Saturday, 4 April 2026
Home Blog Page 13

Pabrik Plastik di Gunung Putri Bogor Terbakar Hebat, Api Berhasil Padam Selama 7 Jam

0

Bogordaily.net – Pabrik produksi plastik di Desa Wanaherang, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor terbakar hebat pada Minggu 29 Maret 2026.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Bogor Yudi Santosa mengatakan bahwa, peristiwa kebakaran itu terjadi sekitar pukul 15.30 WIB.

Menurut Yudi, proses pemadaman berlangsung cukup lama dan berlangsung selama 7 jam lebih. Dikarenakan besarnya skala kebakaran serta material plastik yang mudah terbakar.

“Alhamdulillah kondisi terakhir pukul 22.10 WIB sudah proses pendinginan. Kegiatan pemadaman bisa diselesaikan dalam waktu tujuh jam, tidak menelan korban dan anggota semuanya sehat,” ungkap Yudi Santosa dalam keteranganya, Senin 30 Maret 2026.

Ia menjelaskan bahwa, total ada 10 unit mobil pemadam, satu unit SCBA mobile, dua unit rescue, serta sejumlah ambulans dari relawan dikerahkan ke lokasi untuk memadamkan api.

Selain itu, sekitar 50 personel Damkar diterjunkan ke lokasi, dibantu relawan, TNI, serta aparat kepolisian dan Brimob untuk mempercepat proses pemadaman dan pengamanan di area kejadian.

Belum, diketahui penyebab pasti kebakaran, pihaknya masih melakukan penyelidikan lebih lanjut dilokasi kejadian.***

Albin

Jadwal dan Lokasi SIM Keliling Kabupaten Bogor Hari Ini, Senin 30 Maret 2026

0

Bogordaily.net – Jadwal dan lokasi SIM Keliling Kabupaten Bogor dari Sat Lantas Polres Bogor, Senin 30 Maret 2026

Untuk lokasi pelayanan perpanjangan SIM hari ini sendiri yakni, berada di Pos Polisi Gadog Hoegeng.

Surat Izin Mengemudi (SIM) menjadi syarat wajib berkendara. SIM ditujukan bagi para pengendara jika berada di jalan raya baik pengendara roda dua maupun empat.

Segera lakukan perpanjangan Surat Izin Mengemudi (SIM) apabila masa berlakunya sudah akan habis dalam waktu dekat ini.

Melalui pelayanan SIM Keliling, Anda tidak perlu datang ke SATPAS atau Polres terdekat untuk melakukan proses perpanjangan SIM.

Berdasarkan ketentuan hukum, SIM memiliki masa berlaku selama lima tahun. Pelayanan ini sendiri adalah salah satu kegiatan yang dilakukan Polres Bogor untuk memudahkan masyarakat.

Perlu diingat, pelayanan SIM di Kabupaten Bogor ini hanya untuk melayani perpanjangan SIM A dan SIM C. Pelayanan ini bertujuan untuk memudahkan masyarakat yang ingin memperpanjang masa berlaku SIM.

Apabila melewatkan satu hari untuk memperpanjang SIM, maka Anda tidak dapat melakukannya melalui pelayanan SIM keliling. Melalui pelayanan SIM keliling Anda tidak perlu datang ke Polres terdekat untuk melakukan perpanjangan SIM.

SIM keliling merupakan layanan perpanjangan masa berlaku yang digelar pihak kepolisian untuk masyarakat dengan menggunakan mobil khusus yang berada di lokasi khusus.

Kemudian, jadwal SIM keliling di Kabupaten Bogor fokus melakukan pelayanan selama lima hari berturut-turut. Mulai dari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan Jumat. Selain itu, untuk jam operasional dimulai dari pukul 09.00 sampai dengan 13.00 WIB.

Jadi, bagi warga Kabupaten Bogor yang ingin melakukan perpanjangan SIM dengan mudah, bisa mengunjungi layanan SIM Keliling (Simling) yang telah tersedia.

Biaya Perpanjangan SIM

Biaya perpanjangan SIM sesuai dengan PP Nomor 60 Tahun 2016 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak. Biatanya Rp80.000 untuk perpanjangan SIM A. Lalu Rp75.000 untuk perpanjangan SIM C.

Setiap orang yang mengemudikan kendaraan di jalan raya wajib mengantongi Surat Izin Mengemudi. Ketentuan tersebut diatur sesuai Pasal 281.

Syarat dan Ketentuan

Adapun syarat dan ketentuan yang harus dibawa saat melakukan perpanjangan SIM keliling di Kabupaten Bogor.

