Sunday, 5 April 2026
Home Blog Page 851

Perjalanan Seorang Mahasiswa Sofia Deannisa dalam Membangun Masa Depan Akuakultur

0

Bogordaily.net – Sofia Deannisa lahir di Kabupaten Sragen pada tanggal 4 Juli 2003. Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan di Sekolah Vokasi IPB University pada program studi Teknologi dan Manajemen Pembenihan Ikan. Keputusan Sofia untuk memilih program studi ini muncul dari kecintaannya terhadap alam, terutama dalam bidang pertanian, peternakan, dan perikanan. Ia meyakini bahwa bidang ini memiliki prospek kerja yang cerah di masa depan, dan dengan usaha kerasnya, ia berhasil lolos seleksi untuk menjadi mahasiswa di program studi tersebut.

Selama masa kuliahnya, Sofia menunjukkan prestasi akademik yang membanggakan. Ia memiliki ketertarikan khusus pada mata kuliah yang membahas mengenai pakan, kualitas air, dan penyakit ikan. Tidak hanya unggul dalam akademik, Sofia juga aktif dalam berbagai program pengembangan diri. Pada bulan Januari tahun 2024, ia berhasil lolos dalam program Mahasiswa Wirausaha yang memberikan pendanaan untuk memulai usaha bersama rekan-rekannya. Usaha tersebut merupakan usaha di bidang produksi dan budidaya ikan nila salin, yang bernama Batu Segara Abadi. Program Mahasiswa Wirausaha tersebut dilaksanakan hingga bulan Desember tahun 2024 dan menjadi awal dari pengembangan jiwa kewirausahaan Sofia.

Keberhasilan ini berlanjut ketika ia kembali mendapatkan pendanaan melalui Program Startup School, yang semakin memperkuat fondasi usahanya. Usaha yang diberi nama BSA Ornament Fish ini berfokus pada bidang produksi dan budidaya ikan hias. Melalui kedua usaha tersebut, Sofia tidak hanya memperluas wawasan di bidang akuakultur, tetapi juga mengasah keterampilan dalam dunia wirausaha.

Bagi Sofia, keberhasilan dapat dicapai dengan menanamkan niat pada diri sendiri. Ia meyakini bahwa apabila diri sendiri tidak bergerak, maka keberhasilan tersebut tidak akan tercapai. Tidak hanya niat dan tujuan yang kuat, tetapi juga dukungan dari lingkungan sekitar menjadi faktor penting dalam perjalanannya. Ia percaya bahwa kekuatan dari diri sendiri harus diiringi dengan dukungan teman-teman yang memiliki tujuan serupa. Selain itu, lingkungan yang positif juga menjadi salah satu kunci kesuksesannya dalam dunia akademik maupun wirausaha.

Sofia telah menjadi asisten dosen sejak tahun 2024. Ia menjadi asisten dosen pada mata kuliah Manajemen Pembenihan Ikan Hias, Ikan Air Tawar, dan mata kuliah Praktik Pengenalan Kehidupan Masyarakat Pembudidaya. Saat ini, Sofia sedang menjadi asisten dosen pada mata kuliah Komunikasi Perikanan Budidaya dan Wirausaha Akuakultur, yang sejalan dengan kegiatan usahanya. Pengalaman menjadi asisten dosen memberikan kesan tersendiri bagi Sofia, terutama ketika mahasiswa yang ia bimbing menunjukkan sikap apresiatif dan antusias dalam belajar. Hal ini menjadi salah satu momen paling berkesan selama perjalanannya di dunia akademik.

Selain kegiatan akademik dan wirausaha, Sofia juga aktif mengikuti pelatihan untuk terus mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya. Sofia memiliki cita-cita untuk bekerja di bidang riset dan pengembangan (Research and Development) karena minatnya yang besar dalam riset dan penelitian. Ia tertarik untuk mengembangkan inovasi dalam bidang akuakultur. Namun, ia juga membuka peluang untuk berkarir di bidang administrasi perkantoran atau bahkan melanjutkan pengembangan usahanya di masa depan. Meskipun ia bercita-cita untuk melanjutkan studi hingga jenjang S3, Sofia berencana untuk mengumpulkan pengalaman kerja terlebih dahulu sebelum melanjutkan pendidikannya.

Dengan semangat belajar yang tinggi, jiwa kewirausahaan yang kuat, dan dukungan lingkungan yang positif, Sofia Deannisa dapat melangkah maju dalam mewujudkan cita-citanya. Ia menjadi contoh inspiratif bagi mahasiswa lain untuk terus berusaha dan tidak mudah menyerah dalam meraih impian.***

 

Cinta Ing Larasati Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Profil Dr. Abung Supama Wijaya, Dosen Masa Kini yang Membangun Branding di Media Sosial

0

Bogordaily.net

“Saya merasa jadi dosen membuat saya lebih punya kendali atas hidup saya. Saya bisa bekerja sekeras mungkin atau seminimal mungkin, sesuai dengan ritme saya sendiri.” – Dr. Abung Supama Wijaya

Dosen biasanya dikenal dengan gaya pengajaran formal dan kaku. Namun, Dr. Abung Supama Wijaya, S.I.Kom., M.Si membuktikan bahwa dunia pendidikan bisa lebih fleksibel, dinamis, dan erat berkaitan dengan perkembangan digital. Lewat Instagram, ia tak hanya membagikan ilmu, tetapi juga merangkul mahasiswa dengan cara yang lebih fun dan relevan dengan masa kini. Saat ditanya apakah menjadi dosen adalah cita-citanya sejak kecil, Abung hanya tertawa. “Dulu saya nggak punya visi yang jelas. Saya jalan aja, tanpa tahu akhirnya bakal ke mana.” Ia baru benar-benar menemukan kecintaannya pada dunia komunikasi saat kuliah.

Ia menempuh pendidikan D3 Komunikasi di Sekolah Vokasi IPB (2005-2008), lalu melanjutkan S1 di Universitas Sebelas Maret (2008-2010), dan meraih gelar S2 serta S3 dalam bidang Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan di IPB. Semasa kuliah, Abung bukan tipe mahasiswa yang hanya fokus di kelas. Ia aktif di berbagai organisasi, mulai dari BEM Sekolah Vokasi hingga tim futsal. Namun, satu hal yang paling disukainya adalah dunia editing. “Saya bisa duduk berjam-jam ngedit tanpa sadar waktu, bisa sampai benar-benar lupa waktu dan sampai seharian nggak tidur,” kenangnya.

Sebelum menjadi dosen, Abung mencoba berbagai profesi. Ia pernah menjadi penyiar di Mars FM, radio berbasis Islam di Bogor, meski sering dibully karena salah menyebut nama. “Bayangin, penyiar Islami tapi sering salah ucap. Yaudah, saya anggap aja bagian dari proses belajar,” ujarnya santai. Ia juga sempat bekerja sebagai marketing di koran lokal dan menjadi penyiar di Ria FM Solo. Di Solo, dunia media semakin menarik minatnya. Namun, sebuah ajakan dari teman membuatnya kembali ke Bogor. “Awalnya saya pikir ini hanya sementara, tapi ternyata saya menemukan passion saya di sini,” ujarnya.

Sebagai dosen, Abung mengajarkan berbagai mata kuliah seperti Jurnalistik, Penulisan Kreatif, Fotografi Digital, Produksi Film dan Video, serta Editing Audio Visual. Ia juga aktif dalam penelitian dan memiliki fokus khusus pada Cyber Extension, konsep yang berhubungan dengan penyebaran informasi digital dalam konteks komunikasi pembangunan.

Salah satu proyek yang paling berkesan baginya adalah pembuatan film dokumenter tentang partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa. Dalam proyek ini, ia melatih anak-anak remaja di desa untuk membuat film yang menyampaikan pesan-pesan yang ingin mereka sampaikan. “Tidak semua orang bisa berbicara dengan lancar, tapi mereka bisa menyampaikan sesuatu lewat visual,” jelasnya.

Kebanyakan dosen mungkin memilih tidak aktif menggunakan sosial media, tapi tidak dengan Abung. Baginya, Instagram bukan hanya tempat berbagi momen, tapi juga alat untuk membangun personal branding dan yang lebih penting, menyimpan jejak hidupnya. Ia sering menerima tawaran mengajar karena orang melihat hasil karyanya di Instagram. Namun, alasan pribadinya lebih dari sekedar branding. “Saya lahir di tahun 1987 dan hanya punya satu foto saat bayi. Itulah kenapa saya ingin menyimpan semua kenangan hidup saya secara digital,” katanya.

Dalam menjalani kehidupannya, Abung memegang prinsip bahwa everyday is a competition. Ia selalu berusaha lebih cepat dan lebih unggul dibandingkan orang lain. Namun, ia juga memahami pentingnya mengetahui kapan harus menyerang dan kapan harus bertahan dalam persaingan.  Sebagai dosen, Abung selalu menekankan kepada mahasiswanya untuk mengeksplorasi banyak hal selama masa muda, bahkan jika itu berarti membuat kesalahan. “Setelah lulus, hidup itu jauh lebih menakutkan dan penuh penyesalan. Jadi, selama masih mahasiswa, habiskan waktu dengan mencoba banyak hal sampai gak punya waktu untuk menyesal,” pesannya.

Salah satu kebiasaannya yang unik adalah kegemarannya belanja online, terutama untuk membeli berbagai AI tools. “Saya sering beli AI dan belanja online di e-commerce yang kemudian saya sesali, tapi dari situ saya belajar dari penyesalan,” katanya sambil tertawa. Dengan perjalanan yang penuh warna, Dr. Abung Supama Wijaya terus menjadi sosok inspiratif di dunia komunikasi digital dan pendidikan, membuktikan bahwa menjadi dosen tidak harus kaku dan inovasi bisa datang dari mana saja.***

 

Kania Syifa Maulida J0401231136

Bu Nisa: Dari Keraguan hingga Menginspirasi di Dunia Pendidikan

0

Bogordaily.net – Dalam dunia pendidikan, terdapat sosok-sosok yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi, membimbing, dan menjadi teladan bagi mahasiswanya. Salah satunya adalah Lathifunnisa Fathonah, seorang dosen di Program Studi Teknologi Rekayasa Komputer, Sekolah Vokasi IPB University. Perjalanan hidupnya adalah bukti nyata bahwa ketekunan, kerja keras, serta keberanian menghadapi tantangan adalah kunci menuju kesuksesan.

Awal Kehidupan dan Pendidikan

Lahir di Bandung pada 6 Maret 1993, Lathifunnisa—atau yang akrab disapa Bu Nisa—menghabiskan masa kecil dan pendidikannya di Kota Kembang. Terlahir dalam keluarga pendidik, ia tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan nilai pentingnya ilmu sejak dini. Ibunya seorang guru, dan banyak anggota keluarganya yang berkecimpung di dunia pendidikan.

Dorongan serta arahan orang tua menjadi faktor utama dalam menentukan jalan hidupnya, terutama karena akses informasi di masanya belum semudah saat ini. Dengan dukungan keluarga, Bu Nisa melanjutkan pendidikan di Politeknik Negeri Bandung untuk jenjang D4, sebelum akhirnya meneruskan studi S2 di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan fokus pada Cybersecurity.

Tantangan Akademik dan Tekad Kuat

Perjalanan akademiknya tidak selalu mulus. Saat pertama kali masuk jurusan teknik elektronik, ia sempat merasa kurang cocok dan hampir menyerah. Matematika masih dapat ia kuasai, tetapi fisika menjadi tantangan besar baginya. Ia bahkan sempat mempertimbangkan untuk pindah jurusan. Namun, atas saran orang tua, ia mencoba bertahan satu semester lagi. Keputusan ini terbukti menjadi titik balik dalam hidupnya—dengan tekad yang kuat, ia akhirnya menemukan ketertarikan dalam bidangnya dan berhasil menguasainya.

Dari Dunia Industri ke Dunia Akademik

Sejak kecil, Bu Nisa bercita-cita menjadi pendidik. Saat kuliah, ia mulai mencari pengalaman mengajar dengan membantu dosen di almamaternya. Meskipun belum berstatus asisten dosen secara formal, ia kerap terlibat dalam kegiatan akademik yang memperkuat kecintaannya pada dunia pendidikan.

Namun, sebelum benar-benar terjun sebagai dosen, ia sempat menjajal dunia industri IT. Saat magang di salah satu perusahaan elektronik terbesar di Jakarta, ia membayangkan kehidupan profesional di industri akan menarik—berpakaian rapi, bekerja di kantor bergengsi—tetapi kenyataan berkata lain. Lingkungan industri yang lebih banyak berkutat dengan komputer dan jadwal yang ketat tidak sesuai dengan kepribadiannya yang ekstrovert. Dari pengalaman ini, ia semakin yakin bahwa menjadi dosen adalah jalan hidupnya.

