcore

0

Oleh: Raefa Raja Augena, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB

 

Dalam beberapa bulan terakhir, video-video gigs Beatdown-hardcore yang menapilkan aksi crowd killing dan moshing brutal sering kali menjadi bahan perdebatan bahkan olok-olokan di internet, khususnya di kalangan netizen Indonesia. Banyak yang menganggap aksi tersebut sebagai bentuk kekerasan yang tidak bisa dibenarkan. Namun, anggapan ini muncul karena kurangnya pemahaman terhadap budaya asli dari skena beatdown-hardcore itu sendiri.

Budaya menikmati seperti ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. Musik-musik seperti ini sudah lama ada tapi memang keberadaannya berada di bawah tanah. Hal ini disebabkan karena tidak banyak orang yang bisa menerima kekhasan dari musik Beatdown-hardcore ini. Karena masifnya internet, sekarang, musik-musik seperti ini sudah memasuki arus utama dalam informasi perihal musik, yang akhirnya banyak netizen yang mengkritisi budaya ini tanpa tahu sejarah awalnya.

Awal Kekerasan di Lantai Dansa 

Sulit untuk mencari asal muasal dari Beatdown-hardcore itu sendiri. Dari apa yang saya tahu, bahwa Beatdown-hardcore adalah subgenre dari Hardcore punk yang berkembang di Amerika Serikat pada awal 1990-an yang diawali dengan berpindahnya band Bad Brains ke New York yang pada akhirnya menjadi pengaruh besar dalam pembentukan skena New York Hardcore (NYHC). Dari skena Hardcore tersebut terciptalah etos Straight Edge, Tough Guy, dan beberapa etos kolektif lainnya. Namun, yang dominan menjadi asal-muasal dari kekerasan di lantai dansa berasal dari etos Tough Guy yang bersifat super maskulin yang akhirnya melahirkan subgenre Beatdown-hardcore yang keras dan kasar.

Musik ini memiliki tempo yang lebih lambat dan nuansa yang lebih berat dibandingkan hardcore tradisional, dengan fokus pada breakdown(bagian tertentu dari sebuah lagu yang ritme, melodi, dan energinya mengalami perubahan dramatis) yang menghancurkan dan lirik yang sering kali mencerminkan perjuangan hidup kaum tertindas serta kemarahan terhadap sistem.

Karena musiknya yang agresif dan maskulin akhirnya tecipta selayaknya konsensus tentang bagaimana cara menikmati beatdown-hardcore agar mengikuti energi yang dihasilkan oleh music tersebut. Crowd killing, stage diving, windmill kicks, dan berbagai bentuk moshing keras lainnya bukanlah bentuk kekerasan yang sembarangan, melainkan sebuah ekspresi kolektif dari komunitas yang sudah memahami aturan tidak tertulis dalam skena ini. Di dalamnya, ada respek antar sesama penggemar. Mereka tahu risiko dan konsekuensi ketika masuk ke dalam gigs tersebut, dan hal itu menjadi bagian dari pengalaman Beatdown-hardcore yang otentik.

Kemungkinan lain mengapa kekerasan bisa menjadi bagian dari skena musik tersebut juga karena faktor geografi sosial asal musik tersebut lahir. Laju cepat kota New York, hiruk pikuk, dan etos kerja yang keras yang dilahirkan di tanah tersebut juga bisa menjadi alasan mengapa orang dapat menciptakan sebuah genre musik yang sesuai dengan energi yang dipancarkan di tempat tersebut.

 

Kontras Kebudayaan

Berbeda dengan Indonesia yang kental dengan sejarahnya dengan musik melayu. Alunan lagu-lagu melayu yang mendayu-dayu dan lirik-liriknya yang melankolis pun membuat budaya dalam menikmati musik dan cara pandang terhadap musik menjadi berbeda. Masayarakat Indonesia lebih mudah untuk menikmati musik dengan irama yang santai dan lirik yang terkesan sederhana.

Ditambah dengan budaya konser genre musik alternatif di Indonesia yang masih lebih banyak didominasi oleh norma yang lebih tertata, seperti crowd surf ringan di konser punk atau headbanging di konser metal. Ketika aksi crowd killing muncul di konser lokal, banyak netizen yang melihatnya sebagai tindakan barbar yang tidak beretika. Mereka cenderung menilai dari sudut pandang masyarakat umum, bukan dari perspektif komunitas yang memang sudah terbiasa dengan budaya tersebut.

Ketidaksiapan ini juga diperburuk oleh sifat media sosial yang sering kali mengamplifikasi hal-hal yang terlihat “mengerikan” tanpa konteks. Sebuah video singkat seseorang terkena tendangan di  mosh pit bisa dengan mudah viral dan memicu reaksi negatif, tanpa ada penjelasan bahwa itu adalah bagian dari kultur beatdown-hardcore yang telah berlangsung puluhan tahun.

 

Semangat Komparasi

Tidak semua jenis musik harus dinikmati dengan cara yang sama. Dalam skena beatdown-hardcore, adrenalin dan ekspresi fisik adalah bagian dari pengalaman musikal. Menghakimi budaya ini sebagai sesuatu yang salah hanya karena tidak sesuai dengan norma mayoritas adalah bentuk intoleransi budaya yang sempit.

Alih-alih langsung mencapnya sebagai kekerasan, penting untuk memahami bahwa skena ini memiliki kode etiknya sendiri. Jika seseorang merasa tidak nyaman atau tidak siap menerima risiko dari pit, pilihan terbaik adalah menikmati konser dari area yang lebih aman. Seperti halnya budaya lain, memahami dan menghormati perbedaannya jauh lebih baik daripada menghakimi tanpa dasar.

Beatdown-hardcore bukan untuk semua orang, dan itu tidak menjadi masalah. Tapi bagi mereka yang memahami dan menikmati budaya ini, crowd killing dan aksi kasar lainnya bukanlah sekadar kekerasan—itu adalah bagian dari identitas dan ekspresi diri yang telah menjadi tradisi puluhan tahun.

Pada akhirnya, masalah seperti ini hanyalah perihal preferensi kesenian yang menghasilkan solusi yang sebenarnya tidak solutif. Tidak ada solusi instan untuk masalah ini, hanya waktu yang semoga akan melunturkan cara pandang orang terhadap kesenian yang berbeda seperti Beatdown-hardcore ini.

 

 

 

           

Jurnalisme di Era Media Sosial: Antara Kemudahan Informasi dan Matinya Kepakaran

0

Bogordaily.net – Dikutip dari jurnal yang berjudul Fenomena Matinya Kepakaran: Tantangan Dakwah di Era Digital, “globalisasi yang ditandai dengan kemajuan pesat di bidang teknologi dan informasi membuat dunia ini ada dalam genggaman.  Berbagai  informasi  dari  belahan  dunia  manapun  dapat  kita  nikmati  melalui  layar-layar  televisi,  komputer, bahkan gawai atau smartphoneyang kian hari semakin canggih. Dunia saat ini digambarkan oleh McLuhan tak ubahnya seperti ‘desa global’ yang tidak lagi ada sekat ruang dan waktu. Seiring dengan kebutuhan manusia terhadap informasi, tawaran   media   masa   pun   bermunculan.   Setiap   produk   media   masa   berusaha   memberikan   yang   terbaik   untuk konsumennya dengan berita yang up to date, kemudahan akses, dan biaya yang terjangkau.”

Perkembangan pesat sosial media juga ternasuk dalam pembentukan “desa global” tersebut karena sudah memberi peran dalam kemudahan penyebaran informasi. Kemudahan ini telah mengubah cara masyarakat mengakses dan menyebarkan informasi. Diambil dari data databoks periode 2020-2022, media sosial menjadi sumber informasi utama bagi 72,6% responden di indonesia, melampaui televisi dan media cetak.

Perubahan ini menimbulkan tantangan baru dalam dunia jurnalisme, terutama terkait dengan kualitas dan kredibilitas informasi yang beredar.

Kemudahan Informasi di Era Media Sosial

Dengan masifnya sosial media memungkinkan penyebaran berita secara cepat dan luas. Masyarakat dapat dengan mudah mengakses informasi dan berpartisipasi dalam produksi serta distribusi berita melalui praktik jurnalisme warga. Hal ini meningkatkan keterlibatan antara pembuat berita dan pembaca, menciptakan interaksi yang lebih tinggi dibandingkan media konvensional.

Selain itu, media sosial juga berperan dalam membangun keterlibatan publik terhadap portal berita daring seperti menulis artikel, menulis opini, memberi komentar dan menyebarluaskna beritanya yang pada akhirnya berdampak pada perluasan jangkauan informasi.

Matinya Kepakaran dalam Jurnalisme

Namun, kemudahan akses informasi ini juga membawa dampak negatif. Siapa saja kini bisa menjadi sumber berita, menciptakan persaingan antara jurnalis profesional dan individu tanpa kredibilitas dalam jurnalisme. Akibatnya, informasi yang beredar sering kali tidak terverifikasi dan penuh dengan bias. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), hingga Mei 2023, telah diidentifikasi 11.642 konten hoaks di Indonesia, dengan kategori kesehatan menjadi yang paling banyak ditemukan, mencapai 2.287 item hoaks.

Selain itu, survei yang dilakukan oleh Katadata Insight Center (KIC) dan Kominfo menunjukkan bahwa 11,9% responden mengakui telah menyebarkan berita hoaks pada tahun 2021, meningkat dari 11,2% pada tahun sebelumnya.

Lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 42% masyarakat Indonesia masih percaya pada berita hoaks, terutama terkait isu politik dan kesehatan.

 

Itu semua bisa terjadi karena Algoritma media sosial yang tidak bisa mencegah dan mendeteksi sebuah kesalahan informasi yang akhirnya cenderung mengutamakan konten yang menarik perhatian dibandingkan dengan kebenaran, sehingga misinformasi dan hoaks mudah tersebar. Hal ini menantang otoritas jurnalis profesional dan mengancam matinya kepakaran dalam jurnalisme.

Tantangan dan Solusi bagi Jurnalisme

Di semua kerumitan penyebaran informasi ini, jurnalisme menghadapi tantangan besar yang tidak hanya berkaitan dengan adu cepat penyebaran informasi, tetapi juga dengan perubahan pola konsumsi berita oleh masyarakat. Tantangan ini tidak hanya datang dari media sosial dan platform digital, tetapi juga dari tekanan ekonomi dan teknologi yang terus berkembang. Dan berikut adalah masalah apa saja yang dihadapi oleh jurnalisme.

  1. Anonimitas dan Penyebaran Informasi Tanpa Kredibilitas

Salah satu tantangan utama adalah kemudahan bagi siapa saja untuk menyebarkan berita tanpa perlu mempertanggungjawabkan kebenarannya. Akun anonim di media sosial sering digunakan untuk menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, bahkan hoaks dan propaganda. Hal ini mengancam kredibilitas jurnalisme, karena publik sering kali tidak bisa membedakan sumber yang valid dan yang tidak.

Solusi:

  • Mendorong kebijakan yang lebih ketat terkait verifikasi identitas pengguna media sosial untuk meningkatkan akuntabilitas.
  • Meningkatkan literasi digital agar masyarakat lebih kritis dalam mengonsumsi dan menyebarkan informasi.
  1. Click Bait dan Persaingan Industri

Media yang bergantung pada pendapatan iklan sering kali tergoda untuk memproduksi berita yang lebih mengedepankan klik dibandingkan kualitas informasi. Akibatnya, banyak berita yang dibuat dengan judul sensasional yang mengakibatkan kesalahan pembaca dalam menerima berita yang biasanya hanya mengonsumsi judul dari berita yang disensasionalkan tersebut dan pada akhirnya mengorbankan kedalaman analisis dan objektivitas.

Solusi:

  • Media perlu mencari model bisnis alternatif, seperti langganan berbayar atau dukungan komunitas, agar tidak terlalu bergantung pada jumlah klik.
  • Mendorong media untuk lebih mengutamakan kualitas konten dengan menyajikan laporan investigatif dan berita mendalam yang bernilai jangka panjang.
  1. Perkembangan Teknologi dan AI

Teknologi semakin berperan dalam produksi dan distribusi berita. Algoritma media sosial menentukan informasi apa yang lebih sering muncul di linimasa pengguna dan yang mudah dikonsumsi adalah informasi-informasi yang sensasional, yang pada akhirnya lebih mengutamakan engagement dibandingkan akurasi informasi. Selain itu, AI juga sudah mulai digunakan untuk menulis berita secara otomatis, menimbulkan pertanyaan tentang peran jurnalis manusia di masa depan.

Solusi:

  • Jurnalis harus beradaptasi dengan mempelajari teknologi baru agar tetap relevan dalam industri.
  • Perusahaan media perlu mengembangkan pedoman etika dalam penggunaan AI agar tidak menggantikan peran verifikasi dan analisis manusia.
  1. Beban Kerja Jurnalis yang Semakin Kompleks

Dulu, jurnalis hanya berfokus pada menulis berita. Namun, di era digital, mereka juga dituntut untuk bisa mengelola media sosial, mengedit video, bahkan memahami optimasi mesin pencari (SEO). Hal ini meningkatkan beban kerja dan menuntut mereka untuk memiliki keterampilan yang lebih luas, yang di mana mungkin akan membuat fokus para jurnalis pecah dan tidak memiliki banyak waktu lagi untuk hanya memfokuskan penulisan berita.

Solusi:

  • Perusahaan media perlu memberikan pelatihan yang sesuai agar jurnalis dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan format berita digital.
  • Menyesuaikan struktur kerja di redaksi agar jurnalis tidak terbebani dengan tugas di luar tanggung jawab utama mereka.

Kesimpulan

Media sosial telah membawa kemudahan dalam akses informasi, namun juga menggores peran kepakaran dalam jurnalisme. Keseimbangan antara kecepatan informasi dan verifikasi fakta menjadi kunci dalam menjaga kualitas berita. Masih banyak regulasi-regulasi yang harus diubah, pelatihan-pelatihan yang harus dilaksanakan, dan berbagai aksi preventif lainnya. Pada akhirnya, Masa depan jurnalisme bergantung pada optimisme dalam melakukan adaptasi di era digital tanpa mengabaikan nilai-nilai dasar jurnalisti yang fundamental.***

 

Raefa Raja Augena, Sekolah Vokasi IPB University

Membangun Komunikasi Merek Digital Malalui Sosial Media 

0

Bogordaily.net – Dalam era digital saat ini, komunikasi merek menjadi sangat signifikan. Perusahaan tidak lagi mengandalkan iklan tradisional yang mempromosikan produk atau jasa mereka, tetapi melalui teknologi digital.

Teknologi digital sekarang bisa di manfaatkan dan cakupan audiens nya lebih luas. Sosial media salah satu nya, yang menjadi saluran komunikasi efektif untuk membangun interaksi dengan pelanggan.

Di dukung dengan pernyataan, Kaplan dan Haenlein (2010) sosial media adalah “ sebuah konsep yang merujuk pada bagian jenis platfrom online yang memungkinkan pengguna untuk berbagi konten, berinteraksi dengan orang lain.”

Beberapa jenis sosial media bisa di gunakan di antara nya yang paling populer; Facebook, Instagram, Twitter dan YouTube.

Masing masing dari platfrom ini memiliki karakteristik yang berbeda dan kelebihan yang unik, sehingga perusahaan dapat memanfaatkan dari masing masing platfrom tersebut.

Dengan demikian, sosial media telah menjadi salah satu saluran komunikasi efektif bagi perusahaan untuk membangun citra merek nya. Namun, membangun komunikasi merek digital melalui sosial media tidak mudah.

Perusahaan harus memahami bagaimana penggunaan sesuai dengan tujuan yang mereka inginkan. Pihak perusahaan juga harus paham bagaimana membangun konten yang menarik bagi audiens dan relavan di kalangan nya. Serta, bagaimana meningkatkan strategi komunikasi dengan memanfaatkan analisis data.

Merek adalah ciri khas yang membuat produk, layanan, atau bisnis berbeda dari pesaingnya. Merek biasanya terdiri dari hal-hal seperti nama, logo, slogan, warna, desain, dan pemikiran konsumen. Merek, menurut American Marketing Association (AMA), didefinisikan sebagai “nama, istilah, tanda, simbol, atau desain, atau kombinasi dari semuanya, yang bertujuan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari satu penjual atau kelompok penjual serta membedakannya dari barang atau jasa pesaing.”

Lebih dari sekadar identitas visual, merek menunjukkan nilai, tujuan, dan pengalaman yang diinginkan pelanggan. Merek dalam dunia bisnis kontemporer berkaitan dengan lebih dari sekedar fitur produk; itu juga memengaruhi perasaan dan persepsi pelanggan terhadap suatu perusahaan.

Konsumen biasanya mengaitkan merek dengan kualitas, kepercayaan, dan reputasi bisnis. Oleh karena itu, merek memiliki peran strategis dalam menciptakan keunggulan kompetitif di pasar dan menumbuhkan loyalitas pelanggan.

Komponen ldentitas Merek

Selain itu, memiliki merek yang kuat memungkinkan suatu perusahaan untuk meningkatkan daya saing dan memperluas jangkauan pasarnya karena merek dapat didaftarkan dan dilindungi secara hukum untuk mencegah plagiarisme.

Beberapa komponen penting diperlukan untuk membangun identitas merek:

  1. Logo: Simbol grafis yang berfungsi sebagai tanda pengenal utama dan mewakili
  2. Warna: Memilih palet warna yang konsisten membantu menciptakan asosiasi visual dengan merek.
  3. Tipografi: Memilih jenis huruf yang sesuai dengan karakter dan nilai
  4. Gaya Visual: Estetika umum yang menggambarkan karakter merek Penggunaan elemen- elemen ini secara konsisten di berbagai platform media sosial membantu membangun identitas merek yang kuat dan mudah dikenali oleh audiens. Sebagai contoh, penelitian oleh Pranata dan Junaidi (2023) menemukan bahwa elemen visual yang konsisten di media sosial dapat meningkatkan kesadaran merek.

Produksi Konten Konten adalah kunci komunikasi merek di media sosial. Membuat konten yang baik memerlukan pemahaman yang baik tentang nilai-nilai merek dan kebutuhan dan keinginan audiens target.

Penggunaan konten visual yang menarik, seperti gambar dan video berkualitas tinggi, dapat meningkatkan keterlibatan dan memperkuat pesan yang ingin disampaikan.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ramadhan, Suyanto, dan Nurjanah (2022), konten yang menarik dan relevan memiliki potensi untuk meningkatkan kesetiaan pelanggan terhadap merek. Ada banyak jenis konten yang dapat digunakan untuk mempromosikan merek di media sosial:

  • Konten Edukatif: Memberikan informasi yang bermanfaat dan relevan bagi audiens;
  • Konten Hiburan: Menyajikan konten yang menghibur untuk menarik perhatian dan meningkatkan keterlibatan;
  • Konten Promosi: Menginformasikan tentang barang, layanan, atau penawaran khusus;
  • Konten Interaktif: Mengajak audiens untuk berpartisipasi melalui kuis, jajak pendapat, atau tantangan. Diversifikasi jenis konten membantu audiens tetap tertarik dan tidak Aziz, Susanto, dan Ningrum (2021) menemukan bahwa keterikatan merek yang lebih baik dipengaruhi oleh interaktivitas merek di media sosial.

Pengaturan Jadwal Dalam strategi media sosial, mengelola rutinitas posting yang konsisten dan teratur sangat penting. Tentukan waktu dan frekuensi posting yang ideal untuk meningkatkan keterlibatan dan visibilitas audiens.

Penjadwalan dan pemantauan kinerja konten dapat dibantu dengan alat manajemen media sosial. Ramadhan et al. (2022) menyatakan bahwa konsistensi dalam penjadwalan konten dapat meningkatkan kesetiaan pelanggan terhadap merek.

Aktif berinteraksi dengan audiens melalui komentar, pesan, dan fitur interaktif lainnya meningkatkan ikatan dan loyalitas. Merek menunjukkan bahwa mereka peduli dengan pelanggan dan menghargai interaksi mereka dengan menanggapi pertanyaan, masukan, atau keluhan.

Aziz et al. (2021) menemukan bahwa keterikatan merek di media sosial dipengaruhi secara signifikan oleh interaktivitas merek. Hasil Singkatnya Membangun kampanye media sosial untuk merek digital

memerlukan rencana dan implementasi yang konsisten. Membangun kehadiran merek yang efektif di platform digital berarti membangun identitas merek yang kuat, membuat konten yang relevan dan menarik, dan berinteraksi dengan audiens secara responsif.

Contoh Kasus

 Dalam pembahasan pemasaran digital dari salah satu merek uniqlo dapat menunjukkan keberhasilan. Studi menunjukkan bahwa pengalaman konsumen dengan merek lebih baik dengan pemasaran media sosial.

Uniqlo mampu menciptakan pengalaman sensorik, emosional, intelektual, dan perilaku yang berkesan bagi konsumen melalui berbagai konten yang menarik, interaktif, dan selalu mengikuti tren. Membangun ekuitas merek yang lebih kuat dibantu oleh pengalaman positif ini.

Selain itu, pengalaman dengan merek juga berperan penting dalam meningkatkan ekuitas merek. Pelanggan yang memiliki pengalaman yang baik dengan Uniqlo di media sosial cenderung lebih loyal terhadap merek dan memiliki persepsi yang lebih baik tentang kualitas produk.

Ini menunjukkan bahwa pengalaman pelanggan yang lebih baik dengan merek meningkatkan ekuitas merek.

Pemasaran media sosial memiliki efek langsung terhadap ekuitas merek. Kampanye yang dilakukan Uniqlo di berbagai platform media sosial meningkatkan kesadaran merek pelanggan, membangun hubungan yang lebih kuat dengan merek, dan meningkatkan loyalitas pelanggan.

Oleh karena itu, strategi pemasaran media sosial yang efektif dapat menjadi bagian penting dari pembangunan citra dan nilai merek yang lebih baik.

Penelitian ini juga menemukan bahwa selain mempengaruhi ekuitas merek secara langsung, pengalaman pelanggan dengan Uniqlo mempengaruhi ekuitas merek secara tidak langsung. Dengan kata lain, pelanggan memiliki hubungan emosional yang lebih besar dengan Uniqlo sebagai hasil dari pengalaman yang positif dengan merek tersebut.

Evaluasi dan Pengukuran Komunikasi Merek

 Mengetahui metrik untuk mengukur seberapa efektif strategi komunikasi merek di media sosial sangat penting untuk memahami bagaimana kinerja kampanye digital berjalan. Angka keterlibatan, jangkauannya, dan impresi adalah beberapa metrik utama yang digunakan untuk mengukur keberhasilan komunikasi merek digital (Tafesse & Wien, 2018).

Engagement Rate: ukuran seberapa banyak interaksi audiens dengan konten yang dipublikasikan. Likes, shares, comments, dan clicks adalah semua komponen interaksi ini.

Tingkat keterlibatan dapat dihitung dengan membagi total interaksi dengan jumlah followers atau reach, kemudian dikalikan dengan 100 persen. Jumlah metrik ini sangat penting karena menunjukkan seberapa terlibat dan tertarik audiens dengan konten yang disajikan.

Reach : jumlah pengguna unik yang melihat konten dalam jangka waktu tertentu. Ini menunjukkan seberapa efektif komunikasi merek untuk menarik perhatian audiens baru. Namun, hanya reach saja tidak cukup untuk mengukur efektivitas komunikasi merek.

Impressions: menunjukkan berapa kali sebuah konten muncul di feed pengguna, tanpa pengguna berinteraksi dengannya. Meskipun metrik ini bermanfaat untuk mengukur frekuensi eksposur merek, mereka harus dikombinasikan dengan tingkat keterlibatan dan konversi untuk mengevaluasi efektivitas strategi digital secara keseluruhan.

Komunikasi merek digital merupakan strategi penting untuk membangun, mempertahankan, dan memperkuat hubungan antara merek dan audiensnya.

Dengan menggunakan media sosial dan berbagai platform digital lainnya, merek dapat menciptakan hubungan yang kuat dengan pelanggan mereka, meningkatkan interaksi dengan mereka, dan secara lebih efisien memperluas jangkauan pasar mereka.

Beberapa komponen penting dalam komunikasi merek digital memainkan peran penting dalam keberhasilan merek tersebut; ini termasuk penyampaian pesan yang konsisten, penggunaan konten yang menarik dan relevan, dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan tren dan kebutuhan audiens.

Dengan mengukur dan mengevaluasi kinerja melalui metrik seperti keterlibatan tingkat, jarak, dan impresi, bisnis dapat mengetahui seberapa efektif strategi mereka dan melakukan perubahan yang diperlukan untuk tetap kompetitif. Selain itu, komunikasi merek digital tidak hanya berfokus pada promosi tetapi juga membangun hubungan yang lebih lama dengan konsumen melalui interaksi yang responsif dan berbasis data.

Penggunaan alat analisis media sosial membantu merek dalam mengidentifikasi preferensi pelanggan, mengawasi reputasi, dan mengembangkan strategi pemasaran yang lebih terarah. Komunikasi digital merek dapat menjadi alat yang sangat efektif untuk meningkatkan kesadaran merek, meningkatkan loyalitas pelanggan, dan mendorong pertumbuhan bisnis di tengah persaingan yang semakin ketat jika digunakan dengan benar dan evaluasi yang berkelanjutan.

 

Egialipamana Ramdini Sitepu J0401231092