Friday, 10 April 2026
Home Blog Page 813

Pejabat Negara dan Transportasi Umum: Antara Kepentingan Publik dan Efektivitas Kerja

0

Bogordaily.net – Belakangan ini, usulan agar para menteri dan pejabat negara menggunakan transportasi umum tanpa pengawalan mendapat perhatian luas. Gagasan ini muncul dari keinginan agar mereka lebih memahami kondisi nyata yang dihadapi masyarakat sehari-hari dalam menggunakan angkutan umum.

Selain itu, penggunaan kendaraan pribadi dan fasilitas patwal oleh pejabat sering kali dianggap sebagai bentuk privilege yang berlebihan dan menciptakan ketimpangan di jalan raya. Namun, di tengah pro dan kontra yang berkembang, pertanyaannya adalah apakah kebijakan ini benar-benar dapat membawa perubahan yang signifikan atau hanya menjadi sekadar simbolisme tanpa dampak nyata?

Jika para pejabat terbiasa menggunakan transportasi umum, mereka akan lebih peka terhadap berbagai kendala yang selama ini dirasakan oleh masyarakat. Mereka akan mengalami sendiri bagaimana rasanya menunggu kendaraan yang tidak tepat waktu, berdesakan di dalam moda transportasi, hingga menghadapi ketidaknyamanan akibat fasilitas yang kurang memadai.

Dengan begitu, keputusan yang mereka buat terkait kebijakan transportasi akan lebih realistis dan berpihak pada kepentingan publik. Selain itu, kehadiran pejabat di angkutan umum juga dapat menjadi pesan moral bahwa mereka tidak berjarak dengan rakyat, melainkan bagian dari mereka. Hal ini bisa membangun kepercayaan publik dan memperlihatkan kesetaraan antara pemimpin dan masyarakat.

Namun, di sisi lain, penggunaan transportasi umum oleh pejabat tanpa pengawalan juga memiliki tantangan tersendiri. Para menteri dan pejabat negara memiliki agenda kerja yang padat dan sering kali harus berpindah lokasi dalam waktu singkat.

Jika mereka harus mengandalkan angkutan umum dengan segala keterbatasannya, efektivitas kerja bisa terganggu. Apalagi, ada aspek keamanan yang tidak bisa diabaikan. Pejabat negara tetap memiliki risiko tertentu yang harus diantisipasi, sehingga pengawalan sering kali bukan semata-mata soal privilege, melainkan kebutuhan. Menghapus fasilitas ini tanpa solusi yang lebih baik justru bisa berpengaruh negatif terhadap kinerja mereka dalam menjalankan tugas negara.

Poin utama dalam perdebatan ini sebenarnya bukan soal apakah pejabat harus naik angkutan umum atau tidak, melainkan bagaimana memastikan bahwa transportasi publik di Indonesia terus berkembang menjadi sistem yang lebih baik dan layak bagi semua.

Jika pemerintah benar-benar ingin meningkatkan kualitas layanan transportasi, langkah konkret yang harus diambil adalah memperbaiki infrastruktur, meningkatkan integrasi antar moda transportasi, serta memastikan kenyamanan dan keamanan bagi penggunanya.

Pejabat dapat tetap terlibat dalam upaya ini tanpa harus menjadikan transportasi umum sebagai rutinitas harian, misalnya dengan melakukan sidak berkala atau menggunakan angkutan umum dalam situasi tertentu untuk evaluasi langsung.

Pada akhirnya, usulan ini tetap perlu dilihat secara lebih bijak. Jika tujuannya adalah untuk memahami persoalan transportasi publik dan memberikan contoh yang baik, maka ada banyak cara lain yang lebih efektif daripada sekadar mewajibkan pejabat naik angkutan umum tanpa pengawalan.

Yang lebih mendesak adalah bagaimana kebijakan yang diambil benar-benar berdampak positif bagi masyarakat luas. Transportasi umum yang nyaman, efisien, dan dapat diandalkan akan lebih berarti bagi masyarakat daripada sekadar melihat pejabat sesekali duduk di kursi bus atau berdiri di dalam KRL.***

 

Tania Putri Awinda                                                                                                        Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB university

Video 4 Menit 6 Detik Bu Guru Salsa Viral Lagi, Ini Isinya!

0

Bogordaily.net – Nama Bu Guru Salsa kembali viral setelah menjadi perbincangan hangat akibat video kontroversialnya yang beredar di media sosial beberapa waktu lalu.

Perempuan yang bernama lengkap Salsabila Rahma asal Jember, Jawa Timur, kini kembali dengan video baru berdurasi 4 menit 6 detik.

Video terbaru Bu Guru Salsa dapat diakses melalui YouTube. Saat ini, video tersebut telah ditonton lebih dari 39 ribu kali dan menerima 1.341 komentar dari para pengguna internet.

Kehadiran video ini semakin menarik perhatian publik, menunjukkan betapa besarnya dampak media sosial dalam menyebarkan konten yang menarik dan mengundang reaksi dari masyarakat.

Bu Guru Salsa kini tengah mengerjakan video cover lagu. Ia membawakan lagu berjudul Tentang Rasa yang dinyanyikan oleh Astrid. Saat dilihat pada Minggu (31/3/2025), suara Bu Guru Salsa terdengar cukup baik.

Sebelumnya, memanfaatkan popularitasnya di dunia maya, Bu Guru Salsa bersama suaminya, Luqman Hakim, berencana untuk membuat konten edukasi mengenai seks setelah mereka menikah.

Ide untuk konten ini muncul setelah jumlah pengikut TikTok Bu Salsa meningkat pesat setelah video viralnya. “Nama saya sudah terlanjur identik dengan hal-hal negatif seperti itu. Jadi, saya berpikir bagaimana cara mengubah stigma negatif tersebut menjadi peluang yang positif dan menguntungkan,” ungkap Bu Salsa dalam wawancaranya dengan tvOnenews beberapa waktu lalu.

Konsep konten mengenai pendidikan seks setelah pernikahan ini sebenarnya berasal dari Luqman Hakim. “Kami masih mendiskusikan dan merencanakan konten tersebut untuk masa depan. Istri saya memiliki banyak pengikut, dan konten ini tentunya akan sangat berguna bagi pasangan suami istri sebagai sarana edukasi,” ungkap Luqman Hakim saat menemani istrinya.

Dengan adanya kebutuhan akan informasi yang tepat, Luqman yakin bahwa konten ini akan memberikan manfaat yang signifikan bagi banyak orang.

Meskipun video yang berisi konten dewasa tersebut ditonton oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, Luqman menegaskan bahwa target audiens dari kontennya adalah pasangan suami istri.

Ia menjelaskan, “Saya melihat bahwa suara istri saya yang kuat saat mengajar dan berjualan pakaian di live TikTok sangat cocok untuk dijadikan konten pendidikan seks setelah kehidupan berumah tangga.”

Luqman juga mengungkapkan bahwa setelah video syur istrinya menjadi viral dan menghebohkan dunia maya, ia kini mengawasi semua aktivitas media sosial istrinya.

“Saya tidak ingin istri saya terjebak atau tertipu lagi,” ujarnya. Ia bahkan yang menentukan kapan Bu Salsa akan melakukan live di TikTok, selalu memantau keinginan para netizen.

Banyak netizen pria yang aktif mengunjungi dan mengikuti media sosial istri saya. Oleh karena itu, beberapa waktu lalu, saya meminta istri saya untuk melakukan siaran langsung bermain Mobile Legends, ungkap Luqman.

Luqman menambahkan bahwa selama siaran langsung, banyak komentar dari netizen yang menyudutkan dan mengejek istrinya. Namun, siaran langsung tersebut penting untuk mengatasi akun-akun palsu yang mengaku sebagai istrinya.

“Komentar negatif dan jorok itu berasal dari akun-akun palsu. Jadi, lebih baik santai dan tidak perlu dihiraukan,” kata pria yang berprofesi di bidang IT ini.

Di sisi lain, Bu Salsa berkomitmen untuk mengikuti semua arahan suaminya, karena dia percaya bahwa semua ini demi kebaikan bersama. “Saya ibaratnya sebagai bawahan, sementara suami saya adalah manajer, jadi saya mengikuti arahan yang diberikan,” ujarnya. ***

Dari Teks ke Video: Peran TikTok dalam Mengubah Gaya Komunikasi Gen Z di Era Digital

0

Bogordaily.net – Diera digital, cara manusia berkomunikasi terus mengalami evolusi seiring perkembangan teknologi. Sebelumnya, komunikasi di dunia maya mayoritas masih mengandalkan teks, baik melalui pesan singkat, email, maupun artikel. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, format komunikasi dalam bentuk video semakin mendominasi dengan salah satu platform yang paling berpengaruh dalam perubahan ini adalah TikTok, aplikasi berbagi video pendek yang telah mengubah cara masyarakat, khususnya Generasi Z (Gen Z) dalam mengekspresikan diri, menyampaikan informasi, dan berinteraksi secara digital.

TikTok pertama kali diperkenalkan oleh perusahaan teknologi asal Tiongkok, ByteDance, pada tahun 2016. Sejak saat itu, aplikasi ini berkembang pesat hingga memiliki ratusan juta pengguna di seluruh dunia. Bahkan, TikTok telah mencatat jumlah unduhan tertinggi, melampaui aplikasi media sosial besar lainnya seperti Facebook dan Instagram.

Data dari Sensor Tower Company menunjukkan bahwa pada tahun 2022, TikTok menjadi aplikasi yang paling banyak diunduh secara global. Indonesia bahkan menjadi salah satu negara dengan jumlah pengguna terbesar, menunjukkan betapa kuatnya daya tarik platform satu ini bagi masyarakat, khususnya di kalangan anak muda.

Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, menjadi kelompok utama pengguna terbesar TikTok. Generasi ini tumbuh di era teknologi yang serba cepat dan terbiasa dengan konten yang bersifat visual serta interaktif.

Berbeda hal seperti generasi-generasi sebelumnya yang lebih banyak berkomunikasi melalui tulisan atau percakapan langsung, Gen Z lebih nyaman berkomunikasi dengan mengekspresikan diri dalam bentuk video pendek yang dipadukan dengan musik, filter, dan efek kreatif lainnya.

Hal ini mencerminkan pergeseran preferensi komunikasi dari teks ke audiovisual sehingga informasi dapat disampaikan dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami.

TikTok tak hanya mengubah cara komunikasi, tetapi juga menciptakan bentuk interaksi sosial yang baru. Di platform ini, komunikasi tidak lagi sebatas kata-kata, tetapi juga melibatkan ekspresi wajah, bahasa tubuh, serta elemen-elemen visual lainnya.

Video-video TikTok sering kali mengandalkan tren yang memungkinkan pengguna untuk terlibat dalam interaksi global tanpa harus menggunakan bahasa yang sama. Oleh karnanya, dengan demikian, TikTok telah membentuk ekosistem komunikasi yang lebih inklusif dan universal, di mana pesan dapat disampaikan melalui gerakan dan ekspresi.

Selain sebagai alat komunikasi, TikTok juga telah menjadi media utama dalam penyebaran informasi. Saat ini, banyak pengguna yang lebih memilih mendapatkan berita, tips edukasi, atau rekomendasi produk melalui video pendek daripada membaca artikel panjang.

Konten yang dikemas secara menarik, kreatif dan informatif di TikTok memungkinkan informasi lebih cepat menyebar serta mudah dipahami oleh audiens. Bahkan, berbagai kampanye sosial, mulai dari isu lingkungan hingga advokasi hak asasi manusia, banyak mendapat perhatian besar melalui TikTok karena sifatnya yang mudah viral dan mampu menjangkau audiens dengan luas dalam waktu singkat.

Seiring berkembangnya TikTok, jenis konten yang tersedia juga semakin beragam. Saat ini, tidak hanya konten hiburan seperti menari dan menyanyi yang mendominasi, tetapi juga konten edukatif dan inspiratif.

Informasi dari Sensor Tower menunjukkan bahwa konten edukasi dan berbagi informasi menjadi kategori terbesar kedua yang diminati para kreator TikTok. Ini mencakup tutorial, tips kesehatan, life hacks hingga storytelling. Tak heran platform ini kian popular dan menjadi favorit banyak orang dalam beberapa waktu terakhir.

Namun, pergeseran komunikasi ini juga membawa tantangan tersendiri. Salah satu kekhawatiran utama adalah semakin menurunnya minat membaca teks panjang di kalangan Gen Z.

Kebiasaan mengonsumsi informasi dalam bentuk video pendek dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis dan pemahaman mendalam terhadap suatu topik. Psikolog dan ahli media, Sherry Turkle, menyatakan bahwa interaksi digital yang terlalu cepat dan dangkal dapat mempengaruhi hubungan interpersonal, di mana seseorang lebih banyak berkomunikasi melalui layar daripada secara langsung. Hal ini berpotensi mengurangi kualitas komunikasi tatap muka yang lebih kaya akan emosi dan empati.

Selain tantangan dalam komunikasi, TikTok juga membawa perubahan besar dalam dunia bisnis dan pemasaran. Dengan adanya fitur baru seperti TikTok Shop, pengguna dapat membeli produk langsung dari video yang mereka tonton, menciptakan pengalaman berbelanja yang lebih interaktif dan impulsif.

Banyak merek kini lebih memilih bekerja sama dengan influencer TikTok daripada menggunakan iklan konvensional karena efektivitas konten berbasis video dalam menarik perhatian konsumen. Hal ini menunjukkan bahwa TikTok tidak hanya mengubah cara kita berkomunikasi, tetapi juga cara kita berbelanja dan membuat keputusan ekonomi.

Tak hanya dalam ranah bisnis, TikTok juga berperan besar dalam penyebaran budaya dan tren global. Banyak lagu, tantangan tarian, hingga gaya berpakaian yang berasal dari satu negara kemudian menjadi populer di berbagai belahan dunia berkat TikTok.

Platform ini telah mempercepat pertukaran budaya, memperkenalkan audiens global terhadap elemen-elemen budaya yang sebelumnya hanya dikenal secara lokal. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial, khususnya TikTok, telah menjadi alat utama dalam membentuk tren budaya modern dan menghubungkan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Meskipun memiliki tantangan, TikTok tetap menjadi simbol perubahan dalam cara Gen Z berkomunikasi. Dengan kreativitas tanpa batas dan teknologi yang terus kian berkembang, TikTok telah tumbuh lebih besar dari sekadar platform hiburan menjadi alat komunikasi yang mencerminkan dinamika sosial di era digital. Pergeseran dari teks ke video dalam komunikasi digital menunjukkan bahwa masa depan akan semakin bergantung pada format visual dan interaktif.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Marshall McLuhan, “media adalah pesan”—dan TikTok telah membuktikan bahwa cara kita berkomunikasi tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita sampaikan, tetapi juga oleh bagaimana kita menyampaikannya. Dengan memahami fenomena ini, kita dapat lebih siap menghadapi era digital yang terus berkembang dan memanfaatkan teknologi dengan lebih bijak.***

Tania Putri Awinda

 

Perjalanan Menjauh dari Kota: Menyusuri Keindahan Kota Istimewa di Tengah Cuaca Tak Terduga

Bogordaily.net – Liburan akhir tahun kali ini terasa begitu spesial. Aku dan keluargaku memutuskan untuk menghabiskan waktu liburan kami di kota istimewa yakni, Yogyakarta, kota yang dikenal dengan kearifan budayanya yang kental dan beragam serta kaya akan berbagai destinasi wisata yang memikat.

Selama empat hari tiga malam, kami menjelajahi berbagai tempat populer yang kian menjadi favorit para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Hingga, kemudian pada hari ketiga, kami sekeluarga pun memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berbeda yakni, menjauhkan diri sejenak dari hiruk-pikuk perkotaan dan mencari ketenangan di sudut Kota Yogyakarta yang lebih memperlihatkan keindahan alammnya dan jauh dari keramaian.

Hari itu, Kamis pagi, langit Yogyakarta terlihat kurang bersahabat. Matahari seakan enggan menampakkan sinarnya, meskipun begitu hujan pun tak kunjung turun. Cuaca yang cukup mendung sempat menimbulkan sedikit kerguan bagi kami untuk melakukan perjalanan di hari ini.

Namun, rasa penasaran dan antusiasme kami berhasil mengalahkan keraguan tersebut. Hal tersebut dikarenakan kami telah lama menantikan perjalanan ini, yaitu mengunjungi Obelix Sea View, salah satu destinasi wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta yang tengah viral di media sosial dan digadang-gadang sebagai tempat yang wajib dikunjungi jika berlibur ke Yogyakarta.

Bersama dengan perasaan yang tak terkendali antara keraguan dan antusiasme, kami pun akhirnya memutuskan untuk berangkat dan melanjutkan perjalanan. Perjalanan menuju daerah Gunung Kidul, tempat dimana Obelix Sea View berada, memakan waktu sekitar kurang lebih 1 jam 45 menit dari hotel tempat kami menginap di kawasan Malioboro. Beruntung, kondisi lalu lintas jalan Yogyakarta pada siang hari itu cukup lengang sehingga perjalanan terasa lancar tanpa adanya kemacetan ataupun hambatan yang berarti.

Kami melakukan perjalanan sekitar pukul 11.00 WIB. Sepanjang perjalanan menuju destinasi wisata, cuaca tak juga kunjung membaik. Langit tetap mendung dengan angin yang cukup kencang. Harapan kami kala itu hanyalah satu, yakni semoga cuaca tidak semakin memburuk dan hujan tak turun ketika kami tiba di tempat tujuan.

Tepat pada pukul 13.00 WIB, akhirnya kami sekeluarga pun akhirnya tiba di Obelix Sea View. Suasana pertama yang kami rasakan ialah terasa nyaman dan sejuk. Pengunjung pada hari itu juga tidak begitu ramai sehingga untuk masuk ke dalam kami pun tidak perlu mengantre terlalu lama.

Posisi Obelix Sea View yang berada pada tebing yang cukup tinggi ini membuat pemandangan pantai-pantai di sekitar Gunung Kidul tersajikan dengan begitu indah, menakjubkan dan memanjakan mata.

Hamparan laut lepas yang biru dengan deburan ombaknya yang cukup besar berpadu dengan tebing-tebing menjulang menciptakan pemandangan yang kian memukau, meskipun matahari tetap masih bersembunyi di balik awan kelabu.

Kami pun mulai berjalan menyusuri area Obelix Sea View. Semakin lama kami berjalan untuk menyusuri Kota Istimewa dan memotret keindahannya, angin terasa semakin lama berhembus semakin kencang serta dingin menerpa kulit, namun meskipun begitu, semangat kami untuk tetap menyusuri tempat tak kunjung surut. Kami tetap menyempatkan diri untuk mengeksplor lebih jauh destinasi wisata yang cantik ini.

Di tengah perjalanan mwnuju Kota Istimewa, Kami mengeksplorasi Obelix Sea View, cuaca semakin memburuk. Kabut tebal perlahan turun, menyelimuti pemandangan indah di sekitar. Langit yang sebelumnya sudah kelabu kini terlihat semakin menggelap, kemudian mulai disusul dengan suara gemuruh petir dari kejauhan.

Ketika kami hendak menuju ke area lain, tetesan hujan mulai turun perlahan. Kami pun segera bergegas berlari kecil menuju restoran yang berada di dalam kawasan tersebut untuk berteduh.

Hujan mulai turun semakin deras ketika kami melangkah masuk, namun di balik cuaca yang memburuk, pemandangan dari restoran dengan posisi yang tinggi ini justru menyuguhkan pesona yang tak kalah memukau.

Dari dalam restoran di Kota Istimewa, kami dapat melihat area kolam renang yang terletak pada bagian outdoor restoran yang dikelilingi kursi-kursi dan sofabed berpayung, menghadap langsung ke tebing dan lautan lepas.

Meski pemandangan laut mulai tertutup kabut tebal, pesonanya tetap terlihat cantik dan memanjakan mata dengan ombak besar yang terasa menyegarkan. Tetapi sayangnya, angin yang kian kencang, udara yang semakin dingin, dan hujan yang kian menderas membuat kami memilih untuk duduk di dalam area indoor restoran sembari memasan makan siang yang hangat untuk mengusir rasa dingin yang semakin menyelimuti udara Yogyakarta hari itu.

Saat kami tengah menikmati makanan yang disajikan, hujan turun semakin lebat. Kini, suara gemuruh petir menggema di seluruh penjuru Obelix Sea View, gemuruh besar yang disertai dengan angin kencang membuat payung-payung di sekitar kolam terangkat dan berterbangan.

Para pekerja restoran pun dengan sigap membereskan area tersebut di tengah derasnya hujan. Kejadian tersebut sempat membuat kami dan para pengunjung lainnya merasa terkejut serta was-was, namun suasana restoran yang nyaman membuat kami tetap dapat menikmati liburan kami.

Setelah beberapa waktu, hujan perlahan mereda, gemuruh petir yang sebelumnya terdengar jelas kini sudah tak lagi terdengar. Kami pun memutuskan untuk mengakhiri perjalanan hari itu dan kembali ke hotel sebelum cuaca kembali memburuk.

Meskipun kami tidak sempat menjelajahi seluruh sudut Obelix Sea View, namun pengalaman ini memberikan kesan menegangkan yang berbeda tetapi tak terlupakan.

Perjalanan ke Obelix Sea View di tengah cuaca yang tak terduga menjadi perjalanan seru yang penuh kejutan. Pemandangan yang menakjubkan, suasana sejuk dengan pemandangan berkabut tebal, hingga pengalaman menikmati makanan hangat di tengah hujan deras dan gemuruh petir, seluruhnya menjadi bagian dari kenangan indah yang akan selalu kami ingat.

Mungkin di lain waktu, ketika matahari bersinar cerah, kami akan kembali berlibur menyusuri Obelix Sea View yang belum sempat kami telusuri. Menikmati pesona laut dari ketinggian dengan lebih leluasa tanpa kabut yang menyelimutinya. Namun, hingga saat itu tiba, perjalanan menjauh dari hiruk-pikuk perkotaan yang tak terduga ini akan tetap menjadi salah satu kenangan liburan terbaik kami di Daerah Istimewa Yogyakarta.***

Tania Putri Awinda
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University

Firman Muhammad Basar: Meniti Karier dan Mengembangkan Diri di Dunia Tata Boga

0

Bogordaily.net – Firman Muhammad Basar merupakan seorang akademisi di Program Studi Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi Sekolah Vokasi IPB University. Dengan pengalaman lebih dari satu dekade, ia telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan menjadi salah satu akademisi yang berpengaruh dalam mencetak lulusan-lulusan berkualitas di bidang gastronomi.

Sebagai seorang pendidik, ia tidak hanya memberikan pengajaran mengenai teori teknik memasak dan manajemen restoran, tetapi juga membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis serta wawasan tentang perkembangan industri makanan yang terus berubah.

Ia percaya bahwa seseorang yang terjun di dunia tata boga tak hanya harus pandai memasak, tetapi juga harus memahami aspek bisnis, kreativitas, serta nilai-nilai keberlanjutan dalam industri kuliner.

Firman memilih untuk menekuni bidang Tata Boga saat berkuliah di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Ketertarikannya terhadap manajemen industri makanan didasarkan pada keyakinannya bahwa bisnis makanan akan selalu berkembang dan tidak akan pernah mati.

Sejak awal, ia melihat peluang yang besar dalam industri ini, baik dari sisi produksi maupun manajemen. Perjalanan kariernya sebagai dosen dimulai ketika ia masih menempuh pendidikan D3, yang kemudian kala itu ia diberikan kesempatan untuk menjadi seorang asisten dosen hingga pada akhirnya ketika ia lulus, dirinya diminta untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 dan S2 mendalami bidang Tata Boga.

Dengan latar belakang akademik tersebut, ia kini berhasil mengampu berbagai mata kuliah terkait di Program Studi Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi Sekolah Vokasi IPB University seperti Manajemen Pelayanan Makanan, Ilmu Bahan Makanan, Dasar Patiseri, serta Penyelenggaraan Makanan Indonesia, Oriental, dan Kontinental.

Sebagai seorang akademisi, Firman tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga mengutamakan pendekatan praktik yang efektif. Ia meyakini bahwa komunikasi dua arah merupakan hal yang sangat krusial dalam proses pembelajaran, terutama pada saat kegiatan praktikum berlangsung.

Menurutnya, mahasiswa akan lebih mudah memahami materi jika mereka diberikan ruang untuk berdiskusi dan terlibat langsung dalam prosesnya.

“Saat praktikum berlangsung, saya selalu berusaha menjelaskan dengan komunikasi dua arah,” ungkapnya.

Dengan metode ini, ia ingin memastikan bahwasannya mahasiswa tidak hanya memahami konsep secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam situasi nyata di industri makanan.

Selain mengajar, Firman juga aktif melakukan penelitian di bidang Tata Boga. Salah satu penelitiannya berfokus pada efisiensi kerja di dapur hotel, khususnya terkait dengan manajemen makanan sisa dan pola kerja yang kurang efektif.

Ia meneliti bagaimana sisa makanan dapat dikurangi dan bagaimana dapur bisa beroperasi dengan lebih efisien. Hasil penelitiannya diharapkan dapat memberikan solusi bagi industri perhotelan dalam meningkatkan efektivitas kerja di kitchen.

Efisiensi dalam dapur profesional, menurutnya, bukan hanya tentang mengurangi limbah, tetapi juga bagaimana sumber daya dikelola secara optimal untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas pelayanan.

Perannya sebagai akademisi juga terlihat dari keikutsertaannya dalam kegiatan Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) yang diselenggarakan oleh Sekolah Vokasi IPB University. Melalui program ini, ia bersama tim dosen lainnya memberikan edukasi kepada siswa SMK Al-Jauhariah di Cianjur mengenai konsep Integrated Farming System.

Program ini bertujuan untuk memperkenalkan sistem pertanian terpadu yang dapat meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan sektor pertanian serta pangan. Dengan adanya kegiatan ini, ia berharap dapat memberikan wawasan baru kepada generasi muda agar mereka lebih siap menghadapi tantangan tak hanya dalam industri makanan tetapi juga dalam industri pertanian.

Dalam perjalanannya sebagai akademisi, ia memiliki sosok role model yang berperan penting dalam kariernya, yaitu Ketua Program Keahliannya, Ibu Vera.

Baginya, sosok Ibu Vera sangatlah berjasa dalam membimbingnya sejak awal, bahkan beliau juga merupakan seseorang yang memberikannya kepercayaan untuk menjadi seorang asisten dosen.

Baginya, peran Ibu Vera sebagai seorang mentor sangatlah penting dalam membentuk semangat dan dedikasi di dunia akademik hingga berhasil membuka jalannya di dunia perguruan tinggi.

Atas pengalaman dan dedikasinya, Firman terus berusaha menginspirasi mahasiswa-mahasiswanya di dunia akademik maupun industri makanan. Ia ingin menunjukkan bahwa dunia kuliner memiliki cakupan yang luas dan penuh peluang bagi siapa saja yang memiliki tekad dan kerja keras.

Melalui perannya sebagai akademisi, ia berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu Tata Boga di Indonesia, sekaligus membentuk generasi baru yang siap bersaing di industri kuliner yang kian berkembang pesat.

Selain berkontribusi dalam dunia akademik, Firman juga memiliki pengalaman dalam menjalankan bisnis kuliner. Ia berhasil mendirikan sebuah usaha katering sukses dan disukai banyak orang.

Melalui bisnis katering yang Firman Muhammad Basar jalani, dirinya tidak hanya mendapatkan pengalaman langsung dalam mengelola usaha makanan, tetapi juga memahami tantangan dan peluang yang ada dalam industri ini.

“Menjalankan bisnis kuliner memberikan banyak sekali pelajaran berharga, mulai dari bagaimana mengelola tim, menjaga kualitas produk, hingga menghadapi tantangan dalam pemasaran dan persaingan industri,” tuturnya.

Sebagai seseorang yang telah mengalami berbagai tantangan di dunia akademik dan di industri kuliner, ia juga memiliki pesan penting bagi para mahasiswanya di Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi.

Firman Muhammad Basar, menekankan pentingnya menjalani setiap proses dengan sungguh-sungguh dan mengikuti pembelajaran dangan disiplin. Firman juga mengingatkan bahwa menghadapi kegagalan adalah bagian dari perjalanan menuju kesuksesan.***

Tania Putri Awinda
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University

 

Peran Digital Media dalam Transformasi Komunikasi di Era Modern

0

Bogordaily.net – Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam bidang komunikasi di era modern. Jika dulu komunikasi terbatas pada surat, telepon, atau media massa tradisional seperti televisi dan radio, kini digital media telah merevolusi cara manusia berinteraksi.

Digital media mencakup berbagai platform seperti media sosial, blog, website, dan aplikasi pesan instan yang memungkinkan komunikasi terjadi secara instan, tanpa batas ruang dan waktu. Keberadaan digital media tidak hanya mempercepat penyebaran informasi tetapi juga menciptakan interaksi yang lebih dinamis dan partisipatif.
Perkembangan Digital Media dalam Komunikasi

Digital media merujuk pada berbagai bentuk komunikasi yang berbasis teknologi internet dan elektronik. Beberapa contoh platform digital media yang populer saat ini meliputi:
Media Sosial: Facebook, Instagram, Twitter, TikTok, dan LinkedIn yang memungkinkan interaksi sosial secara luas.
Aplikasi Pesan Instan: WhatsApp, Telegram, dan Line yang memungkinkan komunikasi langsung dalam hitungan detik.
Situs Web dan Blog: Medium, WordPress, dan Blogger yang menjadi sarana untuk berbagi informasi, opini, atau penelitian.
Streaming dan Podcast: YouTube, Spotify, dan Netflix yang mengubah cara konsumsi konten digital.

Sebelum era digital, komunikasi melalui media massa seperti televisi, radio, dan surat kabar bersifat satu arah. Informasi hanya mengalir dari penyiar atau jurnalis kepada audiens tanpa adanya interaksi langsung. Namun, dengan kehadiran digital media, komunikasi kini menjadi dua arah atau bahkan multi-arah. Misalnya, dalam media sosial, pengguna tidak hanya

menerima informasi tetapi juga dapat memberikan respons melalui komentar, likes, atau berbagi ulang konten. Fenomena ini memungkinkan individu untuk lebih aktif dalam menyuarakan pendapat dan terlibat dalam diskusi publik secara global.
Dampak Digital Media terhadap Pola Komunikasi

Salah satu dampak terbesar dari digital media adalah kemampuannya dalam menyebarkan informasi dengan cepat dan luas. Dalam hitungan detik, suatu peristiwa dapat menjadi viral dan diketahui oleh masyarakat di berbagai belahan dunia. Hal ini menguntungkan dalam penyebaran berita, edukasi, dan kampanye sosial, tetapi juga memiliki risiko jika informasi yang disebarkan tidak akurat atau bersifat hoaks.

Digital media memungkinkan partisipasi masyarakat dalam diskusi publik menjadi lebih aktif. Melalui platform seperti Twitter, Facebook, dan forum online, masyarakat dapat menyampaikan pendapat mereka mengenai isu sosial, politik, atau budaya. Bahkan, banyak gerakan sosial yang bermula dari diskusi di media sosial, seperti kampanye lingkungan dan hak asasi manusia.

Keberadaan digital media memberikan tantangan besar bagi media tradisional seperti televisi dan surat kabar. Banyak orang kini lebih memilih mendapatkan berita dari portal online atau media sosial dibandingkan membaca koran atau menonton berita di televisi. Hal ini memaksa media tradisional untuk beradaptasi dengan era digital, misalnya dengan membuat situs web atau akun media sosial untuk menjangkau audiens yang lebih luas.

Tantangan dan Implikasi Digital Media

Kemudahan dalam menyebarkan informasi di media digital juga membawa tantangan berupa penyebaran berita palsu (hoaks) dan misinformasi. Tanpa verifikasi yang tepat, informasi yang salah dapat dengan cepat menyebar dan memengaruhi opini publik. Oleh karena itu, literasi digital menjadi sangat penting agar masyarakat dapat memilah informasi yang benar dan terpercaya.

Penggunaan digital media sering kali melibatkan data pribadi pengguna. Namun, masih banyak kasus penyalahgunaan data, seperti pencurian identitas, peretasan akun, atau penyalahgunaan informasi pribadi oleh perusahaan. Oleh karena itu, kesadaran akan keamanan data dan perlindungan privasi menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam era digital.

Meskipun digital media memberikan banyak manfaat untuk komunikasi di era modern, ketergantungan yang berlebihan terhadap teknologi juga dapat menjadi masalah. Banyak orang menghabiskan terlalu banyak waktu di media sosial, yang dapat memengaruhi produktivitas dan kesehatan mental. Selain itu, literasi digital yang rendah membuat sebagian masyarakat mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak valid atau manipulatif.

Transformasi komunikasi akibat digital media telah membawa perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi, memperoleh informasi, dan berpartisipasi dalam diskusi publik. Kemudahan dalam penyebaran informasi, interaksi yang lebih dinamis, serta tantangan bagi media tradisional menjadi bagian dari era digital yang kita hadapi saat ini.

Namun, di balik manfaatnya, digital media juga memiliki tantangan seperti penyebaran berita palsu, keamanan data, dan ketergantungan terhadap teknologi. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan digital media dengan meningkatkan literasi digital dan kesadaran akan keamanan informasi.***

Ersya Shafira Chairani, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University

Kebakaran di Jalan Kemayoran Gempol, Kelurahan Kebon Kosong, Jakarta Pusat

0

Bogordaily.net – Pada 21 Januari 2025 lalu, kebakaran hebat melanda permukiman padat penduduk di Jalan Kemayoran Gempol, Kelurahan Kebon Kosong, Jakarta Pusat. Peristiwa yang terjadi pada dini hari tersebut menghanguskan lebih dari 500 rumah dan menyebabkan hampir 1.800 jiwa kehilangan tempat tinggal.iduga, kebakaran ini dipicu oleh korsleting listrik di salah satu rumah warga.

Kejadian ini menyoroti kerentanan kawasan permukiman padat terhadap bencana kebakaran karena kepadatan bangunan yang berdekatan, akses jalan yang sempit, serta minimnya sarana dan prasarana penanggulangan kebakaran menjadi faktor yang memperburuk situasi.elain itu, penggunaan material bangunan yang mudah terbakar, seperti kayu dan tripleks, turut mempercepat penyebaran api.

Salah satu langkah utama yang dapat dilakukan untuk mencegah kejadian serupa adalah perawatan instalasi listrik secara berkala. Korsleting listrik merupakan penyebab umum kebakaran, terutama di kawasan dengan instalasi listrik yang sudah tua atau tidak sesuai standar. Oleh karena itu, penting bagi warga untuk rutin memeriksa kondisi kabel, mengganti instalasi yang sudah usang, serta memastikan penggunaan peralatan listrik yang aman agar risiko kebakaran dapat diminimalisir.

Selain itu, pemilihan bahan bangunan yang tahan api juga menjadi faktor krusial dalam mengurangi potensi kebakaran. Di Kelurahan Kebon Kosong, banyak rumah di permukiman padat masih menggunakan material mudah terbakar seperti kayu dan tripleks, yang mempercepat penyebaran api saat terjadi kebakaran. Oleh karena itu, penggunaan bahan bangunan yang lebih tahan terhadap api, seperti bata ringan atau beton, dapat membantu memperlambat laju penyebaran api dan memberi waktu lebih bagi warga untuk menyelamatkan diri serta bagi pemadam kebakaran untuk mengendalikan situasi.

Di samping upaya pencegahan, penyediaan alat pemadam api ringan (APAR) juga sangat penting dalam penanganan awal kebakaran. Jika setiap rumah memiliki APAR dan warga dilatih untuk menggunakannya, api yang baru mulai berkobar dapat segera dipadamkan sebelum menyebar lebih luas. Kesadaran dan keterampilan dalam menggunakan APAR perlu ditingkatkan melalui pelatihan rutin, sehingga masyarakat lebih siap dalam menghadapi keadaan darurat.

Tak kalah penting, penataan ulang tata ruang permukiman perlu menjadi perhatian pemerintah dan warga. Kawasan yang terlalu padat dengan bangunan berdempetan serta akses jalan yang sempit sering kali menyulitkan mobil pemadam kebakaran untuk menjangkau lokasi kebakaran. Dengan memperlebar akses jalan dan memberikan ruang antara bangunan, risiko penyebaran api dapat dikurangi, serta memudahkan evakuasi warga saat terjadi kebakaran.

Terakhir, edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat harus terus dilakukan agar kesadaran akan pentingnya pencegahan kebakaran semakin meningkat. Sosialisasi rutin, simulasi evakuasi, serta pelatihan penanganan kebakaran dapat membentuk budaya siap siaga dalam masyarakat. Dengan pemahaman yang lebih baik, warga akan lebih berhati-hati dalam menggunakan listrik, memasak, maupun menyimpan bahan mudah terbakar di rumah mereka.

Kebakaran di Kemayoran menjadi pengingat bahwa pencegahan jauh lebih baik daripada penanggulangan. Dengan perawatan instalasi listrik yang baik, pemilihan material bangunan yang aman, penyediaan APAR, penataan ruang permukiman yang lebih baik, serta edukasi yang terus-menerus, risiko kebakaran dapat dikurangi secara signifikan. Oleh karena itu, sinergi antara masyarakat dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dari ancaman kebakaran di masa depan.***

Oleh: Ersya Shafira Chairani Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB

 

Kisah pak Puji Wijayanto, dari Hobi Main Bola, Sampai Menjadi Sebuah Perjalanan Karier

0

Bogordaily.net – Puji Wijayanto lahir di Tangerang dalam lingkungan keluarga yang memiliki keluarga yang bisa dibilang memiliki fundamental yang kurang baik. Tidak banyak anggota keluarganya yang menempuh pendidikan tinggi, sehingga ia tumbuh tanpa banyak ekspektasi dalam dunia akademik.

Namun, keterbatasan ini tidak membuatnya menyerah. Sebaliknya, hal ini menjadi tantangan bagi dirinya untuk membuktikan bahwa seseorang bisa mencapai kesuksesan meskipun berasal dari lingkungan yang kurang mendukung dalam aspek pendidikan.

Masa Remaja: Menemukan Passion di Sepak Bola
Sejak kecil, seperti anak laki-laki lainnya, Puji memiliki kegemaran yang besar terhadap sepak bola. Ia tidak hanya bermain untuk bersenang-senang, tetapi juga mulai menekuni olahraga ini dengan lebih serius.

Bakatnya semakin terlihat dan ia mulai mengikuti berbagai kompetisi sepak bola. Berkat kegigihannya, ia berhasil meraih berbagai prestasi di tingkat sekolah maupun daerah.

Namun, fokusnya yang begitu besar terhadap sepak bola membuatnya tidak terlalu memperhatikan akademik.

Ia lebih banyak menghabiskan waktu di lapangan daripada di dalam kelas. Saat itu, Puji berpikir bahwa masa depannya akan berpusat pada sepak bola, dan pendidikan bukanlah sesuatu yang terlalu ia prioritaskan.

Kesempatan Tak Terduga: Sepak Bola Membuka Pintu ke Dunia Perkuliahan
Siapa sangka, kecintaan Puji terhadap sepak bola justru menjadi jembatan yang membawanya ke dunia akademik.

Berkat prestasinya di dunia sepak bola, ia mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan. Ia diminta untuk bergabung dengan sebuah kampus dengan tujuan memajukan ekstrakurikuler sepak bola di kampus tersebut.

Pada awalnya, Puji belum terlalu serius dalam menjalani perkuliahan. Namun, sebuah peristiwa kecil mengubah cara pandangnya terhadap pendidikan.

Momen Pencerahan: Pendidikan Adalah Kunci Dunia
Saat menjalani semester awal di perkuliahan, Puji membaca sebuah artikel yang mengatakan, “Salah satu kunci dunia adalah pendidikan.” Kalimat itu terus terngiang dalam pikirannya.

Ia mulai menyadari bahwa pendidikan memiliki peran yang sangat besar dalam membuka peluang dan memperluas wawasan seseorang.

Pada saat yang bersamaan, lingkungan akademik di sekitarnya juga mulai memberikan pengaruh besar terhadap dirinya. Puji dikelilingi oleh banyak orang hebat. Ia merasa tertantang dan berpikir,

“Saya harus setara dengan orang-orang di sini.” Sejak saat itu, Puji mulai lebih serius dalam dunia akademik. Dari Pemain Menjadi Pelatih: Sepak Bola Membawanya ke S2

Keseriusannya dalam menyeimbangkan akademik dan olahraga membuahkan hasil. Setelah menyelesaikan jenjang S1, Puji kembali mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studinya ke jenjang S2. Yang mengejutkan, lagi-lagi sepak bola menjadi jalan yang membawanya ke kesempatan ini.

Keahliannya dalam memahami strategi dan teknik permainan sepak bola membuatnya dipercaya untuk melatih tim di kampusnya. Kesempatan ini memberinya peluang untuk kembali melanjutkan pendidikan dengan beasiswa.

Perjalanan dari seorang anak yang hanya mencintai sepak bola, kemudian mendapatkan pendidikan tinggi melalui olahraga ini. Membuktikan bahwa ada banyak cara untuk mencapai kesuksesan.

Karier Profesional: Mengabdi di Pertamina dan Menjadi Praktisi Mengajar
Setelah menyelesaikan pendidikan S2-nya, Puji Wijayanto kini bekerja di Pertamina, sebuah perusahaan energi terbesar di Indonesia. Namun, meskipun telah mencapai posisi yang mapan dalam kariernya, ia tidak berhenti untuk terus berbagi ilmu dan pengalaman.

Sebagai bentuk kontribusinya terhadap dunia pendidikan, Puji mengikuti Program Praktisi Mengajar, sebuah program pemerintah yang bertujuan untuk menjembatani teori akademik dengan praktik di dunia kerja.

Dalam program ini, ia berkolaborasi dengan para akademisi dan mahasiswa untuk memberikan wawasan tentang bagaimana teori-teori yang diajarkan di kelas dapat diterapkan dalam dunia kerja yang sesungguhnya.

Saat ditanya apa yang menjadi motivasi utamanya mengikuti Program Praktisi Mengajar, Puji dengan tegas menjawab, “Kita harus haus dengan ilmu.” Baginya, belajar tidak hanya berhenti di bangku kuliah, tetapi merupakan proses seumur hidup yang harus terus dijalani.

Kesimpulan dan Motivasi
Perjalanan hidup Puji Wijayanto mengajarkan bahwa tidak ada jalan yang benar-benar tertutup bagi mereka yang mau berusaha. Kesuksesan tidak selalu datang dari jalur yang sudah umum, tetapi bisa berasal dari hal yang kita tekuni dengan sungguh-sungguh.
Beberapa pelajaran penting yang dapat kita ambil dari kisahnya:

1. Passion Bisa Menjadi Jalan Sukses
Apa yang awalnya hanya dianggap sebagai hobi bisa menjadi pintu gerbang menuju kesuksesan, asalkan ditekuni dengan kerja keras dan komitmen.
2. Pendidikan Itu Penting, Tapi Tidak Selalu Harus Konvensional
Puji membuktikan bahwa meskipun awalnya tidak fokus pada akademik, ia tetap bisa sukses melalui jalur yang unik, yaitu sepak bola.
3. Terus Belajar dan Berkembang
Kesuksesan tidak hanya berhenti setelah mencapai satu pencapaian. Puji yang telah bekerja di Pertamina tetap berusaha menambah ilmu dan berbagi pengalaman melalui Program Praktisi Mengajar.
4. Jangan Pernah Merasa Terlambat
Pada awalnya, Puji tidak terlalu memperhatikan akademik, tetapi ketika ia menyadari

pentingnya pendidikan, ia segera berubah dan mengejar ketertinggalannya. Tidak ada kata terlambat untuk mulai belajar.

Kisah Puji Wijayanto adalah bukti bahwa banyak jalan menuju keberhasilan. Jangan pernah menyerah hanya karena merasa jalan kita berbeda dengan orang lain. Kesempatan bisa datang dari hal-hal yang tidak pernah kita duga, asalkan kita mau berusaha dan terus berkembang.***

 

Ersya Shafira Chairani Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB

Shin Tae-Yong Dipecat? Kok Bisa? Fans Timnas Bingung!

0

Bogordaily.net – Shin Tae-yong resmi dipecat setelah Ketua Umum PSSI, Erick Thohir menggelar konferensi pers di Menara Danareksa, Jakarta, Senin 6 Januari 2025.
Erick mengatakan, PSSI mengakhiri kerja samanya dengan pelatih asal Korea Selatan tersebut untuk kebaikan Timnas Indonesia. “Tentu kita ucapkan terima kasih kepada kinerja Coach Shin Tae-yong selama ini dan hubungan saya sangat baik,” ujar Erick dikutip dari siaran langsung kanal YouTube PSSI.

Keputusan PSSI memecat Shin Tae-yong tidak dilakukan secara mendadak PSSI sudah memikirkan hal tersebut sejak Oktober 2024 ketika Indonesia melakoni laga tandang ke China dalam laga lanjutan putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia.

Pada saat itu, terjadi dinamika di dalam internal Timnas Indonesia, namun Erick enggan membeberkannya. Saat ditanya oleh awak media soal alasan Shin Tae-yong dipecat, Erick hanya menjawab, keputusan ini didasari pada evaluasi di setiap pertandingan.

la mengatakan, PSSI sebenarnya bisa langsung memecat Shin Tae-yong setelah laga melawan China. Di laga tersebut, Pasukan Garuda yang digadang-gadang mengalahkan China, justru kalah dari tim tuan rumah dengan skor tipis 1-2. Namun, keputusan memecat Shin Tae-yong ditunda karena Timnas harus pulang ke Indonesia untuk menjamu Jepang dan Arab Saudi di laga lanjutan putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia.

Senada dengan Erick, anggota Exco PSSI, Arya Sinulingga juga menyampaikan, berita dan informasi terkini. terjadi kondisi tertentu yang membuat PSSI harus turn tanga menangani Timnas Indonesia sebelum laga China vs Indonesia. Namun, ia enggan membeberkan kondisi yang dimaksud, apakah 1 ada masalah komunikasi atau taktik antara Shin Tae-yong dengan pemain.

“Sebelum China itu sudah ada. Beberapa kondisilah,” ujar Arya dalam wawancaranya bersama Kompas TV, Senin 6 Januari 2025.

Berdasarkan laporan Kompas.id, Senin 18 November 2024, internal Timnas dikabarkan memanas setelah Indonesia ditahan imbang Bahrain 2-2 pada Oktober 2024. Pada saat itu, sejumlah pemain mengajak Shin Tae-yong untuk berdiskusi, namun pelatih tidak berkenan. Pemain yang mempertanyakan taktik Shin Tae-yong sat melawan Bahrain kemudian menerima konsekuensi tersendiri saat laga melawan China.

Dalam laga tersebut, Shin Tae-yong memutuskan mencadangkan Thom Haye dan melepas ban kapten Jay Idzes. Hasil kurang memuaskan kemudian diterima Timnas Indonesia setelah takluk 1-2 dari China, padahal Pasukan Garuda menguasai jalannya laga.

Selain dugaan hubungan dengan pemain yang tidak harmonis, Shin Tae-yong disebut mengalami kendala komunikasi. Kendala tersebut muncul karena Shin Tae-yong belum fasih berbahasa Indonesia walau sudah melatih Timnas Indonesia selama lima tahun.

PSSI sebenarnya sudah mengajukan klausul kontrak yang mengharuskan Shin Tae-yong belajar bahasa Indonesia. Namun, eks pelatih Timnas Korea Selatan ini lebih sering mengucapkan “selamat pagi” dan “sampai jumpa”.

Erick tiba di negara tujuan pada Rabu 25 Desember 2024, pukul 06.10 waktu setempat. Setelah itu, ia menggelar Interview atau wawancara dengan sejumlan calon pelatih mulai pukul 10.00 waktu setempat.

Wawancara dilakukan pada hari Natal karena Erick ingin mengetes kesungguhan calon pelatih. Selain itu, wawancara juga dilakukan secara tatap muka lantaran Erick ingin mendapatkan chemistry “Saya juga tidak mau makan waktu juga. Biasanya interview 2 sampai 2,5 jam sudah cukup saya rasa.” ujarnya.

PSSI kemudian menetapkan Januari 2025 sebagai waktu yang tepat untuk mengumumkan pemecatan Shin Tae-yong. Waktu tersebut dinilai tidak terlalu mepet dengan jadwal putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia yang rencananya dimulai kembali pada Maret 2025.

Sebelum pengumuman disampaikan, PSSI sudah mengutus Sumardji selaku manajer Timnas Indonesia untuk berbicara secara langsung kepada Shin Tae-yong. Pelatih berkebangsaan Korea Selatan ini disebut menerima keputusan PSSI dan mendoakan supaya Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026.

Sebelum pemecatan, Shin Tae-yong sempat menangani timnas Indonesia di ajang Piala AFF 2024. Piala AFF memang bukan agenda dari FIFA matchday, sehingga menghalangi pemain-pemain timnas senior yang tidak bisa ikut membela timnas di ajang ini karena banyak pemain yang tidak diizinkan oleh pihak klub untuk mengikuti agenda diluar FIFA matchday ini.

Akibatnya, Shin Tae-yong banyak memanggil pemain-pemain muda untuk mengikuti ajang ini walaupun PSSI mengusung target yang tinggi untuk timnas di kompetisi ini. Alhasil perjalanan timnas Indonesia di Piala AFF 2024 berhenti usai kalah di laga terakhir fase grup B. Skuad Garuda takluk 0-1 dari Filipina, sehingga gagal melaju ke semifinal.

Tidak sedikit yang pegiat sepak bola Indonesia yang memberikan pendapatnya, seperti mantan pelatih Persis Solo, Rasiman. “Sebetulnya parameter yang dipakai untuk menghentikan dan meneruskan pelatih itu kan harus jelas. Artinya kalau Piala AFF kemarin dijadikan parameter, misalnya untuk harus juara atau semifinal ya tentunya juga harus ada kejelasan,” ujar Rasiman kepada Bola.com, Senin 6 Januari 2025.

Pengamat sepak bola pun ikut mengemukakan pendapatnya, seperti pengamat sepakbola dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr. Syahban Nur, menyatakan bahwa langkah PSSI terkesan terburu-buru. “Kita masih memiliki kesempatan di ronde ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026. Seharusnya, beri kesempatan kepada Shin Tae-yong untuk menyelesaikan tugasnya, apalagi pecinta sepak bola masih banyak yang berharap padanya,” ujar Dr. Syahban Nur.

Sebagai pengingat, Shin Tae-yong diangkat sebagai pelatih Timnas Indonesia pada 2019, menggantikan posisi kursi kepelatihan sebelumnya yang diduduki oleh Simon McMenemy. Sejak awal, ia dihadapkan dengan berbagai tantangan besar, mulai dari kekurangan pemain dengan kualitas internasional hingga program pengembangan yang belum optimal.

Meskipun begitu, pelatih berusia 54 tahun ini berhasil membawa Timnas Indonesia ke level yang lebih tinggi dengan beberapa prestasi yang mencuri perhatian. Di bawah arahan Shin Tae-yong, Timnas Indonesia sempat menunjukkan kemajuan, terutama dalam pertandingan-pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2022. Meskipun hasilnya belum memuaskan, permainan tim mulai menunjukkan karakter dan strategi yang lebih solid.

Akibatnya pemecatan pelatih asal Korea Selatan ini memicu berbagai reaksi dari banyak pengamat bola dan tentunya penggemar sepak bola Tanah Air yang mengemukakan pendapatnya melalui konten video atau cuitan melalui sosial media mereka, mengingat banyaknya pencapaian dan tantangan yang telah dilalui selama kepemimpinannya.

Berdasarkan paparan di atas, saya memahami bahwa pemecatan Shin Tae-yong ini sangat kontroversial. Menurut opini saya pribadi pemecatan ini tidak masuk akal, berkaca dari prestasi yang sudah timnas capai dibawah asuhan Shin Tae-yong, pengambilan keputusan PSSI yang terbilang terburu-buru dan di saat yang tidak tepat karena keputusan ini diambil di tengah-tengah ronde tiga kualifikasi Piala Dunia 2026.

Melihat dari permainan timnas Indonesia dibawah kepelatihan Shin Tae-yong yang sudah klop dengan formasi 5-3-2 yang menerapkan strategi mendahulukan bertahan dan menunggu celah untuk menyerang ini memang sudah terbukti efektif sehingga banyak prestasi yang sudah dicapai dengan strategi yang diterapkan Shin Tae-yong kepada anak-anak asuhnya di timnas Indonesia.

Tercatat Indonesia pernah bermain di putaran final Piala Dunia 1938, tapi saat itu masih bernama Hindia Belanda. Dan untuk format saat ini, Indonesia belum pernah melaju ke babak ketiga dengan laju terbaik sebelumnya terjadi pada kualifikasi Piala Dunia 1986, yaitu melaju ke putaran kedua Kualifikasi Piala Dunia.

Dengan perkembangan timnas Indonesia dan prestasi Shin Tae-yong yang sudah dicapai, menurut saya setidaknya pertimbangan pemecatan Shin Tae-yong bisa dilakukan jika timnas Indonesia gagal melaju ke ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026.***

Oleh: Trya Andina Ramadhani, Mahasiswi IPB

 

Hura-hura petualangan ke Merak

Bogordaily.net – Saat itu masih libur semester, saat itu saya dan sahabat saya memutuskan untuk pergi petualangan ke Merak, Banten. Sahabat saya ini Zainab dan Yaya, kebetulan mereka teman saya dari Sekolah Dasar.

Seperti yang sudah kita ketahui juga, pertemanan yang biasanya sudah lama ini justru jarang sekali berpergian bersama.

Sebenarnya yang menginisiasi perjalanan ini adalah Yaya. Waktu itu Yaya masih Semi-Gap Year (belum diterima di perguruan tinggi negeri) sedangkan saya sama Zainab baru saja merasakan pusingnya perkuliahan di IPB dan UNJ. ”Hitung-hitung membahagiakan teman,” pikir saya waktu itu.

Tanggal 26 Desember 2023 sudah ramai di group chat, Yaya sibuk memesankan kami tiket kereta dari Stasiun Kebayoran Lama sampai Rangkasbitung.

Dari Rangkasbitung dilanjutkan dengan kereta lokal arah Merak. Saya dan zainab tugasnya menyiapkan makanan dan keperluan piknik lainnya.

Destinasi kita adalah Pulau Kecil yang letaknya di sebelah Pantai Merak, Banten. Bayangan kami mengenai pantai tersebut tentunya tidak jauh dari yang ada di pikiran orang-orang pada umumnya: pantai yang indah dengan pasir putih dan ombak yang tenang, tempat yang sempurna untuk bersantai dan menyegarkan pikiran.

Tanggal 28 Desember 2023 atau keesokan harinya, mulai lah huru-hara perjalanan ini. Namanya perempuan, mau pergi kemana pun yang dipusingkan sebenarnya adalah pakaian.

H-1 jam pun kami bertiga masih kebingungan mau pakai baju apa dan saling bertanya di group chat mengenai hal tersebut.

Sampai akhirnya saya memutuskan untuk memakai baju salopet berbahan jeans, saya pikir akan lebih mudah untuk dibuat bergerak mengingat kami harus naik-turun kereta satu ke kereta lainnya.

Kira-kira pukul 10.30 WIB kami berkumpul di rumah saya terlebih dahulu, sekalian memeriksa apa saya yang kurang. Setelah izin kepada Bunda, kami berangkat ke Stasiun Kebayoran Lama menaiki angkot C01 dari Swadarma.

Perjalanan dari Swadarma ke Kebayoran tidak terlalu jauh, kami sampai di sana sekitar pukul 11.00 WIB. Seperti biasanya, Stasiun Kebayoran Lama tidak pernah sepi penumpang.

Kami memutuskan untuk menumpangi kereta yang berjalan pada pukul 11.33 WIB arah Rangkasbitung. Tarif KRL-nya terbilang cukup murah, hanya Rp7.000, itu pun yang menjadi alasan kami memilih perjalanan ini. Murah dan menyenangkan, di bayangan kami.

Saat itu kereta kami sudah penuh, saya dan Zainab terpaksa harus berdiri selama perjalanan, sedangkan Yaya duduk karena teman saya yang satu ini memang agak jompo.

Petualangan ke Merak itu kami isi dengan obrolan ringan seputar kuliah, saya menceritakan IPB yang tugasnya datang tiada henti itu. Zainab menceritakan Seni Kulinernya, Yaya menceritakan kegiatannya mengajar les selama waktu luang.

Petualangan ke Merak itu sebenarnya bukan perjalanan yang tak terasa, alias kami merasa sedikit kelelahan juga karena harus berdiri selama perjalanan.

Kami pun sampai di Stasiun Rangkasbitung pada pukul 13.07 WIB dan lanjut menunggu kedatangan kereta lokal hingga pukul 13.50 WIB.

Langsung saja kita pergi ke kursi yang telah dipesan. Jujur, ini baru kali pertama saya menumpangi kereta lokal dan memang sangat tidak sesuai dengan ekspektasi saya.

Pertama, pendingin ruangan kereta saat itu tidak menyala. Bayangkan harus berada dalam kereta dengan suhu yang cukup panas selama tiga jam.

Kedua, banyak penumpang lain yang asal meluruskan kakinya ke kursi saya. Ketiga, kursinya yang memang tegak sekali itu membuat saya tidak bisa tidur selama perjalanan. Yah, sebenarnya sesuai dengan harganya yang sangat murah, Rp3.000 saja. Hitung-hitung untuk pengalaman juga.

Kami kembali menghabiskan perjalanan dengan berbincang dan mengabadikan momen di atas kereta. Bunda sempat menelpon saya saat di kereta dan terkejut karena sudah pukul 16.30 WIB kami belum juga sampai ke tujuan.

Saya sebenarnya juga sempat merasa takut karena ini kali pertama pergi ke tempat yang cukup jauh dan belum pernah saya kunjungi sama sekali. Orang bilang, Banten itu seperti ujung dunia. Alias, jauh sekali.

Sampai di pelabuhan Merak pada pukul 17.30 WIB, perasaan saya sudah mulai tidak baik. Rasanya ingin cepat-cepat pulang saja. Namun, Zainab dan Yaya meyakinkan saya bahwa perjalanan ini akan memorable saat sudah sampai di sana.

Benar saja, belum sampai di tempat tujuan, kami sudah ditodong abang angkot yang katanya akan membawa kami ke Pulau Kecil.

Kesalahan kami saat itu, kami tidak tahu harus melanjutkan perjalanan dengan apa setelah sampai di Merak. Akhirnya kami memutuskan untuk menumpangi angkot tersebut, ternyata memang banyak orang lain yang juga menumpanginya.

Setelah kira-kira lima belas menit perjalanan, angkot itu menurunkan kami di sebuah tempat yang kelihatannya memang biasa dikunjungi wisatawan.

Baru sampai di tempat yang katanya ”Pulau Kecil” itu, kami diminta untuk membayar tiket masuk sebesar Rp20.000. Saya sempat merasa lega, karena ternyata memang benar ada tempat itu sampai harus membayar tiket masuk.

Ketika kami menyusuri lebih jauh yang ada hanya pantai dengan air keruh. Saya yakin teman-teman saya juga merasa kecewa dengan pemandangan tersebut. Sampah berserakan dimana-mana, dari bungkus mie instan sampai popok bayi.

Duh. Bahkan, tidak terlihat ada tanda-tanda pengunjung di sana. Sangat jauh dari bayangan saya mengenai pantai yang ramai dan indah untuk sekedar mengambil foto.

Tetapi, yah, karena sudah terlanjur sampai, kami pun segera menggelar tikar dan menyantap hidangan yang sudah kami bawa. Makanan menjadi penyelamat kami dari perasaan kecewa karena saat itu kami sangat lapar, rasanya semua makanan jadi terasa enak dan meningkatkan suasana hati.

Daripada sama sekali sia-sia, kami juga mengambil beberapa foto dan video, kebetulan saat itu matahari hampir tenggelam dan cukup bagus untuk diabadikan. Setelah puas sedikit bermain air dan girls talk, kami memutuskan untuk pergi dari tempat itu.

Kira-kira pukul 19.00 WIB kami sudah sampai lagi di Stasiun Merak dan segera melanjutkan perjalanan kami ke Rangkasbitung, hingga Kebayoran Lama. Kami baru sampai pada pukul 10.00 WIB, disambut dengan bunda yang terlihat sangat amat khawatir.

Benar kata teman-teman saya, perjalanan ini akan menjadi perjalanan yang sangat memorable bagi saya. Banyak juga pelajaran yang kami dapatkan, mulai dari pengalaman menumpangi kereta lokal, dan pelajaran bahwa sebelum melakukan perjalanan, baiknya lakukan riset terlebih dahulu agar tidak kecewa berlarut-larut. Perjalanan ke Merak, meskipun tidak seindah bulu merak, tetap memberikan kisah perjalanan yang tak akan kami lupakan.***

Nur Anisah Fadia, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB