Friday, 10 April 2026
Home Blog Page 7309

Ridwan Kamil Serahkan Zakat Lewat Baznas Jawa Barat

0
Bogordaily.net – Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil, menunaikan pembayaran zakat mal kepada Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jawa Barat.
Ijab kabul zakat telah berlangsung di Gedung Pakuan, Kota Bandung, pada Jumat 30 April 2021.
“Saya hari ini seperti yang dilakukan Pak Presiden di Istana beberapa waktu lalu melakukan penyerahan zakat mal kepada Baznas Jawa Barat,” ujar Gubernur Jabar Ridwan Kamil.
Penyerahan zakat mal ini merupakan tindak lanjut dari gerakan cinta zakat nasional, yang dicanangkan Presiden RI Joko Widodo pada 15 April 2021 lalu.
Ridwan Kamil mengajak Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemda Provinsi Jabar dan 27 Kabupaten/Kota, untuk menyerahkan zakat mal agar menjadi contoh teladan bagi masyarakat.
“Semoga ini memotivasi pejabat-pejabat dan ASN termasuk masyarakat umum untuk berlomba-lomba membayar zakat,” katanya.
Menurut Ridwan Kamil, pembayaran zakat bisa dilakukan di Baznas sebagai badan resmi yang satu frekuensi dengan pemerintah dalam pembangunan.
“Kami punya Baznas yang resmi dan satu frekuensi dalam pembangunan, bisa dijadikan pintu utama dalam penyerahan zakat di Jabar,” ucapnya.
Kemudian Ridwan Kamil menyebut, potensi zakat secara nasional mencapai Rp400 triliun.
Sementara di Jabar sebesar Rp80 triliun, apabila angka tersebut terkumpul dan tersalurkan dengan baik, maka persoalan sosial di masyarakat dapat teratasi.

Jalani Vaksin Dosis ke-2, Guru Honorer Sukabumi Mengalami Lumpuh

0

Bogordaily.net – Guru honorer asal Kecamatan Cisolok, Sukabumi terpaksa berhenti mengajar karena mengalami lumpuh setelah menjalani vaksin dosis kedua.

Diketahui Guru honorer yang mengajar seni tari dan budaya di SMAN 1 Cisolok, dan di SMPN 2 Cisolok bernama Susan.

Setelah mendapat vaksin kedua pada tanggal 31 Maret lalu, Susan merasa pusing, mual, dan lemas.

Susan akhirnya diminta oleh pihak puskesmas untuk istirahat, tetapi bukannya membaik Susan malah mengalami sesak nafas.

Akibat kondisi tersebut, Susan pun langsung dirujuk ke RSUD Pelabuhanratu.

Setelah mendapatkan penanganan tim medis, Susan Akhirnya dirujuk ke RSHS Bandung, pada hari itu juga, sekitar pukul 17.30 WIB.

Ia didampingi perawat RSUD Palabuhanratu, dan dibawa dengan mobil ambulans menuju Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSHS Bandung.

Waktu datang ke RSHS, susan mengalami lumpuh dengan kondisi tangan dan kakinya kaku, tidak bisa bicara, dan hanya sedikit-sedikit bergerak.

Menurut seorang adik Susan, Yayu, berdasarkan keterangan pihak medis di RSUD Palabuhanratu, Susan terkena sesuatu yang menyerang sistem imun dan kekebalan tubuh.

“Kalau dari dokter di Palabuhanratu begitu, tapi kalau kata pihak RSHS ada beberapa gejala, yang pertama GBS MFS Miller Fisher kemudian gangguan mata dan pencernaan,” ujarnya dikutip dari detikcom.

Yayu mengungkapkan, kondisi Susan sekarang kian membaik setelah dirawat di RSHS Bandung selama 23 hari.

Saat ini Susan sudah bisa melihat walau masih berbayang, walaupun kaki dan tangan Susan masih belum bisa bergerak.

“Sekarang sudah melihat warna dan bentuk tapi belum bisa melihat jelas. Kalau kemana-mana masih ngesot, geraknya sedikit, karena capek. Sampai saat ini masih begitu. Memang kalau pas awal prihatin banget, keluarga sudah pasrah waktu itu,” ucapnya.

Keluarganya sangat berharap agar Susan kembali sembuh dan sehat seperti sebelumnya, meskipun dokter sempat menyatakan bahwa Susan tidak akan sembuh 100 persen.***

Inilah Empat Catatan Fraksi PAN Terhadap LKPj Bupati Bogor

Bogordaily.net – Fraksi PAN DPRD Kabupaten Bogor memberikan sejumlah catatan terhadap Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Bupati Bogor tahun anggaran 2020.

Ketua Fraksi PAN Arif Abdi mengatakan, ada empat hal yang menjadi catatan Fraksi PAN terhadap LKPj Bupati Bogor 2020.

Catatan yang pertama terhadap realisasi program atau kegiatan yang mencapai target. Dengan memprioritaskan program atau kegiatan yang berorientasi kesejahteraan, kesehatan, pendidikan, serta pemulihan ekonomi masyarakat sehubungan pandemi Covid-19 di Kabupaten Bogor.

“Diharapkan dijadikan acuan dan motivasi bagi Pemerintah Kabupaten Bogor untuk dapat ditingkatkan lagi di tahun-tahun anggaran berikutnya,” ujar Arif Abdi, Sabtu 1 Mei 2021.

Selanjutnya catatan yang kedua, dalam rangka menunjang kegiatan pendidikan, Arif menghimbau dalam hal ini Dinas Pendidikan untuk lebih meningkatkan pengawasan atas kondisi kelayakan bangunan sekolah, baik yang sudah lama maupun yang dibangun.

“Terlebih ketika ditemukan kejadian bangunan sekolah roboh padahal baru saja dibangun, hal ini harus menjadi perhatian kita semua, karena menyangkut keselamatan peserta didik,” kata pria yang juga merupakan Ketua DPD PAN Kabupaten Bogor itu.

Kemudian catatan ketiga, ia menyampaikan, dalam rangka meningkatkan kewaspadaan, terkait Kesiapsiagaan penanggulangan bencana alam dan bencana non alam. “Diharapkan Pemerintah Kabupaten Bogor dapat membuat sebuah Grand Design sistem informasi yang memadai, efektif dan efisien,” tuturnya

Catatan terakhir, dia menilai sebagai implementasi prinsip Good Governance, Pemerintah Kabupaten Bogor perlu melakukan sinkronisasi dan integrasi program antar perangkat daerah secara berkesinambungan, dalam rangka pemulihan ekonomi.

