Wednesday, 29 April 2026
Home Blog Page 7845

Video Detik-detik Kebakaran Rumah Makan Sate di Gadog Puncak

BOGOR DAILY – Detik-detik kebakaran rumah makan Rumah Makan Sate Tongseng Pak Saeman di Jalan raya Puncak, Gadog tepatnya, RT 03/02 Desa Pandansari, Kecamatan Ciawi, Rabu 24 Oktober 2020 berhasil direkam kamera warga.

Dalam video yang diterima redaksi Bogordaily.net nampak api itu berkobar cukup besar.

Sejumlah warga berusaha memadamkan kobaran api. Lalulintas di kawasan itu pun sempat terganggu.

Belum diketahui penyebab pasti kebakaran, korban dan kerugian akibat kebakaran itu.

Informasi yang berhasil dihimpun Kebakaran itu melalap rumah makan sate. Awalnya nampak api kecil dan secara tiba-tiba langsung membesar.

Kebakaran itu pun sempat jadi tontonan warga yang melintas. Kebakaran itu juga menyebabkan lalu lintas terganggu.

“Belum tahu mas apa ada korban atau tidak. Ini apinya cukup besar,” kata Ahmad warga sekitar. (*)

Kominfo Janjikan Koneksi Internet untuk 3.126 Puskesmas dan Rumah Sakit Sampai 2021

0

BOGOR DAILY – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) berjanji akan menyelesaikan ketersediaan akses internet di 3.126 fasilitas layanan kesehatan, puskesmas dan rumah sakit hingga kuartal pertama 2021.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga 31 Desember 2019, terdapat 2.877 rumah sakit dan 10.134 puskesmas di Indonesia. Dari total 13.011 fasilitas layanan kesehatan tersebut, Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) mengidentifikasi ada 3.126 titik yang membutuhkan optimalisasi layanan internet.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate menyebutkan pembangunan infrastruktur telekomunikasi di puskesmas dan rumah sakit itu dilakukan dalam tiga tahap.

“Tahap pertama, tahun 2020 ini. Tahap kedua itu 2.192 titik akan dibangun di kuartal keempat atau sekarang sampai Desember 2020. Sisanya, pada kuartal pertama tahun 2021 sebanyak 708 fasilitas layanan kesehatan, ” ujar Johnny, Rabu (14/10/2020).

Dengan ketersediaan akses internet di puskesmas dan rumah sakit ini, pemerintah berharap dapat mendukung program kesehatan masyarakat jangka panjang.

“Termasuk untuk mendorong penurunan angka kematian ibu dan bayi, mencegah stunting, mendukung program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga, dan peningkatan layanan kesehatan melalui telemedicine,” jelasnya.

Untuk merealisasikannya, Kominfo saat ini tengah menyusun roadmap Indonesia digital, di mana salah satu program yang termuat dalam peta jalan itu adalah peningkatan akses layanan kesehatan.

Beberapa inisiatif yang masuk dalam Roadmap Indonesia Digital khususnya sektor kesehatan hingga tahun 2024 antara lain:

  1. Perluasan jangkauan infrastruktur digital dalam mendukung layanan kesehatan melalui telehealth/telemedicine
  2. Penerapan registrasi kesehatan digital nasional, termasuk manajemen data dan health record
  3. Pengembangan hub dan ekosistem teknologi medis
  4. Penerapan analitik untuk manajemen penyakit (antara lain untuk meningkatkan akurasi diagnosa);
  5. Perluasan pelacakan kontak
  6. Implementasi digitalisasi untuk mendorong hidup yang lebih sehat

BREAKINGNEWS: Rumah Makan di Gadog Puncak Ludes Terbakar

BOGOR DAILY – Rumah makan di kawasan Gadog, ludes terbakar, Rabu 24 Oktober 2020.

Tempat yang terbakar itu adalah Makan Sate Tongseng Pak Saeman di Jalan raya Puncak, Gadog tepatnya, RT 03/02 Desa Pandansari, Kecamatan Ciawi.

