Saturday, 4 April 2026
Home Blog Page 850

Kontroversi Karya Seni AI: Inovasi atau Ancaman?

0

 

Oleh: Kania Syifa Maulida Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Di era digital, hampir semua hal sudah berubah. Mau belanja? Tinggal buka e-commerce. Mau bayar? Scan QRIS aja. Teknologi bikin semuanya jadi lebih praktis. Tapi, di tengah segala kemudahan ini, muncul pertanyaan: apakah semua hal harus didigitalisasi?

Pertanyaan ini jadi makin relevan saat kita ngomongin dunia seni. Seni selama ini dianggap sebagai ekspresi manusia. Emosi, kreativitas, dan pengalaman yang dituangkan dalam bentuk visual, musik, atau tulisan. Tapi sekarang, kecerdasan buatan alias Artificial Intelligence (AI) mulai masuk ke dunia seni dan bikin banyak orang bertanya-tanya: ini inovasi keren atau malah ancaman buat seniman?

AI dalam Dunia Seni: Karya atau Tiruan?

AI bisa menciptakan karya seni dengan cara “belajar” dari jutaan gambar yang ada di internet. Dengan teknologi generative art, AI bisa meniru gaya lukisan terkenal atau bahkan bikin karya baru dalam hitungan detik. Kedengarannya menarik, tapi ada satu masalah besar: dari mana AI mendapatkan data untuk “belajar”?

Banyak karya seni yang digunakan untuk melatih AI diambil dari internet tanpa izin dari seniman. Artinya, karya yang dibuat dengan susah payah bisa dijadikan bahan latihan AI tanpa sepengetahuan pembuatnya. Banyak seniman merasa bahwa gaya mereka telah dicuri oleh AI. Bayangkan kamu menghabiskan bertahun-tahun mengembangkan teknik dan gaya khas, lalu tiba-tiba AI bisa menirunya dalam hitungan detik tanpa mencantumkan sumber sama sekali.

Seni vs. Kecepatan AI

Masalah lain yang muncul adalah kecepatan produksi. AI bisa menghasilkan puluhan gambar dalam waktu singkat, sementara seorang seniman membutuhkan waktu berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu untuk menyelesaikan satu karya. Ini membuat seniman manusia harus bersaing dengan mesin yang lebih cepat dan lebih murah. Jika klien atau perusahaan bisa mendapatkan desain instan dari AI, apakah mereka masih mau membayar seniman manusia?

Namun, di sisi lain, AI juga bisa menjadi alat bantu yang berguna. Banyak seniman digital sudah mulai menggunakan AI untuk mencari inspirasi, membantu proses kreatif, atau sekadar mengeksplorasi ide baru. Jadi, mungkin bukan tentang AI melawan manusia, tapi bagaimana kita menggunakan AI dengan bijak.

Solusi: AI Sebagai Alat, Bukan Pengganti

Biar adil, harus ada aturan yang jelas soal penggunaan AI dalam dunia seni. Misalnya:

  1. Karya seni yang digunakan untuk melatih AI harus mendapat izin dari seniman.
  2. Karya seni yang dibuat AI harus diberi label yang jelas agar orang tahu mana yang dibuat manusia dan mana yang dihasilkan mesin.
  3. Seniman bisa memanfaatkan AI sebagai alat bantu, bukan melihatnya sebagai ancaman.

Pada akhirnya, teknologi seharusnya membantu manusia, bukan menggantikan mereka. AI bisa menjadi alat yang berguna, tapi seni sejati tetap berasal dari manusia—emosi, pengalaman, dan kreativitas yang dituangkan dalam setiap karya.

Pentingnya Komunikasi dalam Penerapan Desain Promosi

0

Bogordaily.net – Desain promosi merupakan salah satu aspek penting yang harus dimiliki oleh merek atau brand untuk menarik konsumen. Namun dibalik hal tersebut, komunikasi memegang kunci paling penting dalam menjadi penghubung antara brand dengan konsumen.

 “Product design is often the first point of contact between consumers and the brand: in advertisements, in the retail environment, and in usage situations. It can be used to “delight” consumers and spur them to develop enduring relationships with the product and eventually the brand” — Nussbaum, 2004

Dari kutipan tersebut, benar bahwa desain produk biasanya merupakan kontak pertama antara brand dengan konsumen. Untuk membangun first impression yang baik, sebuah brand harus bisa mengomunikasikan pesan dengan jelas dan menarik perhatian konsumen melalui desain promosi. Jika sebuah brand gagal dalam menerapkan hal tersebut, maka mereka pun gagal dalam menggaet konsumen. Oleh karena itu, komunikasi yang efektif harus diterapkan dalam setiap elemen desain promosi.

 Melalui copywriting yang baik, komunikasi yang efektif dapat terbentuk antara brand dengan konsumen. Kini, copywriting tidak lagi terbatas pada media tradisional, tetapi telah menjadi bagian penting dalam strategi pemasaran digital modern (Solberg Söilen, 2024). Hal tersebut juga dapat diterapkan pada desain promosi. Dibutuhkan kreativitas dan keterampilan untuk membuat copywriting yang efektif.

 AIDA Copywriting

Salah satu teknik copywriting yang umum digunakan dalam desain promosi adalah AIDA copywriting. Teknik tersebut mulai dikembangkan oleh Elias St. Elmo Lewis yang berasal dari Amerika Serikat pada tahun 1898. Tujuan utamanya adalah untuk memikat perhatian target audiens melalui tulisan yang menarik, sehingga audiens tergoda untuk melakukan pembelian atau mencari tahu lebih jauh tentang produk yang dipromosikan.

Berikut ini adalah kepanjangan dan penjelasan dari AIDA copywriting.

  1. Attention

Dalam bahasa Indonesia, attention dapat diartikan sebagai perhatian. Jadi, attention pada AIDA copywriting merupakan tahap yang menjadi pusat perhatian. Biasanya headline yang menarik merupakan attention yang seringkali ditemukan pada desain yang menggunakan teknik AIDA copywriting.

  1. Interest

Interest, atau dapat diartikan dengan ketertarikan, merupakan tahap dalam AIDA copywriting yang membuat audiens tertarik dengan apa yang ditawarkan. Untuk mempertahankan minat, copywriting harus menyajikan informasi menarik, seperti manfaat utama atau solusi yang membuat audiens ingin tahu lebih banyak.

  1. Desire
    Desire, atau keinginan, adalah tahap dalam AIDA copywriting yang bertujuan membangkitkan keinginan audiens terhadap produk atau layanan yang ditawarkan. Pada tahap ini, biasanya disertakan atau fakta unik, keunggulan, atau testimoni yang membuat audiens semakin yakin bahwa produk tersebut adalah solusi terbaik bagi mereka.
  2. Action

Action, atau tindakan, merupakan tahap terakhir dalam AIDA copywriting yang mendorong audiens untuk segera bertindak. Biasanya dapat disebut dengan bagian call to action (CTA). Ujaran seperti “Beli Sekarang,” “Daftar Gratis,” atau “Dapatkan Promo” sering digunakan untuk mengarahkan audiens mengambil langkah berikutnya sesuai tujuan pemasaran.

