Home Blog Page 989

Nada, Gambar, Gerak Cara Lain dalam Menyampaikan Pesan

0

Bogordaily.net – Komunikasi adalah bagian penting dari kehidupan manusia. Bukan hanya soal berbicara atau menulis, tapi juga bagaimana kita menyampaikan pesan melalui nada suara, ekspresi wajah, gerakan tubuh. Bahkan media seperti gambar, musik, dan film.
Setiap cara memiliki keunikannya sendiri dalam menyampaikan pesan.

Nada dapat mengubah arti sebuah kalimat, gambar dapat berbicara tanpa kata, dan gerakan tubuh sering kali lebih jujur daripada ucapan. Artikel ini akan membahas bentuk komuikasi non-verbal serta bagaimana hal tesebut mempengaruhi cara kita berinteraksi.

Nada dalam Musik Sebagai Bahasa Universal
Musik adalah bahasa tanpa kata yang mampu menyentuh emosi manusia secara mendalam. Melalui nada, ritme, dan melodi, musik dapat menyampaikan perasaan bahagia, sedih, haru, atau bahkan ketegangan tanpa perlu satu pun kata terucap. Musik memiliki kekuatan untuk memperkuat suasana hati, dan bahkan menghubungkan orang-orang dari latar belakang yang berbeda.

Berbagai penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa musik memengaruhi otak dan emosi manusia. Dikuti dari jurnal “Pengaruh Musik terhadap Emosi” oleh Amelia dan Aryaneta (2022) mendengarkan musik dapat memengaruhi suasana hati seseorang karena musik merupakan stimulus besar bagi otak yang memengaruhi aspek kognitif dan emosional . Ini menjelaskan bahwa musik bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai alat komunikasi emosional yang kuat.

Di berbagai budaya, musik telah lama digunakan sebagai sarana komunikasi dan penyampaian pesan sosial. Dalam masyarakat tradisional, lagu-lagu rakyat sering kali berisi kisah sejarah, nilai- nilai moral, atau pesan kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Musik juga memainkan peran penting dalam gerakan sosial, seperti lagu-lagu perjuangan yang membangkitkan semangat nasionalisme atau lagu-lagu protes yang menjadi suara bagi aspirasi rakyat. Ini menjelaskan bahwa musik tidak hanya bersifat estetis, tetapi juga memiliki peran dalam perubahan sosial.

Visual dan Ekspresi Tubuh dalam Film Untuk Menyampaikan Pesan Tanpa Dialog
Film adalah seni bercerita yang tidak selalu bergantung pada dialog untuk menyampaikan pesan. Sebagai media visual, film mampu mengomunikasikan emosi, konflik, dan makna melalui ekspresi tubuh, gerakan, warna, pencahayaan, serta komposisi gambar.

Dalam banyak adegan, tatapan mata, gestur, atau perubahan raut wajah karakter bisa menggambarkan perasaan atau situasi tertentu. Dikutip dari jurnal “Komunikasi Verbal dan Nonverbal pada Film Kartun Shaun The Sheep Movie” oleh Sari dan Sari (2020).

Komunikasi nonverbal dalam film dapat mencakup gerakan tubuh, ekspresi wajah, dan elemen visual lainnya yang berperan signifikan dalam membangun narasi . Ini menjelaskan bahwa bahasa tubuh dan elemen visual dalam film memiliki peran signifikan dalam membangun narasi.

Penggunaan warna dalam film juga berperan besar dalam membentuk emosi penonton. Warna merah sering dikaitkan dengan gairah atau bahaya, biru menciptakan kesan tenang atau melankolis, sementara kuning bisa menghadirkan suasana hangat atau gelisah.

Pencahayaan yang redup dengan bayangan tajam dapat memperkuat ketegangan, sedangkan pencahayaan lembut sering digunakan dalam adegan romantis untuk membangun rasa keintiman. Ini menjelaskan bagaimana unsur visual dalam film berkontribusi terhadap pengalaman emosional penonton.

Selain itu, komposisi gambar dan sudut kamera juga menentukan bagaimana sebuah cerita disampaikan. Sudut pengambilan gambar dari bawah dapat membuat karakter terlihat dominan dan berwibawa, sementara pengambilan gambar dari atas bisa memberikan kesan rapuh atau lemah.

Gerakan kamera yang lambat dapat menciptakan suasana mendalam dan dramatis, sedangkan pemotongan cepat dalam adegan aksi membangun ketegangan dan adrenalin. Ini menjelaskan bagaimana teknik sinematografi dapat memperkuat narasi tanpa bergantung pada dialog.

Dengan perpaduan elemen visual ini, film mampu berbicara tanpa kata-kata, menghadirkan kisah yang tetap kuat dan emosional meski tanpa dialog. Inilah yang menjadikan sinema sebagai bahasa universal yang dapat dipahami oleh siapa saja, terlepas dari latar belakang budaya atau bahasa mereka.

Komunikasi bukan hanya soal kata-kata, tetapi juga bagaimana pesan dan perasaan dapat disampaikan melalui cara lain. Musik, dengan nada dan ritmenya, mampu membangkitkan emosi tanpa perlu lirik.

Begitu juga dengan film, yang melalui ekspresi tubuh, warna, pencahayaan, dan sudut kamera, dapat mengisahkan sesuatu tanpa harus mengandalkan dialog. Hal ini menunjukkan bahwa elemen-elemen non-verbal dapat menjadi alat komunikasi yang sama kuatnya dengan bahasa lisan.***

Nurwahyudin
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University

Berkat Program Klasterkuhidupku BRI, Klaster Usaha Tenun Ulos Ini Sukses Bangkit dan Berdayakan Kaum Wanita

0

Bogordaily.net – Perempuan kini memegang peran yang penting dalam membangun perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan sosial di Indonesia.

Seiring kemajuan zaman, perempuan kini memiliki lebih banyak kesempatan untuk berkembang dan berkontribusi, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga untuk keluarga dan lingkungan sekitar.

Kesadaran inilah yang kemudian mendorong Ketua Klaster Usaha Rumah Ulos Marlinda Yanti Panggabean untuk mengambil langkah besar. Ia tak hanya ingin mengubah nasibnya sendiri, tetapi juga memberdayakan perempuan lain di sekitarnya agar lebih mandiri dan sejahtera.

Tinggal di Desa Lumban, Kec.Siatas Barita, Tapanuli Utara, Prov. Sumatera Utara, Marlinda Yanti Panggabean harus menjalani hidup dengan penuh keterbatasan akibat penghasilan yang minim.

Bersama ibunya, ia menggantungkan hidup dari menenun kain ulos setiap hari. Namun, menjual hasil tenunan yang dikerjakan berhari-hari bahkan berminggu-minggu ke pengepul ternyata tak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Kondisi ini membuat Marlinda tidak tinggal diam. Ia mulai mencari cara agar bisa mendapatkan penghasilan yang lebih layak. Hingga akhirnya, ia menemukan peluang baru melalui dunia digital.

“Saya mulai berpikir bagaimana cara meningkatkan pemasukan, hingga akhirnya saya mencoba menjelajahi platform penjualan online. Dari situ, saya menyadari bahwa kain tenun yang biasa kami buat memiliki potensi dan nilai jual yang lebih tinggi. Saat itu, saya pun memutuskan untuk berhenti menjual kain tenun ke pengepul dan beralih ke penjualan online,” ceritanya.

Pada tahun 2008, Marlinda memulai usahanya dengan nama Linda Gabe Ulos. Saat itu, skala usahanya masih kecil karena keterbatasan modal. Namun, seiring berjalannya waktu dan perjuangan yang tak kenal lelah, usaha ini terus berkembang. Dari yang awalnya hanya beranggotakan 2-3 orang, kini telah menjadi klaster usaha dengan lebih dari 100 anggota.

“Para anggota di klaster ini mayoritas adalah perempuan dari berbagai usia. Sebagian besar dari mereka memang sudah memiliki keterampilan menenun ulos, tetapi kondisi kehidupan mereka masih jauh dari sejahtera. Karena itulah, saya mengajak mereka untuk bergabung dan diberdayakan kembali, agar bisa meningkatkan taraf hidup dan mendapatkan kesejahteraan yang lebih layak,” ucapnya.

Marlinda mengungkapkan bahwa klaster usaha ini kini mampu meraup pendapatan sekitar ratusan juta per bulannya. Pundi-pundi rupiah tersebut tidak hanya berasal dari penjualan kain ulos saja, tetapi juga dari berbagai produk turunannya yang semakin diminati pasar.
“Rumah Ulos menawarkan tiga produk utama, yaitu kain ulos, kain songket, serta produk ready-to-wear yang lebih modern, seperti pakaian, tas, sepatu, hingga home decor. Jangkauan pemasarannya pun luas, dari Sabang hingga Merauke, dengan mayoritas konsumen berasal dari Pulau Jawa. Tak hanya itu, Rumah Ulos juga telah berhasil menembus pasar internasional, salah satunya dengan mengirimkan produk ke California,” tutur Marlinda.

Di awal merintis usaha, Marlinda mendapat dukungan besar dari BRI. Berawal dari pendanaan KUR sebesar Rp5 juta, usahanya berkembang pesat hingga mampu memberdayakan lebih banyak orang. Seiring waktu, dukungan dari BRI pun semakin bertambah, hingga akhirnya Rumah Ulos diikutsertakan dalam program Klasterkuhidupku.

“Sebagian besar dana bantuan dimanfaatkan untuk pengembangan usaha, mulai dari pemberdayaan tenaga kerja, pembelian peralatan, hingga pemasaran digital. Rumah Ulos juga menerima alat tenun handmade yang lebih canggih untuk meningkatkan efisiensi produksi. Selain itu, saya mendapat pelatihan dari BRI mengenai budaya tenun dan strategi meningkatkan nilai jual produk. Itulah mengapa, kehadiran bantuan BRI ini benar-benar memberikan dampak positif bagi usaha saya,” imbuhnya.

Pada kesempatan terpisah, Corporate Secretary BRI Agustya Hendy Bernadi mengungkapkan bahwa BRI memiliki komitmen untuk terus mendampingi dan memberdayakan pelaku UMKM lewat program Klasterkuhidupku. Program ini menjadi wadah bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan bisnisnya.

“Kami berkomitmen untuk terus mendampingi dan membantu pelaku UMKM, tidak hanya berupa modal usaha saja tapi juga melalui pelatihan-pelatihan usaha dan program pemberdayaan lainnya. Program ini tentu sangat bermanfaat bagi kelompok usaha dalam mendapatkan dukungan program pemberdayaan. Semoga, apa yang ditunjukkan klaster usaha ini menjadi motivasi dan cerita inspiratif yang dapat ditiru oleh kelompok-kelompok usaha lainnya di berbagai daerah,” tegasnya.***

Ditanya Ibu-ibu di Batutulis Bogor, Gubernur Larang Sekolah Study Tour ke Luar Kota

0

Bogordaily.net – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi larang sekolah di Kota Bogor Study Tour ke luar kota.

Diucapkan tegas. Ia tidak sedang berpidato, tapi ditanya seorang ibu saat melihat longsor jalan Batutulis di Kota Bogor.

Diapit Walikota Bogor Dedie Rachim dan Wakil Walikota Bogor Jenal Mutaqin. Gubernur larang sekolah Study Tour ke luar kota, meskipun masih di Jawa Barat. Titik.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tidak suka basa-basi. Termasuk soal yang katanya “study tour” itu.

“Enggak usah,” katanya tegas menjawab pertanyaan si ibu berkacamata yang tayang dikanal YouTubenya.

Bukan karena pelit. Bukan juga karena anti liburan. Tapi karena ia tahu —terlalu banyak sekolah yang menjadikan study tour sekadar ajang selfie, bukan belajar.

Kadang lebih sibuk cari spot Instagramable daripada nilai edukatif.

“Fokus saja di sekolah. Di kota Bogor ini banyak tempat bagus,” ujarnya.

Tanpa perlu naik bis jauh-jauh. Tanpa perlu membebani orangtua.

Dedi menyebutkan alternatifnya. Bukan larangan tanpa solusi.

“Bisa meneliti Istana Batu Tulis. Gunung Salak, Pangrango. Banyak tempat bisa jadi bahan studi,” katanya.

Ia bahkan menyentil istilah kerennya.

“Outing class itu bahasa kasar. Bahasa halusnya? Ulin di luar kelas.”

Selesai. Gaya khas Dedi: ringan, mengena, dan tanpa satu pun pasal undang-undang disebutkan.

Tapi semua langsung paham: Belajar itu bukan soal ke mana pergi. Tapi ke mana hati dan pikirannya diajak berjalan.

Belakangan, kegiatan study tour atau outing class memang sering jadi sorotan.

Terlalu sering dijadikan alasan jalan-jalan, bukan lagi belajar. Biayanya pun tak main-main.

Bisa jutaan rupiah per siswa. Dan itu pun belum tentu mendidik. Yang dibawa pulang kadang hanya oleh-oleh, bukan wawasan.***

Kemenkop Dukung Pengembangan Ekonomi Umat di Pesantren Melalui Percepatan Pembentukan Kopdeskel Merah Putih

0

Bogordaily.net – Kementerian Koperasi (Kemenkop) kembali mempercepat pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdeskel) Merah Putih, melalui sosialisasi terkait pelaksanaan Instruksi Presiden (Inpres) No. 9 tahun 2025 di berbagai daerah di Indonesia.

Sosialisasi tersebut melibatkan berbagai tokoh penting, termasuk perwakilan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan, Wakil Bupati Ogan Ilir, Anggota Dewan, dan pimpinan Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya.

Wakil Menteri Koperasi (Wamenkop) Ferry Juliantono mengatakan, Kepala Desa dari berbagai wilayah memberikan komitmen kuat untuk segera membentuk Kopdeskel Merah Putih termasuk di Kabupaten Ogan Ilir. “Langkah ini diharapkan dapat mengakselerasi proses pembentukan koperasi yang akan memberikan dampak positif bagi perkembangan ekonomi lokal,” ujarnya dalam kegiatan peresmian Gedung BMT, sekaligus Sosialisasi Pembentukan Kopdeskel Merah Putih dan Panen Kebun Koperasi Ponpes Al-Ittifaqiah Indralaya, Sumatera Selatan, Rabu (16/4/2025).

Tidak hanya itu, diskusi yang menghadirkan puluhan Kepala Desa ini juga membahas rencana pengembangan koperasi desa yang mencakup sektor kebun, pertanian, peternakan, dan bahkan pendirian pabrik pupuk organik. “Dengan dukungan kuat dari Pemprov, diharapkan model bisnis koperasi pondok pesantren Al-Ittifaqiah dapat menjadi teladan dalam pengembangan usaha ekonomi di lingkungan sekitar,” harap Ferry.

Wamenkop menyampaikan pondok pesantren (ponpes) menjadi sentral atau figur penting di masyarakat khususnya di pedesaan karena hubungan kekerabatan antara masyarakat dengan para kiai di ponpes. Tentu hal ini memberikan kontribusi yang sangat baik dalam rangka percepatan pembentukan Kopdeskel Merah Putih.

Ia menegaskan, proses pembentukan Kopdeskel Merah Putih akan melibatkan tahapan penting seperti pelaksanaan musyawarah desa/kelurahan untuk memastikan partisipasi dan dukungan dari seluruh komunitas, termasuk di Provinsi Sumatera Selatan dalam waktu yang tidak lama.

Wamenkop memastikan, dengan kerja sama yang solid dan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan koperasi ini dapat segera terbentuk dan beroperasi dengan sukses untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di wilayah tersebut.

“Pemerintah berharap, melalui pembentukan Kopdeskel Merah Putih, akan terjadi peningkatan partisipasi anggota koperasi, pertumbuhan ekonomi di tingkat desa, dan pengurangan praktek keuangan yang mencekik dan merugikan masyarakat, seperti rentenir,” harapnya.

Di kesempatan yang sama juga dilakukan peresmian gedung Baitul Maal Wat (BMT). BMT adalah lembaga keuangan mikro syariah dan sebagai wujud nyata koperasi syariah yang menggabungkan prinsip ekonomi islam dengan struktur dan semangat koperasi. Sekaligus dilakukan panen kebun dari Koperasi Ponpes Al-Ittifaqiah, yang membuktikan bahwa koperasi bukan wacana, tapi jalan nyata membangun ekonomi umat dari bawah.

Sementara itu, Wakil Bupati Ogan Ilir Ardani melaporkan, saat ini, koperasi yang aktif di Ogan Ilir berjumlah 147. Sekitar 60 persennya diharapkan bisa dikembangkan menjadi Kopdeskel Merah Putih. Sedangkan sebesar 40 persennya dibutuhkan revitalisasi terkait peningkatan kinerja untuk pembentukan Kopdeskel Merah Putih, dan sisanya dibentuk baru.

“Pondok pesantren Al Ittifaqiah sudah memberikan contoh nyata untuk pembentukan Kopdes merah putih dari pondok pesantren. Hal tersebut dibuktikan dengan beberapa kegiatan serta program yang telah dijalankan Koperasi Ponpes Al Ittifaqiah. Kami terus butuh dukungan dari Kementerian Koperasi,” ucap Ardani.

Mudir Pondok Pesantran Al-Ittifaqiah KH.Mudrik Qori turut mengapresiasi Kemenkop yang selalu mendukung pengembangan usaha koperasi pondok pesantren.

“Ada 15 calon Kopdeskel Merah Putih dari 3 kecamatan. Meliputi, Kecamatan Indralaya Selatan, Utara, Indralaya Induk. Serta 10 Kopdes Merah Putih di pondok pesantren yang siap dibentuk,” sebutnya.

Terdapat 20 jenis usaha yang dijalankan pesantren yang dimana badan usahanya milik yayasan juga yaitu dari musik, sound system, kantin, warung, merchandise, travel umroh haji dan lainnya. “Kalau untuk BMT melayani usaha simpan pinjam sekaligus juga pembiayaan dan sudah banyak membantu SDM Al Ittifaqiah sendiri. Kemudian, koperasi pondok pesantren Al-Ittifaqiah memiliki sawit 50 hektare (ha), yang perlu di-replanting. Koperasi juga mempunyai kebun singkong, peternakan ikan, sapi, tenun, hingga usaha racikan kopi yang berkualitas,” ucapnya.***

Gubernur Jabar Minta Pemkot Bogor Revisi Desain Museum Bumi Ageung Batutulis

0

Bogordaily.net – Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi, melalui Sekda Jabar, Herman Suryatman, meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor untuk merevisi desain pembangunan kawasan Bumi Ageung Batutulis dan menyesuaikannya dengan rencana pemanfaatan sebagai Museum Pakuan Padjajaran.

Merespons arahan orang nomor satu di Jawa Barat, Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyatakan kesiapannya untuk segera menyiapkan Detailed Engineering Design (DED) pada tahun ini, serta melaksanakan penyesuaian desain untuk pembangunan kembali pada tahun anggaran 2026.

“Gubernur Jawa Barat juga berkomitmen untuk membantu pembiayaan pembangunan museum yang diproyeksikan akan memperkaya objek wisata sejarah di Kota Bogor dan Jawa Barat pada umumnya,” ujar Dedie Rachim usai menghadiri penandatanganan MoU antara Pemprov Jawa Barat dan Kejati Jabar di Gedung Pakuan, Bandung, Selasa (15/4/2025).

Dalam kunjungannya ke Kota Bogor, Dedi Mulyadi mengapresiasi langkah Pemkot Bogor yang menunjukkan semangat tinggi dalam mewujudkan pembangunan Museum Pajajaran.

Meski belum terwujud sepenuhnya, langkah menuju ke sana telah dibuktikan melalui kehadiran kawasan Bumi Ageung Batutulis.

Hal ini disampaikan Dedi Mulyadi saat diajak melihat langsung Situs Prasasti Batutulis dan Bumi Ageung Batutulis oleh Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim.

“Semangat membangun museum sudah luar biasa. Tinggal nanti diberi sentuhan arsitektur agar lebih mengesankan sebagai sebuah museum sejarah masa lalu,” puji Dedi Mulyadi di lokasi Situs Prasasti Batutulis, usai meninjau lokasi longsor di Jalan Saleh Danasasmita yang tidak jauh dari situs tersebut, Senin (14/4/2025).

Ia juga memberikan masukan untuk bangunan pelindung Prasasti Batutulis yang saat ini dikelola oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX Jawa Barat, UPTD Kementerian Kebudayaan, agar disesuaikan dengan karakteristik situs Batutulis itu sendiri, sehingga memiliki nilai estetika dan sejarah yang lebih kuat.

“Karena bangunannya saat ini belum menunjang sebagai bangunan kebudayaan. Kalau diperbolehkan oleh Kementerian Kebudayaan, saya akan bangun tahun ini juga, dengan desain arsitektur yang disesuaikan dengan peradaban Sunda,” ujarnya.

Setelah kunjungan ini, pihaknya juga akan melibatkan tim ahli geologi, ahli bahasa, ahli sejarah, dan filolog untuk menyusun buku yang dapat menjelaskan Batutulis secara akademis.

“Sehingga saat kita berkunjung ke tempat bersejarah, kita bisa memahami bahwa dulu pernah ada peradaban. Raja dilantik dengan membuat tulisan di batu yang abadi. Ini menunjukkan bahwa orang Sunda punya leluhur yang cerdas, pintar, dan hebat pada masanya,” ungkapnya.

Dengan begitu, ke depan siapapun yang menjabat sebagai wali kota maupun wakil wali kota diharapkan dapat menjelaskan sejarah peradaban Sunda dan Pakuan Pajajaran dengan baik kepada masyarakat.***

Zenal Abidin Kecam Pelaku Kekerasan Seksual, Dukung Polresta Jatuhkan Hukuman Berat

0

Bogordaily.net – Wakil Ketua II DPRD Kota Bogor, H. Zenal Abidin mengecam keras kasus kekerasan seksual yang kembali terjadi di Kota Bogor.

Kali ini korbannya merupakan kakak beradik yang menjadi sasaran nafsu bejat pamannya sendiri.

Ia meminta agar kasus yang saat ini sudah ditangani oleh Polresta Bogor Kota agar bisa diselesaikan dan pelaku dijatuhi hukuman seberat-beratnya.

“Ini adalah kabar duka yang sangat menyayat hati. Saya secara pribadi mengecam keras tindakan pelaku dan meminta Polresta agar menjatuhkan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku,” kata Zenal, Rabu 16 April 2025.

Zenal pun meminta Pemerintah Kota Bogor agar bergerak cepat menjemput bola dengan memberikan pendampingan hukum dan pendampingan moril melalui unit PPA.

Zenal juga menyampaikan bahwa saat ini DPRD Kota Bogor tengah menggodok Raperda tentang Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan.

Raperda ini memiliki tujuan untuk menciptakan landasan hukum keamanan dan kesejahteraan bagi perempuan di Kota Bogor. Karena perempuan di Kota Bogor masih rentan menjadi korban diskriminasi dan kekerasan.

“Perempuan mempunyai harkat dan martabat yang sama dan setara dengan laki-laki sehingga perempuan harus dihargai, diakui, diberikan kesempatan untuk mengembangkan diri, dan dilindungi. Saat ini, dalam kehidupan bermasyarakat, perempuan masih menjadi kelompok yang rentan terhadap berbagai kekerasan dan perlakuan diskriminatif lainnya,” jelas Zenal.

Untuk diketahui, kasus kekerasan seksual ini terjadi di Cilubang, Kecamatan Bogor Barat. Pelaku pencabulan, A (49) sudah berhasil diamankan oleh aparat kepolisian pada Senin 14 April 2025.

Aksi bejat pelaku terkuak setelah korban mengadukan kejadian tersebut kepada istri pelaku.

Korban mengaku sudah mengalami kekerasan seksual sejak 2018 dan salah satunya pun kini diduga mengalami kehamilan.

“Si korban bercerita kepada istri si pelaku ini. Pada hari kemarin tidak dilakukan tapi korban mengadu kepada istrinya,” kata Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota AKP Aji Riznaldi Nugroho.***

Ibnu Galansa

Lirik Lagu OST Film JUMBO – Selalu Ada di Nadimu

0

Bogordaily.net – Film animasi JUMBO kini tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta film Indonesia. Tidak hanya karena jalan ceritanya yang menyentuh dan visual yang memukau, tetapi juga karena kehadiran lagu-lagu Original Soundtrack (OST) yang berhasil mencuri perhatian para pendengar.

Salah satu lagu yang paling banyak dibicarakan adalah “Selalu Ada di Nadimu” yang dibawakan oleh penyanyi ternama Bunga Citra Lestari (BCL).

Seiring popularitas film JUMBO yang terus meroket, lagu “Selalu Ada di Nadimu” pun turut menjadi sorotan. Lagu ini tak hanya menyajikan melodi indah dan suara khas BCL yang merdu, tetapi juga menyimpan kejutan menarik dalam liriknya.

Yang membuat lagu ini begitu spesial adalah struktur liriknya yang unik. Setiap bait lagu diawali oleh sebuah huruf yang bila disusun akan membentuk kalimat penuh makna: “Kami akan selalu ada di nadimu.”

Kalimat ini seolah menjadi pesan tersembunyi dari film dan musiknya kepada para penonton.

Film JUMBO sendiri merupakan karya dari Ryan Adriandhy, dan dirilis oleh rumah produksi Visinema Pictures.

Hingga kini, film ini telah berhasil menarik perhatian lebih dari 3,5 juta penonton di seluruh bioskop Indonesia dikutip dari akun Instagram resmi @visinemaid.

Lirik Lagu OST Film JUMBO – Selalu Ada di Nadimu

Original Soundtrack (OST)nya diunggah melalui saluran YouTube IT’S ME BCL pada Jumat, 21 Maret 2025 lalu.

Lagu ini sukses membuat banyak pendengar terbawa emosi, apalagi dengan kekuatan vokal khas BCL yang penuh penghayatan.

Kala nanti badai ‘kan datang
Angin akan buat kau goyah
Maafkan, hidup memang
Ingin kau lebih kuat

Andaikan, saat itu datang
Kami tak ada menemani
Aku ingin kau mendengar
Nyanyianku di sini

Sedikit, demi sedikit
Engkau akan berteman pahit
Luapkanlah saja bila harus menangis
Anakku, ingatlah semua
Lelah tak akan tersia
Usah, kau takut pada keras dunia

Akhirnya takkan ada akhir
Doaku agar kau selalu
Arungi hidup berbalut senyuman di hati

Doaku agar kau selalu
Ingat bahagia meski kadang hidup tak baik saja

Nyanyian ini bukan sekedar nada
Aku ingin kau mendengarnya
Dengan hatimu bukan telinga
Ingatlah ini bukan sekedar kata
Maksudnya kelak akan menjadi makna
Ungkapan cintaku dari hati***

Usai Kasus RSHS, Kini Dokter Kandungan di Garut Dituding Lakukan Pelecehan Saat USG

0

Bogordaily.net – Setelah kasus kekerasan seksual oleh dokter Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung belum usai, kini muncul lagi laporan pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh seorang dokter kandungan di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Dokter berinisial I dilaporkan telah melakukan pelecehan terhadap pasiennya saat melakukan pemeriksaan kehamilan atau USG di ruang praktik.

Salah satu korban, dengan inisial D, mengaku mengalami tindakan tak pantas tersebut, meski hingga kini belum melaporkan kejadian tersebut secara resmi ke pihak berwenang.

Menurut pengakuan korban, pelecehan dokter garut ini terjadi saat ia menjalani pemeriksaan rutin kehamilan.

Ia merasa ada perlakuan janggal dari sang dokter dan sempat merasa tidak nyaman usai pemeriksaan. Karena curiga, D kemudian berkonsultasi dengan bidan mengenai pengalaman yang ia alami.

“Yang tadinya rujukan ke RS X mau melahirkan sama dokter I, saya pindah karena konsultasi ke bidan saya, katanya itu termasuk tindak pelecehan,” ungkap korban, Senin 14 April 2025.

Lebih lanjut, korban mengatakan bahwa dokter I tidak hanya menyentuh area intim bagian atasnya saat pemeriksaan, tetapi juga sempat mengelus bagian tubuh lainnya yang tidak berkaitan dengan proses medis.

Kasus ini sontak menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, khususnya para perempuan yang sedang menjalani pemeriksaan kehamilan.

Banyak pihak mendesak agar kasus seperti ini ditindaklanjuti secara serius dan korban diberikan ruang serta keberanian untuk melapor.

Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak rumah sakit atau instansi kesehatan terkait mengenai tuduhan ini.

Namun, kasus ini telah ramai dibicarakan di media sosial, terutama setelah akun Instagram @sekitargarut turut mengangkat isu tersebut.***

Mahkota Binokasih Pertama Kalinya Bakal Singgah di Kabupaten Bogor. Catat Tanggalnya!

0

Bogordaily.net – Kirab Mahkota Binokasih, mahkota warisan Kerajaan Galuh yang juga pernah digunakan oleh Prabu Siliwangi di masa Kerajaan Pajajaran, untuk pertama kalinya akan singgah di Kabupaten Bogor.

Kirab ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai 20 hingga 22 April 2025.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bogor, Yudi Santosa, menjelaskan bahwa, kirab Mahkota Binokasih akan memasuki wilayah Bogor melalui jalur Puncak pada 20 April.

“Akan diterima oleh komunitas budaya di kawasan Puncak. Mereka akan menginap dan melakukan kegiatan spiritual seperti tawasulan di Telaga Warna, karena tempat itu punya nilai historis,” kata Yudi, Rabu 16 April 2025.

Kemudian, pada keesokan harinya, 21 April, siang hari, kirab akan bergerak menuju Cibinong dan direncanakan berhenti di kawasan Muara Beres, tempat akan dilangsungkan prosesi serah terima Mahkota dari pihak Anom Sumedang Larang kepada Bupati Bogor.

“Ini baru pertama kali Mahkota Binokasih hadir di Kabupaten Bogor. Tahun lalu ke Kota Bogor, sekarang giliran ke sini, dan kebetulan di masa Pak Rudy Susmanto,” jelasnya.

Selain itu, usai prosesi serah terima, kirab dilanjutkan menuju kompleks Pemkab Bogor. Pada malam hari, kegiatan akan diawali dengan tawasulan bersama para ulama, lalu dilanjut makan malam dan pembekalan kepemimpinan bagi para pemangku jabatan mulai dari tingkat desa hingga dinas.

Sebagai informasi, pembekalan akan digelar di Auditorium Pemkab Bogor, dan dipimpin langsung oleh Anom Sumedang Larang, raja muda dari Sumedang.

Sekitar pukul 21.00 WIB, masyarakat akan disuguhi pagelaran wayang golek di Gedung Tegar Beriman, yang menampilkan dalang nasional Yoga Sunandar, putra maestro Asep Sunandar Sunarya, berkolaborasi dengan dalang lokal Ki Gala dari Kabupaten Bogor. Pagelaran ini juga akan disiarkan secara streaming untuk masyarakat di luar gedung.

Pada pagi harinya, 22 April, Mahkota Binokasih akan dilepas dari Tegar Beriman dan kembali melanjutkan perjalanan ke Sumedang Larang.

“Kegiatan ini tak hanya seremoni, tapi juga sarat edukasi sejarah tentang Kerajaan Galuh, Pajajaran, hingga Sumedang Larang, melalui simbol Mahkota Binokasih yang masih lestari hingga kini,” ungkap Yudi.***

Albin Pandita

Jokowi Tunjukkan Ijazah S1 dari UGM

0

Bogordaily.net – Jokowi akhirnya memperlihatkan ijazah s1 dari UGM yang gaduhnya tak pernah berhenti.

Hari Rabu, 16 April 2025, Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, membuka pintu rumahnya sendiri. Di Gang Kutai Utara nomor 1, Solo.

Bukan untuk menjamu tamu negara. Bukan pula untuk kampanye politik.

Tapi untuk hal yang jauh lebih sederhana — dan lebih sensitif.

Ijazah.

Ya, ijazah. ijazah Jokowi dari  mulai SD hingga kuliah, dari Tirtoyoso sampai UGM.

Jokowi meminta wartawan masuk ke dalam rumah. Rumah itu tidak berubah sejak ia masih wali kota dulu.

Rumah sederhana. Lorong kecil. Meja tamu dari kayu biasa. Tapi hari itu, meja itu menjadi saksi dari lembar demi lembar: fotokopian ijazah Jokowi.

Tidak ada kamera. Tidak ada handphone. Semua harus dititipkan di pintu depan. Aturan dari Jokowi langsung.

“Saya tunjukkan, tapi jangan difoto ya,” katanya. Suaranya datar. Tapi terdengar tegas.

Mungkin, malam sebelumnya ia duduk sendiri. Mungkin di ruang kerjanya. Membuka laci. Mengeluarkan stoomap plastik yang sudah mulai buram.

Membuka satu per satu. SD Tirtoyoso. SMPN 1 Surakarta. SMAN 6 Surakarta. Dan akhirnya, UGM.

Lalu memutuskan: “Ya sudah, tunjukkan saja besok pagi.”

Di luar rumah, puluhan orang dari TPUA sudah berdiri. Tim Pembela Ulama dan Aktivis.

Mereka datang bukan untuk demo. Mereka ingin bertemu langsung. Menanyakan: “Apakah ijazah Bapak asli?”

Pertanyaan yang tidak semua presiden mau jawab.

Tapi Jokowi, entah kenapa, membiarkan tiga perwakilan mereka masuk. Duduk. Bicara. Sekitar 20 menit di dalam.

Mereka keluar. Wajahnya datar. “Beliau tidak mau menunjukkan langsung,” kata Rizal Fadillah, Wakil Ketua TPUA. “Katanya, kalau diminta pengadilan, baru ditunjukkan.”

Bagaimana perasaan Rizal saat itu?. Mungkin kecewa. Tapi mungkin juga maklum.

Karena kemarin, kata dia, mereka juga sudah ke UGM. Dan jawabannya sama: “Ijazah hanya bisa ditunjukkan oleh pemilik.”

Dan si pemilik sudah menunjukkan — tapi dengan syarat. Tidak untuk difoto. Tidak untuk direkam.

Mungkin bukan soal ijazahnya. Tapi soal martabat. Dan cara Jokowi menjaganya: diam, tenang, tapi tetap terbuka — dalam batasan yang ia tentukan sendiri.

Ijazah itu tidak banyak bicara. Tapi hari itu, lembar-lembar kertas tua itu seolah berteriak: “Saya pernah sekolah. Dari kecil. Di Solo. Sama seperti kalian.”

Tapi seperti biasa, Jokowi memilih kalimat pendek. “Yang ini dari UGM. Asli. Kalau yang ini stopmap-nya bukan asli. Tapi isinya ya itu.”

Seseorang bertanya tentang kacamata lamanya. “Sudah pecah,” jawabnya ringan. Lalu tersenyum.

Saya tidak tahu apakah semua orang puas dengan itu. Tapi saya yakin, pagi itu ada satu pesan yang ingin ia sampaikan:

Bahwa seorang presiden pun, kadang harus membuka lemari tua — hanya untuk menjawab keraguan tentang dirinya.

Dan Jokowi memilih melakukannya, di rumah kecil, di Gang Kutai.***