Sunday, 5 April 2026
Home Blog Page 8203

Aktif Tanggulangi Virus Corona, Bali United Didoakan Kian Berprestasi

BOGORDAILY – Bali United memberi donasi untuk penanggulangan virus Corona. Laskar Serdadu Tridatu pun didoakan bisa kian berprestasi.

Sebanyak 25.000 masker non-medis disumbangkan oleh Bali United ke Pemerintah Kota Denpasar. Walikota Denpasar, I.B. Rai Dharmawijaya Mantra, yang langsung menerima donasi itu di Griya Saba Sari, Renon.

“Terima kasih untuk Bali United. Sebagai tim yang berada di Bali tidak hanya fokus pada prestasi sepak bola, nyatanya ada kepedulian juga terhadap masyarakat di Bali saat terjadinya pandemi Covid-19 ini,” ujar Jaya Negara di siitus Bali United.

“Setelah sebelumnya memberikan bantuan ke beberapa Kabupaten di Bali. Kali ini kota Denpasar juga turut menjadi perhatian. Semoga Bali United tetap eksis di Bali dan dicintai masyarakat Bali dan prestasi terus meningkat hingga kompetisi Asia,” kata Jaya Negara menambahkan.

Sebelumnya, Bali United sudah memberikan bantuan untuk Kabupaten Badung dan Kabupaten Bangli. Pihak klub menegaskan bahwa aksi sosial ini akan terus dilakukan sebagai langkah untuk penanganan COVID-19.

Kemendag Diminta Rutin Gelar Operasi Pasar untuk Menekan Harga Gula

BOGORDAILYAnggota Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade mengapresiasi kegiatan operasi pasar gula pasir yang digelar oleh Kementerian Perdagangan dan Satgas Pangan di kawasan Pasar Anyar Tangerang, Banten beberapa waktu lalu. Operasi itu digelar guna menjaga stabilitas harga gula pasir di pasaran jelang lebaran.

Operasi pasar yang juga melibatkan Pemerintah Kota Tangerang dan salah satu produsen pangan itu, dilakukan dengan cara mendistribusikan 24 ton gula pasir untuk dijual kemasyarakat dengan harga eceran tertinggi yaitu Rp 12.500 per kg. Selain di Tangerang, operasi pasar tersebut juga dilakukan oleh Kemendag dan Satgas Pangan di berbagai provinsi yang pasokan gulanya sudah defisit.

“Saya selaku Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra mengapresiasi langkah dan kegiatan konkret yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan serta berbagai pihak lainnya yang telah melakukan operasi pasar untuk menjaga stabilitas harga gula pasir di pasaran yang sempat mengalami kenaikan harga beberapa waktu lalu,” kata Andre di Jakarta, Selasa (19/5).

Dia menilai, kegiatan operasi pasar gula pasir tersebut sangat bermanfaat bagi masyarakat ditengah pandemi covid 19 ini. Apalagi jelang perayaan hari raya Idul Fitri. Karena itu, kata dia, pemerintah harus rutin melakukan langkah konkret untuk menjaga daya beli masyarakat ditengah situasi sulit untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.

“Saya berharap pemerintah khususnya Kementerian Perdagangan untuk terus rutin melakukan operasi pasar, baik dengan melibatkan pihak swasta maupun BUMN untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok di pasaran. Sehingga daya beli masyarakat bisa terus meningkat dan roda ekonomi terus berputar di tengah kondisi seperti ini,” imbuhnya.

Sanksi

Selain itu, dia juga mendukung sanksi tegas yang dikeluarkan oleh Satgas Pangan untuk menindak tegas oknum yang menjual harga gula pasir di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 12.500 per kilogram. Pasalnya, Satgas Pangan dan Kementerian Perdagangan sudah memastikan ketersediaan komoditas ini terpenuhi hingga menjelang lebaran.

“Saya mendukung kebijakan Ketua Satgas Pangan, Daniel Tahi Monang yang akan menindak tegas para oknum yang menjual harga gula pasir di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 12.500 per kilogram,” ungkapnya.

Ketua DPD Partai Gerindra Sumatera Barat itu menambahkan, kenaikan harga gula pasir di pasaran beberapa waktu belakangan disebabkan oleh aktivitas logistik yang terhambat karena pandemi Covid-19 yang membuat sejumlah daerah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Sehingga harga gula di pasar meningkat karena supply terhambat.

“Oleh karena itu, langkah yang harus diambil oleh pemerintah untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok adalah dengan memperbaiki sistem manajemen logistik. Dengan demikian pemerintah dapat memperhitungkan waktu panen. Sebab ketika produksi cukup dan permintaan tetap maka harga akan stabil. Tetapi jika produksi nya terbatas, lalu permintaan tinggi maka harga pasti akan naik,” tandasnya.

Klasemen Liga Jerman Pekan ke-26: Bayern Munich Kukuh Teratas

BOGORDAILY – Bayern Munich masih kukuh di puncak klasemen Liga Jerman sampai berakhirnya pekan ke-26. Borussia Dortmund masih menguntit di posisi kedua.

Setelah rehat sekitar dua bulan, Bayern memulai Liga Jerman lagi dengan sip. Die Roten memetik kemenangan 2-0 atas Union Berlin dalam pertandingan Minggu malam. Dengan tambahan tiga poin ini, Bayern masih memuncaki klasemen dengan raihan 58 poin.

Sehari sebelumnya, Dortmund memetik kemenangan meyakinkan atas Schalke 04. Die Borussen memenangi Revierderby dengan skor telak 4-0.

Dortmund masih menguntit Bayern dengan catatan 54 poin, atau empat angka lebih sedikit. Ada di posisi ketiga, Borussia Moenchengladbach dengan raihan 52 poin.

Posisi empat besar dilengkapi oleh RB Leipzig dengan koleksi 51 angka. Bayer Leverkusen, yang menang telak 4-1 atas Werder Bremen, ada di posisi kelima dengan kumpulan 50 poin.

Klasemen Liga Jerman Pekan ke-26

Klasemen Bundesliga pekan ke-26.Klasemen Bundesliga pekan ke-26.

Untuk Cegah Korupsi Bansos Jokowi Minta KPK, BPKP, dan Kejaksaan Dilibatkan

BOGORDAILY – Presiden Joko Widodo atau Jokowi menekankan pentingnya transparansi data dalam penyaluran bantuan sosial (bansos) bagi warga terdampak pandemi virus corona (Covid-19). Jokowi pun meminta agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga Kejaksaan dilibatkan untuk mengawasi penyaluran bansos.

“Keterbukaan itu sangat diperlukan sekali dan untuk sistem pencegahan minta saja didampingi KPK, BPKP, dari Kejaksaan,” kata Jokowi saat memimpin rapat terbatas melalui video conference, Selasa (19/5/2020).

Menurut dia, lembaga-lembaga tersebut perlu dilibatkan untuk mencegah praktik-praktik korupsi.

“Kita memiliki lembaga-lembaga untuk mengawasi, untuk mengontrol agar tidak terjadi korupsi di lapangan,” ujarnya.

Jokowi kembali meminta agar aturan terkait penyaluran bansos dibuat sesederhana mungkin. Sehingga, bansos dapat segera sampai ke masyarakat yang membutuhkan.

“Sekali lagi ini butuh kecepatan. Oleh sebab itu, saya minta aturan itu dibuat sesimpel mungkin, sesederhana mungkin tanpa mengurangi akuntabilitas. Sehingga pelaksanaan di lapangan bisa fleksibel,” jelasnya.

Sebelumnya, Jokowi berharap bantuan sosial bagi warga yang terdampak pandemi virus corona (Covid-19) dapat tersalurkan seluruhnya pada pekan ini atau sebelum Hari Raya Idul Fitri. Menurut dia, Bantuan Langsung Tunai (BLT) desa yang baru tersalurkan hingga kini kurang lebih 15 persen. Sementara itu, bansos tunai kurang lebih 25 persen.

Seperti diketahui, pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial mulai menyalurkan bantuan sosial berupa paket sembako senilai Rp 600 ribu kepada warga tak mampu di Jabodetabek. Sementara, keluarga di luar Jabodetabek akan mendapat Bantuan Langsung Tunai senilai Rp 600.000.

Hafal Quran ala Ahmad Haidar Arramdhani Hafiz Indonesia 2018

Bogor Daily – Spesial report jelang Lebaran Idul Fitri 1441 Hijriyah ini, Bogor Daily akan mengenalkan kembali sosok Hafiz Muda asal Bogor ini. Dua tahun lalu ananda Ahmad Haidar Arramdhani mengikuti ajang Hafiz Indonesia 2018 yang diselenggarakan di salah satu stasiun televisi terkemuka, setelah melalui proses ketat dan panjang, Haidar sapaan akrabnya akhirnya berhasil menjadi salah satu finalis Hafiz Indonesia 2018.

Anak pertama dari pasangan Holik Haerudin dan Vlorahikmasari tersebut berupaya keras dengan terus belajar untuk bisa menjadi seorang Penghafal Qur’an atau Hafiz dengan berlatih tilawah dan muroja’ah Al-Qur’an disetiap waktu.

Mewujudkan cita-cita menjadi seorang Penghafal Al-Qur’an, Ahmad Haidar Arramdhani belajar dengan tekun

Yuk simak wawancara Eksklusif Bogor Daily dengan Ahmad Haidar Arramdhani, Hafiz Indonesia 2018. Berikut petikan wawancaranya :

1. Sejak kapan Haidar belajar untuk menjadi seorang Hafiz ?
Jawaban :
Alhamdulillah. Sejak usia 3 tahun saya sudah memulai untuk menghafal Al-Qur’an.

2. Apa tujuan utama Haidar menjadi seorang Hafiz ???
Jawaban :
Dengan menjadi seorang Penghafal Al-Qur’an sebagai pemberi syafaat pada hari Kiamat. Serta ingin memberikan Mahkota dan Jubah kepada kedua Orang Tua di akhirat.

Mewujudkan cita-cita menjadi seorang Penghafal Al-Qur’an, Ahmad Haidar Arramdhani belajar dengan tekun

3. Metode pembelajaran apa yang menurut Haidar paling mudah dilakukan untuk menjadi seorang Hafiz ?
Jawaban :
Metode yang paling mudah adalah Membaca, mendengar dan mengulangi terus menerus utk mengikat hafalan.

4. Apa peran serta dan dukungan Ayah, Bunda dan Keluarga dalam perjalanan Haidar menjadi seorang Hafiz ?

Jawaban :
Tentu dukungan Ayah, Bunda dan Keluarga sangatlah luar biasa dan besar sekali. Mereka semua memberikan motivasi setiap saat kepada saya.

Ahmad Haidar Arramdhani saat mengisi acara Hafiz Indonesia 2020

5. Hal apa yang paling membahagiakan Haidar dengan menjadi seorang Hafiz ?
Jawaban :
Bahagia sekali karena menjadi orang yang paling mulia, Allah tinggikan derajat hambaNYA dan mendapatkn syafaat Al-Qur’an.

Dekat dengan Ulama – Foto bersama Ustadz Zacky Mirza, beberapa waktu lalu.

6. Bagaimana cara Haidar membagi waktu antara belajar formal dengan kegiatan tilawah dan muroja’ah Al-Qur’an ?
Jawaban :
Tentunya ada waktu yang disepakati untuk konsisten dan Istiqomah dalam interaksi dengan Al-Qur’an Nul Karim yaitu waktu Maghrib untuk membaca serta mengulangi dan waktu Shubuh untuk menambah hafalan.

7. Apa harapan dan cita-cita Haidar kedepan dengan menjadi seorang Hafiz ?
Jawaban :
Ya semoga dapat mengajarkan Al-Qur’an, menjadi ahli ilmu dan menjadi ahli akhlak. Semoga Allah memberikan kemudahan. Aamiin yaa Rabbal Aalamiin.

=============================

• Biodata Lengkap •
Ahmad Haidar Arramdhani
Hafiz Indonesia 2018

Pada kesempatan lain, Ahmad Haidar Arramdhani berfoto bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

√ Nama Lengkap : Ahmad Haidar Arramdhani.

√ Nama Panggilan : Haidar.

√ TTL : Bogor , 3 Oktober 2010.

√ Alamat : Perumahan Ciomas Hills A9 no 18 Kec. Ciomas Kabupaten Bogor dan Jalan Raya Karanggan Tuan No. 5 Desa Gunung Putri, Kabupaten Bogor.

√ Nama Ayah : Holik Haerudin.

√ Nama Ibu : Vlorahikmasari.

√ Nama Saudara :
1. Haura Safira Azzahra.
2. Muhammad Harist.
3. Hana Aliya Innara.

√ Hobby : Senandung Tilawah/Qori

√ Kata Mutiara : Semangat Pantang Menyerah.

√ Prestasi :
1. Finalis 11 besar Hafiz Indonesia 2018.
2. MHQ Juara 3 5 Juz Asia Yayasan Almunawarah Al-Islamiyah Jakarta
3. MHQ Juara 1 DT Bogor Raya.
4. Juara Berbagai Lomba Tahfidz, tingkat Lokal dan Nasional sejak 2014 sampai dengan sekarang.

(Red-BDN).

PSIS Bagi 2.500 Paket Bantuan ke Suporter, Saat Rayakan Ultah ke-88

BOGORDAILY – PSIS Semarang hari ini memasuki usia yang ke-88 tahun. Dirayakan di tengah pandemi, Mahesa Jenar pun membagi-bagi kebutuhan pokok kepada suporter.

Penyerahan bantuan diberikan oleh CEO PSIS, Yoyok Sukawi, kepada ketua suporter Panser Biru dan Snex. Nantinya bantuan tersebut akan disalurkan kepada suporter yang perekonomiannya terdampak wabah COVID-19.

“PSIS dalam rayakan ulang tahun ini ingin berbagi pada keluarga kami sendiri yaitu Panser Biru dan Snex. Ini ada beras, minyak, ada Indomie, kami kolaborasi dengan Charlie Hospital dan Indomie,” kata Yoyok di Basecamp PSIS, Stadiom Citarum, Senin (18/5/2020).

Ada 2.500 paket bantuan yang diserahkan kepada ketua Panser Biru dan Snex. Nantinya mereka akan membagikan kepada supporter ber-kartu tanda anggota.

“Walau sedikit, semoga ini bermanfaat untuk keluarga besar PSIS,” jelasnya.

Sementara itu Ketua Panser Biru, Kepareng, mengatakan ada 106 korwil yang akan mendapat bantuan tersebut. Ia juga berupaya akan menambah jumlah bantuan secara mandiri agar bisa merata.

“Panser ada 106 korwil, kami bagi ke korwil rata. Di store Panser ada (paket bantuan) di sana, semoga yang kurang bisa tercukupi,” kata Kepareng.

“Terimakasih dan semoga musibah ini segera berakhir,” kata ketua Snex, Edi Purwanto.

Untuk diketahui, saat ini para pemain PSIS menjalani latihan di rumah mengikuti saran pelatih dan tim dokter. Kondisi seperi ini sudah berlangsung sekitar 2 bulan lebih.

“Ya di rumah, para pemain berlatih sesuai saran dari pelatih dan ada dari tim dokter,” jelas Yoyok.

Krisis Pangan, Jangan salahkan Corona (Bag III-HABIS)

Oleh: Nanang Nurhayudi

Persoalan berikutnya yang termasuk klasik adalah bagaimana menjamin ketersediaan sumber air, kemudian bisa disalurkan melalui sistem irigasi untuk mengatisipasi ketersedian air saat kemarau untuk lahan sawah yang belum beririgasi optimal, misalnya dengan sumur, revitalisasi waduk, danau, dan embung yang ada. Memanfaatkan lahan-lahan kering tegalan yang belum optimal untuk mencukupi kebutuhan karbohidrat semisal dengan menanam jenis tanaman seperti singkong, ubi jalar dan sorghum, karena cukup tahan terhadap kekeringan dan setidaknya dapat menjadi cadangan pangan, serta memanfaatkan lahan perkebunan yang potensial untuk ketahanan pangan.

Akan tetapi titik kritis dalam krisis pangan terletak pada mental dan spiritual generasi muda, anak-anak bangsa untuk mengambil peranan secara langsung menjadikan pertanian sebagai “life style” dalam “New Normal Era”. Sudah semestinya kita bersama-sama bangkit dalam kemandirian berswasembada, melepaskan segala tarikan budaya dan gaya hidup lainnya. Sebagaimana dulu pada era Perang Dunia 1, pernah muncul kampanye berkebun untuk memenangkan perperangan atau dikenal dengan istilah “War Gardens for Victory.” Sebuah slogan persuasif terpampang pada poster seorang perempuan berbusana terusan, lengkap dengan serbet merah melingkar di leher.

Tangan kanannya membawa keranjang sayur dan buah, sementara tangan yang lain menggenggam cangkul. Sosok dalam poster menyejajarkan usaha berkebun dengan perjuangan merebut kemenangan di masa perang. Dengan berkebun secara tidak langsung mereka membantu negara menekan dana pangan dan menyelamatkan diri sendiri dari kelaparan tentu saja menyelamatkan Negara dari kemiskianan.

Menarikanya pada akhir tahun 2015 di Indonesia pernah juga terjadi sebuah aktifitas transmigrasi mandiri, dilakukan oleh anak bangsa dari berbagai wilayah dengan bersama-sama “mengorbankan dirinya” untuk merealisasikan swasembada pangan yang merupakan cita-cita luhur. Sekaligus menjawab tantangan acaman krisis pangan global yang akan terjadi pada waktu dekat ini. Pada saat itu sebanyak 12.000 jiwa, terdiri dari kaum muda dan orang tua, laki-laki dan perempuan, tidak dibedakan pada strata sosial, suku, bahasa, budaya dan agama.

Mereka turun ke lahan pertaniannya mencangkul tanah sejengkal demi sejengkal, bersama masyarakat tempatan. Menebar bulir-bulir bebijian dengan harapan terwujudnnya kemakmuran, bagi mereka inilah cara mewujudkan cita-cita untuk menjadikan negeri ini berdaulat akan pangan, sebagai mana dahulu kemakmuran negeri ini dituangkan dalam sebuah narasi agung “gemah ripah loh jinawi adem titi tentrem kerta raharjo” dengan menjadikan Kalimantan sebagai lumbung pangan Dunia.

COVID-19 memang membawa dilema bagi setiap pemimpin negara termasuk di Indonesia, sebuah pilihan yang sama-sama merugikan bagaikan buah simalakama, memilih menenangkan kesehatan atau memenangkan ekonomi. Maka jika pada saat puasa identik dengan menahan hawa nasfu dan kondisi saat ini banyak yang mengatakan kita dalam kondisi perang, tentu bukan perang secara harafiah melainkan perang melawan COVID-19 dan ancaman krisis pangan global.

Godaan dan pertarungan terbesar bagi kita adalah menahan dan melawan diri sendiri dari bujuk rayu hawa nafsu untuk tidak mandiri pangan. Berfokus dalam membangun ketahan pangan adalah pertarungan yang harus dimenangkan dan diperjuangkan oleh seluruh pihak, bukan saja segelintir orang sebagaimana yang dilakukan oleh Eks GAFATAR. Kemandirian pangan, baik dengan membuka lahan pertanian ataupun sekedar berkebun dalam sekala kecil dengan menjalankan urban farming, setidaknya itu adalah bentuk perlawan dan perjuangan agar kita mampu keluar dari ancaman krisis pangan yang menuju jurang kelaparan.

Terlebih lagi, sebagian masyarakat spiritualis mengatakan jika situasi Dunia yang terjadi saat ini, merupakan kondisi kutuk yang diberikan Allah kepada manusia, disebabkan hidup tidak berdasarkan standar-Nya. Jika ini sebuah “sunahtullah”, maka pasti solusinya Allah sendiri yang akan memberikannya. Sebagai mana dalam bahasa hikmah dikatakan disetiap kesulitan selalu ada jalan, Allah memberikan pilihan menerima berkat atau kutuk kepada umat-Nya. Jikalau mereka taat kepada firman Allah dan tetap terpisah dari dosa bangsa-bangsa di sekitar mereka, maka berkat Allah akan turun atas mereka dan menyertai mereka. Pertanyaan berikutnya apakah kita siap dengan solusi yang ditawarkan dari Tuan pemilik Semesta Alam. Tentu jawabannya kembali kepada keimanan kita, karena hal tersebut terasa utopis bagi kebanyakan orang.

Memang keimanan seakan absurd sebab berada pada sisi bathiniah manusia, akan tetapi sejatinya hubungan Tuhan dengan manusia sangat erat dan tidak bisa dilepaskan dengan kesejajaran akan fungsi alam. Maka pilihannya bukan pada memenangkan kesehatan atau memenangkan ekonomi, melainkan memenangkan kemandirian pangan. Kita bisa melihat beberapa negara pengimpor saat ini lebih memilih mencukupkan kebutuhan pangan dalam negerinya ketimbang melakukan perniagaan, sekalipun itu menguntungkan.

 

Patut kita syukuri bahwa alam di mana tempat kita tinggal menyediakan lebih dari pada yang kita butuhkan, maka melalui gerakan pangan mandiri kita bukan saja dapat memenangkan peperangan melawan Covid-19 dan krisis pangan dengan berdulatnya pangan. Akan tetapi sejatinya kita sedang membangun ketauhidan, menyambung ikatan kembali antara Allah sebagai pengatur, Alam sebagai tempat menjalankan aturannya dan Manusia sebagai hamba yang menaati aturanya, atau kebanyak orang mengenal dengan istilah kembali ke fitrah.

Riwayat penulis :

Nanang Nurhayudi, L.C.A, merupakan Alumni IPB M.A.B, dan Pertanian, UNPAD, Pemilik ASIS Quality, dan aktif dalam Urban Farming.

Krisis Pangan, Jangan salahkan Corona (Bag II)

Oleh: Nanang Nurhayudi

Saat ini Indonesia butuh 300 ribu petani untuk membuka lahan baru seluas 200 ribu Ha cetakan sawah di Kalimantan Tengah, sebab satu lahan membutuhkan setidak-tidaknya 2-3 orang petani per hektar meski menggunakan sistem pertanian yang baik tetap membutuhkan sumber daya manusia yang besar. Sebagai bentuk antisipasi krisis pangan pasca gelombang COVID-19 berakhir, pembukan lahan pertanian baru diharapkan menjadi solusi.

Lantas pertanyaanya, apakah kita sudah siap dengan kebijakan dan aturan untuk mengatasi permasalahan klasik dari kegagalan masa lalu? di mana pertanian terganggu akibat petani meninggalkan lahan garapannya yang hanya bertahan pada satu musim tanam saja, kemudian beralih profesi pada bidang pekerjaan lainnya. Sebagai catatan pada tahun 2017 setelah disampaikannya sebuah sindirian oleh Presiden RI Bapak Ir. Joko Widodo dalam sebuah acara wisuda, di mana Beliau mengatakan jika sedikit lulusan yang memilih menjadi petani, lebih banyak bekerja di bank.

Kemudian dilakukanlah sebuah survai kepada alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) yang diwisuda pada tahun 2015, di mana sebanyak 72,74% dari 6.773 orang alumni yang mengisi kuesioner melalui program tracer Alumni. Data yang didapatkan menyatakan, jika sebanyak 13,30 % lulusan bekerja pada sektor pertanian “On farm” dan 11,42 % pada pengolahan hasil pertanian, sedangkan sisanya sebanyak  76,38 % bekerja di luar bidang tersebut, meskipun sesuai dengan jurusannya. Jika dilihat dari data tersebut bisa dikatakan ketersedian sumberdaya manusia bukan karena lulusan pertaniannya, melainkan pada minat generasi milenial terhadap pertanian sangat rendah, related dengan sedikitnya jumlah mahasiswa pada jurusan pertanian.

Generasi muda kita lebih suka menjadi youtuber, influencer dan officer ketimbang berprofesi menjadi petani, hal ini dikarenakan petani bisa disebut sebagai profesi rendahan, tidak menjanjikan, tidak bergengsi, bersiko tinggi, keuntungan rendah. Pertanian juga dipandang sebagai pekerjaan yang banyak masalah, mulai dari kesuburan tanah, bibit terbatas, alat pertanian yang mahal, tengkulak dan status lahan. Tak ayal banyak petani di Jawa Barat kemudian memilih menjual lahan warisannya ketimbang berkutat dengan pertanian, padahal petani adalah produsen utama dalam tatanan ratai ekonomi global. Menurut Hermanto guru besar IPB, Sebagai perbandingan di Jepang terdapat hukum yang membatasi fragmentasi dalam pewarisan lahan pertanian. Sementara di Indonesia, kepemilikan 5 Ha lahan oleh satu orang bisa beralih menjadi milik lima orang dengan masing-masing menguasai 1 Ha. Tidak semua ahli waris ini melanjutkan lahan tersebut untuk pertanian sehingga produktivitasnya menurun.

Sejak tahun 2017 pemerintah mengelurakan program Refrorma Agraria di mana peruntuknya adalah pengelolaan lahan kawasan hutan milik Negara untuk kegiatan perluasan lahan pertanian dan perkebunan. Melalui perhutanan sosial selama 3 tahun tersebut perkembanganya tidak signifikan dari 12,7 juta Ha, sampai tahun 2019 hanya 4,3 juta Ha lahan yang digarap dengan rata-rata digunakan untuk perkebunan semisal kopi. Sebanyak 16.000 KK di Jawa Barat memanfaatkan lahan perhutanan sosial untuk menanam kopi, hal ini berbanding lurus dengan data ekspor tahunan, di mana Indonesia masuk dalam jajaran produsen kopi terbesar di Dunia yakni 649.000 Ton pertahun bersanding dengan Vietnam dan Brazil.

Menurut Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai program cetak sawah tidak efektif untuk mendukung ketahanan pangan Indonesia selama pandemi Covid-19. Menggunakan cara penambahan lahan cetak sawah baru tidak akan berkontribusi signifikan pada pemenuhan kebutuhan domestik yang meningkat seiring jumlah penduduk semakin bertambah. Menurut Pakar pertanian Prof. Totok Agung Dwi Haryanto, persoalannya bagaimana menyediakan pangan yang mencukupi, baik secara kuantitatif maupun mutu yang menjamin kesehatan seluruh masyarakat. Penyediaan pangan jangka pendek maupun jangka panjang.

Ada ataupun tidak ada krisis pangan setiap negara tentu memprioritaskan ketersediaan pangan bagi penduduknya. Saat ini yang mesti dilakukan justru berfokus pada optimalisasi lahan pertanian dan perbaikan tatanan system pertanian yang sudah tersedia dengan utamanya merevitalisai lumbung padi pada setiap daerah sampai tingkat kelurahan. Kemudian memanfaatkan semua lahan potensial yang ada untuk produksi pangan, baik tanaman, ternak, maupun ikan. Lahan pekarangan dan halaman rumah dapat dimanfaatkan melalui urban farming untuk bertanam sayuran dan bertenak ikan.

Krisis Pangan, Jangan salahkan Corona (Bag I)

Oleh: Nanang Nurhayudi

Satu bulan yang lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan jika pandemi virus corona yang saat ini masih melanda seluruh dunia akan berimbas pada bencana kelaparan. Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia (WFP) David Beasley memprediksi bahwa skenario terburuk bencana kelaparan ini melanda sedikitnya tiga lusin negara, disebabkan oleh ketidaksiapan negara-negara dalam menjaga kestabilan ketersedian bahan pangan dan rantai pasokan terhenti sejak trend kebijakan “lockdown“ diberlakukan.

Ironisnya, saat ini justru di beberapa negara terdapat lebih dari 1 juta masyarakatnya dalam kondisi diambang kelaparan, disebabkan karena berada pada kemiskian dan sedang mengalami perang. Akan tetapi pada akhir tahun 2019 pernah disampaikan juga oleh PBB jika sebanyak 55 negara beresiko terjerumus dalam krisis pangan, disebabkan kelangkaan lahan pertanian dan akses ketersedian pangan.

Selama satu dekate ini, lahan pertanian banyak beralih fungsi imbas dari pembangunan kota, dorongan ekonomi dan urbanisasi. Negara pada kawasan Hindia, Asia Tenggara dan China masuk pada zona kawasan dengan ketersedian lahan pertanian rendah.

Berdasarkan perbandingan jumlah luas lahan pertanian 1 Ha dengan 1000 orang, rata-rata ketersediaan lahan pertanian pada kawasan Asia hanya berkisar 35%. Indonesia sendiri terjadi penyusutan lahan produktif pertanian berkisar pada angka 100.000–120.000 Ha setiap tahunnya dan berpotensi akan kehilangan 1.2 juta Ha lahan pertanian. Penyusutan ini dipicu oleh pesatnya pembangunan infrastruktur pada daerah sentra produksi pertanian serta lambatnya realisasi penambahan area sawah.

Ketika produktifitas pangan menurun tentu saja akan berimbas pada persoalan sosial, ekonomi, dan politik pada masyarakat, hal ini berpotensi menyebabkan konflik antar lini masyarakat baik antara agama, suku dan ras menjadi besar dan kemudian secara perlahan akan menyebabkan “global security”. Bekaca pada tahun 1997, ketika masalah pangan mencuat kepermukaan dibarengi tingginya harga kebutuhan pokok termasuk beras dan gula yang terus meningkat, kemudian melahirkan demonstrasi besar-besaran menuntut penurunan harga bahan pokok, sampai dengan terjadinya penggulingan kekuasaan, dikarenakan pemerintah dinilai gagal dalam menjaga kesetabilan ekonomi.

Riset yang dilakukan oleh beberapa lembaga survai menunjukkan selama periode 2005–2014, setidaknya sekitar 489 Ha lahan pertanian dipergunakan untuk pembangunan sepanjang 74,7 kilometer (km) jalan tol di Pulau Jawa. Selama periode ini, 5.228 Ha lahan pertanian juga dikonversi sebagai dampak pengembangan jalan tol. Sejak tahun 2015 sampai dengan 2019 program realisasi cetak sawah baru yang diharapkan dapat menggantikan alih fungsi lahan pertanian justru makin tahun makin mengalami penurunan, total dari jumlah 129.000 Ha pada tahun 2016 secara bertahap menurun drastis hingga pada kisaran 6000 Ha lahan yang masuk dalam lahan cetak sawah baru.

Hal ini menjadi wajar jika kemudian import kebutuhan bahan pangan kita melambung sampai dengan jumlah 2.01 Juta ton pada tahun 2018 yang menyebabkan harga jual beli beras di Indonesia paling tinggi dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya.

Singapore harga beras eceran yang beredar di pasar hanya berkisar Rp. 11.500,- sedangkan Thailand tidak lebih dari Rp.7.500,- untuk beras kwalitas sama dengan harga Rp.12.600,- yang beredar di pasaran Indonesia. Besar kemungkinan harga tinggi tersebut disebabkan karena rantai pasokan ketersedian pangan lebih panjang, melihat demografi Indonesia yang luas serta jalur transportasi belum terhubung dengan baik antara satu wilayah dengan lainnya.

Hal ini tentu saja berdampak pada kenaikan harga produk, termasuk hasil pertanian lainnya, semisal cabe, bawang dan sayur mayur, karena kelangkaan barang. Melonjaknya harga hasil pertanian berdampak langsung kepada kehidupan petani yang merupakan produsen utama dalam mata rantai ekonomi.

Gegara Ceramah di Hadapan Kerumunan Massa Habib Bahar Smith Dibui Lagi

BOGORDAILY – Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM) Jawa Barat memastikan habib Bahar bin Smith telah melanggar asimilasi sehingga dijebloskan lagi ke penjara. Asimilasi Bahar dicabut kaitan dengan kegiatan tausiah.

“Intinya melanggar asimilasi. Sekarang statusnya masih warga binaan, ya seharusnya mengikuti aturan dan ketentuan yang diberikan. Apalagi kaitan dengan pandemi COVID-19, kan gitu,” ucap Kepala Divisi Pemasyarakatan Kemenkum HAM Jabar Abdul Aris, Selasa (19/5/2020).

Bahar sendiri diketahui ceramah dalam kegiatan tausiah usai bebas pada Sabtu (16/5) sore lalu. Dalam tausiah itu, terlihat Bahar berbicara di hadapan kerumunan massa.

Disinggung soal ceramah yang menjadi dasar pencabutan asimilasi tersebut, Aris membenarkan. Namun dia tidak menjelaskan secara rinci terkait pelanggaran itu.

“Iya, kamu kan bisa lihat sendiri kaya apa.Itu makanya kan, gak perlu dijelaskan.Kalau dijelaskan nanti panjang,” tuturnya.

Sebelumnya, Bahar bin Smith kembali dijebloskan ke bui. Bahar dianggap telah melanggar proses asimilasi yang diberikan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM) kepadanya.

“Ya (kembali ke lapas). Yang bersangkutan dikembalikan ke Lapas Gunung Sindur,” ucap Kepala Divisi Pemasyarakatan Kemenkum HAM Jabar Abdul Aris saat dikonfirmasi, Selasa (19/5/2020).

Aris mengatakan Bahar dijebloskan lagi ke bui gegara asimilasinya dicabut. Sebab, kata Aris, Bahar dianggap melanggar ketentuan asimilasi.

“Program asimilasinya dicabut karena melanggar ketentuan asimilasi,” tuturnya.