Khusus Perpanjangan SIM A dan SIM C

Membawa KTP asli dan fotocopy

Membawa SIM asli yang masih berlaku

Dalam keadaan sehat jasmani dan rohani

Apabila masa berlaku SIM habis maka akan, diberlakukan penerbitan SIM Baru. Anda bisa langsung merapat ke lokasi SIM Keliling yang tertera.

Disamping itu, pelayanan SIM Keliling ini sewaktu-waktu dapat berubah lokasi dan jam pelayanannya.***

Albin

Inni Dawet Jaga Kuliner Tradisional di Tengah Tren Minuman Kekinian, Manfaatkan LinkUMKM BRI untuk Terus Berkembang

0

Bogordaily.net – Di tengah maraknya kuliner kekinian, Inni Dawet dari Jakarta Timur tetap bertahan dengan mengusung es dawet sebagai produk utama yang dikemas lebih modern, dengan tetap menjaga cita rasa melalui penggunaan santan segar dan gula merah asli.

Penyajian yang fresh, dipadukan dengan variasi topping serta kemasan praktis, membuat produk ini tetap diminati, termasuk oleh konsumen yang terbiasa dengan produk kekinian.

Pemilik Inni Dawet Rilla Kusuma Dewi menuturkan bahwa usaha tersebut berawal dari keinginan menghadirkan minuman tradisional yang tetap diminati di tengah tren yang terus berubah.

“Usaha UMKM Inni Dawet berdiri sejak tahun 2019. Ide awal usaha ini muncul dari keinginan untuk menghadirkan minuman tradisional yang segar, terjangkau, dan tetap diminati oleh semua kalangan, terutama di tengah banyaknya minuman kekinian. Produk utama yang dijual adalah es dawet, yang dipilih karena memiliki cita rasa khas Indonesia dan memiliki potensi pasar yang luas. Pada awal menjalankan usaha, penjualan dilakukan secara sederhana dengan peralatan terbatas dan pemasaran dari mulut ke mulut,” ujar Rilla.

Inni Dawet menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan modal hingga persaingan yang semakin ketat.

Namun dengan menjaga kualitas rasa, pelayanan yang ramah, serta terus menghadirkan inovasi produk dan kemasan, Inni Dawet mulai memiliki pelanggan tetap. Pemasaran pun diperluas melalui partisipasi dalam pameran, event, serta skema business-to-business (B2B).

Untuk memperkuat kapasitas usaha, Rilla mengikuti berbagai pelatihan yang difasilitasi oleh Rumah BUMN. Dari proses tersebut, ia mengenal LinkUMKM BRI sebagai ekosistem pembelajaran yang membantu pelaku usaha mengembangkan bisnis secara lebih terarah.

Dalam operasionalnya, Inni Dawet juga memanfaatkan layanan perbankan BRI seperti QRIS BRI dan rekening usaha, sehingga transaksi menjadi lebih praktis dan pencatatan keuangan lebih tertata.

“Sejauh ini, LinkUMKM sangat membantu dalam pengembangan usaha Inni Dawet, terutama melalui pelatihan dan materi edukasi yang diberikan. Beberapa hal yang paling terasa manfaatnya adalah pemahaman tentang strategi pemasaran digital, pengemasan produk, serta pengelolaan keuangan usaha. Setelah mengikuti pendampingan dan mulai menerapkan ilmu yang didapat, usaha Inni Dawet mengalami peningkatan dalam hal jumlah pesanan dan jangkauan pasar. Promosi melalui media sosial menjadi lebih terarah, sehingga produk lebih dikenal oleh pelanggan baru. Selain itu, usaha juga mulai meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan yang terus bertambah,” ujarnya.

BRI melalui platform LinkUMKM terus menghadirkan ekosistem pembelajaran dan pendampingan bagi pengusaha UMKM di seluruh Indonesia. Hingga akhir 2025, LinkUMKM telah dimanfaatkan oleh 14,98 juta UMKM sebagai sarana peningkatan kapasitas usaha secara daring, mulai dari penguatan kompetensi hingga perluasan akses pasar.

Platform tersebut menghadirkan enam fitur utama yang saling terintegrasi, yakni UMKM Smart, Rumah BUMN, UMKM Media, Komunitas, Etalase Digital, dan Register NIB, serta didukung 750 modul pembelajaran yang dirancang untuk memperkuat kemampuan soft skill maupun hard skill pengusaha.

Pada kesempatan terpisah, Corporate Secretary BRI Dhanny menyampaikan bahwa LinkUMKM merupakan bagian dari strategi BRI dalam memperkuat kapasitas dan daya saing pelaku UMKM secara berkelanjutan.

Upaya ini dilakukan untuk mendorong UMKM agar mampu beradaptasi dengan perubahan pasar sekaligus memperluas akses usaha.

“Melalui LinkUMKM, BRI berkomitmen menghadirkan ekosistem pemberdayaan yang mampu membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas bisnisnya secara lebih terarah. Salah satu contohnya adalah Inni Dawet yang memanfaatkan ekosistem ini dalam mengembangkan usahanya melalui pembelajaran dan pendampingan yang berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, kami berharap UMKM dapat memberikan kontribusi yang semakin besar bagi perekonomian nasional,” ungkapnya.

Kisah BRILink Agen di Bakauheni, Berawal Dari Modal Usaha yang Terbatas hingga Menjadi Andalan Solusi Transaksi Masyarakat

0

Bogordaily.net – Di tengah meningkatnya kebutuhan transaksi keuangan masyarakat, kehadiran BRILink Agen menjadi solusi yang semakin dibutuhkan, terutama di daerah yang jauh dari kantor bank.

Bagi Na’am Muslim, pemilik BRILink Agen di Bakauheni, usaha ini bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi juga cara untuk membantu masyarakat mendapatkan layanan keuangan dengan lebih mudah.

Perjalanan Na’am Muslim menjadi BRILink Agen berawal dari pengamatan sederhana. Ia melihat salah satu anggota keluarganya lebih dulu menjalankan usaha sebagai agen PPOB di kampung dan mampu memperoleh penghasilan yang cukup menjanjikan setiap bulan.

Dari sana, akhirnya muncul ketertarikan Na’am untuk mencoba peluang serupa.

“Awalnya saya melihat keluarga yang menjadi agen PPOB di kampung. Kemudian, terlihat bahwa pendapatannya cukup menjanjikan. Akhirnya saya mencoba datang ke unit bank terdekat untuk mendaftar menjadi agen,” ujar Na’am.

Ia menilai bahwa proses untuk menjadi BRILink Agen tergolong mudah. Ia hanya perlu mengikuti sejumlah tahapan hingga akhirnya memperoleh mesin EDC dan resmi beroperasi sebagai agen. Namun demikian, tantangan terbesar justru muncul pada fase awal usaha, yakni keterbatasan modal.

Menurutnya, besaran modal sangat menentukan kapasitas layanan transaksi yang dapat diberikan kepada masyarakat.

“Semakin besar modal yang kita miliki, semakin banyak nasabah yang bisa kita layani. Itu tantangan terbesar saat merintis usaha ini,” papar Na’am.

Seiring berjalannya waktu, usaha yang dirintis tersebut mulai menunjukkan hasil. Na’am mengaku keberadaan BRILink Agen membawa perubahan positif bagi kondisi ekonomi keluarganya.

Pendapatan yang diperoleh dari transaksi nasabah membantu memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga.

“Alhamdulillah, dari usaha ini kami mendapatkan keuntungan yang cukup besar sehingga kebutuhan keluarga bisa tercukupi,” kata Na’am.

Ia juga menyebut, aktivitas transaksi di agen miliknya juga mengalami lonjakan signifikan di periode-periode tertentu, salah satunya bulan Ramadan hingga menjelang Lebaran. Di mana, aktivitas mulai ramai pada pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB hingga 10.00 WIB, kemudian kembali meningkat pada sore hingga malam hari, sekitar pukul 16.00 WIB sampai 20.00 WIB.

“Biasanya yang paling banyak itu transfer dan tarik tunai. Apalagi menjelang Lebaran, transaksi meningkat karena banyak masyarakat yang membutuhkan uang tunai atau mengirim uang ke keluarga,” ujarnya.

Bagi Na’am, pengalaman paling berkesan dalam menjalankan usaha ini adalah ketika nasabah merasa puas dengan pelayanan yang diberikan. Ia berusaha menerapkan semangat pelayanan yang menjadi nilai utama BRI, yaitu melayani dengan setulus hati.

“Ketika kita melayani nasabah dengan baik, lalu mereka merasa puas dan nyaman, itu yang menjadi kesan terbaik bagi kami,” ungkap Na’am.

Ia menjelaskan bahwa salah satu faktor yang membuat usaha BRILink Agen terus berkembang adalah tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan transaksi perbankan, terutama di daerah. BRI sendiri sudah sangat dikenal dan dipercaya oleh masyarakat hingga ke pelosok.

“Di berbagai daerah, masyarakat sudah terbiasa menggunakan layanan transaksi BRI. Jadi kebutuhan terhadap layanan ini memang sangat besar,” jelasnya.

Rasa bangga juga dirasakan Na’am setiap kali melihat masyarakat terbantu dengan layanan yang ia sediakan. Baginya, keberadaan BRILink Agen bukan hanya tentang bisnis, tetapi juga tentang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

“Kami merasa senang dan bangga bisa membantu masyarakat melakukan transaksi yang mereka butuhkan,” ungkapnya.

Ke depan, Na’am berharap usaha yang dijalankannya dapat terus berkembang dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat, khususnya di wilayah Bakauheni.

“Kami berharap usaha ini bisa terus berjalan dengan baik dan semua kebutuhan transaksi masyarakat di Bakauheni selalu bisa kami layani,” tuturnya.

Pada kesempatan terpisah, Corporate Secretary BRI Dhanny menyampaikan bahwa keberadaan jaringan BRILink Agen seperti Na’am menjadi strategi BRI dalam memperluas jangkauan layanan keuangan sekaligus mendorong aktivitas ekonomi di tingkat komunitas.

“BRILink Agen merupakan ujung tombak inklusi keuangan BRI. Melalui peran mereka, layanan perbankan tidak hanya semakin dekat dengan masyarakat, tetapi juga mampu memperkuat literasi keuangan hingga mendorong kemandirian ekonomi di tingkat lokal melalui skema sharing economy,” ujar Dhanny.

Sejalan dengan upaya tersebut, tercatat hingga Februari 2026, jumlah BRILink Agen telah mencapai lebih dari 1,2 juta agen atau tumbuh 8,32% secara tahunan (YoY). Jaringan tersebut tersebar di lebih dari 66 ribu desa dan menjangkau lebih dari 80% wilayah Indonesia.

Sepanjang periode tersebut, BRILink Agen mencatatkan volume transaksi mencapai Rp279 triliun dengan total transaksi lebih dari 170 juta.

 

Bazar Rakyat Jadi Momentum Gerakkan Ekonomi UMKM Pascalebaran

0

Bogordaily.net – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menegaskan penyelenggaraan Bazar Rakyat bertajuk “Istana untuk Rakyat” di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, pada Sabtu (28/3), tidak hanya menghadirkan kegembiraan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi momentum strategis untuk menggerakkan perekonomian, khususnya bagi para pengusaha UMKM pascalebaran.

Kegiatan yang dipadati ratusan ribu pengunjung ini menghadirkan beragam hiburan rakyat, mulai dari permainan anak-anak hingga pertunjukan musik. Di saat yang sama, kegiatan tersebut membuka ruang ekonomi yang luas bagi para pengusaha UMKM yang terlibat secara langsung.

Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, menyampaikan tingginya antusiasme masyarakat menjadi bukti bahwa kegiatan ini mampu menghadirkan kebahagiaan sekaligus menggerakkan roda ekonomi, terutama bagi pengusaha UMKM.

“Selain menghadirkan berbagai hiburan bagi masyarakat, di satu sisi, ini juga ada pesan dari Presiden Prabowo bahwa momentum ini untuk menggerakkan ekonomi, karena melibatkan ratusan UMKM,” ujar Maman.

Menurutnya, keterlibatan pengusaha UMKM dalam kegiatan ini mendorong aktivitas ekonomi secara langsung. Pemerintah juga menyediakan sekitar 100 ribu paket produk berupa pakaian, sepatu, dan tas senilai Rp200 ribu per paket, serta sembako senilai Rp300 ribu yang didistribusikan secara gratis kepada masyarakat.

Untuk sektor kuliner, Maman menambahkan bahwa kegiatan ini melibatkan lebih dari 600 pengusaha UMKM yang menyediakan sekitar 300 ribu porsi makanan.

Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menghadirkan kebahagiaan bagi masyarakat, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi UMKM melalui peningkatan aktivitas usaha dan perputaran ekonomi.

“Dampaknya terasa hingga ke sentra-sentra perdagangan seperti Pasar Tanah Abang, Pasar Senen, hingga daerah lain termasuk Bandung. Pengusaha UMKM, salah satunya perajin sepatu, dapat menghabiskan stok dan kembali memutar produksi dengan stok baru,” kata Maman.

Ia menambahkan momentum pascalebaran merupakan waktu yang tepat untuk mendorong perputaran ekonomi, sehingga para pengusaha UMKM dapat kembali bangkit, meningkatkan kapasitas usaha, serta memperluas pasar.

Sementara itu, Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menjelaskan kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi lintas kementerian yang dirancang secara terpadu untuk menghadirkan manfaat luas bagi masyarakat.

Ia mengungkapkan antusiasme masyarakat sangat tinggi, dengan jumlah pengunjung yang diperkirakan mencapai lebih dari 200 ribu orang. Bahkan, sekitar 300 ribu porsi makanan yang disediakan dalam kegiatan tersebut hampir seluruhnya habis dinikmati masyarakat.

Lebih lanjut, pemerintah membuka peluang agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya menghadirkan kebahagiaan sekaligus memperkuat ekonomi rakyat.

“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus diperluas, sehingga mampu menciptakan dampak ekonomi yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat,” katanya.

 

Viral Istri Sah Labrak Pelakor Bercadar, Perselingkuhan Dilakukan di Kantor hingga Sewa Apartemen

0

Bogordaily.net – Jagat media sosial tengah diramaikan dengan kisah pilu seorang istri sah yang membongkar dugaan perselingkuhan suaminya dengan rekan kejanya.

Bahkan yang mengejutkan, peremuan yang menjadi selingkuhannya itu, adalah seorang wanita bercdar.

Curahan hati tersebut viral setelah diunggah ke platform digital dan memicu gelombang reaksi dari warganet.

Banyak yang menyayangkan tindakan kedua terduga pelaku, mengingat keduanya diketahui sudah sama-sama berumah tangga dan memiliki anak.

Dalam pengakuannya, sang istri mengungkap bahwa hubungan terlarang itu diduga berlangsung cukup lama dan bahkan dilakukan di lingkungan kerja.

Situasi ini diperparah dengan adanya dugaan bahwa pelaku memanfaatkan area kantor yang minim pengawasan, termasuk titik-titik yang tidak terjangkau kamera CCTV, untuk melakukan tindakan yang tidak semestinya.

Tak berhenti di situ, hubungan tersebut disebut-sebut juga berlanjut di luar kantor. Berdasarkan informasi yang beredar, keduanya diduga menyewa sebuah unit apartemen selama kurang lebih satu bulan sebagai tempat pertemuan pribadi.

Sejumlah saksi juga mengaku pernah melihat keduanya berada di ruangan gelap saat jam kerja berlangsung. Hal ini tentu memicu kekhawatiran dan dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap etika profesional, sekaligus berpotensi merusak citra perusahaan tempat mereka bekerja.

Kisah ini pun menimbulkan empati terhadap sang istri yang merasa dikhianati. Dalam curahan hatinya, ia memilih untuk berserah diri dan berharap keadilan ditegakkan.

Ia juga berharap pihak perusahaan dapat mengambil langkah tegas terhadap perilaku yang dianggap tidak hanya melanggar norma sosial, tetapi juga aturan di lingkungan kerja.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak perusahaan terkait isu yang tengah viral tersebut.

Putusan KPPU tentang Pinjol: 97 Perusahaan Kena Denda Rp 755 Miliar, Terbukti Kartel Bunga

0

Bogordaily.net – Putusan KPPU tentang Pinjol akhirnya jatuh. Tidak ringan. Tidak juga singkat prosesnya.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha—Komisi Pengawas Persaingan Usaha—menjatuhkan denda total Rp 755 miliar kepada 97 pelaku usaha pinjaman daring. Angka yang besar. Hampir seperti “vonis kolektif” untuk industri yang selama ini tumbuh sangat cepat: pinjol.

Putusan itu dibacakan di Jakarta, 26 Maret 2026. Perkaranya bernomor 05/KPPU-I/2025. Tapi jejaknya jauh lebih panjang. Dimulai sejak 2023. Tiga tahun mengendap. Tiga tahun mengurai satu hal yang sama: bunga.

Majelis Komisi menyatakan para pelaku usaha terbukti melanggar Pasal 5 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999. Pasal yang melarang praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Kata kuncinya: kesepakatan harga.

Dan di situlah inti persoalan putusan KPPU tentang Pinjol ini.

Bukan sekadar soal tinggi atau rendahnya bunga. Tapi soal keseragaman. Soal “kompak” yang tidak pada tempatnya.

KPPU menemukan adanya kesepakatan penetapan suku bunga di antara para pelaku usaha fintech P2P lending. Batas atas bunga—yang semula dimaksudkan sebagai pelindung konsumen—justru berubah fungsi.

Ia menjadi patokan bersama.

Semua melihat ke angka yang sama. Semua bermain di angka yang sama. Tidak ada yang benar-benar “berlomba” menurunkan bunga.

Persaingan mati pelan-pelan. Konsumen kehilangan pilihan. Pasar menjadi datar. Dan itu yang dianggap berbahaya.

Dari 97 perusahaan, sebanyak 52 dikenai denda minimal Rp 1 miliar. Sisanya? Jauh lebih besar. Ada yang puluhan miliar. Bahkan ratusan miliar rupiah.

Besaran denda tidak ditentukan secara seragam. Ada hitungannya. Ada pertimbangannya.

Tingkat pelanggaran. Peran dalam kesepakatan. Sikap selama persidangan. Semua masuk dalam kalkulasi.

KPPU melihat praktik ini bukan kebijakan internal masing-masing perusahaan. Ini koordinasi. Ini kesepakatan. Ini yang dalam bahasa hukum: kartel.

Dan kartel—di sektor keuangan digital—punya dampak luas.

