Wednesday, 8 April 2026
Home Blog Page 863

Biografi Wianda Aryantini Suprasman: Semangat nyata untuk Pariwisata Indonesia

0

Bogordaily.net – Wianda Aryantini Suprasman lahir di Bekasi pada 27 Januari 2003. Wianda menempuh pendidikan menengah di SMA Yadika 8 Jatimulya dengan peminatan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA).

Meskipun pada awalnya tidak memiliki tujuan spesifik untuk masuk ke Program Studi Ekowisata, Wianda kemudian melihat peluang menarik di bidang ini.

Menurutnya, ekowisata adalah program studi yang unik, menggabungkan ilmu pengetahuan, pariwisata, dan aktivitas luar ruangan yang memungkinkan mahasiswa belajar langsung dari alam.

Ketertarikan ini semakin kuat seiring waktu. Wianda menyadari bahwa ekowisata tidak hanya tentang berwisata, tetapi juga melibatkan aspek konservasi, pemberdayaan masyarakat lokal, hingga keberlanjutan lingkungan.

Hal ini menjadi motivasi baginya untuk terus mendalami bidang ini, meskipun awalnya masuk ke program ini lebih karena kesempatan daripada pilihan utama.

Perjalanan akademik Wianda membawanya menjadi asisten dosen sejak semester 8, tepatnya pada semester genap tahun lalu. Awalnya, ia melihat posisi ini sebagai cara untuk memperkaya pengalaman dan memperluas wawasan akademik.

Namun, semakin lama Wianda menjadi asisten dosen malah membuka matanya terhadap dunia Pendidikan yang lebih  tinggi, hingga akhirnya Wianda berencana melanjutkan ke jenjang S2 dan menjadi dosen.

Sebagai asisten dosen, Wianda mengampu beberapa mata kuliah penting, seperti Metode Survei Ekowisata, Geografi Pariwisata, Kelayakan Usaha Ekowisata, dan Manajemen Akomodasi.

Dari semua mata kuliah tersebut, Wianda sangat menyukai Metode Survei karena menurutnya mata kuliah ini sangat erat kaitannya dengan penelitian langsung di lapangan.

Menurutnya, survei lapangan memberikan kesempatan untuk melihat langsung potensi dan tantangan suatu destinasi wisata, memahami karakteristiknya, serta berinteraksi dengan masyarakat lokal.

Wianda tidak hanya aktif mengajar, tetapi juga terlibat dalam berbagai penelitian dan proyek akademik.

Tugas akhirnya berfokus pada Ekonomi Ekowisata khususnya penelitian di Pantai Mlarangan Asri, Kalurahan Pleret, Kabupaten Kulon Progo, membahas dampak ekonomi dari aktivitas wisata terhadap masyarakat sekitar.

Penelitian ini membuka wawasannya tentang bagaimana pariwisata dapat menjadi alat pemberdayaan ekonomi, sekaligus memperlihatkan tantangan-tantangan yang dihadapi komunitas lokal dalam mengelola potensi wisatanya.

Selain penelitian, Dia juga aktif dalam kegiatan pengabdian masyarakat. Ia pernah terlibat dalam program sosialisasi pemasaran digital untuk wisata Kampung Pulo Geulis, di mana ia membantu masyarakat setempat memahami pentingnya promosi digital untuk menarik wisatawan.

Wianda juga ikut dalam pengabdian kepada siswa SMKN 1 Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, dengan membantu mereka menyusun paket wisata yang tidak hanya menarik tetapi juga berkelanjutan.

Meski ada tantangan, seperti keterbatasan sumber daya manusia di desa wisata yang membuat keberlanjutan proyek menjadi sulit, Wianda tidak menyerah.

Ia percaya bahwa setiap langkah kecil tetap berdampak, dan pendidikan adalah investasi jangka panjang bagi masyarakat.

Selain aktivitas akademik, Wianda juga aktif berorganisasi. Wianda bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Ekowisata dan Himpunan Mahasiswa Pariwisata Indonesia (HMPI).

Melalui organisasi ini, Wianda turut serta dalam berbagai kegiatan sosial, salah satunya adalah HMPI Berbagi, yang memberikan donasi ke Kampung Wisata Mulyaharja.

Melalui organisasi, Wianda belajar banyak tentang kerja sama tim, manajemen acara, dan pentingnya kolaborasi antar anggota.

Keterlibatan ini memperkaya wawasannya dan membantunya mengembangkan kemampuan kepemimpinan yang sangat berguna dalam perannya sebagai asisten dosen.

Dalam mengajar, Wianda berpegang teguh pada prinsip komunikasi yang baik. Baginya, komunikasi yang efektif adalah kunci untuk menghindari miskomunikasi antara dosen, asisten dosen, dan mahasiswa.

Ia selalu berusaha menciptakan suasana kelas yang nyaman, di mana mahasiswa merasa bebas bertanya dan berdiskusi.

Wianda percaya bahwa keberhasilan proses belajar tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari bagaimana mahasiswa mengembangkan cara berpikir kritis dan kepekaan terhadap isu-isu lingkungan dan masyarakat.

Oleh karena itu, ia sering mengajak mahasiswa berdiskusi tentang kasus nyata di lapangan, mendorong mereka untuk menganalisis, memberikan solusi, dan melihat ekowisata dari berbagai perspektif.

Pengalaman paling berkesan baginya adalah saat mahasiswa mengucapkan terima kasih setelah kelas atau ketika ia bisa membantu mahasiswa mencari akomodasi untuk praktikum di luar kelas.

Bagi Wianda, momen-momen ini adalah pengingat bahwa sekecil apa pun bantuan yang diberikan bisa berdampak besar bagi proses belajar mahasiswa.

Wianda memiliki harapan besar terhadap perkembangan ekowisata di Indonesia, tetapi tantangan utamanya ada pada sumber daya manusia dan keberlanjutan pengelolaan.

Ia berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik mendalami ekowisata, tidak hanya sebagai profesi, tetapi juga sebagai bentuk kontribusi nyata untuk lingkungan dan masyarakat.

Wianda Aryantini Suprasman, juga bependapati seharusnya pemerintah bisa mengembangkan program pelatihan bagi masyarakat desa wisata, membantu mereka memahami pengelolaan wisata yang berkelanjutan, pemasaran digital, hingga pengembangan produk lokal.

Ia percaya bahwa kolaborasi antara pemerintah, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat lokal bisa menjadi kunci keberhasilan ekowisata di Indonesia.

Pesan dari Wianda, “Selamat datang di Program Studi Ekowisata! Ini adalah program yang akan membuka mata kalian terhadap keindahan alam sekaligus mengajarkan kalian bagaimana menjaga dan mengelolanya.

Nikmati setiap proses belajar, jangan takut mencoba hal baru, dan selalu ingat bahwa ekowisata bukan hanya tentang bersenang-senang, tetapi juga tentang memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Kalian merupakan agen perubahan untuk masa depan pariwisata di Indonesia.”

Dengan segala dedikasi dan pengalamannya, Wianda Aryantini Suprasman adalah sosok inspiratif yang terus berkontribusi untuk mengembangkan ekowisata, baik melalui pendidikan, penelitian, maupun pengabdian masyarakat.

Wianda merupakan contoh nyata bagaimana semangat belajar, keinginan untuk berbagi, dan komunikasi yang baik dapat membawa dampak positif bagi lingkungan akademik dan masyarakat luas.

Melalui perjalanan akademik dan profesionalnya, Wianda membuktikan bahwa ekowisata bukan sekadar bidang studi, melainkan panggilan untuk menjaga alam, memberdayakan masyarakat, dan menciptakan masa depan yang lebih baik lagi.***

Muhammad Rafiasa                                                                                                    J0401231147

Setahun Menjadi Musafir: Perjalanan Darat Melintasi Sumatera

0

Bogordaily.net – Menetap di Bogor selama satu tahun untuk kuliah membuat rinduku akan kota kelahiran semakin membuncah. Akhirnya, menjelang pergantian tahun, aku dan keluargaku memutuskan untuk melakukan perjalanan darat menuju tanah kelahiranku, Pekanbaru. Perjalanan ini bukan sekadar pulang kampung, tetapi sebuah petualangan yang membawa banyak cerita dan nostalgia.

