Thursday, 9 April 2026
Home Blog Page 8231

Pelonggaran PSBB untuk Kelompok Muda

Oleh: Hj. Ade Yasin, SH, MH
(Bupati Bogor/ Ketua Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Bogor)

Pemerintah pusat melalui Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 mengizinkan kelompok muda dengan usia di bawah 45 tahun untuk bisa bekerja atau beraktivitas lagi di tengah pandemi Covid-19. Tujuannya agar menghindari PHK dan kelompok ini dianggap tak rentan dari risiko buruk corona.

Hal tersebut ditegaskan Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Letjen TNI Doni Monardo dalam konferensi pers usai rapat terbatas, Senin (11/5/2020).

Ini lagi-lagi kabar yang cukup mengejutkan kami pemerintah daerah. Sering kali pemerintah pusat mengubah aturan dalam kurun satu hari yang membuat pemerintah daerah kebingungan.

Sebelumnya, regulasi kontradiktif antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam mengatur larangan mudik juga cukup membuat kami bingung. Presiden melarang mudik, tiba-tiba Kementerian Perhubungan membolehkan operasional angkutan mudik.

Akhirnya kami putuskan bahwa kami memegang apa yang diputuskan oleh pemerintah dan juga yang terkait dengan ini, yaitu Ketua Pelaksana Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Letjen TNI Doni Monardo dan Pak Presiden Jokowi pada saat menyatakan pelarangan mudik yang pertama.

Kami, pemerintah daerah tentunya tidak akan menaati peraturan yang bukan berasal dari perintah Presiden. Kami tidak ingin bermain-main dalam aturan yang kontradiktif sehingga dapat memberi celah masuknya virus Corona khususnya ke wilayah Kabupaten Bogor.

Kami memahami rencana pemerintah pusat untuk mengambil langkah pelonggaran PSBB bagi kelompok muda di bawah usia 45 tahun tersebut demi kebaikan masyarakat. Apalagi pandemi ini telah membuat kondisi perekonomian nasional anjlok dan PHK dimana-mana.

Namun demikian, kami meminta kebijakan itu boleh saja dilaksanakan asal ada pengetatan terhadap penerapan protokol kesehatan di tengah masyarakat. Sehingga tidak berbenturan juga dengan aturan PSBB yang sedang kami laksanakan di daerah.

Penerapan sanksi tegas bagi warga yang tidak mematuhi aturan penggunaan masker, menjaga jarak, tidak berkerumun dan lain-lain menjadi wajib hukumnya. Ini agar kebijakan yang sudah dibuat tak jadi bumerang bagi pemerintah sendiri.

Selain itu, pemerintah pusat harus menyadari bahwa ada potensi wabah ini akan menjadi lama redanya. Kebijakan pelonggaran PSBB bagi kelompok muda di bawah 45 tahun juga membuka celah pandemi Covid-19 menjadi panjang dan melelahkan.

Oleh sebab itu, kami akan tetap fokus dan konsisten dalam penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Bahkan kami akan memperpanjang kebijakan PSBB ini hingga selesai Hari Raya Idul Fitri. Sebab jika tidak diperpanjang kami khawatir masyarakat merasa sudah terbebas dari pandemi Covid-19.

Pada penerapan PSBB tahap tiga nanti kami akan lebih intensif melakukan swab test dan rapid test Covid-19, dan akan lebih tegas kepada masyarakat yang melanggar aturan PSBB.

PSBB di Kabupaten Bogor selama ini berjalan kurang efektif karena rendahnya kesadaran masyarakat, aturan hukum yang tidak jelas, kontradiktif regulasi pemerintah daerah dan pusat.

Kemudian, PSBB di daerah yang berbatasan dengan DKI tidak berjalan maksimal karena kurangnya harmonisasi peraturan di level kementerian. Misalnya berkaitan dengan pembatasan moda transportasi KRL dan operasionalisasi industri.

Saat ini banyak aktivitas kantor yang tidak dikecualikan di DKI, sehingga pergerakan orang dari Bogor ke Jakarta masih tinggi. Begitu pula sebaliknya. Selain itu, tidak ada pengawasan yang terintegrasi antarwilayah Bogor, Depok, Bekasi dan Jakarta.

Oleh sebab itu, kami akan terus senantiasa berjaga-jaga. Wilayah yang sudah masuk zona merah ini tidak boleh menjadi zona “merah tua” dalam penyebaran corona. (*)

Pemerintah Fokus Renovasi, Nasib Stadion Utama Riau Tak Jelas

BOGORDAILY – Stadion Utama Riau tak ada dalam daftar FIFA untuk Piala Dunia U-20 2021. Meski demikian, pihak Kemenpora akan tetap fokus melakukan pembenahan.

Menpora Zainudin Amali menyerahkan persoalan tersebut kepada PSSI. Pemerintah hanya fokus pada stadion-stadion yang akan direnovasi.

“Sesuai surat FIFA memang hanya 6 stadion itu, juga sesuai dengan proposal awal. Selain itu, FIFA juga sudah datang meninjau, tapi kalau ada tambahan usulan dari PSSI maka tinggal menunggu respon FIFA saja. Apakah usulan tambahan itu diakomodir atau tidak kami belum tahu,” kata Amali, dalam pesan singkatnya.

“Untuk merenovasi venue pemerintah masih menunggu kepastian dari FIFA apakah tetap 6 stadion itu atau ada perubahan,” lanjutnya.

Riau dipertimbangkan sebagai kandidat setelah ada permintaan dari Pekanbaru. PSSI bahkan telah meninjau stadion tersebut beberapa waktu lalu dalam rangka persiapan Piala Dunia U-20 2021. Dengan demikian PSSI mendaftarkan 11 stadion sebagai calon venue.

Padahal sebelumnya, PSSI telah mengajukan proposal kepada FIFA dan hanya ada 10 stadion kandidat, untuk selanjutnya dipilih enam stadion paling layak oleh FIFA.

Enam kandidat yang memungkinkan dipilih pun sempat dimunculkan Kemenpora melalui rilis yang diterbitkan 23 Januari lalu. Yakni Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Stadion Pakansari Bogor, Stadion Manahan Solo, Stadion Mandala Krida Yogyakarta, Stadion Gelora Bung Tomo, dan Stadion Kapten I Wayan Dipta. Mereka dipilih lantaran jarak tempuhnya yang diharapkan tidak boleh lebih dari satu jam.

Akan tetapi, pemerintah lagi-lagi menegaskan tak mempersoalkan federasi yang akhirnya mengusulkan Riau sebagai salah satu tempat penyelenggara. Toh, otoritas yang menentukan venue adalah FIFA. Sebab, ini hajatan sepakbola dunia.

“Enggak ada masalah federasi mengusulkan, karena yang komunikasi langsung dengan FIFA adalah PSSI. Pemerintah menunggu saja keputusan finalnya untuk kami renovasi,” ujarnya menyoal pemerintah mengetahui usulan itu atau tidak.

“Yang punya otoritas menentukan venue yang akan digunakan itu FIFA karena ini kan piala dunia. Pemerintah siap mengerjakan renovasi sesuai kualifikasi teknis yang dipersyaratkan oleh FIFA,” dia menambahkan.

Ridwan Kamil: Bansos Pemerintah Pusat Ada 8 Pintu, Warga Jadi Bingung

BOGORDAILY – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyinggung ruwetnya bantuan sosial (bansos) pemerintah pusat untuk warga terdampak pandemi virus corona (Covid-19). Menurut dia, masalah itu juga banyak dikeluhkan oleh kepala desa yang kebingungan mengatur bantuan dari para menteri.

Pasalnya, banyak kepala desa yang mengira bahwa bansos untuk warga hanya satu pintu yakni, bantuan pemprov Jawa Barat. Namun, ternyata ada sejumlah bantuan yang dikirimkan oleh kementerian.

“Karena ada yang belum paham, (bansos) Jawa barat itu hanya 1 pintu. Karena bantuan pemerintah itu ada 8 pintu,” kata Ridwan Kamil dalam sesi ngobrol bareng bersama Liputan6.com, Senin (11/5) malam.

“Kementerian Desa kirim bantuan sendiri, Pak Wishnutama (Menteri Pariwisata) juga sama kirim bantuan. Timing sendiri, cara sendiri,” imbuhnya.

Pemerintah provinsi Jawa Barat sendiri telah mulai menyalurkan bansos sejak 15 April 2020. Ridwan Kamil mengakui bahwa ada pihak yang mengkritik lantaran bansos pemprov Jawa Barat mendahului pemerintah pusat.

“Jadi kami dikritik karena kerja kecepatan sebenarnya, mendahului bantuan pemerintah pusat yang belum sepenuhnya datang,” jelasnya.

Dia enggan menyebut penyaluran bansos di tengah wabah corona kacau. Namun, Ridwan Kamil menilai bahwa banyaknya pintu akhirnya membuat masyarakat menjadi bingung.

“(Warga bilang) Kenapa yang kiri duluan Pak Gubernur, kenapa saya enggak dapat. Padahal, dia jatahnya dari Menteri Desa. Dia enggak hapal bahwa jadwal dia minggu depan, jadwal dari provinsi duluan,” tutur dia.

Kang Emil mengaku telah meyampaikan kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi agar penyaluran bansos untuk warga terdampak corona dibuat dalam satu pintu saja. Sehingga, tak menimbulkan kecemburuan di kalangan penerima bamsos.

“Di rapat kabinet saya sudah sampaikan ke Pak Jokowi. ‘Pak, jangan sampe urusan sembako urusan duit ribut. Tolong pintu yang kebanyakan itu disatu pintukan’,” ucapnya.

“Pak presiden mendelegasikan ke Menko PMK untuk merespons itu,” sambung Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil.

Kang Emil Keluhkan Sulit Mendapat Data KK Dari Dukcapil Kemendagri

Kang Emil mengaku kesulitan memperoleh data dari Kementerian Dalam Negeri, khususnya ke Dukcapil, terkait data Kepala Keluarga (KK). Adapun ini disampaikan dalam Sharing Session yang diadakan eksklusif oleh Liputan6.com secara langsung.

Dia menuturkan, ingin mengecek data penerima bansos yang dari bawah. Apakah sudah sesuai atau tidak. “Kamu mau verifikasi ini, apakah datanya benar ada enggak yang dari bawah. Kami mau ngecek datanya ke Kementerian Dalam Negeri di Dukcapil. Kita mau ngecek 5 juta KK. Apa yang terjadi, kita hanya diizinkan 1.000 data perhari coba banyangin, ” kata Kang Emi.

Menurut dia, hal ini membuatnya tak rampung mengecek data KK yang benar. “Saya mau ngecek 5 juta data, diizinkan 1.000 data per hari. Gimana beresnya datanya,” ungkap Kang Emil.

Mantan Wali Kota Bandung ini menuturkan, pasti ada resiko akibat hal ini. Dia lantas berkelakar.

“Sementara yang di bawah kan enggak mau tahu, Pak Gubernur PHP, Pak Gubernur janjikan. Padahal di balik itu keruwetan ini, dari bawah ada, dari atas ada, yang itulah Indonesia sekali,” kelakar Kang Emil.

Namun, dirinya menuturkan, bagian pekerjaannya sudah dilakukan dengan baik. “Minimal bagian saya, saya sudah selesaikan dengan baik,” tandasnya.

Kang Emil Sebut Menko PMK Berselisih Paham Sedikit dengan Anies

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan atau Menko PMK, Muhadjir Effendy mengakui, bahwa dalam pemberian bantuan sosial (bansos) memang yang menjadi masalah adalah data, salah satunya dengan DKI, yang membuatnya berselisih dengan Gubernur Jakarta Anies Baswedan.

Hal ini ternyata diketahui oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil atau akrab disapa Kang Emil. Itu disampaikannya dalam Sharing Session yang diadakan eksklusif oleh Liputan6.com secara langsung.

Awal bermula, saat Kang Emil meminta Presiden Jokowi untuk mensatukan pintu pemberian Bansos dari pusat. Presiden pun mendelegasikan ke Menko PMK, disanalah muncul ketegangan.

“Pak Presiden mendelegasikan ke Menko PMK itu untuk merespon ini. Nah, Menko PMK bikin rapat dengan para Gubernur. Disitulah yang tanda kutip berselisih paham sedikit dengan Pak Anies yang ramai di media kan. Saya tuh saksinya,” kata Kang Emil, Senin (11/5/2020).

Meski demikian, dalam rapat tersebut, tidak ada kesimpulan yang diharapkannya. “Dan akhir dari rapatnya, tidak ada kesimpulan menjadi satu pintu. Itu yang saya sesali,” tukasnya.

Dia menegaskan, bahwa ini cerita apa adanya. Dan semua itu ingin cepat.

“Saya mau cerita apa adanya aja. Kita mau cepat, kita mau apa, karena keputusan tidak ada di tangan saya, sehingga tidak seperti yang saya harapkan. Padahal kalau bisa harus lebih cepat,” pungkasnya.

James Rodriguez 80% Jadi Pemain Atletico Madrid

BOGORDAILY – Bintang sepakbola Kolombia James Rodriguez tampaknya masih akan tetap di Madrid. Namun, bukan di bertahan Real Madrid melainkan menyeberang ke Atletico Madrid.

Setelah kembali dari peminjamannya di Bayern Munich, James masih belum mendapatkan kepercayaan pelatih Zinedine Zidane. Di musim ini, gelandang berusia 28 tahun itu cuma 13 kali dimainkan.

Madrid diyakini ingin melego James agar memberi suntikan dana untuk membeli pemain-pemain yang dibutuhkan Zidane. Sejumlah klub tertarik mendapatkan servis James, terutama di Liga Inggris, tapi si pemain kini merapat ke Wanda Metrpolitano.

Menurut jurnalis Kolombia Javier Hernandez Bonnet, pembicaraan transfer James berlangsung lancar. Bonnet menyebut, James bahkan sudah 80 persen menjadi pemain Atletico.

“Kalau Real Madrid ingin mendapatkan sebagian uangnya, mereka mesti menuntaskan kesepakatan. Kalau mereka tidak melakukannya di antara sekarang dan Desember, James akan menjadi agen bebas,” ungkap Bonnet kepada Radio Blu, yang diwartakan AS.

“Sumber yang sama mengatakan kepada kami ketika dia pindah ke Bayern Munich mengatakan bahwa operasinya 80% sudah selesai.”

Disebutkan pula, James menyukai transfernya ke Atletico baik dari sisi sepakbola maupun sudut pandang pribadi. Meski begitu, James baru saja mengikuti latihan bersama skuad Madrid jelang potensi kembalinya LaLiga di tengah pandemi virus corona.

Kelurahan Cilendek Barat Perangi Covid-19

BOGOR DAILY – Kelurahan Cilendek Barat, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, terus melakukan beberapa program dalam upaya memerangi Virus Korona atau Covid-19.

Lurah Cilendek Barat, Aliyas, mengatakan, beberapa program dalam penanganan Covid-19 di wilayahya ini sudah dilaksanakan. Seperti, pembentukan Rukun Warga (RW) siaga Korona sebanyak 18.

Menurutnya, saat ini juga Kelurahan Cilendek Barat sedang fokus kepada penyemprotan disinfektan, dengan sasaran tempat umum seperti, Mushola, Masjid, sekolah, dan rumah-rumah warga.

“Kita akan lakukan penyemprotan disinfektan besok Rabu (13/5/2020), di semua wilayah Kelurahan Cilendek Barat, sebelumnya juga kita sudah lakukan itu,” katanya kepada Bogordaily, Selasa (12/5/2020).

Ia juga menjelaskan, program Gerakan Nasi Bungkus (Gasibu) juga sudah dilaksanakan, bekerjasama dengan kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kelurahan Cilendek Barat.

“Untuk Gasibu kita sudah lakukan, alhandulillah berjalan dengan lancar, dan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan, atau terdampak Covid-18,” jelasnya.

Ia menambahkan, untuk bantuan sosial (Bansos) bagi masyarakat miskin atau terkena dampak Covid-19, di Kelurahan Cilendek Barat ada sebanyak 278 Kartu Keluarga (KK). Akan tetapi ada data ganda sebanyak 19 KK dan itu dikembalikan lagi.

“Ada 278 KK yang dapat. Tapi, 19 ganda dan itu sudah dikembalikan lagi, jadi yang dapat itu ada sebanyak 259 KK,” tukasnya. (Andi).

Pernyataan Lengkap Jokowi Soal Evaluasi PSBB dan Wanti-wanti Pelonggaran

BOGORDAILY – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dievaluasi secara detail. Sebab, gambaran nyata efektivitas PSBB untuk menekan laju penularan virus corona baru (COVID-19) disebut Jokowi berbeda-beda di tiap daerah.

“Kita ingin ada sebuah evaluasi yang detail pada provinsi, kabupaten, dan kota mengenai data tren penambahan atau penurunan kasus positif baru di setiap daerah baik yang menerapkan PSBB maupun yang tidak,” ujar Jokowi mengawali rapat terbatas yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (11/5/2020).

Jokowi juga meminta Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 berfokus di Jawa. Arahan Jokowi itu merujuk pada data kasus positif dan kasus kematian yang masih tinggi di 5 provinsi di Pulau Jawa.

“Saya minta Gugus Tugas untuk memastikan pengendalian COVID di 5 provinsi Pulau Jawa ini betul-betul dilakukan secara efektif, terutama dalam waktu 2 minggu ke depan ini, kesempatan kita mungkin sampai lebaran itu harus betul-betul kita gunakan,” kata Jokowi.

Terakhir yang disampaikan Jokowi adalah mengenai pelonggaran PSBB. Jokowi meminta agar opsi itu tidak diambil terburu-buru.

“Mengenai pelonggaran untuk PSBB agar dilakukan secara hati-hati dan tidak tergesa-gesa. Semuanya didasarkan pada data-data lapangan, pelaksanaan lapangan, sehingga keputusan itu betul-betul sebuah keputusan yang benar. Hati-hati mengenai pelonggaran PSBB,” kata Jokowi memberikan penegasan.

Pagi hari ini evaluasi pelaksanaan PSBB akan kita lakukan. Kita tahu bahwa sudah ada 4 provinsi dan 72 kabupaten/kota yang melaksanakan PSBB, dan juga provinsi atau kota/kabupaten yang belum melaksanakan PSBB tetapi memakai cara yang lain yang saya lihat juga ada yang berhasil

Yang ingin saya sampaikan, yang pertama, kita ingin ada sebuah evaluasi yang detail pada provinsi, kabupaten, dan kota mengenai data tren penambahan atau penurunan kasus positif baru di setiap daerah baik yang menerapkan PSBB maupun yang tidak

Berdasarkan data kasus baru, sebelum dilakukan PSBB dan sesudahnya, memang kalau kita lihat hasilnya bervariasi dan berbeda-beda di setiap daerah. Ini karena memang pelaksanaannya juga dengan efektivitas yang berbeda-beda. Ada daerah yang penambahan kasus barunya mengalami penurunan secara gradual konsisten namun tidak drastis, tapi juga ada daerah yang penambahan kasusnya turun tetapi juga belum konsisten dan masih fluktuatif. Juga ada daerah yang penambahan kasusnya tidak mengalami perubahan seperti sebelum PSBB, ini juga hal-hal seperti ini perlu digarisbawahi, ada apa, kenapa

Kemudian yang kedua, bahwa dari 10 provinsi dengan kasus positif terbanyak, hanya 3 provinsi yang berstatus PSBB yaitu DKI Jakarta, Jabar, dan Sumatera Barat. Tujuh provinsi lainnya masih non PSBB. Karena itu kita juga evaluasi, baik provinsi, kabupaten, kota yang tidak memperlakukan PSBB tapi juga menjalankan kebijakan physical distancing, menerapkan protokol kesehatan secara ketat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari

Oleh sebab itu ini harus diperbandingkan yang PSBB maupun yang non PSBB karena memang ada inovasi-inovasi di lapangan dengan menerapkan model kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat disesuaikan dengan konteks di daerah masing-masing

Kemudian yang ketiga, mengenai manajemen pengendalian PSBB juga saya harapkan tidak terjebak pada batas-batas administrasi kepemerintahan, artinya juga bersifat aglomerasi, penanganan sebuah kawasan besar yang saling terhubung sehingga manajemen antardaerahnya menjadi terpadu misalnya seperti yang sudah dilakukan Jabodetabek, ini saling kait mengait sehingga pengaturan mobilitas sosial dari masyarakat bisa terpadu dan lebih baik

Kemudian yang keempat, berdasarkan data Gugus Tugas, 70 persen kasus positif itu ada di Pulau Jawa, 70 persen kasus positif ada di Pulau Jawa, demikian juga dengan angka tertinggi kematian, 82 persen juga ada di Jawa, untuk itu saya minta Gugus Tugas untuk memastikan pengendalian COVID di 5 provinsi Pulau Jawa ini betul-betul dilakukan secara efektif, terutama dalam waktu 2 minggu ke depan ini, kesempatan kita mungkin sampai lebaran itu harus betul-betul kita gunakan

Kemudian yang terakhir mengenai pelonggaran untuk PSBB agar dilakukan secara hati-hati dan tidak tergesa-gesa. Semuanya didasarkan pada data-data lapangan, pelaksanaan lapangan, sehingga keputusan itu betul-betul sebuah keputusan yang benar. Hati-hati mengenai pelonggaran PSBB

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan sebagai pengantar. Terima kasih.

Ini Tiga Klub di Liga 1 yang Paling Sering Dibobol Marko Simic

BOGORDAILY – Marko Simic telah mencetak 47 gol buat Persija Jakarta di ajang Liga 1 sejak musim 2018. Gawang Madura United jadi yang paling sering dibobol Simic.

Pemain asal Kroasia itu telah enam kali membobol gawang Madura United. Rinciannya, sekali pada 2018 dan lima kali semusim berikutnya.

Simic belum bisa melanjutkan tradisi membobol gawang Madura United pada Shopee Liga 1 2020. Itu lantaran kompetisi dihentikan akibat pandemi virus corona.

Musim ini Simic baru bisa mencetak satu gol ke gawang Borneo FC. Itu terjadi pada pertandingan perdana Persija Jakarta di Liga 1 awal musim ini.

Arema dan Borneo FC juga menjadi gawang favorit untuk dicetak Simic. Totalnya 10 gol dicatatnya ke gawang ke kedua tim itu dengan masing-masing tim pernah lima kali dibobol Simic.

Gawang favorit Simic selanjutnya adalah Tira Persikabo dan Barito Putera. Eks pemain Timnas Kroasia U-21 itu mencetak masing-masing empat gol ke gawang Tira Persikabo dan Barito.

Totalnya, 24 gol Marko Simic dilesakkannya ke gawang lima klub itu. Angka itu menunjukkan bahwa 51,06 persen gol Simic tercipta ke gawang tim-tim itu.

Klub paling sering dibobol Marko Simic di Liga 1

1 Madura United – 6 gol
2 Arema FC dan Borneo FC – Masing-masing 5 gol
3 Tira Persikabo dan Barito Putera – Masing-masing 4 gol

Ribuan Buruh di Sukabumi Demo Tuntut THR

BOGORDAILY – Ribuan buruh garment PT DJS di Desa Bojong Kokosan, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi melakukan aksi demo. Mereka menggelar aksi tersebut diduga terkait permasalahan tunjangan hari raya (THR).

Di lini massa media sosial, video para buruh tersebut berteriak soal THR juga ramai dibagikan warganet. Sayangnya, saat sejumlah wartawan mencoba untuk masuk satpam pabrik melarang.

“Tidak bisa, tidak boleh,” ungkap satpam tersebut menahan di pintu masuk gerbang, Selasa (12/5/2020).

Informasi yang diperoleh dari salah seorang buruh, aksi yang melibatkan ribuan buruh tersebut dipicu kebijakan perusahaan yang akan mengangsur THR mereka. “Saya dan kawan-kawan menolak, tuntutan kami THR enggak mau diangsur,” kata R salah seorang buruh, melalui pesan singkat.

Sejumlah awak media terus berusaha berkomunikasi dengan satpam pabrik agar diperbolehkan masuk untuk melakukan peliputan dan mengklarifikasi hal itu. Namun tetap, pintu besi di bagian depan tersebut tertutup untuk media.

Di dalam area pabrik terlihat petugas kepolisian dan Satpol PP berusaha meredam situasi. Belum ada keterangan resmi terkait aksi itu, hanya sesekali terdengar teriakan THR serentak disuarakan para buruh.

Beberapa buruh bahkan membagikan video situasi di dalam area pabrik kepada sejumlah awak media.

Kapolsek Parungkuda, Resor Sukabumi AKP Endah ketika dikonfirmasi hanya menjawab singkat. “Sebentar saya lagi meeting,” ucapnya.

Bos Premier League: Klub-klub Awalnya Ingin Liga Disetop Total

BOGORDAILY – Bos Premier League Richard Masters menggambarkan betapa alotnya rapat antarklub terkait kelanjutan musim 2019/2020. Bahkan awalnya liga ingin dihentikan.

Premier League sudah ditangguhkan sejak 12 Maret lalu karena pandemi virus corona. Selama dua bulan ini, perdebatan terkait lanjut atau tidaknya musim ini terus bergulir.

Opsi yang muncul pertama kali adalah musim ini dihentikan begitu saja, tanpa ada juara dan tanpa ada degradasi. Sebab akan mustahil melanjutkan kompetisi dengan kondisi serba tidak jelas seperti sekarang.

Hal itu lantas ditentang banyak klub terutama (mungkin) Liverpool yang bakal kehilangan peluang menjuarai Premier League untuk pertama kalinya, sekaligus gelar liga pertama dalam 30 tahun. Sebab, mereka cuma berjarak dua kemenangan dari trofi tersebut.

Richards Masters selaku bos Premier League tak membantah kalau klub-klub sempat membicarakan opsi itu pada awal rapat, Senin (11/5/2020) kemarin. Meski begitu, pada prosesnya, mayoritas klub menginginkan musim dilanjutkan.

“Saya dengan bangga ingin mengatakan bahwa opsi membatalkan musim itu-lah yang pertama kali dibicarakan, tapi apa isi diskusi itu harus tetap dirahasiakan,” ujar Masters seperti dikutip ESPN.

“Tentu saja misi kami adalah menuntaskan musim ini, tapi penting untuk mendiskusikan seluruh opsi yang ada bersama klub=klub. Apa yang saya bisa katakan adalah kami ingin menuntaskan musim. Meski demikian, belum tahu seperti apa mekanismenya,” sambungnya.

Terkait rencana melanjutkan musim ini, Premier League menyerahkan keputusan akhir kepada pemerintah terkait izin. Yang pasti protokol kesehatan ketat akan diberlakukan termasuk kemungkinan menggelar laga di venue netral.

“Kami harus membicarakan hal tersebut ke depannya. Ada keinginan untuk melihat segala kemungkinan yang terjadi, bagaimana adaptasinya, apakah Anda suka dengan cara kami menuntaskan musim ini. Setelah itu kita bicarakan lagi cara mana yang paling adil.”

Penumpang KRL dari Stasiun Bogor Wajib Bawa Surat Tugas Mulai Hari Ini

BOGORDAILY – Penumpang KRL dari Stasiun Bogor diwajibkan membawa surat tugas mulai hari ini. Jika tidak membawa surat tugas maka penumpang tidak diperkenankan naik kereta.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mengatakan kewajiban untuk menunjukkan surat tugas ini diberlakukan sejak penerapan PSBB tahap ketiga.

Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim menyebut proposal permohonan perpanjangan PSBB tahap ketiga ini telah dikirim kepada Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

“Besok, besok (mulai diberlakukan kewajiban penumpang KRL menunjukkan surat tugas),” kata Dedie ketika dihubungi, Senin (11/5).

Dedie menjelaskan masyarakat yang akan memakai KRL dari Stasiun Bogor diwajibkan untuk membawa surat tugas. Bila ada penumpang KRL yang tidak membawa surat tugas, lanjutnya, dimungkinkan masyarakat tidak diperkenankan untuk masuk ke stasiun atau menaiki KRL.

Namun, lanjut Dedie, mekanisme untuk pemberlakuan kewajiban membawa surat tugas ini masih dibahas berbagai pihak.

“Mestinya sih nggak boleh ya (masuk Stasiun Bogor bila tak membawa surat tugas). Tapi mekanismenya lagi kita atur nih dengan kepolisian, dengan TNI, dengan Satpol PP, dengan Dishub, mekanismenya di lapangan seperti apa,” ungkap dia.

Lima kepala daerah di Bogor, Depok, Bekasi (Bodebek) sebelumnya sepakat memperketat aturan pergerakan masyarakat pada penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) jilid II. Penumpang yang hendak naik KRL diwajibkan menunjukkan surat tugas.

“Misalnya, pengguna moda transportasi KRL, harus dapat menunjukkan surat tugas. Hanya orang yang bekerja di delapan sektor yang dikecualikan yang boleh. Kalau tidak ada surat atau di luar delapan sektor itu, bisa diberikan sanksi,” kata Wali Kota Bogor, Bima Arya, Sabtu (9/5) seperti dilansir Antara.

Menurut Bima, banyak warga di Bodebek yang bekerja di Jakarta sehingga pergerakan masyarakat ke Jakarta dan sebaliknya cukup tinggi. Padahal, pada penerapan PSBB, hanya pegawai pada delapan sektor yang dikecualikan yang mendapat toleransi untuk tetap bekerja, antara lain sektor kesehatan, pangan, logistik, keuangan dan perbankan, energi, dan komunikasi.

Namun, lanjut dia, selama penerapan PSBB, masih banyak masyarakat di luar delapan sektor yang dikecualikan tetap melakukan aktivitas di luar rumah. Maka itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, kata Bima, akan membuat regulasi terkait pengetatan selama PSBB.

“Kemudian wali kota dan bupati di Bodebek akan membuat juga regulasinya yang mengatur lebih ketat pergerakan orang keluar masuk daerah,” ujarnya.

Bima menambahkan, regulasi yang akan dibuat Pemkot Bogor akan tertuang dalam Peraturan Wali Kota (Perwali). Bima Arya telah menginstruksikan Bagian Hukum dan HAM untuk membuat rancangan Perwali untuk segera ditandatangani.

Menindaklanjuti hal itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan segera menyiapkan regulasi.

“Dan itu dibuktikan bukan hanya surat dari tempat dia kerja, karena perlu verifikasi, tapi juga izin dari pemerintah. Pemprov DKI akan mewajibkan mereka untuk mendaftar membuktikan bahwa mereka benar di sektor itu. Ada sejumlah regulasi yang saya merasa perlu sharing di sini, mudah-mudahan bisa menjadi bahan untuk menyinkronkan policy antara kita,” kata Anies dalam rapat virtual, seperti dalam keterangan yang diterima dari Pemkot Bogor, Sabtu (9/5).

Anies menyambut baik koordinasi yang dilakukan antara DKI dengan kepala daerah Bodebek dan Jawa Barat. Menurutnya dalam menghadapi Corona ini harus dilakukan secara kompak antara daerah.

“Kita menghadapi tantangan yang tidak kecil, insyaallah dengan bekerja bersama kita bisa hadapi ini. Beberapa hari yang lalu Wali Kota Bogor Pak Bima Arya menyampaikan aspirasi perlunya kita berbicara mengenai PSBB bersama-sama. Ini untuk menegaskan kesepakatan sejak awal bahwa kita akan bergerak bersama-sama terus dan menuntaskan soal COVID ini secara kolektif lintas wilayah, 3 provinsi dan seluruh kabupaten Kota,” ungkap Anies.

Anies menjelaskan, langkah konkret yang sedang disiapkan adalah terkait dengan KRL. Pemprov DKI Jakarta akan mewajibkan orang-orang yang berangkat ke Jakarta harus orang-orang yang memang benar bekerja di sektor yang diizinkan.

Senada dengan itu, Gubernur Jabar, Ridwan Kamil menyebut adanya kerumunan warga sangat berisiko penyebaran COVID-19. Pira yang akrab disapa Kang Emil sepakat pengaturan penumpang KRL diperketat.

“Salah satu kelompok kerumunan adalah KRL yang tadi Kang Bima Arya sampaikan. Sebelum ini kita sebenarnya sudah menyetujui. Saat itu kepala daerah sudah mengajukan untuk memberhentikan KRL dulu tapi kan ditolak waktu Menhubnya masih ad interim,” terang Emil.

“Sekarang mengemuka lagi, saya juga sangat mendukung. Karena problemnya adalah OTG (Orang Tanpa Gejala). Jadi, mau KRL sudah dikasih istilahnya protokol kesehatan, berjarak, OTG ini juga tidak ketahuan. Dites suhu tubuh, tidak panas, dari gerak-geriknya juga sama seperti orang sehat, padahal di dalamnya ada virus orang ini,” tambahnya.

Emil juga meminta Anies membuat instruksi ke kantor-kantor di Jakarta melakukan pendataan terhadap pegawainya yang tinggal di luar Jakarta. Sehingga bisa diketahui warga luar Jakarta yang mengadu nasib di Ibu Kota.

“Kemudian opsinya dua, menyediakan kendaraan oleh perusahaan-perusahaan. Saya kira itu konsekuensi, Anda (perusahaan) mau buka di saat PSBB, Anda juga bertanggung jawab terhadap karyawan-karyawan yang tidak semuanya tinggal di lingkungan Jakarta. Atau seperti yang saya lakukan di Jabar kepada mereka yang ngotot buka, industri maupun apapun harus test COVID sendiri dengan biaya sendiri. Ini mungkin bisa jadi solusi sehingga istilahnya orang yang bepergian ada sertifikat bebas COVID dengan bukti saya sudah tes PCR,” ujar Emil.