Monday, 6 April 2026
Home Blog Page 842

Menapaki Kilometer Nol, Menyusuri Keindahan Sabang

0

Bogordaily.net – Tidak banyak tempat di dunia yang memiliki garis nolnya sendiri, titik awal yang menandai  sebuah perjalanan. Indonesia punya itu, Titik Nol Kilometer di Sabang. Sebuah tempat di mana  daratan bertemu lautan,, tetapi justru membuka perspektif baru. Dan di sinilah aku berdiri,  menatap cakrawala tanpa batas, merasakan kebebasan yang hanya bisa dirasakan di tepian  negeriku.”

Awal tahun ini menjadi awal dari perjalanan panjang yang sama sekali tak pernah terbayangkan  sebelumnya. Tidak ada dalam daftar rencana liburan, bahkan tidak pernah terlintas dalam  pikiranku dan keluargaku.

Semua berawal dari keputusan sederhana: mengantar kakakku ke  tempat dinasnya di Aceh. Karena sebentar lagi ia harus mulai bekerja, keluarga kami sepakat  untuk menghabiskan beberapa hari di Aceh sebagai momen liburan singkat.

Di tengah perencanaan membahas pergi ke aceh, kakakku tiba-tiba mengusulkan sesuatu yang  menarik, “Kalau sudah sampai Aceh, pada mau sekalian ke Sabang ga? Biar sekali perjalanan  langsung jauh sekalian!” Awalnya, aku dan orang tuaku hanya tertawa mendengar ide itu. Tapi,  semakin dipikirkan, semakin menarik rasanya.

Apalagi, Sabang terkenal dengan snorkeling  dan dining di pinggir laut yang katanya berbeda dari tempat lain. Meskipun Aceh juga memiliki  pantai yang indah, tapi pengalaman snorkeling di Sabang memiliki daya tariknya sendiri.

Aku  pun bersemangat membujuk orang tuaku agar kami bisa benar-benar pergi ke sana. Tanpa  diduga, mereka setuju! Seketika aku merasa antusias membayangkan perjalanan yang akan  datang. Perjalanan kami dimulai dari Aceh.

Setelah seharian beristirahat di rumah kakakku, kami harus berangkat subuh-subuh, tepatnya  pukul 02.00 dini hari, menuju Pelabuhan Ulee Lheue untuk menyeberang ke Sabang  menggunakan kapal feri. Ratusan kilometer telah kami tempuh, dan perjalanan masih jauh dari  kata selesai.

Rasa kantuk masih menyerang, tapi semangatku mengalahkan segalanya.  Bayangan laut biru jernih, pasir putih, dan udara segar yang selama ini hanya kulihat di foto  membuatku terus terjaga.Setelah menempuh perjalanan laut yang cukup lama, akhirnya, pukul  16.00 kami tiba di Pelabuhan Balohan, Sabang.

Begitu turun dari kapal, hembusan angin laut  langsung menyapa wajahku, membawa aroma khas air asin yang menenangkan. Langit begitu  cerah, dan deburan ombak terdengar begitu merdu di telingaku. Aku menutup mata sejenak,  meresapi suasana. “Ini dia, Sabang,” pikirku.

Kami tidak ingin membuang waktu. Setelah check-in di hotel dan membersihkan diri,  keluargaku langsung bergegas mengejar momen matahari terbenam atau sunset. Sayangnya,  kami malah menuju pantai di sisi timur, sehingga gagal menyaksikan sunset.

Namun, pemandangan pantai yang luas, ombak besar yang menggulung, dan angin yang begitu  kencang membuat perjalanan ini tetap terasa luar biasa. Aku bahkan sempat tertawa ketika  kami semua hampir masuk angin karena terpaan angin laut yang begitu kuat.

Malam harinya, rencana kami adalah menikmati makan malam di restoran dengan  pemandangan laut. Namun, ternyata tidak mudah menemukan tempat yang sesuai harapan.

Akhirnya, kami memilih makan di sebuah warung dekat pelabuhan yang tetap menyajikan  suasana laut yang menenangkan. Sambil menikmati hidangan seafood segar, aku menatap  gelapnya lautan yang luas.

Momen ini begitu damai, seakan-akan dunia berhenti sejenak.  Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Saat perjalanan kembali ke penginapan, mobil kami  tiba-tiba mengalami masalah. Kami terjebak di tengah perjalanan hingga larut malam.

Padahal,  keesokan paginya kami berencana untuk mengunjungi Titik Nol Kilometer dan snorkeling di  Pulau Rubiah. Tidur pun harus dikorbankan, tapi bagiku, ini tetap menjadi bagian dari  petualangan yang seru.

Keesokan harinya, meskipun masih mengantuk, semangat kami kembali membara. Destinasi  utama hari ini adalah monumen Titik Nol Kilometer Indonesia.

Perjalanan menuju ke sana  terasa istimewa. Jalanan berkelok-kelok dengan pemandangan hutan yang asri di satu sisi dan  laut biru di sisi lainnya membuatku tak bisa berhenti mengagumi keindahan Sabang.

Sesampainya di sana, aku berdiri tepat di depan monumen besar yang menandai titik paling  barat Indonesia. Rasanya begitu menakjubkan.

“Wow, ini dia… aku benar-benar di Titik Nol  Kilometer Indonesia,” pikirku. Seakan tak percaya, aku meraba prasasti yang tertulis di sana.

Tempat ini bukan sekadar monumen biasa. Di sini, aku merasa seperti berada di titik awal dari  sesuatu yang besar, seolah-olah perjalanan ini bukan hanya tentang fisik, tetapi juga tentang  perasaan dan pemikiran baru.

Angin berhembus lembut, dan di kejauhan, lautan terbentang tanpa batas. Aku berdiri diam,  merenung. Aku telah menempuh perjalanan jauh, melintasi darat dan laut, hanya untuk berdiri  di sini.

Dan nyatanya, aku merasa ini lebih dari sekadar perjalanan wisata. Ini adalah  pengalaman yang memberikan perspektif baru—tentang jarak, tentang kebersamaan, dan  tentang makna sebuah awal.

Setelah puas menikmati Titik Nol, kami melanjutkan perjalanan  ke Pantai Iboih. Dari sini, kami menaiki perahu menuju Pulau Rubiah untuk snorkeling.

Aku  sudah tidak sabar! Saat perahu mendekat, air laut terlihat begitu jernih hingga aku bisa melihat  terumbu karang di bawahnya.

Begitu memasuki air, aku langsung terpesona. Terumbu karang berwarna-warni, ikan-ikan  kecil berenang bebas di sekitarku.

Sensasinya luar biasa! Aku merasa seperti berada di dunia  lain. Kami menghabiskan waktu berjam-jam di sini, menikmati keindahan bawah laut yang  menakjubkan.

Namun, ada satu insiden kecil yang sempat membuat panik—kamera GoPro  yang kami bawa tiba-tiba jatuh ke dasar laut! Aku hampir menyerah, tapi beruntung ada  penyelam lokal yang membantu mengambilnya.

Yang paling menyenangkan dari snorkeling di Pulau Rubiah bukan hanya pemandangannya,  tetapi juga interaksi dengan wisatawan lain.

Kami berbincang, berbagi cerita, dan tertawa  bersama. Perjalanan ini bukan hanya mempererat hubungan keluargaku, tetapi juga  memberikanku kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang baru yang sama-sama  menyukai petualangan.

Setelah puas menjelajahi Sabang, kami kembali ke Aceh dan menghabiskan beberapa hari lagi  di sana. Kami masih sempat berjalan-jalan, berburu oleh-oleh, dan membeli ikan segar di pusat  penjualan sebelum akhirnya kembali ke rumah.

Perjalanan ini memang di luar rencana, tapi justru menjadi salah satu pengalaman terbaik dalam  hidupku. Dari perjalanan panjang, ombak yang menggulung, mobil yang mogok, hingga  snorkeling di surga bawah laut, semuanya menyisakan kenangan yang tak terlupakan.

Sabang  bukan hanya tentang Titik Nol, bukan hanya tentang snorkeling atau pantainya yang indah.  Bagi aku, Sabang adalah tentang menemukan kejutan-kejutan baru dalam perjalanan,  menikmati setiap momen yang tak terduga, dan menyadari bahwa batas bukanlah akhir— melainkan awal dari banyak petualangan baru.***

 

Joanna Larisa Munthe, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University

 

 

.

 Isu Pagar Laut Tanggerang: Benarkah Terlibat Dugaan Korupsi dan Kolusi?

0

Oleh: Zidny Khanza, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Korupsi dan kolusi di Indonesia bukanlah fenomena dan polemik baru yang harus dihadapi masyarakat dan pemerintah. Sudah bertahun-tahun negara ini terjebak dalam praktik penyalahgunaan kekuasaan, baik di sektor pemerintahan maupun di dunia bisnis.

Tindakan ini seringkali melibatkan pejabat tinggi yang menggunakan kedudukannya dalam meraih keuntungan pribadi, sementara rakyat menjadi korban ketidakadilan dan pelayanan publik yang buruk.

Kasus-kasus besar yang melibatkan pejabat tinggi dan pengusaha selalu mengundang interaksi publik, tetapi langkah nyata untuk memberantasnya masih jauh dari harapan.

Pernyataan terkait turunnya pemerintah untuk menyikapi kasus korupsi dan kolusi di negara ini tidaklah lagi menjadi penenang yang nyata.

Akhir-akhir ini, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan wujud pagar laut yang terlihat membentang sepanjang 30,16 kilometer dari Desa Muncung hingga Pakuhaji, Tangerang, Banten, dengan bentuk bambu yang ditancapkan di dasar laut.

Meskipun isu ini marak dibicarakan sejak akhir Bulan Januari lalu, naasnya, hingga saat ini masih belum ditemukan siapa sebenarnya dalang di balik isu tersebut.

Adanya ketidakjelasan dalam hal ini tentu membuat publik bertanya-tanya akan kelalaian pertahanan negara terhadap kondisi terkini.

Bahkan, permasalahan ini mencapai puncaknya setelah area pagar laut di Tangerang diketahui memiliki sertifikat hak guna bangunan (HGB) dan sertifikat hak milik (SHM) sehingga mengacu pada dugaan korupsi dan kolusi.

Namun, sebenarnya, awal mula munculnya pagar laut Tangerang ini sudah diketahui oleh pihak Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Banten.

Lalu, bagaimana isu pagar laut Tangerang terus memanjang hingga saat ini? Sedangkan, eksistensinya sudah diketahui pemerintah?

KELALAIAN DKP BANTEN

Pada Selasa (7/1/2025), Eli Susiyanti sebagai Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Banten mengakui bahwa pihaknya menerima informasi pertama kali terkait adanya aktivitas pemagaran laut tepat pada tanggal 14 Agustus 2024.

Mendengar informasi tersebut, pihak DKP Provinsi Banten memberikan tindakan pertama setelah lima hari isu tersebut dilaporkan.

Pada Bulan Agustus-September 2024, mereka menindaklanjuti secara langsung dan mendapatkan catatan bahwa pemagaran laut baru mencapai panjang 7 kilometer pada pengecekkan pertama.

Selanjutnya, mereka memperoleh informasi yang menunjukkan bahwa tidak ada rekomendasi atau izin dari camat atau desa terkait pemagaran laut, yang berlangsung hingga pengecekkan tersebut berakhir di 18 September 2024, dengan DKP Banten yang memberikan instruksi untuk pemberhentian aktivitas pemagaran laut.

Kembali ke orientasi isu terkait, berita Pagar Laut Tangerang ini dinaikkan ke media massa pada tanggal 9 Januari 2025 dengan pernyataan bahwa Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menyegel pagar laut tersebut dengan kondisi panjang pagar sebesar 30,16 kilometer.

Besaran rentang waktu antara Bulan September hingga Bulan Januari, apakah DKP Banten memberhentikan proses pemantauannya kelak? Sedangkan, kondisi pagar laut dengan pernyataan-pernyataan warga setempat sebagai pendukung sebenarnya sudah memperlihatkan bagaimana aktivitas tersebut mengancam pertahanan negara.

Indonesia sudah banyak menghadapi isu-isu serupa yang berkaitan dengan penyalahgunaan kekuasaan dan hal-hal tersebut tidak bisa diberhentikan hanya dengan sebuah instruksi.

Seharusnya, posisi DKP Banten sebagai pemantau pertama terus menjadikan permasalahan ini sebagai sebuah permasalahan yang harus ditindak dengan serius, misalnya dengan cara melaporkan kepada lembaga-lembaga terkait dan pemerintahan pusat secara cepat guna memberikan tindakan yang lebih optimal.

263 SHGB DAN 17 BIDANG SHM

Salah satu alasan yang memperkuat dugaan korupsi dan kolusi pada kasus ini adalah pemagaran laut ini sudah memiliki sertifikat hak guna bangunan (HGB) dan sertifikat hak milik (SHM) dalam jumlah yang banyak.

Diketahui, sertifikat HGB area pagar laut Tangerang dimiliki oleh PT IAM sebanyak 234 bidang, PT CIS sebanyak 20 bidang, dan perorangan sebanyak 9 bidang.

Sementara, terkait SHM yang terbit di kawasan pagar laut Tangerang yang berjumlah 17 bidang, diketahui dimiliki oleh Surhat Haq.

Mengetahui hal ini, tentunya memicu kemarahan pada publik dan mengaitkannya pada pertanyaan-pertanyaan apakah kondisi ini sudah direncanakan sebelumnya? Sebab, melihat dari informasi-informasi yang terkuak terdengar semakin mendekati adanya kasus korupsi dan kolusi yang dijalani di Indonesia untuk kesekian kalinya.

Dana yang seharusnya digunakan untuk pembangunan infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan masyarakat justru disalahgunakan untuk kepentingan pribadi. Rakyat miskin semakin miskin, sementara yang kaya terus membuat jalan untuk mengabadikan kekayaannya.

PERLUNYA KEKUATAN HUKUM

Salah satu faktor penting dalam mengatasi kasus ini dengan baik adalah memperbaiki proses hukum yang dimiliki Indonesia dengan menyeluruh dan sistematis.

Hukum di negeri ini harus memiliki kekuatan penuh dalam menyelidiki dan menentukan keputusan bagi pelaku tanpa adanya ketakutan terhadap tekanan politik dan bisnis.

Selain itu, masyarakat juga harus memiliki akses untuk mengawasi kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pejabat publik dengan meningkatkan interaksi publik dalam pengawasan dan pengkritikan.***

Perjalanan Ir. Suparman Seorang Dosen di Sekolah Vokasi IPB

0

Bogordaily.netIr. Suparman lahir di Bogor pada tanggal 26 Maret 1963. Ia menempuh pendidikan sarjana di Institut Pertanian Bogor (IPB), angkatan 22, di Fakultas Pertanian. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan magister di Universitas Jendral Soedirman (Unsoed), mengambil program Magister Manajemen.

Karier akademiknya dimulai ketika ia bekerja di Perpustakaan IPB setelah menyelesaikan studi di program Diploma II (D2) Perpustakaan dan Informatika Pertanian.