Memulai Perjalanan: Bogor ke Bengkulu

Pada tanggal 23 Desember 2024, kami meninggalkan hiruk-pikuk Bogor dengan mobil keluarga, memulai perjalanan panjang menuju Sumatera. Jalanan lengang pagi itu, udara Bogor yang sejuk seakan memberi restu bagi perjalanan kami. Setelah beberapa jam berkendara, akhirnya kami tiba di Pelabuhan Merak untuk menyeberang ke Pulau Sumatera. Saat kapal perlahan meninggalkan dermaga, aku berdiri di dek kapal, melihat pulau Jawa semakin menjauh. Rasanya seperti membuka lembaran baru dalam hidup, meski ini hanyalah perjalanan sementara.

Selama empat jam di kapal, aku menghabiskan waktu dengan mengamati lautan yang luas, sesekali melihat burung camar yang terbang rendah mencari makan. Angin laut yang berembus kencang menerpa wajahku, membawa aroma asin khas laut yang selalu mengingatkanku pada perjalanan masa kecil bersama keluarga. Suasana di kapal cukup ramai, para penumpang duduk berkelompok, beberapa tidur beralaskan jaket, sementara lainnya mengobrol santai atau menikmati pemandangan laut.

Tiba di Pelabuhan Bakauheni, perjalanan darat berlanjut melewati Lampung dan terus menuju Bengkulu. Medan jalan yang berliku dengan pemandangan hijau yang membentang di kanan-kiri menjadi teman perjalanan kami. Tidak hanya melewati jalanan berbukit, Provinsi Bengkulu menyambut kami dengan suasana Bahari. Kami melewati jalanan yang sunyi, sesekali bertemu dengan kendaraan lain yang melintas di malam hari. Rasa kantuk mulai menyerang, tetapi kami terus melaju dengan semangat yang tak surut. Perjalanan ini mengajarkan satu hal penting bahwa perjalanan darat bukan hanya soal mencapai tujuan, tetapi juga menikmati setiap momen di sepanjang perjalanan.

Dua hari perjalanan darat terasa melelahkan, tetapi ketika tiba di Bengkulu, rasa letih itu langsung tergantikan dengan kehangatan keluarga. Kami menghabiskan satu hari di kota ini, bersenda gurau dengan sanak saudara yang sudah lama tidak ditemui. Aku berjalan menyusuri jalanan di sekitar rumah keluarga, mengingat masa kecil ketika berkunjung ke sini. Seteguk kopi Bengkulu dan udara pantai yang segar membuat perjalanan ini semakin berkesan. Malam harinya, kami duduk bersama di teras rumah sambil menyantap hidangan seafood segar khas Bengkulu. Perjalanan ini mengingatkanku betapa berharganya momen bersama keluarga.

Destinasi Utama: Pekanbaru dan Nostalgia Masa Kecil

Tanggal 26 Desember, perjalanan dilanjutkan menuju Pekanbaru, kota kelahiranku. Rute yang ditempuh kali ini lebih panjang, sekitar 20 jam perjalanan darat. Jalanan Sumatera yang terkenal dengan truk-truk besar dan tikungan tajam menjadi tantangan tersendiri, tetapi keseruan perjalanan bersama keluarga membuat semuanya terasa lebih ringan. Kami melewati berbagai kota kecil yang asing namun menarik untuk diamati dari balik jendela mobil.

Saat roda mobil berhenti di depan rumah Tanteku di Pekanbaru pada tanggal 27 Desember, dadaku terasa penuh oleh nostalgia. Kembali bertemu oleh sepupuku yang sudah satu tahun lamanya tidak bertemu. Malam itu terasa jauh lebih hangat dari malam-malam sebelumnya. Bertambah hangat ketika aku kembali ke kedai soto kaki lima favoritku. Aroma kuah soto yang mengepul membawa ingatanku pada masa kecil, ketika Bapak sering membawaku ke sini dulu. Rasa kuahnya masih sama, menghangatkan tubuh dan hati di malam yang sejuk.

Selama lima hari di Pekanbaru, aku kembali mengunjungi tempat-tempat yang dulu begitu akrab. Mal SKA, mal legendaris yang dulu menjadi tempat bermain favorit, masih berdiri kokoh dengan hiruk-pikuk pengunjung. Aku juga menyusuri jalan-jalan yang pernah menjadi bagian dari keseharianku, melihat rumah-rumah lama yang kini telah banyak berubah. Di tepi Jalan Sudirman, aku sempat berdiri hanya untuk mengamati kendaraan yang lalu lalang dengan kecepatan tinggi. Benakku berucap, “Kota ini sudah jauh lebih berkembang dibanding 15 tahun lalu aku di sini.”

Tak lupa, aku bertemu dengan teman-teman lama. Kami duduk di sebuah kafe kecil, tertawa mengingat masa kecil yang penuh kenangan. Rasanya, waktu seakan berhenti sejenak saat bersama mereka. Lima hari di Pekanbaru terasa sangat singkat, tetapi setiap detiknya dipenuhi dengan kebahagiaan.

Menyambut Tahun Baru di Perjalanan: Menuju Palembang

Setelah lima hari yang penuh kenangan, tibalah saatnya melanjutkan perjalanan ke Palembang pada tanggal 31 Desember. Mobil kembali melaju di jalan lintas Sumatera, dan kali ini, perjalanan terasa lebih panjang karena diiringi perasaan berat meninggalkan Pekanbaru. Aku berusaha menikmati perjalanan, meskipun bayangan kota kelahiranku masih membekas di pikiran.

Menariknya, aku menyambut pergantian tahun di dalam perjalanan. Tepat tengah malam, kami masih berada di jalan, di antara perbukitan dan jalanan gelap dengan sesekali cahaya lampu kendaraan lain menjadi teman. Malam itu kami memutuskan untuk beristirahat, di salah satu area peristirahatan di jalan lintas Sumatera. Aku bercanda dengan keluargaku, “Tahun baru kita rayakan di jalanan lintas Sumatera!” Tertawa kecil, kami merayakan tahun baru dalam kesederhanaan, di dalam mobil yang telah menjadi rumah kedua selama perjalanan ini.

Pukul 9 pagi, 1 Januari 2025, kami tiba di Palembang. Tanpa berpikir panjang, sarapan pertama di tahun baru adalah pempek dan kuliner khas Palembang lainnya, seperti otak-otak bakar, tekwan, dan model. Rasanya semakin nikmat setelah perjalanan panjang. Setelah kenyang, kami menyempatkan diri mengunjungi ikon Kota Palembang, Jembatan Ampera, yang gagah membentang di atas Sungai Musi. Kami menghabiskan beberapa jam di kota ini, menikmati suasana khas Palembang yang tenang namun tetap hidup.

Namun, waktu kami di Palembang tidaklah lama. Setelah setengah hari berkeliling, kami kembali melanjutkan perjalanan pulang menuju Bogor.

Etape Terakhir: Pulang ke Bogor

Perjalanan Palembang ke Lampung kini lebih cepat berkat jalan tol yang telah dibangun. Kami melaju dengan lebih nyaman, menikmati pemandangan yang terhampar luas di sepanjang perjalanan. Setelah beberapa jam berkendara, kami tiba di Pelabuhan Bakauheni pada malam hari dan bersiap menyeberang kembali ke Pulau Jawa.

Angin laut malam yang berhembus di dek kapal memberikan kesan tenang, menutup perjalanan panjang kami di Pulau Sumatera. Aku duduk di tepi kapal, menatap lautan yang gelap namun menenangkan. Empat jam di atas laut memberi waktu untuk merenung, tentang perjalanan yang telah kulalui dan pengalaman yang kudapatkan.

Ketika kapal akhirnya merapat di Pelabuhan Merak, rasanya seperti kembali ke realitas. Tiga jam perjalanan darat dari Pelabuhan Merak akhirnya membawa kami kembali ke Bogor. Ketika mobil berhenti di depan rumah pada dini hari, ada rasa lega sekaligus haru. Perjalanan ini telah memberi banyak kenangan baru, mempertemukan kembali dengan masa lalu, dan membuatku semakin menghargai waktu bersama keluarga.

Setahun menjadi musafir dalam perjalanan ini mengajarkanku satu hal: perjalanan darat tidak seburuk yang dibayangkan. Justru di setiap tikungan jalan, di setiap kota yang disinggahi, ada cerita yang menunggu untuk ditemukan. Aku menutup perjalanan ini dengan senyuman, membawa serta kenangan yang akan selalu kusimpan dalam hati.***

 

Salsabila Maharani, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, SV IPB

 

Ramah Lingkungan dan Berdampak Sosial, Ini Komitmen Nyata BRI Terapkan Prinsip ESG untuk Bisnis Berkelanjutan

0

Bogordaily.net – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI terus menegaskan komitmen dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai bagian dari strategi bisnis Perseroan. Hal ini seiring dengan meningkatnya perhatian investor terhadap aspek berkelanjutan.

Direktur Utama BRI Sunarso menegaskan bahwa ESG bukan sekadar tren, melainkan merupakan arah strategis yang fundamental bagi bisnis di tingkat global. Adapun, BRI telah membentuk struktur yang kuat, mulai dari komite hingga divisi khusus yang memastikan bahwa semua inisiatif keberlanjutan terlaksana dengan baik.

“Dalam mengimplementasikan ESG ini, proses bisnis dan operasional BRI telah menyelaraskan dengan standar yang berlaku, baik domestik maupun global. Kemudian, implementasinya kita sudah menyusun sustainability strategy yang fokus pada tiga pilar utama yakni Environmental, Social, dan Governance (ESG),” ujar Sunarso dalam acara Kompas 100 Outlook: Investasi Berkelanjutan di dalam Ekosistem Bisnis Global pada pertengahan Februari 2025 lalu.

Pertama, dalam implementasi pilar Lingkungan, BRI telah mengambil berbagai langkah konkret untuk mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon. Salah satu prioritas utama adalah penerapan manajemen risiko perubahan iklim, yang diikuti dengan inisiatif Green Network dan Green Banking.

Kedua, dari sisi Sosial, BRI pun berupaya meningkatkan inklusi dan literasi keuangan. Komitmen ini sejalan dengan peran BRI sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan, di mana hingga akhir 2024 total kredit yang disalurkan BRI mencapai Rp1.354,64 triliun, tumbuh 6,97% secara tahunan (yoy, dengan dominasi kredit UMKM yang mencapai 81,97% dari total kredit, atau setara dengan Rp1.110,37 triliun.

Kemudian, dalam pengelolaan tenaga kerja, perusahaan menerapkan Human Capital Management. Sementara itu, dalam hubungannya dengan masyarakat, BRI menjalankan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sebagai bentuk kontribusi terhadap pembangunan sosial dan lingkungan yang berkelanjutan.

Sedangkan, untuk pilar Ketiga yakni Governance, BRI juga secara konsisten memperkuat Tata Kelola sembari Perseroan terus menyelaraskan praktik bisnisnya dengan standar etika global guna menghindari praktik greenwashing, serta meningkatkan pengelolaan risiko terkait ESG, termasuk risiko siber di era digital.

Sebagai upaya nyata dalam mendukung keuangan berkelanjutan, BRI telah menyalurkan sustainability finance alias pembiayaan berkelanjutan dalam bentuk Green Loan dan Social Loan. Tercatat, hingga Desember 2024, BRI telah menyalurkan kepada kegiatan usaha berkelanjutan yaitu Green Loan sebesar Rp86,6 triliun. Sementara itu, penyaluran Social Loan mencapai Rp698,7 triliun, yang difokuskan untuk mendukung pertumbuhan UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

Kemudian, dari sisi liabilitas, BRI telah menjalankan sustainable funding activities melalui penerbitan Green Bond dengan total nilai Rp13,5 triliun, yang terdiri dari beberapa tahap sejak 2022. Adapun, penerbitan Green Bond tahap 1 senilai Rp5 triliun pada 21 Juli 2022. Dirinya menyebut obligasi hijau BRI selalu mengalami oversubscribe, mencerminkan tingginya minat pasar terhadap instrumen keuangan berkelanjutan.

Setelah sukses di tahap pertama, BRI kembali melanjutkan penerbitan green bond tahap 2 senilai Rp6 triliun pada Oktober 2023 dan green bond tahap 3 senilai Rp2,5 triliun pada 20 Maret 2024.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menekankan bahwa penerapan ESG bukan sekadar kewajiban, tetapi telah menjadi bagian integral dari strategi bisnis yang dapat meningkatkan value perusahaan di mata investor dan pemangku kepentingan. “Di pasar modal Indonesia saat ini, investasi berkelanjutan menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, tercermin dari peningkatan nilai aset kelolaan dari produk investasi pasif yang bertema ESG,” ungkapnya. ***

Hijrah Hafiduddin: Konsultan Pajak, Lawyer, dan Dosen dengan Dedikasi Tinggi

0

Bogordaily.net – Hijrah Hafiduddin adalah sosok inspiratif yang telah membuktikan bahwa kerja keras, kemandirian, dan dedikasi dapat mengantarkan seseorang meraih kesuksesan di berbagai bidang. Lahir di Bogor pada 14 Agustus 1988, beliau dikenal sebagai Konsultan Pajak, Lawyer, dan Dosen di bidang perpajakan dan akuntansi.

Dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di bidang perpajakan, akuntansi, sumber daya manusia, manajemen, dan hukum, beliau beliau telah menangani klien dari berbagai sektor industri, mulai dari otomotif, perhotelan, pelatihan, makanan dan minuman, teknologi informasi, keuangan, minyak dan gas bumi, pertambangan, konstruksi, perfilman, pelayaran, dan lainnya. Keberagaman pengalaman ini membuktikan bahwa beliau memiliki pemahaman mendalam dalam menghadapi kompleksitas peraturan dan dinamika bisnis di berbagai sektor.

Perjalanan Pendidikan: Kemandirian Sejak Usia Muda

Perjalanan pendidikan Hijrah Hafiduddin penuh dengan tantangan yang justru membentuk karakter kuat dalam dirinya. Beliau memulai pendidikan tinggi di D3 Perpajakan Universitas Indonesia dan berhasil menyelesaikannya pada tahun 2009.

Tidak berhenti di situ, beliau melanjutkan studi S1 Ekonomi Akuntansi di Universitas Ibnu Khaldun Bogor dan lulus pada tahun 2012. Keinginan untuk memperluas pengetahuan dalam bidang hukum membawanya mengambil S2 Hukum di Universitas Pakuan pada 2020 dan menambah gelar S1 Hukum di STIH Dharma Andhiga pada 2022. Beliau juga melanjutkan pendidikan S3 Hukum di Universitas Indonesia.

Namun, dibalik deretan gelar akademiknya, terdapat kisah perjuangan luar biasa. Kehilangan sosok ayah di usia 17 tahun membuat beliau harus belajar mandiri lebih awal. Kondisi ini memaksanya untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan selama masa studi.

Dengan uang saku sebesar Rp300.000 per bulan saat kuliah di Universitas Indonesia, beliau tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga memutar peluang menjadi penghasilan. Momen krusial terjadi saat beliau menjadi ketua kelas di semester dua.

Melihat adanya kebutuhan besar akan materi kuliah dalam bentuk fotokopi, beliau memutuskan untuk mengelola kebutuhan tersebut. Alih-alih menggunakan jasa fotokopi biasa dengan tarif Rp100 per lembar, beliau menemukan tempat fotokopi yang menawarkan harga Rp55 per lembar.

Selisih harga ini menjadi sumber keuntungan yang signifikan. Dengan mengelola fotokopi untuk 250 mahasiswa dari dua kelas, beliau mampu mendapatkan penghasilan tambahan yang tidak hanya mencukupi kebutuhan pribadi tetapi juga membiayai kuliah sendiri pada semester 4 sampai dengan semester akhir kuliah. Bahkan, berkat usahanya tersebut, beliau berhasil membeli motor pertamanya secara tunai saat semester lima. Kisah ini menjadi bukti bahwa kreativitas dan ketekunan mampu mengubah keterbatasan menjadi peluang.

Karier Profesional: Dari Pegawai hingga Konsultan Mandiri

Hijrah Hafiduddin memulai karir profesionalnya pada tahun 2009 sebagai guru di Primagama, salah satu bimbingan belajar ternama di Indonesia. Pengalaman ini menjadi awal bagi beliau dalam mengasah kemampuan komunikasi dan membangun hubungan interpersonal yang kuat.

Tidak lama berselang, beliau mengambil langkah untuk lebih mendalami bidang perpajakan dengan magang di PT Multi Utama Consultindo, sebuah kantor konsultan pajak. Magang selama enam bulan tersebut menjadi pijakan penting dalam memahami praktik perpajakan secara langsung.

Pada tahun 2010, beliau bergabung sebagai staf accounting di Hotel Salak Bogor. Di sini, beliau tidak hanya menangani laporan keuangan, tetapi juga menunjukkan kemampuan manajerial yang membuatnya dipromosikan menjadi HRD Manager hingga akhir 2012.

Tahun 2013 menjadi babak baru ketika beliau diterima bekerja di perusahaan minyak dan gas ternama, PT Medco Energi Internasional Tbk, sebagai tax specialist. Selama empat tahun, beliau terlibat dalam berbagai proyek yang memperkuat pengetahuannya di sektor energi dan sumber daya alam.

Namun, jiwa pembelajar dalam dirinya tidak pernah padam. Di tahun kedua bekerja di Medco, beliau memutuskan mengikuti Ujian Sertifikasi Konsultan Pajak (USKP) tingkat B dan menyelesaikan Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA), menambah kredibilitasnya sebagai konsultan dan praktisi hukum.

Pada Maret 2017, beliau mengambil keputusan besar untuk keluar dari zona nyaman dengan mengundurkan diri dari Medco Energi dan membangun usaha konsultan pajak sendiri. Dengan nama HHH Consultant, beliau memulai perjalanan sebagai konsultan pajak mandiri.

Berkat dedikasi dan keahliannya, perusahaan ini berkembang pesat dan kini mempekerjakan tujuh karyawan tetap. Dalam tujuh tahun terakhir, HHH Consultant telah melayani ribuan klien dari berbagai sektor dan terus berkembang hingga saat ini.

Tak hanya fokus pada dunia bisnis, beliau juga aktif dalam berbagai organisasi profesional. Ia menjabat sebagai Pengurus Young IFA di International Fiscal Association, Ketua Banom Legal dan Pajak Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Bogor, Ketua Federasi Advokat Republik Indonesia (FERARI) Kota Bogor, dan anggota Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI).

Keterlibatan aktif dalam komunitas otomotif seperti Honda Brio Club (HBC), Xpander Mitsubishi Owner Club (X-MOC), Terios Rush Club Indonesia (TERUCI), Pajero One (P-One), dan Land Rover Club Indonesia (LRCI) menjadi bukti bahwa beliau mampu menyeimbangkan kehidupan profesional dan hobinya.

Akademisi yang Menginspirasi dan Penulis Produktif

Kecintaannya pada dunia hukum membawanya untuk terus mengeksplorasi berbagai kasus yang kompleks dan menantang. Beliau meyakini bahwa dunia hukum bukan hanya tentang peraturan semata, tetapi tentang bagaimana menyusun strategi dan argumentasi yang kuat, terutama dalam menghadapi kasus perpajakan dan sengketa hukum.

Selain berkarier di dunia pendidikan dan hukum, beliau juga aktif menulis dan telah menerbitkan dua buku. Buku pertamanya berjudul Hak dan Kewajiban Perpajakan Industri Otomotif, yang ditulis selama masa pandemi COVID-19 saat beliau menjalani isolasi mandiri di rumah sakit.

Masa karantina yang penuh keterbatasan justru dimanfaatkannya untuk produktif, menghasilkan karya yang bermanfaat bagi para praktisi pajak. Pengalaman menangani klien perusahaan otomotif asal Korea menjadi inspirasi utama dalam penulisan buku tersebut.

Buku keduanya, Sengketa Pajak Otomotif, diterbitkan pada tahun 2024 dan menjadi kelanjutan dari pengalaman beliau menangani berbagai sengketa perpajakan di industri otomotif. Buku ini tidak hanya membahas teori, tetapi juga studi kasus nyata yang dapat menjadi acuan bagi konsultan pajak, akademisi, dan pelaku industri.

Visi Masa Depan dan Prinsip Hidup

Memiliki semangat belajar yang tidak pernah padam, Hijrah Hafiduddin berencana melanjutkan pendidikan hingga jenjang S3 Hukum. Langkah ini bukan semata untuk menambah gelar akademik, melainkan untuk memperkuat kapabilitasnya dalam bidang hukum dan menunjang karir mengajar di perguruan tinggi ternama seperti IPB University dan Universitas Indonesia.

Di sisi lain, beliau juga memiliki target besar dalam bisnisnya. Ia berencana mengembangkan HHH Consultant hingga mampu menangani 700 klien aktif dengan sistem manajemen efektif, di mana setiap karyawan dapat mengelola hingga 10 klien bulanan. Saat ini, perusahaan baru memiliki 20-30 klien tetap, namun beliau optimis angka tersebut akan terus bertambah seiring waktu.

Dalam menjalani kehidupan, beliau berpegang pada prinsip-prinsip sederhana namun bermakna. Salah satunya berasal dari sebuah hadits yang berbunyi, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.” Bagi beliau, keberhasilan bukan sekadar soal materi, tetapi seberapa besar dampak positif yang dapat diberikan kepada lingkungan sekitar.

Prinsip lain yang dipegang teguh adalah, “Semakin banyak memberi, semakin banyak menerima,” sebuah pandangan hidup yang mendorongnya untuk terus berbagi tanpa pamrih. Ia juga percaya bahwa memperlakukan orang tua dengan penuh hormat dan kasih sayang akan membuka pintu rezeki yang luas, sebuah nilai yang terus ia pegang dalam keseharian.

Lebih dari itu, beliau percaya bahwa persaingan terbaik adalah bersaing dengan diri sendiri untuk menjadi versi terbaik. Prinsip ini menjadi fondasi dalam setiap langkahnya, baik sebagai profesional, akademisi, maupun pribadi. Hijrah Hafiduddin membuktikan bahwa kesuksesan bukan sekadar hasil dari keberuntungan, tetapi buah dari kerja keras, kegigihan, dan kemauan untuk terus berkembang.***

 

Inayatul Muthmainnah,

Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB

Google Search Mulai Ditinggalkan, Masyarakat Mulai Beralih ke AI dan Tiktok

0

Bogordaily.net – Dalam dunia digital, Google telah lama mendominasi sebagai mesin pencari utama di internet sejak dirilis pada 4 September1996. Selama bertahun-tahun, Google Search menjadi platform utama dalam pencarian informasi, bahkan sempat muncul istilah “gugling” yang digunakan secara luas untuk menyebut aktivitas mencari informasi di internet.

Namun, dominasi Google Search kini mulai mengalami penurunan. Menurut laporan dari Search Engine Land, pangsa pasar Google telah turun di bawah 90% dalam tiga bulan terakhir, sebuah fenomena yang belum terjadi sejak 2015 (9to5Google, 16 Januari 2025).

Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang menawarkan pengalaman pencarian yang lebih interaktif dan efisien. Beberapa platform berbasis AI seperti Perplexity dan ChatGPT telah menarik minat pengguna dengan memberikan hasil pencarian yang lebih relevan dan kontekstual.

Selain AI generatif, TikTok juga berperan dalam pergeseran tren pencarian informasi di internet. Aplikasi berbagi video ini semakin banyak digunakan oleh generasi muda untuk mencari berbagai informasi, termasuk rekomendasi tempat wisata, kuliner, hingga tutorial. TikTok bahkan mulai mengintegrasikan tautan ke Google Search, sementara Google sendiri telah menampilkan hasil pencarian dari TikTok sejak awal 2024. Menurut Mark Scmulik, analis internet dari Bernstein Research, generasi Z (lahir antara 1997 dan 2012) cenderung menggunakan TikTok sebagai alat pencarian utama, menggantikan Google Search dalam mencari informasi spesifik seperti ulasan produk atau tempat makan.

AI dan Media Sosial Sebagai Alternatif Mesin Pencari

Kecerdasan buatan semakin menjadi pilihan utama dalam pencarian informasi dibandingkan mesin pencari tradisional seperti Google Search. AI mampu memberikanhasil yang lebih tepat dan relevan berkat kemampuannya dalam memahami konteks pencarian dengan lebih baik. Model AI berbasis bahasa, seperti ChatGPT, menggunakan teknologi pemrosesan bahasa alami (NLP) yang memungkinkan mereka memahami maksud di balik pertanyaan pengguna, bukan sekadar mencocokkan kata kunci.

Berbeda dengan mesin pencari yang hanya menampilkan daftar tautan berdasarkan relevansi kata kunci, AI mampu mengolah informasi dari berbagai sumber dan menyajikannya dalam bentuk yang lebih ringkas serta mudah dipahami (Tao et al., 2023).

Selain itu, AI juga lebih responsif dalam menyajikan informasi. Penelitian menunjukkan bahwa pengguna dapat menyelesaikan tugas pencarian lebih cepat dengan bantuan AI dibandingkan dengan mesin pencari tradisional. AI mampu menyaring, menganalisis, dan menyajikan jawaban secara langsung, sehingga pengguna tidak perlu menghabiskan waktu membuka berbagai tautan untuk mencari jawaban yang mereka butuhkan (Kim & Park, 2022).

Tidak hanya AI, TikTok juga menghadirkan fitur pencarian yang sangat efektif. Ketika pengguna mengetikkan kata kunci seperti “HP Samsung terbaru di 2025,” TikTok langsung menampilkan video singkat yang menjelaskan produk dengan jelas dan representatif.

Popularitas TikTok sebagai mesin pencarian alternatif semakin meningkat, terutama di Indonesia yang menempati posisi kedua sebagai negara dengan jumlah pengguna TikTok terbanyak di dunia, mencapai 99,07 juta orang (Kominfo).

Fenomena ini membuktikan bahwa preferensi pengguna kini lebih condong ke format video yang singkat namun informatif dibandingkan hasil pencarian berbasis teks.

Dampak Transformasi Digital dalam Pencarian Informasi

Kemajuan teknologi informasi telah mengubah cara manusia memperoleh dan menyebarkan informasi. Pergeseran dari mesin pencari tradisional seperti Google kecplatform berbasis AI dan TikTok mencerminkan evolusi dalam pola komunikasi yang lebih interaktif dan efisien.

Salah satu dampak signifikan dari perubahan ini adalah penyebaran informasi yang semakin cepat. TikTok, misalnya, memungkinkan konten menjadi viral dalam waktu singkat melalui algoritma yang menampilkan video sesuai preferensi pengguna. Hal ini mempercepat distribusi informasi secara masif (Nugroho & Pratama, 2023).

Selain itu, platform seperti TikTok dan aplikasi berbasis AI menghubungkan orang di seluruh dunia melalui konten visual dan interaktif. Pengguna dapat mengekspresikan diri dan berinteraksi dengan audiens global, memperluas jaringan komunikasi tanpa batas geografis (Putri, 2022).

Dalam dunia pendidikan, AI dan TikTok juga berperan dalam memajukan metode pembelajaran. Konten edukatif dalam format video pendek dan interaktif membantu meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa dalam proses belajar (Yusuf, 2023). Dengan adanya teknologi ini, pembelajaran menjadi lebih menarik, mudah diakses, dansesuai dengan preferensi generasi digital. Secara keseluruhan, integrasi AI dan media sosial dalam pencarian informasi mencerminkan transformasi besar dalam cara manusia mengakses, berbagi, dan memahami informasi. Format pencarian yang lebih cepat, interaktif, dan berbasis video menjadi tren utama yang menggantikan mesin pencari tradisional, menunjukkan bahwa dunia digital terus berkembang menuju pengalaman pencarian yang lebih intuitif dan efisien. ***

Andrianzanzu J0401231093
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Kementerian UMKM dan DPR Teguhkan Komitmen Sukseskan Penyaluran KUR

0

Bogordaily.net – Kementerian Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Kementerian UMKM) bersama Komisi VII DPR RI meneguhkan komitmen untuk bersama-sama menyukseskan penyaluran program Kredit Usaha Rakyat (KUR) 2025.

Menteri UMKM Maman Abdurrahman dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI, di Jakarta, Selasa (18/3) mengatakan, program KUR menjadi salah satu instrumen utama dalam mendukung pertumbuhan UMKM di tanah air.

“Target penyaluran KUR 2025 sebesar Rp300 triliun, dengan target debitur baru sebanyak 2,34 juta orang, dan target debitur graduasi sebesar 1,17 juta orang, serta 60 persen penyaluran untuk sektor produksi,” kata Menteri UMKM Maman Abdurrahman saat menghadiri rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI di Jakarta, Selasa (18/3).

Namun demikian, menurut Menteri Maman, untuk mencapai target tersebut masih terdapat berbagai macam kendala, mulai dari isu terkait administrasi, informasi ketentuan dan kriteria KUR, hingga soal agunan tambahan.

Terkait agunan tambahan KUR, Menteri UMKM menegaskan untuk KUR super mikro dan KUR mikro tidak dikenakan agunan tambahan. Namun tetap harus memenuhi kriteria usaha produktif yang layak dibiayai dengan minimal telah berjalan selama 6 bulan untuk KUR mikro dan kurang dari 6 bulan atau telah mengikuti pendampingan usaha untuk KUR super mikro.

“Jadi saya tekankan, untuk KUR super mikro sampai dengan Rp10 juta dan KUR mikro lebih dari Rp10 juta sampai dengan Rp100 juta tidak dikenakan agunan tambahan. Sedangkan untuk KUR yang sampai dengan Rp500 juta dapat dikenakan agunan tambahan,” kata Menteri UMKM menjelaskan.

Menteri UMKM menambahkan, realisasi penyaluran KUR sampai dengan 16 Maret 2025 telah mencapai Rp44,73 triliun dengan 788.237 debitur.

Untuk itu, Menteri Maman berharap kolaborasi dapat semakin diperkuat antara Pemerintah, DPR, dan bank penyalur dalam mencapai target penyaluran KUR sekaligus mengawasi pelaksanaannya di daerah.

“Kami sangat berharap para anggota dewan bisa turut mengawal dan mengawasi, karena sampai saat ini masing-masing daerah belum tercapai target khususnya di sektor produksi. Sedangkan untuk bank penyalur, kompleksitas penyaluran KUR cukup luar biasa, oleh karena itu semangat koordinasi dan kolaborasi diupayakan betul-betul bisa diperkuat untuk memetakan inti permasalahan pendistribusian KUR sehingga target bisa tercapai,” ujar Menteri Maman.

Menteri Maman juga meminta bank penyalur agar mengikuti aturan yang berlaku, serta target yang sudah dicanangkan pada KUR 2025.

Senada disampaikan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty yang mengatakan, program KUR bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat khususnya pengusaha UMKM. DPR dalam hal ini komisi VII siap mendukung kesuksesan penyaluran KUR.

“Diharapkan penjangkauan calon debitur KUR potensial semakin meningkat guna mewujudkan pemerataan akses kredit usaha,” kata Evita Nursanty.

Evita juga meminta keberpihakan terhadap pengusaha UMKM di berbagai daerah terus diperkuat.

“Partisipasi bank daerah juga perlu ditingkatkan tapi tentu dengan memperhatikan likuiditas bank daerah,” ujar Evita Nursanty. ***

Antisipasi Gangguan Pengaliran Air, Tirta Kahuripan Siagakan Petugas 24 Jam

Bogordaily.net – Menjelang libur panjang Hari Raya Lebaran 1446 H, Perumda Air Minum Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor secara internal terus melakukan koordinasi antar unit terkait.

Mulai dari pasokan bahan kimia dan perpipaan, strategi pengamanan stok air di recevoir, kesiapan tim teknik hingga sosialisasi kepada pelanggan Perumda Air Minum Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor.

Langkah yang dilakukan Perumda Air Minum Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor tersebut sebagai upaya memitigasi risiko jika terjadi gangguan pengaliran baik akibat faktor alam maupun teknis.

Direktur Umum Abdul Somad, menyampaikan kepada pelanggan Perumda Air Minum Tirta Kahuripan untuk tidak khawatir apabila terjadi gangguan pengaliran selama libur lebaran karena telah menyiapkan petugas dan layanan pengaduan yang siaga 24 jam.

“Ada 311 petugas dan 11 armada tangki yang akan standby dan tersebar di sembilan wilayah pelayanan dan apabila ada gangguan pengaliran atau temuan kebocoran pipa, pelanggan dapat menghubungi layanan pengaduan yang tetap beroperasi selama libur panjang lebaran melalui call center di nomor 1500-862 dan WhatsApp official di nomor 0821-1996-9008.” ujarnya.

Untuk diketahui oleh pelanggan, pelayanan loket pembayaran diseluruh kantor cabang akan menyesuaikan tanggal hari libur nasional dan cuti bersama yaitu tutup mulai hari Jum’at tanggal 28 Maret 2025 dan buka kembali hari Selasa tanggal 8 April 2025.

Namun bagi pelanggan yang akan melakukan pembayaran tagihan air dapat melalui channel bank dan PPOB seperti Bank Mandiri, Bank BJB, Bank BNI, Bank BTN, Bank BSI, PT. POS, Indomaret, Alfamaret dan Alfamidi.

Sedangkan bagi pelanggan yang akan membayar tagihan penyambungan kembali selama libur nasional dan cuti bersama dapat membayar melalui transfer ke Bank Mandiri Cabang Cibinong atas nama Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor ke nomor rekening 1570000070681, dengan mengirimkan bukti transfer, no sambungan langganan, nama dan alamat ke admin masing-masing cabang melalui WA official.

“Kami imbau kepada pelanggan yang mudik dan kondisi pagar rumahnya terkunci untuk menggunakan papan pencatat meter air untuk memudahkan pencatatan petugas pembaca meter dan untuk mencegah lonjakan tagihan air akibat kebocoran pipa di dalam rumah sebaiknya mematikan air dari stop kran merah yang letaknya berdampingan dengan meter air,” katanya.

Selain itu diimbau untuk menggunakan toren dan bak penampungan air sebagai langkah antisipasi apabila terjadi gangguan sambil menunggu perbaikan selesai dan pengaliran normal kembali.

“Sedangkan informasi pengaliran terbaru dapat dipantau di story Instagram kami di @perumdaairminumtirtakahuripan.” tutup Abdul Somad.

Sebagai bentuk kepedulian sosial kepada masyarakat, Perumda Air Minum Tirta Kahuripan menyalurkan sejumlah paket Bantuan Hari Raya yang berisi bahan pokok untuk masyarakat yang membutuhkan di sekitar kantor pusat, cabang pelayanan dan Instalasi Pengolahan Air.

Dan dalam kesempatan ini juga, Direksi beserta seluruh pegawai Perumda Air Minum Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor mengucapkan Taqabbalallahu minna wa minkum, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin. ***

Mirza Irhas Khalifah, Dari Sebuah Ketertarikan Menjadi Sebuah Penemuan

0

Bogordaily.net – Mirza Irhas Khalifah seorang perantau dari desa hingga ke kota, Mirza lahir di Desa Pungguk Meranti, Kecamatan Ujan Mas, Kepahiang, Bengkulu, 1 Agustus 2002, anak kedua dari tiga bersaudara.

Sebelum menjadi asisten dosen di prodi Ekowisata, perjalanan pendidikan Mirza cukup panjang, mulai dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Keatas hingga jenjang Universtas, Mirza ber-sekolah di SD negeri 11 Rejang Lebong, kemudian ia melanjutkan pendidikannya di SMP Kreatif Aisyiyah Jl. Kha Dahlan No.71, RT.09, Talang Rimbo Baru, Kec. Curup Tengah, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu.

Pada saat SMP Mirza layaknya anak-anak pada umumnya, bersekolah, bermain dan bersenang-senang, belum terpikir olehnya untuk menekuni di suatu bidang tertentu, hingga pada saat Mirza memasuki jenjang yang lebih tinggi, ia melanjutkan pendidikannya di SMA 04, Desa Teladan, Curup Selatan, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Sejak SMA Mirza mulai menyukai bidang robotik, maka dari itu ia mengambil jurusan IPA untuk mendukung kesukaannya, tetapi hari demi hari Ketertarikan nya pada bidang robotik mulai berkurang, namun pada kelas 3 menjelang kelulusan ia mulai menyukai di bidang kehutanan seperti tumbuhan dan satwa.

Pada saat itu juga, Mirza mulai mengambil penjurusan biologi untuk menunjang ketertarikannya pada tumbuhan dan satwa, didukung dengan kondisi geografis tempat tinggalnya yang masih kaya akan tumbuhan dan satwa, makin meyakinkan Mirza pada bidang nya. Menjelang kelulusan Mirza dinyatakan sebagai siswa Eligible di sekolahnya, alhasil ia mendaftar SNMPTN pada tahun 2020 lalu, ia mendaftar jurusan KSHE IPB ( Konservasi Sumberdaya dan Hutan) selain itu Mirza juga mendaftar melalu jalur USMI ( Undungan Seleksi Masuk IPB) jurusan Ekowisata dan Teknologi Produksi dan Pengembangan Masyarakat.

Sayangnya Mirza tidak lulus dalam jalur SNMPTN tetapi ia berhasil lulus pada jalur USMI pilihan pertama yaitu Ekowisata. Disinilah awal mula kisah rantau Mirza. Pada awal semester 1 hingga 3 Mirza melaksanakan kuliah secara online dikarenakan pandemi covid pada saat itu, hingga pada semester 4 ia mulai merantau ke Kota bogor. Dengan modal tekad untuk menuntut ilmu dan juga semangat belajar, Mirza berhasil menyelesaikan pendidikan D4 nya,

Sebelum lulus Mirza menyempatkan diri nya sebagai Asisten Dosen di jurusan Ekowisata, ia memiliki ketertarikan dalam hal mengajar. Mirza juga memiliki pengalaman professional yaitu ia pernah menjadi Surveyor Insekta di PT Harita pada tahun 2024 yang lalu, di pulau Obi, maluku Utara. Ia bekerja sebagai pemantauan satwa, ia bersama lima orang temannya bekerja dalam bidang-bidang yang berbeda, ada yang bekerja dalam taksa mamalia, ada juga yang bekerja dalam taksa tumbuhan dan Mirza sendiri bekerja sebagai tenaga ahli dibidang taksa serangga sesuai dengan minat dan bakatnya.

Bisa di bilang Mirza memiliki keterampilan khusus di bidang serangga di bandingan dengan teman-temannya, walaupun program studi Ekowisata mempelajari semua hal terkait tumbuhan, ekosistem, budaya dan satwa, tetapi setiap mahasiswa memiliki keterampilannya di bidang masing masing. Mirza ditugaskan oleh PT Harita untuk memantau jenis-jenis serangga apa saja yang terdapat di pulau Obi.

Berdasarkan pengalaman dan minatnya terhadap serangga, Mirza memutuskan untuk menyelesaikan tugas akhirnya yaitu skripsi yang berjudul “Perencanaan Ekonomi Capung di Pulau Belitung, Provinsi Bangka Belitung” jadi penelitian ini membahas terkait inventarisasi dan mengindentifikasi jenis jenis capung yang terdapat di Pulau Belitung.

Mirza melakukan penelitian selama 2 bulan lamanya dan mendapatkan hasil bahwa terdapat 75 jenis capung dan dua diantaranya endemic Belitung, yaitu 2 jenis yang hanya ada di pulau Belitung yang memiliki nama ilmiah Amphicnemis Kuiperi dan Mortonagrion Appendicaulatum,

Berdasarkan data data yang ia dapatkan, penelitian tersebut fokus terhadap satu Pulau Bangka Belitung, jadi setiap kecamatan menyimpan data jenis-jenis capung dan dari data-data tersebut Mirza jadikan sebuah program yang Bernama Nangkapi Induk Aik di setiap kecamatannya, dan apabila kecamatan ingin mengimplementasikan hanya cukup bermodalkan keinginan saja, karena dari itinerary target biaya, dari waktu segala macam sudah dibuatkan oleh Mirza.

Hal ini juga menjadikan salah satu pengabdian Mirza ke Masyarakat setempat. Selain itu, semua yang ia lakukan tidak luput dari peran orang tua dan kakak tingkatnya semasa di perkuliahan, perjuangan orang tuanya dalam memberikan fasilitas untuk pendidikan Mirza sangatlah berarti bagi Mirza, selain orang tuanya, terdapat sosok kakak tingkat Mirza yang menuntun dalam ketertarikan Mirza di bidang satwa yaitu serangga, kakak tingkatnya menyarankan kepada Mirza untuk menekuni di bidang Satwa karena ia melihat bahwa Mirza memiliki minat dan keinginan untuk memperdalam bidang tersebut.

Setelah lulus kuliah ia ingin sekali bekerja di Kementerian Kehutanan, serta menjadi Polhud atau Surveyor serta ingin berinovasi membuat destinasi desa ekowisata, bukan pariwisata lagi, karena sekarang masyarakat lebih tau mengenali desa Ekowisata atau pariwisata berkelanjutan, ia berharap setiap desa di Indonesia memanfaatkan serta memaksimalkan SDM yang ada di desa tersebut dengan cara memberikan fasilitas yang dibutuhkan.

Mensejahterakan masyarakat juga menjadi hal yang sangat penting dalam inovasi tersebut, pemberdayaan budaya setempat juga harus dilakukan karena budaya dapat menarik para wisatwan untuk mengunjungi desa tertentu, cari hal yang menarik yang terdapat di desa yang ingin

berinovasi, bisa dari alam nya, satwanya, budayanya bahkan adatnya, karena jika suatu budaya sudah dikenal oleh semua orang, maka budaya tersebut akan mudah di lestarikan oleh generasi selanjutnya, hal ini juga menunjukan ke masyarakat luar bahwa masyarakat desa tersebut bangga dengan kebudayaan dan alam yang dimilikinya, selain menaikan kebudayaan setempat, inovasi desa ekowisata juga dapat menaikan perekonomian masyarakat desa tersebut, semakin banyak turis yang datang, semakin banyak juga lapangan pekerjaan yang tercipta, hal ini dapat mewujudkan kesejahteraan di masyarakat. Maka dari itu penerapan desa ekowisata atau pariwisata berkelanjutan harus diterapkan di seluruh desa di Indoensia.***

 

Ahmad Baihaqi Sufyan

Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University

Strategi Menyeimbangkan Peran Manusia dan Teknologi

0

Bogordaily.net – Di tengah derasnya arus digitalisasi, kita menyaksikan transformasi fundamental dalam cara kita hidup, bekerja, dan berinteraksi. Smartphone, yang dulunya hanya alat komunikasi, kini menjelma menjadi pusat kendali kehidupan kita, mengatur hampir setiap aspek dari rutinitas harian hingga keputusan penting.

Namun, di balik kemudahan dan efisiensi yang ditawarkan oleh teknologi, muncul pertanyaan krusial: bagaimana nasib peran manusia di era yang semakin didominasi oleh kecerdasan buatan dan otomatisasi? Apakah kita akan digantikan oleh mesin, atau dapatkah kita menemukan cara untuk beradaptasi dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan potensi kita?

Revolusi Digital dan Dampaknya: Transformasi yang Menyeluruh

 Indonesia, seperti negara-negara lain di dunia, sedang mengalami transisi dari Era Industri 4.0 menuju Society 5.0, sebuah visi masyarakat yang berpusat pada manusia dan didukung oleh teknologi. Perubahan ini membawa dampak luar biasa dalam kehidupan sehari-hari.

Coba bayangkan, beberapa dekade lalu, untuk memesan makanan, kita harus mendatangi restoran atau menelepon, seringkali dengan keterbatasan pilihan dan informasi. Sekarang, cukup dengan beberapa ketukan di layar smartphone, kita dapat menjelajahi berbagai pilihan kuliner, membandingkan harga, membaca ulasan, dan memesan makanan yang akan diantar langsung ke depan pintu.

Hal serupa berlaku untuk transportasi, di mana aplikasi ride-hailing telah menggantikan taksi konvensional, menawarkan kemudahan, transparansi harga, dan opsi pembayaran yang beragam.

Namun, kemudahan dan efisiensi ini datang dengan konsekuensi yang perlu diperhatikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 menunjukkan bahwa angka pengangguran di Indonesia mencapai 5,83%, sebuah angka yang mengkhawatirkan.

Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap pengangguran adalah otomatisasi berbagai pekerjaan yang dulunya dikerjakan oleh manusia. Contohnya, mesin ATM telah mengurangi kebutuhan akan teller bank, sistem check-in otomatis di bandara mengurangi kebutuhan akan staf ground handling, dan chatbot semakin sering menggantikan peran customer service.

Transformasi Pekerjaan di Era Digital: Evolusi Keterampilan dan Peran

 Meskipun otomatisasi mengancam beberapa jenis pekerjaan, era digital juga menciptakan peluang baru yang menarik. Pekerjaan-pekerjaan baru bermunculan, menuntut keterampilan dan pengetahuan yang berbeda dari sebelumnya.

Content creator, social media manager, data analyst, dan UI/UX designer adalah contoh pekerjaan yang relatif baru dan sangat diminati di era digital. Ini menunjukkan bahwa teknologi tidak sepenuhnya menggantikan manusia, tetapi lebih tepatnya mengubah lanskap pekerjaan, menciptakan kebutuhan akan keterampilan baru dan adaptasi yang berkelanjutan.

Keunggulan Manusia di Era Teknologi

Meskipun teknologi terus berkembang dengan pesat, ada beberapa aspek yang membuat manusia tetap unggul dan tidak tergantikan. Kemampuan unik manusia dalam berbagai bidang memastikan bahwa peran kita tetap relevan di tengah revolusi digital.

Kreativitas dan inovasi menjadi keunggulan utama yang dimiliki manusia. Kita memiliki kemampuan unik untuk berpikir “di luar kotak” dan menciptakan solusi kreatif untuk masalah yang kompleks.

Kecerdasan buatan (AI) mungkin dapat menghasilkan konten berdasarkan data yang ada, tetapi ide-ide orisinal dan terobosan inovatif tetap berasal dari pemikiran manusia. Imajinasi tanpa batas dan kemampuan untuk menghubungkan konsep yang tampaknya tidak berhubungan adalah kekuatan manusia yang belum bisa ditiru oleh mesin.

Selain itu, kecerdasan emosional menjadi pembeda signifikan antara manusia dan teknologi. Robot dan AI mungkin dapat mengenali ekspresi wajah atau menganalisis sentimen, tetapi mereka tidak benar-benar memahami emosi.

Kemampuan berempati, membangun hubungan, memahami konteks sosial, dan berkomunikasi secara efektif tetap menjadi keunggulan manusia yang sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pekerjaan.

Nuansa emosional dalam interaksi manusia menciptakan koneksi yang tidak dapat diduplikasi oleh mesin. Pengambilan keputusan kompleks juga tetap menjadi domain manusia.

Meskipun AI dapat menganalisis data dengan cepat dan memberikan rekomendasi berdasarkan algoritma, keputusan yang membutuhkan pertimbangan etis, moral, dan kontekstual tetap memerlukan penilaian manusia.

Manusia dapat mempertimbangkan nilai-nilai, norma, dan konsekuensi jangka panjang yang mungkin tidak dapat diprediksi oleh mesin.

Kemampuan untuk menimbang berbagai faktor tak terukur dan menggunakan intuisi berdasarkan pengalaman hidup memberikan keunggulan yang tidak dapat direplikasi oleh teknologi.

Strategi Adaptasi di Era Digital: Mempersiapkan Diri untuk Masa Depan

Untuk tetap relevan dan sukses di era digital, kita perlu mengembangkan strategi adaptasi yang komprehensif. Upaya ini tidak hanya tentang menguasai teknologi terbaru, tetapi juga tentang mengembangkan berbagai aspek diri yang tidak dapat digantikan oleh automasi dan kecerdasan buatan.

Upgrade skill secara berkelanjutan menjadi fondasi penting dalam beradaptasi. Kita perlu mempelajari keterampilan digital dasar, seperti penggunaan komputer, internet, media sosial, dan aplikasi produktivitas yang relevan.

Lebih dari itu, penting untuk selalu mengikuti perkembangan teknologi terbaru dan mempelajari keterampilan yang sesuai dengan bidang pekerjaan kita.

Yang tidak kalah krusial adalah meningkatkan kemampuan yang tidak dapat digantikan oleh mesin, seperti kreativitas, pemecahan masalah kompleks, dan komunikasi interpersonal yang efektif.

Pengembangan soft skills juga memainkan peran vital dalam strategi adaptasi. Kemampuan komunikasi yang efektif, baik lisan maupun tulisan, menjadi kunci dalam berinteraksi di dunia yang semakin terhubung.

Kemampuan bekerja dalam tim dan berkolaborasi dengan orang lain dari berbagai latar belakang dan disiplin ilmu menjadi aset berharga.

Selain itu, kemampuan memecahkan masalah secara kreatif dan inovatif, serta adaptabilitas terhadap perubahan yang cepat akan membuat kita lebih tangguh menghadapi disrupsi teknologi.

Pemanfaatan teknologi sebagai alat, bukan sebagai pengganti, merupakan pendekatan strategis lainnya. Kita harus bijak menggunakan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam pekerjaan, sambil tetap fokus pada tugas-tugas yang membutuhkan sentuhan manusia, seperti interaksi dengan pelanggan, pengembangan strategi, dan pengambilan keputusan kompleks.

Mengkombinasikan keterampilan teknis dengan kreativitas dan pemikiran kritis akan membantu kita menciptakan nilai tambah yang sulit direplikasi oleh mesin.

Membangun personal branding menjadi langkah penting dalam membedakan diri di pasar yang kompetitif. Ini dimulai dari menemukan keunikan diri dan mengidentifikasi apa yang membedakan kita dari orang lain.

Dengan mengenali dan mengembangkan diferensiasi ini, kita dapat memposisikan diri sebagai profesional yang tidak mudah tergantikan di era otomatisasi dan kecerdasan buatan.Bangun kehadiran online yang profesional melalui website, media sosial, dan platform profesional.

Jalin networking dengan kolega, mentor, dan profesional di bidang Anda.Teknologi memang mengubah lanskap pekerjaan dan kehidupan kita, tetapi bukan berarti peran manusia akan hilang.

Justru era digital menuntut kita untuk lebih mengoptimalkan potensi-potensi unik yang tidak dimiliki oleh mesin, seperti kreativitas, kecerdasan emosional, dan kemampuan pengambilan keputusan yang kompleks.

Kuncinya bukan melawan arus digitalisasi, tetapi beradaptasi, belajar, dan memanfaatkan teknologi untuk pengembangan diri dan kemajuan masyarakat.

Terpenting adalah bagaimana kita dapat menjadikan teknologi sebagai alat untuk memajukan diri dan masyarakat, bukan malah sebaliknya. Dengan strategi yang tepat dan pengembangan diri yang berkelanjutan, kita dapat tetap relevan, sukses, dan bahkan unggul di era digital ini. Masa depan ada di tangan kita, dan kita memiliki kekuatan untuk membentuknya.***

 

Siti Nur Aistatul Fajri

Komunikasi Digital dan Media

Sekolah Vokasi IPB

 

Oversharing di Media Sosial menjadi Komunikasi Strategis atau Ajang Pencitraan?

0

Oleh: Siti Nur Aistatul Fajri,  Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB

 

Di era digital yang serba terhubung ini, media sosial telah mengubah cara kita berkomunikasi dan membangun identitas diri. Setiap hari, jutaan orang membagikan potongan-potongan kehidupan mereka dari momen bahagia hingga kesulitan pribadi pada platform yang bisa diakses siapa saja. Namun, fenomena oversharing atau berbagi berlebihan tentang kehidupan pribadi menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah ini merupakan strategi komunikasi yang terencana, atau sekadar ajang pencitraan demi eksistensi digital?

Sebagai strategi komunikasi, oversharing memang memiliki nilai strategis tersendiri. Banyak figur publik dan influencer secara sengaja membuka tirai kehidupan personal mereka untuk membangun kedekatan emosional dengan pengikutnya. Konsep storytelling pribadi dianggap lebih relatable dan terbukti meningkatkan engagement. Ketika seorang influencer membagikan perjuangan di balik kesuksesannya atau saat selebritis memperlihatkan sisi kesehariannya yang “biasa saja”, terciptalah ilusi kedekatan yang membuat audiens merasa terhubung. Strategi ini sering kali berhasil mengubah followers menjadi komunitas yang loyal dan responsif.

Namun, di sisi lain, oversharing juga kerap menjadi alat pencitraan untuk menciptakan persepsi “sempurna” di mata publik. Feed yang dipenuhi pencapaian, liburan mewah, atau curahan hati yang tampak mendalam seringkali hanyalah topeng digital untuk meraih validasi. Hal ini menciptakan realitas virtual yang terdistorsi, di mana pemilik akun secara selektif hanya menampilkan aspek-aspek kehidupan yang ingin dilihat orang lain. Fenomena “highlight reel” ini menciptakan kesenjangan antara citra yang ditampilkan dan realitas sebenarnya.

Dampak oversharing pada audiens juga tidak bisa diabaikan. Konsumsi berlebihan atas potongan-potongan kehidupan orang lain di media sosial memicu fenomena comparison trap dan FOMO (Fear of Missing Out) yang berdampak signifikan pada kesehatan mental. Penelitian menunjukkan bahwa paparan konstan terhadap “kehidupan sempurna” orang lain dapat menurunkan tingkat kepuasan hidup dan meningkatkan kecemasan sosial. Paradoksnya, meskipun media sosial dirancang untuk menghubungkan, oversharing justru dapat menciptakan isolasi emosional dan rasa tidak cukup.

Lalu, sampai mana kehidupan pribadi boleh dibagikan? Batasan antara keterbukaan yang otentik dan eksploitasi diri sendiri sangatlah tipis. Oversharing yang tidak terkontrol dapat membahayakan privasi, membuka celah untuk cyberbullying, dan bahkan berdampak pada hubungan personal dan profesional. Di satu sisi, transparansi dapat membangun kepercayaan, di sisi lain terlalu banyak informasi dapat menjadi bumerang yang merusak reputasi.

Fenomena oversharing di media sosial sesungguhnya adalah pedang bermata dua. Jika dilakukan secara sadar dan terencana, ia bisa menjadi strategi komunikasi yang efektif untuk membangun komunitas dan mendukung tujuan personal atau profesional. Namun, tanpa kontrol dan kesadaran diri, oversharing hanya akan menjebak kita dalam pusaran pencitraan semu yang berisiko merusak citra itu sendiri. Kita perlu menyadari bahwa di balik setiap postingan, ada keputusan editorial yang menentukan narasi digital kita.

Sebagai pengguna media sosial, kita perlu membangun literasi digital yang lebih baik, kemampuan untuk membedakan antara autentisitas dan pencitraan, serta kebijaksanaan untuk membatasi konsumsi dan berbagi informasi pribadi. Hanya dengan kesadaran inilah kita dapat memanfaatkan media sosial sebagai alat komunikasi yang sehat, bukan sekadar panggung pencitraan yang merusak.***