“Diantaranya melalui penguatan sektor UMKM dan sektor ketahanan pangan serta penyediaan lapangan pekerjaan, sebagai upaya untuk menekan angka kemiskinan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.*

Kenangan Benedict Anderson: Gus Dur, Cak Nur Sampai Malari Dan Gerakan Mahasiswa ITB 1977/78

0

Bogordaily.net – Musim gugur 1994, Suatu ketika, Prof. Benedict Richard O’Gorman Anderson atau Pak Ben Anderson mengajak kami (Herdi Sahrasad, Simon Saefudin dan Luthfi Yazid) menyusuri pagi yang berwajah merah-biru-hijau-ungu-putih-bening di Ithaca.

Tulisan ini saya goreskan berdasarkan apa yang masih kuingat dari kenangan kami dengan Indonesianis Prof. Ben Anderson di Cornell 1994.

Dengan harapan bisa memberi spirit dan makna pada masyarakat Gusdurian, komunitas Nurcholish Madjid Society (NCMS) dan anak-anakbangsa di negeri kita yang underdog, subaltern, kurang beruntung dan marginal di era pandemi corona ini.

Wow, daun-daun warna merah kuning jingga dalam kilau matahari berguguran dan cahaya matari merengkuh hutan pohon Mapel, di sekitar Universitas Cornell yang didirikan oleh Ezra Cornel dua-tiga abad lalu itu.

Ada sebuah sungai berbatuan, tajam melingkar, di lingkungan kampus Cornell, dimana, menurut cerita Pak Ben, sejumlah mahasiswa konon memilih bunuh diri terjun bebas di sana.

Kenapa Pak Ben? “Yah karena gagal ujian masuk atau gagal jadi sarjana,” ujarnya. “Saya kalau ke sini sendiri merinding Pak Ben,” kataku. “Apalagi kalau senja senyap atau mahgrib, menakutkan juga,” imbuh Simon.

Aneh? Ganjil? Maybe. Sungai itu punya misteri, cerita “muram & miris” di tengah hening pagi itu. Bisa merintih dan ngeri ngeri sedap kita kalau sendirian menatap tajam ke dalamnya, dari sisi tepian yang sunyi.

Lantas, karena pengin tahu Ithaca, dengan mobilnya yang “gayeng” dan cukup terawat, Prof Benedict Richard O’Gorman Anderson atau Ben Anderson membawa kami keliling kota kesayangannya itu.

Sesekali tancap gas kenceng. Sembari satu tangan memegang setir, jari-jemari Pak Ben menunjukkan tempat-tempat yang bernilai, bercorak lokal atau bersejarah di kota mungil berpenduduk sekitar 30 ribu orang itu.”Indah tenan ya,Ithaca,” kata Simon.

“Di sini nyaman, nggak ada Saritem,” selorohku. Pak Ben tergelak dan terkekeh. Dia ingat Saritem di kawasan Bandung dan karikatur Binaria di Koran lusuh Pos Kota.

Saya lihat dia geli dan semangat, apalagi dia senang berdiskusi dan ngobrol dengan anak-anak muda underdog macam kami yang “badung plus mbeling”, berlogat Jawa medhok Bagelen (Herdi), Cirebon (Simon) dan Malang Jati (Luthfi) dengan tawa ngakak.

Soalnya kita ngomong yang mungkin memang menarik bagi PakBen: dari gebyar kirab remaja Mbak Tutut dan dawuh Raja Cendana sampai guyonan Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid).

Pasemon/sindiran CakNu (Prof. Nurcholish Madjid) sampai “gempuran” Gerakan Mahasiswa ITB 1977/78 dan para “gangster” Gerakan Mahasiswa Malari 1974.

Ben Anderson menyebut Gus Dur dan Cak Nur menjadi tokoh pluralis dan pembaharu Islam yang ikhlas, dan berpolitik untuk tujuan mulia yakni memperjuangkan dan menegakkan martabat manusia dan hak asasinya dengan bingkai religiusitas dan pluralisme.

Dengan tujuan mengamalkan agama/keyakinan masing-masing insan di Indonesia bagi maslahat, keadaban dan kebahagiaan bersama.

Nah, yang juga menarik adalah soal perlawanan gerakan mahasiswa terhadap Orba Pak Harto.

Dalam kenyataannya, aksi mahasiswa itu dikalahkan semua sama tangan cengkiling dari ABRI-nya Pak Harto waktu itu. Yah nggak Pak Ben? “Iyalah” katanya.

“Eh, kalian, tahu nggak artinya ‘cengkiling’? Cengkiling itu kebiasaan buruk doyan nempeleng, memukul dan ngantemin orang lain yang dianggap salah atau keliru atau menghambat pembangunan.

“Payah banget itu, padahal gaji prajurit/perwira itu kan dari uang rakyat termasuk dari kalian lho,” kata Pak Ben tergelak.

“Tapi, wong ABRI kok dilawan, yok bonyok,” seloroh Pak Ben. Gayeng tenan obrolan kayak gitu bagi Pak Bendan dia pun tergelak tawalah.

Tapi dengan serius Pak Ben kasih cerita tentang “gerakan mahasiswa atau kaum muda” di Indonesia era Orde Baru Pak Harto.

Ben Anderson sangat percaya pada kekuatan kaum muda untuk melakukan perubahan, dan disertasi PhD-nya di Cornell tentang Revolusi Pemuda telah menyingkapkan peran nyata kaum muda dalam kemerdekaan RI 1945, setelah sebelumnya berperan penting dalam Sumpah Pemuda Oktober 1928.

Pemberontakan anak-anak muda dalam gerakan melawan kolonial Belanda adalah  cerita yang menyegarkan pikiran dan jiwanya yang anti-penindasan dan anti-dehumanisasi.

Lantas, bandingkan coba, bagaimana dengan mahasiswa/anak muda masa kini (reformasi era Jokowi), wah payah, dicengkiling-cekam oligarki dan pemodal/bandar bercapital.

Ben Anderson sangat menaruh harapan pada mahasiswa/kaum muda, dia mencintai kaum muda, apalagi yang miskin/tersisih dan kekuatan anak muda terbukti mampu mendobrak perubahan di Indonesia pasca colonial.

“Yah di masa 1966 itu, ada gerakan mahasiswa yang berperan meski sebetulnya militer yang dominan dan kemudian berkuasa. Tapi saya pengin kalian cerita soal anak muda zaman kalian,” katanya.

Saya bilang mahasiswa kalah terus dan demokrasi mati di tangan kekuasaan Pak Harto, pembredelan Tempo, Detik dan Editor mengkonfirmasi begitu represif dan teganya otoriterisme rezim militocracy waktu itu.

Namun anehnya, Orba Pak Harto takut dengan berita dan tulisan di media massa/surat kabar/majalah, takut dengan selebaran.

Sebetulnya Tempo justru mendukung modernisasi Orde Baru yang secara guyonan disebut Pak Ben sebagai orde haji bajinguk.

Harusnya Orba berterimakasih pada Tempo dan media lain sebagai media yang punya kontrol sosial dan anti-KKN rezim Orba itu, tapi malah dibredel tahun 1994, yang membuat Goenawan Mohamad dkk dan kami, para aktivis dan jurnalis/LSM, harus melawan rezim praetorian yang emoh demokrasi dan anti-oposisi itu.

“Dulu waktu Malari 1974, harian Kami, Kompas, Indonesia Raya, Pedoman dll juga diberangus,” kata Ben. Pada aksi Gerakan Mahasiswa 1977/78, harian Pedoman dan Kompas dll juga dibredel, namun Kompas boleh terbit lagi dengan syarat tertentu.

“Jadi, pembredelan Tempo (Detik dan Editor) pada 1994 itu merupakan sejarah yang berulang,” katanya. Kini, era reformasi, tak boleh ada pembredelan lagi.

Ben Anderson melihat, Orba lebih percaya laras bedil dan modal untuk membangun mimpinya sendiri. Nasionalismenya elitis-birokratis-developmentalis yang kaku, lebih mendukung untuk kepentingan para elite penguasa dan diri mereka sendiri sepuasnya.

“Kesalahan utamana sionalisme Indonesia adalah menomorsatukan negara (elite), state, seperti pada kasus rezim Orba Soeharto itu,” katanya.

Ben Anderson menyinggung soal mahasiswaI TB, dan dia sudah menterjemahkan buku putih ITB 1978, dan menurut pengakuannya, anak-anak muda ITB itu berani dan berpikir jauh ke depan, mereka menguasai rencana, gagasan, pikiran maupun aksi praksisnya.

“Ada kepeloporan Soekarno ya di ITB, Ir. Djuanda, Sutami dan lainnya, saya kira itu jadi contoh bagi mereka,” katanya.

Kami jadi ingat gerakan mahasiswa Malari 1974 dan Demo Mahasiswa 1977/78 di ITB, UGM, UI, UNPAD dan nyaris seluruh kampus negeri/swasta di Tanah Air.

Laporan media menyebut, Hariman Siregar masih terjun ke ITB waktuitu, ada undangan Dewan Mahasiswa ITB, meski dia belum lama keluar dari penjara.

“Anak muda gangter Malari(1974) itu memang nekad,” kata Ben Anderson.

Namun, asal tahu saja, terpilihnya Jenderal Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia untuk ketiga kali pada tahun 1977, menimbulkan keresahan dan kekecewaan di kalangan mahasiswa masa itu.

Telah tumbuh kesadaran bahwa pemerintah sudah otoriter. Otoriterisme itu menghambat pikiran progresif dan inovatif sementara korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) sudah merajalela, dan nama pedagang kakap Liem Soe Liong sudah dikenal mahasiswa sebagai cukong raksasa di Indonesia.

Berbagai kampus di Indonesia bergejolak, mahasiswa mengadakan demo danp rotes bertalu-talu. Secara terang- terangan, mereka menyatakan mosi tidak percaya dan tidak menghendaki Soeharto kembali menjadi Presiden Republik Indonesia.

Demonstrasi-demonstrasi mahasiswa 1978 tercatat sebagai demonstrasi terbesar dalam sejarah 32 tahun Orde Baru. Diawali dengan didudukinya Institut Teknologi Bandung (ITB) oleh ABRI dan ditangkapnya pimpinan-pimpinan mahasiswa ITB seperti Heri Akhmadi, Rizal Ramli, Indro Cahyono, Ramles Manampang Silalahi, Abdul Rachim, dll.

Penangkapan juga dilakukan terhadap ratusan pimpinan mahasiswa di Jakarta, Yogyakarta, Medan, Palembang dan Makassar ditahan/dipenjara sekitar 1,5 tahun. (Alea Eka Putri, 2020).

Alea Eka Putri, seorang penulis bebas, bahkan mencatat bahwa Presiden Soeharto justru sangat marah karena terbitnya pemikiran intelektual berupa sebuah buku berjudul “Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 1978″.

Berisi pemikiran mahasiswa mengenai kondisi Indonesia saat itu. Mereka adalah Rizal Ramli, Irzadi Mirwan, Abdul Rachim, dan Joseph Manurung.

Buku ini diterbitkan oleh Dewan Mahasiswa ITB yang saat itu diketuai oleh Heri Akhmadi.

Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 1978 itu tak mungkin ada tanpa aktivitas intelektualisme oleh Dewan Mahasiswa ITB (DM-ITB) di zaman itu.

”Kami masih ketemu sama Rizal Ramli, Heri Akhmadi, Indro Cahyono, Pak Ben dalam berbagai diskusi, jumpa pers atau forum publik,” kata saya.

“Itu Ir. Heri Akhmadi (mantan Ketua DM ITB, kini Dubes RI untuk Jepang) dulu kasih nama anak lelakinya kalo gak salah Gempur Soeharto, Pak Bentahukan?” kata Simon.

“Iya saya denger gitu, wah konon katanya juga ada aktivis ITB yang bayi perempuannya diberi nama anti-Tien Soeharto segala?” Ben bertanya. “Konon ada yang bilang gitu,” jawabku.

Ben bilang ada aktivis ITB (Rizal Ramli) lulus PhD dari sekolah ekonomi di Boston University.

“Yang lainnya pada kemana?” dia bertanya.

Namun Ben mendengar kabar, para aktivis ITB itu sudah pada kerja sambil gerilya untuk antisipasi babak akhir orde baru, yang menurut Prof Don Emmerson, rezim Pak Harto itu ala kuasa Mangkurat I Mataram di masa lalu.

Kembali ke DM ITB, para aktivis mahasiswa ITB itu, mulai dari membaca lalu berdiskusi dan kemudian merumuskannya ke dalam tulisan menjadi buku berjudul Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 1978.

Buku itu menggunakan berbagai sumber dari surat kabar, majalah, buku, serta dokumen resmi pemerintah, seperti “Rencana Pembangunan Lima Tahun Kedua 74/75-78/79”.

Lahirlah sebuah buku dari tangan mahasiswa berupa kajian mendalam mengenai kondisi Indonesia saat itu. (Alea Eka Putri, 2020).

Saya jadi ingat, mantan tokoh DM-ITB Rizal Raml (RR) pun mengakui pada saya bahwa Prof Ben Anderson berjasa menerjemahkan “Buku Putih Perjuangan Mahasisw” DM-ITB Januari 1978.

“Buku itu, dimana saya, Irzadi Mirwan Alm, Abd Rachim dan Josef Manurung tulis bersama, terjemahan Inggrisnya dilakukan oleh Ben Anderson, yang lebih bagus dari aslinya karena dilengkapi footnotes pelengkap. Ben kritis dan hebat,” kata RR, mantan Menko Kemaritiman pada era Presiden Jokowi/reformasi.

Ben memang sudah menjadikan Indonesia sebagai bagian penting dalam hidupnya, dia mencintai bangsa dan negara kita.

“Ben ilmuwan yang hebat, cinta dan komit kepada bangsa Indonesia,” ucap RR, Menko Ekuin Presiden GusDur/era Reformasi.

Benedict Anderson sendiri menyampaikan bahwa, buku ini sangat penting karena merupakan kritik sistematis pertama mengenai kebijakan Orde Baru di Indonesia(Anderson & Ecklund,1978).

Saking pentingnya,Benedict Anderson membantu menerjemahkan buku tersebut ke dalam bahasa Inggris lalu menerbitkannya di Jurnal Indonesia terbitan Cornell University.

Tak hanya itu, buku ini kemudian diterjemahkan ke delapan bahasa, antara lain bahasa Belanda, Jepang, China,dll. (Alea Eka Putri, 2020).

Ben Anderson bertanya pada kami bagaimana kabar Hariman Siregar, Arief Budiman, Rizal Ramli dkk, apa mereka pada 1994 itu masih tetap jadi gangster gerakan aktivis/intelektual?

“Mereka sama kita terlibat demo protes menolak pembungkaman dan pembredelan Tempo dan (Detik & Editor). Masih aktif dan sering kumpul sama mahasiswa, diskusi dan mengatur aksi diam-diam sebab gak enak sama penguasa kalau ketahuan,” jawab saya spontan.

“Oh, berarti gangster intelektual/aktivis1970-an masih pada gak puas sama Orba yang represif ya. Dan itu isu Kedong Ombo, waduk Nipah, korupsi elite dll, harusnya jadi isu publik juga, bukan hanya pembredelan pers” kata Ben Anderson.

Anderson percaya, selama ketimpangan dan ketidakadilan meluas, maka potensi mahasiswa sebagai kekuatan gerakan melawan rezim tetap terbuka.

Ben menyebut gerakan kaum muda/mahasiswa memang dikhawatirkan bisa mengguncang pemerintah kalau kondisi obyektifnya sudah ada dan jadi keprihatinan banyak orang.

Ben berpesan, kalau ada selebaran-selebaran gelap di masa Orba itu, maka jangan dibuang tapi dikumpulkan untuk dianalisis, dikaji. Mungkin ada gunanya nanti.

Kami pulang Oktober 1994 dari New York, dan tak ketemu Pak Ben Anderson lagi.

Dan terbukti kemudian, Ben Anderson menyaksikan dari layar televisi di Ithaca, kelak dimana Orde haji bajinguk tumbang pada Mei 1998. Dan pasca Orba, dia dizinkan datang ke Indonesia.

Saya masih kirim sapa dan sepatah kata via medsos (Facebook) kerekan-rekan Cornell melalui kebaikan Ben Abel.

Putra dayak Kalimantan Tengah yang dekat dengan Ben Anderson dan menjadi librarian di perpustakaan Cornell dan Binghamton, kalau tak salah ingat.

Ketika Pak Ben Anderson wafat di Batu, Malang, JawaTimur, Sabt (12/12/15), dalam akun Facebooknya, penerbit Marjin Kiri, mengabarkan bahwa Minggu pagi, jenazah Anderson dibawa ke Surabaya dari Malang, dan, sesuai permintaannya, Ben Anderson dikremasi dan abunya disebarkan di Laut Jawa.

Dan itupun bukti lagi bahwa Ben Anderson sangat mencintai Indonesia. Di suasana Ramadhan 2021ini, marilah kita berdoa untuk beliau.

Pak Ben sudah mendedikasikan hidupnya untuk Indonesia, sepantasnya kita kenang, apresiasi dan hormati. Lahu Al-Fatehah.

Herdi Sahrasad
Dosen di Sekolah Pascasarjana Universitas Paramadina Jakarta.***

Fraksi PKS Beri Dua Catatan LKPj Bupati Bogor 2020

0

Bogordaily.net – Fraksi PKS DPRD Kabupaten Bogor memberikan sejumlah catatan terhadap Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Bupati Bogor tahun anggaran 2020.

Ketua Fraksi PKS Fikri Hudi Oktiarwan mengatakan, ada dua hal yang menjadi catatan Fraksi PKS terhadap LKPj Bupati Bogor 2020.

Catatan pertama terkait proses perencanaan dalam pembangunan sarana fisik, yang harus sesuai dengan aspek fungsional dan estetika.

“Kami soroti bawasannya perencanaan itu harus lebih diperbaiki, pertama aspek fungsional, yang artinya sesuatu yang dibangun infrastruktur di Kabupaten Bogor secara fungsional harus bisa terpenuhi,” ujar Oky sapaanya kepada Bogordaily.net, kemarin.

Ia menilai penggunaan yang telah dibangun harus sesuai dengan kebutuhan, juga memenuhi persyaratan dan mampu menjawab problematika di lapangan.

Selain itu, Sekretaris Komisi III itu menambahkan, terkait aspek estetikanya, karena infrastruktur ada yang kelihatan jangan hanya asal jadi, asal bangun tetapi estetikanya diperhatikan.

“Supaya pembangunan itu bisa berfungsi di dalam keindahan di lingkungan,” jelasnya.

Kedua, pihaknya juga memberikan catatan terhadap penanggulangan terhadap Covid-19.

Ia bisa memahami karena di tahun 2020 pandemi Covid-19 boleh dikatakan hal yang terjadi mendadak.

Yang tidak terduga sama sekali, sehingga banyak hal yang tidak bisa dipersiapkan matang sebelumnya.

“Ini yang kami soroti agar bisa diperbaiki, karena kemungkinan pandemi Covid-19 juga masih berjalan di tahun ini, mungkin sampai tahun depan,” kata pria yang juga merupakan Alumnus FISIP UI itu.

Selanjutnya, ia menjelaskan, tentang alokasi atau indentifikasi terhadap sasaran yang perlu dibantu.

“Di sana kan banyak programnya, seperti bantuan Presiden, Gubernur dan Bupati. Dalam program tersebut harus ada sinkronisasi, jangan sampai tumpang tindih terjadi double account penerima yang sama, menerima bantuan dari berapa pihak. Tapi jangan sampai di satu sisi juga pemerima tidak tersentuh,” ungkapnya.

Lebih jauh, menurutnya yang perlu diperhatikan juga, akibat krisis pandemi Covid-19 ini, krisis kesehatan sudah mengarah krisis sosial dan krisis ekonomi. Bahkan di negeri lain sudah mengarah ke krisis politik.

“Kami melihat penanggulangan ekonomi perlu diparhatikan juga, bisa kita lihat juga di dalam beberapa anggaran di tahun 2020. Justru menurut kami banyak program yang bagus, dalam rangka penanggulangan krisis ekomoni, seperti pembinaan UMKM. Itu menjadi catatan kami sehingga untuk selanjutnya bisa menjadi bahan perbaikan,” ucapnya.

Wakil rakyat asal daerah pemilihan (Dapil) IV itu menilai, penanggulangan Covid-19 ini tidak semata-mata konsentrasi kepada krisis kesehatan, tapi juga penanggulangan krisis ekomoni juga.

“Kita harapkan penyusunan APBD di tahun 2022 alokasi-alokasi untuk pembina UMKM itu bisa dialokasikan dengan cukup,” pungkasnya.***

Rekomendasi DPRD Terhadap LKPj Tahun 2020 Memandu Dasar Perbaikan

0

Bogordaily.net – Bupati Bogor, Ade Yasin mengatakan rekomendasi DPRD terhadap LKPj Tahun 2020 dapat memandu dan menjadi dasar perbaikan untuk kedepannya.

Hal ini disampaikan pada Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Bogor, dalam rangka penyampaian  rekomendasi DPRD Kabupaten Bogor, terhadap Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Bupati Bogor Tahun 2020, di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Bogor, Jumat 30 April 2021.

Bupati Bogor Ade Yasin mengapresiasi dan berterima kasih terhadap jajaran DPRD Kabupaten Bogor, yang telah membahas dan mengakaji secara cermat LKPj Bupati Bogor tahun 2020, baik melalui rapat paripurna, rapat tingkat komisi maupun rapat di tingkat Badan Anggaran DPRD Kabupaten Bogor.

Ade Yasin ingin rekomendasi LKPj dapat memandu dan menjadi dasar perbaikan Pemkab, dalam menjalankan penyelenggaraan pemerintahan dan menjalankan tugas lebih baik.

Selain itu, dapat menjadi dasar perbaikan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan Kabupaten Bogor lebih baik lagi.

Ade Yasin menjelaskan, kondisi Pembangunan di Kabupaten Bogor pada dasarnya telah menuju arah yang semakin baik, dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.

Meskipun tahun 2020 Bangsa Indonesia termasuk Kabupaten Bogor dalam kondisi pandemi Covid-19, namun berdasarkan capaian kinerja tahun 2020 realisasinya menunjukan hasil yang signifikan, baik dalam hal capaian program kegiatan maupun capaian kinerja keuangan.

“Dalam pencapaian sasaran RKPD Tahun 2020, kami telah berupaya maksimal untuk meningkatkan konsolidasi, kebersamaan dan koordinasi, baik secara internal maupun lintas sektor dengan para pemangku kepentingan,” ujar Bupati Bogor Ade Yasin.

“Ini kita lakukan agar seluruh program pembangunan mampu menggerakan masyarakat untuk berpartisipasi aktif mendukung pencapaian sasaran,” tambahnya.

Kemudian Ade Yasin menyatakan, pandemi Covid-19 berdampak terhadap perubahan rencana pembangunan yang telah ditetapkan dalam APBD Kabupaten Bogor tahun 2020, serta berdampak pada perubahan sebagian besar agenda pembangunan di Kabupaten Bogor.

Ade Yasin menyadari bahwa, masih terdapat permasalahan dalam penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan yang perlu segera ditindaklanjuti, sebagai bahan perencanaan dan penganggaran untuk tahun 2021 maupun tahun yang akan datang.

Sebagaimana tercermin dari hasil rekomendasi yang disampaikan oleh DPRD, terhadap LKPj Bupati Bogor tahun 2020.

“Mari kita jalankan roda pemerintahan dengan baik, kita benahi bersama, untuk meningkatkan prestasi dan pencapaian terbaik sesuai yang diharapkan masyarakat,” ungkapnya.***

Ketua DPD Gema Keadilan Kota Bogor Unjuk Gigi untuk Maju menjadi Ketua KNPI Kota Bogor

0

Bogordaily.net – Ketua DPD Gema Keadilan Kota Bogor, Rozi Putra Nasrun tunjukan keseriusannya untuk maju menjadi Ketua KNPI Kota Bogor periode 2021-2025.

Hal tersebut dibuktikannya saat dirinya mengambil formulir pendaftaran dihari pertama pembukaan masa pendaftaran, pada Kamis 29 April 2021.

“Ini kita jadikan momentum bagi kita bahwa kita benar-benar serius, Gema Keadilan sangat serius dan siap melanjutkan estafet kepemimpinan KNPI satu, Kota Bogor periode berikutnya,” ujar Rozi.

Kemudian, Rozi menambahkan bahwa dirinya telah bertemu Ketua KNPI Kota Bogor, Bagus Maulana Muhammad serta berdiskusi dan menyatakan komitmennya, untuk melanjutkan program-program Bagus Maulana yang telah sukses selama ini.

“Kita akan akomodir kembali, kita akan silahturahim dengan semua OKP-OKP yang ada, kita kerja bareng kedepan,” kata Rozi di Kantor KNPI Kota Bogor, komplek Gor Padjajaran, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor.

Hal kedua yang Rozi utamakan adalah terkait regulasi dimana dirinya bersama tim, akan bekerja secara maksimal dengan melakukan pola komunikasi.

Hal ini akan diberikan kepada lingkup pihak-pihak di Kota Bogor, untuk membentuk tim besar agar merumuskan terciptanya Index Pembangunan Pemuda (IPP), khusus Kota Bogor.

“Index itu penting, harus ada mutlak untuk mengukur sejauh mana pembangunan Kota Bogor terkait kepemudaannya,” pungkas Rozi.

Anto Siburian selaku Wakil Ketua OKK KNPI Kota Bogor menyatakan, apresiasinya kepada Rozi Putra Nasrun karena respon cepatnya mengambil formulir pendaftaran calon Ketua KNPI Kota Bogor periode berikutnya.

“Saya mengapresiasi langkah ketua Rozi pertama untuk mengambil formulir pendaftaran, karena beliau langsung respon terhadap hal tersebut. Saya cukup senang mas rozi mau ikut kontestasi dalam pemilihan Ketua KNPI dan, menjadi bakal calon untuk Ketua KNPI Kota Bogor,” tutur Anto.

Sebelumnya, rangkaian menuju MUSDA XV KNPI Kota Bogor sudah dilalui dan diketok palu, pada RAPIMDA kemarin yaitu pelaksanaan pada tanggal 6 Mei 2021.

Para bakal Calon Ketua wajib mendaftarkan diri menjadi Bakal Calon kepada Panitia dan SC di sekretariat DPD KNPI Kota Bogor.

Kemudian, panitia akan menyerahkan Formulir pendaftaran bakal calon Ketua KNPI Kota Bogor.

Adapun syarat Formal Bakal Calon menjadi Calon Ketua KNPI harus mendapatkan Dukungan Tertulis dari DPK KNPI Kecamatan minimal 3 (tiga) DPK dan mendapat dukungan tertulis 6 (enam) OKP Peserta MUSDA XV.

Lalu bakal calon harus menyerahkan Visi dan Misi untuk menjadi Ketua KNPI Kota Bogor, dan juga Bakal Calon Ketua KNPI wajib pernah menjadi Pengurus DPD KNPI Kota Bogor atau Pimpinan OKP tingkat Kota Bogor.

“Pembukaan Pendaftaran Bakal Calon Ketua KNPI Kota Bogor sudah di buka hari ini dan akan di tutup tanggal 4 Mei 2021 pukul 23:59 WIB,” tukas Anto.

Oleh karena itu para Bakal Calon wajib mendaftarkan diri secara langsung kepada Panitia, dan Penyerahan berkas-berkas dikirim langsung kepada Panitia dan SC pada tanggal 5 dan 6 Mei 2021.

Paling telat sebelum Persidangan MUSDA XV dimulai, apabila melewati itu maka dianggap mundur dari Bakal Calon Ketua KNPI Kota Bogor.

“Tanggal 5 Mei 2021 nanti DPD KNPI Kota Bogor akan melaksanakan rapat pleno terakhir menuju Persiapan Musda XV nanti.

Harapannya para bakal calon mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang di siapkan Panitia dan SC Musda XV nanti,” tutup Anto. Cc

Kenali Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar

0

Bogordaily.net – Malam Lailatul Qadar suatu malam yang sangat istimewa dan teramat dinantikan oleh semua umat muslim, karena malam tersebut lebih baik dari 1000 bulan.

Tidak pernah ada yang tahu kapan Malam itu datang, tapi dikatakan bahwa Malam itu datang di 10 hari terakhir puasa, tepatnya pada malam ganjil.

Ada pun beberapa tanda-tanda yang bida dikenali, ketika malam itu datang:

1. Keadaan malam teramat tenang dengan udara yang terasa sejuk.

Ibnu Abbas r.a berkata : Rasulullah Shalallahu’alaihi wasalam bersabda :

” Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas, dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah”

2. Munculnya bulan dalam posisi separuh.

Abu Hurairah r.a pernah berkata : kami pernah berbincang tentang malam seribu bulan disisi Rasulullah Shalallahu’alaihi wasalam, beliau berkata :

“Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan muncul, yang berukuran separuh nampan.” (HR Muslim)

3. Suasana malam terasa sangat berbeda.

Sebagaimana sebuah hadis dari watsilah bin al-Asqo’ dari Rasulullah Shalallahu’alaihi wasalam :

“Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang, dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi syaitan).”(H.R At-Thabrani)

4. Cahaya matahari cerah namun lebih lembut dan sinarnya tidak menyengat hingga siang hari.

Dari Ubay bin Ka’ab r.a bahwasanya Rasulullah Shalallahu’alaihi wasalam bersabda :

“keesokan hari malam lailatul qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar terang” (H.R Muslim)

5. Nikmat beribadah yang tidak biasa.

Umat islam yang tengah beribadah demi mendapatkan malam 1000 bulan, akan dapat merasakan sesuatu yang teramat indah.

Perasaan bahagia dan tenang serta kenikmatan saat bermunajat. Terasa berbeda dengan malam-malam lainnya.

Semoga kita termasuk salah satu orang yang terus bersemangat beribadah dan beruntung mendapatkan Lailatul Qadar, Aamiin ya rabbaal ‘alaamiin.***

Ini Fase Tubuh Saat Menjalankan Puasa

0

Bogordaily.net – Ketika kita puasa, ada perubahan pola makan dan minum yang mengakibatkan adanya beberapa fase yang terjadi pada tubuh.

Mungkin kita harus tahu juga perubahan itu, ada periodenya ketika fase itu terjadi.

Pada periode hari ke satu dan kedua saat puasa, kita akan merasakan lapar yang sangat kuat.

Sementara tekanan darah, kadar gula serta denyut jantung kita akan menurun.

Untuk menghasilkan energi, biasanya tubuh akan menggunakan cadangan gula yang tersimpan di hati dan otot kita.

Lalu, pencernaan akan beristirahat karena asupan makanan yang masuk pun berkurang ke dalam tubuh.

Lemak mulai digunakan tubuh sebagai sumber energi, dan periode ini terjadi di hari ke tiga sampai ke tujuh.

Periode hari ke delapan sampai lima belas, tubuh mulai bisa melakukan detoksifikasi secara efisien.

Tubuh tidak terasa lemas lagi, serta terasa lebih energik atau lebih bersemangat.

Tubuh akan berhasil melakukan adaptasi pada keadaan puasa, di periode hari ke enam belas sampai tiga puluh.

Di saat proses detoksifikasi selesai, maka tubuh bisa bekerja lebih maksimal dalam mengganti jaringan yang rusak.

Sehingga konsentrasi, daya ingat akan meningkat serta emosi menjadi lebih stabil.***

Jurus Sakti Jokowi di KTT Leaders Summit on Climate

0

Bogordaily.net – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim atau “Leaders Summit on Climate” dijadikan momentum Jokowi melakukan negosiasi politik “merawat lingkungan bumi Indonesia” yang ditempati sekitar 271.349.889 jiwa rakyat Indonesia.

Untuk diketahui, KTT Leaders Summit on Climate ini dibuka secara resmi oleh Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris. Konferensi ini diikuti oleh 41 kepala negara/kepala pemerintahan/ketua organisasi internasional.

Strategi politik dagang Jokowi kepada para pemimpin dunia ini, ibarat gemulainya tarian khas Solo yang mematikan makluk apa saja saat terinjak kaki sang penari. Mindfulness dalam menyampaikan pikiran dan tuntutannya, gestur Jokowi seperti pembawaan sang penari.

Begitu kiranya analogi dari KTT Leaders Summit on Climate, berupa padanan untuk menafsirkan langkah negosiasi politik tingkat tinggi Jokowi. Menggunakan narasi secara santun, tetapi menghujam pada pokok masalah hingga membuat para pemimpin dunia masuk dalam perangkap komitmen yang pernah dijanjikan.
Tiga pemikiran pidato politik Presiden Joko Widodo yang disampaikan keseluruh peserta KTT perubahan iklim, pertama, Indonesia sangat serius dalam pengendalian perubahan iklim dan mengajak dunia untuk melakukan aksi-aksi nyata.

Tafsir politik pernyataan Jokowi ini, bisa dimaknai sebagai tindakan “penyodoran rekening tagihan” kepada negara-negara penikmat hasil penurunan laju deforestasi dan kebakaran hutan di Indonesia, sebagai aksi nyata andilnya dalam penanganan perubahan iklim global.

Ilustrasi dengan menggunakan “perbandingan luasan kawasan yang diselamatkan” seakan mengingatkan sekaligus membelalakkan mata para pemimpin dan warga dunia mengenai kesungguhan komitmen yang dilakukan secara nyata pemerintah Indonesia.

“Penghentian konversi hutan alam dan lahan gambut mencapai 66 juta hektare, lebih luas dari gabungan luas Inggris dan Norwegia. Penurunan kebakaran hutan hingga sebesar 82 persen di saat beberapa kawasan di Amerika, Australia, dan Eropa mengalami peningkatan terluas”

Untuk dipahami, bahwa tidaklah mudah, niatan dan keseriusan pemerintah Indonesia saat ini harus menghadapi banyak resiko dan konsekwensi dampak logis-politis. Bahkan, harus jujur diakui ada subyek hukum tertentu yang harus menanggung hingga menjadi korban politisnya.

Dalam praktiknya, realisasi kebijakan pemerintah Indonesia harus berhadapan dengan dalih narasi yang diformulasikan oleh kelompok tehnokrat, akademisi hingga kalangan NGO yang mewakili keyakinan berbasis aliran pemikirannya masing-masing.

Setidaknya ada dua dalih, yang mewakili kelompok “aliran pemikiran developmentalis” dan “aliran pemikiran post modernis berbasis kewahyuan”. Pada ghalibnya, kedua aliran pemikiran tersebut mengemasnya dengan narasi beserta argumentasinya secara ilmiah.

Aliran pemikiran developmentalis meyakini soal “keniscayaan bonus demografi, pemenuhan segala kebutuhan manusia, hingga soal persaingan antar negara demi kedaulatan dan keamanan” warga dan negara bangsanya.

Sedangkan aliran pemikiran post modernis berbasis kewahyuan, juga meyakini kebenaran atas bangunan narasi argumentasinya yang mendasarkan soal “keniscayaan akan kehancuran bumi pada saatnya”.

Masing-masing kelompok membangun narasi pembenarnya dengan pendekatan ilmu dan pengetahuan, maupun data dan fakta subyektif yang meski masih terbuka penafsirannya. Untuk menyatukan perbedaan cara pandang itu, butuh pola pendekatan secara kompromi.

“Menterjemahkah niatan baik dari berbagai kebijakan pemerintah itu praktiknya tidak gampang ditingkat tapak. Dibutuhkan “seorang Tan Malaka milenial” yang mau melakukan bunuh diri kelas sebagai pendamping masyarakat secara utuh”

Kedua, Presiden Jokowi mengajak para pemimpin dunia memajukan pembangunan hijau untuk dunia yang lebih baik. Penggunaan kata “mengajak” ini menjadi “symbol keteladanan negara-bangsa Indonesia”, karena sebelumnya memang melakukan sesuatu secara nyata.

Walau bersifat himbauan, tetapi material pidato politik Jokowi sangat responsif terkait rencana “penyelenggaraan Konvensi Kerangka Perubahan Iklim ke-26 di Inggris untuk hasil yang implementatif dan seimbang”.

Material pidato Jokowi itu, bisa ditafsirkan sebagai “diplomasi politik bermuatan tuntutan komitmen dan keseriusan” yang secara khusus ditujukan kepada para pemimpin dunia, agar tidak melakukan basa-basi politik seperti yang sedang berlangsung saat ini.

Dalam konteks ini, pemerintah Indonesia seakan mendeklarasikan sekaligus memberi keteladanan kepada para pemimpin dunia, soal keseriusan berkomitmen merealisasikan statemen politik yang sudah dibungkus menjadi dokumen konvensi internasional.

Meskipun, dokumen konvensi tersebut secara politik tidak bersifat mandatori bagi negara yang setuju dan menandatangani dokumen konvensi, beserta konsekwensi hukum-politik ikutannya.

Bahkan lebih konkritnya, Christiana Figueres sebagai mantan Sekretaris Eksekutif UNFCCC secara tegas menyebut bahwa “kesepakatan internasional tidak akan terjadi sebelum cukup diatur secara domestik oleh Negara-negara peserta”.

Intinya, negara-negara peserta harus benar-benar mewujudkan komitmen untuk meredam dampak perubahan iklim dalam kebijakan nasional terlebih dahulu, baru dapat dibawa ke forum internasional.

Sebagai wujud keseriusan dan keteladanan pemerintah Indonesia, ditunjukkan dengan kebijakan “menuju net zero emission tahun 2050” melalui pemberdayaan masyarakat, penegakkan hukum, berupaya menurunkan laju deforestasi hingga turun terendah dalam 20 tahun terakhir.

“Negara berkembang akan melakukan ambisi serupa jika komitmen negara maju kredibel disertai dukungan riil. Dukungan dan pemenuhan komitmen negara-negara maju sangat diperlukan”

Ketiga, untuk mencapai target Persetujuan Paris dan agenda bersama, kemitraan global harus diperkuat. Kesepahaman dan strategi perlu dibangun di dalam mencapai net zero emission dan menuju UNFCCC COP-26 Glasgow.

Indonesia sendiri sedang mempercepat “pilot percontohan net zero emission” terbesar di dunia dengan membangun Kawasan “Indonesia Green Industrial Park” seluas 12.500 hektare di propinsi Kalimantan Utara.

Tuntutan kompensasi politik Jokowi ini, dilakukan melalui sindiran politisnya “kita harus terus melakukan aksi bersama, kemitraan global yang nyata, dan bukan saling menyalahkan, apalagi menerapkan hambatan perdagangan dengan berdalih isu lingkungan”.

Sindiran politis berikutnya, dikemas dengan narasi yang bisa membuat panas telinga para pemimpin negara industry maju yang cenderung inkonsisten dengan berbagai kesepakatan yang telah disetujui dan ditandatanganinya.

“Kami sedang melakukan rehabilitasi hutan mangrove seluas 620 ribu hektare sampai 2024, terluas di dunia dengan daya serap karbon mencapai empat kali lipat dibanding hutan tropis. Indonesia terbuka bagi investasi dan transfer teknologi, termasuk investasi untuk transisi energi”

Pada dasarnya Perjanjian Paris tahun 2015 merupakan capaian yang bagus, namun dalam perkembangannya tidak berjalan mulus. Sejak dibawah kepemimpinan Donald Trump, Amerika Serikat sudah enggan terlibat dan bergerak mundur dari kesepakatan.

Ada sejumlah negara yang tidak konsisten sehingga merintangi perundingan membahas perubahan iklim untuk tidak membuahkan hasil. Menurut Stefan Rahmstorf, disebabkan kekuatan lobi industri energi fosil untuk menghambat agenda pengendalian perubahan iklim dan beserta proses kebijakan yang mengarah ke hal itu.

Profesor Fisika Lautan di Universitas Potsdam itu juga menyampaikan bahwa ada lima perusahaan minyak raksasa yang menggelontorkan uang USD 200 juta per tahun untuk memperkuat lobbi tersebut.

Mencermati dinamika perundingan para pemimpin negara ini, bisa ditarik kesimpulan bahwa antara tindakan “merawat” dengan “perusakan” lingkungan bumi itu berjalan parallel bagi aktor pelaku mewakili “Pemerintah” maupun “rakyat” berdasarkan teori kausalitas.

“Demikian halnya dengan penanganan lingkungan suatu negara, akan sangat tergantung dengan situasi dan kondisi politik internalnya. Hegemoni kelompok tertentu akan terlihat dominan pengaruh politiknya, tinggal melihat aliran politik yang mana sebagai pemenangnya”

Mental model para aktor pelaku dipengaruhi “standar politis” mereka. Sehingga, di KTT Leaders Summit on Climate, ada dugaan untuk negara industry maju, relative sulit konsisten karena mental model pemikirannya sudah terbelenggu dengan pesanan yang mewakili kolega-kolega politiknya.

Sama halnya dengan gelaran UNFCCC ini, sejatinya forum konferensi perubahan iklim ini untuk kepentingan siapa? Diduga, media politis ini menjadi sakral bagi negara industri maju semata. Mereka takut tidak lagi mampu mempertahankan stigma yang terlanjur melekat.

Secara psikologi-politis mereka takut karena menyangkut soal “membangun dan menjaga eksistensi politik-ekonomi-budaya” mewakili para elite pemerintah, pengusaha, tokoh informal yang berhubungan dengan kenyamanan dan keamanan komunitas eksklusifnya.

Fenomena politis ini dibuktikan dengan kegagalan pencapaian kesepakatan konferensi UNFCCC COP-25 pada bulan Desember 2019 di Madrid, ketika menanggapi keadaan darurat krisis iklim, karena perbedaan utama antara negara-negara yang terbukti sulit diselesaikan.

Bagi negara yang tidak punya posisi tawar politik, issue krisis perubahan iklim menjadi tidak prioritas dibanding krusialnya masalah dalam negerinya untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya dengan berbagai strategi survivalnya.

Sejatinya “Sang Penguasa Alam” memang memberi manusia rasa takut dengan berbagai latar penyebabnya. Bahkan takutnya “Orang-orang besar” itu relatif beragam dan cukup mengerikan saat mengkritisi soal krisis lingkungan, kehancuran bumi hingga planet sekalipun.

Akan tetapi, rasa takutnya bagi “orang-orang kecil dengan segala keterbatasannya”, cenderung tidak peduli andai bumi ini mau runtuh atau kebakaran sekalipun, tetapi takutnya mereka cuma “soal lapar dan dikejar-kejar hutang”.

Pada akhirnya, mengelola hati dan pikiran serta berbuat baik dan berbagi kepada siapa saja, dalam status dan posisi apapun, dengan meyakini janji beserta skenarioNYA, untuk percaya hanya DIA yang berhak kapan memulai dan mengakhiri keberadaan BUMI ini, memanglah berat.

Salam lestari

Bahan bacaan:

Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden