Saturday, 4 April 2026
Home Blog Page 848

Toxic Atau Positif? Mencermati Pola Komunikasi di Game Online

0

Bogordaily.net – Diera digital seperti saat ini, popularitas video game terus meningkat setiap tahunnya. Seiring dengan perkembangan teknologi, industri game mengalami kemajuan pesat, baik dari segi grafis, mekanisme permainan, hingga fitur-fitur yang semakin interaktif. Salah satu fitur yang semakin banyak diadopsi oleh berbagai game modern adalah fitur Co-op atau multiplayer, yang memungkinkan pemain untuk bermain bersama dalam satu dunia virtual yang sama. Fitur ini tidak hanya memberikan pengalaman bermain yang lebih seru dan menantang, tetapi juga membuka ruang bagi komunikasi antar pemain, yang dikenal sebagai in-game communication

In-game communication sendiri hadir dalam berbagai bentuk, tergantung pada kebijakan dan inovasi dari masing-masing pengembang game. Beberapa game menyediakan text chat, di mana pemain dapat berkomunikasi menggunakan tulisan dalam kotak percakapan. Fitur ini sering digunakan dalam game berbasis strategi atau MMORPG (Massively Multiplayer Online Role-Playing Game), di mana pemain perlu menyusun rencana dan berbagi informasi secara tertulis. Selain itu, ada pula game yang menyediakan voice chat, yang memungkinkan pemain berbicara langsung dengan rekan satu tim menggunakan mikrofon, seperti saat melakukan panggilan telepon. Fitur ini sangat umum ditemukan dalam game-game kompetitif, seperti first-person shooter (FPS) di mana komunikasi cepat dan efektif sangat penting untuk dapat menjadi pemenangnya.

Namun, komunikasi dalam game tidak hanya terbatas pada kebutuhan strategi saat bermain. Banyak pemain yang menggunakan fitur ini sebagai sarana untuk bersosialisasi dan membangun hubungan dengan pemain lain. Sudah lumrah, pertemanan yang dimulai dari game bisa berkembang menjadi hubungan yang erat di dunia nyata. Banyak komunitas game yang terbentuk dari interaksi dalam game, mulai dari grup kecil hingga forum besar yang berisi ribuan anggota dari berbagai belahan dunia. Selain itu, game online juga memberikan peluang bagi individu yang pemalu untuk lebih mudah bersosialisasi. Bagi sebagian orang, berbicara dalam dunia virtual terasa lebih nyaman dibandingkan interaksi tatap muka, karena tidak ada tekanan sosial yang sering dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kemampuan game untuk menghubungkan orang-orang dari berbagai latar belakang ini menunjukkan bahwa in-game communication bukan sekadar alat bantu dalam bermain, tetapi juga berperan dalam membentuk pola komunikasi baru di era digital. Dengan semakin berkembangnya fitur komunikasi dalam game, batas antara dunia virtual dan dunia nyata semakin menipis, menjadikan game sebagai salah satu sarana utama bagi anak muda untuk berinteraksi dan membangun relasi sosial.

Perubahan Pola Komunikasi di Game Online

Seiring berkembangnya game online, pola komunikasi antar pemain pun ikut berubah. Salah satu yang paling mencolok adalah munculnya istilah-istilah khusus yang hanya dipahami oleh komunitas gamer. Misalnya, kata “GG” (Good Game) digunakan untuk menunjukkan rasa sportivitas setelah pertandingan, sementara istilah “noob” sering digunakan untuk menyebut pemain yang masih pemula atau kurang “jago”. Adapula istilah-istilah seperti “AFK” yaitu yang merupakan singkatan dari Away From Keyboard, yang berarti sang pemain sedang tidak aktif di dalam game. Penggunaan istilah-istilah ini tidak hanya mempercepat komunikasi, tetapi juga menciptakan budaya tersendiri di dalam komunitas game. Hal ini bermanfaat untuk mempercepat komunikasi di dalam game, khususnya pada game yang memiliki alur cepat seperti MMORPG.

Selain itu, komunikasi multikultural juga dapat terjadi di dalam game. Pasalnya, pemain dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan pemain lainnya yang memiliki perbedaan latar belakang budaya, maupun pemain-pemain yang berasal dari berbagai negara lain. Hal ini membuat pemain terbiasa mendengar berbagai bahasa dan gaya komunikasi yang berbeda. Dalam beberapa game, seperti MMORPG, pemain harus bekerja sama dengan orang-orang dari berbagai negara, sehingga mereka mulai mengadaptasi bahasa yang dapat dimengerti semua orang, seperti menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama mereka untuk berkomunikasi pada saat game dimulai, atau mengandalkan komunikasi non-verbal seperti emoji. Dengan adanya interaksi ini, banyak pemain yang secara tidak sadar meningkatkan kemampuan bahasa asing mereka dan belajar memahami perbedaan budaya antar pemain.

Mencermati Pola Komunikasi di Game online

Komunikasi dalam game online memiliki banyak manfaat, salah satunya melatih kerja sama tim. Banyak game yang mengharuskan pemain untuk berdiskusi dan berkoordinasi agar bisa memenangkan pertandingan, yang secara tidak langsung mengasah keterampilan komunikasi dan strategi.Selain itu, game juga membantu meningkatkan keterampilan sosial, terutama bagi individu yang pemalu atau sulit berinteraksi di dunia nyata. Banyak pemain yang lebih percaya diri berbicara dalam lingkungan virtual dan bahkan menjalin pertemanan yang berlanjut ke dunia nyata. Tidak hanya itu, game online juga dapat menjadi media pembelajaran bahasa, karena pemain terbiasa membaca instruksi dalam bahasa asing serta memahami istilah baru dalam konteks yang interaktif. Di sisi lain, komunikasi dalam game online juga memiliki dampak negatif. Salah satu yang paling umum adalah toxic behavior, di mana pemain menggunakan kata-kata kasar, menghina rekan satu tim, atau bahkan melakukan cyberbullying, terutama dalam game kompetitif. Masalah lain adalah diskriminasi dan pelecehan, terutama terhadap pemain perempuan yang sering menerima komentar tidak pantas. Selain itu, beberapa pemain juga mengalami diskriminasi berdasarkan aksen atau negara asal mereka, yang memperburuk pengalaman bermain game.

Pola-pola komunikasi ini dapat terjadi akibat dari faktor pengalaman masing-masing pemain. Sebuah penelitian di Bandung yang menggabungkan antara 10 pemain game online “Mobile Legends” telah membuktikan hal ini. Dalam penelitiannya, Irwanto (2023) menemukan bahwa setiap pemain game online memiliki pola komunikasi yang berbeda-beda. Faktor pengalaman mempengaruhi pola komunikasi yang terjadi antar pemain. Selain itu, ditemukan adanya kesenjangan komunikasi jika pengalaman antar individu memiliki perbedaan yang signifikan.

Untuk menciptakan lingkungan yang lebih positif dalam game online, pemain perlu menerapkan etika komunikasi yang baik. Salah satunya adalah menggunakan bahasa yang sopan dan menghargai pemain lain, baik saat menang maupun kalah. Selain itu, penting untuk menghindari toxic behavior, seperti berkata kasar atau menghina tema  satu tim. Pemain juga harus menggunakan komunikasi secara bijak, misalnya dengan tidak menyebarkan informasi pribadi serta menghormati perbedaan budaya dan bahasa dalam game. Dengan menerapkan etika yang baik, game online dapat menjadi sarana yang positif untuk bersosialisasi, belajar, dan bekerja sama, tanpa adanya perilaku negatif yang merusak pengalaman bermain.

 

Saskia Salsabila | Komunikasi Digital dan Media IPB University

 

Salah Paham dalam Melihat Kekerasan Musik Beatdown-hardcore

0

Oleh: Raefa Raja Augena, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB

 

Dalam beberapa bulan terakhir, video-video gigs Beatdown-hardcore yang menapilkan aksi crowd killing dan moshing brutal sering kali menjadi bahan perdebatan bahkan olok-olokan di internet, khususnya di kalangan netizen Indonesia. Banyak yang menganggap aksi tersebut sebagai bentuk kekerasan yang tidak bisa dibenarkan. Namun, anggapan ini muncul karena kurangnya pemahaman terhadap budaya asli dari skena beatdown-hardcore itu sendiri.

Budaya menikmati seperti ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. Musik-musik seperti ini sudah lama ada tapi memang keberadaannya berada di bawah tanah. Hal ini disebabkan karena tidak banyak orang yang bisa menerima kekhasan dari musik Beatdown-hardcore ini. Karena masifnya internet, sekarang, musik-musik seperti ini sudah memasuki arus utama dalam informasi perihal musik, yang akhirnya banyak netizen yang mengkritisi budaya ini tanpa tahu sejarah awalnya.

Awal Kekerasan di Lantai Dansa 

Sulit untuk mencari asal muasal dari Beatdown-hardcore itu sendiri. Dari apa yang saya tahu, bahwa Beatdown-hardcore adalah subgenre dari Hardcore punk yang berkembang di Amerika Serikat pada awal 1990-an yang diawali dengan berpindahnya band Bad Brains ke New York yang pada akhirnya menjadi pengaruh besar dalam pembentukan skena New York Hardcore (NYHC). Dari skena Hardcore tersebut terciptalah etos Straight Edge, Tough Guy, dan beberapa etos kolektif lainnya. Namun, yang dominan menjadi asal-muasal dari kekerasan di lantai dansa berasal dari etos Tough Guy yang bersifat super maskulin yang akhirnya melahirkan subgenre Beatdown-hardcore yang keras dan kasar.

Musik ini memiliki tempo yang lebih lambat dan nuansa yang lebih berat dibandingkan hardcore tradisional, dengan fokus pada breakdown(bagian tertentu dari sebuah lagu yang ritme, melodi, dan energinya mengalami perubahan dramatis) yang menghancurkan dan lirik yang sering kali mencerminkan perjuangan hidup kaum tertindas serta kemarahan terhadap sistem.

Karena musiknya yang agresif dan maskulin akhirnya tecipta selayaknya konsensus tentang bagaimana cara menikmati beatdown-hardcore agar mengikuti energi yang dihasilkan oleh music tersebut. Crowd killing, stage diving, windmill kicks, dan berbagai bentuk moshing keras lainnya bukanlah bentuk kekerasan yang sembarangan, melainkan sebuah ekspresi kolektif dari komunitas yang sudah memahami aturan tidak tertulis dalam skena ini. Di dalamnya, ada respek antar sesama penggemar. Mereka tahu risiko dan konsekuensi ketika masuk ke dalam gigs tersebut, dan hal itu menjadi bagian dari pengalaman Beatdown-hardcore yang otentik.

Kemungkinan lain mengapa kekerasan bisa menjadi bagian dari skena musik tersebut juga karena faktor geografi sosial asal musik tersebut lahir. Laju cepat kota New York, hiruk pikuk, dan etos kerja yang keras yang dilahirkan di tanah tersebut juga bisa menjadi alasan mengapa orang dapat menciptakan sebuah genre musik yang sesuai dengan energi yang dipancarkan di tempat tersebut.

 

Kontras Kebudayaan

Berbeda dengan Indonesia yang kental dengan sejarahnya dengan musik melayu. Alunan lagu-lagu melayu yang mendayu-dayu dan lirik-liriknya yang melankolis pun membuat budaya dalam menikmati musik dan cara pandang terhadap musik menjadi berbeda. Masayarakat Indonesia lebih mudah untuk menikmati musik dengan irama yang santai dan lirik yang terkesan sederhana.

Ditambah dengan budaya konser genre musik alternatif di Indonesia yang masih lebih banyak didominasi oleh norma yang lebih tertata, seperti crowd surf ringan di konser punk atau headbanging di konser metal. Ketika aksi crowd killing muncul di konser lokal, banyak netizen yang melihatnya sebagai tindakan barbar yang tidak beretika. Mereka cenderung menilai dari sudut pandang masyarakat umum, bukan dari perspektif komunitas yang memang sudah terbiasa dengan budaya tersebut.

Ketidaksiapan ini juga diperburuk oleh sifat media sosial yang sering kali mengamplifikasi hal-hal yang terlihat “mengerikan” tanpa konteks. Sebuah video singkat seseorang terkena tendangan di  mosh pit bisa dengan mudah viral dan memicu reaksi negatif, tanpa ada penjelasan bahwa itu adalah bagian dari kultur beatdown-hardcore yang telah berlangsung puluhan tahun.

 

Semangat Komparasi

Tidak semua jenis musik harus dinikmati dengan cara yang sama. Dalam skena beatdown-hardcore, adrenalin dan ekspresi fisik adalah bagian dari pengalaman musikal. Menghakimi budaya ini sebagai sesuatu yang salah hanya karena tidak sesuai dengan norma mayoritas adalah bentuk intoleransi budaya yang sempit.

Alih-alih langsung mencapnya sebagai kekerasan, penting untuk memahami bahwa skena ini memiliki kode etiknya sendiri. Jika seseorang merasa tidak nyaman atau tidak siap menerima risiko dari pit, pilihan terbaik adalah menikmati konser dari area yang lebih aman. Seperti halnya budaya lain, memahami dan menghormati perbedaannya jauh lebih baik daripada menghakimi tanpa dasar.

Beatdown-hardcore bukan untuk semua orang, dan itu tidak menjadi masalah. Tapi bagi mereka yang memahami dan menikmati budaya ini, crowd killing dan aksi kasar lainnya bukanlah sekadar kekerasan—itu adalah bagian dari identitas dan ekspresi diri yang telah menjadi tradisi puluhan tahun.

Pada akhirnya, masalah seperti ini hanyalah perihal preferensi kesenian yang menghasilkan solusi yang sebenarnya tidak solutif. Tidak ada solusi instan untuk masalah ini, hanya waktu yang semoga akan melunturkan cara pandang orang terhadap kesenian yang berbeda seperti Beatdown-hardcore ini.

 

 

 

           

Jurnalisme di Era Media Sosial: Antara Kemudahan Informasi dan Matinya Kepakaran

0

Bogordaily.net – Dikutip dari jurnal yang berjudul Fenomena Matinya Kepakaran: Tantangan Dakwah di Era Digital, “globalisasi yang ditandai dengan kemajuan pesat di bidang teknologi dan informasi membuat dunia ini ada dalam genggaman.  Berbagai  informasi  dari  belahan  dunia  manapun  dapat  kita  nikmati  melalui  layar-layar  televisi,  komputer, bahkan gawai atau smartphoneyang kian hari semakin canggih. Dunia saat ini digambarkan oleh McLuhan tak ubahnya seperti ‘desa global’ yang tidak lagi ada sekat ruang dan waktu. Seiring dengan kebutuhan manusia terhadap informasi, tawaran   media   masa   pun   bermunculan.   Setiap   produk   media   masa   berusaha   memberikan   yang   terbaik   untuk konsumennya dengan berita yang up to date, kemudahan akses, dan biaya yang terjangkau.”

Perkembangan pesat sosial media juga ternasuk dalam pembentukan “desa global” tersebut karena sudah memberi peran dalam kemudahan penyebaran informasi. Kemudahan ini telah mengubah cara masyarakat mengakses dan menyebarkan informasi. Diambil dari data databoks periode 2020-2022, media sosial menjadi sumber informasi utama bagi 72,6% responden di indonesia, melampaui televisi dan media cetak.

Perubahan ini menimbulkan tantangan baru dalam dunia jurnalisme, terutama terkait dengan kualitas dan kredibilitas informasi yang beredar.

Kemudahan Informasi di Era Media Sosial

Dengan masifnya sosial media memungkinkan penyebaran berita secara cepat dan luas. Masyarakat dapat dengan mudah mengakses informasi dan berpartisipasi dalam produksi serta distribusi berita melalui praktik jurnalisme warga. Hal ini meningkatkan keterlibatan antara pembuat berita dan pembaca, menciptakan interaksi yang lebih tinggi dibandingkan media konvensional.

Selain itu, media sosial juga berperan dalam membangun keterlibatan publik terhadap portal berita daring seperti menulis artikel, menulis opini, memberi komentar dan menyebarluaskna beritanya yang pada akhirnya berdampak pada perluasan jangkauan informasi.

Matinya Kepakaran dalam Jurnalisme

Namun, kemudahan akses informasi ini juga membawa dampak negatif. Siapa saja kini bisa menjadi sumber berita, menciptakan persaingan antara jurnalis profesional dan individu tanpa kredibilitas dalam jurnalisme. Akibatnya, informasi yang beredar sering kali tidak terverifikasi dan penuh dengan bias. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), hingga Mei 2023, telah diidentifikasi 11.642 konten hoaks di Indonesia, dengan kategori kesehatan menjadi yang paling banyak ditemukan, mencapai 2.287 item hoaks.

Selain itu, survei yang dilakukan oleh Katadata Insight Center (KIC) dan Kominfo menunjukkan bahwa 11,9% responden mengakui telah menyebarkan berita hoaks pada tahun 2021, meningkat dari 11,2% pada tahun sebelumnya.

Lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 42% masyarakat Indonesia masih percaya pada berita hoaks, terutama terkait isu politik dan kesehatan.

 

Itu semua bisa terjadi karena Algoritma media sosial yang tidak bisa mencegah dan mendeteksi sebuah kesalahan informasi yang akhirnya cenderung mengutamakan konten yang menarik perhatian dibandingkan dengan kebenaran, sehingga misinformasi dan hoaks mudah tersebar. Hal ini menantang otoritas jurnalis profesional dan mengancam matinya kepakaran dalam jurnalisme.

Tantangan dan Solusi bagi Jurnalisme

Di semua kerumitan penyebaran informasi ini, jurnalisme menghadapi tantangan besar yang tidak hanya berkaitan dengan adu cepat penyebaran informasi, tetapi juga dengan perubahan pola konsumsi berita oleh masyarakat. Tantangan ini tidak hanya datang dari media sosial dan platform digital, tetapi juga dari tekanan ekonomi dan teknologi yang terus berkembang. Dan berikut adalah masalah apa saja yang dihadapi oleh jurnalisme.

  1. Anonimitas dan Penyebaran Informasi Tanpa Kredibilitas

Salah satu tantangan utama adalah kemudahan bagi siapa saja untuk menyebarkan berita tanpa perlu mempertanggungjawabkan kebenarannya. Akun anonim di media sosial sering digunakan untuk menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, bahkan hoaks dan propaganda. Hal ini mengancam kredibilitas jurnalisme, karena publik sering kali tidak bisa membedakan sumber yang valid dan yang tidak.

Solusi:

  • Mendorong kebijakan yang lebih ketat terkait verifikasi identitas pengguna media sosial untuk meningkatkan akuntabilitas.
  • Meningkatkan literasi digital agar masyarakat lebih kritis dalam mengonsumsi dan menyebarkan informasi.
  1. Click Bait dan Persaingan Industri

Media yang bergantung pada pendapatan iklan sering kali tergoda untuk memproduksi berita yang lebih mengedepankan klik dibandingkan kualitas informasi. Akibatnya, banyak berita yang dibuat dengan judul sensasional yang mengakibatkan kesalahan pembaca dalam menerima berita yang biasanya hanya mengonsumsi judul dari berita yang disensasionalkan tersebut dan pada akhirnya mengorbankan kedalaman analisis dan objektivitas.

Solusi:

  • Media perlu mencari model bisnis alternatif, seperti langganan berbayar atau dukungan komunitas, agar tidak terlalu bergantung pada jumlah klik.
  • Mendorong media untuk lebih mengutamakan kualitas konten dengan menyajikan laporan investigatif dan berita mendalam yang bernilai jangka panjang.
  1. Perkembangan Teknologi dan AI

Teknologi semakin berperan dalam produksi dan distribusi berita. Algoritma media sosial menentukan informasi apa yang lebih sering muncul di linimasa pengguna dan yang mudah dikonsumsi adalah informasi-informasi yang sensasional, yang pada akhirnya lebih mengutamakan engagement dibandingkan akurasi informasi. Selain itu, AI juga sudah mulai digunakan untuk menulis berita secara otomatis, menimbulkan pertanyaan tentang peran jurnalis manusia di masa depan.

Solusi:

  • Jurnalis harus beradaptasi dengan mempelajari teknologi baru agar tetap relevan dalam industri.
  • Perusahaan media perlu mengembangkan pedoman etika dalam penggunaan AI agar tidak menggantikan peran verifikasi dan analisis manusia.
  1. Beban Kerja Jurnalis yang Semakin Kompleks

Dulu, jurnalis hanya berfokus pada menulis berita. Namun, di era digital, mereka juga dituntut untuk bisa mengelola media sosial, mengedit video, bahkan memahami optimasi mesin pencari (SEO). Hal ini meningkatkan beban kerja dan menuntut mereka untuk memiliki keterampilan yang lebih luas, yang di mana mungkin akan membuat fokus para jurnalis pecah dan tidak memiliki banyak waktu lagi untuk hanya memfokuskan penulisan berita.

Solusi:

  • Perusahaan media perlu memberikan pelatihan yang sesuai agar jurnalis dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan format berita digital.
  • Menyesuaikan struktur kerja di redaksi agar jurnalis tidak terbebani dengan tugas di luar tanggung jawab utama mereka.

Kesimpulan

Media sosial telah membawa kemudahan dalam akses informasi, namun juga menggores peran kepakaran dalam jurnalisme. Keseimbangan antara kecepatan informasi dan verifikasi fakta menjadi kunci dalam menjaga kualitas berita. Masih banyak regulasi-regulasi yang harus diubah, pelatihan-pelatihan yang harus dilaksanakan, dan berbagai aksi preventif lainnya. Pada akhirnya, Masa depan jurnalisme bergantung pada optimisme dalam melakukan adaptasi di era digital tanpa mengabaikan nilai-nilai dasar jurnalisti yang fundamental.***

 

Raefa Raja Augena, Sekolah Vokasi IPB University

Membangun Komunikasi Merek Digital Malalui Sosial Media 

0

Bogordaily.net – Dalam era digital saat ini, komunikasi merek menjadi sangat signifikan. Perusahaan tidak lagi mengandalkan iklan tradisional yang mempromosikan produk atau jasa mereka, tetapi melalui teknologi digital.

Teknologi digital sekarang bisa di manfaatkan dan cakupan audiens nya lebih luas. Sosial media salah satu nya, yang menjadi saluran komunikasi efektif untuk membangun interaksi dengan pelanggan.

Di dukung dengan pernyataan, Kaplan dan Haenlein (2010) sosial media adalah “ sebuah konsep yang merujuk pada bagian jenis platfrom online yang memungkinkan pengguna untuk berbagi konten, berinteraksi dengan orang lain.”

Beberapa jenis sosial media bisa di gunakan di antara nya yang paling populer; Facebook, Instagram, Twitter dan YouTube.

Masing masing dari platfrom ini memiliki karakteristik yang berbeda dan kelebihan yang unik, sehingga perusahaan dapat memanfaatkan dari masing masing platfrom tersebut.

Dengan demikian, sosial media telah menjadi salah satu saluran komunikasi efektif bagi perusahaan untuk membangun citra merek nya. Namun, membangun komunikasi merek digital melalui sosial media tidak mudah.

Perusahaan harus memahami bagaimana penggunaan sesuai dengan tujuan yang mereka inginkan. Pihak perusahaan juga harus paham bagaimana membangun konten yang menarik bagi audiens dan relavan di kalangan nya. Serta, bagaimana meningkatkan strategi komunikasi dengan memanfaatkan analisis data.

Merek adalah ciri khas yang membuat produk, layanan, atau bisnis berbeda dari pesaingnya. Merek biasanya terdiri dari hal-hal seperti nama, logo, slogan, warna, desain, dan pemikiran konsumen. Merek, menurut American Marketing Association (AMA), didefinisikan sebagai “nama, istilah, tanda, simbol, atau desain, atau kombinasi dari semuanya, yang bertujuan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari satu penjual atau kelompok penjual serta membedakannya dari barang atau jasa pesaing.”

Lebih dari sekadar identitas visual, merek menunjukkan nilai, tujuan, dan pengalaman yang diinginkan pelanggan. Merek dalam dunia bisnis kontemporer berkaitan dengan lebih dari sekedar fitur produk; itu juga memengaruhi perasaan dan persepsi pelanggan terhadap suatu perusahaan.

Konsumen biasanya mengaitkan merek dengan kualitas, kepercayaan, dan reputasi bisnis. Oleh karena itu, merek memiliki peran strategis dalam menciptakan keunggulan kompetitif di pasar dan menumbuhkan loyalitas pelanggan.

Komponen ldentitas Merek

Selain itu, memiliki merek yang kuat memungkinkan suatu perusahaan untuk meningkatkan daya saing dan memperluas jangkauan pasarnya karena merek dapat didaftarkan dan dilindungi secara hukum untuk mencegah plagiarisme.

Beberapa komponen penting diperlukan untuk membangun identitas merek:

  1. Logo: Simbol grafis yang berfungsi sebagai tanda pengenal utama dan mewakili
  2. Warna: Memilih palet warna yang konsisten membantu menciptakan asosiasi visual dengan merek.
  3. Tipografi: Memilih jenis huruf yang sesuai dengan karakter dan nilai
  4. Gaya Visual: Estetika umum yang menggambarkan karakter merek Penggunaan elemen- elemen ini secara konsisten di berbagai platform media sosial membantu membangun identitas merek yang kuat dan mudah dikenali oleh audiens. Sebagai contoh, penelitian oleh Pranata dan Junaidi (2023) menemukan bahwa elemen visual yang konsisten di media sosial dapat meningkatkan kesadaran merek.

Produksi Konten Konten adalah kunci komunikasi merek di media sosial. Membuat konten yang baik memerlukan pemahaman yang baik tentang nilai-nilai merek dan kebutuhan dan keinginan audiens target.

Penggunaan konten visual yang menarik, seperti gambar dan video berkualitas tinggi, dapat meningkatkan keterlibatan dan memperkuat pesan yang ingin disampaikan.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ramadhan, Suyanto, dan Nurjanah (2022), konten yang menarik dan relevan memiliki potensi untuk meningkatkan kesetiaan pelanggan terhadap merek. Ada banyak jenis konten yang dapat digunakan untuk mempromosikan merek di media sosial:

  • Konten Edukatif: Memberikan informasi yang bermanfaat dan relevan bagi audiens;
  • Konten Hiburan: Menyajikan konten yang menghibur untuk menarik perhatian dan meningkatkan keterlibatan;
  • Konten Promosi: Menginformasikan tentang barang, layanan, atau penawaran khusus;
  • Konten Interaktif: Mengajak audiens untuk berpartisipasi melalui kuis, jajak pendapat, atau tantangan. Diversifikasi jenis konten membantu audiens tetap tertarik dan tidak Aziz, Susanto, dan Ningrum (2021) menemukan bahwa keterikatan merek yang lebih baik dipengaruhi oleh interaktivitas merek di media sosial.

Pengaturan Jadwal Dalam strategi media sosial, mengelola rutinitas posting yang konsisten dan teratur sangat penting. Tentukan waktu dan frekuensi posting yang ideal untuk meningkatkan keterlibatan dan visibilitas audiens.

Penjadwalan dan pemantauan kinerja konten dapat dibantu dengan alat manajemen media sosial. Ramadhan et al. (2022) menyatakan bahwa konsistensi dalam penjadwalan konten dapat meningkatkan kesetiaan pelanggan terhadap merek.

Aktif berinteraksi dengan audiens melalui komentar, pesan, dan fitur interaktif lainnya meningkatkan ikatan dan loyalitas. Merek menunjukkan bahwa mereka peduli dengan pelanggan dan menghargai interaksi mereka dengan menanggapi pertanyaan, masukan, atau keluhan.

Aziz et al. (2021) menemukan bahwa keterikatan merek di media sosial dipengaruhi secara signifikan oleh interaktivitas merek. Hasil Singkatnya Membangun kampanye media sosial untuk merek digital

memerlukan rencana dan implementasi yang konsisten. Membangun kehadiran merek yang efektif di platform digital berarti membangun identitas merek yang kuat, membuat konten yang relevan dan menarik, dan berinteraksi dengan audiens secara responsif.

Contoh Kasus

 Dalam pembahasan pemasaran digital dari salah satu merek uniqlo dapat menunjukkan keberhasilan. Studi menunjukkan bahwa pengalaman konsumen dengan merek lebih baik dengan pemasaran media sosial.

Uniqlo mampu menciptakan pengalaman sensorik, emosional, intelektual, dan perilaku yang berkesan bagi konsumen melalui berbagai konten yang menarik, interaktif, dan selalu mengikuti tren. Membangun ekuitas merek yang lebih kuat dibantu oleh pengalaman positif ini.

Selain itu, pengalaman dengan merek juga berperan penting dalam meningkatkan ekuitas merek. Pelanggan yang memiliki pengalaman yang baik dengan Uniqlo di media sosial cenderung lebih loyal terhadap merek dan memiliki persepsi yang lebih baik tentang kualitas produk.

Ini menunjukkan bahwa pengalaman pelanggan yang lebih baik dengan merek meningkatkan ekuitas merek.

Pemasaran media sosial memiliki efek langsung terhadap ekuitas merek. Kampanye yang dilakukan Uniqlo di berbagai platform media sosial meningkatkan kesadaran merek pelanggan, membangun hubungan yang lebih kuat dengan merek, dan meningkatkan loyalitas pelanggan.

Oleh karena itu, strategi pemasaran media sosial yang efektif dapat menjadi bagian penting dari pembangunan citra dan nilai merek yang lebih baik.

Penelitian ini juga menemukan bahwa selain mempengaruhi ekuitas merek secara langsung, pengalaman pelanggan dengan Uniqlo mempengaruhi ekuitas merek secara tidak langsung. Dengan kata lain, pelanggan memiliki hubungan emosional yang lebih besar dengan Uniqlo sebagai hasil dari pengalaman yang positif dengan merek tersebut.

Evaluasi dan Pengukuran Komunikasi Merek

 Mengetahui metrik untuk mengukur seberapa efektif strategi komunikasi merek di media sosial sangat penting untuk memahami bagaimana kinerja kampanye digital berjalan. Angka keterlibatan, jangkauannya, dan impresi adalah beberapa metrik utama yang digunakan untuk mengukur keberhasilan komunikasi merek digital (Tafesse & Wien, 2018).

Engagement Rate: ukuran seberapa banyak interaksi audiens dengan konten yang dipublikasikan. Likes, shares, comments, dan clicks adalah semua komponen interaksi ini.

Tingkat keterlibatan dapat dihitung dengan membagi total interaksi dengan jumlah followers atau reach, kemudian dikalikan dengan 100 persen. Jumlah metrik ini sangat penting karena menunjukkan seberapa terlibat dan tertarik audiens dengan konten yang disajikan.

Reach : jumlah pengguna unik yang melihat konten dalam jangka waktu tertentu. Ini menunjukkan seberapa efektif komunikasi merek untuk menarik perhatian audiens baru. Namun, hanya reach saja tidak cukup untuk mengukur efektivitas komunikasi merek.

Impressions: menunjukkan berapa kali sebuah konten muncul di feed pengguna, tanpa pengguna berinteraksi dengannya. Meskipun metrik ini bermanfaat untuk mengukur frekuensi eksposur merek, mereka harus dikombinasikan dengan tingkat keterlibatan dan konversi untuk mengevaluasi efektivitas strategi digital secara keseluruhan.

Komunikasi merek digital merupakan strategi penting untuk membangun, mempertahankan, dan memperkuat hubungan antara merek dan audiensnya.

Dengan menggunakan media sosial dan berbagai platform digital lainnya, merek dapat menciptakan hubungan yang kuat dengan pelanggan mereka, meningkatkan interaksi dengan mereka, dan secara lebih efisien memperluas jangkauan pasar mereka.

Beberapa komponen penting dalam komunikasi merek digital memainkan peran penting dalam keberhasilan merek tersebut; ini termasuk penyampaian pesan yang konsisten, penggunaan konten yang menarik dan relevan, dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan tren dan kebutuhan audiens.

Dengan mengukur dan mengevaluasi kinerja melalui metrik seperti keterlibatan tingkat, jarak, dan impresi, bisnis dapat mengetahui seberapa efektif strategi mereka dan melakukan perubahan yang diperlukan untuk tetap kompetitif. Selain itu, komunikasi merek digital tidak hanya berfokus pada promosi tetapi juga membangun hubungan yang lebih lama dengan konsumen melalui interaksi yang responsif dan berbasis data.

Penggunaan alat analisis media sosial membantu merek dalam mengidentifikasi preferensi pelanggan, mengawasi reputasi, dan mengembangkan strategi pemasaran yang lebih terarah. Komunikasi digital merek dapat menjadi alat yang sangat efektif untuk meningkatkan kesadaran merek, meningkatkan loyalitas pelanggan, dan mendorong pertumbuhan bisnis di tengah persaingan yang semakin ketat jika digunakan dengan benar dan evaluasi yang berkelanjutan.

 

Egialipamana Ramdini Sitepu J0401231092

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Fenomena Konten Kreator Viral: Antara Usaha Minimal dan Kreativitas Maksimal dalam Komunikasi Digital

0

Bogordaily.net –  Media sosial kini menjadi platform penting bagi individu pada era digitalisasi saat ini. Media sosial menjadi platform utama bagi individu dalam mengekspresikan diri, berteman seperti membangun sebuah komunitas, menambah relasi, berbelanja atau mempromosikan produk dan jasa yang dijual, membagikan informasi sekaligus menambah pengetahuan, itu semua didapatkan dari konten-konten yang diunngah pada media sosial. Berbagai macam format konten yang dibagikan berupa foto, video ataupun sekedar postingan tulisan. Tentang konsep dalam konten media sosial selalu berubah dari waktu ke-waktu, dengan mengikuti tren-tren yang sedang viral sesuai dengan preferensi audiens dan algoritma platform.

Mayoritas audiens berfikir menjadi seorang konten kreator sepertinya cukup mudah dan memiliki banyak kelebihan, seperti konten kreator affiliate dengan membuat konten untuk mempromosikan barang namun mendapatkan keuntungan tinggi dari sebagian komisi penjualan barang yang mereka promosikan. Sehingga konten kreator saat ini dipandang pekerjaan yang mudah dengan bermain sosial media namun menghasilkan gaji yang tinggi.

Mencapai penghasilan yang tinggi sebagai konten kreator, mereka harus membuat platform media sosial yang dipunya harus menghasilkan engagement yang baik juga. Para konten kreator selalu berharap mendapatkan engagement tinggi atau kita sebut konten viral, untuk konten yang mereka buat. Terdapat banyak usaha dari konten kreator dimulai dengan pembuatan ide konten, menjadi talent, pembawaan yang natural, produksi untuk konten, sampai penyuntingan video yang menarik.

Saat ini algoritma di media sosial menunjukan adanya konten-konten viral dengan usaha yang minimal dibandingkan dengan konten yang membutuhkan kreativitas yang tinggi dan produksi kompleks lebih menarik perhatian audiens sehingga menghasilkan engagement yang baik. Seperti video dengan durasi singkat serta editing yang sederhana. Maka hal tersebut memberikan sebuah pertanyaan.

 

Mengapa Konten Minim Usaha Bisa Lebih Viral Dibandingkan Konten yang Sangat Kreatif?

Terdapat beberapa konten yang sedang viral baru ini, sebagai contoh dari sudi kasus. Pada platform media sosial yaitu TikTok dengan username @trixymd menciptakan sebuah konten dengan konsep simple, dan usaha yang minimal. Akun tersebut pertama kali mengupload konten berupa video singkat pada tanggal 23 Januari 2025, menggunakan backsound sebuah remix lagu “Walau Hati Menangis” dengan memakai talent yaitu pemilik akunnya sendiri, dirinya pun melakukan sebuah gerakan atau choreography sesuai trend yang sudah ada, namun ia tambahkan kalimat dalam video nya yaitu “day 1 merintis menjadi tiktokers.” Saat ini engagement dari konten tersebut memiliki 264.000 like, 5.105 komentar serta 8.870 share.

Hal itu menjadi salah satu bukti nyata bahwa konten dengan usaha yang minimal bisa menghasilkan engagement yang tinggi. Melihat dari hasil tersebut, akun dengan username @trixymd melakukan posting rutin dengan memakai konsep yang sama. Rata-rata hasil dari engagement untuk konten tersebut sebanyak 1 juta sampai 5 juta penonton. Tak sampai situ saja untuk konten-konten yang dia upload, namun ia membuat ide konten baru dengan menarik perhatian audiens bahwa kata-kata pada video sebelumnya yang seolah-olah mengharapkan akan dirinya menjadi tiktokers yang viral, kini dalam waktu kurang dari 2 minggu ia sudah diajak kerja sama dengan para brand kecantikan untuk endorsement, bahkan terdapat salah satu produk yang sudah tertarik menjadikan konten kreator itu sebagai brand ambassador dari produk tersebut. Hal ini menjadi sebuah pembahasan yang sangat menarik, alasan mengapa konten yang dibuat dari akun Tiktok @ trixymd bisa viral terus menerus.

 

Peran Algoritma dalam Engagement Konten Minim Usaha.

Menurut penelitian Social Media Examiner (2023), algoritma Instagram dan TikTok memprioritaskan konten dengan interaksi awal yang tinggi dalam 30 menit pertama setelah diunggah. Hal ini mendukung pendapat dari 1 postingan video oleh akun TikTok sebuah media agency, dengan username @angkattingimedia. Akun tersebut memang mempunyai jenis konten yang membagikan fakta dalam dunia digital seputar konten pada media sosial Tiktok dengan nama segment “Angkatfakta Agency.” Akun tersebut memberikan alasan mengapa video “day 1 menjadi tiktokers” dalam 7 hari bisa mencapai jutaan views. Pertama kreator @ trixymd adalah seorang pribadi yang kreatif dan segar dalam menciptakan ide pada konten tersebut, kedua audiens sangat tertarik pada sesuatu yang aneh namun memikat yang disorot pada “Hook” dari visual video tersebut.

Konten “day 1 menjadi tiktokers” membuat audiens tertarik, karena menganggap bahwa Hook konten tersebut unik, ringan dan lucu. Seolah-olah audiens diajak untuk turut membantu kreator akun tersebut dalam mencapai hal yang diinginkannya menjadi Tiktokers. Banyak audiens di TikTok juga merasakan bahwa menjadi TikTokers yang terkenal tidaklah mudah, namun mereka mendapat bukti bahwa dari ketidakniatan malah membawa akun @trixymd menjadi Tiktokers sungguhan. Hook dari konten tersebut juga bukanlah Hook yang biasa dibuat oleh Tiktokers lainnya. Adapun hal lainnya yang membuat konten tersebut memiliki engagement yang tinggi,

Sebuah studi oleh Global Web Index (2022) menunjukkan bahwa 63% pengguna media sosial lebih menyukai konten pendek dan mudah dikonsumsi dibandingkan dengan konten berdurasi panjang. Sebanyak 78% audiens di media sosial memiliki kebiasaan mengonsumsi konten yang cepat dimengerti namun memberikan hiburan, efek emosional ataupun kejutan yaitu dengan konten dengan durasi singkat tidak membuat audien cepat bosan, konten yang relatable membuat audiens ikut merasakan isi pesan konten tersebut menururt laporan HubSpot 2023.

Algoritma platform mempengaruhi interaksi di media sosial sehingga menghasilkan konten dengan engagement yang tinggi. Engagement meliputi like, share, comment, dan save. Konten dengan usaha yang minimal memiliki engagement yang tinggi karena konten tersebut mudah dicerna dengan membuat audiens cenderung berinteraksi karena ringan, konten tersebut memiliki Call to Action yang tersirat dengan cara sederhana namun menarik perhatian audiens, karena konten tersebut sudah memiliki algoritma yang tinggi maka mendukung untuk menaikan engagement konten lainnya sebab preferensi audiens menyesuaikan dengan tren-tren konten terbaru sesuai algoritma.

Viralitas di media sosial bukan hanya soal kualitas produksi, tetapi lebih pada relevansi, keterjangkauan, dan engagement yang dihasilkan. Konten dengan usaha minimal lebih sering viral karena lebih mudah dikonsumsi, tetapi bukan berarti konten kreatif tidak bisa sukses. Dengan strategi yang tepat, kreator dapat menemukan keseimbangan antara kreativitas maksimal dan kemudahan konsumsi untuk mencapai engagement optimal.

Memahami pola konsumsi audiens dan mengoptimalkan strategi komunikasi digital, juga membantu kreator untuk meningkatkan peluang viralitas tanpa harus mengorbankan kreativitas mereka. Data dan fakta mendukung bahwa keberhasilan di media sosial bergantung pada pemahaman mendalam terhadap perilaku pengguna serta pemanfaatan algoritma platform secara efektif.***

 

Cintya | Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Jateng Siap Launching 1.000 Kopdes Merah Putih Pada Akhir April 2025

0

Bogordaily.net – Sedikitnya ada sekitar 1.000 Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih bakal dilaunching Pemprov Jawa Tengah pada akhir April 2025 mendatang. Hal itu terungkap saat Rapat Koordinasi antara Kementerian Koperasi (Kemenkop) bersama dinas koperasi se-Jateng, di Kota Semarang, Rabu (19/3).

Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kemenkop selaku Koordinator Wilayah (Korwil) VI Provinsi Jateng, Destry Anna Sari, menyebutkan bahwa Kopdes Merah Putih yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional dan percepatan pengentasan kemiskinan di wilayah desa.

“Target 70 ribu Kopdes Merah Putih akan launching pada 12 Juli 2025 bertepatan dengan Hari Koperasi Nasional,” tutur Destry. Maka itu, Destry mengimbau agar seluruh Dinas Koperasi dan UKM di Jateng segera membentuk Kopdes Merah Putih.

​Pada kesempatan tersebut, Destry menyampaikan Surat Edaran (SE) Menteri Koperasi Nomor 1 tahun 2025 tentang Tata Cara Pembentukan Koperasi Desa Merah Putih. Disebutkan, model pembentukan Kopdes Merah Putih dapat dilakukan dengan cara pendirian koperasi baru, mengembangkan koperasi yang sudah ada, serta merevitalisasi koperasi yang sudah ada.

Adapun bidang usaha yang dikembangkan berupa gerai/outlet penyediaan sembako, obat murah, kantor koperasi, unit simpan pinjam koperasi, klinik desa, cold storage/cold chain atau gudang, logistic (distribusi), dll sesuai penugasan dan kebutuhan usaha.

Destry menambahkan, melalui Kopdes Merah Putih tersebut diharapkan nantinya masyarakat dapat merasakan manfaatnya. Pertama, akses pasar yang lebih luas sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi.

Kedua, memperpendek rantai pasok, sehingga harga pangan dapat terkendali dan inflasi pangan menjadi lebih stabil. Ketiga, menyediakan layanan keuangan yang terjangkau bagi anggota, sehingga mengurangi ketergantungan pada pinjaman informal.

“Dengan demikian, kehadiran Kopdes Merah Putih dapat menjadi pilar penggerak pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia, khususnya di pedesaan,” papar Destry.

Sementara itu, Kepala Dinas KUKM Provinsi Jateng Eddy S Bramiyanto menyambut baik program Kopdes Merah Putih tersebut. “Sebagai langkah awal konsolidasi antara pusat dan daerah mengumpulkan seluruh Kepala Dinas Kabupaten/Kota untuk membahas persiapan pembentukan Kopdes Merah Putih,” kata Eddy. ***

Tujuan Rakor, lanjut Eddy, membahas kelembagaan Kopdes Merah Putih. Dimana pada tahap pertama, Jateng akan konsentrasi pada koperasi yang sudah eksisting.

“Jawa Tengah akan memberikan dukungan penuh untuk keberhasilan program Kopdes Merah Putih melalui pemetaan data, identifikasi potensi usaha, mitigasi risiko dan pendampingan,” jelas Eddy.

Dari 7.810 koperasi desa yang ada akan dikonfirmasi lagi status keaktifannya, Eddy menyebut pada tahap pertama target akhir April terbentuk 1.000 Kopdes Merah Putih. “Kami juga masih proses lanjut untuk eksisting yang masih tersisa, pararel dengan revitalisasi dan tahapan selanjutnya akan dibentuk koperasi baru,” imbuh Eddy.

Dalam rangka mewujudkan target tersebut, Eddy menjelaskan, sejumlah persiapan telah dilakukan, seperti menyiapkan lini masa pembentukan Kopdes Merah Putih. Mulai dari penyamaan persepsi dengan 35 Kabupaten/Kota, Puskud Pangan, dan Puskud Mina, Dispermades Provinsi Jawa Tengah, koordinasi kesiapan Kabupaten/Kota, hingga launching bersama Gubernur, Menteri Koperasi, dan Presiden RI.

*Semarang, 20 Maret 2025*
*Humas Kementerian Koperasi*
*Medsos resmi: @kemenkop*

Pandu Kurniawan: Dosen Inspiratif SV IPB yang Sukses Menjadi Akuntan Publik di Usia Muda

0

Bogordaily.net – Pandu Kurniawan adalah seorang dosen praktisi di Sekolah Vokasi IPB University, Program Studi Akuntansi. Sejak tahun 2023, ia mengajar dengan fokus pada praktik akuntansi di dunia kerja termasuk di sektor koperasi dan Kantor Akuntan Publik (KAP). Selain sebagai dosen, Pandu juga berkarier sebagai Internal Audit di Telkom Indonesia, salah satu perusahaan BUMN terbesar di Indonesia.

Perjalanan akademiknya dimulai dengan mengambil S1 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, dan lulus pada 2017. Ia kemudian melanjutkan studi di Program Pendidikan Profesi Akuntan (PPAk) FEB UGM pada 2018, dan menyelesaikan S2 di FEB UGM pada 2020. Awalnya ia tidak terpikir untuk menjadi seorang akuntan, namun melihat peluang besar di bidang ini, ia mulai mendalaminya lebih serius terutama saat mengikuti Program PPAk UGM.

Meraih Gelar Akuntan Publik Termuda di Indonesia

Salah satu pencapaian terbesar Pandu adalah menjadi akuntan publik termuda di Indonesia pada usia 29 tahun. Untuk meraih gelar Certified Public Accountant (CPA), ia harus menghadapi berbagai tantangan. Ia pertama kali mengikuti ujian CPA pada 2019, namun belum memperoleh hasil yang diinginkan. Pada Januari 2024, ia kembali mencoba dan akhirnya lulus ujian CPA yang memberinya kewenangan untuk secara resmi menandatangani laporan keuangan. Ia dijadwalkan akan dilantik secara resmi pada Mei 2025.

Menurut Pandu, kunci suksesnya adalah prinsip konsistensi dan improvisasi. Ia selalu berusaha memperbaiki kekurangan dari tahun ke tahun. Ia juga percaya bahwa pengalaman adalah faktor utama dalam pengembangan karier. Tidak ada yang langsung ahli setelah lulus kuliah, semua butuh proses bertahap dan ketekunan. Selain itu, keberanian untuk mencoba dan tidak takut gagal juga menjadi bagian dari prinsip yang ia pegang. Keberhasilan yang ia raih saat ini merupakan hasil dari berbagai pengalaman dan pembelajaran yang ia jalani sejak awal kariernya.

Tantangan dan Strategi dalam Mengajar

Sebagai dosen, Pandu menghadapi tantangan dalam membagi waktu antara pekerjaannya di BUMN dan mengajar di kampus. Salah satu tantangan utama adalah bagaimana menyelaraskan metode pengajaran yang ia miliki untuk pembelajaran mahasiswa. Ia menyadari bahwa metode pembelajaran harus disesuaikan agar mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga dapat mengaplikasikannya di dunia kerja. Oleh karena itu, ia memanfaatkan metode pembelajaran berulang dan diskusi mendalam agar mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan aplikatif.

Salah satu strategi komunikasinya adalah menyesuaikan materi dengan minat mahasiswa dan membahas kasus nyata dalam akuntansi. Dengan begitu, mahasiswa dapat lebih mudah memahami konsep yang diajarkan dan melihat relevansi materi dengan dunia kerja yang sesungguhnya. Selain itu, ia juga menerapkan pendekatan mentoring agar mahasiswa merasa lebih dekat dan termotivasi untuk belajar lebih dalam.

Masa Depan Akuntansi, Tantangan serta Peluang

Tantangan dalam bidang akuntansi semakin besar dengan kehadiran kecerdasan buatan (AI), yang mulai menggantikan banyak pekerjaan akuntan. Namun menurut Pandu, akuntansi tetap memiliki peluang besar karena semua perusahaan membutuhkannya. Selain itu, kecerdasan buatan (AI) tidak selalu bisa memastikan keakuratan laporan keuangan tanpa intervensi manusia. Oleh karena itu, akuntan masa depan harus memiliki keahlian lebih dari sekadar menghitung angka, tetapi juga kemampuan analisis dan problem-solving yang tinggi.

Selain itu, perkembangan regulasi serta standar akuntansi yang terus berubah juga menjadi tantangan tersendiri. Seorang akuntan harus konsisten mengembangkan keterampilan agar tetap bersaing di dunia profesional. Oleh sebab itu, Pandu selalu menekankan pentingnya pembelajaran berkelanjutan dan peningkatan kompetensi bagi mahasiswa yang ingin berkarier di bidang akuntansi.

Keunggulan Program Studi Akuntansi SV IPB

Keunggulan Program Studi Akuntansi SV IPB menurut Pandu terletak pada pengalaman praktik yang lebih banyak dibanding program serupa di universitas lain. Mahasiswanya juga aktif dan memiliki inisiatif tinggi dalam mengeksplorasi bidang akuntansi. Oleh karena itu, ia menyarankan mahasiswa untuk konsisten dalam menjalani karier, tidak mudah menyerah, dan selalu memperkaya diri dengan pengalaman baru. Selain itu, program studi ini memiliki jaringan yang luas dengan berbagai industri sehingga mahasiswa memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pengalaman magang dan pekerjaan setelah lulus.

Ia juga melihat potensi besar dalam pengembangan program studi ini di masa depan. Kolaborasi antara akademisi dan praktisi yang semakin meningkat diharapkan dapat membuat lulusan Program Studi Akuntansi SV IPB lebih siap menghadapi tantangan di dunia kerja serta memberikan kontribusi yang berarti bagi industri akuntansi di Indonesia.

Harapan dan Pesan untuk Mahasiswa

Pandu mendukung penuh program kolaborasi antara praktisi dan akademisi yang diinisiasi oleh IPB University. Menurutnya membawa praktisi ke dalam dunia pendidikan adalah langkah strategis untuk menyiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja. Harapannya di masa depan akuntansi akan semakin berkolaborasi dengan teknologi untuk menciptakan sistem keuangan yang lebih efisien dan akurat.

Pandu berharap mahasiswa dapat lebih berani dalam mengeksplorasi bidang akuntansi dan tidak takut untuk mencoba hal baru. Dunia akuntansi terus berkembang, dan mereka yang mampu beradaptasi dengan perubahan akan memiliki peluang lebih besar untuk sukses. Oleh karena itu, ia selalu menekankan pentingnya kesediaan untuk terus belajar serta kemampuan beradaptasi dalam menghadapi tantangan.

Baginya, kunci utama sukses adalah menuntut ilmu setinggi mungkin di usia muda dan menikmati hasilnya di kemudian hari. Prinsip ini ia pegang teguh dalam perjalanan akademik dan profesionalnya, serta ia tanamkan kepada mahasiswa agar dapat menjadi generasi akuntan yang kompeten dan siap menghadapi tantangan masa depan. Dengan semangat belajar yang tinggi dan ketekunan dalam menjalani setiap proses, ia yakin bahwa mahasiswa dapat mencapai kesuksesan dalam karier mereka di masa mendatang.***

 

Cintya | Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Cerita Perjalanan ke Bukit Daolong

0

Bogordaily.net – Tanggal 18 Januari 2025, saya, pacar, dan 2 teman saya berencana pergi ke Bukit Daolong. Perjalanan ini sudah kami rencanakan sebelumnya, dan saya sangat menantikannya.

Pagi itu, sekitar pukul 09.05, saya berangkat dari rumah untuk menjemput pacar saya terlebih dahulu. Setelah itu, kami bertemu dengan teman-teman di titik kumpul yang sudah disepakati.

Dari sana, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Bukit Daolong, yang memakan waktu sekitar 45 menit.

Perjalanan cukup menyenangkan, meskipun jalanan menuju lokasi mulai terasa menantang, dengan banyak jalan berbatu dan beberapa bagian yang rusak. Setibanya di sana, kami segera membeli tiket dan melakukan registrasi. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju area parkir.

Saat hampir sampai di area camping, ada satu bagian jalan yang cukup licin. Saya yang kurang hati-hati akhirnya terpeleset dan jatuh cukup keras, sedangkan pacar saya hanya sempat oleng sedikit tapi berhasil menyeimbangkan diri. Refleks, dia langsung menanyakan kondisi saya dan membantu saya berdiri.

Tapi jujur, yang langsung kepikiran di kepala saya justru motor kesayangan saya! Saya kesal karena motor terkena lumpur, sampai-sampai saya sempat bergumam sendiri. Begitu tiba di area parkir, saya langsung membersihkan motor terlebih dahulu. Baru setelah merasa motor aman, saya bisa lebih tenang dan menikmati perjalanan ini.

Setelah drama kecil itu selesai, kami mulai tracking menuju puncak Bukit Daolong. Perjalanan ke atas cukup menguras tenaga, tapi karena dilakukan bersama orang-orang yang tepat, semuanya terasa lebih ringan dan menyenangkan.

Kami bercanda sepanjang jalan, saling menyemangati, dan sesekali berhenti untuk mengambil napas. Akhirnya, setelah perjalanan yang cukup panjang, kami sampai di puncak dan langsung mencari tempat untuk bersantai.

Di puncak, kami memesan makanan dan minuman dingin untuk menyegarkan diri. Sambil menunggu pesanan datang, pacar saya berinisiatif membuat kopi hitam menggunakan kompor portabel yang dia bawa sendiri.

Saya duduk santai sambil menikmati pemandangan, sementara dia sibuk dengan peralatan kopinya. Namun, ada kejadian kecil yang cukup konyol—sisa air panas yang dia gunakan untuk membuat kopi tanpa sengaja tumpah ke karpet yang kami duduki. Untungnya tidak mengenai siapa pun, jadi kami hanya tertawa melihat kekacauan kecil itu.

Setelah semua insiden kecil berlalu, akhirnya makanan yang kami pesan tiba. Kami makan bersama, menikmati keindahan alam yang luar biasa, menghirup udara segar, dan mengobrol santai.

Rasanya benar-benar seperti momen yang sempurna. Tak lupa, saya juga mengabadikan momen ini dengan mengambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan.

Setelah puas menikmati suasana di puncak, kami memutuskan untuk turun dan kembali ke parkiran. Namun, sebelum benar-benar pulang, kami menyempatkan diri bermain air di curug yang ada di sekitar sana.

Airnya dingin dan menyegarkan, pas banget untuk menghilangkan rasa lelah setelah tracking. Setelah bersih-bersih dan puas bermain air, kami bersiap-siap untuk pulang.

Perjalanan pulang terasa lebih ringan dibanding saat berangkat. Kami semua masih ngobrol seru di perjalanan, mengenang kejadian-kejadian konyol sepanjang hari itu.

Meskipun perjalanan ini penuh dengan insiden kecil, mulai dari jatuh di jalan licin, motor kena lumpur, hingga air tumpah ke karpet, semuanya justru menjadi bagian dari cerita seru yang akan selalu kami ingat.

Hari itu benar-benar menyenangkan. Perjalanan yang melelahkan, tapi penuh kebahagiaan. Z***

Penulis: Bintang Nugraha Gumilang, mahasiswa Sekolah Vokasi IPB, NIM: J0401231375

Masuki Sidang Kedua, Konflik KNPI Kota Bogor Tetap Berlanjut ke Pengadilan

0

Bogordaily.net – Pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) DPD KNPI Kota Bogor tertanggal 7 Desember 2024 lalu, terus berlanjut prosesnya ke ranah hukum. Pasalnya, forum OKP yang terhimpun dalam KNPI Kota Bogor melayangkan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Bogor.

Dalam surat gugatan yang beredar , penggugat menegaskan Bahwa Kepengurusan DPD KNPI Kota Bogor Periode 2024 – 2027 hasil Musyawarah Daerah DPD KNPI Kota Bogor tertanggal 07 Desember 2024 bukan Kepengurusan yang sah.

Saat ini, proses berlanjut memasuki sidang kedua dengan agenda mediasi, pada Rabu 19 Maret 2025 di ruang mediasi PN Bogor.

Dwi Arsywendo selalu kuasa hukum penggugat mengatakan, tadi sudah dilakukan sidang kedua dengan agenda mediasi.

Sidang akan dilanjutkan pada hari Senin 24 Maret 2024 mendatang dengan agenda mediasi untuk menyampaikan keinginan para pihak.

“Intinya dari pihak penggugat tetap pada gugatan,” ujarnya.

Proses gugatan itupun tercatat dalam nomor perkara 32/Pdt.G/2025/PN Bgr. Menurut Dwi, apabila melihat runutan dan kronologis dari klien, bahwa pada musyawarah daerah (Musda) KNPI Kota Bogor tersebut cacat hukum sebagaimana diatur dalam KUH Perdata pasal 1365 tentang perbuatan melawan hukum.

Ditempat yang berbeda, Verga Aziz ketua Mapancas sekaligus Ketua Forum OKP meminta pemerintah Kota Bogor tidak memberikan dukungan dan atau membuat kebijakan apapun untuk kepengurusan DPD KNPI Kota Bogor Periode 2024-2027.

“Karena sekarang sedang berproses di pengadilan,” tegasnya.

Ditempat terpisah, Ketua GP Ansor Kota Bogor, Ahmad Bustomi menerangkan, walaupun dilakukan mediasi di pengadilan, penggugat tetap tegak lurus memproses permasalahan ini hingga ke persidangan nanti.

“Kami menginginkan tetap pada gugatan, karena penyelenggaraan musda KNPI tersebut tidak sah dan banyak pelanggaran AD/ART, karena penggugat menginginkan bahwa demokrasi dalam tubuh KNPI tersebut hidup dan tidak dicederai oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab,” tandasnya.***

Ibnu Galansa

Viralnya Penghinaan Pegawai Honorer oleh Karyawan BUMN Menunjukkan Bahaya Sosial Media di Dunia Kerja

0

Oleh: Cintya | Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Seiring perkembangannya teknologi informasi, munculnya sosial media sebagai saluran atau platform digital yang menjadi pusat penyebaran informasi yang unggul bagi masyarakat Indonesia saat ini. Sosial media mempunyai dampak yang begitu besar dalam aspek kehidupan, dalam segi positif maupun negatif. Platform digital satu ini merupakan cerminan kecanggihan kemajuan teknologi informasi, sebab sosial media telah menjadi sarana utama dalam berkomunikasi, berbagi informasi, dan memperluas jaringan. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul berbagai permasalahan yang timbul akibat penyalahgunaan platform ini. Salah satunya adalah kasus viral penghinaan pegawai honorer oleh karyawan BUMN yang muncul beberapa waktu lalu.

Dalam unggahannya lewat video Tik-Tok, pegawai BUMN bernama Dwi Citra Weni alias Wenny Myzon, membuat konten berupa video point of view yaitu dengan mentertawakan para pegawai honorer yang menggunakan BPJS Kesehatan harus mengantri, sedangkan pegawai seperti dirinya dengan menunjukan border baju pada seragam kerja yang menunjukan identitas perusahaan ia bekerja yaitu PT.Timah, yang merupakan salah satu perusahaan milik negara dalam pertambangan BUMN dianggap pasien prioritas yang tidak perlu mengantri. Hal ini mengundang kegaduhan sebab netizen banyak menganggap bahwa konten yang dibuat oleh Wenny Myzon adalah konten yang menghina para pegawai honorer di Indonesia dengan bersikap sombong sebagai karyawan pegawai negeri. Konten ini dengan cepat tersebar luas dan membuat banyak netizen geram akan konten tersebut.

Pentingnya Etika Profesional di Dunia Maya

Kasus viral penghinaan pegawai honorer oleh karyawan BUMN, Wenny Myzon, melalui unggahan di sosial media mengingatkan kita akan pentingnya etika profesional di dunia maya. Bagi Wenny Myzon, mungkin konten yang ia buat bermaksud dengan konten yang bersifat humoris, namun video itu justru menimbulkan kontroversi yang besar dan merusak reputasinya sebagai seorang profesioanl. Sebagai pegawai sudah seharusnya kita memiliki etika professional dimanapun keberadaanya. Terutama karyawan perusahaan negara, yakni BUMN yang dianggap adalah perusahaan dengan citra professional yang tinggi.

Maka dari itu sudah seharusnya mereka menjadi contoh yang baik, bukan membuat suatu konten yang tampak seakan-akan merendahkan profesi lain. Sosial media memang memberikan kebebasan berekspresi bagi para penggunanya, namun hal itu dapat memiliki dampak besar dalam membentuk citra diri maupun perusahaan yang kita tunjukan pada sosial media pribadi. Setiap unggahan yang dibuat bisa mempengaruhi hubungan profesional dan reputasi.

Langkah Pencegahan Penggunaan Sosial Media yang Bijak di Lingkungan Kerja

Kasus viral ini menengaskan kembali pentingnya bagi perusahaan untuk menetapkan suatu aturan yang jelas terkait penggunaan sosial media bagi para pegawai mereka. Perusahaan perlu memiliki kebijakan yang tegas terkait kode etik bersosial media, yang memberikan panduan bagi karyawan untuk bertindak bijak dan profesional dalam setiap unggahan yang dilakukan. Kode etik ini harus disosialisasikan secara rutin kepada semua pegawai, terutama dalam konteks menjaga citra perusahaan dan menghormati sesama rekan kerja, baik di dalam maupun di luar perusahaan. Mengingat banyaknya kasus yang berpotensi merusak citra perusahaan akibat kelalaian pegawai dalam bersosial media, menjadi suatu hal yang perlu diperhatikan bagi setiap perusahaan. Bagi para pegawai, penting untuk selalu berhati-hati dalam setiap unggahan di sosial media. Sebagai representasi dari perusahaan, perilaku di dunia maya dapat berimbas langsung pada reputasi diri sendiri maupun perusahaan tempat mereka bekerja. Hal ini tidak hanya berlaku untuk konten yang dibuat terkait pekerjaan, tetapi juga konten pribadi yang dapat mempengaruhi pandangan publik terhadap perusahaan tempat mereka bekerja.

Sebagai individu, kita harus bijak dalam membedakan antara kehidupan pribadi dan profesional. Meskipun sosial media memberikan kebebasan untuk berekspresi, kita harus selalu ingat bahwa apa yang kita unggah di platform tersebut dapat bertahan lama dan mungkin akan dilihat oleh banyak orang, termasuk rekan kerja, atasan, klien, dan bahkan calon pemberi kerja di masa depan. Untuk itu, setiap pegawai perlu memahami bahwa tindakan mereka di dunia maya membawa konsekuensi terhadap reputasi diri sendiri maupun perusahaan. Meskipun kebebasan berekspresi adalah hak setiap individu, namun kebebasan ini harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab, terutama ketika kita berada di posisi yang mewakili suatu institusi atau perusahaan.

Kasus ini memberikan Pelajaran berharga bagi kita agar selalu menggunakan sosial media dengan bijak. Sosial media sangat memberikan banyak manfat bagi kita, tetapi kita juga harus menyadari dan menghindari apa saja hal negatif yang dapat ditimbulkan dalam bermain sosial media jika penggunanya tidak mempunyai etika yang baik. Oleh karena itu, sangat penting bagi para individu pekerja dalam menjaga etika nya dalam dunia maya. Buatlah reputasi diri yang baik tanpa adanya jejak digital yang buruk, kita tidak tau apa yang bisa terjadi akibat ketikan jari yang sering kita anggap sepele saat menyendiri. Tulisan ini dibuat agar netizen Indonesia juga dapat menyadari pentingnya menjaga etika yang baik dalam dunia maya untuk melindungi sikap profesionalisme diri kelak nanti.

Sebagai individu, kita harus bijak dalam membedakan antara kehidupan pribadi dan profesional. Meskipun sosial media memberikan kebebasan untuk berekspresi, kita harus selalu ingat bahwa apa yang kita unggah di platform tersebut dapat bertahan lama dan mungkin akan dilihat oleh banyak orang, termasuk rekan kerja, atasan, klien, dan bahkan calon pemberi kerja di masa depan. Untuk itu, setiap pegawai perlu memahami bahwa tindakan mereka di dunia maya membawa konsekuensi terhadap reputasi diri sendiri maupun perusahaan. Meskipun kebebasan berekspresi adalah hak setiap individu, namun kebebasan ini harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab, terutama ketika kita berada di posisi yang mewakili suatu institusi atau perusahaan.

Kasus ini memberikan Pelajaran berharga bagi kita agar selalu menggunakan sosial media dengan bijak. Sosial media sangat memberikan banyak manfat bagi kita, tetapi kita juga harus menyadari dan menghindari apa saja hal negatif yang dapat ditimbulkan dalam bermain sosial media jika penggunanya tidak mempunyai etika yang baik. Oleh karena itu, sangat penting bagi para individu pekerja dalam menjaga etika nya dalam dunia maya. Buatlah reputasi diri yang baik tanpa adanya jejak digital yang buruk, kita tidak tau apa yang bisa terjadi akibat ketikan jari yang sering kita anggap sepele saat menyendiri. Tulisan ini dibuat agar netizen Indonesia juga dapat menyadari pentingnya menjaga etika yang baik dalam dunia maya untuk melindungi sikap profesionalisme diri kelak nanti.

baik tanpa adanya jejak digital yang buruk, kita tidak tau apa yang bisa terjadi akibat ketikan jari yang sering kita anggap sepele saat menyendiri. Tulisan ini dibuat agar netizen Indonesia juga dapat menyadari pentingnya menjaga etika yang baik dalam dunia maya untuk melindungi sikap profesionalisme diri kelak nanti.***