Contoh Penerapan dalam Desain Promosi

Sebagai contoh, poster promosi Gojek merupakan poster yang menerapkan teknik AIDA copywriting. Mari kita analisis poster tersebut. Pertama-tama, attention pada poster tersebut tertuju pada headline dengan kata-kata yang menarik seperti “YUK LIBUR”. Tidak hanya kata-katanya saja yang menarik perhatian, tetapi font beserta warnanya yang ceria dapat menarik perhatian. Kemudian, interest pada poster tersebut ditekankan dengan kalimat “Pergi-pergi dan beli makanan lebih hemat dan nyaman”. Penawaran diskon hingga 300 ribu rupiah yang ditampilkan dengan font besar semakin memperkuat daya tarik bagi audiens.

Lalu, bagian desire terlihat berbagai gambar layanan Gojek seperti GoFood, GoCar, dan Gojek Ride, yang siap untuk memberikan solusi praktis bagi audiens yang ingin menikmati liburan lebih hemat. Ditambah lagi, periode promo yang jelas (1 Desember 2024 – 5 Januari 2025) menambah keinginan audiens untuk segera memanfaatkan penawaran ini. Terakhir, bagian action terlihat melalui ajakan langsung untuk menggunakan kode promo “YUKLIBUR”. Selain itu, tagline “Pake Gojek Paling Hemat” memperkuat pesan utama dari poster ini. Secara keseluruhan, poster ini sukses dalam menerapkan teknik AIDA copywriting, dengan desain visual menarik, pesan promosi yang jelas, dan ajakan langsung yang efektif untuk meningkatkan penggunaan layanan Gojek selama periode liburan.

Dengan menerapkan teknik AIDA copywriting, sebuah desain promosi dapat lebih terstruktur. Sebuah brand dapat menyampaikan pesan yang jelas, membangun hubungan dengan konsumen, serta meningkatkan daya tarik produk atau layanan yang ditawarkan. Tidak hanya itu saja, melalui desain promosi yang baik, brand juga dapat memperkuat branding dari desain tersebut. Oleh karena itu, mengombinasikan desain dengan komunikasi yang efektif akan menjadi kunci utama dalam menciptakan promosi yang sukses serta mampu bersaing di tengah pasar yang semakin kompetitif.***

 

Cinta Ing Larasati Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Mengajar, Meneliti, Mengabdi: Perjalanan Hidup RR Renny Soelistyowati di Dunia Akademik

0

Bogordaily.net – RR Renny Soelistyowati, seorang dosen di Sekolah Vokasi IPB University khususnya di bidang Komunikasi Digital dan Media, yang akrab disapa dengan Renny oleh para mahasiswanya. Beliau lahir di Jakarta pada tanggal 10 Mei 1971 dan telah mengabdikan dirinya sebagai pendidik atau dosen selama 25 tahun. Awalnya, Renny mengajar Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) seperti Bahasa Indonesia sebelum akhirnya beralih ke Program Studi Komunikasi Digital dan Media di Sekolah Vokasi IPB University. Latar belakang pendidikannya yang kuat di bidang bahasa, dimulai ketika masih SMA Renny mengambil jurusan Bahasa dan melanjutkan S1 jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Udayana. Setelah menyelesaikan S1, Renny melanjutkan Program Magister atau S2 di Universitas Negeri Jakarta dengan Program Studi Linguistik Terapan.

Sebelum menjadi dosen di Program Studi Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University, Renny mengawali karirnya menjadi seorang dosen dengan menjadi dosen honor terlebih dahulu di IPB University. Di mana pada saat itu terdapat kekurangan tenaga pengajar untuk mata kuliah Bahasa Indonesia. Menjadi dosen bukanlah cita-cita Renny, tetapi beliau bercita-cita untuk bekerja di Kementrian Luar Negeri. Tetapi, meskipun menjadi dosen bukanlah cita-citanya, beliau tetap melakukan pekerjaannya dengan penuh dedikasi.

Beliau tidak hanya mengajar di Sekolah Vokasi, tetapi juga mengajar mahasiswa S1 (PPKU), serta kelas International di Dramaga dan juga mengajar di kampus lain, seperti Universitas Terbuka (UT), Poltek Siber dan Sandi Negara (PSSN). Beliau tidak hanya mengajar mahasiswa lokal, tetapi juga mahasiswa asing, seperti Program KNB (Kerjasama Negara Berkembang), ASEAN International Mobility for Students (AIMS), ACICIS (The Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies), The Indonesian Aid Scholarship (TIAS), Student Exchange, serta program-program lainnya melalui program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Program ini ditujukan untuk mahasiswa asing yang ingin mempelajari Bahasa Indonesia, baik untuk keperluan akademik maupun budaya. Renny mengajar mahasiswa dari berbagai negara, seperti Mesir, Thailand, Nigeria, Zimbawe, Tanzania, Kenya, Papua Newgini, Jepang, Australia, Amerika, Timor Leste, Malawi, Kepulauan Salomon, Philipina, Yamen, Afganistan, Pakistan, Namibia, Uganda, dan lainnya. Pengalaman mengajar mahasiswa asing ini memberikan tantangan tersendiri baik bagi para mahasiswa maupun bagi Renny sendiri, terutama dalam hal adaptasi budaya dan komunikasi.

Selain mangajar, salah satu hal yang paling menonjol dari perjalanan karier Renny adalah dedikasinya dalam penelitian, terutama di bidang linguistik terapan dan komunikasi budaya. Di antara banyak penelitian yang beliau lakukan, ada satu yang sangat berkesan baginya, yaitu penelitian tentang “Penerjemahan metafora bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dalam sebuah novel Absolute Power karya Baldacci dan terjemahannya Kekuasaan Absolute terjemahan Hidayat Saleh”. Penelitian ini tidak hanya mengeksplorasi aspek linguistik, tetapi juga melihat bagaimana metafora dalam karya sastra bisa diadaptasi ke dalam bahasa lain tanpa perlu kehilangan makna aslinya. Hasil penelitian ini kemudian diterbitkan dalam jurnal terakreditasi, yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi Renny.

Selain itu, Renny juga aktif meneliti berbagai aspek budaya dalam bahasa, seperti meneliti faktor-faktor yang memengaruhi komunikasi mahasiswa Padang yang mengalami culture shock di lingkungan Prodi Komunikasi Digital dan Media, yang kemudian dimuat dalam tulisan “Pengalaman Adaptasi Mahasiswa Asing Kerjasama Negara Berkembang (KNB) terhadap Budaya Sunda di Kota Bogor.”. Salah satu pencapaian terbaru Renny adalah penelitiannya yang berjudul “The Role of Social Media in Online and Offline Lectures in the Technology and Plantation Production Management Study Program“. Penelitian ini berhasil lolos dan dipresentasikan dalam Conference Program 25th IFFSO General Conference.

Konferensi ini merupakan ajang internasional yang diadakan di Mumbai, India pada tahun 2022 yang dihadiri oleh para ahli dan akademisi dari berbagai negara, membahas topik-topik terkait pendidikan, teknologi, dan manajemen produksi, dengan fokus pada inovasi dan tantangan di era digital. Penelitian Renny mengkaji peran media sosial dalam mendukung proses pembelajaran, baik secara online maupun offline, khususnya dalam Program Studi Manajemen Produksi Perkebunan dan Teknologi. Temuan dari penelitian ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana media sosial bisa menjadi alat pembelajaran yang efektif, terutama di era digital yang terus berkembang. Baru-baru ini, di tahun 2024 berhasil lolos juga penelitian yang berjudul Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA): Sebuah Strategi Politik Bahasa Indonesia sebagai Penginternasional bahasa Indonesia yang di presentasikan di Chiangmai, Thailand yang dihadiri para narasumber yang konsen dengan BIPA serta para pegiat BIPA.

