Saturday, 11 April 2026
Home Blog Page 879

24 Jam di Jalan: Perjalanan Bali-Jakarta dengan Bus, Worth It atau Tidak?

0

Bogordaily.net – Beberapa bulan lalu, saya dan dua teman saya berangkat ke Bali untuk menghadiri sebuah acara. Kami memilih perjalanan udara untuk pergi ke sana dengan tiket pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta yang harganya sekitar Rp1.400.000 per orang. Bagi saya yang masih mahasiswa dan berasal dari keluarga sederhana, angka tersebut bukanlah jumlah yang kecil. Karena itu, ketika tiba waktunya untuk pulang ke Jakarta, kami memutuskan untuk menggunakan bus demi menghemat biaya.

Ada banyak pilihan bus dengan rute Bali-Jakarta, tetapi setelah mempertimbangkan harga dan fasilitas yang ditawarkan, kami akhirnya memilih bus Debe Trans. Salah satu alasan utama adalah harga tiketnya yang cukup terjangkau, yakni Rp550.000 per orang, sudah termasuk makan selama perjalanan. Umumnya, penumpang naik dari Terminal Mengwi, namun kami memilih naik langsung dari garasi mereka di Kuta karena lokasinya lebih dekat dengan penginapan kami.

Perjalanan Dimulai

Kami berangkat dari garasi bus di Kuta sekitar pukul 12 siang. Sepanjang perjalanan, bus beberapa kali berhenti di beberapa titik penjemputan untuk mengangkut penumpang lain. Jadi, bagi yang ingin mencoba bus ini, tidak perlu naik dari garasinya langsung, bisa memilih pickup point terdekat dari lokasi menginap.

Saat pertama kali naik, first impression saya terhadap bus ini cukup baik. Seat-nya nyaman dan dilengkapi leg rest yang membuat perjalanan panjang lebih bersahabat. Setiap penumpang juga mendapatkan bantal dan selimut untuk menambah kenyamanan. Namun, ada satu kekurangan yang cukup terasa, yaitu sandaran kursinya tidak bisa direbahkan terlalu jauh. Hal ini membuat duduk terlalu lama terasa sedikit pegal, terutama karena bus ini bukan sleeper bus.

Menyebrang di Pelabuhan Gilimanuk

Sekitar pukul 5 sore, bus tiba di Pelabuhan Gilimanuk untuk menyeberang ke Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi. Ini bukan pengalaman pertama saya naik kapal di jalur ini. Tahun sebelumnya, saya sudah pernah menyeberang dengan kapal yang sama. Lama penyebrangan ini sekitar 45 menit hingga 1 jam, tergantung kondisi arus laut dan antrian kapal.

Bagi yang baru pertama kali naik kapal di jalur ini, saya sarankan untuk membawa antimo atau obat anti-mabuk laut jika rentan terhadap mabuk perjalanan. Meskipun perjalanan lautnya cukup singkat, angin ataupun ombak yang sedikit besar bisa membuat beberapa orang merasa pusing atau tidak nyaman.

Melanjutkan Perjalanan di Pulau Jawa

Begitu tiba di Pelabuhan Ketapang, kami kembali menaiki bus dan melanjutkan perjalanan darat. Sekitar satu jam setelah meninggalkan pelabuhan, bus berhenti di sebuah rumah makan di Banyuwangi untuk istirahat dan makan malam. Sistem pengambilan makanannya adalah prasmanan, sehingga penumpang bisa mengambil makanan sesuai dengan porsi masing-masing. Karena sudah termasuk dalam harga tiket, tidak ada biaya tambahan yang perlu dibayar.

Setelah makan malam dan beristirahat sekitar satu jam, perjalanan kembali dilanjutkan. Kali ini, bus melaju tanpa henti sepanjang malam. Selama perjalanan malam ini, banyak penumpang memilih untuk tidur, meskipun kondisi kursi yang tidak bisa direbahkan sepenuhnya membuat istirahat kurang maksimal.

Pukul 06.00 pagi, bus kembali berhenti di sebuah rumah makan untuk sarapan. Ini menjadi pemberhentian terakhir sebelum akhirnya bus melanjutkan perjalanan tanpa henti menuju Jakarta.

Tiba di Jakarta dan Kesimpulan

Sekitar pukul 10.00 pagi, bus memasuki wilayah Jakarta. Penumpang mulai turun satu per satu di berbagai drop point yang telah ditentukan. Saya dan kedua teman saya memilih turun di Terminal Bayangan Pasar Rebo, karena lokasinya paling strategis bagi kami.

Total waktu perjalanan dari Bali ke Jakarta adalah sekitar 24 jam atau 2 hari 1 malam. Apakah perjalanan ini worth it? Menurut saya, dengan harga tiket Rp550.000 dan fasilitas yang disediakan, ini adalah opsi yang cukup ekonomis bagi yang ingin menghemat biaya perjalanan. Namun, sebelum mencoba perjalanan panjang seperti ini, pastikan kondisi tubuh dalam keadaan fit agar tidak mudah lelah atau sakit selama perjalanan.

Perjalanan Bali-Jakarta dengan bus selama 24 jam memang bukan untuk semua orang. Bagi yang terbiasa dengan perjalanan cepat dan nyaman menggunakan pesawat, tentu ini akan terasa melelahkan. Tapi, bagi saya yang seorang mahasiswa dengan budget terbatas, perjalanan ini menjadi pilihan yang paling masuk akal. Kalau anda suka pengalaman baru dan ingin sesuatu yang berbeda, naik bus dari Bali ke Jakarta bisa jadi opsi menarik untuk dicoba setidaknya sekali dalam hidup.***

 

Anatasya Disha, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media

Jembatan antara Akademik dan Industri yang Seharusnya Dipertahankan

0

Muhammad Alfath                                                                                                    Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) merupakan salah satu program unggulan dari Menteri Pendidikan Kabinet Indonesia Maju, Nadiem Anwar Makarim. Salah satu program dari MBKM adalah Program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB). MSIB telah menjadi salah satu inovasi terbaik dalam dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk merasakan pengalaman magang di perusahaan ternama tanpa harus memiliki koneksi orang dalam. Namun, belakangan ini muncul isu mengenai penghapusan program MSIB. Jika hal ini benar-benar terjadi, maka akan menjadi sebuah kemunduran bagi dunia pendidikan dan karier mahasiswa di Indonesia.