Perjuangan Menjadi Dosen Tetap

Menjadi dosen bukan hanya sekadar mengajar di kelas dan memberikan tugas. Tanggung jawabnya jauh lebih besar—mengembangkan kurikulum, membangun relasi dengan industri, serta berkontribusi pada kemajuan institusi pendidikan.

Tantangan besar datang ketika ia harus mengikuti seleksi Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) untuk menjadi dosen tetap di Sekolah Vokasi IPB. Proses seleksi ini sangat ketat, dengan jumlah pendaftar mencapai ratusan orang, sementara yang diterima hanya segelintir.

Di tengah proses seleksi yang melelahkan, Bu Nisa juga harus menjalani perannya sebagai istri dan ibu, sembari tetap mengajar di universitas swasta. Hari-harinya diisi dengan belajar, mengajar, dan mengurus keluarga. Tidurnya hanya beberapa jam sehari, mengorbankan banyak waktu demi mengejar impiannya. Namun, kerja kerasnya membuahkan hasil—ia berhasil lolos seleksi dan resmi menjadi dosen di IPB, sebuah pencapaian yang sangat membanggakan.

Filosofi Mengajar dan Dedikasi

Bagi Bu Nisa, kepuasan terbesar bukanlah jabatan atau penghargaan, melainkan kesuksesan mahasiswanya. Melihat mahasiswa yang ia bimbing berhasil mendapatkan pekerjaan dan berkembang dalam karier mereka adalah kebanggaan yang tak ternilai.

Ia meyakini bahwa sikap lebih penting daripada kecerdasan semata. Mahasiswa bisa saja cerdas, tetapi tanpa attitude yang baik, mereka akan kesulitan berkembang. Oleh karena itu, ia selalu menekankan kepada mahasiswa bahwa selain belajar, mereka juga harus membangun komunikasi yang baik dengan dosen dan lingkungan sekitar.

Menurutnya, dosen bukanlah sosok yang paling pintar, tetapi mereka memiliki pengalaman akademik dan profesional yang sangat berharga untuk dipelajari. Ia pun menyayangkan bahwa di era digital ini, banyak mahasiswa lebih mengandalkan internet daripada berdiskusi langsung dengan dosen mereka. Padahal, meskipun informasi bisa dengan mudah diperoleh secara online, ada banyak pelajaran kehidupan yang hanya bisa didapatkan melalui interaksi langsung dengan pendidik.

Visi Masa Depan

Meskipun telah mencapai banyak hal, Bu Nisa tidak ingin berhenti berkembang. Ia ingin terus berkontribusi, tidak hanya bagi kampusnya, tetapi juga bagi bangsa dan negara. Baginya, menjadi dosen bukan hanya soal mengajar, tetapi juga tentang memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.

Kisah Bu Nisa adalah bukti bahwa kesuksesan tidak datang dengan mudah. Namun, dengan kerja keras, ketekunan, dan semangat untuk terus belajar, setiap orang bisa mencapai impiannya. Ia tidak hanya menjadi seorang dosen, tetapi juga panutan dan inspirasi bagi banyak mahasiswa yang ia bimbing.***

 

Muhammad Fadlhy Fajarsyach, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Serunya Mendaki Gunung Papandayan Sambil Syuting

0

Bogordaily.net – Gunung Papandayan di Garut, Jawa Barat, dikenal dengan pemandangan kawah berasap, padang edelweiss, serta jalur pendakian yang cukup bersahabat. Namun, bagaimana rasanya mendaki gunung ini sambil membawa kamera dan merekam setiap momen? Inilah pengalaman seru mendaki Gunung Papandayan sekaligus menjalankan syuting.

Perjalanan Menuju Papandayan

Perjalanan dimulai dari Bekasi menuju Garut, yang memakan waktu beberapa jam. Setelah tiba di penginapan, saya dan tim langsung melakukan briefing, menyiapkan konsep syuting, serta memastikan semua peralatan siap.

Keesokan harinya, pukul 04.00 pagi, kami sudah bersiap menuju titik awal pendakian. Udara dingin menyambut, dan kami memulai perjalanan dengan membawa kamera serta peralatan lainnya. Mendaki dengan membawa perlengkapan syuting tentu bukan hal mudah. Jalur berbatu dan menanjak menjadi tantangan tersendiri, terlebih saat harus tetap menjaga stabilitas kamera untuk mendapatkan footage terbaik.

Keindahan dan Tantangan di Gunung Papandayan

Papandayan menyajikan pemandangan yang luar biasa. Kawahnya yang mengepulkan asap putih memberikan kesan dramatis, meskipun asap belerang cukup mengganggu dan berisiko merusak lensa kamera. Kami harus sering membersihkan peralatan dan memakai masker agar tetap nyaman.

Selain kawah, spot favorit lainnya adalah Hutan Mati, area dengan pohon-pohon kering yang menciptakan lanskap unik dan fotogenik. Saat merekam di sini, cahaya pagi menciptakan efek yang sangat menarik dalam video.

Angin kencang menjadi tantangan lain, terutama saat menggunakan drone. Beberapa kali kami kesulitan menjaga kestabilannya, tetapi dengan sedikit penyesuaian, kami tetap berhasil mendapatkan footage udara yang diinginkan.

Tips Mendaki Sambil Membawa Kamera

  1. Gunakan perlengkapan yang ringkas – Pilih kamera ringan dan stabilizer yang praktis agar tidak menghambat pergerakan.
  2. Siapkan perlindungan kamera – Gunakan kantong anti-air dan lap pembersih untuk melindungi dari debu dan asap belerang.
  3. Perhatikan pencahayaan alami – Waktu terbaik untuk merekam adalah pagi atau sore saat cahaya lebih lembut.
  4. Selalu prioritaskan keselamatan – Jangan terlalu fokus pada pengambilan gambar hingga mengabaikan kondisi jalur pendakian.

Akses dan Biaya

  • Lokasi: Kecamatan Cisurupan, Garut, Jawa Barat
  • Tiket masuk: Rp20.000 – Rp30.000 (tergantung hari biasa/libur)
  • Transportasi: Dari Bandung/Garut bisa naik angkutan umum ke Terminal Guntur, lalu lanjut dengan ojek atau kendaraan sewaan
  • Waktu terbaik berkunjung: April – Oktober (musim kemarau)

Kesimpulan

Mendaki Gunung Papandayan sambil melakukan syuting adalah pengalaman yang menantang, tetapi juga sangat memuaskan. Selain menikmati keindahan alam, saya belajar banyak tentang bagaimana mengabadikan momen dalam kondisi yang tidak selalu ideal. Jika Anda pecinta alam dan fotografi, Gunung Papandayan adalah destinasi yang wajib dikunjungi!***

 

Muhammad Fadlhy Fajarsyach, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB 

 

 

Meeting Online Terus? Saatnya Pahami Strategi Komunikasi yang Lebih Efektif!

0

Cara Cerdas Berkomunikasi di Era Kerja Hybrid

Pernah merasa kelelahan karena terlalu banyak meeting online? Atau justru bingung kapan harus membalas pesan di grup kerja? Di era kerja hybrid, komunikasi yang efektif menjadi kunci keberhasilan tim. Studi dari McKinsey & Company (2021) menunjukkan bahwa organisasi dengan komunikasi yang baik dapat meningkatkan produktivitas hingga 25 persen. Namun, dengan banyaknya pilihan teknologi komunikasi, tim seringkali kesulitan menentukan metode yang paling efektif. Oleh karena itu, penting untuk memahami dua jenis komunikasi utama dalam kerja tim, yaitu komunikasi sinkronus dan asinkronus, serta cara mengoptimalkannya agar kolaborasi lebih efisien.

Memahami Komunikasi Sinkronus dalam Kolaborasi Tim

Komunikasi sinkronus adalah komunikasi yang terjadi secara langsung dan real-time, seperti dalam rapat Zoom, panggilan telepon, atau chat langsung. Komunikasi jenis ini memungkinkan interaksi cepat dan responsif, yang sangat berguna dalam pengambilan keputusan dan sesi brainstorming. Selain itu, komunikasi sinkronus juga membantu membangun hubungan interpersonal yang lebih erat di dalam tim. Namun, metode ini juga memiliki kekurangan, seperti risiko kelelahan akibat terlalu banyak rapat daring serta kesulitan menyamakan jadwal antaranggota tim.

Komunikasi Asinkronus dan Fleksibilitas dalam Bekerja

Sebaliknya, komunikasi asinkronus tidak memerlukan respons secara langsung dan dapat dilakukan dalam rentang waktu yang lebih fleksibel. Contohnya termasuk email, pesan di WhatsApp, atau diskusi melalui forum daring. Komunikasi ini lebih cocok untuk tugas yang membutuhkan refleksi mendalam dan dokumentasi yang jelas. Keunggulan utamanya adalah fleksibilitas waktu, memungkinkan anggota tim bekerja sesuai ritme mereka sendiri tanpa tekanan untuk merespons secara instan. Namun, komunikasi asinkronus juga memiliki tantangan, seperti potensi keterlambatan dalam respons dan kurangnya interaksi langsung yang dapat memperlambat proses kerja.

Menentukan Kapan Harus Menggunakan Komunikasi Sinkronus dan Asinkronus

Dalam praktiknya, memilih antara komunikasi sinkronus dan asinkronus bergantung pada kebutuhan tim dan jenis tugas yang sedang dijalankan. Komunikasi sinkronus lebih efektif untuk situasi yang membutuhkan keputusan cepat, seperti saat menangani krisis atau diskusi kompleks yang memerlukan ide-ide baru. Sementara itu, komunikasi asinkronus lebih tepat digunakan saat tim bekerja di zona waktu berbeda, ketika tugas membutuhkan pemikiran mendalam, atau saat ingin menghindari terlalu banyak rapat yang dapat menurunkan produktivitas.

Strategi Mengoptimalkan Komunikasi dalam Tim

Agar komunikasi dalam tim semakin optimal, beberapa strategi dapat diterapkan:

  1. Menyesuaikan metode komunikasi dengan kebutuhan tim dan proyek. Tim perlu memiliki pedoman jelas kapan harus menggunakan komunikasi sinkronus dan kapan cukup mengandalkan komunikasi asinkronus.
  2. Memanfaatkan teknologi pendukung. Penggunaan platform seperti Slack, Microsoft Teams, Notion, dan Google Drive dapat membantu mengelola komunikasi lebih efisien.
  3. Menghindari komunikasi berlebihan. Batasi jumlah rapat untuk mencegah kelelahan digital (Zoom fatigue) dan sediakan opsi komunikasi alternatif yang lebih fleksibel.
  4. Menetapkan kebijakan komunikasi yang jelas. Misalnya, pertemuan mingguan dilakukan secara sinkronus, sementara pembaruan harian cukup melalui komunikasi asinkronus.

Di era kerja hybrid, tidak ada satu metode komunikasi yang cocok untuk semua situasi. Keseimbangan antara komunikasi sinkronus dan asinkronus menjadi kunci dalam meningkatkan produktivitas dan kenyamanan kerja. Dengan strategi yang tepat, tim dapat bekerja lebih efisien tanpa terbebani oleh komunikasi yang berlebihan. Saatnya menerapkan strategi komunikasi yang lebih cerdas agar kolaborasi semakin optimal!***

 

Kania Syifa Maulida,                                                                                                    Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Menjaga Alam, Merangkul Manusia: Ekowisata Indonesia Lebih Dari Sekedar Tempat Bertamasya

0

Bogordaily.net – Bagi Dyah Prabandari, SP, M.Si, ekowisata bukan sekadar perjalanan menikmati keindahan alam, tetapi juga ruang bagi pemberdayaan masyarakat dan inklusivitas. Sebagai akademisi dan peneliti, ia telah menghabiskan bertahun-tahun mendalami bagaimana ekowisata dapat berkembang tanpa meninggalkan aspek sosial dan lingkungan.

Dari Sosial Ekonomi ke Ekowisata

Lahir di Banyuwangi pada 9 September 1977, Dyah menempuh pendidikan sarjana di Institut Pertanian Bogor (IPB), mengambil jurusan Sosial Ekonomi Pertanian yang kini dikenal sebagai Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM). Ketertarikannya terhadap interaksi sosial dan pembangunan masyarakat mendorongnya untuk melanjutkan studi magister di bidang Manajemen Ekowisata dan Jasa Lingkungan di Fakultas Kehutanan IPB.

Meskipun berasal dari disiplin sosial ekonomi, Dyah melihat ekowisata sebagai bidang yang luas dan multidisiplin. Ia tertarik pada bagaimana ekowisata tidak hanya menyangkut aspek lingkungan, tetapi juga ekonomi, budaya, serta pengalaman pengunjung. Baginya, pendekatan sosial menjadi kunci agar masyarakat dapat berperan aktif dalam mengelola wisata berbasis lingkungan.

Mengajar dan Meneliti Ekowisata Inklusif

Sebagai dosen di IPB University, Dyah Prabandari telah menekuni dunia akademik selama bertahun-tahun, memulai kariernya sebagai asisten dosen sebelum akhirnya menjadi tenaga pengajar tetap. Selain mengajar, ia juga aktif dalam berbagai penelitian dan proyek akademik di bidang ekowisata, salah satunya melalui program Dosen Pulang Kampung: Implementasi Permainan Rekreasi Virtual Pada Lansia Dalam Mencegah Demensia (2024).

Sesuai dengan namanya, Dyah bersama beberapa dosen ekowisata IPB, berkontribusi dalam penelitian yang berkaitan dengan rekreasi bagi kelompok lansia, tepatnya di Panti Sosial Wredha Budi Pertiwi, Kota Bandung, Jawa Barat. Program ini bertujuan untuk membantu mencegah demensia melalui berbagai aktivitas kognitif. Dalam kegiatan ini, lansia diajak untuk mengikuti virtual tour, permainan ingatan, serta aktivitas motorik yang dirancang untuk merangsang daya pikir dan meningkatkan kesejahteraan mereka.

Tantangan Ekowisata di Indonesia

Dalam pandangan Dyah, perkembangan ekowisata di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam hal fasilitas bagi penyandang disabilitas. Minimnya aksesibilitas fisik, informasi dalam format braille atau audio untuk tunanetra, serta petunjuk visual yang lebih ramah masih menjadi hambatan bagi wisatawan berkebutuhan khusus.

Ia menekankan bahwa kesadaran dan komitmen pengelola wisata sangat dibutuhkan untuk menciptakan destinasi yang lebih inklusif. Menurutnya, ekowisata yang ramah bagi semua kalangan tidak hanya akan meningkatkan pengalaman wisata, tetapi juga memperluas jangkauan wisatawan.

Misi ke Depan: Mewujudkan Ekowisata yang Lebih Ramah dan Berkelanjutan

Ke depan, Dyah berharap dapat terus berkontribusi dalam dunia akademik dan penelitian di bidang ekowisata. Fokusnya tidak hanya pada pengembangan destinasi wisata, tetapi juga bagaimana wisata bisa menjadi lebih inklusif bagi semua orang, termasuk lansia dan penyandang disabilitas.

Melalui riset dan kolaborasi yang lebih luas, ia ingin melihat lebih banyak destinasi di Indonesia yang menyediakan fasilitas ramah bagi kelompok berkebutuhan khusus. Mulai dari jalur khusus, ruang baca braille, hingga sistem informasi audio-visual yang mendukung pengalaman wisata yang lebih nyaman dan aman.

“Ekowisata itu bukan hanya tempat wisata dengan alam saja, tetapi harus bisa memberdayakan sumber daya manusia yang ada di daerah tersebut dan menciptakan pengalaman wisata yang inklusif bagi semua kalangan,” tutupnya.***

 

Michelia Aisha Rangkuti, Mahasiswa Sekolah Vokasi IPB

Ketika Transportasi Publik Tak Lagi Milik Semua Orang

0

Oleh: Michelia Aisha Rangkuti, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

PT KAI Commuter baru saja mengumumkan kebijakan drastis mereka untuk menutup seluruh loket tiket di stasiun dan sepenuhnya beralih ke sistem pembayaran digital berbasis QRIS. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya transformasi digital guna meningkatkan efisiensi, mempercepat layanan, dan memberikan kenyamanan lebih bagi penumpang. Namun, di balik janji kemudahan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah kebijakan ini benar-benar mengakomodasi kebutuhan semua pengguna? Atau justru berisiko menimbulkan ketimpangan akses bagi masyarakat yang belum siap dengan digitalisasi penuh dalam transportasi umum?

Kemajuan Teknologi Seharusnya Tidak Mengorbankan Kelompok Rentan

Dalam era digital, inovasi dan teknologi memang menjadi kebutuhan yang tak terelakkan. Namun, kemajuan seharusnya tidak menghilangkan layanan konvensional yang masih dibutuhkan oleh sebagian masyarakat. Mengedepankan teknologi bukan berarti menghapus opsi yang sudah ada, melainkan harus menciptakan ekosistem yang lebih inklusif, di mana teknologi dan metode lama dapat berjalan beriringan serta saling melengkapi.

Menghapus loket tiket di stasiun berpotensi menyulitkan berbagai kelompok masyarakat, seperti lansia yang tidak familiar dengan teknologi, masyarakat ekonomi ke bawah yang tidak memiliki smartphone, serta anak-anak sekolah yang belum memiliki perangkat pribadi. Lalu, bagaimana dengan wisatawan asing atau masyarakat dari daerah terpencil yang masih terbiasa dengan pembayaran tunai? Transportasi umum seharusnya menjadi alat mobilitas bagi semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali, bukan hanya mereka yang melek digital dan memiliki akses teknologi.

Digitalisasi atau Pengurangan Biaya Operasional?

Kebijakan ini juga menimbulkan prasangka  bahwa alasan sebenarnya bukan hanya transformasi digital, tetapi juga penghematan anggaran. Dengan menutup loket tiket, PT KAI Commuter dapat memangkas biaya operasional dengan mengurangi jumlah pegawai yang harus digaji. Ini mungkin tampak efisien dari segi bisnis, tetapi apakah keputusan ini mempertimbangkan dampaknya terhadap kesejahteraan pegawai dan kenyamanan penumpang?

Tak hanya itu, muncul beberapa opini dari pihak yang berspekulasi bahwa langkah ini berkaitan dengan kebijakan pemerintah dalam mengalihkan anggaran untuk program lain, seperti program makan siang gratis yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo. Jika benar, maka kebijakan ini berisiko menjadikan transportasi umum sebagai korban pemangkasan anggaran tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya terhadap pelayanan publik.

Memadukan Digitalisasi dengan Aksesibilitas

Jika PT KAI Commuter benar-benar ingin melakukan transformasi digital yang berkelanjutan dan inklusif, mereka seharusnya mempertimbangkan alternatif yang lebih ramah bagi semua pengguna. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah menyediakan mesin tiket yang menerima pembayaran tunai maupun digital. Dengan cara ini, transisi menuju digitalisasi tetap dapat berjalan tanpa langsung menghilangkan opsi pembelian tiket secara konvensional.

Selain itu, peran petugas stasiun juga harus ditingkatkan untuk membantu mereka yang belum terbiasa dengan sistem digital. Jangan sampai kebijakan ini justru membuat PT KAI lepas tangan dari tanggung jawabnya dalam memberikan layanan transportasi yang inklusif. Jika alasan utama penghapusan loket adalah untuk menghindari pengeluaran biaya pegawai, mengapa tidak mengalokasikan anggaran untuk pengadaan mesin tiket dan melatih petugas stasiun agar bisa membantu masyarakat yang kesulitan menggunakan sistem baru ini?

Serba Digital, bukan Serba Sulit!

Transportasi umum bukan sekadar alat mobilitas, tetapi juga sarana yang mencerminkan inklusivitas dan keadilan sosial. Kebijakan digitalisasi yang dilakukan secara tergesa-gesa tanpa mempertimbangkan kelompok yang kurang mampu akan menciptakan kesenjangan baru dalam akses transportasi. Inovasi memang penting, tetapi harus diiringi dengan perencanaan yang matang serta mempertimbangkan seluruh elemen masyarakat.

PT KAI Commuter perlu memahami bahwa tidak semua pengguna siap dengan transisi ini. Digitalisasi seharusnya memberikan kemudahan, bukan menambah hambatan bagi kelompok masyarakat tertentu. Jika benar kebijakan ini dibuat semata-mata demi penghematan anggaran atau alasan politis, maka publik berhak mempertanyakan siapa yang sebenarnya diuntungkan dari perubahan ini. Transportasi umum harus tetap menjadi fasilitas yang bisa digunakan oleh semua orang, tanpa terkecuali.***

 

Tersesat di Warisan Dunia: Candi Borobudur dan Petualangan Tak Terduga

0

Bogordaily.net – Cerita ini mengambil latar waktu saat saya masih duduk di bangku SMA dulu, tepatnya, saat saya telah berhasil menyelesaikan Ujian Akhir Semester di kelas 2. Keluarga saya sudah merencanakan perjalanan ini jauh-jauh hari, dan destinasi yang kami pilih kali ini adalah Candi Borobudur, salah satu keajaiban dunia yang selalu ingin saya kunjungi. Perjalanan ini terasa begitu spesial karena ini akan menjadi  kali pertama saya menginjakkan kaki di sana.

Perjalanan menuju Borobudur dimulai dari kampung halaman kami di Medan. Kami memilih perjalanan darat dengan mobil, sebuah keputusan yang disepakati dengan alasan bisa lebih santai menikmati perjalanan. Namun, siapa sangka perjalanan ini menjadi tantangan tersendiri? Medan menuju Yogyakarta bukanlah jarak yang bisa ditempuh dalam sekejap mata. Berhari-hari di dalam mobil, melewati jalanan yang tak selalu bersahabat, ditambah adik saya yang terus bertanya “kapan sampai?” setiap beberapa jam sekali, membuat perjalanan ini terasa seperti tidak ada ujungnya.

Kami melintasi kota-kota yang sebelumnya hanya saya kenal lewat peta—Pekanbaru, Jambi, Palembang, hingga akhirnya masuk ke Pulau Jawa melalui kapal feri. Saya sudah mengira perjalanan darat ini akan membosankan, tetapi ternyata setiap daerah yang kami lalui menawarkan kejutan tersendiri. Ada makanan khas yang mencuri perhatian, seperti pempek di Palembang yang nikmatnya tak tertandingi. Ada juga pengalaman hampir tersesat di jalan tol yang sepi, gara-gara GPS memutuskan untuk mati mendadak.

Begitu memasuki Jawa Tengah, suasana mulai terasa berbeda. Pepohonan hijau yang membingkai jalanan, langit yang lebih biru, serta udara yang sedikit lebih sejuk menyambut. Kami tiba di Yogyakarta menjelang malam, tubuh terasa remuk setelah perjalanan panjang. Tetapi semangat kami tetap utuh, terutama karena keesokan harinya, petualangan di Borobudur menanti.

Sesampainya di kompleks Candi Borobudur, cuaca siang yang cukup terik langsung menyapa kami. Saya menatap megahnya struktur candi dari kejauhan, terpana oleh keindahannya yang selama ini hanya bisa saya lihat lewat buku dan layar ponsel. Setelah membeli tiket, kami pun masuk ke area wisata dan mulai menaiki tangga menuju candi.

Saat pertama kali melangkah ke pelataran candi, saya tak bisa menyembunyikan kekaguman saya. Struktur batu bertingkat yang dihiasi relief bercerita tentang kehidupan Buddha terasa begitu sakral. Langkah demi langkah, saya menyusuri lorong-lorong yang dipenuhi ukiran detail, mencoba memahami kisah-kisah yang terpahat di dinding. Rasa penasaran saya semakin membuncah, ingin mengetahui lebih dalam makna di balik setiap pahatan yang ada.

Namun, perhatian saya tak hanya tertuju pada keindahan candi. Adik saya, yang penuh semangat dan kebanyakan energi, tiba-tiba memutuskan untuk memanjat tangga ke atas candi dengan cepat. Saya yang awalnya sibuk mengambil foto, baru menyadari kelakuannya saat ia sudah beberapa tingkat di atas saya. Panik, saya pun segera mengejarnya.

Tantangan mulai muncul saat kami naik semakin tinggi. Lorong-lorong yang awalnya ramai kini terasa sepi, hanya ada suara napas kami yang terengah-engah. Saya semakin cemas karena HP saya kehilangan sinyal. Bagaimana jika kami benar-benar tersesat di antara stupa-stupa raksasa ini? Apalagi ini adalah kali pertama saya ke sini.

Di puncak candi, saya berhasil meraih tangan adik saya. “Jangan lari sembarangan!” tegur saya dengan suara setengah meninggi. Namun, melihat senyum polosnya yang seolah tidak terpengaruh dengan marah saya, saya hanya bisa menghela napas panjang. Kami duduk sejenak di dekat stupa terbesar, memandangi hamparan hijau di kejauhan. Pemandangan itu begitu menenangkan, meski di dalam hati saya masih diliputi kekhawatiran karena terpisah dari keluarga.

Dengan hati-hati, saya mengajak adik saya turun. Setiap langkah terasa mendebarkan, apalagi saat melewati wisatawan lain yang kebanyakan berasal dari luar negeri. Setelah beberapa menit berjalan, kami akhirnya sampai di tangga utama. Saya dan adik saya memutuskan untuk menunggu keluarga di sana, berharap mereka akan segera menyusul dan menemukan kami.

Waktu terasa berjalan begitu lambat. Matahari mulai terasa lebih terik, dan saya hanya bisa mengamati pengunjung lain yang berlalu-lalang dengan degup jantung yang semakin menderu sarat akan cemas. Namun, tak sampai 30 menit kemudian, suara ibu memanggil nama kami terdengar dari kejauhan. Rasa lega menyelimuti saya saat akhirnya kami bertemu kembali.

Setelah peristiwa yang cukup mendebarkan itu, kami sekeluarga memutuskan untuk menutup perjalanan dengan makan bersama di sebuah restoran seafood yang terkenal di daerah Magelang. Aroma ikan bakar dan udang goreng tepung memenuhi udara, membuat perut yang sejak tadi kosong semakin keroncongan. Saat makanan tersaji, kami pun menikmati hidangan sambil tertawa-tawa membahas kejadian di candi tadi. Saya bisa melihat wajah lega di mata ibu dan ayah, serta wajah polos adik saya yang tampak puas dengan petualangannya hari ini.

Hari itu, saya bukan hanya menikmati keindahan Candi Borobudur, tetapi juga mengalami petualangan yang tak terduga. Sebuah pengalaman yang mendebarkan, sekaligus mengajarkan banyak hal dan akan terus saya kenang dalam ingatan.***

 

Michelia Aisha Rangkuti – Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi

 

 

Masa Muda dalam Sorotan: Analisis Komunikasi dalam Trilogi The Most Beautiful Moment in Life BTS

0

Oleh: Michelia Aisha Rangkuti, Mahasiswa Sekolah Vokasi IPB

Album trilogi The Most Beautiful Moment in Life (Hwa Yang Yeon Hwa atau HYYH) bukan sekadar karya musik biasa dari BTS. Lebih dari itu, album ini menjadi narasi emosional yang menggambarkan perjalanan masa muda yang penuh dengan tantangan, ketidakpastian, dan pencarian jati diri. Melalui lirik, video musik, dan BTS Universe (BU), BigHit Entertainment merancang komunikasi yang kompleks untuk menyampaikan kisah persahabatan, trauma, dan harapan.

Dalam artikel ini, kita akan mengupas bagaimana unsur komunikasi hadir dalam album ini, serta bagaimana BTS dan BigHit memanfaatkan berbagai medium komunikasi untuk menyampaikan pesan kepada penggemar.

Komunikasi sebagai Jembatan Emosi dalam HYYH

Komunikasi tidak hanya terbatas pada bahasa verbal, tetapi juga mencakup berbagai bentuk ekspresi, termasuk musik, visual, dan narasi non-linear yang diterapkan dalam BTS Universe. Dalam konteks album HYYH, terdapat beberapa unsur komunikasi yang dapat dianalisis:

  1. Komunikasi Naratif melalui Musik dan Lirik
    Setiap lagu dalam trilogi HYYH menyampaikan pesan emosional melalui liriknya. Misalnya, dalam lagu I Need U, liriknya menggambarkan perjuangan seseorang yang terjebak dalam rasa sakit emosional:

    “Say something to me / Even if it’s a lie, make me breathe.” (I Need U, BTS, 2015).

    Lirik ini menunjukkan bagaimana komunikasi verbal dapat menjadi alat yang menyelamatkan seseorang dari keputusasaan. Dalam komunikasi interpersonal, kata-kata memiliki kekuatan untuk membangun atau menghancurkan emosi seseorang (Wood, 2015).

  2. Komunikasi Visual dalam Video Musik dan BTS Universe
    BigHit menggunakan BTS Universe sebagai medium komunikasi non-verbal untuk menyampaikan kisah yang lebih dalam. Video musik seperti Run dan Butterfly menggunakan simbolisme visual untuk menggambarkan perasaan karakter. Adegan coret-coret tembok dalam Run adalah bentuk komunikasi ekspresif, di mana remaja sering menggunakan simbol-simbol untuk menyuarakan keresahan mereka (Ekman & Friesen, 1969).
  3. Komunikasi Massa melalui Fan Theories dan Media Sosial
    Salah satu kekuatan utama album ini adalah bagaimana penggemar berinteraksi dengan cerita melalui teori yang mereka buat. Interaksi ini menunjukkan konsep participatory culture (Jenkins, 2006), di mana audiens tidak hanya menjadi penerima pesan, tetapi juga ikut serta dalam membentuk makna dari karya tersebut. Dengan berbagi teori di Twitter dan YouTube, penggemar berperan sebagai co-creator dalam narasi HYYH.

Menghadapi Isu Sensitif melalui Komunikasi Media

Salah satu aspek yang membuat HYYH unik adalah keberaniannya mengangkat isu-isu sensitif seperti kekerasan, bunuh diri, dan kesehatan mental. Dalam komunikasi massa, terdapat prinsip bahwa media dapat berfungsi sebagai agenda setter(McCombs & Shaw, 1972), di mana mereka menentukan topik yang akan menjadi perhatian publik.

BigHit dan BTS, melalui HYYH, menempatkan isu kesehatan mental sebagai bagian dari narasi utama, berbeda dari tren industri K-pop yang cenderung menghindari tema berat demi citra yang lebih ringan dan ceria. Dengan demikian, album ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium komunikasi yang mendorong diskusi sosial yang lebih luas.

Kesimpulan

Trilogi HYYH bukan hanya tentang musik, tetapi juga tentang bagaimana komunikasi dibangun melalui berbagai medium: lirik lagu, visual dalam video musik, serta interaksi penggemar melalui media sosial. Keberhasilan BTS dalam menyampaikan pesan melalui berbagai elemen ini menunjukkan bagaimana komunikasi dapat membangun ikatan emosional yang kuat antara artis dan audiensnya.

Sebagai penggemar atau pendengar kasual, memahami komunikasi dalam album ini memungkinkan kita untuk lebih menghargai kedalaman pesan yang disampaikan. Seperti yang dinyatakan dalam Young Forever, meskipun perjalanan masa muda penuh dengan luka dan air mata, komunikasi yang tepat dapat menjadi jembatan untuk memahami dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik.

Apakah Media Sosial Masih Efektif untuk Komunikasi atau Sekadar Ajang Distorsi Informasi?

0

Oleh: Muhammad Fadlhy Fajarsyach, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB 

Media sosial awalnya dirancang untuk menghubungkan manusia. Platform seperti Facebook, Twitter (sekarang X), Instagram, dan TikTok memungkinkan orang berkomunikasi dengan cepat dan tanpa batas. Informasi yang dulunya sulit diakses kini hanya sejauh ketukan jari.

Namun, seiring berjalannya waktu, media sosial mengalami pergeseran fungsi. Alih-alih menjadi alat komunikasi yang sehat, platform ini kini lebih sering digunakan sebagai medan pertempuran opini, tempat penyebaran misinformasi, dan sumber kecemasan digital. Algoritma media sosial semakin mendorong konten yang memancing emosi, bukan yang memberikan wawasan.

Lalu, di tengah arus informasi yang serba cepat dan penuh bias ini, masih efektifkah media sosial sebagai alat komunikasi? Atau justru semakin memperburuk kualitas interaksi kita?

Manfaat Media Sosial dalam Komunikasi

Tidak bisa dimungkiri, media sosial tetap memiliki manfaat besar dalam komunikasi modern. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Mempermudah Akses Informasi dan Interaksi

Dengan media sosial, kita bisa terhubung dengan teman, keluarga, atau kolega yang berada jauh. Grup komunitas berbasis hobi, pekerjaan, atau kepentingan tertentu juga memudahkan orang-orang dengan minat yang sama untuk berdiskusi dan berbagi wawasan.

  1. Komunikasi Cepat dan Global

Dulu, berbagi informasi penting membutuhkan waktu berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Kini, dengan satu unggahan, pesan bisa tersebar ke seluruh dunia dalam hitungan detik. Ini sangat membantu dalam situasi darurat atau kampanye sosial yang membutuhkan perhatian cepat.

  1. Kebebasan Berekspresi dan Partisipasi Publik

Media sosial memberi kesempatan bagi individu untuk menyuarakan opini mereka. Isu-isu yang sebelumnya jarang dibahas di media arus utama kini mendapatkan ruang lebih besar, mulai dari hak asasi manusia, perubahan iklim, hingga politik.

Namun, manfaat ini juga memiliki sisi gelap yang tidak bisa diabaikan.

Dampak Negatif Media Sosial

Di balik manfaatnya, media sosial juga menjadi ladang berbagai permasalahan komunikasi, seperti:

  1. Hoaks dan Misinformasi yang Sulit Dikendalikan

Salah satu tantangan terbesar dalam komunikasi digital adalah penyebaran berita palsu. Informasi yang menarik perhatian sering kali lebih viral daripada yang berbasis fakta. Akibatnya, banyak orang termakan hoaks dan sulit membedakan antara informasi valid dan manipulatif.

  1. Algoritma yang Mempolarisasi Opini

Platform media sosial didesain untuk mempertahankan keterlibatan pengguna selama mungkin. Untuk itu, algoritma seringkali menampilkan konten yang sesuai dengan preferensi pengguna, menciptakan echo chamber—situasi di mana seseorang hanya terpapar opini yang serupa dengan pandangannya sendiri.

Akibatnya, banyak orang menjadi lebih radikal dalam berpikir karena mereka hanya mendapatkan perspektif yang mendukung keyakinan mereka, tanpa melihat sisi lain dari sebuah isu.

  1. Gangguan Kesehatan Mental dan Overload Informasi

Terlalu banyak mengonsumsi media sosial dapat menyebabkan kecemasan, stres, dan perasaan tidak cukup baik dibandingkan dengan orang lain. Selain itu, arus informasi yang berlebihan membuat otak kita lelah, sulit berkonsentrasi, dan bahkan rentan terhadap kecanduan digital.

Lantas, bagaimana kita bisa tetap menggunakan media sosial tanpa terjebak dalam dampak negatifnya?

Bagaimana Menggunakan Media Sosial dengan Bijak?

Agar media sosial tetap menjadi alat komunikasi yang sehat, ada beberapa langkah yang bisa diambil:

  1. Verifikasi Informasi Sebelum Membagikan

Jangan mudah percaya pada berita yang provokatif. Gunakan sumber terpercaya dan cek ulang kebenaran informasi sebelum menyebarkannya.

  1. Kurangi Konsumsi Konten Negatif

Cobalah untuk mengikuti akun yang memberikan informasi positif dan edukatif, bukan yang hanya memicu emosi atau kontroversi.

  1. Batasi Waktu Bermedia Sosial

Terlalu lama berada di media sosial bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental. Menentukan batasan waktu harian dapat membantu mengurangi stres digital.

  1. Sadar akan Peran Algoritma

Sadari bahwa apa yang muncul di linimasa Anda sudah dikurasi oleh algoritma berdasarkan interaksi sebelumnya. Jangan ragu untuk mencari perspektif lain agar tidak terjebak dalam bubble filter.

Kesimpulan

Media sosial adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, ia adalah alat komunikasi yang luar biasa, memungkinkan kita untuk terhubung dengan siapa saja dan mendapatkan informasi dengan cepat. Namun, di sisi lain, ia juga menjadi sumber polarisasi opini, hoaks, dan gangguan kesehatan mental.

Jadi, apakah media sosial masih efektif untuk komunikasi? Jawabannya tergantung pada bagaimana kita menggunakannya. Jika kita mampu bersikap kritis, mengelola konsumsi informasi dengan baik, dan tidak membiarkan diri terjebak dalam arus manipulatif algoritma, media sosial tetap bisa menjadi alat komunikasi yang bermanfaat. Namun, jika kita hanya menjadi konsumen pasif yang termakan oleh arus misinformasi, mungkin sudah saatnya kita mulai mempertanyakan efektivitasnya dalam kehidupan sehari-hari.***