Sunday, 12 April 2026
Home Blog Page 8930

VIDEO: Heboh! Pengemudi Maki-maki Polisi di Tol Cawang

0

BOGOR DAILY-Heboh, video beredar luas di media sosial (Medsos) tentang pengemudi Mobil Fortuner memaki-maki polisi yang sedang bertugas di pintu masuk KM 1.700 contraflow Cawang arah Semanggi. Pengemudi Mobil B. ** ABR itu mungkin kesal melihat ada pengemudi lain yang tidak tertib dalam berlalu lintas, tapi kok marahnya kepada polisi?

Dalam video berdurasi 1 menit itu, tampak tiga orang polisi sedang berada di dekat mobil pengendara Fortuner. Pengendara mobil Fortuner itu pun keluar dan sempat cekcok dengan polisi.

Ini sekelumit percakapan antara polisi dengan pengendara mobil Fortuner:

Polisi Pertama: Keluarin surat-surat. Kami minta surat bapak dulu.

Pengendara: Bapak jangan sembarangan ya.

Polisi Kedua, (mendorong badan polisi pertama):  Kami kenapa? Kenapa? Sekarang bapak tanya? Kenapa? Salah kami di mana?

Pengendara: Itu (sambil menunjuk).

Polisi Kedua: Itu kan perilaku masyarakat? Bapak bisa kasih tahu kami, Pak, itu ada melanggar? Kenapa bapak mengata-ngatain *****? Pantas bapak di samping perempuan berkata begitu? Sambil melihat ke dalam mobil.

Pengendara: Saya minta maaf. Tapi tolong dijaga dong.

Polisi Kedua: Apa-apaan? Kami jaga berdiri? Coba bapak. Kami salahnya di mana? Bapak pantas tidak berkata seperti itu?

Sementara itu, Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Halim Pagarra ketika dikonfirmasi wartawan, membenarkan peristiwa tersebut. Pengendara marah-marah kepada polisi dan sempat mengucapkan kata-kata tidak sopan.

“Masyarakat menerobos, tapi dia maki-maki ke polisi,” kata Halim, Senin (11/9/2017).

Halim mengatakan pengendara itu salah sasaran dengan memaki polisi. Dia melihat ada pengemudi lain yang menerobos antrean.

“Menurut informasi bahwa ada yang melanggar, masyarakat melanggar, dia tidak antre, masyarakat. Tapi si pengemudi yang maki-maki anggota salah sasaran,” ucapnya.

Nih videonya

Melelahkan! Bogor-Sukabumi Sampai 11 Jam

BOGOR DAILY-Proyek pengerjaan perbaikan Jembatan Cisadane yang berlokasi di Jalan Raya Sukabumi, Kampung Cisalopa, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, dikeluhkan warga.

Pasalnya, sistem buka tutup jalan yang diberlakukan untuk mengurai kemacetan justru menimbulkan penumpukan kendaraan dari arah Bogor-Sukabumi maupun sebaliknya.

Waktu perjalanan dari arah Bogor menuju Sukabumi yang biasanya dapat ditempuh sekitar 2,5 jam sampai 3 jam, kini harus ditempuh dengan waktu yang lebih lama.

Kemacetan semakin parah disaat memasuki akhir pekan dan libur nasional. Kemacetan bisa mengular sampai Simpang Ciawi dari arah Bogor.

Salah satu warga, Atin, meluapkan kekesalannya atas situasi itu. Ia menyebut, penyebab utama kemacetan ada di sekitar Jembatan Cisadane yang saat ini tengah dilakukan perbaikan.

Atin menceritakan, saat dirinya berpergian ke Sukabumi beberapa waktu lalu, ia harus kejebak macet sampai 11 jam.

Ti Leuwiliang Bogor ka Sukabumi 11 jam (Dari Leuwiliang Bogor ke Sukabumi 11 jam). Macetnya luar biasa. Berangkat jam 9 pagi nyampe jam 8 malam, melelahkan,” kata Atin, Selasa (12/9/2017).

Hal senada diungkapkan Firman. Pemuda asal Caringin ini mengatakan, pemberlakuan satu jalur menjadi momok bagi pengguna jalan yang melintasi jalur Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi).

Anak sekolah, pegawai, dan buruh pabrik banyak yang terlambat di tempat tujuan. Distribusi hasil industri mati, pedagang sayur dan ternak tidak bisa mengirim tepat waktu.

“Kendaraan harus berjalan pelan, bergiliran di atas jembatan. Ekor kemacetan dipastikan sampai di Ciawi,” tutur Firman. (Kompas.com)

Aturan KTR Banyak Dilanggar Kafe dan Resto di Bogor

0

BOGOR DAILYDinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Jawa Barat menemukan sejumlah restoran dan kafe melanggar Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2009 tentang Kawasan Tanpa Rokok. Temuan tersebut terungkap dalam kegiatan sosialisasi terkait kawasan tanpa rokok (KTR) di tempat-tempat umum, Senin, dengan sasaran restoran dan kafe yang menjadi tempat favorit anak-anak muda berkumpul.

“Kegiatan sosialisasi ini sudah berjalan sejak awal tahun, secara bertahap sudah 10 kali kami turun ke lapangan. Total ada 100 restoran dan kafe yang sudah kami datangi,” kata Kepala Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Dinas Kesehatan Kota, Erni Yuniarti, Senin (11/9).

Erni menyebutkan dari 100 restoran dan kafe yang didatangi oleh Tim Satgas KTR tersebut beberapa sudah ada yang pernah didatangi oleh tim sebelumnya. Beberapa lainnya adalah restoran dan kafe yang baru berdiri.

Menurutnya pertumbuhan restoran dan kafe di Kota Bogor yang cukup pesat mendorong pihaknya untuk memastikan tempat umum tersebut mengikuti aturan dengan menegakkan peraturan daerah tentang KTR. Dari hasil tinjauan di lapangan, kebanyakan restoran dan kafe tersebut melanggar Perda KTR. Petugas menemukan iklan, dan berbagai produk rokok seperti asbak, pertunjukan musik langsung yang disponsori rokok, maupun dekorasi tempat duduk yang identik dengan industri rokok.

“Kami menemukan fakta banyak sekali ritel rokok yang masuk ke restoran dan kafe baru di Kota Bogor. Kita tidak tau model pendekatan mereka seperti apa, apakah memberikan bantuan, acara musik, dan atribut yang ada sponsor rokoknya,” kata Erni.

Ia mengatakan dalam kegiatan sosialisasi ke lapangan tersebut, pihaknya menggandeng Disbudparekraf sebagai instansi yang berwenang melakukan pembinaan kepada pengelola restoran dan kafe di Kota Bogor.

Dari 100 restoran dan kafe yang didatangi tim KTR Dinkes dan Disbudparekaf, kebanyakan pengelolanya mengaku tidak mengetahui adanya aturan tentang Perda KTR. Mereka berdalih tidak tahu kalau iklan rokok dilarang di restoran, dan aturan larangan mendisplai penjualan rokok.

“Karena tujuan kami turun adalah untuk sosialisasi dan melakukan pendampingan, jadi kami lebih kepada advokasi tidak memberikan sanksi. Jika ada atribut rokok kita minta untuk diganti, demikian iklan rokok dicabut. Kalau ada yang menjual rokok diperbolehkan tapi tidak boleh mendisplai,” kata Erni.

Erni menyayangkan banyak restoran dan kafe baru berdiri yang tidak mengetahui adanya soal Perda KTR. Sehingga banyak restoran dan kafe mempersilahkan ritel rokok masuk, memasarkan dan mempromosikan produknya. Sementara itu, kafe dan restoran juga menjadi tempat berkumpulnya anak-anak muda di Kota Bogor.

“Seharusnya Dinas Perizinan melibatkan Disbudparekraf dalam memberikan izin pendirian restoran atau kafe baru, sehingga Perda KTR dan Perda Reklame ini bisa diterapkan di tempat umum ini,” kata Erni.

Menurut Erni, sejak mereka gencar mendatangi restoran dan kafe lalu melakukan sosialisasi dan pendampingan. Ritel rokok mulai mendatangi Dinas Kesehatan untuk mempertanyakan aturan terkait Perda KTR. Karena sejak didatangi banyak restoran dan kafe yang mundur dan menurunkan segala bentuk promosi rokok.

“Kami didatangi oleh ritel rokok, minta penjelasan. Karena sejak ada sosialisasi dan pendampingan banyak restoran dan kafe yang mulai peduli KTR. Sehingga ritel rokok ini merasa dirugikan, mungkin karena kontrak berlaku setahun, tetapi belum sampai setahun sudah banyak restoran yang berhenti promosi,” kata Erni

 

Meninggal Dunia, Istri Hamzah Haz Dimakamkan di Bogor

BOGOR DAILYIstri Wakil Presiden ke-9 Hamzah Haz, Asmaniah atau yang biasa disapa Nani, meninggal dunia, Selasa (12/9) pagi. Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arsul Sani menjelaskan, Nani meninggal karena sakit dan faktor umur.

Menurut Arsul, jenazah akan dibawa ke kediaman di Jl kebon Pedes no 26 Tanah Sereal, Kota Bogor untuk disalatkan kedua kalinya. Jenazah pertama kali disalatkan di rumah duka di Jl Patra Kuningan XV, Jakarta Selatan.

“Setelah disalatkan, jenazah dibawa ke Yayasan Al Ikhlas Jl jogjogan Cisarua, Bogor untuk dimakamkan di pemakaman keluarga,” kata Arsul melalui pesan singkat, Selasa (12/9).

Anggota Komisi III DPR ini menjelaskan, jenazah akan diberangkatkan usai salat dzuhur. Nani merupakan istri pertama Hamzah haz. Selain Nani, Hamzah Haz menikah dengan Titin Kartini. Dari keduanya, Hamzah memiliki 12 anak.

Dia lahir di Pontianak pada 27 Juli 1942. Saat Hamzah Haz menjabat sebagai wakil presiden, Asmaniah menemaninya di Jakarta. Sementara, istri kedua Hamzah Haz tinggal di Bogor

Besok, Wisma Mahasiswa Sulsel di Jalan Semeru Dibongkar

BOGOR DAILY– Eksekusi lahan asrama mahasiswa, yang juga merupakan aset Pemerintah Provinsi Sulsel rencananya akan dieksekusi Rabu (13/9) besok.Sekertaris Derah Pemprov Sulsel, Abdul Latief mengakui akan tetap melakukan upaya dan sekaligus mempertahankan aset tersebut.

Menurut Latief, proses perjuangnya untuk mempertahankan aset Negara tersebut tidaklah begitu panjang. Hanya dalam waktu dua hingga tiga hari kedepan.

“Kita sudah komunikasikan dengan adek-adek untuk meninggalkan asrama dengan berbagai langkah-langkah yang kita lakukan,”kata Latief.

Selain itu, menurutnya, pemprov telah mempersiapkan pembangunan asrama baru diatas tanah yang telah diserahkan pemerintah daerah Bogor sebesar 810 meter persegi. “Kita sudah liat desainnya, Insya Allah tahun 2018 mendatang akan kita anggarkan pembangunannya di APBD. Untuk desainnya akan masuk di anggaran perubahan,” tambahnya.

 Untuk mahasiswa yang telah menetap di asrama tersebut, tambahnya, akan disediakan penampungan sementara dana kebetulan ada tempat yang disiapkan lengkap dengan semua fasilitasnya.

“Kita sudah mengajak adik-adik untuk pindah ke tempat baru. Karena besok sudah akan di eksekusi, jadi kepada adek-adek tolong pindah ke tempat yang sudah yang disiapkan.Sambil menunggu gedung baru selesai. Ini dilakukan agar menghindari kejadian yang tidak di inginkan saat mengeksekusi,” tegasnya.

Eksekusi lahan Asrama Mahasiswa Latimojong di Jl Jl Dr Semeru No 27, Kota Bogor, yang sudah dibeli oleh Yayasan Al Ghazali Bogor tersebut kembali mencuat. April 2018, Eksekusi pertama Wisma yang berdiri sejak tahun 1958 tersebut berlangsung ricuh. Ratusan mahasiswa dan warga menghadang aparat hingga akhirnya eksekusi ditunda.

Wisma milik Pemprov Sulsel dengan NO.538/5928 tgl 29 oktober 2007 yang menyatakan asrama mahasiswa itu menjadi hak milik dengan nomor aset 11.22.00.35.57.06/06.02.05.01.00.02 menjadi penguat kepemilikan aset daerah.

Sejauh ini asrama tersebut banyak melahirkan tokoh-tokoh di negeri ini dengan berbagai profesi baik ilmuwan, pengusaha maupun tokoh politik yang sudah banyak mengabdikan diri di republik ini.

Geng Motor Cileungsi Beraksi, Pemuda Dibacok

BOGOR DAILY-Geng motor kembali beraksi di Kabupaten Bogor. Seorang pemuda bernama Farhan Nahif Romadhan (19) diserang oleh kawanan pemotor, Senin (11/9/2017) sekitar pukul 03.00 WIB.

Saat itu, korban sedang berboncengan dan melintas di Jalan Peruma Permata Cibubur, Desa Cileungsi, Kabupaten Bogor. Tiba-tiba datang dari arah belakang dua orang yang diduga geng motor langsung menyabetkan senjata tajam ke arah korban hingga Farhan mengalami luka dibagian kaki kiri, tangan sebelah kanan , kepala, punggung dan leher.

Saat dikonfirmasi, Kapolsek Cileungsi  Kompol Jaka Mulyana megaku sudah menerima laporan terkait kasus penganiayaan yang dialami oleh Farhan. Menurutnya, saat ini pemeriksan baru dilakukan kepada orangtua korban.

“Saat itu posisi korban sedang dibonceng oleh temannya dan korban dibacok dari arah belakang oleh orang tak dikenal sampai terjatuh dari atas sepeda motor,” ujarnya.

Melihat korban terjatuh, pelaku kemudian turun dari atas sepeda motornya dan kembali membacokan senjatannya kearah tubuh korban hingga Farhan menderita luka cukup parah. “Korban langsung dilarikan kerumah sakit, tapi pelaku berhasil melarikan diri saat coba ditangkap oleh warga,” kata dia.

Kapolsek melanjutkan, saat ini pihaknya masih mencari keterangan sejumlah saksi yang berada dilokasi kejadian termasuk teman korban yang saat kejadian sedang bersama-sama dengan korban. “Sementara kami akan lakukan penyelidikan dan mencari info siapa tahu ada CCTV di sekitar lokasi kejadian,” tukasnya

Hamil di Luar Nikah, Siswi SMA Nekat Buang Bayi

BOGOR DAILY-Kepolisian sektor Megamendung, Polres Bogor berhasil mengungkap pelaku pembuangan bayi yang dibuang pada Kamis pekan lalu, di Kampung Sirimpak, Desa/Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Pelaku diketahui masih berstatus pelajar.

Ibu kandung masih berstatus pelajar kelas XI di salah satu SMA. Kapolsek Magamendung, Ajun Komisaris Aulia Djabar menuturkan, pascapenemuan bayi polisi melakukan penelusuran dengan memeriksa beberapa saksi.

“Sekitar pukul 18.00 WIB, Senin kemarin, setelah melakukan pengusutan, penyidik mendapatkan petunjuk jejak sang pelaku. Informasi pun mengarah kepada HB (15). Pelaku dicurigai sebagai perempuan yang membuang bayi habis melahirkan itu,” ujarnya, Selasa (12/9).

Berdasarkan keterangan pemeriksaan, ia mengaku habis melahirkan. Sesaat setelah melahirkan kemudian ia membuangnya. Hasil penyidikan pelaku mengaku bayi itu merupakan hasil hubungan intim dengan seorang lelaki berinisial RR.

Aulia mengatakan, pihaknya kemudian mengamankan pelaku HB. Polisi juga akan memburu pacar pelaku yang diduga berperan sebagai otak pelaku. “Bayi yang dibuang sampai sekarang masih dalam keadaan hidup dan sehat. Warga menitipkannya ke bidan,” tambah Kapolsek.

Sebelumnya diberitakan, kasus pembuangan anak kembali terjadi di Bogor. Kali ini seorang bayi perempuan ditemukan warga tergeletak di sebuah semak-semak dekat rumpun bambu di Kampung Sirimpak, Desa Megamendung, Kamis (7/9) malam sekitar pukul 22.00 WIB. Saat ditemukan bayi tersebut dalam keadaan masih hidup.

Setelah diperiksa bayi tanpa nama tersebut dalam keadaan sehat memiliki berat 2,8 kilogram dan tinggi 48 sentimeter.

Korban Penggusuran Galang Aksi Ngemis Terpanjang di Puncak

BOGOR DAILYSepekan lagi pembongkaran pedagang kaki lima (PKL) Puncak tahap II akan segera dieksekusi. Sedikitnya ada sekitar 800 pedagang yang akan dipaksa angkat kaki dari jalur Puncak. Sementara, lahan relokasi yang dijanjikan tak kunjung dipenuhi pemerintah daera (pemda). Hingga rencana aksi ngemis terpanjang di sepanjang jalur itu mencuat dari para korban penggusuran Puncak.

Pasca pembongkaran PKL Puncak pada 5 September lalu, sebanyak 539 pedagang korban penggusuran belum mendapat kepastian tempat jualan. Bahkan, rencana mereka untuk ditampung di tempat wisata dan hotel hotel justru makin membebani pedagang dengan biaya sewa tempat mencapai Rp20 juta.

Belum juga rampung urusan itu, pekan depan Pemkab Bogor akan kembali mengeksekusi penggusuran pedagang untuk memuluskan proyek pelebaran jalan Puncak menjadi empat jalur.

Tak ingin bernasib sama dengan para korban penggusuran sebelumnya, sejumlah pedagang yang akan digusur pada tahap ke II menggalang aksi ‘Ngemis Terpanjang’ di jalur Puncak. Hal ini diungkap saat para pedagang dan aktivis Relawan Pejuang Demokrasi (Repdem) menggelar konferensi pers di Sekretariat PAC di Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Senin (11/09).

Kordinator PKL Puncak Dadang Sukandar menyatakan PKL akan melakukan aksi mengemis terpanjang sedunia, apabila pemerintah daerah tetap ngotot melakukan pembongkaran PKL Puncak tahap kedua nanti.

“Kalau Pemerintah Kabupaten Bogor tetap menggusur PKL Puncak tanpa menyediakan tempat relokasinya terlebih dahulu maka kami akan melakukan aksi mengemis terpanjang sedunia. Kami para PKL Puncak akan berjejer di jalan untuk mengemis uang kepada para wisatawan,” jelas Dadang yang sering disapa Nanang.

Menurutnya, langkah pemerintah menggusur pedagang tanpa menyiapkan reloaksi sama dengan mengantarkan mereka menjadi pengemis karena harus kehilangan mata pencaharian.

Iya dong, masa kios kami dibongkar, lalu kami harus libur makan, makanya jika kios pedagang tetap di bongkar,  ngemis menjadi jawaban kami terhadap pemerintah,”ketusnya

Seperti diketahui, dalam pembongkaran tahap II ini sedikitnya ada 884 bangunan kios yang akan dibongkar. Termasuk juga dengan 51 bangunan rumah. Ini pula yang akhirnya membuat pedagang menggalang aksi ‘ngemis terpanjang’. Kami akan lakukan aksi ngemis dari mulai gadog kalau sampai tempat relokasi itu belum disediakan,”kata dia.

Keluhan serupa juga datang dari warga yang rumahnya ikut dibongkar di Kampung Naringgul Desa Tugu Selatan Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Tempat itu nantinya akan dijadikan tempat relokasi sekaligus rest area baru.

Salah satu warga Kampung Naringgul, Deden Supriatna (57), mengaku tidak terima jika bangunan yang berjumlah 51 kepala keluarga dikampungnya itu harus ditertibkan lantaran tidak adanya kejelasan dari pemerintah bagaimana nasib warga ke depannya nanti.

Ia juga menuturkan bahwa ia sama sekali tidak mendapat penjelasan dari pemerintah bahkan ia sempat bertanya ke pihak desa namun hasilnya nihil.

Padahal ia mengaku sudah membayar pajak bumi dan bangunan (PBB) selama 27 tahun serta di kampung tersebut ia sudah membesarkan tiga anak dan kini sudah mempunyai tiga cucu.

Tidak ada masalah kalau mau diambil untuk rest area, asalkan jelas, di Jakarta kan disediakan relokasi dulu, baru digusur, disini boro-boro, pengarahan kemana saya nanti, gak tahu, tidak ada sosialisasi,” ujar Deden

Ia juga mengatakan bahwa kampung yang mayoritas warganya bekerja sebagai penjaga vila itu seperti dianaktirikan. Kakek yang tinggal di sana sudah puluhan tahun tersebut juga berharap bisa bertemu dengan Bupati Bogor, Nurhayanti, agar ia bisa meminta kejelasan dari penertiban tersebut. “Saya inginnya dipanggil bupati, supaya keluhan masyarakat sampai, trus bagaimana tanggapan dia, nasib kita mau dikemanakan, hak kita, apakah saya berhak hidup atau tidak, jangan maen SP1, SP2, SP3, saya mohon dengan hormat,” ujarnya.

Terpisah, Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Rustandi mengatakan, bahwa yang sedang dilakukan ini adalah program besar, dimana pemerintah pusat berencana menata kawasan Puncak kearah lebih baik. Soal setuju dan tidak setuju, itu tergantung masyarakat melihatnya dari sudut pandang yang mana. Yang jelas undang-undang lalu lintas melarang ada bangunan berdiri di bahu jalan, dan bangunan itu sudah berdiri bertahun-tahun.

“Kalau pemerintah pusat punya rencana melaksanakan pelebaran jalan, dan bahkan proyeknya sudah ditenderken, berarti Pemkab harus sudah melakukan penertiban, toh ini kita sedang survei lahan relokasi, yang jelas Pemkab sedang berupaya meningkatkan derajat para pedagang, dengan menempatkan pedagang di tempat yang lebih baik,” ujar Rustandi.

Bikin Kaget! Kakek Ini Ditemukan Ngambang di Sumur

0

BOGOR DAILY– Seorang kakek di Bogor diduga sengaja menceburkan diri ke dalam sumur di belakang rumahnya. Jasadnya pertama kali ditemukan oleh anaknya di rumahnya Kampung Lolika, Kelurahan Semplak, Kecamatan Bogor Barat.

Korban bernama Suhari, 75 tahun itu sebelumnya dicari anaknya lantaran tiba-tiba menghilang. Sang anak langsung curiga apalagi sudah dua kali korban diketahui sempat mencoba mengakhiri hidup dengan menceburkan diri ke Sungai Cisadane.

Setelah dicari ke mana-mana, akhirnya korban ditemukan dalam keadaan mengambang tak bernyawa di dalam sumur sekitar pukul 11.30 WIB. “Istri dan anak korban langsung teriak minta tolong,” ujar Kristian Permana, anggota BPBD Kota Bogor.Senin (11/9/2017).

Jasad Suhari akhirnnya berhasil dievakuasi sekitar pukul 13.30 WIB oleh petugas BPBD, Damkar, dan tim relawan. “Kami sempat kesulitan evakuasi karena kondisinya sempit dengan kedalaman sumur 16 meter,” kata Kristian.

Usai dievakuasi, korban langsung dimakamkan pihak keluarga dekat rumahnya.

Pemicu pria uzur itu nekat mengakhiri hidup diduga gara-gara depresi. Berdasarkan keterangan saksi, Suhari selama ini sering mengeluhkan penyakit yang dideritanya.

“Korban menceburkan diri ke dalam sumur karena depresi,” ujar Kristian.

Pemuda Depresi

Kasus serupa pernah terjadi pada Sabtu, 8 Juli 2017 sekitar pukul 11.30 WIB. Diki dinyatakan menghilang setelah menceburkan diri ke Sungai Cigede, sekitar Curug Leuwi Asih, Bogor.

Tim SAR gabungan melakukan pencarian mulai dari menyisir sungai, menyelam hingga memasang jaring. Hingga akhirnya ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di sekitar lokasi di mana korban pertama kali menceburkan diri.

Korban yang masih mengenakan kaos hitam dan jeans warna biru itu langsung dibawa ke rumah sakit terdekat guna penyelidikan. (Lip/feb)

Lagi Ngetren, Kondangan Drive Thru di Bogor

BOGOR DAILY- Jika biasanya sistem Drive Thru dijumpai di restoran ataupun pom bensin, kini layanan tanpa turun dari kendaraan juga jadi tren baru pernikahan. Di Cihideung Bogor, pasangan mempelai juga menerapkan pernikahan dengan sistem ini.

Dara Prayoga mengisahkan pengalamannya saat menghadiri acara ‘penrikahan drive thru’ di Cihideung Bogor.  Kebetulan, pasangan mempelai yang hendak didatangi mengadakan acaranya di rumah yang ada di pinggir jalan. 

Saat di lokasi, Yoga melihat pelaminan pengantin berada persis menghadap jalan. Hal ini sedikit berbeda dari pernikahan pada umumnya yang menempatkan pelaminan di bagian belakang. Di bagian depan biasanya disambut oleh meja penerima tamu.

“Areanya sempit dan enggak memungkinkan nutup jalan karena itu jalan utama buat angkot dan mobil-mobil lewat. Jadi mau nggak mau seperti itu,” ucap Yoga.

Yoga yang datang dengan mengendarai mobil itu melewati pelaminan sambil mencari parkir, namun tidak ketemu. Akhirnya dia memutuskan untuk bersalaman langsung saja kepada mempelai dari dalam mobil.

“Saya tahunya itu pas nyampai kok (pelaminannya) di tengah jalan. Sambil nyari parkir susah, nggak dapat. Saya lewat dulu, terus balik lagi itu dan salaman,” katanya.

Menurutnya pelaminan di depan jalan itu bukan hal aneh di sana. Karena, kondisi lokasi yang sempit dan tidak memungkinkan menutup jalan sehingga jadinya menikah ala ‘drive thru’ itu. “Orang di sana nggak maksud drive thru, cuma masalah lokasi aja yang sempit jadi dibikin gitu,” ucapnya.

Amplop untuk sang mempelai langsung diserahkan saat salaman, sedangkan soal makan, Yoga memilih makan di tempat kondangan lain. “Saya nggak makan jadinya, kebetulan saya juga ada 3 kondangan lain jadi buru-buru,” ujarnya.

Menurutnya sebagian tamu ada yang hadir dan makan di lokasi. Namun ada juga yang hanya salaman tanpa turun dari mobil. “Ada bangku-bangku di samping pelaminan buat tamu yang mau makan. Kalau yang bawa mobil parkirnya lumayan jauh, jadi sambil lewat aja kondangannya,” ucapnya.