Thursday, 9 April 2026
Home Blog Page 8977

Dijatah Tiga Kursi, Kota Bogor Jadi Dapil Sendiri

BOGOR DAILY-Rancangan Undang-Undang Pemilihan Umum (UU Pemilu) telah disetujui DPR RI, Jumat (21/7) pekan lalu. Salah satu keputusannya yakni terkait alokasi kursi per daerah pemilihan (dapil). Berdasarkan rancangan tersebut, Kota Bogor akhirnya menjadi dapil sendiri untuk Pemilihan DPRD Provinsi pada 2019.

Kota Bogor akhirnya memiliki jatah kursi sendiri untuk keterwakilannya di tingkat DPRD Provinsi Jawa Barat. Ini sesuai isi rancangan UU Pemilu yang telah diketok anggota DPR RI.

Jika berkaca pada Pemili­han DPRD Provinsi 2014, Dapil Kota Bogor mulanya digabung dengan Kabupaten Cianjur. Gabungan kedua kota ini mendapat jatah tujuh kursi. Sedangkan dengan disahkannya UU Pemilu, Kota Bogor akhirnya dipisah dengan Kabupaten Cianjur menjadi dapil sendiri dengan jatah tiga kursi.

“Ini khusus Pemilihan DPRD Provinsi saja. Kalau untuk Pemilihan DPR RI tidak ada perubahan,” ungkap Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bogor Undang Suryatna.

Menurutnya, adanya pe­misahan Dapil Kota Bogor dan Kabupaten Cianjur untuk Pemilihan DPRD Provinsi su­dah sesuai aturan pembentu­kan dapil secara administratif wilayah.

“Seharusnya memang dip­isah. Karena dapil itu kan harus saling beririsan. Se­dangkan Kota Bogor dengan Cianjur itu tidak saling berba­tasan. Karena kalau dari Kota Bogor mau ke Cianjur kan harus melewati Kabupaten Bogor dulu,” bebernya.

Sementara jika Kota Bogor digabung dengan Kabu­paten Bogor, maka jumlah kursinya akan melebihi syarat maksimal kursi per dapil. Menurut Undang, dengan adanya pemisahan dapil ini maka asas keterwakilan daerah jadi lebih baik. Sebab, calon legislatif yang maju ke tingkat Jawa Barat (Jabar) akan lebih fokus dengan dapilnya sendiri tanpa harus terpecah konsentrasinya ke wilayah Cianjur.

“Yang pasti dengan Ko­ta Bogor dapil sendiri ini lebih representatif. Wakil Kota Bogor di provinsi bisa fokus dengan konstituen di dapilnya. Artinya, program provinsi juga bisa disink­ronkan dengan program di Kota Bogor,” urai Dosen Politik di Universitas Djuanda Bogor ini.

Sekadar diketahui, ber­dasarkan rancangan UU Pe­milu, DPR RI telah menyetu­jui pembagian dapil setiap provinsi. Untuk pemilihan DPRD tingkat Provinsi, Jabar mendapatkan jatah 120 kursi dari semula pada 2014 hanya seratus kursi. Penambah­an ini disesuaikan dengan adanya penambahan pen­duduk. Dari jatah tersebut, setiap dapil kota/kabupaten mendapatkan jatah berbeda. Seperti Kota Bogor (3 kursi), Kabupaten Bogor (11 kursi), Kabupaten Cianjur (6 kursi), Bandung (10 kursi) dan sele­bihnya bisa lihat grafis.

Sedangkan untuk Pemili­han DPR RI, relatif tidak ada perubahan untuk pembagian kursi dan Dapil di Kota/Ka­bupaten Bogor. Seperti Dapil Kota Bogor-Cianjur (9 kursi), Dapil Kabupaten Bogor (9 kursi). Dengan munculnya keputusan tersebut, maka setiap partai mau tidak mau harus menyetorkan nama caleg sejumlah jatah kursi di dapilnya.

Sementara anggota DPR RI Fraksi Golkar Eka Sastra menyambut baik pemecahan Dapil Kota Bogor untuk alokasi kursi di DPRD Provinsi Jabar. Karena tidak menyatu lagi dengan Cianjur, keterwakilan anggota DPRD dari Dapil Kota Bogor dinilai lebih fokus membangun daerahnya.

“Jadi sekarang memang ada penambahan jumlah kursi dan pemecahan dap­il untuk Provinsi Jabar. Ini lebih adil karena kursi lebih merata. Selanjutnya pertang­gungjawabannya akan lebih jelas. Sebab, Bogor mewakili wilayahnya sendiri, begitu­pun Cianjur,” kata Eka ke­pada Metropolitan, kemarin.

Namun di sisi lain, persain­gan partai politik (parpol) merebutkan tiga kursi ini dianggap Eka akan lebih sen­git, termasuk di internalnya sendiri. Menyiasatinya, Gol­kar memiliki semacam kode etik untuk caleg-caleg yang akan diusung. Mereka harus orang yang benar-benar mau memperjuangkan masyara­kat, terlebih konstituennya.

“Jadi kami punya me­kanisme dalam mengusung setiap caleg. Ini untuk me­minimalisasi kepentingan pribadi. Jadi nantinya mereka benar-benar bisa mewakili masyarakat,” terangnya.

Sementara Wakil Ketua II DPD Partai Demokrat Jabar Asep Wahyu Wijaya men­gatakan, terlepas dari segala kepentingan politik yang ada, pemecahan dapil ini memang bertumpu pada persentase jumlah pemilih. Namun jika bicara keter­wakilan, pemecahan dapil ini tidak bisa dijadikan patokan mutlak. Sebab, menurutnya, banyak anggota dewan di setiap wilayah yang bukan berasal dari wilayah tersebut. Sehingga, mereka kurang mengenal wilayahnya secara menyeluruh.

“Kalau bicara keterwakilan kan itu relatif. Secara hitung-hitungan memang mewakili, tetapi belum tentu calegnya itu benar-benar bisa me­wakili. Makanya caleg juga harus benar-benar mengeta­hui wilayahnya, sehingga pro­gram pembangunannya tepat sasaran. Itu yang namanya mewakili,” ungkap Asep.

Untuk itu, perlu komitmen setiap partai mengusung caleg yang benar-benar me­miliki keinginan memban­gun wilayah. Dengan begitu, keterwakilan masyarakat di legislatif benar-benar bisa terealisasi.

“Ini menjadi tugas partai memperketat seleksi caleg dan mengedepankan ke­pentingan masyarakat. Jadi keterwakilannya benar-benar nyata, bukan karena soal pemecahan dapil semata. Tetapi secara keseluruhan pemecahan dapil ini su­dah bagus karena jumlah kursinya bertambah dan keterwakilan caleg ke dae­rah asalnya lebih fokus,” tuturnya.

Di sisi lain, Pengurus Har­ian Terbatas (PHT) DPD De­mokrat yang juga anggota DPR Provinsi Jabar Didin Supriadin melihat jumlah tiga kursi untuk Dapil Kota Bogor berpotensi dimo­nopoli partai-partai besar pemenang pesta demokrasi. Sebab dengan tiga kursi, masing-masing partai hanya bisa merekomendasikan tiga calon. Sementara setiap par­tai memiliki basis massa tersendiri di setiap wilayah.

“Bicara soal keterwakilan memang belum bisa sepenuhnya jika mengan­dalkan pemecahan dapil. Khawatirnya setiap partai kan punya basis massanya sendiri di setiap wilayah. Jika hanya tiga kursi, kemungki­nan besar partai pemenang atau yang masuk tiga besar yang punya kans paling kuat merebut tiga kursi itu. Se­mentara partai-partai kecil kansnya kurang meski masih berpeluang,” jelas Didin yang sudah dua periode duduk di DPRD Jabar.

Namun, Didin melanjutkan, setiap kebijakan memang memiliki plus-minus tersend­iri. Perebutan tiga kursi ini diprediksi akan berlangsung sangat ketat. Tidak hanya di luar, tetapi juga di internal partai sendiri.

“Kalau digabung memang agak kesulitan dalam men­jangkau wilayah. Karena wilayah-wilayah di Jabar umumnya sangat luas. Mu­dah-mudahan saja dengan pemecahan dapil ini benar-benar bisa semakin mewakili aspirasi masyarakat,” tandas­nya.

Lulus SMP, ABG di Bogor Pilih Jadi Pedagang. Nih Hasil BPS-nya

BOGOR DAILY– Indeks Pembangu­nan Manusia (IPM) Kota Bogor peringkat ke-5 di provinsi Jawa Barat. Posisi tersebut terus bertahan enam tahun terakhir, ka­rena Rata-rata Lama Sekolah (RLS) di Kota Bogor peningkatannya tidak terlalu tinggi, begitu juga Harapan Lama Sekolah (HLS) yang tidak meningkat pesat. Sehingga IPM yang terus stagnan menjadi sorotan anggota DPRD Kota Bogor. ­

Ketua Komisi D DPRD Kota Bogor Adityawarman menga­takan, untuk meningkatkan IPM pihaknya akan mendukung dari segi bujeting. Sehingga IPM di Kota Bogor akan meningkat dan beranjak dari po­sisi lima di Jawa Barat.

“Untuk segi kesehatan me­mang sudah baik. Selain rumah sakit negeri, ada juga sejumlah rumah sakit swasta yang bisa mengcover kebutuhan kese­hatan. Sedangkan dari pendidikannya memang masih kurang maksimal dan harus ada eva­luasi mendalam,” ujarnya.

Politisi PKS ini merasa malu melihat kondisi saat ini di tengah sejumlah fasilitas di Kota Bogor yang cukup baik, namun RLS di Kota Bogor yang masih stag­nan. Dengan angka RLS 10 masih banyak di anak muda di Kota Bogor yang lulusannya hanya SMP dan tidak lulus SMA. “Infrastruktur sudah bagus, taman sudah bagus, cuma sayang pendidikannya. Ini juga harus menjadi perhatian Pem­kot Bogor,” terangnya.

Terkait pendapatan per ka­pita di Kota Bogor yang masih rendah, Aditya tidak menyangkalnya. Karena pendapatan per kapita ini berkaitan dengan lapangan kerja yang masih sedikit. Bahkan laporan yang diterimanya jumlah pengang­guran di Kota Bogor hanya 8 persen. “Tetapi data ini kadang tidak sesuai dengan kenyataan, karena hanya bagus dikertas tidak pada realitanya. Ini men­jadi PR kita sebagai Pemerintah Daerah,” paparnya.

Sebelumnya, Kepala BPS Kota Bogor Budi Hardiyono menga­takan, ada beberapa faktor yang menyebabkan IPM di Kota Bogor stagnan. Selain pendapatan per kapita kecil, rata rata lama se­kolah yang masih rendah juga menjadi faktor yang paling ut­ama. Sehingga IPM enam tahun terakhir tidak meningkat. “Kita telah memberikan masukan kepada pak wali kota agar mela­kukan eveluasi untuk mening­katkan IPM,” ujarnya kepada Metropolitan, kemarin.

Menurut Budi, Kota Bogor kalah dengan Kota Depok, Be­kasi, Bandung dan beberapa kota lainnya. Sebab, Bogor saat ini ada diperingkat ke-5 dari puluhan kota dan kabupaten di Jawa Barat. “Kota Bogor seha­rusnya bisa lebih naik lagi, ka­rena jumlah penduduknya dan luas wilayahnya tidak besar,” terangnya.

Selain itu, Budi juga menilai IPM sangat berpengaruh dengan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan pendapatan per kapita. Jika kedua faktor itu naik, ma­ka dipastikan IPM Kota Bogor akan naik. Sebab, beberapa faktor lainnya sudah cukup baik. “Untuk RLS saja Kota Bogor masih di angka 10, sedangkan Harapan Lama sekolah ada di angka 13. Ini yang membuat IPM stagnan,” paparnya.

Sementara itu, Wali Kota Bogor Bima Arya mengaku memang ada beberapa faktor yang mem­buat IPM di Kota Bogor stagnan. Bima pun sudah membentuk tim agar IPM terus meningkat. “Memang saya undang BPS khusus agar kita mengetahui kekurangan Pemkot Bogor dan ternyata IPM kita selama enam tahun tidak meningkat. Ini men­jadi bahan evaluasi,” ujarnya.

Rendahnya RLS, sambung Bima, terjadi karena banyak anak muda yang tidak meneruskan sekolah. Tak hanya itu, banyak juga pemuda lulusan SMP yang langsung berdagang usai lulus. Hal ini diketahui se­tiap kunjungan di beberapa wilayah Kota Bogor “Ini jelas menjadi PR kita, karena dengan begitu akan berpengaruh pada IPM kita selama ini,” ung­kapnya.

Kelenteng Tua di Babakanmadang Jadi Arang

BOGOR DAILY – Keheningan rumah ibadah Vihara Bio Dewa Re­jeki di Kecamatan Babakanmadang, Kabupaten Bogor, berubah seke­tika. Si jago merah dengan cepat melahap kelenteng tua di Kampung Babakanjengkol, RT 01/01, Desa Babakanmadang, kemarin. Akibat­nya, pelataran rumah ibadah ter­sebut habis terbakar.

Pengurus Vihara Bio Dewa Rejeki Arief Widjaja mengata­kan, kejadian di kelenteng tua ini bermula seki­tar pukul 01:00 WIB pada Se­lasa (25/7). Tiba-tiba api mulai membesar, sehingga dia langsung menghubungi petugas pemadam kebakaran (damkar). “Untungnya mereka cepat da­tang dan api belum menjalar ke mana-mana,” katanya.

Arief menduga kebakaran ini terjadi karena adanya arus pen­dek listrik. Sebab, jika dilihat di lokasi, percikan api itu jatuh mengenai atap plastik di ba­wahnya sehingga api dengan cepat membesar. “Sebelum kejadian, pelataran sudah di­bersihkan karena baru selesai digunakan sembahyang. Namun anehnya, api hanya membakar pelataran di luar tempat sem­bahyang dan api tidak masuk ke ruang sembahyang,” tutur­nya.

Untuk kerugiannya, tambah Arif, ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Sebab, bangunan berukuran 5×7 meter ini di­bangun dengan kayu yang telah berusia 100 tahun silam. “Itu bangunan lama, tidak ada harganya. Tetapi jika diharga­kan saat ini sekitar Rp100 juta,” ujarnya.

Pantauan Metropolitan, se­kitar pukul 13:00 WIB aktivitas di Vihara Bio Dewa Rejeki sudah berjalan seperti biasa. Beberapa jemaat terlihat sem­bahyang dengan khusyuk. Tidak ada garis polisi yang terpasang di bekas lokasi ke­bakaran. “Tidak kita pasang karena pengurus vihara me­nolak di-police line. Katanya mau mereka bersihkan dan dibangun kembali. Hanya kerugian materi, tidak ada kor ban,” kata Kapolsek Babakan­madang Kompol Nurohim.

Sementara itu, beberapa pe­tugas dari Vihara Bio Dewa Rejeki terlihat tengah membersihkan puing-puing sisa kebakaran. Hal ini bertujuan untuk mencegah bekas mate­rial yang terbakar rapuh dan menimbulkan korban.***

Keterlaluan! Bayi Merah Dibuang ke Tong Sampah

BOGOR DAILY– Sebuah ran­sel berisi mayat bayi membuat warga Desa Cibadung gempar. Tas tersebut dibuang ke tong sampah dekat bengkel di Kampung Bojong, RT 03/01, Desa Cibadung, Kecamatan Gunungsindur.

Terungkapnya penemuan ini berawal saat Siti Farida, pemilik bengkel, men­emukan tas di depan bengkelnya, Senin (24/7). Karena penasaran, ia pun langsung membuka tas bertu­liskan Adidas tersebut.

Saat dibuka, mayat bayi merah itu terbungkus plastik merah. Tali pu­sarnya juga masih menempel. Karena ketakutan, akhirnya Siti melapor ke ketua RT setempat dan memanggil pihak kepolisian. “Petugas kami baru mendapat laporan pada Senin (24/7) pagi dan langsung olah TKP,” ungkap Kapolsek GuRT setempat dan memanggil nungsindur Kompol K Samuji.­

Rupanya, ransel itu telah ditemukan sejak Minggu (23/7) sekitar pukul 23:50 WIB oleh seorang warga bernama Naman alias Ojos (37). Saat itu dirinya mengendarai motor dari arah Desa Gunungsindur ke Desa Cibadung. Ketika sampai di Kampung Bojong, saksi menemukan sebuah ransel warna merah di tengah jalan, posisinya dekat tempat pembuangan sampah. Lalu saksi mengambil ransel terse­but dan dibawanya pulang.

Menurut penuturan saksi, sebelum sampai rumah, tepat­nya di depan sebuah bengkel, saksi mencoba membuka tas dan meraba isinya yang terasa empuk. Karena lokasinya gelap tidak ada lampu penerangan, saksi pertama mengira isi ransel adalah kotoran manusia. “Saksi Naman alias Ojos selanjutnya meninggalkan ransel tersebut persis di depan bengkel milik saudari Siti Faridah. Selanjutnya Naman pulang ke rumahnya,” terang Samuji.

Barulah pada Senin (24/7) pa­gi, tas ini langsung menggem­parkan warga. Hingga kini, kasus tersebut masih dalam penyelidikan Polsek Gunung­sindur.

Disperindag Curiga Ada Penimbunan Garam di Bogor

BOGOR DAILY- Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Bogor, merespon keluhan masyarakat terkait kelangkaan garam dipasaran dan mencari secara pasti penyebab langkanya salah satu bumbu dapur itu. Termasuk soal kecurigaan adanya penimbunan.

Menurut Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Disperindag Kabupaten Bogor, Jona Sijabat mengatakan, pihaknya sudah menerima laporan dari sejumlah warga terkait langkanya garam di pasar dan diwarung-warung.

“Iya sudah banyak yang laporan katanya garam mulai susah didapatkan, saat ini masih kami cari tahu penyebanya,” tutur Jona, Senin (24/7/2017).

Dia mengungkapkan jika ada sekitar lima perusahaan garam yang biasa mendistribusikan garam ke pasar dan warung-warung di Kabupaten Bogor. Jona berjanji akan segera mengambil langkah agar warga tidak kembali kesulitan mendapatkan garam.

“Minggu-minggu ini kami akan segera turun ke lapangan dan mendatangi distibutor garam, apakah ada penimbunan atau seperti apa nantikan akan di pastikan dulu,” tegasnya.

Jika memang ditemukan menimbunan, kata dia, pihaknya tidak segan-segan memberikan sanksi tegas kepada pengusaha garam itu.

“Pasti akan ada sanksinya, kasihan masyarakat kalau untuk dapat garam saja sudah kesusahan seperti ini,” jelasnya.

Atlet Renang Tegar Beriman Incar 36 Medali Emas di Porda 2018

BOGOR DAILY-  Cabang renang kabupaten Bogor optimis akan membawa 36 medali pada PORDA yang digelar ditahun 2018 nanti. Menurut Ketua Pengcab Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) Kabupaten Bogor, Nuradi optimis jika anak- anak asuhnya mampu mendapatkan target karena sekitar 14 atlet renang sedang dilatih secara rutin untuk persiapan Porda nanti.

Dari 14 atlet ini terbagi ke beberapa nomor lomba yakni renang sebanyak 8 orang, loncat indah 4 orang dan renang indah 2 orang.

“Pemusatan latihan untuk atlet platnas di Bali dan atlet platda di Bandung, sekarang ini sedang menjalani sesi latihan disana,” ujar Nuradi.

Dia menjelaskan, sebagai tuan rumah Porda 2018, atlet Kabupaten Bogor harus bisa bertanding secara maksimal dan mampu memberikan yang terbaik untuk daerahnya.

Menurutnya, tim renang dari Bandung dan Bekasi saat ini paling diwaspadai lantaran mereka juga memiliki atlet-atlet bagus.

“Terutama tim renang putrinya, Bandung dan Bekasi ini menjadi pesaing kuat untuk Kabupaten Bogor,” tandasnya.

Keluarga Kakak Beradik yang Tewas Bunuh Diri Tolak Autopsi

BOGOR DAILY– Pihak keluarga menolak autopsi terhadap adik kakak yang tewas di Apartemen Gateway, Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung. Elviana Parubak (34) dan Eva Septiany ‎(28) tewas dengan cara meloncat dari lantai 5 apartemen tersebut pada Senin (24/7) sore.

“Keterangan kakaknya, tidak mau diautopsi. Karena kejadian ini sudah merupakan takdir dan keluarga juga sudah mengiklaskan,” kata Kapolsek Cibeunying Kidul, Kompol Anton ‎Purwantoro saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (25/7).

‎Dia mengatakan, hasil pengembangan dari pemeriksaan terhadap anggota keluarga, penyebab kejadian tersebut bukan karena permasalahan keluarga. Diduga keduanya nekat menghabisi nyawanya sendiri karena memang gangguan kejiwaan yang sudah didera sejak 2006 lalu.

“Untuk permasalahan keluarga dan lain-lain, tidak ada,” ungkapnya.

Kasubag Humas Polrestabes Bandung, Kompol Reny Marthaliana menjelaskan berdasarkan hasil pemeriksaan anggota keluarga, Rionald Parubak, kedua korban mengalami gangguan kejiwaan.‎ Bahkan korban juga pernah menjalani rehabilitasi di Bogor Jawa Barat untuk menangani gangguan kejiwaan.

“Keduanya pernah dirawat di panti di Yayasan Penuai Indonesia untuk rehabilitasi masalah kejiwaan di Bogor,” terangnya.

Heboh! Sopir Ojek Online Ajak Penumpang ‘Ngamar’

BOGOR DAILY- Bagi Anda kaum hawa pengguna ojek online sebaiknya berhati-hati. Baru-baru ini warganet dibuat geger dengan unggahan percakapan berbau asusila oleh seorang oknum pengemudi ojek berbasis aplikasi.

Apalagi kalau bukan chat mesum yang ditawarkan oleh si driver ojek online tersebut. Tanpa basa-basi ia menawarkan penumpangnya yang seorang perempuan untuk mampir di rumah kontrakannya untuk berkencan.

Gilanya, ia mengimingi penumpangnya itu dengan bayaran Rp500 ribu untuk “ngamar” hingga pukul 02.00 WIB dini hari. Bahkan tanpa beretika sama sekali, ia mengaku telah membeli kondom untuk sekali kencan. Nah, chat tidak senonoh tersebut kemudian dicuplik oleh akun jejaring sosial Instagram bernama @irinairinisa.

Peristiwa menggemparkan jagat maya itu lantas dilaporkan oleh seorang netizen dengan akun Twitter bernama @GunRomli ke akun @GrabID. Alasannya, pengemudi berotak “cabul” itu diduga berada di bawah manajemen perusahaan Grab Indonesia.

“Benarkah ini Driver @GrabID dan apa yg dilakukan oleh Grab trhdp driver ini?” cuit @GunRomli.

Aduan tersebut mendapat respons oleh pihak Grab Indonesia.

“@GunRomli Hi Kak Guntur terkait hal tersebut, saat ini sudah ditindaklanjuti lebih lanjut ya Kak 🙂 -MG,” kicau akun @GrabID.

Perilaku tak senonoh pengemudi driver ojek online itu sontak mengundang kegeraman dari para netisen. Mereka beramai-ramai mengecam apa yang dilakukan pengemudi tersebut terhadap pelanggannya.

Di antara mereka menganggap, si pengemudi itu telah merusak citra ojek berbasis aplikasi yang belakangan sudah mulai menjamur di tengah masyarakat. Berikut ini beberapa di antara tanggapan netizen.

“Pihak Grab harus cepat verifikasi dan mengusut hal ini secara serius. Mengerikan membaca isi chatnya,” tulis akun @spawnist.

“Duh bahaya, ngerusak nama grabdriver.. kl emg bener semoga diproses hukum,” cuit akun @fadzars.

“Data tu orang disimpen. Jgn diterima lagi. Kl bisa yg begini2 (pelecehan, kekerasan, SARA, etc) black list di semua aplikasi. Sebar datanya!” kicau @sihargeol.

Garam Mendadak Langka, Penjual di Ciawi Naikkan Harga

BOGOR DAILY– Kelangkaan gara di wilayah Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor membuat pedagang terpaksa menaikkan harga jual. Pedagang bumbu di Pasar Ciawi, Haerudin (45), mengaku menjual garam dengan harga tinggi karena sulitnya mendapat pasokan. “Biasanya saya belanja dengan uang Rp 350 ribu itu dapet 4 karung garam, sekarang saya cuma dapet 1 karung,” ujarnya.

Ia menjual garam non yodium kristal dengan harga berkisar Rp 8 ribu per kilonya,  padahal sebelumnya dijual hanya Rp 3 ribu perkilonya.

Kemudian garam beryodium, Haerudin mengaku menjual dengan harga Rp 2 ribu per bungkus (50 g) dimana sebelumnya ia menjual dengan harga Rp 500 per bungkusnya.

Ia menambahkan, pasokan garam di Pasar Ciawi biasanya dikirim dari Indramayu. Namun kini pasokan yang dapat hanya sedikit sehingga tidak semua pedagang mendapat pasokan garam.

“Yang ngirim garam ke Pasar Ciawi itu biasanya semobil 20 karung, sekarang paling semobil 4 atau 5 karung, padahal kan Indramayu gudangnya garam, ya,” ujarnya. Kelangkaan garam tersebut menurutnya dirasakan usai hari lebaran. “Abis lebaran, jadi susah dapet garam, padahal tahun kemaren enggak, enggak langka seperti tahun sekarang,” katanya.

Misteri Tengkorak Perempuan di Gunung Ciremai

BOGOR DAILY-Jejak misteri penemuan tengkorak di Gunung Ciremai masih ditelusuri. Proses evakuasi terhadap kerangka manusia yang diduga perempuan di Gunung Ciremai masih dilakukan oleh warga dan tim gabungan TNI juga Polri sejak Selasa (25/7/2017) pagi.

Kerangka yang masih berpakaian lengkap itu kali pertama ditemukan oleh sesepuh Desa Agalingga, Toto Suarto (49), bersama belasan warga. Konon penemuan kerangka tersebut adalah buah dari wangsit yang diterima Toto saat melakukan ritual di makam keramat tepatnya di Bumi Perkemahan (Buper) Argalingga pada Kamis 13 Juli lalu.

Dalam wangsit yang konon berasal dari leluhur bernama Prabu Jangkawisesa, Toto mendapatkan pesan untuk menyempurnakan tiga korban meninggal dunia yang berada di Gunung Ciremai dengan cara menemukan dan memakamkannya secara layak.

“Dalam wangsit itu disebutkan ada tiga mayat. Satu perempuan dua lagi laki-laki. Tiga mayat itu posisinya tidak terlalu jauh,” kata Toto saat berbincang dengan detikcom melalui sambungan telepon.

Wangsit tersebut baru dijalankan Toto pada Minggu 23 Juli lalu. Pasalnya usai menggelar ritual Toto disibukan dengan kegiatan Pilkades dimana dirinya mencalonkan diri sebagai nomor urut satu, namun kalah tipis dari pesaingnya.

Berbekal wangsit dan kontak batin, Toto bersama belasan orang mulai naik ke Gunung Ciremai pada Minggu pagi sekitar pukul 8.30 WIB. Minimnya petunjuk dan jalan yang terjal membuat Toto baru bisa menemukan mayat pertama sekitar pukul 12.30 WIB.

Saat ditemukan mayat tersebut mayoritas sudah menjadi tulang, meski beberapa bagian seperti kepala belakang dan tubuh yang tertutup pakaian masih menyisakan daging. Diduga mayat tersebut adalah perempuan karena berambut panjang dan menggunakan pakaian seperti rok. “Saya tidak berani sentuh (mayat). Lebih baik lapor dulu. Di sekitar mayat ada tas, tapi isinya kosong,” katanya.

Setelah istirahat sejenak, Toto yang bermaksud mencari dua mayat lain tiba-tiba mengurungkan niatnya. Hal tersebut lantaran cuaca yang cerah tiba-tiba mendung dan turun hujan. Hingga akhirnya Toto dan rombongan memilih turun gunung dan melaporkan penemuan mayat tersebut pada aparat berwenang.

Meski disebutkan dalam wangsit bahwa ada mayat lainnya, namun Toto belum memastikan apakah akan melanjutkan pencarian dua mayat lainnya atau tidak. Pasalnya untuk melakukan pencarian membutuhkan tenaga juga biaya yang tidak sedikit.

“Tapi mudah-mudahan saat proses evakuasi sekarang sambil turun nanti bisa ketemu dua mayat lagi. Karena menurut wangsit dan kontak batin, lokasinya (mayat) tidak jauh dari yang sekarang,” tutur Toto. (detik)