Friday, 10 April 2026
Home Blog Page 815

Semrawut di Alun-Alun dan Stasiun Bogor, Jenal Mutaqin Tertibkan Angkot dan PKL

0

Bogordaily.net – Di hari ketiga Lebaran arau Kamis 3 April 2025, Kota Bogor diserbu ratusan ribu wisatawan. Sejumlah titik padat, termasuk di kawasan Alun-Alun dan Stasiun Bogor. Akibatnya, alur penumpang yang keluar dari stasiun serta volume kendaraan di Jalan Mayor Oking maupun Jalan Kapten Muslihat menjadi sulit terkontrol.

Situasi diperparah dengan angkutan kota (angkot) dan kendaraan roda dua yang parkir sembarangan di pinggir jalan.

Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, langsung turun ke lapangan dan mengecek kondisi tersebut pada Kamis (3/4/2025) sore.

“Memang okupansi manusia di H+3 ini cukup membeludak. Yang jadi masalah adalah, begitu keluar dari stasiun, warga berjalan kaki di jalan. Kemacetan juga diperparah oleh banyaknya pedagang di trotoar maupun di badan jalan,” ujar Jenal Mutaqin.

Masalah lainnya, kata Jenal Mutaqin, adalah banyaknya angkot yang menaikkan dan menurunkan penumpang di sembarang tempat.

Jenal Mutaqin mengungkapkan, sambil menunggu rekayasa lalu lintas yang akan mengalihkan rute angkot agar tidak melintasi Jalan Kapten Muslihat, alur penumpang harus diatur kembali. Termasuk warga yang menyeberang jalan tidak pada tempatnya.

“Solusi terbaiknya adalah penataan kawasan Stasiun Bogor dan Alun-Alun yang tidak bisa dilakukan secara parsial. Penataan ini harus terintegrasi dan melibatkan kerja sama dengan PT KAI. Penataan di kawasan stasiun dan alun-alun harus dipikirkan bersama,” jelasnya.

Jenal Mutaqin juga menyoroti terkait Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di kawasan tersebut yang kondisi saat ini dinilai tidak representatif.

JPO tersebut kumuh, atapnya berlubang, rawan pencopetan, serta dipenuhi sampah akibat pedagang yang berjualan di sekitarnya.

“Kehadiran saya di sini adalah upaya untuk meminimalisir masalah. Kami mengusir angkot yang parkir sembarangan, menertibkan pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan, serta mengarahkan penumpang di dalam stasiun,” ungkap Jenal Mutaqin.

Jenal Mutaqin juga mengakui banyak keluhan terkait minimnya petugas yang berjaga di kawasan tersebut. Ia menegaskan kepada OPD terkait untuk lebih bersiaga.

“Kita harus rapatkan barisan. Bila perlu, ada piket khusus. Saya ingin tahu nama dan jumlah petugas yang berjaga. Lagi-lagi, saya harus mendorong agar minimal 10 orang selalu siaga setiap hari,” ujarnya.

Dengan langkah tersebut, Jenal Mutaqin berharap bisa mengurai kemacetan dan berbagai faktor lain yang menyebabkan kesemrawutan. ***

Pemecatan Shin Tae-Yong: Jalan Keluar atau Masalah Baru?

0

Bogordaily.net – Shin Tae-yong, nama yang sudah tak asing didengar dalam dunia persepakbolaan Indonesia. Ia merupakan pelatih Timnas Indoensia yang dikontrak dari bulan desember 2019 silam. Perjalanan karirnya yang bisa dikatakan cukup gemilang, dengan segemban prestasi yang diraih sebagai pemain maupun pelatih di korea membuat manajemen sepakbola Indonesia tertarik untuk merekrutnya.

Dalam melatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong juga mengemban banyak prestasi yang cukup baik seperti meraih perunggu dalam Sea Games 2021, lolos putaran ketiga piala dunia 2026, hingga membuat peringkat timnas Indoensia naik drastic dari 173 ke 129 dalam rangking FIFA.

Namun, kini Shin Tae-yong harus menerima kenyataan pahit dengan dipecatnya Ia sebagai pelatih Timnas Indonesia. Pemberhentian Shin Tae-yong pada 6 januari 2025, mengejutkan publik indoensia. Dalam konferensi pers, ketua umum PSSI, Erick Thohir mengumumkan pemberhentian Shin Tae-yong sebagai pelatih timnas Indoensia. Sebagaimana pemberhentian yang diumumkan pada konferensi pers tersebut, membuat publik geram dan bertanya-tanya alasan dibalik pemecatan tersebut. Adanya konflik internal serta kekalahan saat laga kualifikasi piala dunia tahap pertama, menjadi suatu alasan atas pemberhentian Shin Tae-yong.

Pemecatan Shin Tae-yong menimbulkan adanya dua persepsi berbeda dari publik. Ada yang beranggapan bahwa pemecatan ini sebagai Langkah untuk membuat perubahan pada dunia sepakbola Indonesia, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa pemecatan ini merupakan “blunder” besar karena bisa mengganggu performa timnas saat ini. Hasil dari pertandingan timnas yang bisa dikatakan kurang memuaskan bisa menjadi salah satu alasan terbesar dari Keputusan pemecatan ini. Tetapi, keefektifan dari pemecatan yang dilakukan ini masih terus dipertanyakan publik hingga saat ini.

Suasana Panas di Ruang Ganti Timnas
Kondisi ruang ganti Timnas diduga memanas saat menghadapi China pada kualifikasi piala dunia zona asia pada 15 Oktober 2024 lalu. Banyak penggemar sepakbola Indonesia yang sangat berharap bahwa Indonesia memenangkan laga melawan China tersebut karena kekalahan China dalam dua pertandingan pertamanya. Nyatanya, Timnas Indonesia harus menerima kekalahan dengan skor 2-1. Hasil pertandingan tersebut membuat publik bertanya-tanya mengenai penyebab kekalahan timnas yang sangat disayangkan.

Ada beberapa penyebab ruang ganti memanas, seperti Jay Idzes yang sebelumnya merupakan kapten timnas, namun saat pertandingan dengan China tersebut, Asnawi Mangkualam yang terpilih menjadi kapten. Selain itu, salah satu pemain naturalisasi Indonesia yang digadang-gadang akan membuat perubahan permainan timnas menjadi lebih baik, yaitu Eliano Reijnders tidak dipanggil ke dalam squad timnas, serta banyak miskomunikasi antara Shin Ta-yong dan para pemain. Semua alasan tersebut sempat dibantah oleh para manajemen

timnas sendiri, namun masih perlu dipertanyakan, apakah semua bantahan tersebut hanya untuk menutupi kondisi ruang ganti yang sebenarnya? Karena bisa dilihat performa timnas yang menurun saat menghadapi China tersebut. Persepsi dari publik belum tentu benar karena tidak mengetahui kejadian sebenarnya di ruang ganti, tetapi timnas juga perlu mempertahankan struktur yang sudah ada sebelumnya.

Patrick Kluivert sebagai Pengganti STY
Setelah pemecatan Shin Tae-yong, Patrick Kluivert ditunjuk sebagai pelatih timnas. Patrick Kluivert diketahui belum mempunyai pengalaman melatih tim piala dunia, serta pernah terseret beberapa kasus di masa lalunya. Patrick Kluivert sendiri mempunyai rekam jejak kepelatihan yang bisa dibilang belum cukup cemerlang, dibandingkan dengan karirnya sebagai pemain. Sebagai pelatih, Kluivert belum pernah tim nasional berkompetisi di ajang turnamen besar seperti piala asia atau piala dunia, dan masih bisa diragukan bagaimana Ia membawa Timnas Indonesia untuk lolos ke piala dunia.

Sebagai pemain, Patrick Kluivert pernah bermain di klub-klub besar seperti mulai dari Timnas Belanda, Ajax Amsterdam di liga Belanda, AC Milan di liga italia, hingga Barcelona di liga spanyol. Saat bermain di Ajax pun, Patrick Kluivert membawa piala liga serta liga champions selama 3 musim berturut-turut, yang membuat kepercayaan publik terhadap kepelatihannya yang menggantikan Shin Tae-yong meningkat. Karirnya sebagai pemain tersebut yang cukup baik itu bisa menghilangkan keraguan publik akan rekam jejak kepelatihannya.

Jejak karirnya tersebut pun membuat publik menjadi bingung karena kedua hal tersebut. Mempercayai Patrick Kluivert sudah menjadi hal yang seharusnya dilakukan saat ini. dengan jabatannya sebagai pelatih timnas yang baru, melihat ke masa depan adalah yang perlu kita lakukan. Berbagai macam hasil baik yang kita tunggu, serta target yang diberikan untuk membuat Indonesia lolos ke piala dunia 2026 harus selalu kita harapkan. setelah melihat hasil yang nyata, publik kemudian akan bisa mengeluarkan pendapat tentang performanya.***

Matius Salomo Nababan
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University

Makna Dibalik Meme Kesenggol Toples Kue Sagu Keju Saat Lebaran, No. 3 Pasti Pernah Kamu Alami!

0

Bogordaily.net – Makna dibalik meme kesenggol toples kue sagu keju saat Lebaran kini menjadi topik yang ramai dibicarakan di media sosial seperti Facebook, TikTok, dan Twitter.

Meme ini menggambarkan situasi canggung yang sering terjadi saat momen silaturahmi keluarga, di mana seseorang tiba-tiba mendapat pertanyaan sensitif dari sanak saudara.

Reaksi spontan akibat pertanyaan tersebut sering kali diilustrasikan dengan tergulingnya toples kue sagu keju, yang dalam meme ini menjadi simbol dari suasana yang berubah mendadak menjadi tegang atau lucu.

Kue sagu keju sendiri merupakan camilan khas yang hampir selalu ada saat Lebaran.

Namun, dalam meme yang sedang viral ini, kue sagu keju justru menjadi lambang dari suasana canggung dan kelucuan yang terjadi saat acara kumpul keluarga.

Unggahan yang pertama kali muncul di platform X (sebelumnya Twitter) dari akun @_devalo menceritakan percakapan antara dua orang yang sedang menghadapi pertanyaan mendadak dari keluarga besar, seperti “Kapan punya anak?” atau “Sudah kerja di mana sekarang?”.

Dalam situasi ini, kesenggolnya toples kue sagu keju menggambarkan betapa kagetnya seseorang dalam menghadapi pertanyaan yang sering kali dianggap kurang nyaman.

Tak butuh waktu lama, cuitan ini menarik perhatian warganet dan diadaptasi menjadi berbagai bentuk meme yang beredar luas di media sosial.

Banyak pengguna internet yang merasa relate dengan situasi ini karena sering mengalami hal serupa saat pertemuan keluarga besar.

Makna dibalik meme kesenggol toples kue sagu keju saat Lebaran pun berkembang sebagai bentuk ekspresi humor khas warganet dalam merespons pengalaman yang dialami oleh banyak orang.

Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana budaya digital dan tradisi lokal bisa saling berinteraksi, menciptakan tren unik yang menghibur sekaligus menggambarkan realitas sosial.

Meme ini tidak hanya sekadar candaan, tetapi juga menjadi bentuk refleksi terhadap kebiasaan bertanya yang sering muncul dalam momen Lebaran.

Dengan semakin populernya meme ini, kue sagu keju kini tidak hanya dikenal sebagai camilan khas Lebaran, tetapi juga sebagai ikon dari momen-momen lucu yang sering terjadi saat berkumpul bersama keluarga.

Jadi, bagi yang masih bertanya-tanya tentang makna dibalik meme kesenggol toples kue sagu keju saat Lebaran, jawabannya adalah representasi humor warganet terhadap realita yang sering terjadi di kehidupan sehari-hari.***

Insentif Sopir Angkot di Puncak Dipotong Oknum Dishub dan KKSU Rp200 Ribu, Dedi Mulyadi Mau Bawa ke Jalur Hukum

0

Bogordaily.net – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkap adanya dugaan pemotongan insentif sebagai kompensasi libur narik bagi para sopir angkot di jalur Puncak Kabupaten Bogor yang diberikan oleh pemerintah provinsi selama lebaran.

Dalam keterangannya, Dedi menyatakan telah menerima informasi bahwa bantuan yang seharusnya diterima sopir angkot hanya sampai Rp800 ribu dari total Rp1 juta yang seharusnya mereka terima.

Untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, Dedi mengutus Haji Mumu ke Bogor guna melakukan investigasi langsung.

Dari hasil pengecekan di lapangan, ditemukan bahwa terdapat pemotongan terhadap insentif sopir Angkot di jalur puncak sebesar Rp200 ribu oleh oknum yang diduga berasal dari Dinas Perhubungan (Dishub), Organda, dan Koperasi Komunitas Sopir (KKSU).

Seorang sopir angkot bernama Emen, yang telah berprofesi sejak tahun 1996, mengungkapkan bahwa pemotongan tersebut dilakukan dengan alasan sebagai
‘keikhlasan yang ditargetkan’. Uang yang dipotong diduga disalurkan kepada beberapa pihak yang mengatasnamakan organisasi pengelola angkot.

Dedi menegaskan bahwa insentif ini seharusnya diterima secara utuh oleh para sopir angkot sebagai bentuk kompensasi atas kebijakan pembatasan operasional mereka saat momen-momen tertentu, seperti libur lebaran dan liburan sekolah.

Ia juga menyatakan bahwa ke depannya, bantuan semacam ini akan disalurkan melalui rekening bank agar menghindari praktik pemotongan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Lebih lanjut, Dedi menyatakan akan mengambil langkah hukum terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pemotongan dana tersebut.

Ia meminta para sopir angkot yang menjadi korban untuk bersedia menjadi saksi dalam proses hukum yang akan ditempuh.

Selain menyoroti masalah insentif, Dedi juga menyinggung solusi jangka panjang untuk angkutan umum di Bogor.

Salah satu gagasannya adalah menggandeng perusahaan mobil listrik untuk memberikan solusi kepemilikan kendaraan tanpa uang muka bagi para sopir angkot, serta menata ulang trayek dan fasilitas angkot agar lebih nyaman bagi penumpang.

Dedi menegaskan bahwa dirinya akan terus mengawasi dan menindak tegas segala bentuk penyimpangan dalam distribusi bantuan bagi rakyatnya.

“Saya ingin rakyat saya tidak ada yang susah hidupnya. Jika ada yang memotong hak mereka, saya akan proses secara hukum,” ujarnya dalam tayangan YouTube di chanal pribadinya.

Investigasi terkait kasus ini masih terus berjalan, dan Gubernur Dedi Mulyadi berkomitmen untuk memastikan bahwa seluruh insentif yang telah dialokasikan dapat diterima sepenuhnya oleh para penerima manfaat.***

Film Horor Pabrik Gula Uncut: Perbedaan, Sensor, dan Jadwal Tayang

0

Bogordaily.net – Film horor Pabrik Gula Uncut menghadirkan pengalaman menonton yang lebih mendalam bagi para penggemar genre horor.

Dengan elemen ketegangan yang lebih eksplisit dan storytelling yang lebih utuh, versi ini menawarkan atmosfer menyeramkan yang hanya dapat dinikmati oleh penonton berusia 21 tahun ke atas.

Dibandingkan dengan versi regulernya yang diberi label Jam Kuning, film horor Pabrik Gula Uncut membawa suasana lebih mencekam dengan adegan yang lebih berani dan mendalam.

Menurut produser Manoj Punjabi, perbedaan utama kedua versi terletak pada intensitas penyajian cerita serta kejelasan alur yang lebih tajam pada versi Uncut.

“Dua versi ini tetap memiliki inti cerita yang sama, tetapi versi Uncut memberikan nuansa lebih kuat dengan tambahan adegan yang membuat pengalaman menonton semakin menegangkan,” ujar Manoj Punjabi.

Perbedaan Sensor dan Durasi Film

Meskipun perbedaan durasi antara kedua versi hanya sekitar satu menit, film horor Pabrik Gula Uncut menampilkan beberapa adegan yang dinilai terlalu intens untuk penonton di bawah 21 tahun.

Oleh karena itu, Lembaga Sensor Film (LSF) memberikan klasifikasi berbeda bagi masing-masing versi untuk menyesuaikan dengan batasan usia yang telah ditetapkan.

Jika versi Jam Kuning dapat dinikmati lebih luas dengan jadwal tayang yang fleksibel, versi Uncut memiliki keterbatasan dalam penayangannya.

Film ini hanya tersedia di bioskop-bioskop tertentu dan hanya dapat ditonton pada slot waktu setelah pukul 20.00 malam, memberikan kesan eksklusif bagi penonton dewasa.

Alur Cerita dan Deretan Pemain

Film ini berlatar tahun 2003 dan mengikuti kisah sekelompok buruh musiman yang bekerja di sebuah pabrik gula di Jawa Timur.

Ketika Fadhil dan Naning, dua pekerja utama dalam cerita ini, mulai mengalami kejadian mistis di dalam mes pekerja, misteri kelam yang tersembunyi di balik pabrik tersebut mulai terungkap.

Dibintangi oleh Arbani Yasiz, Ersya Aurelia, Erika Carlina, Bukie B. Mansyur, serta sejumlah aktor berbakat lainnya, film ini siap meneror layar bioskop pada 31 Maret 2025, bertepatan dengan libur Lebaran.

Bagi penggemar horor yang mencari pengalaman lebih intens, versi Uncut ini bisa menjadi pilihan tepat. Dengan suasana yang lebih mencekam dan adegan yang lebih eksplisit, siapkah Anda menghadapi teror di dalam film horor Pabrik Gula Uncut?.***

Jumlah Kendaraan Masuk Puncak Selama Lebaran Capai 350 Ribu Lebih, Polres Bogor Maksimalkan Rekayasa One Way

0

Bogordaily.net – Jumlah kendaraan masuk Puncak selama Lebaran 2025 mencapai lebih dari 350 ribu unit.

Angka tersebut tercatat sejak hari pertama Idul Fitri hingga H+3 Lebaran. Satlantas Polres Bogor pun mengoptimalkan rekayasa lalu lintas sistem satu arah (one way) untuk mengurai kemacetan di jalur wisata favorit ini.

KBO Satlantas Polres Bogor, Iptu Ardian Novianto, mengungkapkan bahwa data rekapitulasi menunjukkan lonjakan kendaraan yang signifikan.

“Untuk kendaraan yang naik ke Puncak saja, sesuai hasil rekapitulasi, jumlahnya sudah mencapai sekitar 350 ribu unit,” kata Ardian.

Dengan tingginya volume kendaraan, petugas menerapkan sistem one way ke arah Jakarta untuk memperlancar arus balik. Hal ini dilakukan karena antrean kendaraan di wilayah Cianjur sudah mencapai Pasar Cipanas akibat penutupan jalur one way dari Jakarta menuju Puncak.

“Melihat kondisi arus yang padat menuju Jakarta, kami memprediksi rekayasa one way ke bawah akan berlangsung hingga pukul 18.00 WIB,” jelas Ardian.

Pihak kepolisian terus melakukan pemantauan untuk mengantisipasi puncak arus balik mudik maupun wisata di kawasan Puncak.

Anggota kepolisian juga disiagakan di titik-titik rawan kemacetan guna memastikan kelancaran lalu lintas.

“Jika melihat tren saat ini, jumlah kendaraan masuk Puncak selama Lebaran masih berpotensi meningkat, terutama pada Jumat malam hingga akhir pekan. Pada Sabtu dan Minggu, arus kendaraan diprediksi lebih didominasi oleh kendaraan yang kembali ke arah Jakarta,” tambah Ardian.

Dengan jumlah kendaraan masuk Puncak selama Lebaran yang terus meningkat, masyarakat diimbau untuk selalu memantau informasi lalu lintas sebelum bepergian, serta mempertimbangkan jalur alternatif guna menghindari kepadatan.***

Arti Meme Kesenggol Toples Kue Sagu Keju saat Lebaran yang Viral di Media Sosial

0

Bogordaily.net – Meme “kesenggol toples kue sagu keju” tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial seperti Facebook, TikTok, dan Twitter.

Banyak warganet yang penasaran dengan arti meme kesenggol toples kue sagu keju yang viral di media sosial ini. Meme tersebut menggambarkan situasi canggung saat pertemuan keluarga di hari raya, terutama ketika seseorang mendapat pertanyaan sensitif dari kerabat.

Kue sagu keju sendiri merupakan salah satu camilan khas Lebaran yang sering disajikan di rumah-rumah. Namun, dalam meme yang sedang viral ini, kue sagu keju justru menjadi simbol dari suasana canggung dan momen konyol saat silaturahmi.

Unggahan yang pertama kali muncul di platform X (sebelumnya Twitter) dari akun @_devalo menceritakan kejadian saat seseorang ditanya pertanyaan pribadi yang tidak nyaman, seperti “Kapan punya anak?” atau “Sudah kerja di mana sekarang?”.

Dalam konteks ini, kesenggolnya toples kue sagu keju menggambarkan reaksi spontan yang mencairkan suasana, tetapi sekaligus menjadi momen lucu yang mengundang tawa.

Tak butuh waktu lama, cuitan ini segera menarik perhatian warganet dan diadaptasi menjadi berbagai bentuk meme di media sosial.

Banyak yang mengaitkan situasi ini dengan pengalaman pribadi mereka saat Lebaran, di mana pertanyaan-pertanyaan serupa sering kali muncul dalam pertemuan keluarga besar.

Istilah “kesenggol toples kue sagu keju” pun menjadi metafora unik untuk menggambarkan situasi canggung yang sering terjadi saat berkumpul dengan sanak saudara.

Selain itu, arti meme kesenggol toples kue sagu keju yang viral di media sosial juga bisa dihubungkan dengan humor khas warganet Indonesia yang gemar mengubah kejadian sehari-hari menjadi bahan candaan.

Fenomena ini membuktikan bahwa tradisi dan kebiasaan masyarakat bisa menjadi inspirasi bagi tren digital yang menarik perhatian banyak orang.

Dengan viralnya meme ini, kue sagu keju kini tidak hanya dikenal sebagai camilan lezat saat Lebaran, tetapi juga sebagai simbol humor yang mengingatkan kita pada betapa uniknya momen-momen kebersamaan di hari raya.

Bagi yang masih bertanya-tanya tentang arti meme kesenggol toples kue sagu keju yang viral di media sosial, kini sudah jelas bahwa meme ini merupakan bentuk ekspresi warganet terhadap realita sosial yang sering dialami saat momen Lebaran.***

“Kabur Aja Dulu”, Saat Nasionalisme Diuji di Negeri Sendiri

0

Bogordaily.net – Fenomena Kabur Aja Dulu dari anak muda Indonesia yang memilih bekerja atau menetap di luar negeri semakin marak. Banyak faktor yang mendorong mereka untuk “kabur,” mulai dari ekonomi hingga lingkungan kerja yang tidak mendukung. Salah satu alasan utama adalah sulitnya mendapatkan pekerjaan yang layak.

Banyak lulusan perguruan tinggi yang harus berjuang bertahun-tahun untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi mereka. Tidak sedikit pula yang akhirnya harus bekerja di bidang yang jauh dari latar belakang pendidikannya.

Selain itu, permasalahan gaji juga menjadi pertimbangan besar. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), UMR di berbagai daerah di Indonesia masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin mahal.

Di sisi lain, banyak negara yang menawarkan gaji lebih tinggi dengan standar hidup yang lebih baik. Seorang pengguna Twitter, @rizkysatria_, menulis, “Gaji di sini buat hidup doang, bukan buat masa depan. Gimana mau berkembang kalau tabungan aja nggak ada?”

Komentar ini mencerminkan keresahan banyak anak muda yang merasa terjebak dalam kondisi ekonomi yang stagnan.

Lingkungan kerja yang tidak profesional dan minimnya peluang berkembang juga menjadi faktor pendorong.

Budaya kerja yang masih mengandalkan senioritas dan bukan meritokrasi sering kali membuat pekerja muda merasa sulit untuk berkembang.

Kurangnya apresiasi terhadap tenaga kerja berkualitas di dalam negeri juga menjadi masalah besar. Banyak yang merasa bahwa kerja keras mereka tidak dihargai, sehingga memilih mencari pengakuan di negara lain.

Apakah Mereka Tidak Nasionalis?
Ketika banyak anak muda memilih pergi, muncul kritik bahwa mereka tidak nasionalis atau meninggalkan tanggung jawab membangun bangsa. Ada anggapan bahwa generasi muda seharusnya bertahan dan berjuang demi kemajuan Indonesia, bukan malah mencari kenyamanan di negara lain.

Namun, apakah nasionalisme hanya diukur dari di mana seseorang tinggal dan bekerja? Jika nasionalisme berarti mencintai dan berkontribusi bagi negara, maka hal itu bisa dilakukan dari mana saja.

Seorang pengguna Instagram, @annisa_fajar, berkomentar, “Nasionalisme bukan soal di mana kita tinggal, tapi apa yang kita lakukan untuk Indonesia.” Banyak pekerja migran yang tetap memiliki kepedulian terhadap tanah air, meskipun mereka tinggal jauh dari Indonesia.

Alih-alih dianggap meninggalkan negara, banyak pekerja Indonesia di luar negeri justru memberikan kontribusi nyata. Salah satunya adalah remitansi atau kiriman uang dari luar negeri yang membantu perekonomian keluarga dan negara. Menurut Bank Indonesia, remitansi dari pekerja migran mencapai miliaran dolar setiap tahunnya, yang berperan dalam menopang ekonomi nasional.

Selain itu, diaspora Indonesia di luar negeri turut mempromosikan budaya Indonesia. Mereka memperkenalkan kuliner, seni, dan tradisi Indonesia ke dunia internasional. Bahkan, beberapa dari mereka menjadi duta budaya yang membantu memperkuat citra positif Indonesia di kancah global.

Banyak pula profesional yang kembali ke Indonesia dengan membawa ilmu dan pengalaman baru. Mereka yang pernah bekerja di luar negeri seringkali memiliki wawasan dan keterampilan yang lebih luas, yang kemudian dapat diterapkan untuk membangun industri dan sektor lain di Indonesia.

Meskipun banyak yang memilih untuk pergi, bukan berarti tidak ada solusi untuk memperbaiki kondisi di dalam negeri. Pemerintah dan sektor industri perlu menciptakan ekosistem kerja yang lebih baik agar generasi muda tidak merasa harus pergi ke luar negeri demi kehidupan yang lebih layak. Reformasi di berbagai sektor, mulai dari kebijakan ketenagakerjaan hingga sistem penggajian, perlu menjadi prioritas.

Selain itu, perlu adanya dorongan untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih profesional dan mendukung perkembangan karier. Penghargaan terhadap tenaga kerja yang berkompeten harus ditingkatkan agar mereka tidak merasa diabaikan.

Kesimpulannya, memilih bekerja di luar negeri bukan berarti tidak cinta Indonesia. Nasionalisme bisa diwujudkan dalam banyak bentuk, baik dari dalam maupun luar negeri. Yang terpenting adalah bagaimana kita tetap berkontribusi untuk kemajuan bangsa, di mana pun kita berada.***

Sofwa Nurul Karimah, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

The Yatim Village, Hangatnya Senampan Kebersamaan

0

Bogordaily.net – Sore itu, langit mulai berubah jingga saat aku dan teman-teman sampai di The Yatim Village. Walaupun lokasinya berada di tengah kota, suasana terasa lebih tenang dan penuh kehangatan. Begitu masuk gerbang, kami langsung disambut oleh anak-anak yang berlarian di halaman. Beberapa dari mereka menyapa dengan senyum lebar, membuat aku langsung merasa nyaman, rasanya seperti disambut oleh keluarga sendiri.

Aku datang bersama teman-teman ku dari Komunitas Iympack, pada tanggal 3 Maret 2025.
Iympack (Indonesian Youth Movement for Peace and Charity) adalah komunitas kepemudaan yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan.

Komunitas ini berfokus pada aksi nyata yang bertujuan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, sekaligus menginspirasi lebih banyak anak muda untuk terlibat dalam kegiatan sosial.

Asrama Yatim “The Yatim Village” berada di Kota Bogor, asrama ini dihuni oleh Anak Anak Yatim dan Dhuafa Penghafal Al-Qurán, Mulai Usia Balita Hingga Setara Perguruan Tinggi dan juga Para Ib-Ibu yang telah meninggal suaminya (Ibu Tangguh).

Saat ini total seluruh anak yatim, ibu tangguh dan juga civitas kurang lebih ada 250 orang.

Sebenarnya, tujuan utama kami datang ke sini bukan hanya untuk sekedar bersilaturahmi, tapi juga untuk rapat membahas rencana acara besar Yatim Fest 2025 yang memang rutin diadakan oleh The Yatim Village setiap bulan Ramadhan.

Sambil menunggu waktu rapat dimulai, kami menghabiskan waktu dengan ngobrol, main bersama, dan mendengarkan cerita mereka.

Setelah rapat selesai, kami diajak berkeliling untuk melihat area asrama. Konsep bangunannya cukup unik, yaitu unfinished look, yang memberikan kesan sederhana namun nyaman.

Bangunan ini terdiri dari tiga lantai yang difungsikan sebagai kamar santri, ruang belajar, serta berbagai fasilitas lainnya.

Seusai berkeliling, kami kembali berkumpul di ruang rapat untuk berbuka puasa bersama.

Setelah azan Magrib berkumandang, kami diarahkan ke mushola akhwat untuk shalat Magrib berjamaah.

Setelahnya, kami diajak ke ruang makan untuk makan malam bersama. Begitu kami masuk ke ruang makan, anak-anak langsung menyambut dengan penuh antusias.

“Kak! Kak! Sini makan bareng kita!” seru mereka sambil melambaikan tangan.
“Kak, sini aja bareng kita!” tambah yang lain dengan wajah sumringah.

Mereka bersemangat mengajak kami bergabung dalam kelompok mereka. Oh iya, satu nampan biasanya diisi oleh lima hingga enam anak.

Makan senampan bersama adalah tradisi yang mereka lakukan setiap hari, tetapi ini adalah pengalaman pertamaku. Kami menikmati hidangan sambil mengobrol santai.

Di sebelahku duduk salah satu pengurus Yatim Village, yaitu Ummi Yeni. Sambil tersenyum, beliau berkata, “Di sini, anak-anak memang selalu makan pakai nampan seperti ini.

Supaya mereka terbiasa berbagi dan tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.” Aku mengangguk paham. Ternyata, makan bersama dalam satu nampan bukan sekadar kebiasaan, tapi juga cara mereka belajar tentang kebersamaan dan berbagi.

Setelah selesai makan, anak-anak langsung melakukan hompimpa untuk menentukan siapa yang akan mencuci nampan. Aku yang awalnya hanya menonton akhirnya ikut serta juga. Dan hasilnya… aku yang kalah! Anak-anak yang makan bersamaku langsung bersorak senang.

Namun, saat aku bersiap membawa nampan ke tempat cuci, mereka tiba-tiba menyusul dan berkata, “Kak, sini aku aja yang cuci.”

Aku tertawa kecil dan berkata, “Enggak, aku aja. Kan tadi aku yang kalah hompimpa. Kalian duduk aja, tunggu di sana.”

Tapi ternyata, mereka tetap ikut membantu. Akhirnya, kami mencuci nampan itu bersama-sama sambil ngobrol dan bercanda. Ternyata, momen sederhana seperti ini justru membuatku merasa semakin dekat dengan mereka.

Tak terasa, waktu sudah semakin malam, dan aku harus berpamitan. Saat aku bersiap pulang, salah satu anak tiba-tiba berkata dengan wajah sedih, “Yah, Kakak pulang?”
Aku tersenyum dan menjawab, “Aku bakal sering-sering ke sini kok. Kita pasti ketemu lagi!”

Mereka pun tersenyum lebar. Aku pulang dengan hati yang penuh rasa syukur, penuh kebahagiaan, dan penuh keinginan untuk kembali lagi.***

Sofwa Nurul Karimah, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Konsisten Terapkan Prinsip ESG untuk Bisnis Berkelanjutan, BRI Raih 2 Penghargaan Internasional dari The Asset Triple A

0

Bogordaily.net – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) kembali mencatatkan prestasi gemilang di kancah internasional dengan meraih penghargaan bergengsi dalam The Asset Triple A Awards for Sustainable Finance 2025 yang digelar di Hong Kong, Rabu (19/03).

Penghargaan ini menegaskan komitmen BRI dalam mendorong keuangan berkelanjutan serta memperkuat peran Indonesia dalam agenda keberlanjutan di sektor keuangan regional.

Dalam ajang tersebut, BRI dianugerahi Best Issuer for Sustainable Finance, sebuah penghargaan yang diberikan kepada institusi yang dinilai paling aktif dan berkomitmen dalam menerbitkan instrumen keuangan berkelanjutan.

Pengakuan ini makin memperkuat posisi BRI sebagai salah satu pemain utama dalam keuangan berkelanjutan di Indonesia dan kawasan.

Selain itu, BRI juga meraih penghargaan Best Social Loan atas keberhasilannya mendapatkan pinjaman sosial dari konsorsium bank internasional dengan total US$800 juta yang merupakan bagian dari upaya penghimpunan dana sebesar US$1 miliar. Dana dari pinjaman sosial ini akan dialokasikan untuk mendukung berbagai proyek yang sesuai dengan prinsip keberlanjutan.

Pada kesempatan terpisah, Corporate Secretary BRI Agustya Hendy Bernadi mengungkapkan bahwa capaian ini merupakan bukti nyata komitmen BRI dalam mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam strategi bisnis Perusahaan.

“Praktik keuangan berkelanjutan bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan yang harus diwujudkan untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang bertanggung jawab. Penghargaan ini menjadi motivasi bagi BRI untuk terus berinovasi dalam menciptakan solusi pembiayaan yang berdampak positif bagi masyarakat dan lingkungan,” ujar Agustya Hendy.

Capaian penghargaan ini sejalan dengan komitmen BRI yang secara konsisten menghadirkan produk dan layanan perbankan berkelanjutan, termasuk Green Bond, Sustainability-Linked Loans, serta berbagai instrumen pendanaan dan pembiayaan berkelanjutan lainnya.

Hingga tahun 2024, BRI telah mencatat penerbitan Green Bond sebesar Rp13,5 Triliun yang disalurkan pada proyek-proyek hijau maupun sosial. Tidak hanya itu, BRI juga menerbitlan Social Loan senilai US$800 juta, yang disalurkan pada proyek-proyek sosial.

Dari sisi pembiayaan, hingga tahun 2024, BRI telah menyalurkan pembiayaan kepada kegiatan usaha berwawasan lingkungan (KUBL)/Green Loan sebesar Rp86,6 triliun. Sementara itu, penyaluran Social Loan mencapai Rp698,7 triliun, yang difokuskan untuk mendukung pertumbuhan UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

The Asset adalah lembaga riset serta penerbit berita bisnis dan industri keuangan di Asia yang berdiri sejak 1999 dan berbasis di Hong Kong. Sementara itu, The Asset Triple A Awards for Sustainable Finance 2025, menjadi penghargaan yang diberikan kepada institusi keuangan dan perusahaan yang menunjukkan keunggulan dalam kinerja serta komitmen terhadap pembiayaan berkelanjutan.

Penghargaan ini mencakup berbagai negara dan wilayah, termasuk Bangladesh, China, Hong Kong, India, Indonesia, Korea, Malaysia, Pakistan, Philippines, Singapore, Taiwan, Thailand, Vietnam. Selain itu, terdapat kategori Best Deals Only yang mencakup negara-negara seperti Kamboja, Laos, Mongolia, Myanmar, dan Sri Lanka.***