Monday, 6 April 2026
Home Blog Page 857

Hijrah Hafiduddin: Konsultan Pajak, Lawyer, dan Dosen dengan Dedikasi Tinggi

0

Bogordaily.net – Hijrah Hafiduddin adalah sosok inspiratif yang telah membuktikan bahwa kerja keras, kemandirian, dan dedikasi dapat mengantarkan seseorang meraih kesuksesan di berbagai bidang. Lahir di Bogor pada 14 Agustus 1988, beliau dikenal sebagai Konsultan Pajak, Lawyer, dan Dosen di bidang perpajakan dan akuntansi.

Dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di bidang perpajakan, akuntansi, sumber daya manusia, manajemen, dan hukum, beliau beliau telah menangani klien dari berbagai sektor industri, mulai dari otomotif, perhotelan, pelatihan, makanan dan minuman, teknologi informasi, keuangan, minyak dan gas bumi, pertambangan, konstruksi, perfilman, pelayaran, dan lainnya. Keberagaman pengalaman ini membuktikan bahwa beliau memiliki pemahaman mendalam dalam menghadapi kompleksitas peraturan dan dinamika bisnis di berbagai sektor.

Perjalanan Pendidikan: Kemandirian Sejak Usia Muda

Perjalanan pendidikan Hijrah Hafiduddin penuh dengan tantangan yang justru membentuk karakter kuat dalam dirinya. Beliau memulai pendidikan tinggi di D3 Perpajakan Universitas Indonesia dan berhasil menyelesaikannya pada tahun 2009.

Tidak berhenti di situ, beliau melanjutkan studi S1 Ekonomi Akuntansi di Universitas Ibnu Khaldun Bogor dan lulus pada tahun 2012. Keinginan untuk memperluas pengetahuan dalam bidang hukum membawanya mengambil S2 Hukum di Universitas Pakuan pada 2020 dan menambah gelar S1 Hukum di STIH Dharma Andhiga pada 2022. Beliau juga melanjutkan pendidikan S3 Hukum di Universitas Indonesia.

Namun, dibalik deretan gelar akademiknya, terdapat kisah perjuangan luar biasa. Kehilangan sosok ayah di usia 17 tahun membuat beliau harus belajar mandiri lebih awal. Kondisi ini memaksanya untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan selama masa studi.

Dengan uang saku sebesar Rp300.000 per bulan saat kuliah di Universitas Indonesia, beliau tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga memutar peluang menjadi penghasilan. Momen krusial terjadi saat beliau menjadi ketua kelas di semester dua.

Melihat adanya kebutuhan besar akan materi kuliah dalam bentuk fotokopi, beliau memutuskan untuk mengelola kebutuhan tersebut. Alih-alih menggunakan jasa fotokopi biasa dengan tarif Rp100 per lembar, beliau menemukan tempat fotokopi yang menawarkan harga Rp55 per lembar.

Selisih harga ini menjadi sumber keuntungan yang signifikan. Dengan mengelola fotokopi untuk 250 mahasiswa dari dua kelas, beliau mampu mendapatkan penghasilan tambahan yang tidak hanya mencukupi kebutuhan pribadi tetapi juga membiayai kuliah sendiri pada semester 4 sampai dengan semester akhir kuliah. Bahkan, berkat usahanya tersebut, beliau berhasil membeli motor pertamanya secara tunai saat semester lima. Kisah ini menjadi bukti bahwa kreativitas dan ketekunan mampu mengubah keterbatasan menjadi peluang.

Karier Profesional: Dari Pegawai hingga Konsultan Mandiri

Hijrah Hafiduddin memulai karir profesionalnya pada tahun 2009 sebagai guru di Primagama, salah satu bimbingan belajar ternama di Indonesia. Pengalaman ini menjadi awal bagi beliau dalam mengasah kemampuan komunikasi dan membangun hubungan interpersonal yang kuat.

Tidak lama berselang, beliau mengambil langkah untuk lebih mendalami bidang perpajakan dengan magang di PT Multi Utama Consultindo, sebuah kantor konsultan pajak. Magang selama enam bulan tersebut menjadi pijakan penting dalam memahami praktik perpajakan secara langsung.

Pada tahun 2010, beliau bergabung sebagai staf accounting di Hotel Salak Bogor. Di sini, beliau tidak hanya menangani laporan keuangan, tetapi juga menunjukkan kemampuan manajerial yang membuatnya dipromosikan menjadi HRD Manager hingga akhir 2012.

Tahun 2013 menjadi babak baru ketika beliau diterima bekerja di perusahaan minyak dan gas ternama, PT Medco Energi Internasional Tbk, sebagai tax specialist. Selama empat tahun, beliau terlibat dalam berbagai proyek yang memperkuat pengetahuannya di sektor energi dan sumber daya alam.

Namun, jiwa pembelajar dalam dirinya tidak pernah padam. Di tahun kedua bekerja di Medco, beliau memutuskan mengikuti Ujian Sertifikasi Konsultan Pajak (USKP) tingkat B dan menyelesaikan Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA), menambah kredibilitasnya sebagai konsultan dan praktisi hukum.

Pada Maret 2017, beliau mengambil keputusan besar untuk keluar dari zona nyaman dengan mengundurkan diri dari Medco Energi dan membangun usaha konsultan pajak sendiri. Dengan nama HHH Consultant, beliau memulai perjalanan sebagai konsultan pajak mandiri.

Berkat dedikasi dan keahliannya, perusahaan ini berkembang pesat dan kini mempekerjakan tujuh karyawan tetap. Dalam tujuh tahun terakhir, HHH Consultant telah melayani ribuan klien dari berbagai sektor dan terus berkembang hingga saat ini.

Tak hanya fokus pada dunia bisnis, beliau juga aktif dalam berbagai organisasi profesional. Ia menjabat sebagai Pengurus Young IFA di International Fiscal Association, Ketua Banom Legal dan Pajak Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Bogor, Ketua Federasi Advokat Republik Indonesia (FERARI) Kota Bogor, dan anggota Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI).

Keterlibatan aktif dalam komunitas otomotif seperti Honda Brio Club (HBC), Xpander Mitsubishi Owner Club (X-MOC), Terios Rush Club Indonesia (TERUCI), Pajero One (P-One), dan Land Rover Club Indonesia (LRCI) menjadi bukti bahwa beliau mampu menyeimbangkan kehidupan profesional dan hobinya.

Akademisi yang Menginspirasi dan Penulis Produktif

Kecintaannya pada dunia hukum membawanya untuk terus mengeksplorasi berbagai kasus yang kompleks dan menantang. Beliau meyakini bahwa dunia hukum bukan hanya tentang peraturan semata, tetapi tentang bagaimana menyusun strategi dan argumentasi yang kuat, terutama dalam menghadapi kasus perpajakan dan sengketa hukum.

Selain berkarier di dunia pendidikan dan hukum, beliau juga aktif menulis dan telah menerbitkan dua buku. Buku pertamanya berjudul Hak dan Kewajiban Perpajakan Industri Otomotif, yang ditulis selama masa pandemi COVID-19 saat beliau menjalani isolasi mandiri di rumah sakit.

Masa karantina yang penuh keterbatasan justru dimanfaatkannya untuk produktif, menghasilkan karya yang bermanfaat bagi para praktisi pajak. Pengalaman menangani klien perusahaan otomotif asal Korea menjadi inspirasi utama dalam penulisan buku tersebut.

Buku keduanya, Sengketa Pajak Otomotif, diterbitkan pada tahun 2024 dan menjadi kelanjutan dari pengalaman beliau menangani berbagai sengketa perpajakan di industri otomotif. Buku ini tidak hanya membahas teori, tetapi juga studi kasus nyata yang dapat menjadi acuan bagi konsultan pajak, akademisi, dan pelaku industri.

Visi Masa Depan dan Prinsip Hidup

Memiliki semangat belajar yang tidak pernah padam, Hijrah Hafiduddin berencana melanjutkan pendidikan hingga jenjang S3 Hukum. Langkah ini bukan semata untuk menambah gelar akademik, melainkan untuk memperkuat kapabilitasnya dalam bidang hukum dan menunjang karir mengajar di perguruan tinggi ternama seperti IPB University dan Universitas Indonesia.

