Wednesday, 8 April 2026
Home Blog Page 864

Strategi Menyeimbangkan Peran Manusia dan Teknologi

0

Bogordaily.net – Di tengah derasnya arus digitalisasi, kita menyaksikan transformasi fundamental dalam cara kita hidup, bekerja, dan berinteraksi. Smartphone, yang dulunya hanya alat komunikasi, kini menjelma menjadi pusat kendali kehidupan kita, mengatur hampir setiap aspek dari rutinitas harian hingga keputusan penting.

Namun, di balik kemudahan dan efisiensi yang ditawarkan oleh teknologi, muncul pertanyaan krusial: bagaimana nasib peran manusia di era yang semakin didominasi oleh kecerdasan buatan dan otomatisasi? Apakah kita akan digantikan oleh mesin, atau dapatkah kita menemukan cara untuk beradaptasi dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan potensi kita?

Revolusi Digital dan Dampaknya: Transformasi yang Menyeluruh

 Indonesia, seperti negara-negara lain di dunia, sedang mengalami transisi dari Era Industri 4.0 menuju Society 5.0, sebuah visi masyarakat yang berpusat pada manusia dan didukung oleh teknologi. Perubahan ini membawa dampak luar biasa dalam kehidupan sehari-hari.

Coba bayangkan, beberapa dekade lalu, untuk memesan makanan, kita harus mendatangi restoran atau menelepon, seringkali dengan keterbatasan pilihan dan informasi. Sekarang, cukup dengan beberapa ketukan di layar smartphone, kita dapat menjelajahi berbagai pilihan kuliner, membandingkan harga, membaca ulasan, dan memesan makanan yang akan diantar langsung ke depan pintu.

Hal serupa berlaku untuk transportasi, di mana aplikasi ride-hailing telah menggantikan taksi konvensional, menawarkan kemudahan, transparansi harga, dan opsi pembayaran yang beragam.

Namun, kemudahan dan efisiensi ini datang dengan konsekuensi yang perlu diperhatikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 menunjukkan bahwa angka pengangguran di Indonesia mencapai 5,83%, sebuah angka yang mengkhawatirkan.

Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap pengangguran adalah otomatisasi berbagai pekerjaan yang dulunya dikerjakan oleh manusia. Contohnya, mesin ATM telah mengurangi kebutuhan akan teller bank, sistem check-in otomatis di bandara mengurangi kebutuhan akan staf ground handling, dan chatbot semakin sering menggantikan peran customer service.

Transformasi Pekerjaan di Era Digital: Evolusi Keterampilan dan Peran

 Meskipun otomatisasi mengancam beberapa jenis pekerjaan, era digital juga menciptakan peluang baru yang menarik. Pekerjaan-pekerjaan baru bermunculan, menuntut keterampilan dan pengetahuan yang berbeda dari sebelumnya.

Content creator, social media manager, data analyst, dan UI/UX designer adalah contoh pekerjaan yang relatif baru dan sangat diminati di era digital. Ini menunjukkan bahwa teknologi tidak sepenuhnya menggantikan manusia, tetapi lebih tepatnya mengubah lanskap pekerjaan, menciptakan kebutuhan akan keterampilan baru dan adaptasi yang berkelanjutan.

Keunggulan Manusia di Era Teknologi

Meskipun teknologi terus berkembang dengan pesat, ada beberapa aspek yang membuat manusia tetap unggul dan tidak tergantikan. Kemampuan unik manusia dalam berbagai bidang memastikan bahwa peran kita tetap relevan di tengah revolusi digital.

Kreativitas dan inovasi menjadi keunggulan utama yang dimiliki manusia. Kita memiliki kemampuan unik untuk berpikir “di luar kotak” dan menciptakan solusi kreatif untuk masalah yang kompleks.

Kecerdasan buatan (AI) mungkin dapat menghasilkan konten berdasarkan data yang ada, tetapi ide-ide orisinal dan terobosan inovatif tetap berasal dari pemikiran manusia. Imajinasi tanpa batas dan kemampuan untuk menghubungkan konsep yang tampaknya tidak berhubungan adalah kekuatan manusia yang belum bisa ditiru oleh mesin.

Selain itu, kecerdasan emosional menjadi pembeda signifikan antara manusia dan teknologi. Robot dan AI mungkin dapat mengenali ekspresi wajah atau menganalisis sentimen, tetapi mereka tidak benar-benar memahami emosi.

Kemampuan berempati, membangun hubungan, memahami konteks sosial, dan berkomunikasi secara efektif tetap menjadi keunggulan manusia yang sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pekerjaan.

Nuansa emosional dalam interaksi manusia menciptakan koneksi yang tidak dapat diduplikasi oleh mesin. Pengambilan keputusan kompleks juga tetap menjadi domain manusia.

Meskipun AI dapat menganalisis data dengan cepat dan memberikan rekomendasi berdasarkan algoritma, keputusan yang membutuhkan pertimbangan etis, moral, dan kontekstual tetap memerlukan penilaian manusia.

Manusia dapat mempertimbangkan nilai-nilai, norma, dan konsekuensi jangka panjang yang mungkin tidak dapat diprediksi oleh mesin.

Kemampuan untuk menimbang berbagai faktor tak terukur dan menggunakan intuisi berdasarkan pengalaman hidup memberikan keunggulan yang tidak dapat direplikasi oleh teknologi.

Strategi Adaptasi di Era Digital: Mempersiapkan Diri untuk Masa Depan

Untuk tetap relevan dan sukses di era digital, kita perlu mengembangkan strategi adaptasi yang komprehensif. Upaya ini tidak hanya tentang menguasai teknologi terbaru, tetapi juga tentang mengembangkan berbagai aspek diri yang tidak dapat digantikan oleh automasi dan kecerdasan buatan.

Upgrade skill secara berkelanjutan menjadi fondasi penting dalam beradaptasi. Kita perlu mempelajari keterampilan digital dasar, seperti penggunaan komputer, internet, media sosial, dan aplikasi produktivitas yang relevan.

Lebih dari itu, penting untuk selalu mengikuti perkembangan teknologi terbaru dan mempelajari keterampilan yang sesuai dengan bidang pekerjaan kita.

Yang tidak kalah krusial adalah meningkatkan kemampuan yang tidak dapat digantikan oleh mesin, seperti kreativitas, pemecahan masalah kompleks, dan komunikasi interpersonal yang efektif.

Pengembangan soft skills juga memainkan peran vital dalam strategi adaptasi. Kemampuan komunikasi yang efektif, baik lisan maupun tulisan, menjadi kunci dalam berinteraksi di dunia yang semakin terhubung.

Kemampuan bekerja dalam tim dan berkolaborasi dengan orang lain dari berbagai latar belakang dan disiplin ilmu menjadi aset berharga.

Selain itu, kemampuan memecahkan masalah secara kreatif dan inovatif, serta adaptabilitas terhadap perubahan yang cepat akan membuat kita lebih tangguh menghadapi disrupsi teknologi.

Pemanfaatan teknologi sebagai alat, bukan sebagai pengganti, merupakan pendekatan strategis lainnya. Kita harus bijak menggunakan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam pekerjaan, sambil tetap fokus pada tugas-tugas yang membutuhkan sentuhan manusia, seperti interaksi dengan pelanggan, pengembangan strategi, dan pengambilan keputusan kompleks.

Mengkombinasikan keterampilan teknis dengan kreativitas dan pemikiran kritis akan membantu kita menciptakan nilai tambah yang sulit direplikasi oleh mesin.

Membangun personal branding menjadi langkah penting dalam membedakan diri di pasar yang kompetitif. Ini dimulai dari menemukan keunikan diri dan mengidentifikasi apa yang membedakan kita dari orang lain.

Dengan mengenali dan mengembangkan diferensiasi ini, kita dapat memposisikan diri sebagai profesional yang tidak mudah tergantikan di era otomatisasi dan kecerdasan buatan.Bangun kehadiran online yang profesional melalui website, media sosial, dan platform profesional.

