Home Blog Page 990

Usai Kasus RSHS, Kini Dokter Kandungan di Garut Dituding Lakukan Pelecehan Saat USG

0

Bogordaily.net – Setelah kasus kekerasan seksual oleh dokter Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung belum usai, kini muncul lagi laporan pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh seorang dokter kandungan di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Dokter berinisial I dilaporkan telah melakukan pelecehan terhadap pasiennya saat melakukan pemeriksaan kehamilan atau USG di ruang praktik.

Salah satu korban, dengan inisial D, mengaku mengalami tindakan tak pantas tersebut, meski hingga kini belum melaporkan kejadian tersebut secara resmi ke pihak berwenang.

Menurut pengakuan korban, pelecehan dokter garut ini terjadi saat ia menjalani pemeriksaan rutin kehamilan.

Ia merasa ada perlakuan janggal dari sang dokter dan sempat merasa tidak nyaman usai pemeriksaan. Karena curiga, D kemudian berkonsultasi dengan bidan mengenai pengalaman yang ia alami.

“Yang tadinya rujukan ke RS X mau melahirkan sama dokter I, saya pindah karena konsultasi ke bidan saya, katanya itu termasuk tindak pelecehan,” ungkap korban, Senin 14 April 2025.

Lebih lanjut, korban mengatakan bahwa dokter I tidak hanya menyentuh area intim bagian atasnya saat pemeriksaan, tetapi juga sempat mengelus bagian tubuh lainnya yang tidak berkaitan dengan proses medis.

Kasus ini sontak menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, khususnya para perempuan yang sedang menjalani pemeriksaan kehamilan.

Banyak pihak mendesak agar kasus seperti ini ditindaklanjuti secara serius dan korban diberikan ruang serta keberanian untuk melapor.

Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak rumah sakit atau instansi kesehatan terkait mengenai tuduhan ini.

Namun, kasus ini telah ramai dibicarakan di media sosial, terutama setelah akun Instagram @sekitargarut turut mengangkat isu tersebut.***

Mahkota Binokasih Pertama Kalinya Bakal Singgah di Kabupaten Bogor. Catat Tanggalnya!

0

Bogordaily.net – Kirab Mahkota Binokasih, mahkota warisan Kerajaan Galuh yang juga pernah digunakan oleh Prabu Siliwangi di masa Kerajaan Pajajaran, untuk pertama kalinya akan singgah di Kabupaten Bogor.

Kirab ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai 20 hingga 22 April 2025.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bogor, Yudi Santosa, menjelaskan bahwa, kirab Mahkota Binokasih akan memasuki wilayah Bogor melalui jalur Puncak pada 20 April.

“Akan diterima oleh komunitas budaya di kawasan Puncak. Mereka akan menginap dan melakukan kegiatan spiritual seperti tawasulan di Telaga Warna, karena tempat itu punya nilai historis,” kata Yudi, Rabu 16 April 2025.

Kemudian, pada keesokan harinya, 21 April, siang hari, kirab akan bergerak menuju Cibinong dan direncanakan berhenti di kawasan Muara Beres, tempat akan dilangsungkan prosesi serah terima Mahkota dari pihak Anom Sumedang Larang kepada Bupati Bogor.

“Ini baru pertama kali Mahkota Binokasih hadir di Kabupaten Bogor. Tahun lalu ke Kota Bogor, sekarang giliran ke sini, dan kebetulan di masa Pak Rudy Susmanto,” jelasnya.

Selain itu, usai prosesi serah terima, kirab dilanjutkan menuju kompleks Pemkab Bogor. Pada malam hari, kegiatan akan diawali dengan tawasulan bersama para ulama, lalu dilanjut makan malam dan pembekalan kepemimpinan bagi para pemangku jabatan mulai dari tingkat desa hingga dinas.

Sebagai informasi, pembekalan akan digelar di Auditorium Pemkab Bogor, dan dipimpin langsung oleh Anom Sumedang Larang, raja muda dari Sumedang.

Sekitar pukul 21.00 WIB, masyarakat akan disuguhi pagelaran wayang golek di Gedung Tegar Beriman, yang menampilkan dalang nasional Yoga Sunandar, putra maestro Asep Sunandar Sunarya, berkolaborasi dengan dalang lokal Ki Gala dari Kabupaten Bogor. Pagelaran ini juga akan disiarkan secara streaming untuk masyarakat di luar gedung.

Pada pagi harinya, 22 April, Mahkota Binokasih akan dilepas dari Tegar Beriman dan kembali melanjutkan perjalanan ke Sumedang Larang.

“Kegiatan ini tak hanya seremoni, tapi juga sarat edukasi sejarah tentang Kerajaan Galuh, Pajajaran, hingga Sumedang Larang, melalui simbol Mahkota Binokasih yang masih lestari hingga kini,” ungkap Yudi.***

Albin Pandita

Jokowi Tunjukkan Ijazah S1 dari UGM

0

Bogordaily.net – Jokowi akhirnya memperlihatkan ijazah s1 dari UGM yang gaduhnya tak pernah berhenti.

Hari Rabu, 16 April 2025, Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, membuka pintu rumahnya sendiri. Di Gang Kutai Utara nomor 1, Solo.

Bukan untuk menjamu tamu negara. Bukan pula untuk kampanye politik.

Tapi untuk hal yang jauh lebih sederhana — dan lebih sensitif.

Ijazah.

Ya, ijazah. ijazah Jokowi dari  mulai SD hingga kuliah, dari Tirtoyoso sampai UGM.

Jokowi meminta wartawan masuk ke dalam rumah. Rumah itu tidak berubah sejak ia masih wali kota dulu.

Rumah sederhana. Lorong kecil. Meja tamu dari kayu biasa. Tapi hari itu, meja itu menjadi saksi dari lembar demi lembar: fotokopian ijazah Jokowi.

Tidak ada kamera. Tidak ada handphone. Semua harus dititipkan di pintu depan. Aturan dari Jokowi langsung.

“Saya tunjukkan, tapi jangan difoto ya,” katanya. Suaranya datar. Tapi terdengar tegas.

Mungkin, malam sebelumnya ia duduk sendiri. Mungkin di ruang kerjanya. Membuka laci. Mengeluarkan stoomap plastik yang sudah mulai buram.

Membuka satu per satu. SD Tirtoyoso. SMPN 1 Surakarta. SMAN 6 Surakarta. Dan akhirnya, UGM.

Lalu memutuskan: “Ya sudah, tunjukkan saja besok pagi.”

Di luar rumah, puluhan orang dari TPUA sudah berdiri. Tim Pembela Ulama dan Aktivis.

Mereka datang bukan untuk demo. Mereka ingin bertemu langsung. Menanyakan: “Apakah ijazah Bapak asli?”

Pertanyaan yang tidak semua presiden mau jawab.

Tapi Jokowi, entah kenapa, membiarkan tiga perwakilan mereka masuk. Duduk. Bicara. Sekitar 20 menit di dalam.

Mereka keluar. Wajahnya datar. “Beliau tidak mau menunjukkan langsung,” kata Rizal Fadillah, Wakil Ketua TPUA. “Katanya, kalau diminta pengadilan, baru ditunjukkan.”

Bagaimana perasaan Rizal saat itu?. Mungkin kecewa. Tapi mungkin juga maklum.

Karena kemarin, kata dia, mereka juga sudah ke UGM. Dan jawabannya sama: “Ijazah hanya bisa ditunjukkan oleh pemilik.”

Dan si pemilik sudah menunjukkan — tapi dengan syarat. Tidak untuk difoto. Tidak untuk direkam.

Mungkin bukan soal ijazahnya. Tapi soal martabat. Dan cara Jokowi menjaganya: diam, tenang, tapi tetap terbuka — dalam batasan yang ia tentukan sendiri.

Ijazah itu tidak banyak bicara. Tapi hari itu, lembar-lembar kertas tua itu seolah berteriak: “Saya pernah sekolah. Dari kecil. Di Solo. Sama seperti kalian.”

Tapi seperti biasa, Jokowi memilih kalimat pendek. “Yang ini dari UGM. Asli. Kalau yang ini stopmap-nya bukan asli. Tapi isinya ya itu.”

Seseorang bertanya tentang kacamata lamanya. “Sudah pecah,” jawabnya ringan. Lalu tersenyum.

Saya tidak tahu apakah semua orang puas dengan itu. Tapi saya yakin, pagi itu ada satu pesan yang ingin ia sampaikan:

Bahwa seorang presiden pun, kadang harus membuka lemari tua — hanya untuk menjawab keraguan tentang dirinya.

Dan Jokowi memilih melakukannya, di rumah kecil, di Gang Kutai.***

Sudah Terjadi Tiga Kali, Aksi Pencurian Helm di Ciomas Bogor Masih Berlanjut

0

Bogordaily.net – Aksi pencurian helm kembali terjadi di wilayah Cikoneng, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. Peristiwa ini bukan yang pertama kali, melainkan sudah ketiga kalinya terjadi di lokasi yang sama, dan seluruhnya terekam kamera CCTV.

Insiden terbaru terjadi pada Selasa subuh, 15 April 2025. Dalam rekaman CCTV yang beredar di media sosial, tampak seorang pria mencurigakan mengambil helm milik warga secara cepat lalu melenggang pergi begitu saja.

Video aksi pencurian ini pun langsung mendapat perhatian dari warganet. Salah satu netizen mengungkapkan bahwa, sebelumnya juga pernah ada pelaku pencurian helm yang tertangkap di area parkir Stasiun, dan ternyata berasal dari wilayah Ciomas Bomen.

Korban dari aksi pencurian ini berharap agar pihak kepolisian dapat segera mengamankan pelaku dan mencegah kejadian serupa terulang kembali.

“Sebelah rumah parah sumpah, jadi ngeri naro motor di luar,” tulis seorang warga di kolom komentar, menunjukkan kekhawatiran masyarakat atas kondisi keamanan lingkungan.

Dalam unggahan video tersebut juga disematkan tagar seperti #pencurian, #malinghelm, #kasuspencurian, dan #update sebagai bentuk seruan agar masyarakat lebih waspada serta aparat penegak hukum segera bertindak.

Warganet pun turut memberikan respons, mulai dari nada serius hingga bercanda. Salah satunya berkomentar, “Pelaku SEGER DIAMANKAN, maksudnya di rujak min?” menunjukkan keresahan publik yang dibalut dengan sarkasme.

Unggahan ini juga menandai akun resmi @humaspolresbogor dan @polsek_ciomas sebagai bentuk pelaporan publik terhadap insiden tersebut.

Kejadian ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar lebih waspada saat memarkirkan kendaraan maupun menyimpan barang berharga di tempat umum.

Kamera pengawas (CCTV) terbukti menjadi alat penting dalam merekam aksi kejahatan dan membantu proses pengungkapan kasus oleh pihak berwajib.***

Tretan Muslim Klarifikasi, King Abdi Keluar Sendiri

0

Bogordaily.net – Tretan Muslim klarifikasi soal resep Bebek Carok miliknya.

Memang kuliner miliknya itu sedang ramai. Tapi bukan karena resep baru. Bukan pula karena antrean panjang di depan Bebek Carok.

Kali ini yang bikin wangi dapur jadi amis adalah kisah dua nama besar: Tretan Muslim dan King Abdi.

Tretan, komika yang belakangan lebih sering mengaduk wajan ketimbang punchline, buka suara.

Bukan di meja redaksi. Tapi di kanal YouTube-nya sendiri. Tempat yang kini lebih dipercaya publik ketimbang press release.

Tretan Muslim menyampaikan klarifikasi.

“Queen, eh, King Abdi memang pernah ikut,” katanya. Tanpa gusar. Tanpa suara meninggi. “Dia bantu di awal. Konsep cobek besar dan bebek digantung itu salah satu idenya. Tapi bukan pemilik. Bukan pemegang saham.”

Queen? Ya. Begitu Tretan menyebut nama King. Mungkin karena gaya. Mungkin karena dramanya.

Katanya, King dapat keuntungan. Tapi bukan dari Bebek Carok. Melainkan dari partner bisnis Tretan. Bagi hasil. Bukan dividen.

“Dia cerita didepak saat cabang sudah sebelas. Saya pastikan: itu hoaks.” Tegas.

Tretan bahkan menyebut, Queen mundur sendiri. Gara-gara istri Tretan – sang koki utama – tak setuju dengan racikan masakannya. “Istri saya tidak approve. Dan Queen pergi.”

Di sisi lain, King Abdi—eks MasterChef—bercerita sebaliknya. Dalam sebuah podcast. Tanpa menyebut merek. Tapi netizen tahu, arah ceritanya ke mana. Tentu saja: Bebek Carok.

Dan seperti biasa, publik menyambung-nyambung sendiri. Saling tuding pun dimulai.

Dari yang dulunya teman seperjuangan, kini jadi bahan perbincangan.

Tretan menutup pernyataannya dengan nada damai. “Kalau dia mau klaim sisi visual, silakan. Tapi resep? Bukan dari dia.”.***

Sosok A Dalang Pembunuhan di Goa Keramat Cimerak Tahun 2000. Siapa Dia?

0

Bogordaily.net – Pembunuhan di Goa Keramat Cimerak Tahun 2000 meledak. Diceritakan dalam sebuah podcast.

Seorang adik. Seorang kakak. Duduk bersebelahan. Di depan Denny Sumargo.

Keduanya tidak sedang tertawa. Tidak juga bercerita soal kisah cinta masa lalu.

Tapi membawa luka—yang sudah 24 tahun mereka simpan. Luka yang baru-baru ini dibuka di podcast milik mantan pebasket itu: Curhat Bang Denny Sumargo.

Namanya Raena dan Reni. Mereka bukan artis. Tapi kisah mereka lebih dramatis dari sinetron mana pun.

Keduanya bercerita tentang pembunuhan di Goa Keramat Cimerak pada tahun 2000.

Ayah mereka, Haji Sopandi, dibunuh. Di Goa Kramat Cimerak. Ciamis. Jawa Barat. Tahun 2000.

“Delapan orang, Bang,” kata Reni. Dengan suara pelan. Tapi tetap terdengar tajam.

Delapan orang itu — salah satunya disebut punya inisial “A”— membunuh ayah mereka secara sadis.

Jenazah ditemukan setelah menghilang sepuluh hari. Bersama uang Rp 130 juta yang masih utuh.

Raena masih bayi ketika ayahnya dibunuh. Ia baru tahu soal kematian ayah kandungnya saat menginjak usia 13. Saat ia pertama kali haid.

“Kamu sudah dewasa, sudah waktunya tahu siapa papa kamu yang sebenarnya,” begitu kalimat pembuka dari sang tante.

Nama Yusuf – yang ia kira ayah kandung selama ini – ternyata adalah pamannya. Sang pengganti sosok ayah yang hilang.

Raena hanya bisa diam. Di podcast itu, ia bercerita seperti sedang membongkar gudang tua dalam pikirannya. Yang sudah lama dikunci. Sudah berdebu.

Kakaknya, Reni, yang lebih dewasa waktu itu, ingat lebih banyak. Tapi tetap tak tahu: dari delapan orang itu, siapa yang benar-benar mengeksekusi ayah mereka?

“Tujuh orang pelaksana. Satu orang dalang. Si A itu,” ujar Reni.

Denny Sumargo tidak banyak bicara dalam episode itu. Ia tahu, suara-suara luka seperti ini tak butuh terlalu banyak pertanyaan. Cukup didengar. Sampai habis.

Dan yang menonton—mendengar—jadi seperti ikut duduk bersama mereka. Menyaksikan bukan cuma cerita pembunuhan. Tapi juga cerita tentang kehilangan.

Dan diam-diam, tentang kekuatan dua anak perempuan yang dibesarkan oleh luka—tapi tumbuh dengan kepala tegak.

Kisah itu tidak berakhir di podcast. Mungkin baru saja dimulai.***

Viral! Kondisi Pasar Caringin Bandung Dipenuhi Sampah Buah Busuk

0

Bogordaily.net – Sebuah video yang memperlihatkan kondisi Pasar Caringin setiap pagi viral di media sosial, memicu diskusi hangat di kalangan netizen soal kebersihan pasar tradisional. Video tersebut diunggah oleh akun TikTok @nurul.ins dan langsung menarik perhatian warganet.

Dalam video berdurasi singkat itu, terlihat seorang pemilik toko membuang tumpukan besar buah-buahan busuk ke jalanan hingga berserakan.

Kondisi ini tak hanya menciptakan pemandangan yang tidak sedap dipandang, tetapi juga menimbulkan aroma menyengat yang mengganggu pengunjung pasar.

Menurut sang pengunggah video, kebiasaan membuang sampah sembarangan seperti itulah yang menjadi salah satu penyebab mengapa Pasar Caringin selalu terlihat kumuh dan penuh sampah setiap pagi.

Ia menyayangkan minimnya kesadaran pedagang dalam menjaga kebersihan lingkungan tempat mereka mencari nafkah.

Video ini pun mengundang berbagai tanggapan dari netizen. Banyak yang mengkritik perilaku para pedagang, namun ada juga yang mencoba memberikan solusi.

“Bisa juga kalau udah agak layu (belum busuk) dijual murah, pasti banyak yang mau beli kok,” komentar salah satu pengguna.

Ada juga yang menyarankan agar buah-buahan tak layak jual itu disimpan di tempat khusus dan diberi tulisan “silakan ambil gratis” agar tak terbuang sia-sia.

Namun, beberapa netizen juga mengungkapkan bahwa persoalan ini bukan hanya kesalahan pedagang.

Salah satu komentar menyebutkan bahwa sebenarnya para pedagang sudah membayar iuran kebersihan setiap bulan.

Sayangnya, sejak sebelum Lebaran hingga video itu viral, petugas kebersihan disebut tak kunjung datang untuk membersihkan area pasar.

“Udah ada klarifikasinya dari pedagang, jadi setiap bulan ada iuran kebersihan. Tapi dari sebelum lebaran sampai sekarang, petugasnya belum datang juga untuk bersihin,” tulis seorang netizen.

Tak sedikit pula yang membandingkan kondisi pasar di Indonesia dengan pasar di luar negeri yang lebih tertib dan bersih.

Sebagian netizen merasa bahwa harapan akan pasar tradisional yang bersih dan nyaman masih sulit diwujudkan jika perilaku membuang sampah sembarangan terus dibiarkan.

Sementara itu, ada juga warganet dari daerah lain yang ikut berbagi pengalaman. Salah satunya menyebut kondisi serupa juga terjadi di pasar ikan Kramat Jati, Jakarta Timur, di mana cairan dari ikan yang dijual kerap mengalir ke jalan dan menimbulkan bau tak sedap.***

Kota Bogor Siap Sukseskan Pembentukan Koperasi Merah Putih

0

Bogordaily.net – Pemerintah dan masyarakat Kota Bogor menyatakan komitmen penuh dalam mengawal dan menyukseskan pembentukan Koperasi Merah Putih di tingkat kelurahan.

Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi kerakyatan berbasis gotong royong dan semangat nasionalisme ekonomi.

Koperasi Merah Putih diharapkan mampu menjadi solusi konkret dalam memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat, dengan mengusung nilai kebersamaan, keadilan, dan keberlanjutan.

Melibatkan berbagai elemen, mulai dari tokoh masyarakat, pemuda, ibu rumah tangga hingga pelaku UMKM, koperasi ini ditargetkan menjadi motor penggerak ekonomi lokal di Kota Bogor.

Dukungan Aktivis Ekonomi Rakyat

Salah satu aktivis pemberdayaan ekonomi masyarakat, Subhan Murtadla, menyambut positif inisiatif pembentukan koperasi ini.

Menurutnya, Koperasi Merah Putih menjawab kebutuhan masyarakat akan wadah ekonomi yang adil, inklusif, dan berorientasi pada rakyat.

“Koperasi Merah Putih harus menjadi rumah bersama bagi seluruh elemen masyarakat. Kita ingin membangun ekosistem ekonomi yang berpihak pada rakyat, memperkuat daya saing UMKM, dan menciptakan kemandirian di tingkat akar rumput. Saya siap bersama warga untuk mengawalnya,” ujar Subhan, Rabu (16/4/2025).

Layanan Lengkap dan Berbasis Kebutuhan Masyarakat

Dirancang dengan pendekatan menyeluruh, Koperasi Merah Putih Kota Bogor akan melayani berbagai sektor penting, antara lain:

  • Simpan pinjam
  • Perdagangan kebutuhan pokok
  • Pemasaran produk UMKM
  • Pelayanan kesehatan
  • Pelatihan dan peningkatan keterampilan masyarakat

Dengan cakupan layanan tersebut, koperasi ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana ekonomi, tetapi juga pusat pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan warga.

Menuju Model Ekonomi Alternatif

Ke depan, Koperasi Merah Putih diharapkan menjadi model ekonomi alternatif yang mampu memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.

Dengan semangat gotong royong dan sinergi antara pemerintah dan masyarakat, koperasi ini ditargetkan tumbuh secara profesional dan berkelanjutan.***

Perumda PPJ Kota Bogor Siap Revitalisasi Pasar Tekum 2027 Mendatang

0

Bogordaily.net – Perumda Pasar Pakuan Jaya (PPJ) Kota Bogor siap untuk revitalisasi Pasar Teknik Umum (Tekum) atau yang biasa dikenal Pasar Induk Kemang 2027 mendatang.

Direktur Utama Perumda PPJ Kota Bogor Jenal Abidin, mengatakan bahwa rencana revitalisasi total pasar sudah masuk dalam rencana bisnis perusahaan dan ditargetkan bisa terlaksana pada 2027.

Namun proses revitalisasi Pasar Induk Kemang, kata Dirut PPJ Jenal Abidin, belum bisa dilakukan dengan segera. Karena masih ada beberapa faktor yang harus diselesaikan.

“Kenapa baru 2027? Karena masa HGB dari PT Galvindo baru akan habis di akhir 2026. Setelah itu, baru kami bisa lakukan proses revitalisasi,” jelas Jenal.

Saat ini, kata Jenal, Perumda hanya menjalankan pengelolaan operasional pasar, tanpa memiliki kewenangan terhadap aset fisik.

Meski demikian, pihaknya tetap berupaya memperbaiki pelayanan secara bertahap, mulai dari penataan parkir, peningkatan layanan MCK, hingga respons cepat terhadap kebutuhan pedagang.

Jenal menambahkan, saat ini pihaknya berfokus menata sarana dan prasarana yang ada di Pasar Induk Kemang.

Sehingga para pembeli merasa nyaman dan aman saat berbelanja kebutuhan pokok jika semua fasilitas dan infrastruktur terbangun dengan baik.

Sebab, keberadaan Pasar TU Kemang ini menjadi tumpuan perputaran ekonomi masyarakat Kota Bogor tersebut.

“Terkait status hukum, sudah clear. HPL (Hak Pengelolaan Lahan) pasar sudah atas nama Pemerintah Kota Bogor, dan pengelolaan resmi berada di bawah Perumda,” pungkasnya. ***

Muhammad Irfan Ramadan

Kemenkop dan Aspenda Jajaki Kerja Sama Guna Mitigasi Risiko Fraud Pada Kopdes Merah Putih

0

Bogordaily.net – Kementerian Koperasi (Kemenkop) menjajaki peluang kerja sama dengan Asosiasi Perusahaan Penjaminan Daerah (Aspenda) untuk menyukseskan program Pembentukan Koperasi Desa/ Kelurahan (Kopdes) Merah Putih. Keberadaan lembaga penjamin dalam ekosistem bisnis koperasi terutama di daerah sangat dibutuhkan untuk memastikan target peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui Kopdes Merah Putih dapat berjalan dengan baik.

Deputi Bidang Pengawasan Koperasi, Herbert H. O. Siagian mengatakan penjajakan kerja sama antara Kemenkop dengan Apenda ini menjadi langkah lanjutan dari inisiatif Menteri Koperasi, Budi Arie Setiadi dan Wakil Menteri Koperasi Ferry Juliantono untuk memastikan Lembaga Penjamin di daerah dilibatkan di dalam ekosistem pembentukan Kopdes Merah Putih. Diharapkan dengan sinergi yang akan dilakukan ini dapat meningkatkan aspek kesehatan bisnis dan GCG (Good Corporate Governance) dari Kopdes Merah Putih.

Herbert menambahkan bahwa selama ini koperasi-koperasi khususnya Koperasi Simpan Pinjam (KSP) masih belum banyak melibatkan lembaga penjamin dalam menjalankan kegiatan usahanya. Padahal keberadaan Lembaga Penjamin dapat meminimalisir risiko yang timbul dari aktivitas bisnis seperti kredit macet atau non performing loan (NPL).

“Dalam pengembangan usaha koperasi khususnya KSP masih banyak yang belum menunjukkan kinerja yang maksimal karena kurang melibatkan lembaga penjamin,” kata Herbert dalam konferensi pers terkait keterlibatan lembaga penjamin daerah untuk menjamin pembiayaan dalam pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Jakarta, Rabu (16/04).

Terkait dengan rencana kemitraan yang akan dilakukan antara Kemenkop dengan Aspenda, Herbert menyatakan saat ini masih dalam tahap pembahasan secara intensif. Salah satu rencana kerjasama yang sedang dijajaki adalah terkait dengan Pembentukan Kopdes Merah Putih adalah Lembaga Penjamin di Daerah akan masuk di dalam ekosistem terutama pada unit bisnis KSP di setiap desa.

“Kita sedang formulasikan bagaimana melibatkan lembaga penjamin daerah ini terlibat dalam ekosistem bisnis di Kopdes. Kami sedang memikirkan rencana kolaborasi kita dalam rangka memitigasi risiko dan meningkatkan kinerja Kopdes setelah nanti terbentuk,” ujar Herbert.

Dengan potensi kebutuhan pembiayaan Kopdes Merah Putih di setiap desa mencapai Rp5 miliar, lanjut Herbert, sudah semestinya lembaga penjamin dilibatkan di dalam ekosistem bisnis koperasi. Hal ini diperlukan demi memastikan sistem bisnis yang dijalankan Kopdes tidak mengalami fraud karena sistem kerja dari Lembaga Penjamin wajib mengikuti kaidah-kaidah baku yang ditetapkan oleh regulator seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Program 80.000 Koperasi Desa Merah Putih ini segmen pasarnya sangat besar, apakah dalam rangka penyaluran kredit melalui gerai KSP nanti akan dijaminkan, maka inilah yang akan kita jajaki bersama untuk kerja samanya,” ulas Herbert.

Sementara itu Direktur Keuangan PT Jamkrida Jabar yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Aspenda Agus Subrata mengapresiasi inisiatif pemerintah melalui kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang akan membentuk 80.000 Kopdes Merah Putih. Menurutnya keberadaan Kopdes ini akan menjadi peluang baru bagi perusahaan penjamin di daerah untuk meningkatkan kapasitas bisnisnya.

Di sisi lain, keberadaan Kopdes Merah Putih juga akan menjadi peluang bagi perusahaan penjamin di daerah untuk terlibat dalam upaya mendorong peningkatan perekonomian di desa ketika nantinya Lembaga Penjamin di daerah tergabung dalam ekosistem Kopdes Merah Putih.

“Secara bisnis ini (Kopdes) akan ada income bagi kami dan dari sisi lainnya kami dapat terlibat dalam mewujudkan program Asta Cita pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sehingga secara otomatis akan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Agus.

Agus menegaskan sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), Lembaga Penjamin Daerah memastikan seluruh kegiatan bisnis yang dijalankan secara GCG dan profesional. Oleh sebab itu ketika dilibatkan di dalam ekosistem pembentukan Kopdes Merah Putih, Aspenda siap menjamin setiap bisnis di Kopdes selama memenuhi kriteria dan ketentuan yang berlaku.

“Kita memiliki corporate guarantee sehingga aktivitas penjaminan kami bisa dipertanggungjawabkan karena pemegang saham kami adalah Pemda,” pungkas Agus.

Hadir dalam konferensi pers tersebut sejumlah pimpinan dari Lembaga Penjamin Daerah dari berbagai wilayah di Indonesia. Beberapa diantaranya adalah Octaviana Mae selaku Direktur Operasional Jamkrida NTT, Desty Pongsikabe selaku Direktur Jamkrida Papua, Ibnu Legowo selaku Direktur Jamkrida Riau dan lainnya. ***