Di sisi lain, beliau juga memiliki target besar dalam bisnisnya. Ia berencana mengembangkan HHH Consultant hingga mampu menangani 700 klien aktif dengan sistem manajemen efektif, di mana setiap karyawan dapat mengelola hingga 10 klien bulanan. Saat ini, perusahaan baru memiliki 20-30 klien tetap, namun beliau optimis angka tersebut akan terus bertambah seiring waktu.

Dalam menjalani kehidupan, beliau berpegang pada prinsip-prinsip sederhana namun bermakna. Salah satunya berasal dari sebuah hadits yang berbunyi, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.” Bagi beliau, keberhasilan bukan sekadar soal materi, tetapi seberapa besar dampak positif yang dapat diberikan kepada lingkungan sekitar.

Prinsip lain yang dipegang teguh adalah, “Semakin banyak memberi, semakin banyak menerima,” sebuah pandangan hidup yang mendorongnya untuk terus berbagi tanpa pamrih. Ia juga percaya bahwa memperlakukan orang tua dengan penuh hormat dan kasih sayang akan membuka pintu rezeki yang luas, sebuah nilai yang terus ia pegang dalam keseharian.

Lebih dari itu, beliau percaya bahwa persaingan terbaik adalah bersaing dengan diri sendiri untuk menjadi versi terbaik. Prinsip ini menjadi fondasi dalam setiap langkahnya, baik sebagai profesional, akademisi, maupun pribadi. Hijrah Hafiduddin membuktikan bahwa kesuksesan bukan sekadar hasil dari keberuntungan, tetapi buah dari kerja keras, kegigihan, dan kemauan untuk terus berkembang.***

 

Inayatul Muthmainnah,

Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB

Google Search Mulai Ditinggalkan, Masyarakat Mulai Beralih ke AI dan Tiktok

0

Bogordaily.net – Dalam dunia digital, Google telah lama mendominasi sebagai mesin pencari utama di internet sejak dirilis pada 4 September1996. Selama bertahun-tahun, Google Search menjadi platform utama dalam pencarian informasi, bahkan sempat muncul istilah “gugling” yang digunakan secara luas untuk menyebut aktivitas mencari informasi di internet.

Namun, dominasi Google Search kini mulai mengalami penurunan. Menurut laporan dari Search Engine Land, pangsa pasar Google telah turun di bawah 90% dalam tiga bulan terakhir, sebuah fenomena yang belum terjadi sejak 2015 (9to5Google, 16 Januari 2025).

Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang menawarkan pengalaman pencarian yang lebih interaktif dan efisien. Beberapa platform berbasis AI seperti Perplexity dan ChatGPT telah menarik minat pengguna dengan memberikan hasil pencarian yang lebih relevan dan kontekstual.

Selain AI generatif, TikTok juga berperan dalam pergeseran tren pencarian informasi di internet. Aplikasi berbagi video ini semakin banyak digunakan oleh generasi muda untuk mencari berbagai informasi, termasuk rekomendasi tempat wisata, kuliner, hingga tutorial. TikTok bahkan mulai mengintegrasikan tautan ke Google Search, sementara Google sendiri telah menampilkan hasil pencarian dari TikTok sejak awal 2024. Menurut Mark Scmulik, analis internet dari Bernstein Research, generasi Z (lahir antara 1997 dan 2012) cenderung menggunakan TikTok sebagai alat pencarian utama, menggantikan Google Search dalam mencari informasi spesifik seperti ulasan produk atau tempat makan.

AI dan Media Sosial Sebagai Alternatif Mesin Pencari

Kecerdasan buatan semakin menjadi pilihan utama dalam pencarian informasi dibandingkan mesin pencari tradisional seperti Google Search. AI mampu memberikanhasil yang lebih tepat dan relevan berkat kemampuannya dalam memahami konteks pencarian dengan lebih baik. Model AI berbasis bahasa, seperti ChatGPT, menggunakan teknologi pemrosesan bahasa alami (NLP) yang memungkinkan mereka memahami maksud di balik pertanyaan pengguna, bukan sekadar mencocokkan kata kunci.

Berbeda dengan mesin pencari yang hanya menampilkan daftar tautan berdasarkan relevansi kata kunci, AI mampu mengolah informasi dari berbagai sumber dan menyajikannya dalam bentuk yang lebih ringkas serta mudah dipahami (Tao et al., 2023).

Selain itu, AI juga lebih responsif dalam menyajikan informasi. Penelitian menunjukkan bahwa pengguna dapat menyelesaikan tugas pencarian lebih cepat dengan bantuan AI dibandingkan dengan mesin pencari tradisional. AI mampu menyaring, menganalisis, dan menyajikan jawaban secara langsung, sehingga pengguna tidak perlu menghabiskan waktu membuka berbagai tautan untuk mencari jawaban yang mereka butuhkan (Kim & Park, 2022).

Tidak hanya AI, TikTok juga menghadirkan fitur pencarian yang sangat efektif. Ketika pengguna mengetikkan kata kunci seperti “HP Samsung terbaru di 2025,” TikTok langsung menampilkan video singkat yang menjelaskan produk dengan jelas dan representatif.

Popularitas TikTok sebagai mesin pencarian alternatif semakin meningkat, terutama di Indonesia yang menempati posisi kedua sebagai negara dengan jumlah pengguna TikTok terbanyak di dunia, mencapai 99,07 juta orang (Kominfo).

Fenomena ini membuktikan bahwa preferensi pengguna kini lebih condong ke format video yang singkat namun informatif dibandingkan hasil pencarian berbasis teks.

Dampak Transformasi Digital dalam Pencarian Informasi

Kemajuan teknologi informasi telah mengubah cara manusia memperoleh dan menyebarkan informasi. Pergeseran dari mesin pencari tradisional seperti Google kecplatform berbasis AI dan TikTok mencerminkan evolusi dalam pola komunikasi yang lebih interaktif dan efisien.

Salah satu dampak signifikan dari perubahan ini adalah penyebaran informasi yang semakin cepat. TikTok, misalnya, memungkinkan konten menjadi viral dalam waktu singkat melalui algoritma yang menampilkan video sesuai preferensi pengguna. Hal ini mempercepat distribusi informasi secara masif (Nugroho & Pratama, 2023).

Selain itu, platform seperti TikTok dan aplikasi berbasis AI menghubungkan orang di seluruh dunia melalui konten visual dan interaktif. Pengguna dapat mengekspresikan diri dan berinteraksi dengan audiens global, memperluas jaringan komunikasi tanpa batas geografis (Putri, 2022).

Dalam dunia pendidikan, AI dan TikTok juga berperan dalam memajukan metode pembelajaran. Konten edukatif dalam format video pendek dan interaktif membantu meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa dalam proses belajar (Yusuf, 2023). Dengan adanya teknologi ini, pembelajaran menjadi lebih menarik, mudah diakses, dansesuai dengan preferensi generasi digital. Secara keseluruhan, integrasi AI dan media sosial dalam pencarian informasi mencerminkan transformasi besar dalam cara manusia mengakses, berbagi, dan memahami informasi. Format pencarian yang lebih cepat, interaktif, dan berbasis video menjadi tren utama yang menggantikan mesin pencari tradisional, menunjukkan bahwa dunia digital terus berkembang menuju pengalaman pencarian yang lebih intuitif dan efisien. ***

Andrianzanzu J0401231093
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Kementerian UMKM dan DPR Teguhkan Komitmen Sukseskan Penyaluran KUR

0

Bogordaily.net – Kementerian Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Kementerian UMKM) bersama Komisi VII DPR RI meneguhkan komitmen untuk bersama-sama menyukseskan penyaluran program Kredit Usaha Rakyat (KUR) 2025.

Menteri UMKM Maman Abdurrahman dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI, di Jakarta, Selasa (18/3) mengatakan, program KUR menjadi salah satu instrumen utama dalam mendukung pertumbuhan UMKM di tanah air.

“Target penyaluran KUR 2025 sebesar Rp300 triliun, dengan target debitur baru sebanyak 2,34 juta orang, dan target debitur graduasi sebesar 1,17 juta orang, serta 60 persen penyaluran untuk sektor produksi,” kata Menteri UMKM Maman Abdurrahman saat menghadiri rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI di Jakarta, Selasa (18/3).

Namun demikian, menurut Menteri Maman, untuk mencapai target tersebut masih terdapat berbagai macam kendala, mulai dari isu terkait administrasi, informasi ketentuan dan kriteria KUR, hingga soal agunan tambahan.

