Home Blog Page 1091

Menjaga Adab di Dunia Maya: Pedoman Etika Komunikasi di Era Digital

0

Bogordaily.net – Era digital ini semakin cepat berkembang, bahkan komunikasi secara daring telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari manusia. Namun, kemudahan yang disediakan oleh teknologi juga membawa tantangan baru dalam menjaga etika ketika berkomunikasi. Etika komunikasi adalah seperangkat norma yang mengatur perilaku berkomunikasi dengan mempertimbangkan nilai-nilai moral dan sosial (Rachman, 2021). Dengan menerapkan etika dalam berkomunikasi secara digital, kita dapat membangun komunikasi yang efektif, serta menciptakan lingkungan yang sehat, penuh kesopanan, dan tanggung jawab.

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah mengubah bagaimana cara manusia berinteraksi dan juga berkomunikasi dengan signifikan dan memberikan banyak manfaat, seperti memberikan kemudahan akses untuk mendapatkan informasi lebih cepat. Dengan internet dan perangkat digital yang ada, setiap individu dapat memperoleh informasi hanya dalam hitungan detik setelah mereka mencari yang juga dapat mempercepat proses pengambilan keputusan dan pertukaran ide untuk setiap individu. Individu juga dapat berkomunikasi dengan tanpa ada batasan wilayah atau secara global. Atau manfaat lainnya dari perkembangan teknologi ini adalah ketika adanya wabah COVID-19 menyebar di seluruh dunia, teknologi informasi membantu dunia pendidikan karena masalah para pendidik yang tidak bisa bertemu secara langsung dengan muridnya, karena bisa memanfaatkan aplikasi-aplikasi yang sangat memudahkan pembelajaran.

Tantangan Etika dalam Berkomunikasi di Era Digital

Namun, dengan manfaat yang ditawarkan, muncul pula tantangan etika yang perlu diperhatikan oleh semua orang.

  1. Penyebaran Berita Hoaks

Menurut penelitian oleh Nugroho (2022), penyebaran hoaks di media sosial meningkat 30% dalam lima tahun terakhir. Hoaks dapat menyesatkan masyarakat dan memicu ketidakstabilan sosial. Media sosial dan platform online lainnya memungkinkan penyeberan informasi dengan cepat, namun penyebaran informasi yang cepat itu juga meningkatkan risiko penyebaran berita palsu atau hoaks. Penggunaan etika berkomunikasi membutuhkan kehati-hatian dalam memvalidasi informasi sebelum menyebarkan informasi tersebut, serta bertanggung jawab untuk tidak menyebarkan informasi yang berisi misinformasi dan dapat menyesatkan bahkan merugikan orang lain. Misalnya pada contoh penyebaran hoaks tentang vaksin di Amerika pada film The Social Dilemma (2020) di media sosial yang membahayakan kesehatan masyarakat.

  1. Maraknya Ujaran Kebencian (Hate Speech)

Bahwa ujaran kebencian di platform media sosial dapat memperburuk konflik sosial dan memicu tindakan kekerasan. Banyaknya akun anonim di internet sering kali menyebabkan orang merasa bebas untuk mengujarkan semua yang ada dipikiran mereka tanpa benar-benar memikirkan apa yang mereka ujarkan terhadap seseorang. Contohnya seseorang berkomentar menggunakan kata-kata kasar, tidak pantas dan menyinggung, serta ujaran yang termasuk ke dalam kebencian dan melecehkan tanpa memikirkan efeknya terhadap orang yang dituju atau terhadap seseorang yang membaca komentar tersebut.

  1. Pelanggaran Privasi

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Safitri (2020), ditemukan bahwa 65% pengguna media sosial tidak sepenuhnya menyadari risiko berbagi informasi pribadi secara daring, yang berpotensi dimanfaatkan untuk kejahatan siber. Perkembangan TIK telah membuka pintu bagi masalah kemanan data dan privasi yang semakin kompleks. Dalam komunikasi daring, data pribadi dari pengguna media sosial sering kali dikumpulkan dan nantinya disebar bahkan dijual tanpa sepengetahuan dan persetujuan dari pengguna. Contohnya ada pada salah satu scene dalam film The Social Dilemma (2020) di mana beberapa developer media sosial mengakses dan menggunakan data pribadi untuk tujuan iklan dan keuntungan pribadi mereka.

Dampak dari Pelanggaran Etika dalam Komunikasi di Era Digital

Tantangan pada etika komunikasi akan menyebabkan beberapa dampak negatif apabila dilanggar.

  1. Terjadinya Konflik Sosial

Berita hoaks dan ujaran kebencian dapat menimbulkan konflik di masyarakat (Hidayat, 2021). Penyebaran informasi yang tidak benar dan belum pasti kebenarannya yang juga berisikan ujaran kebencian dapat memicu konflik di antara masyarakat. Mengutip dari sindonews.com, genosida yang terjadi di Myanmar yang menimpa etnis Rohingya disebabkan oleh Facebook yang memperkuat algoritma postingan berisikan ujaran kebencian dan Facebook gagal untuk menghapus postingan yang menghasut masyarakat Myanmar.

  1. Kerusakan Reputasi

Informasi negatif atau fitnah yang tersebar di internet sulit untuk dikendalikan dan dapat merusak reputasi individu maupun organisasi (Wijaya, 2022). Misal ketika suatu pemerintahan di salah satu negara melakukan kesalahan dan membuat masyarakat mulai memberikan ujaran kebencian kepada pemerintah dan semakin banyak masyarakat yang melihat postingan berisikan ujaran kebencian dan kejelekkan dari pemerintah. Hal tersebut dapat merusak reputasi dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

  1. Gangguan Psikologis

Ujaran kebencian yang dilontarkan di media sosial termasuk kedalam cyberbullying, jika seseorang sering membaca hal-hal yang negatif dapat merusak psikologis individu. Hal itu diakibatkan karena adanya tekanan emosional pada individu. Menurut riset dari Lestari & Sari (2023), korban perundungan daring memiliki risiko lebih tinggi mengalami stres, kecemasan, dan depresi.

Panduan Etika dalam Berkomunikasi di Media Sosial

Agar komunikasi di media sosial tetap mengikuti etika dan kita tetap bertanggung jawab, ada beberapa hal yang perlu untuk diterapkan.

  1. Berpikir Sebelum Berkomentar

Sebelum mengirimkan atau menyampaikan komentar dan pesan, pertimbangkan dampak komentar atau pesan yang disampaikan kepada individu tersebut apakah akan membuatnya tertekan, membuat tersinggung ataupun menyakiti perasaan dari individu tersebut.

  1. Verifikasi Informasi Sebelum Membagikan

Pastikan kembali sumber informasi yang kredibel dari informasi yang sebelumnya sudah didapatkan sebelum menyebarkan ke khalayak ramai atau ke media sosial.

  1. Menghormati Privasi Orang Lain

Jangan menyebarkan informasi pribadi ataupun foto orang lain tanpa sepengetahuan dan seizin individu yang bersangkutan. Jika hal itu terjadi maka akan masuk ke ranah hukum akibat tidak menghargai privasi dan hak individu di ruang digital.

  1. Menggunakan Bahasa yang Sopan dan Santun

Hindari penggunaan kata-kata yang tidak pantas, kasar, provokatif, ataupun kata-kata yang mengandung SARA dan menjelekkan kelompok lain.

  1. Hindari Perundungan Daring (Cyberbullying)

Hindari tindakan perundungan di media sosial yang dapat memberikan dampak negatif kepada individu lain.

Etika dalam berkomunikasi di media sosial sangat penting untuk menciptakan lingkungan di media sosial yang aman, sopan, serta bertanggung jawab. Dengan menerapkan prinsip seperti berpikir sebelum berkomentar, memvalidasi informasi yang didapatkan sebelum berkomentar dan menyebarkan informasi, untuk mengurangi dampak negatif dari komunikasi di media sosial dan menciptakan ruang digital yang lebih positif.***

 

Magda Aulia Tri Hapsari “Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University”

Menikmati Kesegaran Air dan Keindahan Alam di Kolam Renang Aldepos Bogor

0

Bogordaily.net – Bogor dikenal dengan julukan “Kota Hujan”, memang menyimpan beragam destinasi wisata alam yang menarik. Salah satu tempat yang layak dikunjungi adalah Kolam Renang Aldepos, yang terletak di Desa Tapos II, Kecamatan Tenjolaya, Bogor, Jawa Barat. Kolam renang ini bukan hanya menawarkan kesegaran, tetapi juga keindahan alam yang memukau. Pada akhir pekan libur semester yang lalu, saya dan keluarga memutuskan untuk mengunjungi Kolam Renang Aldepos sebagai pelipur penat setelah seminggu penuh berkutat dengan pekerjaan dan kuliah.

Perjalanan kami menuju Kolam Renang Aldepos memakan waktu sekitar 42 menit dari Ciapus, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tergantung pada kondisi lalu lintas dan rute yang kami pilih. Kami mengambil jalur melalui Jalan Gunung Malang, melewati Jalan Curug Luhur Indah, di mana kami juga melintasi Jbound Geo Edu Park Ciapus – Bogor. Selama perjalanan, kami dimanjakan dengan pemandangan pegunungan yang membuat suasana terasa sejuk karena pemandangan alam yang tersedia.

Keunikan dari Kolam Renang Aldepos ini adalah fakta bahwa kolam renang ini berada di dalam pesantren Aldepos Islamic Boarding School. Tapi kita tidak perlu khawatir tentang keadaan tersebut, karena Kolam Renang Aldepos ini sedikit lebih jauh ke dalam dari Aldepos Islamic Boarding School. Jadi sebelum kita bisa melihat gerbang Kolam Renang Aldepos kita akan melewati gerbang dan pos satpam dari Aldepos Islamic Boarding School.

Begitu masuk ke area gerbang kolam renang, kami langsung disuguhi pemandangan pepohonan rindang yang menyejukkan. Suasana alam yang asri ini membuat kami merasa seperti berada di tengah hutan, jauh dari kebisingan kota. Area parkir yang luas dan tertata rapi memudahkan kami untuk memarkir kendaraan. Untuk biaya parkir kendaraan roda dua dikenakan biaya sebesar Rp 5.000 per kendaraan, sedangkan untuk kendaraan roda empat dikenai biaya sebesar Rp 10.000 per kendaraan. Untuk biaya tiket masuk ke kolam renangnya sendiri per orang dikenakan biaya Rp 25.000 pada akhir pekan dan Rp 20.000 untuk hari biasa.

Suasana alam di sekitar Kolam Renang Aldepos benar-benar memanjakan mata. Pepohonan tinggi dan pegunungan yang mengelilingi area kolam renang memberikan nuansa alami yang sulit ditemukan di kolam renang biasa. Suara burung berkicau dan gemericik air menambah kesan tenang dan damai. Kami pun langsung merasa rileks begitu tiba di sana.

Kolam Renang Aldepos menawarkan fasilitas yang cukup lengkap. Kolam utamanya berukuran besar dengan kedalaman bervariasi, cocok untuk dewasa dan anak-anak. Ada juga kolam khusus anak-anak yang lebih dangkal, sehingga aman untuk si kecil bermain air. Wahana seluncuran air menjadi daya tarik utama di sini. Anak-anak saya langsung antusias mencoba seluncuran tersebut, sementara saya dan pasangan memilih untuk berenang santai di kolam utama.

Selain kolam renang, Aldepos juga menyediakan area bermain anak-anak dengan berbagai permainan seperti perosotan dan area ember tumpah. Ada juga gazebo-gazebo yang bisa digunakan untuk bersantai atau makan bersama. Kami memilih salah satu gazebo untuk meletakkan barang-barang kami sembari menikmati bekal makanan yang kami bawa dari rumah. Area makan di Aldepos juga menyediakan berbagai makanan dan minuman dengan harga terjangkau, jadi pengunjung tidak perlu khawatir jika lupa membawa bekal.

Fasilitas lain yang tak kalah menarik adalah kamar mandi dan ruang ganti yang bersih dan terawat. Ini menjadi nilai tambah karena Anda tidak perlu khawatir dengan kebersihan setelah berenang. Selain itu, area parkir yang luas dan aman membuat Anda merasa nyaman meninggalkan kendaraan selama beraktivitas di kolam renang.

Aldepos menawarkan pengalaman yang berbeda dibandingkan kolam renang lainnya, berkat suasana alamnya yang masih asri. Dikelilingi oleh pepohonan rindang, area kolam renang ini memberikan nuansa sejuk dan nyaman untuk para pengunjung. Harga tiket masuk yang terjangkau, hanya Rp 25. 000 per orang, menjadikan Aldepos sebagai pilihan wisata keluarga yang ramah di kantong. Dengan harga tersebut, kami bisa menikmati berbagai fasilitas lengkap dan suasana yang menyenangkan.

Salah satu keunikan lain dari Aldepos adalah lokasinya yang strategis. Meski terletak di tepi jalan raya, area kolam renang ini tetap menawarkan ketenangan yang jauh dari kebisingan. Hal ini membuat Aldepos menjadi tempat yang sempurna untuk bersantai dan melepas penat setelah seminggu beraktivitas di kota.

Untuk Anda yang berniat mengunjungi Kolam Renang Aldepos, berikut beberapa tips yang dapat membantu meningkatkan pengalaman Anda:

  1. Datang pagi hari: Dengan datang lebih awal, Anda dapat menikmati kolam renang sebelum dipadati pengunjung. Selain itu, udara pagi yang sejuk akan menambah kenyamanan saat berenang.
  2. Bawa perlengkapan renang sendiri: Menghemat biaya dan memastikan kenyamanan bisa dilakukan dengan membawa perlengkapan renang dari rumah. Meskipun tersedia penyewaan, menggunakan peralatan sendiri biasanya lebih higienis.
  3. Bawa makanan dan minuman: Walaupun terdapat area makan di sana, membawa bekal sendiri bisa lebih ekonomis. Anda dapat menikmati makan siang di gazebo sambil meresapi suasana alam di sekitarnya.
  4. Jaga kebersihan: Pastikan untuk membuang sampah pada tempatnya agar lingkungan tetap bersih dan nyaman bagi semua pengunjung. Aldepos menyediakan banyak tempat sampah, sehingga tidak ada alasan untuk tidak menjaga kebersihan.
  5. Gunakan sunscreen: Mengingat area kolam renang yang cukup terbuka, penting untuk melindungi kulit Anda dengan sunscreen agar terhindar dari sengatan matahari.
  6. Ajak keluarga atau teman: Aldepos sangat ideal untuk dikunjungi bersama keluarga atau teman. Suasana yang ramah dan fasilitas yang lengkap akan menjadikan liburan Anda semakin berkesan.

Jika Anda mencari destinasi wisata air yang dekat dari Jakarta namun tetap menawarkan suasana alam yang menenangkan, Kolam Renang Aldepos di Bogor adalah pilihan yang sempurna. Aldepos bukan hanya tempat untuk berenang, tetapi juga merupakan tempat yang ideal untuk bersantai, menikmati keindahan alam, dan menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga. Dengan harga tiket yang terjangkau dan fasilitas yang memadai, Aldepos layak dijadikan sebagai destinasi favorit bagi siapa pun yang ingin melepas penat dari hiruk-pikuk kota.***

 

Magda Aulia Tri Hapsari “Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University”

Antara Antusiasme dan Tantangan: Lokasi Syuting Asmara Gen Z Ramai Didatangi Penggemar

0

Oleh: Magda Aulia Tri Hapsari “Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University”

 

Kesuksesan dari sinetron “Asmara Gen Z” dengan mencapai rating tinggi di televisi membuat para aktornya memiliki banyak penggemar yang antusias untuk bertemu dengan mereka. Antusiasme dari para penggemar sinetron “Asmara Gen Z” ini dapat terlihat dari ramainya lokasi syuting karena dipadati oleh para penggemar. Penggemar rela datang dari berbagai daerah yang bahkan jauh dari lokasi syuting sinetron “Asmara Gen Z” hanya demi melihat secara langsung para aktor atau idola mereka yang sedang melakukan proses produksi sinetron ini. Antusiasme para penggemar sinetron “Asmara Gen Z” dapat dikatakan sebagai cara mereka menunjukkan apresiasi yang besar terhadap sinetron ini, yang tentunya akan menjadi dorongan kepada para aktor dan kru untuk bisa bekerja dengan lebih semangat dan lebih baik lagi untuk ke depannya.

Dampak Negatif Datangnya Penggemar ke Lokasi Syuting

Kerumunan penggemar pada lokasi syuting sinetron “Asmara Gen Z” yang terlalu besar ini sering kali membuat proses syuting menjadi terhambat. Selain itu, hal ini juga menyebabkan para aktor sinetron “Asmara Gen Z” tidak dapat beristirahat yang di mana dapat diketahui bahwa proses syuting dari suatu sinetron yang memiliki lebih dari 10 episode merupakan hal yang sangat melelahkan. Ditambah dengan kedatangan para penggemar ke lokasi syuting yang mengharuskan para aktor sinetron ini untuk kerja lebih ekstra dengan menghampiri dan menyapa para penggemar bahkan setelah lelah seharian ber-acting.

Pada salah satu video yang tersebar di media sosial terlihat salah satu aktor dari sinetron “Asmara Gen Z” keluar dari lokasi syuting dan langsung digerumuni oleh para penggemar yang menunggu di depan gerbang lokasi syuting, serta secara berebut berfoto dengan sang aktor. Hal yang dilakukan oleh penggemar ini adalah salah satu tindakan yang dapat membuat sang aktor menjadi tidak nyaman dan bisa saja melukai aktor tersebut atau bahkan melukai penggemar lainnya, karena terjadi aksi dorong mendorong yang terjadi pada saat berebut melakukan foto bersama aktor tersebut.

Keramaian para penggemar “Asmara Gen Z” yang datang memadati lokasi syuting juga bukan hanya berdampak pada para aktor maupun kru saja. Namun, hal ini juga berdampak pada lingkungan yang berada di sekitar lokasi syuting. Contoh dari dampaknya adalah terjadinya kemacetan di jalan sekitar lokasi syuting karena banyaknya penggemar yang dengan sembarangan memakirkan kendaraan di sepanjang pinggir jalan lokasi syuting tersebut. Bukan hanya kendaraan saja yang membuat kemacetan di jalan, tetapi para penggemar yang berdiam diri di pinggir jalan juga menjadi penyebab dari kemacetan yang terjadi.

Dampak lainnya yang juga terjadi karena ramainya penggemar dari sinetron “Asmara Gen Z” ke lokasi syuting adalah banyaknya sampah yang dibuang dengan sembarangan oleh para penggemar yang datang. Selain dari sampah yang nantinya dapat menumpuk apabila para penggemar atau dapat disebut juga sebagai masyarakat tidak memiliki kesadaran untuk membersihkan sampah yang mereka buang, dampak lain yang mungkin juga terjadi adalah timbulnya konflik dengan masyarakat setempat atas keluhan menumpuknya sampah atau lingkungan setempat menjadi kotor setelah adanya proses produksi dari sinetron “Asmara Gen Z”.

Kebijakan yang Dapat Diambil

Tantangan yang terjadi selama proses syuting sinetron “Asmara Gen Z” harus membuat para kru dapat mengambil kebijakan agar proses produksi dapat berjalan dengan nyaman dan juga lancar. Hal yang paling mudah untuk dilakukan adalah dengan membuat statement pada akun resmi sinetron “Asmara Gen Z” mengenai kebijakan dari para masyarakat atau penggemar yang sudah mengetahui lokasi syuting dari sinetron “Asmara Gen Z” untuk tidak menyebarkannya di media sosial demi kenyamanan dari para aktor. Jika memang para penggemar ingin menunjukkan dukungannya kepada para aktor, maka dapat dilakukan dengan mengirimkan food support bagi para aktor “Asmara Gen Z”.

Apabila statement yang dibuat tidak memiliki efek apapun, maka hal yang dapat dilakukan adalah dengan membatasi area bagi para penggemar yang datang ke lokasi syuting dan bekerja sama dengan pihak keamanan setempat untuk mengamankan lokasi selama proses produksi berlangsung. Pembatasan area ini dilakukan agar para penggemar tetap dapat melihat proses produksi secara langsung tanpa mengganggu kenyamanan dari para aktor, serta tanpa mengganggu jalannya syuting. Bahkan kru dapat menjadwalkan sesi meet and greet di luar dari jadwal syuting yang dilakukan oleh para aktor. Dengan demikian, para penggemar tetap memiliki kesempatan bertemu dengan para aktor tanpa harus mendatangi lokasi syuting secara langsung. Jika hal ini dilakukan tidak hanya menjaga keamanan dan kenyamanan bagi para aktor dan juga penggemar, tetapi juga memberikan pengalaman lebih menarik dan nyaman bagi penggemar dan aktor.

Dengan era digitalisasi seperti sekarang ini kru juga dapat memanfaatkan media sosial dari sinetron “Asmara Gen Z” ataupun akun pribadi dari para aktor untuk melakukan live streaming untuk menunjukkan atau memberikan akses kepada para penggemar yang ingin melihat proses produksi dari sinetron “Asmara Gen Z” tanpa harus hadir secara fisik ke lokasi syuting. Dengan begitu, antusiasme dari para penggemar dapat terjaga serta tim produksi yang bekerja juga tidak terganggu dengan kerumunan orang yang memadati lokasi syuting. Selain itu, pemanfaatan media sosial ini juga dapat meningkatkan engagement dari media sosial para aktor tersebut.

Pemberian edukasi kepada para penggemar mengenai pentingnya menjaga ketertiban dan keamanan selama berada di lokasi syuting juga dapat menjadi salah satu hal yang dapat dilakukan oleh para kru. Pihak produksi dapat mengadakan kampanye untuk meningkatkan kesadaran dari para penggemar bahwa antusiasme yang terjadi harus berjalan secara positif tanpa terjadi kerugian kepada pihak lain.***

Perjalanan Seorang Mahasiswa Sofia Deannisa dalam Membangun Masa Depan Akuakultur

0

Bogordaily.net – Sofia Deannisa lahir di Kabupaten Sragen pada tanggal 4 Juli 2003. Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan di Sekolah Vokasi IPB University pada program studi Teknologi dan Manajemen Pembenihan Ikan. Keputusan Sofia untuk memilih program studi ini muncul dari kecintaannya terhadap alam, terutama dalam bidang pertanian, peternakan, dan perikanan. Ia meyakini bahwa bidang ini memiliki prospek kerja yang cerah di masa depan, dan dengan usaha kerasnya, ia berhasil lolos seleksi untuk menjadi mahasiswa di program studi tersebut.

Selama masa kuliahnya, Sofia menunjukkan prestasi akademik yang membanggakan. Ia memiliki ketertarikan khusus pada mata kuliah yang membahas mengenai pakan, kualitas air, dan penyakit ikan. Tidak hanya unggul dalam akademik, Sofia juga aktif dalam berbagai program pengembangan diri. Pada bulan Januari tahun 2024, ia berhasil lolos dalam program Mahasiswa Wirausaha yang memberikan pendanaan untuk memulai usaha bersama rekan-rekannya. Usaha tersebut merupakan usaha di bidang produksi dan budidaya ikan nila salin, yang bernama Batu Segara Abadi. Program Mahasiswa Wirausaha tersebut dilaksanakan hingga bulan Desember tahun 2024 dan menjadi awal dari pengembangan jiwa kewirausahaan Sofia.

Keberhasilan ini berlanjut ketika ia kembali mendapatkan pendanaan melalui Program Startup School, yang semakin memperkuat fondasi usahanya. Usaha yang diberi nama BSA Ornament Fish ini berfokus pada bidang produksi dan budidaya ikan hias. Melalui kedua usaha tersebut, Sofia tidak hanya memperluas wawasan di bidang akuakultur, tetapi juga mengasah keterampilan dalam dunia wirausaha.

Bagi Sofia, keberhasilan dapat dicapai dengan menanamkan niat pada diri sendiri. Ia meyakini bahwa apabila diri sendiri tidak bergerak, maka keberhasilan tersebut tidak akan tercapai. Tidak hanya niat dan tujuan yang kuat, tetapi juga dukungan dari lingkungan sekitar menjadi faktor penting dalam perjalanannya. Ia percaya bahwa kekuatan dari diri sendiri harus diiringi dengan dukungan teman-teman yang memiliki tujuan serupa. Selain itu, lingkungan yang positif juga menjadi salah satu kunci kesuksesannya dalam dunia akademik maupun wirausaha.

Sofia telah menjadi asisten dosen sejak tahun 2024. Ia menjadi asisten dosen pada mata kuliah Manajemen Pembenihan Ikan Hias, Ikan Air Tawar, dan mata kuliah Praktik Pengenalan Kehidupan Masyarakat Pembudidaya. Saat ini, Sofia sedang menjadi asisten dosen pada mata kuliah Komunikasi Perikanan Budidaya dan Wirausaha Akuakultur, yang sejalan dengan kegiatan usahanya. Pengalaman menjadi asisten dosen memberikan kesan tersendiri bagi Sofia, terutama ketika mahasiswa yang ia bimbing menunjukkan sikap apresiatif dan antusias dalam belajar. Hal ini menjadi salah satu momen paling berkesan selama perjalanannya di dunia akademik.

Selain kegiatan akademik dan wirausaha, Sofia juga aktif mengikuti pelatihan untuk terus mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya. Sofia memiliki cita-cita untuk bekerja di bidang riset dan pengembangan (Research and Development) karena minatnya yang besar dalam riset dan penelitian. Ia tertarik untuk mengembangkan inovasi dalam bidang akuakultur. Namun, ia juga membuka peluang untuk berkarir di bidang administrasi perkantoran atau bahkan melanjutkan pengembangan usahanya di masa depan. Meskipun ia bercita-cita untuk melanjutkan studi hingga jenjang S3, Sofia berencana untuk mengumpulkan pengalaman kerja terlebih dahulu sebelum melanjutkan pendidikannya.

Dengan semangat belajar yang tinggi, jiwa kewirausahaan yang kuat, dan dukungan lingkungan yang positif, Sofia Deannisa dapat melangkah maju dalam mewujudkan cita-citanya. Ia menjadi contoh inspiratif bagi mahasiswa lain untuk terus berusaha dan tidak mudah menyerah dalam meraih impian.***

 

Cinta Ing Larasati Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Profil Dr. Abung Supama Wijaya, Dosen Masa Kini yang Membangun Branding di Media Sosial

0

Bogordaily.net

“Saya merasa jadi dosen membuat saya lebih punya kendali atas hidup saya. Saya bisa bekerja sekeras mungkin atau seminimal mungkin, sesuai dengan ritme saya sendiri.” – Dr. Abung Supama Wijaya

Dosen biasanya dikenal dengan gaya pengajaran formal dan kaku. Namun, Dr. Abung Supama Wijaya, S.I.Kom., M.Si membuktikan bahwa dunia pendidikan bisa lebih fleksibel, dinamis, dan erat berkaitan dengan perkembangan digital. Lewat Instagram, ia tak hanya membagikan ilmu, tetapi juga merangkul mahasiswa dengan cara yang lebih fun dan relevan dengan masa kini. Saat ditanya apakah menjadi dosen adalah cita-citanya sejak kecil, Abung hanya tertawa. “Dulu saya nggak punya visi yang jelas. Saya jalan aja, tanpa tahu akhirnya bakal ke mana.” Ia baru benar-benar menemukan kecintaannya pada dunia komunikasi saat kuliah.

Ia menempuh pendidikan D3 Komunikasi di Sekolah Vokasi IPB (2005-2008), lalu melanjutkan S1 di Universitas Sebelas Maret (2008-2010), dan meraih gelar S2 serta S3 dalam bidang Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan di IPB. Semasa kuliah, Abung bukan tipe mahasiswa yang hanya fokus di kelas. Ia aktif di berbagai organisasi, mulai dari BEM Sekolah Vokasi hingga tim futsal. Namun, satu hal yang paling disukainya adalah dunia editing. “Saya bisa duduk berjam-jam ngedit tanpa sadar waktu, bisa sampai benar-benar lupa waktu dan sampai seharian nggak tidur,” kenangnya.

Sebelum menjadi dosen, Abung mencoba berbagai profesi. Ia pernah menjadi penyiar di Mars FM, radio berbasis Islam di Bogor, meski sering dibully karena salah menyebut nama. “Bayangin, penyiar Islami tapi sering salah ucap. Yaudah, saya anggap aja bagian dari proses belajar,” ujarnya santai. Ia juga sempat bekerja sebagai marketing di koran lokal dan menjadi penyiar di Ria FM Solo. Di Solo, dunia media semakin menarik minatnya. Namun, sebuah ajakan dari teman membuatnya kembali ke Bogor. “Awalnya saya pikir ini hanya sementara, tapi ternyata saya menemukan passion saya di sini,” ujarnya.

Sebagai dosen, Abung mengajarkan berbagai mata kuliah seperti Jurnalistik, Penulisan Kreatif, Fotografi Digital, Produksi Film dan Video, serta Editing Audio Visual. Ia juga aktif dalam penelitian dan memiliki fokus khusus pada Cyber Extension, konsep yang berhubungan dengan penyebaran informasi digital dalam konteks komunikasi pembangunan.

Salah satu proyek yang paling berkesan baginya adalah pembuatan film dokumenter tentang partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa. Dalam proyek ini, ia melatih anak-anak remaja di desa untuk membuat film yang menyampaikan pesan-pesan yang ingin mereka sampaikan. “Tidak semua orang bisa berbicara dengan lancar, tapi mereka bisa menyampaikan sesuatu lewat visual,” jelasnya.

Kebanyakan dosen mungkin memilih tidak aktif menggunakan sosial media, tapi tidak dengan Abung. Baginya, Instagram bukan hanya tempat berbagi momen, tapi juga alat untuk membangun personal branding dan yang lebih penting, menyimpan jejak hidupnya. Ia sering menerima tawaran mengajar karena orang melihat hasil karyanya di Instagram. Namun, alasan pribadinya lebih dari sekedar branding. “Saya lahir di tahun 1987 dan hanya punya satu foto saat bayi. Itulah kenapa saya ingin menyimpan semua kenangan hidup saya secara digital,” katanya.

Dalam menjalani kehidupannya, Abung memegang prinsip bahwa everyday is a competition. Ia selalu berusaha lebih cepat dan lebih unggul dibandingkan orang lain. Namun, ia juga memahami pentingnya mengetahui kapan harus menyerang dan kapan harus bertahan dalam persaingan.  Sebagai dosen, Abung selalu menekankan kepada mahasiswanya untuk mengeksplorasi banyak hal selama masa muda, bahkan jika itu berarti membuat kesalahan. “Setelah lulus, hidup itu jauh lebih menakutkan dan penuh penyesalan. Jadi, selama masih mahasiswa, habiskan waktu dengan mencoba banyak hal sampai gak punya waktu untuk menyesal,” pesannya.

Salah satu kebiasaannya yang unik adalah kegemarannya belanja online, terutama untuk membeli berbagai AI tools. “Saya sering beli AI dan belanja online di e-commerce yang kemudian saya sesali, tapi dari situ saya belajar dari penyesalan,” katanya sambil tertawa. Dengan perjalanan yang penuh warna, Dr. Abung Supama Wijaya terus menjadi sosok inspiratif di dunia komunikasi digital dan pendidikan, membuktikan bahwa menjadi dosen tidak harus kaku dan inovasi bisa datang dari mana saja.***

 

Kania Syifa Maulida J0401231136

Bu Nisa: Dari Keraguan hingga Menginspirasi di Dunia Pendidikan

0

Bogordaily.net – Dalam dunia pendidikan, terdapat sosok-sosok yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi, membimbing, dan menjadi teladan bagi mahasiswanya. Salah satunya adalah Lathifunnisa Fathonah, seorang dosen di Program Studi Teknologi Rekayasa Komputer, Sekolah Vokasi IPB University. Perjalanan hidupnya adalah bukti nyata bahwa ketekunan, kerja keras, serta keberanian menghadapi tantangan adalah kunci menuju kesuksesan.

Awal Kehidupan dan Pendidikan

Lahir di Bandung pada 6 Maret 1993, Lathifunnisa—atau yang akrab disapa Bu Nisa—menghabiskan masa kecil dan pendidikannya di Kota Kembang. Terlahir dalam keluarga pendidik, ia tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan nilai pentingnya ilmu sejak dini. Ibunya seorang guru, dan banyak anggota keluarganya yang berkecimpung di dunia pendidikan.

Dorongan serta arahan orang tua menjadi faktor utama dalam menentukan jalan hidupnya, terutama karena akses informasi di masanya belum semudah saat ini. Dengan dukungan keluarga, Bu Nisa melanjutkan pendidikan di Politeknik Negeri Bandung untuk jenjang D4, sebelum akhirnya meneruskan studi S2 di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan fokus pada Cybersecurity.

Tantangan Akademik dan Tekad Kuat

Perjalanan akademiknya tidak selalu mulus. Saat pertama kali masuk jurusan teknik elektronik, ia sempat merasa kurang cocok dan hampir menyerah. Matematika masih dapat ia kuasai, tetapi fisika menjadi tantangan besar baginya. Ia bahkan sempat mempertimbangkan untuk pindah jurusan. Namun, atas saran orang tua, ia mencoba bertahan satu semester lagi. Keputusan ini terbukti menjadi titik balik dalam hidupnya—dengan tekad yang kuat, ia akhirnya menemukan ketertarikan dalam bidangnya dan berhasil menguasainya.

Dari Dunia Industri ke Dunia Akademik

Sejak kecil, Bu Nisa bercita-cita menjadi pendidik. Saat kuliah, ia mulai mencari pengalaman mengajar dengan membantu dosen di almamaternya. Meskipun belum berstatus asisten dosen secara formal, ia kerap terlibat dalam kegiatan akademik yang memperkuat kecintaannya pada dunia pendidikan.

Namun, sebelum benar-benar terjun sebagai dosen, ia sempat menjajal dunia industri IT. Saat magang di salah satu perusahaan elektronik terbesar di Jakarta, ia membayangkan kehidupan profesional di industri akan menarik—berpakaian rapi, bekerja di kantor bergengsi—tetapi kenyataan berkata lain. Lingkungan industri yang lebih banyak berkutat dengan komputer dan jadwal yang ketat tidak sesuai dengan kepribadiannya yang ekstrovert. Dari pengalaman ini, ia semakin yakin bahwa menjadi dosen adalah jalan hidupnya.

Perjuangan Menjadi Dosen Tetap

Menjadi dosen bukan hanya sekadar mengajar di kelas dan memberikan tugas. Tanggung jawabnya jauh lebih besar—mengembangkan kurikulum, membangun relasi dengan industri, serta berkontribusi pada kemajuan institusi pendidikan.

Tantangan besar datang ketika ia harus mengikuti seleksi Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) untuk menjadi dosen tetap di Sekolah Vokasi IPB. Proses seleksi ini sangat ketat, dengan jumlah pendaftar mencapai ratusan orang, sementara yang diterima hanya segelintir.

Di tengah proses seleksi yang melelahkan, Bu Nisa juga harus menjalani perannya sebagai istri dan ibu, sembari tetap mengajar di universitas swasta. Hari-harinya diisi dengan belajar, mengajar, dan mengurus keluarga. Tidurnya hanya beberapa jam sehari, mengorbankan banyak waktu demi mengejar impiannya. Namun, kerja kerasnya membuahkan hasil—ia berhasil lolos seleksi dan resmi menjadi dosen di IPB, sebuah pencapaian yang sangat membanggakan.

Filosofi Mengajar dan Dedikasi

Bagi Bu Nisa, kepuasan terbesar bukanlah jabatan atau penghargaan, melainkan kesuksesan mahasiswanya. Melihat mahasiswa yang ia bimbing berhasil mendapatkan pekerjaan dan berkembang dalam karier mereka adalah kebanggaan yang tak ternilai.

Ia meyakini bahwa sikap lebih penting daripada kecerdasan semata. Mahasiswa bisa saja cerdas, tetapi tanpa attitude yang baik, mereka akan kesulitan berkembang. Oleh karena itu, ia selalu menekankan kepada mahasiswa bahwa selain belajar, mereka juga harus membangun komunikasi yang baik dengan dosen dan lingkungan sekitar.

Menurutnya, dosen bukanlah sosok yang paling pintar, tetapi mereka memiliki pengalaman akademik dan profesional yang sangat berharga untuk dipelajari. Ia pun menyayangkan bahwa di era digital ini, banyak mahasiswa lebih mengandalkan internet daripada berdiskusi langsung dengan dosen mereka. Padahal, meskipun informasi bisa dengan mudah diperoleh secara online, ada banyak pelajaran kehidupan yang hanya bisa didapatkan melalui interaksi langsung dengan pendidik.

Visi Masa Depan

Meskipun telah mencapai banyak hal, Bu Nisa tidak ingin berhenti berkembang. Ia ingin terus berkontribusi, tidak hanya bagi kampusnya, tetapi juga bagi bangsa dan negara. Baginya, menjadi dosen bukan hanya soal mengajar, tetapi juga tentang memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.

Kisah Bu Nisa adalah bukti bahwa kesuksesan tidak datang dengan mudah. Namun, dengan kerja keras, ketekunan, dan semangat untuk terus belajar, setiap orang bisa mencapai impiannya. Ia tidak hanya menjadi seorang dosen, tetapi juga panutan dan inspirasi bagi banyak mahasiswa yang ia bimbing.***

 

Muhammad Fadlhy Fajarsyach, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Serunya Mendaki Gunung Papandayan Sambil Syuting

0

Bogordaily.net – Gunung Papandayan di Garut, Jawa Barat, dikenal dengan pemandangan kawah berasap, padang edelweiss, serta jalur pendakian yang cukup bersahabat. Namun, bagaimana rasanya mendaki gunung ini sambil membawa kamera dan merekam setiap momen? Inilah pengalaman seru mendaki Gunung Papandayan sekaligus menjalankan syuting.

Perjalanan Menuju Papandayan

Perjalanan dimulai dari Bekasi menuju Garut, yang memakan waktu beberapa jam. Setelah tiba di penginapan, saya dan tim langsung melakukan briefing, menyiapkan konsep syuting, serta memastikan semua peralatan siap.

Keesokan harinya, pukul 04.00 pagi, kami sudah bersiap menuju titik awal pendakian. Udara dingin menyambut, dan kami memulai perjalanan dengan membawa kamera serta peralatan lainnya. Mendaki dengan membawa perlengkapan syuting tentu bukan hal mudah. Jalur berbatu dan menanjak menjadi tantangan tersendiri, terlebih saat harus tetap menjaga stabilitas kamera untuk mendapatkan footage terbaik.

Keindahan dan Tantangan di Gunung Papandayan

Papandayan menyajikan pemandangan yang luar biasa. Kawahnya yang mengepulkan asap putih memberikan kesan dramatis, meskipun asap belerang cukup mengganggu dan berisiko merusak lensa kamera. Kami harus sering membersihkan peralatan dan memakai masker agar tetap nyaman.

Selain kawah, spot favorit lainnya adalah Hutan Mati, area dengan pohon-pohon kering yang menciptakan lanskap unik dan fotogenik. Saat merekam di sini, cahaya pagi menciptakan efek yang sangat menarik dalam video.

Angin kencang menjadi tantangan lain, terutama saat menggunakan drone. Beberapa kali kami kesulitan menjaga kestabilannya, tetapi dengan sedikit penyesuaian, kami tetap berhasil mendapatkan footage udara yang diinginkan.

Tips Mendaki Sambil Membawa Kamera

  1. Gunakan perlengkapan yang ringkas – Pilih kamera ringan dan stabilizer yang praktis agar tidak menghambat pergerakan.
  2. Siapkan perlindungan kamera – Gunakan kantong anti-air dan lap pembersih untuk melindungi dari debu dan asap belerang.
  3. Perhatikan pencahayaan alami – Waktu terbaik untuk merekam adalah pagi atau sore saat cahaya lebih lembut.
  4. Selalu prioritaskan keselamatan – Jangan terlalu fokus pada pengambilan gambar hingga mengabaikan kondisi jalur pendakian.

Akses dan Biaya

  • Lokasi: Kecamatan Cisurupan, Garut, Jawa Barat
  • Tiket masuk: Rp20.000 – Rp30.000 (tergantung hari biasa/libur)
  • Transportasi: Dari Bandung/Garut bisa naik angkutan umum ke Terminal Guntur, lalu lanjut dengan ojek atau kendaraan sewaan
  • Waktu terbaik berkunjung: April – Oktober (musim kemarau)

Kesimpulan

Mendaki Gunung Papandayan sambil melakukan syuting adalah pengalaman yang menantang, tetapi juga sangat memuaskan. Selain menikmati keindahan alam, saya belajar banyak tentang bagaimana mengabadikan momen dalam kondisi yang tidak selalu ideal. Jika Anda pecinta alam dan fotografi, Gunung Papandayan adalah destinasi yang wajib dikunjungi!***

 

Muhammad Fadlhy Fajarsyach, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB 

 

 

Meeting Online Terus? Saatnya Pahami Strategi Komunikasi yang Lebih Efektif!

0

Cara Cerdas Berkomunikasi di Era Kerja Hybrid

Pernah merasa kelelahan karena terlalu banyak meeting online? Atau justru bingung kapan harus membalas pesan di grup kerja? Di era kerja hybrid, komunikasi yang efektif menjadi kunci keberhasilan tim. Studi dari McKinsey & Company (2021) menunjukkan bahwa organisasi dengan komunikasi yang baik dapat meningkatkan produktivitas hingga 25 persen. Namun, dengan banyaknya pilihan teknologi komunikasi, tim seringkali kesulitan menentukan metode yang paling efektif. Oleh karena itu, penting untuk memahami dua jenis komunikasi utama dalam kerja tim, yaitu komunikasi sinkronus dan asinkronus, serta cara mengoptimalkannya agar kolaborasi lebih efisien.

Memahami Komunikasi Sinkronus dalam Kolaborasi Tim

Komunikasi sinkronus adalah komunikasi yang terjadi secara langsung dan real-time, seperti dalam rapat Zoom, panggilan telepon, atau chat langsung. Komunikasi jenis ini memungkinkan interaksi cepat dan responsif, yang sangat berguna dalam pengambilan keputusan dan sesi brainstorming. Selain itu, komunikasi sinkronus juga membantu membangun hubungan interpersonal yang lebih erat di dalam tim. Namun, metode ini juga memiliki kekurangan, seperti risiko kelelahan akibat terlalu banyak rapat daring serta kesulitan menyamakan jadwal antaranggota tim.

Komunikasi Asinkronus dan Fleksibilitas dalam Bekerja

Sebaliknya, komunikasi asinkronus tidak memerlukan respons secara langsung dan dapat dilakukan dalam rentang waktu yang lebih fleksibel. Contohnya termasuk email, pesan di WhatsApp, atau diskusi melalui forum daring. Komunikasi ini lebih cocok untuk tugas yang membutuhkan refleksi mendalam dan dokumentasi yang jelas. Keunggulan utamanya adalah fleksibilitas waktu, memungkinkan anggota tim bekerja sesuai ritme mereka sendiri tanpa tekanan untuk merespons secara instan. Namun, komunikasi asinkronus juga memiliki tantangan, seperti potensi keterlambatan dalam respons dan kurangnya interaksi langsung yang dapat memperlambat proses kerja.

Menentukan Kapan Harus Menggunakan Komunikasi Sinkronus dan Asinkronus

Dalam praktiknya, memilih antara komunikasi sinkronus dan asinkronus bergantung pada kebutuhan tim dan jenis tugas yang sedang dijalankan. Komunikasi sinkronus lebih efektif untuk situasi yang membutuhkan keputusan cepat, seperti saat menangani krisis atau diskusi kompleks yang memerlukan ide-ide baru. Sementara itu, komunikasi asinkronus lebih tepat digunakan saat tim bekerja di zona waktu berbeda, ketika tugas membutuhkan pemikiran mendalam, atau saat ingin menghindari terlalu banyak rapat yang dapat menurunkan produktivitas.

Strategi Mengoptimalkan Komunikasi dalam Tim

Agar komunikasi dalam tim semakin optimal, beberapa strategi dapat diterapkan:

  1. Menyesuaikan metode komunikasi dengan kebutuhan tim dan proyek. Tim perlu memiliki pedoman jelas kapan harus menggunakan komunikasi sinkronus dan kapan cukup mengandalkan komunikasi asinkronus.
  2. Memanfaatkan teknologi pendukung. Penggunaan platform seperti Slack, Microsoft Teams, Notion, dan Google Drive dapat membantu mengelola komunikasi lebih efisien.
  3. Menghindari komunikasi berlebihan. Batasi jumlah rapat untuk mencegah kelelahan digital (Zoom fatigue) dan sediakan opsi komunikasi alternatif yang lebih fleksibel.
  4. Menetapkan kebijakan komunikasi yang jelas. Misalnya, pertemuan mingguan dilakukan secara sinkronus, sementara pembaruan harian cukup melalui komunikasi asinkronus.

Di era kerja hybrid, tidak ada satu metode komunikasi yang cocok untuk semua situasi. Keseimbangan antara komunikasi sinkronus dan asinkronus menjadi kunci dalam meningkatkan produktivitas dan kenyamanan kerja. Dengan strategi yang tepat, tim dapat bekerja lebih efisien tanpa terbebani oleh komunikasi yang berlebihan. Saatnya menerapkan strategi komunikasi yang lebih cerdas agar kolaborasi semakin optimal!***

 

Kania Syifa Maulida,                                                                                                    Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Menjaga Alam, Merangkul Manusia: Ekowisata Indonesia Lebih Dari Sekedar Tempat Bertamasya

0

Bogordaily.net – Bagi Dyah Prabandari, SP, M.Si, ekowisata bukan sekadar perjalanan menikmati keindahan alam, tetapi juga ruang bagi pemberdayaan masyarakat dan inklusivitas. Sebagai akademisi dan peneliti, ia telah menghabiskan bertahun-tahun mendalami bagaimana ekowisata dapat berkembang tanpa meninggalkan aspek sosial dan lingkungan.

Dari Sosial Ekonomi ke Ekowisata

Lahir di Banyuwangi pada 9 September 1977, Dyah menempuh pendidikan sarjana di Institut Pertanian Bogor (IPB), mengambil jurusan Sosial Ekonomi Pertanian yang kini dikenal sebagai Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM). Ketertarikannya terhadap interaksi sosial dan pembangunan masyarakat mendorongnya untuk melanjutkan studi magister di bidang Manajemen Ekowisata dan Jasa Lingkungan di Fakultas Kehutanan IPB.

Meskipun berasal dari disiplin sosial ekonomi, Dyah melihat ekowisata sebagai bidang yang luas dan multidisiplin. Ia tertarik pada bagaimana ekowisata tidak hanya menyangkut aspek lingkungan, tetapi juga ekonomi, budaya, serta pengalaman pengunjung. Baginya, pendekatan sosial menjadi kunci agar masyarakat dapat berperan aktif dalam mengelola wisata berbasis lingkungan.

Mengajar dan Meneliti Ekowisata Inklusif

Sebagai dosen di IPB University, Dyah Prabandari telah menekuni dunia akademik selama bertahun-tahun, memulai kariernya sebagai asisten dosen sebelum akhirnya menjadi tenaga pengajar tetap. Selain mengajar, ia juga aktif dalam berbagai penelitian dan proyek akademik di bidang ekowisata, salah satunya melalui program Dosen Pulang Kampung: Implementasi Permainan Rekreasi Virtual Pada Lansia Dalam Mencegah Demensia (2024).

Sesuai dengan namanya, Dyah bersama beberapa dosen ekowisata IPB, berkontribusi dalam penelitian yang berkaitan dengan rekreasi bagi kelompok lansia, tepatnya di Panti Sosial Wredha Budi Pertiwi, Kota Bandung, Jawa Barat. Program ini bertujuan untuk membantu mencegah demensia melalui berbagai aktivitas kognitif. Dalam kegiatan ini, lansia diajak untuk mengikuti virtual tour, permainan ingatan, serta aktivitas motorik yang dirancang untuk merangsang daya pikir dan meningkatkan kesejahteraan mereka.

Tantangan Ekowisata di Indonesia

Dalam pandangan Dyah, perkembangan ekowisata di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam hal fasilitas bagi penyandang disabilitas. Minimnya aksesibilitas fisik, informasi dalam format braille atau audio untuk tunanetra, serta petunjuk visual yang lebih ramah masih menjadi hambatan bagi wisatawan berkebutuhan khusus.

Ia menekankan bahwa kesadaran dan komitmen pengelola wisata sangat dibutuhkan untuk menciptakan destinasi yang lebih inklusif. Menurutnya, ekowisata yang ramah bagi semua kalangan tidak hanya akan meningkatkan pengalaman wisata, tetapi juga memperluas jangkauan wisatawan.

Misi ke Depan: Mewujudkan Ekowisata yang Lebih Ramah dan Berkelanjutan

Ke depan, Dyah berharap dapat terus berkontribusi dalam dunia akademik dan penelitian di bidang ekowisata. Fokusnya tidak hanya pada pengembangan destinasi wisata, tetapi juga bagaimana wisata bisa menjadi lebih inklusif bagi semua orang, termasuk lansia dan penyandang disabilitas.

Melalui riset dan kolaborasi yang lebih luas, ia ingin melihat lebih banyak destinasi di Indonesia yang menyediakan fasilitas ramah bagi kelompok berkebutuhan khusus. Mulai dari jalur khusus, ruang baca braille, hingga sistem informasi audio-visual yang mendukung pengalaman wisata yang lebih nyaman dan aman.

“Ekowisata itu bukan hanya tempat wisata dengan alam saja, tetapi harus bisa memberdayakan sumber daya manusia yang ada di daerah tersebut dan menciptakan pengalaman wisata yang inklusif bagi semua kalangan,” tutupnya.***

 

Michelia Aisha Rangkuti, Mahasiswa Sekolah Vokasi IPB

Ketika Transportasi Publik Tak Lagi Milik Semua Orang

0

Oleh: Michelia Aisha Rangkuti, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

PT KAI Commuter baru saja mengumumkan kebijakan drastis mereka untuk menutup seluruh loket tiket di stasiun dan sepenuhnya beralih ke sistem pembayaran digital berbasis QRIS. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya transformasi digital guna meningkatkan efisiensi, mempercepat layanan, dan memberikan kenyamanan lebih bagi penumpang. Namun, di balik janji kemudahan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah kebijakan ini benar-benar mengakomodasi kebutuhan semua pengguna? Atau justru berisiko menimbulkan ketimpangan akses bagi masyarakat yang belum siap dengan digitalisasi penuh dalam transportasi umum?

Kemajuan Teknologi Seharusnya Tidak Mengorbankan Kelompok Rentan

Dalam era digital, inovasi dan teknologi memang menjadi kebutuhan yang tak terelakkan. Namun, kemajuan seharusnya tidak menghilangkan layanan konvensional yang masih dibutuhkan oleh sebagian masyarakat. Mengedepankan teknologi bukan berarti menghapus opsi yang sudah ada, melainkan harus menciptakan ekosistem yang lebih inklusif, di mana teknologi dan metode lama dapat berjalan beriringan serta saling melengkapi.

Menghapus loket tiket di stasiun berpotensi menyulitkan berbagai kelompok masyarakat, seperti lansia yang tidak familiar dengan teknologi, masyarakat ekonomi ke bawah yang tidak memiliki smartphone, serta anak-anak sekolah yang belum memiliki perangkat pribadi. Lalu, bagaimana dengan wisatawan asing atau masyarakat dari daerah terpencil yang masih terbiasa dengan pembayaran tunai? Transportasi umum seharusnya menjadi alat mobilitas bagi semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali, bukan hanya mereka yang melek digital dan memiliki akses teknologi.

Digitalisasi atau Pengurangan Biaya Operasional?

Kebijakan ini juga menimbulkan prasangka  bahwa alasan sebenarnya bukan hanya transformasi digital, tetapi juga penghematan anggaran. Dengan menutup loket tiket, PT KAI Commuter dapat memangkas biaya operasional dengan mengurangi jumlah pegawai yang harus digaji. Ini mungkin tampak efisien dari segi bisnis, tetapi apakah keputusan ini mempertimbangkan dampaknya terhadap kesejahteraan pegawai dan kenyamanan penumpang?

Tak hanya itu, muncul beberapa opini dari pihak yang berspekulasi bahwa langkah ini berkaitan dengan kebijakan pemerintah dalam mengalihkan anggaran untuk program lain, seperti program makan siang gratis yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo. Jika benar, maka kebijakan ini berisiko menjadikan transportasi umum sebagai korban pemangkasan anggaran tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya terhadap pelayanan publik.

Memadukan Digitalisasi dengan Aksesibilitas

Jika PT KAI Commuter benar-benar ingin melakukan transformasi digital yang berkelanjutan dan inklusif, mereka seharusnya mempertimbangkan alternatif yang lebih ramah bagi semua pengguna. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah menyediakan mesin tiket yang menerima pembayaran tunai maupun digital. Dengan cara ini, transisi menuju digitalisasi tetap dapat berjalan tanpa langsung menghilangkan opsi pembelian tiket secara konvensional.

Selain itu, peran petugas stasiun juga harus ditingkatkan untuk membantu mereka yang belum terbiasa dengan sistem digital. Jangan sampai kebijakan ini justru membuat PT KAI lepas tangan dari tanggung jawabnya dalam memberikan layanan transportasi yang inklusif. Jika alasan utama penghapusan loket adalah untuk menghindari pengeluaran biaya pegawai, mengapa tidak mengalokasikan anggaran untuk pengadaan mesin tiket dan melatih petugas stasiun agar bisa membantu masyarakat yang kesulitan menggunakan sistem baru ini?

Serba Digital, bukan Serba Sulit!

Transportasi umum bukan sekadar alat mobilitas, tetapi juga sarana yang mencerminkan inklusivitas dan keadilan sosial. Kebijakan digitalisasi yang dilakukan secara tergesa-gesa tanpa mempertimbangkan kelompok yang kurang mampu akan menciptakan kesenjangan baru dalam akses transportasi. Inovasi memang penting, tetapi harus diiringi dengan perencanaan yang matang serta mempertimbangkan seluruh elemen masyarakat.

PT KAI Commuter perlu memahami bahwa tidak semua pengguna siap dengan transisi ini. Digitalisasi seharusnya memberikan kemudahan, bukan menambah hambatan bagi kelompok masyarakat tertentu. Jika benar kebijakan ini dibuat semata-mata demi penghematan anggaran atau alasan politis, maka publik berhak mempertanyakan siapa yang sebenarnya diuntungkan dari perubahan ini. Transportasi umum harus tetap menjadi fasilitas yang bisa digunakan oleh semua orang, tanpa terkecuali.***