Monday, 6 April 2026
Home Blog Page 9164

VIDEO: Sungai Cidurian Jasinga Ngamuk, 2 Kecamatan Terendam

0

BOGOR DAILY – Banjir bandang menerjang dua kecamatan di Kabupaten Bogor. Di antaranya tiga desa di Kecamatan Jasinga, dan satu desa di Kecamatan Cigudeg.  Air tumpahan dari sungai Cidurian tersebut merendam beberapa rumah dan lahan pertanian milik warga. Bahkan ketinggian air dibeberapa titik sampai selutut orang dewasa.

Beberapa wilayah di Jasinga yang terkena banjir bandang yakni Kampung Bunar Desa Bunar, Kampung Petey, Kampung Kalong Dagul Desa Kalong Sawah Jasinga, Kampung Parungsapi, Kampung Muncang Sabrang Desa Sipak Jasinga.

Diduga banjir bandang tersebut berasal dari meluapnya kali Cidurian yang melintas dari Gunung Asahan Cigowong, Desa Sukamaju, Cigudeg sampai ke Kecamatan Jasinga.

Berikut video saat Sungai Cidurian ‘mengamuk’.

22 Bulan Tahan Sakit Akhirnya Dirujuk ke RS Harapan Kita

Bogor Daily – Terlahir dalam keadaan tidak nor­mal membuat balita pasangan Dede Nurmayanti (22) dan Lucky Ferdiawan (28) harus menahan sakit. Di rumahnya yang berlokasi di Desa Cilebut Timur, RT 1/7, Kecamatan Sukaraja, Alvaro Dicky Ramadhan hanya bisa menangis di pelukan sang bunda. Kepalanya membesar melebihi tubuh mungilnya. Setiap harinya, Alvaro terus-terusan rewel hingga membuat orang tuanya kepusingan mengurus si buah hati.

Sejak lahir 20 bulan lalu, ukuran kepala Alvaro terus membesar. Bukan tumor, me­lainkan penyakit Hydrocephalus. Ibunda Alvaro telah menyadari adanya kelainan pada buah hatinya sejak persalinan. Saat itu, dokter yang menanganinya merekomendasikan agar dilakukan tindakan operasi sesar. “Waktu itu dokter menyuruh saya operasi sesar karena posisi kepala bayi katanya be­rada di luar pinggul,” terangnya Dede.

Namun, Dede dan suaminya baru menyadari ada kelainan saat putranya lahir dengan berat sekitar 3,9  kilogram itu. Bermacam usaha pun dilakukan keduanya agar sang putra bisa tumbuh normal seperti balita pada umumnya.

Lagi-lagi faktor biayalah yang menjadi kendala kelu­arga kecil ini untuk bisa men­gobati hydrocephalus yang diderita putranya tersebut. “Kata dokter di kepalanya ada cairan, sehingga harus dikelu­arkan,” tuturnya.

Dia berharap putranya tum­buh normal seperti anak-anak seusianya. “Saya mah cuma ingin anak saya sembuh, biar bisa main seperti anak-anak lain,” ujar dia.

Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Pemberantas Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (P2PKL) Dinkes Kabupaten Bogor dr Agus Fauzi mengatakan petugas puskesmas telah melakukan pengecekan dan akan meru­juk Alvaro agar mendapat pelayanan medis.

Orang tua Alvaro telah dim­inta mengurus kelengkapan administrasi si pasien agar bisa didaftarkan sebagai peserta jamkesmas. “Akan dibawa ke Rumah Sakit Harapan Kita, rujukan dari puskesmas juga sudah dibuatkan,” terangnya. (tib/feb/dit)

sumber: metropolitan.id

Ribuan Aremania Diangkut dengan 21 Bus dari Malang ke Bogor

BOGORDAILY- Animo Aremania untuk memberikan dukungan langsung Arema FC dalam final Piala Presiden 2017 semakin tinggi. Kabar terbaru dari Malang, mereka akan berangkat menuju Stadion Pakansari Bogor dengan 41 armada bus.

41 bus itu baru Aremania dari Malang Raya saja. Bukan yang termasuk dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jabodetabek. Aremania tidak ingin melewatkan momentum partai puncak melawan Pusamania Borneo FC Minggu (12/3/2017). Bus itu merupakan sumbangan dari Pemkot Malang, Baru dan Pemkab Malang serta bus sewaan Aremania.

”Rinciannya 25 bus dari pemerintah setempat. Sedangkan 16 bus disewa Aremania sendiri,” jelas Media Officer Arema FC Sudarmaji.

Diprediksi ada hampir 2.000 orang yang akan berangkat secara terakomodir pada Sabtu (11/3/2017) pagi di depan Balaikota Malang. ”Namun masih banyak Aremania yang berangkat sendiri di luar rombongan. Karena itu, atmosfer partai final akan terasa luar biasa nanti,” imbuhnya.

Sebelumnya, salah satu koordinator Aremania Achmad Ghozali menegaskan jika total Aremania yang akan berangkat dari Malang Raya mencapai 5.000. Nantinya, rombongan yang berangkat dari Malang dengan pengawalan kepolisian akan bergabung dengan rombongan yang dari Jawa Tengah.

Jumlah Aremania yang berangkat menyaksikan laga final ini lebih tinggi ketimbang final terakhir yang pernah dilakoni Arema, yaitu Bhayangkara Cup pada 2016. Waktu itu Aremania yang menuju Jakarta hanya menggunakan 25 bus dari Malang.

”Sekarang animo lebih tinggi untuk membuktikan kalau Aremania masih punya masa besar dan masih kreatif. Karena waktu babak penyisihan banyak yang menganggap animo Aremania ke stadion turun. Sekarang kami akan buktikan,” jelas Achmad.

Perlu diketahui, Aremania mendapatkan jumlah kuota tiket sebanyak 15 ribu lembar. Menurut koordinator Aremania, jumlah itu masih kurang karena Aremania datang dengan kisaran masa 18 ribu orang yang berasal dari berbagai daerah di Jawa. (bol)

Video: Seramnya Komplotan “Mata Elang” di Bogor

BOGORDAILY- Gara-gara menyerang anggota kepolisian, belasan pria yang beprofesi sebagai mata elang atau penagih tunggakan kendaraan ditangkap aparat Polresta Bogor Kota, Kamis (9/3/2017) malam.

Sebelumnya para pelaku tersebut merusak sebuah mobil warga yang terparkir di depan sebuah kantor lising di Jalan Veteran Kota Bogor, Kamis (9/3/2017) petang. Selain mobil tersebut, para pelaku ini juga menyerang aparat kepolisian yang hendak mengamankan bentrokan kelompok mata elang ini dengan sekelompok LSM.
Akibat kejadian ini, 6 orang terluka dua diantaranya petugas kepolisian.

Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota, Kompol Condro Sasongko mengatakan, belasan pelaku yang ditangkap kini masih menjalani pemeriksaan intensif di Mapolresta Bogor Kota.

“Para pelaku terancam pasal 170 serta 212 KUHP dengan ancaman di atas 5 tahun penjara,” tegasnya. (wan)

Berikut videonya:

Memiliki Rekor Baik di Pakansari, Persib Percaya Diri

0

BOGORDAILY – Catatan positif selama bermain di stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, musim lalu sedikit banyak membantu Persib untuk tetap optimis merebut juara ketiga Piala Presiden 2017, seperti yang diutarakan pelatih Djadjang Nurdjaman.

“Beberapa kali kita main di Pakansari hasilnya positif. Semoga menambah kepercayaan diri dan merebut juara ketiga,” katanya di laman klub.

Pada turnamen Torabika Soccer Championships 2016, dua kali bermain di sana, Maung Bandung selalu menang dengan cleansheet, yakni 2-0 atas Barito Putera dan 3-0 atas tuan rumah PS TNI.

Terkait laga melawan Semen Padang untuk memperebutkan tempat ketiga, Djadjang menegaskan bahwa pertandingan itu tetaplah penting. Selain tak ingin pulang dengan tangan hampa, kemenangan juga dapat menebus kekecewaan Kim Jeffrey Kurniawan dkk.

“Harus dikejar. Karena tetap bergengsi. Semoga bisa mengobati kekecewaan,” tambah Djajang.

Untuk pertandingan tersebut, Persib tak diperkuat Erick Weeks akibat gangguan pada lutut. Erick mengaku pasrah dengan kondisinya saat ini dan memilih fokus untuk pemulihan cedera. Ia mencoba mengikuti apa yang sudah diputuskan tim pelatih.

“Saya masih cedera. Saat ini masih jalan, belum bisa bermain, juga lawan Semen Padang. Tidak apa-apa, saya serahkan semuanya kepada pelatih,” tuturnya.

Tempo

Polisi Siapkan Rekayasa Penutupan Jalur ke Pakansari, Menjelang Final Piala Presiden

BOGORDAILY – Kepolisian Resor Bogor, Jawa Barat, akan merekayasa lalu lintas arah Stadion Pakansari enam jam menjelang Final Piala Presiden 2017. “Salah satu ruas jalan yang akan ditutup pada pukul 12.00 siang, yakni ruas Simpang Sentul hingga menuju akses utama Stadion Pakansari,” kata Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Bogor Ajun Komisaris Hasby Ristama di Bogor, Jumat, 10 Maret 2017.

Stadion Pakansari menjadi lokasi pertemuan Arema FC melawan Pusamania Borneo FC di Final Piala Presiden pada Ahad, 12 Maret 2017. Pusamania Borneo FC lolos setelah mengalahkan Persib Bandung di laga semifinal. Sedangkan Arema FC mengandaskan perlawanan Semen Padang FC.

Hasby mengatakan sejumlah ruas jalan menuju langsung kawasan Stadion Pakansari Cibinong akan ditutup sementara untuk semua kendaraan, baik kendaraan roda dua maupun roda empat milik para pendukung dua kesebelasan.

Ajun Komisaris Hasby mengatakan ruas jalan lain akan ditutup untuk umum dari SPBU Cikempong arah Stadion Pakansari dan sejumlah ruas yang menjadi akses utama ke kawasan stadion. ”Jalur ini hanya bisa dilintasi oleh kendaraan VVIP, dari rombongan Presiden RI dan panitia pelaksana Piala Presiden, pemain, hingga kontingen,” ujarnya.

Sepeda motor ataupun mobil pengangkut penonton akan diarahkan menuju Jalan Raya Tegar Beriman. “Dua jalur lambat di Jalan Raya Tegar Beriman dari pertigaan CCM hingga simpang Pemda disiapkan untuk kantong parkir kendaraan penonton dan suporter,” tuturnya.

Dalam pertandingan itu, sebanyak 2.000 polisi akan dikerahkan. Mereka didatangkan dari Kepolisian Daerah Jawa Barat dan disebar ke seluruh titik di kawasan Stadion Pakansari. “Karena ini kan pertandingan nasional, dari rapat sementara kemarin baru 2.000 personel yang disiagakan,” kata Kepala Kepolisian Resor Bogor Ajun Komisaris Besar Andi Muhammad Dicky.

Tempo

Perluas Stasiun Bogor, TK PAUD Gardu Listrik Dan Belasan Rumah Di Bongkar

BOGORDAILY – Belasan bangunan tempat usaha di atas lahan milik PT KAI Jalan Mayor Oking, Kota Bogor dibongkar. Rencananya, lahan seluas 6.000 meter persegi ini akan diperluas dan digunakan untuk fasilitas penunjang di Stasiun Bogor.

“Rencananya untuk perluasan fasilitas penunjang, di antaranya parkir kendaraan dan tempat peron,” kata Kepala Stasiun Bogor Sugi Hartanto, Jumat (10/3/2017).

Sugi menyebutkan, ada 14 bangunan yang dibongkar. Di antaranya TK PAUD, gardu listrik, dan sejumlah rumah yang beralihfungsi menjadi tempat usaha atau kantor.

“Rata-rata bangunan di sana sudah menjadi tempat usaha,” kata dia.

Menurut Sugi, pembongkaran bangunan ini sudah sesuai prosedur. Bahkan PT KAI telah memberikan kebijakan berupa kompensasi kepada para pengelola bangunan tersebut.

Sementara sebagian besar bangunan yang berdiri di atas lahan milik PT KAI rata dengan tanah. Hanya tersisa bangunan TK PAUD yang masih berdiri.

PT KAI akan membongkar TK milik Yayasan Wanita Kereta Api tersebut setelah direlokasi ke kawasan Paledang. Untuk sementara waktu, siswa diliburkan hingga aktivitas pembongkaran selesai.

“Kalau sekolah sendiri memang belum dibongkar. Informasinya akan dibongkar tahap selanjutnya jika relokasi selesai,” kata Kepala Sekolah TK YWK, Herlin Novianti.

liputan6

Macet Dan Rusak Parah, Ini Julukan Jalur Cileungsi Jonggol “Melintasi Jalur Neraka Cileungsi Jonggol”

BOGORDAILY – Jalur Cileungsi Jonggol yang terbentang sejauh 15,8 km menghubungkan antara Jonggol hingga Cibubur merupakan jalur satu – satunya menuju Jakarta, Jalur ini juga menjadi jalur alternatif menuju Cikarang dan jalur alternatif ke Cianjur dan Puncak.

Kemacetan di jalur Cileungsi Jonggol ini sangat parah karena lebar jalan hanya 7meter sementara kendaraan yang melewati jalur ini bukan hanya mobil pribadi atau motor, Melainkan bus dan truk milik developer serta truk container dari pabrik – pabrik yang tidak pernah diatur jam operasional sehingga bus dan truk tersebut bebas melenggang melewati Jalur Cilengsi Jonggol selama 24 jam.

Jalur jalan raya cileungsi jonggol tersambung dengan jalan transyogie yang dua jalur dengan separator, Namun jalan menyempit tepat di fly over cileungsi dan turun dari fly over menjadi satu jalur selebar 7 meter untuk 2 arah sehingga saat kendaran besar seperti truk dan bus melintas 2 arah berlawanan akan menimbulkan kepadatan yg sangat tinggi.

Kemacetan bertambah dengan perlambatan akibat genangan atau jalan yang rusak, serta persimpangan kendaraan yang keluar masuk perumahan metland maupun terminal cileungsi dan permata cibubur serta bus-bus pariwisata maupun kendaraan yang akan berwisata di Taman Buah mekarsari maupun Water Kingdom.

Drainase atau got yang ada sangat tidak layak untuk sebuah jalur jalan provinsi, tak heran Jalur Cileungsi Jonggol selalu mengalami kerusakan dan mengalami pengaspalan tambal sulam dan bagaikan kubangan atau kolam ikan dan karena dalamnya genangan yang membuat lubang-lubang jalan tidak terlihat dan minimnya penerangan jalan sangat membahayakan pengendara motor. Ujar Andreas

Bentrok Ormas, Polisi Tetapkan 19 Tersangka

BOGORDAILY – Polisi menetapkan 19 pemuda sebagai tersangka pascabentrokan, Kamis 9 Maret 2017 di Jalan Veteran, Panaragan, Kota Bogor. Kelompok massa yang bekerja sebagai mata elang atau debt collector itu menyerang sejumlah ormas dan polisi yang sedang mengawal.

‎”19 orang yang diamankan atas peristiwa Kamis petang sudah ditetapkan sebagai tersangka,” kata Kasatreskrim Polresta Bogor Kota Komisaris Condro Sasongko, Jumat (10/3/2017).

Saat penyerangan, lanjut Condro, para tersangka memiliki peran masing-masing. Ada yang merusak kendaraan, melempar batu dan menyerang anggota Dalmas yang sedang mengawal salah satu ormas.

Dari tangan para pelaku, polisi menyita batu, balok kayu, dan senjata tajam.

Condro mengaku belum mengetahuinya siapa dalang keributan dua kelompok massa tersebut. Penyidik Polresta Bogor Kota masih terus melakukan penyidikan.

“Masih dalam penyidikan anggota,” tandas Condro.

Sekelompok massa menyerang sejumlah anggota ormas yang sedang dikawal polisi di Jalan Veteran, Panaragan, Kota Bogor, Kamis kemarin sekitar pukul 18.00 WIB.

Akibat kejadian tersebut dua anggota Dalmas Polresta Bogor Kota (sebelumnya tertulis empat), yang sedang mengawalluka terkena lemparan batu dan serpihan kaca.

Insiden ini juga menyebabkan sejumlah kendaraan milik ormas, warga dan polisi rusak terkena lemparan batu.

Para tersangka dijerat dengan Pasal 170 dan 212 KUHP junto Pasal 55 dan 56 KUHP dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun penjara.

liputan6

Masa Lalu Bogor, di Antara Pistol dan Tasbih

BOGORDAILY – Informasi mengenai masa lalu Bogor jarang diketahui orang lantaran terbatasnya artikel dan buku yang membahasnya. Kekurangan informasi itu bakal agak tertutupi oleh dua buku, Bogor Zaman Jepang 1942-1945 dan Bogor Masa Revolusi 1945-1950, yang diluncurkan bersamaan di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu, 8 Maret 2017.

Hadir dalam acara tersebut Prof Susanto Zuhdi dari Departemen Sejarah Universitas Indonesia sebagai penulis buku Bogor Zaman Jepang 1942-1945; Edi Sudarjat, mantan wartawan yang melakukan riset dan menulis buku Bogor Masa Revolusi 1945-1950; JJ Rizal dari Komunitas Bambu selaku pihak penerbit buku; Aiko Kurasawa, profesor dari Keio University yang menulis Kuasa Jepang di Jawa; Profesor Saleh As’ad Djamhari, penulis Strategi Menjinakkan Diponegoro; dan Bima Arya Sugiarto, Wali Kota Bogor.

Suasana diskusi cukup meriah dan hangat dengan para peserta yang antusias mengikuti acara. Terbukti tempat yang disediakan pihak Perpustakaan UI di lantai tiga tidak cukup menampung peserta yang membeludak.

Dalam sambutannya, Bima Arya mengapresiasi terbitnya kedua buku ini karena mampu mendudukkan kembali peran Bogor sebagai kota pejuang dan kota revolusi. Bima Arya menegaskan, penting untuk kembali menempatkan Bogor dalam pergerakan nasional, terutama karena Bogor sempat dijadikan sebagai markas Pejuang Tanah Air (PETA).

Ia juga menekankan, Republik Indonesia dibangun antara lain oleh orang-orang yang menyandingkan antara nasionalisme dan agama. Bogor juga mempunyai tokoh-tokoh yang luar biasa, antara lain M Tubagus Alam, KH Sholeh Iskandar, dan Abdullah bin Nuh. Menurut Bima Arya, para pejuang revolusi menyandingkan pistol dengan tasbih dalam membela negara.

“Jadi Bogor yang fundamental mengambil keteladanan antara agama dan negara. Kalau keluar dari situ, berarti Bogor kehilangan khittah-nya,” ujar Bima Arya.

Sebelum pelaksanaan diskusi, sempat pula diputarkan video singkat mengenai Kota Bogor dari masa lalu hingga sekarang. Bima Arya pun menjelaskan bahwa di Lawang Salapan terpampang semboyan Kota Bogor, yakni ‘Dinu Kiwari Ngancik Nu Bihari, Seja Ayeuna Sampeureun Jaga’. Artinya, segala hal di masa kini adalah pusaka masa silam dan ikhtiar hari ini adalah untuk masa depan.

Bima Arya menegaskan, semboyan ini selalu diucapkan pada saat pembukaan dan penutupan sidang paripurna Kota Bogor. Menurut dia, jika gagal membaca sejarah, maka gagal pula di masa depan.

Ia juga menyayangkan anak-anak muda di Kota Bogor yang kurang mengetahui tentang sejarah kotanya sendiri.

“Buktinya”, ujar dia, “anak-anak muda hanya tahu Jalan Abdullah bin Nuh yang setiap hari selalu macet itu.”

“Hingga saat ini anak-anak di Bogor yang malas membaca buku, yang malas pergi ke perpustakaan, yang tidak tahu akan sejarah tentang kotanya selalu bertanya melalui media sosial Instagram maupun Whats Apps tentang arti slogan yang terpampang di Lawang Salapan,” ujar Bima lagi.

Membaca Bogor Dari Masa Lalu

Susanto Zuhdi mengatakan Bogor Zaman Jepang 1942-1945 merupakan skripsinya di Universitas Indonesia pada 1979, hampir 40 tahun yang lalu. Karena itulah, ia mengingatkan membaca buku ini harus mendudukkan kembali perkembangan kajian pada masa itu tanpa mengevaluasi dengan standar terkini.

Terbitnya buku ini melengkapi tesis dan disertasinya yang sudah diterbitkan lebih dulu, yakni tesis berjudul Cilacap 1830-1942: Bangkit dan Jatuhnya Suatu Pelabuhan di Jawa dan disertasi Sejarah Buton yang Terabaikan Labu Rope Labu Wana.

Namun, Susanto Zuhdi mengakui ada perasaan asing ketika membaca karya skripsinya yang lampau itu. “Maka harus dilihat bahwa yang menulis ini adalah Susanto Zuhdi yang bukan seorang profesor,” ucapnya sambil tertawa. Saat itu ia mengaku dipaksa mengambil tema soal ini oleh pembimbingnya, Prof Nugroho Notosusanto.

Susanto menegaskan kajian sejarah sangat diperlukan karena memahami sejarah adalah memahami perubahan. Kajian di masa Jepang pun menjadi penting karena karakter pemuda dibentuk di masa Jepang.

Hal itu pun disambut baik oleh Aiko Kurasawa yang menyayangkan minimnya peneliti di masa kini yang tak lagi mengkaji sejarah Indonesia di masa pendudukan Jepang. Dia berpendapat alasannya ada dua. “Pertama, narasumber tidak ada, kebanyakan sudah meninggal, sehingga harus dicari lagi sumber-sumber yang baru,” ujar dia.

Kedua, sumber-sumber tertulis juga sulit dicari. “Namun arsipnya masih banyak di Belanda, khususnya Den Haag,” ujar penulis Masyarakat dan Perang Asia Timur Raya ini.

Adapun Edi Sudarjat lebih menyoroti pentingnya penetapan KH Sholeh Iskandar sebagai pahlawan nasional. Sebab meski telah diajukan oleh MUI sejak 1995, sampai sekarang KH Sholeh Iskandar belum diangkat menjadi pahlawan nasional. “Salah satunya karena belum adanya biografi,” ujar Edi Sudarjat.

Lagipula, Edi menambahkan, Kiai Sholeh sangat rendah hati. Ia tidak mau jasanya diketahui, sehingga orang tidak tahu pencapaiannya. “Bahkan Kiai Sholeh pernah berpesan jika ada orang yang mencari data-data tentang dirinya jangan dikasih,” tulis Edi Sudarjat dalam bukunya.

Padahal, KH Sholeh Iskandar memiliki prestasi yang bersifat daerah, nasional, dan internasional. “Dia komandan Batalion O yang punya peran penting dalam pergerakan Indonesia merdeka, salah satu pendiri LPPOM MUI, pendiri Rumah Sakit Islam Bogor, pendiri Universitas Ibnu Khaldun Bogor, dan pendiri perusahaan karoseri pertama di Indonesia pada 1959 bernama PT Gunung Tirtayasa,” tutur Edi Sudarjat.

Sementara itu, Prof Saleh As’ad Djamhari menyoroti masyarakat Bogor pada masa itu yang sangat religius. Salah satunya adalah setiap masjid pada setiap hari Jumat selalu menyerukan untuk cinta Tanah Air.

Ia mengatakan Jepang tahu betul peran vital kiai dalam masyarakat. “Karena itu untuk memperoleh dukungan, Jepang harus mendekati ulama,” ujar Saleh As’ad Djamhari.

liputan6