Belum diketahui penyebab pasti kebakaran, korban dan kerugian akibat kebakaran itu.

Informasi yang berhasil dihimpun Kebakaran itu melalap rumah makan sate. Awalnya nampak api kecil dan secara tiba-tiba langsung membesar.

Kebakaran itu pun sempat jadi tontonan warga yang melintas. Kebakaran itu juga menyebabkan lalu lintas terganggu.

“Belum tahu mas apa ada korban atau tidak. Ini apinya cukup besar,” kata Ahmad warga sekitar. (*)

100 Juta Vaksin Corona AstraZeneca ke Indonesia Disetujui

0

BOGOR DAILY – Perusahaan farmasi asal Inggris, AstraZeneca telah bersedia menyediakan 100 juta vaksin Corona untuk Indonesia. Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi dalam kunjungannya ke Inggris bersama Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir.

Retno mengatakan vaksin tersebut baru akan tersedia 2021. Pengiriman akan dilakukan bertahap dan diharapkan bisa dikirim mulai semester I tahun depan.

“Pertemuan dengan jajaran pimpinan AstraZeneca telah berjalan dengan baik. Indonesia telah menyampaikan permintaan penyediaan vaksin sebesar 100 juta untuk tahun 2021, pihak AstraZeneca menyambut baik permintaan tersebut. Pengiriman pertama diharapkan dapat dilakukan pada semester pertama tahun 2021 dan akan dilakukan secara bertahap,” kata Retno dalam konferensi virtual, Rabu (14/10/2020).

Retno menjelaskan bahwa vaksin Corona AstraZeneca merupakan salah satu kandidat vaksin yang tercatat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memasuki tahap uji klinis ketiga. Selain vaksin, AstraZeneca juga disebut siap membangun kerja sama jangka panjang termasuk kolaborasi dengan Indonesia.

“AstraZeneca juga sangat tertarik untuk membangun kerja sama dan kolaborasi strategis jangka panjang dengan Indonesia,” tuturnya.

Pada pertemuan itu, kedua menteri tersebut juga bertemu dengan CEO CEPI untuk membahas peluang kerja sama strategis yang dapat dilakukan keduanya. Retno mengatakan Bio Farma akan mengadakan due dilligence dengan CEPI (Coalition for Epidemic Preparedness Innovations) yang nantinya akan melebarkan networking kerja sama pengembangan vaksin.

“Bio Farma berencana melakukan kerja sama dengan CEPI. Pengembangan manufacturing vaksin,” jelasnya.

 

Membara! Video Detik-detik Kebakaran Pabrik di Nanggewer Cibinong

BOGOR DAILY – PT. Nittoh di Jalan Raya Bogor Km.47 Nanggewer Mekar, Kabupaten Bogor terbakar. Kebakaran terjadi pada pukul 10.40 WIB, Rabu (14/10).

Sembilan unit pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan kobaran api yang terus membesar.

Tidak ada korban jiwa dalam musibah ini.

Sejumlah saksi menuturkan, api membumbung cukup tinggi, dan sempat membuat warga sekitar kaget.

“Iya apinya cukup besar tapi sudah ditangani pemadam kebakaran,” kata Asep warga sekitar. (*)

GPPI Menilai Kepemimpinan Jokowi-Amin Adalah Gagal

0

BOGOR DAILY – Aksi unjuk rasa menolak Omnibus Law Cipta Kerja pun datang dari Gerakan Pemuda Patriotik Indonesia (GPPI) Bogor Raya. Orasi  dilakukan di Tugu Kujang itu berlangsung sekitar pukul 15.00 WIB, Rabu (14/10/2020).

Dalam penolakannya, para pemuda itu menyindir sikap pemerinta lewat teatrikal yang bertajuk “Matinya Demokrasi di indonesia.

Ketua GPPI Bogor Raya, Almukromin mengatakan, pihaknya sepakat menuntut beberapa poin yang diharapkan dapat langsung direspon oleh pemerintah.

Beberapa poin, kata dia, diantaranya dengan tegas mawan rezim komprador Jokowi-Amin dan lawan politik oligarki. Kemudian meminta dicabutnya UU Ciptaker Omnibus Law dan menolak keras Omnibus Law seluruhnya, mendukung perjuangan rakyat untuk melawan segala bentuk penindasan dan penjajahan, melaksanakan reforma agraria sejati, menuntut pendidikan terjangkau untuk mengabdi pada rakyat dan tanah air dan yang terakhir mengutuk keras refresifitas aparatur negara terhadap pelbagai aksi tuntutan
pencabutan UU.

“Alih-alih membuka lapangan pekerjaan yang luas Omnibus Law hadir dengan penindasan gaya baru yang menghilangkan jaminan tenaga kerja dengan upah murah,” ucap dia.

Menurutnya, rezim Jokowi-Amin gagal menangani virus yang semestinya
menjadi Common Enemy (Musuh Bersama) justru menjadi penumpang gelap pandemi dengan memanfaatkan situasi krisis demi memuluskan jalur investasi dengan mengebut pengesahan Omnibus Law.

Selain itu, GPPI juga menyoroti adanya alih teknologi dan pendidikan yang terjangkau, dan mengabdi pada rakyat dan tanah air juga merupakan syarat mutlak agar terciptanya SDM unggul untuk memajukan negeri.

Mengenal GeNose, Mesin Pengendus Corona Made In Indonesia, 2 Menit Beres Sekali Tes Rp15 Ribu

BOGOR DAILY – Mesin Pengendus Corona Made In Indonesia telah lahir. Adalah Universitas Gadjah Mada (UGM) yang terus mengembangkan alat GeNose atau Teknologi Pengendus COVID-19. Alat ini diklaim mampu mendeteksi virus corona dalam waktu 80 detik dengan harga alat yang hanya Rp 40 juta untuk 100 ribu tes.

Dian Kesumapramudya Nurputra, dosen FKKMK UGM yang juga anggota tim peneliti GeNose, menjelaskan untuk tes ini setiap satu orang hanya perlu mengeluarkan uang Rp 15 ribu. Uang itu untuk kantung plastik alat penampung napas.

Dian menjelaskan saat ini pihaknya masih memakai plastik di pasaran dengan harga satuannya Rp 40 ribu. Pihaknya saat ini akan menggandeng sebuah perusahaan agar harga plastik ini bisa ditekan.

“Di sini kita ada Pak Petrus dari PT YPTI, beliau yang sudah ahlinya yang sudah kita minta untuk mendesain plastik penampungnya khusus tidak mempengaruhi sensor dan limbah bisa minimal,” kata Dian ditemui di Kepatihan Pemda DIY, Senin (12/10).

“Kalau pakai plastik sekarang per orang Rp 40 ribu. Dengan desain Pak Petrus bisa Rp 10 ribu pemeriksaan, bisa Rp 15 ribulah,” katanya.

Dian mengakui banyak pihak menyangsikan keandalan alat itu. Namun, menurut Dian, hal tersebut bukanlah masalah. Skeptis merupakan budaya para ilmuwan dan akademisi dalam merespons penemuan baru.

“Nah, bukti (keakuratan) yang sekarang kita kumpulkan melalui uji diagnosis itu yang nanti menjawab semua sangsi dari beliau-beliau. Bukti itu tidak hanya bukti klaim, tapi ditulis dan dipresentasikan di jurnal internasional dan itu yang nantinya jadi pertanggungjawaban kami,” ujarnya.

Saat ini GeNose akan menuju uji diagnostik. Setelah uji diagnostik ini selesai, maka akan dipresentasikan ke Kementerian Kesehatan. Baru setelah itu produksi massal bisa dimulai. Perkiraannya produksi massal pada akhir November 2020.

“Pertengahan November mass production-nya sudah bisa mulai. Pertengahan November atau paling akhir November,” katanya.

Sementara itu, Rektor UGM Panut Mulyono menjelaskan pihaknya hari ini menyampaikan perkembangan GeNose ini ke Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X.

“Ya itu sekarang dalam tahap uji klinis dan uji diagnosis dan menunggu izin edar dari Kemenkes. Tadi kita menyampaikan progres itu ke Ngarso Dalem untuk memohon doa restu dan dukungan. Agar alat ini bisa cepat beredar di masyarakat,” kata Panut.

GeNose singkatan dari Electronic-Nose. Penemunya menyebut GeNose terbilang mutakhir ketimbang alat tes lainnya. Karena untuk mendeteksi seseorang terjangkit atau tidak, dengan Genose dapat dilakukan hanya dengan melalui embusan napas.

GeNose itu diharapkan juga dapat membantu pemerintah untuk menghemat dana yang sejauh ini telah banyak dikeluarkan untuk memenuhi target tes PCR.(*)

KRL Ubah Jam Operasional Saat PSBB, Catat Jadwalnya!

BOGOR DAILY – DKI Jakarta kembali memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi. PT KCI pun mengubah jam operasional KRL dan melakukan penyesuaian di masa transisi ini.

“Mulai Kamis (15/10), KRL akan beroperasi mulai pukul 04.00 hingga pukul 22.00 WIB. Pada masa PSBB transisi ini, PT KCI mengoperasikan sebanyak 985 perjalanan KRL dengan 91 rangkaian kereta yang beroperasi setiap hari,” kata VP Corporate Communications PT KCI Anne Purba dalam keterangannya, Rabu (14/10/2020).

Jam operasional baru itu akan mulai berlaku pada 15 Oktober 2020. Namun PT KCI tetap memberlakukan pembatasan penumpang di gerbong KRL.

“Kapasitas pengguna di tiap kereta tidak mengalami perubahan, yaitu 74 orang per kereta atau sekitar 40% dari kapasitas pengguna di waktu sebelum pandemi,” jelasnya.

Penyesuaian itu disebut Anne sesuai dengan aturan jam operasional moda transportasi publik selama masa PSBB transisi. KRL Jabodetabek akan beroperasi di 80 stasiun yang ada di 3 provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Berikut ini jumlah perjalanan KRL untuk setiap lintasnya di masa PSBB transisi:

1. Lintas Bogor/Depok-Jakarta Kota (PP), sebanyak 214 perjalanan per hari
2. Lintas Bogor/Depok/Nambo-Angke/Jatinegara (PP), sebanyak 182 perjalanan per hari
3. Lintas Cikarang/Bekasi-Jakarta Kota (PP), sebanyak 186 perjalanan per hari
4. Lintas Rangkasbitung-Tanah Abang (PP), sebanyak 213 perjalanan per hari
5. Lintas Tangerang-Duri (PP), sebanyak 104 perjalanan per hari
6. Lintas Jakarta Kota-Kampung Bandan-Tanjung Priok (PP), 86 perjalanan per hari

PT KCI juga mengimbau penumpang untuk terus mematuhi protokol Kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak antarpenumpang di stasiun ataupun di dalam gerbong KRL. Khusus untuk masker, KCI mengimbau penumpang menggunakan masker minimal 3 lapis.

“PT KCI juga mewajibkan para pengguna KRL untuk selalu menggunakan masker minimal tiga lapis yang terbukti efektif mencegah dan mengurangi penyebaran melalui droplet,” ujarnya.

 

Lihat Nih, Aksi Mahasiswi Cantik Unpak Bogor Orasi Tolak Omnibus Law di Tugu Kujang Bogor

BOGOR DAILY – Aksi tolak UU Cipta Kerja di Tugu Kujang mahasiswa Universitas Pakuan Bogor jadi perhatian. Penyebabnya seorang mahasiswi cantik maju ke depan menyampaikan orasi secara menggebu-gebu.

Berkaos hitam-hitam menenteng mikrofon, berdiri dihadapan para demonstran. Dengan suara lantang menyampaikan beragam persoalan Omnimbus Law.

“Negara kita sedang tidak baik-baik saja. Benar tidak kawan-kawan,” tanyanya kepada sejumlah massa yang mengelilinginya.

“Kita berdiri disini bukan hanya semata-mata berdiri kita memilikI tujuan untuk mensejahterakan rakyat,” ucap wanita tersebut dalam orasinya.

Menurutnya berpendapat persoalan Undang-Undang Omnibus Law atau Cipta Kerja ini membuktikan bahwa negara Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

https://www.instagram.com/p/CGUghaxHO8k/?igshid=134afa7dmuhvc

Dalam aksi ini Keluarga Mahasiswa Universitas Pakuan mengaku 2020 menjadi tahun yang sangat sulit bagi bangsa Indonesia, di tengah pandemi virus corona terselip masalah dan kebijakan pemerintah yang justru menyengsarakan rakyat.

Masalah dan kebijakan pemerintah yang mereka garis bawahi sebagai kecacatan ada 3 masalah dalam Tahun 2020 ini:

1. Penanganan Covid-19 yang Amburadul
Dalam penanganan Covid-19, pemerintah terlalu menyepelekan masa pandemi ini dengan data mulai dari bulan Maret hingga Oktober 2020 tercatat ada kasus positif sebanyak 328.952 dan total ada 11.765 orang meninggal dunia akibat Covid-19. Dengan data tersebut Indonesia tercatat sebagai negara dengan kasus kematian corona terbanyak ketiga di Asia. (sumber: Worldmeters).

Selain itu, Sejak awal adanya Covid-19, Pemerintah lebih memilih langkah PSBB untuk menjaga stabilitas ekonomi bukan malah mementingkan kesehatan rakyatnya yang mustinya sedari awal diberlakukan lockdown atau karantina wilayah yang warganya dijamin negara.

Terakhir, Pemerintah juga tidak siap dalam penanganan virus corona. Hal ini terbukti dengan minimnya sarana dan prasarana rumah sakit yang menampung pasein positif Corona.

Data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menunjukkan ventilator hanya dimiliki oleh 60% rumah sakit di Indonesia. terbanyak di Jawa Barat ada sekitar 1.200 unit, sedangkan paling sedikit di Maluku (22 ventilator). Jumlah rata-rata ventilator secara kasar, di setiap rumah sakit hanya sekitar 3-4 unit yang amat sangat kurang untuk bisa memenuhi lonjakan pasein. Selain itu, kekurangan tempat tidur menyebabkan rumah sakit berusaha memulangkan pasein non-Covid lebih cepat, yang menyebabkan pergantian tempat tidur yang tinggi. Meningkatnya jumlah pasein yang keluar rumah sakit lebih dini juga dapat membahayakan keselamatan pasein. (sumber: theconversation.com).

2. Omnibus Law

Presiden Joko Widodo mengajukan rencana penerbitan Undang-Undang Cipta Kerja, (20/10/2019). Tak butuh waktu lama bagi pemerintah pusat (Presiden) dan DPR untuk mengesahkan UU tersebut. Senin, (5/10) DPR mengesahkan Undang-Undang Cipta Kerja meski banyak menuai penolakan dari berbagai elemen masyarakat dengan dalih urgensi pemulihan ekonomi dalam masa pandemi.

Tak hanya itu, Perbedaan antara sistem hukum yang dianut Indonesia dan konsep omnibus law, jelas bahwa pemerintah melakukan, meminjam istilah Anggi Abdul Rahman, S.H.—bid’ah yuridis. Dengan disahkannya UU Cipta Kerja, makin menunjukkan bahwa pemerintah mengkhianati hukum itu sendiri dan mengada-ada secara hukum.

Selanjutnya, Undang-Undang Cipta Kerja pun berpotensi memberikan karpet merah untuk investor asing. Bangsa asing diberikan keleluasaan untuk mengelola sumber daya alam dan manusia negara Indonesia, dengan adanya UU ini menciptakan ekosistem investasi yang terbuka.

Tentu, kebijakan pemerintah yang mengesahkan omnibus law adalah sebuah bentuk keberpihakan kepada kapital semata. Bukan mengakomodir aspirasi, bahkan untuk kepentingan rakyat. Hal ini tentu mencederai kedaulatan rakyat sebagaimana telah diamanatkan dalam UUD 1945.

3. Pilkada Serentak

Pemerintah, DPR, dan KPU sepakat bahwa Pilkada serentak (9 Provinsi, 224 Kabupaten, dan 37 Kota) dilaksanakan pada bulan Desember mendatang.

Meski di tengah pandemi virus corona dan banyak mendapat penolakan dari masyarakat. Indikator Politik Indonesia, pada (21/7) merilis hasil survei terbaru mengenai persepsi publik terhadap Pilkada 2020. Salah satu temuannya adalah, 63 persen publik menginginkan Pilkada ditunda karena pandemi Covid-19. Sementara, hanya 34 persen masyarakat yang menginginkan pilkada tetap dilaksanakan di bulan Desember.

Kebijakan ini tentu menimbulkan pertanyaan besar, jika rakyat saja banyak yang menolaknya. Sebenarnya Pilkada ini untuk siapa?, tentu jawabannya adalah untuk memuaskan birahi kekuasaan oligarki yang berdemokrasi. Agenda neoliberalisme tidak cukup dengan disahkannya UU Cipta Kerja, akan tetapi mesti didukung oleh kekuasaan kepala daerah.

Itu merupakan tiga dari sekian banyaknya persoalan pemerintah yang belum terselesaikan, termasuk dengan: kemiskinan, Hak Asasi Manusia, Supremasi Hukum, Lingkungan, Korupsi, Pencaplokan tanah rakyat, Liberasisasi Pendidikan, Kesehatan, Lapangan Pekerjaan, Kesejahteraan, dan segudang masalah lainnya. (Egi)

Alasan Putri Delina Setuju Sule Menikahi Nathalie Holscher

0

BOGORDAILY – Anak komedian Sule, Putri Delina, mengaku setuju jika sang ayah menjalin hubungan dengan Nathalie Holscher. Terlebih jika memang kelak Nathalie menikah dan menjadi ibunya. Hal itu diungkapkan Putri dalam tayangan Nih Kita Kepo Trans TV, Selasa (13/10/2020).

“Setuju (kalau Nathalie nikah dengan Sule) karena yang kali ini Putri ngerasa bisa menjaga anak-anak juga, keibuannya sudah terbukti,” ujar Putri Delina.

Kemudian Nikita Mirzani menyinggung soal pacar Sule yang sebelum Nathalie Holscher. Putri mengatakan jika kekasih ayahnya terdahulu kurang dekat dengan Putri dan juga yang lain.

“Yang dulu-dulu gimana?” tanya Nikita Mirzani.

“Nggak dekat sama anak-anak,” jawab Putri Delina.

Tak langsung percaya, Nikita Mirzani kembali mengulik lebih dalam mengenai sosok Nathalie Holscher di mata Putri Delina. Rupanya diakui Putri, dia sering ngobrol dengan Nathalie Holscher.

“Tapi Putri udah sering ngobrol nggak sama calon ibu yang baru ini?” tanya Nikita Mirzani.

“Sekarang-sekarang sih suka ngobrol,” kata Putri Delian.

“Suka bersihin rumah juga ngga?” tanya Nikita.

“Belum,” jawab Putri.

Di akhir Nikita juga menyinggung keputusan Nathalie menjadi mualaf kepada Putri. Dikatakan Putri, Nathalie sudah ada keinginan mualaf sejak lama. Keinginannya menjadi mualaf juga diperkuat oleh Sule.

“Kan calon istri yang baru ini kan mualaf, dia jadi mualaf itu karena sudah yakin sama ayah atau emang karena apa?” tanya Nikita Mirzani.

“Pertama emang udah dari lama kan, cuma belum ada yang mendampingi dan meyakinkan. Nah yang kedua emang udah yakin sama ayah,” Jawab Putri.

Sebelum mengakhiri acara yang dibawakannya, Nikita Mirzani mendoakan agar Sule benar-benar berjodoh dengan sang Nathalie Holscher.

“Kita doakan semoga Kang Sule mendapatkan tambatan hatinya sampai maut memisahkan,” tutup Nikita Mirzani.