Saturday, 4 April 2026
Home Blog Page 849

UMKM Produsen Wewangian Binaan BRI Siap Harumkan Indonesia di Kancah Dunia

0

Bogordaily.net  – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengusaha Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk naik kelas dan menembus pasar global.

Komitmen ini diwujudkan melalui penyelenggaraan BRI UMKM EXPO(RT) 2025, ajang pameran akbar yang mempertemukan 1.000 UMKM binaan BRI terpilih dengan pasar nasional hingga internasional.

Salah satu UMKM binaan BRI yang turut berpartisipasi adalah SWR, produsen pengharum ruangan asal Jakarta yang berhasil masuk dalam kategori Healthcare & Wellness. Kehadiran SWR menjadi bukti nyata bagaimana BRI mendorong pengusaha UMKM untuk terus berinovasi dan memperluas pasar.

Pemilik SWR Deddy Suwardi menceritakan awal mula usahanya yang terinspirasi dari bisnis cuci mobil hingga akhirnya mengembangkan produk wewangian yang kini menjadi andalan SWR.

“Saya mengerjakan sendiri seluruh proses produksi, mulai dari mencari bahan baku hingga melakukan uji coba. Produk reed diffuser ini memang membutuhkan waktu dalam proses pengembangannya,” tuturnya.

Dari sisi omzet, secara bulanan SWR mampu meraih pendapatan bersih hingga belasan juta rupiah. Lebih jauh, ia menegaskan bahwa pameran ini menjadi momentum strategis untuk memperluas pasar sekaligus mendorong rencana ekspansi bisnisnya ke tingkat global.

“Rencana ekspor pada 2026, target saya produk ini dapat masuk ke seluruh store dan dipasarkan melalui pameran seperti BRI UMKM EXPO(RT), karena strategi pemasaran saya memang melalui pameran. Selain itu, selama pameran, eksposur di media online juga ikut meningkat,” ungkapnya.

Direktur Commercial, Small, and Medium Business BRI Amam Sukriyanto menegaskan komitmen BRI dalam memperkuat peran UMKM agar mampu bersaing di tingkat global.

“BRI secara konsisten menghadirkan program-program strategis untuk mendorong UMKM Indonesia naik kelas, termasuk membuka akses pasar dan peluang ekspor. Melalui BRI UMKM EXPO(RT) 2025, BRI memberikan ruang bagi UMKM unggulan untuk memperluas jaringan bisnis dan memperkenalkan produknya ke pasar internasional. Kehadiran SWR sebagai salah satu UMKM binaan yang mulai merancang ekspansi ekspor menjadi contoh nyata bagaimana program pemberdayaan BRI mendorong UMKM semakin berdaya saing dan siap memasuki pasar global,” tegasnya.

Sebagai bagian upaya berkelanjutan dalam mendorong UMKM naik kelas, BRI sukses menyelenggarakan BRI UMKM EXPO(RT) 2025 yang berlangsung pada 30 Januari hingga 2 Februari 2025 di ICE BSD City. Acara ini menarik antusiasme tinggi dengan kehadiran lebih dari 69 ribu pengunjung, mencatatkan transaksi senilai lebih dari Rp40 miliar, serta menghasilkan kontrak ekspor sebesar USD 90,6 juta atau sekitar Rp1,5 triliun. Inisiatif ini mempertegas peran BRI dalam membuka peluang lebih luas bagi UMKM untuk menembus pasar internasional. ***

Instruksi Presiden Prabowo tentang Penjualan LPG 3 Kg: Solusi atau Masalah Baru?

0

Oleh: Putri Nabila Raissah J0401231077 Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media

 

Pemerintah telah memberikan instruksi agar pengecer kembali diperbolehkan menjual LPG 3 kg kepada masyarakat. Kebijakan ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan gas bersubsidi tetap lancar dan mudah diakses oleh masyarakat kecil.

Sebelumnya, larangan pengecer menjual LPG 3 kg menyebabkan banyak warga kesulitan mendapatkan gas, terutama di daerah terpencil.

Namun, meskipun kebijakan ini bertujuan baik, ada beberapa tantangan yang perlu diperhatikan, seperti kenaikan harga, penyalahgunaan subsidi, dan pengawasan distribusi yang lebih sulit. Oleh karena itu, penting untuk melihat lebih dalam dampak kebijakan ini dari berbagai sisi.

Kemudahan Akses bagi Masyarakat

Salah satu alasan utama diizinkannya kembali pengecer menjual LPG 3 kg adalah untuk mempermudah akses masyarakat. Sebelumnya, banyak warga harus antre panjang di pangkalan resmi atau bahkan kesulitan mendapatkan LPG karena stok yang terbatas. Dengan adanya pengecer, masyarakat bisa membeli LPG dengan lebih mudah tanpa harus bepergian jauh.

Keputusan ini juga sangat membantu masyarakat di daerah terpencil yang sebelumnya kesulitan mengakses pangkalan resmi. Dengan adanya pengecer, mereka tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi hanya demi membeli gas. Selain itu, kebijakan ini juga diharapkan dapat mengatasi kelangkaan LPG yang sering terjadi akibat distribusi yang tidak merata.

Dampak Positif bagi Ekonomi Mikro

Selain mempermudah akses bagi masyarakat, kebijakan ini juga berdampak positif bagi perekonomian kecil. Banyak pengecer, terutama pemilik warung kecil, yang sebelumnya kehilangan sumber pendapatan karena dilarang menjual LPG 3 kg. Dengan kebijakan baru ini, mereka dapat kembali memperoleh penghasilan tambahan dari penjualan gas.

Keputusan ini juga berkontribusi dalam menggerakkan ekonomi lokal. Pengecer sering kali tidak hanya menjual LPG, tetapi juga kebutuhan pokok lainnya seperti sembako.

Dengan adanya kebijakan ini, warung-warung kecil bisa kembali aktif dan mendapatkan keuntungan lebih. Hal ini tentu akan membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari serta meningkatkan daya beli masyarakat.

Potensi Kenaikan Harga dan Penyalahgunaan Subsidi

Meski kebijakan ini membawa manfaat, ada beberapa tantangan yang harus diwaspadai, salah satunya adalah potensi kenaikan harga LPG di tingkat pengecer. Sebelumnya, harga LPG di pangkalan resmi sudah diatur oleh pemerintah melalui Harga Eceran Tertinggi (HET).

Namun, pengecer bisa saja menjualnya dengan harga lebih tinggi, terutama saat stok terbatas atau permintaan meningkat. Jika tidak ada pengawasan yang ketat, harga LPG di pasaran bisa menjadi tidak terkendali dan justru merugikan masyarakat kecil.

Selain itu, ada juga risiko penyalahgunaan subsidi. LPG 3 kg seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat miskin dan usaha mikro, tetapi dengan semakin banyaknya pengecer, distribusi bisa menjadi lebih sulit dikontrol.

Tidak menutup kemungkinan ada pihak yang membeli dalam jumlah besar untuk dijual kembali dengan harga lebih tinggi, sehingga masyarakat kecil yang benar-benar membutuhkan justru kesulitan mendapatkan LPG bersubsidi.

Perlunya Pengawasan yang Ketat

Agar kebijakan ini berjalan dengan baik, pemerintah perlu melakukan pengawasan ketat terhadap distribusi dan harga LPG 3 kg. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mencatat pengecer yang boleh menjual LPG dan memastikan mereka menjual dengan harga yang sesuai dengan aturan.

Selain itu, masyarakat juga perlu dilibatkan dalam pengawasan, misalnya dengan memberikan laporan jika ada pengecer yang menjual LPG dengan harga yang tidak wajar.

Pemerintah juga dapat mempertimbangkan sistem distribusi berbasis data, misalnya dengan menggunakan aplikasi atau sistem pencatatan pembelian agar LPG benar-benar sampai ke masyarakat yang berhak. Jika pengawasan berjalan dengan baik, kebijakan ini bisa benar-benar bermanfaat tanpa menimbulkan masalah baru.

Kesimpulan

Instruksi Presiden Prabowo untuk mengizinkan pengecer menjual LPG 3 kg kembali merupakan langkah yang bertujuan untuk mempermudah masyarakat dalam mendapatkan gas bePemerintah telah memberikan instruksi agar pengecer kembali diperbolehkan menjual LPG 3 kg kepada masyarakat.

Kebijakan ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan gas bersubsidi tetap lancar dan mudah diakses oleh masyarakat kecil. Sebelumnya, larangan pengecer menjual LPG 3 kg menyebabkan banyak warga kesulitan mendapatkan gas, terutama di daerah terpencil.

Namun, meskipun kebijakan ini bertujuan baik, ada beberapa tantangan yang perlu diperhatikan, seperti kenaikan harga, penyalahgunaan subsidi, dan pengawasan distribusi yang lebih sulit. Oleh karena itu, penting untuk melihat lebih dalam dampak kebijakan ini dari berbagai sisi.***

 

 

Perkembangan Teknologi dalam Pendidikan: Kemudahan atau Tantangan Baru?

0

Oleh: Fathan Fitriani Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB

Pernahkah kita berpikir tentang cara orang terdahulu belajar? Mengandalkan guru sebagai satu-satunya sumber informasi, membawa buku tebal dan catatan ke sekolah. Dunia pengetahuan sekarang dapat diakses dengan satu perangkat digital. Kemajuan teknologi telah mengubah cara belajar secara signifikan. Hal ini membuat belajar lebih mudah, tetapi juga membuatnya sulit untuk dimengerti. Namun, apakah teknologi benar-benar membuat pendidikan lebih mudah atau justru menghadirkan masalah baru yang lebih sulit?

  1. Teknologi: Membuka Peluang Baru dalam Pembelajaran

Pembelajaran dengan AI merupakan salah satu keunggulan teknologi dalam pendidikan. Pembelajaran yang lebih cepat dan cerdas dapat dilakukan oleh aplikasi berbasis AI. Misalnya, aplikasi ini dapat menganalisis kesulitan yang dihadapi siswa dalam suatu mata pelajaran dan menyarankan latihan terbaik. Metode ini menghilangkan istilah “ketinggalan pelajaran” dengan memastikan bahwa setiap siswa menerima materi yang disesuaikan dengan kemampuan mereka.

  1. Belajar fleksibel dengan teknologi memungkinkan Anda belajar kapan dan di mana saja.

Siswa sekarang dapat mengikuti kelas daring dari mana saja jika mereka memiliki koneksi internet dan tidak perlu pergi ke sekolah atau tempat les. Akses ke bahan pendidikan yang lebih luas dan fleksibel dimungkinkan oleh platform seperti Google Classroom dan berbagai sistem manajemen pendidikan (LMS). Pembelajaran dan sumber ilmu tak lagi didapat dari buku fisik saja, melainkan berbagai aplikasi dan kamus dunia yang dapat diakses hanya bermodalkan internet.

  1. Teknologi membuat pembelajaran lebih interaktif dan menyenangkan.

Siswa dapat belajar sambil bermain dengan aplikasi seperti Kahoot dan Quizizz. Selain itu, pengalaman belajar yang lebih menarik dihasilkan oleh teknologi seperti video interaktif, kolam diskusi pada pertemuan online, fitur suara canggih dengan berbagai Bahasa, dan masih banyak lagi.

  1. Efisiensi dalam Mengajar: Teknologi membantu siswa dan guru.

Platform digital memungkinkan guru untuk mengelola tugas, memberikan penilaian secara otomatis, dan menghemat waktu saat menilai siswa. Alat seperti Google Docs, Excel, dan Forms membantu mengelola kelas dengan lebih efisien.

Namun, kemajuan teknologi tidak hanya menawarkan keuntungan, tetapi juga menghadirkan tantangan.

  1. Keterbatasan Akses Teknologi

Beberapa siswa memiliki perangkat yang tidak memadai atau tidak memiliki akses internet yang stabil. Kendala ini semakin terasa di daerah terpencil dan dapat memperlebar kesenjangan pendidikan. Ketidakadilan dalam akses pendidikan dapat terjadi akibat penggunaan teknologi dalam pendidikan jika tidak ada solusi yang tepat. Perlu dilakukan pemerataan teknologi di Indonesia agar tidak ada kesenjangan pendidikan antar daerah.

 

  1. Dampak Sosial dan Kesehatan

Ketergantungan pada teknologi secara langsung dapat mengurangi interaksi sosial. Mengembangkan keterampilan sosial atau berkomunikasi secara tatap muka dapat menjadi tantangan bagi siswa yang terbiasa dengan pembelajaran daring. Penggunaan perangkat digital yang berlebihan juga dapat memengaruhi kesehatan mata dan postur tubuh.

  1. Keamanan Data dan Privasi

Karena semakin banyak orang yang menggunakan platform digital, penting untuk menjaga data pribadi siswa. Data siswa dapat disalahgunakan jika tidak ada peraturan yang jelas. Oleh karena itu, keamanan dan privasi data harus menjadi prioritas utama saat mengembangkan teknologi pendidikan.

Kesimpulan: Teknologi sebagai Alat, Bukan Pengganti. Teknologi sangat membantu dalam pendidikan, tetapi tidak boleh digunakan tanpa kebijakan yang baik dan benar. Bagaimana teknologi digunakan dengan bijak tetap penting untuk keberhasilan pembelajaran. Untuk memastikan bahwa semua siswa memiliki akses yang sama dan untuk menjaga keseimbangan antara interaksi sosial dan teknologi, orang tua, pemerintah, dan sekolah harus bekerja sama.

Apakah teknologi membuat pendidikan lebih mudah atau lebih sulit? Bagaimana kita mengendalikannya dan menggunakannya menentukan jawabannya. Bukan menggantikan pendidikan itu sendiri, teknologi harus menjadi alat bantu yang memperkaya pengalaman belajar bagi para siswa.

 

 

Polemik Pagar Laut: Mitigasi Bencana dan Ancaman Nelayan

0

Oleh: Egialipamana Ramdini Sitepu Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB

 

Pagar laut adalah struktur yang di pasang untuk sepanjang pesisir pantai yang bertujuan untuk mencegah erosi dan abrasi yang di sebabkan oleh gelombang laut. Namun ketika pemasangan di lakukan tanpa izin dan tidak sesuai peraturan, maka pagar laut tersebut dapat di kategorikan sebagai hal yang ilegal. Pagar laut ilegal yang dilakukan ini dapat memberikan dampak lingkungan jangka panjang. Dengan tidak melibatkan otoritas yang berwenang dalam perencanaan dan pengawasan nya.

Masalah utama dari pemasangan pagar laut ilegal ini kurangnya regulasi yang mengatur. Pihak yang membangun demi kepentingan ini, seharusnya lebih memperhatikan bagaimana kelanjutan nya ekosistem laut. Hal apa saja yang akan mengalami kerugian cukup besar pada keseimbangan alam?

Problem Pemasangan Pagar laut

Gangguan terhadap Ekosistem Laut: Pemasangan pagar laut ilegal memiliki dampak langsung terhadap ekosistem laut .Struktur pagar yang biasanya terbuat dari bambu, beton, atau jaring logam dapat menghancurkan habitat alami banyak spesies laut, termasuk terumbu karang, padang lamun, dan jenis ikan lainnya. Misalnya, terumbu karang adalah habitat bagi ribuan spesies laut yang sangat rentan terhadap perubahan fisik. Pemasangan pagar laut ilegal yang tidak diperhitungkan dengan matang dapat mengakibatkan kerusakan pada habitat terumbu karang.

Selain itu, pagar laut yang tidak sah juga dapat menghentikan ikan yang biasanya melalui wilayah pesisir untuk mencari makan atau bertelur. Jika kegiatan ini berhenti, itu dapat menyebabkan penurunan jumlah ikan di tempat tersebut, mengganggu keanekaragaman hayati yang seharusnya masih ada.

Dalam jangka panjang, kerusakan habitat alami ini akan berdampak pada ekosistem laut secara keseluruhan, dan masyarakat pesisir tidak lagi dapat bergantung pada penangkapan ikan, yang merupakan sumber kehidupan mereka.

Erosi dan Perubahan Aliran Laut: Pagar laut yang tidak sah dapat memengaruhi aliran pasang surut laut dan proses sedimentasi di sepanjang pesisir. Meskipun aliran air memfasilitasi proses alami yang menangani erosi dan abrasi di pantai, yang dapat membawa sedimen kembali ke laut atau membentuk formasi pantai yang stabil, pembangunan pagar laut yang ilegal tanpa memperhatikan prinsip hidrodinamika pesisir dapat menyebabkan sedimen tertahan dan penumpukan yang tidak alami. Oleh karena itu, pantai di beberapa daerah semakin terkikis dan mengalami erosi yang lebih parah, sementara endapan tertutup di daerah lain, mengganggu habitat laut.

Secara keseluruhan, pemasangan pagar laut ilegal berpotensi memperburuk kerusakan lingkungan yang sudah ada akibat aktivitas manusia lainnya, seperti pembangunan pesisir yang tidak ramah lingkungan dan polusi laut. Perubahan aliran laut ini juga dapat menyebabkan kerusakan pada

sistem ekologis lainnya, seperti wilayah mangrove yang biasanya berfungsi sebagai penahan gelombang dan habitat bagi berbagai jenis fauna.

Pemasangan pagar laut ilegal di pesisir Indonesia telah merusak masyarakat pesisir dan ekosistem laut. Kerusakan lingkungan dan konsekuensi sosial-ekonomi dari pemasangan pagar laut ilegal harus segera diperbaiki. Dengan menerapkan solusi dan tindakan pencegahan yang efektif, kita dapat menjaga lingkungan pesisir tetap alami, menjaga mata pencaharian nelayan, dan memastikan pembangunan pesisir yang berkelanjutan. Solusi yang dapat diambil dalam situasi seperti ini termasuk penegakan hukum yang tegas, peningkatan kesadaran masyarakat, kolaborasi lintas sektor, pemanfaatan teknologi, dan pengembangan strategi perlindungan pesisir yang berbeda.

Upaya Pencegahan Pagar Laut

Perlunya Penegakan Hukum yang Lebih Tegas: Penegakan hukum yang lebih ketat adalah salah satu langkah paling mendesak untuk menghentikan pemasangan pagar laut ilegal. Meskipun ada aturan untuk pembangunan di wilayah pesisir, mereka seringkali tidak diterapkan dengan benar, terutama ketika kepentingan pribadi atau kelompok lebih penting daripada keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Selain itu, keadaan ini diperburuk oleh pengawasan yang lemah dan pembiayaan yang terbatas.

Untuk mengurangi penyalahgunaan izin dan pembangunan pagar laut yang tidak sah, pemerintah harus memperkuat kebijakan dan sanksi hukum. Untuk mencegah pembukaan lahan yang merusak lingkungan pesisir, pengawasan yang lebih ketat diperlukan dari pemerintah pusat maupun daerah. Jika seseorang melanggar aturan, hukuman harus tegas dan memberikan efek jera. Selain itu, pemerintah harus menyediakan anggaran yang cukup untuk pengawasan teratur, termasuk pengawasan pembangunan pesisir. Selain itu, penting bagi masyarakat lokal untuk terlibat dalam pengawasan ini. Dengan melibatkan mereka secara aktif dalam pemantauan, kita dapat memastikan bahwa pembangunan pesisir yang dilakukan sesuai dengan standar lingkungan dan tidak merusak ekosistem alami.

Meningkatkan Kesadaran dan Pendidikan Masyarakat Pesisir: Kekurangan kesadaran masyarakat pesisir tentang pentingnya kelestarian lingkungan adalah salah satu faktor utama yang berkontribusi pada pemasangan pagar laut ilegal. Dampak negatif dari pembangunan pagar laut yang tidak ramah lingkungan tidak diketahui oleh banyak masyarakat. Oleh karena itu, kampanye kesadaran dan pendidikan harus menjadi komponen penting dari upaya mengatasi masalah ini.

Pemerintah dan LSM dapat bekerja sama untuk membuat program pendidikan yang berfokus pada masyarakat pesisir. Pelatihan tentang teknik konservasi pesisir, seperti restorasi mangrove atau pengelolaan terumbu karang, juga dapat diberikan untuk meningkatkan keterampilan dan pemahaman masyarakat tentang pentingnya melestarikan lingkungan pesisir dan dampak negatif pagar laut ilegal terhadap ekosistem laut.

Ketika masyarakat pesisir merasa memiliki dan bertanggung jawab atas lingkungan sekitar mereka, mereka akan lebih terdorong untuk menentang pembangunan yang merusak. Oleh karena itu, sangat penting bagi mereka untuk menjadi aktor utama dalam pengelolaan lingkungan pesisir

mereka sendiri. Pendidikan dan partisipasi aktif ini akan meningkatkan rasa kepemilikan terhadap kebijakan yang diterapkan dan meningkatkan pengawasan terhadap pembangunan pesisir.

Kolaborasi Antar Lembaga Pemerintah, Masyarakat, dan Sektor Swasta : Kerja sama yang efektif antara berbagai organisasi—pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta—sangat penting untuk memerangi pemasangan pagar laut ilegal. Pengelolaan kawasan pesisir yang berkelanjutan memerlukan kerja sama, di mana setiap orang memiliki bagian dan tanggung jawab untuk memastikan bahwa pembangunan dan konservasi seimbang.

Pemerintah harus membuat kebijakan pengelolaan pesisir yang luas yang berfokus pada pembangunan fisik dan aspek sosial-ekonomi. Masyarakat pesisir harus dilibatkan dalam proses perencanaan dan pengawasan agar kebijakan yang diterapkan lebih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lokal. Dalam hal investasi yang ramah lingkungan, sektor swasta juga sangat penting. Perusahaan yang beroperasi di sektor pembangunan pesisir harus diajak untuk berkomitmen pada prinsip keberlanjutan dengan mendukung proyek konservasi dan restorasi alam. Sektor swasta dapat memberikan dukungan finansial dan teknis untuk proyek yang mendukung kelestarian ekosistem pesisir dan mengurangi dampak negatif pembangunan, seperti penerapan teknologi ramah lingkungan dalam pembangunan kawasan pesisir.

Kolaborasi antara ketiga pihak ini akan meningkatkan kebijakan dan program untuk menjaga kelestarian pesisir dan mengurangi tindakan ilegal, seperti pemasangan pagar laut ilegal.

Penggunaan Teknologi untuk Pengawasan dan Pemantauan: Teknologi saat ini memungkinkan kami untuk lebih efisien memantau dan memantau pembangunan di pesisir. Teknologi seperti satelit, drone, dan sistem informasi geografis (SIG) sangat efektif untuk menemukan pembangunan yang tidak sah di pesisir, termasuk pemasangan pagar laut ilegal. Teknologi ini dapat memberikan data secara real-time, memungkinkan pemerintah dan lembaga lain untuk segera menindaklanjuti pelanggaran.

Selain itu, kami dapat menggunakan teknologi pemantauan untuk mengidentifikasi area yang paling rentan terhadap kerusakan. Kami juga dapat memastikan bahwa pembangunan yang dilakukan di daerah tersebut memenuhi standar lingkungan yang sudah ditetapkan. Tindakan pencegahan yang lebih cepat dapat dilakukan dan pengawasan yang lebih efektif dapat dicapai melalui penggunaan teknologi ini. Selain itu, teknologi juga dapat digunakan untuk meningkatkan sistem pelaporan yang melibatkan masyarakat, yang memungkinkan mereka untuk melaporkan secara langsung pelanggaran ilegal yang mereka temui di lapangan.***

 

 

Remaja Curhat, Orang Tua Cemas? Ini Cara Jitu Jembatani Perbedaan!

0

Bogordaily.net – Perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang pesat telah membawa dampak signifikan pada kehidupan remaja masa kini. Remaja di Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang mempengaruhi kesehatan mental mereka.

Data dari Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 menunjukkan bahwa 1 dari 3 remaja (34,9%) atau setara dengan 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Namun, hanya 2,6% dari mereka yang pernah mengakses layanan dukungan atau konseling untuk masalah emosi dan perilaku dalam periode yang sama. (kemenpppa.go.id)

Salah satu faktor penting yang mempengaruhi kesehatan mental remaja adalah kualitas komunikasi antara orang tua dan anak.

Komunikasi yang efektif dalam keluarga dapat menjadi faktor protektif terhadap gangguan mental emosional pada remaja. Penelitian menunjukkan bahwa peran dan pola komunikasi keluarga memiliki hubungan yang signifikan dengan kesehatan mental emosional remaja. (ejurnalmalahayati.ac.id)

Namun, perbedaan generasi antara orang tua dan remaja seringkali menimbulkan kesenjangan komunikasi.

Orang tua yang tumbuh dalam era sebelum digital mungkin memiliki gaya komunikasi yang berbeda dengan remaja yang hidup di era digital.

Perbedaan ini dapat menyebabkan kesalahpahaman dan konflik yang berdampak negatif pada kesehatan mental remaja.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menyesuaikan gaya komunikasi mereka agar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi remaja saat ini.

Penyesuaian gaya komunikasi oleh orang tua tidak hanya membantu mencegah masalah kesehatan mental pada remaja, tetapi juga memperkuat hubungan antara orang tua dan anak.

Dengan komunikasi yang efektif, remaja merasa didengar, dihargai, dan didukung, yang pada gilirannya meningkatkan kesejahteraan psikologis mereka.

Perbedaan Gaya Komunikasi Antar Generasi

Generasi orang tua saat ini umumnya tumbuh dalam lingkungan dengan teknologi yang lebih sederhana dan norma sosial yang berbeda. Sebaliknya, remaja masa kini hidup di era digital dengan akses informasi yang luas dan cepat.

Perbedaan ini seringkali menyebabkan perbedaan dalam cara berkomunikasi dan memahami informasi. Orang tua mungkin cenderung menggunakan pendekatan komunikasi yang formal dan langsung, sementara remaja lebih akrab dengan komunikasi yang cepat dan informal melalui media digital.

Dampak Gaya Komunikasi terhadap Kesehatan Mental Remaja

Gaya komunikasi yang tidak sesuai dapat menyebabkan remaja merasa tidak dipahami atau bahkan diabaikan oleh orang tua mereka. Hal ini dapat menimbulkan perasaan kesepian, stres, dan menurunkan kepercayaan diri.

Sebaliknya, komunikasi yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan remaja dapat meningkatkan kesejahteraan mental mereka. Menurut penelitian yang dipublikasikan di jurnal Caring of Family, pola komunikasi yang baik dalam keluarga merupakan faktor protektif dalam kesehatan jiwa remaja.

“Komunikasi yang efektif dalam keluarga adalah fondasi dari kesehatan mental remaja. Ketika remaja merasa didengar dan dipahami, mereka membangun kepercayaan diri dan ketahanan emosional yang penting,” ujar Dr. John Gottman, seorang psikolog klinis yang terkenal dengan penelitiannya tentang hubungan keluarga.

Strategi Penyesuaian Gaya Komunikasi Orang Tua

Orang tua perlu memberikan perhatian penuh saat remaja berbicara, menunjukkan empati, dan memahami perasaan mereka tanpa menghakimi. Hal ini membantu remaja merasa dihargai dan didukung. Memahami istilah dan ekspresi yang digunakan oleh remaja dapat membantu orang tua berkomunikasi lebih efektif.

Menghindari penggunaan bahasa yang menghakimi atau merendahkan juga penting untuk menjaga hubungan yang positif. Untuk mendukung kesehatan mental remaja, orang tua perlu menyesuaikan gaya komunikasi mereka dengan beberapa strategi efektif.

“Mendengarkan dengan empati berarti benar-benar hadir untuk anak Anda, mencoba memahami dunia mereka, dan merespons dengan penuh kasih sayang,” kata Dr. Laura Markham, seorang psikolog perkembangan dan penulis buku-buku parenting.

Pertama, mendengarkan dengan empati sangat penting; orang tua sebaiknya memberikan perhatian penuh saat anak berbicara, menunjukkan kepedulian terhadap apa yang dianggap penting oleh anak, dan memahami perasaan mereka tanpa menghakimi.

Hal ini membantu membangun hubungan yang kuat dan saling percaya antara orang tua dan remaja.

Memahami istilah dan ekspresi yang digunakan oleh anak dapat memudahkan komunikasi dan menghindari kesalahpahaman.

Selain itu, menghindari penggunaan bahasa yang menghakimi atau merendahkan sangat penting untuk menjaga hubungan yang positif. Membangun keterbukaan dan kepercayaan juga merupakan strategi kunci.

Orang tua sebaiknya menciptakan lingkungan yang aman dan terbuka untuk diskusi, sehingga anak merasa nyaman berbagi perasaan dan pengalaman mereka. Dengan demikian, remaja akan merasa dihargai dan didukung, yang berdampak positif pada kesehatan mental mereka.

Terakhir, memanfaatkan teknologi dengan bijak dapat membantu menjembatani kesenjangan komunikasi antara orang tua dan remaja.

Menggunakan platform komunikasi yang familiar bagi anak, seperti pesan teks atau media sosial, dapat memfasilitasi interaksi yang lebih efektif.

Namun, penting bagi orang tua untuk menetapkan batasan yang sehat dalam penggunaan teknologi agar tidak mengganggu aspek lain dari kehidupan anak.

Tantangan dalam Penyesuaian Gaya Komunikasi

Meskipun penyesuaian gaya komunikasi penting, orang tua mungkin menghadapi tantangan seperti perbedaan nilai dan norma, serta resistensi terhadap perubahan. Namun, dengan kesadaran dan usaha yang konsisten, hambatan ini dapat diatasi demi kesejahteraan remaja.

Menyesuaikan gaya komunikasi orang tua dengan kebutuhan remaja merupakan langkah krusial dalam mendukung kesehatan mental mereka.

Komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak tidak hanya memperkuat ikatan emosional, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme protektif terhadap berbagai masalah psikologis yang mungkin dihadapi remaja.

Dengan memahami dan menerapkan strategi komunikasi yang sesuai, orang tua dapat menciptakan lingkungan yang mendukung bagi perkembangan mental dan emosional anak mereka.

Oleh karena itu, adaptasi dalam pola komunikasi keluarga menjadi esensial untuk memastikan kesejahteraan remaja di tengah tantangan perkembangan zaman.***

 

Ratih Eka Noviyana                                                                                                        Mahasiswi Komunikasi Digital dan Media IPB University

Kampanye Sukses? Ini Dia Strategi Political Branding Tim Prabowo-Gibran dalam Kampanye Pemilu 2024 Kemarin

0

Bogordaily.net – Dalam dunia politik modern, strategi komunikasi menjadi salah satu faktor kunci dalam memenangkan hati pemilih. Pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, menerapkan strategi political branding untuk menarik simpati masyarakat.

Political branding merupakan cara membentuk citra dan identitas politik guna mengelola persepsi dalam meningkatkan elektabilitas untuk memenangkan pemilu. Strategi ini menjadi sangat penting, terutama di tengah berbagai kontroversi yang muncul selama proses pencalonan mereka.

Pada artikel kali ini akan membahas bagaimana strategi political branding yang diterapkan oleh pasangan Prabowo-Gibran dalam berkontribusi untuk efektivitas komunikasi politik mereka.

Sejak resmi sebagai pasangan calon presiden dan wakil presiden, Prabowo-Gibran mendapat berbagai sorotan tajam dari berbagai pihak. Di tengah situasi tersebut, strategi komunikasi yang kuat diperlukan untuk meredam kritik serta membentuk opini publik yang lebih positif dan berjalan secara konsisten selama kampanye.

Untuk menutupi berbagai isu yang muncul, Tim Prabowo-Gibran menggunakan teknik political branding berbasis digital yang dikemas lebih modern dan non formal untuk membangun citra positif di mata publik, khususnya generasi muda.

Mengapa difokuskan pada generasi muda? karena berdasarkan data dari website KPU, terdapat 55% pemilih tetap didominasi oleh generasi milenial dan generasi Z.

Tentunya diperkuat dengan branding politik yang dapat menciptakan kedekatan emosional antara kandidat dan pemilih (Mann & Perlmutter, 2011).

Oleh karena itu, Prabowo-Gibran mengadopsi pendekatan sebagai sosok yang humoris dan bersahabat untuk mengubah persepsi publik dan memperluas daya tarik politik mereka.

Maka dari itu, media sosial memainkan peran penting dalam strategi komunikasi politik Prabowo-Gibran karena mayoritas pemilih muda menghabiskan waktu di platform seperti Instagram, Tiktok, Twitter dll.

Efektivitas komunikasi politik di media sosial sangat bergantung pada keterlibatan dan kemampuan menciptakan menjadi tren yang viral (Santoso, 2023). Kampanye digital yang interaktif memungkinkan penyebaran pesan politik secara luas dengan cepat.

Salah satu strategi utama adalah penggunaan animasi ‘Gemoy’ yang menampilkan Prabowo dalam karakter lucu dan menggemaskan.

Selain itu, lagu ‘Oke Gas’ yang diciptakan Richard Jersey ini dibuat dengan memadukan musik-musik DJ remix dan jedug-jedug.

Lagu ini sangat merepresentasikan anak muda yang saat ini banyak menggunakan DJ dan jedag-jedug sebagai konten hiburan sehari-hari.

Lagu yang bernuansa ceria dan penuh semangat ini berhasil membangun kedekatan dengan pemilih muda dan meningkatkan keterlibatan tren viral. Selain itu, kampanye ini juga didominasi oleh warna biru muda sebagai warna representatif calon urut 2 untuk menambah kesan simbolik dan diingat oleh mata publik.

Awal muncul istilah “gemoy” juga berasal dari tren di media sosial yang menampilkan Prabowo dengan ekspresi yang dianggap menggemaskan oleh warganet dan akhirnya dibuatkan sosok Prabowo dan Gibran ke dalam bentuk animasi ala disney hasil artificial intelligent (AI).

Tim kampanye justru mengadopsinya sebagai bagian dari strategi branding untuk menampilkan Prabowo sebagai sosok humoris, ramah dan dekat dengan anak muda.

Hal ini telah bertolak belakang dengan citra militeristiknya yang selama ini diketahui oleh masyarakat.

Penggunaan simbol dan humor dalam kampanye politik dapat meningkatkan keterlibatan pemilih dan menciptakan kesan positif yang bertahan lebih lama dibandingkan pesan kampanye formal (Rahmawati, 2015). Dengan cara ini, Prabowo berhasil tampil lebih dekat dengan rakyat, mengurangi kesan formalitas, membangun kedekatan secara emosional dan mampu mengikuti arus perubahan zaman.

Hal ini dapat disimpulkan bahwa kampanye Prabowo-Gibran dalam Pemilu 2024 sangat bergantung pada strategi political branding berbasis digital, terutama animasi AI “Gemoy,” lagu “Oke Gas,” dominasi warna biru muda.

Dengan memanfaatkan media sosial, humor, dan simbol visual, mereka berhasil menciptakan citra politik yang lebih dekat dengan masyarakat. Meskipun strategi ini berhasil menarik perhatian publik, muncul pertanyaan apakah strategi ini hanya sekadar kampanye politik atau memiliki substansi nyata.

Keberhasilan branding politik tidak hanya diukur dari tren viral, tetapi juga dari implementasi kebijakan setelah pemilu. Oleh karena itu, tantangan utama Prabowo-Gibran adalah membuktikan bahwa strategi ini adalah bagian dari visi kepemimpinan yang nyata dan dapat diimplementasikan dalam kebijakan konkret untuk kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia.***

 

Azzahra Aulia Nur Alzena, Mahasiswi Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University

Pembunuhan Satpam Rumah Mewah di Bogor oleh Anak Majikan

0

Oleh: Ratih Eka Noviyana Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB

 

Kasus pembunuhan yang merenggut nyawa seorang satpam bernama Septian (37) di sebuah rumah mewah di Jalan Lawang Gintung, Bogor, menggugah lebih dari sekadar perasaan ngeri terhadap tindakan kriminal. Septian tewas dengan 22 luka tusuk yang dilakukan oleh anak majikannya, Abraham Giovanni (27). Kejadian ini bukan hanya mengejutkan masyarakat karena kesadisannya, tetapi juga melukiskan permasalahan mendalam yang ada dalam struktur sosial kita, mulai dari ketimpangan sosial, lemahnya kontrol diri yang berkaitan dengan penyalahgunaan narkoba, hingga krisis moral di dalam lingkungan keluarga.

Motif Pembunuhan dan Pengaruh Narkoba

Penyelidikan polisi mengungkapkan bahwa motif di balik tindakan pelaku adalah rasa sakit hati kepada korban, yang sering kali melaporkan kebiasaan Abraham pulang larut malam kepada orang tuanya. Teguran yang diterimanya semakin memperburuk suasana, dan menyimpan rasa dendam yang pada akhirnya meledak dalam bentuk kekerasan brutal, diperburuk oleh pengaruh narkoba. Hasil tes urine menunjukkan bahwa Abraham positif menggunakan tembakau sintetis, sebuah zat yang memiliki efek psikoaktif lebih kuat daripada ganja dan dapat memicu perilaku paranoid, agresif, serta hilangnya kontrol diri. Meskipun narkoba dapat menjadi pemicu kekerasan, hal itu tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan tindakan biadab tersebut. Kasus ini menyoroti urgensi untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda serta perlunya pengawasan yang ketat terhadap peredarannya.

Ketimpangan Sosial dalam Hubungan Majikan dan Pekerja

Pembunuhan ini juga mencerminkan ketimpangan yang ada dalam relasi antara majikan dan pekerja. Di banyak rumah tangga kelas atas, para pekerja domestik seperti satpam, pembantu, dan sopir sering kali dianggap sebagai bawahan yang tidak punya suara. Ketika seorang satpam hanya menjalankan tugasnya dengan melaporkan perilaku penghuni rumah kepada majikannya, ia malah menjadi sasaran kemarahan yang berujung pada tragedi. Kejadian ini menunjukkan bahwa dalam konteks sosial tertentu, batasan antara perintah, tanggung jawab, dan rasa hormat sering kali menjadi kabur. Ketika anak seorang majikan merasa berhak untuk menghabisi pekerja yang dianggap mengganggu, ini menandakan adanya masalah serius dalam pola pikir yang mendasarinya. Insiden ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa tidak ada tempat untuk diskriminasi atau perlakuan sewenang-wenangnya terhadap pekerja rumah tangga mereka juga manusia yang berhak atas keselamatan dan martabat.

Krisis Moral dalam Keluarga dan Pola Asuh

Aspek lain yang tak kalah penting untuk dicermati adalah peran keluarga dalam membentuk perilaku anak. Abraham, meskipun sudah berusia 27 tahun, menunjukkan ketidakmampuan untuk mengendalikan emosi dan tanggung jawab yang minim. Pertanyaan yang muncul adalah: bagaimanakah peran orang tua dalam mendidik anak-anak mereka? Apakah dalam lingkungan keluarga yang cukup berkecukupan, anak-anak mendapatkan bimbingan moral yang layak? Kasus ini menjadi indikasi bahwa dalam beberapa keluarga kelas atas, pendidikan karakter sering kali kurang diperhatikan. Anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang kaya akan fasilitas, tetapi tanpa nilai-nilai yang menanamkan empati, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap orang lain, termasuk kepada pekerja yang berkontribusi pada kehidupan sehari-hari mereka. Disamping itu, aspek pengawasan juga patut dipertanyakan. Jika seorang anak dari keluarga kaya dapat dengan bebas mengakses dan menggunakan narkoba tanpa terdeteksi, ini menunjukkan ada kesenjangan signifikan dalam sistem pengawasan di rumah tersebut. Orang tua seharusnya lebih aktif dalam menciptakan lingkungan pergaulan yang sehat dan memberikan pendidikan yang memadai tentang konsekuensi dari tindakan mereka.

Tanggung Jawab Hukum dan Sosial

Kejadian tragis ini memerlukan perhatian kita semua, bukan hanya dalam konteks hukum tetapi juga dari sudut pandang sosial yang lebih luas. Kita perlu bersikap kritis terhadap sistem yang ada, mengedukasi diri kita dan generasi mendatang, serta berkomitmen untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan beradab. Dari sudut pandang hukum, Abraham telah ditetapkan sebagai tersangka dan dikenakan Pasal 340 KUHP mengenai pembunuhan berencana. Ancaman hukuman maksimal untuk pasal ini adalah 20 tahun penjara atau bahkan seumur hidup. Pemberian sanksi yang berat ini penting untuk menegaskan bahwa tidak ada yang kebal terhadap hukum, termasuk mereka yang berasal dari keluarga berada. Namun, melampaui aspek hukum, tragedi ini menimbulkan tanggung jawab sosial bagi kita sebagai masyarakat.

Meningkatkan Kesadaran terhadap Bahaya Narkoba

Kampanye anti-narkoba perlu diperkuat, terutama di kalangan keluarga dan lingkungan pendidikan. Orang tua diharapkan lebih aktif dalam memberikan edukasi kepada anak-anak mengenai risiko penyalahgunaan narkoba serta dampak merusaknya bagi kehidupan.

Menciptakan Hubungan yang Sehat antara Majikan dan Pekerja

Majikan hendaknya memperlakukan pekerja rumah tangga dengan lebih manusiawi. Hubungan yang baik antara majikan dan pekerja akan menciptakan suasana kerja yang harmonis dan mengurangi potensi konflik yang bisa berujung fatal. Orang tua perlu lebih terlibat dalam kehidupan anak mereka, termasuk memantau pergaulan dan kebiasaan sehari-hari. Ketidakpedulian dapat mendorong anak-anak untuk mencari pelarian dalam hal yang negatif, seperti narkoba dan perilaku menyimpang.***

Sehari di SCBD: dari Kuli Konten ke Kuli Kantoran

0

Bogordaily.net – Saya adalah mahasiswa komunikasi di PTN Bogor sekaligus fotografer dan videografer dalam usaha yang saya rintis bersama teman-teman. Usaha ini kami namakan “Sambil Lari.” Awalnya, fokus kami adalah dokumentasi olahraga lari, tetapi seiring waktu, tawaran yang datang semakin beragam—mulai dari foto wisuda, dokumentasi perjalanan, hingga acara olahraga lain. Kami tetap menerima berbagai pekerjaan ini karena permintaannya lebih banyak dibandingkan dokumentasi olahraga lari.

Selain bayaran yang menarik, kami menikmati pekerjaan ini karena memenuhi rasa penasaran dan semangat eksplorasi kami sebagai anak muda. Kami adalah penggila seni—musik, lukisan, desain grafis, serta foto dan video yang kini kami coba jadikan bisnis. Dari kegemaran ini, muncul ketakutan kami terhadap pekerjaan yang monoton dan kaku. Rutinitas kantor terasa seperti jebakan yang membunuh kreativitas. Itulah alasan kami berusaha mengembangkan bisnis ini agar lebih luas dan menguntungkan.

Suatu hari, kami mendapat tawaran untuk mendokumentasikan video perpisahan salah satu divisi di BUMN. Salah satu atasan mereka akan pindah ke luar negeri, dan mereka ingin mengabadikan momen perpisahan itu. Proyek ini berlangsung selama dua hari, bertepatan dengan jadwal kuliah kami. Namun, dengan bayaran yang cukup menggiurkan, kami bersedia membagi waktu antara pekerjaan dan kuliah.

Hari pertama, rekan saya berhalangan hadir, dan cuaca di Bogor begitu gelap, hampir seperti menjelang maghrib. Saat hendak berangkat, hujan deras turun, membuat saya harus menunggu sebentar. Akibatnya, saya terlambat dan harus buru-buru mengambil peralatan di toko kamera. Dengan barang seberat sekitar 5 kilogram di punggung, saya segera menuju Stasiun Kota Bogor untuk naik kereta ke Stasiun BNI City.

Tiba di sana sekitar pukul 13.00, saya menghubungi PIC untuk konfirmasi, dan mereka memesan taksi ke kantor. Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di SCBD, kawasan perkantoran yang banyak diidamkan anak seusia saya. Namun, setelah sampai di sana, saya justru bertanya-tanya, “Apa istimewanya tempat ini?” Yang terlihat hanya gedung-gedung tinggi dan lalu lintas sibuk.

Masuk ke kantor, saya harus mendaftarkan wajah dan identitas agar bisa melewati pintu otomatis pemindai wajah. Saya merasa keren karena nama saya kini tercatat di kantor BUMN di SCBD. Saat tiba di ruang kerja mereka, saya duduk menunggu proses syuting dimulai. Sambil melihat sekeliling, saya memperhatikan orang-orang sibuk dengan laptop masing-masing. Rasanya seperti melihat murid SD yang sedang mengerjakan tugas individu, hanya saja dengan pakaian formal ala pekerja kantoran.

Aura ruangan itu terasa asing bagi saya—dingin, sibuk, dan tanpa jendela kecuali di ruang bos. Saat syuting berlangsung, mereka yang tidak terlibat tetap fokus pada layar, seolah tak peduli dengan apa yang terjadi di sekitar. Jam 17.00, setelah syuting selesai, barulah mereka mulai mengobrol, tetapi hanya dalam lingkup pertemanan masing-masing. Suasananya semakin mengingatkan saya pada sekolah dasar.

Saya merenungkan pengalaman ini. Saya semakin yakin bahwa saya tidak ingin bekerja di lingkungan seperti ini. Saya sudah merasa terbebani hanya dengan berada di sana tanpa laptop, apalagi mereka yang harus duduk di depan layar seharian. Tidak ada jendela untuk melihat dunia luar, AC terlalu dingin, dan tidak ada pedagang asongan di sekitar kantor—semua ini terasa begitu menyesakkan bagi jiwa bebas saya.

Setelah beristirahat, saya ditawari makan, tetapi saya sudah tidak betah. Saya memutuskan untuk pulang setelah maghrib dengan barang bawaan yang masih berat. Saat tiba di stasiun, saya tersadar bahwa saya lupa membawa kunci motor. Saya harus menunggu pesanan ojek datang. Sambil menunggu, saya kembali merenungkan masa depan saya.

Saya tidak ingin terjebak dalam rutinitas seperti itu, tetapi saya juga tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi di masa depan. Saya merasa takut dan sedih, baik untuk diri sendiri maupun mereka yang hidup dalam pola kerja yang sudah tertata rapi—jam kerja, makan siang, bahkan waktu untuk berbincang dan bergosip seolah sudah terjadwal. Namun, di sisi lain, saya bersyukur telah memulai bisnis sendiri dan mendapatkan kesempatan untuk melihat realitas pekerjaan yang penuh rutinitas ini.

Akhirnya, kunci saya tiba, dan saya pulang dengan membawa optimisme baru tentang kehidupan dan pilihan masa depan saya.

 

Raefa Raja Augena J0401231149

 

 

Pendidikan sebagai Pilar Karier: Perjalanan dari Akademisi ke Dunia Kepenulisan

0

Bogordaily.net – Lahir di Tuban, Jawa Timur, 21 Desember 2000. Menghabiskan masa kecil di Bogor, dengan menempuh pendidikan dari TK, SD dan SMP. Namun, ketika memasuki jenjang SMA, dirinya memutuskan untuk melanjutkan studi nya di Jawa Timur, tepat nya di SMA Plus Al-Fatimah, Bojonegoro. Perjalanan pendidikan pun terus berlanjut.

Setelah lulus SMA, dirinya diterima di Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB). Dengan jalur ini, dirinya tidak mengikuti UTBK atau tes seleksi lainnya. Saat dinyatakan lolos masuk, dirinya diberikan dua opsi untuk memilih. Memilih kampus Vokasi yang berada di Sukabumi atau Bogor, dan dirinya memilih kampus Bogor.

Di Institut Pertanian Bogor (IPB), Aisyah mengambil Program studi D3 pada saat itu dengan jurusan Komunikasi, yang di ingat sebagai angkatan 56. Selama masa kuliah, dirinya memperoleh beasiswa dari Van Deventer Maas Indonesia, sebuah yayasan dari Belanda yang berada di Yogyakarta.

Beasiswa ini menjadi salah satu pencapaian yang sangat berarti baginya, karena dirinya merasa mendapatkan dukungan finansial sekaligus motivasi lebih untuk terus berprestasi. Setelah menyelesaikan pendidikan D3, dirinya melanjutkan S1 pendidikan di Universitas Terbuka (UT) dengan mengambil jurusan yang sama yaitu Ilmu Komunikasi.

Menjalani pendidikan di Universitas Terbuka (UT) menjadi tantangan tersendiri bagi Aisyah. Sistem pembelajarannya intensif, bagaimana mahasiswa dapat menyelesaikan pertemuan selama dua bulan sebelum menghadapi ujian. Dengan begitu, dirinya harus lebih bisa mengatur dan membagi waktu antara pekerjaan dengan kuliahnya. Dirinya sering kali harus bekerja lebih efisien agar tetap bisa menyelesaikan tugas dengan baik. Meski demikian, dirinya tetap berkomitmen untuk menyelesaikan studinya dengan hasil yang maksimal.

Saat Januari 2023, Aisyah telah bergabung untuk bekerja sebagai asisten dosen di Institut Pertanian Bogor (IPB). Selama hampir 2 tahun, dirinya telah membantu berbagai dosen dalam mata kuliah Teknik Penulisan Ilmiah, Media Elektronik (yang kini berubah menjadi Penulisan Media), Editing Audiovisual, Radio, Digital Marketing, Literasi Digital dan Penulisan Kreatif. Pengalaman ini memberinya kesempatan untuk memahami dunia akademik dari perspektif yang lebih dalam, terutama dalam memberikan materi ajar, membimbing mahasiswa serta pernah membantu tugas administratif di bagian akademik Intitut Pertanian Bogor (IPB).

Latar belakang keluarga yang sebagian besar berprofesi sebagai akademisi turut menjadi faktor yang mendorong untuk mencoba peran ini. Ibunya adalah seorang guru, begitu pula beberapa anggota keluarga lainnya, seperti paman dan saudara-saudaranya yang juga berada di dunia pendidikan. memiliki pengalaman mengajar, Aisyah menyadari bahwa menjadi seorang dosen atau guru bukanlah pilihan karier yang paling cocok untuknya. Dirinya lebih menikmati peran di balik layar, seperti mengerjakan proyek, atau bekerja di bidang penulisan digital. Selain sebagai asisten dosen, Aisyah juga aktif dalam proses pengelolaan akademik di perguruan tinggi IPB. Pengalaman ini semakin memperlihatkan keterampilan nya dalam bidang komunikasi digital dan manajemen pendidikan.

Di luar dunia akademik, Aisyah juga pernah memiliki pengalam pekerjaan yang cukup beragam. Dirinya pernah bekerja sebagai sales, barista, pramusaji hingga data entry di Infomedia. Selain itu, dirinya juga aktif sebagai freelancer di bidang nya, yaitu Digital marketing dan Content writing.

Pengalamannya yang luas ini membuatnya memiliki pemahaman yang lebih mendalam juga tentang dunia industri atau pekerjaan.

Aisyah adalah sosok yang lebih menyukai pekerjaan dalam ruangan dengan sistem kerja yang fleksibel, seperti WFH atau Hybrid. Dirinya merasa kurang nyaman dengan pekerjaan yang membutuhkan banyak mobilitas di luar ruangan, karena dirinya tidak terlalu menyukai cuaca panas dan aktivitas fisik yang terlalu berat. Maka dari itu, dirinya cenderung memilih jalur karier yang memungkinkan dirinya untuk bekerja dengan lebih nyaman dalam lingkungan yang terkontrol.

Salah satu sosok yang memberikan motivasi untuk dirinya adalah penyanyi Gracie Abrams. Sejak tahun 2019, dirinya  mulai mengikuti perjalanan Gracie, bahkan sebelum penyanyi tersebut terkenal. Baginya, lagu-lagu Gracie memiliki makna yang sangat dalam dan sejalan dengan perjalanan hidupnya. Terutama dalam membangun passion diri dan menghadapi tantangan dalam hidupnya.

Saat ini, Aisyah meniti karier sebagai Content writing. Dirinya telah mencapai posisi sebagai Content specialist dan ingin lebih mendalami dunia kepenulisan digital, termasuk SEO, SEM atau Content management. Dirinya juga berambisi untuk melanjutkan pendidikan nya di luar negeri dan tengah mempersiapkan diri dengan mengikuti kelas bahasa serta pelatihan pendukung. Ada dua negara yang menjadi tujuan utama nya dalam melanjutkan studi, yaitu New Zealand atau Taiwan. Dirinya tetap ingin mendalami lebih jauh bidang komunikasi dan media serta meningkatkan keahliannya dalam dunia digital marketing atau kepenulisan. Dengan gelar dan pengalaman yang lebih matang, dirinya berharap dapat membangun karier yang lebih baik, dengan berkontribusi dalam industri kreatif.

Bagi Aisyah, pendidikan adalah sebuah privilege yang harus dimanfaatkan dengan sebagai mungkin. Dirinya percaya bahwa tidak semua orang memiliki akses yang mudah terhadap pendidikan, sehingga mereka yang mendapatkan kesempatan untuk belajar sebaiknya tidak menyia-nyiakannya. Pendidikan, menurutnya bukan hanya tentang mendapatkan gelar, tetapi juga tentang bagaimana seseorang dapat mengembangkan diri, memperkuat wawasan dan meningkatkan kuliatas hidup.

Sebagai perempuan, Aisyah juga meyakini bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk generasi mendatang. Dirinya pernah membaca buku bahwa kecerdasan anak sebagian besar diwarisi dari ibunya, sehingga perempuan perlu terus belajar agar bisa memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anak mereka di masa depan. Dirinya menolak anggapan bahwa perempuan hanya perlu berfokus pada peran semata. Baginya perempuan juga memiliki hak yang sama untuk mengejar impian, membangun karier dan berkontribusi dalam masyarakat.

Dirinya juga menyampaikan pesan kepada generasi muda untuk tidak mudah menyerah dalam mengajar pendidikan. Menurutnya, meskipun proses belajar kadang terasa sangat melelahkan dan penuh tantangan, semua usaha yang di lakukan pasti akan membuahkan hasil. Dirinya menekankan bahwa tidak apa-apa untuk mengeluh dan merasa lelah, selama pada akhirnya tetap melanjutkan perjuangan dan menyelesaikan nya dengan baik.

 

Egialipamana Ramdini Sitepu, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media

 

 

 

 

 

Tantangan Bersatu dalam Persahabatan: Petualangan Menuju Curug Cibulao

0

Bogordaily.net – Matahari baru saja menyingsing di ufuk timur, ketika kami berenam bersiap untuk berpetualangan yang telah lama direncanakan. Setelah sibuk dengan rutinitas kuliah dan organisasi, perjalanan ini menjadi lepas penat di tengah hiruk-pikuk aktivitas kami. Destinasi wisata kami adalah Curug Cibulao, air terjun tersembunyi di kaki Gunung Hambalang Barat, Desa Megamendung, Bogor.

Langit cerah pagi itu seolah mengisyaratkan restu untuk perjalanan kami. Kami berkumpul di kampus, memeriksa barang bawaan, dan sarapan bersama sebelum berangkat. Demi perjalanan yang lancar, kami memutuskan untuk memilih rute via Summarecon Bogor dengan tiga motor. Tepat pukul 07.00 WIB, kami meluncur dengan penuh semangat.

Perjalanan awal terasa begitu menyenangkan. Melewati perkampungan hijau dengan jalanan yang meliuk, menanjak, dan berlubang, kami harus bergantian menyetir demi menjaga stamina. Memasuki jalur utama Jl. Raya Puncak, kendaraan belum terlalu padat, memungkinkan kami melaju dengan cepat hingga tiba di Gang Cilember, jalan masuk menuju curug.

Dari sini, tantangan sesungguhnya dimulai. Jalur semakin sempit hanya cukup untuk satu mobil dengan medan berbatu dan menanjak tajam. Semakin tinggi kami mendaki, semakin terlihat pemandangan puncak gunung yang sungguh memukau—pepohonan menjulang, kabut tipis yang menyelimuti bukit, dan udara yang semakin sejuk. Namun, jalanan yang curam dan berlubang, memaksa kami untuk ekstra berhati-hati.

Ketegangan masih belum usai. Cuaca yang tadinya bersahabat, kini mulai berubah mendung. Namun, dengan semangat yang tak surut, kami terus melaju. Lima belas menit kemudian, akhirnya kami tiba di pintu masuk Curug Cibulao.

Sayangnya, keindahan yang kami bayangkan, ternyata masih berjarak 400 meter dari area parkir—yang berarti kita harus berjalan kaki. Kaki kami yang sudah pegal, harus menapak jalan berbatu yang besar, ditambah menuruni anak tangga curam dengan pegangan bambu seadanya. Tragisnya, saking asyiknya mengabadikan momen, aku sendiri sempat terpeleset, nyaris terguling ke bawah. Beruntung, aku berpegangan dengan rumput liar sehingga aku hanya jatuh ditempat saja.

Semua tantangan yang kami lalui akhirnya terbayar lunas saat Curug Cibulao terbentang di depan mata. Airnya berwarna biru jernih, jatuh dengan deras ke dalam kolam alami yang begitu menyegarkan. Tanpa pikir panjang, kami berganti baju, mengenakan jaket pelampung, dan terjun ke dalam kesejukan curug. Kedalaman yang semula kami kira dangkal ternyata cukup dalam—5 meter di kolam atas dan 8 meter di kolom bawah. Untuk mencapai area bawah, kami harus melewati bebatuan yang sangat besar dan berpegangan pada tali yang terbentang sepanjang aliran curug.

Tebing batu yang mengelilingi curug menjadi tantangan lain yang mengundang kami untuk melompat. Sensasi terjun bebas ke dalam kolam alami ini benar-benar mengesankan! Rasanya seperti memiliki kolam pribadi di tengah alam yang masih begitu asri.

Waktu terasa berjalan begitu cepat. Pukul 11.18 WIB, kami berkumpul untuk makan siang dengan perbekalan dari rumah—nasi uduk, mie goreng, dan nasi bakar—menjadi santapan lezat setelah lelah berenang. Kami saling berbagi makanan dan disitulah kami merasakan hangatnya persahabatan. Tak terasa, kabut mulai turun, pertanda hujan akan segera tiba. Setelah berfoto bersama untuk terakhir kalinya, hujan pun mengguyur. Kami harus menunggu reda sebelum kembali pulang, membawa kenangan indah yang  tak terlupakan.

Perjalanan ini mengajarkan kami banyak hal tentang kerja sama dan indahnya berbagi momen dengan sahabat. Curug Cibulao bukan hanya tentang keindahan alamnya, tapi juga tentang cerita perjalanan yang penuh warna dan tantangan yang menguatkan persahabatan kami.***

 

Azzahra Aulia Nur Alzena, Mahasiswi Komunikasi Digital dan Media,  Sekolah Vokasi IPB