Jalin networking dengan kolega, mentor, dan profesional di bidang Anda.Teknologi memang mengubah lanskap pekerjaan dan kehidupan kita, tetapi bukan berarti peran manusia akan hilang.

Justru era digital menuntut kita untuk lebih mengoptimalkan potensi-potensi unik yang tidak dimiliki oleh mesin, seperti kreativitas, kecerdasan emosional, dan kemampuan pengambilan keputusan yang kompleks.

Kuncinya bukan melawan arus digitalisasi, tetapi beradaptasi, belajar, dan memanfaatkan teknologi untuk pengembangan diri dan kemajuan masyarakat.

Terpenting adalah bagaimana kita dapat menjadikan teknologi sebagai alat untuk memajukan diri dan masyarakat, bukan malah sebaliknya. Dengan strategi yang tepat dan pengembangan diri yang berkelanjutan, kita dapat tetap relevan, sukses, dan bahkan unggul di era digital ini. Masa depan ada di tangan kita, dan kita memiliki kekuatan untuk membentuknya.***

 

Siti Nur Aistatul Fajri

Komunikasi Digital dan Media

Sekolah Vokasi IPB

 

Oversharing di Media Sosial menjadi Komunikasi Strategis atau Ajang Pencitraan?

0

Oleh: Siti Nur Aistatul Fajri,  Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB

 

Di era digital yang serba terhubung ini, media sosial telah mengubah cara kita berkomunikasi dan membangun identitas diri. Setiap hari, jutaan orang membagikan potongan-potongan kehidupan mereka dari momen bahagia hingga kesulitan pribadi pada platform yang bisa diakses siapa saja. Namun, fenomena oversharing atau berbagi berlebihan tentang kehidupan pribadi menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah ini merupakan strategi komunikasi yang terencana, atau sekadar ajang pencitraan demi eksistensi digital?

Sebagai strategi komunikasi, oversharing memang memiliki nilai strategis tersendiri. Banyak figur publik dan influencer secara sengaja membuka tirai kehidupan personal mereka untuk membangun kedekatan emosional dengan pengikutnya. Konsep storytelling pribadi dianggap lebih relatable dan terbukti meningkatkan engagement. Ketika seorang influencer membagikan perjuangan di balik kesuksesannya atau saat selebritis memperlihatkan sisi kesehariannya yang “biasa saja”, terciptalah ilusi kedekatan yang membuat audiens merasa terhubung. Strategi ini sering kali berhasil mengubah followers menjadi komunitas yang loyal dan responsif.

Namun, di sisi lain, oversharing juga kerap menjadi alat pencitraan untuk menciptakan persepsi “sempurna” di mata publik. Feed yang dipenuhi pencapaian, liburan mewah, atau curahan hati yang tampak mendalam seringkali hanyalah topeng digital untuk meraih validasi. Hal ini menciptakan realitas virtual yang terdistorsi, di mana pemilik akun secara selektif hanya menampilkan aspek-aspek kehidupan yang ingin dilihat orang lain. Fenomena “highlight reel” ini menciptakan kesenjangan antara citra yang ditampilkan dan realitas sebenarnya.

Dampak oversharing pada audiens juga tidak bisa diabaikan. Konsumsi berlebihan atas potongan-potongan kehidupan orang lain di media sosial memicu fenomena comparison trap dan FOMO (Fear of Missing Out) yang berdampak signifikan pada kesehatan mental. Penelitian menunjukkan bahwa paparan konstan terhadap “kehidupan sempurna” orang lain dapat menurunkan tingkat kepuasan hidup dan meningkatkan kecemasan sosial. Paradoksnya, meskipun media sosial dirancang untuk menghubungkan, oversharing justru dapat menciptakan isolasi emosional dan rasa tidak cukup.

Lalu, sampai mana kehidupan pribadi boleh dibagikan? Batasan antara keterbukaan yang otentik dan eksploitasi diri sendiri sangatlah tipis. Oversharing yang tidak terkontrol dapat membahayakan privasi, membuka celah untuk cyberbullying, dan bahkan berdampak pada hubungan personal dan profesional. Di satu sisi, transparansi dapat membangun kepercayaan, di sisi lain terlalu banyak informasi dapat menjadi bumerang yang merusak reputasi.

Fenomena oversharing di media sosial sesungguhnya adalah pedang bermata dua. Jika dilakukan secara sadar dan terencana, ia bisa menjadi strategi komunikasi yang efektif untuk membangun komunitas dan mendukung tujuan personal atau profesional. Namun, tanpa kontrol dan kesadaran diri, oversharing hanya akan menjebak kita dalam pusaran pencitraan semu yang berisiko merusak citra itu sendiri. Kita perlu menyadari bahwa di balik setiap postingan, ada keputusan editorial yang menentukan narasi digital kita.

Sebagai pengguna media sosial, kita perlu membangun literasi digital yang lebih baik, kemampuan untuk membedakan antara autentisitas dan pencitraan, serta kebijaksanaan untuk membatasi konsumsi dan berbagi informasi pribadi. Hanya dengan kesadaran inilah kita dapat memanfaatkan media sosial sebagai alat komunikasi yang sehat, bukan sekadar panggung pencitraan yang merusak.***

Ketika Informasi Adalah Mata Uang: Perjuangan Masyarakat dalam Mengakses Kebenaran

0

Bogordaily.net – Di zaman kolonial, akses terhadap informasi sangat terbatas. Hanya golongan tertentu yang berhak membaca berita, memahami politik, dan menentukan arah kebijakan. Kini, kita hidup di era digital, di mana informasi mengalir deras tanpa batas. Namun, pertanyaannya: apakah masyarakat benar-benar lebih tercerahkan, atau justru semakin tersesat dalam pusaran informasi yang simpang siur?

Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo, 2022), Indeks Literasi Digital Indonesia berada di angka 3,54 dari skala 5, yang berarti masyarakat kita masih berada di tingkat pemahaman yang sedang dalam memilah informasi. Data dari UNESCO (2022) menunjukkan bahwa 68% masyarakat menilai media sosial sebagai tempat utama penyebaran hoaks. Ini menandakan bahwa kebebasan informasi tidak serta-merta membuat masyarakat lebih sadar akan kebenaran. Justru, semakin bebas akses informasi, semakin banyak juga tantangan dalam memastikan keakuratan dan kredibilitasnya.

Sejak dahulu, informasi digunakan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan. Di masa kolonial, pemerintah Hindia Belanda mengendalikan surat kabar dan menerapkan sensor ketat terhadap tulisan yang dianggap berbahaya. Pramoedya Ananta Toer (1980) dalam bukunya Tetralogi Buru menggambarkan bagaimana kebebasan berpikir dan berbicara menjadi momok yang ditakuti oleh penguasa. Kini, meski tidak ada lagi penjajahan fisik, masyarakat tetap dikendalikan melalui informasi.

Media sosial, yang seharusnya menjadi wadah kebebasan berekspresi, justru menjadi alat untuk memanipulasi opini publik. Algoritma media sosial menentukan apa yang harus kita baca, iklan politik membentuk persepsi publik, dan berita palsu menggiring opini. Kominfo (2023) mencatat lebih dari 11.642 konten hoaks yang tersebar di internet hingga Mei. Hoaks politik, kesehatan, dan agama menjadi yang paling banyak ditemukan. Keadaan ini menunjukkan bahwa kendali terhadap informasi masih berada di tangan segelintir pihak yang memiliki akses dan kekuatan untuk membentuk narasi.

Dalam konteks politik, misinformasi sering kali digunakan untuk mendiskreditkan lawan atau memengaruhi hasil pemilu. Studi dari Oxford Internet Institute (2021) mengungkapkan bahwa kampanye disinformasi politik telah meningkat secara global, termasuk di Indonesia. Di tingkat lokal, Pemilu 2019 menjadi salah satu contoh bagaimana penyebaran hoaks dapat mempengaruhi pemilih. Laporan dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo, 2019) menunjukkan bahwa selama periode pemilu, hoaks politik meningkat hingga 61,86% dibandingkan tahun sebelumnya.Ironisnya, di era kebebasan informasi, justru semakin sulit memilah mana yang benar dan mana yang sekadar manipulasi. Survei yang dilakukan oleh Katadata Insight Center (2023) menunjukkan bahwa hanya 21%-36% masyarakat yang mampu mengenali hoaks dengan benar. Mayoritas dari mereka mudah terpengaruh oleh narasi yang bersifat emosional dibandingkan dengan fakta yang objektif.

Hal ini sejalan dengan teori agenda-setting yang dikemukakan oleh McCombs dan Shaw (1972), di mana media memiliki kekuatan untuk membentuk isu yang dianggap penting oleh masyarakat. Akibatnya, hoaks yang tersebar luas dapat menggeser persepsi publik terhadap suatu peristiwa atau kebijakan. Contohnya adalah bagaimana hoaks terkait pandemi COVID-19 menyebar begitu cepat, menyebabkan ketidakpercayaan terhadap vaksinasi di kalangan masyarakat. Data dari WHO dan UNICEF (2021) menunjukkan bahwa sekitar 37% masyarakat Indonesia masih ragu atau menolak vaksinasi COVID-19 karena disinformasi yang beredar luas di media sosial.

Selain itu, penyebaran informasi yang cepat juga dipengaruhi oleh echo chamber dan filter bubble, di mana pengguna media sosial cenderung hanya terpapar dengan informasi yang sesuai dengan pandangan mereka sendiri. Hal ini semakin memperparah polarisasi di masyarakat. Misalnya, dalam isu politik atau agama, kelompok tertentu hanya akan mengonsumsi berita yang memperkuat keyakinan mereka tanpa mempertimbangkan perspektif lain. Hal ini berpotensi memperlebar jurang perbedaan dan menciptakan ketidakstabilan sosial.

Jika masyarakat tidak aktif dalam menyaring dan menyebarkan informasi yang benar, mereka hanya akan menjadi objek dalam permainan informasi. Langkah awal yang perlu diambil adalah meningkatkan literasi digital dan membangun kesadaran kritis dalam masyarakat. Berdasarkan survei oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII, 2023), sekitar 210 juta masyarakat Indonesia menggunakan internet, tetapi tingkat literasi digital yang rendah membuat banyak di antaranya menjadi korban manipulasi informasi.

Dalam menghadapi tantangan ini, peran pemerintah, media, dan institusi pendidikan menjadi sangat penting. Pemerintah harus lebih proaktif dalam menyaring dan menindak penyebaran hoaks, bukan sekadar memberikan regulasi yang belum tentu efektif. Media arus utama juga harus lebih mengedepankan prinsip jurnalistik yang objektif dan bertanggung jawab. Sementara itu, pendidikan literasi digital harus dimasukkan dalam kurikulum sekolah agar generasi muda memiliki keterampilan berpikir kritis sejak dini.

Informasi adalah senjata sekaligus perangkap. Di satu sisi, ia membuka wawasan, di sisi lain, ia bisa menyesatkan. Seperti yang ditunjukkan oleh berbagai data, masyarakat masih memiliki tantangan besar dalam memilah informasi yang benar. Hoaks dan propaganda terus merajalela, membentuk opini publik sesuai dengan kepentingan tertentu. Oleh karena itu, masyarakat harus lebih kritis, tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mempertanyakan dan mengolahnya.

Literasi digital harus menjadi agenda utama dalam pendidikan, agar setiap individu memiliki kemampuan untuk bertahan dalam arus informasi yang semakin deras. Sebab, di era modern ini, kebenaran bukan hanya sesuatu yang ditemukan, tetapi juga sesuatu yang harus diperjuangkan. Masyarakat yang cerdas dalam memilah informasi adalah kunci bagi demokrasi yang sehat dan masa depan yang lebih baik.***

 

Muhammad Umar Budiman

Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB.

 

Peningkatan Kompetensi Guru: Sebuah Pergulatan Panjang Sebuah Bangsa

0

Oleh: Muhammad Umar Budiman, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Dari sekian banyak pekerjaan di dunia, barangkali dan dirasa benar; menjadi guru adalah yang paling tak terlihat hasilnya, paling lambat menuai, namun halnya paling menentukan arah suatu bangsa. Seorang dokter menyembuhkan tubuh yang luka, tetapi seorang guru? Ia membangun, mendidik, juga memberi jalan pada manusia dan hari depannya—dalam keseluruhan hidupnya.

Namun, mereka yang dituntut membentuk masa depan justru dibiarkan tertinggal, berjuang sendiri dalam ketidaktahuan yang sistemik.

Lalu, bagaimana mungkin sebuah bangsa berharap maju jika pilar-pilar pendidikannya rapuh? Bagaimana mungkin kita berbicara tentang masa depan jika mereka yang bertugas membentuknya justru dibiarkan berjalan tanpa pegangan?

Peningkatan kompetensi guru bukan sekadar formalitas, bukan proyek pelatihan yang berakhir di lembar laporan. Ia adalah sebuah pergulatan panjang sebuah bangsa.

Setiap ketidakadilan harus dilawan, walaupun hanya dalam hati. Dan seorang Pramoedya bilang seorang terpelajar harus berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan. Maka bukankah membiarkan guru tertinggal dalam kebodohan struktural adalah sebuah ketidakadilan?

Jadi Guru dan Murid Sekaligus, Seorang guru bukanlah tempat bersemayamnya kebenaran mutlak. Sebagaimana murid, ia pun harus belajar, harus beradaptasi, harus menyusun ulang pemahamannya seiring dengan perubahan zaman.

Dunia terus berkembang, pun juga ilmu pengetahuannya, bergerak tanpa menunggu siapa pun, dan hanya guru yang bersedia menjadi murid yang dapat bertahan dalam arus ini. Apakah yang terjadi jika guru tidak diberikan kesempatan untuk belajar?

Jika ia hanya dituntut mengajar tanpa diberikan ruang yang memadai untuk meningkatkan dirinya? Sistem yang menganggap guru sebagai mesin penyampai ilmu, tanpa kebutuhan untuk berkembang, adalah juga yang menghancurkan masa depan.

Sebab, bagaimana mungkin seorang guru yang tak pernah diberi ruang untuk belajar dapat melahirkan murid-murid yang kritis dan tajam pikirannya?

Di banyak tempat, pendidikan masih diperlakukan sebagai beban administratif, bukan sebuah ekosistem yang harus terus dipupuk dan dikembangkan. Seorang guru tidak hanya butuh pengakuan, tetapi juga dukungan nyata dalam bentuk akses terhadap ilmu terbaru, metode pengajaran mutakhir, hingga kesempatan untuk berjejaring dan bertukar gagasan. Ketidakadilan bukan hanya dalam bentuk gaji yang kecil atau fasilitas yang minim, tetapi juga dalam bentuk pembiaran terhadap ketertinggalan mereka.

Kasus-kasus nyata di Indonesia menggambarkan betapa guru masih berjuang sendirian dalam keterbatasan. Di daerah terpencil, banyak guru yang harus menempuh perjalanan berjam-jam, melewati medan sulit, hanya untuk mengajar di sekolah dengan fasilitas seadanya.

Sebagian dari mereka adalah guru honorer yang sudah mengabdi bertahun-tahun dengan gaji di bawah standar hidup layak, tanpa kepastian status kepegawaian. Beberapa kebijakan peningkatan kualitas guru pun masih terjebak dalam seremonial belaka, seperti pelatihan yang hanya bersifat formalitas tanpa pendampingan berkelanjutan. Jika kita menutup mata terhadap kenyataan ini, kita sedang membiarkan masa depan bangsa terabaikan.

Bahasa kasih sayang yang tidak diarahkan pada masa depan yang lebih pelik dan beragam adalah juga kekeliruan yang harus dibetulkan. Menghormati guru bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan memastikan bahwa mereka tidak berjalan sendirian dalam tugasnya.

Negara, masyarakat, dan seluruh ekosistem pendidikan harus menjadi bagian dari usaha ini. Tanpa kasih sayang kepada mereka yang mendidik, tanpa perhatian yang sungguh-sungguh terhadap perkembangan mereka, bagaimana kita bisa berharap generasi mendatang akan tumbuh dengan ilmu yang luas dan jiwa yang besar?

Maka, perjuangan ini bukan sekadar untuk guru, melainkan untuk semua. Sebab pendidikan adalah urusan bersama, dan peningkatan kompetensi guru adalah syarat mutlak bagi peradaban yang ingin terus hidup. Jika kita masih diam melihat ketidakadilan ini, maka kita pun bagian dari kebobrokan yang membiarkan harapan bangsa berjalan pincang.

Pendidikan bukan sekadar persoalan kurikulum yang diubah setiap pergantian menteri, bukan hanya tentang bangunan sekolah yang dicat ulang saat pejabat datang berkunjung. Pendidikan adalah denyut nadi suatu bangsa, dan guru adalah jantungnya.

Jika jantung melemah, bagaimana mungkin darah kehidupan bisa mengalir dengan baik? Kita tidak bisa terus berharap dari mereka yang dibiarkan bertahan sendiri di dalam keterbatasan.

Sudah saatnya kita berhenti bicara tentang pendidikan hanya dalam seminar dan pidato seremonial. Sudah saatnya kita benar-benar mendengar suara mereka yang selama ini dipaksa bertahan dalam diam. Karena jika seorang guru tetap dibiarkan berjalan tanpa cahaya, maka kita semua sedang berjalan menuju kegelapan yang lebih pekat.***

 

 

 

Perjalanan Ibadah ke Tanah Suci

0

Bogordaily.net – Pengalaman pertama ketika melakukan perjalanan ibadah ke tanah suci Madinah dan Mekkah bersama keluarga, awal mula perjalanan suci ini sama sekali tidak di rencanakan jauh-jauh hari oleh orang tua saya.

Cerita ini dimulai ketika saya sedang berada di dalam kelas pada tanggal 11 September 2024, ketika itu saya sedang menyimak dosen sedang berbicara.

Kemudian saya mendengar notif handphone saya berbunyi, setelah saya cek ternyata ibu saya mengirim pesan kepada saya.

Saya berpikir kalau pesan ini penting, maka dari itu saya menyempatkan untuk buka pesan tersebut, setelah saya buka, pesan pertama yang beliau katakan kepada saya seperti ini “kt ayah mau umroh gk”.

Saya merasa shock dan senang di waktu yang bersamaan. Akhirnya cita-cita saya dari kecil terwujud, tetapi saya tidak langsung meng iyakan pertanyaan ibu saya.

Saya menanyakan kembali seputar waktu dan biaya, tetapi ibu saya menjamin semua itu berjalan lancar, serta jadwal umroh saya disesuaikan dengan libur semester kuliah.

Setelah saya lihat jadwal libur saya, hal ini memungkinkan untuk di jalankan, akhirnya saya mengiyakan ajakan orang tua saya.

Hari demi hari saya lewati, mulai sedikit-sedikit belajar tentang tata cara ibadah umroh dan sebagainya, saya sangat exicited menunggu hari keberangkatan, saya masih tidak menyangka bahwa saya di panggil secepat ini untuk mengunjungi tempat suci tersebut.

Hari libur pun tiba, ketika itu tanggal 14 Desember 2024 saya akhirnya pulang kerumah, jadwal keberangkatan saya di tanggal 22 Desember 2024, diantara tanggal 14-22.

Saya bersama teman-teman saya membuat film, saya mengatur jadwal syuting agar bisa selesai sebelum saya berangkat ke tanah suci, syuting film saya buat selama 5 hari.

Dari tanggal 16-20, tetapi pada tanggal 20 ada beberapa teman teman saya yang tidak bisa syuting, alhasil jadwal syuting pun dimundurkan menjadi tanggal 21, yang mana tanggal 22 nya saya harus berangkat untuk umroh, setelah saya estimasi waktu syuting, saya pikir semua kebutuhan syuting terpenuhi.

Tanggal 21 saya memulai syuting hari terakhir, di mulai dari jam 8 pagi hingga pukul 6 sore, tanpa disadari saya terlalu lama dalam syuting, orang tua saya menghubungi saya untuk pulang, karena saya harus berangkat pukul tiga pagi.

Setelah syuting selesai, saya bergegas untuk pulang terlebih dahulu ke rumah, sesampai di rumah sekitar jam 9 malam, dan saya harus bergegas untuk istirahat, tidak lama saya beristirahat, saya harus bangun pada pukul 2 pagi untuk bersiap- siap menuju bandara soekarna Hatta.

Setelah bersiap-siap saya langsung bergegas menuju ke Bandara Internasional Soekarna Hatta pada pukul tiga pagi bersama rombongan yang lain. Sesampainya di bandara, pesawat yang akan kami naiki ternyata mengalami delay pemberangkatan, tetapi delay tersebut tidak terlalu lama, hanya 2 jam.

Rasanya badan saya belum cukup untuk beristirahat karena jadwal yang sangat padat, kemudian jam menunjukan pukul 5 pagi waktu Indonesia, pesawat pun mulai boarding, saya bersama keluarga bergegas memasuki pesawat.

Setelah di dalam pesawat, pramugari memberikan pemberitahuan terkait keamanan dan sebagainya, dan yang membuat saya lumayan kaget, ternyata perjalanan menuju Bandara King Abdul Aziz, Jeddah memakan waktu sekitar 9 jam 53 menit.

Dengan handphone yang tidak memiliki sinyal, saya berpikir bagaimana nanti di udara saya bisa menikmati perjalanan, dan saya berpikir “oh saya bisa tidur kok nanti, mumpung belum tidur lama juga dari kemarin”. Pesawat pun mulai take off meninggalkan Bandara Soekarna Hatta.

Mulai dari 1-2 jam pertama, saya masih bisa menikmati perjalanan ini. Setelah di 2-3 jam pesawat lepas landas, saya merasa ngantuk, dan mencoba untuk tidur, tetapi ketika saya mencoba untuk tidur, pesawat mengalami turbulensi yang menyebabkan saya tidak bisa tertidur. Bahkan sampai 6 jam di perjalanan, badan mulai terasa pegal dan sakit karena terlalu lama duduk.

Ternyata di depan tempat duduk saya terdapat TV yang bisa menonton film-film terkenal seperti Marvel dan DC. Akhirnya 4 jam sisa perjalanan saya habiskan untuk menonton film Superman dan juga the Batman, tidak terasa pesawat pun landing di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah.

Pandangan pertama saya melihat negara Arab sesuai dengan expetasi saya, hamparan gurun yang luas, geresang, dan tidak ada pohon rindang. Tetapi yang saya kaget kan, ternyata udara di sana ketika itu lumayan sejuk tidak seperti yang saya bayangkan, suhu pada siang hari hanya mencapai 20 derajat celcius, hal ini bisa di bilang dingin.

Setelah saya turun dari pesawat saya langsung menuju ke bis untuk perjalanan ke kota Madinah, awalnya saya berpikir jika jarak dari Bandara King Abdul Aziz ke kota Madinah hanya sekitar 10-15 KM saja, ternyata setelah diberi tau oleh pembimbing rombongan umroh saya, jarak dari bandara ke kota Madinah sekitar 385,6 KM.

Setelah mendengar hal itu, akhirnya saya memutuskan untuk tidur sepanjang perjalanan. Tidak terasa saya sudah sampai di kota suci Madinah.

Jam menujukan pukul 11 malam waktu Madinah, ketika saya turun di bis untuk menuju ke hotel, udara di sana benar benar sangat dingin, mencapai suhu 11 derajat celcius.

Sesampainya di dalam hotel saya bergegas untuk sholat magrib dan isya kemudian tidur. Hari demi hari saya jalani di kota Madinah, mulai dari sholat shubuh, dzuhur, ashar, magrib dan isya.

Sholat disana sangat amat nyaman, suasanya benar-benar tidak ingin meninggalkan kota suci tersebut, saya juga mengunjungi makan Nabi Muhammad SAW.

Banyak sekali manusia yang igin melihat makan baginda, alhamdulillah saya melihat dengan jarak yang sangat dekat dengan makam baginda, dan tidak sadar air mata saya mengucur sangat deras.