Terkait agunan tambahan KUR, Menteri UMKM menegaskan untuk KUR super mikro dan KUR mikro tidak dikenakan agunan tambahan. Namun tetap harus memenuhi kriteria usaha produktif yang layak dibiayai dengan minimal telah berjalan selama 6 bulan untuk KUR mikro dan kurang dari 6 bulan atau telah mengikuti pendampingan usaha untuk KUR super mikro.

“Jadi saya tekankan, untuk KUR super mikro sampai dengan Rp10 juta dan KUR mikro lebih dari Rp10 juta sampai dengan Rp100 juta tidak dikenakan agunan tambahan. Sedangkan untuk KUR yang sampai dengan Rp500 juta dapat dikenakan agunan tambahan,” kata Menteri UMKM menjelaskan.

Menteri UMKM menambahkan, realisasi penyaluran KUR sampai dengan 16 Maret 2025 telah mencapai Rp44,73 triliun dengan 788.237 debitur.

Untuk itu, Menteri Maman berharap kolaborasi dapat semakin diperkuat antara Pemerintah, DPR, dan bank penyalur dalam mencapai target penyaluran KUR sekaligus mengawasi pelaksanaannya di daerah.

“Kami sangat berharap para anggota dewan bisa turut mengawal dan mengawasi, karena sampai saat ini masing-masing daerah belum tercapai target khususnya di sektor produksi. Sedangkan untuk bank penyalur, kompleksitas penyaluran KUR cukup luar biasa, oleh karena itu semangat koordinasi dan kolaborasi diupayakan betul-betul bisa diperkuat untuk memetakan inti permasalahan pendistribusian KUR sehingga target bisa tercapai,” ujar Menteri Maman.

Menteri Maman juga meminta bank penyalur agar mengikuti aturan yang berlaku, serta target yang sudah dicanangkan pada KUR 2025.

Senada disampaikan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty yang mengatakan, program KUR bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat khususnya pengusaha UMKM. DPR dalam hal ini komisi VII siap mendukung kesuksesan penyaluran KUR.

“Diharapkan penjangkauan calon debitur KUR potensial semakin meningkat guna mewujudkan pemerataan akses kredit usaha,” kata Evita Nursanty.

Evita juga meminta keberpihakan terhadap pengusaha UMKM di berbagai daerah terus diperkuat.

“Partisipasi bank daerah juga perlu ditingkatkan tapi tentu dengan memperhatikan likuiditas bank daerah,” ujar Evita Nursanty. ***

Antisipasi Gangguan Pengaliran Air, Tirta Kahuripan Siagakan Petugas 24 Jam

Bogordaily.net – Menjelang libur panjang Hari Raya Lebaran 1446 H, Perumda Air Minum Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor secara internal terus melakukan koordinasi antar unit terkait.

Mulai dari pasokan bahan kimia dan perpipaan, strategi pengamanan stok air di recevoir, kesiapan tim teknik hingga sosialisasi kepada pelanggan Perumda Air Minum Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor.

Langkah yang dilakukan Perumda Air Minum Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor tersebut sebagai upaya memitigasi risiko jika terjadi gangguan pengaliran baik akibat faktor alam maupun teknis.

Direktur Umum Abdul Somad, menyampaikan kepada pelanggan Perumda Air Minum Tirta Kahuripan untuk tidak khawatir apabila terjadi gangguan pengaliran selama libur lebaran karena telah menyiapkan petugas dan layanan pengaduan yang siaga 24 jam.

“Ada 311 petugas dan 11 armada tangki yang akan standby dan tersebar di sembilan wilayah pelayanan dan apabila ada gangguan pengaliran atau temuan kebocoran pipa, pelanggan dapat menghubungi layanan pengaduan yang tetap beroperasi selama libur panjang lebaran melalui call center di nomor 1500-862 dan WhatsApp official di nomor 0821-1996-9008.” ujarnya.

Untuk diketahui oleh pelanggan, pelayanan loket pembayaran diseluruh kantor cabang akan menyesuaikan tanggal hari libur nasional dan cuti bersama yaitu tutup mulai hari Jum’at tanggal 28 Maret 2025 dan buka kembali hari Selasa tanggal 8 April 2025.

Namun bagi pelanggan yang akan melakukan pembayaran tagihan air dapat melalui channel bank dan PPOB seperti Bank Mandiri, Bank BJB, Bank BNI, Bank BTN, Bank BSI, PT. POS, Indomaret, Alfamaret dan Alfamidi.

Sedangkan bagi pelanggan yang akan membayar tagihan penyambungan kembali selama libur nasional dan cuti bersama dapat membayar melalui transfer ke Bank Mandiri Cabang Cibinong atas nama Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor ke nomor rekening 1570000070681, dengan mengirimkan bukti transfer, no sambungan langganan, nama dan alamat ke admin masing-masing cabang melalui WA official.

“Kami imbau kepada pelanggan yang mudik dan kondisi pagar rumahnya terkunci untuk menggunakan papan pencatat meter air untuk memudahkan pencatatan petugas pembaca meter dan untuk mencegah lonjakan tagihan air akibat kebocoran pipa di dalam rumah sebaiknya mematikan air dari stop kran merah yang letaknya berdampingan dengan meter air,” katanya.

Selain itu diimbau untuk menggunakan toren dan bak penampungan air sebagai langkah antisipasi apabila terjadi gangguan sambil menunggu perbaikan selesai dan pengaliran normal kembali.

“Sedangkan informasi pengaliran terbaru dapat dipantau di story Instagram kami di @perumdaairminumtirtakahuripan.” tutup Abdul Somad.

Sebagai bentuk kepedulian sosial kepada masyarakat, Perumda Air Minum Tirta Kahuripan menyalurkan sejumlah paket Bantuan Hari Raya yang berisi bahan pokok untuk masyarakat yang membutuhkan di sekitar kantor pusat, cabang pelayanan dan Instalasi Pengolahan Air.

Dan dalam kesempatan ini juga, Direksi beserta seluruh pegawai Perumda Air Minum Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor mengucapkan Taqabbalallahu minna wa minkum, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin. ***

Mirza Irhas Khalifah, Dari Sebuah Ketertarikan Menjadi Sebuah Penemuan

0

Bogordaily.net – Mirza Irhas Khalifah seorang perantau dari desa hingga ke kota, Mirza lahir di Desa Pungguk Meranti, Kecamatan Ujan Mas, Kepahiang, Bengkulu, 1 Agustus 2002, anak kedua dari tiga bersaudara.

Sebelum menjadi asisten dosen di prodi Ekowisata, perjalanan pendidikan Mirza cukup panjang, mulai dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Keatas hingga jenjang Universtas, Mirza ber-sekolah di SD negeri 11 Rejang Lebong, kemudian ia melanjutkan pendidikannya di SMP Kreatif Aisyiyah Jl. Kha Dahlan No.71, RT.09, Talang Rimbo Baru, Kec. Curup Tengah, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu.

Pada saat SMP Mirza layaknya anak-anak pada umumnya, bersekolah, bermain dan bersenang-senang, belum terpikir olehnya untuk menekuni di suatu bidang tertentu, hingga pada saat Mirza memasuki jenjang yang lebih tinggi, ia melanjutkan pendidikannya di SMA 04, Desa Teladan, Curup Selatan, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Sejak SMA Mirza mulai menyukai bidang robotik, maka dari itu ia mengambil jurusan IPA untuk mendukung kesukaannya, tetapi hari demi hari Ketertarikan nya pada bidang robotik mulai berkurang, namun pada kelas 3 menjelang kelulusan ia mulai menyukai di bidang kehutanan seperti tumbuhan dan satwa.

Pada saat itu juga, Mirza mulai mengambil penjurusan biologi untuk menunjang ketertarikannya pada tumbuhan dan satwa, didukung dengan kondisi geografis tempat tinggalnya yang masih kaya akan tumbuhan dan satwa, makin meyakinkan Mirza pada bidang nya. Menjelang kelulusan Mirza dinyatakan sebagai siswa Eligible di sekolahnya, alhasil ia mendaftar SNMPTN pada tahun 2020 lalu, ia mendaftar jurusan KSHE IPB ( Konservasi Sumberdaya dan Hutan) selain itu Mirza juga mendaftar melalu jalur USMI ( Undungan Seleksi Masuk IPB) jurusan Ekowisata dan Teknologi Produksi dan Pengembangan Masyarakat.

Sayangnya Mirza tidak lulus dalam jalur SNMPTN tetapi ia berhasil lulus pada jalur USMI pilihan pertama yaitu Ekowisata. Disinilah awal mula kisah rantau Mirza. Pada awal semester 1 hingga 3 Mirza melaksanakan kuliah secara online dikarenakan pandemi covid pada saat itu, hingga pada semester 4 ia mulai merantau ke Kota bogor. Dengan modal tekad untuk menuntut ilmu dan juga semangat belajar, Mirza berhasil menyelesaikan pendidikan D4 nya,

Sebelum lulus Mirza menyempatkan diri nya sebagai Asisten Dosen di jurusan Ekowisata, ia memiliki ketertarikan dalam hal mengajar. Mirza juga memiliki pengalaman professional yaitu ia pernah menjadi Surveyor Insekta di PT Harita pada tahun 2024 yang lalu, di pulau Obi, maluku Utara. Ia bekerja sebagai pemantauan satwa, ia bersama lima orang temannya bekerja dalam bidang-bidang yang berbeda, ada yang bekerja dalam taksa mamalia, ada juga yang bekerja dalam taksa tumbuhan dan Mirza sendiri bekerja sebagai tenaga ahli dibidang taksa serangga sesuai dengan minat dan bakatnya.

Bisa di bilang Mirza memiliki keterampilan khusus di bidang serangga di bandingan dengan teman-temannya, walaupun program studi Ekowisata mempelajari semua hal terkait tumbuhan, ekosistem, budaya dan satwa, tetapi setiap mahasiswa memiliki keterampilannya di bidang masing masing. Mirza ditugaskan oleh PT Harita untuk memantau jenis-jenis serangga apa saja yang terdapat di pulau Obi.

Berdasarkan pengalaman dan minatnya terhadap serangga, Mirza memutuskan untuk menyelesaikan tugas akhirnya yaitu skripsi yang berjudul “Perencanaan Ekonomi Capung di Pulau Belitung, Provinsi Bangka Belitung” jadi penelitian ini membahas terkait inventarisasi dan mengindentifikasi jenis jenis capung yang terdapat di Pulau Belitung.

Mirza melakukan penelitian selama 2 bulan lamanya dan mendapatkan hasil bahwa terdapat 75 jenis capung dan dua diantaranya endemic Belitung, yaitu 2 jenis yang hanya ada di pulau Belitung yang memiliki nama ilmiah Amphicnemis Kuiperi dan Mortonagrion Appendicaulatum,

Berdasarkan data data yang ia dapatkan, penelitian tersebut fokus terhadap satu Pulau Bangka Belitung, jadi setiap kecamatan menyimpan data jenis-jenis capung dan dari data-data tersebut Mirza jadikan sebuah program yang Bernama Nangkapi Induk Aik di setiap kecamatannya, dan apabila kecamatan ingin mengimplementasikan hanya cukup bermodalkan keinginan saja, karena dari itinerary target biaya, dari waktu segala macam sudah dibuatkan oleh Mirza.

Hal ini juga menjadikan salah satu pengabdian Mirza ke Masyarakat setempat. Selain itu, semua yang ia lakukan tidak luput dari peran orang tua dan kakak tingkatnya semasa di perkuliahan, perjuangan orang tuanya dalam memberikan fasilitas untuk pendidikan Mirza sangatlah berarti bagi Mirza, selain orang tuanya, terdapat sosok kakak tingkat Mirza yang menuntun dalam ketertarikan Mirza di bidang satwa yaitu serangga, kakak tingkatnya menyarankan kepada Mirza untuk menekuni di bidang Satwa karena ia melihat bahwa Mirza memiliki minat dan keinginan untuk memperdalam bidang tersebut.

Setelah lulus kuliah ia ingin sekali bekerja di Kementerian Kehutanan, serta menjadi Polhud atau Surveyor serta ingin berinovasi membuat destinasi desa ekowisata, bukan pariwisata lagi, karena sekarang masyarakat lebih tau mengenali desa Ekowisata atau pariwisata berkelanjutan, ia berharap setiap desa di Indonesia memanfaatkan serta memaksimalkan SDM yang ada di desa tersebut dengan cara memberikan fasilitas yang dibutuhkan.

Mensejahterakan masyarakat juga menjadi hal yang sangat penting dalam inovasi tersebut, pemberdayaan budaya setempat juga harus dilakukan karena budaya dapat menarik para wisatwan untuk mengunjungi desa tertentu, cari hal yang menarik yang terdapat di desa yang ingin

berinovasi, bisa dari alam nya, satwanya, budayanya bahkan adatnya, karena jika suatu budaya sudah dikenal oleh semua orang, maka budaya tersebut akan mudah di lestarikan oleh generasi selanjutnya, hal ini juga menunjukan ke masyarakat luar bahwa masyarakat desa tersebut bangga dengan kebudayaan dan alam yang dimilikinya, selain menaikan kebudayaan setempat, inovasi desa ekowisata juga dapat menaikan perekonomian masyarakat desa tersebut, semakin banyak turis yang datang, semakin banyak juga lapangan pekerjaan yang tercipta, hal ini dapat mewujudkan kesejahteraan di masyarakat. Maka dari itu penerapan desa ekowisata atau pariwisata berkelanjutan harus diterapkan di seluruh desa di Indoensia.***

 

Ahmad Baihaqi Sufyan

Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University

Strategi Menyeimbangkan Peran Manusia dan Teknologi

0

Bogordaily.net – Di tengah derasnya arus digitalisasi, kita menyaksikan transformasi fundamental dalam cara kita hidup, bekerja, dan berinteraksi. Smartphone, yang dulunya hanya alat komunikasi, kini menjelma menjadi pusat kendali kehidupan kita, mengatur hampir setiap aspek dari rutinitas harian hingga keputusan penting.

Namun, di balik kemudahan dan efisiensi yang ditawarkan oleh teknologi, muncul pertanyaan krusial: bagaimana nasib peran manusia di era yang semakin didominasi oleh kecerdasan buatan dan otomatisasi? Apakah kita akan digantikan oleh mesin, atau dapatkah kita menemukan cara untuk beradaptasi dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan potensi kita?

Revolusi Digital dan Dampaknya: Transformasi yang Menyeluruh

 Indonesia, seperti negara-negara lain di dunia, sedang mengalami transisi dari Era Industri 4.0 menuju Society 5.0, sebuah visi masyarakat yang berpusat pada manusia dan didukung oleh teknologi. Perubahan ini membawa dampak luar biasa dalam kehidupan sehari-hari.

Coba bayangkan, beberapa dekade lalu, untuk memesan makanan, kita harus mendatangi restoran atau menelepon, seringkali dengan keterbatasan pilihan dan informasi. Sekarang, cukup dengan beberapa ketukan di layar smartphone, kita dapat menjelajahi berbagai pilihan kuliner, membandingkan harga, membaca ulasan, dan memesan makanan yang akan diantar langsung ke depan pintu.

Hal serupa berlaku untuk transportasi, di mana aplikasi ride-hailing telah menggantikan taksi konvensional, menawarkan kemudahan, transparansi harga, dan opsi pembayaran yang beragam.

Namun, kemudahan dan efisiensi ini datang dengan konsekuensi yang perlu diperhatikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 menunjukkan bahwa angka pengangguran di Indonesia mencapai 5,83%, sebuah angka yang mengkhawatirkan.

Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap pengangguran adalah otomatisasi berbagai pekerjaan yang dulunya dikerjakan oleh manusia. Contohnya, mesin ATM telah mengurangi kebutuhan akan teller bank, sistem check-in otomatis di bandara mengurangi kebutuhan akan staf ground handling, dan chatbot semakin sering menggantikan peran customer service.

Transformasi Pekerjaan di Era Digital: Evolusi Keterampilan dan Peran

 Meskipun otomatisasi mengancam beberapa jenis pekerjaan, era digital juga menciptakan peluang baru yang menarik. Pekerjaan-pekerjaan baru bermunculan, menuntut keterampilan dan pengetahuan yang berbeda dari sebelumnya.

Content creator, social media manager, data analyst, dan UI/UX designer adalah contoh pekerjaan yang relatif baru dan sangat diminati di era digital. Ini menunjukkan bahwa teknologi tidak sepenuhnya menggantikan manusia, tetapi lebih tepatnya mengubah lanskap pekerjaan, menciptakan kebutuhan akan keterampilan baru dan adaptasi yang berkelanjutan.

Keunggulan Manusia di Era Teknologi

Meskipun teknologi terus berkembang dengan pesat, ada beberapa aspek yang membuat manusia tetap unggul dan tidak tergantikan. Kemampuan unik manusia dalam berbagai bidang memastikan bahwa peran kita tetap relevan di tengah revolusi digital.

Kreativitas dan inovasi menjadi keunggulan utama yang dimiliki manusia. Kita memiliki kemampuan unik untuk berpikir “di luar kotak” dan menciptakan solusi kreatif untuk masalah yang kompleks.

Kecerdasan buatan (AI) mungkin dapat menghasilkan konten berdasarkan data yang ada, tetapi ide-ide orisinal dan terobosan inovatif tetap berasal dari pemikiran manusia. Imajinasi tanpa batas dan kemampuan untuk menghubungkan konsep yang tampaknya tidak berhubungan adalah kekuatan manusia yang belum bisa ditiru oleh mesin.

Selain itu, kecerdasan emosional menjadi pembeda signifikan antara manusia dan teknologi. Robot dan AI mungkin dapat mengenali ekspresi wajah atau menganalisis sentimen, tetapi mereka tidak benar-benar memahami emosi.

Kemampuan berempati, membangun hubungan, memahami konteks sosial, dan berkomunikasi secara efektif tetap menjadi keunggulan manusia yang sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pekerjaan.

Nuansa emosional dalam interaksi manusia menciptakan koneksi yang tidak dapat diduplikasi oleh mesin. Pengambilan keputusan kompleks juga tetap menjadi domain manusia.

Meskipun AI dapat menganalisis data dengan cepat dan memberikan rekomendasi berdasarkan algoritma, keputusan yang membutuhkan pertimbangan etis, moral, dan kontekstual tetap memerlukan penilaian manusia.

Manusia dapat mempertimbangkan nilai-nilai, norma, dan konsekuensi jangka panjang yang mungkin tidak dapat diprediksi oleh mesin.

Kemampuan untuk menimbang berbagai faktor tak terukur dan menggunakan intuisi berdasarkan pengalaman hidup memberikan keunggulan yang tidak dapat direplikasi oleh teknologi.

Strategi Adaptasi di Era Digital: Mempersiapkan Diri untuk Masa Depan

Untuk tetap relevan dan sukses di era digital, kita perlu mengembangkan strategi adaptasi yang komprehensif. Upaya ini tidak hanya tentang menguasai teknologi terbaru, tetapi juga tentang mengembangkan berbagai aspek diri yang tidak dapat digantikan oleh automasi dan kecerdasan buatan.

Upgrade skill secara berkelanjutan menjadi fondasi penting dalam beradaptasi. Kita perlu mempelajari keterampilan digital dasar, seperti penggunaan komputer, internet, media sosial, dan aplikasi produktivitas yang relevan.

Lebih dari itu, penting untuk selalu mengikuti perkembangan teknologi terbaru dan mempelajari keterampilan yang sesuai dengan bidang pekerjaan kita.

Yang tidak kalah krusial adalah meningkatkan kemampuan yang tidak dapat digantikan oleh mesin, seperti kreativitas, pemecahan masalah kompleks, dan komunikasi interpersonal yang efektif.

Pengembangan soft skills juga memainkan peran vital dalam strategi adaptasi. Kemampuan komunikasi yang efektif, baik lisan maupun tulisan, menjadi kunci dalam berinteraksi di dunia yang semakin terhubung.

Kemampuan bekerja dalam tim dan berkolaborasi dengan orang lain dari berbagai latar belakang dan disiplin ilmu menjadi aset berharga.

Selain itu, kemampuan memecahkan masalah secara kreatif dan inovatif, serta adaptabilitas terhadap perubahan yang cepat akan membuat kita lebih tangguh menghadapi disrupsi teknologi.

Pemanfaatan teknologi sebagai alat, bukan sebagai pengganti, merupakan pendekatan strategis lainnya. Kita harus bijak menggunakan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam pekerjaan, sambil tetap fokus pada tugas-tugas yang membutuhkan sentuhan manusia, seperti interaksi dengan pelanggan, pengembangan strategi, dan pengambilan keputusan kompleks.

Mengkombinasikan keterampilan teknis dengan kreativitas dan pemikiran kritis akan membantu kita menciptakan nilai tambah yang sulit direplikasi oleh mesin.

Membangun personal branding menjadi langkah penting dalam membedakan diri di pasar yang kompetitif. Ini dimulai dari menemukan keunikan diri dan mengidentifikasi apa yang membedakan kita dari orang lain.

Dengan mengenali dan mengembangkan diferensiasi ini, kita dapat memposisikan diri sebagai profesional yang tidak mudah tergantikan di era otomatisasi dan kecerdasan buatan.Bangun kehadiran online yang profesional melalui website, media sosial, dan platform profesional.

Jalin networking dengan kolega, mentor, dan profesional di bidang Anda.Teknologi memang mengubah lanskap pekerjaan dan kehidupan kita, tetapi bukan berarti peran manusia akan hilang.

Justru era digital menuntut kita untuk lebih mengoptimalkan potensi-potensi unik yang tidak dimiliki oleh mesin, seperti kreativitas, kecerdasan emosional, dan kemampuan pengambilan keputusan yang kompleks.

Kuncinya bukan melawan arus digitalisasi, tetapi beradaptasi, belajar, dan memanfaatkan teknologi untuk pengembangan diri dan kemajuan masyarakat.

Terpenting adalah bagaimana kita dapat menjadikan teknologi sebagai alat untuk memajukan diri dan masyarakat, bukan malah sebaliknya. Dengan strategi yang tepat dan pengembangan diri yang berkelanjutan, kita dapat tetap relevan, sukses, dan bahkan unggul di era digital ini. Masa depan ada di tangan kita, dan kita memiliki kekuatan untuk membentuknya.***

 

Siti Nur Aistatul Fajri

Komunikasi Digital dan Media

Sekolah Vokasi IPB

 

Oversharing di Media Sosial menjadi Komunikasi Strategis atau Ajang Pencitraan?

0

Oleh: Siti Nur Aistatul Fajri,  Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB

 

Di era digital yang serba terhubung ini, media sosial telah mengubah cara kita berkomunikasi dan membangun identitas diri. Setiap hari, jutaan orang membagikan potongan-potongan kehidupan mereka dari momen bahagia hingga kesulitan pribadi pada platform yang bisa diakses siapa saja. Namun, fenomena oversharing atau berbagi berlebihan tentang kehidupan pribadi menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah ini merupakan strategi komunikasi yang terencana, atau sekadar ajang pencitraan demi eksistensi digital?

Sebagai strategi komunikasi, oversharing memang memiliki nilai strategis tersendiri. Banyak figur publik dan influencer secara sengaja membuka tirai kehidupan personal mereka untuk membangun kedekatan emosional dengan pengikutnya. Konsep storytelling pribadi dianggap lebih relatable dan terbukti meningkatkan engagement. Ketika seorang influencer membagikan perjuangan di balik kesuksesannya atau saat selebritis memperlihatkan sisi kesehariannya yang “biasa saja”, terciptalah ilusi kedekatan yang membuat audiens merasa terhubung. Strategi ini sering kali berhasil mengubah followers menjadi komunitas yang loyal dan responsif.

Namun, di sisi lain, oversharing juga kerap menjadi alat pencitraan untuk menciptakan persepsi “sempurna” di mata publik. Feed yang dipenuhi pencapaian, liburan mewah, atau curahan hati yang tampak mendalam seringkali hanyalah topeng digital untuk meraih validasi. Hal ini menciptakan realitas virtual yang terdistorsi, di mana pemilik akun secara selektif hanya menampilkan aspek-aspek kehidupan yang ingin dilihat orang lain. Fenomena “highlight reel” ini menciptakan kesenjangan antara citra yang ditampilkan dan realitas sebenarnya.

Dampak oversharing pada audiens juga tidak bisa diabaikan. Konsumsi berlebihan atas potongan-potongan kehidupan orang lain di media sosial memicu fenomena comparison trap dan FOMO (Fear of Missing Out) yang berdampak signifikan pada kesehatan mental. Penelitian menunjukkan bahwa paparan konstan terhadap “kehidupan sempurna” orang lain dapat menurunkan tingkat kepuasan hidup dan meningkatkan kecemasan sosial. Paradoksnya, meskipun media sosial dirancang untuk menghubungkan, oversharing justru dapat menciptakan isolasi emosional dan rasa tidak cukup.

Lalu, sampai mana kehidupan pribadi boleh dibagikan? Batasan antara keterbukaan yang otentik dan eksploitasi diri sendiri sangatlah tipis. Oversharing yang tidak terkontrol dapat membahayakan privasi, membuka celah untuk cyberbullying, dan bahkan berdampak pada hubungan personal dan profesional. Di satu sisi, transparansi dapat membangun kepercayaan, di sisi lain terlalu banyak informasi dapat menjadi bumerang yang merusak reputasi.

Fenomena oversharing di media sosial sesungguhnya adalah pedang bermata dua. Jika dilakukan secara sadar dan terencana, ia bisa menjadi strategi komunikasi yang efektif untuk membangun komunitas dan mendukung tujuan personal atau profesional. Namun, tanpa kontrol dan kesadaran diri, oversharing hanya akan menjebak kita dalam pusaran pencitraan semu yang berisiko merusak citra itu sendiri. Kita perlu menyadari bahwa di balik setiap postingan, ada keputusan editorial yang menentukan narasi digital kita.

Sebagai pengguna media sosial, kita perlu membangun literasi digital yang lebih baik, kemampuan untuk membedakan antara autentisitas dan pencitraan, serta kebijaksanaan untuk membatasi konsumsi dan berbagi informasi pribadi. Hanya dengan kesadaran inilah kita dapat memanfaatkan media sosial sebagai alat komunikasi yang sehat, bukan sekadar panggung pencitraan yang merusak.***

Ketika Informasi Adalah Mata Uang: Perjuangan Masyarakat dalam Mengakses Kebenaran

0

Bogordaily.net – Di zaman kolonial, akses terhadap informasi sangat terbatas. Hanya golongan tertentu yang berhak membaca berita, memahami politik, dan menentukan arah kebijakan. Kini, kita hidup di era digital, di mana informasi mengalir deras tanpa batas. Namun, pertanyaannya: apakah masyarakat benar-benar lebih tercerahkan, atau justru semakin tersesat dalam pusaran informasi yang simpang siur?

Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo, 2022), Indeks Literasi Digital Indonesia berada di angka 3,54 dari skala 5, yang berarti masyarakat kita masih berada di tingkat pemahaman yang sedang dalam memilah informasi. Data dari UNESCO (2022) menunjukkan bahwa 68% masyarakat menilai media sosial sebagai tempat utama penyebaran hoaks. Ini menandakan bahwa kebebasan informasi tidak serta-merta membuat masyarakat lebih sadar akan kebenaran. Justru, semakin bebas akses informasi, semakin banyak juga tantangan dalam memastikan keakuratan dan kredibilitasnya.

Sejak dahulu, informasi digunakan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan. Di masa kolonial, pemerintah Hindia Belanda mengendalikan surat kabar dan menerapkan sensor ketat terhadap tulisan yang dianggap berbahaya. Pramoedya Ananta Toer (1980) dalam bukunya Tetralogi Buru menggambarkan bagaimana kebebasan berpikir dan berbicara menjadi momok yang ditakuti oleh penguasa. Kini, meski tidak ada lagi penjajahan fisik, masyarakat tetap dikendalikan melalui informasi.

Media sosial, yang seharusnya menjadi wadah kebebasan berekspresi, justru menjadi alat untuk memanipulasi opini publik. Algoritma media sosial menentukan apa yang harus kita baca, iklan politik membentuk persepsi publik, dan berita palsu menggiring opini. Kominfo (2023) mencatat lebih dari 11.642 konten hoaks yang tersebar di internet hingga Mei. Hoaks politik, kesehatan, dan agama menjadi yang paling banyak ditemukan. Keadaan ini menunjukkan bahwa kendali terhadap informasi masih berada di tangan segelintir pihak yang memiliki akses dan kekuatan untuk membentuk narasi.

Dalam konteks politik, misinformasi sering kali digunakan untuk mendiskreditkan lawan atau memengaruhi hasil pemilu. Studi dari Oxford Internet Institute (2021) mengungkapkan bahwa kampanye disinformasi politik telah meningkat secara global, termasuk di Indonesia. Di tingkat lokal, Pemilu 2019 menjadi salah satu contoh bagaimana penyebaran hoaks dapat mempengaruhi pemilih. Laporan dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo, 2019) menunjukkan bahwa selama periode pemilu, hoaks politik meningkat hingga 61,86% dibandingkan tahun sebelumnya.Ironisnya, di era kebebasan informasi, justru semakin sulit memilah mana yang benar dan mana yang sekadar manipulasi. Survei yang dilakukan oleh Katadata Insight Center (2023) menunjukkan bahwa hanya 21%-36% masyarakat yang mampu mengenali hoaks dengan benar. Mayoritas dari mereka mudah terpengaruh oleh narasi yang bersifat emosional dibandingkan dengan fakta yang objektif.

Hal ini sejalan dengan teori agenda-setting yang dikemukakan oleh McCombs dan Shaw (1972), di mana media memiliki kekuatan untuk membentuk isu yang dianggap penting oleh masyarakat. Akibatnya, hoaks yang tersebar luas dapat menggeser persepsi publik terhadap suatu peristiwa atau kebijakan. Contohnya adalah bagaimana hoaks terkait pandemi COVID-19 menyebar begitu cepat, menyebabkan ketidakpercayaan terhadap vaksinasi di kalangan masyarakat. Data dari WHO dan UNICEF (2021) menunjukkan bahwa sekitar 37% masyarakat Indonesia masih ragu atau menolak vaksinasi COVID-19 karena disinformasi yang beredar luas di media sosial.

Selain itu, penyebaran informasi yang cepat juga dipengaruhi oleh echo chamber dan filter bubble, di mana pengguna media sosial cenderung hanya terpapar dengan informasi yang sesuai dengan pandangan mereka sendiri. Hal ini semakin memperparah polarisasi di masyarakat. Misalnya, dalam isu politik atau agama, kelompok tertentu hanya akan mengonsumsi berita yang memperkuat keyakinan mereka tanpa mempertimbangkan perspektif lain. Hal ini berpotensi memperlebar jurang perbedaan dan menciptakan ketidakstabilan sosial.

Jika masyarakat tidak aktif dalam menyaring dan menyebarkan informasi yang benar, mereka hanya akan menjadi objek dalam permainan informasi. Langkah awal yang perlu diambil adalah meningkatkan literasi digital dan membangun kesadaran kritis dalam masyarakat. Berdasarkan survei oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII, 2023), sekitar 210 juta masyarakat Indonesia menggunakan internet, tetapi tingkat literasi digital yang rendah membuat banyak di antaranya menjadi korban manipulasi informasi.

Dalam menghadapi tantangan ini, peran pemerintah, media, dan institusi pendidikan menjadi sangat penting. Pemerintah harus lebih proaktif dalam menyaring dan menindak penyebaran hoaks, bukan sekadar memberikan regulasi yang belum tentu efektif. Media arus utama juga harus lebih mengedepankan prinsip jurnalistik yang objektif dan bertanggung jawab. Sementara itu, pendidikan literasi digital harus dimasukkan dalam kurikulum sekolah agar generasi muda memiliki keterampilan berpikir kritis sejak dini.

Informasi adalah senjata sekaligus perangkap. Di satu sisi, ia membuka wawasan, di sisi lain, ia bisa menyesatkan. Seperti yang ditunjukkan oleh berbagai data, masyarakat masih memiliki tantangan besar dalam memilah informasi yang benar. Hoaks dan propaganda terus merajalela, membentuk opini publik sesuai dengan kepentingan tertentu. Oleh karena itu, masyarakat harus lebih kritis, tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mempertanyakan dan mengolahnya.

Literasi digital harus menjadi agenda utama dalam pendidikan, agar setiap individu memiliki kemampuan untuk bertahan dalam arus informasi yang semakin deras. Sebab, di era modern ini, kebenaran bukan hanya sesuatu yang ditemukan, tetapi juga sesuatu yang harus diperjuangkan. Masyarakat yang cerdas dalam memilah informasi adalah kunci bagi demokrasi yang sehat dan masa depan yang lebih baik.***

 

Muhammad Umar Budiman

Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB.

 

Peningkatan Kompetensi Guru: Sebuah Pergulatan Panjang Sebuah Bangsa

0

Oleh: Muhammad Umar Budiman, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Dari sekian banyak pekerjaan di dunia, barangkali dan dirasa benar; menjadi guru adalah yang paling tak terlihat hasilnya, paling lambat menuai, namun halnya paling menentukan arah suatu bangsa. Seorang dokter menyembuhkan tubuh yang luka, tetapi seorang guru? Ia membangun, mendidik, juga memberi jalan pada manusia dan hari depannya—dalam keseluruhan hidupnya.

Namun, mereka yang dituntut membentuk masa depan justru dibiarkan tertinggal, berjuang sendiri dalam ketidaktahuan yang sistemik.

Lalu, bagaimana mungkin sebuah bangsa berharap maju jika pilar-pilar pendidikannya rapuh? Bagaimana mungkin kita berbicara tentang masa depan jika mereka yang bertugas membentuknya justru dibiarkan berjalan tanpa pegangan?

Peningkatan kompetensi guru bukan sekadar formalitas, bukan proyek pelatihan yang berakhir di lembar laporan. Ia adalah sebuah pergulatan panjang sebuah bangsa.

Setiap ketidakadilan harus dilawan, walaupun hanya dalam hati. Dan seorang Pramoedya bilang seorang terpelajar harus berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan. Maka bukankah membiarkan guru tertinggal dalam kebodohan struktural adalah sebuah ketidakadilan?

Jadi Guru dan Murid Sekaligus, Seorang guru bukanlah tempat bersemayamnya kebenaran mutlak. Sebagaimana murid, ia pun harus belajar, harus beradaptasi, harus menyusun ulang pemahamannya seiring dengan perubahan zaman.

Dunia terus berkembang, pun juga ilmu pengetahuannya, bergerak tanpa menunggu siapa pun, dan hanya guru yang bersedia menjadi murid yang dapat bertahan dalam arus ini. Apakah yang terjadi jika guru tidak diberikan kesempatan untuk belajar?

Jika ia hanya dituntut mengajar tanpa diberikan ruang yang memadai untuk meningkatkan dirinya? Sistem yang menganggap guru sebagai mesin penyampai ilmu, tanpa kebutuhan untuk berkembang, adalah juga yang menghancurkan masa depan.

Sebab, bagaimana mungkin seorang guru yang tak pernah diberi ruang untuk belajar dapat melahirkan murid-murid yang kritis dan tajam pikirannya?

Di banyak tempat, pendidikan masih diperlakukan sebagai beban administratif, bukan sebuah ekosistem yang harus terus dipupuk dan dikembangkan. Seorang guru tidak hanya butuh pengakuan, tetapi juga dukungan nyata dalam bentuk akses terhadap ilmu terbaru, metode pengajaran mutakhir, hingga kesempatan untuk berjejaring dan bertukar gagasan. Ketidakadilan bukan hanya dalam bentuk gaji yang kecil atau fasilitas yang minim, tetapi juga dalam bentuk pembiaran terhadap ketertinggalan mereka.

Kasus-kasus nyata di Indonesia menggambarkan betapa guru masih berjuang sendirian dalam keterbatasan. Di daerah terpencil, banyak guru yang harus menempuh perjalanan berjam-jam, melewati medan sulit, hanya untuk mengajar di sekolah dengan fasilitas seadanya.

Sebagian dari mereka adalah guru honorer yang sudah mengabdi bertahun-tahun dengan gaji di bawah standar hidup layak, tanpa kepastian status kepegawaian. Beberapa kebijakan peningkatan kualitas guru pun masih terjebak dalam seremonial belaka, seperti pelatihan yang hanya bersifat formalitas tanpa pendampingan berkelanjutan. Jika kita menutup mata terhadap kenyataan ini, kita sedang membiarkan masa depan bangsa terabaikan.

Bahasa kasih sayang yang tidak diarahkan pada masa depan yang lebih pelik dan beragam adalah juga kekeliruan yang harus dibetulkan. Menghormati guru bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan memastikan bahwa mereka tidak berjalan sendirian dalam tugasnya.

Negara, masyarakat, dan seluruh ekosistem pendidikan harus menjadi bagian dari usaha ini. Tanpa kasih sayang kepada mereka yang mendidik, tanpa perhatian yang sungguh-sungguh terhadap perkembangan mereka, bagaimana kita bisa berharap generasi mendatang akan tumbuh dengan ilmu yang luas dan jiwa yang besar?

Maka, perjuangan ini bukan sekadar untuk guru, melainkan untuk semua. Sebab pendidikan adalah urusan bersama, dan peningkatan kompetensi guru adalah syarat mutlak bagi peradaban yang ingin terus hidup. Jika kita masih diam melihat ketidakadilan ini, maka kita pun bagian dari kebobrokan yang membiarkan harapan bangsa berjalan pincang.

Pendidikan bukan sekadar persoalan kurikulum yang diubah setiap pergantian menteri, bukan hanya tentang bangunan sekolah yang dicat ulang saat pejabat datang berkunjung. Pendidikan adalah denyut nadi suatu bangsa, dan guru adalah jantungnya.

Jika jantung melemah, bagaimana mungkin darah kehidupan bisa mengalir dengan baik? Kita tidak bisa terus berharap dari mereka yang dibiarkan bertahan sendiri di dalam keterbatasan.

Sudah saatnya kita berhenti bicara tentang pendidikan hanya dalam seminar dan pidato seremonial. Sudah saatnya kita benar-benar mendengar suara mereka yang selama ini dipaksa bertahan dalam diam. Karena jika seorang guru tetap dibiarkan berjalan tanpa cahaya, maka kita semua sedang berjalan menuju kegelapan yang lebih pekat.***

 

 

 

Perjalanan Ibadah ke Tanah Suci

0

Bogordaily.net – Pengalaman pertama ketika melakukan perjalanan ibadah ke tanah suci Madinah dan Mekkah bersama keluarga, awal mula perjalanan suci ini sama sekali tidak di rencanakan jauh-jauh hari oleh orang tua saya.

Cerita ini dimulai ketika saya sedang berada di dalam kelas pada tanggal 11 September 2024, ketika itu saya sedang menyimak dosen sedang berbicara.

Kemudian saya mendengar notif handphone saya berbunyi, setelah saya cek ternyata ibu saya mengirim pesan kepada saya.

Saya berpikir kalau pesan ini penting, maka dari itu saya menyempatkan untuk buka pesan tersebut, setelah saya buka, pesan pertama yang beliau katakan kepada saya seperti ini “kt ayah mau umroh gk”.

Saya merasa shock dan senang di waktu yang bersamaan. Akhirnya cita-cita saya dari kecil terwujud, tetapi saya tidak langsung meng iyakan pertanyaan ibu saya.

Saya menanyakan kembali seputar waktu dan biaya, tetapi ibu saya menjamin semua itu berjalan lancar, serta jadwal umroh saya disesuaikan dengan libur semester kuliah.

Setelah saya lihat jadwal libur saya, hal ini memungkinkan untuk di jalankan, akhirnya saya mengiyakan ajakan orang tua saya.

Hari demi hari saya lewati, mulai sedikit-sedikit belajar tentang tata cara ibadah umroh dan sebagainya, saya sangat exicited menunggu hari keberangkatan, saya masih tidak menyangka bahwa saya di panggil secepat ini untuk mengunjungi tempat suci tersebut.

Hari libur pun tiba, ketika itu tanggal 14 Desember 2024 saya akhirnya pulang kerumah, jadwal keberangkatan saya di tanggal 22 Desember 2024, diantara tanggal 14-22.

Saya bersama teman-teman saya membuat film, saya mengatur jadwal syuting agar bisa selesai sebelum saya berangkat ke tanah suci, syuting film saya buat selama 5 hari.

Dari tanggal 16-20, tetapi pada tanggal 20 ada beberapa teman teman saya yang tidak bisa syuting, alhasil jadwal syuting pun dimundurkan menjadi tanggal 21, yang mana tanggal 22 nya saya harus berangkat untuk umroh, setelah saya estimasi waktu syuting, saya pikir semua kebutuhan syuting terpenuhi.

Tanggal 21 saya memulai syuting hari terakhir, di mulai dari jam 8 pagi hingga pukul 6 sore, tanpa disadari saya terlalu lama dalam syuting, orang tua saya menghubungi saya untuk pulang, karena saya harus berangkat pukul tiga pagi.

Setelah syuting selesai, saya bergegas untuk pulang terlebih dahulu ke rumah, sesampai di rumah sekitar jam 9 malam, dan saya harus bergegas untuk istirahat, tidak lama saya beristirahat, saya harus bangun pada pukul 2 pagi untuk bersiap- siap menuju bandara soekarna Hatta.

Setelah bersiap-siap saya langsung bergegas menuju ke Bandara Internasional Soekarna Hatta pada pukul tiga pagi bersama rombongan yang lain. Sesampainya di bandara, pesawat yang akan kami naiki ternyata mengalami delay pemberangkatan, tetapi delay tersebut tidak terlalu lama, hanya 2 jam.

Rasanya badan saya belum cukup untuk beristirahat karena jadwal yang sangat padat, kemudian jam menunjukan pukul 5 pagi waktu Indonesia, pesawat pun mulai boarding, saya bersama keluarga bergegas memasuki pesawat.

Setelah di dalam pesawat, pramugari memberikan pemberitahuan terkait keamanan dan sebagainya, dan yang membuat saya lumayan kaget, ternyata perjalanan menuju Bandara King Abdul Aziz, Jeddah memakan waktu sekitar 9 jam 53 menit.

Dengan handphone yang tidak memiliki sinyal, saya berpikir bagaimana nanti di udara saya bisa menikmati perjalanan, dan saya berpikir “oh saya bisa tidur kok nanti, mumpung belum tidur lama juga dari kemarin”. Pesawat pun mulai take off meninggalkan Bandara Soekarna Hatta.

Mulai dari 1-2 jam pertama, saya masih bisa menikmati perjalanan ini. Setelah di 2-3 jam pesawat lepas landas, saya merasa ngantuk, dan mencoba untuk tidur, tetapi ketika saya mencoba untuk tidur, pesawat mengalami turbulensi yang menyebabkan saya tidak bisa tertidur. Bahkan sampai 6 jam di perjalanan, badan mulai terasa pegal dan sakit karena terlalu lama duduk.

Ternyata di depan tempat duduk saya terdapat TV yang bisa menonton film-film terkenal seperti Marvel dan DC. Akhirnya 4 jam sisa perjalanan saya habiskan untuk menonton film Superman dan juga the Batman, tidak terasa pesawat pun landing di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah.

Pandangan pertama saya melihat negara Arab sesuai dengan expetasi saya, hamparan gurun yang luas, geresang, dan tidak ada pohon rindang. Tetapi yang saya kaget kan, ternyata udara di sana ketika itu lumayan sejuk tidak seperti yang saya bayangkan, suhu pada siang hari hanya mencapai 20 derajat celcius, hal ini bisa di bilang dingin.

Setelah saya turun dari pesawat saya langsung menuju ke bis untuk perjalanan ke kota Madinah, awalnya saya berpikir jika jarak dari Bandara King Abdul Aziz ke kota Madinah hanya sekitar 10-15 KM saja, ternyata setelah diberi tau oleh pembimbing rombongan umroh saya, jarak dari bandara ke kota Madinah sekitar 385,6 KM.

Setelah mendengar hal itu, akhirnya saya memutuskan untuk tidur sepanjang perjalanan. Tidak terasa saya sudah sampai di kota suci Madinah.

Jam menujukan pukul 11 malam waktu Madinah, ketika saya turun di bis untuk menuju ke hotel, udara di sana benar benar sangat dingin, mencapai suhu 11 derajat celcius.

Sesampainya di dalam hotel saya bergegas untuk sholat magrib dan isya kemudian tidur. Hari demi hari saya jalani di kota Madinah, mulai dari sholat shubuh, dzuhur, ashar, magrib dan isya.

Sholat disana sangat amat nyaman, suasanya benar-benar tidak ingin meninggalkan kota suci tersebut, saya juga mengunjungi makan Nabi Muhammad SAW.

Banyak sekali manusia yang igin melihat makan baginda, alhamdulillah saya melihat dengan jarak yang sangat dekat dengan makam baginda, dan tidak sadar air mata saya mengucur sangat deras.

Setelah tiga hari saya berada di kota Madinah, saya menuju ke kota Mekah untuk melaksanakan ibadah umroh. saya berangkat dari Madinah pukul 8 malam ba’da isya dan menempuh jarak 439,9 KM.

Di perjalanan saya melipir ke tempat yang bernama Bir Ali untuk melaksanakan miqat (start umroh) untuk memakai pakaian ihrom dan melaksanakan niat umroh.

Setelah 4 jam perjalanan, saya sampai di kota Mekah pada pukul 11 malam. Saya kira setelah sampai Mekah saya bisa beristirahat, ternyata saya bersama rombongan langsung melaksanakan umroh pada pukul 11 malam, karena rasa senang dan excited yang sangat membara, saya semangat untuk melaksanakannya.

Pada hari itu, pertama kali saya melihat Masjidil haram yang sangat megah dan mewah. Berjuta juta manusia berkumpul untuk melaksanakan ibadah yang sama.

Hati terasa bergetar ketika melihat secara langsung Ka’bah yang sangat besar, air mata pun tidak terasa berjatuhan. Ibadah tawaf dimulai dengan putaran pertama, iringan doa senantiasa keluar dari setiap mulut manusia.

Setelah putaran ketujuh, saya melanjutkan ke ibadah selanjutanya yaitu sai. Sai adalah berjalan jalan kecil di antara Bukit Safa dan Marwah, hal ini untuk memperingati perjuangan Siti Hajar dalam mencari air untuk Nabi Ismail.

Tujuh putaran saya lalui dengan lancar, kemudian dilanjutkan dengan rangkaian ibadah umroh yang terkahir yaitu tahalul (memotong rambut).

Orang yang memotong rambut orang lain, sudah harus di potong oleh orang lain juga sebelumnya, agar ibadah ini menjadi sah. Setelah melaksanakan rangkaian ibdaha umroh yang sangat melelahkan

tetapi juga terasa menyenangkan, tidak terasa jam sudah menujukan pukul setengah 4 pagi, saya bersama keluarga menuju ke hotel untuk bersih-bersih dan sholat subuh, sekitar jam 6 barulah kegiatan umroh wajib selesai.

Saya akhirnya bisa merasakan kasur hotel di Mekah. Hari demi hari saya lewati dengan senang di kota Mekkah, saya juga melakukan city tour yang tediri dari Jabal Nur, Bukit Arafah, makam para sahabat , dan juga kebun kurma.

Serunya di kebun kurma kita tidak hanya bisa memakan kurma gratis tetapi juga coklat dan aneka oleh-oleh secara gratis, tetapi syaratnya harus makan dan dihabiskan di tempat tersebut.

Modalnya hanya mengucap “halal halal” Maka penjual nya akan memberikan secara gratis. Setelah semua rangkaian ibadah umroh telah saya lakukan, akhirnya hari perpisahan itu tiba.

Saya pulang ke Indonesia pada tanggal 30 Desember 2024, saya merasa sangat rindu dengan tanah air. Rindu dengan hijaunya pepohonan, hujannya yang sangat lebat dan orang orang yang ada di dalamnya.

Di lain sisi, saya harus meninggalkan kota yang sangat suci, kota yang memiliki sejarah yang sangat banyak, kota nya para nabi.

Saya sangat sedih ketika harus meninggalkan Arab Saudi, tetapi hati rindu akan tanah air juga tidak bisa di tahan. 10 jam di udara menuju Bandara Soekarna Hatta, saya sampai pada pukul 12 siang.

ketika landing, lagu tanah air ku berkumandang di pesawat, melihat pepohonan dan juga pemukim warga yang sangat padat.

Air mata saya mulai berjatuhan, ternyata benar, lirik “biarpun saya pergi jauh, tidaklah hilang dari kalbu”.

Tanah air adalah tempat saya, kampung halaman saya, saya benar benar mencintai negara ini, rasa rindu saya mulai terobati ketika para keluarga menunggu di pintu bandara, mereka menangis karena anggota keluarga mereka pulang dengan selamat.

Pengalaman ini saya akan kenang selama hidup saya, banyak sekali pengalaman berharga yang saya dapatkan, dan yang paling penting saya akan berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi, dan menceritakan pengalamannya ini kepada teman teman semuanya, agar semua teman teman saya merasakan apa yang saya rasakan.***

Ahmad Baihaqi Sufyan

Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB