Home Blog Page 847

Belajar dari Vietnam dan Malaysia, Standar Miskin BPS Perlu Diubah

0

Bogordaily.net – Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, hanya sekitar 9% persen masyarakat Indonesia tergolong miskin. Namun, laporan Bank Dunia menunjukkan hal yang berbeda, lebih dari 60% penduduk Indonesia masih hidup dengan pengeluaran di bawah garis kemiskinan internasional sebesar US$6,85 PPP/hari (setara Rp35.000-41.000).

Ini bukan sekadar perbedaan angka semata. Publik mempertanyakan kenapa dua lembaga tersebut bisa berbeda angka. Ternyata perbedaan berasal dari dasar asumsi dan metode yang berbeda di antara kedua lembaga tersebut.

Bank Dunia menetapkan Indonesia sebagai negara berpendapatan menengah ke atas (Upper Midle Income Country/UMIC). Adapun garis kemiskinan versi Bank Dunia untuk Indonesia adalah sebesar $6,85/orang/hari. Yang perlu diperhatikan adalah jumlah $6,85 ke dalam rupiah yang seharusnya menggunakan kurs paritas daya beli Purchasing Power Parity (PPP) 2017 bukan kurs valuta asing.

Sedangkan BPS menentukan garis kemiskinan berdasarkan dua komponen utama yakni kebutuhan makanan dan kebutuhan nonmakanan.

Perbedaan angka ini bukan semata-mata soal teknis, tetapi mencerminkan cara kita memahami atau “menyederhanakan” realitas sosial-ekonomi masyarakat Indonesia. Jika jutaan orang tidak tergolong miskin menurut negara, tetapi tetap kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti makan, sewa tempat tinggal, atau biaya kesehatan, maka kita perlu pertanyakan kembali, “Siapa yang kita anggap miskin? Dan siapa yang terlewat dari perhatian kebijakan?”

Penetapan garis kemiskinan dari pemerintah kurang relevan
Menurut saya, penggunaan standar hidup sebesar Rp 20 ribu /orang/hari justru berisiko meremehkan kondisi riil masyarakat rentan. Meskipun terlihat sangat berbeda, angka kemiskinan versi BPS dan Bank Dunia sebenarnya berasal dari sumber data yang sama, yaitu Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).

Pendekatan yang dilakukan BPS berisiko mengecilkan beban hidup masyarakat di era kini. Sebab acuan alokasi 25% untuk komponen nonmakanan bisa jadi terlalu rendah untuk mencerminkan kondisi hidup layak.

Internet misalnya, buat banyak orang sudah seperti kebutuhan pokok. Belum lagi kebutuhan pendidikan yang kenaikan pertahunnya mencapai 10-15%.

Jika acuan garis kemiskinan terlalu rendah, maka program bantuan sosial berisiko tidak menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Padahal sudah jelas, tren demografi nasional saat ini sedang negatif lantaran masyarakat kelas menengah yang sudah naik kelas justru lebih mudah kembali miskin (rentan miskin).

Padahal dalam situasi seperti kehilangan pekerjaan, jatuh sakit, atau terkena dampak inflasi, kelompok ini sangat rentan untuk langsung jatuh ke dalam kemiskinan absolut. Apalagi untuk mereka yang sudah terjerat dengan pinjaman online. Tanpa perlindungan sosial yang memadai, mereka akan terus hidup dalam ketidakpastian, namun tetap tidak terlihat oleh kebijakan resmi negara

Penetapan kategorisasi individu/keluarga miskin BPS yang sebatas pengeluaran hariannya senilai Rp20 ribu/orang/hari justru mendiskreditkan fenomena kemiskinan nasional yang sebenarnya. Angka segitu hanya sekadar cukup untuk menyambung hidup semata, tidak untuk berkembang dalam hidupnya. Dalam topik ini Indonesia bahkan sudah tertinggal dari Vietnam dan Malaysia.

Vietnam Berani Tingkatkan Standar Angka Kemiskinan Secara Signifikan

Contoh menarik datang dari Vietnam. Secara resmi masih dikategorikan sebagai negara berpendapatan menengah bawah (Lower Middle Income Country/LMIC). Namun pemerintah Vietnam justru berani menetapkan garis kemiskinan nasional yang lebih tinggi daripada ambang batas internasional yang digunakan Bank Dunia untuk negara sekelasnya.

Untuk periode 2021–2025, Vietnam menetapkan garis kemiskinan sebesar VND2 juta/kapita/bulan untuk wilayah perkotaan (sekitar setara Rp 1,3 juta/bulan), jauh di atas standar $3,65 PPP yang lazim digunakan Bank Dunia untuk LMIC.

Agar data kemiskinan BPS Vietnam lebih akurat, pemerintah berani menaikkan batas angka kemiskinan secara signifikan
Pemukiman kumuh juga ada di Ho Chi Minh Vietnam. all themes/shutterstock
Bahkan, pemerintah Vietnam telah mengintegrasikan pendekatan kemiskinan multidimensional, yang mencakup aspek pendidikan, kesehatan, sanitasi, hingga akses informasi. Langkah progresif ini menunjukkan bahwa menaikkan garis kemiskinan bukanlah tanda kelemahan ekonomi, melainkan komitmen terhadap keadilan sosial dan kesejahteraan minimum. Menariknya, meskipun menetapkan standar kemiskinan yang tinggi, Vietnam tidak malu mengakui bahwa banyak warganya masih tergolong miskin.

Dengan pendekatan yang lebih realistis, pemerintah Vietnam mencatat bahwa sekitar 18% penduduknya masih hidup di bawah garis kemiskinan setara $6,85 PPP/hari. Angka ini memang lebih tinggi dibandingkan negara tetangga, tetapi Vietnam memilih untuk jujur terhadap kondisi sosial-ekonominya.

Malaysia: Dari Klaim Rendah ke Realitas yang Lebih Akurat

Hal serupa terjadi di Malaysia. Pada tahun 2019, pemerintah Malaysia mengklaim tingkat kemiskinan hanya 0,4%. Sontak Bank Dunia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyoroti bahwa garis kemiskinan nasional Malaysia, yang saat itu ditetapkan sebesar RM980/rumah tangga/bulan (senial Rp3,8 juta), terlalu rendah dan tidak mencerminkan realitas biaya hidup.

Menanggapi kritik itu dan bersamaan dengan pandemi Covid-19, Malaysia melakukan reformasi menyeluruh pada tahun 2020 dengan menaikkan garis kemiskinan menjadi RM2.208/rumah tangga/bulan atau senilai Rp8,5 juta. Hal ini menyebabkan lonjakan angka kemiskinan menjadi 8,4%, namun langkah ini justru membuka jalan bagi kebijakan sosial yang lebih akurat. Dengan data yang akurat, program bansos pemerintah Malaysia seperti Bantuan Prihatin Nasional tepat sasaran.

Data kemiskinan BPS Malaysia juga diubah agar bisa menangkap fenomena lebih akurat dan relevan
Potret kawasan kumuh di Semenyih Malaysia. lens hitam/shutterstock
Hasilnya, pada 2024, tingkat kemiskinan resmi turun menjadi hanya 1,3%—bukan karena garisnya diturunkan, tetapi karena intervensinya menjadi lebih tepat sasaran. Pengalaman Malaysia menunjukkan bahwa keberanian menaikkan standar bukanlah bentuk kegagalan, tetapi dasar untuk merancang kebijakan yang lebih adil dan berdampak nyata.

Pelajaran dari dua negara tier Indonesia di kawasan Asia Tenggara tersebut yang melakukan penyesuaikan garis kemiskinan memang tidak populis dan memiliki risiko politik bagi pemerintahannya. Tapi situasi akan cepat berbalik jika pemerintah berkomitmen penuh untuk mengentaskan kemiskinan melalui program yang tepat sasaran dan berkelanjutan.

Sebagai sesama negara berkembang, angka pertumbuhan ekonomi Vietnam dan Malaysia bisa dijadikan acuan. Indonesia sejak sedekade terakhir selalu berkutat di kisaran 5%, sedangkan Malaysia dan Vietnam masing-masing pernah tumbuh lebih dari 8% beberapa tahun terakhir.

Reformasi garis kemiskinan adalah langkah awal untuk memastikan kebijakan publik memberi jaminan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat secara riil tidak hanya angka statistik semata. Tanpa akurasi data demografi, program pengentasan kemiskinan berkelanjutan, dan inovasi kebijakan lanjutan bukan tidak mungkin Indonesia benar-benar masuk dalam jeratan middle income trap atau tidak akan pernah lepas landas menjadi negara maju.***

Penulis: Dipo Satria Ramli, Doctoral Student in Economics, Universitas Indonesia

Menuju 100%, Pembentukan Kopdes/Kel Merah Putih di NTB Wujud Kolaborasi Kuat

0

Bogordaily.net – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memastikan hampir mencapai 100 persen pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes/Kel) Merah Putih, melalui Musyawarah Desa Khusus (Musdesus).

Wakil Menteri Koperasi (Wamenkop) Ferry Juliantono yang juga sebagai Koordinator Ketua Pelaksanaan Harian Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Pembentukan Kopdes/Kel Merah Putih mengatakan, saat ini, NTB telah menyentuh 99,9 persen pembentukan koperasi tersebut.

“Semoga dalam waktu 2 hari ke depan bisa diselesaikan menyentuh 100 persen pelaksanaan Musdesus untuk pembentukan Kopdes/Kel Merah Putih di NTB,” katanya dalam acara Peluncuran dan Dialog Percepatan Pembentukan Kopdes/Kel Merah Putih di Lombok, NTB, Selasa, 3 Juni 2025.

Satgas Nasional mencatat bahwa sudah terdapat 78ribuan pelaksanaan pembentukan Musdesus di seluruh Indonesia.

Sehingga diharapkan dalam minggu ini keseluruhan Kopdes/Kel Merah Putih sesuai yang ditargetkan Pemerintah mencapai 80.000 koperasi.

“Sementara untuk proses pembentukan badan hukum bisa dilakukan akhir Juni, dan pada bulan Juli akan dilakukan launching 80.000 bersama Presiden Prabowo Subianto,” ujarnya.

Selanjutnya, skema pemberian bantuan dana dan model operasionalisasi program akan diumumkan oleh Presiden Prabowo pada bulan Juli.

