Monday, 18 May 2026
Home Blog Page 8097

Kecamatan Jasinga Masuk Kategori Paling Kering

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Bogor, Joko Pitoyo. Foto : Andi/Bogordaily.net

BOGOR DAILY – Pemerintah Kabupaten Bogor mulai mengantisipasi adanya kekeringan di setiap kecamatan yang ada di Bumi Tegar Beriman saat musim kemarau.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan dan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, Joko Pitoyo mengungkapkan, Pemkab Bogor akan membuat lumbung air di daerah langgana kekeringan dalam menghadapi musim kemarau.

Joko Pitoyo menjelaskan, pada kemarau tahun lalu data dari Pemkab Bogor menunjukan musim kemarau relatif panjang. Sehingga dari 40 kecamatan, 28 kecamatan dan 200 lebih desa mengalami kekeringan.

“Alhamdulillah sampai bulan Agustus ini kemarau yang kita prediksi lebih panjang ternyata masuk ke bulan basah, istilah yang digunakan BMKG, artinya masih ada hujan ditengah kemarau. Diperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada pulan September,” jelasnya, kepada wartawan, Rabu (19/8/2020).

Ia menyebutkan, daerah terdampak yang paling kering tahun ini yakni di Kecamatan Jasinga sebanyak 11 desa.

“Itu melihat data yang ada pada penanganan tahun lalu BPBD bekerjasama dengan PDAM, mengirim air untuk daerah-daerah yang terdampak kekeringan,” jelasnya.

Joko menambahkan, hasil evaluasi penanganan tahun lalu, baru 50 persen yang bisa tertangani. Untuk itu kebijakan di tahun ini, pertama penanganan daruratnya harus bisa menangani 50 persen lebih daerah-daerah yang kemungkinan mengalami kekeringan.

“Kita juga mendorong masyarakat untuk saling membantu saudara-saudaranya yang mengalami kekeringan. Jadi karena faktor alamnya ada daerah yang langganan keringan, ini yang harus dibantu air dari luar. Kemudian untuk daerah yang memungkinkan kita buatkan lumbung, kita akan coba anggarkan kembali sebagai cadangan air kita,” tukasnya. (Andi)

Ariel NOAH Ditanya Soal Pacar dan Rencana Menjadi Caleg

0

BOGORDAILY – Ariel NOAH menjadi tamu dalam channel YouTube Augie Fantinus. Di situ, sang vokalis ditantang bermain basket.

Setelah itu, Ariel NOAH diajak berbincang dengan Augie Fantinus. Pelantun Mungkin Nanti itu ditanya soal kesendirian.

“Riel, sekarang lagi sendiri apa nggak?” tanya Augie.

“Sekarang lagi sendiri apa nggak? Nggak dong, ini lagi ramai-ramai. Sudah, sudah,” jawab Ariel.

Ucapan Ariel NOAH tak memuaskan Augie Fantinus. Eks kekasih Sophia Latjuba itu kini tanpa basa-basi ditanya soal pacar.

“Riel, lagi ada pacar nggak?” tanya Augie.

“Ha ha ha susah untuk diceritakan. Iya masalahnya susah untuk diceritakan,” jawab Ariel.

Ariel NOAH sekali lagi tak memberikan jawaban pasti terkait statusnya saat ini. Ia lalu diminta memilih oleh Augie Fantinus soal balikan dengan mantan kekasih atau personel lama.

Ariel NOAH mengaku lebih memilih balikan dengan mantan pacarnya. Ia memberikan alasan mengapa memilih hal tersebut ketimbang balikan dengan personel lama bandnya.

“Balikan sama personel lama atau balikan sama mantan? Wah mending sama mantan. Kalau balikan sama personel lama mah ada hitung-hitungannya, ada hitungan royalti. Kalau mantan nggak ada hitungan royalti,” ujar Ariel.

Ariel NOAH kemudian ditanya lagi soal rencana jadi caleg atau calon legislatif. Ia mengaku mending tetap menjadi musisi.

“Riel, jadi musisi apa jadi caleg?” tanya Augie Fantinus.

“Ah musisi,” jawab Ariel.

Ariel NOAH mengaku tak ada rencana sama sekali untuk menjadi caleg, seperti beberapa musisi Tanah Air lainnya. Akan tetapi, ia mau saja terjun menjadi wakil rakyat, jika punya misi yang jelas.

“Nggak tahu, ngapain gue jadi caleg ya? Kalau ada misinya, mungkin. Kalau nggak, kan ya gue mending musisi sajalah,” tutur Ariel.

Komisi I DPR Menyebut Pendidikan Bela Negara Tidak Harus Militer

BOGORDAILY – Anggota Komisi I DPR RI, Sukamta menyampaikan bahwa bela negara merupakan amanat konstitusi yang menjadi hak setiap warga negara.

Hal itu menanggapi rencana Kementerian Pertahanan untuk menggandeng Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk memasukkan program pendidikan militer dan bela negara dalam kurikulum perguruan tinggi.

“Konstitusi kita mengamanatkan bahwa bela negara merupakan hak dan kewajiban bagi setiap warga negara. Negara memfasilitasi warganya yang ingin turut serta dalam usaha pembelaan negara. Bela negara ini bisa berbentuk Pendidikan kewarganegaraan, pelatihan dasar militer sebagai calon komponen cadangan, pengabdian sebagai anggota TNI atau pengabdian sesuai profesi,” kata Sukamta dalam keterangan tulis, Selasa (18/8/2020).

Sementara pendidikan kewarganegaraan bisa berbentuk Pendidikan Kesadaran Bela Negara (PKBN) yang dapat dilakukan dalam lingkup dunia pendidikan, masyarakat dan dunia pekerjaan. Dalam konteks ini, menurut Sukamta penyelenggaraan program bela negara di lingkungan perguruan tinggi memang diperlukan, tapi bukan berbentuk pendidikan militer.

“Karena Pendidikan militer itu hanya wajib bagi warga yang lulus seleksi awal komponen cadangan. Untuk mendaftar menjadi komponen cadangan sendiri sifatnya sukarela. Pemaksaan di sini bisa berpotensi melanggar hak asasi manusia,” tegasnya.

Wakil Ketua Fraksi PKS Bidang Polhukam ini menambahkan bahwa dalam Undang-Undang RI No. 23 tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara (PSDN) diatur soal komponen pendukung dan komponen cadangan. Pada pasal 17 disebutkan bahwa komponen pendukung itu bersifat sukarela. Demikian juga pada pasal 28, diatur bahwa komponen cadangan juga bersifat sukarela.

“Artinya, tidak ada wajib militer di sini. Bagi perguruan tinggi dipersilakan untuk menyelenggarakan PKBN atau tidak. Jika kampus ingin menyelenggarakan, bisa misalnya dengan menghidupkan kembali mata kuliah Pendidikan kewarganegaraan dengan modifikasi program sedemikian rupa tidak hanya teori tatap muka di kelas, bisa dikombinasi dengan Pendidikan outdoor misalnya, tapi juga bukan berbentuk Pendidikan militer karena bukan dilakukan dalam rangka mencetak para kombatan,” jelas dia.

Sukamta menjelaskan bahwa ancaman bagi negara sekarang tidak hanya ancaman militer, tapi juga ancaman ekonomi, ideologi, wabah penyakit, siber, dan seterusnya. Program bela negara tidak selalu dilakukan untuk mencetak para kombatan, tapi juga untuk mencetak generasi bangsa yang tangguh yang siap bela negara dengan bidang keahliannya masing-masing.

“Yang penting di sini tujuan kita adalah menumbuhkan kesadaran mahasiswa untuk hidup berbangsa dan bernegara serta menanamkan nilai-nilai dasar bela negara yang meliputi cinta tanah air, sadar berbangsa dan bernegara, setia pada Pancasila sebagai ideologi negara, rela berkorban untuk bangsa dan negara serta kemampuan awal bela negara,” ucap dia.

Dari sini diharapkan akan terbentuk generasi muda penerus bangsa yang tangguh dan siap membela negara dalam berbagai bidang dan spektrum yang luas.

“Entah berkorelasi langsung atau tidak, semoga program bela negara ini bisa menyumbang peningkatan kualitas HDI (indeks pembangunan manusia) bangsa Indonesia sehingga kita menjadi bangsa yang semakin kuat dan mandiri,” harap wakil rakyat dari Daerah Istimewa Yogyakarta ini.

Sementara itu Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemendikbud, Nizam mengatakan, skema pendidikan militer bagi mahasiswa dimungkinkan terjadi. Pasalnya hal ini telah diakomodir dalam Merdeka Belajar yang dicanangkan Kemendikbud.

“Hak tersebut kita penuhi melalui skema Kampus Merdeka. Sehingga mahasiswa dapat mengambil haknya untuk menjadi komponen cadangan pertahanan negara,” katanya saat dihubungi Liputan6.com, Senin (17/8/2020).

Menurutnya, hal itu juga disebut dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara yang memungkinkan hak tiap warga negara untuk menjadi komponen cadangan.

“Dalam UU 23/2019 tentang Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara, salah satunya mengamanahkan tentang hak WNI untuk menjadi komponen cadangan,” jelasnya.

Namun begitu, ia mengingatkan, pendidikan militer itu bersifat hak bukan diwajibkan kepada seluruh mahasiswa. Jadi jika ada mahasiswa yang ingin menjalani pendidikan militer selama satu semester, hal ini diperkenankan oleh Kemendikbud.

“Sehingga mahasiswa dapat mengambil haknya untuk menjadi komponen cadangan pertahanan negara. Selain itu program-program kepemimpinan dan bela negara yang bagus akan kita kerjasamakan dengan Kemenhan,” ucapnya.

“Juga tidak bersifat wajib tapi pemenuhan hak bagi mahasiswa,” sambung Nizam.

Nizam juga menegaskan bahwa bukan hanya pendidikan militer, melainkan bisa juga pendidikan soal bela negara.

“Tidak harus militer ya, tapi pendidikan pertahanan atau bela negara,” pungkasnya.

Saipul Jamil Mendapat Remisi Hari Kemerdekaan, Kapan Bebas?

0

BOGORDAILY – Hingga kini, Saipul Jamil masih mendekam di penjara atas kasus asusila dan tindak pidana korupsi. Ia baru saja diberikan remisi Hari Kemerdekaan ke-75 tahun Republik Indonesia.

Seperti diketahui, pada perayaan Hari Kemerdekaan yang jatuh pada 17 Agustus 2020, sebanyak 4.151 narapidana di seluruh lapas dan rumah tahanan yang ada di wilayah DKI Jakarta mendapatkan remisi.

Di Lapas Kelas 1 Cipinang, Jakarta Timur, tempat Saipul Jamil ditahan, ada 1.328 narapidana yang berhak atas remisi tersebut. Benar saja, salah satu dari tahanan tersebut adalah pedangdut Saipul Jamil.

Tonny Nainggolan, Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Cipinang, kepada wartawan menyebut Saipul Jamil mendapatkan remisi 5 bulan.

“Saipul Jamil dapat remisi umum 1, pengurangan masa tahanan. Dia mendapatkan remisi 5 bulan,” jelasnya.

Tonny Nainggolan menambahkan remisi itu diberikan untuk kasus asusila yang menyeret Saipul Jamil pada 2016.

Diketahui juga Saipul Jamil juga menjadi tahanan kasus tindak pidana korupsi saat dirinya menjalani persidangan kasus sebelumnya. Untuk kasus ini, ia tidak mendapatkan remisi.

“Jadi remisinya itu untuk kasus yang pertama ya. Kasus yang masuk tindak pidana umum, sedangkan kasus untuk tindak pidana korupsi yang dilakukannya tidak diberi remisi,” terang Tonny.

Seperti diketahui, Saipul Jamil harus menjalani masa hukuman delapan tahun penjara. Hal itu sebagai akumulasi hukuman atas kasus tindak pidana korupsi dan asusila yang dilakukannya.

Kini, Saipul Jamil sudah menjalani 4 tahun kurungan penjara.

Sudah jatuh tertimpa tangga, pepatah itu sedang dialami Saipul Jamil. Sudah hidup di penjara, ia mesti kehilangan banyak harta. Bang Ipul mengaku sudah menjual rumahnya. Ia disebut sudah tak punya apa-apa lagi.

“Banyak yang dijual semua yang dia punya sudah nggak ada. Kemarin saya nanya, ‘Bang Ipul sekarang gimana rumahnya?’, katanya sudah dijual,” cerita Irma Darmawangsa saat menjenguk Saipul Jamil beberapa waktu lalu.

CCM Berikan Apresiasi Kepada Tenaga Medis

BOGOR DAILY – Peringatan HUT RI ke 75, Cibinong City Mall merayakan kemerdekaan RI dengan berbeda di tahun ini.

Public and Media Relation CCM, Farah B Tropera mengatakan, pada perayaan HIT RI ke 75 kali ini pihaknya terus memberikan himbauan dan soaialisasi kepada pengunjung akan taat terhadap protokol kesehatan Covid-19.

Tidak hanya itu, pada rangkaian 17 an itu CCM juga menggelar konser mini secara online.

“Di tengah event konser, Cibinong City Mall kembali melakukan sosialisai terkait Covid-19, mengingatkan kembali dengan pentingnya menjaga protokol kesehatan seperti memakai masker, cuci tangan dan jaga jarak,” katanya.

Farah menjelaskan, pada detik-detik HUT RI ke 75 itu CCM juga menghentikan semua aktivitas di semua areal mall pada pukul 10:17 WIB selama tiga menit.

“Hal ini dimaksudkan untuk memperingati detik-detik proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia,” jelasnya.

Ia menambahkan, pada rangkaian tersebut dilanjutkan dengan memberikan apresiasi kepada tenaga medis yang telah berjuang di garda terdepan dalam menghadapi pandemi saat ini.

“Apresiasi tersebut secara simbolis diserahkan oleh Bapak Dimas Ario selaku Plt General Manager Cibinong City Mall kepada dr.Wahyu Eko Widiharso selaku Direktur RSUD Cibinong. Semoga dapat memberikan semangat untuk para tenaga medis dalam menjalankan tugasnya,” tukasnya. (Andi)

Nasionalisme Rizal Ramli tak Pernah Mati

0

BOGORDAILY – Mungkin tak sejumlah jari. Kurang dari sepuluh. Itu jika kita bertanya berapa jumlah orang di negeri yang kita cintai ini, yang daya kritis dan nasionalismenya seperti energizer, tak lekang berpuluh tahun, meski mungkin godaan uang dan jabatan, datang laksana gelombang, susul menyusul membuai.

Silahkan Anda menyebut nama yang Anda kenal, dan saya menulis satu nama yakni Rizal Ramli. Silahkan juga berdebat panjang soal nama ini, dan singkirkan dulu saran para buzzer berbayar yang hari-hari ini mungkin dipesan meracuni timeline kita dengan rumor, fitnah, dan doxing kepada siapa saja, dari menu rujukan Anda. Lakukan riset kecil-kecilan. Baca dengan tenang aneka diskusi dan perdebatan. Resapi poin pentingnya bagi bangsa ini. Lalu percayalah pada penilaian pikiran dan hati Anda sendiri.

Semenjak belia sudah yatim piatu, tinggal bersama kakek dan nenek, hidup Rizal Ramli dibentuk sekian kesulitan. Pada masa remaja bekerja sebagai penterjemah, dan semenjak itu dia menyadari bahwa kemandirian adalah tumpuan terbaik dalam menjalani kehidupan.

Kekaguman pada Albert Einstein menggiring dia jatuh cinta pada matematika dan fisika. Dua jenis ilmu yang menuju hasil memerlukan jalan. Perlu rumusan. Perlu berpikir keras. Dan membuat kulit di dahi kita seringkali sontak berkerut. Kecintaan pada dua ilmu itulah yang melempangkan jalan Rizal muda lolos masuk Institut Teknologi Bandung(ITB), dan duduk di jurusan Fisika.

‘Non scholae sed vitae discimus’. Kita belajar bukan untuk memperoleh nilai (ijazah), tapi untuk kehidupan. Begitu wejangan pepatah latin. Dari ruang kuliah, dari aneka buku bacaan, dari sekian ruang diskusi yang tak hanya bicara rumus fisika tapi juga tentang politik, ekonomi, dan keadilan, semenjak muda Rizal Ramli sudah kritis terhadap cara pemerintah mengatur kehidupan, mengatur negara.

Bersama sejumlah rekan mudanya, dia meyakini bahwa rumus mengelola negara yang keliru, membawa bangsa ini pada arah yang keliru. Jurang antara si kaya dan si miskin bisa melebar. Ekonomi jadi timpang. Utang dan modal asing kian hari kian dominan, dan pada akhirnya kita sebagai bangsa akan kehilangan tumpuan untuk mandiri dan berdaulat secara ekonomi.

Rangkaian keresahan itulah yang mendorong Rizal, saat itu menjadi Wakil Ketua Dewan Mahasiswa ITB, bersama teman-temannya turun ke jalan berunjuk rasa tahun 1978. Sekian hari dikejar aparat, mereka ditangkap, diadili versi pemerintah, dan dijebloskan ke penjara Sukamiskin di Jawa Barat, selama satu setengah tahun.

Fisik di penjara, pikiran berkelana. Begitulah yang terjadi dengan anak-anak muda itu. Di dalam bui itu, mereka tetap rajin berdiskusi tentang politik, demokrasi, dan tentang ekonomi yang jalannya kian timpang.

Lepas dari jeruji Sukamiskin, dan setelah merampungkan kuliah, Rizal kemudian meneruskan pendidikan di Boston Amerika Serikat, hingga meraih gelar doktor dalam bidang ekonomi.

Kembali dari negeri Paman Sam itu, bersama sejumlah kawan, Rizal mendirikan Econit, sebuah lembaga kajian dan riset ekonomi. Lembaga inilah yang pada tahun 1990-an rajin melansir data ekonomi. Mengritik keras soal utang yang tidak saja bengkak tapi juga bocor. Tentang bahaya utang swasta bagi ekonomi nasional. Bubble di sektor properti. Perbankan yang doyan salurkan duit ke aneka jenis usaha sendiri hingga melampaui batas.

Dan kajian Econit jadi rujukan para pelaku bisnis. Dibaca para investor. Serta jadi berita di halaman media massa nasional juga internasional. Pada masa itu, Econit adalah satu dari sedikit lembaga tempat publik bahkan juga pengusaha, menyelami wajah ekonomi nasional yang sesungguhnya, dari wajah penuh dandanan sekian ekonom di pemerintahan dan sanjungan aneka lembaga keuangan internasional.

Dan kita tahu, krisis 1998 yang berujung pada lengsernya Soeharto setelah 32 tahun berkuasa, bermula dari krisis multidimensi termasuk ekonomi dengan sekian keresahan angka seperti dicatat oleh Econit itu. Dengan hanya bertumpu pada kekuatan modal, juga utang luar negeri, ekonomi kita terlihat seperti rumah kardus. Gampang terbang begitu disapu angin. Akar tak kuat. Kita akhirnya merasakan tabiat uang yang tak punya nasionalisme, dan capital flight adalah cara dia melarikan diri meninggalkan rupiah yang terus tersungkur nyaris ke Rp.17 ribu untuk satu dolar. Ekonomi mati. Kekuasaan tamat.

Lalu reformasi datang. Rizal menduduki sejumlah posisi penting pada pemerintahan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, sahabat sekaligus guru kehidupannya. Pernah menjadi Kepala Bulog, dan bersama sahabatnya yang lain yakni Mahfud MD, Rizal ikut membongkar skandal keuangan di badan ini yang melibatkan sejumlah tokoh politik nasional saat itu.

Hubungan Rizal dengan Gus Dur memang begitu karib. Saling mendukung. Dan satu hati soal bangsa. Dia dipercaya menjadi Kepala Bapenas, Menteri Keuangan, juga Menteri Kordinator Bidang Ekonomi dan Keuangan. Sekian tahun ekonomi negeri ini begitu terpusat, Gus Dur bersama tim ekonomi yang dipimpin Rizal berusaha mendistribusikan kekuatan ke daerah. Mereka melakukan desentralisasi fiskal. Membuka otonomi daerah. Membagi dana. Menerapkan pajak dan retribusi daerah.

Serangkaian langkah itu adalah catatan sejarah yang jika dicari tak begitu sulit, mudah ditemukan jejaknya di halaman media masa kita. Kompas.com dalam tulisan khusus berjudul ‘Jejak Pertumbuham Ekonomi Indonesia dari Masa ke Masa‘ yang dipublikasikan pada Senin 26 November 2018, mengulas tentang upaya pemerintah pada setiap etape perjalanan bangsa kita.

Dari minus 13,13 persen pada tahun 1998, perlahan pulih ke 0,97 persen tahun 1999, ekonomi tumbuh pada 4,92 persen pada tahun 2000 ketika Gus Dur menjadi presiden. Sayang kemelut politik nasional yang penuh intrik menumbangkan Gus Dur pada separuh tahun dan ekonomi hanya tumbuh 3,64 persen tahun 2001. Tapi sejarah mencatat bahwa semenjak itu, jangkar kekuataan ekonomi daerah perlahan mulai mengakar.

Meski pernah menduduki sekian posisi empuk, Rizal tidak pernah “basah” seperti banyak pejabat kita yang turun dari kursi kekuasaan bertabur harta sekaligus bergelimang masalah seperti korupsi, yang menjadi benalu terbesar bangsa kita ini.

Mungkin itulah sebabnya, mengapa Rizal terlihat seperti punya kemewahan dalam hidupnya; kritis dan lugas terhadap kekuasaan, meski mereka yang dipucuk adalah juga sahabatnya sendiri, atau bahkan dia sendiri sedang berada dalam pemerintahan, seperti ketika dia keras mengkritik pembangunan listrik 35 ribu megawatt.

Lakukan saja riset media, atau sekedar berselancar di mesin pencari tentang proyek raksasa ini. Tanggal 7 September 2015, belum genap sebulan menjadi Menko Maritim, usai rapat kordinasi kelistrikan, Rizal bikin publik terhenyak. Bila target 35 ribu megawatt tetap dilanjutkan, katanya, maka PLN bakal rugi triliunan dan itu akan membuat perusahaan negara itu kesulitan. Pasokan akan jauh melampaui permintaan. PLN akan rugi. Jejak pernyataan Rizal itu mudah ditemukan halaman media massa kita.

Masuk saja ke mesin pencari Google, ketik: Rizal Ramli: proyek 35 ribu megawatt akan rugikan PLN, maka Anda akan disuguhi indeks dari media massa nasional.

Lalu silahkan menikmati perdebatan soal ini dan sekian sanggahan terhadap Rizal. Resapi dan bikin penilaianmu sendiri. Tanggal 31 Mei 2016, Rizal kembali bicara soal proyek raksasa ini. Dia lagi-lagi bilang bahwa jika proyek ini diteruskan maka PLN akan terjerat kesulitan keuangan.

Dua tahun setelah pernyataan Rizal Ramli itu, pada 19 September 2019, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengirim surat kepada Menteri ESDM dan Menteri BUMN, soal resiko gagal bayar utang PLN. Sebuah media besar online mengaitkan surat itu dengan “ramalan” Rizal Ramli dua tahun silam itu.

Barangkali, kata ramalan itu kurang pas, sebab sebagai seorang doktor bidang ekonomi yang gandrung pada rumitnya matematika dan fisika, pernyataan Rizal itu jelas bukan dari ilmu nujum, tapi berdasarkan hasil perhitungan ekonomi, berbasis data, dan selebihnya mungkin karena dia tahu banyak akan apa yang sesungguhnya terjadi.

Mungkin karena tahu banyak itu, dia juga menghentak publik dengan hal yang mungkin sudah lama kita tahu, tentang bahaya perselingkuhan kekuasaan dengan bisnis. Peringatan serupa sering kita dengar dari banyak pengamat.

Bedanya adalah Rizal mengingatkan soal ini justru ketika dia sedang berada dalam kekuasaan. Bobot keyakinan pendengar tentu lebih besar. Penguasa, kata dia, sama mulianya dengan pengusaha. Sayang, lanjut Rizal, begitu keduanya dirangkap atau menyatu menjadi PengPeng, seringkali yang terjadi adalah malapetaka. Dia memang tidak menyebut nama, dan membiarkan publik mencari kebenaran sendiri soal benar tidaknya perselingkuhan itu.

Sekian pernyataan Rizal Ramli yang seringkali menghentak, hanya bisa dipahami dengan cara memahami jalan pikirannya. Bahwa kekuasaan harus lepas dari interest pribadi, ekonomi pro rakyat, nasionalisme ekonomi, dan bermitra dengan negara lain dalam posisi yang setara.

Bagi Rizal, negeri ini tentu saja memerlukan investasi, memerlukan barang impor, tapi membantu para pelaku ekonomi lokal adalah hal yang utama, bukan saja demi memperkuat tumpuan ekonomi nasional, tapi sekaligus meletakkan batu lompatan terbaik bagi sekian generasi di kemudian hari.

Mungkin itu pulalah sebabnya, Rizal keras mengingatkan pemerintah soal Daftar Negatif Investasi (DNI) pada November 2018, meski terlihat dia tetap berusaha realistis. Untuk usaha yang perlu teknologi tinggi dan modal besar, katanya, memang sulit tanpa melibatkan asing, tapi mempersilahkan asing masuk di usaha kecil dan menengah, jelas sudah kebablasan.

Tanggal 3 Juli 2019, misalnya, dia menyoroti nasib PT Krakatau Steel, perusahaan pabrik baja milik negara, yang terseok nasibnya justru di tengah gencarnya pembangunan infrastuktur. Seharusnya, kata Rizal, di tengah maraknya pembangunan infrastuktur, keuntungan Krakatau Steel bisa naik. “Tapi yang naik malah impor baja dari Tiongkok, yang harganya dumping dan aturan impornya dipermudah.”

Selama sekian hari, Rizal dikutip media dan tampil di televisi dan dengan keras mendesak pemerintah mendahulukan industri baja nasional. Direktur Utama Krakatau Steel, Silmy Karim, juga mengeluhkan banyak produk hilir baja yang diimpor. Jika diteruskan akan membuat industri hilir ambruk dan pada akhirnya mematikan Krakatau Steel.

Setelah diberi arahan khusus oleh Presiden Joko Widodo, tanggal 28 Oktober 2019, kepada wartawan Menteri Perdagangan Agus Gumiwang menyampaikan, “Krakatau Steel diberi perhatian agar mereka bisa berkompetisi di market.”

Rizal mungkin saja, atau terkadang menyampaikan kritik dengan cara yang membuat kita terhenyak. Lugas. Tanpa bungkusan. Melukai perasaan dua tiga orang, tapi jika melihat lebih dalam kritikanya nothing personal, substansinya adalah tentang betapa perlunya keadilan dan nasionalisme ekonomi.

Dan pada diri Rizal Ramli, itu bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Bukan mendadak nasionalisme. Sudah mengkristal pada jiwa raganya semenjak mahasiswa, yang untuk itu bersama sejumlah kawan mudanya, menjalani hari-hari penuh nestapa dalam jeruji besi, Sukasmiskin.

Oleh Woworuntu Manalo, Pemerhati Sosial

Mahasiswa IPB Ikuti Kuliah Daring Bawa Bawa Petinggi BCA

BOGOR DAILY – Mahasiswa IPB penerima beasiswa bhakti BCA tahun ajaran 2019-2020, di masa pandemi Covid-19 akhirnya bisa mengikuti perkuliah umum meski melalui online atau daring.

Kuliah umum yang bertema striving for excellence during new normal menghadirkan pembicara Wakil Presiden Direktur BCA Armand W. Hartono itu dibuka Rektor IPB University Prof. Arif Satria.

“BCA sangat peduli dengan pendidikan karena merupakan salah satu pilar utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia seseorang,” ujar Wakil Presiden Direktur BCA Armand W. Hartono dalam keterangan tertulis, Rabu (19/8/2020).

Armand mengatakan, di kondisi pandemi Covid-19 saat ini, anak muda Indonesia harus kreatif dan inovatif dalam menimba ilmu dan terus semangat dalam mencari pengetahuan dan pengalaman baru. Apalagi, di masa pandemi pertemuan tatap muka dibatasi.

“Ditengah perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini, mahasiswa harus memanfaatkannya untuk mendukung pembelajaran hard skill maupun soft skill era teknologi,” katanya.

Armand menambahkan, saat ini digitalisasi menjadi andalan karena dapat mendukung berbagai kegiatan tanpa harus bertemu secara langsung.

Beberapa pekerjaan pun kini diambil alih oleh mesin. Nah, sebagai konsekuensinya, kata Armand standar kualitas SDM pada era new normal juga harus ditingkatkan untuk dapat bersaing dengan kancah global.

“Ilmu tidak hanya diperoleh saat kita menempuh jenjang pendidikan formal. Sejatinya, belajar dan memperoleh ilmu merupakan kegiatan yang akan kita lakukan sepanjang hayat. Kuliah umum virtual diharapkan dapat memberikan bekal serta motivasi bagi teman-teman untuk terus belajar dan memanfaatkan berbagai kesempatan untuk meraih prestasi saat ini maupun di masa mendatang,” tukasnya. (Andi)

Ketum PSSI Menantang Timnas Indonesia U-16 Unjuk Gigi di Piala Asia

0

BOGORDAILY – Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan ingin Timnas Indonesia U-16 berprestasi di Piala Asia U-16 2020. Ajang tersebut bakal terlaksana di Bahrain pada akhir tahun ini.

Permintaan itu dilontarkan Mochamad Iriawan saat melakukan kunjungan latihan Timnas U-16 di Stadion Patriot Chandrabhaga, Kota Bekasi, Selasa (18/8/2020). Ia berharap anak-anak asuh Bima Sakti tak mengkhawatirkan para pesaingnya.

Timnas U-16 tergabung di Grup D bersama Jepang, Arab Saudi, dan China. Jepang berstatus juara bertahan, Arab Saudi dua kali juara, sementara China jelas tak bisa dianggap remeh.

“Jangan gentar dengan nama-nama besar negara itu. Mereka juga sama-sama manusia. Dan bola itu bundar,” kata Mochamad Iriawan dikutip dari laman resmi PSSI.

“Bahkan kita pun sudah pernah menghadapi China di Stadion Gelora Bung Karno (Kualifikasi Piala Asia U-16). Tidak kalah juga saat itu, imbang 0-0,” ujarnya menambahkan.

Mochamad IriawanMochamad Iriawan di depan skuad Timnas Indonesia U-16 (dok PSSI)

Timnas U-16 menjadi satu-satunya wakil ASEAN yang lolos ke Piala Asia U-16. Negara-negara kuat seperti Thailand hingga Vietnam gagal melaju dari babak kualifikasi.

Selain kebanggaan mewakili ASEAN, bertanding di Piala Asia U-16 juga punya prestise tersendiri. Ajang dua tahunan ini juga menyediakan empat tiket ke Piala Dunia U-17 2021.

“Tim ini sangat membanggakan, hadir sebagai satu-satunya negara Asia Tenggara di Piala Asia U-16,” tutur eks Kapolda Metro Jaya itu.

“Ingat, empat tim terbaik dari turnamen ini akan lolos ke putaran final Piala Dunia U-17 di Peru 2021. Mau masuk Piala Dunia? Mau membawa merah putih di Piala Dunia?” ucapnya.

Sejauh ini, Timnas U-16 telah menggelar uji coba dengan tim lokal sebanyak tiga kali. Terakhir, Alexandro Felix Kamuru menang 2-0 atas dengan skor 2-0 pada, Jumat (14/8).

Mahfud Md Cuit Angka Kemiskinan Akhir Periode SBY, Lalu Dikoreksi PD

BOGORDAILY – Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud Md mencuit mengenai angka kemiskinan di Indonesia, termasuk di akhir pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Elite Partai Demokrat (PD) lantas mengkoreksi data Mahfud.

Lewat akun Twitter, Mahfud memaparkan bahwa angka kemiskinan di Indonesia terus menurun. Khusus di periode terakhir SBY memimpin, Mahfud mengatakan angka kemiskinan tahun 2014 adalah 12%.

“Karena Indonesia merdeka, jumlah orang miskin terus-menerus turun. Di zaman kolonial, hampir semuanya miskin; awal orba (1966) 56% miskin; awal reformasi (1998) 18% miskin; akhir pemerintahan SBY (2014) 12% miskin; akhir periode I JKW (2019) 9% miskin. Musim COVID-19 (2020) naik jadi 9,7%,” cuit Mahfud di akun @mohmahfudmd, Rabu (19/8/2020).

Dua elite PD Ossy Dermawan dan Imelda Sari mengkoreksi data yang disampaikan Mahfud. Mereka mengatakan, angka kemiskinan di akhir periode SBY adalah 10,96%, bukannya 12%.

“Mohon maaf Pak Menteri, mohon dibetulkan data kemiskinan era Presiden SBY. Beliau memimpin sampai dengan 20 Oktober 2014. Data BPS per September 2014 saja angka kemiskinan 10,96%. Kenapa Bapak tulis 12%? Mungkin Bapak gunakan data Maret 2014? Sekali lagi mohon dikoreksi datanya. Terima kasih,” cuit Ossy yang juga staf pribadi SBY.

“Koreksi data sebagai berikut: SBY periode kedua (2009-2014) angka kemiskinan turun sebanyak 3,46% yaitu dari 14,15% menjadi 10,96%. Jadi di akhir Pemerintahan SBY 10,96%, bukan 12%,” cuit Imelda di kesempatan terpisah.

Mahfud pun merespons dan membenarkan data yang disampaikan Ossy dan Imelda. Mahfud kemudian menyebut, jika dibulatkan, angka kemiskinan di akhir periode SBY adalah 11%.

“Ya, betul, Mbak Imelda. Pada akhir pemerintahan kedua Pak SBY (2014) jumlah orang miskin bukan 12%, tapi 11% (tepatnya jika dibulatkan dari 10,96%). Bagus,” ujar Mahfud.

Long Weekend Lagi, Kawasan Puncak Bakal Macet Lagi

Puncak Bogor Diprediksi Kembali Diserang Wisatawan

BOGOR DAILY – Libur Tahun Baru Islam 1442 Hijriah yang jatuh pada Kamis (20/8/2020), kawasan Puncak, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor diprediksi akan kembali di datangi wisatawan dari luar.

Untuk mengantisipasi hal itu Satlantas Polres Bogor dipaksa bekerja lebih keras agar kemacetan jalur puncak bisa teratasi.

Kasat Lantas Polres Bogor, AKP Fitra Zuanda mengatakan, dalam mengantisipasi hal itu pihaknya akan melakukan penambahan anggota sebanyak 50.

“Persiapannya tadi kita sudah melakukan pergeseran pasukan dan sudah diapelkan dengan dipimpin oleh bapak kapolres langsung,” katanya kepada wartawan, Rabu (19/8/2020).

Diungkapkan AKP Fitra, pihaknya juga sudah berkordinasi dengan instansi kepemerintahan di Kabupaten Bogor.

“Kita sudah berkordinasi juga dengan instansi Pemkab Bogor, dalam mengurai kemacetan yang dimungkinkan terjadi besok,” tukasnya. (Andi)