Home Blog Page 555

Hari Pangan Sedunia ke-45, DKP Kabupaten Bogor Gelar Gerakan Pangan Murah di Cibinong

Bogordaily.net – Peringati Hari Pangan Sedunia yang ke-45, Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Bogor melaksanakan Gerakan Pangan Murah (GPM) di kawasan setu Cibinong, pada Kamis, 16 Oktober 2025.

Kepala DKP Kabupaten Bogor Teuku Mulya menjelaskan bahwa, kegiatan tersebut digagas langsung oleh Badan Pangan Nasional secara serentak di seluruh wilayah indonesia, termasuk ada 9 titik yang digelar di wilayah Kabupaten Bogor.

“Hari ini di Kabupaten Bogor kita mengadakan gerakan pangan murah dengan di 9 titik yang ada, Untuk di Cibinong berpusat di taman pemuda ini ada gerakan pangan murah yang bisa langsung diakses oleh seluruh masyarakat,” kata Teuku Mulya kepada wartawan, Kamis 16 Oktober 2025.

Menurut Teuku, pihaknya menghadirkan berbagai stand stand yang menjual bahan pokok dengan harga murah seperti, beras, ayam, telur dan lain sebagainya.

“Tentunya seperti beras, telur, minyak, ayam dan sayur mayur. Saya kira ini yang menjadi bahan masyarakat untuk akses pangan yang murah,” jelasnya.

Ia menambahkan, gerakan pangan murah ini akan dilaksanakan selama setahun kedepan di berbagai wilayah. Tentunya untuk mengakses keterjangkauan bahan pokok yang aman, bergizi dengan harga murah kepada masyarakat.

“Gerakan pangan murah ini tidak berhenti disini saja dan ini terus berlangsung sampai dengan akhir tahun ini untuk satu tahun anggaran ini,” ujar Teuku.

“Jadi kira kira itu intinya, hari pangan sedunia ini, disamping kita menyadarkan diri kita semua yang merasakan bahwa hari pangan sedunia ini adalah kita setiap individu itu butuh yang namanya pangan atau hak pangan yang bergizi yang terjangkau dan aman,” tambahnya.

Selain itu, kegiatan tersebut sebagai bentuk kerjasama menguatkan produk ekonomi lokal baik di tingkat lokal, nasional, hingga tingkat global.

“Itu di satu sisi, disisi lain, stakeholder ini sama sama untuk menguatkan pangan ini menjadi satu sistem kedaulatan pangan yang ada di global, nasional maupun di lokal,” ungkapnya.

(Albin Pandita)

Santri PMUQI Latih Kemampuan Mengajar Lewat Modelling Bahasa Inggris dan Arab

0

Bogordaily.net – Santri putra dan putri kelas Niha’i Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami (PMUQI) mengikuti kegiatan Modelling Bahasa Inggris dan Arab yang berlangsung pada Selasa, 14 Oktober 2025.

Kegiatan ini digelar terpisah, santri putra bertempat di basement Masjid Jami’ Ummul Quro Al-Islami, sedangkan santri putri di Gedung Serba Guna PMUQI.

Dalam sesi santri putra, Achmad Seva Ramadhan tampil mewakili Bahasa Inggris, sedangkan Ahmad Nurudin mempresentasikan pembelajaran dalam Bahasa Arab.

Sementara dari kelompok santri putri, Nasywa Maulida (kelas 6 IPA 1) berperan dalam sesi Bahasa Inggris, dan Adzkiaturrohmah (kelas 6 Sains) tampil membawakan Bahasa Arab dengan penuh percaya diri.

Setiap peserta tampil seolah menjadi seorang guru sesungguhnya — menyusun tujuan pembelajaran, membuka pelajaran dengan interaktif, hingga menutup dengan refleksi dan motivasi.

Pembimbing Tekankan Nilai Pedagogik dan Kesiapan Mengajar

Pembimbing Amaliah Tadris, Hidayat, memberikan apresiasi sekaligus penekanan penting mengenai nilai pendidikan di balik kegiatan modelling ini.

Menurutnya, pengalaman semacam ini bukan sekadar latihan berbicara, tetapi merupakan bekal nyata menghadapi dunia pendidikan di masa depan.

“Ya kegiatan ini secara tidak langsung itu sangat berguna bagi kalian di masa depan terutama kalian yang akan bekerja di ranah pendidikan. Memang sekarang kalian di amaliah tadris ini diajarkan untuk memahami persiapan sebelum mengajar, karena target dari seorang guru adalah membuat muridnya paham terhadap apa yang diajarkan,” ujar Drs. Hidayat dalam arahannya.

Ia menambahkan bahwa kemampuan mengajar tidak hanya diukur dari kefasihan berbicara, tetapi juga dari kesiapan mental, penguasaan materi, serta kejelasan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran.

Sementara itu, Ustadz Dian Firmansyah turut memberikan penguatan pada aspek perumusan General Object dan Specific Object dalam proses mengajar. Ia menilai, pemahaman terhadap dua hal ini menjadi pondasi agar pembelajaran lebih terarah dan efektif.

“Saya memberikan penekanan pada General Objects dan Specific Object karena dari sini bisa dilihat tujuan dari mengajarnya, maka harus sesuai. Jangan sampai di specific object berbeda ketika mengajar,” katanya dalam sesi diskusi kelompok.***

 

Menkop: Kucuran Dana CSR Untuk Kopdes Merah Putih Bisa Jadi Model Keterlibatan Swasta

0

Bogordaily.net – Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menegaskan bahwa adanya kucuran dana Corporate Social Responsilibility (CSR) di wilayah Kabupaten Tangerang bisa menjadi model dan bukti nyata keterlibatan pihak swasta (korporasi) dalam mendukung dan menyukseskan program strategis Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes/Kel) Merah Putih.

“Seluruh Kopdes/Kel Merah Putih di Kabupaten Tangerang akan mendapatkan dana CSR, di mana tahap awal sebanyak 60 Kopdes Merah Putih, yang bisa digunakan sebagai langkah awal kegiatan operasionalnya,” kata Menkop, usai acara Bimtek Perkoperasian dan serah terima dana CSR kepada Kopdes Merah Putih Mock Up, di Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (16/10).

Menkop juga mengajak dunia usaha dan swasta untuk ikut serta dalam program Kopdes Merah Putih, di mana koperasi bisa menjadi mitra bisnis dalam rantai pasok atau pemasaran produk.