Industri pinjaman daring selama ini tumbuh cepat. Menjangkau yang tidak terjangkau bank. Memberi akses ke masyarakat yang sebelumnya “tidak terlihat” oleh sistem keuangan formal.

Tapi pertumbuhan cepat sering membawa godaan: bermain aman bersama. Padahal, inti bisnis adalah bersaing.

Tanpa persaingan, inovasi berhenti. Tanpa inovasi, konsumen yang dirugikan.

Di situlah putusan KPPU tentang Pinjol menjadi semacam “rem mendadak”.

Pengingat bahwa teknologi boleh maju. Tapi prinsip pasar tetap harus dijaga.

Putusan ini juga memberi pesan ke industri lain: jangan pernah merasa nyaman dalam keseragaman harga.

Karena di balik angka yang sama, bisa tersembunyi pelanggaran yang sama.

Dan jika itu terjadi—tinggal menunggu waktu. Seperti pinjol hari ini.***

Intip Kisah Desa Banyuanyar, Desa Ramah Lingkungan yang Terus Maju Lewat Pemberdayaan Desa BRILiaN

0

Bogordaily.net – Dari sebuah desa dengan keterbatasan potensi, Banyuanyar di Kabupaten Boyolali perlahan bertransformasi menjadi desa percontohan berbasis kolaborasi dan keberlanjutan. Mimpi besar itu kini dikenal dengan nama Banyuanyar Green Smart Village, sebuah konsep desa pintar yang ramah lingkungan dan berorientasi pada kekuatan masyarakatnya sendiri.

Kepala Desa Banyuanyar Komarudin menuturkan bahwa perubahan ini tidak terjadi secara instan. Melalui model pembangunan pentahelix, masyarakat secara gotong royong membangun desa secara bertahap.

“Dengan moto kami, rumah besar kami, Banyuanyar Green Smart Village, perjalanan waktu, proses yang tidak mudah, mulailah kami bisa membangun namanya kampung UMKM,” urainya.

Salah satu fondasi utama Banyuanyar Green Smart Village adalah pengembangan kampung UMKM dengan konsep One Kampung One Product (OKOP). Setiap kampung memiliki identitas dan produk unggulan sendiri, mulai dari kampung kopi, kampung susu, kampung madu, kampung ekonomi kreatif, hingga kampung biofarmaka. Seluruh proses, dari bahan baku, pengolahan, hingga pelaku usaha benar-benar berasal dari masyarakat. Bukan milik pemerintah, melainkan milik warga desa.

Konsep ini diperkuat oleh keberadaan BUMDes Kampus Kopi Banyuanyar yang mengelola berbagai unit usaha berbasis masyarakat. Menurut Musli, Direktur BUMDes, sektor wisata menjadi keunggulan desa karena mengusung wisata edukasi berbasis komunitas.

“Kami melihat bahwa Banyuanyar ini cukup layak untuk didorong menjadi desa yang bisa mengembangkan potensi wisata, terutama untuk edukasi dan itu berbasis masyarakat,” jelasnya.

Di Kampung Susu, semangat itu terasa nyata. Pramono, Ketua Klaster Kampung Susu, menceritakan bagaimana usaha ternak sapi perah yang dahulu hanya sekadar tradisi turun-temurun kini berkembang menjadi bisnis olahan bernilai tambah. Beragam produk seperti susu pasteurisasi, yoghurt, hingga pie susu diproduksi di “Omah Susu Koboy”.
“Dengan memiliki produk olahan sendiri, nilai ekonomi susu meningkat dan penghasilan peternak juga ada peningkatan sedikit daripada kita jual ke pengepul,” tuturnya.

Hal serupa terjadi di Kedai Barendo, klaster kopi yang lahir dari inisiatif para petani. Dikelilingi pohon kopi, kedai ini menjadi simbol kemandirian petani yang kini mampu mengolah dan memasarkan kopi mereka sendiri.

Sementara itu, di Klaster Biofarmaka, kelompok ibu-ibu memanfaatkan tanaman obat keluarga menjadi produk olahan pangan dan minuman yang lebih modern dan mudah dikonsumsi. Inovasi ini bermula dari Omah Toga dan kini terus berkembang melalui pameran dan kunjungan wisata desa.

Perjalanan Banyuanyar semakin kuat dengan kehadiran BRI melalui program Desa BRILian. Dukungan BRI tidak hanya berupa pendampingan UMKM, tetapi juga peningkatan kapasitas SDM, branding, packaging, digitalisasi, hingga promosi melalui bazar dan expo.

Pada kesempatan terpisah, Corporate Secretary BRI Dhanny menegaskan bahwa Desa BRILian merupakan program pemberdayaan Desa yang dibangun di atas empat pilar utama penguatan BUMDes dan koperasi, digitalisasi, sustainability, dan inovasi. Hingga kini, lebih dari 5.200 desa di seluruh Indonesia telah mendapatkan pendampingan untuk membangun ketangguhan ekonomi dari desa.

“Kisah Banyuanyar menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat tumbuh dari desa, ketika kolaborasi, inovasi, dan semangat masyarakat berjalan beriringan. Dari kampung ke kampung, dari satu produk ke produk lainnya, Banyuanyar Green Smart Village kini bukan sekadar konsep melainkan inspirasi nyata pembangunan desa berbasis kemandirian dan keberlanjutan” tegas Dhanny.***

Tok! WFH ASN di Pemkab Bogor Diterapkan Setiap Jumat

0

Bogordaily.net – WFH ASN Pemkab Bogor. Kalimat itu kini bukan sekadar wacana. Ia sudah menjadi kebijakan resmi—lengkap dengan nomor surat edaran, tanggal, dan arah yang jelas: penghematan energi.

Pemerintah Kabupaten Bogor mengambil langkah yang, bagi sebagian orang, terasa sederhana. Tapi sesungguhnya strategis. Setiap hari Jumat, aparatur sipil negara (ASN) diminta bekerja dari rumah. Work from home. Bukan setiap hari. Hanya Jumat.

Surat Edaran Nomor 000.8.3/578-ORG tertanggal 27 Maret 2026 menjadi dasar kebijakan ini. Pelaksanaannya dimulai setelah libur dan cuti bersama Idul Fitri 1447 Hijriah. Momentum yang dipilih tidak kebetulan. Ada jeda. Ada ruang untuk beradaptasi.

Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menyebut kebijakan ini sebagai strategi adaptif. Ia ingin dua hal berjalan beriringan: produktivitas tetap terjaga, konsumsi energi ditekan.

“Kami ingin memastikan kinerja ASN tetap optimal, namun juga mampu berkontribusi dalam penghematan energi secara nyata,” katanya.

WFH ASN Pemkab Bogor tidak berdiri sendiri. Ia hanya satu bagian dari orkestrasi yang lebih besar. Hari Senin hingga Kamis tetap bekerja dari kantor. Work from office. Ritme kerja tidak diubah total—hanya disesuaikan.

Namun ada garis tegas yang tidak boleh dilanggar: pelayanan publik.

Rumah sakit tetap buka. Transportasi tetap berjalan. Keamanan tidak boleh lengah. Penanggulangan bencana harus siaga. Tidak ada kompromi di sana.

“Pelayanan publik adalah prioritas utama,” kata Rudy lagi.

Di balik kebijakan ini, ada perubahan kecil yang sebenarnya besar dampaknya. Lampu dimatikan saat tidak perlu. Pendingin ruangan diatur minimal 24 derajat Celcius. Air digunakan lebih hemat. Alat tulis kantor dipakai lebih bijak.

Hal-hal sederhana. Tapi jika dilakukan oleh ribuan ASN, hasilnya tidak lagi sederhana.

WFH ASN Pemkab Bogor juga menyentuh urusan mobilitas. Ini yang sering luput dari perhatian. Pemerintah daerah mendorong ASN untuk berbagi kendaraan pada hari tertentu. Carpooling, istilahnya.

Hari Rabu bahkan lebih progresif. ASN didorong naik transportasi publik. Atau sepeda motor. Atau sepeda. Bahkan berjalan kaki.

Perubahan perilaku. Itu inti kebijakan ini.

“Kami ingin membangun budaya hemat energi,” ujar Rudy.

Tetapi satu hal tetap dijaga ketat: disiplin.

Absensi tetap wajib. Laporan kinerja tetap harus masuk melalui aplikasi. ASN bahkan harus siap datang ke kantor jika ada kebutuhan mendesak. Tidak ada alasan untuk mengendur.

Di sinilah letak ujian sebenarnya.

WFH sering disalahartikan sebagai kelonggaran. Pemkab Bogor tidak ingin itu terjadi. Mereka ingin membuktikan bahwa bekerja dari rumah tetap bisa profesional.

“WFH bukan berarti menurunkan disiplin,” tegas Rudy.

Dan dari Bogor, sebuah eksperimen kecil sedang berjalan. Jika berhasil, bukan tidak mungkin akan diikuti daerah lain. Sebab krisis energi bukan cerita satu wilayah saja. Ini cerita bersama.***

Menkop Tegaskan Koperasi Untuk Ekspansi ke Sektor Strategis

0

Bogordaily.net – Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono mendorong koperasi-koperasi besar di Indonesia untuk tidak lagi bermain di zona nyaman khususnya Koperasi Pelabuhan Indonesia (Kopelindo), untuk berani melakukan ekspansi ke sektor-sektor ekonomi strategis guna memperkuat kedaulatan ekonomi nasional.

Hal tersebut ditegaskan Menkop saat membuka Rapat Anggota Tahunan (RAT) Kopelindo yang berlangsung di Surabaya, Sabtu (28/3). Menurutnya, momentum transformasi ekonomi saat ini harus dimanfaatkan koperasi untuk masuk ke lini bisnis yang memiliki dampak luas.

Dalam sambutannya, Menkop menekankan bahwa koperasi harus mulai melirik sektor energi, pangan, hingga infrastruktur sebagai ladang pengabdian sekaligus bisnis yang menjanjikan.

“Koperasi jangan hanya puas di sektor simpan pinjam atau jasa penunjang kecil-kecilan. Saya mengajak Kopelindo untuk berani ekspansi ke sektor strategis. Kita ingin melihat koperasi terlibat dalam pengelolaan logistik nasional yang lebih luas, energi terbarukan, bahkan ketahanan pangan,” ujar Menkop.

Ia menambahkan, sebagai koperasi yang berbasis di lingkungan pelabuhan, Kopelindo memiliki posisi tawar yang kuat untuk memperbesar skala bisnis di rantai pasok global. Menurutnya, pemerintah siap memberikan dukungan regulasi agar hambatan birokrasi bagi koperasi yang ingin masuk ke sektor padat modal dapat diminimalisir.

Selain soal ekspansi sektor, Menkop juga menyoroti pentingnya modernisasi tata kelola. Ia mengapresiasi Kopelindo yang terus konsisten melaksanakan RAT tepat waktu sebagai bentuk transparansi kepada anggota. Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan masa depan menuntut kecepatan digital. “Ekspansi ke sektor strategis mustahil dilakukan tanpa penguatan teknologi informasi. Digitalisasi bukan lagi pilihan, tapi kewajiban agar koperasi bisa bersaing dengan korporasi swasta maupun BUMN,” imbuhnya.

Menkop juga menambahkan bahwa Rapat Anggota Tahunan menjadi momentum penting untuk evaluasi dan penentuan arah strategis koperasi. Koperasi Pegawai Pelabuhan Indonesia mencatat aset mencapai sekitar Rp800 miliar dan SHU sekitar Rp20 miliar, dengan tren kinerja yang terus tumbuh dan jumlah anggota yang meningkat. “Ke depan, koperasi perlu memperkuat tata kelola, manajemen risiko, serta transformasi digital, sekaligus mendorong partisipasi anggota dan kolaborasi,” ucap Menkop.

Menkop juga berharap Kopelindo dapat bersinergi dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih untuk memperluas manfaat dan memperkuat ekonomi bersama.

Di akhir arahannya, Menkop berharap langkah berani Kopelindo nantinya dapat menjadi pemicu bagi koperasi lain di Indonesia untuk melakukan langkah serupa. Dengan masuknya koperasi ke sektor strategis, diharapkan distribusi kekayaan tidak hanya berputar di segelintir pihak, melainkan kembali ke anggota dan masyarakat luas.

“Jika koperasi sudah masuk ke sektor strategis, maka kita benar-benar sedang membangun demokrasi ekonomi yang sesungguhnya,” pungkas Ferry.

*Kopelindo Siap Melompat Jadi Koperasi Modern Melalui Transformasi Digital*

Kopelindo mencatatkan performa gemilang sepanjang tahun buku 2025. Dalam pembukaan RAT, pengurus melaporkan keberhasilan pencapaian target utama yang dibarengi dengan transformasi besar-besaran menjadi koperasi modern.

Plh Ketua Kopelindo, Rudy Herdiyanto, mengungkapkan rasa syukurnya atas capaian tersebut. Ia menyebut tahun 2025 sebagai fondasi kuat sebelum koperasi melakukan lompatan besar di tahun-tahun mendatang.

Dalam laporannya, Rudy memaparkan bahwa Kopelindo berhasil mencapai berbagai target strategis, mulai dari peningkatan akses anggota hingga pertumbuhan Sisa Hasil Usaha (SHU). Tidak hanya soal angka, Kopelindo juga telah memperluas wilayah kerja dan melakukan migrasi sistem ke arah digital.

“Tahun 2025, Kopelindo berhasil mencapai target utama, mulai dari peningkatan akses, peningkatan SHU, perluasan wilayah kerja, dan kita sudah bertransformasi digital menjadi koperasi modern,” ujar Rudy di hadapan para anggota.

Dengan mengusung tema “Beyond Cooperative”, Kopelindo berkomitmen untuk keluar dari peran tradisional dan mulai memperluas dampak ekosistem bisnisnya agar lebih kompetitif di masa depan.***