Setelah tiga hari saya berada di kota Madinah, saya menuju ke kota Mekah untuk melaksanakan ibadah umroh. saya berangkat dari Madinah pukul 8 malam ba’da isya dan menempuh jarak 439,9 KM.

Di perjalanan saya melipir ke tempat yang bernama Bir Ali untuk melaksanakan miqat (start umroh) untuk memakai pakaian ihrom dan melaksanakan niat umroh.

Setelah 4 jam perjalanan, saya sampai di kota Mekah pada pukul 11 malam. Saya kira setelah sampai Mekah saya bisa beristirahat, ternyata saya bersama rombongan langsung melaksanakan umroh pada pukul 11 malam, karena rasa senang dan excited yang sangat membara, saya semangat untuk melaksanakannya.

Pada hari itu, pertama kali saya melihat Masjidil haram yang sangat megah dan mewah. Berjuta juta manusia berkumpul untuk melaksanakan ibadah yang sama.

Hati terasa bergetar ketika melihat secara langsung Ka’bah yang sangat besar, air mata pun tidak terasa berjatuhan. Ibadah tawaf dimulai dengan putaran pertama, iringan doa senantiasa keluar dari setiap mulut manusia.

Setelah putaran ketujuh, saya melanjutkan ke ibadah selanjutanya yaitu sai. Sai adalah berjalan jalan kecil di antara Bukit Safa dan Marwah, hal ini untuk memperingati perjuangan Siti Hajar dalam mencari air untuk Nabi Ismail.

Tujuh putaran saya lalui dengan lancar, kemudian dilanjutkan dengan rangkaian ibadah umroh yang terkahir yaitu tahalul (memotong rambut).

Orang yang memotong rambut orang lain, sudah harus di potong oleh orang lain juga sebelumnya, agar ibadah ini menjadi sah. Setelah melaksanakan rangkaian ibdaha umroh yang sangat melelahkan

tetapi juga terasa menyenangkan, tidak terasa jam sudah menujukan pukul setengah 4 pagi, saya bersama keluarga menuju ke hotel untuk bersih-bersih dan sholat subuh, sekitar jam 6 barulah kegiatan umroh wajib selesai.

Saya akhirnya bisa merasakan kasur hotel di Mekah. Hari demi hari saya lewati dengan senang di kota Mekkah, saya juga melakukan city tour yang tediri dari Jabal Nur, Bukit Arafah, makam para sahabat , dan juga kebun kurma.

Serunya di kebun kurma kita tidak hanya bisa memakan kurma gratis tetapi juga coklat dan aneka oleh-oleh secara gratis, tetapi syaratnya harus makan dan dihabiskan di tempat tersebut.

Modalnya hanya mengucap “halal halal” Maka penjual nya akan memberikan secara gratis. Setelah semua rangkaian ibadah umroh telah saya lakukan, akhirnya hari perpisahan itu tiba.

Saya pulang ke Indonesia pada tanggal 30 Desember 2024, saya merasa sangat rindu dengan tanah air. Rindu dengan hijaunya pepohonan, hujannya yang sangat lebat dan orang orang yang ada di dalamnya.

Di lain sisi, saya harus meninggalkan kota yang sangat suci, kota yang memiliki sejarah yang sangat banyak, kota nya para nabi.

Saya sangat sedih ketika harus meninggalkan Arab Saudi, tetapi hati rindu akan tanah air juga tidak bisa di tahan. 10 jam di udara menuju Bandara Soekarna Hatta, saya sampai pada pukul 12 siang.

ketika landing, lagu tanah air ku berkumandang di pesawat, melihat pepohonan dan juga pemukim warga yang sangat padat.

Air mata saya mulai berjatuhan, ternyata benar, lirik “biarpun saya pergi jauh, tidaklah hilang dari kalbu”.

Tanah air adalah tempat saya, kampung halaman saya, saya benar benar mencintai negara ini, rasa rindu saya mulai terobati ketika para keluarga menunggu di pintu bandara, mereka menangis karena anggota keluarga mereka pulang dengan selamat.

Pengalaman ini saya akan kenang selama hidup saya, banyak sekali pengalaman berharga yang saya dapatkan, dan yang paling penting saya akan berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi, dan menceritakan pengalamannya ini kepada teman teman semuanya, agar semua teman teman saya merasakan apa yang saya rasakan.***

Ahmad Baihaqi Sufyan

Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Penghasilan Lebih Dari 20.000/ Hari Pemerintah Sebut “Tidak Termasuk Kategori Miskin”

0

Oleh: Ahmad Baihaqi Sufyan, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), menyatakan bahwa masyarakat yang berpenghasilan sebesar Rp20.000 per hari, tidak termasuk kategori miskin. Menanggapi penetapan tersebut, ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Cholil Nafis, memberikan penjelasan miskin menurut syariat Islam. Diterangkan dalam Islam, yang disebut miskin itu memiliki penghasilan, tapi tak cukup untuk menutupi kebutuhan.” ujar Cholil Nafis melalui cuitan di akun Twitter pribadinya pada 29 Juli 2023.”Kalau penghasilan 20 ribu per hari apa cukup ya. Ini untuk yg hidup di mana?”. ujarnya lagi.

Tentunya baris atau batas kemiskinan seseorang itu bisa menentukan apakah seseorang atau sekelompok tersebut memiliki pendapatan di bawah dari kebutuhan sehari-harinya dan tentunya dari kebutuhan dasar, seperti makanan, tempat tinggal, dan pakaian. Batas atau tolak ukur kemiskinan seseorang yang tercantum dalam data Badan Pusat Statistik dan data Kementerian menunjukkan angka lebih dari 20.000, seseorang dinyatakan tidak miskin atau mampu membiayai kehidupan nya sehari-hari. Akan tetapi, jika dikaji lebih jauh dan lebih dalam tentunya dengan biaya 20.000/hari tidak meninjau apakah seseorang itu miskin atau tidak dikarenakan bahan makanan, Tentunya mematok dari harga 20.000/hari tidaklah cukup untuk menunjang kebutuhan pokok yang semakin hari kian meningkat.

Penghasilan 20.000/hari masih dalam kategori miskin

Berdasarkan data kemenkeu.go.id penghasilan secara nasional rata-rata pengeluaran per kapita per bulan penduduk Indonesia sebesar Rp 1,15 juta, hal ini sangat bertentangan dengan data yang diberikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa penghasilan lebih dari 20.000 tidak masuk dalam kategori miskin, padahal jika kita lihat dari rata rata penghasilan masyarkat Indonesia per bulan sebesar 1,15 juta yang berarti penghasilan perhari sebesar 38.000, perbedaan penghasilan tersebut lumayan jauh dibandingkan data yang diberikan oleh Badan Pusat Stastistik (BPS). Apabila penghasilan lebih dari 20.000 tidak masuk ke dalam kategori miskin, yang mana dalam sebulan penghasilan seseorang hanya sebesar 600 ribu, hal ini masih jauh dari rata rata penghasilan masyrakat Indonesia yaitu sebesar 1,15 juta. Maka dari itu penghasilan lebih dari 20.000/hari masih masuk dalam kategori miskin.

Berdasarkan data hellosehat.com kebutuhan makan manusia sebanyak 2-3 kali sehari, yang mana rata-rata harga makanan siap saji di Indonesia berkisar 8.000-12.000, hal ini tentunya tidak mencukupi untuk membeli makanan dalam sehari, belum lagi biaya biaya pokok lainnya, apabila seseorang lebih memilih memasak dibandingan membeli makanan, tentunya penghasilan tersebut masih belum mencukupi biaya makanan dalam sehari, belum lagi anggota keluarga yang tidak sedikit.

Tidak hanya sampai disitu, tentunya bahan pangan/makanan pokok untuk menunjang kehidupan sehari-hari bukanlah hal satu-satunya yang harus diperhatikan. Tentunya ada faktor lain yang juga kurang lebih sama pentingnya, yaitu sektor pendidikan/sekolah. Tentunya memiliki pendidikan SD-SMA merupakan pendidikan wajib bagi setiap warga negara Indonesia. Memiliki akses pendidikan di sekolah negeri tentunya merupakan akses paling mudah karena sekolah negeri itu sendiri berdiri di bawah kawasan pemerintahan / sekolah bebas gratis, tapi tentunya setiap sekolah juga pasti mengimbangi kegiatan belajar mengajar yang efektif dengan memiliki baju seragam yang serempak. Tentunya, setiap 1 buah seragam di setiap sekolah relatif berbeda, tetapi rata-rata tentunya semua koperasi sekolah tidak menjual harga baju seragam di bawah 20.000, yang artinya kembali lagi bahwa penghasilan dengan angka 20.000 merupakan kategori miskin dikarenakan belum bisa memenuhi kebutuhan wajib dasar yaitu primer, tersier dan sekundernya.

Perlunya Kerjasama antara pemerintah dan masyrakat

Perlunya dukungan dan fokus pemerintah akan hal ini menjadi hal yang harus serius dan cepat tanggap dikarenakan, pemenuhan kebutuhan utama merupakan hal yang paling utama dan wajib dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia itu sendiri, tentunya dengan meningkatkan akses pendidikan ke arah yang lebih mudah, terbuka dan umum pasti setiap warga negara memiliki kesempatan emas dan memiliki kesempatan yang sama dengan warga yang mampu, tentunya dengan meningkatkan akses terhadap sumber daya ekonomi bisa membantu tumbuh kembang ekonomi kearah yang lebih baik, dengan pemberdayaan UMKM lokal di kalangan masyarakat menengah kebawah. Dan yang lebih penting lagi yaitu meningkatkan dan menciptakan lapangan kerja yang kondusif, merata dan eksklusif. Dan memang pemerintah saat ini sudah membantu dengan memberikan bantuan sosial yang meringankan beban masyarakat yang tidak mampu membeli bahan makanan pokok, tapi tentunya perlu adanya arahan dan pengawasan yang tepat agar tepat sasaran. Tentunya pemerintah juga sudah meluncurkan program keluarga harapan yang dimana mengharapkan setiap keluarga di Indonesia sejahtera dan terlepas dari kemiskinan.

Mencegah generasi bermental miskin

Kemiskinan juga dapat di cegah serta di kurangi dengan cara membatasi setiap keluarga yang memiliki pendapatan rendah untuk tidak memiliki banyak anak, karena semakin banyak anak, kebutuhan pokok akan semakin besar, hal ini di butuhkan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat Indonesia khusus nya yang sudah berkeluarga untuk membatasi pengeluaran yang tidak sesuai dengan penghasilan, karena dari kasus kemiskinan dapat memicu generasi-generasi yang memiliki mental miskin, karena ketidakmampuan orang tua untuk memberikan pendidikan yang layak terhadap anak-anak mereka, yang mengakibatkan anak-anak yang seharusnya menuntut ilmu di sekolah terpaksa harus ikut bekerja dengan orang tuanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

 

 

Danang Priyambodo Dosen SV IPB: Mewujudkan Peternakan Berkelanjutan Melalui Pendidikan dan Inovasi

0

Bogordaily.net – Perjalanan seorang ilmuwan peternakan memiliki beragam warna, namun cerita Bapak Danang Priyambodo, dari Institut Pertanian Bogor (IPB) merupakan potret inspiratif tentang bagaimana passion dan dedikasi dapat mengubah paradigma peternakan Indonesia.

Sosok yang tumbuh di lingkungan sederhana ini telah mengukir jejak transformatif dalam dunia peternakan, mengombinasikan pengetahuan akademis dengan kepedulian sosial yang mendalam.

Sejak usia dini, Bapak Danang telah diperkenalkan dengan dunia peternakan melalui pengalaman langsung. Ia tumbuh di lingkungan yang menyukai hewan dan ternak, termasuk burung hias dan burung kicau.

Dari pengalaman ini, ia belajar bagaimana cara memberi makan dan merawat hewan dengan baik. Rumahnya bukan sekadar tempat tinggal, melainkan miniatur laboratorium peternakan kecil yang ada di belakang rumahnya.

Ketika masih SMP, ia diberi tanggung jawab untuk memelihara 150 ekor puyuh, menjalani seluruh proses mulai dari pemberian pakan, minum, membersihkan kotoran hingga pengumpulan telur untuk dijual di pasar lokal.

Hasil penjualan telur tersebut sebagian digunakan untuk membeli pakan kembali, dan sisanya menjadi uang jajan.

Pengalaman sederhana tersebut bukan sekadar rutinitas, melainkan pelajaran berharga tentang potensi ekonomi peternakan.

Setiap telur yang dijual bukan hanya menghasilkan uang jajan, tetapi juga menanamkan kesadaran fundamental bahwa dengan memelihara ternak, seseorang dapat menghasilkan pendapatan.

Kesadaran inilah yang membuat ketertarikannya dalam bidang peternakan terus bertambah dan membuatnya memutuskan untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi.

Ketika kesempatan untuk mengembangkan diri terbuka, Bapak Danang tidak menyia-nyiakannya. Awal perjalanannya sebagai dosen dimulai ketika ditawarkan oleh dosen pembimbingnya untuk mengajar sebagai asisten dosen di IPB.

Melalui dukungan tersebut, ia melanjutkan pendidikan hingga magister melalui Beasiswa Unggulan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Perjalanannya dari seorang asisten dosen hingga menjadi pengajar di Sekolah Vokasi IPB mencerminkan komitmennya terhadap pendidikan dan pengembangan ilmu peternakan.

Keputusannya untuk menjadi dosen di bidang peternakan didasari pandangan bahwa peternakan adalah bidang yang tidak akan pernah mati.

Ia melihat bahwa dengan pertambahan populasi manusia di Indonesia setiap tahunnya, kebutuhan akan protein yang berasal dari produk peternakan seperti ayam, daging sapi, susu, dan telur akan terus meningkat. Selain itu, menjadi dosen juga merupakan salah satu cita-citanya sejak dulu.

 

Fokus penelitian Bapak Danang di Teknologi dan Manajemen Ternak (TNK) IPB lebih mendalami ternak unggas seperti ayam, itik, dan puyuh.

Namun, penelitiannya tidak sekadar terbatas pada aspek teknis peternakan unggas, melainkan meluas pada upaya mentransformasi praktik peternakan Indonesia.

Ia melihat potensi besar yang belum tergarap, terutama dalam mengadopsi teknologi modern dan membangun sistem peternakan yang ramah lingkungan.

Proyek pengabdian masyarakat yang dilakukannya pada tahun 2020 berfokus pada peningkatan UMKM peternak di Bogor melalui pembinaan dan pelatihan tentang cara beternak yang baik dan efisien.

Ia juga terlibat dalam proyek matching fund yang dibiayai oleh pemerintah untuk menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa, masyarakat, dan peternak.

Melalui berbagai program pemberdayaan tersebut, ia secara konsisten berupaya meningkatkan kapasitas para peternak. Filosofi utamanya sederhana namun fundamental: pendidikan dan inovasi adalah kunci mengubah tantangan menjadi peluang.

Keunikan Bapak Danang terletak pada pendekatan sosialnya yang inklusif, baik dalam mengajar maupun dalam pengabdian masyarakat. Prinsip mengajarnya menekankan keadilan dan tidak berpihak kepada satu atau beberapa mahasiswa saja.

Ia percaya bahwa semua mahasiswa harus diperhatikan, tidak hanya mereka yang rajin. Pendekatan pengajarannya lebih mengutamakan kebutuhan mahasiswa, pengetahuan yang ingin mereka ketahui, dan kerja sama melalui diskusi kelompok untuk memecahkan kasus-kasus tertentu.

Ia tidak sekadar seorang akademisi, melainkan agen perubahan yang memandang peternakan sebagai instrumen pemberdayaan.

Keterlibatannya dalam melatih anak berkebutuhan khusus seperti penyandang down syndrome dan memberikan pelatihan kepada narapidana yang akan menyelesaikan masa hukumannya menunjukkan pandangannya yang jauh melampaui batasan konvensional.

Dari pengalaman tersebut, ia mendapatkan pengetahuan dan pelajaran hidup bahwa semua orang, tidak hanya mereka yang normal, membutuhkan ilmu dan dapat belajar dengan baik jika diajarkan dan dilatih secara disiplin.

Dengan kejujuran akademis, Bapak Danang Priyambodo, mengakui berbagai tantangan yang dihadapi peternakan Indonesia.

Pertama, masalah lahan karena di Indonesia tidak ada pembagian wilayah khusus untuk peternakan atau pertanian, sehingga lama-kelamaan lahan tersebut berubah menjadi perumahan atau ruko, menyebabkan peternakan harus bergeser.

Solusi yang ia tawarkan adalah sistem bertingkat. Tantangan kedua adalah SDM yang kurang, karena di Indonesia yang mau beternak atau bertani rata-rata adalah mereka yang sudah berusia lanjut.

Tantangan ketiga adalah teknologi, yang menjadi salah satu penyebab kurangnya minat SDM untuk menjalankan peternakan dan pertanian.

Danang Priyambodo, yakin bahwa dengan menggunakan teknologi, peternakan tidak akan lagi identik dengan bau dan kotor.

lainnya adalah masalah penyakit dan limbah, ketergantungan pada bibit atau pakan impor, serta perlunya inovasi terhadap bahan pakan atau bibit agar tidak bergantung pada impor.

Visinya sederhana namun ambisius: mewujudkan peternakan Indonesia yang modern, produktif, dan ramah lingkungan.

Ia ingin peternakan di Indonesia mampu mengembangkan teknologinya agar tidak lagi identik dengan bau dan kotor, melainkan ramah lingkungan.

Peternakan harus mampu berpikir dan berinovasi untuk meningkatkan produktivitas dengan teknologi, misalnya menggunakan kandang close house agar hasil produksinya meningkat.

Legasi yang ingin ditinggalkannya adalah peternakan Indonesia yang maju, mampu menghasilkan produk berkualitas tinggi dengan produktivitas tinggi, dan ramah lingkungan.

Danang Priyambodo, berharap metode yang sedang ditelitinya saat ini dapat menghasilkan bahan yang nantinya dapat diterapkan dalam budidaya ternak, sehingga peternakan menjadi ramah lingkungan dan tidak menghasilkan limbah yang bau dan mencemari udara.***

 

Siti Nur Aistatul Fajri

Mahasiswi Komunikasi Digital dan Media

Sekolah Vokasi IPB

Mendaki Merbabu, Sebuah Perjalanan Melawan Lelah dan Diri Sendiri

0

Bogordaily.net – Langit masih pekat ketika Kami meninggalkan Bogor, membawa ransel berat yang berisi lebih dari sekadar logistik: ada keyakinan, ada keraguan, ada sejumput keberanian yang entah akan bertahan sampai kapan. Di depan sana, Merbabu sudah menunggu. Ia berdiri setinggi 3.142 meter di atas permukaan laut, membentangkan sabana dan tanjakannya seakan berkata, “Datanglah jika kau cukup berani!”

Gunung Merbabu, yang namanya berasal dari kata “meru” (gunung) dan “babu” (abu), adalah gunung berapi yang kini berstatus tidak aktif. Namun, sejarah mencatat bahwa gunung ini pernah meletus pada 1560 dan 1797.

Jalur pendakiannya terkenal dengan sabana luas yang menawarkan pemandangan spektakuler, dengan Gunung Merapi yang berdiri gagah di sisi selatannya.

Kami memilih jalur pendakian via Selo, jalur yang paling populer karena keindahannya, tetapi juga dikenal dengan tanjakan-tanjakan yang menguras tenaga.

Kami tiba di Boyolali saat pagi masih muda. Udara dingin segera menyergap, membuat kami sadar bahwa perjalanan ini bukan sekadar gagasan dalam kepala, bukan sekadar rencana yang diceritakan di meja kopi.

Di basecamp, setiap barang diperiksa dengan teliti. Merbabu bukan gunung yang membiarkan dirinya dikotori. Puntung rokok, bungkus makanan, plastik kecil sekalipun—semua harus kembali dengan jumlah yang sama seperti saat berangkat. Gunung ini tak hanya meminta pendakian, tapi juga pertanggungjawaban.

Pukul sembilan, kami mulai melangkah. Awalnya, kaki masih ringan, nafas masih panjang. Jalur dari basecamp menuju Pos 1 memberi kesempatan untuk mengenal medan: akar-akar pohon yang mencuat dari tanah, batuan yang tersebar, dan hawa sejuk yang belum mengancam. Tapi ini hanya awal.

Dari Pos 1 ke Pos 2, tanjakan mulai menampakkan sifat aslinya. Tidak ada lagi kelonggaran bagi langkah-langkah santai. Lutut mulai terasa beban, dan napas yang tadinya ritmis kini terdengar lebih kasar. Kami berhenti lebih sering, mencari alasan untuk sekadar menengadah ke langit, berharap mendung turun sebagai dalih untuk beristirahat lebih lama.

Di tengah perjalanan, Zikri, salah satu dari kami, mulai mengeluhkan kakinya yang keram. Awalnya, kami pikir ia hanya perlu beristirahat sejenak. Namun, ketika ia mencoba melangkah lagi, rasa sakitnya semakin menjadi.

Sidqi, leader kami, segera bertindak. Ia merobek selembar kain dari jaketnya, lalu mengikatkannya dengan kencang di sekitar kaki Zikri. “Coba jalan pelan-pelan,” katanya. Keajaiban kecil terjadi: rasa sakitnya mulai mereda. Dengan langkah tertatih, Zikri kembali bergerak.

Di Pos 3, perjalanan mulai menguji bukan hanya tubuh, tapi juga kepala. Pertanyaan-pertanyaan menyerang tanpa ampun. Kenapa kita melakukan ini? Apa gunanya? Seberapa jauh lagi? Namun, semua keraguan itu terhapus saat kami mencapai Pos 4, yang dikenal sebagai Sabana 1.

Langkah-langkah yang berat akhirnya menemukan tempat untuk berhenti. Matahari mulai condong ke barat, menyepuh padang rumput luas dengan warna emas.

Merbabu menghadiahi kami dengan pemandangan yang sepadan dengan perjalanan panjang ini—jajaran bukit yang lembut, lautan awan yang bergerak pelan, dan ketenangan yang tak pernah ada di kota.

Kami mendirikan tenda di sana, tanpa menyadari bahwa kami memilih tempat yang menantang. Tenda kami berdiri di samping tebing, di mana angin dari lembah di bawah menghantam dengan ganas.

Ketika malam tiba, hembusan angin semakin kuat, mengguncang dua tenda kami seakan hendak mencabutnya dari tanah. Kami terjaga di tengah malam, mendengar suara gemuruh angin yang berdesir di antara celah-celah tenda.

Di luar, udara semakin dingin, membuat kami merapatkan jaket dan membenamkan tubuh ke dalam sleeping bag. Beberapa kali, kami harus keluar hanya untuk memastikan pasak tenda tetap kokoh menahan terpaan angin.

Tak hanya angin, suhu yang terus menurun juga menjadi tantangan lain. Satu per satu dari kami mulai merasakan udara dingin yang menusuk hingga ke tulang. Percakapan yang semula ramai perlahan meredup, tergantikan dengan suara angin yang mendominasi.

Beberapa di antara kami mencoba tidur, tetapi setiap embusan angin yang lebih kencang selalu membangunkan kami dengan rasa waspada. Malam itu terasa begitu panjang.

Beberapa kali kami mencoba menyalakan kompor kecil untuk menghangatkan tubuh dengan secangkir teh panas, tetapi angin yang kencang membuat api sulit dinyalakan.

Pukul tiga pagi, alarm berbunyi. Tubuh menolak bangkit, kantuk masih mencengkeram, tapi summit menunggu. Kami mulai berjalan dalam gelap, diterangi senter kepala yang lebih banyak mengungkap bayangan tubuh sendiri daripada jalur di depan.

Angin dingin menyelinap ke dalam jaket, menguji tekad satu per satu. Jalur semakin menanjak, membuat kami harus melangkah dengan penuh kehati-hatian. Setiap langkah terasa seperti pertarungan melawan rasa lelah dan dingin yang semakin menjadi-jadi.

Beberapa dari kami mulai merasa pusing akibat kadar oksigen yang menipis. Napas terasa berat, dan langkah kaki seolah kehilangan tenaga. Namun, kami saling menyemangati. Satu kalimat sederhana seperti “Ayo, dikit lagi!” atau “Bisa ini!” cukup untuk membuat kami terus berjalan.

Sampai akhirnya, fajar mulai menyala di ufuk timur. Cahaya pelan-pelan merayap naik, menyingkap awan yang menggumpal di bawah. Langit berwarna oranye, lalu merah muda, lalu biru lembut.

Dan di sanalah Kami, berdiri di puncak, melihat dunia dari atas. Semua pertanyaan di perjalanan kini terjawab dengan diam.

Beberapa dari Kami tak bisa menahan emosi, ada yang tersenyum lebar, ada yang duduk terdiam menikmati pemandangan. Rasa lelah, dingin, dan letih yang kami alami sebelumnya seolah menguap begitu saja.

Merbabu memberikan kami hadiah terbaik—panorama yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang berani mengambil langkah.

Turun dari gunung seringkali lebih berat daripada naik. Lutut bergetar, kaki terasa lebih rapuh. Tapi ada hal lain yang membuat kami tertegun—jalur yang kami lewati dalam perjalanan naik. Di puncak, Kami melihatnya dari kejauhan.

Jalur itu menanjak, panjang, dan tak masuk akal. Tapi anehnya, saat menaikinya tadi, kami tidak benar-benar menyadari betapa sulitnya. Kami hanya melangkah, satu demi satu, hingga akhirnya sampai.

Sama seperti hidup. Tak ada yang tahu seberapa jauh seseorang bisa pergi sampai ia mencoba. Tak ada yang bisa memprediksi batas diri sampai ia berjalan lebih jauh dari yang ia kira mampu.

Kami naik Merbabu dengan penuh keraguan, tapi kami turun dengan satu kesadaran: langkah kecil yang terus bergerak akan selalu lebih berharga daripada rencana besar yang tak pernah dimulai.***

Muhammad Umar Budiman

Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB.

 

Sinopsis Film Penjagal Iblis: Dosa Turunan, Teror Pembantaian dan Misteri Sekte Iblis

0

Bogordaily.net – Industri film horor Indonesia kembali dihebohkan dengan kehadiran Penjagal Iblis: Dosa Turunan. Film ini menggabungkan unsur horor, aksi, dan investigasi dalam sebuah cerita mencekam yang menguji logika serta iman.

Disutradarai oleh Tommy Dewo, film ini diproduksi oleh Screenplay Films, Rapi Films, dan IFI Sinema, dengan jadwal tayang resmi di bioskop mulai 30 April 2025.

Sinopsis Film Penjagal Iblis: Dosa Turunan

Kisah film ini bermula dari pembunuhan brutal satu keluarga yang sedang melakukan ruqyah terhadap anak mereka yang kerasukan.

Satu-satunya yang selamat dari peristiwa mengerikan itu adalah sang ustaz yang memimpin ritual.

Namun, yang mengejutkan, pelaku pembunuhan tersebut adalah Ningrum (Satine Zaneta), seorang gadis berusia 19 tahun, yang akhirnya ditahan di rumah sakit jiwa karena diduga mengalami delusi.

Seorang wartawan bernama Daru (Marthino Lio) ditugaskan untuk meliput kasus ini. Dalam wawancara eksklusifnya dengan Ningrum, ia mengungkap fakta mengejutkan.

Ningrum mengaku sebagai Penjagal Iblis yang ditugaskan untuk membasmi makhluk kegelapan di dunia ini.

Keluarga yang ia bunuh bukanlah manusia biasa, melainkan iblis yang digunakan oleh Pakunjara (Niken Anjani), seorang pemuja iblis yang berusaha membangkitkan pemimpin sekte sesat.

Daru awalnya skeptis dengan cerita Ningrum, namun semakin ia menyelidiki, semakin banyak kejanggalan yang membuktikan bahwa ada kekuatan jahat yang bermain di balik tragedi ini.

Tanpa disadari, Daru terjebak dalam pertempuran antara Ningrum sang Penjagal Iblis dan Pakunjara sang Pemuja Iblis.

Tak punya pilihan lain, ia harus membantu Ningrum menghadapi sekte kegelapan yang mengancam nyawa banyak orang.

Akankah mereka berhasil menghentikan rencana jahat Pakunjara? Atau justru mereka menjadi korban selanjutnya dari kekuatan iblis yang bangkit?

Berbeda dengan film horor pada umumnya, Penjagal Iblis: Dosa Turunan menghadirkan adegan aksi brutal yang dipadukan dengan unsur mistis, menciptakan ketegangan yang memacu adrenalin.

Dari official trailer yang dirilis, film ini memperlihatkan pertarungan sengit antara Ningrum dan Pakunjara, serta bagaimana Daru harus berhadapan dengan sekte pemuja iblis yang haus darah.

Selain itu, film ini juga mengangkat tema investigasi yang kuat, di mana Daru berusaha mengungkap kebenaran di balik rentetan pembunuhan misterius yang selalu mengincar pemuka agama.

Daftar Pemain Penjagal Iblis: Dosa Turunan

Film ini dibintangi oleh aktor dan aktris berbakat, antara lain:

  • Satine Zaneta sebagai Ningrum, gadis misterius yang mengaku sebagai Penjagal Iblis.
  • Marthino Lio sebagai Daru, wartawan yang terjebak dalam pusaran horor dan konspirasi sekte iblis.
  • Niken Anjani sebagai Pakunjara, pemimpin sekte pemuja iblis yang berusaha membangkitkan kekuatan kegelapan.
  • Kiki Narendra dalam peran yang masih dirahasiakan, namun diduga memiliki kaitan erat dengan sekte sesat tersebut.

Film ini digarap oleh Tommy Dewo, sutradara yang sebelumnya sukses dengan serial Serigala Terakhir, Joko Anwar’s Nightmares and Daydreams, dan Santet Segoro Pitu.

Dengan pengalaman dalam genre thriller dan aksi, ia berusaha membawa pendekatan baru dalam horor Indonesia.

Bagi para penggemar film horor yang penuh aksi dan misteri, Penjagal Iblis: Dosa Turunan akan tayang di bioskop mulai 30 April 2025.***

Hujan Deras Guyur Klapanunggal, Jembatan Cibarengkok Kembali Terendam Banjir

0

Bogordaily.net – Hujan deras yang mengguyur wilayah Klapanunggal, Kabupaten Bogor, pada Senin malam, 17 Maret 2025, menyebabkan Jembatan Cibarengkok kembali terendam banjir.

Tingginya intensitas hujan membuat aliran Kali Cibarengkok meluap hingga menutupi seluruh permukaan jembatan.

Jembatan Cibarengkok memang dikenal memiliki ketinggian yang rendah dan sejajar dengan aliran sungai, sehingga setiap kali hujan deras, air dengan cepat meluap dan menenggelamkan akses tersebut.

Akibatnya, warga yang hendak melintas harus menunggu hingga air surut atau mencari jalur alternatif yang lebih jauh.

Warga setempat mengeluhkan kondisi jembatan yang sering rusak meskipun sudah beberapa kali diperbaiki dan diaspal.

Namun, hujan deras dan banjir yang kerap terjadi membuat perbaikan tersebut tidak bertahan lama.

Sebagai satu-satunya akses utama yang menghubungkan beberapa wilayah di Klapanunggal, warga berharap pemerintah segera memberikan solusi agar permasalahan banjir di jembatan ini bisa diatasi secara permanen.

Hingga saat ini, belum ada laporan terkait kerusakan parah atau korban akibat banjir tersebut. Namun, warga diimbau untuk tetap berhati-hati saat melintasi daerah ini, terutama saat hujan deras turun.***