Berkat prestasi akademiknya yang gemilang sebagai lulusan terbaik, ia mendapat tawaran dari Rektor IPB saat itu, Prof. Yakin Nasution, untuk melanjutkan studi ke jenjang S1 dengan syarat akan bekerja di Perpustakaan IPB setelah lulus. Tawaran ini diterimanya setelah berkonsultasi dengan orang tua.

Dalam perjalanan studinya, Suparman sempat diarahkan untuk masuk Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), meskipun ia kurang tertarik pada bidang tersebut.

Namun, seiring perkembangan, IPB membuka program baru di Fakultas Pertanian, yaitu Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian.

Karena Perpustakaan IPB belum memiliki lulusan dalam bidang komunikasi pertanian, ia akhirnya beralih ke program studi tersebut di bawah Jurusan Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian (SOSEK).

Setelah lulus, Ir. Suparman mulai mengajar sejak tahun 1990, terutama di bidang perpustakaan dan informasi.

Ia juga pernah mengembangkan sistem otomasi perpustakaan, yang menjadikan Perpustakaan IPB sebagai pelopor dalam penerapan teknologi informasi di bidang perpustakaan.

Inovasi ini berkontribusi dalam modernisasi sistem katalog dan pencarian informasi akademik di IPB, sehingga mempermudah akses bagi mahasiswa dan peneliti.

Di bidang akademik, publikasi terbarunya telah diterima di jurnal internasional bereputasi Scopus K2 pada tahun 2024, yang merupakan salah satu pencapaian akademik penting baginya.

Selain menulis, ia juga aktif dalam berbagai seminar nasional dan internasional, menyampaikan gagasannya terkait inovasi perpustakaan digital dan peran teknologi dalam penyebaran informasi ilmiah.

Selain sebagai akademisi, Ir. Suparman juga terlibat dalam berbagai proyek pengembangan sumber daya manusia, khususnya dalam bidang literasi informasi.

Ia sering diundang sebagai pembicara dalam pelatihan pustakawan, baik di lingkungan akademik maupun di lembaga pemerintahan.

Dedikasinya dalam pengembangan literasi informasi telah membantu meningkatkan kualitas tenaga perpustakaan di berbagai institusi pendidikan di Indonesia.

Saat ini, ia sedang menyelesaikan studi doktoralnya (S3) di IPB dalam program Komunikasi Pembangunan dan Pendesaan di bawah Fakultas Ekologi Manusia.

Selain tantangan akademik, salah satu kesulitan terbesar yang dihadapinya adalah membagi waktu antara

keluarga dan pekerjaan. Namun, dengan manajemen waktu yang baik dan dukungan dari keluarga, ia tetap berusaha memberikan kontribusi terbaik dalam dunia akademik.

Sebagai seorang pendidik, Suparman memiliki prinsip bahwa menjadi dosen bukan hanya sekadar mengajar, tetapi juga mendidik. Ia selalu menekankan pentingnya keseimbangan

antara kompetensi akademik dan moral. Baginya, seseorang tidak hanya harus unggul dalam bidang keilmuan, tetapi juga memiliki karakter yang baik dan bermanfaat bagi orang lain.

Dalam pesannya kepada mahasiswa dan generasi muda, Suparman berpesan agar mereka menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara.

Ir. Suparman, menekankan pentingnya memiliki keterampilan teknis (hard skills) serta kemampuan berorganisasi dan kepemimpinan (soft skills), agar tidak hanya menjadi individu yang cerdas secara akademik, tetapi juga berkontribusi bagi masyarakat secara luas.

Selain itu, ia mendorong mahasiswa untuk selalu bersikap kritis, inovatif, serta tidak takut menghadapi perubahan di era digital yang semakin pesat.

Di luar dunia akademik, Ir. Suparman, juga aktif dalam kegiatan sosial dan pengabdian kepada masyarakat.

Ia terlibat dalam berbagai program pengembangan desa berbasis literasi dan teknologi informasi, dengan tujuan meningkatkan akses masyarakat terhadap ilmu pengetahuan.

Program ini telah membantu banyak komunitas dalam memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan mereka.

Dengan berbagai kontribusi yang telah diberikan, Ir. Suparman, terus berkomitmen untuk mendidik dan menginspirasi generasi mendatang.

Ia percaya bahwa ilmu pengetahuan harus terus berkembang dan diaplikasikan untuk kepentingan yang lebih luas. Baginya, kesuksesan sejati adalah ketika seseorang mampu memberikan manfaat bagi orang lain melalui ilmu dan pengalaman yang dimilikinya.***

 

Muhammad Rafi Zaidan

Sekolah Bosowa SMA Bina Insani Rayakan Kelulusan Siswa-Siswi di SNBP 2025

0

Bogordaily.net – Sekolah Bosowa SMA Bina Insani dengan bangga mengumumkan bahwa sejumlah siswa-siswi terbaiknya telah berhasil lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2025 di berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia, 19 Maret 2025.

Pencapaian ini menjadi bukti nyata dari kerja keras, dedikasi, dan kualitas pendidikan yang diterapkan di sekolah kami.

Siswa Bosowa Bina Insani Lolos SNBP 2025

Berikut adalah daftar siswa yang berhasil lolos SNBP 2025:

  • Zahia Hilaly – Ilmu Gizi, Institut Pertanian Bogor (IPB)
  • Muhammad Arsyad Abdillah – Manajemen Sumberdaya Lahan, Institut Pertanian Bogor (IPB)
  • Fayola Dwi Nareswari – Agribisnis, Universitas Brawijaya (UB)
  • Muhammad Zaki Al Ghifari – Silvikultur, Institut Pertanian Bogor (IPB)
  • Muhammad Aqeel Ramadhan Latuconsina – Teknik Pertanian & Biosistem, Institut Pertanian Bogor (IPB)
  • Najla Prameswari Lesmana – Agribisnis, Institut Pertanian Bogor (IPB)
  • Naila Zhafira Mukti – Kedokteran Gigi, Universitas Airlangga (UNAIR)
  • Bintang Kirani Putri – Teknik & Manajemen Lingkungan, Institut Pertanian Bogor (IPB)

Sekolah Bosowa SMA Bina Insani terus berkomitmen untuk memberikan pendidikan berkualitas yang mendukung pengembangan akademik dan karakter siswa, sehingga mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Sekolah ini juga akan terus mendorong program pembinaan akademik dan non-akademik guna meningkatkan peluang siswa dalam meraih pendidikan tinggi di universitas terbaik.***

Najmia Fathia: Dari Kesenangan Berkomunikasi hingga Menjadi Akademisi

0

Bogordaily.net – Najmia Fathia adalah seorang akademisi muda yang kini tengah meniti karier di dunia pendidikan tinggi. Lahir di Jakarta dan besar di Bogor, Najmia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dalam keluarga yang sangat mendukung perkembangan minat dan bakat anak-anaknya.

Sejak kecil, ia telah menunjukkan ketertarikan besar dalam dunia komunikasi dan interaksi sosial. Orang tuanya pun sejak kecil selalu memberi kebebasan dan support untuk Najmia mencoba berbagai hal, mulai dari musik, tari, hingga beragam aktivitas lainnya.

Sampai dimana ia sendiri menyadari bahwa ada satu hal yang paling menonjol dalam dirinya adalah kegemarannya berbicara, berinteraksi dengan orang lain, dan menyukai anak-anak.

Pendidikan dan Karier

Najmia menempuh pendidikan dasarnya di sekolah Islam terpadu hingga jenjang SMA. Minatnya yang kuat di bidang komunikasi membawanya memilih Program Diploma Komunikasi Digital dan Media di IPB pada tahun 2016.

Setelah menyelesaikan pendidikan D3, ia merasa bahwa pendidikan S1 adalah suatu keharusan di era modern, sehingga ia melanjutkan studinya ke jenjang Sarjana di Universitas Sebelas Maret (UNS).

Lulus S1 di tahun 2021, Najmia menghadapi tantangan besar saat harus menentukan langkah selanjutnya di tengah pandemi.

Meskipun telah berusaha melakukan berbagai magang dan mencari peluang kerja, standar tinggi yang dimiliki orang tuanya mengenai dunia kerja membuatnya sulit menemukan pekerjaan yang sesuai.

Namun, melihat kakaknya yang melanjutkan pendidikan hingga S2, Najmia pun terdorong untuk tidak berhenti belajar. Ia memutuskan untuk mengambil studi Magister di Universitas Padjadjaran (Unpad) dalam bidang Komunikasi.

Di tahun terakhir studinya, saat hanya tinggal menyelesaikan tesis, Najmia mencoba melamar sebagai asisten dosen di IPB.

Dari pengalaman tersebut, ia menyadari bahwa dunia akademik sangat menarik baginya. Ia menikmati interaksi dengan mahasiswa, proses berbagi ilmu, dan bahkan belajar dari mahasiswa itu sendiri.

Pengalaman ini semakin memantapkannya untuk mengejar karier sebagai dosen di masa depan.

Tantangan dan Titik Balik

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Najmia Fathia,  adalah fase setelah kelulusan S1 pada tahun 2021. Di tengah pandemi, ia merasa tertinggal dari teman-temannya yang sudah memiliki pekerjaan, sementara ia masih mencari arah.

Rasa minder dan tekanan dari lingkungan sempat membuatnya merasa tidak cukup baik. Namun, dari situ pula ia menyadari pentingnya untuk tidak membandingkan diri dengan orang lain secara berlebihan.

Ia belajar untuk fokus pada proses dan percaya bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing.

 Nilai Hidup dan Motivasi

Prinsip hidup yang selalu dipegang Najmia adalah untuk selalu berbuat baik kepada semua orang.

Ia percaya bahwa kebaikan yang diberikan akan kembali kepada diri sendiri. Baginya, membalas keburukan dengan keburukan bukanlah pilihan; ia selalu berusaha menjadi pribadi yang baik dan kuat.

Dalam menghadapi kesulitan, Najmia selalu mendapatkan dukungan penuh dari orang tua dan kakaknya.

Mereka adalah sosok yang paling berpengaruh dalam hidupnya, selalu menjadi tempatnya bersandar dan mencari motivasi ketika menghadapi rintangan.

Dampak dan Harapan ke Depan

Sebagai seorang asisten dosen, Najmia merasa bahwa ia dapat memberikan pengaruh positif bagi mahasiswa.

Ia sering membagikan pengalaman dan wawasannya mengenai pendidikan, mendorong mahasiswa untuk terus melanjutkan studi dan tidak berhenti di satu titik.

Melalui interaksi dengan mahasiswa, ia ingin menanamkan pemahaman bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang tidak boleh disepelekan.

Najmia juga menyampaikan pesan agar untuk tidak mudah menyerah dan selalu mencoba segala peluang yang ada. Coba selagi bisa, karena pengalaman dan ilmu yang di dapat setelah mencoba itu yang mahal.

Ia percaya bahwa hidup bukanlah kompetisi, melainkan sebuah proses. Kita boleh melihat pencapaian orang lain, tetapi hanya sebagai motivasi, bukan sebagai alasan untuk merasa rendah diri.

Yang terpenting adalah percaya pada proses dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Untuk harapan kedepannya Najmia Fathia,  berharap dapat menyelesaikan studi S2 dengan lancar dan meraih gelar Magisternya.

Dengan pengalaman yang ia peroleh, ia bercita-cita untuk menjadi dosen tetap, berkontribusi dalam dunia akademik, serta menginspirasi mahasiswa untuk terus belajar dan berkembang.

 

Joanna Larisa Munthe, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Biografi Fany Apriliani: Seorang Dosen Manajemen Industri Sekolah Vokasi IPB yang Meraih Kesuksesan dalam Dunia Pendidikan

0

Bogordaily.net – Fany Apriliani, seorang dosen dari Program Studi Manajemen Industri Sekolah Vokasi IPB University merupakan salah satu sosok yang menginspirasi dalam dunia pendidikan.

Dengan dedikasi tinggi serta prinsip yang kokoh membuktikan posisi Fany sebagai akademisi dan praktisi yang berkomitmen terhadap pendidikan.

Melalui artikel ini, perjalanan hidup Fany Apriliani, perlahan-lahan akan dikenal, mulai dari latar belakang pendidikannya hingga kesuksesannya dalam berkarier, serta pandangan hidup dan prinsip-prinsip yang dipegangnya.

Latar Belakang Pendidikan dan Awal Karier

Fany Apriliani lahir pada tanggal 26 April 1985 di Jakarta. Berdomisili di Bekasi, Fany memulai perjalanannya dengan memilih pendidikan di bidang yang selaras dengan minat dan bakatnya di SMA Negeri 2 Bekasi.

Selama masa SMA, ia mengambil jurusan IPA untuk mengeksplorasi berbagai ilmu pengetahuan yang selaras. Sedari SMA, Fany memiliki satu tujuan yang sama seperti mahasiswa pada umumnya, yaitu memasuki universitas negeri.

Fany menyadari bahwa untuk meraih tujuannya, ia harus memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Hal tersebut membuat Fany memiliki antusias tinggi baik dalam bidang akademik, maupun non akademik.

Tidak hanya berprestasi di bidang akademik, Fany juga aktif terlibat dalam organisasi, seperti OSIS dan berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang membentuknya menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkemampuan dalam berorganisasi.

Setelah melalui berbagai usaha dalam mencapai tujuannya, Fany berhasil diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur undangan seleksi masuk yang dikenal dengan istilah USMI pada saat itu.

Di IPB, ia memilih untuk mendalami Ilmu Manajemen dengan memasuki Departemen Manajemen pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Sebagai mahasiswa, Fany tidak hanya fokus pada materi kuliah, tetapi juga aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang mendukung pengembangan diri, baik di bidang akademik maupun sosial.

Hal ini menjadikan perjalanan Fany semasa kuliah menjadi titik awal dari perjalanan pendidikannya yang gemilang.

Perjalanan Karier di Dunia Akademik dan Profesional

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di IPB, Fany memulai kariernya dalam bidang pendidikan. Pada tahun 2008-2009, Fany memiliki kesempatan rekrutmen di Direktorat Program Diploma IPB yang sekarang berganti nama menjadi Sekolah Vokasi IPB.

Dengan menggunakan ijazah sarjana, Fany Apriliani diterima untuk mengajar Program Diploma 3 di Program Studi Manajemen Industri.

Kesempatan ini disambut dengan antusias, menyadari bahwa itu merupakan langkah untuk memberikan kontribusi dalam dunia pendidikan sekaligus mengembangkan diri sebagai akademisi.

Walaupun sudah menjadi dosen di Sekolah Vokasi IPB, ambisius Fany dalam menempuh pendidikan tidak pudar. Fany melanjutkan karier pendidikannya dengan memasuki jenjang magister di Teknik Industri Universitas Indonesia.

Meskipun terdengar bertolak belakang antara program studi sarjana dan magister yang ditempuh, hal ini selaras dengan konsentrasi Program Studi Manajemen Industri.

Pengalaman ini memberikan Fany pemahaman mendalam tentang industri dan bisnis, serta memperkaya keterampilannya dalam bidang produksi operasi.

Melanjutkan karier sebagai dosen, Fany tidak hanya berkegiatan dalam bidang akademik, tetapi juga non akademik.

Setiap tahun, Fany memiliki kegiatan rutin melaksanakan penelitian dan pengabdian masyarakat berkolaborasi dengan dosen antar fakultas Sekolah Vokasi IPB.

Fany berpartisipasi dalam kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat pada ruang lingkup sosial, seperti kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang mencakup kunjungan ke panti asuhan dan pesantren.

Selain itu, Fany juga aktif mengikuti kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat yang selaras dengan keahliannya, seperti membuat instalasi air di pesantren putra yang berlokasi di dekat Kampus IPB Dramaga Kabupaten Bogor, yang kekurangan air bersih.

Membuat alat pirolisis berbahan baku sampah plastik, menyusun standar operational procedure (SOP) unyuk kandang ayam modern (closed house), dan kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat yang melibatkan UKM untuk industri pengolahan tahu bakso.  Dengan membuat standar operasional pekerjaan yang aman.

Tantangan dan Kegagalan yang Dihadapi

Perjalanan hidup Fany tidak selalu berjalan mulus. Seperti banyak individu sukses lainnya, ia juga menghadapi berbagai tantangan dan kegagalan.

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah proses panjang dalam memperoleh persetujuan dan dana hibah untuk penelitian dan pengabdian masyarakat yang digarapnya. Terdapat pengajuan proposal yang diperbaiki dan sejumlah penelitian yang memerlukan penyesuaian dari rencana awal.

Namun, Fany tidak mudah menyerah. Ia terus berusaha memperbaiki proposalnya dan belajar dari setiap kegagalan, hingga akhirnya berhasil mendapatkan dukungan yang dibutuhkan untuk mewujudkan penelitian dan pengabdian masyarakat tersebut.

Selain itu, Fany juga harus menghadapi tantangan dalam mengelola waktu antara kewajibannya sebagai dosen dan tanggung jawab lain.

Meskipun perjalanan dari Bekasi ke Bogor memakan waktu yang cukup lama setiap hari, Fany tetap berkomitmen untuk memberikan yang terbaik dalam setiap aspek kehidupannya, baik dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadi.

Ia bahkan memanfaatkan waktu di kereta untuk merancang dan mengerjakan pekerjaannya.

Filosofi dan Pandangan Hidup

Fany adalah individu yang memiliki prinsip hidup yang kuat. Salah satu prinsip yang selalu dipegangnya adalah bahwa setiap hal yang sudah dimulai harus diselesaikan dengan penuh tanggung jawab.

Ia meyakini bahwa setiap tugas dan tanggung jawab yang ditekuni harus dijalani dengan sepenuh hati dan dedikasi tanpa terburu-buru atau setengah hati.

Menurut Fany, seseorang dapat mencapai hasil yang optimal dengan komitmen penuh terhadap pekerjaan dan tanggung jawab yang ada.

Selain itu, Fany sangat menghargai keseimbangan antara kehidupan karier dan agama. Baginya, keberhasilan di dunia ini harus disertai dengan kontribusi positif untuk masyarakat serta memperoleh pahala di kehidupan setelahnya.

Dalam kesehariannya, Fany berupaya keras untuk menyeimbangkan pekerjaan, pendidikan, keluarga, dan nilai-nilai agama.

Rencana Masa Depan dan Pencapaian

Fany memiliki rencana besar untuk masa depannya, yaitu melanjutkan pendidikan ke jenjang doktor. Ia yakin bahwa gelar doktor akan memberikan kontribusi yang lebih signifikan kepada dunia pendidikan dan meningkatkan kualitasnya bagi mahasiswa.

Fany berencana untuk sepenuhnya fokus pada studinya, meskipun ia menyadari bahwa hal ini berarti mengurangi waktu untuk kegiatan mengajar. Bagi Fany, pendidikan adalah investasi terbesar dan dengan mengabdikan diri sepenuhnya pada studi, ia berharap dapat memberikan dampak yang lebih besar di dunia akademik.

Fany adalah contoh nyata individu yang tidak hanya meraih kesuksesan dalam karier, tetapi juga dalam kehidupan pribadi dan agama.

Prinsip hidup yang ia pegang dengan teguh, kerja keras, dan ketekunan yang diterapkannya telah membawanya meraih berbagai pencapaian.

Meskipun menghadapi banyak tantangan dan kegagalan, Fany terus bangkit dan melangkah maju. Dengan rencana masa depan yang matang, Fany tetap berkomitmen untuk memberikan yang terbaik bagi dunia pendidikan.***

 

Zidny Khanza Adzania, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media

Anggaran Banjir Jakarta Rp2,4 Triliun Masih Kurang? DPRD DKI Persilakan Pemprov DKI Ajukan Penambahan

0

Oleh: Shafira Oktaviany, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Banjir Jakarta dan anggaran nya

Banjir di Jakarta akan terus menjadi masalah besar yang belum bisa diatasi secara selesai oleh masyarakat maupun pemerintah, meski berbagai upaya telah dilakukan oleh masyarakat pemerintah. Baru-baru ini, anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta, William Aditya Sarana, memberikan sorotan terhadap anggaran sebesar Rp2,4 triliun yang dialokasikan untuk penanggulangan banjir. Akan tetapi nggaran ini dinilai belum mencukupi dan perlu ditinjau ulang. Banjir yang datang kembali dan  menimpa beberapa wilayah Jakarta pada awal tahun 2025 seperti Jakarta barat yang menjadi wilayah paling banyak terendam banjir, sebanyak 29 RT terendam dan Jakarta Timur sebanyak 20 RT menunjukkan bahwa ibu kota Jakarta masih belum siap menghadapi hujan ekstrem yang semakin sering terjadi. Oleh karena itu, pembahasan mengenai kesiapan anggaran dan infrastruktur penanggulangan banjir harus menjadi ditanggapi serius demi kenyamanan masyarakat.

Anggaran banjir

Meskipun anggaran sebesar Rp2,4 triliun tampaknya besar, faktanya infrastruktur penanggulangan banjir di Jakarta masih sangat kurang memadai. Salah satu faktor utama yang memperburuk keadaan adalah kurangnya daya resapan air yang memadai. Melihat dari data Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta menunjukkan bahwa kapasitas daya resapan Jakarta hanya mencapai 1.414 meter kubik dari yang dibutuhkan 2.357 meter kubik. Ini tentunya sangat jelas menunjukkan bahwa Jakarta masih kekurangan resapan untuk menangani genangan air yang disebabkan oleh hujan, terutama saat hujan ekstrem. Selain itu, koordinasi antara Pemerintah provinsi DKI Jakarta dengan daerah lain  seperti Bogor juga sangat diperlukan, mengingat banjir seringkali dipicu oleh tingginya curah hujan di wilayah lain seperti berberapa sungai yang  berasal dari bogor  yang menyebabkan saluran air di Jakarta dapat meluap.

Pengelolaan anggaran yang lebih efisien dan tepat sasaran menjadi sangat penting. Pemerintah Provinsi  DKI Jakarta harus meninjau kembali seluruh infrastruktur pengendalian banjir yang ada, serta mempercepat pembangunan sarana-sarana penunjang seperti waduk dan sumur resapan. Penanganan banjir harus tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas infrastruktur yang ada, tetapi juga koordinasi dengan masyarakat terkait sampah  dan manajemen air yang lebih baik.

Harapan dari anggaran yang telah di tetapkan

Kedepan nya, harapan terbesar adalah agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bisa melakukan kajian yang lebih mendalam terkait kebutuhan anggaran dan efektivitas penggunaan dana yang telah dialokasikan. Selain itu, penting untuk membangun koordinasi yang lebih baik antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta  dengan Pemerintah daerah di wilayah lain untuk memastikan kesiapan infrastruktur pengendalian air di sana. Infrastruktur yang tangguh, didukung oleh pengelolaan yang optimal, akan sangat membantu Jakarta dalam menghadapi musim hujan berikutnya.

Dengan adanya anggaran yang ditetapkan nanti pemerintah harus bisa mengelola dan memilah infrastruktur terbaik untuk menanggulangi banjir yang ada, dengan dana yang nantinya akan di tetapkan setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan peninjauan ulang terkait kebutuhan penanggulagan banjir Pemerintah dapat memperbanyak saljran resapan air yang tentunya akan sanagt membantu saat curah hujan sedang tinggi, mengingat curah hujan di awal 2025 ini sangatlah ekstrem. Diharapkan agar hal ini bisa menjadi hal yang bermanfaaat untuk Ibu Kota Jakarta kedepan nya.

Selain pemerintah,masyakarat harus membantu

Selain itu warga sekitar juga harus bisa lebih aware terkait banjir dengan cara rajinmelakukan kerja bakti secara gotong royong untuk membersihkan ampah-sampah yang ada di  saluran air yang menjadi tempat pembuangan air agar tidak terjadi genangan yang dapat menyebabkan kebanjiran. Dilihat dari pola dan gaya hidup masyrakat Jakarta masiih banyak dari mereka yang suka membuang sampah ke sungai atau asal yang bisa menyebabkan penyumbata di saluran pembiuangan air. Hal ini tenunya akan sangat membantu apabila masyarakat dan pemerintah bisa bekerja sama untuk kebaikan semua dan semoga solusi jangka panjang dapat segera direalisasikan sehingga Jakarta tidak lagi terjebak dalam krisis banjir yang berulang, dan warganya dapat hidup lebih aman serta nyaman.

 

 

 

 

 

Peran Kecerdasan Buatan Dalam Bidang Kesenian

0

Bogordaily.net – Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan adalah cabang ilmu komputer yang berfokus pada penciptaan sistem atau perangkat yang mampu meniru fungsi kecerdasan manusia, seperti pemecahan masalah, pengenalan pola, dan belajar dari pengalaman. Dalam konteks seni, AI memanfaatkan algoritma yang memungkinkan mesin untuk menganalisis, memproses, dan menghasilkan karya seni berdasarkan data yang diberikan. AI dapat mengidentifikasi pola visual dalam gambar, memahami gaya artistik, dan bahkan membuat keputusan kreatif yang sebelumnya dianggap hanya dapat dilakukan oleh manusia.

Kecerdasan buatan (AI) telah mengalami perkembangan pesat dan memengaruhi berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia seni. Pada awalnya, seni sering dianggap sebagai bentuk ekspresi manusia yang sangat personal dan tidak bisa digantikan oleh mesin. Namun, dengan kemajuan teknologi, AI telah membuktikan kemampuannya untuk berperan lebih dari sekadar alat bantu dalam dunia seni. AI kini tidak hanya digunakan untuk mempercepat proses atau meningkatkan hasil karya, tetapi juga berfungsi sebagai mitra kreatif yang mendorong eksplorasi ide baru, memberikan inspirasi, dan bahkan menciptakan karya seni yang orisinal. AI membuka peluang baru bagi seniman untuk menggabungkan teknologi dan kreativitas mereka, menghasilkan karya yang tak terduga dan terkadang melampaui batasan kemampuan manusia.

Perkembangan AI dalam seni dimulai dengan eksperimen awal dalam generasi seni komputer. Selama beberapa dekade terakhir, kemajuan pesat dalam teknologi AI, terutama dalam deep learning, neural networks, dan algoritma generative, telah membuka jalan bagi seniman untuk menciptakan karya seni dengan bantuan mesin. AI kini menjadi bagian integral dalam proses kreatif banyak seniman, baik itu seniman visual, penulis, musisi, maupun perancang grafis. Kemajuan ini memungkinkan kolaborasi yang lebih mendalam antara manusia dan teknologi, yang menghasilkan karya seni yang unik dan inovatif.

AI juga telah mengubah cara seniman mengeksplorasi ide dan konsep. Sebelumnya, seniman harus bergantung pada keterampilan manual dan intuisi untuk menghasilkan karya mereka. Sekarang, dengan teknologi seperti GANs (Generative Adversarial Networks) atau neural networks, mereka dapat memanfaatkan AI untuk mengolah ide-ide abstrak dan menghasilkan karya yang mengejutkan dan tidak terduga.

AI Sebagai Alat Kreatif

 AI menawarkan berbagai peluang baru bagi seniman untuk mengeksplorasi dan menciptakan karya seni yang orisinal. Salah satu manfaat terbesar dari AI adalah kemampuannya untuk menggabungkan teknik dan gaya seni yang berbeda. Dengan algoritma tertentu, AI dapat mempelajari pola dalam berbagai gaya seni, dari lukisan klasik hingga seni kontemporer, dan menciptakan karya yang mencerminkan perpaduan dari berbagai teknik tersebut. Seniman juga dapat menggunakan AI untuk memberikan umpan balik atau bahkan berkolaborasi langsung dengan mesin dalam proses kreatif. Alat seperti DeepDream oleh Google, misalnya, memungkinkan seniman untuk menginterpretasikan dan menghasilkan gambar dari foto-foto yang ada, menciptakan visual yang sangat unik dan eksperimental.

Selain itu, AI dapat membantu seniman dalam menciptakan sketsa atau merancang komposisi awal dari karya seni. Ini memungkinkan seniman untuk fokus pada aspek lain dari penciptaan seni, seperti pesan yang ingin disampaikan atau detail teknis, sementara AI menangani bagian-bagian yang lebih mekanis dari proses tersebut. Kemampuan AI untuk mengolah dan menggabungkan data dalam skala besar juga memberikan kesempatan untuk menciptakan karya seni yang melibatkan elemen-elemen yang sebelumnya tidak pernah dipertimbangkan.

Cara AI Membuat Karya Seni

 Salah satu teknologi paling revolusioner dalam dunia seni adalah Generative Adversarial Networks (GANs). GANs adalah model pembelajaran mesin yang memungkinkan mesin untuk menghasilkan gambar baru berdasarkan data yang telah dipelajari sebelumnya. Dalam konteks seni, GANs dapat menganalisis berbagai elemen visual seperti warna, bentuk, dan tekstur, dan menciptakan gambar baru yang mengimitasi gaya seni tertentu. Sebagai contoh, AI seperti DALL-E dari OpenAI mampu menghasilkan gambar dari deskripsi teks yang diberikan, memungkinkan seniman untuk memvisualisasikan konsep abstrak yang sulit diwujudkan hanya dengan keterampilan manusia.

Contoh lain dari AI dalam seni adalah DeepDream, sebuah proyek yang dikembangkan oleh Google. DeepDream menggunakan jaringan saraf untuk menginterpretasikan gambar atau foto dan kemudian mengubahnya menjadi karya seni yang penuh dengan pola dan elemen visual yang menarik. Teknologi ini memberikan inspirasi baru bagi seniman visual untuk mengeksplorasi ide-ide yang tidak terbatas oleh batasan manusia, menjadikan AI sebagai alat yang dapat mengubah cara kita melihat dan menciptakan seni.

Kolaborasi Antara AI dan Manusia

 Salah satu aspek yang paling menarik dari penggunaan AI dalam seni adalah kemampuannya untuk berkolaborasi dengan manusia. Seniman dan desainer kini menggunakan AI sebagai mitra kreatif, di mana manusia memberikan arahan dan input awal, sementara AI membantu menyusun atau menciptakan visual baru. Kolaborasi ini mengarah pada karya seni yang menggabungkan kreativitas manusia dan kecerdasan mesin, menciptakan sesuatu yang tidak bisa dihasilkan oleh satu pihak saja.

Dalam kolaborasi ini, AI tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk mempercepat proses kreatif, tetapi juga sebagai sumber inspirasi dan eksperimen. Dengan bantuan AI, seniman dapat menghasilkan karya yang melampaui kemampuan mereka sendiri, menghasilkan visual atau komposisi yang lebih kompleks dan mengejutkan daripada yang dapat mereka bayangkan sebelumnya.

Perdebatan Penggunaan AI dalam Dunia Seni

 Meskipun AI membuka peluang baru dalam dunia seni, penggunaannya juga menimbulkan perdebatan etis yang cukup signifikan. Salah satu isu yang paling sering dibahas adalah keaslian karya seni yang dihasilkan dengan bantuan AI. Apakah karya seni yang dibuat oleh mesin dapat dianggap sebagai karya seni sejati, atau apakah hanya seniman manusia yang bisa menciptakan karya yang memiliki nilai seni? Dalam banyak kasus, karya yang dihasilkan oleh AI menimbulkan pertanyaan mengenai siapa yang seharusnya mendapatkan kredit atas karya tersebut apakah seniman yang memberi instruksi kepada AI, ataukah AI itu sendiri?

Selain itu, ada juga kekhawatiran bahwa penggunaan AI dapat menghilangkan sentuhan manusia dalam seni. Kreativitas manusia, yang sering kali dipengaruhi oleh pengalaman emosional dan perspektif pribadi, sulit untuk direplikasi oleh mesin. Oleh karena itu, banyak orang mempertanyakan apakah seni yang dihasilkan oleh AI masih memiliki nilai yang sama dengan karya seni yang diciptakan oleh manusia.

Kekhawatiran Seniman

 Salah satu aspek yang paling dikhawatirkan oleh seniman adalah dampak AI terhadap profesi mereka. Seiring dengan berkembangnya teknologi, semakin banyak seniman yang khawatir bahwa karya seni yang dihasilkan oleh mesin akan mendominasi pasar seni, mengurangi ruang bagi karya yang dihasilkan oleh tangan manusia. Sebagai contoh, karya seni digital yang dihasilkan oleh AI kini semakin sering dijual dan dipamerkan di galeri, serta semakin banyak digunakan dalam iklan dan pemasaran, yang berpotensi menggeser posisi seniman manusia di pasar seni.

Selain itu, banyak diskusi tentang masa depan AI dalam seni, salah satu topik yang selalu muncul adalah kekhawatiran bahwa mesin dapat menggantikan unsur manusia dalam proses kreatif. Seni, bagi banyak orang, adalah bentuk ekspresi pribadi yang didorong oleh emosi dan pengalaman. Mesin, tidak peduli seberapa canggihnya, tidak dapat merasakan emosi atau memiliki pengalaman hidup yang menginspirasi karya seni.

Seni tidak hanya dilihat sebagai objek visual, tetapi sebagai cermin dari pengalaman hidup manusia. Banyak seniman berpendapat bahwa salah satu kualitas paling berharga dari seni adalah kemampuan untuk menghubungkan penikmat seni dengan cerita manusia di balik karya tersebut. AI mungkin dapat menciptakan gambar yang indah, tetapi ia tidak dapat menggantikan pengalaman manusia yang membuat seni begitu istimewa.

Kesimpulan

 Kecerdasan buatan (AI) telah membuka peluang baru dalam dunia seni, memungkinkan seniman untuk mengeksplorasi kreativitas mereka dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan alat seperti GANs dan DeepDream, AI dapat menciptakan karya seni orisinal dan bahkan berkolaborasi dengan manusia dalam proses kreatif. Namun, penggunaan AI juga menimbulkan pertanyaan etis tentang keaslian karya seni dan dampaknya terhadap profesi seniman. Banyak yang khawatir bahwa mesin akan menggantikan sentuhan manusia dalam seni, yang bagi banyak orang merupakan ekspresi emosional dan pribadi. Meski AI menawarkan potensi besar, ia tidak dapat menggantikan nilai seni yang muncul dari pengalaman hidup dan perasaan manusia, dan karenanya harus dilihat sebagai alat yang memperkaya, bukan menggantikan, kreativitas manusia.***

 

Muhammad Rafi Zaidan

 

Romantika Senja di Surya Kencana

0

Bogordaily.net – Ketika matahari mulai bergerak ke arah barat untuk meredup, saya berjalan pelan menyusuri jalanan yang tak pernah ada sepinya, Jalan Surya Kencana. Sebuah jalan yang lekat dengan nilai sejarah dan budaya serta hiruk pikuk yang terjadi di dalamnya. Sore itu matahari sedang bersinar indah seperti biasanya, seakan membuat nuansa menjadi lebih berbahagia untuk menikmati setiap sudut yang ada di Jalan tersebut.

Surya Kencana, langkah pertama saya di jalan ini tentunya langsung disambut oleh para pedangan kaki lima dengan segala macam aneka jajanan dan makanan yang tentunya membuat perut mulai bergejolak. Ada toge goreng dengan aroma kuat tauco yang menggoda, soto kuning dengan uap asap yang mengepul harum di udara, asinan bogor yang segar serta martabak dengan olesan margarin dan taburan gula yang sangat menggiurkan lidah.

Kuliner yang terpampang di Jalan Surya Kencana tidak hanya menjual rasa belaka, melainkan terdapat kisah dan warisan kuliner yang sudah terjadi dari generasi ke generasi. Beberapa kios makanan di Jalan Surya Kencana telah berdiri selama puluhan tahun, di wariskan dari tangan ke tangan namun tetap menjaga keaslian rasa sehingga tetap menjadi pilihan dari masa ke masa.

Selain kuliner legendaris, Jalan Surya Kencana juga dipenuhi oleh tempat berkumpulnya para anak muda yang ingin menghabiskan waktu bersama teman dan sahabatnya. Kedai kopi modern mulai berdampingan dengan hal-hal sederhana. Menciptakan perpaduan antara tradisi dan gaya masa kini. Saya melihat di suatu kedai kopi, beberapa kelompok tengah asik bercengkrama dengan sesama sambil ditemani kopi susu gula aren sehingga menciptakan suasana gembira. Tidak jarang ketawa mereka pecah menghiasi waktu sore di akhir pekan yang pastinya sangat menyenangkan.

Lalu di sepanjang trotoar jalan, tampak sepasang anak muda berjalan sambil bergandengan tangan. Mereka berjalan perlahan menikmati suasana senja yang membuat semakin hangat. Sambil berjalan tak sesekali mereka berhenti menoleh sebentar ke kios yang menawarkan barang ataupun makanan. Setelah jalan, mereka pun duduk sambil memakan martabak manis dengan toping kacang coklat. Mereka tertawa kecil menikmati setiap moment di sore itu. Ramainya Jalan Surya Kencana menjadi saksi bagi momen-momen kecil yang telah mereka ciptakan saat itu.

Di sisi lain, terdapat sekelompok anak muda dengan kamera analog di tanganya, mencari sudut-sudut fotogenik yang tersimpan dibalik arsitektur klasik di bangunan tua yang ada di Jalan Surya Kencana. Salah satu dari mereka mangatur untuk mencari sudut terbaik, lalu terdenger suara jepretan kamera yang menangkap moment bersama. Hasilnya bukan hanya sebatas foto, melainkan terdapat juga cerita yang mungkin akan diceritakan di masa yang akan datang.

Selain moment-moment yang tercipta, hiruk pikuk yang terjadi di Jalan Surya Kencana juga menarik. Lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki mencipatakan harmoninya sendiri. Suara klakson kendaraan terdengar berpadu dengan suara perbicangan akrab warga setempat di warung kopi sederhana. Julukan “Road of Never Sleeping” tersebut tentunya menjadi bukti betapa sibuknya Jalan Surya Kencana.

Saat senja mulai semakin turun, lampu-lampu yang ada pun mulai menyala. Sudut mata seketika terfokus pada lampu lampion yang mulai terang benderang, menggantung indah di atas jalan. Warna merah dan emas dari lampion-lampion tersebut menciptakan suasana yang identik dari jalanan ini.

Tidak dapat dipungkiri kawasan Jalan Surya Kencana memang melekat dengan budaya dan adat Tionghoa. Bangunan-bangunan dengan arsitektur gaya tionghoa masih berdiri dengan kokoh menghiasi Jalan Surya Kencana. Vihara Dhanagun atau Hok Tek Bio menjadi bukti nyata bagaimana kebudayaan tersebut masih tetap lestari di tengah arus perkembangan modernisasi.

Namun disamping itu, Kawasan Surya kencana juga bukan sekedar kebudayaan Tionghoa, keberadaan masjid dan gereja melengkapi betapa indahnya kehidupan damai yang tercipta di Surya Kencana. Suara adzan yang menggema dari masjid, lonceng gereja yang berdentang di waktu tertentu, serta warga yang dengan damai beribadah sesuai keyakinannya masing-masing, menciptakan harmoni yang begitu mempesona.

Jalan Surya Kencana bukan sekadar jalur biasa, tetapi cerminan kehidupan kota yang terus bergerak. Ia adalah tempat di mana masa lalu dan masa kini bertemu, di mana tradisi dan modernitas saling bersanding. Sore itu, saya tidak hanya berjalan menyusuri jalan ini, tetapi juga menyusuri kisah yang hidup di dalamnya. Sebuah pengalaman yang sederhana, tetapi begitu kaya akan makna.***

 

Muhammad Haqqi, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB

 

Liisa Firhani Rahmasari: Perjalanan Seorang Akademisi di Dunia Agribisnis

0

Bogordaily.netLiisa Firhani Rahmasari, S.P., M.Si adalah seorang akademisi yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Program Studi Manajemen Agribisnis, Sekolah Vokasi, IPB University. Beliau lahir di  Jakarta, 6 Agustus 1984.

Kecintaannya pada dunia pendidikan sudah tertanam sejak kecil, terinspirasi oleh sosok sang ayah yang berprofesi sebagai dosen dan PNS. Melihat dedikasi ayahnya, Liisa pun tumbuh dengan ketertarikan yang kuat terhadap dunia akademik dan pendidikan.

Perjalanan akademiknya dimulai dengan menempuh pendidikan S1 di Universitas Gadjah Mada pada jurusan Sosial Ekonomi Pertanian (Agribisnis). Kemudian, beliau melanjutkan studi S2 di IPB University dan meraih gelar Magister Sains Agribisnis.

Ketertarikannya pada bidang ini muncul karena beliau melihat bahwa sektor agribisnis memiliki prospek yang sangat luas dan penting, mengingat hampir seluruh industri di Indonesia berhubungan erat dengan komoditas pertanian.

Sepanjang perjalanan studinya, Liisa bertemu dengan banyak dosen inspiratif yang semakin memperkuat keyakinannya bahwa agribisnis tidak hanya sekadar mengelola hasil pertanian, tetapi juga mencakup aspek pemasaran, kelembagaan, dan pengembangan sumber daya manusia.

Pengalaman ini membawanya untuk mengawali karier sebagai asisten dosen di Universitas Gadjah Mada. Setelah lulus pada tahun 2007, beliau sempat bekerja di perusahaan swasta sebagai HR, sebelum akhirnya memulai karier sebagai dosen tetap di Sekolah Vokasi IPB University pada tahun 2009 setelah lulus seleksi tes dosen.

Sebagai dosen, Liisa tidak hanya mengajar, tetapi juga aktif dalam penelitian dan publikasi ilmiah. Beliau telah menulis sekitar 5 buku bersama rekan dosen lainnya, termasuk “Digital Marketing untuk Produk Agribisnis”, buku tentang “Psikologi Industri dan Organisasi (PIO)”, “ekonomi mikro”, dan “loyalitas pelanggan dan perilaku konsumen”. Saat ini, beliau tengah mengerjakan buku tentang “kelayakan bisnis dan sistem agribisnis”. Selain itu, penelitian yang ditekuni berfokus pada “rantai pasok agribisnis”, “pemasaran agribisnis”, “kelembagaan”, “kemitraan”, dan “pengembangan SDM untuk BUMDes”.

Kontribusinya dalam dunia akademik juga mendapat pengakuan internasional. Beliau berhasil meraih juara 3 sebagai Best Presenter dalam International Conference yang diadakan oleh Universitas Hasanuddin, bersaing dengan para akademisi dari berbagai universitas lain.

Di luar aktivitas mengajar dan penelitian, Liisa juga aktif menjadi narasumber dalam acara BUMN, membantu menyusun modul untuk self-selling, dan terlibat dalam berbagai program pengabdian masyarakat.

Sebagai pribadi yang senang berbagi ilmu, Liisa merasa bangga ketika melihat mahasiswanya sukses. Baginya, menjadi dosen bukan hanya tentang mengajar, tetapi juga menginspirasi dan memotivasi mahasiswa untuk menemukan jalannya sendiri.

Prinsipnya adalah membimbing dan memberikan arahan, namun keputusan dan visi tetap harus datang dari mahasiswa itu sendiri.

Tantangan terbesar yang beliau rasakan saat ini adalah bagaimana menyesuaikan cara berkomunikasi dengan mahasiswa yang karakternya terus berkembang seiring perubahan zaman.

Oleh karena itu, beliau terus berusaha menciptakan suasana belajar yang nyaman secara psikologis agar mahasiswa lebih antusias dalam mengeksplorasi potensinya.

Selain aktif di kampus, Liisa juga berperan dalam beberapa organisasi profesional, seperti APDOVI (Asosiasi Profesi Dosen Vokasi), PERHEPI (Perhimpunan Ekonomi Pertanian), dan AAI (Asosiasi Agribisnis Indonesia).

Beliau percaya bahwa berorganisasi sangat penting, bukan hanya untuk pengembangan karier, tetapi juga untuk membangun relasi dan terus memperluas wawasan.

Di luar kesibukan akademik, Liisa sangat menghargai pentingnya keseimbangan hidup. Beliau gemar travelling, memasak, membaca, dan mendengarkan musik sebagai cara untuk melepas penat dan mengisi ulang energi.

Ke depannya, beliau bercita-cita untuk mengintegrasikan hasil-hasil penelitian menjadi buku yang implementatif, serta menggarap berbagai proyek kerja sama dengan pemerintah dan BUMN untuk memajukan sektor agribisnis nasional.

Salah satu program yang sedang dikembangkan adalah student exchange dengan universitas internasional, bersama dengan Intani Dewi, S.Pt., M.Sc., M.Si yang menjabat sebagai Ketua Program Studi Manajemen Agribisnis di Sekolah Vokasi IPB University mereka sudah berhasil memberangkatkan 2 mahasiswa ke Korea Selatan.

Sebagai akademisi yang berdedikasi, Liisa Firhani Rahmasari, terus berupaya untuk berkembang, baik melalui kolaborasi penelitian maupun dengan mengikuti pelatihan akademik agar senantiasa terus mengetahui hal terbaru yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Harapannya, langkah-langkah ini tidak hanya membuat dirinya terus bertumbuh, tetapi juga memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi mahasiswa, universitas, dan masyarakat luas. ***

 

Shafira Oktaviany