Friday, 10 April 2026
Home Blog Page 608

Antara Informasi dan Manipulasi

0

Bogordaily.net – Instagram sudah jadi salah satu platform sosial media yang paling populer di dunia, bahkan bisa dibilang sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari kita. Dari berbagi foto, video, hingga cerita-cerita kehidupan pribadi, Instagram memberi kesempatan kepada penggunanya untuk saling terhubung dengan cara yang sangat mudah. Tapi, meskipun kita bisa mendapatkan informasi dengan cepat dan mudah, ada juga kekhawatiran soal dampak dari media sosial ini terhadap pandangan masyarakat secara umum.

Instagram sering kali bisa membentuk bagaimana kita melihat sesuatu atau bahkan orang lain. Gambar yang kita lihat, video yang kita tonton, dan cerita yang kita baca, semuanya membentuk pandangan kita terhadap dunia. Sering kali, kita merasa terpengaruh oleh apa yang kita lihat di sana, dan hal ini memunculkan pertanyaan, apakah kita benar-benar mendapatkan informasi yang akurat, atau justru kita sedang dipengaruhi oleh citra yang diciptakan di platform ini?

Menurut Bucher (2012), “media sosial seperti Instagram memungkinkan pengguna untuk membentuk identitas mereka dengan cara yang sangat terkontrol dan bisa langsung dinilai oleh publik.” Platform ini memberi kekuatan kepada penggunanya untuk menciptakan citra ideal, namun seringkali ini tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan. Oleh karena itu, kita perlu memahami seberapa besar pengaruh Instagram terhadap persepsi dan opini masyarakat, terutama dalam hal membentuk pandangan kita terhadap individu, isu sosial, dan fenomena tertentu.

Dalam tulisan ini, kita akan mengulas bagaimana Instagram bisa membentuk persepsi kita terhadap berbagai isu, baik itu tentang individu, tren, atau bahkan topik-topik yang lebih besar. Tidak hanya itu, kita juga akan melihat manfaat dan risiko yang datang seiring dengan penggunaan Instagram sebagai sarana untuk menyebarkan informasi dan membentuk opini.

Instagram sebagai Ruang Pembentukan Persepsi Publik

Instagram lebih dari sekadar tempat untuk berbagi foto atau video pribadi. Platform ini sudah menjadi ruang di mana banyak hal dipertontonkan kepada publik, dan melalui sini kita bisa melihat bagaimana persepsi seseorang atau bahkan sekelompok orang dibentuk. Pengguna Instagram, baik itu selebriti, influencer, ataupun orang biasa, sering menggunakan platform ini untuk menyampaikan citra atau pesan tertentu yang ingin mereka tunjukkan.

Hal yang paling mencolok dari Instagram adalah sifatnya yang sangat visual. Apa yang kita lihat seringkali lebih berpengaruh daripada apa yang kita baca. Foto yang menarik, video yang mengesankan, semuanya bisa memberi kesan tertentu tentang kehidupan seseorang atau bahkan suatu peristiwa. Namun, sering kali apa yang kita lihat di Instagram tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan. Banyak orang, terutama selebriti atau influencer, dengan sengaja memilih foto terbaik mereka, menggunakan filter, dan mengedit foto agar terlihat lebih sempurna.

Citra yang dibangun melalui gambar atau video sering kali jauh dari kenyataan. Gambar kehidupan yang tampaknya sempurna, perjalanan yang luar biasa, atau prestasi yang mengesankan, bisa saja merupakan gambaran yang sengaja disusun untuk menciptakan kesan tertentu. Banyak orang yang, tanpa disadari, merasa tertekan untuk hidup seperti yang mereka lihat di Instagram, yang sebenarnya belum tentu mencerminkan kehidupan nyata.

Fenomena ini sering kali berdampak pada standar kecantikan, gaya hidup, dan bahkan kesuksesan yang dipandang oleh banyak orang. Tak jarang, orang merasa harus memenuhi standar yang mereka lihat di Instagram, tanpa mempertimbangkan kenyataan bahwa itu semua bisa jadi hanya bagian dari citra yang ingin dibentuk oleh pemilik akun tersebut.

Dampak Instagram terhadap Opini Masyarakat: Manfaat dan Risiko

Instagram jelas memberikan banyak manfaat dalam hal penyebaran informasi. Dengan satu klik, informasi bisa tersebar begitu cepat. Misalnya, kampanye sosial yang mengangkat isu penting seperti kesadaran lingkungan, hak asasi manusia, atau gerakan sosial lainnya bisa mencapai audiens yang lebih luas melalui Instagram. Banyak orang kini lebih mudah mengetahui tentang isu-isu tersebut, berkat konten yang dibagikan oleh berbagai pihak, termasuk selebriti dan influencer.

Selain itu, Instagram juga bisa menjadi sarana yang efektif untuk mempromosikan produk atau layanan, serta untuk menyampaikan pesan yang lebih luas kepada masyarakat. Dalam konteks ini, Instagram benar-benar memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini dan memberikan informasi secara cepat dan efisien.

Menurut Nielsen (2019), “Media sosial telah mengubah cara orang terlibat dengan isu- isu sosial dan politik, memberi suara kepada mereka yang sebelumnya tidak terdengar.” Melalui Instagram, berbagai gerakan sosial dapat meningkatkan visibilitas dan mendapatkan dukungan lebih banyak dari masyarakat global.

Namun, tidak semua hal di Instagram adalah positif. Salah satu risiko besar yang muncul adalah manipulasi informasi. Di Instagram, gambar dan video yang diposting seringkali sudah melalui berbagai proses pengeditan dan seleksi. Bahkan ada banyak sekali foto yang tidak menggambarkan kenyataan, dan justru lebih mirip dengan sebuah ‘ilusi’. Pengguna sering kali hanya menampilkan bagian terbaik dari hidup mereka, menciptakan gambaran yang jauh lebih ideal daripada kenyataan yang sebenarnya.

Lebih dari itu, Instagram juga memperburuk apa yang disebut dengan filter bubble. Ini adalah fenomena di mana algoritma Instagram cenderung menunjukkan konten yang sudah sesuai dengan minat atau pandangan pengguna sebelumnya. Misalnya, jika seseorang lebih sering menyukai atau mengomentari postingan yang mendukung suatu ideologi, Instagram akan lebih sering menampilkan konten yang serupa. Ini bisa memperburuk polarisasi di masyarakat, karena kita lebih cenderung berada dalam ‘gelembung’ yang hanya menampilkan pandangan-pandangannya saja tanpa memberikan ruang untuk perspektif lain.

Di sisi lain, Instagram juga bisa memperburuk tekanan sosial, terutama bagi generasi muda. Dengan melihat kehidupan orang lain yang terlihat lebih sempurna, banyak orang

menjadi merasa rendah diri atau bahkan terobsesi untuk meniru apa yang mereka lihat. Pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental, terutama di kalangan remaja, menjadi isu yang semakin penting untuk dibahas.

Kesimpulan

Instagram memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi publik dan opini masyarakat. Dalam banyak hal, platform ini mampu memberikan manfaat yang besar dalam hal penyebaran informasi, serta memfasilitasi koneksi antara orang-orang dari berbagai belahan dunia. Melalui Instagram, kita bisa mengikuti akun-akun yang membagikan berbagai informasi dan pengetahuan, dari berita terkini hingga edukasi terkait isu-isu sosial, politik, dan lingkungan.

Platform ini juga memungkinkan orang-orang untuk mengungkapkan diri mereka melalui gambar, video, dan tulisan yang merepresentasikan pandangan, pengalaman, dan nilai- nilai mereka. Hal ini membuka kesempatan bagi siapa saja untuk belajar dari perspektif orang lain, bahkan jika mereka tidak berada dalam lingkungan yang sama atau memiliki latar belakang yang sama sekali berbeda.

Instagram juga memungkinkan seseorang untuk terlibat langsung dalam diskusi yang sedang berlangsung, memperluas jaringan sosial mereka, dan membentuk komunitas berdasarkan minat yang sama. Oleh karena itu, Instagram memiliki potensi besar untuk memperkaya pengetahuan kita dan membuat dunia terasa lebih terhubung.

Namun, di sisi lain, Instagram juga membawa risiko yang tidak bisa diabaikan. Salah satu risiko terbesar adalah manipulasi citra dan informasi. Banyak pengguna yang mengedit foto dan video mereka untuk menciptakan gambaran hidup yang ideal, yang tidak selalu mencerminkan kenyataan.

Penggunaan filter dan alat editing lainnya sering kali mengubah penampilan fisik seseorang atau memperindah situasi sehingga tampak sempurna, padahal kenyataannya mungkin sangat berbeda. Hal ini kemudian bisa memengaruhi persepsi masyarakat, khususnya generasi muda, yang merasa tertekan untuk mengikuti standar kecantikan atau gaya hidup yang tidak realistis. Akibatnya, kita bisa terjebak dalam ilusi yang dibangun oleh citra media sosial yang tidak mencerminkan dunia nyata.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rosen (2012), “Penting bagi pengguna media sosial untuk mengembangkan literasi media yang kritis, sehingga mereka tidak hanya mengonsumsi informasi secara pasif, tetapi mampu memproses dan menganalisisnya dengan cara yang lebih sadar dan bijaksana.”

Literasi media yang baik memungkinkan kita untuk lebih memahami konten yang kita lihat dan menghindari terjebak dalam ilusi yang dibangun oleh filter visual atau narasi yang disajikan oleh pengaruh tertentu. Dengan keterampilan ini, kita bisa menjadi lebih bijak dalam menilai konten yang kita temui di Instagram, serta mampu membedakan antara informasi yang dapat dipercaya dan yang hanya sekadar berusaha membentuk citra atau pandangan tertentu.

Pada akhirnya, jika kita dapat menggunakan Instagram dengan bijaksana, platform ini bisa menjadi ruang yang positif untuk berbagi informasi, belajar hal-hal baru, dan memperluas wawasan kita tentang dunia. Instagram memiliki potensi untuk menjadi alat yang kuat dalam menciptakan masyarakat yang lebih terhubung dan lebih peduli terhadap isu-isu sosial.

Berbagai kampanye sosial yang bermanfaat telah berhasil memanfaatkan Instagram untuk menarik perhatian terhadap masalah-masalah besar, seperti ketidaksetaraan, perubahan iklim, atau hak asasi manusia. Platform ini memberi ruang bagi individu dan kelompok untuk berbagi pandangan mereka dan menggalang dukungan untuk perubahan yang lebih baik.

Ketika digunakan dengan hati-hati dan bijaksana, Instagram bisa memberikan manfaat besar. Namun, kita juga harus menjaga kesadaran bahwa apa yang kita lihat di media sosial tidak selalu mencerminkan kenyataan yang sesungguhnya.

Oleh karena itu, penting untuk terus berpikir kritis terhadap apa yang kita terima dan selalu memverifikasi informasi sebelum mempercayainya atau membagikannya lebih lanjut. Kesadaran penuh terhadap dampak yang dapat ditimbulkan terhadap persepsi kita adalah kunci untuk memanfaatkan Instagram secara positif dan menghindari jatuh ke dalam perangkap citra yang dimanipulasi.

Dengan literasi media yang baik dan pemahaman tentang cara kerja platform ini, kita dapat menggunakan Instagram sebagai alat untuk memperluas pengetahuan, membentuk hubungan yang bermakna, dan berkontribusi pada perubahan positif.

Namun, kita harus selalu ingat bahwa sebagai pengguna, kita memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya mengonsumsi konten secara pasif, tetapi juga untuk memprosesnya dengan cara yang lebih bijaksana. Instagram bisa menjadi alat yang bermanfaat jika digunakan dengan benar, tetapi tanpa kesadaran dan literasi yang memadai, kita bisa dengan mudah terjebak dalam dunia yang penuh dengan citra yang dimanipulasi dan informasi yang menyesatkan.***

Naufal Rafi Aqil Putra

Warna Baru untuk Timnas Indonesia

0

Bogordaily.net – Produsen apparel asal Indonesia, Erspo akhirnya merilis pengumuman yang ditunggu-tunggu oleh pecinta Timnas Indonesia. Setelah sempat menuai kontroversi pada perilisan jersey timnas terdahulu, mereka akhirnya resmi merilis jersey terbaru Timnas Indonesia. Seperti yang sudah diketahui, Erspo sudah sekitar sepuluh bulan menjadi penyedia apparel Timnas Indonesia. Mereka menggantikan Mills selaku penyedia apparel Timnas Indonesia sebelumnya.

Erspo sendiri sejauh ini baru merilis satu set jersey Timnas Indonesia. Namun beberapa waktu yang lalu, Erspo mengumumkan bahwa mereka akan merilis jersey baru untuk Skuad Garuda. Pada Kamis 23 Januari lalu, Erspo resmi memperkenalkan tampilan jersey kandang baru Timnas pada media sosial mereka. disebutkan latar belakang seragam anyar Timnas Indonesia terinspirasi wujud dan semangat kekuatan bangsa Indonesia dari generasi ke generasi.

Terdapat corak dan motif yang menjadi perwakilan keberagaman Indonesia seperti gunung, flora endemik Indonesia bunga edelweis, dan Garuda sebagai lambang negara. Selain itu terdapat pula pola yang membentuk relief seperti pada candi. Jersey baru Timnas Indonesia akan resmi diperjualbelikan melalui platform daring atau online mulai 14 Februari 2025. Pihak Erspo melakukan sesi pemotretan di Stadion Olympisch, Amsterdam.

Pemilihan lokasi pemotretan dimaksudkan untuk memudahkan aksesibilitas nama-nama pemain yang terlibat menjadi model. Beberapa pemain yang tampil sebagai model banyak berkarier di Belanda dan juga sebagian di Belgia, diantaranya adalah Mees Hilgers, Thom Haye, Sandy Walsh, Shayne Pattynama, dan lain-lain. Lalu, pada Senin, 3 Februari 2025 kemarin Erspo resmis merilis jersey tandang baru Timnas Indonesia, Seragam tandang terbaru timnas Indonesia mengusung warna dominan putih dengan aksen kelir hitam pada bagian leher, ujung lengan, serta nomor.

Corak abu-abu juga terlihat pada sisi pundak sampai kedua lengan seragam. Pada bagian berwarna abu-abu itu, terlihat jelas ornamen bunga edelweis, gunung, dan garuda. Dalam jersey tandang terbaru ini, Erspo tidak menambahkan elemen warna merah pada jersey tersebut seperti pada jersey tandang sebelumnya. Pemotretan untuk jersey tandang ini dilakukan di empat negara berbeda, yaitu Indonesia, Belanda, Belgia dan Italia. Kedua Jersey terbaru Timnas Indonesia ini akan digunakan pada lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2026 saat melawan Bahrain dan Australia pada Maret nanti.

Kebangkitan Erspo
Setelah sempat menuai pro dan kontra pada perilisan jersey timnas sebelumnya, Erspo akhirnya kembali mendapatkan kepercayaan supporter timnas Indonesia melalui perilisan jersey terbaru ini. Para supporter timnas Indonesia menilai desain jersey terdahulu Pasukan Merah Putih jelek. Bahkan, tak sedikit yang menyayangkan keputusan PSSI untuk memilih Erspo sebagai produsen jersey Indonesia. Kekesalan penikmat sepak bola Indonesia terhadap Erspo makin panas lantaran desainer dinilai antikritik. Saat ada komentar tak enak dari

penggemar soal desain yang dibuat, Ernanda selalu menjadi defensif. Tak jarang balasan komentarnnya malah balik menyudutkan penggemar. Puncaknya, ketika Ernanda mendapat kritik atas desainnya dari pengamat sepak bola, Justinus Lhaksana alias Coach Justin. Ernanda membalasnya dengan cara yang tak elok, dan menyeret fans klub tertentu. Selain itu, ada kesan Ernanda menyerang balik Coach Justin secara personal.

Dikarenakan hal itu, Ernanda langsung kena semprot warganet hingga akhirnya, kasus ini begitu ramai dibicarakan. Hingga akhirnya muncul seruan #BoikotErspo dan #BoikotMakna di media sosial. Banyak dari pecinta sepak bola Tanah Air tidak puas dengan desain yang ditawarkan. Lebih lanjut, pelatih Shin Tae-yong secara terang-terangan menyebut bahan jersey latihan tidak menyerap keringat dengan maksimal.

Dikarenakan semua kontroversi itu, produsen apparel jersey Timnas Indonesia, Erspo, meminta maaf dan membuat pernyataan resmi usai desainer yang membuat jersey Timnas yakni Ernanda Putra dihujat netizen. Setelah polemik dan kontroversi yang terjadi, Erspo mengonfirmasi akan mengabulkan desakan pecinta sepak bola Tanah Air untuk mendesain ulang jersey Timnas Indonesia. Akhirnya setelah 10 bulan berlalu, Erspo berhasil memperbaiki kesalahan mereka dan kembali mendapat dukungan dari supporter timnas Indonesia setelah perilisan jersey terbaru tersebut.

Apresiasi untuk Erspo
Sebagai salah satu supporter Timnas Indonesia, saya merasa perlu memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Erspo, yang telah berhasil menepati janjinya kepada para supporter Timnas Indonesia. Walaupun brand apparel ini sebelumnya dihadapkan pada berbagai kontroversi dan mendapat banyak kritik pedas dari supporter Timnas Indonesia, terutama pada saat peluncuran jersey-jersey sebelumnya, Erspo tidak menyerah.

Mereka menunjukkan komitmen yang kuat untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Hal ini terlihat dari usaha mereka untuk mendengarkan masukan dan kritik dari para supporter, serta berupaya keras untuk memenuhi ekspektasi mereka. Hasilnya, desain jersey terbaru Timnas berhasil mendapatkan respons positif dari banyak supporter. Banyak yang merasa puas dengan desain terbaru ini, menganggapnya jauh lebih baik dibandingkan dengan desain jersey sebelumnya.

Kembalinya kepercayaan supporter Timnas kepada Erspo merupakan langkah penting yang patut diapresiasi. Namun, ini bukanlah akhir dari perjalanan. Saya berharap Erspo dapat mempertahankan kepercayaan ini dengan terus menjaga kualitas dan konsistensi dalam setiap produk yang mereka hasilkan. Selain itu, penting bagi Erspo untuk tetap membuka diri terhadap kritik dan saran dari para supporter.

Dengan mendengarkan suara-suara dari pendukung setia Timnas Indonesia, Erspo dapat terus berkembang dan memberikan yang terbaik bagi tim dan supporter. Kolaborasi yang baik antara brand dan supporter ini akan menciptakan hubungan yang saling menguntungkan dan mendukung kemajuan Timnas  di kancah internasional. Semoga ke depannya, Erspo dapat terus menjadi partner yang andal bagi Timnas Indonesia, serta terus menghadirkan produk-produk yang membanggakan dan memenuhi harapan para supporter.

Selain itu, keberhasilan Erspo dalam memenuhi ekspektasi supporter juga menjadi bukti bahwa brand lokal mampu bersaing dan memberikan kualitas yang tidak kalah dengan

brand internasional. Ini adalah momentum yang baik untuk membangun kepercayaan diri brand lokal dalam menghadapi persaingan global. Erspo telah menunjukkan bahwa mereka tidak hanya sekadar memproduksi jersey, tetapi juga memahami betapa pentingnya jersey tersebut bagi identitas dan kebanggaan supporter Timnas. Jersey bukan hanya sekadar pakaian, melainkan simbol semangat, persatuan, dan rasa cinta terhadap tanah air.

Ke depan, saya berharap Erspo tidak hanya fokus pada desain jersey, tetapi juga memperhatikan aspek-aspek lain seperti kualitas bahan, kenyamanan, dan keberlanjutan. Dengan begitu, mereka tidak hanya memenuhi ekspektasi supporter dalam hal desain, tetapi juga dalam hal kualitas produk secara keseluruhan. Selain itu, Erspo juga bisa mempertimbangkan untuk melibatkan supporter dalam proses desain, misalnya melalui polling atau kompetisi desain jersey. Hal ini akan semakin memperkuat hubungan emosional antara brand dan supporter, serta menciptakan rasa memiliki yang lebih besar.

Terakhir, saya ingin mengajak seluruh supporter Timnas untuk terus memberikan dukungan yang positif dan konstruktif kepada Erspo. Kritik memang diperlukan, tetapi harus disampaikan dengan cara yang baik dan disertai dengan solusi. Dengan kerja sama yang baik antara brand dan supporter, saya yakin Timnas Indonesia akan semakin maju dan bisa bersaing di kancah internasional dan bahkan lolos dikualifikasi Piala Dunia 2026. Semoga Erspo terus menjadi kebanggaan bagi kita semua dan terus menghadirkan inovasi-inovasi terbaru yang memukau. Bersama-sama, kita bisa mendukung Timnas Indonesia mencapai prestasi yang gemilang.***

Naufal Rafi Aqil Putra
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Berkeliling dan Melihat Keajaiban Nusantara dalam Satu Malam

Bogordaily.net – Perjalanan kali ini memakan waktu singkat dan tanpa biaya banyak. Memulai perjalanan diwaktu siang hari dan dimalam hari bertekad sudah sampai di kediaman masing-masing. Merencanakan perjalanan singkat namun panjang ini di hari Senin siang keitka semua orang masih sibuk dengan kegiatan lainnya. Perjalanan ini adalah perjalanan menjelajahi keajaiban nusantara, tanpa harus mengeluarkan biaya yang fantastis.

Taman Mini Indonesia Indah mungkin sudah tak asing di telinga. Terkenal dengan istana boneka, miniatur rumah adat dan pernak-perniknya, serta Danau Arsipelago yang menjadi senter dari Taman Mini. Masyarakat Jakarta mungkin sering mengunjungi tempat ini. Namun, untuk kami ini adalah pengalaman pertama berkunjung ke tempat ini. Berkunjung ke tempat ini setelah dewasa rasanya sangat senang, apalagi setelah tempat tersebut banyak mengalami perubahan.

Kunjungan ini sebenarnya untuk mencari tahu lebih dalam soal budaya Indonesia, karena kunjungan ini bertepatan dengan adanya momen Festival Budaya Nusantara XV. Kami melakukan perjalanan di hari Senin setelah kelas dibubarkan dan perjalanan kami kali ini menggunakan transportasi umum. Dari kampus Sekolah Vokasi beberapa dari kami berangkat menggunakan angkutan kota bernomor 03 yang akan membawa kami menuju Stasiun Kota Bogor. Sedangkan sebagian lainnya, menggunakan kendaraan pribadi untuk menuju Stasiun.

Sesampainya di stasiun, kami semua menaiki Kereta Rel Listrik (KRL) yang menuju arah Jakarta Kota. Situasi gerbong kereta saat itu terbilang cukup sepi dikarenakan kami berangkat siang hari. Selama melakukan perjalanan diantara kami ada yang memejamkan mata dan ada pula yang tetap terjaga. Kurang lebih satu jam perjalanan, kami tiba di Stasiun Cawang untuk menyambung perjalanan menggunakan Light Rail Transit (LRT). Untuk menuju Stasiun LRT Cikoko harus berjalan sedikit dari Stasiun Cawang.

Perjalanan menggunakan LRT ini akan dimulai dari Stasiun Cikoko sampai TMII. Namun, kami menaiki kereta yang menuju Harjamukti untuk bisa menuju Taman Mini Indonesia Indah. Perjalanan menggunakan LRT terbilang lebih cepat daripada KRL. Hanya dalam waktu sekitar 20 menit kami sudah sampai di Stasiun LRT TMII. Sebelum datang ke Taman Mini Indonesia Indah pengunjung wajib membayar Rp. 25.000 per orang yang dibeli melalui website TMII. Setelah kami sampai di Stasiun TMII, di depan stasiun sudah tersedia shuttle bus yang berasal dari TMII.

Untuk bisa menaiki shuttle bus tersebut, pengunjung harus membayar tiket dan nantinya tiket tersebut akan dipindai oleh petugas jaga. Shuttle bus ini akan membawa pengunjung ke TMII tanpa harus menaiki transportasi umum lagi. Dengan adanya shuttle bus ini memudahkan pengunjung untuk ke sana, apalagi ketika kami berkunjung cuaca saat itu sedang hujan.

Kondisi cuaca yang seperti itu membuat jalanan sedikit padat dan untuk kami tiba di tempat sekitar membutuhkan waktu 20 menit. Setibanya kami disambut oleh petugas dengan hangat dan ramah di depan ruangan informasi yang sekaligus menjadi tempat jual beli aneka buah tangan.

Memasuki kawasan TMII ini setelah diguyur hujan yang cukup deras terasa sangat menyejukkan meskipun tempat ini masih berada di tengah Kota Jakarta. Ketika masuk ke dalam, kami di sambut dengan Museum Indonesia yang sangat khas dengan ukiran-ukiran Bali.

Dari luar, museum ini terlihat megah dan mewah dengan ciri khasnya.
Sebenarnya tujuan kami ke sana adalah untuk mencari tahu lebih dalam mengenai budaya dari Jakarta. Namun, dengan kunjungan ke TMII ini kami bisa sekaligus melihat berbagai rumah adat yang ada di Indonesia. Berbagai anjungan dari berbagai daerah kami lihat, seperti anjungan Nusa Tenggara Timur yang di depannya terdapat replika komodo. Selain itu juga, terdapat anjungan Jawa Barat, Jawa Timur, dan lainnya.

Karena tujuan kami ke TMII ini adalah untuk mencari tahu lebih dalam mengenai budaya Jakarta, kami memutuskan untuk berjalan terus hingga menemukan anjungan DKI Jakarta. Setelah menemukan anjungan Jakarta, kami menemui petugas yang mengetahui seluk beluk budaya ini lebih dalam.

Di depan anjungan Jakarta ini terdapat sebuah bangunan rumah ibadah umat kristen, yaitu gereja. Menunjukkan bahwa Taman Mini Indonesia Indah juga terdapat rumah ibadah lain selain rumah ibadah umat muslim. Berkeliling sambil menikmati sore di Taman Mini Indonesia Indah sangat menyenangkan apalagi ditambah dengan cuaca yang asri setelah diguyur hujan.

Di sepanjang perjalanan menyusuri TMII ini, tidak ada satu pun kendaraan bermotor roda dua maupun empat yang melintas. Sejak revitalisasi, Taman Mini Indonesia Indah memang sudah menerapkan konsep go green, dimana ketika kami berkunjung ke sini kami hanya bisa berjalan kaki atau menaiki feeder yang telah disediakan secara gratis untuk pengunjung.

Hari semakin sore dan semua anjungan di tutup tepat pukul 16.00 WIB. Meski begitu, kami tetap bisa bermain dan berkeliling TMII ini. Setelah berkeliling melihat anjungan dari berbagai daerah di Indonesia, memutuskan untuk beristirahat dan mencari warung ataupun tempat menjual makanan.

Kami memutuskan untuk beristirahat di Danau Arsipelago. Danau Arsipelago ini merupakan danau buatan yang di kelola oleh pihak Taman Mini Indonesia Indah. Di tengah danau ini terdapat miniatur pulau yang berbentuk lima pulau besar di Indonesia.

Biasanya terdapat pertunjukan air mancur atau dancing fountain di danau ini. Sejak di revitalisasi, danau ini terlihat lebih rapih dan lebih bagus daripada dahulu. Beristirahat di danau ini sambil menikmati pemandangan danau rasanya nyaman dan tidak mau berpindah tempat dengan cepat. Sebagian dari kami memutuskan untuk membeli makan dan lainnya juga ada yang memutuskan untuk memakan bekal yang telah di bawa dari rumah.

Kami beristirahat di Danau Arsipelago ini cukup lama, sambil beristirahat kami mendengar informasi bahwa akan ada pertunjukan air mancur menari di danau ini pada jam 18.30 WIB. Setelah mendengar informasi tersebut, kami memustuskan untuk menonton pertunjukan itu sebelum pulang dan kembali ke rumah masing-masing.
Pertunjukan air mancur menari ini sekaligus menampilkan Tirta Cerita.

Tirta Cerita adalah atraksi air mancur yang telah menjadi daya tarik utama dari TMII. Tirta Cerita ini menggunakan kolaborasi antara seni dan tekonolgi, yaitu penggunaan water screen dan juga audio visual yang menarik. Tirta Cerita ini menampilkan cerita dari legenda nusantara. Air mancur yang keluar dari danau ini mengikuti irama dari Tirta Cerita ini sehingga sangat menarik utuk dilihat.

Kami semua menonton tirta cerita ini secara bersama-sama. Cukup kaget dan terharu dengan penampilan Tirta Cerita ini, karena penggabungan seni dan teknologi yang sangat bagus serta seeprti sebuah keajaiban yang menarik mata penonton.

Air mancur menari yang ditampilkan pun sangat indah, karena memunculkan warna yang berbeda di setiap adegan ceritanya. Biasanya terdapat penampilan yang menggunakan drone, tetapi ketika itu penampilan drone tidak bisa ditampilkan dengan alasan tertentu. Berkunjung pada hari Senin menurut kami adalah waktu yang tepat.

Di saat orang-orang sedang tidak liburan dan sibuk dengan kegiatan, sehingga ketika berkunjung ke TMII hanya ada beberapa orang yang kami lihat. Pertunjukan Titra Ceriya ini berlangsung sektar 20 menit lamanya. Setelah pertunjukkan ini selesai, feeder gratis akan menjemput pengunjung ketika selesai menonton. Feeder akan menunggu di depan danau sampai semua pengunjung sudah tidak ada lagi di kawasan tersebut.

Feeder ini memang tidak terlalu banyak sebab sudah waktunya kawasan ini di tutup sehingga kami harus menunggu sampai terdapat feeder kosong yang bisa membawa kami ke tempat semula. Setelah menunggu sekitar 5 menit, kami semua langsung menaiki feeder gratis untuk membawa kami kembali menuju pusat informasi.

Menggunakan feeder ini lebih praktis dan efisien daripada haru berjalan kaki ke pusat informasi. Setibanya kami di pusat informasi, sebagian dari kamu ada yang melaksanakan ibadah terlebih dahulu sebelum pulang dan yang lainnya menunggu. Sembari menunggu kami, berkunjung kembali ke Museum Indonesia dengan ukiran Bali lagi. Di sana kami beberapa kali mengambil gambar dan selfie untuk mengabadikan momen bersama.

Sehabis berfoto ria bersama, kami memutuskan untuk segera keluar dari kawasan TMII karena shuttle yang akan membawa kami menuju LRT TMII telah tiba. Perjalanan menunggunakan shuttle kali ini tidak sepadat saat kami tiba. Kami kembali melakukan perjalanan pulang menunggunakan LRT lalu dilanjut dengan KRL. Kami menaiki LRT yang menuju ke Dukuh Atas dan akan membawa kami kembali ke Stasiun Cikoko. Setibanya di Stasiun Cikoko, kami melanjutkan langsung perjalanan menuju Stasiun Cawang.

Kondisi stasiun hari itu cukup padat, ditambah dengan bertepatan dengan waktu orang kerja pulang. Menunggu kereta menuju ke arah Bogor tidak terlalu lama namun kami harus bersabar karena nantinya kami tidak bisa duduk seperti pada waktu keberangkatan. Kereta menuju ke arah Bogor tiba setelah kereta menuju Depok tiba lebih dahulu.

Terlihat dari peron bahwa kereta yang akan membawa kami pulang kali ini sangat ramai dan dipadati dengan para pekerja. Hampir satu jam lebih kami semua berdiri dalam satu gerbong yang sama. Dua orang dari kami turun lebh cepat di Stasiun Bojong Gede dan yang lainnya akan turun di pemberhentian terakhir, yaitu Stasiun Bogor. Setibanya di Bogor, kami langsung pulang menggunakan ojek online menuju kediaman masing-masing.

Perjalanan singkat namun panjang ini sangat seru, tetapi cukup membuat kami kelelahan. Dari perjalanan singkat ini Tirta Cerita menjadi hal paling menyenangkan bagi penulis. Perjalanan ini tidak membutuhkan banyak biaya yang harus dikeluarkan, namun sangat memuaskan untuk dilakukan. Memanfaatkan moda transportasi umum daripada menggunakan kendaraan pribadi menjadi pilihan yang terbaik.

Sebelum pembaca menjelajahi tempat ini, sebaiknya pembaca harus datang lebih awal lagi dan harus mempersiapkan dengan matang, seperti kartu kereta, makanan dan minuman yang cukup, serta tenaga yang lebih untuk bisa berkeliling melihat anjungan yang ada di Taman Mini Indonesia Indah.***

Nusie Mahmuda

Dari Keturunan Petani, Aktif Berorganisasi hingga Menjadi Dosen di Sekolah Vokasi IPB University

0

Bogordaily.net – Rici Tri Harpin Pranata, Dosen Muda Program Studi Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University ini lahir 33 tahun yang lalu di Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Daerah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pacitan ini menjadi saksi masa kecilnya yang akrab dengan kehidupan pertanian. Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan kehidupan pertanian seperti membantu Kakeknya membajak sawah, menanam padi, hingga mencari kayu bakar di hutan. Pengalaman itu bukan hanya mengajarkan kegigihan, kesabaran dan kerja keras sejak kecil, tetapi juga mendasarinya untuk masuk ke IPB karena nilai-nilai pertanian yang sudah ditanamkan sejak kecil.

Dari desa kecil tersebut, Rici kemudian berpindah ke Tulungagung dan tinggal bersama dengan Neneknya untuk melanjutkan pendidikan. Di Tulungagung, Ia bersekolah di SMP Negeri 1 Kedungwaru Tulungagung dan SMA Negeri 1 Kedungwaru Tulungagung. Semangat kepemimpinannya mulai tumbuh sejak dini, terlihat dari keaktifannya sebagai ketua kelas dan berorganisasi dengan mengikuti kegiatan Pramuka. Bahkan pada puncaknya, Ia terpilih untuk mewakili tim pramuka dalam kegiatan Jambore Nasional.

Lalu saat menduduki bangku SMA, Ia juga mengikuti berbagai organisasi seperti Pramuka, Palang Merah Remaja (PMR), Patroli Keamanan Sekolah (PKS), Pencak Silat Pamur, dan Majelis Perwakilan Kelas (MPK) dan menjadi salah satu ketua dalam organisasi tersebut. Mulai dari sinilah jiwa kepemimpinannya semakin terus terbentuk.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, tahun 2010, Rici berhasil lolos ke Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur prestasi, dan kemudian memilih jurusan Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA). Tak sekedar hanya menjadi mahasiswa biasa dalam dunia perkuliahannya, ia juga ikut aktif dalam organisasi kemahasiswaan.

Sejak tahun pertama, Ia sudah bergabung dalam BEM TPB (sekarang dinamakan PPKU) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FORCES, serta aktif di berbagai kepanitian salah satunya Ketua Divisi Humas MPKMB IPB. Karir organisasi kemahasiswaannya terus menanjak, di tahun kedua, Ia diamahkan menjadi Ketua Departemen Kajian Sosial dan Kesejahteraan Mahasiswa BEM FEMA, hingga akhirnya ia diberikan amanah sebagai Ketua BEM FEMA pada tahun ketiga dan kemudian menjadi Menteri BEM KM pada tahun keempat.

Pengalaman organisasinya membawa Rici pada berbagai program pengabdian masyarakat yang berdampak luas, baik di organisasi maupun berkolaborasi dengan mitra lainnya. Salah satunya adalah Samiena, kegiatan sosial yang dilakukan di sekitar kampus IPB. Selain itu, saat mahasiswa, Ia juga terlibat dalam IPB Mengajar, sebuah gerakan mahasiswa yang memberikan pendidikan kepada anak-anak di lingkar kampus.

Kini, ia menjadi pembina IPB Mengajar tersebut, untuk terus memastikan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berdampak. Tak berhenti di pendidikan S1, pada tahun 2017, Rici melanjutkan studi S2 di bidang Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Perdesaan di IPB. Di sela-sela kegiatan perkuliahannya, ia turut aktif dalam membuat berbagai penelitian serta dalam berbagai kegiatan sosial. Ia membuktikan hasil tersebut dengan berbagai amanah yang dipercayakan, seperti menjadi Sekretaris Rektor IPB dan Staf Khusus Rektor IPB, dan Asisten Direktur Pengembangan Karakter dan Organisasi Mahasiswa IPB.

Saat ini, selain menjadi Dosen Komunikasi Digital dan Media di Sekolah Vokasi IPB University, Rici dipercaya sebagai Asisten Direktur Pengembangan Karier dan Kewirausahaan IPB. Dalam perannya sebagai Asisten Direktur, ia membantu mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja, memperluas jaringan, serta memfasilitasi dan mengembangkan program kewirausahaan untuk mahasiswa.

Baginya, karakter, mindset, jejaring adalah kunci untuk membangun kebermanfaatan. Ia mendorong mahasiswa untuk tidak hanya fokus di dalam kelas, tetapi juga aktif dalam kegiatan organisasi di luar kelas. “Kalau kita punya wadah, kebermanfaatan akan lebih luas,” Ujarnya.

Sebagai akademisi di Sekolah Vokasi IPB, Ia meyakini bahwa tugas seorang dosen tidak hanya sebatas mengajar/pendidikan, tetapi juga mencakup penelitian dan pengabdian masyarakat. “Intinya dosen itu Tridharma (pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat) yang harus dipenuhi dengan baik, tetapi ada hal lain di luar itu yang lebih luas juga perlu dikerjakan dengan baik sehingga bisa berdampak luas” Ujarnya. Ia pun aktif dalam beberapa penelitian dan beberapa publikasi artikel ilmiah.

Dalam perjalanannya, Rici menyadari bahwa tantangan terbesar dalam masa depan yaitu membangun kolaborasi yang lebih besar, agar kebermanfaatan yang bisa diberikan juga tentunya akan lebih luas. Maka dari itu, Ia terus mendorong mahasiswa untuk berjejaring dan membangun hubungan baik di dalam maupun di luar kampus. Dengan pengalamannya, ia berharap bisa terus menginspirasi mahasiswa dan para akademisi untuk berkontribusi lebih luas dalam dunia pendidikan dan masyarakat.***

Matius Salomo Nababan

Perjalanan dari Bogor Menuju Senayan Park, Jakarta Pusat 

Bogordaily.net – Pada Minggu, 23 Januari 2025. Saya, papih, dan dua adik, memutuskan untuk menjemput mami yang pada saat itu sedang ada pekerjaan sebagai Makeup Artist di Jakarta. Beliau pulang sore, dan memutuskan untuk pergi makan dan mencari hiburan terlebih dahulu bersama teman-temannya yang lain. Saat itu, keputusan tempatnya berada di “Senayan Park”. Maka, saya dan beberapa anggota keluarga lainnya sibuk bersiap-siap pada sore harinya untuk menjemput ke Senayan Park yang berada di Jalan Gerbang Pemuda No. 3, Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat 10270. Sebagai gambaran awal, “Senayan Park” adalah pusat gaya hidup modern di Jakarta yang menawarkan berbagai pilihan hiburan, dan tempat makan.
Satu adik saya yang masih berumur dua tahun, tentu sangat senang mendengar akan pergi menjemput mami. Maka dari itu, dalam mempersiapkan perjalanan ke Senayan Park ini, saya bukan hanya bersiap-siap untuk diri saya sendiri, melainkan turut mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan untuk adik saya yang masih kecil, seperti membawa beberapa perlengkapan (baju & celana pengganti). Setelah semua perlengkapan dikemas dengan baik, kami berangkat ke Senayan Park dengan menaiki mobil.
Perjalanan ini membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih. Adik saya yang masih kecil tersebut, tampak sangat antusias melihat berbagai objek yang dia temukan selama perjalanan. Di umurnya yang masih sangat belia, adik kecil satu itu memang belum lancar bicara, namun sepanjang perjalanan, kami yang sudah dewasa turut serta menanggapi obrolannya tentang objek yang dia lihat, seperti pepohonan rindang di sisi kanan dan kiri, mobil-mobil yang melaju cepat di sepanjang jalan tol, dan sesekali ada kereta yang lewat di bagian atas jalan.
Dia sangat suka kereta, sehingga setiap kali ada kereta yang melintas, dia langsung berdiri dan menghadap belakang (agar bisa memandangi kereta dengan waktu yang cukup lama). Tidak hanya sampai di situ, ternyata anak kecil selalu menangkap apa yang pernah dilihatnya, walaupun mungkin tidak sering. Tapi dia sangat tertarik pada gerbang tol, dimana kartu akan ditempelkan untuk bisa membuka palang. Setiap kali mau memasuki gerbang tol, adik kecil ini juga langsung berdiri, dan siap melihat aksi papi-nya dalam membayar tol menggunakan kartu yang ditempel.
Anak kecil memang selalu bisa memberikan kesan yang lucu, menarik, dan bahkan tidak terduga di setiap perjalanannya. Terkadang dia sangat terkejut dengan apa yang baru ditemuinya di jalan, terkadang dia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selama dia melakukan perjalanan, dan bahkan tiba-tiba bisa saja menangis tanpa diketahui secara pasti apa penyebabnya, terlebih adik saya masih berusia dua tahun, belum lancar berbicara.
Jadi ketika menangis, saya dan anggota keluarga yang lain pun harus menebak-nebak apa kemauan dia. Misalnya saja seperti di perjalanan kali ini. Awal-awal perjalanan memang dilalui dengan hal yang mulus, banyak objek yang dia nikmati, tapi lama kelamaan, adik saya menangis dan memegangi perut. Ternyata setelah ditebak, adik kecil saya itu ingin makan, dia lapar, dan ingin segera turun.
Di saat-saat seperti itulah yang menjadi tantangan bagi kami sebagai orang dewasa untuk membuat dia tenang. Tantangan menariknya adalah ketika saya sudah hidup di dunia digital, dan rasa-rasanya selalu ingin langsung memberikan tontonan kartun. Karena dengan cara itu, biasanya adik saya langsung terdiam, apalagi jika tontonannya terdapat kereta.
Tapi setelah dipikir kembali, saya maupun anggota keluarga yang lain, memutuskan untuk tidak melakukannya. Kami lebih memilih untuk mengalihkan perhatian si kecil dengan cara bercerita panjang lebar dengan apa yang ada di perjalanan. Semua objek yang dilihat, kami sebutkan satu per satu, hingga entah mengapa setelah itu banyak kereta yang melintas. Membuat adik kecil saya semakin lupa dengan rasa laparnya, dan beralih melihat kereta yang melaju dengan kecepatan biasa, sama dengan mobil.
Perjalanan yang panjang, biasanya diisi dengan mainan yang dia punya di rumah. Tapi sayangnya tidak saya bawa. Namun, justru pada saat inilah usaha saya dan keluarga saya dalam mengobrol dengan anak kecil diuji. Bagaimana caranya supaya dia tetap bisa nyaman walaupun  belum terlalu mengerti bahasanya.
Bagaimana kemudian kosakata kami diuji, karena mengobrol dengan anak kecil itu ternyata harus bisa tau banyak, tidak harus yang berat-berat, misalnya hanya sekedar mendeskripsikan warna pohon, apakah disana ada buah atau burung yang hinggap, daun-daunnya banyak, tertiup angin atau tidak, dan lain sebagainya. Mungkin kesannya sangat sederhana, tapi pada saat melakukannya, butuh pikiran yang cepat untuk mengeluarkan semua kata-kata demi membuat anak kecil ini bisa teralihkan fokusnya. Jika bercerita sudah tidak berguna, maka tahap selanjutnya yang dilakukan adalah dengan bernyanyi.
Bernyanyi dari hal yang dia suka, misalnya kereta. Maka sepanjang perjalanan, kami akan menyanyikan lagu kereta untuk si kecil, sambil tepuk tangan supaya meriah, dan membuat si kecil aktif bergerak. Kalau sudah bosan, baru ganti lagu yang lain. Dengan hiburan-hiburan yang diberikan selama perjalanan, membuat si kecil kelelahan, hingga membuatnya tertidur.
Terlebih pada saat perjalanan, tiba-tiba hujan datang, membuat suasana semakin nyaman untuk tidur. Pada akhirnya adik kecil itu tertidur di pangkuan saya. Semenjak dia tertidur, biasanya selintas suka memikirkan momen-momen bersama dia. Dan selintas pula, saya merasa senang karena bisa mengalihkan dia untuk terus tersenyum, tertawa, dan bertepuk tangan, hanya karena mendengar nyanyian atau cerita saya dan anggota keluarga lainnya di dalam mobil. Artinya, selama perjalanan, dia berhasil untuk tidak menonton melalui gadget.
Satu jam berlalu, akhirnya perjalanan kami sekeluarga telah sampai. “Senayan Park”, yang ada di Jakarta Pusat itu benar-benar memiliki banyak tempat yang menarik untuk dikunjungi. Sampai di sana, langsung menyambut hangat mami yang baru pulang bekerja bersama teman-temannya. Karena selama perjalanan, adik kecil kami sudah menangis meminta makan, akhirnya kami putuskan untuk membeli makan terlebih dahulu.
Kami makan bersama di sana, menikmati kebersamaan yang saat ini sudah jarang dirasakan. Saling berbagi cerita satu sama lain, termasuk cerita selama menempuh perjalanan ke “Senayan Park”. Kemudian, beranjak dari tempat makan, saya dan keluarga lanjut berjalan-jalan mengelilingi tempat menarik ini hingga malam tiba. Ternyata pada malam hari, lebih indah. Banyak lampu-lampu yang menyala, tempat wisata pun dibuka untuk umum, seperti perahu yang harus didayung sendiri, dan disana ada angsa juga.
Perjalanan ini sangat menyenangkan, belajar dari si kecil yang selalu ingin tahu segalanya, membuat kami para orang dewasa harus berusaha untuk menyeimbangkan obrolan yang mungkin bahasanya harus lebih disederhanakan kembali. Tapi dari itu, kami juga belajar, bahwa anak kecil sangat butuh perhatian untuk tumbuh kembangnya.***
Wanda Fithriana 
Mahasiswa Komunikasi Digital & Media, Sekolah Vokasi IPB

Gara-Gara Abidzar Film Adaptasi “A Business Proposal” Di Boikot Para Penggemar Drama Korea?

0

Bogordaily.net – Belakangan ini, dunia hiburan Indonesia sedang ramai dibicarakan di media sosial terutama oleh para penggemar drama korea karena film adaptasi yang berjudul “A Business Proposal”. Alih-alih membuat penggemar drama korea excited, film ini justru menuai kontroversi sampai ada seruan boikot dari para penggemar drama korea. Kenapa bisa sampai seperti itu? Dan apa yang sebenarnya terjadi?

Adaptasi Film yang Malah Jadi Masalah
Adaptasi film atau drama dari luar negeri sebenarnya bukan hal baru di industri hiburan Indonesia. Banyak sekali film Hollywood, Jepang, ataupun Korea yang dibuat ulang atau di-remake dengan sentuhan lokal agar lebih relevan dengan kehidupan Masyarakat Indonesia. A Business Proposal adalah salah satu drama korea yang sangat populer, jadi wajar saja kalau ekspektasi para penggemar drama korea sangat tinggi terhadap adaptasi Film yang dilakukan oleh Falcon Pictures ini.

Tapi sayangnya, sebelum film ini rilis, komentar salah satu aktor yang bernama Abidzar Al-Ghifari soal perannya ini justru membuat panas suasana. Abidzar berkata bahwa ia tidak sama sekali menonton versi asli drama korea-nya, karena ingin membuat karakter sendiri.

Sekilas mungkin hal ini terdengar wajar, namun sebenarnya hal tersebut terdengar seperti tidak menghargai sumber aslinya. Karena bagaimanapun, jika ingin me-remake sebuah film atau drama seharusnya para aktor tetap mengikuti alur atau karakter cerita aslinya, bukan malah mengubah karakter atau bahkan membuat karakter sendiri yang tidak sesuai dengan versi aslinya. Tidak hanya itu, pernyataan Abidzar yang terkesan meremehkan penggemar budaya Korea makin memperkeruh keadaan.

Ditambah lagi ia membuat story Instagram yang menyindir para penggemar drama korea dan membawa isu rasisme dengan caption “Pengen nge-jelasin tapi pasti tetep bakal ga suka, emang dari dasar nya udah ga setuju mau di jelasin kek apaan tau sepertinya akan tetap begitu. Rasisme di Indonesia ternyata masih ada.” Padahal permasalahan ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan isu rasisme. Banyak penggemar drama korea yang merasa kalau Abidzar tidak profesional sebagai aktor dan kurang paham tentang pentingnya menjaga hubungan baik dengan audiens. Hal ini menjadi bukti bahwa setiap kata yang keluar dari mulut aktor bisa berdampak besar.

Reaksi Fans dan Seruan Boikot
Dampak dari kontroversi tersebut sangatlah besar. Para penggemar drama korea, terutama yang sangat menyukai versi aslinya, langsung menyerukan boikot. Di media sosial, tagar boikot film “A Business Proposal” ini sempat trending. Banyak sekali audiens yang merasa kecewa dan tidak tertarik lagi untuk menonton Film tersebut karena pernyataan aktor utamanya yang kurang menghargai karya asli.
Untuk industri perfilman, reaksi seperti ini jelas sangat bahaya. Seruan boikot sangat berdampak ke jumlah penonton dan bahkan reputasi rumah produksi yang membuat film ini.

Bayangkan saja, jika sejak awal film ini sudah dicap negatif oleh audiens, bagaimana nasibnya ketika rilis nanti? Apakah masih ada yang mau menonton?
Dari kejadian ini, kita bisa melihat kalau adaptasi atau remake film itu bukan hanya sekedar mengganti bahasa dan lokasi syuting aja, atau bahkan mengubah versi aslinya. Ada unsur budaya, karakter, dan emosi yang harus tetap dijaga supaya film tersebut tidak kehilangan karakter aslinya. Jika tidak dilakukan dengan baik, yang ada malah akan membuat marah para fans setia dari karya asli Film atau Drama tersebut.

Apa Pelajaran yang Bisa Diambil?
Dari kejadian ini, ada beberapa hal yang bisa jadi pelajaran untuk industri hiburan di Indonesia. Yang pertama, adaptasi film atau drama dari luar negeri bukan hanya soal mengganti latar dan Bahasa saja, tetapi juga soal menghormati karya asli. Bagaimanapun, film yang diadaptasi itu sudah punya penggemarnya sendiri dan ekspektasi mereka pasti tinggi. Jika ingin membuat versi baru, setidaknya harus ada usaha untuk tetap menunjukkan rasa hormat ke versi aslinya. Sudah seharusnya aktor dan tim produksi menonton dan memahami cerita aslinya terlebih dahulu, dan bukan hanya sekadar untuk referensi saja, tetapi juga sebagai bentuk apresiasi.

Yang kedua, sebagai aktor yang menjadi sorotan publik, penting sekali untuk mereka lebih peka dalam berbicara. Sekarang ini di era digital, satu komentar saja bisa langsung viral dalam hitungan jam. Apa yang dikatakan seorang public figure, terutama terkait proyek yang sudah ditunggu-tunggu banyak orang, harus benar-benar dipertimbangkan. Pernyataan yang terkesan meremehkan bisa sangat berdampak besar.

Kasus ini menjadi bukti kalau adaptasi film itu bukan sekedar mengubah latar cerita saja, tetapi juga soal menghormati karya aslinya. Kontroversi yang terjadi juga menunjukkan pentingnya komunikasi yang baik antara aktor, rumah produksi, dan para penonton. Jika tidak berhati-hati, adaptasi yang awalnya diharapkan bisa sukses malah menjadi masalah besar.

Sebagai penonton, kita juga punya hak untuk mengkritik film yang kita tonton. Tetapi, di sisi lain, kita juga harus tetap bijak dalam memberikan komentar. Semoga ke depannya, industri film di Indonesia dan para Aktor Indonesia bisa lebih baik dalam menciptakan hiburan, tanpa harus ada drama seperti ini.***

Siti Rizka Aulia
Mahasiswi Sekolah Vokasi IPB

Kisah Inspiratif Seorang Mohammad Dika Eka Firdaus di Dunia Pendidikan

0

Bogordily.net – Mohammad Dika Eka Firdaus, atau yang akrab disapa Dika, bukanlah sosok yang sejak awal bercita-cita menjadi pendidik. Namun, perjalanan hidupnya membawanya ke dunia akademik, di mana ia kini menjadi asisten dosen di Program Studi Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB. Di balik perannya sekarang sebagai Asisten Dosen, Mohammad Dika Eka Firdaus memiliki perjalanan hidup yang penuh inspirasi. Lahir dan besar di Serang, Banten, pemuda berusia 25 tahun ini tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari ia akan mengabdikan diri di dunia akademik. Namun, hidup selalu penuh dengan kejutan, dan bagi Dika, dunia pendidikan menjadi panggilan yang tak terduga namun bermakna.

Dika menempuh pendidikan sarjana di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, dengan jurusan Ilmu Komunikasi, dan lulus pada tahun 2021. Setelah menyelesaikan S1, kesempatan emas pun datang kepadanya. Pada tahun 2022, ia melanjutkan pendidikan pascasarjana di IPB University, mengambil Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan. Di sinilah jalannya sebagai akademisi mulai terbuka.

Menjadi Asisten Dosen di Sekolah Vokasi IPB bukanlah bagian dari rencana awalnya. Tawaran tersebut datang dari seorang teman sekelasnya di perkuliahan S2, yaitu Pak Fahmi Fuad Cholagi, seorang Asisten Dosen yang kini telah menjadi Dosen Tetap di Sekolah Vokasi IPB. Awalnya, Dika hanya ingin fokus pada studinya saja, namun ajakan untuk menjadi Asisten Dosen tersebut membuatnya berpikir ulang.

Pada akhirnya, di semester ketiga Dika mendapatkan lebih banyak waktu luang, sehingga ia pun menerima tawaran dari teman sekelasnya yaitu Pak Fahmi untuk menjadi Asisten Dosen.

Sebelum menjadi Asisten Dosen, Dika juga sebenarnya sudah memiliki pengalaman mengajar yang cukup berharga. Ia pernah menjadi guru di Yayasan Pondok Pesantren milik keluarganya selama kurang lebih tiga tahun. Selama masa kuliahnya di S1, ia sering pulang ke yayasan tersebut untuk membantu mengajar para santri.

Pengalaman ini memberikan pemahaman yang mendalam tentang dunia pendidikan dan membentuk cara pandangnya terhadap profesi pengajar. Dika mengakui bahwa pengalaman mengajarnya ini membuatnya lebih percaya diri saat menerima tawaran untuk menjadi Asisten Dosen.

Ia merasa bahwa menjadi pengajar dan Asisten Dosen adalah suatu kesamaan yaitu memberikan arahan dan pengajaran gitu kan kepada siswa. Pengalamannya sebagai guru di yayasan telah menjadi fondasi yang kuat bagi perjalanannya di dunia akademik.

Sejak saat itu, mulai dari tahun 2023, Dika telah menjadi Asisten Dosen di Sekolah Vokasi IPB dan mengajar beberapa mata kuliah di Program Studi Komunikasi Digital dan Media, seperti Diseminasi Informasi, Produksi Film dan Video, Presentasi dan Negosiasi, Perencanaan dan Pembelian Media, Kepemimpinan dan Pengembangan Karakter, Penulisan Kreatif, serta Komunikasi Lintas Budaya.

Selama hampir dua tahun, ia semakin mencintai dunia pengajaran dan mendapati bahwa peran ini lebih dari sekadar pekerjaan, ia berpikir bahwa hal ini adalah sebuah dedikasi.

Sebagai seorang Asisten Dosen, Dika memiliki berbagai tanggung jawab, mulai dari membantu perancangan materi praktikum, mendampingi mahasiswa dalam pembelajaran di kelas maupun di lapangan, hingga menginput nilai. Namun, tugas-tugas yang ia jalankan ini bukan tanpa tantangan. Terdapat banyak tantangana yang ia hadapi selama menjalankan tugas-tugas tersebut.

Salah satu tantangan terbesar yang ia hadapi adalah perbedaan pandangan antar dosen dalam satu mata kuliah. “Sering kali, dalam satu mata kuliah ada tiga sampai empat dosen dengan pemikiran yang berbeda-beda. Sebagai Asisten Dosen, kami harus bisa menyesuaikan diri dengan arahan masing-masing Dosen” ungkapnya. Solusinya adalah, ia berusaha menyesuaikan metode pengajaran dengan gaya setiap dosen, tanpa harus membenturkan satu pandangan dengan yang lain.

Tak hanya itu, menghadapi mahasiswa dengan karakter yang sangat beragam juga baginya menjadi tantangan tersendiri. Ada mahasiswa yang aktif bertanya, ada pula yang kurang disiplin dan cenderung membuat gaduh di kelas. “Awalnya, saya bukan tipe orang yang mudah berbaur,” akunya. “Tapi, saya belajar bahwa setiap mahasiswa itu punya cara belajar yang berbeda. Jadi Saya harus menyesuaikan diri dengan mereka.” Karena itu, ia belajar untuk lebih tegas dan bisa mengelola situasi di ruang kelas dengan baik.

Meskipun demikian, ada banyak pengalaman mengajar yang berkesan bagi dirinya. Di antara berbagai pengalaman mengajarnya, ada satu momen yang tak pernah terlupakan bagi Dika. Saat mengajar mata kuliah Presentasi dan Negosiasi, seorang mahasiswi melakukan roleplay sebagai pesulap. Di tengah penampilan sulapnya, mahasiswi itu tiba-tiba memberikan bunga hasil trik sulapnya kepada Dika. “Itu adalah momen yang sangat berarti bagi saya, dan saya masih menyimpan bunga itu sampai sekarang,” kenangnya.

Meskipun awalnya ia tidak bercita-cita untuk menjadi seorang dosen, pengalaman yang telah ia jalankan sebagai Asisten Dosen membuka peluang baru bagi Dika. Saat ini, ia mempertimbangkan untuk melanjutkan karirnya sebagai dosen di masa depan, baik di IPB maupun di kampus lain. Jika kesempatan untuk menjadi dosen datang, ia akan dengan senang hati mengambilnya. Namun, jika takdir membawanya ke jalur lain, ia akan tetap mencari pekerjaan yang dapat mendukung kehidupannya dan keluarganya nanti.

Selama berkarir di dunia pendidikan, salah satu pelajaran hidup yang paling berharga bagi Dika adalah keikhlasan. Menurutnya, menjadi seorang pengajar bukan hanya soal menyampaikan materi saja, tetapi juga tentang bagaimana cara memberikan ilmu dengan hati yang tulus. “Saat masih menjadi siswa, saya sering bertanya-tanya mengapa ada guru atau dosen yang terkesan ‘kok beliau seperti itu ya’ begitu.

Tetapi, setelah saya berada di posisi mereka, dan merasakan apa yang mereka alami, saya menyadari bahwa menjadi seorang pengajar yaitu guru ataupun dosen bukanlah hal yang mudah. Selain menyiapkan materi, seorang pengajar juga harus memahami karakter mahasiswa yang beragam, dan banyak juga hal lain yang harus dipersiapkan” jelasnya.

Dika menekankan bahwa di dalam dunia pendidikan, sebesar apapun gaji yang diterima, itu tidak akan pernah cukup untuk menggantikan dedikasi dan usaha yang diberikan oleh seorang pengajar. Sebab, nilai sejati dari profesi ini adalah ilmu yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya, dan keikhlasan menjadi kunci utama demi ilmu yang terus mengalir.

Bagi generasi muda yang ingin mengambil langkah serupa untuk menjadi seorang Asisten Dosen, Dika menekankan tiga hal utama, yaitu: tanggung jawab, menghargai, dan menjadi teladan. Tanggung jawab berarti bagaimana cara kita agar bisa menjaga amanah dari dosen, menyiapkan bahan ajar dengan baik, dan memastikan mahasiswa yang kita ajar mendapatkan bimbingan yang optimal.

“Sebagai Asisten Dosen, kita dipercaya untuk membantu dosen dalam mengajar. Jadi, kita harus memastikan bahwa tugas ini dijalankan dengan sebaik mungkin agar tidak mengecewakan mereka,” ujar Mohammad Dika. Selain itu, menghargai sesama adalah nilai yang tidak kalah penting.

“Saat masih menjadi seorang mahasiswa, kita harus terbiasa menghargai dosen dan Asisten Dosen kita. Karena ketika nanti kita berada di posisi tersebut, kita akan memahami betapa menantangnya mengajar mahasiswa dengan berbagai karakter,” tambahnya.

Terakhir, Mohammad Dika menekankan pentingnya menjadi teladan. Sebagai seorang Asisten Dosen, kita harus mampu memberikan contoh yang baik bagi para mahasiswa, baik dari segi sikap, cara berpakaian, maupun etika berbicara. ” Seperti apapun karakter kita, kalau misalnya terkait aturan, berpakaian, berbicara, sopan santun, tentunya kita harus ikut dengan aturan tersebut. Karena, yang namanya aturan itu adalah nilai yang harus kita junjung.”

Mohammad Dika Eka Firdaus memberikan bukti nyata bahwa jalan hidup bisa membawa seseorang ke arah yang tak terduga, tetapi dengan ketekunan dan keikhlasan, setiap perjalanan akan menemukan maknanya. Dunia pendidikan kini bukan sekadar tempatnya bekerja, tetapi juga tempatnya menginspirasi dan bertumbuh. Ia adalah sosok yang membuktikan bahwa mengajar itu bukan hanya sekadar profesi, tetapi juga panggilan hati yang mampu memberikan dampak bagi banyak orang.***

Siti Rizka Aulia

 

Perjalanan Maharani Azzahra dari Dunia Kuliner hingga Dunia Pendidikan

0

Bogordaily.net – Maharani Azzahra merupakan seorang asisten dosen di Sekolah Vokasi IPB University. Orang-orang disekitar sering memanggil Maharani Azzahra dengan nama panggilan Rania. Saat ini beliau berusia 23 tahun dan tahun ini akan memasuki usia 24 tahun. Rania berasal dari kota kembang, yaitu Bandung. Sejak kecil beliau bertempat tinggal di Bandung dan baru menginjakkan kaki di kota hujan ini ketika beliau menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas.

Rani menempuh pendidikan Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama di Bandung dan melanjutkan Sekolah Menengah Atas di Bogor. Bukan pindah tempat tinggal, tetapi beliau melanjutkan boarding school di Kota Bogor. Setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas, Rania memilih untuk melanjutkan pendidikan di Bogor.

Memasuki tahun pendaftaran Perguruan Tinggi Negeri, awalnya Rania mendaftarkan diri pada Jurusan Tata Boga di kampus lain dan Jurusan Komunikasi di Sekolah Vokasi IPB. Rania mendaftarkan diri di jurusan komunikasi karena ia ingin mengeksplor mengenai komunikasi, public speaking dan lainnya. Namun, Rania tetap menjadikan tata boga sebagai jurusan utama yang ia pilih, sebab sejak kecil ia sudah gemar membantu nenek dan ibu nya untuk memasak di dapur. Namun sayangnya, Rania justru terpilih dan diterima sebagai mahasiswa jurusan komunikasi di Sekolah Vokasi IPB.

Meskipun diterima menjadi mahasiswa komunikasi, mimpi Rania tetap kepada dunia kuliner. Di lingkungan sekitar, Rania selalu dikatakan mirip dengan sang nenek yang gemar memasak. Impian nya pada dunia kuliner masih ada hingga kini. Ia bercita-cita sejak kecil ingin masuk ke dalam salah satu acara televisi pencarian bakat di bidang kuliner, yaitu MasterChef Indonesia. Cita-cita dan mimpinya tersebut didukung oleh orang sekitarnya, namun ia masih merasa bahwa kemampuan nya saat ini belum terlalu mahir.

Rania saat ini berprofesi asisten dosen Sekolah Vokasi IPB. Tidak ada rencana menjadi asisten dosen pada awalnya. Berawal dari keisengan sambil menunggu wisuda ia kini menjadi asisten dosen sudah sekitar 6 bulan lamanya. Awalnya, ia mengajar mata kuliah statistika mendampingi Bapak Rici Tri Harpin Pranata S.Kpm., M.Si. karena kebetulan belum ada asisten dosen yang mendampingi. Selebihnya, ia mengajar mata kuliah Komunikasi Merek Kreatif sebagai pengisi waktu luang saja.

Saat ini, ia mengajar angkatan 61 di mata kuliah big data dan literasi digital. Sebelum menjadi asisten dosen, Rania bergabung menjadi salah satu anggota project Desa Presisi. Hingga kini ini, ia masih bergabung menjadi bagian dari Desa Presisi.

Menjadi asisten dosen selama dua semester ini, membuat Rania memiliki tanggung jawab utama. Dimana Ia harus memeriksa tugas mahasiswa satu persatu secara teliti dan menilai, serta merekap tugas mahasiswa. Meskipun terlihat mudah, namun itu merupakan tanggung jawab utama yang harus dijalani sebagai asisten dosen.

Tanggung jawab sebagai asisten dosen sebenarnya juga merupakan tantangan bagi Rania, karena harus memeriksa tugas-tugas mahasiswa dalam jumlah banyak dan harus membaca serta memahami tugas mereka. Selain itu, tantangan lain adalah mata kuliah yang sebelumnya tidak ada dan belum pernah dipelajari, seperti mata kuliah big data. Mata kuliah big data ini adalah sesuatu yang baru di Program Studi Komunikasi Digital dan Media, sehingga bagi Rania ini adalah hal baru yang menjadi tantangan dan butuh penyesuaian tersendiri. Bukan hanya itu, tantangan besar yang harus dihadapi adalah keingintahuan mahasiswa. Menurut Rania, terkadang mahasiswa ingin lebih banyak eksplor sehingga memiliki banyak pertanyaan yang sulit.

Dunia pendidikan sebenarnya bukan menjadi tujuan awal Rania dalam berkarir. Tujuan ia dari awal adalah ingin berkecimpung di dunia kuliner. Maka rencana ia kedepannya akan kembali bersekolah sesuai dengan dunia yang ia tuju, yaitu dunia kuliner. Ia berencana akan melanjutkan ke sekolah masak untuk memperdalam dunia kuliner. Rencana itu ia buat setelah nantinya ia sudah selesai menjadi asisten dosen di Sekolah Vokasi.

Meskipun saat ini ia berkarir sebagai asisten dosen, Maharani Azzahra, mengembangkan hobi dan keahlian nya dalam memasak sebagai ladang bisnis kecil-kecilan. Kini ia mencoba memulai membuka catering makanan kecil-kecilan, seperti puding-puding lucu. Ia membuka catering sebenarnya juga hanya kepada orang-orang terdekat. Keahliannya ini didapatkan ketika saat masih kecil ia sering membantu nenek, tante, dan ibu nya dalam berjualan kue, sehingga dari sana keahliannya didapatkan.

Selama berkecimpung di dunia pendidikan, khususnya menjadi tenaga pendidik, terdapat pelajaran yang dapat diambil. Dalam dunia pendidikan, Rania belajar lebih saling menghargai satu sama lain antara mahasiswa dengan asisten dosen. Baginya, belum banyak pelajaran yang dapat diambil menjadi asisten dosen karena ia pun baru berkecimpung di dunia ini 6 bulan lalu. Namun, ia merasa menjadi asisten dosen dunia nya masih sama dengan dunia mahasiswa dan sama dengan dunia kampus yang ia jalani sebelumnya.

Dalam pelajaran hidup, banyak hal yang harus diterima. Secara luas, menurut Maharani Azzahra hidup itu tidak bisa diduga dan diterka. Seperti halnya ia tidak pernah menyangka bisa menjadi asisten dosen walaupun pernah terbesit di pikiran nya untuk mengajar. Pada kenyataan setelahnya, ia justru harus berkarir menjadi asisten dosen dan harus menerima bahwa hidup membawanya menjadi asisten dosen. Banyak hal di dunia ini yang terkadang kita tidak tahu arahnya kemana, seperti dahulu ia memiliki jurusan impian namun ternyata justru sebaliknya, ia harus masuk ke jurusan yang bukan menjadi prioritas utamanya.

Dalam kehidupan kampus, ia merasa bahwa kurang mengeksplor dan kurang menikmati masa menjadi mahasiswa. Dahulu ketika diberikan tugas oleh dosen ia selalu mengerjakan seadanya dan sebisanya saja, padahal apabila tugas tersebut dikerjakan dengan sungguh-sungguh mungkin akan lebih seru dan menjadi kenangan tersendiri. Pesan Rania kepada mahasiswa/i saat ini adalah perbanyak eksplor dunia mahasiswa dan pergunakan title mahasiswa yang disematkan sebaik-baiknya.

Ikuti banyak kegiatan di luar maupun di kampus karena dengan title mahasiswa kita bisa menjangkau lingkungan lebih luas. Setelah selesai menjadi mahasiswa, kamu sudah tidak bisa lagi mengeksplor banyak hal dan mengikuti banyak kegiatan, maka dari itu menurut Rania nikmatilah masa menjadi mahasiswa sebaik mungkin.***

Nusie Mahmuda

Dari Indofest 2025, EIGER Kenalkan Zero Waste Mountain Bulu Baria Gunung Terbersih Pertama di Sulawesi

0

Bogordaily.net – Perhelatan Indofest 2025 menjadi momentum EIGER Adventure sebagai brand penyedia perlengkapan luar ruang asal Indonesia, mengenalkan kembali tentang cerita Zero Waste Mountain.

Istilah ini pertama kali menjadi sebutan bagi gunung terbersih di Indonesia pertama yang berada di Kabupaten Wonosobo, yakni Gunung Kembang. Berkolaborasi dengan EIGER, Pos Pendakian Gunung Kembang via Blembem, diakui sebagai gunung terbersih di Indonesia. Pasalnya, aturan mengenai manajemen perbekalan pendaki, dikelola dengan sangat ketat di Gunung Kembang, tidak boleh ada sama sekali sampah plastik yang dibawa naik hingga ke puncak.

Konsep Zero Waste Mountain pun perlahan dinikmati manfaatnya oleh ribuan pendaki, akhirnya sepanjang jalur pendakian menuju Puncak Gn Kembang, ekositem terjaga, menyatu alami dengan rimbun pepohonan di punggungan Gunung Kembang sampai ke puncaknya.

Berlanjut ke Pulau Sulawesi, Zero Waste Mountain kembali dikolaborasikan oleh EIGER di Gunung Bulu Baria, sebuah gunung berketinggian 2.730 Mdpl, berlokasi di Desa Manimbahoi, Kec. Parigi, Kab. Gowa, Sulawesi Selatan. Bulu’ dalam bahasa Bugis, berarti gunung. Bulu’ Baria perlahan mulai dikenal sebagai gunung terbersih, gunung bebas sampah pertama di Sulawesi.

Musta’in, pengelola basecamp Gunung Bulu Baria diterbangkan langsung oleh EIGER dari basecamp Bulu Baria hingga ke tengah-tengah panggung utama perhelatan Indofest 2025, pada Jumat 13 Juni 2025.

Musta’in bercerita aturan tertulis yang menjaga Bulu Baria tetap bersih dan bebas sampah dimulai dari pos registrasi. Dari Dusun Pattiro, Desa Manimbahoi setiap pendaki yang hendak memulai langkah pertamanya menuju puncak Bulu Baria, dilakukan pemerikaan perbekalan, peralatan keamanan juga memindahkan perbekalannya ke dalam wadah yang telah disiapkan oleh pengelola.

“Perbekalan bisa dipindahkan ke wadah, kami sudah menyiapkan wadahnya, bisa digunakan oleh para pendaki sebagai fasilitas. Lalu apa yang bisa menjadi sampah sekali pakai, dicatat dan harus dibawa turun lagi di perjalanan pulang. Kalau hilang satu sampahnya, bakal ada denda. Kemudian dalam satu tahun, Bulu’ Baria akan ditutup di Januari hingga Maret saat puncak musim hujan. Untuk perawatan ekosistem, dan mengembalikan kondisi alamnya, kini Bulu’ Baria dikenal sebagai gunung bebas sampah di Sulawesi;” ujar Mustain.

Galih Donikara selaku Advisor Eiger Adventure Service Team, kolaborasi dan dukungan EIGER untuk Bulu Baria sejalan dengan nilai yang dijaga dan dipertahankan oleh EIGER selama 35 tahun terakhir, yakni inovasi, alam dan manusia.

Menurut Galih, inovasi-inovasi yang dilakukan oleh EIGER diharapkan bisa memberikan dampak langsung bagi alam dan juga manusianya.

“Bulu Baria menunjukkan pada kita, bahwa di Sulawesi ternyata gunung terbersih dan bebas sampah. EIGER mengajak untuk terus jaga komitmen ini, oleh segenap warga desa dan pengelola juga tetua adat dari Desa Manimbahoi. EIGER mengucapkan terima kasih sudah diberikan kesempatan untuk bersama ikut menjaga Bulu Baria. Semoga dalam waktu dekat makin banyak lagi gunung di Indonesia yang bisa kita nikmati keindahannya, tanpa ada sampah dari mulai pos registrasi hingga ke puncaknya,” pungkas Galih.***

UMKM Madu Lokal Naik Kelas! Tembus Pasar Global Berkat Dukungan BRI

0

Bogordaily.net – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk secara konsisten mendorong pelaku UMKM untuk naik kelas dan menembus pasar global melalui berbagai inisiatif pembinaan berkelanjutan. Dukungan tersebut mencakup akses pasar, pelatihan, hingga fasilitasi promosi.

Salah satu mitra binaan yang menunjukkan capaian positif dari pembinaan ini adalah BeeMa Honey, produsen madu artisan premium yang kini mulai menjangkau pasar internasional. BeeMa Honey mulai dirintis pada 2017 dan resmi berbadan hukum sebagai Perseroan Terbatas pada 2019.

Nama BeeMa terinspirasi dari tokoh Bima dalam kisah pewayangan Jawa, yang merepresentasikan nilai kejujuran, integritas, dan kepercayaan.

Pemilik BeeMa Honey Fransisca Natalia Widowati mengungkapkan bahwa kolaborasi BeeMa Honey dengan BRI telah membuka banyak peluang untuk pengembangan usahanya. “Kami pertama kali berhubungan dengan BRI melalui kegiatan UMKM Expo(RT) pada 2019 dan saat itu masuk 10 besar kategori makanan siap ekspor. Sejak itu kami rutin diundang dalam pameran yang difasilitasi BRI, dan produk kami beberapa kali dibeli oleh BRI untuk dijadikan cenderamata,” ujarnya.

Mengusung merek BEEMA HONEY dan BEEMA WELLNESS, pengusaha UMKM ini memproduksi madu mentah berkualitas tinggi dari berbagai jenis lebah termasuk lebah budidaya, lebah hutan, dan lebah Trigona atau lebah tanpa sengat. Seluruh produknya telah tersertifikasi Halal, BPOM, NKV, serta HACCP, dan telah melalui proses pengujian laboratorium terakreditasi untuk menjamin mutu dan keamanan konsumsi.

Salah satu pencapaian terbaru BeeMa Honey adalah partisipasinya dalam FHA Food & Beverage 2025 di Singapura pada 8 hingga 11 April 2025. Dalam ajang tersebut, BeeMa Honey memperkenalkan produk unggulannya kepada audiens internasional dan berhasil menjalin kerja sama dengan sejumlah mitra strategis.

BeeMa Honey juga telah dipercaya oleh pelaku industri hospitality, termasuk sejumlah hotel berbintang di Singapura.
Fransisca menambahkan bahwa respon pengunjung terhadap produk BeeMa Honey di ajang tersebut sangat positif.

“Banyak yang tidak menyangka bahwa Indonesia bisa menghasilkan madu yang istimewa dengan cita rasa yang tidak kalah, bahkan lebih baik dari madu-madu negara lain. Dengan maraknya isu pemalsuan madu, banyak masyarakat meragukan keasliannya. Setelah mencoba BeeMa Honey, mereka mendapatkan banyak pencerahan dan jatuh cinta pada madu dari Indonesia,” ujarnya.

Kisah BeeMa Honey menunjukkan bahwa akses yang tepat dan pendampingan yang konsisten dapat mendorong UMKM lokal untuk menembus pasar global. Pencapaian ini merupakan bukti nyata kolaborasi antara pelaku usaha dan BRI mampu meningkatkan daya saing UMKM secara berkelanjutan.

Pada kesempatan terpisah, Corporate Secretary BRI Agustya Hendy Bernadi menegaskan komitmen BRI dalam membangun ekosistem pemberdayaan UMKM yang menyeluruh dan berorientasi global. “Pencapaian BeeMa Honey menjadi cerminan dari bagaimana daya saing UMKM tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk semata. Dukungan yang komprehensif, mulai dari pembiayaan, peningkatan kapasitas usaha hingga konektivitas pasar global, menjadi faktor kunci dalam mendorong UMKM untuk naik kelas. BRI berkomitmen membangun ekosistem pemberdayaan yang terintegrasi agar semakin banyak UMKM Indonesia dapat go global dan berkontribusi di pentas ekonomi dunia,” tutup Hendy.***