Wednesday, 15 April 2026
Home Blog Page 8676

Balita Pecandu Rokok bakal Diterapi

0

BDN – Karena viral di media sosial, akhirnya petugas medis dari Puskesmas Cibadak, Kabupaten Sukabumi, mendatangi rumah balita 2,5 tahun yang diketahui kerap mengisap rokok, Rabu (15/8). Hasilnya petugas memastikan balita yang berinisial RAF ini memang mulai mengalami tanda kecanduan rokok.

Sebelumnya RAF putra dari pasangan Misbahudin (45) dengan Maryati (35) warga Kampung Pondokanyar, RT 04/04, Desa Tenjojaya, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, itu menghebohkan masyarakat Sukabumi. Perilaku RAF dinilai tak wajar. Ia seringkali mengambil puntung rokok yang berada di depan rumahnya. ”Awalnya RAF mengalami status gizi di Bawah Garis Merah (BGM),” ujar Kepala Puskesmas Cibadak Maman Surahman kepada wartawan di sela-sela memeriksa kondisi kesehatan RAF.

Setelah ditangani petugas puskemas, status gizinya mulai membaik. Namun kini, jelas Maman, balita tersebut mulai merokok. Bahkan RAF mulai mengalami gejala kecanduan merokok. Contohnya bila meminta rokok kepada orang tuanya dan tidak diberikan maka RAF akan marah.

Kondisi tersebut, lanjut Maman, dikarenakan faktor orang tua dan lingkungan. Salah satunya akibat pendidikan orang tua yang kurang dan faktor kebiasaan. Selain itu orang tua dinilai terlalu memanjakan anaknya tersebut karena mereka baru memiliki anak laki-laki. RAF merupakan anak keenam. Semua kakak RAF merupakan perempuan. ”Sehingga ketika anak minta ini dan itu diberikan, termasuk rokok sehingga ketagihan seperti ini kejadiannya,” katanya.

Untuk mengembalikan kondisinya ke normal, ungkap Maman, diperlukan kesadaran orang tua dengan tidak menuruti keinginannya merokok. Penanganan selanjutnya yakni melakukan koordinasi dengan instansi terkait lainnya, tidak hanya kesehatan. RAF perlu menjalani terapi agar tidak merokok lagi. Koordinasi dilakukan antara Dinas Kesehatan dengan Dinas Sosial serta aparat kecamatan. Upaya terapi diperkirakan hanya selama satu bulan. Selepas itu nantinya dilanjutkan oleh orang tua di rumah.

Ibu kandung RAF, Maryati, membenarkan anaknya marah jika tidak diberikan rokok. ”Bila anak saya minta rokok dan tidak diberikan, marah bahkan sampai mencakar,” ujarnya. Maryati mengatakan, saat tidur pun RAF harus memegang sebatang rokok. Awal kecanduan rokok anaknya tersebut karena mengambil puntung rokok di halaman rumah maupun di jalanan. Selanjutnya, Maryati mengaku anaknya mengisap atau memakan puntung rokok. Sehingga dalam sehari anaknya bisa menghabiskan dua hingga tiga batang rokok.

Super Tajir, Punya Rumah Mewah Di AS

0

Chaca Frederica mengunjungi rumah Nia dan Ardie. Terlihat rumah Nia-Ardie begitu besar dengan nu­ansa hitam-putih. “Rumahnya bagus ya, American house gitu, hitam-putih minimalis,” kata Chacha.

Di situ, Chacha Frederica makan di ruang makan rumah Nia Ramad­hani. Mereka berbincang soal dunia keartisan. Video rumah Nia-Ardie di Beverly Hills itu pun menda­pat perbincangan warganet. Ada yang menilai Nia berun­tung menikah dengan Ardie.

“Hidup nia enak berun­tung banget,” komen Calissa Lissa.

“Boleh di sebut berun­tung !….. tp bagai­mana dgn nasib para korban lumpur la­pindo peru­sahaanne p a k ’ e ,” tukas ne­t i z e n lain­nya.

Tak cuma soal ru­mah. Ke­hidu­pan anak-anak Nia juga jadi sorotan. Seperti gaun biru dengan aksen kupu-kupu di bagian atas yang dipakai putri sulungnya, Mik­hayla.

Diketahui, gaun tersebut mi­lik desainer Mischka Aoki. Hal tersebut diungkapkan Nia Ra­madhani pada caption foto. “Mikhayla in @MischkaAoki,” tulisnya pada caption foto. Tak sedikit netizen yang memuji kecantikan Mikhyala dengan dress tersebut di bawah pos­tingan Nia Ramadhani. “Ka­pan nggak cantiknya sih kamu?” tulis salah satu ne­tizen. “Gila ya cantik banget!” tambah lainnya.

Diketahui, Mischka Aoki adalah salah satu desainer favorit Beyonce. Sang putri, Blue Ivy, beberapa kali ter­tangkap mengenakan gaun miliknya. Seperti saat men­ghadiri pernikahan Law­rence Parker di New Orleans pada Oktober 2017. Blue mengenakan gaun putih dengan aksen manik manik dibagian atas.

“Beyonce, JAY-Z & Blue at lawrence parker’s wedding in New Orleans Blue ivy looking adorably beautiful in @MischkaAoki ‘Eternal Beauty ‘dress” Tulis MischkaAoki pada caption foto blue ivy yang diunggahnya. 

Asyik, Gedung Sdn Kampung Tengah Segera DiRelokasi

0

BDN – Gedung SDN Kampung Tengah, Desa Pura­seda, Kecamatan Leuwiliang yang porak-poranda akibat dihantam banjir bandang pada Oktober 2017 hingga kini belum juga ada kejelasan kapan se­kolah itu akan dibangun.

Menurut pengajar SDN Kam­pung Tengah, Edi Mulyadi, perencanaan pembangunan gedung SDN Kampung Tengah hingga kini masih nihil. “Akibat hantaman banjir bandang, bangunan sekolah pun luluh lantak. Dari enam ruang kelas, dua bangunan tidak bisa di­fungsikan. Terpaksa, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) siswa kelas 2 dan 3 harus disekat,” katanya.

Meski sudah dipasang bron­jong penahan air, tidak banyak membantu. Akibatnya, jika cuaca mendung, sebanyak 116 siswa dipulangkan lebih awal. “Kalau sudah mendung dan mau hujan, siswa pulang lebih awal,” bebernya.

Di tempat yang sama, seorang pengajar, Lilis Sumarlis, me­minta pihak terkait segera me­relokasi sekolah ini. “Siswa jadi tidak nyaman belajar,” te­rangnya. Terpisah, Camat Leu­wiliang, Chairuka Judhyanto, mengatakan, bangunan SDN Kampung Tengah segera dire­lokasi ke tempat lebih aman. “Rencananya lokasi bangunan sekolah tidak jauh dari sekolah lama, yakni masih di sekitaran Kampung Tengah,” tandasnya

Warga Ontrog Sepuluh Buruh Asing

0

BDN – Keberadaan Tenaga Kerja Asing (TKA) yang bekerja di salah satu perusahaan, Kampung Sindanglengo, RT 04/04, Desa Klapanunggal, Kecamatan Klapanunggal, viral di media sosial. Sebab, TKA ini melakukan pekerjaan sebagai buruh kasar.

Sekretaris Desa (Sekdes) Klapanunggal, Magriza Djubaedi, mengatakan, belum lama ini memang ada warga yang berunjuk rasa di perusahaan tersebut lantaran banyak TKA yang bekerja sebagai buruh kasar. Sedangkan masyarakat setempat sulit bekerja di perusahaan itu.

“Di PT Indo Global Bangun Teknologi benar ada TKA. Saya kurang tahu perusahaan itu bergerak di bidang apa,” katanya. Saat masyarakat demo, ia diminta kepala desa (kades) untuk menenangkan masyarakat agar tidak berbuat anarkis. Menurut dia, perusahaan tersebut sedang membangun gedung dan belum produksi.

Sementara itu, penerjemah TKA di PT Indo Global Bangun Teknologi, TS (21), mengungkapkan, TKA yang bekerja ada sepuluh orang. Semua tenaga ahli. “TKA itu berasal dari China daratan,” ungkapnya.

TS menerangkan, warga sekitar ada yang bekerja di perusahaan ini. Jumlahnya delapan orang. Terdiri dari lima warga Kampung Sindanglengo, Desa Klapanunggal dan lainnya dari Desa Kembangkuning. “TKA ini sudah bekerja satu bulan. Soal perizinan TKA saya kurang tahu, karena saya sebatas penerjemah,” terangnya.

Setelah didemo warga, TKA sudah tidak ada lagi di lokasi pembangunan perusahaan. “Saya tidak tahu pergi ke mana mereka (TKA, red),” tuturnya.

Terpisah, Kades Klapanunggal, Tini Prihatini, mengaku tidak tahu mengenai TKA tersebut legal atau tidak. Yang jelas, ia sudah komunikasi dengan perusahaan dan meminta penjelasan dari PT Indo Global Bangun Teknologi.

“Rencananya dua atau tiga hari perusahaan datang ke desa, karena manajemennya berada di luar kota,” akunya.

Tini membeberkan, demonstrasi warga terjadi karena masyarakat melihat ada TKA yang sedang mempekerjakan buruh kasar, yakni membuat adukan untuk membangun perusahaan. Padahal, ini bisa dilakukan warga sekitar dan banyak warga sekitar pun yang ingin bekerja, tetapi malah dilakukan TKA.

“Setelah saya telepon orang perusahaannya, dia menjelaskan bahwa adukan itu bukan adukan sembarangan. Takaran bahan adukan harus dilakukan orang yang paham,” tandasnya.

Lintah Darat Ditolak Warga Mekarsari

0

BDN – Ada yang berbeda di Kampung Mekarsari, Desa Mekarsari, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor. Di jalan masuk ke Kampung Mekarsari, terbentangkan spanduk bertuliskan penolakan rentenir atau lintah darat. Spanduk ini di dirikan warga sebagai bentuk atau bukti perlawanan terhadap praktik rentenir.

Seperti yang disampaikan warga Kampung Mekarsari, Dayat Dadan (45). Ia sangat mendukung adanya penolakan bank keliling beroperasi di kampung halamannya. Sebab, praktik bank keliling selama ini bukan solusi permodalan bagi masyarakat kecil. Uang belum dipakai, besoknya sudah ditagih, hal itu malah merugikan bagi peminjam. “Praktik rentenir bank keliling ini sebenarnya sudah berjalan lama, bahkan sudah menjamur di setiap pelosok desa,” katanya.

Hal senada diungkapkan warga lainnya Wahyu Hidayat (50). Ia mengungkapkan, warga banyak yang mengeluh, meminjam uang di bank keliling bukan mempermudah masalah tetapi tambah masalah. “Saya mendukung adanya penolakan tersebut. Dalam agama Islam juga kan tidak boleh meminjam uang ke rentenir, hukumnya riba,” pungkasnya.

Lapak DiBongkar, Pedagang Kompak Bersihkan Drainase

0

BDN – Imbas pembongkaran Pedagang Kaki Lima (PKL) sepekan lalu berdampak pada terganggunya puluhan pedagang yang hanya ber­gantung pada berniaga. Sebanyak 45 lapak diratakan dengan tanah oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bogor atas permohonan PD Pasar Tohaga. Tak ada perlawanan dari pedagang saat itu. Mereka hanya bisa pasrah tat­kala ’periuk nasi’ mereka harus di­robohkan. Padahal, seluruh lapak tersebut milik warga Cisarua alias masyarakat sekitar.

Meski begitu, eks pedagang tersebut masih menunjukkan rasa tanggung jawabnya pada kebersihan lokasi yang dulu ditempati dengan membersihkan drainase di sepanjang lapak yang di­bongkar. ”Sejak dulu kami selalu per­hatikan kebersihan lingkungan tempat berjualan, hari ini (kemarin, red) para pedagang gotong-royong mem­bersihkan selokan,” ungkap pedagang yang tergabung dalam paguyuban Pedagang Kaki Lima Sodetan (PPKS) Pasar Cisarua, Dandan.

Berbagai keluhan PKL Pasar Cisarua juga dikatakan Ujang. Sejak lapaknya dibongkar, ia terpaksa menganggur dan tidak berpenghasilan. ”Saya bing­ung mau kerja apa, padahal anak saya perlu biaya sekolah,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua PPKS Pasar Cisarua, Utek, mengaku prihatin dengan kondisi rekan seprofesinya. Menurut dia, berdagang adalah mata penca­harian utama mereka. Untuk mem­beli kios perlu pertimbangan matang, karena biaya yang dikeluarkan tidak sedikit.

”Kami mohon pemerintah mema­hami nasib kami. Kami hanya men­cari makan dengan berjualan. Kalau ada lahan yang kami pakai milik pe­merintah, kami mohon kebijaksana­annya,” harapnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat Cisarua yang juga ketua Komunitas Penggerak Pariwisata (Kompepar) Kabupaten Bogor Teguh Mulyana mengaku miris dengan dibongkarnya lapak PKL tersebut. ”Mereka adalah warga Cisarua yang mencari nafkah di Cisarua. Seharusnya sih ada solusi lain daripada pembongkaran,” pung­kasnya.

RK Siap Bantu Bogor Jadi Heritage City

BDN – Memiliki visi menjadikan Kota Hujan sebagai salah satu kota Heritage (Pusaka/sejarah), Wali Kota Bogor terpilih Bima Arya Sugiarto menyambut kedatangan Gubernur Jawa Barat Terpilih Ridwan Kamil, di Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Jawa Barat, kemarin. Kunjungan tersebut merupakan salah satu bentuk kerjasama dan sinergitas antarpemerintah provinsi dengan pemerintah kota, dalam memajukan kota dan kabupaten dalam lingkup budaya dan sejarah.

Bima menilai, melibatkan Ridwan Kamil dalam urusan penataan heritage dirasa sangatlah tepat, mengingat Ridwan Kamil merupakan salah satu pemimpin yang memiliki latar belakang pendidikan berbasis Insinyur sekaligus arsitek. “Saya sengaja ajak Kang Emil untuk meminta pendapat, masukan dan saran dalam menata pengembangan konsep heritage city di Kota Bogor,” jelasnya.

Menanggapi hal itu, Gubernur Jawa Barat terpilih Ridwan Kamil mengaku sangat mengapresiasi konsep heritage city yang digagas Bima untuk Kota Hujan. Sebagai pejabat yang memiliki semangat melestarikan budaya dan nilai sejarah yang tinggi, pihaknya siap ikut ambil bagian dalam membantu Kota Hujan menjadi heritage city seperti yang didambakan pemimpinnya saat ini.  “Tentu nanti akan kita bantu dalam perumusannya, konsep-konsep nya, demi menjaga sejarah agar tetap terjaga, dan tidak tergerus oleh beberapa bangunan moderen yang ada,” kata pria yang akrab disapa Kang Emil.

Kang Emil menilai, sejarah merupakan salah satu instrumen penting dalam membangun karakter bangsa, terlebih sejarah yang berupa bangunan. “Mudah-mudahan semua warisan yang ada di sini bisa dijaga dengan baik oleh pemerintah dan masyarakat Kota Bogor, kita juga siap membantu. Intinya kalau ada kesempatan kenapa tidak, karna bangsa yang hebat adalah bangsa yang mengetahui sejarahnya.” tutupnya.

Tembok Jebol Akibat Penggusuran Lahan

BDN – Rencana Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya (PD PPJ) Kota Bogor menyulap kawasan Pasar Sukasari jadi pusat perbelanjaan, rupanya meninggalkan kesan buruk bagi sebagian warga, yang berlokasi tidak jauh dari bangunan eks bioskop dan pasar gembrong. Salah seorang pemilik toko optik Mutia (53)  harus rela dinding belakang tokonya ambruk lantaran getaran yang ditimbulkan dari penggusuran yang dilakukan pihak PD PPJ beserta PT Roket Jaya Cemerlang. Sebelum tembok belakang tokoya ambruk, Ia sempat mengadukan hal tersebut kepada pihak PD PPJ. Namun pihak PD PPJ enggan memberikan tanggapan. Mutia juga mengaku kesal, lantaran aduanya tak direspons secara bijak oleh pihak terkait.  “Saya sudah bilang ke pihak PD PPJ tapi nggak direspons. Padahal pedagang di wilayah sini di bawah naungannya, seharusnya mereka punya solusi minimal ada obrolan ke kita,” tuturnya.

Mutia mengaku sempat mengadakan obrolan dengan pihak pekerja yang melakukan penggusuran saat itu, mengenai dampak yang bakal terjadi dari perataan bangunan yang miliki luas 2.400 meter persegi. Namun pihak PD PPJ tetap bersikeras untuk meratakan bangunan tersebut, dan menghiraukan dampak yang telah disampaikan. “Padahal pekerja sudah bilang ke pihak PD PPJ, tapi mereka tetap mengintruksikan untuk melanjutkan penggusuran. 26 tahun saya berada disini, semenjak PD PPJ di sini saya tidak nyaman, etika mereka tidak ada, lebih baik dipegang preman seperti dulu, ” gamblangnya.

Akibat kejadian tersebut, Mutia harus rela dinding belakang tokonya seluas 160 cm x 270 cm, ambruk tanpa ada pertanggungjawaban dari pihak PD PPJ. Sedangkan kerugian ditaksir mencapai jutaan rupiah. “Saya sudah ngadu ke pihak PD Pasar nggak direspons, mending saya ngadu ke pemilik tokonya yang langsung sigap merespons. Ini bukan soal kerugian materi, minimal ada solusi dan ada respons dari pihak PD PPJ,” katanya.

Terpisah, Direktur Operasional PD PPJ Kota Bogor Syuhaeri Nasution mengaku hingga kini belum menerima informasi terkait kasus itu. Ia mengaku akan sesegera mungkin melakukan koordinasi, untuk memastikan benar atau tidaknya kejadian tersebut. “Kami belum menerima laporannya, malah saya tidak tahu. Tapi kita akan meninjau langsung lokasi itu, untuk memastikannya,” paparnya saat dikonfirmasi Metropolitan.

Syuhaeri juga bakal memeriksa dengan seksama, status kepemilikan lahan dan toko tersebut guna memastikan legalitas bangunan yang berada tidak jauh dengan lokasi penggusuran. “Kita akan pastikan semua berkas dan status kepemilikannya, kalau ada izinnya kita akan selesaikan, kalau tidak ada akan kita proses,” pungkasnya.

DPRD Pelototi Aliran Dana Bansos

BDN – Membengkaknya belanja bantuan sosial (bansos) dua kali lipat dalam Kebijakan Umum Perubahan Anggaran (KUPA) 2018 menjadi perhatian dewan. Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Bogor Egi Gunadhi Wibhawa memperingatkan pemerintah daerah agar lebih cermat dan berhati-hati dalam menyalurkan dana bansos tersebut. “Dari tahun ke tahun memang harusnya menurun. Lagipula bansos ini kan hibah ke lembaga tertentu. Bagi saya si memperingatkan kepada pemerintah harus hati-hati dalam melakukan distribusi bansos agar benar-benar tepat sasaran. Jangan sampai membuat kecurigaan masyarakat dan berbuntut hukum,” kata Egi kepada Metropolitan, kemarin.

Selanjutnya, Egi akan melihat kemana anggaran bansos itu mengalir. Menurutntya, Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kabupaten Bogor tidak akan dengan mudah menyetujui usulan anggaran khususnya di pos-pos anggaran yang mengalami peningkatan signifikan. “Bansos itu misalnya. Harus dipastikan juga kontrol setelah pemberiannya. Saya pikir dewan komitmen untuk cermat dalam membahas anggaran ini dan tidak begitu saja menyetujui,” terangnya.

Selain itu, Egi lebih mengusulkan jika empat dinas strategis yaitu Dinas Sosial, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dinas Pemuda dan Olahraga dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) dinaikan anggarannya. Sebab, politikus PDI Perjuangan ini merasa banyak program bagus dan penting di empat dinas tersebut.

“Anggarannya selama tiga tahun terakhir naiknya sangat sedikit. Padahal APBD kita naik terus. Kami ingin paling tidak naik 20 persen anggarannya. Bisa lah dinas lain saja potensi silpanya kan besar-besar. Kami dorong agar ada peningkatan dan di dinas-dinas itu memang sudah ada peningkatan program,” ungkap Egi.

Sementara itu, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Bogor Didi Kurnia mengaku kenaikan tertinggi dalam belanja tidak langsung justru bukan pada sektor belanja hibah. Melainkan pada anggaran belanja pegawai yang naik hingg Rp95 miliar dari sebelumnya Rp2,3 triliun.

Sementara untuk menanggulangi defisit, Didi mengatakan dalam APBD Perubahan nanti hanya akan mengakomodir kegiatan prioritas penciri kabupaten termaju. Dia pun berharap SKPD pengusul menggeser kegiatan-kegiatan yang bersifat fisik. “Bisa ditunda karena efektifits APBD Perubahan cuma tiga bulan. Mungkin APBD Perubahan selesai akhir September,” tandas Didi.

Sebelumnya, kebutuhan belanja daerah Pemerintah Kabupaten Bogor dalam Kebijakan Umum Perubahan Anggaran (KUPA) 2018 membengkak. Sebelum perubahan anggarannya Rp7,65 triliun namun berubah menjadi Rp8,05 triliun atau naik Rp398,2 miliar. Pembengkakkan belanja ada pada belanja bantuan sosial (bansos) dari sebelumnya Rp22,921 miliar menjadi Rp46,264 miliar. Jumlah tersebut naik Rp23.342 miliar atau lebih dari 100 persen.

Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Bogor Yuyud Wahyudin mengatakan, target pendapatan setelah perubahan hanya Rp7,05 triliun atau naik Rp171,57 miliar dari sebelum perubahan yakni Rp6,88 triliun. Artinya, masih ada defisit di atas Rp1 triliun lantaran target belanja naik signifikan. “Tapi ini masih bisa berubah. Mungkin saja target pendapatannya dinaikkan karena target belanja naik signifikan. Maka ada defisit di atas Rp1 triliun,” kata Yuyud saat ditemui Metropolitan di ruang kerjanya.

Jalan Merdeka Bikin Celaka

BDN – Tahun ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menerima Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat untuk pekerjaan perbaikan sejumlah jalan di beberapa titik se-Kota Bogor. Salah satunya Jalan Merdeka. Namun hasil betonisasi jalan malah berpotensi bikin pengguna jalan celaka. Sebab, jalan lebih tinggi daripada trotoar dan drainase.

Kondisi itu tampak di beberapa titik seperti depan Museum Perjuangan, hingga depan Shangrila. Hal ini dikhawatirkan bisa menyebabkan air meluap ke trotoar, karena posisi yang lebih rendah dari jalan. Selain itu, dikhawatirkan membahayakan pejalan kaki bila nantinya pekerjaan telah selesai.

Kepala Bidang Pembangunan Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Bogor, Wawan Gunawan mengatakan, saat ini pihaknya tengah fokus dalam program peningkatan dan pembetonan badan jalan terlebih dahulu. Nantinya, Dinas PUPR akan mengupayakan penataan trotoar, untuk dianggarakan di anggaran perubahan. Agar trotoar setingkat dengan jalan.

“Itu kan peningkatan jalan dulu, nanti, baru diupayakan penataan trotoar. Kalau seandainya masih bisa dimasukan ke dalam anggaran perubahan, trotoar, nya supaya naik minimal setingkat dengan jalan, kalau bisa lebih. Nah, sekarang peningkatan badan jalan dulu program nya. Pembetonan,” katanya kepada Metropolitan, kemarin.

Wawan menambahkan, saat ini empat proyek perbaikan jalan tengah dikebut. Jalan merdeka tengah dilakukan pengecoran. Jalan Sindangbarang Jero mulai pembersihan, sedangkan Jalan Padasuka dan Warungbandrek sedang sosialisasi ke kelurahan. “Totalnya ada empat Proyek DAK 2018,” imbuhnya.

Menanggapi hal itu, Pengamat Konstruksi Toriq Nasution menuturkan, secara estetika memang posisi jalan lebih tinggi daripada trotoar itu tidak dibenarkan. Ada banyak dampak yang bakal ditimbulkan, diantaranya limpahan air bakal lebih besar ke trotoar dan drainase. Harusnya, pemkot terlebih dahulu merencanakan penataan trotoar dan drainase, terlebih dahulu. “Secara estetika itu tidak benar. Masa trotoar dibawah jalan? Nanti jadi saluran air, jadi got, limpasan air dari jalan beton. Ini aja sudah gak nyambung,” ujarnya.

Ke depan, sambung dia, seharusnya ada anggaran program perbaikan trotoar juga. Agar ketinggian trotoar minimal sama dengan tinggi jalanya. “Sebetulnya boleh saja kalau itu mendesak. Tapi harus segera diadakan perbaikan trotoar. Kalau trotoar dibawah jalan, kendaraan bisa nyelonong nabrak yang jalan. Dari segi keamanan gak bagus,” ucapnya.

Tetapi, dia merasa pesimis jika dimasukan dalam anggaran perubahan. Sebab, waktu yang ada sudah sangat mepet. “Saya kira tidak keburu. Prosesnya lama. Apalagi jika nilainya besar. Kalau mulus lelang dua bulan, ya kapan ngerjainnya?” paparnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Administrasi Pengendalian Pembangunan Barang dan Jasa (Adalbang) Sekretariat Daerah (Setda) Kota Bogor Rahmat Hidayat mengatakan, ada empat ruas jalan yang mengalami peningkatan kualitas jalan melalui dana DAK, diantaranya Jalan Merdeka dengan nilai Rp 6,6 miliar, Jalan Warungbandrek sebesar Rp2,9 miliar, Jalan Sindangbarang Jero (SBJ) senilai Rp2,8 miliar, dan Jalan Padasuka, yang memakan biaya Rp1,4 miliar. Total, Pemkot menerima DAK untuk perbaikan jalan sebesar Rp13,7 miliar untuk pelaksanaan di 2018. “Lewat DAK itu. Jalan Merdeka lebih besar karena secara lebih panjang dari yang lainnya, ada kurang lebih 1500 meter lah. DAK beda dengan APBD, harus jelas supaya bisa cair dan terserap,” tutupnya.