Monday, 6 April 2026
Home Blog Page 861

Masa Depan Apresiasi Seni di Era Digital

0

Oleh: Putri Yuliadisti – Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University

Seni selalu menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia, baik sebagai cara mengekspresikan perasaan maupun menyampaikan pesan. Namun, dengan berkembangnya teknologi, cara kita menikmati dan menghargai seni juga ikut berubah. Dulu, untuk melihat sebuah karya seni, kita harus datang ke galeri, museum, atau pameran langsung. Sekarang, seni dapat dengan mudah ditemukan di media sosial seperti Instagram, TikTok, ataupun Pinterest.

Hal ini tentunya memberikan banyak manfaat, terutama bagi seniman yang ingin menampilkan karya mereka ke lebih banyak orang. Kini, siapa saja bisa melihat dan menikmati seni tanpa harus pergi ke tempat tertentu. Seniman pun tidak perlu lagi bergantung pada galeri atau pameran untuk mendapatkan pengakuan. Media sosial memungkinkan mereka menjangkau audiens yang lebih luas dengan hanya mengunggah karya mereka ke internet.

Namun, ada juga tantangan yang muncul. Salah satunya adalah cara orang mengapresiasi seni. Sebelumnya, melihat karya seni membutuhkan waktu untuk memahami makna dan detailnya. Kini, banyak orang hanya melihat seni dalam hitungan detik sebelum beralih ke konten berikutnya. Seni tidak lagi dinikmati dengan penuh perhatian, tetapi lebih sebagai hiburan singkat yang mudah berlalu.

Selain itu, media sosial bekerja dengan algoritma, yaitu sistem yang menentukan konten mana yang lebih sering muncul di beranda pengguna. Algoritma ini lebih mementingkan jumlah like, komentar, dan share dibandingkan kualitas karya itu sendiri. Akibatnya, karya yang cepat menarik perhatian dan mudah viral lebih sering muncul, sementara karya yang lebih kompleks dan membutuhkan pemahaman mendalam sering kali tenggelam.

Situasi ini menimbulkan dilema bagi seniman. Mereka harus memilih antara tetap setia pada gaya seni mereka atau mengikuti tren agar lebih mudah dikenal. Jika mereka mengikuti selera pasar, karya mereka mungkin lebih cepat terkenal tetapi bisa kehilangan keunikan. Sebaliknya, jika mereka bertahan dengan gaya sendiri, ada risiko karya mereka tidak mendapat banyak perhatian.

Meskipun begitu, bukan berarti apresiasi seni akan hilang di era digital. Ada banyak cara agar seni tetap dihargai dengan baik. Pertama, kita sebagai penikmat seni bisa lebih selektif dalam memilih karya yang kita dukung. Daripada hanya melihat karya yang viral, kita bisa meluangkan waktu untuk memahami pesan dan usaha yang ada di balik sebuah karya. Kedua, seniman bisa menggunakan media sosial sebagai alat untuk membangun komunitas yang benar-benar menghargai seni, bukan sekadar mencari popularitas.

Selain itu, teknologi juga bisa digunakan untuk meningkatkan pengalaman dalam menikmati karya seni. Misalnya, dengan Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR), kita bisa melihat pameran seni digital yang lebih interaktif. Dengan cara ini, karya seni tetap bisa dinikmati dengan lebih mendalam, meskipun melalui platform digital.

Dunia digital saat ini memang mengubah cara kita mengakses dan mengapresiasi seni. Media sosial membuka peluang besar bagi seniman, tetapi juga membawa tantangan dalam cara kita memahami dan menikmati karya seni. Oleh karena itu, kita perlu menemukan keseimbangan antara menikmati kemudahan akses seni dan tetap memberikan apresiasi yang pantas bagi setiap karya. Dengan begitu, seni tidak hanya menjadi tren sesaat, tetapi tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia.***

Diresmikan Presiden Prabowo, Stadion Pakansari Masuk 17 Stadion Berstandar FIFA di Indonesia

Bogordaily.net – Stadion Pakansari Cibinong, Kabupaten Bogor masuk dalam 17 Stadion yang telah berstandar FIFA di Indonesia. Hal tersebut dikatakan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto saat peresmian Stadion bantuan Pemerintah, Senin 17 Maret 2025.

Dalam kesempatan itu, Presiden Prabowo Subianto mengucapkan terima kasih kepada semua unsur yang telah bekerja keras. Sehingga dapat meresmikan 17 stadion yang memiliki standar internasional yang telah diinspeksi oleh FIFA, dan dinyatakan memenuhi syarat FIFA.

“Ini adalah prestasi dan bagaimanapun ini adalah prestasi pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo sebelum saya, saya kebagian meresmikannya,” kata Presiden Prabowo.

Kemudian, Presiden Prabowo mengatakan, pemerintah sudah buktikan, bahwa ingin mendorong dan membina olahraga sepak bola. Dengan berbagai upaya, konsentrasi, kreativitas, mencari kebijakan-kebijakan yang bisa mendorong prestasi yang hebat, prestasi yang baik.

“Indonesia harus masuk Piala Dunia, itu tekad kita. Dan saya kira dengan keberhasilan 17 stadion ini juga membangkitkan tekad kita,” jelas Presiden.

Lebih lanjut, Presiden menambahkan, kedepan pihaknya akan menambah 17 atau 20 stadion yang akan dibangun. Sehingga semua daerah nanti mempunyai stadion yang baik.

Sebagai informasi, 17 stadion yang diresmikan secara serentak diantaranya :
1. Stadion Bumi Sriwijaya, Kota Palembang.
2. Indomilk Arena, Kabupaten Tangerang.
3. Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor.
4. Stadion Wibawa Mukti, Kabupaten Bekasi.
5. Stadion Patriot Candrabhaga, Kota Bekasi.
6. Stadion Gelora bandung Lautan Api.
7. Stadion Maguwoharjo, Kabupaten Sleman.
8. Gelora Bumi Kartini, Kabupaten Jepara.
9. Stadion Jatidiri, Kota Semarang.
10. Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang.
11. Stadion Surajaya, Kabupaten Lamongan.
12. Stadion Gelora Delta, Kabupaten Sidoarjo.
13. Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan, Kabupaten Pamekasan.
14. Stadion Joko Samudro, Kabupaten Gresik.
15. Stadion Demang Lehman, Kabupaten Banjar.
16. Stadion Segiri, Samarinda.
17. Stadion B.J. Habibie, Kota Parepare.

Albin Pandita

Kreativitas di Era Digital: Bagaimana AI Mengubah Komunikasi Visual?

0

Bogordaily.net – Perkembangan AI (Artificial Intelligence) telah membawa perubahan besar dalam dunia kreatif dan komunikasi visual, terutama dalam meningkatkan efisiensi. AI semakin canggih dalam menghasilkan gambar yang sebelumnya hanya bisa dibuat oleh manusia. Berdasarkan data Litbang Kompas (2023), sekitar 26,7 juta tenaga kerja di Indonesia telah terbantu oleh AI.

Teknologi AI ini memungkinkan pekerjaan kreatif, seperti pembuatan desain atau ilustrasi, dilakukan secara otomatis tanpa harus dilakukan secara manual, sehingga pekerjaan yang sebelumnya memerlukan waktu lama kini dapat diselesaikan lebih cepat.

Dengan bantuan AI, siapa saja dapat membuat desain atau ilustrasi hanya dengan memasukkan perintah teks, tanpa perlu memiliki keterampilan desain yang mendalam.

Penggunaan AI dalam industri kreatif terus berkembang pesat, terutama dalam bidang desain grafis, ilustrasi digital, dan pemasaran visual.

Misalnya, AI dalam desain grafis digunakan untuk mempercepat pembuatan layout, pemilihan warna, dan pengeditan gambar secara otomatis.

Seperti dijelaskan di Grafisify, Platform seperti Canva dan Adobe Sensei memungkinkan tugas-tugas dasar seperti pengaturan layout, pemilihan warna, atau pengeditan foto dapat dilakukan secara otomatis.

Sementara teknologi desain generatif seperti DALL-E dapat menciptakan variasi visual berdasarkan perintah teks dari pengguna.

AI telah menjadi alat yang semakin penting dalam komunikasi visual, khususnya dalam membantu kreativitas desainer. Banyak desainer yang menggunakan AI untuk mengeksplorasi ide baru, menciptakan variasi desain, atau menghasilkan sketsa awal yang kemudian mereka sempurnakan secara manual.

AI tidak hanya mempercepat proses kreatif tetapi juga membantu menghilangkan hambatan teknis bagi seseorang  yang tidak memiliki keahlian desain mendalam.

Meskipun AI dapat menciptakan desain yang cepat, ada kekhawatiran bahwa penggunaan AI secara berlebihan dapat menghasilkan karya yang terkesan mekanis, mempengaruhi nilai personal dalam desain, dan mengurangi sentuhan kreatif manusia (Reza, 2024).

Salah satu masalah utama dalam penggunaan AI ini adalah orisinalitas dan kreativitas. AI bekerja dengan menganalisis dan meniru pola dari kumpulan data yang sudah ada, sehingga hasil yang dihasilkan seringkali tidak sepenuhnya orisinal.

Hal ini dapat menyebabkan desain yang terlalu standar atau seragam, sehingga mengurangi keunikan dalam komunikasi visual.

Perkembangan AI dalam komunikasi visual diperkirakan akan terus berkembang, tetapi perannya hanya sebagai alat bantu dan bukan pengganti kreativitas manusia sepenuhnya.

AI dapat membantu desainer dalam mengeksplorasi ide-ide baru yang kreatif, menyusun komposisi, atau menyesuaikan desain dengan tren pasar.

Namun, faktor utama dalam menciptakan komunikasi visual yang bermakna tetap berada pada intuisi dan pemahaman manusia terhadap konteks budaya serta emosi yang ingin disampaikan dalam sebuah karya.

Misalnya, walaupun AI dapat menghasilkan karya dengan kualitas tinggi dalam hitungan detik, tetapi hanya manusia yang dapat memahami nilai estetika dan emosi yang ingin disampaikan dalam sebuah karya.

Dengan memahami cara menggunakan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kreativitas manusia, maka industri kreatif dapat terus berkembang di era digital.

Hal inilah yang membuat masa depan komunikasi visual dengan AI lebih menekankan pada kolaborasi antara manusia dan teknologi AI, bukan didominasi oleh AI sepenuhnya.

Cara kita memanfaatkan teknologi ini akan menentukan apakah AI menjadi tantangan atau justru peluang bagi masa depan komunikasi visual.***

 

Putri Yuliadisti                                                                                                  Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University

Tanggul Jebol, Perumahan Pantai Mutiara Pluit Banjir

0

Oleh: Mezayya Puspita Maharani Komunikasi Digital dan Media

Banjir rob yang melanda Perumahan Pantai Mutiara, Pluit, pada 3 Juni 2016 kembali  mengingatkan kita akan pentingnya infrastruktur penahan air yang kuat dan kesiapsiagaan  dalam menghadapi fenomena alam. Kejadian ini diakibatkan oleh jebolnya tanggul pantai  akibat kombinasi faktor alam, seperti pasang laut dan hujan deras, serta kemungkinan adanya  erosi di dasar tanggul.

Dalam peristiwa ini, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, namun genangan air dengan  ketinggian 30 hingga 100 cm di beberapa blok perumahan tentu menyebabkan kerugian  materi yang tidak sedikit.

Respons cepat dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana  (BNPB), BPBD DKI Jakarta, serta berbagai instansi terkait patut diapresiasi. Dengan upaya  bersama, tanggul darurat berhasil dibangun dalam waktu yang relatif singkat, sehingga  kondisi mulai kembali normal.

Namun, kejadian ini harus menjadi bahan evaluasi lebih lanjut, terutama dalam hal ketahanan  infrastruktur penahan air di wilayah pesisir. Jakarta, sebagai kota dengan elevasi rendah dan  berhadapan langsung dengan laut, memang sangat rentan terhadap banjir rob. Oleh karena  itu, perencanaan dan pemeliharaan tanggul menjadi aspek yang tidak bisa diabaikan.

Sebagai sisi dari warga yang melihat kejadian ini dari perspektif yang lebih dekat, saya  merasa cukup heran bagaimana sebuah perumahan tergolong elite seperti Pantai Mutiara bisa  mengalami jebolnya tanggul.

Dengan harga properti yang tergolong mahal dan eksklusif,  seharusnya sistem pertahanan terhadap banjir di kawasan ini lebih diperhatikan. Hal ini  menimbulkan pertanyaan besar, apakah infrastruktur yang ada sudah benar-benar sesuai  standar?

Bagaimana pengawasan dan pemeliharaannya selama ini? Kejadian ini menegaskan  bahwa status elite sebuah kawasan tidak menjamin keamanannya dari bencana jika  pengelolaan infrastrukturnya tidak dilakukan dengan baik.

Tentu, kita tidak bisa serta-merta menyalahkan pihak yang membangun tanggul tersebut.  Konstruksi tanggul pada dasarnya sudah mempertimbangkan faktor teknis dan lingkungan,  namun alam sering kali memberikan tantangan yang sulit diprediksi.

Apalagi, perubahan  iklim juga memperburuk kondisi dengan meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca  ekstrem. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih proaktif diperlukan dalam pengelolaan  infrastruktur pesisir.

Solusi Jangka Panjang Evaluasi dan Teknologi Modern

Salah satu langkah yang bisa dipertimbangkan adalah evaluasi berkala terhadap kondisi  tanggul di seluruh wilayah pesisir Jakarta. Pemerintah daerah, bersama dengan pakar teknik  sipil dan lingkungan, dapat melakukan inspeksi rutin untuk memastikan kondisi tanggul tetap  aman. Selain itu, penggunaan material yang lebih tahan terhadap erosi serta penerapan  teknologi modern dalam pembangunan tanggul bisa menjadi solusi jangka panjang.

Selain itu, aliran pembuangan air juga menjadi faktor penting. Jika saluran air di sekitar  tanggul tidak berfungsi dengan baik, maka air yang seharusnya bisa mengalir keluar bisa  terjebak dan memperparah kondisi banjir.

Oleh karena itu, selain memperbaiki tanggul,  pemerintah dan pengelola kawasan juga perlu memastikan bahwa saluran pembuangan air di  sekitar perumahan berfungsi dengan baik.

Di sisi lain, kesiapsiagaan masyarakat juga menjadi faktor penting dalam menghadapi  kemungkinan bencana serupa. Sosialisasi mengenai tanda-tanda kerusakan tanggul serta  prosedur evakuasi harus terus dilakukan, terutama bagi warga yang tinggal di daerah rawan  rob.

Pemanfaatan sistem peringatan dini juga perlu diperkuat agar masyarakat dapat bersiap  lebih cepat ketika ada potensi bencana. Selain itu, kerja sama antara masyarakat dan  pemerintah dalam menjaga dan melaporkan kondisi infrastruktur penahan air juga sangat  diperlukan.

Mewujudkan Sistem Perlindungan Pesisir yang Lebih Baik

Kejadian jebolnya tanggul di Pantai Mutiara seharusnya menjadi pelajaran bagi kita semua,  bahwa pengelolaan wilayah pesisir harus dilakukan dengan pendekatan yang menyeluruh.

Infrastruktur yang kuat, respons cepat dari pemerintah, serta kesiapsiagaan masyarakat adalah  kunci dalam meminimalisir dampak dari bencana serupa di masa mendatang. Dengan  langkah-langkah ini, kita dapat lebih siap menghadapi tantangan lingkungan dan menjaga  keamanan serta kenyamanan masyarakat pesisir.

Hanya dengan sinergi antara pemerintah,  masyarakat, dan para ahli, kita dapat mewujudkan sistem perlindungan pesisir yang lebih  baik dan berkelanjutan untuk masa depan.***

Eka Merdekawati: Dari Kecintaan pada Akuntansi Hingga Menjadi Dosen di IPB

0

Bogordaily.net – Dibesarkan di Lebak, Banten, Eka Merdekawati tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan pentingnya pendidikan sejak dini. Lahir pada 24 Mei 1987, Eka terinspirasi oleh ayahnya yang berprofesi sebagai guru, yang menjadikannya bercita-cita sebagai pengajar.

Namun, ketertarikannya pada akuntansi baru muncul ketika duduk di bangku SMP melalui mata pelajaran akuntansi sebagai bagian dari muatan lokal. Awalnya, ia mengalami kesulitan memahami konsepnya, tetapi rasa ingin tahu dan ketekunannya membuatnya semakin tertarik hingga akhirnya memilih jurusan akuntansi di SMK.

Perjalanan akademiknya menunjukkan bahwa meskipun akuntansi bukan bidang yang mudah, dengan kerja keras dan dedikasi, ia berhasil menguasainya dengan baik.

Pada tahun 2005, Eka merantau ke Bogor untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Pakuan jurusan akuntansi. Ia memilih Bogor karena ingin merasakan lingkungan yang lebih sejuk dibandingkan Banten, serta mencari tantangan baru di luar daerah asalnya.

Selama kuliah, Eka aktif dalam kegiatan akademik dan berhasil menjadi asisten dosen sejak semester lima. Pengalaman ini semakin memperkuat minatnya di dunia pendidikan. Ia menikmati mengajar dan membimbing mahasiswa lainnya, yang memberikan gambaran tentang peran seorang dosen.

Setelah lulus pada tahun 2009, Eka sempat kembali ke Banten, tetapi kemudian mendapat tawaran mengajar di IPB dari dosen pembimbingnya. Tanpa menunggu lebih lama, ia menerima kesempatan tersebut dan resmi menjadi dosen di IPB pada Maret 2010.

Seiring dengan kebijakan pemerintah yang mewajibkan dosen memiliki gelar S2, ia melanjutkan studi di Program Pascasarjana Universitas Pancasila dan berhasil meraih gelar magister akuntansi.

Tantangan dalam Dunia Akademik

Banyak yang mengira bahwa menjadi dosen adalah profesi dengan jadwal fleksibel, tetapi menurut Eka, tugas seorang dosen jauh lebih kompleks. Ia menjelaskan bahwa dosen tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga harus menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.

“Ternyata setelah jadi dosen ada banyak hal yang harus dikerjakan selain mengajar, karena seperti diketahui bahwa memang tugas dosen itu ya melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” ujarnya.

Tantangan ini membuatnya harus terus berinovasi dan mengembangkan keilmuan agar tetap relevan di dunia akademik yang terus berkembang.

IPB sendiri memberikan banyak kesempatan bagi para dosen untuk melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat setiap tahunnya. Eka melihat hal ini sebagai peluang besar untuk terus belajar dan berkembang.

Selain itu, ia juga menekankan bahwa mengajar di lingkungan akademik seperti IPB memberikan pengalaman yang sangat berharga dan membuatnya semakin termotivasi untuk terus berkontribusi.

Kontribusi dan Proyek Penelitian

Sebagai akademisi, Eka aktif dalam berbagai penelitian dan program pengabdian masyarakat. Adapun penelitian terbaru yang telah ia lakukan adalah pengembangan sistem pencatatan keuangan untuk Koperasi KUD Giri Tani, bekerja sama dengan dosen Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak (TRPL) pada tahun 2022.

Ia juga berhasil mendapatkan dana penelitian yang bersifat kompetitif di Sekolah Vokasi IPB. Selain itu, ia berkolaborasi dengan dosen dari berbagai program studi dalam penelitian RISPRO (Riset Inovatif Produktif) Kementerian Keuangan LPDP pada tahun yang sama. Tahun 2024 menjadi momentum penting baginya karena ia dipercaya menjadi ketua penelitian di Program Studi Akuntansi IPB.

Selain penelitian, Eka juga aktif dalam program pengabdian masyarakat, termasuk pengabdian di desa lingkungan kampus, program “Dosen Pulang Kampung,” serta pengabdian di Makassar yang berfokus pada peningkatan kapasitas masyarakat.

Ia merasa bahwa berbagi ilmu tidak hanya terbatas di dalam kelas, tetapi juga harus memberikan manfaat yang lebih luas. Dengan berbagai proyek yang telah ia jalankan, Eka berupaya membangun jembatan antara dunia akademik dengan kebutuhan nyata di masyarakat.

Pencapaian dan Harapan untuk Masa Depan

Bagi Eka, pencapaian terbesar dalam kariernya bukan hanya penghargaan atau gelar akademik, tetapi juga kesempatan untuk menjadi ketua penelitian serta pembicara di berbagai seminar akademik.

Ia merasa bangga bisa menyeimbangkan peran sebagai akademisi dan ibu rumah tangga. Eka berusaha untuk tetap memberikan kontribusi di dunia akademik tanpa mengesampingkan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu.

Mengenai perkembangan dunia vokasi, khususnya di bidang akuntansi, Eka menyoroti tantangan yang dihadapi profesi akuntan di era digital.

“Harapannya, akuntansi bisa lebih maju dan para mahasiswa terus meningkatkan keterampilan mereka. Jika kita hanya mengikuti arus tanpa menambah skill, maka lama-kelamaan kita bisa tergantikan oleh teknologi,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa meskipun kecerdasan buatan (AI) semakin berkembang, manusia tetap memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan yang kompleks.

Oleh karena itu,Eka Merdekawati, selalu mendorong mahasiswa untuk terus mengasah keterampilan dan memperdalam ilmu agar tetap relevan di dunia kerja.

Dengan dedikasi dan semangatnya, Eka Merdekawati terus berupaya memberikan kontribusi dalam dunia pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Ia berharap dapat terus menginspirasi mahasiswa untuk terus berkembang dan berkontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan.

Melalui berbagai proyek penelitian dan keterlibatan dalam program pengabdian, Eka ingin membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya tentang belajar di dalam kelas, tetapi juga tentang memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Ia juga berharap semakin banyak mahasiswa yang melihat pentingnya peran akademisi dalam membentuk masa depan yang lebih baik.***

Putri Yuliadisti                                                                                                  Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University

Derry Dardanella: Perjalanan dari Asisten Dosen hingga menjadi Dosen Manajemen Industri Sekolah Vokasi IPB

0

Bogordaily.net – Derry Dardanella lahir di Bogor pada 8 Januari 1984. Sejak kecil, ia sudah mendapat dukungan penuh dari keluarganya untuk mengejar pendidikan dan karier sesuai dengan pilihannya sendiri. Tidak ada paksaan atau tekanan untuk mengikuti profesi tertentu, yang membuatnya bebas menentukan jalannya sendiri dalam dunia akademik dan profesional.

Pendidikan dan Awal Karier

Derry menempuh pendidikan S1 di IPB University dengan mengambil jurusan Teknologi Industri Pertanian (TIN). Setelah lulus, ia memutuskan untuk terjun ke dunia kerja terlebih dahulu sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Derry memutuskan melanjutkan pendidikannya hingga jenjang S2 yang ditempuh di IPB University dengan jurusan Ilmu Manajemen , yang lebih relevan dengan minat dan kariernya.

Sebelum menjadi dosen, Derry memiliki berbagai pengalaman kerja di industri. Salah satu pekerjaannya adalah dalam pengembangan jarak pagar sebagai bahan baku biodiesel di Lombok pada tahun 2008-2009. Setelah itu, ia kembali ke Bogor dan mencoba berbagai usaha sendiri, termasuk bekerja sebagai staff pendukung di Komisi Pemilihan Umum (KPU). Pengalaman ini semakin memperkaya wawasan dan keterampilannya dalam dunia profesional.

Perjalanan Menjadi Dosen

Derry memulai perjalanan karier di bidang pendidikan sebagai team teaching di jurusan Teknik dan Manajemen Lingkungan (LNK) di Sekolah Vokasi IPB. Selama berada di lingkungan pendidikan,  ia berkesempatan bertemu dan berdiskusi dengan rekan-rekan yang memiliki latar belakang serupa. Interaksi ini membuka peluang baru bagi Derry untuk mengembangkan kariernya di dunia akademik.

Kesempatan besar datang ketika ia berbincang dengan rekan-rekannya dan Kaprodi MNI yang kemudian mengarahkannya untuk bergabung sebagai dosen di jurusan Manajemen Industri (MNI). Derry yang menerapkan prinsip semangat dan dedikasi yang tinggi, ia semakin mendalami bidang tersebut hingga akhirnya diangkat sebagai dosen tetap. Perjalanan ini menjadi bukti komitmen dan ketekunan Derry dalam dunia pendidikan serta kontribusinya dalam mencetak generasi muda yang siap terjun ke industri.

Kontribusi di Dunia Akademik

Sebagai dosen di Sekolah Vokasi IPB, Derry tidak hanya mengajar tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan akademik dan pengembangan mahasiswa. Salah satu kontribusi terbesarnya adalah sebagai pembimbing dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), di mana ia telah mendampingi tim hingga ke tingkat nasional (PIMNAS) dan mendapatkan emas. Selain itu, ia juga terlibat dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM), khususnya dalam program yang dilakukan di Desa Mulia Harja.

Derry memiliki visi untuk terus meningkatkan kualitas jurusan Manajemen Industri di Sekolah Vokasi IPB. Ia berharap sebagai alumni dari Manajemen Industri (MNI) dapat masuk ke dunia industri dengan bekal yang kuat dan mampu berkontribusi secara maksimal. Selain itu, ia ingin meningkatkan kerja sama dengan berbagai pihak serta melibatkan mahasiswa dalam berbagai proyek industri dan kegiatan akademik lainnya.

Prinsip Hidup dan Pesan untuk Mahasiswa

Dalam menjalani hidup dan kariernya, Derry memegang prinsip bahwa segala sesuatu harus dilakukan dengan hati dan ketulusan. Ia percaya bahwa harapan terbesar sebaiknya diletakkan pada usaha sendiri dan doa kepada Tuhan, bukan pada orang lain. Prinsip ini membantunya tetap fokus dan tidak terpengaruh oleh pandangan negatif dari orang lain.

Untuk mahasiswa dan generasi muda, ia berpesan agar tidak mudah menyerah. Menurutnya, dalam hidup pasti ada tantangan tetapi yang paling penting adalah bagaimana seseorang bangkit setelah jatuh. Ia juga menyarankan agar setiap orang memiliki tokoh panutan atau role model sebagai inspirasi dalam menentukan tujuan hidup mereka.

Dengan perjalanan yang penuh pengalaman dan dedikasi dalam dunia akademik, Derry Dardanella terus berusaha memberikan yang terbaik bagi mahasiswa dan institusi tempatnya mengajar. Melalui semangatnya dalam mendidik dan membimbing generasi muda, ia berharap dapat menciptakan lulusan yang siap menghadapi dunia industri dengan kompetensi yang unggul.

Nabila Aura Difa                                                                                              Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB

 Road Trip Seru ke Bali Sampai Drama Cari makan

0

Bogordaily.net – Jadi, ceritanya aku dan keluargaku itu benar-benar suka banget road trip. Kami sudah menjelajahi berbagai kota, dari Pulau Sumatera hingga ke Pulau Jawa, menikmati perjalanan panjang, melihat pemandangan baru, dan mencicipi kuliner khas di setiap daerah yang kami singgahi. Setiap perjalanan selalu punya cerita seru dan pengalaman yang nggak terlupakan.

Biasanya, kami melakukan perjalanan ini saat liburan sekolah atau libur panjang, supaya semua anggota keluarga bisa ikut tanpa terburu-buru oleh aktivitas atau pekerjaan. Karena dengan begitu, kami bisa menikmati setiap momen bersama dengan lebih santai dan leluasa.

Nah, dua tahun yang lalu, akhirnya kami sepakat untuk road trip ke Bali! Rasanya super excited dong , karena siapa sih yang nggak pengen ke Bali? Pulau yang selalu jadi ikon wisata Indonesia, terkenal sampai ke luar negeri. Bayanganku sih bakal seru banget mulai dari main di pantai, budaya, dan pastinya, wisata kuliner. Pokoknya, ekspektasiku tinggi banget buat trip kali ini!

Sempat kepikiran, kenapa nggak naik pesawat aja biar waktu liburan bisa lebih banyak dihabiskan di Bali daripada di perjalanan? Tapi ayah, sebagai orang yang paling suka road trip, punya pandangan lain.

Buat ayah, perjalanan itu bukan sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tapi bagian dari petualangan itu sendiri. Dia selalu menikmati setiap momen di jalan, apalagi kalau bisa menunjukkan hal-hal menarik atau unik yang kami temui sepanjang perjalanan. Selain itu, ayah juga ingin memastikan kami tetap bisa quality time bareng keluarga.

Menurutnya kalau naik mobil, kami jadi punya lebih banyak waktu buat ngobrol dan berbagi cerita satu sama lain. Soalnya kalau di perjalanan cuma main HP terus, pasti bakal cepat bosan dan malah jadi nggak seru.

Makanya, di setiap road trip, kami selalu punya sesi ngobrol santai, bercanda, bahkan nostalgia tentang perjalanan-perjalanan sebelumnya. Hal-hal kayak gini yang bikin kami semakin dekat sebagai keluarga, dan pada akhirnya aku sadar kalau keputusan ayah buat road trip ke Bali memang pilihan yang tepat!

Namun ternyata, ekspektasi nggak selalu sesuai realita. Biasanya, kalau jalan-jalan, kulineran itu wajib banget. Cobain makanan khas, jajan di tempat-tempat unik, pokoknya eksplorasi rasa deh Tapi kali ini agak beda.

Ayahku yang pernah ke Bali sebelumnya punya pengalaman kurang menyenangkan dulu, dia pernah nggak sengaja makan makanan yang ternyata mengandung babi yang dalam keyakinan kami umat islam hal itu termasuk makanan yang tidak boleh dikonsumsi atau haram. Pengalaman tersebut membuat ayah semakin waspada saat kami kembali ke sana, Karena itu, selama di Bali, kami pun harus ekstra selektif dalam menentukan tempat makan.

Bali tetaplah Bali, dengan segala keindahannya. Pantai yang memesona, pura yang megah, dan penduduk yang ramah, semuanya bikin suasana jadi berkesan. Tapi di balik itu, tantangan mencari makanan yang sesuai dengan preferensi keluarga ternyata jadi petualangan tersendiri.

Mencari makanan halal di Bali sebenernya bukan hal yang mustahil, tapi karena kami sekeluarga agak “parno,” jadinya ribet sendiri. Kadang kami sampai berdiskusi panjang sebelum akhirnya berani memesan makanan.

Misalnya, waktu lihat rumah makan yang jual sate lilit, meskipun tertulis “sate lilit ayam,” tetap aja ada perasaan ragu, “Ini beneran ayam, kan?” Hehe, lebay sih, tapi ya begitulah.

Akhirnya, strategi kami adalah cari makanan yang udah pasti-pasti aja. Minimarket jadi sahabat terbaik. Indomaret dan Alfamart selalu ready buat menyelamatkan perut dengan snack, roti, dan minuman kemasan.

Pilihan lain? Fast food ada kok Bahkan, pertama kalinya aku nyobain Gacoan itu ya di Bali! Saking udah bingung mau makan apa lagi, kami akhirnya masuk ke restoran cepat saji yang jelas-jelas aman.

Setiap hari, kami selalu buka sosial media dan Google Maps buat cari tempat makan halal yang recommended. Kadang ketemu, kadang masih ragu. Terus, kalau udah yakin mau makan di suatu tempat, proses meyakinkan diri pun dimulai tanya dulu ke pelayan, minta kepastian berkali-kali, sampai akhirnya bisa makan dengan tenang.

Pernah juga suatu malam, kami muter-muter nyari tempat makan karena udah bosen sama fast food. Setelah beberapa kali nyasar dan hampir menyerah, akhirnya ketemu satu rumah makan bernama Ongan Sari di daerah Kesiman Petilan, Denpasar.

Awalnya, tempat ini keliatan sepi, tapi di parkiran banyak mobil plat Jakarta. Feeling kami bilang, “Ini pasti tempatnya enak!” Benar aja dong Begitu masuk, tempatnya luas banget, ada taman dan area bermain.

Makanannya? Super enak, menu favorit kami waktu itu adalah ayam betutu dan nasi campur khas Bali yang sudah dipastikan halal. Kami langsung nyesel, “Kenapa baru nemu tempat ini di hari terakhir?!” Sejak saat itu, kami sepakat kalau nanti ke Bali lagi, Ongan Sari bakal jadi destinasi wajib buat makan.

Dari perjalanan ini, aku belajar satu hal penting: sebelum traveling, wajib banget riset soal kuliner. Kalau punya preferensi khusus dalam makanan, cari tahu dulu tempat-tempat yang recommended biar nggak bingung di lokasi.

Tapi meskipun ada sedikit drama soal makanan, perjalanan ke Bali tetap jadi salah satu pengalaman terbaik dalam hidupku. Bali tetap punya daya pikat tersendiri dengan keindahannya, dan aku sudah nggak sabar untuk berkunjung lagi kesana suatu hari nanti!***

Mezayya Puspita Maharani

Drh. Wining Astini: Perjalanan Akademisi dan Peneliti di Dunia Kesehatan Hewan

0

Bogordaily.net – Drh. Wining Astini, M.Si lahir di Jawa Timur pada tahun 1992. Ia menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga dan berhasil meraih gelar Dokter Hewan pada tahun 2015. Setelah menyelesaikan pendidikan profesinya, ia melanjutkan studi di Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk meraih gelar Magister Sains dengan fokus utama penelitiannya terkait stem cell. Sebelum terjun ke dunia akademik sebagai dosen, ia sempat bekerja sebagai asisten peneliti di Jakarta tepatnya di bawah naungan Divisi Penyakit Dalam FK UI.

Ketertarikan Wining terhadap bidang paramedik veteriner muncul dari latar belakang pendidikannya yang berfokus pada kesehatan hewan. Selain pernah bekerja di lembaga riset IMERI FK UI, Ia juga pernah bekerja di di FAO ECTAD (Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases) sebagai bagian dari tim yang berfokus pada riset terkait kejadian penyakit Avian Influeza yang merupakan penyakit zoonosis. Penyakit ini sendiri merupakan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.

Sebagai akademisi, Drh. Wining Astini, saat ini membantu mengajar beberapa mata kuliah yang berkaitan dengan anatomi, patologi, dan zoonosis. Dalam perannya sebagai dosen, ia masih dibimbing oleh dosen senior yang lebih berpengalaman. Salah satu tantangan yang ia hadapi dalam mengajar adalah memahami karakter mahasiswa yang beragam. Untuk mengatasi hal tersebut, ia menerapkan berbagai metode pembelajaran, seperti studi kasus dan diskusi interaktif, guna meningkatkan pemahaman serta ketertarikan mahasiswa terhadap materi yang diajarkan.

Menurut Wining, sektor kesehatan hewan di Indonesia menghadapi berbagai tantangan, terutama dengan munculnya penyakit baru serta kembalinya penyakit lama yang sempat melanda. Penyakit seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), serta berbagai penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia menjadi ancaman serius. Selain itu, perubahan iklim dan pemanasan global juga berkontribusi terhadap munculnya penyakit baru, sehingga diperlukan strategi pengendalian yang lebih inovatif.

Selain aktif di bidang akademik dan penelitian, Drh. Wining Astini, juga memiliki berbagai pencapaian yang membanggakan. Pada tahun 2018, sebelum menikah, ia meraih penghargaan sebagai Best Presenter dalam sebuah konferensi internasional di Belanda. Ia juga memiliki banyak publikasi ilmiah di bidang kesehatan, termasuk penelitian tentang probiotik komersial pada ayam boiler, pengaruh stem cell pada penuaan fisiologis tikus, serta prediksi keparahan COVID-19 berdasarkan parameter imunologi. Selain itu, ia juga menulis buku “Sukses UKMPPDH Soal & Pembahasan,” yang diterbitkan pada tahun 2021 dan 2024.

Dalam penelitian yang lebih spesifik, ia turut berkontribusi dalam berbagai studi tentang mesenchymal stem cell, terutama dalam perbaikan fungsi testis dan pankreas pada model tikus tua. Hasil-hasil penelitiannya telah dipublikasikan di berbagai jurnal nasional maupun internasional, termasuk Journal of The Indonesian Veterinary Research, Journal of SCRTE, dan Transactions of The Royal Society of Tropical Medicine and Hygiene.

Prestasi akademik dan profesionalnya semakin lengkap dengan penghargaan yang ia terima, termasuk sebagai penerima beasiswa LPDP dari Kementerian Keuangan RI sejak tahun 2015. Beasiswa ini membantunya melanjutkan pendidikan tinggi dan memperdalam risetnya di bidang kesehatan hewan.

Dengan berbagai pencapaian dan pengalamannya, Wining berharap dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perkembangan paramedik veteriner di Indonesia. Ia ingin melihat sektor kesehatan hewan di Tanah Air semakin maju dengan inovasi-inovasi yang mampu menjawab tantangan yang ada. Wining optimis bahwa dunia paramedik veteriner Indonesia dapat terus berkembang dan berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan hewan serta kesehatan masyarakat secara keseluruhan di masa depan.***

 

Mezayya Puspita Maharani

Bika Ambon Ci Mehong Kena Kritik karena Ada Binatang di Dalamnya

0

OplehL Naura Kirana Maheswari                                                                                  Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University

Di era digital saat ini, reputasi bisnis dapat berubah sangat cepat. Hal ini terjadi pada kasus Bika Ambon Ci Mehong yang menjadi perhatian publik setelah food vlogger Shely Che mengunggah video di TikTok pada 29 Januari 2025. Video tersebut menunjukkan adanya temuan yang diduga binatang kecil dalam produk tersebut. Peristiwa ini menarik untuk dibahas lebih dalam karena menunjukkan bagaimana media sosial telah mengubah lanskap bisnis kuliner, di mana setiap kejadian dapat terekam dan menyebar dengan cepat.

Shely Che Sosok di Balik Viralnya Bika Ambon

Shely Che bukanlah nama baru dalam dunia kuliner digital Indonesia. Sejak 2016, ia telah membangun reputasinya sebagai food vlogger yang dikenal dengan ulasan-ulasan jujur dan objektifnya. Perjalanan karirnya dimulai dari channel YouTube yang kemudian merambah ke berbagai platform media sosial lainnya. Selama hampir satu dekade berkarya, Shely Che telah mengulas ribuan makanan dari berbagai tingkatan harga, mulai dari jajanan kaki lima hingga hidangan premium di restoran bintang lima. Dengan pengikut sekitar 509.200 di TikTok. Ia dikenal dengan ulasannya yang mencakup berbagai aspek kuliner seperti rasa, tekstur, kebersihan, dan nilai uang. Konsistensinya dalam memberikan ulasan telah membuatnya dipercaya oleh ratusan ribu pengikutnya di berbagai platform media sosial. Dalam videonya tentang Bika Ambon Ci Mehong, ia tetap mengakui kelezatan produk tersebut meski menemukan masalah di dalamnya, menunjukkan profesionalisme dalam memberikan review yang berimbang.

Ekspektasi Konsumen

Kasus ini menunjukkan adanya kesenjangan antara ekspektasi konsumen dan realita produksi. Produk yang diposisikan sebagai “premium” dengan harga Rp100.000 untuk ukuran mini menimbulkan ekspektasi tinggi dari konsumen terkait kualitas dan kebersihan. Dalam industri makanan premium, konsumen tidak hanya membayar untuk rasa, tetapi juga untuk jaminan kualitas, kebersihan, dan keamanan pangan yang seharusnya berada di atas standar rata-rata. Harga premium idealnya mencerminkan investasi dalam berbagai aspek produksi, mulai dari pemilihan bahan baku berkualitas tinggi hingga proses quality control yang ketat.

Dampak Media Sosial

Video tersebut mendapat sekitar 500 ribu likes dan 17.100 komentar, yang menunjukkan perhatian publik terhadap isu keamanan pangan. Angka ini menggambarkan keprihatinan masyarakat terhadap standar kebersihan dalam industri makanan. Media sosial telah menjadi wadah diskusi publik dan sarana kontrol terhadap standar kualitas industri kuliner, dimana konsumen modern semakin kritis dan peduli terhadap kualitas makanan yang mereka konsumsi.

Viralnya kasus ini diperkuat dengan adanya tanggapan melalui live Instagram. Platform media sosial telah memungkinkan masyarakat dari berbagai latar belakang untuk menyuarakan pendapat mereka, menciptakan forum diskusi yang luas dan beragam tentang standar kualitas dalam industri kuliner.

Respons Terhadap Kritik

Tanggapan Ci Mehong melalui live Instagram pada 31 Januari 2025 menjadi sorotan dalam kasus ini. Ia menyatakan bahwa kondisi temuan yang masih utuh tidak mungkin terjadi dalam proses produksi Bika Ambon yang adonannya lengket. Meskipun secara logika argumentasi tersebut memiliki dasar, namun cara penyampaian tanggapan tersebut justru menimbulkan perdebatan baru di kalangan pengguna media sosial.

Kasus ini menunjukkan bahwa di era digital, cara merespons kritik dapat mempengaruhi persepsi publik terhadap sebuah merek. Transparansi dan kemampuan untuk mengevaluasi situasi secara objektif menjadi faktor penting dalam mempertahankan kepercayaan konsumen.

Pembelajaran bagi Industri Kuliner

Insiden ini memberikan pelajaran tentang pentingnya manajemen kualitas dan penanganan krisis. Harga premium perlu diimbangi dengan standar kualitas tinggi di semua aspek produksi. Produsen makanan perlu memahami bahwa investasi dalam sistem quality control dan kebersihan merupakan komponen penting dalam mempertahankan kepercayaan konsumen.

Lebih lanjut, kemampuan untuk menangani kritik secara profesional menjadi kunci untuk mempertahankan reputasi bisnis, terutama di era digital dimana informasi dapat menyebar dengan cepat. Sistem manajemen mutu yang ketat dan pelatihan karyawan tentang standar kebersihan merupakan aspek yang tidak boleh diabaikan dalam industri kuliner, terlepas dari segmen pasar yang dituju.

Sehari di Kota Lama Semarang: Solo Traveler, Bangunan Tua, dan Cerita Masa Lalu

0

Bogordaily.net – Kota lama semarang dikenal sebagai salah satu destinasi pilihan yang patut untuk diperhatikan. Mungkin mayoritas dari masyarakat mengetahui Kota Wisata yang berada di Jakarta Kota. Kota Lama Semarang cocok menjadi alternatif liburan bagi kalian yang mempunyai waktu cukup panjang, letaknya yang berada di Jawa Tengah akan membuat banyak orang merasakan pengalaman baru, terlebih lagi jika kalian bertempat tinggal di luar Jawa Tengah.

Solo traveling yang Saya jalani tidak semata-mata hanya ingin menggunakan waktu libur, sedikit informasi, Saya melakukan perjalanan ke Semarang di tengah-tengah pekerjaan saya.

Kala itu, Saya merasa terlalu lelah atau anak generasi Z sekarang lebih sering menyebutnya dengan kata burn out. Lalu Saya mulai berpikir untuk mencari tempat yang dapat melepaskan kelelahan Saya sejenak. Akhirnya Saya memutuskan untuk pergi ke Kota Semarang. Letaknya yang jauh dari tempat tinggal Saya, membuat Saya merasakan sensasi baru yang menyenangkan, terlebih lagi ketika segala preparasi dan juga perjalanan hanya dinikmati oleh diri Saya sendiri.

Perjalanan Menuju Semarang

Perjalanan dimulai ketika Saya membeli tiket pada pukul 23.55 menuju Semarang Tawang. Sialnya, Saya tidak mendapatkan ekonomi premium, melainkan kursi tegak yang harus saya terima selama 6 (enam) jam perjalanan.

Awalnya, Saya merasa sangat takut terlebih lagi ekonomi biasa setiap kursinya selalu berhadapan antara satu sama lain, maka dari itu selain dari tegaknya badan Saya, Saya juga harus dapat beradaptasi dengan orang asing di depan saya. Kala itu waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.

Saya pun tiba di stasiun Bekasi, suasana tetap ramai dengan hiruk piruk orang-orang yang sedang mempersiapkan keberangkatan mereka. Awalnya Saya sempat ragu dan juga merasa aneh karena harus berpergian sendiri.

Namun ketika Saya sudah melewati boarding pass itu, Saya tiba-tiba merasa lebih percaya diri, karena akhirnya Saya dapat menikmati waktu sendiri tanpa memikirkan pekerjaan apapun.

Pintu kereta terbuka, untungnya tas yang Saya bawa tidak terlalu berat karena memang Saya hanya mempersiapkan untuk pergi liburan hanya beberapa hari saja, tidak terlalu lama.

Dengan berani Saya menginjakkan kaki di kereta, awalnya badan Saya sempat merinding ketika melihat banyak orang sudah berada di posisi mereka masing-masing yaitu saling berhadapan. Setelah memeriksa beberapa kali nomor kursi yang tertera di tiket, diri ini pun berhasil untuk duduk.

Tas Saya taruh di bagasi kereta yang terletak di atas kepala agar tidak menyusahkan dan ini adalah kesialan pertama yang saya alami, seluruh orang di tempat kursi tersebut adalah laki-laki. Untungnya, Saya berada di posisi ujung yang dekat dengan hall kereta.

Tak lama setelah Saya mendudukkan diri di kursi kereta, kereta pun mulai berjalan. Di 1 (satu) jam pertama, Saya tidak terlalu merasa kesusahan, terlebih lagi Saya merasa dapat tidur di perjalanan dan ketika sudah bangun matahari pun sudah terbit.

Tetapi ketika jam berikutnya mulai terus bergulir, tiba-tiba Saya merasakan perasaan yang campur aduk. AC kereta yang sangat dingin membuat badan Saya menggigil, padahal Saya sudah mengenakkan hoodie yang cukup tebal.

Kedinginan tersebut diperburuk oleh keadaan badan Saya yang mulai merasa kesakitan karena terus duduk tegak dalam waktu lama. Beragam posisi sudah mulai Saya coba untuk membuat diri Saya lebih nyaman, namun nihil, kursi tersebut memang sangat tidak nyaman.

Dengan terpaksa, Saya menghadap ke-depan sembari melirik sekitar, banyak orang yang sudah tidur. Lalu di keadaan seperti itu, Saya mulai berpikir apakah saya satu-satunya orang yang tak pernah melakukan perjalanan di tempat kursi ini sebelumnya?

Waktu pun berlalu dengan cepat. Fajar yang mulai menyingsing membuat Saya merasa sangat lega, karena akhirnya badan saya tidak akan terasa sakit lagi. Ketika kereta sudah berhenti di stasiun Semarang Tawang, Saya segera bergegas untuk keluar dan menghirup segarnya udara Kota Semarang.

Impresi yang diberikan oleh Kota Semarang saat itu ialah sebuah perasaan yang unik. Faktor dari keberadaan Saya yang hanya seorang diri, pergi ke Provinsi yang sangat tidak familiar, membuat Saya tertegun dan juga sangat senang.

Selama perjalanan menelusuri Kota Semarang, Saya melihat pemandangan yang sangat indah, jalanan di Kota Semarang tidak terlalu ramai seperti Kota besar di Jakarta ataupun kota-kota lainnya di Jawa Barat.

Hal tersebut membuat Saya dapat merasakan desiran angin yang menyapu diri Saya, meskipun banyak sekali stigma masyarakat yang menyebut Kota Semarang itu sangat panas. Tetapi Saya bersyukur dapat datang ke kota ini di pagi hari.

Pagi di Kota Lama: Menelusuri Jejak Sejarah

Setelah merapihkan diri di tempat penginapan, Saya pun bergegas menuju destinasi utama saya yakni adalah Kota Lama. Sebenarnya, Saya tidak banyak mendengar mengenai destinasi wisata ini sebelumnya, Saya pikir juga wisata ini hampir mirip dengan yang ada di Jakarta maupun Bandung.

Tetapi ketika saya sudah menginjakkan kaki di Kota lama Semarang, semuanya nampak berbeda. Karena Saya menilai bahwa keasrian yang dimiliki oleh Kota lama Semarang sangatlah berbeda dengan destinasi wisata lainnya.

Di sepanjang jalan, masih terdapat banyak sekali gedung-gedung khas Eropa yang belum tersentuh modernisasi, Saya juga dapat menelusuri beberapa jalan yang nampak sepi, namun hal tersebut tidak mengurangi experience yang saya rasakan.

Hampir seluruh bangunan nampak megah dan juga terawatt dengan baik. Orang-orang yang ada disitu juga menampilkan senyuman terbaik mereka, Saya merasa senang sekali. Salah satu ikon yang bisa dicari untuk dapat diabadikan adalah Gereja Blenduk dan kawasan sekitar Jalan Letjen Suprapto.

Mengunjungi Galeri Seni: Napak Tilas Kreativitas 

Setelah menelusuri jejak sejarah, Saya Kembali menemukan tempat yang menarik perhatian, yakni adalah sebuah galeri seni yang cukup terkenal di Kota Lama Semarang.

Dengan hanya membayar 10.000 Saya sudah dapat masuk ke dalam pameran galeri tersebut. Cukup terkejut karena seni yang disajikan terlihat modern dan juga unik.

Setiap lukisan memiliki pesona nya sendiri, membuat mata saya Kembali takjub ketika menelusuri satu persatu lukisan yang disajikan.

Setelah mengabadikan momen dengan cukup lama, hal yang unik dari pameran galeri tersebut adalah mereka mempunyai lahan yang cukup luas di samping dan digunakan sebagai café.

Saya pun tertarik dan memasuki café tersebut, ternyata tidak hanya minuman yang disajikan, namun ada beberapa dessert pilihan yang dapat menarik minat.

Setelah berdialog diri dengan cukup lama, Saya pun memutuskan untuk membeli milkbun, matcha, dan juga cheesecake dengan total sejumlah kurang lebih 100.000 rupiah.

Meskipun cukup mahal, menurut Saya, Anda akan merasa cukup worth it ketika duduk di kursi yang disediakan, dikarenakan Anda juga akan melihat mural besar yang terpampang di tembok café bagian luar, menambah estetika dari café ini sendiri.

Berburu Barang Antik

Setelah berdiam diri cukup lama dan menyantap dengan lezat dessert yang diberikan, saya memutuskan untuk keluar dari café dan Kembali menelusuri kota lama semarang.

Saya merasa cukup terkejut ketika mengetahui bahwa terdapat pasar barang antik yang cukup besar. Minat Saya yang cukup tinggi mendorong Saya untuk memasuki pasar barang antik tersebut.

Di sepanjang jalan akan terlihat beberapa pedagang yang menawarkan dagangan mereka. Keragaman barang yang diperjual belikan sangat meningkatkan rasa penasaran Saya untuk melihat secara lebih detail.

Terlebih lagi barang antic tersebut nampak dirawat dengan sangat baik, meskipun mereka adalah barang-barang lama, Anda tidak akan menemukan kerusakan yang signifikan secara kualitas.

Berburu Oleh-Oleh di Toko Trendy

Setelah menelusuri cukup lama, Saya memutuskan untuk berpindah tempat ke tempat oleh-oleh yang ada di Kota Lama. Terlihat barang yang disajikan sangat berbeda dengan pasar antik yang Saya datangi sebelumnya, karena barang-barang ini lebih trendy dan juga memiliki estetika yang disukai oleh generasi z.

Mayoritas barang yang diperjualbelikan adalah seperti handmade, ataupun barang yang memiliki ciri khas Kota Semarang. Tentu hal ini akan mendorong industri kreatif untuk memberdayakan para UMKM khususnya di bidang ekonomi kreatif. Harga yang dijual pun tidak terlalu mahal, Anda tidak harus merogoh kocek lebih ketika ingin membeli barang bagus disini.

Sebagai seorang solo traveling, Saya merasa Kota Lama Semarang dapat dijadikan sebagai pilihan wisata yang menarik, selain dari keamanan bagi kalian khususnya Wanita yang berpergian sendiri, Kota Lama Semarang juga dapat memberikan experience seru yang menarik meskipun Anda tidak membawa teman.***

 

Anggia Leksa Putri