Sunday, 12 April 2026
Home Blog Page 785

Mengapa Harga BBM Mahal? Tata Kelola Pertamina dan Pengawasannya Dipertanyakan

0

Bogordaily.net – Beberapa pekan terakhir, masyarakat kembali dihadapkan pada kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Kenaikan ini menambah beban hidup, terutama bagi kelompok berpenghasilan rendah yang bergantung pada transportasi publik dan kendaraan pribadi untuk mobilitas sehari-hari.

Di tengah kondisi ekonomi yang menantang, kenaikan harga BBM sering kali dikaitkan dengan faktor eksternal, seperti fluktuasi harga minyak dunia, biaya impor, dan nilai tukar rupiah. Namun, persoalan ini juga memunculkan pertanyaan lain: apakah tata kelola energi di Indonesia telah berjalan dengan baik?

Kecurigaan publik semakin menguat ketika Kejaksaan Agung mengungkap kasus dugaan korupsi dalam pengadaan minyak mentah dan produk kilang yang melibatkan Pertamina dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Dengan kerugian negara yang ditaksir mencapai Rp 193,7 triliun, kasus ini menjadi salah satu skandal keuangan terbesar di sektor energi dalam beberapa tahun terakhir.

Dugaan Korupsi dan Tata Kelola Pertamina
Dalam kasus ini, sejumlah pejabat Pertamina dan pihak terkait diduga melakukan berbagai penyimpangan dalam proses pengadaan minyak. Salah satu modus yang diungkap adalah praktik blending, yaitu mencampur minyak dengan kualitas lebih rendah untuk dijual sebagai produk dengan harga lebih tinggi.

Kejaksaan Agung menyebut bahwa praktik ini tidak hanya merugikan negara, tetapi juga berpotensi mempengaruhi kualitas BBM yang dikonsumsi masyarakat. Selain itu, terdapat dugaan markup dalam kontrak pengadaan minyak mentah yang menyebabkan lonjakan biaya yang tidak perlu, yang pada akhirnya dapat berkontribusi terhadap kenaikan harga BBM di pasaran.

Dalam banyak kasus korupsi di sektor energi, transparansi sering kali menjadi tantangan utama. Proses pengadaan minyak dan distribusinya masih kurang terbuka bagi publik, sehingga ruang untuk penyalahgunaan tetap terbuka.

Dampak bagi Masyarakat dan Kepercayaan Publik
Ketika harga BBM naik, dampaknya tidak hanya terasa di sektor transportasi. Biaya produksi dan distribusi barang ikut meningkat, yang berujung pada kenaikan harga kebutuhan pokok. Masyarakat yang sudah terbebani oleh inflasi kini harus beradaptasi dengan kenaikan biaya hidup yang semakin tinggi.

Lebih dari itu, kasus ini juga memperburuk kepercayaan publik terhadap pengelolaan sektor energi nasional. Banyak pihak mempertanyakan apakah kebijakan harga BBM benar-benar berdasarkan kondisi pasar global, atau justru dipengaruhi oleh kepentingan bisnis tertentu.

Di beberapa negara, tata kelola energi lebih transparan dengan adanya mekanisme pengawasan independen yang kuat. Indonesia seharusnya belajar dari model ini untuk memastikan bahwa kebijakan energi tidak hanya menguntungkan segelintir pihak, tetapi juga berpihak pada kepentingan rakyat.

Reformasi Tata Kelola Energi
Kasus ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk melakukan reformasi menyeluruh dalam pengelolaan energi. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang:
1. Meningkatkan transparansi pengadaan minyak mentah dan produk kilang, dengan memberikan akses lebih luas bagi publik dan lembaga pengawas untuk meninjau kontrak dan kebijakan harga.
2. Memperkuat pengawasan internal dan eksternal di Pertamina, agar mekanisme audit dan evaluasi dapat berjalan lebih efektif.
3. Mendorong transisi energi yang lebih berkelanjutan, dengan mempercepat pengembangan sumber energi alternatif yang dapat mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah.
4. Menegakkan hukum secara tegas terhadap pelaku korupsi di sektor energi, untuk memberikan efek jera dan mencegah terulangnya kasus serupa.

Dalam beberapa kasus besar, tekanan publik terbukti dapat mempercepat proses penegakan hukum dan mendorong perubahan kebijakan. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat dalam mengawal kasus ini menjadi sangat penting.

Perubahan Harus Dimulai Sekarang
Kasus dugaan korupsi di Pertamina bukan hanya tentang penyimpangan keuangan, tetapi juga tentang bagaimana sumber daya energi nasional dikelola. Jika permasalahan ini tidak ditangani dengan serius, maka kepercayaan publik terhadap kebijakan energi akan semakin menurun, dan masyarakat akan terus menjadi korban dari tata kelola yang tidak transparan.

Langkah reformasi harus segera dilakukan, tidak hanya untuk menutup celah penyimpangan, tetapi juga untuk memastikan bahwa kebijakan energi yang diambil benar-benar berpihak kepada rakyat. Jika tidak, maka kenaikan harga BBM hanya akan menjadi siklus yang terus berulang, dengan rakyat yang selalu menjadi pihak yang paling dirugikan.

Indrajid
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, IPB University

 

Prof. Dr. Amiruddin Saleh: Jejak Ilmu, Dedikasi, dan Warisan Perjuangan Muhammad

0

Bogordaily.net – Prof. Dr. Amiruddin Saleh adalah sosok akademisi sekaligus praktisi komunikasi yang telah menorehkan jejak panjang dan dalam di dunia pendidikan tinggi Indonesia.

Sebagai Guru Besar Ilmu Komunikasi di IPB University, beliau telah menjadi mercusuar bagi para mahasiswa dan rekan sejawat yang menekuni bidang komunikasi kelompok, komunikasi pembangunan, media digital, hingga etika komunikasi dan konseling.

Amiruddin Saleh, tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai integritas, kerja keras, dan kemanusiaan dalam setiap interaksinya.

Kiprah Prof. Amiruddin tak hanya berhenti di ruang kelas. Beliau aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan institusi, dan saat ini mengemban amanah sebagai Kepala Pusat Pengembangan Sumberdaya Manusia (P2SDM) di bawah Lembaga Kawasan Pengembangan Edukasi (LKPE) IPB University.

Dalam kapasitas ini, beliau menjadi penggerak utama program-program pelatihan, workshop, hingga pengabdian masyarakat yang berbasis pada pendekatan Development Communication serta berorientasi pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Salah satu kekuatan utama Prof. Amiruddin terletak pada kemampuannya menjembatani dunia akademik dan praktik.

Ia dikenal sebagai figur yang memahami pentingnya komunikasi dalam proses pemberdayaan masyarakat. Dengan pendekatan komunikasi interpersonal dan komunikasi kelompok yang ia kembangkan, Prof.

Amiruddin berupaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya teoritis, tetapi juga kontekstual dan membumi.

Ia percaya bahwa komunikasi bukan hanya alat untuk menyampaikan pesan, melainkan medium untuk membangun kesepahaman, kepercayaan, dan transformasi sosial.

Sepanjang kariernya, beliau telah membimbing mahasiswa dari berbagai jenjang pendidikan—mulai dari Diploma IV Komunikasi Digital dan Media Terapan, program Sarjana (S1), Magister (S2), hingga Doktoral (S3).

Tak terhitung berapa banyak mahasiswa yang akhirnya menemukan arah hidup dan karier mereka berkat bimbingan dan keteladanan beliau. Di tengah kesibukannya, beliau juga tetap produktif menulis dan meneliti.

Berdasarkan data Google Scholar, karya ilmiah Prof. Amiruddin telah dikutip sebanyak 1.451 kali, dengan indeks-h sebesar 17 dan indeks-i10 sebesar 44.

Catatan ini tidak hanya menunjukkan luasnya pengaruh akademis beliau, tetapi juga mencerminkan kualitas dan konsistensi pemikirannya dalam bidang komunikasi.

Namun, yang membuat beliau dihormati bukan hanya prestasi akademik atau jabatan strukturalnya, melainkan kepribadiannya yang rendah hati, tegas, dan mengayomi.

Ia tidak pernah menempatkan dirinya lebih tinggi dari orang lain, bahkan ketika berhadapan dengan mahasiswa tingkat awal.

Dalam banyak kesempatan, ia sering mengatakan bahwa “ilmu yang tidak memberi manfaat adalah ilmu yang belum selesai.” Prinsip inilah yang terus ia pegang dalam menjalankan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Gaya komunikasinya yang lugas, logis, namun tetap hangat dan menyentuh menjadikan setiap pertemuan dengannya terasa bermakna.

Ia tidak berbicara untuk didengar, tapi untuk dipahami. Dalam banyak forum, beliau mendorong mahasiswa untuk berani berpikir kritis, terbuka terhadap perbedaan, dan tidak pernah lelah mencari jawaban dari pertanyaan- pertanyaan besar dalam hidup.

Ia percaya bahwa keberhasilan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa tinggi nilai akademik yang diraih, tetapi sejauh mana ilmu itu bisa digunakan untuk kebaikan.

Sebagai pemimpin, Prof. Amiruddin juga dikenal sebagai sosok yang visioner namun membumi. Ia mampu memetakan tantangan zaman dan meresponsnya dengan program- program yang inovatif. Dalam pengembangan sumber daya manusia, beliau menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin, pembelajaran sepanjang hayat, dan penerapan teknologi digital yang inklusif.

Kini, sebagai salah satu tokoh utama dalam pengembangan komunikasi pembangunan di Indonesia, Prof. Amiruddin Saleh tidak hanya meninggalkan jejak dalam bentuk karya ilmiah, tetapi juga dalam bentuk nilai-nilai kehidupan: integritas, ketekunan, dan kemauan untuk memberi manfaat bagi sesama.

Beliau ingin dikenang bukan karena gelar atau statistik pencapaiannya, tetapi karena satu hal yang sederhana namun bermakna: beliau selalu berusaha menjadi manusia yang baik. Dan dalam kesederhanaan itu, terpatri kebesaran yang sejati.

Dalam dunia yang terus bergerak cepat dan penuh perubahan, kehadiran beliau mengingatkan kita bahwa pendidikan sejati adalah tentang keberanian untuk peduli, keikhlasan untuk membimbing, dan ketulusan untuk memberi. Itulah yang membuat Prof. Amiruddin bukan sekadar Guru Besar, tapi juga panutan dan pembentuk zaman.***

Umar Budiman
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB

 

Dampak TikTok terhadap Psikologi Audiens di Indonesia: Ancaman FOMO dan Kesehatan Mental

0

Bogordaily.net – Riset dari Indonesia Indicator (I2) menunjukkan bahwa TikTok adalah platform media sosial dengan jumlah pengguna terbesar di Indonesia pada tahun 2024, mencapai 137 juta pengguna. Dengan total 107.998.788 unggahan dan 17.329.380.404 tanggapan, TikTok mengungguli Instagram, Facebook, dan Twitter dalam tingkat interaksi (engagement).

Namun, di balik popularitasnya, TikTok membawa dampak psikologis yang signifikan bagi penggunanya, terutama dalam bentuk Fear of Missing Out (FOMO) dan kecanduan media sosial. Dengan rata-rata waktu penggunaan mencapai 38 jam 26 menit per bulan per pengguna, banyak pengguna yang mengalami penurunan kesehatan mental, kecemasan, hingga gangguan tidur.

FOMO: Ketakutan Ketinggalan Tren dan Tekanan Sosial di TikTok
Menurut artikel Halodoc, FOMO adalah kondisi ketika seseorang merasa khawatir atau cemas karena takut melewatkan pengalaman sosial yang sedang dinikmati orang lain. Di TikTok, fenomena ini dipicu oleh:

Tren yang Berubah Cepat – Pengguna merasa harus selalu mengikuti tantangan baru, filter unik, atau gaya hidup yang viral agar tetap “eksis”.

Tekanan Sosial dan Validasi Digital – Banyak pengguna mengukur harga diri berdasarkan jumlah like, komentar, dan share, sehingga mereka terdorong untuk terus aktif.

Algoritma TikTok yang Menciptakan Siklus Konsumsi Tanpa Henti – Sistem rekomendasi TikTok membuat pengguna terus menggulir video tanpa sadar waktu.

Menurut Halodoc, dampak negatif FOMO terhadap kesehatan mental meliputi:
1. Kecemasan dan Stres – Ketakutan tertinggal tren membuat pengguna mengalami gangguan tidur dan bahkan depresi.
2. Perasaan Tidak Puas – Membandingkan diri dengan kehidupan di media sosial dapat menurunkan kepercayaan diri.
3. Gangguan Produktivitas – Pengguna sering terdistraksi oleh TikTok, mengurangi fokus di sekolah atau tempat kerja.
4. Perilaku Berisiko – FOMO bisa mendorong pengguna untuk mencoba tren berbahaya hanya demi validasi sosial.

Kecanduan TikTok dan Dampak Psikologis yang Mengkhawatirkan
Seiring dengan meningkatnya jumlah pengguna TikTok di Indonesia, fenomena kecanduan media sosial juga semakin banyak terjadi.

TikTok, dengan algoritma berbasis rekomendasi, membuat penggunanya terus menerus menggulir video tanpa menyadari berapa banyak waktu yang telah dihabiskan.

Kebiasaan ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental, interaksi sosial, dan kesejahteraan psikologis penggunanya.

Salah satu dampak yang paling umum terjadi adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. TikTok menghadirkan konten dari berbagai kalangan, mulai dari selebritas, influencer, hingga orang biasa yang tiba-tiba viral.

Tanpa disadari, pengguna sering merasa bahwa kehidupan orang lain terlihat lebih menarik, lebih sukses, atau lebih bahagia dibandingkan dengan kehidupan mereka sendiri.

Hal ini memicu rasa tidak puas terhadap diri sendiri, menurunkan kepercayaan diri, dan bahkan dapat menyebabkan stres serta kecemasan.

Selain itu, kecanduan TikTok juga berkontribusi terhadap kesepian sosial. Meskipun platform ini memungkinkan pengguna untuk berinteraksi secara virtual melalui komentar, likes, dan fitur live streaming, interaksi digital ini tidak dapat sepenuhnya menggantikan hubungan sosial di dunia nyata.

Banyak pengguna yang merasa memiliki banyak teman di media sosial, tetapi justru mengalami isolasi sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka mungkin menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar daripada berkomunikasi langsung dengan keluarga atau teman-teman mereka, yang pada akhirnya memperburuk rasa kesepian dan keterasingan.

Tidak hanya itu, dampak psikologis dari kecanduan TikTok juga berujung pada penurunan kesehatan mental secara keseluruhan.

Penggunaan TikTok yang berlebihan sering kali dikaitkan dengan perasaan bersalah dan penyesalan, terutama ketika pengguna menyadari bahwa mereka telah menghabiskan terlalu banyak waktu tanpa melakukan hal yang produktif.

Hal ini dapat menyebabkan stres berkepanjangan, mengganggu produktivitas, dan memperburuk kondisi mental pengguna.

Dalam jangka panjang, kecanduan media sosial semacam ini bahkan dapat berkontribusi terhadap gangguan tidur, kelelahan emosional, dan peningkatan risiko depresi.
Media Halodoc, pemaparan oleh dr. Rizal Fadli (2023) yaitu bahwa pengguna yang terlalu lama menghabiskan waktu di media sosial cenderung mengalami suasana hati yang buruk dan gangguan tidur.

Algoritma TikTok yang terus-menerus menyajikan konten menarik membuat pengguna sulit untuk berhenti, bahkan ketika mereka sudah merasa lelah.

Banyak orang yang akhirnya tidur larut malam hanya karena ingin menonton “satu video lagi,” yang kemudian berlanjut menjadi puluhan hingga ratusan video tanpa disadari.

Siklus ini menyebabkan kurangnya istirahat yang berkualitas, meningkatkan tingkat stres, serta menurunkan daya konsentrasi di keesokan harinya.

Dengan berbagai dampak negatif ini, penting bagi pengguna untuk mulai mengatur kebiasaan mereka dalam menggunakan TikTok. Kesadaran akan batasan waktu penggunaan, membatasi konsumsi konten yang memicu kecemasan, dan lebih fokus pada interaksi sosial di dunia nyata dapat membantu mengurangi dampak buruk kecanduan media sosial terhadap kesehatan mental.

Solusi untuk Mengatasi Dampak Negatif TikTok dan FOMO
1. Meningkatkan Kesadaran Digital dan Penggunaan yang Sehat
Salah satu langkah utama dalam mengurangi dampak negatif TikTok terhadap kesehatan mental adalah dengan meningkatkan kesadaran digital dan membangun kebiasaan penggunaan yang lebih sehat.

Berdasarkan laporan Indonesia Indicator (I2), rata-rata pengguna TikTok di Indonesia menghabiskan 38 jam 26 menit per bulan untuk mengonsumsi konten di platform ini.

Durasi yang panjang ini dapat berdampak negatif jika tidak dikontrol dengan baik. Oleh karena itu, pengguna perlu memanfaatkan fitur seperti “Digital Wellbeing” yang disediakan oleh TikTok untuk membatasi waktu penggunaan harian.

Dengan menerapkan batas waktu yang jelas, pengguna dapat menghindari konsumsi konten yang berlebihan dan lebih fokus pada aktivitas lain yang lebih produktif.

Selain itu, pengguna juga perlu lebih selektif dalam mengonsumsi konten agar tidak terjebak dalam konsumsi pasif yang hanya membuang waktu tanpa memberikan manfaat.

Menghindari konten yang memicu kecemasan atau membandingkan diri dengan orang lain bisa menjadi langkah awal dalam menciptakan pengalaman digital yang lebih positif.

Sebagai gantinya, memilih konten edukatif seperti keterampilan baru, pengembangan diri, dan informasi bermanfaat dapat membantu meningkatkan kesejahteraan psikologis.

Di samping itu, menyeimbangkan aktivitas online dengan kegiatan offline seperti olahraga, membaca, dan berinteraksi secara langsung dengan orang di sekitar juga menjadi cara efektif untuk mengurangi ketergantungan pada media sosial.

Studi dari We Are Social (2024) menunjukkan bahwa terlalu banyak waktu di media sosial dapat menurunkan kepuasan hidup, sehingga keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata harus menjadi prioritas utama.

2. Peran Keluarga dan Pendidikan dalam Mengurangi FOMO
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang semakin marak di era digital menjadi salah satu dampak negatif dari penggunaan media sosial, termasuk TikTok.

Banyak pengguna merasa tertinggal jika tidak mengikuti tren yang sedang viral, sehingga mereka terus-menerus memantau media sosial tanpa henti.

Untuk mengatasi hal ini, literasi digital harus diajarkan sejak dini melalui pendidikan di sekolah dan keluarga.

Keluarga dan institusi pendidikan perlu mengedukasi generasi muda tentang bagaimana media sosial dapat memengaruhi psikologi mereka.

Menurut Halodoc (2023), FOMO dapat menyebabkan kecemasan, stres, dan bahkan menurunkan kualitas hidup seseorang jika tidak dikendalikan dengan baik.

Oleh karena itu, memahami bahwa media sosial sering kali hanya menampilkan “kehidupan yang disaring” dan tidak selalu mencerminkan realitas menjadi langkah penting dalam mengatasi perasaan kurang puas terhadap kehidupan sendiri.

Selain edukasi digital, pendampingan orang tua dalam penggunaan media sosial anak juga menjadi faktor krusial dalam mencegah dampak buruk TikTok.

Orang tua perlu terlibat aktif dalam memahami bagaimana anak mereka menggunakan platform ini dan mengajarkan bahwa tidak semua yang ditampilkan di TikTok adalah gambaran akurat dari kehidupan nyata.

Misalnya, banyak konten yang dikemas secara estetis dan menarik, tetapi sebenarnya hanya menampilkan potongan kecil dari kehidupan seseorang.

Dengan adanya komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak, serta bimbingan yang tepat, anak-anak dapat lebih bijak dalam menggunakan TikTok tanpa terjebak dalam tekanan sosial yang berlebihan.

3. Kebijakan dan Regulasi untuk Mengontrol Pengaruh TikTok
Selain upaya individu dan keluarga, kebijakan dan regulasi yang lebih ketat dari pemerintah dan platform media sosial itu sendiri sangat diperlukan untuk mengurangi dampak negatif TikTok.

Pemerintah dan TikTok Indonesia harus lebih aktif dalam menerapkan regulasi terkait konten yang dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental. Menurut laporan Indonesia Indicator (2024), TikTok bukan hanya digunakan sebagai platform hiburan, tetapi juga menjadi ruang diskusi publik yang dapat memengaruhi opini masyarakat, termasuk dalam politik dan tren sosial.

Oleh karena itu, regulasi terhadap konten viral, informasi menyesatkan, serta tren yang berpotensi membahayakan harus semakin diperketat agar pengguna, terutama generasi muda, tidak terpengaruh oleh konten negatif yang dapat merusak pola pikir mereka.

Selain regulasi, pemerintah dan platform media sosial juga perlu menjalankan kampanye kesadaran digital untuk meningkatkan literasi masyarakat dalam menggunakan media sosial secara sehat.

Kampanye ini dapat berupa edukasi mengenai dampak psikologis penggunaan TikTok secara berlebihan, pentingnya keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata, serta cara mengelola FOMO agar tidak berdampak buruk pada kesehatan mental.

Studi dari We Are Social (2024) mencatat bahwa sentimen negatif di media sosial dapat menimbulkan efek domino terhadap kesejahteraan psikologis pengguna.

Oleh karena itu, dengan adanya kebijakan yang lebih ketat dan edukasi yang lebih luas, masyarakat diharapkan dapat menggunakan TikTok dengan lebih bijak tanpa mengorbankan kesehatan mental mereka.

TikTok telah menjadi platform media sosial terpopuler di Indonesia, tetapi juga membawa dampak psikologis yang serius bagi penggunanya. Fenomena FOMO dan kecanduan TikTok semakin meningkat, menyebabkan kecemasan, gangguan tidur, dan menurunkan produktivitas pengguna.

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan kesadaran digital, peran keluarga dalam mendidik anak-anak, serta kebijakan yang lebih ketat dari pemerintah dan platform media sosial itu sendiri.

Masyarakat Indonesia harus mulai menggunakan TikTok secara lebih sehat, agar manfaatnya bisa dinikmati tanpa mengorbankan kesehatan mental.***

Indrajid, Mahasiswa IPB University

Perjalanan Siti Mawadah, Dosen IPB dari Industri Pakan ke Dunia Pendidikan

0

Bogordaily.net – Lahir di Jakarta pada 17 November 1988, Siti Mawadah tumbuh dalam keluarga kecil di Bekasi bersama kedua orang tuanya dan seorang saudara perempuan. Minatnya terhadap dunia peternakan muncul sejak kecil, ketika sang ayah membelikannya sepasang ayam kate.

Dari situlah ketertarikannya terhadap hewan ternak berkembang, hingga akhirnya membawa ia menempuh pendidikan di bidang Nutrisi dan Teknologi Pakan (NTP) di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Meskipun IPB merupakan pilihan kedua saat seleksi perguruan tinggi, keputusan ini mengantarkannya pada perjalanan panjang dalam dunia peternakan dan industri pakan. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, ia langsung terjun ke industri sebagai Quality Control di Charoen Pokphand Indonesia, salah satu perusahaan pakan ternak terbesar di Indonesia.

Selama lima tahun, ia bekerja di bidang pengawasan kualitas bahan baku, turun langsung ke lapangan, dari truk pengangkut hingga kapal laut. Pengalaman ini memberinya wawasan mendalam tentang kebutuhan industri terhadap tenaga kerja yang siap pakai.

Namun, kehidupan membawanya pada perubahan besar. Setelah menikah dengan sang suami, ia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya demi membangun keluarga di Bogor. Keputusan ini tidak mudah, tetapi justru membukakan jalan baru.

Dengan dorongan suami, ia melanjutkan studi magister di bidang yang sama, Nutrisi Pakan, di IPB. Berkat hibah penelitian dari Sekolah Vokasi, ia dapat menyelesaikan magisternya dan memantapkan diri dalam dunia akademik.

Setelah beberapa tahun fokus menjadi ibu rumah tangga, kesempatan baru datang di tahun 2023 ketika ia berhasil lolos seleksi CPNS sebagai dosen di Sekolah Vokasi IPB, tepatnya di Program Studi Teknologi dan Manajemen Ternak (TNK). Sejak Agustus 2024, ia mulai mengajar dan berbagi pengalaman dari dunia industri kepada mahasiswa.

Menurutnya, tantangan terbesar sebagai pendidik adalah menjembatani kesenjangan antara keilmuan di kampus dengan kebutuhan industri. Ia ingin memastikan mahasiswa TNK tidak hanya memiliki pengetahuan teoretis, tetapi juga keterampilan praktis agar siap bersaing di dunia kerja.

Bagi Siti Mawadah, sukses bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga bagaimana orang-orang di sekitarnya ikut berkembang. Ia berprinsip bahwa kegagalan adalah bagian dari proses, selama seseorang terus mencoba dan tidak berhenti berusaha. Hal ini ia buktikan saat mencoba berkali-kali melamar sebagai CPNS sebelum akhirnya diterima di kesempatan terakhir pada usia maksimal 35 tahun.

Salah satu cita-citanya yang belum terwujud adalah bersekolah di luar negeri. Meskipun sempat mencoba mendaftar di berbagai universitas, kesempatan itu belum berpihak padanya. Namun, ia tetap berusaha meningkatkan kapasitas diri, terutama dalam bahasa Inggris, demi mewujudkan impian tersebut.

Di dunia akademik, ia melihat masih banyak mahasiswa yang ragu menyuarakan ide-ide brilian mereka karena takut menghadapi dosen atau merasa tidak percaya diri.

Ia berharap mahasiswa lebih berani berpikir out of the box dan tidak takut menyampaikan gagasan. Selain itu, ia ingin lulusan Sekolah Vokasi tidak hanya siap bekerja, tetapi juga memiliki jiwa wirausaha agar mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

Dengan perjalanan hidup yang penuh tantangan dan keputusan besar, Siti Mawadah terus berkontribusi dalam dunia pendidikan, membentuk generasi baru yang siap menghadapi industri peternakan dan perunggasan di Indonesia.***

Muhammad Raihan Ath Thaariq

 

Yufendira Dharmasanti: Mengabdi di Dunia Pembenihan Ikan untuk Masa Depan Perikanan Indonesia

0

Bogordaily.net – Dedikasi dalam dunia akademik tidak hanya sebatas menyampaikan ilmu di dalam kelas, tetapi juga bagaimana seorang pendidik mampu menginspirasi dan membentuk generasi baru yang siap menghadapi tantangan industri. Bagi Yufendira Dharmasanti, pendidikan bukan hanya sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi juga membangun pola pikir yang kritis dan inovatif dalam menghadapi perkembangan industri perikanan.

Sebagai Asisten Dosen di Program Studi Teknologi dan Manajemen Pembenihan Ikan (IKN), ia tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga sebagai penghubung antara ilmu akademik dan kebutuhan nyata di dunia perikanan.

Yufendira berasal dari Pacitan, Jawa Timur, daerah yang dikenal memiliki potensi perikanan cukup besar, terutama di sektor perikanan tangkap dan budidaya.

Ketertarikannya pada bidang perikanan sudah muncul sejak duduk di bangku SMP, ketika ia mulai mencari tahu lebih dalam mengenai dunia kelautan dan perikanan.

Kesadaran akan pentingnya sektor ini dalam mendukung ketahanan pangan dan ekonomi mendorongnya untuk memilih SMK Negeri 2 Pacitan dengan jurusan perikanan sebagai langkah awal perjalanan akademiknya.

Keputusan itu ternyata membawanya lebih dekat dengan impiannya untuk menempuh pendidikan di IPB University, salah satu institusi terkemuka di bidang pertanian dan perikanan di Indonesia.

Melalui jalur undangan, Yufendira diterima di Program Studi Teknologi dan Manajemen Pembenihan Ikan (IKN). Di sinilah ia mulai mendalami ilmu tentang pembenihan ikan, teknik budidaya yang efisien, serta pengelolaan ekosistem perairan yang berkelanjutan.

Tidak hanya berfokus pada aspek teknis, ia juga belajar mengenai dinamika industri perikanan, termasuk bagaimana rantai pasok dan pemasaran memainkan peran penting dalam menentukan keberhasilan usaha perikanan.

Semangat belajarnya yang tinggi membawanya pada kesempatan untuk menjadi Asisten Dosen setelah menyelesaikan pendidikannya di IKN. Ia pun melanjutkan studinya di Universitas Djuanda sambil tetapaktif membimbing mahasiswa di program studi yang telah membesarkan namanya.

Sebagai Asisten Dosen, Yufendira memiliki pendekatan yang unik dalam mengajar. Ia memahami bahwa mahasiswa saat ini hidup di era digital yang serba cepat, tetapi ia tetap meyakini bahwa ada nilai yang tidak bisa digantikan oleh teknologi, salah satunya adalah keterlibatan langsung dalam proses pembelajaran.

Oleh karena itu, selain menggunakan materi digital dan presentasi interaktif, ia juga tetap mempertahankan metode konvensional seperti menulis di papan tulis.

Menurutnya, menulis langsung di papan dapat membantu mahasiswa lebih fokus dan aktif mencatat, sehingga mereka tidak hanya sekadar melihat materi yang tersedia dalam bentuk digital, tetapi juga benar-benar memahami konsep yang disampaikan.
Selain itu, ia juga selalu berusaha menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif dan tidak kaku.

Ia menyisipkan bahasa yang lebih dekat dengan mahasiswa, mengemas materi yang kompleks dengan cara yang lebih sederhana, dan bahkan sesekali menyelipkan humor agar suasana kelas menjadi lebih nyaman.

Baginya, pengajaran yang efektif bukan hanya tentang menyampaikan materi, tetapi juga tentang bagaimana membuat mahasiswa merasa terlibat dan tertarik untuk memahami lebih dalam.

Dalam dunia akademik perikanan, Program Studi IKN memiliki keunggulan yang membedakannya dari program studi perikanan lainnya.

Mahasiswa di IKN tidak hanya mendapatkan pemahaman teoretis mengenai pembenihan ikan, tetapi juga dibekali dengan keterampilan praktis dan wawasan bisnis yang komprehensif.

Mereka diajarkan untuk memahami bagaimana industri perikanan bekerja dari hulu ke hilir—mulai dari teknik pembenihan, manajemen pakan, hingga strategi pemasaran.

Dengan sistem pembelajaran berbasis praktik, kolaborasi dengan mitra industri, serta penelitian yang aplikatif, lulusan IKN siap terjun langsung ke dunia kerja, baik sebagai tenaga ahli, peneliti, maupun wirausahawan perikanan yang mandiri.

Namun, seiring dengan perkembangan program studi, ada tantangan yang masih harus dihadapi. Salah satunya adalah keterbatasan fasilitas laboratorium dan kolam budidaya yang harus dibagi dengan jumlah mahasiswa yang terus meningkat.

Yufendira Dharmasanti, melihat bahwa peningkatan jumlah mahasiswa setiap tahunnya harus diimbangi dengan peningkatan fasilitas dan infrastruktur agar proses pembelajaran tetap berjalan optimal.

Yufendira Dharmasanti, berharap ke depannya akan ada lebih banyak pengembangan dalam hal ini, baik dari segi kelengkapan alat praktikum maupun ketersediaan ruang belajar yang lebih memadai.

Selain aspek fasilitas, ia juga melihat bahwa perkembangan teknologi harus lebih dioptimalkan dalam sistem pembelajaran.

Dunia perikanan terus berkembang, dengan munculnya inovasi seperti sistem bioflok, resirkulasi akuakultur, hingga teknologi pengelolaan limbah perikanan yang lebih ramah lingkungan.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya integrasi teknologi dalam kurikulum agar mahasiswa tidak hanya menguasai metode konvensional, tetapi juga siap menghadapi tantangan industri modern yang semakin berbasis teknologi.

Masih banyak orang yang menganggap bahwa perikanan hanya berkaitan dengan menangkap ikan atau sekadar memancing.

Namun, bagi Yufendira, industri ini memiliki cakupan yang jauh lebih luas. Dari teknologi pembenihan hingga pengolahan hasil laut, sektor ini menyimpan peluang besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.

Bahkan, dengan berkembangnya sistem budidaya modern, keterbatasan lahan bukan lagi menjadi hambatan untuk meningkatkan produksi ikan secara efisien.

Konsep budidaya dalam ruang terbatas, seperti sistem akuaponik dan bioflok, kini menjadi tren baru yang membuka kesempatan bagi lebih banyak orang untuk terlibat dalam industri perikanan, bahkan tanpa harus memiliki lahan yang luas.

Sebagai seorang pendidik dan praktisi di bidang perikanan, Yufendira ingin menanamkan pemahaman bahwa industri ini bukan hanya tentang bagaimana membesarkan ikan, tetapi juga bagaimana menciptakan sistem yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.

Dengan semakin berkembangnya teknologi dan meningkatnya kebutuhan pangan berbasis perikanan, sektor ini akan menjadi salah satu pilar utama dalam ketahanan pangan nasional.

Ia ingin mahasiswa IKN tidak hanya menjadi lulusan yang memahami teknik budidaya, tetapi juga memiliki visi yang lebih luas tentang bagaimana perikanan dapat menjadi industri yang modern, efisien, dan ramah lingkungan.

Melalui perjalanan akademiknya, Yufendira Dharmasanti membuktikan bahwa ilmu yang ditekuni dengan sungguh-sungguh dapat membawa perubahan nyata.

Ia bukan hanya seorang pengajar, tetapi juga seorang inovator yang berperan dalam membangun ekosistem pembelajaran yang lebih baik bagi mahasiswa.

Dedikasi dan semangatnya menjadi bukti bahwa dunia perikanan memiliki masa depan yang cerah, dan peran akademisi dalam bidang ini sangatlah penting untuk mencetak generasi baru yang siap membawa industri perikanan Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi.

Baginya, pendidikan bukan sekadar tentang teori di dalam kelas, tetapi juga tentang bagaimana membentuk individu yang siap berkontribusi bagi masa depan industri yang mereka tekuni.***

Indrajid

Curug Cilember: Air Terjun Tujuh Tingkat yang Menyegarkan di Bogor

0

Bogordaily.net – Curug Cilember, salah satu destinasi wisata alam di Bogor, menawarkan pengalaman yang tak hanya menyegarkan tetapi juga penuh keunikan.

Terletak di kawasan Puncak yang terkenal dengan kesejukan udaranya, air terjun ini memiliki tujuh tingkatan yang masing-masing menyajikan panorama yang berbeda.

Dengan suasana yang masih alami dan beragam fasilitas pendukung, Curug Cilember menjadi tempat yang cocok untuk melepas penat.

Perjalanan Menuju Air Terjun
Setibanya di pintu masuk, udara sejuk langsung terasa, berpadu dengan aroma tanah basah dan rindangnya pepohonan pinus. Jalur menuju air terjun berupa jalan setapak yang cukup teduh, dikelilingi pohon-pohon tinggi yang menciptakan nuansa hutan yang asri.

Beberapa titik di jalur ini cukup menantang, dengan tanjakan curam dan akar pohon yang mencuat dari tanah, tetapi semua terbayar dengan keindahan yang tersaji di sepanjang perjalanan.

Di tengah perjalanan, terdapat jembatan kayu yang melintasi sungai kecil dengan air jernih. Beberapa pengunjung terlihat bermain air di bawahnya, menikmati kesejukan alam yang jarang ditemui di perkotaan. Selain itu, ada warung-warung kecil yang menjual makanan ringan dan minuman hangat seperti the jahe dan kopi.

Keunikan yang Menarik Wisatawan
Salah satu daya tarik utama Curug Cilember adalah keberadaan tujuh tingkat air terjun yang berundak-undak. Setiap tingkat memiliki karakteristik unik, dengan ketinggian yang bervariasi antara 15 hingga 50 meter.

Tingkatan pertama menjadi titik favorit karena paling mudah diakses, sedangkan tingkatan lebih tinggi menawarkan tantangan tersendiri bagi yang ingin menjelajah lebih jauh.

Selain air terjun, Curug Cilember juga memiliki taman kupu-kupu yang berisi berbagai spesies kupu-kupu eksotis. Taman ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi keluarga yang datang bersama anak-anak.

Bagi yang ingin merasakan pengalaman lebih dekat dengan alam, tersedia area camping dan villa yang dapat disewa untuk menginap. Suhu yang berkisar antara 18 hingga 23 derajat Celsius membuat suasana di sekitar curug terasa nyaman, terutama bagi mereka yang ingin beristirahat dari panasnya perkotaan.

Untuk wisatawan yang menyukai tantangan, tersedia juga wahana flying fox, sepeda gantung, dan panahan. Selain itu, terdapat taman bermain anak serta rumah hobbit yang menjadi spot foto menarik.

Sensasi di Depan Air Terjun
Setelah menempuh perjalanan yang cukup menantang, akhirnya air terjun menjulang di depan mata. Suara gemuruh air yang jatuh dari ketinggian mendominasi, menciptakan suasana yang menenangkan. Beberapa pengunjung terlihat bermain air di bawah curug, sementara yang lain memilih duduk di atas batu besar, menikmati pemandangan sambil merasakan percikan air segar yang menyentuh kulit.

Ada cerita yang berkembang di masyarakat tentang tempat ini. Konon, beberapa orang percaya bahwa air Curug Cilember memiliki energi khusus dan sering dijadikan tempat meditasi. Meskipun demikian, daya tarik utama tetaplah keindahan alamnya yang memukau.

Tips Berkunjung ke Curug Cilember
Untuk menikmati perjalanan ke Curug Cilember dengan lebih nyaman, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan. Jalur menuju air terjun cukup menantang, terutama setelah hujan, sehingga penting untuk mengenakan alas kaki yang nyaman dan tidak licin. Beberapa pengunjung tampak berhenti di tepian jalur, menyesuaikan langkah mereka dengan medan yang sedikit basah.

Bagi yang ingin bermain air di bawah air terjun, membawa pakaian ganti adalah pilihan yang bijak. Beberapa wisatawan terlihat menikmati segarnya air Curug Cilember, merendam kaki mereka di tepian sungai, atau bahkan berenang di bawah derasnya aliran air. Udara yang sejuk membuat sensasi bermain air di sini terasa lebih menyegarkan.

Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi atau menjelang siang, ketika suasana masih tenang dan belum terlalu ramai. Di akhir pekan, jumlah wisatawan meningkat, sehingga bagi mereka yang menginginkan ketenangan, hari biasa bisa menjadi pilihan terbaik.

Sepanjang perjalanan, ada begitu banyak spot menarik yang layak diabadikan. Beberapa wisatawan terlihat sibuk mengabadikan momen di depan air terjun, sementara yang lain lebih memilih duduk diam, menikmati pemandangan tanpa gangguan. Dengan keindahan alam yang masih alami, Curug Cilember bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga tempat yang menghadirkan pengalaman berharga bagi siapa saja yang datang.***

Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media
Sekolah Vokasi IPB University

Rosyda Dianah Mengubah Tantangan Menjadi Peluang dalam Pengabdian Gizi dan Pendidikan

0

Bogordaily.net – Rosyda Dianah adalah dosen yang mengabdi di IPB University. Ia lahir pada 29 Juni di Baturaja, Sumatera Selatan, dan tumbuh besar di daerah tersebut. Sebagai anak yang berasal dari luar Bogor, Rosyda memutuskan untuk merantau ke Bogor guna melanjutkan pendidikan tinggi.

Perjalanan hidupnya dimulai di Sumatera Selatan. Meskipun lahir di daerah yang jauh dari ibu kota tidak menyurutkan semangat Rosyda dalam mencapai cita-cita.

Tahun 2001 menjadi langkah awal Rosyda dalam mengejar cita-citanya. Saat itu, ia memutuskan untuk merantau jauh dari orang tuanya dan memulai kuliah di IPB dengan jurusan Manajemen Usaha Boga.

Meskipun bukan pilihan utamanya, keputusan ini terbukti menjadi langkah penting dalam perjalanan hidupnya. Pada awalnya, ia merasa berat karena jurusan tersebut jauh dari impiannya untuk menjadi dokter.

Namun, meski tidak sesuai dengan rencana, Rosyda menerima kenyataan dan menjalani kuliah di jurusan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Setelah setahun menjalani pendidikan di jurusan Manajemen Usaha Boga, Rosyda semakin mantap dengan pilihannya. Ia berusaha memaksimalkan apa yang ada dan berhasil lulus dengan nilai terbaik.

Keberhasilannya ini bukan akhir dari perjalanan akademisnya. Rosyda melanjutkan pendidikan S1 dan S2 di jurusan Gizi Kesehatan Masyarakat di Universitas Indonesia, yang sejalan dengan bidang yang telah ia tekuni sebelumnya.

Mengabdi pada kesehatan masyarakat adalah impian Rosyda, meskipun ia melakukannya melalui bidang gizi dan makanan, bukan di ranah pengobatan.

Setelah menyelesaikan pendidikan S1, Rosyda kembali ke IPB University pada tahun 2007 untuk memulai kariernya sebagai asisten dosen.

Tidak ingin berhenti di situ, dua tahun kemudian, ia resmi diangkat menjadi dosen di IPB. Sejak saat itu, Rosyda memilih untuk tetap mengabdi di IPB University, menjadikannya satu-satunya tempat ia mengajar.

Keputusan ini diambil karena Rosyda ingin memberikan kontribusi maksimal dalam dunia pendidikan dan fokus mengembangkan diri sebagai pengajar di satu universitas yang telah menjadi rumah akademisnya.

Komitmen dan dedikasinya pun membuahkan hasil, hingga pada tahun 2022 ia mendapatkan penghargaan sebagai dosen dengan kinerja pendidikan terbaik di Sekolah Vokasi IPB University.

Rosyda terus mengembangkan kariernya di dunia pendidikan dengan menjadi dosen sekaligus mahasiswa S3 di IPB University.

Selain itu, ia juga menjabat sebagai Koordinator Bimbingan dan Konseling di Sekolah Vokasi IPB University, sebuah posisi yang memungkinkan dirinya untuk lebih dekat dengan mahasiswa dan memberikan bimbingan yang lebih intensif.

Kariernya semakin berkembang, dan ia terus mencari cara untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Rosyda juga ikut berkontribusi sebagai tim dalam pengembangan aplikasi Baby Meal Planner yang didedikasikan untuk membantu ibu-ibu muda, memberikan panduan dalam menyiapkan makanan sehat dan bergizi untuk bayi mereka.

Aplikasi Baby Meal Planner yang ia kembangkan memiliki dua versi: satu untuk bayi usia 6 bulan hingga 1 tahun, dan yang kedua untuk bayi hingga usia 2 tahun.

Aplikasi ini dirancang untuk memberikan panduan kepada orangtua mengenai status gizi anak mereka serta menyediakan menu makanan yang mudah, murah, dan tentu saja bergizi.

Gunanya untuk mengurangi ketergantungan pada makanan instan yang kurang baik untuk kesehatan bayi. Aplikasi ini sudah tersedia untuk platform Android dan masih dalam tahap pengembangan untuk versi iOS.

Pengembangan aplikasi ini tidak hanya didorong oleh kebutuhan masyarakat, tetapi juga oleh keyakinan Rosyda bahwa edukasi mengenai gizi harus dilakukan dengan cara yang mudah diakses, terutama oleh ibu-ibu muda yang mungkin tidak memiliki banyak waktu untuk mencari informasi mengenai nutrisi bayi mereka.

Dengan adanya aplikasi ini, diharapkan ibu-ibu bisa lebih mudah memberikan yang terbaik untuk anak-anak mereka dalam hal asupan gizi, serta mendukung perkembangan kesehatan si kecil sejak dini.

Selain mengembangkan aplikasi, Rosyda juga aktif dalam pengabdian kepada masyarakat dan fokus pada penelitian tentang gizi masyarakat.

Meski lebih banyak berkecimpung dalam dunia pengabdian daripada riset, Rosyda tetap percaya bahwa pemberdayaan masyarakat melalui edukasi gizi adalah hal yang sangat penting, terlebih dengan kondisi gizi yang masih menjadi masalah besar di Indonesia.

Ia melihat banyak potensi yang bisa digali untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya gizi yang baik.

Bagi Rosyda, perjalanan menuju dunia gizi bukanlah hal yang mudah. Awalnya, ia merasa terbebani karena harus melepaskan impian untuk menjadi seorang dokter, tetapi seiring berjalannya waktu, ia menemukan bahwa jalan yang ia pilih tidak kalah mulia.

Dalam satu kesempatan, ia mengungkapkan, “Di awal, saya merasa berat, tapi setelah satu tahun pertama, saya sadar ini tidak buruk dan saya bisa menjalani ini.”

Hal tersebut membuktikan bahwa meskipun dihadapkan pada tantangan besar, dengan tekad dan semangat, seseorang bisa menemukan kenyamanan dan kebahagiaan dalam menjalani pilihan yang ada.

Rosyda Dianah,  juga mengingatkan kepada mereka yang mungkin merasa salah jurusan atau ragu akan pilihan yang telah diambil untuk tidak langsung menyerah. “Kenali dulu jurusan atau bidang yang kamu pilih, jika ada yang tidak suka, anggap itu biasa saja.

Fokuslah pada hal-hal yang kamu sukai dan buatlah tujuan untuk kedepannya. Lakukan yang terbaik, dan hasilnya akan menjadi yang terbaik,” ujarnya. Dengan sikap ini, Rosyda percaya bahwa setiap orang bisa mencapai potensi terbaiknya jika mau berusaha dan terus beradaptasi dengan perubahan.

Motivasi terbesar dalam hidup Rosyda Dianah,  adalah orang tuanya. Menyelesaikan pendidikan dengan nilai terbaik menjadi bentuk nyata dari rasa tanggung jawab dan rasa terima kasih kepada orang tua yang telah memberikan dukungan tanpa henti.

Menjadi dosen adalah salah satu cara Rosyda untuk memberikan dedikasi nyata bagi orang tuanya. Posisi yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan ini membawanya ke tempat yang lebih bermanfaat, di mana ia bisa berbagi ilmu dan memberikan dampak positif bagi banyak orang.

Rosyda Dianah adalah contoh nyata dari seseorang yang berhasil menemukan makna hidupnya melalui perubahan dan tantangan yang dihadapi. Meskipun tidak mengikuti jalur yang awalnya diinginkan, ia berhasil mengubah arah hidupnya menjadi lebih berarti dengan memberikan dampak positif melalui pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Dari seorang mahasiswa yang semula bercita-cita menjadi dokter, kini Rosyda telah menjadi sosok Dosen dan Ahli gizi.***

Rifa Tuljanah, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB

Pengaruh Media Sosial terhadap Pola Komunikasi Digital di Era Modern

0

Bogordaily.net – Komunikasi telah menjadi bagian penting dari keseharian kita, karna sebagai mahluk sosial manusia cenderung berkomunikasi setiap hari nya, lantas apa tujuan dari kita berkomunikasi? (West & Turner, 2007) mengungkapkan bahwa motivasi utama di balik komunikasi adalah pemahaman.

Komunikasi gagal ketika sulit untuk memahami apa yang sedang dikomunikasikan. Namun untuk saat ini komunikasi sudah banyak sekali mengalami perubahan yang signifikan. Semenjak masuknya pengaruh dari sosial media di tengah tengah masyarakat.

Pengaruh Media Sosial di lingkungan keluarga

Salah satu dari dampak awal yang merasakannya, yaitu dari lingkungan keluarga. Karena keluarga merupakan orang terdekat kita, jadi mereka akan lebih awal merasakan dampak dari pengaruhnya media sosial. Menurut.

Hal ini telah diperkuat oleh pernyataan Gisha yang dikutip dari jurnal comed vol.1 nom1 August 2016 bahwa:“Gimana ya, kadang saya sedih juga sekarang tuh, tiap orang jadi punya kehidupan sendiri gitu, sibuk sama gadget – nya gitu, trus kalo lagi ngobrol sebelahan juga kadang pake wa atau bbm juga.

Semuanya kayak jadi gampang karena adanya teknologi informasi ini. Tapi, ujungnya kalo dalam keluarga, jadi jauh juga komunikasinya.” “Perubahan media komunikasi ini telah membuat proses komunikasi keluarga juga berubah, ya jadinya menciptakan manusia penyendiri gitu”. Ini merupakan pengaruh yang cukup serius dan membuat manusia buta akan keadaan sekitarnya.

Pengaruh Media Sosial di lingkungan masyarakat

Selain dampaknya yang dirasakan oleh lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat juga merasakan hal yang sama. Menurut Permasalahan yang timbul pada penggunaan media sosial antara lain berupa peleburan ruang privat dengan ruang publik para penggunanya.

Hal ini mengakibatkan pergeseran budaya berupa pengguna tak lagi segan mengupload segala kegiatan pribadinya untuk disampaikan kepada teman atau kolega melalui akun media sosial dalam membentuk identitas diri (Primada & Ayun, 2015).

Pengaruh Media sosial terhadap diri sendiri

Yang terakhir pengaruhnya terhadap diri sendiri, pengaruh ini yang sangat susah dirasakan, karna banyak dari kita lebih cenderung merasakan orang lain lah sebagai pengaruhnya, padahal bisa

saja kita yang menjadi pengaruh untuk orang lain. Seperti kutipan (HidayaA & Syech Alaydrus, 2018) “dari Penggunaan media sosial juga dapat menyebabkan ketergantungan/ adiksi yang berdampak buruk.

Memang dengan hadirnya media social dapat memberikan keleluasaan seluas-luasnya bagi Masyarakat dalam mengekspresikan dirinya, sikapnya, pandangan hidupnya, atau bahkan pendapatnya. Termasuk dalam memberikan kebebasan dalam penggunaan media social yang digunakan secara positif ataupun negative”

Dampak negatif

1. Kecemasan dan Depresi
2. Kecanduan Media Sosia
3. Cyberbullying (Perundungan Siber)
4. penyalahgunaan Media Sosial untuk Tujuan Negatif

Dampak positif

1. Mempermudah Komunikasi dan Koneksi
2. Meningkatkan Kesadaran Sosial dan Aktivisme
3. Sumber Pendidikan dan Pembelajaran
4. Meningkatkan Akses Terhadap Berita dan Informasi

Kesimpulan

Di era komunikasi yang serba digital ini, banyak sekali dampak yang kita rasakan, negatif atau positif sepertinya itu tergantung dari siapa yang mengakses nya.

Tua atau muda tidak menjamin mereka tidak terpengaruh dalam dampak sosial media ini, bahkan menrut data dari Menurut data statistik dari Population Reference Bureau (2012) itu, sebagian besar dari mereka (sekitar 71%) tinggal di wilayah perkotaan.

Mereka masuk kategori Native Digital (Prensky, 2001) atau N – Generation (Mabrito & Medley, 2008). Seluruh hidupnyaDikelilingi Oleh Peralatan Komputer, videogame, email, internet, dan pesan instan (instant messaging).

Begitu serius nya dampak dari sosial media ini, kita juga harus melakukan langkah langkah pencegahan terhadap dampak dari media sosial seperti meningkatkan Literasi digital yang baik sangat penting untuk mengurangi dampak negatif media sosial.

Pengguna media sosial perlu memiliki pemahaman yang kuat tentang bagaimana menggunakan platform secara bijak, mengenali informasi yang salah, dan memahami bahaya dari penyalahgunaan media sosial.***

Muhammad Raihan ATH Thaariq

Resep Sukses Dr. Ir. Johan Wetik, MM: Antara Kue, Ilmu, dan Dedikasi

0

Bogordaily.net – Dr Ir. Johan Wetik, MM. Pria yang lahir dari tanah Banyuwangi, 2 Juli 1966 merupakan seorang dosen praktisi di IPB University Program Studi Komunikasi Digital dan Media, kehadirannya di dunia pendidikan berperan lebih mendalam ke berbagai tingkatan akademik.

Selain menjadi dosen praktisi, Johan adalah dosen Program Studi Manajemen di STIE Kalpataru Cibinong dan STIE Darma Bumi Putra, Jakarta. Selain sebagai seorang dosen, Johan merupakan seorang guru Matematika di SMK Baranangsiang dan SMK Budi Darma, Kota Bogor. Terlepas dari perannya sebagai pendidik, Dr.Ir Johan Wetik berdedikasi dalam pembentukan program P2SDM (Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia).

Lalu, apa saja jalan yang sudah ditempuh untuk mendapatkan semua peran penting di hidupnya?

“Saya memang punya darah pertanian.” Lima kata yang menggambarkan sejatinya Johan Wetik. Johan menempuh Pendidikan S1 Agronomi, Fakultas Pertanian IPB University. Motivasinya dalam menempuh Pendidikan ini awalnya karena tertarik terhadap tanaman dan budidaya serta berangkat dari madrasah pertamanya, yaitu ibu yang sangat mencintai tanaman. Pada akhirnya, mengambil Keputusan untuk bergelut di bidang tanaman hias atau hortikultura.

Setelah lulus dari Pendidikan S1, Johan mencari perusahaan tanaman hias berlokasi di Batam milik Salim Group yang mengekspor tanaman ke mancanegara seperti Jepang, Singapura, Prancis, dan sebagainya. Tekadnya dalam mendalami sebuah passion mengindikasikan sebuah keberlanjutan.

Johan Wetik juga pernah menjadi Flowering Superficer selama dua tahun lamanya, menyalurkan cintanya yang besar terhadap tanaman selama dua tahun. Sampai kepada titik Johan merasa tidak ada ruang baginya untuk berkompetisi dalam dunia pekerjaan.

Karena merasa tidak dapat berkembang, keputusannya jatuh di Manajemen Keuangan. Bukan untuk meninggalkan darahnya, namun Johan berfikir bagaimana jika kedua ilmu ini dapat dikolaborasikan guna melahirkan inovasi.

Magister Managemen Keuangan, Universitas Gadjah Mada. Gelar “magister” telah diraih, dengan berbagai pertimbangan atas keputusannya. Johan berhasil membuat keputusan yang tepat dengan melanjutkan studi dan kembali bergelut di bidang pertanian dengan bekerja di Perkebunan cabe dan bekerja di bidang Agroindustri bersama teman-temannya.

Pada prosesnya, Johan mendapatkan kesempatan untuk naik jabatan dengan syarat relokasi daerah kerja. Dengan berbagai pertimbangan, jarak akan menjadi penghambat karena anak-anak beliau masih terbilang sangat kecil, dalam proses berfikir yang panjang Johan tidak ingin mengorbankan keluarganya untuk sebuah jabatan. Jalan hidupnya memilih menjadi seorang penjual kue.

Kue Basah, bukan hanya sekedar makanan pelengkap tetapi menjadi sumber kebahagiaan. Johan, dengan ilmu yang dimilikinya membangun sebuah toko kue berlandaskan tekadnya untuk terus berkembang.

Terkesan agak loncat-loncat dari gelar dan perjalanan pendidikannya, namun Johan membuktikan bahwa tidak ada pekerjaan yang kecil kecuali tekad yang kerdil.

Terbukti, 15 outlet kue berhasil dibangun dengan semangat dan kerja keras yang berdiri selama 7 tahun. Berangkat dari sini beliau belajar bagaimana cara mengelola bisnis, menginmplementasikan ilmunya dalam lingkup bisnis.

Dari lingkup pekerjaannya yang berbeda, Johan Menyusun strategi bisnisnya dengan supply produk ke beberapa perusahaan atau organisasi.

Selama berjalannya usaha kue dan ilmu yang berhasil didapatkan dari sini, Johan kembali kepada kegemaran dan passionnya sebagai “orang pertanian”.

Usaha distributor pupuk, keinginan yang sangat besar lagi-lagi terbesit dalam benaknya untuk selalu menuntut ilmu dengan melanjutkan S3 Penyuluhan Pembangunan di IPB University untuk menunjang usaha distributor pupuk yang ingin beliau tekuni.

Selain menekuni usaha dan pendidikannya, Johan Wetik merasa harus membagikan ilmunya dengan orang lain. Bagi dirinya ilmu bukan hanya sekedar formalitas, tapi sesuatu yang apabila dijalani dengan sungguh-sungguh, ilmu tersebut bahkan mungkin bisa merubah hidup orang lain.

Johan, terlepas dari usahanya ataupun pendidikannya yang terkesan “loncat” beliau tau betul apa dan dimana hatinya terpati, ya! Pertanian.

Johan Wetik akhirnya tergabung ke dalam tim pembentukan program P2SDM (Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia) dengan mengembangkanprogram yang bertujuan untuk membangun generasi muda dalam dunia pertanian.

Komunitas Pengembangan Kapasitas Petani Padi, dibentuk beliau dengan tujuan untuk mengkaderisasi generasi muda untuk bersawah.

Dedikasinya yang tinggi mengacu kepada program yang dijalankan untuk mencapai tujuannya, dalam komunitasnya Johan mengaplikasikan keilmuan melalui teknologi terbarukan, melalui pembentukan managemen, dan sebagainya.

Anggota komunitas dan program ini diberikan ruang untuk belajar secara langsung dengan pendekatan melalui pembentukan himpunan dengan membentuk managemennya sendiri sehingga bukan hanya dari aspek pertaniannya saja tapi juga bagaimana komunikasi dan penyampaian inovasi kepada stakeholder.

Dari sinilah sebuah inovasi bisa lahir, memang bukan lagi lahir dari tangan beliau. Johan Wetik membentuk kaula muda untuk terus berinovasi dari ilmu yang telah dimiliki.

Opa. Panggilan kesukaannya dari mereka-mereka yang disuapi ber porsi-porsi ilmu. Setelah perjalanannya dalam mencari jati diri, Opa berakhir dalam pemahaman bahwa ilmunya dan pengalamannya harus dibagikan. Karena itulah Opa hadir saat ini menjadi seorang praktisi dan akademisi.

Berperan menjadi seorang praktisi, dosen, ataupun pengajar, Opa dinilai sebagai sosok yang baik hati dan ramah. “Baik banget, awalnya sih ngiranya bakal killer kalo ngajar. Ternyata opa semenyenangkan itu.” Ucap Nathan salah satu mahasiswanya di Sekolah Vokasi IPB University. Opa berhasil untuk kesekian kali, dan keberhasilan ini juga sebagai bukti bahwa Opa mampu memainkan perannya dengan sangat baik.***

Syifa Aulia Andara
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University

 

Timnas U17 vs Korea Utara: Setengah Lusin Gol dan Pelajaran Pahit untuk Garuda Muda

0

Bogordaily.net – Timnas U17 vs Korea Utara seperti menabrak tembok. Keras. Sakit. Itulah yang dialami Garuda Muda Timnas Indonesia U-17 di Jeddah tadi malam Senin 14 April 2024.

Di lapangan megah King Abdullah Sports City Hall, mereka dihajar Korea Utara. Skor? 0-6. Setengah lusin.

Padahal Nova Arianto sudah menurunkan yang terbaik. Dafa Al Gasemi berdiri di bawah mistar. Di depannya, empat bek dipasang berjejer: Al Gazani, Fabio, Daniel, Baker.

Tengahnya diisi Evandra dan Nazriel. Tiga penyerang muda, Zahaby, Fadly, Mierza, siap mengguncang.

Tapi lagi Timnas U17 vs Korea Utara ini dilaur harapan.

Baru tujuh menit, jala kita sudah koyak. Lewat sepak pojok yang sederhana — Choe Song-hun, si bek 16 tahun, lolos begitu saja. Satu sentuhan kaki kanan, dan Dafa terperdaya.

Tertinggal 0-1, anak-anak Garuda Muda mencoba bangkit. Tapi apa daya, Korea Utara justru menambah luka.

Menit ke-19, sebuah tendangan voli keras dari pemain Chuncheon FC membuat Baker hanya bisa melihat bola menghujam gawang.

Babak pertama berakhir 0-2. Masih ada harapan? Seharusnya. Tapi babak kedua justru jadi mimpi buruk.

Pertahanan yang diharapkan membatu, malah runtuh. Empat gol tambahan bersarang di gawang Garuda Muda.

Ri Kyong-bong di menit 48. Kim Tae-guk menit 60. Ri Kang-rim semenit kemudian. Ju-won Pak melengkapinya di menit 77.

Sampai wasit meniup peluit panjang, Indonesia tidak sekali pun membalas. Skor akhir: 0-6.

Bukan hanya soal kalah. Ini soal diberi pelajaran tentang apa itu sepak bola di level Asia.

Soal kerja keras, disiplin, kekuatan fisik — yang mungkin masih kurang dari kita.

Garuda Muda pulang dengan kepala tertunduk. Tapi dari kekalahan seperti inilah, semangat besar sering lahir. Kalau mau belajar. Kalau mau bangkit.***