Friday, 10 April 2026
Home Blog Page 806

Harga Terbaru Emas Antam 8 April 2025, Cek di Sini!

0

Bogordaily.net – Harga emas logam mulia (LM) Antam terkini yang dijual per gram oleh Pegadaian siang ini per gram, Selasa, 8 April 2025.

Antam tetap menyediakan berbagai ukuran berat emas mulai dari yang terkecil, yaitu 0,5 gram, hingga yang terbesar, 1.000 gram.

Harga Emas Antam

Segini harga emas produksi Antam :

Harga emas Antam hari ini 0,5 gram: Rp 927.000
Harga emas Antam hari ini 1 gram: Rp 1.754.000
⁠Harga emas Antam hari ini 2 gram: Rp 3.458.000
Harga emas Antam hari ini 3 gram: Rp 5.169.000
⁠Harga emas Antam hari ini 5 gram: Rp 8.586.000
⁠Harga emas Antam hari ini 10 gram: Rp 17.080.000
Harga emas Antam hari ini 25 gram: Rp 42.550.000
Harga emas Antam hari ini 50 gram: Rp 84.950.000
Harga emas Antam hari ini 100 gram: Rp 169.720.000
Harga emas Antam hari ini 250 gram: Rp 424.000.000
Harga emas Antam hari ini 500 gram: Rp 847.750.000
⁠Harga emas Antam hari ini 1000 gram: Rp 1.694.600.000

Manfaat Beli Emas Logam Mulia

1. Nilainya Stabil

Salah satu hal yang membuat banyak orang berminat menabung emas yaitu karena nilai emas stabil.

Walaupun terkadang mengalami penurunan nilai, namun nilainya cenderung naik dari waktu ke waktu.

Harga yang stabil membuat banyak investor emas bisa mendapatkan keuntungan besar di masa yang akan datang.

2. Modal Awal Relatif Kecil

Sejauh ini mungkin banyak di antara kita yang mengira bahwa tabungan emas memerlukan modal awal yang besar. Padahal, menabung emas bisa dimulai dari nominal kecil.

Anda dapat menabung emas Antam mulai dari 0,01 gram dengan biaya fasilitas penitipan emas per tahun sebesar Rp30.000.

3. Likuiditas Tinggi

Keunggulan tabungan emas Antam lainnya yaitu likuiditasnya tinggi atau mudah dicairkan.

Anda dapat mencairkan tabungan emas dalam bentuk emas batangan atau uang tunai sesuai saldo gram emas yang dimiliki.

Lembaga penyedia tabungan emas ini biasanya menyediakan fasilitas buyback atau beli kembali emas.

Misalnya, saat Anda memiliki tabungan emas, Anda dapat menjualnya kembali dengan nominal minimal sesuai ketentuan yang berlaku.

4. Bisa Menjadi Jaminan Gadai

Ketika Anda membutuhkan uang dalam waktu cepat, namun tidak ingin menjual emas yang dimiliki.

Maka Anda bisa menjadikan emas tersebut sebagai jaminan. Hal ini dikarenakan, emas memiliki nilai ekonomis, sehingga dapat dijadikan sebagai jaminan.

Tak hanya itu, nilai gadai emas juga lebih tinggi dibandingkan barang lain karena harganya sudah diketahui pasti.

Dengan memilih gadai, emas yang dijadikan sebagai jaminan tidak akan berpindah kepemilikannya.

Emas tersebut tetap menjadi milik Anda dan saat ada uang lagi, Anda dapat menebus emas tersebut kembali.

Demikian update harga emas LM Antam per gram hari ini yang dijual Pegadaian Selasa, 8 April 2025.***

Kisah Suryani, Kartini Modern Pejuang Ekonomi Keluarga yang Berhasil Naik Kelas Lewat Pendanaan KUR BRI

0

Bogordaily.net –  Upaya Kartini di masa lalu dalam memperjuangkan emansipasi wanita rasanya tidak pupus ditelan zaman. Buktinya, hingga saat ini banyak perempuan-perempuan yang tak mau berdiam diri. Demi mengangkat perekonomian keluarga, tak sedikit perempuan yang berani membuka usaha.

Semangat Kartini modern inilah yang ditunjukkan oleh Suryani, pedagang eceran asal Pamulang, Tangerang Selatan, Banten yang kini berhasil menopang perekonomian keluarga hingga mampu menyekolahkan anaknya berkat usaha toko kelontong yang ia jalankan.

“Awalnya saya mengamati jalan raya yang begitu ramai. Ada banyak kendaraan yang lalu-lalang. Saya berpikir amat sayang jika keramaian tersebut dilewatkan begitu saja. Insting berdagang saya pun kemudian muncul. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk membuka toko kelontong di pinggir jalan mulai 2009,” ungkap Suryani.

Walau didasari dengan coba-coba, tetapi Suryani terbilang niat menjadi pedagang eceran. Sembako menjadi produk jualan utamanya. Dengan lokasi toko yang dekat jalan raya, Suryani tak kesulitan menggaet pelanggan yang ingin belanja kebutuhan pokok, seperti beras, minyak, telur dan semacamnya. Lokasi yang strategis dan mudah diakses juga tak disia-siakan Suryani untuk berjualan bensin eceran. Benar saja toko kelontongnya nyaris menjadi jujugan para pengendara motor yang kebetulan lewat atau bahkan sampai langganan untuk membeli bensin.

Usaha Suryani pun kian berkembang setelah ia mendapatkan beberapa bantuan modal. Salah satunya adalah PNM Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera), yaitu program permodalan berbasis kelompok dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM) yang merupakan bagian dari Holding Ultra Mikro BRI (bersama Pegadaian dan BRI sebagai induknya). Adapun pinjaman PNM Mekaar sendiri ditujukan untuk perempuan prasejahtera pelaku usaha ultra mikro, program ini memberikan pembiayaan modal tanpa agunan.

“Pada tahun 2023 saya mendapatkan bantuan modal senilai Rp3 juta dari PNM Mekaar. Modal itu saya manfaatkan untuk menambah stok produk jualan di toko,” ungkapnya. Suryani juga mengaku jika ia mendapatkan modal tersebut melalui proses yang mudah dan tidak sulit sama sekali.

Usaha yang dijalankan Suryani pun terus berkembang sehingga Ia berkeinginan untuk menambah modal usaha hingga akhirnya Ia memanfaatkan fasilitas pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI.

“Tak lama setelah itu, saya juga mendapatkan tambahan modal usaha senilai Rp50 juta dari KUR BRI pada akhir tahun 2024. Prosesnya juga mudah, sehingga modal bisa saya terima dengan cepat untuk meningkatkan skala usaha. Enaknya lagi, dari pihak BRI juga aktif mendampingi. Jadi, saya diberi tahu bagaimana caranya memutar modal untuk usaha yang menguntungkan, kapan waktu terbaik bayar angsuran agar tidak sampai telat, dan informasi bermanfaat lainnya,” imbuh Suryani.

Berkat kejeliannya melihat peluang usaha dan kegigihannya dalam berjualan, kini toko kelontong Suryani mampu menghasilkan setidaknya Rp500 ribu per hari. Walau tujuan awalnya sebagai usaha sampingan, tetapi jerih payah Suryani membuahkan hasil. Berkat usaha toko kelontong ini Suryani makin naik kelas. Ia pun bisa menopang perekonomian keluarga, termasuk menyekolahkan anak-anaknya.

Pada kesempatan terpisah, Corporate Secretary BRI Agustya Hendy Bernadi mengungkapkan kisah Suryani ini adalah contoh nyata dari pelaku usaha yang memanfaatkan pendanaan usaha, mulai dari usaha mikro dan terus berkembang hingga naik kelas.

“BRI terus mendukung pelaku usaha ultra mikro melalui pendampingan dan pemberdayaan usaha dimana pemberdayaan itu tidak hanya dengan penyaluran pinjaman saja, namun dilakukan pendampingan usaha dan diajarkan untuk bisa menabung,” ujar Hendy. ***

DPRD Kota Bogor Dorong Langkah Strategis Antisipasi Dampak Tarif Impor AS terhadap UMKM Lokal

0

Bogordaily.net – DPRD Kota Bogor secara serius merespons kebijakan tarif impor 32 persen yang baru saja diberlakukan Amerika Serikat terhadap produk asal Indonesia, termasuk produk dari UMKM Kota Bogor.

Anggota Badan Anggaran DPRD Kota Bogor, Dedi Mulyono, menekankan pentingnya langkah strategis cepat untuk melindungi keberlangsungan bisnis UMKM yang sedang giat berkembang, terutama yang berorientasi ekspor.

Saat ini, Kota Bogor memiliki lebih dari 78.000 pelaku UMKM dengan total nilai ekspor pada 2023 saja mencapai USD 8.530.259,50.

Dari jumlah tersebut, terdapat 65 UMKM yang telah berhasil menembus pasar internasional, mencakup berbagai kategori produk seperti makanan sehat (tempe dan keripik), keramik, dan alas kaki. Produk-produk tersebut kini menghadapi tantangan signifikan akibat kebijakan tarif baru AS.

“Kebijakan ini pasti akan memberikan dampak signifikan pada UMKM kita yang telah membuka pasar di AS. Saya meminta Pemkot terutama Dinas Koperasi Usaha Kecil, Menengah, Perdagangan & Perindustrian (KUKMDAGIN) Kota Bogor agar mendampingi dan memberikan dukungan penuh kepada para pelaku usaha untuk menghadapi tantangan ini,” ujar Dedi, Selasa 8 April 2025.

Dedi mengkhawatirkan jika hal ini tidak segera diantisipasi, maka dapat menimbulkan dampak ekonomi lainnya seperti UMKM yang menutup usahanya sehingga angka pengangguran yang makin meningkat.

“angka pengangguran kita sudah tinggi, jangan sampai kita terlambat mengantisipasi hal ini” tukas Dedi.

Dedi menjelaskan bahwa pemkot harus mempercepat program program seperti upaya diversifikasi Pasar Ekspor yang Mendorong UMKM Bogor mencari pasar alternatif selain Amerika Serikat, seperti negara-negara di kawasan ASEAN, Timur Tengah, maupun Eropa.

Juga Program Penguatan Kompetensi UMKM, memfasilitasi pelatihan dan pendampingan kepada pelaku usaha untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produk serta mempercepat proses Optimalisasi Teknologi Digital yaitu Mendukung UMKM memanfaatkan platform digital secara optimal untuk pemasaran global.

Dedi juga meminta pemkot aktif berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat dan kementerian terkait guna memperjuangkan kebijakan khusus bagi UMKM yang terdampak kebijakan tarif ini.

“Kami optimistis, dengan kerja sama dan sinergi seluruh pihak, UMKM Kota Bogor tidak hanya mampu bertahan tetapi juga akan semakin kuat di pasar internasional,” kata Dedi.

Dedi yang juga Anggota dari Fraksi PKS ini akan terus memantau situasi ini secara intensif dan memastikan langkah-langkah nyata untuk melindungi kepentingan UMKM Kota Bogor segera terealisasi.

“Kita akan terus pantau situasi ini, agar dampak yang ditimbulkan dapat diantisipasi sedini mungkin,” tutup Dedi.***

Ibnu Galansa

AFC Umumkan Timnas Indonesia U-17 Lolos ke Piala Dunia U-17

0

Bogordaily.net – Kabar gembira untuk rakyat Indonesia khususnya pecinta bola. Federasi Sepakbola Asia (AFC) sudah mengumumkan Timnas Indonesia U-17 sudah dipastikan lolos ke Piala Dunia U-17 2025.

Hal itu menyusul kemenangan atas Yaman di Piala Asia. Kemenangan didapat Timnas Indonesia U-17 saat bersua Yaman pada matchday kedua Grup C Piala Asia U-17, Senin (7/4/2025) malam WIB.

Timnas Indonesia menang telak 4-1 pada laga yang berlangsung di Stadion Prince Abdullah Al-Faisal, Jeddah.

Evandra Florasta jadi bintang Timnas Indonesia U-17 lewat sumbangan dua golnya. Dua gol Indonesia lainnya dicetak Zahaby Gholy dan Fadly Alberto, sementara Yaman hanya bisa membalas via gol penalti Mohammed Al Garash.

Ini menjadi kemenangan kedua Indonesia di Piala Asia U-17 2025 usai mengalahkan Korea Selatan 1-0 pada matchday pertama. Pasukan Nova Arianto memuncaki klasemen Grup C dengan 6 poin.

Hasil tersebut memastikan Indonesia mengamankan tiket ke perempatfinal Piala Asia U-17 2025. Evandra Florasta cs jadi wakil ASEAN pertama yang lolos ke babak gugur.

Keberhasilan mengunci tiket ke perempatfinal Piala Asia membuat Indonesia mengamankan tempat ke Piala Dunia U-17.

Dua tim teratas grup yang lolos ke 8 besar Piala Asia memang dipastikan melaju otomatis ke Piala Dunia.

AFC mengumumkan keberhasilan Timnas Indonesia ke Piala Dunia U-17 usai kemenangan atas Yaman. Ini menjadi kali kedua Indonesia tampil di pentas dunia setelah pada edisi sebelumnya menjadi tuan rumah.

“Indonesia memastikan tempat mereka di babak sistem gugur Piala Asia AFC U17 Arab Saudi 2025 dengan kemenangan 4-1 atas Yaman dalam pertandingan Grup C yang berlangsung di Stadion Pangeran Abdullah Al Faisal pada hari Senin,” tulis AFC di laman resminya.

“Kemenangan ini, yang diraih setelah menang 1-0 atas Republik Korea, berarti mereka juga akan berlaga di Piala Dunia U-17 FIFA Qatar 2025,” jelasnya.

Ketua Umum PSSI, Erick Thohir menyambut antusias prestasi yang dihasilkan anak didik pelatih Nova Arianto.

“Saya ucapkan selamat. Kemenangan atas Yaman di pertandingan kedua Piala Asia U-17 membuat Timnas Indonesia U-17 lolos ke Babak 8 besar dan sekaligus memastikan tempat di Piala Dunia U-17 2025 Qatar,” ujar Erick Thohir di Jakarta, Senin (7/4).

“Tapi ingat, perjuangan belum selesai. Para pemain dan tim pelatih harus kembali fokus ke pertandingan Piala Asia U-17 berikutnya untuk meraih prestasi terbaik di Piala Asia U-17 2025,” lanjutnya. ***

Wali Kota Dedie Rachim Resmikan Operasional Biskita Transpakuan Koridor I dan II

0

Bogordaily.net – Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim bersama Ketua DPRD Kota Bogor Adityawarman Adil meresmikan pengoperasian BisKita Transpakuan Koridor I dan II pada Selasa, 8 April 2025.

Peresmian ini berlangsung di Halte Cidangiang, Kota Bogor, dan menjadi penanda komitmen Pemerintah Kota Bogor dalam mengembalikan manfaat pajak rakyat melalui pelayanan transportasi publik yang terjangkau dan berkualitas.

“Ini adalah wujud nyata dari konsep uang rakyat kembali ke rakyat. Uang yang diperoleh dari pajak kita kembalikan kepada masyarakat dalam bentuk layanan transportasi massal dengan tarif yang disubsidi,” ujar Dedie A Rachim.

Menurut Dedie, kehadiran BisKita Transpakuan di dua koridor ini diharapkan dapat memudahkan mobilitas masyarakat Kota Bogor.

Ia juga menjelaskan bahwa Pemkot telah mengajukan anggaran tambahan dalam Perubahan APBD 2025 dan anggaran murni tahun 2026 untuk mendukung keberlangsungan layanan ini.

Untuk operasional Koridor I dan II, disiapkan sebanyak 17 armada utama dan 2 armada cadangan.

Tarif tetap berada di angka Rp 4.000 atau sesuai dengan ketentuan subsidi yang berlaku. Masyarakat kini juga bisa menggunakan metode pembayaran digital melalui QRIS.

Adapun jam operasional BisKita di dua koridor tersebut dimulai sejak pukul 05.00 hingga 21.00 WIB setiap harinya.

Sebagai informasi, untuk Koridor V dan VI masih dalam tahap kajian.

Berbeda dengan dua koridor sebelumnya, layanan di koridor ini akan bersifat non-subsidi, sehingga memerlukan waktu lebih lama untuk persiapan dan penetapan tarif resmi melalui Surat Keputusan (SK) Wali Kota.

“Pesan saya, walaupun non-subsidi, tarifnya harus tetap terjangkau. Tinggal nanti bagaimana efisiensi operasional, efektivitas penyelenggaraan BisKita di lapangan, dan tentunya harus tetap dibantu oleh Pemkot Bogor,” tegas Dedie.***

Ibnu Galansa

Kisah Kesya Gifa Yudha, Menuju Keahlian Akuakultur

0

Bogordaily.net – Dalam dunia akademik, tak jarang mahasiswa yang berprestasi memilih untuk berbagi ilmunya dengan menjadi asisten dosen. Salah satunya adalah seorang mahasiswa Sekolah Vokasi IPB dari Program Studi Teknologi dan Manajemen Pembenihan Ikan, Kesya Gifa Yudha yang kini mengemban peran sebagai asisten dosen di bidang yang ia geluti. Perjalanan akademiknya penuh dengan tantangan, namun semangat belajar dan tekadnya dalam mengembangkan ilmu perikanan membuatnya semakin matang dalam bidang ini.

Dari Ketidakyakinan hingga Menemukan Passion
Lahir sebagai alumni SMA PGRI 4 Bogor, Kesya awalnya tidak terlalu tertarik untuk melanjutkan kuliah. Namun, karena menjadi salah satu siswa eligible, Kesya akhirnya mencoba peruntungan di Sekolah Vokasi IPB. Pilihan jurusan Teknologi dan Manajemen Pembenihan Ikan pun lebih banyak dipengaruhi oleh arahan orang tua.

Awalnya, adaptasi ke dunia perkuliahan terasa berat, terutama dengan tugas yang lebih banyak dibandingkan masa SMA. Namun, seiring waktu, Kesya mulai menemukan ketertarikan pada bidang ini, terutama dalam memahami teknik menghasilkan benih ikan yang berkualitas.

Baginya, sektor pembenihan ikan memiliki prospek yang luas dalam industri perikanan. Mengetahui bagaimana mengelola pertumbuhan dan ketahanan hidup ikan menjadi hal yang menarik untuk dipelajari. Ketertarikan inilah yang akhirnya mendorongnya untuk semakin mendalami bidang ini.

Langkah Baru Menuju Pemahaman Lebih Mendalam
Saat ini, selain menjalani penelitian dan penyusunan laporan akhir, Kesya memanfaatkan waktu luangnya dengan menjadi asisten dosen. Langkah ini bukan hanya untuk menambah pengalaman akademik, tetapi juga untuk memperdalam pemahaman materi perkuliahan.

Namun, menjadi asisten dosen bukanlah hal yang mudah. Kesya masih sering merasa gugup, terutama saat harus menjelaskan teknik atau materi praktikum kepada mahasiswa lain. Tantangan terbesar yang dihadapinya adalah menyampaikan materi praktikum secara efektif, mengingat tidak semua mahasiswa memiliki pemahaman yang sama. Untuk mengatasi hal ini, Kesya berdiskusi dengan sesama asisten dan dosen guna mencari metode pengajaran yang lebih efektif.

Keahlian yang Penting dalam Pembenihan Ikan
Sebagai seseorang yang mendalami pembenihan ikan, Kesya menyadari bahwa ada beberapa keterampilan yang sangat penting dalam bidang ini. Pemahaman siklus hidup ikan, teknik pemijahan, serta pemeliharaan induk, larva, dan benih menjadi dasar utama dalam proses pembenihan.

Selain itu, manajemen kualitas air, pemberian pakan, serta kemampuan menganalisis data juga menjadi faktor penentu keberhasilan. Kesya juga menekankan pentingnya memahami aspek pasar agar kegiatan pembenihan bisa memberikan keuntungan yang berkelanjutan.

Selain itu, perkembangan teknologi dalam pembenihan ikan juga menarik perhatiannya. Salah satu yang menurutnya menjanjikan adalah penggunaan probiotik dalam sistem bioflok dan pemanfaatan bahan herbal dalam pakan larva atau benih ikan.

Teknologi ini terbukti dapat meningkatkan pertumbuhan ikan serta menekan tingkat kematian benih, menjadikannya inovasi yang berpotensi besar dalam industri perikanan.

Pentingnya Manajemen dalam Pembenihan Ikan
Manajemen dalam pembenihan ikan menjadi aspek krusial yang tidak boleh diabaikan. Menurutnya, agar proses pembenihan berjalan optimal, diperlukan pengelolaan yang baik dalam berbagai aspek, mulai dari pemeliharaan dan pemijahan induk, pemeliharaan larva dan benih, hingga manajemen pakan dan kualitas air. Semua faktor ini saling berpengaruh dan menentukan keberhasilan pembenihan ikan.

Pesan dan Harapan untuk Masa Depan
Sebagai mahasiswa yang tengah menjalani penelitian untuk proyek akhir, Kesya memiliki harapan besar untuk masa depannya. Salah satu pesan yang Kesya tekankan adalah agar mahasiswa tidak takut untuk mencoba, melawan rasa malas, namun tetap berhati-hati dalam mengambil langkah.

Kesya percaya bahwa setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda, sehingga tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain. Yang terpenting adalah fokus pada perkembangan diri sendiri dan menikmati setiap prosesnya.

Ke depannya, Kesya Gifa Yudha berharap bisa lulus tepat waktu dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang ia tekuni. Dengan pengalaman dan pengetahuan yang Kesya miliki, ia optimis bisa memberikan kontribusi dalam dunia perikanan, khususnya dalam sektor pembenihan ikan di Indonesia.***

Abang Muhammad Rafie Dzulfiqar
Komunikasi Digital dan Media

Air Terjun Cibeureum, Surga Tersembunyi di Cianjur

Bogordaily.net – Menikmati keindahan alam adalah salah satu cara terbaik untuk melepaskan penat dari rutinitas sehari-hari. Pada tanggal 1 Oktober 2024, saya bersama empat teman memutuskan untuk menjelajahi Air Terjun Cibeureum, sebuah destinasi wisata alam yang terletak di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Perjalanan ini menjadi pengalaman pertama saya dalam melakukan trekking menuju air terjun, dan tentunya meninggalkan banyak kesan yang tak terlupakan.

Perjalanan Menuju Cibeureum
Perjalanan dimulai dari titik kumpul di kampus Sekolah Vokasi IPB. Kami memilih menggunakan sepeda motor untuk menuju lokasi, yang berada di JL. Cisarua Puncak KM. 10, Desa Cilember, Kec. Cisarua, Puncak, Cimacan, Kec. Cipanas, Kabupaten Cianjur. Bagi saya, ini adalah perjalanan terjauh yang pernah saya tempuh dengan motor. Jalanan yang menanjak dan berkelok menjadi tantangan tersendiri. Bahkan, salah satu teman saya sempat berseloroh, “Semoga motornya kuat dipakai nanjak.”

Seiring bertambahnya ketinggian, udara yang awalnya terasa panas perlahan berubah menjadi sejuk. “Tadi di jalan kepanasan, sekarang malah kedinginan,” ujar salah satu teman sambil tertawa. Sesampainya di lokasi, kami terlebih dahulu membeli tiket masuk seharga sekitar Rp20.000 per orang. Setelah itu, petualangan trekking pun dimulai.

Menjelajahi Keindahan Alam Selama Trekking
Trekking menuju Air Terjun Cibeureum membawa kami melewati berbagai pemandangan alam yang memukau. Salah satu tempat pertama yang kami temui adalah Telaga Biru, sebuah danau kecil dengan warna air yang begitu indah dan memikat. Tak heran jika banyak pengunjung berhenti sejenak untuk berfoto dan menikmati pesonanya.

Selanjutnya, kami melewati Rawa Gayonggong, sebuah area rawa yang dilengkapi dengan jembatan kayu panjang. Pemandangan di sini sangat unik, apalagi jika beruntung, pengunjung bisa melihat lutung yang bermain di pepohonan sekitar. Saya merasa beruntung karena bisa menyaksikan langsung keberadaan satwa ini di habitat aslinya.

Setelah melewati Rawa Gayonggong, jalur terbagi menjadi dua arah: satu menuju puncak Gunung Gede dan satu lagi menuju Air Terjun Cibeureum. Kami pun memilih jalur menuju air terjun, dengan penuh antusiasme menantikan keindahan yang telah banyak diceritakan oleh para pendaki sebelumnya.

Keindahan Air Terjun Cibeureum
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kami tiba di Air Terjun Cibeureum. Pemandangan yang tersaji di depan mata sungguh luar biasa. Air yang jernih mengalir deras dari ketinggian, menciptakan suasana yang sejuk dan menenangkan. Rasa lelah yang kami rasakan seakan terbayarkan dengan keindahan ini. Kami pun mengabadikan momen dengan berfoto dan merasakan segarnya percikan air terjun.

Di sekitar lokasi, tersedia beberapa fasilitas seperti toilet, mushola, serta warung jajanan. Namun, harga makanan di tempat ini sedikit lebih mahal dibandingkan di bawah, hal yang cukup wajar mengingat akses yang tidak mudah. Meski demikian, pengalaman menikmati dua air terjun yang begitu indah benar-benar membuat perjalanan ini berharga.

Tips untuk Berkunjung ke Air Terjun Cibeureum
Bagi Anda yang ingin berkunjung ke Air Terjun Cibeureum, berikut beberapa tips yang bisa membantu:
1. Siapkan fisik yang prima, karena perjalanan trekking cukup menguras tenaga.
2. Gunakan kendaraan yang kuat untuk menanjak, terutama jika menggunakan sepeda motor.
3. Bawa uang tunai yang cukup, untuk tiket masuk dan kebutuhan lain selama perjalanan.
4. Gunakan pakaian dan alas kaki yang nyaman, karena jalur trekking bisa cukup licin.
5. Jaga kebersihan dan kelestarian alam, dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Perjalanan ke Air Terjun Cibeureum ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi saya dan teman-teman. Keindahan alam yang disuguhkan benar-benar mampu menyegarkan jiwa dan raga. Jika Anda mencari destinasi wisata alam yang menantang sekaligus menyegarkan, Air Terjun Cibeureum adalah pilihan yang tepat!***

Abang Muhammad Rafie Dzulfiqar

Fenomena Revenge Bedtime Procrastination: Ketika Media Sosial Mencuri Waktu Tidur Kita

0

Bogordaily.net – Suara notifikasi ponsel berbunyi satu kali. Tangan otomatis meraihnya. “Lima menit saja,” pikir kita, sebelum menyadari waktu telah melompat satu jam ke depan. Tengah malam menjelang pagi, dan kita masih saja menggulir layar, berpindah dari satu video ke video lain, dari Instagram ke TikTok, lalu kembali lagi. Padahal, tubuh sudah lelah, mata sudah berat, dan esok ada tumpukan aktivitas yang menunggu. Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan buruk—ia kini punya nama: Revenge Bedtime Procrastination.

Istilah Revenge Bedtime Procrastination pertama kali populer di Tiongkok dengan frasa “bàofùxìng áoyè” yang secara harfiah berarti begadang karena ingin membalas dendam. Dendam apa? Dendam terhadap rutinitas yang padat, pekerjaan yang menyita waktu, atau bahkan sekadar rasa terjebak dalam kehidupan yang terlalu cepat. Ketika siang hari tak memberi ruang untuk bersantai, malam pun dikorbankan untuk mengambil kembali waktu “kebebasan” yang hilang. Ironisnya, waktu yang diambil kembali itu justru merampas esok hari.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia menjamur bersamaan dengan naiknya penggunaan media sosial sebagai bentuk hiburan sekaligus pelarian. Media sosial menawarkan sensasi cepat, ringan, dan memikat. Video berdurasi 15 hingga 60 detik dengan musik seru dan visual menarik terasa seperti permen digital yang tak pernah habis. Fitur infinite scroll atau auto-play membuat pengguna sulit berhenti. Dalam waktu singkat, seseorang bisa menghabiskan dua hingga tiga jam hanya untuk melihat konten ringan yang sebenarnya tidak terlalu berfaedah—dan semuanya dilakukan sambil menunda tidur.

Tidak sedikit orang yang menyadari bahaya di balik kebiasaan ini, namun tetap melakukannya. Salah satu pemicunya adalah FOMO (Fear of Missing Out), atau rasa takut tertinggal dari tren dan kabar terbaru. Perasaan itu membuat kita merasa harus terus “terhubung”, bahkan saat tubuh meminta istirahat. Media sosial, dalam hal ini, menjadi medan yang kuat untuk menciptakan ilusi keterlibatan, padahal yang kita korbankan adalah kesehatan fisik dan mental.

Dampak dari Revenge Bedtime Procrastination tidak main-main. Begadang yang dilakukan secara konsisten bisa menyebabkan kelelahan kronis, penurunan konsentrasi, gangguan mood, bahkan risiko kesehatan jangka panjang seperti tekanan darah tinggi dan gangguan metabolisme. Selain itu, kurang tidur juga berpengaruh pada produktivitas, kemampuan mengambil keputusan, serta hubungan sosial di dunia nyata. Akibatnya, hari esok menjadi lebih berat, yang justru semakin memperkuat alasan untuk “balas dendam” lagi di malam berikutnya—sebuah lingkaran setan yang sulit diputus.

Secara pribadi, saya melihat bahwa Revenge Bedtime Procrastination bukan hanya masalah waktu tidur, tetapi cermin dari tekanan hidup modern. Banyak dari kita merasa hidup terlalu dikendalikan oleh kewajiban dan ekspektasi luar, hingga lupa menyisakan ruang untuk diri sendiri. Maka, waktu malam—yang seharusnya menjadi momen istirahat—diubah menjadi zona pelarian dari kenyataan. Tapi benarkah pelarian itu menyenangkan, atau hanya bentuk penundaan terhadap beban hidup yang tidak pernah selesai?

Kita tidak bisa terus membiarkan malam-malam kita dirampas oleh algoritma. Perlu ada kesadaran dan usaha untuk memperbaiki pola hidup, termasuk kebiasaan digital. Langkah-langkah kecil seperti mengatur batasan waktu layar (screen time), menyalakan mode tidur pada ponsel, atau membuat rutinitas relaksasi sebelum tidur bisa sangat membantu. Lebih dari itu, penting bagi kita untuk menyediakan me time di siang atau sore hari, agar malam tidak selalu menjadi tempat “balas dendam”.

Tidur bukanlah bentuk kemewahan yang hanya boleh dinikmati saat akhir pekan. Tidur adalah kebutuhan dasar, hak tubuh untuk beristirahat dan memulihkan diri. Dalam dunia yang semakin bising dan cepat, tidur adalah salah satu bentuk kasih sayang paling tulus kepada diri sendiri. Maka, mari kita jaga malam kita—bukan untuk membalas dendam, tetapi untuk berdamai dengan diri sendiri.

Jangan sampai kita terus membayar mahal demi beberapa jam kesenangan semu di malam hari. Saatnya mengembalikan fungsi malam sebagai tempat beristirahat, bukan zona pelarian. Karena pada akhirnya, tidur yang cukup adalah fondasi dari hari esok yang lebih baik.***

Oleh Lintang Asya Arita Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Anis Adinda Putri, Menginspirasi Melalui Komunikasi dan Dedikasi

0

Bogordaily.net – Anis Adinda Putri, lahir di Bogor pada 16 September 2004, adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Kecintaannya terhadap dunia komunikasi dan public speaking telah membawanya ke berbagai pencapaian gemilang, termasuk menjadi Duta IPB. Selain memiliki minat yang besar dalam bidang komunikasi, ia juga pecinta kuliner, terutama ayam dan nasi goreng, serta memiliki tiga ekor kucing kesayangan.

Latar Belakang Pendidikan
Sejak di bangku sekolah, Anis telah menunjukkan keberanian dalam berbicara di depan publik sebagai pembawa acara dalam berbagai kegiatan sekolah. Kesadaran akan pentingnya komunikasi mendorongnya untuk memilih Program Studi Ilmu Komunikasi Digital dan Media di IPB University, guna mempertajam keterampilan public speaking-nya.

Menjadi Duta IPB bukanlah hal yang asing bagi Anis. Sebagai bagian dari Biro Komunikasi IPB, ilmu yang ia pelajari di jurusan Ilmu Komunikasi sangat mendukung perannya sebagai duta. Ia juga aktif dalam kegiatan Icomotion, yang ia anggap sebagai langkah awal sebelum menjadi Duta IPB karena memiliki konsep yang serupa dalam memperkenalkan program studi.

“Untuk menjadi ahli di suatu bidang, kuncinya adalah menekuni apa yang kita bisa dan kita suka. Saya menyadari bahwa saya memiliki keterampilan komunikasi dan menikmati bidang ini, sehingga saya terus berusaha mengasahnya agar dapat menjadi lebih baik,” ujarnya.

Perjalanan Karier
Terpilih menjadi Duta IPB merupakan perpaduan antara ekspektasi dan kejutan bagi Anis. Meskipun ia yakin dengan kemampuannya, ia juga menyadari banyak kandidat lain yang memiliki keahlian luar biasa. Namun, ia selalu percaya bahwa setiap pencapaian adalah hasil dari takdir dan kepercayaan yang diberikan oleh banyak pihak.

Sebagai Duta IPB, Anis mendapatkan pengalaman luar biasa, seperti mengunjungi berbagai kota di Indonesia untuk bertemu dengan calon mahasiswa IPB. Hal ini memberinya perspektif baru mengenai sudut pandang institusi dan bagaimana upaya yang dilakukan di balik kesuksesan kampus.

Selain menjadi narasumber dan pembawa acara di berbagai kegiatan, Duta IPB juga berperan dalam merancang strategi promosi kampus selama setahun ke depan serta menyelenggarakan acara besar, seperti Exploring, yang berkolaborasi dengan organisasi daerah (Omda) di IPB untuk menjangkau calon mahasiswa dari seluruh Indonesia.

Namun, menjadi Duta IPB juga memiliki tantangan tersendiri. Sebagai wajah institusi, perilaku mereka selalu menjadi sorotan publik, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di media sosial. Oleh karena itu, kehati-hatian dalam bertindak menjadi hal yang sangat penting.

Perjalanan Inspiratif
Salah satu momen paling berkesan bagi Anis adalah proses seleksi yang berlangsung lebih dari enam bulan. Dalam perjalanan tersebut, ia mengalami berbagai tantangan, termasuk kejenuhan. Namun, dengan selalu mengingat tujuan dan visinya sebagai duta, ia tetap berjuang hingga akhirnya berhasil meraih posisi tersebut.

Keaktifannya dalam mengembangkan Instagram Ayo Masuk IPB juga membuahkan hasil. Dalam waktu singkat, ia berhasil meningkatkan engagement akun tersebut dan menciptakan konten yang menarik dengan jumlah penonton mencapai lebih dari 200 ribu. Selain itu, ia juga berhasil mengembangkan kanal Ayo Masuk IPB hingga mencapai lebih dari 2.000 anggota dalam dua bulan.

Anis mengungkapkan bahwa sosok yang paling berpengaruh dalam hidupnya adalah keluarganya, terutama ibunya dan kakaknya. Ibunya selalu menjadi pendukung utama dalam perjalanan hidupnya, sementara kakaknya memberikan wawasan luas serta mengajarkan cara berpikir kritis. Keaktifan sang kakak sebagai alumni IPB juga menjadi inspirasi bagi Anis untuk mengikuti jejaknya.

Pesan dan Harapan
Anis berpesan kepada mahasiswa untuk terlebih dahulu menemukan makna di balik statusnya sebagai mahasiswa. “Sebelum ingin berkontribusi untuk kampus atau masyarakat, cari tahu dulu jawaban atas pertanyaan ‘Kamu untuk apa jadi mahasiswa?’ Jika sudah menemukan jawabannya, maka apa pun yang dilakukan akan secara otomatis memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar,” ujarnya.

Ia juga memiliki harapan besar bagi lulusan IPB ke depan. “Saya yakin bahwa lulusan IPB memiliki potensi besar untuk memberikan dampak dan manfaat bagi sekitarnya. Semoga dalam 5–10 tahun ke depan, lulusan IPB terus berinovasi, menjadi pemimpin yang baik, dan membawa perubahan yang signifikan bagi negeri.”

Dengan semangat dan dedikasinya, Anis Adinda Putri membuktikan bahwa ketekunan dan kecintaan pada bidang yang digeluti dapat membawa seseorang menuju pencapaian yang luar biasa.***

Tenri Fahira Larasati Isma Mahasiswa Komunikasi dan Digital Media Sekolah Vokasi IPB

 

Mencuri Tenang di Tengah Bisingnya Ibu Kota yang Tak Pernah Tidur

Bogordaily.net – Pernahkah kamu membayangkan Jakarta tanpa bunyi mesin mobil, tanpa kerumunan manusia yang lalu lalang dikejar waktu, atau lampu yang begitu menyilaukan? Ziggy, dalam novel Jakarta Sebelum Pagi, menghipnotis kita dengan potongan sunyinya kota lewat petualangan Emina dan Abel–dua karakter yang menyusuri sudut-sudut hening Jakarta sebelum subuh. Tapi kalau dipikir-pikir, apakah Jakarta betulan menyisakan ruang hening di dalamnya?
Salah satu tempat yang dapat menjawab pertanyaan ini adalah Cikini, sebuah kawasan di Jakarta Pusat yang seperti disihir lepas dari hukum alam tentang kota metropolitan ini. Hiruk-pikuk yang riuh itu seperti disihir dalam jalanan yang tak sebesar Sudirman, dengan bangunan tua yang masih dipertahankan untuk berdiri tegak, juga trotoar yang cukup lapang untuk dilalui sembari bergandengan tangan dengan yang terkasih.
Perjalanan saya dimulai dari Stasiun Cikini. Saat itu agak salah sih timingnya karena saya baru keluar di jam 11 pagi–atau bahkan sudah dapat dikatakan siang– udaranya sudah cukup panas ketika saya melangkahkan kaki menuju Jalan Cikini Raya. Untung saja pohon-pohon yang sudah berumur itu memberikan sedikit keteduhan.
Sepanjang jalan satu kilometer ini terasa seperti ritual karena gaya Indische Empire masih melekat di bangunan yang ada, seakan berjalan di tengah kota Batavia.
Bahkan, saya temukan pula rumah yang cukup autentik milik Masagus Nur Muhammad Hasyim Ning. Rumah dengan cat putih itu pernah menjadi saksi dari syuting series atau sinetron Catatan si Boy. Tidak hanya itu, nama Jalan Raden Saleh tidak hanya mengingatkan saya pada sang maestro juga pada sebuah film  garapan Angga Dwi Sasongko.
Ujung perjalanan ini akan bermuara di Taman Ismail Marzuki (TIM). Bangunan yang dibangun di atas tanah seluas 9 hektar dengan gaya bangunan futuristik. Dan yang semakin menarik adalah ini punya kaitan dengan nama jalan yang tadi saya jumpai. Kompleks ini dulunya adalah kebun binatang pribadi Raden Saleh, di mana beliau melukis harimau-harimaunya.
Patung Ismail Marzuki menyambut saya di gerbang TIM. Sang maestro berdiri gagah, biolanya terangkul seperti sedang memeluk melodi yang tak pernah mati. Di belakangnya, lorong sempit di antara gedung utama dan parkiran menjadi portal magis: hanya sepuluh langkah, tapi Jakarta tiba-tiba kehilangan desibelnya.
TIM bukan sekadar kompleks seni—ia adalah mesin pembunuh kebisingan. Di sini, seni bekerja sebagai peredam. Graha Bhakti Budaya menelannya dengan pertunjukan monolog yang membuat klakson tak lagi relevan.
Gedung Ali Sadikin, dengan arsitektur meliuk mirip not balok Rayuan Pulau Kelapa, menyimpan perpustakaan di mana deru komuter digantikan derik halaman buku yang dibalik.
Gedung Oemar Effendi memaksa pengunjung bisu lewat pamerannya. Saat itu, Jakarta Biennale ke-50 sedang memamerkan kegelisahan seniman yang terlalu jujur untuk diucapkan.
Pameran ini seperti labirin ide. Tanpa tema spesifik, karya-karya saling berteriak dalam diam. Saya terjebak di depan instalasi Mantra Tubuh—sebuah zine raksasa dari kain perca, pita, dan benang yang menjuntai dari langit-langit. Di setiap “halaman”-nya, puisi tentang tubuh perempuan tertulis dalam sulaman yang patah-patah.
“Ini ruang untuk menjahit luka,” bisik seorang pengunjung sambil melangkahkan kakinya mengitari halaman zine. Karya ini bukan untuk dilihat, tapi dirasakan dengan tangan: meraba kekasaran kain, menyusun ulang kata-kata yang tercabik, atau sekadar berdiri di bawahnya sambil bertanya, “Apakah Abel dan Emina juga menyimpan begitu banyak pertanyaan dalam pencariannya yang sunyi itu?”
Tempat ini adalah dunia lain dari Jakarta yang biasanya berputar dengan bagaimana bisa mendapat lebih banyak uang. Desas-desus tentang seni–sastra–pemeran lebih banyak bergaung di sini. Bahkan, Jakarta Sebelum Pagi sendiri dinobatkan sebagai pemenang melalui malam anugerah Sayembara Menulis Novel DKJ 2014 di sini juga.
Lorong-lorong di dalam Gedung Ali Sadikin yang mengantarkan saya pulang ini membuat saya tidak ingin cepat meninggalkan tempat ini. Seakan ingin lebih lama menghabiskan waktu untuk berputar dengan isi kepala sendiri.
Satu persinggahan terakhir sebelum betul-betul meninggalkan tempat ini, adalah duduk melamun di pendopo, di depan kolam yang menghadap gedung Trisno Soemardjo atau Planetarium. Melihat ikan yang bergerak tanpa berisik itu juga air yang tenang rasanya seperti ingin serakah berharap “apa lebih baik Jakarta sesunyi kolam ini saja ya?”
Kembali ke pertanyaan awal, bisakah kita masih menemukan Jakarta yang sunyi? Jawabannya mungkin tak akan pernah sependapat dengan semua orang. Tapi di Cikini, langkah yang buru-buru itu perlahan ditelan. Deretan pekerjaan yang harus segera dituntaskan itu terganti dengan berbagai ruang-ruang ekspresi diri. Entah buku yang menjadi lebih berisik atau suara di tengah teater. Tapi rasanya, kemerdekaan memiliki diri sendiri dapat ditemukan di sini.
Seperti kata Ziggy dalam novelnya: “Jakarta adalah kota yang tak pernah benar-benar tidur, tapi di sudut-sudut tertentu, ia masih bisa berbisik.” Dan Cikini adalah salah satu sudut itu—tempat di mana kita bisa mendengar bisik-bisik itu, ketika Jakarta tak sebising pukul 8 pagi dan 5 sore, di mana kamu masih bisa temukan kewarasan di tengah semua orang yang sibuk berlari dikejar ambisinya.***
Ayu Ardiyati Nuraini Joyo Atmojo, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University