Kesempatan Setara bagi Semua Mahasiswa

Salah satu keunggulan utama MSIB adalah kemampuannya dalam memberikan akses yang adil bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang. Sebelum adanya MSIB, banyak mahasiswa kesulitan mendapatkan magang di perusahaan besar karena faktor koneksi atau biaya yang tinggi. MSIB menghapus hambatan tersebut dengan membuka peluang magang berdasarkan kompetensi, bukan siapa yang mereka kenal. Jika program ini dihapus, mahasiswa dari universitas non-unggulan atau mereka yang tidak memiliki koneksi kuat akan kehilangan kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas diri.

Program MSIB tidak hanya memberikan pengalaman kerja nyata, tetapi juga membekali mahasiswa dengan keterampilan yang dibutuhkan di dunia industri. Banyak peserta yang setelah mengikuti MSIB langsung mendapatkan pekerjaan di perusahaan tempat mereka magang. Ini membuktikan bahwa MSIB menjadi jembatan antara dunia akademik dan industri, sesuatu yang selama ini menjadi tantangan besar dalam sistem pendidikan Indonesia. Jika program ini dihentikan, mahasiswa akan kembali menghadapi kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan dunia kerja, yang pada akhirnya memperburuk masalah pengangguran lulusan baru.

Kontribusi MSIB terhadap Kualitas Sumber Daya Manusia

Selain memberikan pengalaman kerja, MSIB juga berkontribusi dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Dengan sistem pembelajaran berbasis praktik langsung, mahasiswa mendapatkan ilmu yang tidak hanya teoretis, tetapi juga aplikatif sesuai dengan kebutuhan industri. Program ini juga membantu mahasiswa dalam mengembangkan soft skills seperti komunikasi, kerja tim, dan problem solving. Keterampilan yang sangat diperlukan dalam dunia kerja modern. Jika MSIB dihapus, mahasiswa akan kehilangan salah satu sarana terbaik untuk meningkatkan kompetensi mereka sebelum benar-benar terjun ke dunia profesional.

Mengapa MSIB Harus Dipertahankan?

Pemerintah seharusnya melihat keberhasilan MSIB sebagai investasi jangka panjang bagi generasi muda. Jika ada kendala dalam implementasi program ini, solusi terbaik bukanlah menghapusnya, melainkan melakukan evaluasi dan perbaikan. Dengan mempertahankan dan mengembangkan MSIB, Indonesia dapat terus mencetak lulusan yang lebih siap menghadapi dunia kerja dan bersaing di tingkat global.

Selain itu, MSIB harus memastikan bahwa kesempatan magang dapat diakses oleh mahasiswa dari berbagai daerah dan berbagai kampus, baik negeri maupun swasta. Masih terdapat kesenjangan dalam akses program ini, sehingga perlu ada upaya pemerataan, misalnya dengan penyediaan kuota yang lebih adil atau program pendampingan bagi mahasiswa dari universitas non-unggulan agar mereka bisa lebih siap bersaing. Pemerintah juga bisa mendorong lebih banyak perusahaan dan sektor industri untuk bergabung dalam program ini. Saat ini, mayoritas mitra MSIB berasal dari sektor teknologi dan startup, padahal masih banyak bidang lain yang membutuhkan tenaga kerja berkualitas, seperti manufaktur, kesehatan, agribisnis, dan energi. Jika cakupan ini diperluas, lebih banyak mahasiswa dari berbagai latar belakang akademik yang bisa merasakan manfaat program ini.

Menghapus MSIB bukanlah solusi yang tepat. Program ini telah terbukti memberikan manfaat besar bagi mahasiswa, baik dari segi pengalaman kerja maupun peluang karier. Jika pemerintah ingin meningkatkan kualitas pendidikan dan kesiapan mahasiswa menghadapi dunia industri, MSIB justru harus diperkuat, bukan dihapus. Semua pihak, baik mahasiswa, akademisi, maupun industri, seharusnya bersuara dan mendorong agar program ini tetap berjalan demi masa depan pendidikan yang lebih baik.

Perjalanan Seorang Akademisi dalam Dedikasi Inovasi

0

Bogordaily.net – Di balik dunia akademik yang kerap dianggap penuh dengan teori dan penelitian yang kompleks, ada individu-individu yang menjadikannya sebagai jalan pengabdian. Salah satunya adalah Yudit Vega Paramitadevi, yang akrab disapa Vega. Sebagai seorang dosen tetap dengan jabatan akademik Asisten Ahli, Vega tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai peneliti dan penggerak sosial. Dedikasinya terhadap ilmu teknik lingkungan dan pengabdian masyarakat telah membawanya ke berbagai ranah akademik dan profesional yang memperkuat keahliannya.

Vega adalah seorang akademisi yang menempuh pendidikan formalnya dengan penuh dedikasi. Ia mengawali pendidikannya di SD St. Antonius 1 Semarang, kemudian melanjutkan ke SMP Domini Goosyavio Semarang, dan menyelesaikan jenjang sekolah menengah atas di SMA Kolese Loyola Semarang.

Sejak kecil, Vega sudah menunjukkan ketertarikan terhadap ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang lingkungan dan teknologi. Ketertarikannya pada ilmu teknik lingkungan membawanya untuk menempuh pendidikan tinggi hingga jenjang S3, meskipun tantangan yang dihadapinya tidaklah ringan.

Dalam perjalanan akademiknya, Vega menemukan bahwa teknik lingkungan bukan hanya soal perhitungan dan struktur, tetapi juga tentang bagaimana lingkungan memberikan dampak terhadap kesehatan manusia. Baginya, ilmu ini bukan hanya teori, melainkan sebuah upaya untuk memahami dan mengatasi dampak antropogenik terhadap kehidupan manusia.

Ia meyakini bahwa perubahan lingkungan akibat aktivitas manusia memiliki konsekuensi besar terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, dan oleh karena itu, ia terus berusaha mengembangkan penelitian dan program-program yang dapat memberikan solusi nyata.

Awalnya, Vega tidak langsung memilih jalur akademik sebagai kariernya. Ia sempat bekerja di sektor swasta dan bergabung dalam sebuah NGO (Non-Governmental Organization). Namun, pengalaman tersebut membawanya pada kesadaran bahwa dunia akademik  adalah  panggilannya.  Selain karena latar belakang keluarganya yang juga

berkecimpung di dunia pendidikan, ia menyadari bahwa menjadi dosen adalah cara terbaik baginya untuk berbagi ilmu dan terus melakukan penelitian yang bermanfaat.

Salah satu penelitian yang paling berkesan bagi Vega adalah ketika ia melakukan kajian tentang dampak gas buang terhadap para petugas tol. Studi yang dilakukannya memberikan rekomendasi penting bagi BPJS dan PT Jasa Marga dalam meningkatkan perlindungan terhadap kesehatan para pekerja yang sehari-hari terpapar polutan di lingkungan tol.

Dengan adanya penelitian ini, terjadi perubahan kebijakan, termasuk otomatisasi gerbang tol yang mengurangi risiko paparan langsung terhadap petugas. Selain itu, Vega juga terlibat dalam berbagai proyek penelitian yang berfokus pada pengelolaan lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Ia pernah melakukan studi mengenai kualitas air di daerah-daerah rawan pencemaran dan bagaimana teknologi sederhana dapat membantu meningkatkan kualitas air bagi masyarakat yang kurang memiliki akses terhadap sumber air bersih.

Penelitiannya juga melibatkan kerja sama dengan berbagai lembaga, baik di tingkat nasional maupun internasional, guna menghasilkan kebijakan berbasis sains yang dapat diterapkan di lapangan.

Selain mengajar dan meneliti, Vega juga aktif dalam berbagai organisasi. Ia pernah menjadi pembina Posyandu untuk meningkatkan kesadaran ibu-ibu terhadap risiko bencana alam. Kini, ia lebih banyak terlibat dalam organisasi internasional seperti International Water Association yang berfokus pada instrumental health.

Selain itu, ia juga turut serta dalam program pengabdian masyarakat di ITB. Di dalam organisasi ini, Vega kerap berbagi pengalaman dan hasil penelitiannya dengan akademisi lain dari berbagai belahan dunia, memperkaya perspektifnya dalam memahami isu-isu lingkungan global.

Menjadi dosen bukanlah tugas yang mudah. Bagi Vega, tantangan terbesar adalah keterbatasan dana riset. Namun, ia mengatasi kendala ini dengan menjalin kolaborasi dan mencari mentor yang lebih berpengalaman.

Ia percaya bahwa kerja sama dengan kolega yang lebih senior dapat membantu dalam menghadapi hambatan dan meningkatkan kualitas penelitian. Selain itu, ia juga aktif dalam mencari pendanaan alternatif melalui hibah penelitian baik dari pemerintah maupun organisasi internasional.

Selain tantangan dalam bidang riset, Vega juga menghadapi tantangan dalam dunia pendidikan itu sendiri. Perkembangan teknologi yang pesat membuat metode pengajaran harus terus diperbarui agar tetap relevan dengan kebutuhan mahasiswa saat ini.

Ia berusaha mengembangkan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan berbasis teknologi digital untuk meningkatkan minat

mahasiswa dalam bidang teknik lingkungan. Vega percaya bahwa pendidikan tidak hanya tentang menghafal teori, tetapi juga bagaimana menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Vega memiliki visi besar sebagai seorang akademisi. Ia tidak hanya ingin mengembangkan ilmu teknik lingkungan, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan sistem edukasi yang lebih menarik dan efektif.

Baginya, pendidikan bukan hanya sekedar menyampaikan teori, tetapi bagaimana cara menginspirasi generasi muda agar mencintai ilmu dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga bercita-cita untuk memperluas jangkauan penelitiannya agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di tingkat global.

Ketika ditanya siapa sosok yang paling menginspirasinya, Vega menyebut nama ayahnya, Prof. Arvinsen Arianto Ruiom.

Meskipun tidak secara langsung mendorongnya menjadi dosen, sang ayah adalah figur yang menunjukkan bagaimana kecerdasan dan integritas dapat menjadi modal utama dalam dunia akademik.

Ayahnya mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan harus digunakan untuk kebaikan bersama dan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab untuk berbagi pengetahuan demi kemajuan masyarakat.

Moto hidup Vega adalah bahwa tidak ada kesuksesan yang instan. Ia ingin menanamkan pemahaman kepada para mahasiswa bahwa keberhasilan hanya bisa diraih dengan kerja keras dan ketekunan.

Baik di dunia akademik maupun di berbagai profesi lainnya, dedikasi dan kerja keras adalah kunci utama untuk mencapai impian. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dan keterbukaan dalam menerima ilmu dan pengalaman baru, karena dengan demikian, seseorang dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat.

Dengan segala pencapaiannya, Yudit Vega Paramitadevi adalah bukti bahwa pendidikan bukan hanya soal mengajar, tetapi juga menginspirasi dan berkontribusi bagi masyarakat luas.

Dalam perjalanannya sebagai akademisi, ia terus berusaha menjadi jembatan antara ilmu dan realitas sosial, memastikan bahwa pengetahuan yang dimilikinya dapat memberikan manfaat yang nyata bagi banyak orang.

Dedikasinya dalam dunia akademik dan pengabdian masyarakat menjadikannya contoh nyata bahwa ilmu pengetahuan dapat menjadi alat yang kuat untuk membawa perubahan positif di dunia.

Syahla Fitriyanti 

Mengangkat Desa Tematik: Perjalanan Akademik Marsya Fidyana Hidayat

0

Bogordaily.net – Marsya Fidyana Hidayat, lahir di Kota Sukabumi pada 9 Maret 2000. Ia memulai perjalanannya di jurusan ekowisata sebagai mahasiswa di Sekolah Vokasi IPB University. Marsya tidak pernah menyangka bahwa keputusannya memilih jurusan ini akan membawanya ke dunia akademik. Awalnya, keluarganya ragu dengan prospek kerja di bidang ini, tetapi dorongan untuk terus belajar dan mengeksplorasi dunia pendidikan membuka banyak pintu kesempatan. Salah satunya adalah bimbingan dari dosennya, Bapak Insan Kurnia, yang tidak hanya mengajarkannya teori tetapi juga membekalinya dengan pengalaman praktis dalam penelitian dan pengembangan pariwisata. Dengan semangat, Marsya pun memutuskan melanjutkan pendidikannya ke jenjang S1 di Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti, dengan tujuan menjadi dosen di masa depan.

Salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan studinya adalah penyelesaian tugas akhir saat pandemi COVID-19. Keterbatasan akses dalam pengambilan data menjadi tantangan besar. Mengajukan judul tugas akhir pun tidak mudah, karena banyak penolakan dari dosen terkait kelayakan realisasi penelitian di tengah pandemi. Marsya menjelaskan mengenai pelaksanaan judul yang akan direalisasikan serta berbagi berkonsultasi dengan para ahli di bidang tersebut. Selain itu, Marsya harus mencari destinasi yang belum dipilih oleh mahasiswa lain, sehingga semakin mempersempit pilihannya.

Namun, dari tantangan tersebut, lahirlah sebuah ide yang kini terus berkembang: Program Pemanduan Wisata Tematik. Desa tematik adalah sebuah desa yang didesain dan dikembangkan dengan tema tertentu, seperti desa budaya, desa peternakan, atau desa pariwisata. Marsya mengembangkan konsep ini sebagai bagian dari tugas akhirnya dan ternyata program tersebut masih digunakan hingga sekarang. Ia melihat bahwa potensi wisata tematik bukanlah sekadar destinasi yang dibuat dengan tema tertentu, melainkan desa yang telah memiliki karakter dan potensi unik yang bisa diangkat sebagai daya tarik wisata.

Dalam penelitiannya, Marsya memetakan berbagai desa yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai wisata tematik. Program yang ia kembangkan terdiri dari tiga aspek utama:

  1. Sejarah dan Arsitektur : wisata ini berfokus pada pemanduan yang menjelaskan latar belakang sejarah suatu tempat, keunikan arsitektur yang dimiliki, serta daya tarik khas yang membuatnya istimewa.
  1. Kerajinan dan Budaya : dalam konsep ini, wisatawan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga diajak berinteraksi langsung dengan mencoba berbagai kegiatan budaya dan kerajinan khas daerah.
  2. Makanan Khas – : Wisata ini memberikan pengalaman bagi wisatawan untuk tidak hanya mencicipi kuliner tradisional, tetapi juga bisa melihat dalam proses pembuatannya, sehingga mereka dapat memahami lebih dalam tentang warisan kuliner setempat.

Dukungan dari pemerintah semakin memperkuat langkah Marsya dalam mengembangkan desa tematik. Beberapa program yang ia rancang bahkan mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah yang mulai memasukkan konsep ini dalam rencana pengembangan pariwisata setempat. Baginya, ini adalah sebuah pencapaian, bahwa ide yang awalnya hanya bagian dari tugas akhir kini benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan sektor pariwisata di daerahnya.

Salah satu keberhasilan programnya adalah pengembangan potensi wisata di kawasan Odeon, Sukabumi. Kawasan ini dikenal sebagai pemukiman masyarakat Tionghoa dengan kekayaan sejarah dan budaya yang unik. Pada awalnya, aksesibilitas di Odeon sudah cukup memadai, namun fasilitas wisatanya masih minim. Seiring berjalannya waktu, berkat peran serta berbagai pihak, pemerintah Kota Sukabumi mulai aktif mengembangkan kawasan ini. Kini, Odeon sering menjadi tuan rumah berbagai acara, seperti Festival Imlek, pembukaan UMKM, hingga peresmian museum Tionghoa. Hal ini menunjukkan bahwa konsep desa tematik yang diusulkan Marsya benar-benar memiliki dampak bagi pengembangan wisata.

Selain Odeon, Marsya juga terus mengembangkan aspek lain dalam wisata tematik, khususnya dalam bidang kerajinan dan budaya. Ia percaya bahwa wisata bukan hanya soal melihat dan mengagumi, tetapi juga tentang pengalaman langsung. Oleh karena itu, wisatawan yang datang ke desa tematik tidak hanya sekedar mengunjungi, tetapi juga berpartisipasi dalam aktivitas lokal, seperti mencoba pembuatan kerajinan khas atau mencicipi kuliner tradisional.

Menurut pengamatan Marsya, perhatian pemerintah daerah terhadap pengembangan potensi wisata tematik tampaknya masih kurang mendapat prioritas. Sebaliknya, pemerintah lebih banyak memberikan perhatian dan dukungan pada sektor wisata kuliner, yang dinilai memiliki daya tarik ekonomi tinggi dan lebih cepat berkembang. Akibatnya, potensi wisata tematik yang kaya akan nilai budaya, sejarah, dan kearifan lokal kurang mendapatkan perhatian yang optimal. Padahal, jika dikembangkan dengan baik, wisata tematik dapat menjadi aset berharga dalam mendukung pariwisata berkelanjutan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Sebagai seseorang yang aktif di dunia akademik, Marsya mulai menjadi asisten dosen sejak 2023. Ia juga sempat menjalani praktek kerja lapangan (PKL) di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Sukabumi serta menjadi PPPK di UPTD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sukabumi. Pengalaman-pengalaman ini semakin memperkuat pemahamannya tentang pentingnya perencanaan dan pengelolaan pariwisata.

Ke depan, Marsya berencana untuk kembali mengangkat Program Desa Tematik sebagai bahan skripsi S1-nya. Ia ingin menyoroti bagaimana desa yang memiliki karakter unik dapat dioptimalkan menjadi destinasi wisata berkelanjutan. Dengan begitu, konsep ini tidak hanya menjadi gagasan akademik semata, tetapi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.

Bagi mahasiswa yang tengah berjuang menyelesaikan studinya, Marsya berpesan agar tetap sabar dan memiliki manajemen waktu yang baik. “Tidak apa-apa merasa terlambat dalam kuliah, karena setiap orang punya prosesnya masing-masing. Yang penting, tetap yakin bahwa perjalanan ini adalah yang terbaik untuk kita,” ujarnya.

Melalui dedikasi dan semangatnya, Marsya Fidyana Hidayat tidak hanya membangun masa depannya sendiri, tetapi juga membuka jalan bagi pengembangan wisata yang lebih luas. Dengan visi besar untuk menjadi dosen, ia terus berkontribusi dalam dunia akademik sekaligus menghidupkan potensi wisata tematik di daerahnya.***

 

Balqis Nabilah

Menjelajahi Keindahan Yogyakarta: Perjalanan Penuh Kenangan

0

Bogordaily.net – Yogyakarta, kota pelajar dengan sejuta pesona budaya dan sejarah, selalu menjadi destinasi favorit bagi para pelancong. Keunikan kota ini terletak pada kombinasi antara warisan budaya, kuliner yang lezat, dan suasana yang selalu hangat menyambut para wisatawan. Dalam perjalanan kali ini, saya mengunjungi tiga tempat yang wajib dikunjungi di Yogyakarta: Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Malioboro.

Candi Prambanan
Perjalanan saya ke Yogyakarta kali ini terasa istimewa karena akhirnya saya bisa mengunjungi salah satu keajaiban dunia, Candi Prambanan, candi Hindu terbesar di Indonesia. Terletak di Sleman, sekitar 17 km dari pusat kota Yogyakarta, candi ini merupakan salah satu peninggalan bersejarah yang menakjubkan dengan arsitektur yang menjulang tinggi dan detail relief yang memikat.

Begitu tiba di Candi Prambanan, saya langsung disambut oleh candi – candi utama yang berdiri megah. Keindahannya semakin jelas ketika saya mendekat dan mengamati relief yang terukir di dindingnya. Setiap ukiran menceritakan kisah Roro Jonggrang dengan detail luar biasa, seolah membawa saya ke dalam dunia lain yang penuh dengan petualangan dan nilai moral.

Saya berjalan mengitari candi, meresapi suasana sakral yang masih terasa begitu kuat. Meskipun sudah berusia ratusan tahun, Candi Prambanan tetap berdiri gagah, menjadi saksi bisu kejayaan peradaban masa lalu.

Saat sore menjelang, langit mulai berubah warna, dari biru cerah menjadi jingga keemasan. Matahari yang perlahan tenggelam di balik candi menciptakan siluet yang begitu indah. Cahaya senja yang menyapu relief dan arsitektur candi membuat suasana semakin luar biasa, seolah-olah membawa saya ke masa lalu.

Tak heran jika banyak wisatawan dan fotografer berkumpul di sini untuk mengabadikan momen ini. Saya pun tak mau melewatkan kesempatan untuk duduk sejenak, menikmati keindahan Prambanan dalam suasana yang begitu menenangkan.

Perjalanan ke Candi Prambanan tidak hanya memberi saya pengalaman melihat keajaiban arsitektur kuno, tetapi juga membawa saya lebih dekat dengan kekayaan budaya dan sejarah Indonesia.

Candi Borobudur
Setelah dari Candi Prambanan, saya melanjutkan perjalanan ke Candi Borobudur. Terletak di Magelang, Jawa Tengah, candi Buddha terbesar di dunia ini menyimpan sejarah panjang yang begitu mengagumkan.

Begitu tiba di Candi Borobudur, saya langsung terpukau oleh kemegahan arsitekturnya. Struktur candi yang menjulang tinggi dengan relief yang terukir di setiap dindingnya membuat saya semakin penasaran akan kisah yang terkandung di dalamnya. Saya pun memulai perjalanan menaiki undakan demi undakan untuk menuju puncak candi.

Sepanjang perjalanan, saya melihat banyak wisatawan yang berhenti untuk mengamati relief yang menceritakan ajaran Buddha dan kehidupan masyarakat zaman dahulu. Saat tiba di puncak, saya dikejutkan oleh pemandangan yang luar biasa.

Dari atas Candi Borobudur, saya bisa melihat hamparan hijau perbukitan yang mengelilinginya. Angin sepoi-sepoi membuat suasana semakin syahdu, seolah membawa ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Perjalanan ke Candi Borobudur benar-benar memberikan pengalaman yang berharga. Tidak hanya keindahan arsitekturnya yang memukau, tetapi juga nilai sejarah dan spiritual yang begitu mendalam. Saya pun berjanji dalam hati, suatu saat nanti saya akan kembali ke sini untuk menikmati keagungan Borobudur sekali lagi.

Malioboro: Jantung Keramaian Yogyakarta
Tak lengkap rasanya perjalanan ke Yogyakarta tanpa mengunjungi Jalan Malioboro. Kawasan ini menjadi ikon wisata yang selalu ramai oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.

Begitu tiba, saya langsung disambut dengan deretan pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai suvenir khas, mulai dari batik, blangkon, gantungan kunci, hingga pernak-pernik unik yang bisa dijadikan oleh-oleh. Aroma khas jajanan tradisional bercampur dengan angin malam, menambah kesan hangat dan akrab di tempat ini.

Sambil berjalan santai di trotoar yang kini lebih tertata rapi, saya menikmati pertunjukan seniman jalanan yang memainkan alat musik tradisional seperti angklung dan gamelan. Beberapa di antaranya juga menampilkan atraksi wayang kulit mini yang menarik perhatian para wisatawan.

Malioboro memang bukan sekadar tempat berbelanja, tetapi juga pusat seni dan budaya yang hidup, di mana setiap sudutnya menawarkan pengalaman yang berkesan.

Setelah puas berkeliling, saya memutuskan untuk beristirahat sejenak di salah satu rumah makan yang menyediakan makanan khas Yogya, yakni Gudeg.

Saat menyuapkan satu suapan nasi dengan gudeg rasanya sangat nikmat ditemani dengan es teh panas yang langsung menghangatkan tubuh, sangat cocok untuk melengkapi perjalanan kali ini.

Selain gudeg, Malioboro juga terkenal dengan berbagai kuliner khas seperti wedang ronde, dan angkringan yang menawarkan pengalaman makan lesehan dengan suasana yang lebih santai.

Duduk di pinggir jalan, menikmati hidangan khas sambil melihat hiruk-pikuk Malioboro di malam hari, memberikan sensasi tersendiri yang sulit ditemukan di tempat lain.

Tak ingin pulang dengan tangan kosong, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi salah satu toko batik di Malioboro.

Di sini, saya menemukan berbagai pilihan kain dan pakaian batik dengan motif yang beragam, dari yang klasik hingga modern.

Batik Yogya memang memiliki ciri khas tersendiri, dengan pola yang elegan dan warna yang khas, membuatnya cocok dijadikan buah tangan atau bahkan dikenakan sendiri sebagai kenang-kenangan dari perjalanan ini.

Selain batik, banyak juga toko yang menjual pernak-pernik khas seperti miniatur Candi Borobudur dan makanan khas seperti bakpia yang bisa dijadikan oleh-oleh untuk keluarga dan teman di rumah.

Menutup perjalanan di Yogyakarta, saya merasa begitu puas dengan pengalaman yang telah saya dapatkan. Kota ini tidak hanya menawarkan keindahan sejarah dan budaya, tetapi juga kehangatan dan keramahan yang membuat setiap pengunjung merasa seperti di rumah sendiri.***

Nabila Fasya Agustin – Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi

Wisata Telaga Saat: Keindahan Tenang di Puncak

0

Pagi itu, saya dan seorang teman memulai perjalanan menuju Telaga Saat, sebuah danau tersembunyi di kawasan Puncak yang masih alami dan jauh dari keramaian. Kami sudah menyiapkan segala keperluan sejak malam sebelumnya, mulai dari makanan ringan, tikar untuk piknik, hingga pakaian yang nyaman untuk perjalanan. Dengan semangat, kami berangkat dari Bogor saat matahari baru saja naik, berharap bisa sampai sebelum siang agar dapat menikmati suasana yang lebih sejuk.

Perjalanan dimulai dengan melewati kawasan Summarecon, sebuah perumahan elite dengan suasana sejuk dan jalanan yang rapi. Jalur ini terasa seperti potong jalan sebelum benar-benar memasuki Puncak, memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan rute utama yang biasanya padat kendaraan dan dipenuhi jalanan gersang.

Perjalanan dengan motor terasa lebih bebas dibandingkan menggunakan mobil. Kami bisa dengan mudah menikmati udara sejuk yang menerpa wajah, melihat pemandangan sekitar tanpa terhalang kaca jendela, serta lebih fleksibel dalam memilih jalur.

Namun, saat mulai memasuki area menuju Telaga Saat, tantangan sebenarnya muncul. Jalanan berbatu dengan beberapa lubang cukup membuat kami harus lebih berhati-hati. Di beberapa titik, jalan bahkan agak becek akibat hujan yang turun sehari sebelumnya.

Tantangan Perjalanan Menuju Wisata Telaga Saat

Sesampainya di area wisata, kami langsung disambut oleh loket parkir pertama di pintu masuk. Di sini, setiap pengunjung wajib membayar biaya parkir terlebih dahulu, sebelum bisa melanjutkan perjalanan menuju Telaga Saat.

Setelah pembayaran selesai, kami kembali melanjutkan perjalanan, tetapi ternyata jaraknya masih cukup jauh. Jalan menuju telaga dipenuhi dengan batuan besar dan kerikil, membuat perjalanan terasa lebih menantang.

Beberapa kali kami harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset, terutama karena jalan yang tidak rata dan cukup licin di beberapa bagian. Nyaris saja ada tragedi kecil ketika salah satu dari kami hampir terpeleset karena batuan yang longgar. Beruntung, kami berhasil menjaga keseimbangan dan melanjutkan perjalanan tanpa insiden berarti.

Menikmati Suasana Sejuk dan Alami

Setelah melewati jalan berbatu yang cukup panjang, akhirnya kami sampai di lokasi parkir utama dekat Telaga Saat. Saat turun dari motor dan berjalan menuju area utama, kami baru menyadari bahwa tiket masuk yang kami beli ternyata sudah termasuk minuman gratis.

Setelah membaca informasi yang tertera, kami pun bergegas menuju sebuah kafe kecil di dekat area wisata untuk menukarkan kupon tersebut. Di kafe itu, kami mendapatkan segelas es teh yang menyegarkan.

Saat bertanya kepada penjaga kafe, ternyata es teh ini dibuat langsung dari daun teh yang dipetik di perkebunan sekitar Telaga Saat. Rasanya benar-benar berbeda dari teh biasa: lebih segar, lebih wangi, dan memiliki cita rasa khas yang tidak terlalu manis.

Puncak Bogor, dikenal sebagai destinasi wisata yang ramai, terutama di akhir pekan. Namun, di balik keramaian, ada Telaga Saat, sebuah danau tenang yang dikelilingi hamparan hijau dedaunan. Airnya terasa luar biasa dingin, menyentuh tubuh dan membuat merinding, tetapi juga menyegarkan.

Sensasi ini benar-benar menambah pengalaman yang unik selama berada di sana. Airnya berwarna hijau, dikelilingi pepohonan dan perkebunan teh yang membentang luas.

Langit yang mendung dan rintik hujan yang turun membuat udara terasa semakin sejuk. Suara angin dan kicauan burung menjadi satu-satunya yang terdengar, menambah kesan damai di Telaga Saat.

Piknik di Tepi Danau

Kami menggelar tikar di dekat gazebo dan mulai menikmati makanan yang sudah kami bawa dari rumah. Hujan kini sudah reda, menyisakan udara segar yang membuat kami semakin betah. Di tengah asyiknya menikmati pemandangan, seorang pria yang membawa kamera profesional tiba-tiba menghampiri kami.

Ia memperkenalkan dirinya sebagai seorang editor foto yang sedang mengerjakan proyek di Telaga Saat. “Tertarik jadi model dadakan?” tanyanya dengan ramah. Awalnya kami agak terkejut, tetapi setelah dijelaskan bahwa ini hanya untuk keperluan latihan foto, kami pun setuju. Dengan latar belakang danau yang tenang, kebun teh yang hijau, serta langit yang mulai cerah, kami berpose dengan gaya santai. Momen ini menjadi pengalaman tak terduga yang semakin menambah keseruan perjalanan kami.

Kami juga mengamati aktivitas di sekitar. Ada yang menaiki perahu kayuh, ada pula keluarga yang duduk santai sambil bercengkerama. Hari itu, kebetulan ada rombongan wisatawan Arab yang sedang mengadakan acara keluarga. Mereka berkumpul dalam kelompok besar, berbincang dengan bahasa mereka yang khas, membawa suasana lebih hidup di tengah ketenangan danau.

Melukis Keindahan Suasana Telaga Saat

Setelah sesi foto dadakan, kami kembali menikmati suasana Telaga Saat. Kami mengeluarkan kanvas kecil, cat air, dan kuas yang sudah kami bawa. Rasanya tidak sabar melihat keindahan alam di sekitar, rasanya sayang jika tidak mengabadikannya dengan cara selain foto.

Kami mulai mencoret-coret sketsa di kanvas, mencoba menangkap refleksi pepohonan di permukaan air, sementara teman saya lebih memilih mewarnai langit yang perlahan cerah. Di sela-sela waktu santai, kami juga mendokumentasikan beberapa momen.

Kami mengambil foto dan video dari berbagai sudut, mengabadikan setiap detail kecil daun teh yang masih basah karena hujan, kabut tipis yang menyelimuti perbukitan, dan danau yang memantulkan cahaya langit.

Bersantai Sambil Menikmati Keindahan

Setelah itu, kami kembali melanjutkan kegiatan seru dengan bermain UNO. Udara dingin tidak menyurutkan semangat kami untuk saling menjebak dengan kartu +4 dan tertawa lepas saat ada yang hampir menang tetapi justru harus menarik kartu lagi.

Suasana begitu nyaman, hanya ada suara burung dan sesekali gelak tawa kami. Di sekitar kami, beberapa pengunjung juga menikmati momen dengan cara mereka masing-masing.

Hari dengan Ketenangan

Hari mulai beranjak sore, kami memutuskan untuk bersiap pulang sebelum langit benar-benar gelap. Kami membereskan barang-barang dan menikmati sisa cemilan yang kami bawa sebelum bersiap untuk pulang.

Sebelum meninggalkan Telaga Saat, saya kembali berdiri di tepi danau, sambil kembali memandangi tenangnya air telaga hijau. Ada perasaan tenang yang sulit diungkapkan, seakan tempat ini menyimpan ketenangan yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.

Perjalanan ke Telaga Saat bukan sekadar tentang menikmati keindahan alam, tetapi juga tentang menemukan ketenangan. Hal ini memberikan kedamaian yang sangat berharga. Perjalanan ini mengajarkan saya untuk lebih menghargai momen-momen sederhana, seperti menikmati udara segar, berbincang santai dengan orang terdekat, atau sekadar duduk diam di tepi danau tanpa melakukan apa pun. Telaga Saat bukanlah tempat wisata dengan wahana mewah atau atraksi besar, tetapi justru kesederhanaannya itulah yang membuatnya begitu istimewa. Tempat untuk melarikan diri sejenak dari kebisingan kota dan ingin merasakan ketenangan, Telaga Saat bisa menjadi pilihan yang tepat.***

Oleh: Nilam Sari Pattinussa, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Kawan Dekat Bogor Peduli, Hibur Korban Bencana dengan Berbagai Kegiatan Menarik

0

Bogordaily.net – Sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, Kawan Dekat Bogor menggelar kegiatan Bakti dengan tema ‘Bersama Kepedulian Tanggulangi Impact Bencana’.

Kegiatan tersebut digelar di Majlis Ta’lim Pamula, Ciranjang, Pamoyanan, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, pada Sabtu, 15 Maret 2025.

Ketua Kawan Dekat Bogor, Toya Laraza menuturkan, bahwa kegiatan tersebut sengaja digelar bukan hanya sebagai bentuk kepedulian kepada sesama, namun juga untuk menghibur masyarakat khususnya para korban terdampak bencana yang terjadi beberapa waktu lalu.

“Kegiatan ini sebetulnya mengusung untuk membantu korban bencana yang terdampak kemarin, jadi konsepnya adalah kita membuat para korban ini bisa lebih bahagia, bisa lebih optimis, bisa berfikir optimis supaya kita walaupun habis bencana kita masih tetap seperti itu,” tuturnya kepada bogordaily.net, Sabtu, 15 Maret 2025.

Adapun kegiatan yang disuguhkan, diantaranya cek kesehatan gratis, penyuluhan trauma healing, bersih bersih tempat ibadah, potong rambut gratis, penanaman pohon, bantuan sosial, games untuk anak anak, makan gratis, serta dongeng untuk anak anak.

“Jadi kemasan kemasan seperti ini harapannya adalah kepada warga yang terdampak itu bisa lebih happy, bisa lebih percaya diri, bisa lebih kuat gitu ya untuk bisa melewati kondisi kondisi pasca bencana,” ujarnya.

Acara tersebut pun diikuti dengan antusias oleh ratusan warga sekitar. Mulai dari anak anak hingga lansia pun terlihat gembira dan berbaur dalam acara tersebut.

Toya menjelaskan, kegiatan serupa merupakan agenda rutin dari Kawan Dekat sejak tahun 2024 lalu. Awalnya, mereka fokus pada kegiatan membersihkan tempat ibadah.

Namun, saat ini kegiatan tersebut dikemas lebih menarik lagi untuk membantu para masyarakat.

“Nah, kemudian karena ini memang kondisinya sedang bencana, jadi kita alihkan kepada kegiatan pasca bencana,” jelasnya.

“Jadi bukan karena ada bencana dan lagi ramadan saja, tapi kita memang sudah melakukan hal ini dari tahun lalu,” sambungnya.***

Kurir di Palembang Jadi Korban Pencurian, Motor dan 138 Paket Dibawa Kabur

0

Bogordaily.net – Insiden pencurian motor menimpa seorang kurir di Palembang dan menjadi viral di media sosial. Peristiwa ini terjadi pada Sabtu, 15 Maret 2025, di Jalan Sirna Raga, Kelurahan 8 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang.

Korban, Yoga (20), seorang kurir paket, kehilangan sepeda motor beserta 138 paket yang dibawanya.

Saat itu, ia mengendarai Honda Beat Deluxe berwarna biru hitam untuk mengantarkan paket dari arah Simpang Abiassan.

Sesampainya di lokasi, ia turun dari motor dan mengunci stangnya, tetapi kunci motor masih tertinggal di kontak.

“Saya baru turun sebentar, kunci masih ada di motor. Nggak sampai satu menit, tiba-tiba ada dua motor yang mendekat, masing-masing berboncengan. Tiba-tiba mereka langsung membawa kabur motor saya,” ujar Yoga dengan wajah lesu.

Aksi pencurian ini dilakukan oleh empat orang yang menggunakan dua sepeda motor jenis Honda Beat Street dan Scoopy.

Mirisnya, salah satu pelaku disebut membawa senjata tajam saat menjalankan aksinya.

Akibat kejadian ini, Yoga mengalami kerugian besar karena harus mengganti seluruh paket yang hilang, yang diperkirakan bernilai sekitar Rp6 juta.

Insiden ini pun mengundang keprihatinan dari warganet. Banyak yang mengutuk aksi pencurian tersebut dan berharap pelaku segera ditangkap.

Sementara itu, Yoga masih berharap motornya bisa ditemukan.

“Kalau ada yang menemukan atau tahu keberadaan motor saya, tolong segera laporkan,” pintanya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk melacak para pelaku pencurian.***

5 Tanda WhatsApp Anda Diblokir Diam-diam, Cek Sekarang!

0

Bogordaily.net – Pernah merasa pesan WhatsApp Anda seperti menghilang tanpa jejak? Bisa jadi nomor Anda telah diblokir oleh seseorang!

Jangan panik dulu, ada beberapa tanda yang bisa membantu Anda memastikan apakah benar-benar diblokir.

Yuk, simak lima ciri WhatsApp Anda diblokir berikut ini agar tidak salah paham!

5 Tanda WhatsApp Anda Diblokir

1. Foto Profil Menghilang

Jika Anda tidak bisa melihat foto profil seseorang atau hanya muncul ikon default, ini bisa menjadi tanda bahwa nomor Anda telah diblokir.

Namun, jangan langsung menyimpulkan! Bisa saja mereka mengubah pengaturan privasi untuk menyembunyikan foto profilnya dari Anda.

2. Status “Online” dan “Terakhir Dilihat” Hilang

Saat seseorang memblokir Anda, informasi “Online” dan “Terakhir Dilihat” mereka akan lenyap dari tampilan WhatsApp Anda.

Tapi hati-hati! WhatsApp kini memiliki fitur yang memungkinkan pengguna menyembunyikan status tersebut tanpa harus memblokir siapa pun. Jadi, periksa tanda lain untuk memastikan.

3. Pesan Selalu Centang Satu

Jika pesan yang Anda kirim hanya menunjukkan centang satu dan tidak pernah berubah menjadi centang dua, ini bisa menjadi indikasi kuat bahwa Anda telah diblokir.

Namun, hal ini juga bisa terjadi jika ponsel mereka sedang mati atau tidak memiliki koneksi internet.

4. Gagal Menelepon via WhatsApp

Saat mencoba menelepon seseorang melalui WhatsApp, panggilan Anda mungkin terus berdering tanpa jawaban atau bahkan gagal tersambung.

Jika koneksi internet Anda baik-baik saja tetapi tetap tidak bisa terhubung, kemungkinan besar Anda sudah masuk daftar blokir mereka.

5. Tidak Bisa Menambahkan ke Grup WhatsApp

Cara paling cepat untuk memastikan adalah dengan mencoba menambahkan kontak tersebut ke dalam grup WhatsApp.

Jika muncul notifikasi seperti “Tidak dapat menambahkan kontak ini ke grup”, hampir pasti nomor Anda telah diblokir.

Meski lima tanda di atas cukup jelas, ada kemungkinan pengaturan privasi atau kendala teknis lain yang menyebabkan hal serupa.***

3 Takjil Lezat yang Cocok untuk Buka Puasa, Wajib Coba!

0

Bogordaily.net – Saat adzan Maghrib berkumandang, momen berbuka puasa jadi saat yang paling ditunggu. Nah buka puasa makin sempurna, takjil yang manis dan segar bisa jadi pilihan terbaik untuk mengembalikan energi.

Berikut ini tiga rekomendasi takjil yang cocok untuk buka puasa!

3 Takjil Cocok untuk Buka Puasa

1. Kolak Pisang yang Manis dan Gurih

Kolak pisang adalah takjil klasik yang selalu jadi favorit saat Ramadan. Dengan perpaduan pisang yang lembut, kuah santan yang gurih, serta aroma khas dari daun pandan dan gula merah, kolak ini bisa bikin perut langsung nyaman setelah seharian berpuasa. Tambahkan ubi atau nangka untuk sensasi rasa yang lebih nikmat!

2. Es Buah yang Segar dan Menyegarkan

Buka puasa paling pas dengan sesuatu yang segar, dan es buah adalah pilihan yang tepat. Potongan buah segar seperti semangka, melon, nanas, dan anggur dicampur dengan sirup manis serta es batu bisa langsung menghilangkan dahaga. Jika ingin lebih sehat, bisa diganti dengan madu atau susu rendah gula.

3. Bubur Sumsum yang Lembut dan Mengenyangkan

Bubur sumsum yang terbuat dari tepung beras dan santan ini punya tekstur lembut yang mudah dicerna setelah puasa seharian.

Disiram dengan kuah gula merah yang manis, rasanya makin nikmat. Tak hanya enak, bubur sumsum juga bisa memberikan energi yang cukup sebelum menyantap hidangan utama.

Itulah tiga takjil yang bisa jadi pilihan untuk berbuka puasa. Selain lezat, semuanya juga mudah dibuat di rumah. Selamat berbuka!***