Monday, 6 April 2026
Home Blog Page 838

AQUVIVA Hadirkan Kesejukan Ramadhan, Bagikan 450.000 Air Mineral untuk Berbuka Puasa di Seluruh Indonesia

0

Bogordaily.net – Dalam semangat bulan suci Ramadhan 1446 H, AQUVIVA menggelar program AQUVIVA Berbagi Sejuknya Ramadhan , membagikan lebih dari 450.000 botol air mineral ke lebih dari 200 titik di Indonesia.

Program yang berlangsung dari 1 Maret hingga 6 April 2025 ini bertujuan memfasilitasi agar umat Islam dapat berbuka dengan air mineral berkualitas serta #MurniSehatAlami.

AQUVIVA merupakan produk air mineral dalam kemasan (AMDK) pertama dari WINGS Food, berasal dari alam dan diolah dengan Teknologi 7 Tahap Nano Purifikasi pertama di Indonesia.

Program AQUVIVA ini tidak hanya memfasilitasi masyarakat mendapatkan air mineral yang murni, sehat dan alami saat berbuka, tetapi juga menjadi bagian dari semangat kebersamaan dan kepedulian di bulan suci. Pembagian mineral udara dilakukan secara bertahap hingga periode arus balik mudik di berbagai lokasi strategis, seperti masjid, rest area , tempat rekreasi dan pusat keramaian.

Pemudik dan masyarakat umum lainnya juga dapat menikmati AQUVIVA di Pondok Rehat WINGS Food yang hadir di beberapa SPBU di jalur mudik yaitu SPBU Mundusari Subang, SPBU Rawagatel Indramayu, SPBU Pangenan Cirebon, SPBU Cihaurbeuti Tasikmalaya, Lohbener Tasikmalaya, dan RM Geunah Rasa Nagrek.

“Ramadan adalah waktu di mana kita saling berbagi dan mempererat kebersamaan. Dengan membagikan AQUVIVA kepada jamaah buka puasa di masjid, kami ingin memfasilitasi mereka bisa berbuka dengan air mineral murni berkualitas yang menyegarkan. Selain di masjid, kami juga hadir di berbagai lokasi strategis yang tersebar di Indonesia, seperti rest area, tempat rekreasi dan juga Pondok Rehat WINGS Food. Harapan kami, inisiatif ini dapat memberikan manfaat nyata bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa”, ujar Devi Chrisnatalia, Senior Brand Manager AQUVIVA .

Selain menjadi momen untuk meningkatkan spiritualitas, Ramadhan juga mengajarkan nilai kepedulian terhadap sesama. Bambang Aryo Seno, Kepala Tata Usaha Masjid Raya Pondok Indah menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif AQUVIVA dalam program AQUVIVA Berbagi Sejuknya Ramadhan di Masjid Raya Pondok Indah, Jakarta (13/3).

“Selama Ramadhan, Masjid Raya Pondok Indah menyelenggarakan kegiatan berbuka puasa bersama dengan jamaah masjid. Tiap harinya, ratusan jamaah datang ke masjid ini. Kami selalu berusaha menyediakan yang terbaik agar mereka bisa berbuka dengan nyaman. Alhamdulillah, dengan adanya dukungan dari AQUVIVA, kami dapat menyajikan air mineral yang sehat dan berkualitas untuk menghilangkan rasa dahaga ketika berbuka puasa. Semoga langkah-langkah untuk berbagi kebaikan di bulan suci ini membawa keberkahan yang lebih luas bagi semua,” ujarnya.

Melalui program AQUVIVA Berbagi Sejuknya Ramadhan, AQUVIVA berharap dapat berkontribusi dalam menghadirkan pengalaman berbuka puasa yang lebih sehat, bermakna, dan penuh kebaikan bagi masyarakat Indonesia.

Sejalan dengan komitmen WINGS Group Indonesia Life Keeps Getting Better kami percaya bahwa dengan terus melengkapi kebutuhan konsumen, kami dapat berkontribusi dalam membangun masa depan yang lebih baik serta menghadirkan kebaikan yang dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat. ***

Menembus Ribuan Kilometer : Perjalanan Seru Naik Bus dari Bogor ke Bukittinggi

0

Bogordaily.net – Perjalanan panjang dengan bus selalu memiliki daya tarik tersendiri. Bagi sebagian orang merasa bepergian dengan pesawat jauh lebih nyaman. Namun, bagi mereka yang suka menikmati setiap perjalanan, maka perjalanan darat dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan. Saya menempuh perjalanan dari Bogor, Jawa Barat, ke Bukittinggi, Sumatera Barat menggunakan bus.

Dengan jarak lebih dari 1.300 kilometer, perjalanan ini membawa saya melewati berbagai kota dengan pemandangan yang luar biasa. Dari jalanan ramai di Pulau Jawa, melintasi Selat Sunda menuju Sumatera, hingga melewati perbukitan dan lembah Sumatera Barat.

Banyak orang yang mungkin bertanya, mengapa memilih perjalanan panjang dengan bus? Jawabannya sederhana, saya ingin merasakan setiap perubahan suasana, bertemu dengan orang-orang baru, dan mencicipi makanan khas dari berbagai daerah yang saya lewati.

Berbeda dengan perjalanan udara yang hanya menghabiskan waktu beberapa jam.
Selain itu, perjalanan dengan bus memiliki kesenangan tersendiri. Ada rasa kebersamaan di antara penumpang, seperti berbagi cerita tentang tujuan masing-masing. Di setiap kota yang dilewati, saya bisa melihat kehidupan masyarakat disana, menikmati suasana berbeda di tiap kota.

Dengan perasaan bahagia, saya mempersiapkan diri untuk perjalanan panjang ini. Bekal makanan ringan, power bank, dan playlist musik favorit sudah siap untuk menemani saya selama perjalanan. Saya pun berangkat menuju Terminal Baranangsiang, Bogor, tempat di mana perjalanan ini dimulai.

Bogor: Awal Perjalanan
Pagi itu, saya berangkat dari Terminal Baranangsiang, Bogor. Terminal ini merupakan salah satu terminal yang ada di Bogor. Beberapa perusahaan otobus (PO) menyediakan rute ke Sumatera, termasuk ke Bukittinggi. Saya memilih bus ANS kelas luxury agar perjalanan panjang ini tetap terasa nyaman.

Saat bus mulai melaju, saya menikmati suasana kota Bogor yang masih terasa sejuk di pagi hari. Jalanan mulai ramai, dan bus bergerak perlahan melewati kawasan Sentul, lalu memasuki jalan tol menuju Jakarta.

Di dalam bus, suasananya cukup tenang. Sebagian besar penumpang tampaknya sudah terbiasa dengan perjalanan jauh. Beberapa orang asyik mengobrol. Saya memilih duduk di dekat jendela agar bisa melihat pemandangan sepanjang perjalanan. Setelah melintasi Jakarta dan Bekasi, bus terus melaju menuju Pelabuhan Merak, Banten. Perjalanan darat sejauh ini cukup lancar, dengan jalan tol yang mulus.

Menyebrangi Selat Sunda: Menuju Pulau Sumatera
Sesampainya di Pelabuhan Merak, bus memasuki antrian untuk naik ke kapal feri. Selat Sunda menjadi penghubung pulau Jawa dan Sumatera, satu-satunya cara untuk melanjutkan perjalanan darat adalah dengan menyeberang menggunakan kapal
Saya turun dari bus dan naik ke dek kapal untuk menikmati pemandangan laut. Angin laut yang sejuk, deburan ombak, serta kapal-kapal yang lewat membuat suasana menjadi tenang. Dari kejauhan, terlihat Pulau Sangiang, pulau kecil yang sering dikunjungi wisatawan.

Saat kapal mulai bergerak, saya melihat kesibukan pelabuhan. Truk-truk besar, mobil pribadi, serta bus seperti yang saya tumpangi berjejer di dalam kapal. Para penumpang lain juga terlihat menikmati perjalanan, sebagian memilih duduk di dek terbuka sambil menikmati kopi dan mie instan yang dijual di kapal.

Menyeberangi Selat Sunda bukan hanya soal berpindah pulau, tetapi juga kesempatan untuk melihat bagaimana transportasi laut menjadi penghubung antara Pulau Jawa dan Sumatera. Saya mengobrol dengan seorang penumpang yang sudah sering melakukan perjalanan dengan kapal. Menurutnya, menyeberang saat cuaca buruk bisa menjadi tantangan besar karena gelombang tinggi sering kali membuat kapal berguncang.

Beruntung, hari itu laut cukup tenang. Setelah sekitar 2-3 jam, kapal akhirnya sampai di Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Saya kembali ke dalam bus, siap untuk melanjutkan perjalanan darat yang masih sangat panjang.

Melintasi Sumatera: Dari Lampung hingga Sumatera Barat
Memasuki Lampung, jalur Sumatera mulai terasa. Tidak seperti tol di Pulau Jawa yang cenderung lurus dan halus, jalanan di Sumatera lebih berliku dan naik turun. Di sepanjang jalan, saya melihat hamparan perkebunan sawit, serta rumah-rumah khas daerah yang berdiri di pinggir jalan. Bus yang saya naiki melewati Kotabumi, kota kecil di Lampung yang terkenal dengan hasil pertaniannya. Saat bus berhenti untuk istirahat, saya mencicipi seruit, makanan khas Lampung yang terbuat dari ikan bakar dengan sambal tempoyak.

Setelah beberapa saat bus kembali melaju ke arah Palembang, Sumatera Selatan. Kota ini terkenal dengan Jembatan Ampera yang ikonik serta makanan khasnya, pempek. Saya memesan seporsi pempek di rumah makan tempat bus berhenti dan menikmatinya dengan cuka yang pedas dan asam.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Jambi. Di sepanjang jalan, saya melihat truk-truk besar yang mengangkut kelapa sawit, karet, dan hasil bumi lainnya. Jalanan di sini cukup menantang, dengan banyak tanjakan dan turunan tajam.

Memasuki Sumatera Barat: Keindahan Alam yang Luar Biasa
Setelah melewati Sumatera Selatan, akhirnya bus memasuki wilayah Sumatera Barat. Perubahan pemandangan dan suasana terasa signifikan. Jika sebelumnya jalanan didominasi oleh perkebunan sawit, kini saya mulai melihat perbukitan hijau, sungai berkelok, dan rumah-rumah gadang khas Minangkabau.

Salah satu pemandangan paling menakjubkan dalam perjalanan ini adalah Lembah Anai, sebuah kawasan dengan air terjun yang berada tepat di pinggir jalan. Saat bus melewati daerah ini, saya melihat air yang mengalir deras dari tebing tinggi, membuat suasana terasa menenangkan.

Tiba di Bukittinggi: Kota Kecil Penuh Sejarah
Setelah hampir 40 jam perjalanan, akhirnya bus yang saya naiki tiba di Terminal Aur Kuning, Bukittinggi. Rasa lelah seketika tergantikan oleh kebahagiaan saat melihat orang tua saya datang menjemput saya di Terminal itu.

Bukittinggi menyambut saya dengan udara sejuk dan suasana kota yang tenang. Kota ini memang terkenal dengan kesejukannya karena berada di dataran tinggi. Saya pun langsung menuju rumah untuk beristirahat karena hari sudah mulai gelap.

Perjalanan panjang dari Bogor ke Bukittinggi dengan bus ini memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi saya. Dari suasana terminal yang ramai, melintasi lautan dengan kapal feri, hingga menikmati pemandangan alam yang luar biasa di Sumatera.

Bagi yang ingin merasakan petualangan darat yang sesungguhnya, perjalanan dengan bus dari Bogor ke Bukittinggi adalah pilihan yang layak dicoba. Perjalanan panjang yang bukan hanya soal jarak, tetapi juga tentang pengalaman, budaya, dan keindahan alam yang luar biasa.***

Shabilla Azahra – Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Muhammad Raykhan Aditya: Dari Sederhana Menjadi Visioner

0

Bogordaily.net – Di dunia pendidikan tinggi, dosen adalah peran yang penting untuk para mahasiswa, namun tidak setiap dosen bisa menaungi tanggung jawabnya yang besar, maka dari itu, peran asisten dosen merupakan peran yang penting dalam sebuah mata kuliah, Muhammad Raykhan Aditya adalah seseorang yang berprofesi Asisten Dosen untuk program studi Teknologi Industri Benih, dan inilah ceritanya.

Awal Kehidupan Kak Raykhan
Muhammad Raykhan Aditya lahir di Kota Sukabumi pada 22 April 2000. Ia menjalani kehidupan seperti seseorang warga lokal yang biasa, ia meruapakn orang yang tidak terlalu aktif dan hidup dengan motto “Jalani hidup seadanya.” sehingga Raykhan mempunyai sifat yang santai dan tenang. Meskipun Raykhan merupakan orang yang santai, ia juga terlibat di OSIS SMA dan mengikuti Karya Ilmiah Remaja. “Mungkin waktu SMA aja kali ya, mulai aktifnya ikut OSIS, ada karya ilmiah remaja aktifnya disitu.”

Masa di SMA
Di masa SMA, Raykhan juga membantu berjalanya beberapa acara di SMAnya sebagai seorang panitia di divisi konsumsi dan K3 dimana ia bertanggung jawab untuk melakukan pembersihan dan menyiapkan hidangan di acara tersebut sehingga Raykhan mengetahui dunia kepanitian dan berorganisasi. Ia juga tidak

Pasca lulus SMA, Raykhan harus memikirikan untuk masa depanya, ketika Raykhan harus memikirkan untuk memilih program studi di Sekolah Vokasi IPB, ia memilih untuk menjadi seseorang mahasiswa di program studi Teknologi Industri Benih (TIB).

Masa Menjadi Mahasiswa
Raykhan pun resmi menjadi seorang mahasiswa TIB, selama Raykhan menjadi seorang mahasiswa, ia tidak pernah sekalipun berfikir untuk pindah ke jurusan lain dan merasa betah, kegiatanya yang dipenuhi oleh pergi ke lapangan, dan survei ke berbagai desa.

Di program studi TIB, Raykhan pun tidak hanya belajar benih secara detail namun ketrampilan berkomunikasi juga diuji saat ia sedang melakukan survey di sebuah desa, ia juga dituntut untuk berkomunikasi dengan warganya agar bisa melihat kondisi di desa tersebut dan pergi ke berbagai tempat sehingga ia menjadi seseorang

Ia mengikuti program salah satu program spesial di program studi bernama Orchid House, program kewirausahaan dimana para mahasiswa bisa menghasilkan sebuah subkultur anggrek, ini membuat kak Raykhan lebih berpengalaman di bagian Kultur Jaringan sehingga salah satu dosenya memilih Raykhan menjadi Asisten Dosen.

Pasca Lulus Kuliah
Setelah Raykhan Lulus dari Sekolah Vokasi IPB di masa dimana virus COVID-19 masih rawan, Raykhan ditawarkan menjadi seorang asisten dosen dimana ia membantu para dosen di berbagai mata kuliah dengan proses belajar-mengajarnya,seorang dosen yang mengajar di mata kuliah kultur jaringan menawarkan posisi tersebut kepadanya karena mereka juga sudah dekat dengan satu sama lain, Raykhan pun juga tidak mempunyai pekerjaan pada waktu itu sehingga ia setuju untuk menjadi seorang asisten dosen.

Ia juga mendapat beberapa keuntungan seperti ia hanya masuk 2 atau 3 hari meskipun ia harus bisa menyesuiakan diri untuk berbagai karakter mahasiswa yang ada di TIB, meskipun Raykhan terlihat senderhana, ia juga mempunyai visi bahwa TIB akan menjadi program studi yang penting dikarenakan program TIB menyangkut salah satu aspek yang penting dalam pertanian yaitu benih dan jika kualitas benih juga masih kurang berkualitas, maka kualitas pertanian juga tidak akan meningkat sehingga program studi TIB mempunyai peran yang penting di masa depan. Meskipun ia sudah lulus, ia juga masih mencari tujuan hidupnya kedepan, namun ia yakin bahwa ia akan mencapai tujuan hidupnya ketika ditemukan.

 

Anargya Atha

Bisakah Hobi Menjadi Karir? Ini dia Perjalanan Muhammad Fajar Maulana Ihsan di Industri Perikanan

0

Bogordaily.net – Muhammad Fajar Maulana Ihsan, atau yang akrab disapa Fajar, adalah seorang asisten dosen di Program Studi Teknologi dan Manajemen Pembenihan Ikan, Sekolah Vokasi IPB University. Lahir dan besar di Citeureup, Kabupaten Bogor, Fajar kini berusia 22 tahun dan merupakan mahasiswa angkatan 2021 di Sekolah Vokasi IPB University. Sebelum memasuki perguruan tinggi, ia menempuh pendidikan di SMA Negeri 4 Cibinong.

Ketertarikan Fajar terhadap dunia perikanan bermula sejak SMP, ketika ia mulai memelihara ikan di rumah sebagai hobi. Awalnya, ia hanya sekadar menikmati aktivitas tersebut, tetapi seiring berjalannya waktu, kecintaannya terhadap ikan semakin berkembang. Hal ini kemudian menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan pilihan studinya di perguruan tinggi. Melalui jalur USMI di Sekolah Vokasi IPB University, Fajar sempat mempertimbangkan beberapa program studi, seperti Teknik dan Manajemen Lingkungan (LNK) serta Manajemen Agribisnis (MAB), sebelum akhirnya mantap memilih Teknologi dan Manajemen Pembenihan Ikan (IKN).

Seperti kebanyakan mahasiswa lainnya, perjalanan akademik Fajar tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapinya adalah perkuliahan daring akibat pandemi COVID-19 yang berlangsung hampir dua tahun. Dalam periode tersebut, ia mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan teman dan dosen serta beradaptasi dengan sistem pembelajaran online yang berbeda dari metode konvensional. Setelah perkuliahan kembali tatap muka, tantangan lain muncul, terutama dalam mengelola tugas-tugas yang menumpuk serta jadwal praktikum yang cukup menuntut. Sebagai mahasiswa yang terlibat dalam bidang pembenihan ikan, ia harus menjaga ikan hingga malam hari, sebuah tanggung jawab yang tidak mudah. Namun, prinsip hidupnya yang berpegang teguh pada tanggung jawab terhadap orang tua serta kecintaannya pada dunia perikanan membuatnya terus berjuang.

Keseriusan Fajar dalam bidang perikanan semakin terlihat ketika ia mulai menjalani perannya sebagai asisten dosen. Perjalanan ini bermula saat ia melakukan penelitian tentang teknik pemeliharaan larva (TPL). Karena sering menangani larva dalam proses pembenihan ikan, ia semakin tertarik untuk mendalami bidang ini lebih jauh. Sebagai asisten dosen, Fajar memiliki tanggung jawab dalam membantu persiapan kuis, mendampingi mahasiswa saat praktikum, serta menjadi penghubung antara mahasiswa dan dosen dalam memahami materi akademik.

Bagi Fajar, menjadi asisten dosen bukan hanya sekadar pengalaman akademik, tetapi juga merupakan langkah strategis untuk lebih dekat dengan dosen pembimbing tugas akhirnya. Dengan menjalankan peran ini, ia bisa lebih memahami cara kerja dan metode pengajaran dosennya, yang akan sangat berguna dalam menyelesaikan studi. Selain itu, pengalaman ini juga membantunya mengasah kemampuan komunikasi dan kepemimpinan, yang akan menjadi modal penting dalam karier masa depannya.

Berbicara mengenai masa depan, Fajar memiliki cita-cita besar untuk menjadi pengusaha di bidang perikanan, khususnya dalam sektor obat-obatan dan pakan ikan. Saat ini, ia masih dalam tahap eksplorasi mengenai aspek spesifik yang ingin ia tekuni, tetapi satu hal yang pasti: ia ingin terus berkontribusi dalam dunia perikanan. Ia menyadari bahwa industri ini memiliki potensi besar, baik dari segi ekonomi maupun keberlanjutan lingkungan, sehingga ia ingin menjadi bagian dari inovasi dalam bidang tersebut.

Di luar dunia akademik, Muhammad Fajar Maulana Ihsan tetap mempertahankan hobinya dalam memelihara ikan. Sebelum menjalani Praktik Kerja Lapang (PKL), ia juga gemar memancing, sebuah aktivitas yang semakin memperkaya wawasannya dalam dunia perikanan. Baginya, keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional sangat penting. Beruntungnya, peran sebagai asisten dosen hanya mengharuskannya mengajar seminggu sekali, sehingga ia masih dapat mengelola waktunya dengan baik untuk berbagai aktivitas lainnya.

Bagi mahasiswa yang tertarik untuk menekuni bidang teknologi dan manajemen pembenihan ikan, Fajar memiliki pesan penting: “Coba dulu aja. Jangan takut. Kalau niatnya cuma setengah-setengah, juga nggak enak. Jadi langsung aja. Gagasin aja. Coba dulu, nanti juga ketagihan. Yang penting coba dulu.”

Dengan semangat dan dedikasi yang tinggi, Fajar terus berupaya mengembangkan potensinya di dunia perikanan. Ia berharap dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi industri ini di masa depan serta menginspirasi mahasiswa lain untuk menekuni bidang perikanan dengan penuh semangat dan keyakinan.***

 

Cinta Nurul Arsy Pradita | Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Curhat Bikin Pertemanan Makin Erat, Benarkah?

0

Bogordaily.net – Pertemanan yang sehat merupakan aspek penting dalam kehidupan bersosial. Dalam sebuah pertemanan, komunikasi menjadi kunci agar hubungan tetap terjaga dan semakin erat.

Tanpa adanya komunikasi, hubungan pertemanan tidak akan berjalan lancar bahkan lebih buruknya dapat menghancurkan hubungan. Salah satu bentuk komunikasi yang umum kita lakukan adalah curhat.

Terkadang, kita merasa menjadi lebih dekat dengan teman setelah curhat berbagi cerita ataupun masalah. Namun, apakah curhat benar-benar bisa membuat pertemanan makin erat? Jawabannya, bisa iya, bisa juga tidak. Semua tergantung bagaimana cara kita melakukannya.

Mengapa Curhat Bisa Menguatkan Pertemanan
Curhat atau berbagi cerita bisa menjadi cara efektif untuk menguatkan hubungan pertemanan, karena ketika kita curhat pada teman, mereka merasa dihargai sebagai teman karena kita mempercayai mereka untuk mendengarkan dan memberikan dukungan. Hal tersebut membuat ikatan emosional satu sama lain menjadi lebih kuat.

Selain itu, curhat dapat membuat kita terbuka dan menyadari apa yang kita rasakan tanpa merasa dihakimi. Teman yang mendengarkan curhat dengan baik, membuat kita merasa nyaman saat berbagi cerita, dan memungkinkan kita lebih jujur dalam mengekspresikan perasaan. Oleh karena itu, curat tidak hanya mengeluarkan beban emosional, tetapi juga membangun kedekatan emosional yang lebih dalam.

Terkadang, saat menghadapi masalah, kita sulit berpikir jernih. Curhat bisa membantu kita melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda, Teman yang mendengarkan curhatan kita mungkin bisa memberikan saran atau pendapat yang tidak terpikirkan sebelumnya sehingga kita bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan.

Hal ini tidak hanya menguatkan hubungan, tetapi juga memperkaya wawasan satu sama lain. Bahkan, berbagi masalah yang serupa dengan teman bisa membuat kita merasa lebih terhubung atau senasib sepenanggungan, karena kita tahu kita tidak sendirian dalam menghadapi tantangan hidup.

Adakah Risiko dan Batasan saat Curhat pada Teman
Namun, meskipun curhat memiliki banyak manfaat ada beberapa risiko dan batasan yang harus kita ingat. Salah satunya adalah terlalu sering bergantung pada teman saat menyelesaikan masalah pribadi.

Jika kita terlalu sering curhat dan menumpahkan semua masalah kita pada teman, maka akan menambah beban emosional mereka, apalagi kita terus-terusan mengeluh dan mereka tidak memiliki kapasitas mendengarkan atau memberi saran yang membantu, yang ada mereka akan merasa lelah karena kita terus memberikan negative vibes pada mereka.

Teman kita pun memiliki masalahnya sendiri, dan kita tidak seharusnya membuat mereka merasa terbebani dengan curhatan kita tanpa memberikan ruang bagi mereka untuk berbicara atau berbagi juga.

Curhat yang terlalu pribadi juga memiliki risiko merusak privasi. Ada kemungkinan teman kita membagikan informasi yang kita percayakan kepada orang lain, yang dapat merusak kepercayaan dalam hubungan pertemanan.

Oleh karena itu, sangat penting untuk memilih teman yang benar-benar dapat dipercaya dan tetap menjaga batasan dalam berbagi cerita. Kita harus ingat bahwa tidak semua orang mampu menjaga rahasia dengan baik.

Selain itu, ada risiko ketidakcocokan dalam komunikasi. Tidak semua orang merasa nyaman untuk mendengarkan curhat, dan beberapa orang mungkin tidak tahu bagaimana memberikan dukungan yang tepat.

Hal ini bisa menyebabkan perasaan tidak dihargai atau bahkan memperburuk situasi, terutama jika teman kita memberikan tanggapan yang tidak sensitif atau mengabaikan masalah yang kita hadapi.

Teman yang merasa tidak nyaman dengan curhatan kita mungkin akan menjauh, atau bahkan memberikan respons yang tidak sesuai dengan harapan kita, seperti meremehkan masalah yang kita hadapi.

Cara Curhat yang Sehat dalam Pertemanan
Supaya curhat bisa memberikan manfaat positif dan tidak merusak pertemanan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1. Pilih teman yang tepat
Cari teman yang bisa dipercaya, bisa mendengarkan dengan baik, dan bisa memberikan dukungan tanpa menghakimi.
2. Perhatikan waktu dan tempat
Jangan curhat di saat teman sedang sibuk atau berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk mendengarkan. Pilih waktu dan tempat yang tenang dan nyaman agar obrolan bisa lebih fokus.
3. Bicaralah dengan jujur dan terbuka
Jangan ada yang ditutup-tutupi agar teman bisa memahami masalah kita dengan baik.
4. Jangan hanya fokus pada diri sendiri
Berikan kesempatan pada teman untuk berbicara dan berbagi cerita juga. Dengarkan mereka dengan penuh perhatian dan berikan dukungan yang sama seperti yang mereka berikan pada kita.
5. Hargai batasan teman
Jika teman tidak bisa memberikan solusi atau merasa tidak nyaman dengan cerita kita, jangan memaksanya. Hargai batasan mereka dan cari orang lain untuk diajak bicara.
6. Jaga kerahasiaan
Jangan pernah membocorkan cerita teman pada orang lain, karena itu bisa merusak kepercayaan dan pertemanan.
7. Jangan terlalu bergantung pada teman
Curhat memang bisa membantu meringankan beban, tapi jangan sampai kita terlalu bergantung pada teman untuk menyelesaikan semua masalah kita. Kita tetap harus berusaha mencari solusi sendiri dan menjadi pribadi yang mandiri.

Dengan mengikuti tips-tips di atas, curhat bisa menjadi salah satu cara yang efektif untuk menjaga dan mempererat hubungan pertemanan.

Namun, yang perlu diingat adalah bahwa komunikasi yang baik bukan hanya soal berbagi cerita, tetapi juga tentang saling memahami, menghargai batasan, dan memberikan dukungan yang sehat.

Dalam pertemanan yang kuat, curhat seharusnya menjadi sarana untuk saling mendekatkan diri, bukan untuk saling menjauh.***

 

Cinta Nurul Arsy Pradita

Perjalanan Aep Setiwan, Dosen Inspiratif yang Semangat Berinovasi

0

Bogordaily.net – Aep Setiawan lahir di Garut pada tanggal 2 November 1985. Saat ini usia dia berusia 39 tahun. Dia memiliki istri dan dikaruniai 3 anak, 2 perempuan dan 1 laki-laki. Saat ini dia mempunyai hobi menonton acara olahraga dan sangat suka bersepeda. Menurutnya disaat usia sekarang ini, ia harus menjaga kesehatannya dimulai dari umurnya sekarang.

Aep Setiawan merupakan dosen program studi Teknologi Rekayasa Komputer yang ada di Sekolah Vokasi IPB. Saat ini beliau mengajar dibidang jaringan komputer. Selain mengajari dibidang jaringan, dia mengajar dibidang ilmu dasar Fisika di Sekolah Vokasi IPB.

Dibidang pekerjaan yang sekarang ini ia nikmati, Aep mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup memukau. Dia menempuh pendidikan S1 program studi Fisika di Institut Pertanian Bogor dan melanjutkan pendidikan S2 Biofisika di kampus yang sama. Tak berhenti di S2, Aep melanjutkan pendidikan S3 nya dengan program studi yang selaras, yaitu Fisika di IPB.

Semasa sekolah, dia sangat menyukai berhitung angka numerik. Aep menyukai mata pelajaran matematika, fisika, dan kimia. Apapun hal yang bersangkut paut dengan angka, itu adalah kesukaannya. Saat SMA, bakatnya sudah diketahui mempunyai ambisi dibidang berhitung.

Untuk itu, dia berencana akan melanjutkan pendidikannya yang sesuai kemampuannya, yaitu matematika. Hal ini diketahui dilihat dari nilai rapor yang dia terima. Namun, Aep merasa ia mempunyai peluang yang sedikit untuk bisa lulus jika masuk program studi matematika IPB.
Maka dari itu, dia memlih untuk daftar di jurusan Fisika di IPB pada tahun 2004 dan puji syukur ia telah berhasil diterima di jalur USMI IPB dengan jurusan yang dipilih. Tak lama, dia lulus S1 Fisika pada tahun 2008. Walaupun menjadi lulusan fisika, tetapi dia merasa selaras dengan minat bakatnya dalam berhitung serta dapat mempelajari ilmu hardware.

Dahulu, Aep mempunyai cita-cita menjadi seorang guru. Baginya memberikan ilmu kepada orang-orang menjadi kepuasan sendiri dalam mengajarkannya. Setelah lulus dari S1 Fisika, dia sempat menjadi guru di salah satu sekolah di bogor yaitu sekolah YPHB dalam kurun 2 setengah tahun.

Namun suatu saat ditahun 2011, salah satu temannya menawarkan untuk menjadi seorang dosen Teknik Komputer Diploma IPB, sebelum program diploma diubah menjadi sarjana terapan. Lalu dia tertarik dengan tawaran tersebut dan mencoba daftar menjadi seorang dosen. Tak lama mendapat kabar, Aep diterima sebagai dosen Teknik Komputer di tahun 2011.

Selain itu, dia mempunyai banyak sekali karya publikasi yang ia unggah. Dimulai dari makalah ilmiah, jurnal yang bereputasi tinggi, prosiding seminar nasional-internasional, dan lain-lain.

Walaupun itu kewajiban atau tuntutan menjadi seorang dosen, yaitu Tri Dharma Perguruan Tinggi terdapat 4 aspek seperti pengajaran masyarakat, penelitian, pengabdian masyarakat, dan penunjang kepanitiaan.

Lalu ia juga bergabung dalam tim penunjang pemegang jaringan internet di Sekolah Vokasi. Jika ada kesulitan atau hal bermasalah pada jaringan internet di IPB, semua hal itu bisa di dilaporkan kepadanya. Dia juga pernah menjabat sebagai sekretaris prodi Teknologi Rekayasa Komputer.

Sekolah Vokasi IPB mempunyai skema setiap tahunnya, yaitu bernama Dosen Pulang Kampung. Proyek ini merupakan salah satu kewajiban para dosen dalam melakukan pengabdian masyarakat.

Disana dia bersama timnya melakukan pengabdian masyarakat ke tempat wisata Wana Wisata Gunung Dago yang dimana tempat wisata ini berlokasi di daerah pegunungan Kecamatan Parung Panjang. Setiap tim akan melakukan inovasi terbaru di tempat mereka turun lapangan.

Saat itu, Aep bersama timnya membuat inovasi aplikasi untuk mempermudah masyarakat dalam menikmati Wana Wisata Gunung Dago. Setiap melakukan inovasi terbaru, tentunya memiliki kesulitan sendiri untuk mewujudkannya.

Kesulitan yang mereka dapatkan adalah menyesuaikan kemauan dari para pengguna atau user. Tim mengharapkan aplikasi yang dibuat dapat berguna dan memudahkan serta bermanfaat untuk masyarakat. Pada akhirnya, proyek ini selesai dalam kurun waktu tahun 2023-2024.

Pengabdian masyarakat ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi dirinya.

Menjadi tenaga pengajar akademik, Aep memperdalami ilmu nya di CISCO yaitu perusahaan yang menyediakan mengembangkan, memproduksi, dan menjual perangkat keras dan perangkat lunak dibidang jaringan. CISCO juga bukan hanya sekadar tempat belajar praktik, tetapi disini dia bisa mempelajari teori ilmu jaringan agar dapat di berikan ilmu nya dan menginspirasi kepada mahasiswa-mahasiswi program studi Teknologi Rekayasa Komputer.

Selain itu juga Aep sering mengikuti kursus untuk menambah pengetahuan ilmu jaringannya di CCNA sebagai ilmu basic hingga di Development Network untuk pembelajaran ilmu yang kategori high sesuai level akademik.

Bertambahnya tahun di masa depan, ilmu teknologi semakin canggih. Terutama program studi Teknologi Rekayasa Komputer mempelajari ilmu yang mendalam tentang teknologi dalam jaringan. Apalagi AI atau Artificial Intelligence sedang marak sekali masyarakat gunakan. Diketahui terdapat isu mengatakan bahwa tenaga kerja di masa depan akan digantikan oleh teknologi AI ini.

Menurut tanggapan Aep Setiawan sebagai tenaga akademisi Teknologi Rekayasa Komputer, memanfaatkan teknologi AI tidak bisa sepenuhnya tergantikan tenaga kerja di masa yang akan datang. Walaupun tidak dapat dipungkiri AI semakin canggih, seseorang harus menggunakan teknologi secara pintar dalam memfilterisasi penggunaannya.

Dia bercerita pernah mengikuti suatu press conferences tentang pengenalan AI. Disana terdapat narasumber profesor yang handal dalam menangani teknologi AI. Profesor itu menyatakan bahwa AI bisa memudahkan kita dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari.

Tetapi, AI tidak bisa menggantikan hidup kita selama itu. Memang teknologi AI ini sangat efektif, namun kita harus bijak dalam penggunaannya. Penyataan mengenai tentang tenaga kerja akan digantikan dimasa depan, menurut Aep tidak akan bisa sebab seseorang mempelajari ilmu teknologi harus didampingi supaya efektif dalam berasosiasi.

Asosiasi dalam sosial media juga tidak bisa langsung di pelajari dalam internet. Maka dari itu, tenaga kerja seperti guru atau dosen di dalam lingkungan pendidikan tidak tergantikan.

Dilihat dari latar belakang pendidikan, pengalaman, serta mewujudkan suatu inovasi baru merupakan semangat belajar Aep untuk bisa bermanfaat kepada orang lain. Menurutnya, sesuatu yang dapat dimanfaatkan oleh sekitar, itu yang dinamakan Inovasi.

Cara dia untuk mendapatkan inovasi baru tersebut dengan sering melakukan interaksi dengan banyak orang. Interaksi dengan masyarakat dapat membantunya dalam mendapatkan ilmu serta mendapatkan asosiasi secara tidak langsung. Dari situ, dia dapat termotivasi.

Ditahun ini, seluruh dunia memakai teknologi untuk dapat mempermudah mendapatkan informasi melalui jaringan. Menurut Aep sebagai ahli dibidang teknologi jaringan, kita sebagai pengguna atau user harus bijak dalam menggunakan teknologi.

Tak dapat dipungkiri semua orang mempunyai gawai, hanya dari kita sendirilah yang bisa mengontrol dalam menggunakan atau manfaatkan gadget tersebut sesuai dengan kebutuhan. Terutama generasi Z sangat mengenal teknologi yang canggih.

Sebagai akademisi Teknologi Rekayasa Komputer, dia juga menyampaikan kita harus memanfaatkan teknologi dengan baik terutama di IPB sendiri teknologi digunakan sebagai kemajuan pertanian, sesuai dengan nama institusi. Jangan sampai IPB punya lahan pertanian yang luas, namun tidak pernah disentuh oleh teknologi karena zaman dapat mempengaruhi integritas nama institusi yang dimiliki.***

Rudy Susmanto Sambut Positif KORMI Wadahi Kegiatan Balap Lari di Pakansari

Bogordaily.net – Bupati Bogor, Rudy Susmanto menyambut baik kegiatan Balap Lari Pakansari yang diselenggarakan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Bogor.

Rudy menyebutkan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor bersama Forkopimda akan mewadahi anak-anak muda dengan kegiatan positif dan legal.

Hadir menyaksikan kegiatan Balap Lari Pakansari, Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Kapolres Bogor dan Dandim 0621 Kabupaten Bogor, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), dan Ketua KORMI Kabupaten Bogor.

Bupati Bogor, Rudy Susmanto menjelaskan, jadi anak muda yang setiap malam banyak yang beraktifitas di sekitar Stadion Pakansari, supaya kegiatannya menjadi positif kita bersama sama wadahi dengan kompetisi lari pada malam hari ini.

“Kegiatan ini kita akan terus dilaksanakan secara bersama sama, supaya anak-anak muda Kabupaten Bogor memiliki wadah yang positif,” ujar Rudy.

Rudy mengaku masih melihat di beberapa tempat anak-anak muda melakukan balap liar, maka Pemkab Bogor bersama Forkopimda akan mewadahi balapan liar supaya menjadi sesuatu hal yang positif yaitu kita akan wadahi menjadi beberapa pertandingan pertandingan yang legal tidak di jalan lagi.

“Tetapi konsekuensinya adalah kalau masih kita menemukan ada yang balapan liar maka Polres Bogor akan menindak tegas,” tandas Rudy.

Rudy menuturkan, setelah kita wadahi, ke depan kita berharap bakat anak anak muda yang mempunyai potensi dapat tersalurkan dan menjadi prestasi yang positif untuk Kabupaten Bogor. Rencananya setelah ramadhan kita akan menggelar beberapa kompetisi.

“Contoh yang suka balap motor di jalan kita akan siapkan tempatnya menggunakan perlengkapan standar keselamatan, kemudian yang suka balap lari kita fasilitasi juga. Pemkab Bogor lakukan ini karena anak-anak muda adalah masa depan bangsa Indonesia,” tutur Rudy.

Rudy juga menambahkan, balap lari ini salah satunya adalah kita memerangi perjudian dan tawuran di Kabupaten Bogor. Segala sesuatunya kita siapkan, mulai dari tempat dan yang lainnya kita siapkan, dan pertandingannya pun menjadi fair. ***

Bisakah Hobi Menjadi Karir? Ini dia Perjalanan Muhammad Fajar Maulana Ihsan di Industri Perikanan

0

Bogordaily.net – Muhammad Fajar Maulana Ihsan, atau yang akrab disapa Fajar, adalah seorang asisten dosen di Program Studi Teknologi dan Manajemen Pembenihan Ikan, Sekolah Vokasi IPB University. Lahir dan besar di Citeureup, Kabupaten Bogor, Fajar kini berusia 22 tahun dan merupakan mahasiswa angkatan 2021 di Sekolah Vokasi IPB University. Sebelum memasuki perguruan tinggi, ia menempuh pendidikan di SMA Negeri 4 Cibinong.

Ketertarikan Fajar terhadap dunia perikanan bermula sejak SMP, ketika ia mulai memelihara ikan di rumah sebagai hobi. Awalnya, ia hanya sekadar menikmati aktivitas tersebut, tetapi seiring berjalannya waktu, kecintaannya terhadap ikan semakin berkembang. Hal ini kemudian menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan pilihan studinya di perguruan tinggi. Melalui jalur USMI di Sekolah Vokasi IPB University, Fajar sempat mempertimbangkan beberapa program studi, seperti Teknik dan Manajemen Lingkungan (LNK) serta Manajemen Agribisnis (MAB), sebelum akhirnya mantap memilih Teknologi dan Manajemen Pembenihan Ikan (IKN).

Seperti kebanyakan mahasiswa lainnya, perjalanan akademik Fajar tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapinya adalah perkuliahan daring akibat pandemi COVID-19 yang berlangsung hampir dua tahun. Dalam periode tersebut, ia mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan teman dan dosen serta beradaptasi dengan sistem pembelajaran online yang berbeda dari metode konvensional. Setelah perkuliahan kembali tatap muka, tantangan lain muncul, terutama dalam mengelola tugas-tugas yang menumpuk serta jadwal praktikum yang cukup menuntut. Sebagai mahasiswa yang terlibat dalam bidang pembenihan ikan, ia harus menjaga ikan hingga malam hari, sebuah tanggung jawab yang tidak mudah. Namun, prinsip hidupnya yang berpegang teguh pada tanggung jawab terhadap orang tua serta kecintaannya pada dunia perikanan membuatnya terus berjuang.

Keseriusan Fajar dalam bidang perikanan semakin terlihat ketika ia mulai menjalani perannya sebagai asisten dosen. Perjalanan ini bermula saat ia melakukan penelitian tentang teknik pemeliharaan larva (TPL). Karena sering menangani larva dalam proses pembenihan ikan, ia semakin tertarik untuk mendalami bidang ini lebih jauh. Sebagai asisten dosen, Fajar memiliki tanggung jawab dalam membantu persiapan kuis, mendampingi mahasiswa saat praktikum, serta menjadi penghubung antara mahasiswa dan dosen dalam memahami materi akademik.

Bagi Fajar, menjadi asisten dosen bukan hanya sekadar pengalaman akademik, tetapi juga merupakan langkah strategis untuk lebih dekat dengan dosen pembimbing tugas akhirnya. Dengan menjalankan peran ini, ia bisa lebih memahami cara kerja dan metode pengajaran dosennya, yang akan sangat berguna dalam menyelesaikan studi. Selain itu, pengalaman ini juga membantunya mengasah kemampuan komunikasi dan kepemimpinan, yang akan menjadi modal penting dalam karier masa depannya.

Berbicara mengenai masa depan, Fajar memiliki cita-cita besar untuk menjadi pengusaha di bidang perikanan, khususnya dalam sektor obat-obatan dan pakan ikan. Saat ini, ia masih dalam tahap eksplorasi mengenai aspek spesifik yang ingin ia tekuni, tetapi satu hal yang pasti: ia ingin terus berkontribusi dalam dunia perikanan. Ia menyadari bahwa industri ini memiliki potensi besar, baik dari segi ekonomi maupun keberlanjutan lingkungan, sehingga ia ingin menjadi bagian dari inovasi dalam bidang tersebut.

Di luar dunia akademik, Muhammad Fajar Maulana Ihsan,  tetap mempertahankan hobinya dalam memelihara ikan. Sebelum menjalani Praktik Kerja Lapang (PKL), ia juga gemar memancing, sebuah aktivitas yang semakin memperkaya wawasannya dalam dunia perikanan. Baginya, keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional sangat penting. Beruntungnya, peran sebagai asisten dosen hanya mengharuskannya mengajar seminggu sekali, sehingga ia masih dapat mengelola waktunya dengan baik untuk berbagai aktivitas lainnya.

Bagi mahasiswa yang tertarik untuk menekuni bidang teknologi dan manajemen pembenihan ikan, Fajar memiliki pesan penting: “Coba dulu aja. Jangan takut. Kalau niatnya cuma setengah-setengah, juga nggak enak. Jadi langsung aja. Gagasin aja. Coba dulu, nanti juga ketagihan. Yang penting coba dulu.”

Dengan semangat dan dedikasi yang tinggi, Fajar terus berupaya mengembangkan potensinya di dunia perikanan. Ia berharap dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi industri ini di masa depan serta menginspirasi mahasiswa lain untuk menekuni bidang perikanan dengan penuh semangat dan keyakinan.***

Cinta Nurul Arsy Pradita | Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Pergi Tanpa Ekspektasi, Pulang dengan Kenangan Manis dari Tegal

0

Bogordaily.net – Ketika mendengar kata Tegal, mungkin yang terbayang bukan destinasi wisata populer seperti Bali atau Yogyakarta. Sejujurnya, saya pun awalnya berpikir demikian. Tidak ada harapan yang tinggi untuk perjalanan ini. Namun, ternyata liburan kali ini yang terlihat “biasa saja” justru menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi saya. Sebuah kenangan manis dari Tegal.

Perjalanan ini awalnya direncanakan sebagai family gathering bersama keluarga. Namun, satu hari sebelum keberangkatan, ayah, ibu, beserta adik mendadak batal untuk ikut pada perjalanan kali ini.

Tentunya, muncul rasa gundah di hati saya hingga sempat terpikirkan oleh saya untuk membatalkan niat pergi. Tapi di sisi lain, saya juga sangat butuh liburan untuk melepas penat dari kesibukan kuliah.

Akhirnya, dengan berat hati, tanpa harapan berlebih, saya tetap berangkat, sendirian, tanpa keluarga terdekat, hanya bersama kerabat saja.

Ini menjadi momen pertama saya bepergian tanpa orang tua ke tempat yang cukup jauh. Rasanya agak aneh dan sedikit menegangkan. Tapi, untungnya, pada saat itu, kerabat saya, yaitu sepupu-sepupu yang sebaya dengan saya juga ikut, sehingga kegelisahan saya mereda.

Mungkin tanpa mereka, perjalanan ini akan terasa jauh lebih sepi.
Perjalanan ini hanya berlangsung dua hari satu malam di akhir pekan, Sabtu dan Minggu.

Memang hanya sebentar, tapi cukup bagi saya yang pada waktu itu butuh sekali rehat dari penatnya hiruk pikuk dunia perkuliahan.

Perjalanan dimulai pada sabtu pagi-pagi sekali, pukul 6, dengan bus yang penuh dengan kerabat.

Pada saat itu juga, saya menyiapkan jiwa bersosialisasi dengan semua orang yang ada di dalam bus, karena tentunya tidak semua kerabat yang ada pada saat itu saya mengenalnya.

Namun, di Bus ini juga menjadi tempat berkumpulnya berbagai karakter: dari yang hobi ngobrol, yang suka tidur sepanjang perjalanan, hingga yang semangat menyanyikan lagu dangdut di sesi karaoke.

Dibanding liburan bersama keluarga inti atau teman-teman sebaya yang biasa saya lakukan, tentu pengalaman ini terasa sedikit berbeda. Di bus, saya menjadi minoritas.

Kenapa? Karena pada sesi liburan ini lebih banyak orang tua dibandingkan orang-orang yang sebaya dengan saya. Tapi justru di sini letak keseruannya.

Saya jadi lebih banyak tau dan mengenal karakter serta banyak mengamati interaksi orang-orang di sekitar.

Sepanjang perjalanan, saya tidak hanya diam dan tidur. Saya banyak berbincang dengan sepupu-sepupu saya, bercanda, hingga main kartu UNO di tengah sesak dan sempitnya bus .

Maklum, karena saya dan sepupu saya duduk di seat yang sama, jadi kami banyak melakukan kegiatan-kegiatan itu.

Selain itu juga, kalau sudah mulai bosan bermain, saya hanya mendengarkan cerita-cerita dari keluarga dan kerabat yang jarang saya temui, dan bahkan tanpa sadar ikut menyimak sesi karaoke yang sepertinya tidak ada habisnya.

Ada momen di mana lagu nostalgia mengalun dan seluruh isi bus tiba-tiba ikut menyanyi bersama.

Suasana ini membuat saya sadar bahwa perjalanan bukan tentang tujuan, Namun juga tentang kebersamaan ketika di jalan.

Setelah hampir sembilan jam perjalanan, akhirnya kami tiba di tujuan utama kami, yaitu pemandian air panas Guci di Tegal.

Hujan Deras & Rencana yang Berantakan
Sayangnya, sesampainya di sana, kami disambut oleh hujan deras. Semua rencana langsung berubah.

Alih-alih langsung berendam di air panas, kami justru terjebak di dalam villa. Pada awalnya, saya dan sepupu-sepupu saya terpisah villa.

Tapi karena saya bukan tipe yang betah diam dalam situasi membosankan, saya akhirnya memutuskan untuk pergi ke villa sepupu-sepupu saya yang jaraknya dekat.

Dan itu merupakan keputusan yang tepat! Di villa ini, kami mencoba segala cara untuk mengusir kebosanan, mulai dari TikTok-an, ngemil, ngobrol, bahkan di sela perjalanan menyenangkan ini, saya masih sempat mengerjakan tugas kuliah saya bersama dengan sepupu-sepupu saya!

Tapi tetap saja, bosan pada akhirnya datang lagi. Kami memutuskan untuk keluar, mencari swalayan terdekat.

Meskipun masih dalam keadaan gerimis. Perjalanan ke swalayan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi justru menjadi salah satu momen paling menyenangkan.

Kami berjalan dengan payung seadanya, menertawakan hal-hal random di sepanjang jalan, dan tentunya belanja camilan dalam jumlah yang tidak masuk akal.

Rasanya seperti kembali ke masa kecil di mana hal-hal kecil terasa begitu menyenangkan. Sesampainya di villa, kami langsung dengan cepat memasak makanan yang telah kami beli di swalayan tadi.

Sambil bercanda, mengobrol, tawa riang mengudara ditemani semangkuk mie panas di kala hujan saat itu, merupakan momen kecil yang jarang terjadi di hidup saya.

Tidak lupa juga, saya menyalakan kamera, untuk merekam semua momen menyenangkan ini.

Malam pun tiba. Semua orang mulai istirahat, tapi sayangnya, lagi dan lagi, saya masih harus menahan kantuk untuk mengerjakan tugas kuliah yang belum rampung.

Yah, beginilah hidup mahasiswa yang bahkan di tengah liburan, tugas tetap mengejar. Saya menyelesaikan tugas dengan ditemani suara orang-orang yang mulai terlelap, serta beberapa sepupu yang masih setia menemani sebelum akhirnya ikut tertidur lebih dulu.

Karena tujuan utama perjalanan ini adalah pemandian air panas, tentu saya tidak mau melewatkan kesempatan untuk menikmatinya. Pagi esok harinya, saya langsung berendam di air panas.

Momen ini benar-benar menyegarkan! Air panasnya terasa begitu nyaman, seakan menghapus kelelahan dari perjalanan panjang dan tugas yang belum lama saya selesaikan. Pagi itu menjadi kenangan manis dari Tegal.

Udara pagi yang masih dingin berpadu dengan sensasi hangat dari air membuat pengalaman ini terasa semakin nikmat.

Saya benar-benar menikmati setiap detiknya. Namun, karena keterbatasannya waktu, kami segera bersiap untuk pulang. Sebelum benar-benar meninggalkan Tegal, kami mampir ke beberapa toko oleh-oleh.

Saya membeli beberapa camilan khas dan juga telur asin untuk keluarga di rumah sebagai tanda bahwa saya tetap ingat mereka meskipun perjalanan kali ini tanpa mereka.

Pelajaran dari Perjalanan Ini
Meskipun awalnya saya ragu untuk pergi, ternyata perjalanan ini memberi banyak pengalaman baru.

Saya belajar bagaimana rasanya bepergian tanpa keluarga inti, memahami karakter sepupu-sepupu saya lebih dalam, dan bahkan mengamati dinamika para ibu-ibu di dalam bus yang ternyata cukup menghibur!

Perjalanan ini juga membuat saya lebih menghargai kebersamaan kerabat saya. Mungkin dalam keseharian, saya jarang menghabiskan waktu dengan mereka.

Tapi di perjalanan ini, saya melihat sisi lain dari mereka, sisi yang hangat, penuh canda tawa, dan selalu bisa menemukan kesenangan dalam hal-hal sederhana. Liburan ini menjadi kenangan manis dari Tegal***

Nisrina Nur Hakim
Mahasiswa Komunikasi Digital & Media Sekolah Vokasi IPB University

Pecinta Indomie Geram, Tasyi Athasyia sebut Indomie Goreng Aceh berbau Kalajengking

0

Oleh: Annisa Nur Fadillah, Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University

Baru-baru ini kembali viral food vlogger terkenal, Tasyi Athasyia menjadi pusat perhatian masyarakat sebab ulasan komentarnya mencoba varian Indomie Goreng Aceh di salah satu video yang telah di unggah di channel youtubenya. Tasyi mengatakan bahwa bumbu mie tersebut memiliki aroma yang mirip dengan ”sambal kalajengking” yang berada di penjual mie ayam sekitar dan berkomentar bahwa bumbu tersebut terdapat bau tomat yang busuk. Pernyataan Indomie Goreng Aceh dari Tasyi menjadi perdebatan luas di media sosial setelah kejadian ulasan Tasyi mengenai bika ambon Ci Mehong. Hal ini membuat netizen mengkritik opininya saat mereview kuliner tersebut.

Video review Indomie pada channel Tasyi yang di rilis pada 13 Maret 2024, saat mereview varian mie tersebut, tampaknya Tasyi kurang menyukai Indomie Goreng Aceh dan mengatakan bahwa aroma dari makanannya mempunyai sesuatu yang tidak biasa. “Lo tau gak sih sambal yang ada di mi ayam yang kayak bau kalajengking? Ada sambal yang namanya kalajengkin. Jadi waktu itu pernah ada gosip di saus itu ada kecoa gitu yang suka ada di mi ayam. Rasanya kayak gitu menurut gue. Maaf banget ada aroma tomat busuk. Bener-bener kayak gitu, engga banget sih gue.” Kata-kata ini disampaikan di channel yotubenya pada saat mereview Indomie Goreng Aceh. Video review ini juga telah ditonton jutaan kali dan menuai banyak reaksi dari netizen hingga menganggap bahwa komentar dari food vlogger tersebut berlebihan. Hal ini terlihat sekali pada saat Tasyi mencicipi Indomie Aceh, raut wajahnya ketahuan bahwa ada yang tidak beres.

Reaksi dari netizen cukup sangat beragam. Beberapa netizen mendukung pendapat Tasyi dan memang kurang sesuai dengan selera mereka yang telah mencoba varian Indomie ini. Namun, beberapa warganet yang juga menyaksikan review food vlogger tersebut sontak geram dan Tasyi kembali menjadi sasaran amuk warganet. Netizen yang tidak membela Tasyi menganggap bahwa rasa Indomie Goreng Aceh tersebut memiliki cita rasa yang autentik dan mempunyai ciri khas Aceh yang kaya akan rempah. Saya yang pecinta Indomie dan suka sekali dengan Indomie Goreng Aceh rasanya tidak terima dengan komentar Tasyi karena menurut saya bumbu yang ada di Indomie tersebut sangat enak dan tidak ada aroma yang mengganggu, bahkan wangi tomat busuk saja saya tidak merasakan ada sama sekali.

Gosip yang panas ini menjadi trending di X/Twitter, dan Tiktok. Sejak terjadinya kejadian ini sampai sekarang, banyak pengguna membagikan pengalaman mereka mencicipi dan berpendapat tentang Indomie Goreng Aceh. Sampai detik ini, belum ada pernyataan dari industri PT.Indofood mengenai ulasan tersebut. Ulasan yang dikomentari oleh Tasyi menurut beberapa konsumen dapat mengubah persepsi konsumen terhadap suatu produk.

Maraknya era digital sekarang ini, ulasan yang diutarakan dari seorang influencer memiliki kekuatan yang besar dalam membentuk opini publik. Komentar negatif dapat memperburuk suatu branding produk atau citra dari perusahaan. Namun, pemilik brand dapat merespon dengan bijak dan mulai memperbaiki kejadian ini sebagai bahan evaluasi. Selain itu, pernyataan negatif dari seorang influencer bisa merugikan pelaku usaha, khususnya pada UMKM.

Sebagai seorang food vlogger, Tasyi Athasyia memiliki kebebasan dalam mengekpresikan opininya. Namun, selera kuliner tiap orang beda-beda, apalagi sampai mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal atau mengata-ngatai makanan tersebut ada unsur yang tidak beres. Kritik memang diperlukan dalam menanggapi suatu hal, tapi ada batas untuk menyampaikan sebuah opini yang jujur dan memberikan tanggapan yang dapat berpotensi merugikan bagi pihak lain.

Netizen yang telah menonton video tersebut, menyarankan kepada influencer bahwa harus lebih berhati-hati dalam menyampaikan kritik, terutama menanggapi dan membahas produk ternama yang basis konsumen pembelinya luas. Menurut saya, kritik yang baik dapat di evaluasikan serta bermanfaat dibandingkan hanya mengutarakan komentar negatif tanpa memberikan solusi untuk produk tersebut.

Pada akhirnya, preferensi rasa merupakan sesuatu yang sangat objektif. Semua orang memiliki selera yang berbeda dalam mencoba suatu produk. Sebagai reviewer, perlu lebih hati-hati dan bijak terutama food vlogger dalam menanggapi produk. Selain itu, produsen juga harus siap menerima kritik sebagai bahan evaluasi produk yang mereka punya. Menjadi konsumen, penting bagi kita tidak langsung terpengaruh pada satu persepsi saja, kita dapat mencoba sendiri dan merasakan langsung sebelum menilainya. Ini adalah langkah terbaik untuk menentukan selera kita seperti apa, tanpa langsung mengkritik secara tajam. Sampai saat ini walaupun adanya kontroversial produk tersebut, Indomie Goreng Aceh tetap menjadi menarik bagi masyarakat pecinta Indomie.***