Bagi Renny, setiap penelitian yang RR Renny Soelistyowati lakukan memiliki nilai tersendiri. Namun, momen yang paling berkesan adalah ketika penelitiannya berhasil lolos dalam konferensi internasional. Salah satu pengalaman yang tidak terlupakan adalah ketika penelitiannya tentang adaptasi budaya mahasiswa asing di Kota Bogor berhasil dipresentasikan di Bali pada tahun 2023. Proses pembuatan proposal yang hanya memakan waktu seminggu, namun berhasil lolos, menjadi bukti dedikasi dan keahlian beliau dalam bidang penelitian.

Melalui berbagai penelitian dan pengajarannya, Renny tidak hanya berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga membimbing mahasiswa, baik lokal maupun internasional, untuk memahami kompleksitas bahasa dan komunikasi di era digital. Beliau juga menekankan pentingnya keseriusan dan ketekunan bagi mahasiswa yang bercita-cita menjadi dosen. Menurutnya, profesi dosen tidak hanya tentang mengajar, tetapi juga melibatkan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan pengalaman dan dedikasinya, RR Renny Soelistyowati terus menjadi sosok yang menginspirasi banyak orang di dunia akademik.***

 

Magda Aulia Tri Hapsari “Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University”

 

Menjaga Adab di Dunia Maya: Pedoman Etika Komunikasi di Era Digital

0

Bogordaily.net – Era digital ini semakin cepat berkembang, bahkan komunikasi secara daring telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari manusia. Namun, kemudahan yang disediakan oleh teknologi juga membawa tantangan baru dalam menjaga etika ketika berkomunikasi. Etika komunikasi adalah seperangkat norma yang mengatur perilaku berkomunikasi dengan mempertimbangkan nilai-nilai moral dan sosial (Rachman, 2021). Dengan menerapkan etika dalam berkomunikasi secara digital, kita dapat membangun komunikasi yang efektif, serta menciptakan lingkungan yang sehat, penuh kesopanan, dan tanggung jawab.

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah mengubah bagaimana cara manusia berinteraksi dan juga berkomunikasi dengan signifikan dan memberikan banyak manfaat, seperti memberikan kemudahan akses untuk mendapatkan informasi lebih cepat. Dengan internet dan perangkat digital yang ada, setiap individu dapat memperoleh informasi hanya dalam hitungan detik setelah mereka mencari yang juga dapat mempercepat proses pengambilan keputusan dan pertukaran ide untuk setiap individu. Individu juga dapat berkomunikasi dengan tanpa ada batasan wilayah atau secara global. Atau manfaat lainnya dari perkembangan teknologi ini adalah ketika adanya wabah COVID-19 menyebar di seluruh dunia, teknologi informasi membantu dunia pendidikan karena masalah para pendidik yang tidak bisa bertemu secara langsung dengan muridnya, karena bisa memanfaatkan aplikasi-aplikasi yang sangat memudahkan pembelajaran.

Tantangan Etika dalam Berkomunikasi di Era Digital

Namun, dengan manfaat yang ditawarkan, muncul pula tantangan etika yang perlu diperhatikan oleh semua orang.

  1. Penyebaran Berita Hoaks

Menurut penelitian oleh Nugroho (2022), penyebaran hoaks di media sosial meningkat 30% dalam lima tahun terakhir. Hoaks dapat menyesatkan masyarakat dan memicu ketidakstabilan sosial. Media sosial dan platform online lainnya memungkinkan penyeberan informasi dengan cepat, namun penyebaran informasi yang cepat itu juga meningkatkan risiko penyebaran berita palsu atau hoaks. Penggunaan etika berkomunikasi membutuhkan kehati-hatian dalam memvalidasi informasi sebelum menyebarkan informasi tersebut, serta bertanggung jawab untuk tidak menyebarkan informasi yang berisi misinformasi dan dapat menyesatkan bahkan merugikan orang lain. Misalnya pada contoh penyebaran hoaks tentang vaksin di Amerika pada film The Social Dilemma (2020) di media sosial yang membahayakan kesehatan masyarakat.

  1. Maraknya Ujaran Kebencian (Hate Speech)

Bahwa ujaran kebencian di platform media sosial dapat memperburuk konflik sosial dan memicu tindakan kekerasan. Banyaknya akun anonim di internet sering kali menyebabkan orang merasa bebas untuk mengujarkan semua yang ada dipikiran mereka tanpa benar-benar memikirkan apa yang mereka ujarkan terhadap seseorang. Contohnya seseorang berkomentar menggunakan kata-kata kasar, tidak pantas dan menyinggung, serta ujaran yang termasuk ke dalam kebencian dan melecehkan tanpa memikirkan efeknya terhadap orang yang dituju atau terhadap seseorang yang membaca komentar tersebut.

  1. Pelanggaran Privasi

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Safitri (2020), ditemukan bahwa 65% pengguna media sosial tidak sepenuhnya menyadari risiko berbagi informasi pribadi secara daring, yang berpotensi dimanfaatkan untuk kejahatan siber. Perkembangan TIK telah membuka pintu bagi masalah kemanan data dan privasi yang semakin kompleks. Dalam komunikasi daring, data pribadi dari pengguna media sosial sering kali dikumpulkan dan nantinya disebar bahkan dijual tanpa sepengetahuan dan persetujuan dari pengguna. Contohnya ada pada salah satu scene dalam film The Social Dilemma (2020) di mana beberapa developer media sosial mengakses dan menggunakan data pribadi untuk tujuan iklan dan keuntungan pribadi mereka.

Dampak dari Pelanggaran Etika dalam Komunikasi di Era Digital

Tantangan pada etika komunikasi akan menyebabkan beberapa dampak negatif apabila dilanggar.

  1. Terjadinya Konflik Sosial

Berita hoaks dan ujaran kebencian dapat menimbulkan konflik di masyarakat (Hidayat, 2021). Penyebaran informasi yang tidak benar dan belum pasti kebenarannya yang juga berisikan ujaran kebencian dapat memicu konflik di antara masyarakat. Mengutip dari sindonews.com, genosida yang terjadi di Myanmar yang menimpa etnis Rohingya disebabkan oleh Facebook yang memperkuat algoritma postingan berisikan ujaran kebencian dan Facebook gagal untuk menghapus postingan yang menghasut masyarakat Myanmar.

  1. Kerusakan Reputasi

Informasi negatif atau fitnah yang tersebar di internet sulit untuk dikendalikan dan dapat merusak reputasi individu maupun organisasi (Wijaya, 2022). Misal ketika suatu pemerintahan di salah satu negara melakukan kesalahan dan membuat masyarakat mulai memberikan ujaran kebencian kepada pemerintah dan semakin banyak masyarakat yang melihat postingan berisikan ujaran kebencian dan kejelekkan dari pemerintah. Hal tersebut dapat merusak reputasi dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

  1. Gangguan Psikologis

Ujaran kebencian yang dilontarkan di media sosial termasuk kedalam cyberbullying, jika seseorang sering membaca hal-hal yang negatif dapat merusak psikologis individu. Hal itu diakibatkan karena adanya tekanan emosional pada individu. Menurut riset dari Lestari & Sari (2023), korban perundungan daring memiliki risiko lebih tinggi mengalami stres, kecemasan, dan depresi.

Panduan Etika dalam Berkomunikasi di Media Sosial

Agar komunikasi di media sosial tetap mengikuti etika dan kita tetap bertanggung jawab, ada beberapa hal yang perlu untuk diterapkan.

  1. Berpikir Sebelum Berkomentar

Sebelum mengirimkan atau menyampaikan komentar dan pesan, pertimbangkan dampak komentar atau pesan yang disampaikan kepada individu tersebut apakah akan membuatnya tertekan, membuat tersinggung ataupun menyakiti perasaan dari individu tersebut.

  1. Verifikasi Informasi Sebelum Membagikan

Pastikan kembali sumber informasi yang kredibel dari informasi yang sebelumnya sudah didapatkan sebelum menyebarkan ke khalayak ramai atau ke media sosial.

  1. Menghormati Privasi Orang Lain

Jangan menyebarkan informasi pribadi ataupun foto orang lain tanpa sepengetahuan dan seizin individu yang bersangkutan. Jika hal itu terjadi maka akan masuk ke ranah hukum akibat tidak menghargai privasi dan hak individu di ruang digital.

  1. Menggunakan Bahasa yang Sopan dan Santun

Hindari penggunaan kata-kata yang tidak pantas, kasar, provokatif, ataupun kata-kata yang mengandung SARA dan menjelekkan kelompok lain.

  1. Hindari Perundungan Daring (Cyberbullying)

Hindari tindakan perundungan di media sosial yang dapat memberikan dampak negatif kepada individu lain.

Etika dalam berkomunikasi di media sosial sangat penting untuk menciptakan lingkungan di media sosial yang aman, sopan, serta bertanggung jawab. Dengan menerapkan prinsip seperti berpikir sebelum berkomentar, memvalidasi informasi yang didapatkan sebelum berkomentar dan menyebarkan informasi, untuk mengurangi dampak negatif dari komunikasi di media sosial dan menciptakan ruang digital yang lebih positif.***

 

Magda Aulia Tri Hapsari “Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University”

Menikmati Kesegaran Air dan Keindahan Alam di Kolam Renang Aldepos Bogor

0

Bogordaily.net – Bogor dikenal dengan julukan “Kota Hujan”, memang menyimpan beragam destinasi wisata alam yang menarik. Salah satu tempat yang layak dikunjungi adalah Kolam Renang Aldepos, yang terletak di Desa Tapos II, Kecamatan Tenjolaya, Bogor, Jawa Barat. Kolam renang ini bukan hanya menawarkan kesegaran, tetapi juga keindahan alam yang memukau. Pada akhir pekan libur semester yang lalu, saya dan keluarga memutuskan untuk mengunjungi Kolam Renang Aldepos sebagai pelipur penat setelah seminggu penuh berkutat dengan pekerjaan dan kuliah.

Perjalanan kami menuju Kolam Renang Aldepos memakan waktu sekitar 42 menit dari Ciapus, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tergantung pada kondisi lalu lintas dan rute yang kami pilih. Kami mengambil jalur melalui Jalan Gunung Malang, melewati Jalan Curug Luhur Indah, di mana kami juga melintasi Jbound Geo Edu Park Ciapus – Bogor. Selama perjalanan, kami dimanjakan dengan pemandangan pegunungan yang membuat suasana terasa sejuk karena pemandangan alam yang tersedia.

Keunikan dari Kolam Renang Aldepos ini adalah fakta bahwa kolam renang ini berada di dalam pesantren Aldepos Islamic Boarding School. Tapi kita tidak perlu khawatir tentang keadaan tersebut, karena Kolam Renang Aldepos ini sedikit lebih jauh ke dalam dari Aldepos Islamic Boarding School. Jadi sebelum kita bisa melihat gerbang Kolam Renang Aldepos kita akan melewati gerbang dan pos satpam dari Aldepos Islamic Boarding School.

Begitu masuk ke area gerbang kolam renang, kami langsung disuguhi pemandangan pepohonan rindang yang menyejukkan. Suasana alam yang asri ini membuat kami merasa seperti berada di tengah hutan, jauh dari kebisingan kota. Area parkir yang luas dan tertata rapi memudahkan kami untuk memarkir kendaraan. Untuk biaya parkir kendaraan roda dua dikenakan biaya sebesar Rp 5.000 per kendaraan, sedangkan untuk kendaraan roda empat dikenai biaya sebesar Rp 10.000 per kendaraan. Untuk biaya tiket masuk ke kolam renangnya sendiri per orang dikenakan biaya Rp 25.000 pada akhir pekan dan Rp 20.000 untuk hari biasa.

Suasana alam di sekitar Kolam Renang Aldepos benar-benar memanjakan mata. Pepohonan tinggi dan pegunungan yang mengelilingi area kolam renang memberikan nuansa alami yang sulit ditemukan di kolam renang biasa. Suara burung berkicau dan gemericik air menambah kesan tenang dan damai. Kami pun langsung merasa rileks begitu tiba di sana.

Kolam Renang Aldepos menawarkan fasilitas yang cukup lengkap. Kolam utamanya berukuran besar dengan kedalaman bervariasi, cocok untuk dewasa dan anak-anak. Ada juga kolam khusus anak-anak yang lebih dangkal, sehingga aman untuk si kecil bermain air. Wahana seluncuran air menjadi daya tarik utama di sini. Anak-anak saya langsung antusias mencoba seluncuran tersebut, sementara saya dan pasangan memilih untuk berenang santai di kolam utama.

Selain kolam renang, Aldepos juga menyediakan area bermain anak-anak dengan berbagai permainan seperti perosotan dan area ember tumpah. Ada juga gazebo-gazebo yang bisa digunakan untuk bersantai atau makan bersama. Kami memilih salah satu gazebo untuk meletakkan barang-barang kami sembari menikmati bekal makanan yang kami bawa dari rumah. Area makan di Aldepos juga menyediakan berbagai makanan dan minuman dengan harga terjangkau, jadi pengunjung tidak perlu khawatir jika lupa membawa bekal.

Fasilitas lain yang tak kalah menarik adalah kamar mandi dan ruang ganti yang bersih dan terawat. Ini menjadi nilai tambah karena Anda tidak perlu khawatir dengan kebersihan setelah berenang. Selain itu, area parkir yang luas dan aman membuat Anda merasa nyaman meninggalkan kendaraan selama beraktivitas di kolam renang.

Aldepos menawarkan pengalaman yang berbeda dibandingkan kolam renang lainnya, berkat suasana alamnya yang masih asri. Dikelilingi oleh pepohonan rindang, area kolam renang ini memberikan nuansa sejuk dan nyaman untuk para pengunjung. Harga tiket masuk yang terjangkau, hanya Rp 25. 000 per orang, menjadikan Aldepos sebagai pilihan wisata keluarga yang ramah di kantong. Dengan harga tersebut, kami bisa menikmati berbagai fasilitas lengkap dan suasana yang menyenangkan.

Salah satu keunikan lain dari Aldepos adalah lokasinya yang strategis. Meski terletak di tepi jalan raya, area kolam renang ini tetap menawarkan ketenangan yang jauh dari kebisingan. Hal ini membuat Aldepos menjadi tempat yang sempurna untuk bersantai dan melepas penat setelah seminggu beraktivitas di kota.

Untuk Anda yang berniat mengunjungi Kolam Renang Aldepos, berikut beberapa tips yang dapat membantu meningkatkan pengalaman Anda:

  1. Datang pagi hari: Dengan datang lebih awal, Anda dapat menikmati kolam renang sebelum dipadati pengunjung. Selain itu, udara pagi yang sejuk akan menambah kenyamanan saat berenang.
  2. Bawa perlengkapan renang sendiri: Menghemat biaya dan memastikan kenyamanan bisa dilakukan dengan membawa perlengkapan renang dari rumah. Meskipun tersedia penyewaan, menggunakan peralatan sendiri biasanya lebih higienis.
  3. Bawa makanan dan minuman: Walaupun terdapat area makan di sana, membawa bekal sendiri bisa lebih ekonomis. Anda dapat menikmati makan siang di gazebo sambil meresapi suasana alam di sekitarnya.
  4. Jaga kebersihan: Pastikan untuk membuang sampah pada tempatnya agar lingkungan tetap bersih dan nyaman bagi semua pengunjung. Aldepos menyediakan banyak tempat sampah, sehingga tidak ada alasan untuk tidak menjaga kebersihan.
  5. Gunakan sunscreen: Mengingat area kolam renang yang cukup terbuka, penting untuk melindungi kulit Anda dengan sunscreen agar terhindar dari sengatan matahari.
  6. Ajak keluarga atau teman: Aldepos sangat ideal untuk dikunjungi bersama keluarga atau teman. Suasana yang ramah dan fasilitas yang lengkap akan menjadikan liburan Anda semakin berkesan.

Jika Anda mencari destinasi wisata air yang dekat dari Jakarta namun tetap menawarkan suasana alam yang menenangkan, Kolam Renang Aldepos di Bogor adalah pilihan yang sempurna. Aldepos bukan hanya tempat untuk berenang, tetapi juga merupakan tempat yang ideal untuk bersantai, menikmati keindahan alam, dan menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga. Dengan harga tiket yang terjangkau dan fasilitas yang memadai, Aldepos layak dijadikan sebagai destinasi favorit bagi siapa pun yang ingin melepas penat dari hiruk-pikuk kota.***

 

Magda Aulia Tri Hapsari “Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University”

Antara Antusiasme dan Tantangan: Lokasi Syuting Asmara Gen Z Ramai Didatangi Penggemar

0

Oleh: Magda Aulia Tri Hapsari “Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University”

 

Kesuksesan dari sinetron “Asmara Gen Z” dengan mencapai rating tinggi di televisi membuat para aktornya memiliki banyak penggemar yang antusias untuk bertemu dengan mereka. Antusiasme dari para penggemar sinetron “Asmara Gen Z” ini dapat terlihat dari ramainya lokasi syuting karena dipadati oleh para penggemar. Penggemar rela datang dari berbagai daerah yang bahkan jauh dari lokasi syuting sinetron “Asmara Gen Z” hanya demi melihat secara langsung para aktor atau idola mereka yang sedang melakukan proses produksi sinetron ini. Antusiasme para penggemar sinetron “Asmara Gen Z” dapat dikatakan sebagai cara mereka menunjukkan apresiasi yang besar terhadap sinetron ini, yang tentunya akan menjadi dorongan kepada para aktor dan kru untuk bisa bekerja dengan lebih semangat dan lebih baik lagi untuk ke depannya.

Dampak Negatif Datangnya Penggemar ke Lokasi Syuting

Kerumunan penggemar pada lokasi syuting sinetron “Asmara Gen Z” yang terlalu besar ini sering kali membuat proses syuting menjadi terhambat. Selain itu, hal ini juga menyebabkan para aktor sinetron “Asmara Gen Z” tidak dapat beristirahat yang di mana dapat diketahui bahwa proses syuting dari suatu sinetron yang memiliki lebih dari 10 episode merupakan hal yang sangat melelahkan. Ditambah dengan kedatangan para penggemar ke lokasi syuting yang mengharuskan para aktor sinetron ini untuk kerja lebih ekstra dengan menghampiri dan menyapa para penggemar bahkan setelah lelah seharian ber-acting.

Pada salah satu video yang tersebar di media sosial terlihat salah satu aktor dari sinetron “Asmara Gen Z” keluar dari lokasi syuting dan langsung digerumuni oleh para penggemar yang menunggu di depan gerbang lokasi syuting, serta secara berebut berfoto dengan sang aktor. Hal yang dilakukan oleh penggemar ini adalah salah satu tindakan yang dapat membuat sang aktor menjadi tidak nyaman dan bisa saja melukai aktor tersebut atau bahkan melukai penggemar lainnya, karena terjadi aksi dorong mendorong yang terjadi pada saat berebut melakukan foto bersama aktor tersebut.

Keramaian para penggemar “Asmara Gen Z” yang datang memadati lokasi syuting juga bukan hanya berdampak pada para aktor maupun kru saja. Namun, hal ini juga berdampak pada lingkungan yang berada di sekitar lokasi syuting. Contoh dari dampaknya adalah terjadinya kemacetan di jalan sekitar lokasi syuting karena banyaknya penggemar yang dengan sembarangan memakirkan kendaraan di sepanjang pinggir jalan lokasi syuting tersebut. Bukan hanya kendaraan saja yang membuat kemacetan di jalan, tetapi para penggemar yang berdiam diri di pinggir jalan juga menjadi penyebab dari kemacetan yang terjadi.

Dampak lainnya yang juga terjadi karena ramainya penggemar dari sinetron “Asmara Gen Z” ke lokasi syuting adalah banyaknya sampah yang dibuang dengan sembarangan oleh para penggemar yang datang. Selain dari sampah yang nantinya dapat menumpuk apabila para penggemar atau dapat disebut juga sebagai masyarakat tidak memiliki kesadaran untuk membersihkan sampah yang mereka buang, dampak lain yang mungkin juga terjadi adalah timbulnya konflik dengan masyarakat setempat atas keluhan menumpuknya sampah atau lingkungan setempat menjadi kotor setelah adanya proses produksi dari sinetron “Asmara Gen Z”.

Kebijakan yang Dapat Diambil

Tantangan yang terjadi selama proses syuting sinetron “Asmara Gen Z” harus membuat para kru dapat mengambil kebijakan agar proses produksi dapat berjalan dengan nyaman dan juga lancar. Hal yang paling mudah untuk dilakukan adalah dengan membuat statement pada akun resmi sinetron “Asmara Gen Z” mengenai kebijakan dari para masyarakat atau penggemar yang sudah mengetahui lokasi syuting dari sinetron “Asmara Gen Z” untuk tidak menyebarkannya di media sosial demi kenyamanan dari para aktor. Jika memang para penggemar ingin menunjukkan dukungannya kepada para aktor, maka dapat dilakukan dengan mengirimkan food support bagi para aktor “Asmara Gen Z”.

Apabila statement yang dibuat tidak memiliki efek apapun, maka hal yang dapat dilakukan adalah dengan membatasi area bagi para penggemar yang datang ke lokasi syuting dan bekerja sama dengan pihak keamanan setempat untuk mengamankan lokasi selama proses produksi berlangsung. Pembatasan area ini dilakukan agar para penggemar tetap dapat melihat proses produksi secara langsung tanpa mengganggu kenyamanan dari para aktor, serta tanpa mengganggu jalannya syuting. Bahkan kru dapat menjadwalkan sesi meet and greet di luar dari jadwal syuting yang dilakukan oleh para aktor. Dengan demikian, para penggemar tetap memiliki kesempatan bertemu dengan para aktor tanpa harus mendatangi lokasi syuting secara langsung. Jika hal ini dilakukan tidak hanya menjaga keamanan dan kenyamanan bagi para aktor dan juga penggemar, tetapi juga memberikan pengalaman lebih menarik dan nyaman bagi penggemar dan aktor.

Dengan era digitalisasi seperti sekarang ini kru juga dapat memanfaatkan media sosial dari sinetron “Asmara Gen Z” ataupun akun pribadi dari para aktor untuk melakukan live streaming untuk menunjukkan atau memberikan akses kepada para penggemar yang ingin melihat proses produksi dari sinetron “Asmara Gen Z” tanpa harus hadir secara fisik ke lokasi syuting. Dengan begitu, antusiasme dari para penggemar dapat terjaga serta tim produksi yang bekerja juga tidak terganggu dengan kerumunan orang yang memadati lokasi syuting. Selain itu, pemanfaatan media sosial ini juga dapat meningkatkan engagement dari media sosial para aktor tersebut.

Pemberian edukasi kepada para penggemar mengenai pentingnya menjaga ketertiban dan keamanan selama berada di lokasi syuting juga dapat menjadi salah satu hal yang dapat dilakukan oleh para kru. Pihak produksi dapat mengadakan kampanye untuk meningkatkan kesadaran dari para penggemar bahwa antusiasme yang terjadi harus berjalan secara positif tanpa terjadi kerugian kepada pihak lain.***

Perjalanan Seorang Mahasiswa Sofia Deannisa dalam Membangun Masa Depan Akuakultur

0

Bogordaily.net – Sofia Deannisa lahir di Kabupaten Sragen pada tanggal 4 Juli 2003. Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan di Sekolah Vokasi IPB University pada program studi Teknologi dan Manajemen Pembenihan Ikan. Keputusan Sofia untuk memilih program studi ini muncul dari kecintaannya terhadap alam, terutama dalam bidang pertanian, peternakan, dan perikanan. Ia meyakini bahwa bidang ini memiliki prospek kerja yang cerah di masa depan, dan dengan usaha kerasnya, ia berhasil lolos seleksi untuk menjadi mahasiswa di program studi tersebut.

Selama masa kuliahnya, Sofia menunjukkan prestasi akademik yang membanggakan. Ia memiliki ketertarikan khusus pada mata kuliah yang membahas mengenai pakan, kualitas air, dan penyakit ikan. Tidak hanya unggul dalam akademik, Sofia juga aktif dalam berbagai program pengembangan diri. Pada bulan Januari tahun 2024, ia berhasil lolos dalam program Mahasiswa Wirausaha yang memberikan pendanaan untuk memulai usaha bersama rekan-rekannya. Usaha tersebut merupakan usaha di bidang produksi dan budidaya ikan nila salin, yang bernama Batu Segara Abadi. Program Mahasiswa Wirausaha tersebut dilaksanakan hingga bulan Desember tahun 2024 dan menjadi awal dari pengembangan jiwa kewirausahaan Sofia.

Keberhasilan ini berlanjut ketika ia kembali mendapatkan pendanaan melalui Program Startup School, yang semakin memperkuat fondasi usahanya. Usaha yang diberi nama BSA Ornament Fish ini berfokus pada bidang produksi dan budidaya ikan hias. Melalui kedua usaha tersebut, Sofia tidak hanya memperluas wawasan di bidang akuakultur, tetapi juga mengasah keterampilan dalam dunia wirausaha.

Bagi Sofia, keberhasilan dapat dicapai dengan menanamkan niat pada diri sendiri. Ia meyakini bahwa apabila diri sendiri tidak bergerak, maka keberhasilan tersebut tidak akan tercapai. Tidak hanya niat dan tujuan yang kuat, tetapi juga dukungan dari lingkungan sekitar menjadi faktor penting dalam perjalanannya. Ia percaya bahwa kekuatan dari diri sendiri harus diiringi dengan dukungan teman-teman yang memiliki tujuan serupa. Selain itu, lingkungan yang positif juga menjadi salah satu kunci kesuksesannya dalam dunia akademik maupun wirausaha.

Sofia telah menjadi asisten dosen sejak tahun 2024. Ia menjadi asisten dosen pada mata kuliah Manajemen Pembenihan Ikan Hias, Ikan Air Tawar, dan mata kuliah Praktik Pengenalan Kehidupan Masyarakat Pembudidaya. Saat ini, Sofia sedang menjadi asisten dosen pada mata kuliah Komunikasi Perikanan Budidaya dan Wirausaha Akuakultur, yang sejalan dengan kegiatan usahanya. Pengalaman menjadi asisten dosen memberikan kesan tersendiri bagi Sofia, terutama ketika mahasiswa yang ia bimbing menunjukkan sikap apresiatif dan antusias dalam belajar. Hal ini menjadi salah satu momen paling berkesan selama perjalanannya di dunia akademik.

Selain kegiatan akademik dan wirausaha, Sofia juga aktif mengikuti pelatihan untuk terus mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya. Sofia memiliki cita-cita untuk bekerja di bidang riset dan pengembangan (Research and Development) karena minatnya yang besar dalam riset dan penelitian. Ia tertarik untuk mengembangkan inovasi dalam bidang akuakultur. Namun, ia juga membuka peluang untuk berkarir di bidang administrasi perkantoran atau bahkan melanjutkan pengembangan usahanya di masa depan. Meskipun ia bercita-cita untuk melanjutkan studi hingga jenjang S3, Sofia berencana untuk mengumpulkan pengalaman kerja terlebih dahulu sebelum melanjutkan pendidikannya.

Dengan semangat belajar yang tinggi, jiwa kewirausahaan yang kuat, dan dukungan lingkungan yang positif, Sofia Deannisa dapat melangkah maju dalam mewujudkan cita-citanya. Ia menjadi contoh inspiratif bagi mahasiswa lain untuk terus berusaha dan tidak mudah menyerah dalam meraih impian.***

 

Cinta Ing Larasati Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

 

Profil Dr. Abung Supama Wijaya, Dosen Masa Kini yang Membangun Branding di Media Sosial

0

Bogordaily.net

“Saya merasa jadi dosen membuat saya lebih punya kendali atas hidup saya. Saya bisa bekerja sekeras mungkin atau seminimal mungkin, sesuai dengan ritme saya sendiri.” – Dr. Abung Supama Wijaya

Dosen biasanya dikenal dengan gaya pengajaran formal dan kaku. Namun, Dr. Abung Supama Wijaya, S.I.Kom., M.Si membuktikan bahwa dunia pendidikan bisa lebih fleksibel, dinamis, dan erat berkaitan dengan perkembangan digital. Lewat Instagram, ia tak hanya membagikan ilmu, tetapi juga merangkul mahasiswa dengan cara yang lebih fun dan relevan dengan masa kini. Saat ditanya apakah menjadi dosen adalah cita-citanya sejak kecil, Abung hanya tertawa. “Dulu saya nggak punya visi yang jelas. Saya jalan aja, tanpa tahu akhirnya bakal ke mana.” Ia baru benar-benar menemukan kecintaannya pada dunia komunikasi saat kuliah.

Ia menempuh pendidikan D3 Komunikasi di Sekolah Vokasi IPB (2005-2008), lalu melanjutkan S1 di Universitas Sebelas Maret (2008-2010), dan meraih gelar S2 serta S3 dalam bidang Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan di IPB. Semasa kuliah, Abung bukan tipe mahasiswa yang hanya fokus di kelas. Ia aktif di berbagai organisasi, mulai dari BEM Sekolah Vokasi hingga tim futsal. Namun, satu hal yang paling disukainya adalah dunia editing. “Saya bisa duduk berjam-jam ngedit tanpa sadar waktu, bisa sampai benar-benar lupa waktu dan sampai seharian nggak tidur,” kenangnya.

Sebelum menjadi dosen, Abung mencoba berbagai profesi. Ia pernah menjadi penyiar di Mars FM, radio berbasis Islam di Bogor, meski sering dibully karena salah menyebut nama. “Bayangin, penyiar Islami tapi sering salah ucap. Yaudah, saya anggap aja bagian dari proses belajar,” ujarnya santai. Ia juga sempat bekerja sebagai marketing di koran lokal dan menjadi penyiar di Ria FM Solo. Di Solo, dunia media semakin menarik minatnya. Namun, sebuah ajakan dari teman membuatnya kembali ke Bogor. “Awalnya saya pikir ini hanya sementara, tapi ternyata saya menemukan passion saya di sini,” ujarnya.

Sebagai dosen, Abung mengajarkan berbagai mata kuliah seperti Jurnalistik, Penulisan Kreatif, Fotografi Digital, Produksi Film dan Video, serta Editing Audio Visual. Ia juga aktif dalam penelitian dan memiliki fokus khusus pada Cyber Extension, konsep yang berhubungan dengan penyebaran informasi digital dalam konteks komunikasi pembangunan.

Salah satu proyek yang paling berkesan baginya adalah pembuatan film dokumenter tentang partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa. Dalam proyek ini, ia melatih anak-anak remaja di desa untuk membuat film yang menyampaikan pesan-pesan yang ingin mereka sampaikan. “Tidak semua orang bisa berbicara dengan lancar, tapi mereka bisa menyampaikan sesuatu lewat visual,” jelasnya.

Kebanyakan dosen mungkin memilih tidak aktif menggunakan sosial media, tapi tidak dengan Abung. Baginya, Instagram bukan hanya tempat berbagi momen, tapi juga alat untuk membangun personal branding dan yang lebih penting, menyimpan jejak hidupnya. Ia sering menerima tawaran mengajar karena orang melihat hasil karyanya di Instagram. Namun, alasan pribadinya lebih dari sekedar branding. “Saya lahir di tahun 1987 dan hanya punya satu foto saat bayi. Itulah kenapa saya ingin menyimpan semua kenangan hidup saya secara digital,” katanya.

Dalam menjalani kehidupannya, Abung memegang prinsip bahwa everyday is a competition. Ia selalu berusaha lebih cepat dan lebih unggul dibandingkan orang lain. Namun, ia juga memahami pentingnya mengetahui kapan harus menyerang dan kapan harus bertahan dalam persaingan.  Sebagai dosen, Abung selalu menekankan kepada mahasiswanya untuk mengeksplorasi banyak hal selama masa muda, bahkan jika itu berarti membuat kesalahan. “Setelah lulus, hidup itu jauh lebih menakutkan dan penuh penyesalan. Jadi, selama masih mahasiswa, habiskan waktu dengan mencoba banyak hal sampai gak punya waktu untuk menyesal,” pesannya.

Salah satu kebiasaannya yang unik adalah kegemarannya belanja online, terutama untuk membeli berbagai AI tools. “Saya sering beli AI dan belanja online di e-commerce yang kemudian saya sesali, tapi dari situ saya belajar dari penyesalan,” katanya sambil tertawa. Dengan perjalanan yang penuh warna, Dr. Abung Supama Wijaya terus menjadi sosok inspiratif di dunia komunikasi digital dan pendidikan, membuktikan bahwa menjadi dosen tidak harus kaku dan inovasi bisa datang dari mana saja.***

 

Kania Syifa Maulida J0401231136

Bu Nisa: Dari Keraguan hingga Menginspirasi di Dunia Pendidikan

0

Bogordaily.net – Dalam dunia pendidikan, terdapat sosok-sosok yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi, membimbing, dan menjadi teladan bagi mahasiswanya. Salah satunya adalah Lathifunnisa Fathonah, seorang dosen di Program Studi Teknologi Rekayasa Komputer, Sekolah Vokasi IPB University. Perjalanan hidupnya adalah bukti nyata bahwa ketekunan, kerja keras, serta keberanian menghadapi tantangan adalah kunci menuju kesuksesan.

Awal Kehidupan dan Pendidikan

Lahir di Bandung pada 6 Maret 1993, Lathifunnisa—atau yang akrab disapa Bu Nisa—menghabiskan masa kecil dan pendidikannya di Kota Kembang. Terlahir dalam keluarga pendidik, ia tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan nilai pentingnya ilmu sejak dini. Ibunya seorang guru, dan banyak anggota keluarganya yang berkecimpung di dunia pendidikan.

Dorongan serta arahan orang tua menjadi faktor utama dalam menentukan jalan hidupnya, terutama karena akses informasi di masanya belum semudah saat ini. Dengan dukungan keluarga, Bu Nisa melanjutkan pendidikan di Politeknik Negeri Bandung untuk jenjang D4, sebelum akhirnya meneruskan studi S2 di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan fokus pada Cybersecurity.

Tantangan Akademik dan Tekad Kuat

Perjalanan akademiknya tidak selalu mulus. Saat pertama kali masuk jurusan teknik elektronik, ia sempat merasa kurang cocok dan hampir menyerah. Matematika masih dapat ia kuasai, tetapi fisika menjadi tantangan besar baginya. Ia bahkan sempat mempertimbangkan untuk pindah jurusan. Namun, atas saran orang tua, ia mencoba bertahan satu semester lagi. Keputusan ini terbukti menjadi titik balik dalam hidupnya—dengan tekad yang kuat, ia akhirnya menemukan ketertarikan dalam bidangnya dan berhasil menguasainya.

Dari Dunia Industri ke Dunia Akademik

Sejak kecil, Bu Nisa bercita-cita menjadi pendidik. Saat kuliah, ia mulai mencari pengalaman mengajar dengan membantu dosen di almamaternya. Meskipun belum berstatus asisten dosen secara formal, ia kerap terlibat dalam kegiatan akademik yang memperkuat kecintaannya pada dunia pendidikan.

Namun, sebelum benar-benar terjun sebagai dosen, ia sempat menjajal dunia industri IT. Saat magang di salah satu perusahaan elektronik terbesar di Jakarta, ia membayangkan kehidupan profesional di industri akan menarik—berpakaian rapi, bekerja di kantor bergengsi—tetapi kenyataan berkata lain. Lingkungan industri yang lebih banyak berkutat dengan komputer dan jadwal yang ketat tidak sesuai dengan kepribadiannya yang ekstrovert. Dari pengalaman ini, ia semakin yakin bahwa menjadi dosen adalah jalan hidupnya.

Perjuangan Menjadi Dosen Tetap

Menjadi dosen bukan hanya sekadar mengajar di kelas dan memberikan tugas. Tanggung jawabnya jauh lebih besar—mengembangkan kurikulum, membangun relasi dengan industri, serta berkontribusi pada kemajuan institusi pendidikan.

Tantangan besar datang ketika ia harus mengikuti seleksi Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) untuk menjadi dosen tetap di Sekolah Vokasi IPB. Proses seleksi ini sangat ketat, dengan jumlah pendaftar mencapai ratusan orang, sementara yang diterima hanya segelintir.

Di tengah proses seleksi yang melelahkan, Bu Nisa juga harus menjalani perannya sebagai istri dan ibu, sembari tetap mengajar di universitas swasta. Hari-harinya diisi dengan belajar, mengajar, dan mengurus keluarga. Tidurnya hanya beberapa jam sehari, mengorbankan banyak waktu demi mengejar impiannya. Namun, kerja kerasnya membuahkan hasil—ia berhasil lolos seleksi dan resmi menjadi dosen di IPB, sebuah pencapaian yang sangat membanggakan.

Filosofi Mengajar dan Dedikasi

Bagi Bu Nisa, kepuasan terbesar bukanlah jabatan atau penghargaan, melainkan kesuksesan mahasiswanya. Melihat mahasiswa yang ia bimbing berhasil mendapatkan pekerjaan dan berkembang dalam karier mereka adalah kebanggaan yang tak ternilai.

Ia meyakini bahwa sikap lebih penting daripada kecerdasan semata. Mahasiswa bisa saja cerdas, tetapi tanpa attitude yang baik, mereka akan kesulitan berkembang. Oleh karena itu, ia selalu menekankan kepada mahasiswa bahwa selain belajar, mereka juga harus membangun komunikasi yang baik dengan dosen dan lingkungan sekitar.

Menurutnya, dosen bukanlah sosok yang paling pintar, tetapi mereka memiliki pengalaman akademik dan profesional yang sangat berharga untuk dipelajari. Ia pun menyayangkan bahwa di era digital ini, banyak mahasiswa lebih mengandalkan internet daripada berdiskusi langsung dengan dosen mereka. Padahal, meskipun informasi bisa dengan mudah diperoleh secara online, ada banyak pelajaran kehidupan yang hanya bisa didapatkan melalui interaksi langsung dengan pendidik.

Visi Masa Depan

Meskipun telah mencapai banyak hal, Bu Nisa tidak ingin berhenti berkembang. Ia ingin terus berkontribusi, tidak hanya bagi kampusnya, tetapi juga bagi bangsa dan negara. Baginya, menjadi dosen bukan hanya soal mengajar, tetapi juga tentang memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.

Kisah Bu Nisa adalah bukti bahwa kesuksesan tidak datang dengan mudah. Namun, dengan kerja keras, ketekunan, dan semangat untuk terus belajar, setiap orang bisa mencapai impiannya. Ia tidak hanya menjadi seorang dosen, tetapi juga panutan dan inspirasi bagi banyak mahasiswa yang ia bimbing.***

 

Muhammad Fadlhy Fajarsyach, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

Serunya Mendaki Gunung Papandayan Sambil Syuting

0

Bogordaily.net – Gunung Papandayan di Garut, Jawa Barat, dikenal dengan pemandangan kawah berasap, padang edelweiss, serta jalur pendakian yang cukup bersahabat. Namun, bagaimana rasanya mendaki gunung ini sambil membawa kamera dan merekam setiap momen? Inilah pengalaman seru mendaki Gunung Papandayan sekaligus menjalankan syuting.

Perjalanan Menuju Papandayan

Perjalanan dimulai dari Bekasi menuju Garut, yang memakan waktu beberapa jam. Setelah tiba di penginapan, saya dan tim langsung melakukan briefing, menyiapkan konsep syuting, serta memastikan semua peralatan siap.

Keesokan harinya, pukul 04.00 pagi, kami sudah bersiap menuju titik awal pendakian. Udara dingin menyambut, dan kami memulai perjalanan dengan membawa kamera serta peralatan lainnya. Mendaki dengan membawa perlengkapan syuting tentu bukan hal mudah. Jalur berbatu dan menanjak menjadi tantangan tersendiri, terlebih saat harus tetap menjaga stabilitas kamera untuk mendapatkan footage terbaik.

Keindahan dan Tantangan di Gunung Papandayan

Papandayan menyajikan pemandangan yang luar biasa. Kawahnya yang mengepulkan asap putih memberikan kesan dramatis, meskipun asap belerang cukup mengganggu dan berisiko merusak lensa kamera. Kami harus sering membersihkan peralatan dan memakai masker agar tetap nyaman.

Selain kawah, spot favorit lainnya adalah Hutan Mati, area dengan pohon-pohon kering yang menciptakan lanskap unik dan fotogenik. Saat merekam di sini, cahaya pagi menciptakan efek yang sangat menarik dalam video.

Angin kencang menjadi tantangan lain, terutama saat menggunakan drone. Beberapa kali kami kesulitan menjaga kestabilannya, tetapi dengan sedikit penyesuaian, kami tetap berhasil mendapatkan footage udara yang diinginkan.

Tips Mendaki Sambil Membawa Kamera

  1. Gunakan perlengkapan yang ringkas – Pilih kamera ringan dan stabilizer yang praktis agar tidak menghambat pergerakan.
  2. Siapkan perlindungan kamera – Gunakan kantong anti-air dan lap pembersih untuk melindungi dari debu dan asap belerang.
  3. Perhatikan pencahayaan alami – Waktu terbaik untuk merekam adalah pagi atau sore saat cahaya lebih lembut.
  4. Selalu prioritaskan keselamatan – Jangan terlalu fokus pada pengambilan gambar hingga mengabaikan kondisi jalur pendakian.

Akses dan Biaya

  • Lokasi: Kecamatan Cisurupan, Garut, Jawa Barat
  • Tiket masuk: Rp20.000 – Rp30.000 (tergantung hari biasa/libur)
  • Transportasi: Dari Bandung/Garut bisa naik angkutan umum ke Terminal Guntur, lalu lanjut dengan ojek atau kendaraan sewaan
  • Waktu terbaik berkunjung: April – Oktober (musim kemarau)

Kesimpulan

Mendaki Gunung Papandayan sambil melakukan syuting adalah pengalaman yang menantang, tetapi juga sangat memuaskan. Selain menikmati keindahan alam, saya belajar banyak tentang bagaimana mengabadikan momen dalam kondisi yang tidak selalu ideal. Jika Anda pecinta alam dan fotografi, Gunung Papandayan adalah destinasi yang wajib dikunjungi!***

 

Muhammad Fadlhy Fajarsyach, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB