Home Blog Page 1085

Dampak Negatif Kebiasaan Bermain Gadget terhadap Kemampuan Komunikasi Anak Usia Dini dan Pentingnya Pengawasan Orang Tua

0

Bogordaily.net – Seiring perkembangan zaman, kehidupan manusia semakin memasuki era modern yang ditandai dengan kemajuan teknologi. Saat ini, hampir semua aktivitas manusia dapat dilakukan dengan lebih mudah dan cepat karena kehadiran teknologi yang terus berkembang pesat. Salah satu perkembangan teknologi yang paling berpengaruh adalah dalam kehidupan sehari-hari adalah kemunculan gadget.

Gadget menjadi alat yang mendukung berbagai aspek kehidupan manusia, terutama dalam hal komunikasi. Jika dahulu komunikasi membutuhkan waktu yang cukup lama, kini, dengan adanya teknologi, informasi dapat disampaikan dengan cepat dan efisien.

Pada awal kemunculannya, gadget diciptakan untuk mempermudah manusia dalam berkomunikasi dan mengakses informasi.

Namun, seiring berjalannya waktu, teknologi ini semakin berkembang dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia, termasuk anak-anak.

Saat ini, penggunaan gadget tidak hanya terbatas pada orang dewasa, tetapi juga telah merambah pada anak-anak, bahkan sejak anak usia dini.

Dampak Penggunaan Gadget pada Anak Usia Dini

Penggunaan gadget pada anak usia dini, terutama pada masa golden age (1-5 tahun), dapat membawa dampak negatif. Pada usia ini, perkembangan intelektual, emosional, dan sosial anak berlangsung sangat pesat.

Oleh karena itu, paparan terhadap gadget yang berlebihan tanpa pengawasan dapat berpengaruh pada tumbuh kembang anak.

Salah satu dampak negatif yang sering terjadi adalah ketergantungan anak pada gadget, yang dapat menghambat kemampuan komunikasi mereka.

Anak yang terlalu sering menggunakan gadget cenderung kurang berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya dan mengalami kesulitan dalam membangun hubungan dengan teman sebaya.

Selain itu, penggunaan gadget yang berlebihan juga berisiko menyebabkan gangguan kesehatan, seperti gangguan penglihatan, postur tubuh yang buruk akibat terlalu lama duduk, serta berkurangnya aktivitas fisik yang dapat mempengaruhi perkembangan motorik anak.

Dampak lain yang perlu diperhatikan adalah gangguan psikologis dan perilaku. Anak yang terlalu sering bermain gadget lebih rentan mengalami gangguan emosi, seperti mudah marah, cemas, dan kurang sabar.

Selain itu, paparan terhadap konten yang tidak sesuai usia dapat mempengaruhi pola pikir dan kebiasaan anak. Oleh karena itu, pengawasan terhadap jenis konten yang diakses anak menjadi hal yang sangat penting.

Hubungan Penggunaan Gadget dengan Keterlambatan Bicara

Salah satu kasus yang sering terjadi pada anak usia dini akibat penggunaan gadget secara berlebihan adalah keterlambatan kemampuan berbicara atau biasa disebut speech delay.

Beberapa tahun terakhir, angka kasus speech delay pada anak meningkat seiring dengan meningkatnya waktu penggunaan gadget di kalangan anak-anak.

Kurangnya interaksi verbal dengan orang-orang di sekitar menjadi faktor utama terjadinya keterlambatan bicara pada anak.

Anak yang terlalu sering menggunakan gadget lebih terbiasa menerima informasi secara satu arah, tanpa adanya stimulasi verbal yang cukup. Padahal, perkembangan bahasa sangat bergantung pada komunikasi dua arah yang melibatkan respons aktif antara anak dan lawan bicaranya.

Jika anak lebih sering berinteraksi dengan layar dibandingkan dengan orang-orang di sekitarnya, maka perkembangan bahasanya dapat mengalami keterlambatan.

Peran Pola Asuh Orang Tua dalam Mengontrol Penggunaan Gadget

Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadap anak memiliki pengaruh besar terhadap pola penggunaan gadget. Pola asuh yang seimbang antara otoriter, demokratis, dan permisif dapat membantu anak memahami batasan penggunaan gadget secara lebih bijak.

Dengan memberikan aturan yang jelas serta tetap memberikan anak akses untuk bereksplorasi, orang tua dapat membantu anak dalam mengembangkan kebiasaan yang lebih sehat.

Beberapa langkah agar penggunaan gadget tidak berlebihan, orang tua bisa menerapkan langkah seperti membatasi waktu penggunaan gadget pada anak, aktif dalam mendorong kegiatan fisik dan sosial anak, mengawasi konten yang dikonsumsi anak dan memastikan bahwa anak hanya mengakses konten yang sesuai dengan usianya, orang tua juga harus menjadi teladan dengan menunjukkan pola penggunaan gadget yang seimbang.

Kemajuan teknologi membawa berbagai manfaat, tetapi juga menimbulkan tantangan baru, terutama dalam pola asuh anak.

Penggunaan gadget pada anak usia dini harus diawasi dengan bijak agar tidak berdampak negatif terhadap perkembangan sosial, emosional, dan kesehatan mereka. Orang tua memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan anak terkait penggunaan gadget dengan menerapkan batasan yang jelas dan mendorong interaksi sosial yang lebih aktif.

Dengan pendekatan yang seimbang, anak dapat memanfaatkan teknologi secara positif tanpa mengorbankan perkembangan mereka di aspek lain.***

 

Angely Martsya, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB

 

Rebecca Maynanda: Menyelami Dunia IKN dengan Semangat dan Dedikasi Tinggi

0

Bogordaily.net – Rebecca Maynanda, yang lahir di Jakarta pada 15 Mei 2003, telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam menapaki dunia teknologi dan manajemen pembenihan ikan (IKN) Sekolah Vokasi IPB University.

Meskipun awalnya ia tidak menjadikan IKN sebagai pilihan pertama, namun kecintaannya terhadap makhluk hidup mendorongnya untuk memilih jalur yang kini membawanya menelusuri berbagai aspek budidaya perikanan secara mendalam.

Sejak memasuki program studi IKN, Rebecca telah menorehkan berbagai pengalaman yang mengukuhkan tekadnya untuk menguasai ilmu perikanan dari hulu hingga hilir.

Di dalam program studi IKN, yang sebelumnya dikenal dengan nama Produksi Budidaya, Rebecca menemukan bahwa pembelajaran tidak hanya berfokus pada teknik pembenihan ikan, tetapi juga meliputi fase pembesaran, panen, serta penanganan penyakit melalui mata kuliah fitofarmaka.

Materi pembelajaran yang luas ini memberikan kesempatan baginya untuk mengembangkan keterampilan dalam merawat, mengobati, dan mengelola produksi ikan.

Salah satu mata kuliah yang paling ia sukai adalah Manajemen Budidaya Air Payau dan Marine Culture.

Melalui mata kuliah ini, Rebecca tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga mendapat pengalaman langsung saat praktik lapangan, termasuk kunjungan ke pulau untuk menyaksikan langsung proses penanganan dan produksi ikan.

Pengalaman magang merupakan bagian integral dari perjalanan akademis Rebecca. Pada libur semester, ia memulai pengalamannya di industri perikanan dengan mengikuti magang di CV Patra Mandiri, di mana ia terlibat langsung dalam budidaya ikan lele.

Pengalaman tersebut menjadi pijakan awal bagi Rebecca untuk memahami dasar-dasar operasional dan teknik pembudidayaan yang esensial.

Selanjutnya, pada semester 6, Rebecca menjalani program magang penuh yang menuntut penerapan ilmu secara nyata di lapangan. Dalam periode tersebut, ia mendapatkan kesempatan berharga untuk bekerja di tiga tempat berbeda yang masing-masing mewakili aspek unik dari sektor perikanan.

Pertama, di Balai Perikanan Lampung, ia mendalami teknik produksi dan pengelolaan ikan dalam skala yang lebih besar, memperluas wawasan praktisnya mengenai operasional industri perikanan. Kemudian, ia terlibat di BBI Balai Benih Ikan di Ciganjur, yang memberikan pemahaman mendalam tentang proses pemuliaan dan penanganan benih ikan secara profesional.

Terakhir, pengalaman di unit wirausaha perikanan yang dikenal sebagai Bogor Aquatic memberinya wawasan tentang inovasi dan dinamika pasar, terutama dalam pengembangan marine culture.

Keseluruhan pengalaman magang ini tidak hanya memperkaya pengetahuan praktisnya, tetapi juga mengasah kemampuan adaptasi dan kreatifitasnya dalam menghadapi berbagai tantangan di sektor budidaya perikanan.

Selain kegiatan akademik dan magang, Rebecca aktif berperan di berbagai organisasi kemahasiswaan.

Ia pernah terlibat dalam Forum Mahasiswa Kristen (FMK),ia juga pernah tergabung dalam Himavo, di mana ia menjabat sebagai bendahara pada kabinet tahun 2022-2023.

Keterlibatan di organisasi ini tidak hanya mengembangkan soft skills seperti kepemimpinan, manajemen waktu, dan komunikasi, tetapi juga memberikan kesempatan untuk berkontribusi langsung dalam menciptakan lingkungan kampus yang lebih mendukung dan kolaboratif.

Pengalaman organisasi ini memperkuat fondasi pribadi dan profesionalnya, yang nantinya akan menjadi modal berharga ketika memasuki dunia kerja.

Dalam perjalanan akademisnya, Rebecca mendapatkan inspirasi besar dari para dosennya. Dr. Andri Hendriana, S.PI., M.SI., sekretaris prodi IKN sekaligus dosen pembimbing, dikenal dengan gaya mengajarnya yang santai namun efektif sehingga mampu menjelaskan materi kompleks dengan cara yang mudah dipahami oleh generasi muda.

Gaya pengajaran beliau tidak hanya membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai disiplin dan inovasi yang sangat berarti bagi pengembangan ilmu dan kehidupan Rebecca.

Selain itu, Dr. Irzal Effendi, mantan Ketua Program Studi IKN yang memiliki pengalaman luas di sektor perikanan, turut memberikan kontribusi signifikan dengan memperluas wawasan praktis mahasiswa melalui pengalaman langsung di industri.

Kedua tokoh ini tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga memberikan contoh nyata tentang bagaimana mengatasi tantangan dan menerapkan pengetahuan secara kreatif di dunia nyata, yang telah memberikan dampak positif dan mendalam bagi hidup Rebecca.

Tak berhenti di situ, Rebecca juga dipercaya untuk menjadi asisten dosen dalam mata kuliah Rekayasa Pakan Alami dan Praktik Produksi Ikan. Peran ini menuntutnya untuk mempelajari materi secara mendalam serta mengasah keterampilan komunikasi dan pengajaran, mengingat mata kuliah tersebut merupakan mata kuliah baru yang belum banyak dikenal di kalangan mahasiswa angkatan sebelumnya.

Sebagai asisten dosen, ia rutin meminta materi terlebih dahulu kepada dosen agar dapat memahami secara mendetail dan kemudian menjelaskan kembali kepada mahasiswa lain dengan cara yang mudah dipahami.

Pengalaman ini memberinya tantangan tersendiri, namun sekaligus membuka peluang untuk mengembangkan kemampuan akademis dan kepemimpinan di bidang pendidikan.

Dalam hal penelitian, Rebecca menunjukkan dedikasi yang tinggi dengan menyelesaikan penelitian mengenai “Peningkatan Kinerja Larva Ikan Nilem dengan Pengkayaan Dapnia menggunakan Vitamin C” di semester delapan. Penelitian tersebut tidak hanya meningkatkan pemahaman teoretisnya, tetapi juga memberikan kontribusi praktis bagi pengembangan metode budidaya ikan.

Selain itu, ia juga pernah terlibat dalam projek dosen yang mempelajari penggunaan probiotik pada ikan patin, yang semakin memperluas cakrawala penelitiannya di bidang perikanan. Keterlibatan dalam penelitian merupakan bukti komitmennya untuk terus belajar dan berinovasi, serta menjadi landasan untuk mengembangkan solusi yang aplikatif di industri perikanan.

Melihat perjalanan yang telah ditempuh, Rebecca memiliki visi dan harapan besar untuk masa depan. Ia berambisi untuk lulus tepat waktu dan melanjutkan karir di sektor perikanan, khususnya dengan bergabung ke Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), sebuah impian yang telah lama ia idamkan.

Dengan bekal ilmu, pengalaman magang, dan dukungan dari para mentor serta lingkungan akademik yang kondusif, Rebecca optimis dapat memberikan kontribusi signifikan bagi kemajuan industri perikanan secara luas.

Impian ini bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga merupakan cermin dari tekad dan semangat generasi muda untuk membawa inovasi dan perbaikan dalam sektor yang strategis bagi perekonomian bangsa.

Perjalanan akademis dan profesional Rebecca Maynanda adalah sebuah kisah inspiratif yang menggambarkan bagaimana semangat, dedikasi, dan kerja keras dapat membuka jalan menuju keberhasilan.

Melalui setiap tantangan baik di bangku kuliah, magang, organisasi, maupun penelitian ia belajar untuk terus mengembangkan diri dan mengaplikasikan ilmu secara praktis. Dengan segala pengalaman yang telah diraih, Rebecca tidak hanya mempersiapkan dirinya untuk karir yang cemerlang, tetapi juga berkomitmen untuk memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan industri perikanan secara luas.

 

Alifya Salma Kamila, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University

 

Analisis Komunikasi Antarpribadi dalam Keluarga Kaluna di Film Home Sweet Loan

0

Bogordaily.net – Komunikasi antarpribadi di dalam keluarga adalah faktor yang penting dalam membentuk hubungan yang harmonis dalam sebuah keluarga. Menurut DeVito (2019), komunikasi antarpribadi yang efektif mencakup keterbukaan, empati, dukungan, sikap positif, dan kesetaraan dalam interaksi.

Namun, dalam banyak keluarga, pola komunikasi yang kurang sehat dapat memicu konflik dan ketidakseimbangan peran antar anggota keluarga.

Film Home Sweet Loan menyoroti tantangan seorang generasi sandwich, yaitu Kaluna yang harus berjuang antara impiannya memiliki rumah sendiri dan tanggung jawab terhadap keluarganya.

Selain tekanan dari kakak-kakaknya yang masih selalu bergantung padanya, peran ibu Kaluna dalam komunikasi keluarga juga menjadi faktor yang memperburuk situasi di film ini. Ibu Kaluna, tidak membagi tanggung jawab kepada anak-anaknya secara adil, justru lebih banyak memanjakan kakak-kakak Kaluna dan kurang memberikan perhatian pada perasaan Kaluna.

Hal ini menimbulkan komunikasi yang tidak sehat dalam keluarganya, dimana Kaluna selalu diminta mengalah tanpa benar-benar didengarkan dan diperlakukan selayaknya.
Dalam film Home Sweet Loan, keluarga Kaluna digambarkan memiliki pola komunikasi yang tidak seimbang.

Artikel ini akan menganalisis komunikasi antarpribadi dalam keluarga Kaluna, dengan menyoroti pentingnya ketegasan orang tua dalam mendidik anak-anaknya, tanggung jawab antar saudara, serta dampak pola komunikasi yang tidak seimbang terhadap Kaluna.

Komunikasi yang Tidak Seimbang antara Kaluna dan Kakak-Kakaknya
Salah satu masalah utama dalam keluarga Kaluna adalah bagaimana kakak-kakaknya masih bergantung pada Kaluna, baik dalam hal finansial maupun tanggung jawab rumah tangga.

Kakak-kakaknya cenderung mengandalkan Kaluna dalam berbagai situasi, seolah-olah beban keluarga menjadi tanggung jawab utamanya. Padahal, menurut Neliti (2019), komunikasi antar saudara yang sehat seharusnya bersifat resiprokal, dimana setiap anggota memiliki peran yang seimbang dalam keluarga.

Studi dari Santrock (2021) menunjukkan bahwa dalam keluarga dengan pola komunikasi yang tidak seimbang, anak bungsu seringkali diposisikan sebagai individu yang harus lebih banyak beradaptasi dan mengalah dibandingkan saudara lainnya.

Dalam konteks film ini, Kaluna seringkali ditempatkan dalam posisi yang mengalah, dan tidak menguntungkannya.

Kakak-kakaknya tidak pernah mencoba mempertimbangkan bahwa Kaluna juga memiliki kehidupan dan impiannya sendiri. Padahal seharusnya, komunikasi antara saudara bukan hanya berbicara soal kebutuhan mereka sendiri, tetapi juga mempertimbangkan kondisi dan keinginan saudaranya yang lain.

Kakak-kakaknya lebih sering meminta dan berkomentar kepada Kaluna, tetapi tidak benar-benar mendengarkan Kaluna.

Peran Ibu Kaluna dalam Ketidakseimbangan Komunikasi dan Kurangnya Ketegasan
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Putri dan Handayani (2022), ditemukan bahwa komunikasi yang lemah dalam keluarga, terutama dalam hal pemberian aturan yang jelas, dapat membuat anak-anak menjadi kurang mandiri dan cenderung mengandalkan pihak lain.

Hal ini terlihat dalam keluarga Kaluna, dimana ibu mereka lebih banyak meminta Kaluna untuk mengalah daripada mendidik kakak-kakaknya untuk lebih bertanggung jawab.

Orang tua harus bersikap tegas dalam membagi peran dan tanggung jawab dalam keluarga agar anak-anak belajar mandiri dan bertanggung jawab.

Namun, ibu Kaluna cenderung lebih memihak kepada kakak-kakaknya, sehingga mereka terbiasa menggantungkan diri pada keluarga.

Setiap terjadi konflik, ibu Kaluna selalu meminta Kaluna untuk mengalah demi “keharmonisan keluarga.” Padahal, dalam komunikasi keluarga yang sehat, setiap anak harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapat dan perasaannya.

Ibu Kaluna lebih fokus pada keharmonisan keluarga secara keseluruhan, tetapi lupa bahwa Kaluna juga memiliki perasaan dan impiannya sendiri. Hal ini menyebabkan Kaluna merasa tidak dihargai dan semakin tertekan.

Dampak Komunikasi Keluarga yang Tidak Sehat terhadap Kaluna
Dengan adanya ketidakseimbangan komunikasi dalam keluarganya, tentu memiliki beberapa dampak negatif terhadap tokoh Kaluna di film ini:

1. Rasa Terbebani dan Kurang Dihargai
Kaluna merasa dirinya hanya sebagai “penopang keluarga,” bukan sebagai individu yang memiliki hak untuk mengejar impiannya sendiri.
2. Tekanan Emosional yang Besar
Beban tanggung jawab yang terlalu berat tanpa dukungan emosional dari keluarga membuat Kaluna semakin stres dan merasa sendirian.
3. Jarak Emosional dengan Keluarga
Karena komunikasi yang tidak sehat, Kaluna mulai merasa jauh dari keluarganya, dan menyebabkan konflik lebih besar di masa depan.

Analisis terhadap komunikasi antarpribadi dalam keluarga Kaluna di film Home Sweet Loan menunjukkan beberapa permasalahan utama, yaitu ketidakseimbangan tanggung jawab antar saudara, pola asuh yang kurang tegas, serta kurangnya ruang bagi Kaluna untuk didengar.

Film Home Sweet Loan bukan hanya menggambarkan perjuangan seorang generasi sandwich, tetapi juga menunjukkan bagaimana komunikasi dalam keluarga bisa menjadi tidak sehat jika orang tua tidak mampu bersikap tegas dan adil.

Untuk membangun hubungan keluarga yang lebih harmonis, perlu adanya komunikasi yang lebih terbuka, pembagian peran yang lebih adil, serta ketegasan orang tua dalam mengatur keluarga.

Dengan demikian, setiap anggota keluarga dapat merasa lebih dihargai, didengar, dan memiliki peran yang seimbang dalam kehidupan keluarga mereka.***

 

Intan Maharany Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Make-up China: Bagaimana Menyikapi Kontroversinya?

0

Oleh: Saskia Salsabila

Make-up adalah salah satu hal yang sudah sangat familiar di kehidupan wanita di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Banyak sekali jenis dan merek make-up yang dijual di pasar Indonesia, mulai dari produk-produk yang berasal dari Amerika, Korea, hingga China.

Masing-masing produk ini menawarkan harga yang bervariasi, dengan kualitas yang berbeda-beda tergantung mereknya. Salah satu hal yang sering menjadi perhatian adalah pigmentasi dari produk make-up.

China, misalnya, dikenal dengan beberapa merek make-up yang menawarkan pigmentasi yang bagus dan warna yang tahan lama, sehingga banyak konsumen yang tertarik untuk membeli produk-produk make-up dari sana.

Namun, belakangan ini ada kabar yang membuat banyak orang merasa khawatir, khususnya mengenai make-up yang berasal dari China.

BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) Indonesia baru-baru ini merilis daftar produk make-up yang mengandung bahan-bahan berbahaya bagi kesehatan manusia.

Berita ini pun langsung menyebar luas di media sosial dan membuat banyak orang bertanya-tanya, apakah make-up dengan harga murah dan pigmentasi yang bagus ini sebanding dengan risiko yang bisa ditimbulkan, seperti gangguan kesehatan di masa depan.

Selain itu, banyak juga yang bertanya apakah semua produk make-up dari China mengandung bahan berbahaya, ataukah hanya beberapa merek saja.

Kekhawatiran ini semakin meningkat setelah muncul informasi bahwa beberapa merek make-up terkenal di Indonesia yang mengklaim sebagai produk lokal ternyata sebenarnya diproduksi di China.

Hal ini tentunya mengecewakan banyak konsumen yang merasa tertipu dengan klaim-klaim tersebut. Tidak sedikit juga yang merasa marah, terutama karena banyak konsumen yang selama ini membeli produk-produk ini dengan keyakinan bahwa mereka menggunakan produk lokal, padahal produk tersebut berasal dari China.

Kejadian ini memicu ketakutan yang lebih besar, di mana banyak orang mulai menghindari semua produk yang berasal dari China, meskipun belum tentu semua produk dari sana berbahaya.

Namun, tidak semua produk make-up dari China harus dipandang buruk atau berbahaya. Beberapa produk make-up dari China memang terbukti aman dan memiliki kualitas yang baik, bahkan bisa bersaing dengan merek-merek internasional lainnya.

Namun, di tengah masalah ini, produsen-produsen yang sudah berusaha memproduksi make-up yang aman dan berkualitas tetap terkena dampak negatif dari ketidakpercayaan masyarakat terhadap produk China secara keseluruhan, meskipun mereka sudah mendapatkan izin dari BPOM.

Hal ini menunjukkan bahwa masalah kepercayaan masyarakat terhadap make-up asal China tidak hanya merugikan produsen, tetapi juga konsumen yang ingin membeli produk berkualitas.

Lantas, siapa yang harus bertanggung jawab dalam hal ini? Banyak orang pasti akan langsung menyalahkan produsen, karena mereka yang memproduksi dan mendistribusikan produk make-up.

Tentu saja, produsen memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa produk yang mereka buat aman untuk digunakan oleh konsumen. Produsen yang tidak bertanggung jawab yang menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya jelas harus dimintai pertanggungjawaban.

Namun, kita juga perlu mempertanyakan peran BPOM sebagai regulator. BPOM seharusnya lebih ketat dalam mengawasi dan mengontrol produk-produk yang masuk ke pasar Indonesia, terutama produk impor.

Beberapa produk yang akhirnya ditarik dari peredaran setelah terbukti mengandung bahan berbahaya, sudah beredar di pasaran cukup lama. Ini menunjukkan adanya kelalaian dari BPOM dalam menjalankan tugasnya sebagai pengawas dan regulator.

BPOM seharusnya bisa lebih tegas dan hati-hati dalam memeriksa kualitas produk impor, agar produk-produk yang tidak aman tidak bisa lolos masuk ke pasar Indonesia.

Jika hal ini terus terjadi, kredibilitas BPOM sebagai lembaga yang mengawasi keamanan produk konsumen akan semakin dipertanyakan.

Oleh karena itu, penting bagi kita sebagai konsumen untuk tidak hanya mengandalkan label atau klaim yang ada di produk, tetapi juga untuk lebih jeli dalam memeriksa apakah produk yang kita beli sudah terdaftar dan disetujui oleh BPOM.

Meskipun begitu, konsumen harus bijak dalam menghadapi masalah ini. Jangan langsung menghakimi bahwa semua produk make-up dari China berbahaya hanya karena adanya beberapa kasus produk yang tidak aman.

Banyak juga merek-merek make-up dari China yang aman digunakan dan memiliki kualitas yang sangat baik. Konsumen seharusnya lebih berhati-hati dan teliti dalam memilih produk make-up yang akan dibeli.

Cobalah untuk mencari tahu lebih lanjut tentang produk tersebut, membaca review dari pengguna lain, dan pastikan produk yang dipilih sudah terdaftar di BPOM.

Masalah ini, sebenarnya, tidak hanya berkaitan dengan produsen atau regulator saja. Ini juga merupakan tanggung jawab kita sebagai konsumen untuk lebih berhati-hati dan cerdas dalam memilih produk yang aman dan berkualitas.

Jangan sampai kita tertipu oleh harga murah atau klaim yang tidak jelas, dan selalu pastikan bahwa produk yang kita pilih sudah memenuhi standar keamanan yang ditetapkan oleh BPOM.

Dengan cara ini, kita bisa melindungi diri dari potensi risiko kesehatan akibat menggunakan produk make-up yang berbahaya. Hanya dengan sikap yang bijak dan informasi yang tepat, kita bisa memilih produk make-up yang benar-benar aman dan berkualitas untuk diri kita sendiri.***

 

 

Deep Talk dan Kesehatan Mental Anak: Membangun Ikatan Keluarga di Era Digitalisasi

0

Bogordaily.net – Era digitalisasi saat ini, komunikasi antara orang tua dan anak menghadapi tantangan cukup besar. Kemajuan teknologi dan meningkatnya penggunaan media sosial jadi mengurangnya interaksi secara langsung dalam keluarga. Banyak anak yang lebih sering berkomunikasi melalui pesan singkat atau media sosial daripada berbicara langsung dengan orang tua mereka. Oleh karena itu, penting bagi keluarga untuk menerapkan percakapan mendalam yang dapat memperkuat ikatan emosional dan meningkatkan pemahaman antara orang tua dan anak.

 Menurut Nugroho (2023), komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak memiliki peran penting dalam membentuk perilaku sosial dan meningkatkan kepercayaan diri anak. Penelitian menunjukkan bahwa komunikasi yang terbuka dan suportif dapat membantu anak dalam mengembangkan empati, keterampilan sosial, serta ketahanan emosional dalam menghadapi tantangan hidup. Studi lain dari American Psychological Association (2021) menunjukkan bahwa anak-anak yang mendapatkan dukungan emosional dari orang tua melalui komunikasi mendalam cenderung lebih tahan terhadap tekanan sosial dan memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi. Hal ini membuktikan bahwa deep talk bukan hanya sekadar obrolan biasa, tetapi juga merupakan bagian penting dalam membentuk kesejahteraan mental anak.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Journal of Family Psychology (2018), ditemukan bahwa keluarga yang memiliki kebiasaan berbicara secara mendalam memiliki hubungan yang lebih erat dan minim konflik. Anak-anak yang merasa didengar dan dipahami oleh orang tua mereka lebih cenderung terbuka dalam berbagai aspek kehidupan mereka, termasuk dalam menghadapi masalah atau tantangan yang mereka alami.  Penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center (2022) mengungkapkan bahwa 72% orang tua merasa bahwa teknologi telah mengurangi interaksi langsung dengan anak-anak mereka. Namun, studi ini juga menekankan bahwa komunikasi yang berkualitas tetap bisa dijaga asalkan orang tua memiliki inisiatif untuk terlibat secara aktif dalam kehidupan anak-anak mereka.

Deep talk juga berperan dalam membangun kemampuan berpikir kritis anak. Menurut penelitian dari Harvard University (2020), anak-anak yang terbiasa mendiskusikan berbagai topik dengan orang tua mereka memiliki keterampilan berpikir yang lebih terasa dekat dan dapat melihat berbagai sudut pandang sebelum mengambil keputusan.  Dalam dunia yang semakin kompleks, kemampuan berpikir kritis ini sangat penting untuk membantu anak menghadapi berbagai tantangan, termasuk dalam memilah informasi yang mereka dapatkan dari internet dan media sosial. Dengan adanya deep talk, orang tua dapat membantu anak dalam memahami realitas kehidupan dan membangun pola pikir yang lebih rasional serta logis.

 Di era digital, banyak keluarga mengalami kesulitan dalam mempertahankan komunikasi yang berkualitas. Menurut penelitian dari International Journal of Adolescence and Youth (2021), meningkatnya penggunaan perangkat digital dapat menyebabkan keterasingan dalam hubungan orang tua dan anak jika tidak diimbangi dengan komunikasi yang efektif.

Survei yang dilakukan oleh Common Sense Media (2022) menemukan bahwa:  41% remaja lebih nyaman berkomunikasi melalui chat atau secara online atau media sosial dibandingkan berbicara langsung dengan orang tua mereka, 58% anak-anak menghabiskan lebih dari 3 jam sehari menggunakan perangkat digital, yang mengurangi waktu komunikasi tatap muka dalam keluarga, dan 10% orang tua tidak mengetahui secara pasti aktivitas online anak-anak mereka, yang menunjukkan adanya kesenjangan dalam komunikasi digital antara generasi yang berbeda.

Orang tua perlu menyediakan waktu khusus tanpa gangguan teknologi, seperti saat makan malam atau sebelum tidur, untuk berbicara dengan anak tentang kehidupan mereka. Hindari pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan “ya” atau “tidak”. Sebaliknya, gunakan pertanyaan seperti:  “Apa hal terbaik yang terjadi hari ini?”, “Bagaimana perasaanmu tentang sekolah atau teman-temanmu?”, “Apa yang sedang kamu pikirkan akhir-akhir ini?” memberikan perhatian penuh saat anak berbicara dan menghindari menghakimi atau memberikan solusi secara langsung akan membuat anak merasa lebih nyaman untuk terbuka. Orang tua dapat menggunakan teknologi untuk mendukung deep talk, misalnya dengan menonton film atau video edukatif bersama yang bisa menjadi bahan diskusi. Dan anak-anak cenderung meniru perilaku orang tua. Jika orang tua terbiasa berbicara secara terbuka dan jujur, anak-anak juga akan lebih mudah untuk mengekspresikan diri mereka.

 Deep talk antara orang tua dan anak sangat penting untuk membangun hubungan yang kuat dan mendukung perkembangan anak, terutama di era digitalisasi. Dengan komunikasi yang mendalam, orang tua dapat memahami perasaan, pikiran, dan pengalaman anak-anak mereka dengan lebih baik serta membantu mereka menghadapi tantangan yang mereka hadapi. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi yang berkualitas dapat meningkatkan kesehatan mental, mempererat ikatan keluarga, serta membantu anak mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Namun, tantangan era digital juga perlu diatasi dengan strategi yang tepat agar teknologi tidak menjadi penghalang dalam komunikasi keluarga.***

 

Adzra Nur Hidayat, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB 

Apa Itu Hidroterapi? Salah Satu Layanan Kesehatan yang Ada di RS BSH

1

Bogordaily.net – Hidroterapi, atau terapi air, adalah metode pengobatan yang memanfaatkan air dalam berbagai bentuk—seperti panas, dingin, uap, atau es—untuk mengatasi berbagai kondisi kesehatan, membantu rehabilitasi, atau meningkatkan kesejahteraan fisik.

Terapi ini telah lama digunakan dalam praktik medis dan fisioterapi untuk efek relaksasi, pengurangan nyeri, dan peningkatan mobilitas.

Statistik Global Pelayanan Hidroterapi

Pasar peralatan hidroterapi global menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Pada tahun 2023, ukuran pasar diperkirakan mencapai USD 2,56 miliar dan diproyeksikan tumbuh dengan CAGR (Compound Annual Growth Rate) sebesar 6,31% hingga mencapai USD 4,72 miliar pada tahun 2033.

Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya cedera tulang belakang, aplikasi dalam pelatihan olahraga, dan layanan rehabilitasi. Kawasan Asia Pasifik diperkirakan akan mengalami pertumbuhan tercepat selama periode tersebut.

Efektivitas Hidroterapi dalam Penelitian Klinis

Berbagai penelitian telah mengevaluasi efektivitas hidroterapi dalam mengatasi berbagai kondisi kesehatan:

Hipertensi: Sebuah penelitian melibatkan 25 responden yang menjalani hidroterapi rendam hangat selama 2 minggu menunjukkan penurunan tekanan darah sistolik dari 153,75 mmHg menjadi 137,50 mmHg dan diastolik dari 86,25 mmHg menjadi 80 mmHg, dengan nilai p=0,001, menunjukkan penurunan yang signifikan.

Nyeri Punggung Bawah: Penelitian pra-eksperimental dengan 35 pasien nyeri punggung bawah menunjukkan penurunan intensitas nyeri dari rata-rata 5,57 menjadi 4,00 (p<0,001) dan peningkatan fleksibilitas lumbosakral dari 48,10 menjadi 48,73 (p=0,014) setelah menjalani hidroterapi.

Keseimbangan pada Lansia: Penelitian menunjukkan bahwa hidroterapi dapat meningkatkan keseimbangan dan mencegah jatuh pada wanita lansia, meskipun data spesifik tidak disediakan dalam sumber tersebut.

Penggunaan Hidroterapi di Indonesia

Pengaruh Hidroterapi terhadap Kualitas Tidur Lansia: Sebuah penelitian di Pontianak meneliti efek hidroterapi rendam kaki air hangat terhadap kualitas tidur lansia. Meskipun data spesifik tidak disajikan dalam sumber tersebut, penelitian ini menunjukkan bahwa hidroterapi dapat meningkatkan kualitas tidur pada lansia.

Pengaruh Hidroterapi terhadap Nyeri Asam Urat: Penelitian di Malang mengevaluasi efek hidroterapi kaki terhadap tingkat nyeri asam urat pada lansia. Sebelum intervensi, 78% responden mengalami nyeri sedang, dan setelah hidroterapi, 83% responden melaporkan nyeri ringan, menunjukkan penurunan tingkat nyeri yang signifikan.

Data statistik dan penelitian klinis menunjukkan bahwa hidroterapi memiliki peran penting dalam berbagai aspek perawatan kesehatan, termasuk pengelolaan hipertensi, nyeri muskuloskeletal, dan rehabilitasi. Pertumbuhan pasar peralatan hidroterapi secara global mencerminkan meningkatnya penerimaan dan permintaan terhadap terapi ini. Dengan bukti yang mendukung efektivitasnya, hidroterapi terus menjadi komponen integral dalam praktik medis dan fisioterapi.

RS BSH merupakan salah satu fasilitas Kesehatan yang menghadirkan layanan hidroterapi dengan harapan meningkatkan kualitas hidup serta pelayanan Kesehatan di kota bogor dan sekitarnya. ***

Perjalanan ke Pasar Santa Pusat Barang Vintage

0

Bogordaily.net – Pada suatu hari Sabtu di bulan November, saya dan seorang teman merencanakan perjalanan ke Pasar Santa, tempat yang katanya penuh dengan barang-barang vintage, koleksi musik langka, hingga makanan unik yang berbeda dengan pasar pada umumnya.

Tujuan utama saya berkunjung ke pasar santa adalah untuk berburu foto sekaligus mencoba makanan yang saya temukan dan sudah banyak direkomendasikan di media sosial. Kami memulai perjalanan dari Halte Pinang Ranti menggunakan bus TransJakarta.

Cuaca saat itu mendung, tetapi belum turun hujan. Saya membawa kamera yang saya miliki untuk mendokumentasikan hasil dari perjalanan kami di sana, sementara teman saya lebih fokus pada mencari barang-barang unik yang akan ditemukan di pasar santa nanti.

Saat memasuki bus, kondisi cukup ramai. Tidak ada kursi kosong yang tersisa, sehingga kami harus berdiri di dekat pintu sambil melihat cuaca yang sudah mulai mendung menandakan akan turunnya hujan.

Beberapa penumpang terlihat sibuk dengan ponsel mereka, sementara yang lain tampak mengobrol pelan. Perjalanan menuju Stasiun Cawang memakan waktu sekitar 30 menit, dengan beberapa kali bus berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.

Di dalam bus, suasana cukup padat, tetapi tetap  nyaman dan sejuk di dalamnya. Kami berdua berbincang pelan mengenai rute yang akan ditempuh selanjutnya dan mencari tahu apakah ada jalur alternatif jika nanti turun hujan saat kami sampai ke tujuan.

Setelah sampai di Stasiun Cawang, kami segera turun dari bus yang sebelumnya kami naiki, kemudian berpindah jalur untuk menuju Blok M. Memakan waktu lebih lama dari sebelumnya untuk menunggu Bus yang ingin kami naiki tiba.

Akhirnya, bus selanjutnya tiba, bus yang kami naiki ini juga ternyata dalam kondisi penuh, sehingga kami kembali berdiri didalam, ditambah kondisi jalanan pada hari itu cukup padat sehingga cukup lama untuk kami sampai ke tujuan, serta rintik hujan di luar jendela yang semakin deras.

Setelah beberapa puluh menit dan beberapa halte yang kami lewati, akhirnya pengumuman yang kami tunggu terdengar. “Halte Pasar Santa,” kata suara di pengeras suara.

Begitu turun, hujan semakin deras mengguyur seluruh jalan. Sehingga tanpa pilihan lain, karena tidak membawa payung ataupun jas hujan, kami terpaksa meneduh di halte.

Beberapa orang lain juga melakukan hal yang sama, berdiri di bawah atap sambil menunggu hujan mereda.

Udara terasa lebih dingin dibandingkan sebelumnya, dan jalanan terlihat basah dengan genangan air di beberapa titik.

Kami memutuskan untuk menunggu sekitar 20 menit hingga hujan mulai mereda menjadi gerimis.

Setelah merasa cukup aman untuk berjalan, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Pasar Santa, yang jaraknya kurang lebih satu kilometer dari halte. Kami menyusuri trotoar yang basah dengan berhati-hati agar tidak terpeleset.

Sepanjang perjalanan, kami melewati beberapa resto dan pedagang kaki lima yang mulai kembali beraktivitas setelah hujan. Aroma gorengan dari penjual di pinggir jalan tercium cukup kuat, bercampur dengan udara sejuk setelah hujan.

Sesampainya di Pasar Santa, kami langsung disambut suasana yang cukup ramai. Lantai dasar dan lantai bawah tampak seperti pasar tradisional pada umumnya, dengan kios-kios yang menjual sayuran, buah-buahan, daging, penjahit dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

Suara pedagang menawarkan dagangannya terdengar dari berbagai arah. Beberapa pembeli terlihat sibuk memilih barang, sementara beberapa lainnya mengobrol santai dengan pedagang langganan mereka.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya di lantai ini adalah sebuah toko kopi di dekat tangga. Rak-raknya dipenuhi dengan berbagai jenis biji kopi yang disimpan dalam toples kaca.

Kemudian ada 3 jenis biji kopi yang memang sengaja untuk di pajang di samping toko. Aroma kopi yang khas memenuhi udara, dan saya sempat berhenti sejenak untuk melihat-lihat. Seorang barista toko tampak sedang berbincang dengan pelanggan, menjelaskan perbedaan rasa dari biji kopi yang dijualnya.

Saya mengambil beberapa foto dari sudut yang menurut saya menarik, mencoba menangkap suasana hangat dari toko kopi yang tampaknya sudah lama berdiri ini.

Setelah puas melihat-lihat lantai bawah, kami melanjutkan ke lantai atas. Begitu sampai, suasana pasar langsung terasa berbeda.

Jika lantai dasar didominasi oleh kebutuhan sehari-hari, lantai atas dipenuhi dengan toko-toko yang menjual barang-barang unik, terutama barang antik dan vintage. Ada kios yang menjual kaset musik dari berbagai era.

Saya mulai menyalakan kembali kamera yang saya bawa, kemudian mengambil beberapa footage dengan kamera, mencoba merekam suasana pasar yang terasa seperti membawa saya ke masa lalu.

Beberapa toko tampak dipenuhi pengunjung yang sedang mencari aksesoris atau koleksi langka, ada juga yang sibuk mengambil gambar sama seperti apa yang saya lakukan.

Setelah berkeliling cukup lama, kami memutuskan untuk berhenti sejenak dan mencoba makanan yang menjadi salah satu alasan utama kami datang kesini yaitu spud potatoes.

Makanan ini banyak direkomendasikan di media sosial karena cukup menarik, dan kami pun penasaran dengan rasanya. Spud potatoes adalah kentang yang dioven dan disajikan dengan berbagai pilihan topping seperti, smoke beef, saus kacang merah dan keju mozzarella. Kami menuju kios yang menjual makanan ini dan memesan satu porsi.

Tidak lama kemudian, pesanan kami datang. Kentang panggang yang masih panas disajikan di dalam wadah kertas, dengan lelehan keju yang menutupi permukaannya.

Saya mengambil satu gigitan dan langsung merasakan perpaduan antara tekstur renyah dari kulit kentang dan lembut di dalamnya, ditambah dengan rasa gurih dari keju serta potongan smoke beef.

Setelah selesai makan, kami kembali berkeliling sebentar, memasuki lorong-lorong yang belum sempat kami kunjung sebelum memutuskan untuk pulang.

Pengalaman di Pasar Santa cukup menarik, terutama karena tempat ini memiliki banyak hal yang tidak ditemukan di pasar biasa.

Dari koleksi barang vintage hingga makanan unik, kunjungan kali ini memberikan banyak hal baru untuk didokumentasikan dan diceritakan kembali.

Meskipun perjalanan cukup melelahkan, pengalaman yang kami dapatkan di Pasar Santa membuatnya terasa sepadan.

Saat keluar dari Pasar Santa, hujan sudah benar-benar berhenti, dan langit mulai cerah meskipun matahari sudah mulai turun.

Udara masih terasa sejuk setelah hujan, membuat perjalanan pulang terasa lebih nyaman. Kami berjalan kembali ke halte dengan suasana yang lebih ramai dibandingkan sebelumnya.

Semakin sore, semakin banyak pedagang kaki lima yang mulai memenuhi trotoar, menjajakan berbagai makanan ringan seperti goreng-gorengan, sate, dan minuman.

Bus yang kami naiki tidak sepadat saat berangkat, sehingga kami bisa duduk dan beristirahat selama perjalanan pulang.***

 

Intan Maharany Mahasiswa Komunikasi Digital & Media, Sekolah Vokasi IPB

Perjalanan Dr. Lili Dahliani: Dari Anak Pecinta Tanaman hingga Pakar Manajemen Perkebunan

0

Bogordaily.net – Dr. Ir. Lili Dahliani, MM., M.Si, adalah seorang akademisi dan praktisi di bidang Teknologi dan Manajemen Produksi Perkebunan. Saat ini, beliau menjabat sebagai dosen tetap di Program Studi Teknologi dan Manajemen Produksi Perkebunan Sekolah Vokasi IPB dengan jabatan fungsional sebagai Associate Professor. Perjalanan akademiknya mencakup pendidikan S1 di Institut Pertanian Bogor pada tahun 1987, S2 di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2004 dengan dua gelar Magister, yakni Magister Manajemen dan Magister Sains, serta S3 di Universitas Gadjah Mada pada tahun 2013.

Masa Kecil dan Ketertarikan pada Perkebunan

Lahir di Padang pada 25 Juli 1963, Dr. Lili sebenarnya berasal dari Bogor. Meskipun awalnya tidak bercita-cita terjun ke dunia perkebunan, sejak kecil beliau memiliki ketertarikan terhadap tanaman. Saat tinggal di rumah neneknya, ia sering mengambil bibit cabai dan tomat yang tumbuh di sekitar rel kereta, lalu menanamnya di pekarangan rumah. Kebiasaannya menanam dan melihat hasil panennya semakin menguatkan minatnya terhadap pertanian.

Ketika SMA, Dr. Lili memiliki keinginan untuk menempuh pendidikan di bidang desain interior, namun sang ayah menekankan pentingnya pemerataan pendidikan bagi semua anaknya. Sebagai anak kedua dari sembilan bersaudara, ia kemudian diarahkan untuk masuk ke bidang pertanian karena kecintaannya terhadap tanaman. Awalnya, beliau mengira pertanian hanya tentang bercocok tanam, tetapi kemudian menyadari bahwa cakupannya sangat luas.

Perjalanan Karier di Dunia Akademik

Dr. Lili memulai kariernya di Jakarta sebelum mendapatkan kesempatan bekerja di Yogyakarta, tepatnya di Lembaga Pendidikan Perkebunan. Keputusan untuk bekerja di Yogyakarta juga dipengaruhi oleh ayahnya, yang menginginkan agar beliau berada di dekat adik-adiknya yang sedang berkuliah di Universitas Gadjah Mada.

Di tempat kerja barunya, Dr. Lili menemukan passion dalam bidang perkebunan karena sering mendapatkan kesempatan untuk melakukan perjalanan ke berbagai perkebunan, baik di dalam maupun luar negeri, seperti kebun kopi, tebu, karet, kakao, kelapa sawit, serta pengalaman belajar tentang tebu di Cina dan teh di Jepang. Tanpa disadari, beliau telah menjalankan peran sebagai dosen, namun bukan untuk mahasiswa melainkan untuk karyawan perkebunan yang sedang menjalani pelatihan untuk kenaikan pangkat.

Setelah 14 tahun bekerja, Dr. Lili mendapatkan peluang untuk melanjutkan pendidikan S2 di IPB dengan beasiswa. Beliau menyelesaikan studinya pada tahun 2004 dan semakin mendalami bidang manajemen perkebunan serta pengelolaan sumber daya manusia di sektor ini.

Dalam dunia akademik, Dr. Lili lebih menekankan pada aspek manajemen perkebunan secara keseluruhan, tidak hanya dari segi teknis tetapi juga dalam pengelolaan sumber daya, baik itu aspek soft skill maupun hard skill. Baginya, filosofi mengajar adalah salah satu bentuk ibadah dan kontribusi terhadap ilmu pengetahuan. Beliau percaya bahwa ilmu yang bermanfaat akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir bahkan setelah meninggal dunia.

Tantangan dan Masa Depan Perkebunan Indonesia

Menurut Dr. Lili, tantangan terbesar dalam industri perkebunan Indonesia saat ini adalah mindset dan karakter tenaga kerja. Profesionalisme yang memiliki kemampuan berpikir kritis sering kali tidak mendapatkan tempat yang seharusnya. Namun, beliau tetap berusaha menanamkan nilai-nilai ini kepada generasi penerus.

Untuk masa depan, beliau berharap perkebunan di Indonesia bisa berkembang secara berkelanjutan, tidak hanya memberikan manfaat ekonomi tetapi juga berdampak positif bagi lingkungan dan nilai-nilai kemanusiaan. Salah satu visinya adalah menjadi Guru Besar di bidang manajemen perkebunan, mengingat masih sedikit akademisi yang fokus di bidang ini. Beliau juga ingin agar Sekolah Vokasi IPB memiliki profesor yang berfokus pada manajemen perkebunan.

Bagi Dr. Lili, kebanggaan terbesarnya bukanlah gelar atau jabatan, tetapi bagaimana ia bisa menjadi anak yang berbakti dan membanggakan orang tuanya. Prinsip keluarganya menekankan bahwa pendidikan adalah modal utama dalam kehidupan. Selain itu, keluarganya juga menerapkan kesetaraan gender dalam pembagian tugas rumah tangga, mencerminkan nilai-nilai yang ia pegang teguh hingga saat ini.

Sebagai akademisi, beliau ingin dikenal sebagai “Ibu Manajemen Perkebunan” yang memberikan kontribusi nyata dalam memecahkan masalah-masalah di industri perkebunan. Salah satu momen paling berkesan baginya adalah saat berhasil membimbing mahasiswa yang awalnya dianggap malas atau tidak berprestasi menjadi individu yang lebih baik dan sukses di bidangnya.

Dengan pengalaman lebih dari 35 tahun mengajar, Dr. Lili Dahliani terus berkomitmen untuk mencetak generasi yang tidak hanya unggul dalam keilmuan tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan profesionalisme yang tinggi. Baginya, ilmu yang bermanfaat adalah warisan terbaik yang bisa ia tinggalkan. Sesuai dengan value IPB, Inspiring Innovation with Integrity, Dr. Lili Dahliani terus berkomitmen untuk menghadirkan inovasi dengan menjunjung tinggi nilai integritas dalam setiap langkahnya.***

 

Asyri Abghi Rahmah, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Lapangan Banteng: Lebih dari Sekadar Wisata

0

Bogordaily.net – Mentari pagi Jakarta bersembunyi di balik awan kelabu saat saya tiba di Lapangan Banteng. Meskipun langit kelabu, semangat beraktivitas tidak surut; banyak orang dari berbagai kalangan berkumpul di sini.

Saya awalnya mengira tempat ini akan sepi pengunjung, tetapi ternyata saya salah. Kedatangan saya hari itu adalah untuk menjalankan sebuah proyek kecil, mengajak anak-anak sekitar untuk menikmati kegiatan yang telah kami persiapkan.

Namun, tulisan ini bukanlah tentang mempromosikan Lapangan Banteng sebagai destinasi wisata; ini adalah kisah perjalanan dan pengalaman berharga saya di hari yang tenang itu.

Sebagai project planner di komunitas Book Buddies, sebuah komunitas yang berdedikasi untuk meningkatkan literasi di Indonesia, saya merasa terpanggil untuk berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang lebih gemar membaca.

Salah satu proyek terbaru kami, “Taman Baca,” adalah wujud nyata dari impian tersebut. Kegiatan book club offline ini dirancang untuk menjangkau lebih banyak orang dan menumbuhkan minat baca, terutama di kalangan masyarakat urban.

Setelah melakukan survei ke berbagai lokasi, departemen kami sepakat memilih Lapangan Banteng di Pasar Baru, Jakarta Pusat, sebagai lokasi kegiatan yang akan diadakan pada tanggal 22 Februari 2025.

Lapangan Banteng terpilih karena suasananya yang terbuka dan aksesibilitasnya yang tinggi, yang kami yakini akan menarik perhatian publik dan menciptakan ruang yang nyaman untuk berinteraksi dengan buku.

Untuk persiapan pribadi, saya hanya membawa barang-barang penting seperti dompet, battery pack, dan air minum.

Kegiatan ini sangat saya nantikan, bukan hanya karena dapat bertemu langsung dengan anggota departemen dan komunitas lainnya dari berbagai daerah, tetapi juga karena saya berharap dapat melihat senyum dan semangat yang terpancar dari wajah anak-anak, yang merasakan kegembiraan dalam mengikuti aktivitas mewarnai yang kami sediakan sebelum akhirnya menuju ke aktivitas utama, yaitu book sharing session.

Komunitas yang menarik perhatian saya ini banyak mengadakan kegiatan yang dilakukan secara daring karena banyaknya anggota yang berdomisili di luar Jabodetabek. Namun dengan diadakannya kegiatan Taman Baca, saya tetap bisa bertemu dengan anggota komunitas lainnya yang berasal dari daerah Jabodetabek.

Di sana, saya tidak hanya bertemu dengan sesama mahasiswa, tetapi juga dengan adik-adik SMP, teman-teman SMA, bahkan orang-orang yang sudah memiliki pengalaman kerja.

Meskipun tidak banyak anggota yang hadir, saya tetap senang dapat bertemu dengan anggota-anggota tersebut, karena dengan berkenalan dengan mereka dapat memperluas wawasan dan pengetahuan saya, serta meningkatkan kemampuan saya dalam beradaptasi di sebuah lingkungan dengan latar belakang yang berbeda.

Setiap obrolan, setiap senyum, terasa seperti pelajaran berharga yang tidak saya dapatkan di bangku kuliah.

Saat melangkah masuk ke Lapangan Banteng, keraguan perlahan menyelinap ke dalam pikiran saya. Rencana awal komunitas kami adalah menarik sebanyak mungkin pengunjung untuk bergabung dalam kegiatan yang telah kami siapkan dengan penuh semangat.

Namun, kenyataan di lapangan sedikit berbeda dari apa yang saya bayangkan. Langit yang menggelap dan rintik hujan yang turun perlahan seolah mengiringi kedatangan saya. Suasana di Lapangan Banteng saat itu terasa begitu tenang dan damai, jauh dari ekspektasi saya tentang kehidupan di tengah kota metropolitan Jakarta.

Meskipun atmosfernya sejuk dan menenangkan, awan kelabu yang menggantung di atas kepala menurunkan optimisme saya dan anggota komunitas lainnya untuk dapat melibatkan banyak khalayak di sekitar dalam kegiatan yang akan kami adakan.

Harapan untuk melihat Lapangan Banteng dipenuhi tawa dan semangat tampaknya harus sedikit bersabar menunggu mentari kembali bersinar.

Senyum merekah di wajah kami saat berhasil mengajak beberapa anak dari sekitar Lapangan Banteng untuk bergabung dalam kegiatan mewarnai yang kami adakan secara cuma-cuma.

Pendekatan kami sederhana: mengajak mereka mengobrol ringan, lalu menawarkan kesempatan untuk berkreasi dengan warna bersama-sama, tentu saja setelah mendapatkan izin dari orang tua mereka.

Proses ini, tanpa disadari, menjadi latihan keberanian yang berharga bagi kami dalam berinteraksi dengan orang baru. Usai sesi mewarnai yang riang, giliran para remaja dan dewasa muda yang hadir untuk berpartisipasi dalam book sharing session.

Pada aktivitas tersebut, kami berdikusi mengenai dunia literasi di Indonesia, mulai dari fenomena alternative universe (AU) yang populer di kalangan remaja dan kini banyak diadaptasi menjadi buku serta pro dan kontranya, hingga pentingnya peningkatan literasi digital di era modern, mengingat digitalisasi yang semakin merajalela.

Kegiatan ini menjadi inti dari acara kami, memberikan dampak yang jauh lebih besar dari sekadar kesenangan.

Lebih dari itu, book sharing session menjadi wadah pembelajaran untuk saling menghargai pendapat dan opini yang berbeda, serta memberikan kesempatan bagi setiap peserta untuk menyuarakan pandangan mereka dengan bebas.

Sebagai penutup dari perjalanan singkat saya di Lapangan Banteng, saya menyadari betapa berharganya sebuah inisiatif komunitas seperti Book Buddies.

Meski langit Jakarta saat itu tak sepenuhnya cerah, semangat untuk berbagi dan belajar tetap membara di hati setiap peserta “Taman Baca”.

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa dampak positif tidak selalu harus diukur dari jumlah orang yang hadir, melainkan dari kualitas interaksi dan pembelajaran yang terjadi.

Oleh karena itu, saya mengajak Anda, para pembaca, untuk tidak ragu terlibat dalam kegiatan komunitas di sekitar Anda.

Entah itu komunitas literasi, seni, lingkungan, atau bidang lainnya, setiap langkah kecil yang Anda ambil akan memberikan kontribusi berarti bagi masyarakat.

Jangan takut untuk berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, karena dari sanalah kita bisa belajar dan tumbuh bersama.

Pada akhirnya, perjalanan ke Lapangan Banteng ini bukan hanya tentang mewarnai gambar atau bertukar buku, tetapi tentang mewarnai kehidupan dan membuka lembaran baru dalam diri saya.

Semoga kisah ini dapat menginspirasi Anda untuk menciptakan kisah Anda sendiri—kisah tentang bagaimana Anda berkontribusi dalam membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.***

 

Luthfiyah Farida Balqis | Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Sejenak Pulang, Sejenak Bertualang: Menyusuri Rindu di Curug Goa Lumut Endah

0

Bogordaily.net – Pertengahan tahun selalu membawa rindu yang menggebu. Setelah berbulan-bulan berkutat dengan tugas, praktikum, dan hiruk-pikuk kehidupan rantau, akhirnya ada waktu untuk pulang. Bukan hanya kembali ke rumah, tapi juga kembali ke kehangatan keluarga dan tawa teman-teman lama yang semakin jarang bersua.

Liburan semester bukan sekadar jeda, melainkan kesempatan untuk melebur kembali dalam kebersamaan yang sempat tergerus kesibukan. Grup WhatsApp yang biasanya sepi tiba-tiba penuh notifikasi, berisi rencana-rencana spontan yang nyaris tak pernah benar-benar matang, hingga akhirnya satu keputusan diambil: kami akan menjelajahi salah satu surga tersembunyi di Gunung Salak, Curug Goa Lumut Endah.

Langit masih gelap ketika perjalanan kami dimulai. Pukul enam pagi, udara Bogor yang dingin menyentuh kulit, membawa serta aroma tanah basah sisa hujan semalam. Aku berdiri di depan kosan, mataku masih berat oleh kantuk, tetapi hatiku penuh semangat. Hari ini, akhirnya, kami akan bertualang bersama lagi.

Dua motor melaju pelan mendekat, lampunya menembus kabut tipis pagi itu. Tiga temanku datang menjemput, wajah mereka sedikit lelah setelah menerjang jalanan Cikarang-Bogor, tetapi tetap ceria. Sementara itu, rombongan lain yang berjumlah delapan orang, masih bersiap-siap untuk menyusul. Salah satu dari mereka baru saja selesai bekerja, tetapi rasa lelah seolah bukan penghalang bagi kami untuk menikmati liburan yang sudah direncanakan ini.

Bersama tiga temanku, aku memulai perjalanan ini dengan santai. Angin pagi yang sejuk menyapu wajah, membawa aroma embun dan dedaunan basah. Jalanan kota perlahan berganti menjadi pemandangan khas pedesaan, dengan sawah yang masih berselimut kabut tipis dan warung-warung yang baru saja membuka pintunya.

Awalnya, aku sempat khawatir akan terjebak kemacetan di Jalan Raya Dramaga. Namun, pagi ini semesta seperti merestui perjalanan kami: Dramaga lancar jaya! Tak ingin terburu-buru, kami menepi di pinggir jalan, berhenti sejenak untuk menikmati bubur ayam hangat dan teh tawar yang mengepul di udara pagi. Rasanya sederhana, tetapi momen seperti inilah yang membuat perjalanan terasa lebih berarti.

Semakin lama, motor yang kami tumpangi bergerak semakin menanjak. Jalanan mulai berliku, menandakan bahwa kami telah memasuki kawasan Gunung Salak. Udara yang tadi sejuk kini terasa semakin menusuk, membawa aroma khas pepohonan basah dan tanah yang lembap. Kabut tipis masih menggantung di beberapa sudut, tetapi sinar matahari pagi mulai menembus celah-celah dedaunan, menciptakan pemandangan yang begitu menenangkan. Tak ingin melewatkan momen ini begitu saja, kami beberapa kali menepi, sekadar mengabadikan keindahan pagi di Gunung Salak.

Kami tiba di pintu masuk utama pukul 10 pagi, disambut oleh deretan pilihan curug yang menggoda untuk dijelajahi. Namun, tanpa ragu, kami tetap pada rencana awal: Curug Goa Lumut Endah. Aku dan ketiga temanku melangkah masuk ke area curug, menghirup udara segar yang dipenuhi aroma pepohonan basah, sementara sesekali mengecek ponsel, memastikan komunikasi tetap lancar dengan rombongan yang masih dalam perjalanan.

Kami menyempatkan diri berfoto sebelum berganti pakaian, mengabadikan momen dengan latar Curug Goa Lumut Endah yang begitu elok. Airnya hari ini luar biasa jernih, hingga bebatuan di dasar terlihat jelas dari permukaan. Setelah puas berfoto, kami berganti pakaian dan mencari tempat aman untuk menaruh tas. Tidak terburu-buru, kami duduk santai, menikmati suasana sambil bersenda gurau dan mengunyah camilan. Perlahan, kami mencoba mencelupkan kaki ke dalam air, seketika rasa dinginnya menyengat, seperti mencelupkan kaki ke dalam es!

Setelah dua jam menunggu sambil bermain air, akhirnya rombongan kedua tiba. Begitu melihat mereka, aku langsung bertanya kenapa butuh waktu selama itu. Ternyata, mereka sempat nyasar di jalan! Pantas saja terasa begitu lama, seharusnya mereka bisa menikmati keindahan curug ini lebih awal. Tapi tak apa, yang penting sekarang kami sudah berkumpul lengkap, siap melanjutkan petualangan bersama.

Begitu tiba, rombongan kedua langsung mengajak kami memasak mi rebus dengan kompor portabel—mungkin perut mereka sudah keroncongan setelah perjalanan panjang. Tanpa menunda lagi, beberapa orang mulai sibuk menyiapkan mi, sementara yang lain tak bisa menahan godaan untuk langsung bermain di dekat air terjun. Aroma kuah mi yang hangat bercampur dengan udara sejuk pegunungan, menambah kenyamanan di tengah kebersamaan ini.

Aku dan teman-teman bercengkerama, tertawa lepas, dan mengabadikan momen dengan berfoto, semua terasa lebih hangat dengan semangkuk mi panas di tangan. Pemandangan air terjun yang menakjubkan semakin menyempurnakan suasana, membuat segala lelah perjalanan terasa terbayar. Di atas pohon, monyet-monyet bergelayutan lincah, sesekali turun mendekat, seolah ingin ikut bergabung—atau mungkin hanya mengincar makanan kami.

Setelah puas bermain air hingga tubuh mulai kedinginan dan tangan mengerut, kami pun membersihkan diri dan berganti pakaian. Begitu pakaian telah berganti, kami kembali mengabadikan momen dengan berfoto di dekat curug, seolah enggan berpisah dari keindahan tempat ini. Namun, waktu terus berjalan, langit perlahan berubah jingga, pertanda hari mulai sore. Kami bersiap untuk pulang, meninggalkan curug dengan kenangan yang tak terlupakan. Kali ini, aku ikut bersama teman-temanku ke Cikarang, karena urusanku di Kota Hujan telah usai.

Langit sudah benar-benar gelap saat kami tiba di Cikarang, menandakan perjalanan panjang kami akhirnya hampir usai. Satu per satu teman-teman berpamitan, hingga yang tersisa hanya tiga orang yang sejak pagi menjemputku di kosan. Sebelum benar-benar pulang, kami menyempatkan diri mengisi perut di warung sate pinggir jalan, menikmati sate ayam hangat dengan nasi putih yang terasa semakin nikmat setelah seharian beraktivitas. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, dan ponselku mulai dipenuhi panggilan dari orang tuaku yang cemas menanyakan keberadaanku. Setelah kenyang dan sedikit beristirahat, akhirnya kami pun berpisah, kembali ke rumah masing-masing dengan kenangan perjalanan yang tak terlupakan.***

 

Asyri Abghi Rahmah, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB