Friday, 17 April 2026
Home Blog Page 8899

Pedagang Balon di Lapangan Sempur Kaget Pembelinya Raffi Ahmad

0

BOGOR DAILY-Kedatangan Raffi Ahmad ke lapangan Sempur untuk syuting beserta anaknya, Rafatar, Minggu (15/10/2017) membuat pedagang balon air kebanjiran order.

Diketahui Raffi datang bersama anak dan ajudannya ke Lapangan Sempur bukan hanya untuk syuting film, tapi juga bermain panjat tebing.

Pedagang balon air, Afantole (35), mengaku senang setelah barang dagangannya dibeli Raffi Ahmad 5 botol sekaligus. “Seneng mas, awalnya dia beli cuman satu akhirnya nambah lagi 5, lumayanlah mas,” ujarnya.

Warga menyambut antusias artis sekaligus presenter suami Nagita Slavina itu. Mereka juga tidak segan untuk foto selfi bersama selebritis asal Bandung tersebut.

TKW Bogor Ini Pulang Dalam Kondisi Meninggal

BOGOR DAILY-Nasib malang menimpa Aidah Tursinawati (44), seorang wanita asal Kampung Citugu, RT 03/11, Desa Tugu Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor.

Janda beranak dua ini pergi merantau ke negeri jiran Malaysia untuk mencari nafkah menjadi seorang TKI (Tenaga Kerja Indonesia).

Namun, keluarga kaget setelah Aidah tiba di kampung halamannya dengan kondisi tak bernyawa, Sabtu (14/10/2017) sekitar pukul 03.00 dini hari.

Menurut Kepala Desa Tugu Jaya, Sugandi Sigit, Aidah sudah 12 tahun menjadi TKW di Malaysia dan ketika almarhum tiba di kampung halamannya, ia mengaku sempat berkunjung ke rumah duka.

“Saya datang karena dapat undangan ada warga yang meninggal, dikuburkan jam 08.00 WIB pas sabtu (14/10/2017), Aidah itu udah 12 tahun katanya di Malaysia, jadi TKI, dan dia masih tercatat sebagai warga sini,” ujar Sugandi.

Ia juga mengaku sempat bertanya kepada orangtua korban terkait penyebab kematian almarhum namun pihak keluarga Aidah terkesan tertutup.

Namun yang ia ketahui dari penjelasan pihak keluarga almarhum, bahwa jenazah Aidah bisa dipulangkan berkat adanya bantuan dari KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) untuk Malaysia.

Sehingga almarhum pun bisa dipulangkan tanpa biaya dari pihak keluarga.

“Pihak keluarga hanya bilang, alhamdulillah pak, udah nyampe di sini, perjalananya dilancarkan prosesnya, mohon maaf aja bila ada hal-hal, gitu aja,” ungkapnya.

Kecelakaan Bus di Tol Jagorawi, Satu Tewas

BOGOR DAILY-Sebuah bus jurusan Jakarta-Tasikmalaya bernomor polisi Z 9014 TJ terlibat kecelakaan dengan truk di  Tol Jagorawi Kilometer 42, Senin (16/10/2017).

Dalam kejadian tersebut, satu orang meninggal dan tiga orang lainnya mengalami luka-luka.

Kepala Unit Laka Lantas Polres Bogor Iptu Asep Saepudin mengatakan, kejadian bermula saat bus yang dikemudikan Abdul Rohman (50) melaju dengan kecepatan tinggi dari arah Jakarta menuju Ciawi.

Asep menduga, sopir bus tidak mampu mengendalikan kendaraannya sehingga menabrak bagian belakang truk tersebut.

“Kecelakaan tidak bisa dihindari. Bus menabrak truk yang berjalan pelan, lalu bus terguling ke sisi jalan. Bagian bus ringsek hingga menimbulkan korban jiwa,” kata Asep.

Asep menyebut, empat orang penumpang bus menjadi korban. Korban tewas bernama Chaerudin (49), warga Cianjur, meninggal di lokasi kejadian.

Tiga penumpang lainnya yang mengalami luka-luka adalah Suroyo (40) asal Cilacap, Andi Sandiana (37) asal Tasikmalaya, dan Asep Wahyudin asal Bogor.

“Korban sudah dibawa ke RSUD Ciawi. Kita juga masih melakukan pemeriksaan, termasuk mengecek kelayakan bus,” tutup dia.

Ini Toh Bos Transmart Bogor yang Bangun Tanpa Izin

0

BOGOR DAILY-Kenekatan pengusaha membangun Transmart tanpa izin tengah menjadi sorotan. Bukan hanya dipelototi Satpol PP Kota Bogor tapi juga bakal berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Setelah Metropolitan melakukan penelusuran di internet, ada beberapa video di channel YouTube yang menunjukkan awal mula pembangunan, termasuk menampakkan siapa bos dibalik pembangunan supermal tersebut.

Dalam video berjudul Ground Breaking Transmart Bogor berdurasi 7 menit 35 menit, pembangunan mal di Jalan KH Abdullah bin Nuh, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Tanahsareal itu diketahui dimulai pada 17 Maret 2017. Tujuh bulan lalu, pengelola Transmart yang diketahui pengusaha Bogor yaitu Yohanes Karundeng dari PT Yasmin Bogor Lestari melakukan ground breaking atau peletakan batu pertama di lokasi proyek. Dalam acara itu, tampak juga Mulawarman sebagai pemilik PT Trans Retail Indonesia, Dodi Suryosuasto sebagai Manajer Operasi Kontruksi 1 PT Wika Gedung dan Rahardian yang ditunjuk sebagai manajer proyek Transmart Bogor.

Dari video yang diunggah Sami Mohammed, peletakan batu pertama diselipkan dengan ritual pemecahan kendi. Selain itu ada juga pemotongan tumpeng dan pembagian santunan kepada warga. Tidak diketahui warga penerima santunan warga sekitar proyek atau bukan. Dalam tayangan video juga disebutkan toko modern itu bakal dibangun empat lantai seluas 39.092 meter persegi dan dilengkapi dua basement. “Setiap lantai masing-masing kurang lebih 7.000 meter persegi,” kata pengisi suara di video tersebut.

Sementara itu, Yohanes Karundeng menuturkan jika acara ground breaking tersebut berjalan cukup baik. Ia berharap semua tahapan pembangunan Transmart tidak terkendala. “Harapan kita semua dapat berjalan lancar. Tidak ada gangguan,” katanya dalam video di durasi 4 menit 32 detik.

Harapan Yohanes kini tinggal harapan. Pembangunan Transmart terganjal restu Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor lantaran hingga kini belum memiliki dokumen Izin Bangunan Bangunan (IMB). Setelah disidak Wali Kota Bogor Bima Arya pada akhir September lalu.

Kini, kasus pengusaha nakal di Kota Bogor juga mendapat perhatian KPK. Dalam waktu sebulan, KPK bakal mengumpulkan data terkait pembangunan di Kota Hujan ini. Aksi KPK menggarap pengusaha bermasalah di Kota Bogor ini bagian dari program audit seluruh tempat usaha di sebelas kota/kabupaten di Jawa Barat. Langkah tersebut akan menjadi pijakan untuk menindak para pengusaha yang tidak taat aturan. Aspek yang akan diaudit meliputi izin mendirikan bangunan (IMB), pemanfaatan air bawah tanah untuk kepentingan komersil, analisis dampak lingkungan, amdal analisi dampak lalu lintas, dan pajak. “Saat ini sedang dalam pemetaan. Proses ini butuh waktu sebulan,” kata Ketua Sumber Daya Alam KPK Dian Patria di Balai Kota Bogor, kemarin.

Dari hasil audit ini, lanjut Dian, akan terindentifikasi tempat usaha mana saja yang belum berizin, atau tidak melengkapi persyaratan dikeluarkannya IMB. Pengusaha yang mengemplang pajak pun akan terlihat. Tempat usaha yang menjadi sorotan KPK di antaranya hotel, apartemen, perumahaan, mal, rumah sakit, pabrik, dan restoran.

“Nanti setelah diaudit ketahuan semua. Ini nanti akan kita tanya ke pemberi izin. Ini melanggar, tapi kok dibiarkan. Ini berarti ada apa-apanya,” terang Dian.

Menurut Dian, penindakannya nanti akan ditinjau per kasus. KPK akan menindaklanjuti temuan pelanggaran perizinan yang terindikasi mengandung unsur suap dan korupsi. “Penindakan bisa oleh penegak hukum lainnya, bisa polisi, Satpol PP. Kalau ranahnya KPK ya kami tindak,” kata dia.

Dian menyarankan pemerintah daerah bersikap tegas terhadap pengusaha nakal. Sebab, beberapa tempat usaha di Kota Bogor terindikasi melanggar aturan. Ada yang membangun dulu, baru mengurus izin belakangan. Ada pula kasus pengusaha yang tidak meldngkapi persyaratan untuk dikeluarkannya IMB seperti Amdal Lalin dan Amdal Lingkungan. Seperti halnya pembangunan Transmart.

“Ya harus tegas. Misal tidak bayar pajak atau belum ada IMB. Nanti kita tanya ke pemberi izin kenapa tidak kena sanksi. Kalau ada pembiaran berarti ada apa-apanya,” ucap Dian.

Disisi lain, audit yang dilakukan KPK juga dalam rangka upaya pencegahan terjadinya tindakan melawan hukum oleh pengusaha nakal. “Misal kalau ada pengusaha mau bangun lagi hotel di kota yang sama, sementara hotel sebelumnya bermasalah ya nggak dikasih. Beresin dulu yang itu. Ini contoh pencegahannya,” terangnya.

Mantan Sekwan Kota Bogor Siap siap Nyaleg dari Gerindra

0

BOGOR DAILY- Di balik pencarian figur untuk pemilihan legislatif (pileg) 2019 yang dibuka Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Kota Bogor memunculkan nama baru. Nama mantan sekretaris dewan (Sekwan ) DPRD Kota Bogor, Bambang Budianto, masuk kedalam bursa pertarungan wakil rakyat pada dua tahun mendatang.

Ketua DPC Partai Gerindra Kota Bogor, Sopian Ali Agam, membenarkan hal tersebut. Menurut Sopian, Bambang mendafatrkan diri melalui Gerindra karena berharap masih bisa tetap mengabdi untuk Kota Bogor. “Iya pak Bambang daftar. Apalagi akhir tahun ini kalau tidak salah beliau pensiun dari birokrat,” ujar Sopian kepada Metropolitan.

Meski demikian, sambung Sopian, itu pun masih sebatas pendaftaran. Bambang belum langsung dinyatakan lulus dan dijadikan bakal calon (balon) Pileg 2019 karena masih ada tugas yang mereka harus kerjakan, yakni membuat kader TPS sebanyak sepuluh orang dengan dilengkapi KTP dan nomor kontak. “Harus lulus dulu baru bisa dicalonkan. Rencanya maju di Kecamatan Bogor Tengah. Basisnya Kelurahan Sempur dan Babakan,” ucap dia.

Sopian menjelaskan, sebenarnya untuk menyambut Pileg 2019, partainya sudah melakukan penjaringan dan itu pun terus bergerak sampai saat ini. Terpenting calon yang akan diusung dalam Pileg merupakan kader Gerindra dan tokoh masyarakat. “Saat ini sudah mencapai 41 figur yang mendaftar ke kita. Target kita mereka bisa menambah 20 ribu KTA baru,” ujarnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi Bambang Budianto membenarkan terkait pencalonannya tersebut. Namun, menurutnya pendaftaran ini baru sebatas bakal calon (balon) bukannya calon Pileg. “Rencananya begitu. Tapi masih lama, karena 2018 saja masih pendaftaran,” kata Bambang.

Bambang mengakui jika dirinya pun sudah mengajukan pensiun kepada Pemkot Bogor. Pengajuan itu sudah diberikan sejak Agustus lalu ke Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Aparatur (BKP-SDA) Kota Bogor. “Sudah masuk sejak Agustus. Kemungkinan April tahun depan sudah mulai pensiun, tapi itu tergantung SK-nya karena saya harus nunggu SK Presiden,” ujarnya.

Sebelumhya diberitakan, DPC Partai Gerindra Kota Bogor terus melakukan persiapan untuk menyambut pemilihan legislatif (pileg) 2019. Perolehan 15 kursi jadi target yang ditetapkan partai berlambang kepala burung garuda tersebut. Target tersebut dianggap realistis lantaran diperoleh dari perhitungan tiga kursi di masing-masing daerah pemilihan (dapil) yang ada di Kota Bogor. Sebab dari hasil survei yang dilakukan pada April tahun ini, Gerindra Kota Bogor memiliki penilaian mencapai 21 persen. Sedangkan partai lain dibawah 10 persen.

Cekcok Mulut, Adik di Parungpanjang Bunuh Kakaknya

BOGOR DAILY-Kasus pembunuhan tragis terjadi di wilayah Parungpanjang. Seorang adik tega membunuh kakaknya sendiri. Seperti yang terjadi di Kampung Kabasiran Lebak, Desa Keba­siran, Kecamatan Parungpanjang, Kabupaten Bogor.

Sambil tertunduk, Suhendar (25) digelandang ke Mapolsek Parungpanjang. Minggu (15/10), ia berhasil diburu polisi karena tega membunuh kakaknya sendiri, Yudi (34).

Informasi yang dihimpun, kejadian nahas ini terjadi pada Sabtu (14/10) jelang Magrib. Sekitar pukul 17:30 WIB, di dekat kandang ayam rumahnya Yudi terlibat cek­cok dengan adiknya.

Nahas, saat itu juga senjata tajam diduga pisau melayang ke dada sang kakak hingga me­regang nyawa. Bekas luka tusu­kan pun masih terlihat jelas di jasad korban yang sudah terbu­jur kaku. Hingga kini polisi ma­sih memburu senjata yang di­pakai pelaku. “Iya, kami masih mencari barang buktinya,” ujar Kapolsek Parungpanjang Kom­pol Nurahim.

Menurutnya, dari keterang­an saksi, pelaku diduga men­galami gangguan jiwa. Namun, hal ini masih dalam penyeli­dikan. “Kami akan periksa kejiwaannya nanti,” katanya.

Nurahim mengaku belum bisa memastikan motif pela­ku tega menghabisi nyawa kakaknya. “Kita masih men­cari tahu kebenarannya guna penyelidikan lebih lanjut, ka­rena diduga pelaku tersebut mengalami gangguan jiwa. Pelaku diancam Pasal 338 yo 351 (3) KUHP Pidana ancaman 20 tahun penjara,” pungkasnya.

Teror Kaca Pecah Dekat Istana Bogor, Pos Polisi Dilempari Batu

0

BOGOR DAILY-

Teror kaca pecah di pos polisi tak cuma terjadi di Garut pada Sabtu (14/10). Insiden perusa­kan pos polisi juga merambat hingga ke Ring 1 Istana Bogor.

Sebuah pos Polisi Lantas 6A Denpom yang berada di Jalan Sudirman, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, tak jauh dari depan Istana Bogor, di­lempar batu oleh orang tak dikenal, Minggu (15/10) dini hari. Padahal, pos polisi itu merupakan pintu utama ma­suk Istana Bogor.

Menurut seorang pedagang yang berada dekat lokasi, Soleh (nama samaran, red), malam itu ia mendengar suara motor gede (moge) berhenti di depan pos. Tak lama ia mendengar ada su­ara lemparan kaca. “Saya kaget pas dengar ada suara pecah kaca karena istri saya ada di dalam,” kata Soleh.

Saat dilihat ke dalam, istrinya sudah dalam kondisi syok. “Pas saya masuk itu kaca samping kiri bawah sudah dalam keada­an pecah dan banyak serpihan kaca di meja pos,” ungkapnya.

Sejak 1987, ‘Kampung Pengemis’ di Bogor Makin Eksis

0

BOGOR DAILY-Bangunan semipermanen dengan tiang bambu dan triplek sebagai temboknya banyak ditemui di Kampung Tegallega, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Tak jauh dari rumah mereka, barang rongsokan berupa plastik dan botol bekas juga terlihat menggunung. Tak heran jika kampung ini dulunya disebut ‘Kampung Beling’. Namun, kini kampung yang terdiri dari lima RT itu justru makin eksis turun-temurun menjadi ‘Kampung Pengemis’ di Kota Bogor.

Seperti yang dilakoni DS (10), warga Kampung Ciheuleut, RT 04/06, Kelurahan Tegallega, Kecamatan Bogor Tengah. Bo­cah kelas IV SD itu kena sidak petugas Dinas Sosial (Dinsos) saat asyik mengamen di jalanan, beberapa waktu lalu.

Saat itu DS mengaku baru pertama kali mengamen dengan hasil Rp26 ribu di kantong. Namun begitu ditelusuri ke kampung halamannya, tak se­dikit anak-anak seusianya yang menjalani pekerjaan serupa.

Ada yang memilih jadi peng­amen, pengemis hingga pemu­lung. Tak pandang tua atau muda, hampir seluruh warga di ‘Kampung Pengemis’ itu hidup di jalanan. Pemerintah me­nyebutnya sebagai kelompok Penyandang Masalah Kesejah­teraan Sosial (PMKS).

Berdasarkan data Dinas So­sial (Dinsos) Kota Bogor, angka PMKS di Kota Kota Bogor di 2016 berjumlah 35.712 orang. Seba­gian dari mereka tinggal turun-temurun di Kampung Tegallega yang terkenal dengan ‘Kampung Pengemis’.

Informasi yang dihimpun, ada dua RT yang banyak men­cetak kelompok pengemis dan kawan-kawannya. Yakni di RT 02 dan 04. Bahkan, mereka sudah menetap lebih dari se­perempat abad yaitu sejak 1987.

Hal ini diakui Ketua RW 06, Ke­lurahan Tegallega, Isa Anggara­sora, yang berhasil ditemui Met­ropolitan. Isa bercerita bahwa kampungnya dulu terkenal dengan sebutan ‘Kampung Beling’. Sebu­tan ini bukan asal, mengingat kebanyakan warganya memang hidup sebagai pemulung.

Berawal dari tiga Kepala Kelu­arga (KK) yang hidup sebagai pemulung, lambat laun akhirnya banyak pendatang yang berda­tangan menghuni lahan kosong. Dengan bangunan sederhana, warga pun menata hidupnya. Kebanyakan dari mereka me­milih mengais rezeki dari jalanan kota. Mengemis, mengamen ataupun memulung sudah jadi makanan sehari-hari warga yang tinggal di sana.

“Dulunya kan ini tanah ko­song, kebun kelapa, kemudian diisi dua atau tiga orang pe­mulung beling. Kelamaan jadi banyak orang datang. Bukan warga asli, kebanyakan dari Cianjur, Sukabumi dan Jawa Tengah. Tapi sekarang memang sudah domisili Kota Bogor,” katanya saat ditemui Metropolitan, kemarin.

Meski dikenal sebagai kam­pungnya pengemis, Isa justru lebih senang menyebutnya sebagai ‘Kampung Mongol’. “Artinya bahwa warga di sini itu tidak takut, tidak malu bekerja sebagai apapun, bahkan di jalan untuk mengemis, ngamen. Is­tilah itu muncul dari warga sekitar karena keberanian itu. Saya sendiri tidak paham ke­napa Mongol dan apa artinya. Mungkin karena kenekatannya disamakan dengan orang Mong­ol. Ya penyebutan bahasa saja untuk mendefinisikan warga di sana,” bebernya.

Meski awalnya merasa tera­singkan, lama-kelamaan ‘Kam­pung Pengemis’ ini justru makin eksis. Perubahan dari ‘Kampung Beling’ jadi ‘Kampung Mongol’ seolah membuat warga yang tinggal di kampung itu lebih percaya diri. “Dulu mah pada nggak mau baur, mungkin ka­rena merasa pekerjaan mereka di jalanan, ada rasa minder. Namun sejak 2000-an sudah mulai terbiasa dan berbaur,” ucapnya.

Isa menambahkan, hingga kini sebagian besar dari mereka masih sering kembali ke jalan, bahkan sampai ke anak-anaknya juga sudah keasyikan ngemis dan ngamen. “Anak-anak juga ada yang sampai putus sekolah, katanya ‘mending balik lagi ke jalan dapat duit’. Meskipun ber­bagai upaya pernah dilakukan pemerintah seperti penyeleng­garaan PAUD dan bantuan dana usaha beserta penyuluhan­nya, tetapi ya gitu, kembali lagi ke jalan. Ini problem yang mesti ditangani,” terangnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Sosial Kota Bogor Azrin Syam­sudin saat melakukan razia anak jalanan dan PMKS beberapa hari lalu mengatakan, feno­mena PMKS bukan barang baru di Kota Hujan. Bahkan menyebut di beberapa titik ada perkam­pungan yang seluruhnya tergo­long warga PMKS. “Di satu RW, di Kelurahan Tegallega, ada seluruhnya termasuk PMKS. Ada sekitar 350 KK. Hingga saat ini sebagian besar warganya bekerja di jalanan, baik itu peng­emis, tukang minta-minta, pe­mulung hingga pengamen,” ungkapnya kepada wartawan.

Beberapa cara, sambungnya, sudah dilakukan untuk men­gurangi jumlah mereka yang bekerja di jalan agar mencari nafkah di bidang lain. “Beber­apa kali sempat diadakan peny­uluhan keterampilan di sana hingga bantuan dana usaha pun pernah. Ada beberapa dari me­reka yang kini sudah tidak ke jalan lagi, tetapi sebagian besar masih kembali ke jalan,” tutup­nya.

Democracy Award

Oleh: Hj. Ade Yasin, SH, MH
(Calon Bupati Bogor 2018)

Minggu depan saya mendapat kehormatan menerima award dari salah satu media nasional “Rakyat Merdeka”. Saya bersama beberapa menteri, sejumlah kepala daerah serta tokoh politik mendapat penghargaan “Democracy Award”. Ini sungguh sesuatu yang luar biasa bagi saya. Sama sekali tidak menyangka. Apalagi award ini berkaitan dengan demokrasi. Karena itu pula saya tergelitik lagi untuk membaca-baca dan kemudian mengulas tema ini dalam tulisan sederhana ini.

Bagi saya, jalan demokrasi di Republik Indonesia adalah cerita panjang yang sudah dipilih dan final oleh para pendiri bangsa. Sejarah panjang perjuangan dan melelahkan pada akhirnya membuahkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 dengan keputusan rakyat Indonesia sendiri setelah kemerdekaan yang dijanjikan Jepang tak kunjung datang. Sejarah pun berlanjut.

Tiga sistem politik yang berbeda, masing-masing mengatasnamakan “demokrasi” telah dicoba ditegakkan selama lebih kurang setengah abad terakhir. Segera setelah Indonesia merdeka, Indonesia mencoba sistem demokrasi parlementer yang di kemudian hari dianggap terlalu “liberal”, kemudian menjelang dekade 1950-an dicoba pula sistem politik dengan nama demokrasi terpimpin, yang ternyata bukan saja tidak demokratis, melainkan dinilai cenderung mengarah kepada sistem otoriterianisme. Pada kurun waktu terpanjang sesudah itu di Indonesia kemudian diberlakukan “demokrasi pancasila” di bawah orde Baru, yang berakhir pada 1998 dan yang melahirkan Reformasi.

Demokrasi merupakan hal yang sangat akrab dengan kehidupan kita sebagai warga negara. Demokrasi adalah sebuah sistem atau tatanan pemerintahan yang dianut oleh suatu negara tertentu. Pengertian demokrasi secara garis besar merupakan sebuah sistem pemerintahan dimana setiap rakyat memiliki persamaan dan kesetaraan hak untuk mengemukakan pendapat, dan memilih sebuah pilihan tanpa ada unsur paksaan dari pihak lain.

Makna demokrasi pada dasarnya sangat luas mengingat arti demokrasi sendiri adalah sebuah sistem pemerintahan yang mengatur tatanan sebuah negara yang menyangkut pemerintah dan rakyat. Secara tidak langsung demokrasi memiliki makna bahwa sebenarnya pemerintahan dan kekuasaan tertinggi suatu negara berada di tangan rakyat.

Sistem pemerintahan demokrasi menganut asas yakni pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Hakikat demokrasi adalah sebuah sistem bermasyarakat dengan menekankan kekuasaan tertinggi yang berada di tangan rakyat. Hal ini mencakup berbagai aspek didalam pemerintahan. Seperti contoh pemilihan pemimpin negara atau presiden yang dipilih secara demokratis yakni rakyat dapat memilih calon presiden tanpa ada paksaan dari pihak lain.

DEMOKRASI LIBERAL

Di awali dari maklumat Hatta sebagai wakil presiden waktu itu, di mana dalam maklumat tersebut menganjurkan perlunya pembentukan partai-partai yang ternyata mendapat sambutan luas hingga pada waktu itu lebih kurang 40 partai telah lahir di Indonesia. Namun pada kenyataannya dalam kondisi yang sedemikian, bukannya menambah suburnya sistem demokrasi di Indonesia, melainkan kekacauan sistem politik negara. Ini terbukti, kabinet-kabinet yang ada pada waktu itu tidak pernah bertahan sampai 2 tahun penuh dan terjadi perombakan-perombakan dengan kabinet yang baru, dan bahkan menurut penilaian Presiden Soekarno banyaknya partai hanya memperunyam masalah dan hanya menjadi penyebab gontok-gontokan dan penyebab perpecahan. Bahkan dalam pidatonya dia menilai partai itu adalah semacam pertunjukan adu kambing yang tidak bakalan berpengaruh baik bagi bangsa dan negara.

DEMOKRASI TERPIMPIN

Dalam suasana yang mengancam keutuhan teritorial sebagaimana kata Soepomo, maka muncul gagasan “demokrasi terpimpin” yang dilontarkan Presiden Soekarno pada Februari 1957. Mula-mula pandangan ini dicetuskan Partai Murba serta Chaerul Saleh dan Ahmadi. Namun gagasan tanpa perbuatan tidak terlalu berarti dibanding gagasan dan perbuatan langsung dalam usaha mewujudkan gagasan itu. Dan inilah yang dilakukan Soekarno.
Soekarno sebagai pemimpin tertinggi pada era demokrasi terpimpin menyatakan bahwa demokrasi liberal tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia, prosedur pemungutan suara dalam lembaga perwakilan rakyat dinyatakan tidak efektif dan kemudian Soekarno memperkenalkan dengan apa yang di sebut dengan ”musyawarah untuk mufakat”. Banyaknya partai politik menurut Bung Karno adalah penyebab tidak adanya pencapaian hasil dan sulit dicapai kata sepakat karena terlalu banyak berdebat atau bersitegang urat leher.

DEMOKRASI PANCASILA

Pelaksanaan demokrasi pancasila ditandai dengan keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966. Orde Baru bertekad akan melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekwen. Awal Orde baru memberi harapan baru pada rakyat pembangunan disegala bidang melalui Pelita I, II, III, IV, V dan pada masa orde baru berhasil menyelenggarakan Pemilihan Umum tahun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997.

Orde Baru adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Soeharto di Indonesia. Orde Baru menggantikan Orde Lama yang merujuk kepada era pemerintahan Soekarno. Orde Baru hadir dengan semangat “koreksi total” atas penyimpangan yang dilakukan Presiden Soekarno pada masa Orde Lama.

Orde Baru berlangsung dari tahun 1966 hingga 1998. Dalam jangka waktu tersebut, ekonomi Indonesia berkembang pesat meskipun hal ini terjadi bersamaan dengan praktik KKN yang merajalela di negara ini. Selain itu, kesenjangan antara rakyat yang kaya dan miskin juga semakin melebar.

Pada 1968, MPR secara resmi melantik Soeharto untuk masa jabatan 5 tahun sebagai presiden, dan dia kemudian dilantik kembali secara berturut-turut pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998.Politik Presiden Soeharto memulai “Orde Baru” dalam dunia politik Indonesia dan secara dramatis mengubah kebijakan luar negeri dan dalam negeri dari jalan yang ditempuh Soekarno pada akhir masa jabatannya.

Salah satu kebijakan pertama yang dilakukannya adalah mendaftarkan Indonesia menjadi anggota PBB lagi. Indonesia pada 19 September 1966 mengumumkan bahwa Indonesia bermaksud untuk melanjutkan kerjasama dengan PBB dan melanjutkan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan PBB, dan menjadi anggota PBB kembali pada 28 September 1966, tepat 16 tahun setelah Indonesia diterima pertama kalinya.

Pada tahap awal, Soeharto menarik garis yang sangat tegas. Orde Lama atau Orde Baru. Pengucilan politik dilakukan terhadap orang-orang yang terkait dengan Partai Komunis Indonesia. Sanksi kriminal dilakukan dengan menggelar Mahkamah Militer Luar Biasa untuk mengadili pihak yang dikonstruksikan Soeharto sebagai pemberontak. Pengadilan digelar dan sebagian dari mereka yang terlibat “dibuang” ke Pulau Buru.

Sanksi nonkriminal diberlakukan dengan pengucilan politik melalui pembuatan aturan administratif. Instrumen penelitian khusus diterapkan untuk menyeleksi kekuatan lama ikut dalam gerbong Orde Baru. KTP ditandai ET (eks tapol).

Orde Baru memilih perbaikan dan perkembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya dan menempuh kebijakannya melalui struktur administratif yang didominasi militer. DPR dan MPR tidak berfungsi secara efektif. Hal ini mengakibatkan aspirasi rakyat sering kurang didengar oleh pusat. Pembagian PAD juga kurang adil karena 70% dari PAD tiap provinsi tiap tahunnya harus disetor kepada Jakarta, sehingga melebarkan jurang pembangunan antara pusat dan daerah.
Soeharto siap dengan konsep pembangunan yang diadopsi dari seminar Seskoad II 1966 dan konsep akselerasi pembangunan II yang diusung Ali Moertopo.

Soeharto merestrukturisasi politik dan ekonomi dengan dwi tujuan, bisa tercapainya stabilitas politik pada satu sisi dan pertumbuhan ekonomi di pihak lain. Dengan ditopang kekuatan Golkar, TNI, dan lembaga pemikir serta dukungan kapital internasional, Soeharto mampu menciptakan sistem politik dengan tingkat kestabilan politik yang tinggi.

Selama masa pemerintahannya, kebijakan-kebijakan dan pengeksploitasian sumber daya alam secara besar-besaran menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang besar namun tidak merata di Indonesia. Pada masa Orde Baru, pemerintah mencanangkan program Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), kegiatan pembelajaran secara mendalam tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, agar Pancasila dan UUD 45 ini tidak hanya dihafalkan tapi diamalkan dalam sendi kehidupan. Di masa orde baru, penataran P4 wajib diselenggarakan di berbagai bidang.

Pada pertengahan 1997, Indonesia diserang krisis keuangan dan ekonomi Asia, disertai kemarau terburuk dalam 50 tahun terakhir dan harga minyak, gas dan komoditas ekspor lainnya yang semakin jatuh. Rupiah jatuh, inflasi meningkat tajam, dan perpindahan modal dipercepat. Para demonstran, yang awalnya dipimpin para mahasiswa, meminta pengunduran diri Soeharto. Di tengah gejolak kemarahan massa yang meluas, Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998, tiga bulan setelah MPR melantiknya untuk masa bakti ketujuh. Soeharto kemudian memilih sang Wakil Presiden, B. J. Habibie, untuk menjadi presiden ketiga Indonesia.

Mundurnya Soeharto dari jabatannya pada tahun 1998 dapat dikatakan sebagai tanda akhirnya Orde Baru, untuk kemudian digantikan “Era Reformasi”. Masih adanya tokoh-tokoh penting pada masa Orde Baru di jajaran pemerintahan pada masa Reformasi ini sering membuat beberapa orang mengatakan bahwa Orde Baru masih belum berakhir. Oleh karena itu Era Reformasi atau Orde Reformasi sering disebut sebagai “Era Pasca Orde Baru”.
Meski diliputi oleh kerusuhan etnis dan lepasnya Timor Timur, transformasi dari Orde Baru ke Era Reformasi berjalan relatif lancar dibandingkan negara lain seperti Uni Soviet dan Yugoslavia. Hal ini tak lepas dari peran Habibie yang berhasil meletakkan pondasi baru yang terbukti lebih kokoh dan kuat menghadapi perubahan zaman.

DEMOKRASI SAAT INI

Demokrasi di Indonesia pada saat ini justru semakin terkonsolidasi. Pada tahap transisi, Indonesia telah berhasil melakukan reformasi politik, terutama dalam bentuk amandemen UUD 1945, yang menekankan pada pembatasan kekuasaan presiden, penguatan peran DPR, pemilu yang bebas dan jaminan kebebasan berekspresi. Transisi ini dilalui pada 2004, meski transisi itu juga tidak terlepas dari berbagai persoalan yang cukup krusial. Diantaranya munculnya konflik komunal serta perdebatan kembali tentang posisi syariat Islam dalam amandemen UUD 1945.

Konsolidasi demokrasi di indonesia memang masih menghadapi sejumlah problem dan hambatan, antara lain masih banyaknya praktik politik uang, mafia hukum, konflik pilkada, konflik komunal dan lain-lain. Namun, kondisi kehidupan bernegara dan bermasyarakat saat ini masih dalam koridor demokrasi, terutama adanya kontrol terhadap penyelenggara negara, pemilu bebas, kebebasan berekspresi serta kebebasan pers. (*)

Asyik Main Pingspong, Setya Novanto Sudah Sehat

0

BOGOR DAILY- Ketua DPR RI Setya Novanto nampaknya sudah kembali sehat, setelah berhari-berhari ditawat di Rumah sakit saat akan diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dalam foto yang didapatkan JawaPos.com, pada Sabtu (14/10), Setya Novanto sedang asik bermain tenis meja di Gedung DPR tepatnya di ruang Nusantara IV.

Dengan menggunakan kaus putih dan celana hitam, Setya Novanto tampak usai memukul bola pingpong yang mengarah ke dirinya. Raut mukanya pun serius seperti ingin berkonsentrasi pada permainan tenis meja itu. Di sekeliling Setya Novanto juga tampak beberapa orang yang sedang asik bermain ‎tenis meja.

Sebelumnya, pada Jumat (13/10) Setya Novanto juga berkunjung ke Bali‎ untuk melihat perkembangan situasi dari dampak status Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali.

Dalam kunjungan kali ini, Setya Novanto menyerahkan bantuan beras sebanyak 5 ton, 2000 paket sembako, 5 tandon air. Kami juga menyediakan sarana air bersih tiap hari lima tangki dengan kapasitas 3000 liter, fasilitas dapur sebesar 25 juta, perangkat perlengkapan bayi dan lima truk makanan ternak. Selain itu, Novanto beserta rombongan juga menyediakan fasilitas MCK sebanyak 300 titik yang diperuntukkan bagi pengungsi.

“Saya sepenuhnya merasakan kegelisahan para pengungsi yang saat ini berjumlah ratusan ribu jiwa. Mereka harus meninggalkan kampung halaman, meninggalkan aktivitas keseharian dan kehilangan mata pencaharian,” ujar Setya Novanto, Jumat (13/10).

Belum lagi, mereka harus terpisah dengan sanak saudara akibat status Gunung Agung yang sampai saat ini masih berada dalam status awas.

“Saya mengapresiasi kesigapan pemerintah pusat dan daerah yang senantiasa tidak lelah melayani masyarakat dengan memberikan bantuan-bantuan, yang memang sangat diperlukan warga, serta meng-update perkembangan situasi Gunung Agung untuk mengantisipasi kejadian yang tidak di inginkan,” pungkas Setya Novanto.

Sekadar informasi, sebelulmnya Novanto dirawat di RS Premier sejak 18 September. Ia dikabarkan menderita beberapa penyakit dari mulai vertigo hingga jantung. Bahkan, terakhir Setya Novanto juga ada tumor di bagian lehernya. Dia juga sempat menjalani operasi kateterisasi jantung.

Kemudian pada, Senin (2/10) malam Setya Novanto sudah boleh pulang oleh dokter yang merawatnya karena sudah pulih dari penyakitnya.

Kini status Setya Novanto sudah tak lagi menjadi tersangka dugaan korupsi proyek pengadaan kartu tanda penduduk berbasis elektronik (e-KTP). Hal itu dikarenakan gugatan praperadilannya dikabulkan sebagian oleh hakim tunggal Cepi Iskandar‎.