“Sekaligus menjadi saluran yang efektif bagi perusahaan menyalurkan program CSR,” kata Menkop.

Keberadaan CSR

Lanjut Menkop, CSR bukan hanya bantuan sesaat, tapi benar-benar memberdayakan masyarakat sesuai dengan bidang usaha perusahaan. Bagi Menkop, Bimtek ini amat penting agar pengurus memahami cara mengelola koperasi dengan baik dari tata kelola keuangan, pelayanan anggota, hingga pengembangan usaha.

“Koperasi yang kuat juga butuh pengawasan. Tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga dari anggotanya sendiri dan masyarakat sekitar. Pengawasan bukan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk menjaga kepercayaan dan memastikan koperasi berjalan transparan dan akuntabel,” jelas Menkop.

Maka, Menkop mengapresiasi peran aplikasi Jaga Desa milik Kejaksaan Agung sebagai langkah mitigasi risiko dan pengawasan.

“Di dalam aplikasi Jaga Desa, sudah ditambahkan fitur tentang koperasi desa,” ucap Menkop.

Bagi Menkop, ini bisa menjadi proses yang akan meyakinkan semua pihak bahwa kegiatan Kopdes/Kel Merah Putih bisa termonitor dengan baik.

“Termasuk melibatkan asosiasi pengawas desa yang sudah didirikan di setiap daerah yang akan melaporkan kegiatannya ke kejaksaan-kejaksaan di daerah,” kata Menkop.

Komentar Jaksa Agung Muda Intelijen

Sementara itu, Jaksa Agung Muda Intelijen (JAM-Intel) Reda Manthovani menegaskan bahwa yang sudah dilakukan Kabupaten Tangerang bisa diikuti daerah lain dalam mengajak pihak swasta terlibat penuh dalam pembentukan Kopdes/Kel Merah Putih di Indonesia.

“Daerah lain bisa mengikuti pola ini, dimana pihak swasta di wilayahnya terlibat dengan dana CSR yang dimilikinya. Kabupaten Tangerang bisa dijadikan sebagai percontohan,” kata JAM-intel.

JAM-intel juga meyakini bahwa melalui Kopdes Merah Putih bisa menciptakan banyak pengusaha dari desa.

“Kita juga memiliki aplikasi Jaga Desa untuk memonitor dan mengkontrol operasional Kopdes Merah Putih di seluruh Indonesia. Karena, nantinya, gudang dan gerai Kopdes Merah Putih akan menjadi aset desa,” kata JAM-intel.

Manfaat Bimtek

Dengan adanya Bimtek ini, JAM-intel berharap para pengurus Kopdes Merah Putih bisa mengelola bisnisnya dengan baik, benar, dan lancar.

“Sehingga, bisa mensejahterakan kehidupan para anggotanya di desa,” kata JAM-intel.

Dengan Bimtek ini juga bisa memberikan pemahaman hukum bagi para pengurus Kopdes Merah Putih, agar bisa diterapkan di desanya masing-masing.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Banten Andra Soni menyebutkan, pihaknya optimis sebanyak 1.551 Kopdes Merah Putih yang ada di Banten dapat menciptakan pemerataan perekonomian dan memberantas kemiskinan. “Kita banyak lakukan sinergi juga untuk program Ketahanan Pangan,” kata Gubernur Banten.

Menurut Gubernur Banten, melalui Kopdes Merah Putih, setiap desa memiliki peluang dan dana untuk mengelola potensi di wilayahnya masing-masing. “Saya berharap semakin banyak terbentuk desa mandiri di Banten,” kata Gubernur Banten.

Bahkan, Gubernur Banten mendorong ada sinergi antar kepala desa untuk melahirkan suatu produk unggulan dari desanya. “Dengan Kopdes Merah Putih bisa membangun One Village One Product di Banten,” kata Gubernur Banten.

Bupati Tangerang M Maesyal Rasyid menambahkan, melalui program CSR, perusahaan properti raksasa Agung Sedayu Group siap menyalurkan bantuan pendanaan tahap pertama sebesar Rp6 miliar kepada 60 Kopdes Merah Putih yang tersebar di wilayah Kabupaten Tangerang.

Dana Rp6 miliar tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh 60 koperasi untuk pengembangan usaha produktif di tingkat lokal, permodalan anggota koperasi, dan peningkatan kapasitas manajerial koperasi di desa maupun kelurahan.***

PSSI Resmi Putuskan Kontrak Patrick Kluivert, Berakhirnya Era Singkat Pelatih Timnas Indonesia

0

Bogordaily.net – Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) akhirnya memutuskan untuk mengakhiri kerja sama dengan pelatih kepala Timnas Indonesia, Patrick Kluivert, beserta seluruh jajaran tim kepelatihannya.

Kabar mengejutkan ini diumumkan secara resmi melalui rilis PSSI pada Kamis, 16 Oktober 2025 siang, menandai berakhirnya masa kepemimpinan Kluivert di skuad Garuda setelah hanya sembilan bulan bertugas.

Dalam pernyataan resminya, PSSI menegaskan bahwa pemutusan kontrak tersebut dilakukan dengan mekanisme mutual termination, atau pengakhiran kerja sama atas dasar kesepakatan bersama antara kedua belah pihak.

“Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Tim Kepelatihan Tim Nasional Indonesia secara resmi menyepakati pengakhiran kerja sama lebih awal melalui mekanisme mutual termination,” tulis PSSI dalam pernyataannya.

Disebutkan pula bahwa kesepakatan ini telah ditandatangani oleh kedua pihak, meski pada awalnya Patrick Kluivert dikontrak untuk durasi dua tahun penuh.

“Kesepakatan ini ditandatangani antara PSSI dan para pihak di tim kepelatihan yang sebelumnya terikat kontrak kerja sama berdurasi dua tahun,” lanjut pernyataan itu.

Pertimbangan Strategis di Balik Keputusan

PSSI menjelaskan bahwa keputusan penghentian kerja sama ini bukan diambil secara tiba-tiba. Ada berbagai pertimbangan menyeluruh yang melibatkan aspek teknis, manajerial, hingga strategi jangka panjang pembinaan Timnas Indonesia.

“Penghentian kerja sama ini dilakukan atas dasar persetujuan kedua pihak, dengan mempertimbangkan dinamika internal dan arah strategis pembinaan tim nasional ke depan,” bunyi lanjutan pernyataan PSSI.

Dengan keputusan ini, Patrick Kluivert dan timnya tidak lagi menangani Timnas Indonesia di semua level kelompok umur, baik tim senior, U-23, maupun U-20.

“Dengan berakhirnya kerja sama tersebut, tim kepelatihan tersebut tidak lagi menangani Timnas Indonesia di level senior, U-23, maupun U-20,” tegas PSSI.

Patrick Kluivert, legenda sepak bola asal Belanda yang pernah memperkuat Barcelona dan AC Milan, resmi diperkenalkan sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia pada 8 Januari 2025.

Kehadirannya sempat membawa harapan besar di kalangan publik sepak bola tanah air. Dengan pengalaman internasional dan latar belakang prestisiusnya di Eropa, Kluivert digadang-gadang mampu membawa transformasi taktik serta disiplin ala Belanda ke tubuh Tim Garuda.

Namun, sembilan bulan berjalan, kolaborasi tersebut berakhir lebih cepat dari rencana. Beberapa sumber internal menyebutkan bahwa hasil yang belum konsisten, ditambah perbedaan visi teknis dalam pengembangan pemain muda, menjadi salah satu alasan di balik keputusan ini.

Kendati demikian, PSSI memilih untuk menutup kerja sama ini dengan cara elegan, tanpa menimbulkan gesekan antara federasi dan pihak pelatih.

Dalam rilis resminya, federasi menegaskan rasa hormat dan apresiasi yang tinggi terhadap dedikasi Kluivert serta seluruh anggota tim kepelatihannya selama masa bertugas.

Selama periode tersebut, mereka dinilai telah memberikan kontribusi positif dalam membangun atmosfer profesional di lingkungan Timnas.

“PSSI menyampaikan apresiasi atas kontribusi seluruh anggota tim kepelatihan selama masa tugasnya. Langkah ini diambil sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap program pembinaan dan pengembangan sepak bola nasional,” tulis pernyataan resmi tersebut.***

Dukung Asta Cita melalui Program 3 Juta Rumah, BRI Perluas Akses Kredit Program Perumahan (KPP)

0

Bogordaily.net – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menegaskan komitmennya dalam mendukung Asta Cita Pemerintah, khususnya melalui penyaluran Kredit Program Perumahan (KPP).

Program ini menjadi bagian penting dalam menyukseskan target 3 juta rumah yang telah ditetapkan sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN).

Komitmen tersebut diwujudkan dalam kegiatan Sosialisasi Kredit Program Perumahan bertema “Gotong Royong Membangun Rumah untuk Rakyat” yang digelar di Regale International Convention Centre, Medan, pada Kamis, 9 Oktober 2025.

Acara ini dihadiri oleh Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman RI Maruarar Sirait, Menteri Dalam Negeri RI Muhammad Tito Karnavian, Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution, serta Group CEO BRI Hery Gunardi.

Dalam sambutannya, Direktur Utama BRI Hery Gunardi menjelaskan bahwa sektor perumahan memiliki dampak ekonomi yang luas.

“Program rumah subsidi ini memberikan banyak manfaat bagi masyarakat, menyejahterakan banyak keluarga sekaligus menggerakkan perekonomian. Melalui Kredit Program Perumahan (KPP) dan KPR FLPP, BRI berkomitmen memperluas akses pembiayaan yang layak dan terjangkau, serta menjadi bagian dari upaya besar mewujudkan Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman RI Maruarar Sirait menyampaikan apresiasinya terhadap sinergi yang telah terjalin antara Pemerintah, Perbankan, dan masyarakat dalam mempercepat penyediaan hunian bagi rakyat.

“Saya melihat BRI siap mendukung penuh pelaksanaan program perumahan rakyat. Pegawai BRI mampu menjawab langsung berbagai pertanyaan dan kebutuhan masyarakat, khususnya pelaku UMKM. Ini membuktikan bahwa BRI hadir tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi juga menjadi mitra nyata masyarakat di lapangan. Program ini terbukti memberi manfaat besar dan mendapat sambutan positif dari masyarakat. Ke depan, kami berharap sinergi ini terus diperkuat agar semakin banyak keluarga berpenghasilan rendah memiliki rumah yang layak dan terjangkau,” ungkap Maruarar.

Di sisi lain, Menteri Dalam Negeri RI Tito Karnavian yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menilai bahwa, sektor perumahan memiliki dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

“Program Tiga Juta Rumah berkontribusi sekitar dua persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Selain memperkuat sektor properti, program ini juga menyerap tenaga kerja dari berbagai bidang,” jelas Tito.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution mengungkapkan bahwa tingkat backlog perumahan di Sumatera Utara masih tergolong tinggi, mencapai 938.217 rumah tangga yang belum memiliki tempat tinggal tetap.

“Masih banyak masyarakat kita yang belum memiliki rumah layak huni. Tambahan kuota program 3 Juta Rumah ini menjadi dorongan besar agar semakin banyak warga Sumut yang bisa menikmati hunian yang layak dan terjangkau,” tegasnya.

KPP disalurkan melalui dua sisi, yakni dari sisi supply melalui dukungan terhadap UMKM pengembang, kontraktor, dan penyedia bahan bangunan untuk meningkatkan kapasitas dalam penyediaan rumah.

Sementara itu, dari sisi demand BRI memberikan pembiayaan bagi UMKM individu/perseorangan untuk pembelian, pembangunan, atau renovasi rumah yang juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat usaha.

Hery menambahkan bahwa BRI juga mencatat capaian positif dalam penyaluran KPR Subsidi FLPP.

Hingga 7 September 2025, BRI berhasil menyalurkan 25.080 unit rumah atau setara 100% dari total kuota, menjadikan BRI sebagai bank dengan penyerapan FLPP tertinggi di antara seluruh Himbara.

“Alokasi kuota FLPP BRI di tahun 2025 juga meningkat signifikan, dari 17.000 unit pada tahun 2024 menjadi 25.000 unit pada tahun 2025 atau tumbuh 47% YoY,” jelasnya.

Menurut Hery, keberhasilan program ini tidak terlepas dari kolaborasi pemerintah, perbankan, pengembang, asosiasi, dan masyarakat.

“Hari ini, dari Medan, kita menyuarakan semangat kolaborasi nasional melalui partisipasi 3.000 peserta, terdiri dari developer, kontraktor, pedagang bahan bangunan, dan UMKM. Semangat gotong royong ini menjadi kunci agar backlog perumahan dapat kita kurangi bersama,” pungkasnya.***

Sinopsis Film Menuju Pelaminan: Cinta Lintas Budaya Penuh Drama dan Komedi

0

Bogordaily.net – Menuju Pelaminan adalah sebuah drama komedi romantis yang mengangkat kisah cinta lintas budaya antara Fajar Prawiro dan Rahma Mineli. Rencana mereka untuk menikah ternyata bukan sekadar menyatukan dua hati, tetapi juga dua keluarga yang berbeda latar belakang budaya: Jawa dan Minangkabau.

Konflik bermula ketika perbedaan adat dan tradisi dari kedua keluarga memicu ketegangan menjelang hari pernikahan.

Situasi semakin rumit saat kakek Fajar ngotot ikut hadir di acara akad nikah di Padang Pariaman, namun menolak naik pesawat.

Pilihannya untuk melakukan perjalanan darat dari Yogyakarta memaksa keluarga Fajar menempuh perjalanan panjang dengan mobil tua—yang ternyata penuh dengan kejutan.

Apa yang awalnya direncanakan sebagai perjalanan dua hari berubah menjadi empat hari penuh drama, pertengkaran, dan insiden tak terduga.

Dari ban mobil yang bocor hingga tersesat di pedesaan, setiap rintangan menjadi ujian kebersamaan bagi keluarga besar Fajar.

Namun di balik kekacauan itu, tersimpan momen-momen yang membuka ruang bagi pemahaman dan kehangatan antar anggota keluarga.

Di sisi lain, Fajar dan Rahma juga diuji secara emosional. Tekanan dari keluarga, perbedaan sudut pandang, serta keinginan pribadi membuat Rahma sempat mempertanyakan kelanjutan hubungan mereka.

Menuju Pelaminan bukan hanya tentang perjalanan menuju pernikahan, tetapi juga perjalanan menuju pemahaman, penerimaan, dan kedewasaan.***

Pramuka Kota Bogor Pertahankan Tradisi Juara, Raih Prestasi Tingkat Jabar 2025

0

Bogordaily.net – Gerakan Pramuka Kota Bogor di bawah kepemimpinan Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim sebagai Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) yang saat ini menjabat sebagai Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Mabicab) telah menorehkan berbagai prestasi gemilang.

Sekretaris Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kota Bogor, M. Nurnawaly Amin mengatakan, pada pembukaan Musda XV Kwartir Daerah Jawa Barat yang diselenggarakan di Aula Barat Gedung Sate Bandung pada tanggal 29 September lalu, Kwarcab Kota Bogor meraih tiga prestasi yang membanggakan di Tingkat Jawa Barat yang diberikan kepada Dedie A. Rachim dalam menyelenggarakan pembinaan dan pengembangan Gerakan Pramuka di Kota Bogor.

Penghargaan pertama berupa Piagam Penghargaan dari Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Barat yang diberikan kepada Wali Kota Bogor selaku Ketua Mabicab Gerakan Pramuka Kota Bogor.

Piagam tersebut merupakan bentuk apresiasi atas perhatian dan dukungan besar yang telah diberikan Dedie Rachim terhadap Gerakan Pramuka di Kota Bogor.

Wali Kota Bogor menjadi satu dari tujuh kepala daerah lainnya yang mendapatkan penghargaan yang sama.

Prestasi kedua adalah Kwarcab Kota Bogor mendapat penghargaan sebagai Kwarcab Tergiat II tingkat Provinsi Jawa Barat tahun 2025.

Untuk kwarcab tergiat I diraih oleh kwarcab Kabupaten Bogor dan Kwarcab tergiat III diraih oleh Kwarcab Kabupaten Majalengka.

Prestasi ketiga adalah Dewan Kerja Cabang mendapat penghargaan sebagai DKC Tergiat I tingkat Provinsi Jawa Barat tahun 2025, sebelumnya di tahun 2020 DKC Kota Bogor mendapat penghargaan sebagai DKC tergiat III tingkat Jawa Barat.

Prestasi DKC Kota Bogor menjadi istimewa karena dapat diraih dalam kurun waktu 20 tahun terakhir sekaligus menjadi kado istimewa bagi Kak Dedie A.Rachim di akhir masa baktinya.

Dengan berbagai prestasi yang telah diraih, pada tahun 2025, tepatnya pada peringatan Hari Pramuka ke-64, Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka menganugerahi Kak Dedie Rachim sebagai Ketua Kwarcab Kota Bogor penghargaan Lencana Melati.

“Penghargaan tinggi bagi insan Pramuka yang telah berjasa dalam membina dan mengembangkan Gerakan Pramuka di Indonesia,” katanya.

Semua prestasi ini menunjukkan komitmen dan dukungan yang kuat dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dalam penyelenggaran pembinaan dan pengembangan Gerakan Pramuka di Kota Bogor khususnya dan di Jawa Barat secara umum.

“Ini menjadi tantangan bagi Kwarcab Kota Bogor kedepannya untuk selalu bersinergi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menjadikan energi positif ini sebagai bagian kontribusi Gerakan Pramuka dalam membangun Kota Bogor,” ujar Kak Waly sapaannya.

Untuk Kwarcab tergiat kata Dedie A. Rachim menambahkan, selama kurun waktu 15 tahun (3 periode kwarcab), Kwarcab Kota Bogor berhasil mempertahankan prestasi selalu berada dalam posisi 3 besar Kwarcab tergiat di Jawa Barat, bahkan pada tahun 2023 di ajang penilaian Kwarcab juara, Kwarcab Kota Bogor berhasil meraih predikat sebagai Kwarcab Juara 1 tingkat Jawa Barat untuk kategori A.

Sementara itu, Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Kak Budi Waseso sapaannya menyampaikan bahwa hal yang paling penting adalah bagaimana pemerintah daerah bersama seluruh stakeholder mendukung kepramukaan di seluruh Indonesia.

“Dengan sinergi yang kuat, kita dapat mempersiapkan generasi emas Indonesia pada tahun 2045,” tegasnya.***

Refleksi 120 Tahun Syarikat Islam: Meneguhkan Jalan Menuju Kemerdekaan Sejati

0

Bogordaily.net – Tepat pada 16 Oktober 1905, di Laweyan, Solo, seorang saudagar batik bernama Haji Samanhudi bersama para sahabatnya mendirikan Syarikat Dagang Islam (SDI). Siapa sangka, embrio gerakan ini kelak menjelma menjadi salah satu pilar utama kebangkitan nasional Indonesia.

Hari ini, genap sudah 120 tahun usia organisasi yang kini dikenal sebagai Syarikat Islam (SI), organisasi Islam modern tertua di Indonesia yang mengusung misi pembebasan sosial, ekonomi, dan politik umat.

Jejak Panjang Gerakan Umat

Syarikat Islam bukan sekadar organisasi, melainkan gerakan kebangkitan yang lahir dari rahim keresahan sosial. Di bawah kepemimpinan tokoh-tokoh besar seperti H.O.S. Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, dan Abdoel Moeis, SI menjadi kekuatan rakyat yang memadukan nilai-nilai Islam dengan semangat perlawanan terhadap penindasan.

“Syarikat Islam adalah rumah awal kebangkitan nasional, tempat nilai Islam dijadikan kekuatan sosial dan ekonomi.”

Dalam rentang 120 tahun, SI telah melintasi zaman penjajahan, masa kemerdekaan, hingga era globalisasi saat ini. Meski tantangan berganti rupa, satu hal tetap teguh: komitmen terhadap nilai Islam dan perjuangan menuju kemerdekaan sejati.

Meneguhkan Arah Perjuangan

Syarikat Islam mengusung enam asas perjuangan:

  • Persatuan
  • Kehidupan berdasarkan nilai Islam
  • Keadilan ekonomi
  • Persamaan hak
  • Kemerdekaan politik
  • Kemerdekaan sejati (altimate goal).

Asas ini bukan slogan kosong, tetapi arah gerak yang membimbing langkah SI dari masa ke masa. Bahkan pada 1931, para pendiri SI telah menegaskan bahwa kemerdekaan sejati hanya bisa dicapai jika kemerdekaan politik telah terwujud.

Namun kini, meski Indonesia telah merdeka secara politik, kemerdekaan dalam makna sejatinya keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Medan Juang Baru: Keadilan Ekonomi

Lahir dari kegelisahan atas ketimpangan ekonomi, SI menjadikan keadilan ekonomi sebagai ruh perjuangan.

“Inti keadilan ekonomi adalah ketika tidak ada kelompok yang menindas kelompok lain melalui kekuatan ekonomi.”

Dalam konteks kekinian, perjuangan itu harus diarahkan pada penguatan ekonomi umat melalui koperasi, UMKM, dan kolaborasi rakyat.

Langkah pemerintah dalam meluncurkan program Koperasi Desa, misalnya, sejatinya selaras dengan cita-cita awal SI.

Inilah momen bagi kaum Syarikat Islam untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku utama perubahan ekonomi nasional.

Merajut Kekuatan Serumpun

Syarikat Islam tidak berjalan sendiri. Perjuangannya disokong oleh berbagai organisasi serumpun:

  • Wanita Syarikat Islam (WSI)
  • PERISAI
  • GERTASI
  • Pemuda Muslimin
  • Mahasiswa Muslimin
  • SAKO SIAP

Kini saatnya seluruh unsur ini menyatukan langkah, memperkuat konsolidasi gerakan. Karena hanya dengan ekonomi yang kuat, umat akan berdaulat. Dan hanya dengan persatuan, cita-cita besar akan menemukan jalannya.

Melangkah ke Depan: 120 Tahun Berikutnya

Refleksi 120 tahun ini bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tapi untuk meneguhkan komitmen ke depan.

“Kita menoleh ke belakang untuk mengambil pelajaran, dan menatap ke depan untuk merancang perjuangan 120 tahun ke depan.”

Di tengah tantangan era digital, kapitalisme global, dan krisis moral, umat membutuhkan gerakan Islam yang rasional, membumi, dan berpihak pada rakyat.
Syarikat Islam harus hadir sebagai penggerak dakwah ekonomi, pendidikan berkarakter, dan politik kebangsaan yang bermoral.

Semoga SI terus menjadi rumah perjuangan umat, tempat tumbuhnya kader yang berintegritas, dan benteng moral menuju kemerdekaan sejati lahir dan batin.***

Ditelantarkan, Isteri dan Anak di Bogor Tuntut Pejabat Oku Selatan

0

Bogordaily.net – Seorang perempuan berinisial DP (32), bersama anak perempuannya ANP (8), resmi menuntut seorang pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Provinsi Sumatera Selatan, berinisial R, atas dugaan penelantaran istri dan anak yang telah berlangsung sejak tahun 2024.

Berdasarkan keterangan awal mulanya DP merupakan istri sah dari R , yang perkawinannya tercatat secara resmi di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, sebagaimana dibuktikan dengan Kutipan Akta Nikah Tercatat.

Dari perkawinan tersebut, keduanya telah dikaruniai seorang anak perempuan bernama ANP, yang kini berusia 8 tahun.

Pada awal pernikahan, kehidupan rumah tangga pasangan tersebut berjalan harmonis dan keduanya tinggal bersama di Kota Bogor.

Namun, sekitar tahun 2024, R mulai jarang pulang ke rumah dan lebih banyak menghabiskan waktu di OKU Selatan, tempatnya bertugas sebagai pejabat daerah.

Seiring berjalannya waktu, hubungan rumah tangga keduanya mulai tidak harmonis. Berdasarkan komunikasi yang terjadi melalui aplikasi WhatsApp, DP mengaku mulai merasakan kurangnya perhatian dan kasih sayang dari sang suami yang membuat DP merasa tertekan dan tidak bahagia dalam menjalani kehidupan berumah tangga.

Sejak awal tahun 2025, R bahkan tidak lagi menunaikan kewajiban memberi nafkah secara layak dan rutin, baik nafkah lahir berupa kebutuhan ekonomi maupun nafkah batin sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap isteri dan anaknya.

DP menyebut suaminya hanya sesekali mengirimkan uang dalam jumlah kecil tidak layak dan tidak menentu, dengan alasan tidak memiliki kemampuan finansial.

Akibatnya, DP dan anaknya mengalami penelantaran ekonomi dan segala bentuk penelantaran perhatian, hingga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari seperti biaya makan, pendidikan, dan kesehatan.

Dari peristiwa tersebut akhirnya DP meminta bantuan hukum ke Kantor Hukum Sembilan Bintang.

Menurut kuasa hukum DP melalui Randi Hadinata, S.H., tindakan tersebut merupakan bentuk pengkhianatan pada kewajiban seorang suami dan ayah, yang hal itu merupakan perintah baik secara agama Islam maupun hukum positif UU RI No. 1 Tahun 1974 sebagaimana yang telah diubah menjadi UU RI No. 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan jo.

Kompilasi Hukum Islam jo. Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 2014 sebagaimana yang telah diubah menjadi UU RI No. 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara.

Hadits riwayat Abu Dawud dan Al-Nasa’i disebutkan:

“Cukuplah seseorang dianggap berdosa bila ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya.”

Serta hadis riwayat Muslim yang menyatakan:

“Cukuplah disebut berdosa orang-orang yang menahan [memberi] makan [pada] orang yang menjadi tanggungannya.”

Melalui kuasa hukumnya, DP kini tengah menempuh jalur hukum guna menuntut pertanggungjawaban R atas dugaan penelantaran dalam rumah tangga, serta menuntut ganti rugi baik secara materil maupun immateriel atas penderitaan nyata baik secafa fisik maupun psikologis yang dialami oleh diri DP dan anaknya.

Managing Director Sembilan Bintang selaku ketua Tim Kuasa DP sahabat Rd. Anggi Triana Ismail, menambahkan ini sadis sekali.

Laki-laki sejatinya melindungi segenap nyawa serta harta keluarga yang dibina nya karena takdirullah sebagai pemimpin. Ini faktanya R melakukan perbuatan terbalik dari sesuatu doktrin mutlak yang di amini oleh semua umat muslim.

Selain dosa, penelantaran yang diduga dilakukan R juga bisa dikenai sanksi serius berupa pemidanaan sebagaimana yang dimaksud dalam UU RI No.23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, dengan ancaman pidana diatas 10 tahun penjara.

“Kami telah melayangkan surat peringatan bagi R selaku suami DP. Karena DP masih membuka pintu kekeluargaan guna menuntaskan persoalan ini,” ujar Anggi.

“Sebetulnya kami sangat muak melihat petaka rumah tangga akibat perilaku R sebagai suami berikut ayah yang telah meninggalkan DP dan anaknya tanpa sebuah kejelasan. Laki-laki kok cemen, jika ada masalah ya selesaikan toh, jangan menghindar apalagi kabur tanpa kejelasan,” tambahnya.

“Karena DP begitu mulia & bijaksana, kami cadangkan upaya hukum Laporan Kepolisian untuk melaporkan R. Salut, klien kami masih menggunakan hatinya, walaupun suaminya patut dipertanyakan kegunaan hati nuraninya pada klien kami & anaknya. Kita lihat saja, apakah ada respon atau tidak terhadap somasi yang sudah dilayangkan terhadap R. Karena undangan I & II untuk hadir saja ke kantor kami, si R ini gak pernah hadir. R ini merupakan pejabat eselon II.a di Kabupaten OKU selatan Provinsi Sumatera Selatan,” tutup Anggi”.***

Bangkitnya Ruang Belajar, Tumbuhnya Martabat Bangsa Marzuki Yudi, Pengamat Pendidikan Asal Jabodetabek

0

Bogordaily.net – Di banyak pelosok Indonesia, gema perubahan pendidikan mulai terasa nyata. Di Sabu, guru-guru menulis ulang pelajaran di papan tulis tua yang kini berdampingan dengan tablet digital, sementara di Batu, anak-anak melompat gembira di halaman sekolah yang baru direvitalisasi. Pendidikan Indonesia seperti tengah bernafas lagi—pelan tapi pasti, setelah lama menunggu arah yang pasti.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat capaian penting sepanjang Oktober 2024 hingga Oktober 2025: tujuh program prioritas dengan total anggaran Rp181,72 triliun telah digulirkan. Visi utamanya: menjamin layanan pendidikan yang merata, inklusif, dan bermutu bagi seluruh anak bangsa.

Salah satu yang paling kentara adalah Revitalisasi Satuan Pendidikan, dengan alokasi Rp16,97 triliun. Target awal 10.440 sekolah kini meluas hingga 15.523 satuan pendidikan, mulai PAUD hingga SLB. Namun revitalisasi kali ini tidak hanya menambal atap bocor atau membangun ruang baru. Lebih dari itu, ini adalah gerakan sosial untuk menghidupkan kembali makna ruang belajar.

Di Kudus, masyarakat bersama guru SMPN 1 Bae membangun toilet ramah disabilitas secara swakelola. Di Kota Batu, Rp1,7 miliar dana revitalisasi digunakan untuk memperbaiki 293 satuan pendidikan. Wakil Wali Kota Batu, Henry Suyanto, berkata lugas:

“Pendidikan bukan urusan angka, melainkan urusan masa depan dan peradaban.”
Kutipan itu menggambarkan filosofi baru yang kini tumbuh—bahwa sekolah bukan hanya bangunan, tapi sumbu kehidupan sosial. Revitalisasi juga berdampak ekonomi: ribuan pekerja lokal ikut terlibat, dari tukang hingga penyedia bahan bangunan. Di sisi lain, gotong royong warga menandakan kembalinya semangat kolektif yang selama ini hilang dalam birokrasi.

Namun, pekerjaan rumah belum selesai. Bangunan yang baru dan indah tidak otomatis menghasilkan pembelajaran yang bermakna. Revitalisasi fisik harus diimbangi dengan revitalisasi pedagogi—mengubah cara guru mengajar dan murid belajar. Pendidikan tidak boleh berhenti pada infrastruktur; ia harus menyentuh cara berpikir. Tanpa itu, sekolah hanya akan menjadi monumen indah tanpa nyawa.

Dari Sekat Teknologi ke Keadilan Pengetahuan
Di tengah derasnya arus transformasi digital nasional, pendidikan menjadi salah satu sektor yang paling menantang sekaligus menjanjikan. Tahun 2025 menandai babak baru dengan terbitnya Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 tentang Digitalisasi Pendidikan Nasional, yang mendorong pemerataan akses pembelajaran digital hingga ke pelosok negeri.

Program ini telah menjangkau lebih dari 285.000 satuan pendidikan, mulai dari PAUD hingga Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) — sebuah capaian yang menegaskan arah Indonesia menuju sistem pendidikan inklusif berbasis teknologi (Kemendikdasmen, 2025).

Namun, digitalisasi di Indonesia bukan sekadar cerita tentang tablet di ruang kelas atau jaringan internet di sekolah. Ia adalah kisah tentang kesetaraan akses terhadap ilmu pengetahuan, sebuah cita-cita lama bangsa ini yang kini mencoba diwujudkan melalui perangkat digital.

Di Papua, televisi pendidikan menjadi ruang belajar kolektif di tengah keterbatasan sinyal; di Kalimantan Utara, radio komunitas menjadi jembatan literasi bagi murid yang tak memiliki gawai; sementara di Sulawesi Tengah, tablet menjadi buku baru bagi siswa untuk mengakses modul Kurikulum Merdeka. Fenomena ini menunjukkan bahwa digitalisasi tak lagi eksklusif milik kota besar, tetapi mulai merembes ke daerah yang dulu tertinggal.

“Pendidikan adalah kerja bersama, bukan proyek pemerintah,” ujar Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, dalam kunjungannya ke Kudus, Jawa Tengah (Mu’ti, 2025).

Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan refleksi atas paradigma baru: digitalisasi bukan tentang perangkat, tapi tentang pemerataan peluang belajar.
Salah satu langkah konkret adalah program distribusi Papan Interaktif Digital (Interactive Flat Panel/IFP) yang kini telah tersebar ke 288.000 sekolah di seluruh Indonesia.

Menurut laporan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (2025), program ini bukan hanya menghadirkan media pembelajaran digital, tetapi juga melatih lebih dari 120.000 guru agar mampu mengintegrasikan teknologi ke dalam kurikulum.
Guru seperti Puji Basuki dari SMKN 1 Kudus menuturkan, “Anak-anak kini lebih antusias. Mereka merasa belajar itu bukan tugas, tapi pengalaman.”

Namun, di balik kisah sukses tersebut, realitas kesenjangan digital masih menjadi tantangan besar. Berdasarkan Badan Pusat Statistik pada tahun 2025, sekitar 32,4% sekolah di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) belum memiliki koneksi internet stabil, sementara 21% guru masih belum memiliki kompetensi digital dasar (BPS, 2025). Di beberapa wilayah, bahkan akses listrik masih bersifat terbatas, yang menyebabkan perangkat bantuan pemerintah tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.

Fenomena ini sejalan dengan temuan World Bank (2024) yang mencatat bahwa efektivitas digitalisasi pendidikan di negara berkembang bergantung pada tiga pilar utama: infrastruktur, literasi digital tenaga pendidik, dan konten berbasis konteks lokal. Tanpa keseimbangan di antara ketiganya, transformasi digital justru berisiko memperlebar ketimpangan belajar antarwilayah (World Bank, 2024).

Sisi lain dari kebijakan digitalisasi juga tampak pada tantangan literasi digital guru. Banyak guru yang mengaku kesulitan menavigasi platform pembelajaran daring, terutama di sekolah-sekolah kecil yang jauh dari pusat kota. Menurut Laporan Katadata Insight Center (2025), 57% guru di luar Jawa masih menggunakan metode konvensional karena keterbatasan akses pelatihan daring.

Masalah ini menciptakan paradoks: teknologi tersedia, tapi belum sepenuhnya terpakai. Kritik konstruktif muncul dari para pengamat pendidikan yang menilai bahwa digitalisasi pendidikan di Indonesia kerap terlalu fokus pada distribusi perangkat, bukan pada pemberdayaan pengguna.

Menurut Sujoko (2024) dalam Jurnal Kebijakan Pendidikan Nasional, pendekatan top-down tanpa memperhatikan kesiapan psikologis dan kultural guru berpotensi mengubah teknologi menjadi beban, bukan alat bantu pembelajaran. Guru membutuhkan waktu, dukungan, dan ruang reflektif agar mampu mengubah teknologi menjadi alat pedagogi yang bermakna.

Meski demikian, langkah-langkah korektif mulai terlihat. Sejak awal 2025, Kemendikdasmen mulai mengembangkan program Smart Teacher Academy, yang memfasilitasi pelatihan hybrid untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola kelas digital. Di sejumlah daerah seperti Yogyakarta dan Bandung, digital learning hub dibentuk agar sekolah dapat berbagi sumber daya dan praktik terbaik (Kemendikdasmen, 2025).

Dengan cara ini, digitalisasi tidak lagi dilihat sebagai produk teknologi, tetapi sebagai proses sosial — di mana kolaborasi antara guru, murid, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi penentu keberhasilannya.

Jika transformasi ini mampu dijalankan secara inklusif, bukan tidak mungkin digitalisasi akan menjadi jembatan menuju keadilan pengetahuan, bukan sekadar modernisasi ruang kelas.

Namun, agar visi itu benar-benar hidup, kebijakan digitalisasi perlu menyentuh tiga lapisan:
1. Akses infrastruktur – agar setiap anak, dari Aceh hingga Aru, dapat belajar dalam kondisi setara.
2. Pelatihan berkelanjutan – agar guru menjadi pionir transformasi, bukan korban perubahan.
3. Kurikulum kontekstual – agar teknologi tetap berpihak pada kemanusiaan, bukan menggantikan peran manusia di ruang belajar.

Karena pada akhirnya, seperti diingatkan oleh Abdul Mu’ti, “Teknologi hanyalah alat; pendidikan sejati tetap lahir dari hati dan kesungguhan manusia.”

Denyut yang Menghidupkan Reformasi
Tidak ada reformasi pendidikan yang benar-benar hidup tanpa guru yang sejahtera dan murid yang berdaya. Di balik setiap perubahan kebijakan, di sanalah mereka berdiri — di garis depan ruang kelas, menjadi jembatan antara cita-cita dan kenyataan.

Tahun 2025 menjadi momentum penting: pemerintah menempatkan guru sebagai pusat reformasi dengan alokasi Rp13,2 triliun untuk peningkatan kompetensi dan kesejahteraan pendidik di seluruh Indonesia (Kemendikdasmen, 2025).

Kebijakan ini diterjemahkan ke dalam sejumlah program konkret. Sebanyak 785 ribu guru non-ASN menerima tunjangan profesi Rp2 juta per bulan, 253 ribu guru PAUD nonformal memperoleh Bantuan Subsidi Upah (BSU) Rp300 ribu, dan 804 ribu guru mengikuti Program Profesi Guru (PPG).

Tak berhenti di situ, 16.197 guru mendapat fasilitasi kuliah lanjutan ke jenjang S1/D4. Sejak Agustus 2025, pemerintah juga mulai menyalurkan insentif tambahan Rp2,1 juta selama tujuh bulan bagi guru non-ASN — bukan hanya sebagai angka di APBN, melainkan bentuk pengakuan terhadap dedikasi di lapangan.

Sementara bagi guru ASN, Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik senilai Rp70 triliun disalurkan melalui tiga skema besar:
1. Tunjangan Profesi Guru (TPG) bagi 1,52 juta guru,
2. Dana Tambahan Penghasilan (DTP) bagi 332 ribu guru, dan
3. Tunjangan Khusus Guru (TKG) bagi 62 ribu pendidik di wilayah 3T.
Kebijakan ini melahirkan efek berganda. Laporan Badan Pusat Statistik (BPS, 2025) menunjukkan peningkatan partisipasi guru dalam pelatihan daring sebesar 41% dibanding tahun sebelumnya, terutama pada program pengembangan media ajar digital.

Di sejumlah daerah seperti Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan Tengah, muncul komunitas belajar antarguru yang memanfaatkan platform digital untuk berbagi praktik pembelajaran berbasis proyek (project-based learning).

Fenomena ini menunjukkan bahwa kesejahteraan yang meningkat dapat memantik kreativitas profesional, sebuah sinyal positif dalam perjalanan panjang reformasi pendidikan.

Namun, di balik geliat itu, masih tersisa catatan reflektif. Laporan UNESCO (2025) mencatat, sekitar 28% guru di Indonesia masih kesulitan mengakses pelatihan daring karena keterbatasan jaringan dan fasilitas digital. Di wilayah perbatasan, banyak guru harus naik bukit atau berjalan berjam-jam hanya untuk mengikuti webinar pelatihan (UNESCO, 2025).

Masalah lainnya datang dari beban administratif yang berlebihan — mulai dari laporan kehadiran digital hingga input data kurikulum — yang sering kali menyita waktu reflektif guru. Akibatnya, ruang untuk berinovasi kerap tergerus oleh tumpukan administrasi.

Reformasi guru, dengan demikian, membutuhkan keseimbangan baru: antara kesejahteraan dan kebebasan berkreasi. Sementara itu, di sisi murid, pemerintah memperkuat kebijakan afirmatif untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal karena faktor ekonomi atau geografis.

Program Indonesia Pintar (PIP) menjadi tulang punggung pemerataan dengan jangkauan 18,5 juta siswa dan total anggaran Rp13,5 triliun, sementara Beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) menargetkan 4.679 siswa dari wilayah 3T dengan pagu Rp127 miliar.

Menurut laporan Kementerian Keuangan (2025), implementasi PIP berhasil menurunkan angka putus sekolah hingga 2,1% dalam satu tahun terakhir, dengan dampak signifikan di wilayah Papua dan Maluku.

Selain itu, Program Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) menyalurkan Rp59,3 triliun untuk lebih dari 50 juta peserta didik dan 422 ribu sekolah, menjaga agar sekolah tetap beroperasi tanpa membebani orang tua. Dalam konteks sosial-ekonomi yang masih timpang, kebijakan ini berfungsi sebagai “sabuk pengaman” pendidikan nasional.

Namun di tengah apresiasi terhadap program afirmatif, muncul pertanyaan mendasar: apakah kebijakan ini sudah cukup membangun ekosistem keadilan belajar?
Beberapa peneliti menilai perlu ada pendampingan sosial yang lebih kuat agar bantuan finansial tidak hanya berhenti di angka, tetapi juga berdampak pada motivasi dan kualitas belajar.

Penelitian Sari & Harjono (2024) menemukan bahwa siswa penerima bantuan cenderung menunjukkan peningkatan partisipasi sekolah, tetapi belum signifikan dalam capaian akademik karena keterbatasan dukungan belajar di rumah (Sari & Harjono, 2024).
Artinya, ekosistem pendukung — mulai dari guru, keluarga, hingga masyarakat — harus ikut diperkuat agar kebijakan afirmatif benar-benar melahirkan transformasi sosial.

Menyemai Nilai, Memanen Martabat
Di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi, pemerintah menyadari satu hal mendasar: capaian fisik, digital, dan kebijakan tak akan bermakna tanpa nilai yang menghidupinya. Sebab pendidikan sejati tidak hanya melahirkan manusia cerdas, tetapi juga manusia berkarakter.

Untuk itu, lahirlah inisiatif “Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” — gerakan pembentukan karakter yang sederhana, namun penuh makna.

Bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur tepat waktu — tujuh kebiasaan kecil yang diharapkan menjadi fondasi besar bagi masa depan anak-anak bangsa.

Program ini kini telah diterapkan di ribuan PAUD, SD, dan SLB di berbagai daerah, dengan hasil yang menggembirakan. Data Kemendikdasmen (2025) mencatat peningkatan kehadiran siswa hingga 72%, serta lonjakan kedisiplinan guru di berbagai wilayah.

Di SMA Negeri 1 Kudus, misalnya, setiap pagi dimulai dengan senam bersama dan sarapan sehat. “Ketika anak belajar dengan gembira, karakter tumbuh bukan dari perintah, tapi dari pengalaman,” tutur seorang kepala sekolah di Yogyakarta — kalimat yang mencerminkan esensi pembelajaran yang sesungguhnya.

Namun di balik angka-angka keberhasilan itu, terdapat pesan yang lebih dalam: pendidikan tidak bisa berdiri hanya di atas infrastruktur atau kurikulum. Ia harus hidup di dalam perilaku, di dalam keseharian, di dalam nilai-nilai yang menuntun anak untuk menjadi manusia yang utuh.

Pendidikan Indonesia kini tengah menulis bab barunya — bukan lagi tentang ketimpangan dan keterbelakangan, melainkan tentang kesetaraan, martabat, dan kebahagiaan belajar.

Revitalisasi yang menyentuh akar, digitalisasi yang menjembatani jarak, serta kebijakan yang berpihak pada guru dan murid telah menjadi fondasi menuju masa depan yang lebih terang.

Namun perjalanan ini belum selesai. Masih banyak ruang untuk memperbaiki, mendengar, dan menata ulang langkah. Kritik dan refleksi bukan bentuk penolakan, melainkan tanda cinta terhadap pendidikan. Sebab bangsa yang berani bercermin adalah bangsa yang tidak takut tumbuh.

Seperti yang diungkapkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, “Pendidikan bukan proyek pemerintah, melainkan perjalanan bangsa.”
Dan perjalanan itu kini benar-benar telah dimulai — di ruang-ruang belajar yang kembali hidup, di wajah-wajah murid yang kembali berani bermimpi, dan di hati para guru yang kembali percaya bahwa mendidik bukan sekadar tugas, melainkan panggilan untuk membentuk peradaban.***