“Implementasi program ini dijadwalkan akan dimulai pada bulan Oktober, dengan persiapan matang dalam hal pembiayaan, penyaluran dana, peningkatan SDM, dan pelatihan,” jelasnya.

Desa Kembang Kuning Tunjukan Respon Positif

Wamenkop menyebut, Desa Kembang Kuning menunjukkan kebanggaan atas respons positif masyarakat terhadap program pembentukan Kopdes/Kel Merah Putih. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa program ini mendapat sambutan hangat dari seluruh desa di Indonesia.

Ferry bersyukur, sosialisasi program ini terus mendapat dukungan kuat dari Gubernur dan lembaga terkait di NTB.
Pihak Universitas di NTB juga dilibatkan dengan memberikan pelatihan dan pemagangan bagi pengelola koperasi desa kelurahan di NTB.

Satgas juga akan membentuk 80 mock-up percontohan sebagai tempat pembelajaran bagi Kopdes/Kel Merah Putih. Wamenkop mengatakan, kerja sama antara Kopdes/Kel Merah Putih dan BUMDes di Desa Kembang Kuning menjadi contoh keberhasilan kolaborasi yang dapat memperkuat potensi desa dalam sektor wisata dan pangan.

Ferry menyatakan, dari sisi pengawasan internal dilakukan oleh anggota koperasi, dan pengawasan eksternal termasuk dari pengawasan Satgas. Bagaimana bisnis proses, hingga menyetujui pembiayaan koperasi berdasarkan studi kelayakan.

“Supaya profit oriented karena memang harus untung. Dengan keuntungan tersebut bisa dimanfaatkan untuk keberlangsungan koperasi,” ucapnya.

Pentingnya Kopdes/Kel Merah Putih

Presiden Prabowo menyoroti pentingnya Kopdes/Kel Merah Putih sebagai aset utama dalam konstitusi Indonesia. Saat ini, koperasi di Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan dengan BUMN dan badan usaha swasta. Maka dari itu, Pemerintah berharap, agar kooperasi desa dapat kembali menjadi tiang utama dalam perekonomian nasional.

“Dengan memperkuat ekosistem ekonomi rakyat melalui program ini, diharapkan desa-desa dapat tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan,” harapnya.

Senada dengan hal tersebut, Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal menuturkan, selama dua dekade terakhir, perkembangan koperasi di NTB menunjukkan kemajuan signifikan.

Pada tahun 2005, jumlah koperasi tercatat sebanyak 2.525 unit. Hingga tahun 2024, angka ini meningkat hampir dua kali lipat menjadi 4.837 unit. Tidak hanya dari sisi kuantitas, dari sisi tenaga kerja, koperasi di NTB telah menyerap lebih dari 509 ribu anggota dan pengelola.

Bahkan volume usaha koperasi mencapai Rp1,72 triliun lebih, dan berkontribusi sebesar 0,95 persen terhadap PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) NTB yang tercatat sebesar Rp182 triliun.

“Ini menunjukkan bahwa koperasi bukan hanya bentuk organisasi sosial ekonomi, melainkan aktor nyata pembangunan daerah,” katanya di kesempatan yang sama.

NTB Memiliki Kekuatan di Sektor Pertanian

Lalu mengatakan, NTB tidak hanya terkenal dengan potensi pariwisatanya. Lebih dari itu, NTB juga memiliki kekuatan besar di sektor pertanian, peternakan, dan perkebunan.

“Kopdes/Kel Merah Putih di NTB harus diarahkan untuk pengelolaan potensi tersebut secara optimal, profesional, dan inklusif,” tegasnya.

Dia merinci, dari 1.166 desa/kelurahan se-NTB, sebanyak 1.117 desa/kelurahan telah menyelenggarakan musyawarah khusus pembentukan koperasi.

Sebanyak 724 desa/kelurahan sudah mengajukan permohonan badan hukum dan sedang dalam proses. Sedangkan sebanyak 251 desa/kelurahan sudah memperoleh badan hukum koperasi.

“Kami menargetkan seluruh desa dan kelurahan di NTB telah memiliki koperasi yang sah secara hukum paling lambat tanggal 30 juni 2025,” ucapnya.

Bupati Rudy Susmanto Lantik Sejumlah Pejabat Eselon II di Kabupaten Bogor, Berikut Nama-Namanya

Bogordaily.net – Bupati Bogor Rudy Susmanto melantik sebanyak 13 pejabat Eselon II atau tingkat Kepala Dinas (Kadis) di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor, pada Selasa 3 Juni 2025.

Pelantikan tersebut bertepatan dengan momen Hari Jadi Bogor (HJB) ke-543 yang berlangsung di Pendopo Bupati Bogor, Cibinong.

“Hari ini kita melantik 13 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) salah satunya kita melakukan pelantikan secara virtual karena satu sedang melaksanakan ibadah haji,” kata Bupati Bogor Rudy Susmanto, kepada wartawan, Senin 3 Juni 2025.

Menurut Rudy, pelantikan tersebut sudah sesuai dengan beberapa tahapan yang telah dilaksanakan sebelumnya melalui panitia seleksi.

“Tentu tahapan mutasi rotasi ini kita sudah melakukan beberapa tahapan salah satunya kita melakukan untuk panitia seleksi,” jelasnya.

Kemudian, para pejabat tersebut sudah mendapat persetujuan dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) hingga Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk menjabat selama 6 bulan.

“Kita lakukan kepada seluruh jajaran organisasi perangkat daerah sudah melakukan assessment mendapat persetujuan dari BKN dari Provinsi Jabar dan Kemendagri, jabatan kami untuk menjabat selama 6 bulan,” ujar Rudy.

Daftar Sejumlah Nama Pejabat Eselon II di Kabupaten Bogor yang Dilantik

Sebagai informasi dari ke-13 nama tersebut yang dilantik diantaranya, adalah :

1. Sigit Wibowo, dari Inspektur Kabupaten Bogor menjadi Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Politik, Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Bogor.

2. Asep Agus Ridallah, dari Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bogor menjadi Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Bogor.

3. Bayu Ramawanto, dari Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Bogor menjadi Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bogor.

4. Bambang Widodo Tawekal, dari Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bogor menjadi Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Bogor.

5. Rusliandy, dari Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Bogor menjadi Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bogor.

6. Yunita Mustika Putri, dari Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bogor menjadi Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Bogor.

7. Teuku Mulya, dari Kepala Dinas Perumahan, Kawasan, Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor menjadi Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Bogor.

8. Iwan Irawan, dari Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Bogor menjadi Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bogor.

9. Suryanto Putra, dari Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Bogor menjadi Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Bogor.

10. Andri Hadian, dari Kepala Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah (Bappenda) Kabupaten Bogor menjadi Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Bogor.

11. Fusia Meidiawaty, dari Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ciawi Kabupaten Bogor menjadi Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor.

12. Yudi Santosa, dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bogor menjadi Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Bogor.

13. Irwan Purnawan, dari Dinas Penanaman Modal Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) menjadi Sekretaris DPRD Kabupaten Bogor.

(Albin Pandita)

Bupati Bogor Rudy Susmanto Terapkan Aturan Baru Jam Sekolah, Sabtu Libur

Bogordaily.net – Bupati Bogor Rudy Susmanto, mengumumkan kebijakan baru terkait jadwal sekolah yang hanya berlangsung dari Senin hingga Jumat, sementara hari Sabtu dan Minggu ditetapkan sebagai hari libur penuh untuk seluruh peserta didik.

Menurut Rudy, keputusan ini tidak diambil secara tiba-tiba, melainkan telah melalui pertimbangan matang, termasuk memperhatikan kesehatan fisik dan mental siswa.

Ia menekankan bahwa anak-anak perlu memiliki waktu istirahat yang cukup agar bisa lebih fokus, semangat, dan produktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar selama hari sekolah berlangsung.

Kebijakan ini mendapat perhatian publik karena menjadi salah satu bentuk reformasi pendidikan di Kabupaten Bogor. Saat ini, tidak semua wilayah di Indonesia menetapkan hari Sabtu sebagai hari libur sekolah, sehingga langkah ini dianggap cukup progresif.

Mulai Diberlakukan Jam Malam

Tak hanya itu, dalam rangka mendorong kedisiplinan dan ketertiban di kalangan pelajar, Rudy juga mengumumkan bahwa pihaknya akan memberlakukan jam malam khusus bagi siswa berseragam, yaitu tidak diperbolehkan berkeliaran di tempat umum setelah pukul 21.00 WIB.

“Kami sudah menyampaikan himbauan resmi kepada seluruh jajaran pemerintahan dan Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor. InsyaAllah akan segera diterbitkan surat edaran resminya. Tujuannya adalah memberi ruang istirahat yang cukup bagi peserta didik dan tenaga pendidik,” ujar Bupati Bogor.

Menurutnya, kebijakan ini diambil sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus keseimbangan hidup siswa. Dengan waktu istirahat yang lebih jelas, siswa diharapkan lebih fokus dan sehat secara fisik maupun mental saat mengikuti pembelajaran di hari sekolah.

Selain reformasi hari belajar, Pemerintah Kabupaten Bogor juga mulai menerapkan jam malam khusus untuk pelajar berseragam. Siswa berseragam yang masih berada di ruang publik tidak boleh melebihi dari pukul 21.00 WIB.

“Kami prioritaskan langkah ini demi menjaga keamanan dan ketertiban generasi muda, khususnya yang masih duduk di bangku sekolah. Ini bentuk perhatian, bukan pembatasan,” tegas Rudy.

Rudy menekankan bahwa semua kebijakan yang diambil akan terus dikaji dan dievaluasi bersama para pemangku kepentingan, baik dari pihak sekolah, orang tua, hingga tokoh masyarakat sehingga kebijakan yang nantinya diterapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Ini bukan kebijakan sepihak. Kita ingin membangun pola hidup yang lebih tertib, produktif bagi anak-anak kita.” ujarnya.

(Albin Pandita)

Andalan Business Grup Resmikan Tempat Pemotongan Ayam Ketiga Sekaligus Santuni Anak Yatim

Bogordaily.net – Dalam rangka memperingati Hari Jadi Bogor (HJB) ke-543, Andalan Business Grup resmi membuka tempat pemotongan ayam (TPA) yang ketiga, di Komplek LIPI, Kelurahan Pasir Kuda, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, pada Selasa, 3 Juni 2025.

Peresmian unit usaha baru ini menjadi tonggak penting bagi Andalan Business Grup, tidak hanya sebagai langkah strategis memperluas jaringan distribusi ayam, tetapi juga sebagai bentuk nyata dukungan terhadap penguatan ekonomi lokal dan kesejahteraan sosial masyarakat sekitar.

Dengan konsep modern dan mengedepankan standar kebersihan serta keamanan, tempat pemotongan ayam yang baru ini dirancang ramah lingkungan.

Seluruh proses pemotongan dilakukan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP), termasuk pengelolaan limbah yang diperhatikan secara ketat agar tidak mencemari lingkungan sekitar maupun menimbulkan bau tidak sedap.

Dalam sambutannya, Owner Andalan Business Grup, Dadang Senjaya, menegaskan bahwa keberadaan tempat pemotongan ayam ini tidak hanya dimaksudkan untuk kepentingan bisnis semata.

Lebih dari itu, kehadirannya diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi langsung kepada masyarakat lokal, khususnya dalam hal penciptaan lapangan kerja baru.

Owner Andalan Business Grup, Dadang Senjaya, menyampaikan bahwa pembukaan tempat pemotongan ayam ini bukan hanya untuk memperluas jaringan usaha, tetapi juga bertujuan membuka lapangan pekerjaan baru bagi warga sekitar.

“Tempat pemotongan ayam ini kami buka agar warga sekitar memiliki peluang kerja, sekaligus memudahkan pelayanan dan distribusi ayam ke mitra-mitra Andalan yang berada di wilayah Ciapus, Ciomas, dan sekitarnya,” ungkap Dadang.

Tak hanya fokus pada ekspansi usaha, dalam kesempatan yang sama, Andalan Business Grup juga menunjukkan kepedulian sosialnya kepada masyarakat sekitar dengan memberikan santunan kepada 11 anak yatim yang tinggal di lingkungan sekitar lokasi usaha.

Pemberian santunan ini menjadi bukti bahwa perusahaan tidak melupakan aspek kemanusiaan dalam setiap langkah usahanya.

(Ibnu Galansa)

Ketua DPRD Kabupaten Bogor Sastra Winara Apresiasi Capaian 100 Hari Kerja Bupati dan Wakil Bupati Bogor

Bogordaily.net – Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Sastra Winara, memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor atas capaian kinerja selama 100 hari pertama kepemimpinan Bupati Rudy Susmanto dan Wakil Bupati Ade Ruhandi (Jaro Ade).

Adapun, apresiasi ini disampaikan menyusul hasil survei dari lembaga swasta yang menunjukkan tingkat kepuasan publik mencapai 82,54 persen.

“Kami di DPRD Kabupaten Bogor mengapresiasi capaian ini. Angka 82,54 persen bukan hanya sekadar angka, tetapi bentuk nyata bahwa masyarakat merasakan langsung kehadiran pemerintah dalam kehidupan mereka,” kata Sastra Winara, Selasa, 3 Juni 2025.

Menurut Sastra, hasil survei tersebut menjadi kado terbaik bagi Pemkab Bogor dan menunjukkan bahwa program-program kerja yang dijalankan dalam 100 hari pertama telah menyentuh kebutuhan masyarakat.

Ia mendorong pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan publik, terutama dalam aspek pengambilan kebijakan yang transparan dan partisipatif.

“Kami harap Pemkab Bogor dapat meningkatkan komunikasi publik secara lebih intensif, khususnya dalam membuka akses informasi dan melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan,” jelasnya.

Lebih lanjut , Sastra juga menegaskan komitmen DPRD Kabupaten Bogor dalam mengawal jalannya pemerintahan di bawah kepemimpinan Bupati Rudy Susmanto.

Selain itu, Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut berperan aktif dalam menjaga jalannya roda pemerintahan.

“Mari kita jaga momentum positif ini. Pemerintah sudah bekerja, masyarakat sudah merespons, dan DPRD siap mengawal. Ini saatnya kita bersama-sama menjadikan Kabupaten Bogor sebagai daerah yang lebih baik,” ungkap Sastra.

(Albin Pandita)

Rudy Susmanto Ajak Warga Jaga Amanah dan Jati Diri Daerah di Hari Jadi Bogorke-543

Bogordaily.net – Memperingati Hari Jadi Bogor (HJB) ke-543, Pemerintah Kabupaten Bogor menggelar Rapat Paripurna Istimewa DPRD yang berlangsung khidmat di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Bogor pada Selasa, 3 Juni 2025. Acara tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Bogor, Rudy Susmanto, bersama Wakil Bupati Ade Ruhandi serta Ketua DPRD Kabupaten Bogor.

Dalam sambutannya, Bupati Rudy Susmanto memberikan pesan yang penuh makna dan harapan. Ia menegaskan bahwa peringatan Hari Jadi Bogor seharusnya tidak hanya dipandang sebagai acara seremonial tahunan, tetapi juga sebagai momentum penting untuk merenungi kembali jati diri serta komitmen bersama dalam membangun Kabupaten Bogor ke arah yang lebih maju.

“Kabupaten Bogor adalah bagian dari denyut nadi bangsa Indonesia. Di tanah ini tertanam sejarah perjuangan, tumbuh nilai-nilai kebudayaan, dan lahir generasi yang tak pernah lelah membangun negeri,” kata Rudy Susmanto.

Mengusung Tema “Sacangreud Pageuh, Sagolék Pangkék”

Mengusung tema “Sacangreud Pageuh, Sagolék Pangkék”, Hari Jadi Bogor ke-543 membawa pesan kuat tentang keteguhan hati dan konsistensi dalam menjaga hasil perjuangan.

Tema yang sarat filosofi ini menurut Bupati Bogor mencerminkan semangat nasionalisme dalam skala lokal bahwa ketika telah menggenggam amanah, tidak boleh dilepas, ketika telah meraih hasil, harus dijaga bersama.

Ia juga menyerukan pentingnya kolaborasi lintas elemen masyarakat pemerintah, TNI-Polri, akademisi, swasta, media, dan komunitas sipil dalam memastikan pembangunan Kabupaten Bogor tetap berada di rel kebhinekaan dan kemajuan.

“Bogor dibangun bukan oleh satu tangan, melainkan oleh ribuan hati yang mencintainya. Setiap capaian bukan milik individu, tapi milik bangsa. Inilah semangat kebangsaan yang harus terus kita jaga,” jelasnya.

Tak hanya menyoroti capaian, Bupati Bogor juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kekurangan selama masa kepemimpinannya bersama jajaran. Ia menyatakan bahwa keberlanjutan pembangunan adalah proses estafet yang harus dijaga oleh generasi demi generasi.

“Kami hanya melanjutkan jejak para pemimpin terdahulu. Semua kemajuan yang kita lihat hari ini adalah buah dari pengabdian panjang banyak tokoh dan seluruh rakyat Kabupaten Bogor. Maka, tugas kita hari ini adalah melanjutkan dengan semangat yang sama, bahkan lebih kuat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rudy Susmanto juga menegaskan bahwa Kabupaten Bogor tidak boleh lepas dari akar sejarah dan nilai-nilai lokal yang menjadi fondasi Indonesia.

Dalam semangat “Kuta Udaya Wangsa”, Bogor harus menjadi pusat kebangkitan, bukan hanya ekonomi dan pembangunan, tapi juga kebudayaan, karakter, dan persatuan bangsa.

“Bogor harus dibangun oleh mereka yang mencintainya dengan segenap jiwa dan raganya. Tidak cukup hanya dengan program, tapi dengan nilai, visi, dan keberanian untuk menjaga identitas dan kehormatan daerah,” ungkapnya.

(Albin Pandita)

Kenapa Guanako di Taman Safari Bogor Suka Tidur di Jalan? Ini Alasan Ilmiahnya

Bogordaily.net – Jika Anda pernah berkunjung ke Taman Safari Bogor dan melihat seekor guanako yang tampak santai berbaring di tengah jalan, mungkin Anda sempat bertanya-tanya, apakah hewan ini sedang sakit, kelelahan, atau mengalami masalah?

Ternyata tidak. Perilaku guanako ini justru merupakan bagian dari insting alami mereka dan punya alasan ilmiah yang menarik.

Guanako (Lama guanicoe) merupakan satwa mamalia berkaki empat yang berasal dari wilayah pegunungan tinggi di Amerika Selatan, seperti Andes di Argentina, Chile, dan Peru.

Di habitat aslinya, guanako terbiasa hidup dalam suhu yang cukup dingin dan kering, sehingga banyak dari perilaku mereka terbentuk sebagai bentuk adaptasi terhadap lingkungan yang ekstrem.

Di Taman Safari Bogor, saat ini terdapat 7 ekor guanako yang terdiri dari 3 pejantan dan 4 betina.

Mereka menjadi salah satu koleksi favorit pengunjung karena tingkahnya yang lucu, wajahnya yang menggemaskan, dan tentu saja—kebiasaan unik mereka yang tampak seperti sedang “tiduran santai” di tengah jalan.

Berbaring di Jalan Bukan Malas, Tapi Butuh Panas

Salah satu kebiasaan paling mencolok dari guanako di Taman Safari Bogor adalah berbaring di tengah jalur safari. Bagi sebagian orang, ini bisa terlihat seperti tanda kelelahan atau masalah kesehatan. Namun, di balik itu semua terdapat alasan biologis yang sangat penting.

“Perilaku berjemur sambil berbaring adalah thermoregulation alami pada guanako. Mereka membutuhkan kehangatan eksternal untuk menjaga suhu tubuh yang optimal, terutama saat cuaca sejuk atau di pagi hari,” ungkap Sumanang Yusuf, Asisten Kurator Taman Safari Bogor.

Permukaan jalan yang hangat dan menyerap panas menjadi lokasi favorit guanako untuk beristirahat sejenak. Dengan cara ini, mereka bisa menjaga suhu tubuh tetap stabil, terutama di pagi hari atau saat cuaca mendung.

Lebih lanjut, Sumanang menambahkan bahwa perilaku ini merupakan bentuk adaptasi dari habitat asli mereka.

“Di habitat alaminya, guanako harus pintar mencari sumber kehangatan karena kondisi iklim yang ekstrem. Perilaku ini terbawa hingga sekarang meski mereka sudah hidup di lingkungan yang lebih hangat,” jelasnya.

Dari Berjemur ke Tidur Siang

Menariknya, tak hanya berbaring, guanako kadang tampak tertidur pulas di bawah sinar matahari. Mereka tampak benar-benar rileks, dan tidak terganggu oleh lalu-lalang kendaraan pengunjung yang melintas.

Menurut pengamatan tim kurator, kondisi seperti ini menunjukkan bahwa guanako merasa aman dan nyaman di lingkungan tempat tinggalnya. Mereka hanya akan bangun jika terdengar suara keras atau ada gerakan tiba-tiba yang mengejutkan.

Jadi, ketika Anda melihat guanako tampak ‘tiduran’ dengan santai, bukan berarti ada masalah. Justru itu tanda mereka berada dalam kondisi yang sehat secara fisik dan mental.

Ritual Unik Lainnya

Selain berjemur, guanako juga memiliki perilaku unik lainnya yang sering membuat pengunjung penasaran—yaitu mandi debu atau yang dikenal dengan istilah “dust bathing”.

“Dust bathing merupakan perilaku instingtif yang sangat penting untuk kesehatan llama. Debu halus berfungsi sebagai ‘sampo kering’ alami yang membantu menghilangkan minyak berlebih dan parasit eksternal,” jelas Sumanang Yusuf.

Perilaku ini dilakukan dengan cara berguling-guling di tanah kering untuk menutupi tubuhnya dengan debu. Debu tersebut membantu membersihkan bulu, mencegah infeksi kulit, dan menghindarkan mereka dari serangga pengganggu.

Lebih dari itu, mandi debu juga merupakan aktivitas sosial yang memperkuat ikatan antarindividu dalam kelompok. “Saat satu guanako mulai mandi debu, yang lainnya akan tertarik untuk melakukan hal yang sama. Ini menunjukkan ikatan sosial yang kuat dalam kelompok mereka,” tambah Sumanang.

Mencegah Kesalahpahaman Publik

Mengenal perilaku alami guanako menjadi penting agar masyarakat tidak salah menilai dan lebih memahami kehidupan satwa liar.

“Edukasi kepada masyarakat tentang perilaku alami satwa sangat penting untuk menghindari kesalahpahaman. Ketika melihat guanako berbaring di jalan, banyak orang langsung berpikir ada yang tidak beres, padahal itu adalah perilaku normal mereka,” tegas Rina Rajagukguk, Manager Edukasi Taman Safari Bogor.

Sebagai lembaga konservasi, Taman Safari Bogor memiliki komitmen tinggi untuk menjaga kesejahteraan setiap satwa di dalamnya. Rina juga menegaskan bahwa setiap guanako yang dipelihara terus dipantau secara berkala oleh tim medis.

“Kami selalu memantau kondisi kesehatan dan perilaku setiap individu guanako. Tim veteriner dan keeper kami terlatih untuk membedakan perilaku normal dan abnormal,” lanjutnya.

Menurut Rina, masyarakat juga memiliki peran besar dalam mendukung konservasi satwa. “Kepedulian masyarakat terhadap kesejahteraan satwa patut diapresiasi. Namun, pemahaman yang benar tentang perilaku alami hewan akan membantu kita memberikan respons yang tepat.” tutupnya.

Tips Saat Bertemu Guanako di Taman Safari Bogor

Bila Anda berencana mengunjungi Taman Safari Bogor, berikut beberapa tips saat melihat guanako:

  • Jangan panik jika melihat mereka berbaring di jalan, itu perilaku normal
  • Hindari membunyikan klakson atau membuat suara keras yang bisa membuat mereka terkejut
  • Amati dari kejauhan dan ambil foto secukupnya tanpa mengganggu
  • Nikmati momen langka mengamati perilaku satwa seperti di habitat aslinya

Dengan memahami perilaku satwa seperti guanako, kunjungan ke kebun binatang atau taman safari bukan hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga pengalaman edukatif yang memperluas wawasan tentang pentingnya konservasi dan penghormatan terhadap kehidupan liar.***

Fakultas Sosial dan Ekonomi UTN Hadirkan Program Pengabdian Masyarakat Lintas Sektor di Kampung Bersejarah Bogor

Bogordaily.net – Fakultas Sosial dan Ekonomi Universitas Teknologi Nusantara (UTN) menggelar kegiatan pengabdian masyarakat pada 29 Mei 2025 di Kampung Mongol, salah satu kampung bersejarah di Kota Bogor.

Acara ini mengusung tema “Peningkatan Kualitas Hidup melalui Pelatihan UMKM, Edukasi Bahasa Inggris, dan Self-Awareness di Kampung Mongol”.

Uniknya, kegiatan ini melibatkan lintas program studi, yaitu Psikologi, Manajemen, dan Akuntansi. Sinergi antara dosen dan mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan tersebut menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan pendekatan lintas sektor dalam pelaksanaan kegiatan sosial ini.

Kampung Mongol sendiri dihuni oleh sekitar 400 kepala keluarga. Dalam pelaksanaan program, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok usia, yakni anak-anak (3–10 tahun), remaja (11–18 tahun), dan dewasa muda hingga orang tua (18–50 tahun). Jumlah total peserta yang terlibat mencapai 130 orang.

Kegiatan ini dirancang untuk memberikan pembekalan kepada warga dalam hal pengembangan usaha mikro, kesadaran diri (self-awareness), peningkatan kapasitas diri, serta pemahaman dasar tentang keuangan dan bahasa asing. Semua dirancang agar dapat dilakukan secara sederhana namun berdampak nyata di lingkungan mereka sendiri.

Ketua pelaksana kegiatan yang juga merupakan Kaprodi Psikologi UTN, Oktavia, M.Psi., menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah bentuk konkret kontribusi kampus kepada masyarakat. Ia menegaskan pentingnya inklusivitas dalam pendekatan edukatif dan pemberdayaan masyarakat.

“Lewat kegiatan ini, kami ingin menghadirkan model pengabdian masyarakat yang menyeluruh. Tidak hanya menekankan satu aspek saja, tapi juga memperkenalkan pentingnya kesadaran diri, pemanfaatan teknologi, literasi keuangan, dan kemampuan berbahasa asing sebagai bekal masyarakat menghadapi tantangan zaman,” ucap Oktavia dalam sambutannya.

Sinergi Positif Antara Mahasiswa dan Masyarakat

Menurutnya, sinergi antara akademisi, mahasiswa, dan masyarakat merupakan kunci utama dalam menciptakan perubahan positif dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya di wilayah perkotaan seperti Kota Bogor.

Kegiatan ini melibatkan 17 dosen, 13 mahasiswa, serta satu komunitas lokal bernama Komunitas Merangkul yang turut mendampingi dan memfasilitasi kegiatan interaktif selama acara berlangsung.

Sementara itu, Dekan Fakultas Sosial dan Ekonomi UTN, Muhammad Zeinny, S.E., M.B.A., dalam kesempatan terpisah menyampaikan harapannya agar kegiatan semacam ini tidak hanya menjadi agenda tahunan, melainkan menjadi bagian dari budaya akademik kampus yang rutin dilakukan.

“Kami ingin terus menjembatani hubungan antara kampus dan masyarakat. Ketika kita bisa hadir langsung, mendengar kebutuhan mereka, kita bisa membawa masukan itu ke ruang-ruang diskusi yang lebih besar bersama para pemangku kebijakan. Harapannya, dari sana akan lahir kebijakan yang benar-benar berpihak kepada masyarakat,” jelas Zeinny.

Ia menambahkan, kegiatan pengabdian seperti ini menjadi sarana efektif untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya adaptasi di era digital dan globalisasi.

Dengan terselenggaranya program ini, Fakultas Sosial dan Ekonomi UTN berharap semakin banyak masyarakat, khususnya di Kampung Mongol, yang memiliki kapasitas untuk tumbuh dan berkembang secara mandiri, baik secara ekonomi maupun sosial.***

Momen HJB ke-543, Partai NasDem Perkuat Komitmen Membangun Kabupaten Bogor

Bogordaily.net  – Dalam rangka memperingati Hari Jadi Bogor (HJB) ke-543, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai NasDem Kabupaten Bogor menyampaikan komitmennya untuk terus bersinergi membangun Kabupaten Bogor ke arah yang lebih baik.

Ketua DPD NasDem Kabupaten Bogor, Kolonel (Purn) dr. Friedrich M. Rumintjap, menegaskan bahwa tagline “Sinergi Membangun Kabupaten Bogor” menjadi semangat yang diusung NasDem dalam setiap langkah politik dan sosial di daerah.

“Selamat Hari Jadi Bogor ke-543. Di usia yang ke-543 ini, mari terus perkuat sinergi membangun Bogor agar lebih maju, berbudaya, sejahtera, dan gemilang. NasDem siap berjalan bersama masyarakat dan pemerintah demi masa depan Bogor yang lebih baik,” kata dr. Frits, Selasa 3 Juni 2025.

Menurutnya, komitmen ini, terbukti nyata dengan dukungan NasDem dalam Pilkada 2024 yang berhasil mengantarkan pasangan Rudy Susmanto dan Ade Ruhandi (Jaro Ade) sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bogor.

Dalam rapat perdana pengurus DPD NasDem Kabupaten Bogor baru-baru ini, Bupati Rudy bahkan hadir langsung memberikan arahan dan semangat kepada jajaran pengurus NasDem.

“Ini bukti bahwa sinergi antara partai politik dan kepala daerah berjalan harmonis. Kami sepenuhnya mendukung kepemimpinan Pak Rudy dan Jaro Ade dalam membawa Bogor ke arah yang lebih baik,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris DPD NasDem Kabupaten Bogor, Fahirmal Fahim, menambahkan bahwa dukungan partainya juga diwujudkan melalui kerja-kerja konkret anggota Fraksi NasDem di DPRD Kabupaten Bogor.

Fahim yang juga Ketua Fraksi NasDem DPRD Kabupaten Bogor itu menyatakan dengan kekuatan satu fraksi utuh yang terdiri dari empat kursi, NasDem berkomitmen memperjuangkan aspirasi masyarakat Kabupaten Bogor secara konsisten dan transparan.

“Fraksi NasDem hadir bukan hanya sebagai pelengkap, tetapi sebagai motor penggerak dalam mewujudkan kebijakan yang pro masyarakat. Kami siap bersinergi dengan pemerintah daerah dalam setiap agenda pembangunan,” ujar Fahim.

(Albin Pandita)