Friday, 8 May 2026
Home Blog Page 7966

Walimahan – Tosca Santoso

0

Bulan sedang murah hati. Kuningnya memendar turuni bukit. Singgah sekelebat di kebun kopi. Kemilau terangi wajah Neng, yang malam itu tak kalah cantiknya. Indah malam purnama, bersanding kecantikan gadis tanah Pasundan.  Ia sedang bungah. Duduk berdua dengan Bandi, kekasihnya. Sejuk, di antara lebat buah kopi yang hampir merah. Waktu panen tak lama lagi.

“Neng sudah bilang ke Abah?” tanya Bandi membuyarkan angan. Ini bukan kali pertama, Bandi mendesak. Ia ingin Neng segera kasih tahu Abahnya, kalau keluarga Bandi bermaksud datang meminang.

“Tunggulah panen kopi selesai,” kata Neng.

Sebulan lagi, kopi yang merah mulai dipanen. Kalau tiap minggu dipetik, panennya akan tuntas tiga bulan kemudian. Neng tak ingin memberi beban pada Abahnya. Ia ingin panen selesai, baru bicara pada ayahnya, meminta restu tentang rencana Bandi melamarnya.

Neng mengenal Bandi, hampir sepanjang umurnya. Mereka lahir, dan tumbuh bersama di Kampung Kenanga, di lereng Gunung Halang. Tempat kopi ditanam sejak zaman kakek moyang mereka diperbudak Belanda. Sedari kecil, mereka telah bersama membaui wangi bunga kopi, gembira dalam semaraknya panen. Dan terbiasa menggantang harapan : segala hal dikaitkan pada harga kopi yang baik bila panen tiba.

Ia sama sekali tak ragu menerima lamaran Bandi.

Hanya perlu menunggu. Tunggu panen selesai. Semoga harga baik.  Dan tabungan mereka menebal. Mestinya Bandi paham kebiasaan Kampung Kenanga karena mereka tumbuh bersama kopi.

Hening. Neng tak ingin bersilang pendapat lagi. Bandi pun tak hendak mendesak. Masih ditaburi cahaya purnama, pemuda itu hanya lirih berbisik : ”Aku tak banyak waktu. Setelah walimahan, mau berangkat.”

“Jadi juga Akang ke kota?”

“Iya. Wa Dasman sudah masukkan Akang kerja di restoran,” ujar Bandi.

***

Seperti banyak keluarga di Kampung Kenanga, kebun kopi Pak Kunang, Ayah Bandi, kian lama kian sempit. Ada saja keperluan yang memaksa petani menjual kebun. Pernah karena lahiran anaknya, Kunang melepas sebagian lahan. Kali lain karena istri yang sakit dan butuh biaya berobat. Kini, Kunang kesana-kemari, menawarkan kebun kopi. Bahkan tak mau tunggu panen. Tekadnya sudah bulat, ingin membiayai walimahan Bandi. Demi sulungnya, ia siap melepas kebun kopi.

Kabar itu cepat menyebar. Dari satu mulut ke telinga lain. Dari rumah ke kebun, Kampung Kenanga tak punya sekat untuk membendung informasi sepenting itu. Kunang juga menawarkan sampai ke luar kampung. Berharap ada bandar-bandar sayur yang minat pada kebun kopinya. Kebunnya ada empat patok, kalau dilepas dua  patok, cukuplah membiayai walimahan sederhana. Kunang ingin kewajiban pada anaknya tuntas. Sebelum Bandi berangkat kerja ke kota.

Abah Sulaeman, ayah Neng, mendengar kabar itu dengan prihatin. Rasa kehilangan.  Kunang tetangga dan teman baiknya sejak muda, ia tak tega kalau kebun temannya itu terus-menerus susut. Apa pula yang bisa dilakukan petani, tanpa kebun. Seperti nelayan kelihangan laut. Mereka akan kehilangan gairah hidup.  Bahkan, kehilangan alasan untuk bangun di pagi hari.

Abah berusaha menyimpan risau itu sendiri,  tapi tak sanggup. Ia tanyakan itu pada Neng, karena sudah lama tahu anaknya dekat dengan Bandi.

“Jadi kenapa harus dijual kebun Kang Kunang teh? Sayang hampir panen,” ujarnya.

Neng tak menyahut. Ia punya gelisahnya sendiri. Apakah ini waktu yang baik untuk menyampaikan pesan Bandi. Ia masih berharap, hal itu dapat ditunda sampai setelah panen.

“Apa Bandi tidak cerita?” desak Abah.

“Dia bilang mau ke kota Bah,” kata Neng.

“Jadi kalian kumaha?” Abah bertanya memudahkan percakapan. Sebagai orang tua, di kampung kecil, tak sulit bagi Abah meraba hubungan Neng dan Bandi kian serius. Mata tuanya cepat menangkap, kalau gadisnya pun telah menyandarkan hati pada Bandi, sulungnya Kunang.

“Ndak tahu Bah. Kata Kang Bandi, ayahnya mau datang bicara sama Abah. Saya bilang, sebaiknya setelah panen selesai,” ujar Neng.

“Tapi kalau sampai mau jual kebun, pasti sudah mendesak,” Abah bergumam lirih.

Ia teringat pengalamannya sendiri. Ketika harus melepas kebun kopi, saat Rustam, kakaknya Neng menikah. Ia lepas dua patok kebunnya senilai Rp. 8 juta. Cukup untuk modal walimahan. Tanpa pesta, tapi resmi nikah secara agama. Kebun yang dilepas itu, secara hukum memang bukan tanah milik petani. Mereka menggarap saja di hutan negara. Jadi, yang dijual bukan tanah bersertifikat tapi hak garap, dan tanaman kopi di atasnya yang sudah produktif. Maka harganya pun bukan harga jual tanah. Tetapi harga jual kebun.

Kebun itu diwarisi dari kakek-kakek-kakeknya. Bermula ketika Belanda memaksakan tanaman kopi di Tanah Pasundan. Talun dibabati untuk komoditi kopi yang jadi andalan ekspor Belanda. Termasuk di kaki Gunung Halang. Mereka diwajibkan tanam kopi, satu keluarga 1.000 batang. Empat tahun merawat tanpa diupah. Setelah panen, kopi disetor ke kabupaten. Harga beli ditentukan sepihak oleh kompeni. Masa perbudakan itu, ironisnya sering dianggap sebagai kejayaan kopi dari Tanah Pasundan.

Lama sesudahnya, generasi berganti generasi, kopi tetap ditanam di Gunung Halang.

Tak lagi pakai cambuk kompeni yang dibantu sepenuh hati oleh bupati yang juga dapat untung besar.  Tetapi hidup Abah dan teman-temannya tak kunjung sejahtera. Tiap kali ada kebutuhan penting, seperti menikahkan anak, sepatok-dua patok kebun terpaksa dilepas ke pemilik uang. Apes-apesnya, ketika kebun tak lagi jadi milik mereka, para petani di Kampung Kenanga akan terpaksa kuli di kebun orang, menjual tenaga – satu satunya aset yang masih mereka punya.  Mereka dibayar Rp. 50 ribu sehari, setara harga secangkir kopi di kafe-kafe kota besar.

Tak peduli kerisauan Abah,  Kunang sukses menjual kebunnya. Sepekan kemudian, mereka adakan walimahan untuk Neng dan Bandi. Akad nikah yang mengesahkan mereka jadi sepasang suami istri. Pernikahan mereka dimateraikan, dengan kebun yang lepas dari tangan keluarga Kunang. Beberapa hari setelah walimahan, Bandi berangkat ke kota. Ia bekerja jadi pelayan restoran, mengikuti ajakan pamannya.

Bandi tinggalkan istrinya, tanpa menunggu kopi menjadi merah.

***

Tiap pagi, Neng pergi sendiri ke kebun kopi. Sejak Bandi ke kota, ia tak lagi mendatangi kebunnya sore-sore atau sengaja menunggu purnama di sana. Tak pernah lagi.

Perjalanan ke kebun hanya pagi hari : membawa makan untuk abah, dan membantu merawat kopi yang hampir panen. Setiap hari sepanjang pekan, kecuali Jumat – hari libur mereka, Neng khusuk menemani Abah di kebun kopi.

Menjelang panen, kopi makin perlu dirawat. Daun-daun yang menutup biji, dipangkas. Supaya biji terpapar matahari dan lebih cepat matang. Dahan-dahan air, yang menghabiskan makanan tanpa terlihat calon bunga, disingkirkan dari batang. Tangannya trampil memegang gunting. Membuat pohon kopinya terlihat ramping.

Ia betah memandangi biji kopi yang berubah warna. Mula-mula hijau, lalu kuning, dan kemudian memerah. Tentu tidak dalam sehari. Tapi, ia hapal tahap-tahap itu. Dan semakin mendekat merah, hatinya lebih berdebar. Abah biasanya juga makin bersemangat menjelang panen. Tapi tidak kali ini.

“Harga jatuh. Murah sekali,” kata Abah.

Ia mendengar bandar-bandar yang biasa menampung kopi petik merah, membuka harga hampir separo dari tahun lalu. Gelondong basah dari kebun panen lalu dibeli Rp. 8.000 per kilo. Sekarang hanya Rp 5.000,-. Itu pun tak semua panen dapat ditampung. Anjloknya harga kopi ini memuat petani se Kampung Kenanga lesu. Mereka tak paham, kenapa tiba-tiba harga turun drastis. Panen setahun sekali yang lama dinanti, menjadi hari-hari yang pucat tanpa semangat.

“Tapi ini harus tetap dipanen Bah. Kalau tidak, akan busuk di pohon,” kata Neng. Seolah Abahnya tak tahu, kapan kopi harus dipetik. Abah tak menyahut. Ia hanya mengangguk. Kopinya akan terpaksa  dipanen, berapa pun harga dari bandar.

Musim panen tahun ini, Kampung Kenanga terasa sepi.

Orang orang memetik kopi tanpa bicara. Tak ada gurau juga tetabuhan yang biasa dimainkan anak-anak muda mengiring panen. Bahkan ada sedikit cemas. Mereka mendengar kabar dari kota, tentang sejenis penyakit yang menghinggapi orang dengan dadakan. Menular dengan cepat. Sejenis wabah. Mematikan. Membuat warung-warung tutup. Tempat kerja ditutup. Tak banyak yang beli kopi. Itu sebabnya, harga gelondong juga ambruk.

Kabar pagebluk itu tiba di Kampung Kenanga, bersama harga yang anjlok. Tapi, kopi tetap harus dipanen. Kalau terlambat akan terlalu matang. Fermentasi tak terkendali di buahnya sendiri. Neng memetik kopi hampir tanpa gairah. Sudah tiga bulan Bandi ke kota. Makin hari makin jarang kabar darinya. Kalau masih ada paket di telepon, Neng rajin bertanya kabar. Sekarang paket telepon Neng jarang diisi. Panen kopi tak banyak hasilnya. Ia harus berhemat membeli pulsa.

***

Suatu sore di Kampung Kenanga. Bandi terlihat pulang dari kota. Langkahnya gontai menenteng tas tangan. Tas yang sama, yang dibawanya ketika berangkat kerja di restoran, empat bulan lalu. Neng menyambutnya di halaman. Dengan hati berbinar.   Wajah cantiknya menghapus letih yang digendong Bandi dari kota.

Dengan setumpuk malu, ia beranikan diri pulang kampung. Tempat asal yang pernah dicampakkannya ketika ia bermimpi rezeki lebih baik di kota.  Kampung yang ditinggalkan, dengan kebun yang makin menyempit.

“Restorannya tutup. Sudah dua bulan Akang menganggur di kota. Lebih baik pulang,” katanya.  Neng tak hendak menyela. Ia sudah lega, suaminya pulang dengan selamat. Empat bulan berpisah, rasanya bertahun-tahun. Apalagi ketika kabar dari Bandi makin jarang didengarnya.

“Banyak orang sakit. Demam, sulit nafas dan terus meninggal. Di restoran tempat akang kerja, ada yang sakit. Jadi restoran ditutup. Lagipula pengunjung juga sepi. Orang-orang kota takut keluar rumah,” kata Bandi.

Wabah yang tak dipahami, memungkas harapannya mengais rezeki di luar kebun.  Ia pun sedikit merasa jeri. Ada ketakutan ketika melihat teman sekerjanya tiba-tiba mati.  Kota seperti rimba dengan hantu kematian yang belum  pernah dikenalnya. Nyawanya bisa saja tiba-tiba melayang, tanpa sempat bertemu Neng. Itu sungguh bukan hal yang diinginkannya.

Panen kopi sudah selesai. Sehemat apapun Neng mengatur, uang hasil panen kali ini tak akan cukup untuk dapur, sampai panen kopi lagi nanti.  Panen ini, bahkan tak cukup untuk membeli pupuk. Mengganti hara yang dibutuhkan tanamannya.  Dulu, kakek dan juga abahnya, selalu berpesan, “ kalau kita petik dua kilo gelondong dari pohon kopi, kembalikan pupuk kandang empat kilo. Supaya tahun depan lebih lebat buahnya.”

Kini, hasil panennya tak cukup untuk membeli pupuk sebanyak yang diperlukan. Jadi, tahun depan dipastikan panen akan kian berkurang.

Bandi dan Neng melewatkan sore yang muram di halaman rumah. Kabar tentang pagebluk sesekali terdengar di radio. Tetapi kemurungan muncul  karena harga kopi yang buruk. Dan diperburuk oleh lepasnya kebun yang dijual untuk biaya walimahan mereka. Kebun yang hilang, bagi petani adalah semacam tanda penyerahan kaum yang mencoba bertahan dari kepunahan.

Dan memang, sehari-hari mereka telah dipaksa menanggung kekalahan demi kekalahan.

***

Catatan
Walimahan : kenduri kecil, syukuran atas akad nikah yang mengesahkan pasangan suami-istri.
Patok : ukuran luas, sekira 400 m2
Talun : kebun-hutan. Cara mengelola tanah yang kombinasikan tanaman hutan dan semusim.
Kumaha : bagaimana?

Tosca Santosohampir tiga dekade berkarir sebagai wartawan. Pernah mengelola terbitan AJI, Independen, dan mendirikan Kantor Berita Radio, sekarang  menikmati pensiunan yang asyik menanam kopi bersama petani Sarongge. Kopi untuk merawat hutan dan menambah penghasilan petani. Di sela-sela mengolah Kopi Sarongge (https://kopisarongge.com), ia menulis fiksi, antara lain : Sarongge (2012) dan Ladu (2016). Sesekali masih liputan untuk diterbitkan sendiri, misalnya : Cerita Hidup Rosidi (2016), Lima Hutan Satu Cerita (2019). Pandemi membuatnya belajar menulis cerita pendek. Email : [email protected]  IG : toscasantoso

 

Dimuat ulang dari www.ceritanet.com. nuhun

Zulfa Indrawati Pimpin KPPI Cianjur

0

BOGOR DAILY – KPPI (Kaukus Perempuan Politik Indonesia) kabupaten Cianjur ganti pimpinan. Dimana yang sebelumnya diketuai oleh Si Siti Komariah SPD periode 2015-2020, kini digantikan oleh ibu Zulfa Indrawati, SH.,MHKes periode 2020-2025.

Musyawarah Cabang KPPI Kabupaten Cianjur dilaksanakan di Gedung DPRD Kabupaten Cianjur, yang dihadiri oleh para tamu dari berbagai lintas partai khususnya wanita.

Selain itu acara tersebut dihadiri oleh Asda Satu kab. Cianjur, Kepala Kesbang Pol, Kabid Pemberdayaan Perempuan dan lingkungan hidup dan KPPI Propinsi Jabar. Serta hadir pula anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Hj Lilis Boy.

Dalam kesempatan itu,  Lilis pun mengajak agar kaum perempuan dapat menunjukan kiprahnya dalam mengisi peran politik.

“Kiprah dan peran perempuan harus significan. Dalam mengisi peran politik. Terutama politik yang memberikan ruang pemberdayaan. Kaum perempuan dalam meningkatkan ekonomi kerakyatan”terangnya

Inti dari acara tersebut ingin mengedepankan pemberdayaan perempuan dan pemahaman tentang politik yang positif dan membawa dampak yang baik bagi kaum perempuan. (*)

Kas dan Mobil Keliling Bank Kota Bogor Dihentikan, Pelayanan Dilakukan di Kantor Pusat Selama Enam Jam

0

BOGOR DAILY – Dalam mencegah penyebaran virus corona (Covid-19), BPR Bank Kota Bogor mengurangi jam operasional pelayanan.

Pengumuman ini tersebar melalui surat edaran Nomor 539/423-BKB, yang berisi tentang Operasional Pelayanan Perumda BPR Bank Kota Bogor.

Dalam surat edaran tersebut diterangkan bahwa jam operasional hanya berlaku selama enam jam.

“Kantor kas dan mobil keliling Perumda Bank Kota Bogor ditutup terhitung 21 September hingga 2 Oktober 2020, sehingga pelayanan hanya dilakukan di kantor pusat yang berada di Jalan R.E. Martadinata, nomor 45, Kota Bogor. Operasional terbatas dan kantor tutup pukul 15:00 WIB, dengan pelayanan kas/teller yang berlaku dari jam 08:00 pagi hingga 14:00 WIB,” demikian dalam keterangan tertulis mereka.

Sementara kas dan mobil keliling Perumda BPR Bank Kota Bogor akan mulai beroperasi kembali pada 5 Oktober 2020 mendatang. Hal ini dilakukan sesuai dengan keputusan Wali Kota Bogor Nomor 90045-552 Tahun 2020 tentang Perpanjangan Keenam Pembatasan Sosial Berskala Besar Proporsional Pra Adaptasi Kebiasaan Baru Dalam Penanganan Virus Corona.

Ngeri! Di Bogor Tak Pakai Masker Diborgol

0

BOGOR DAILY – Satuan Polisi Pamong Praja atau Satpol PP Bogor memborgol tangan seorang pengendara roda dua yang melintasi Jalan Raya Puncak Bogor, Jawa Barat, Sabtu (19/9/2020). Pengendara itu diborgol sebagai hukuman lantaran tidak memakai masker.

Lembaga pegiat Hak Asasi Manusia, Imparsial menilai tindakan tegas dalam menegakan aturan protokol kesehatan memang diperlukan. Namun tidak dengan cara berlebihan seperti pemborgolan tersebut.

“Sikap dan langkah tegas memang perlu, tapi akan sangat baik jika hal itu tidak dilakukan dengan cara eksesif (berlebihan) seperti pemborgolan bagi pelanggar. Menurut saya pemborgolan itu berlebihan, nggak perlu dilakukan,” kata Wakil Direktur Imparsial Ghufron Mabruri seperti dikutip dari Suara.com, Sabtu (19/9/2020).

Menurutnya, masih banyak cara yang lebih edukatif dan humanis yang bisa didorong dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai protokol kesehatan.

“Seperti sanksi kerja sosial membantu pemerintah dan masyarakat,” ujarnya.

Ghufron menambahkan, penanganan Covid-19 diperlukan kesadaran semua pihak. Kesadaran menerapkan protokol kesehatan tak boleh diabaikan.

“Kita sebagai masyarakat juga harus sadar bahwa penerapan protokol kesehatan bukan hanya tentang aturan, tapi juga kepentingan kita bersama,” tandasnya.

Pria itu bernama Andi Albar (29) asal Megamendung, Bogor Jawa Barat tidak terima tangannya diborgol sebagai sanksi melanggar protokol kesehatan. Ia meluapkan kekesalan dengan memaki-maki petugas Satpol PP.

Padahal, tujuan anggota Satpol PP Bogor menindak dengan cara memborgol tangan pria tersebut agar tidak mengulangi lagi, dan selalu patuh untuk menggunakan masker.

Saat didata oleh petugas Satpol PP, pria yang bertujuan ke arah Puncak Bogor itu tidak terima tangannya diborgol dan membandingkan dengan terpidana korupsi.

“Nih yang korupsi gua diborgol, jangan yang gak pakai masker diborgol, nih suruh sama bapak-bapak ini, korupsi bisa dadah-dadah (melambaikan tangan),” cetus Andi.

Anggota Satpol PP Bogor itu mencoba menenangkan pria yang mengenakan jaket warna hitam itu agar memakai masker dan mengisi data administrasi pelanggaran.

Petugas itu pun memberikan pilihan sanksi kepada pria tersebut, apakah membayar denda sebesar Rp100 ribu atau dikenakan sanksi sosial. (*)

Container Cottage The Green Student Village Tawarkan Suasana Nyaman Weekend

0

BOGOR DAILY – Mencari tempat yang nyaman bersama keluarga, tapi bingung macet dimana-mana, apalagi kalau ke tempat-tempat yang memang sudah banyak dikunjungi orang misalnya puncak, selain takut akan kerumunan karena pandemi, menyiksa juga dengan kemacetan yang berjam-jam, nah jangan ragu yuk simak artikel kali ini yang akan membawa kalian semua ke Container Cottage The Green Student Village.

Container Cottage yang memang diperuntukkan bagi keluarga ini hadir di kawasan Apartemen Kos The Green Student Village yang berada di Jalan Alternatif IPB, Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor.

Dengan suasana yang asri, sejuk, nyaman dan aman karena operasional sesuai merujuk kepada protokol kesehatan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Melalui sambungan telepon Erzon Djazai selaku pengembang kawasan The Green Student Village menjelaskan bahwa ini adalah momen yang pas untuk anda menikmati suasana weekend di Container Cottage The Green Student Village.

“Ya, harga promo weekend untuk bermalam bersama keluarga hanya dengan 350 ribu rupiah saja.” Ungkap Erzon.

Container Cottage The Green Student Village mempunyai fasilitas lengkap seperti TV Digital, AC, Water Heater, WiFi, Sofa dan Kursi Santai so pasti membuat bahagia Weekend kalian.

Didalam kawasan The Green Student Village juga dilengkapi dengan parkir mobil motor yang luas, Coffee Shop Ngopidirumah, resto Serba Sambal, Security 24 jam.

“Yuk, rasakan juga gemericik aliran sungai Ciapus di Container Cottage The Green Student Village. Informasi cek di kostgsv.com ya” Pungkasnya.

(Red-BDN).

Milad RQV ke-6, RQV INDONESIA Wujudkan 1000 Kampung Quran Nusantara

0

BOGOR DAILY – Tepat pada hari ini, RQV Indonesia merayakan Hari Jadi ke 6 Tahun, selama 6 tahun ini RQV selalu terus eksis berada dekat ditengah-tengah masyarakat dengan program-program unggulannya. Pada hari ini pula (Sabtu, 19/09/20) RQV Indonesia menggelar kegiatan untuk Milad dengan penuh kegembiraan dan dengan penuh khidmat.

Dijelaskan langsung oleh Presiden RQV Indonesia Sultan Muda Azmi Fajri Usman, S.H. RQV menggelar acara milad pertama mengusung tema “Bersama Mewujudkan 1000 kampung Qur’an Nusantara”.

“Ya, kami mengundang 1000 Pecinta Al Qur’an dari berbagai daerah untuk mengikuti acara ini, baik mereka yang memang sebelumnya sudah tergabung sebagai Keluarga Besar RQV Indonesia maupun yang belum.” Ungkap Azmi Fajri Usman.

Mereka biasa disebut sebagai Keluarga Besar Pencinta Al-Qur’an, dimana ada beberapa program RQV yang berjalan didalamnya diantaranya ASQN atau Anak Sahabat Qur’an Nusantara, PSQN atau Pemuda Sahabat Qur’an Nusantra, ISQN atau Ibu Sahabat Qur’an Nusantara yang sudah tersebar diberbagai daerah Pelosok Nusantara. Acara utama dari milad ini, kami menggelar khataman akbar yang diikuti oleh peserta dari berbagai penjuru Nusantara mulai dari pulau Sumatera hingga ke Pulau Penang Malaysia sekaligus pendeklarasian VISI baru RQV INDONESIA yaitu Mewujudkan 1000 Kampung Quran Nusantara.

Selain itu momen Milad ke-6 kali ini juga dijadikan oleh RQV INDONESIA sebagai moment untuk meluncurkan program baru, yaitu Layanan Buka Rumah Quran Seluruh Nusantara dengan harapan besar bahwa akan ada banyak Rumah Quran menyebar diseluruh Indonesia dan akan menyaingi Indomaret dan Alfamart diseluruh Indonesia.

Ada tiga poin penting dari Milad ke-6 RQV Indonesia, diantaranya :

1. Adanya sejarah tentang RQV, bahwa RQV Indonesia berawal dari rumah kecil yang berada di Paseban Jakarta Pusat, yang kini telah berusia 6 tahun. RQV Indonesia punya visi Mewujudkan 1000 Kampung Qur’an Nusantara untuk melahirkan 8 Juta Penghafal Al Qur’an.

2. Pendiri RQV Indonesia ialah Sultan Muda Azmi Fajri Usman dan sang Istri dr. Ainil Masthura, S.P.Ak yang berasal dari Aceh. Mereka berdua merupakan salah satu saksi hidup sejarah Tsunami Aceh 26 Desember 2004. Tsunami Aceh banyak mengajarkan kita semua untuk terus memiliki jiwa yang ikhlas, tulus, sabar dan syukur. RQV Indonesia adalah persembahan dari kami kepada Indonesia dan Dunia, dimana ketika tsunami ada begitu banyak orang yang telah membantu Aceh pada saat itu. Maka 8 Juta Penghafal Al Qur’an adalah persembahan terbaik untuk Indonesia dan Dunia.

3. Jangkauan Cabang RQV Indonesia hingga saat ini telah tersebar di 14 titik dengan 60 Cabang, diantaranya Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bangka Belitung, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Pulau Penang Malaysia dan 3 Kampung Qur’an yang telah di deklarasikan. RQV 1001, cabang yang ke 60 yang baru saja diresmikan pada Kamis 17 September 2020 lalu.

Acara Milad RQV INDONESIA ditutup dengan Ajakan dari Presiden RQV INDONESIA kepada seluruh Masyarakat Indonesia.

“Mari bergabung, bersama dan dukung terus perjuangan kami di RQV Indonesia. Dengan program terbaik yang kami persembahkan untuk anda semua. Selamat Milad ke 6 RQV Indonesia. Jaya selalu.” Tutup Sultan Muda Azmi Fajri Usman, S.H. Presiden RQV Indonesia.

Bagi masyarakat Indonesia yang ingin bersama ikut program RQV Indonesia bisa menghubungi Contact Person : +6282262639966 (WD124 Fania Vivi Hikmawati) atau bisa ulas kami di :
WEB : www.rqv.or.id
Youtube : RQV TV
IG : @rqvindonesia
FB : RQV Indonesia

Atau bisa juga berkontribusi melalui tautan berikut ini : https://kitabisa.com/campaign/bantudaihafizquran
Bank Mandiri 123.000.683.3992
BNI Syariah 077.258.1246
BRI Syariah 104.228.1898
Muamalat 309.001.2610
a.n Yayasan Wakaf Rumah Qur’an Violet.(Red-BDN).

Rektor IPB University Positif Tertular Virus Corona

0

BOGOR DAILY –  – Kabar mengejutkan datang dari Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB University), Arif Satria. Dia mengabarkan dirinya positif terjangkit virus Corona atau Covid-19.

“Di tengah berbagai aktivitas yang padat, atas inisiatif saya sendiri, saya melakukan test swab pada tanggal 18 September dan ternyata hasilnya dinyatakan positif,” kata Arif dalam pernyataan resminya, Sabtu (19/9/2020).

Arif mengatakan, meski positif Corona dirinya merasa dalam kondisi fisik yang baik. Dia saat ini menjalani isolasi mandiri.

“Alhamdulillah pada saat ini saya merasa dalam kondisi fisik yang baik untuk tetap dapat beraktivitas dan melaksanakan tanggung jawab saya selaku Rektor melalui koordinasi secara virtual,” katanya.

“Saya akan melaksanakan protokol kesehatan untuk isolasi mandiri sampai dengan dinyatakan sembuh,” sambung Arif.

Dia juga mendoakan agar seluruh civitas akademika dan tenaga kependidikan IPB dalam keadaan sehat walafiat. Dia berharap seluruhnya mematuhi protokol kesehatan agar tidak terpapar virus Corona.

Weekend atau Weekdays, yuk Ceria dan Sehat Bareng Juicy Chicken

0

BOGOR DAILY- Di masa pandemi yang identik dengan pembatasan gerak secara fisik ternyata membuat imajinasi dan ruang pikir menjadi lebih leluasa.

Berangkat dari kebuntuan usaha budidaya perunggasan, yang sejak kuartal kedua tahun 2019 diterpa badai.
Harga panen ayam hidup, bak roller coaster, ditambah pandemi yang berimplikasi penurunan daya serap, membuat harga LB sangat terpuruk, bahkan mencapai 5000 perkilogram.

Melihat harga pokok produksi rata-rata di angka 17.000 perkilogram, maka terbayangkan bagaimana kondisinya.

Banyak pengusaha mengeluh dan tak sedikit yang angkat bendera putih alias menyerah.

Di tengah keterpurukan itu segelintir orang mengalihkan kebuntuan tersebut dengan kuliner.

Dengan kejelian melihat peluang dan data, maka ide Juicy Chicken ini tercipta.

Dalam masa pandemi masyarakat dihimbau tidak keluar rumah. Banyak yang memanfaatkan jasa jual beli online. Akan tetapi apakah semua orang dapat merasa terpuaskan dengan belanja online.

Ternyata masih banyak orang yang ingin membeli sesuatu harus melihat langsung barang yang akan dibelinya.
Tak sedikit orang yang ingin berkreasi menciptakan masakan sendiri.

Untuk itu Juicy Chicken mampu menyediakan kebutuhan protein hewani, murah, langsung bisa dipilih, diparting didepan pembeli dan tetap mematuhi aturan protokol kesehatan.

“Juicy Chicken hadir untuk anda semua. Lengkap protein hewani, cegah Corona.” Ungkap Adi Kuncoro, salah satu penggagas Juicy Chicken.(Red-BDN).

Manga Boruto Chapter 50: Sasuke Sekarat Melawan Isshiki Otsutsuki

0

BOGOR DAILY – Manga Boruto: Naruto Next Generations chapter 50 terbit pada 18 September 2020. Berjudul Utility Value, perang di Konohagakure melawan Isshiki Otsutsuki masih berlanjut.

Potongan dialog manga Boruto chapter 50 dibocorkan di jagat maya. Salah satu akun fanbase @Abdul_S17 mempublikasikan adegan-adegan pertarungan antara Naruto, Sasuke, dan Boruto.

Dalam salah satu adegan, Isshiki Otsutsuki mengatakan, “Selamat tinggal, Uchiha Sasuke.”

Tak disangka Isshiki menghujam tubuh Uchiha Sasuke dengan pedang. Sasuke hampir mati ketika melawan Isshiki Otsutsuki.

“Apa yang kau inginkan, Boruto Uzumaki? Apakah kamu ingin mati sebegitu beratnya?” tanya Isshiki kepada Boruto.

“Tapi.. kami tidak akan membunuh saya, benar? jawab Boruto.

Ketika Sasuke hampir mati, Boruto datang menyelamatkan Sasuke. Ia menghempaskan Isshiki dengan sejumlah jurus mematikan.

Isshiki juga menggunakan kekuataan yang keluar dari matanya. Kekuataan itu membuat pertarungan semakin dahsyat dan mendebarkan untuk dibaca kelanjutannya.

Kini Naruto yang gantian melawan Isshiki. Bagaimana kelanjutan manga Boruto chapter 50?

Di manga Boruto 50, akan ada banyak hal yang terbongkar tak hanya kekuataan besar Boruto. Tapi cerita masa lalu Isshiki juga disebut bakal terkuak.

Sasuke juga disebut memerintahkan Boruto untuk melepaskan segel karma yang ada di tubuhnya. Itu artinya, peperangan besar segera terjadi dan di satu sisi Momoshiki bisa saja bangkit kembali dan mengambil alih tubuhnya.

Jika hal itu terjadi, Boruto meminta Sasuke agar membunuhnya. Benarkah? (*)

Makin Seru, PUBG Mobile Keluarkan Item dengan Edisi Terbatas di Season 15

0

BOGOR DAILY – PUBG Mobile versi 1.0 sudah dirilis pekan lalu. Pekan ini, game ponsel pintar terpopuler di dunia dan di Indonesia ini, tentunya, meluncurkan Royale Pass Season 15 bertajuk ‘Beyong A.C.CE’.

Peluncuran ini sebetulnya sudah sempat diprediksi oleh penikmat PUBG Mobile sebelum perilisan versi terbaru sejak empat pekan lalu. Dan saat resmi diluncurkan, benar saja, beragam hadiah dan update tersedia.

Skin, senjata, kendaraan, hingga delapan macam kostum baru yang dapat di gonta-ganti sesuai dengan kepribadian pemain adalah sederet udapte yang bisa dinikmati.

Omong-omong soal kostum, update, kata Direktur PUBG Mobile Global Esports, James Yang, ini jelas menjadi bagian paling menarik. Sebab, pemain yang bermain dan berhasil mencapai level tertentu, dapat mengubah gaya mereka dengan kostum-kostum yang keren dan klasik.

Misalnya saja terdapat kostum bergaya layaknya seorang ksatria dari negeri Jepang yaitu Samurai Ops Outfit dan Samurai Ops Headgear. Nah, untuk yang bisa mendapatkannya, pemain kudu menyelesaikan semua misi dan meraih level 100 Royale Pass (RP).

”Royale Pass Season 15 hadir hanya beberapa hari setelah peluncuran PUBG Mobile Era Baru Versi 1.0, yang meliputi pembaruan pada Map Erangel yang dibuat menjadi lebih ramping dan peningkatan game play tambahan, termasuk didalamnya [ada] peningkatan dari segi visual, UX baru, kemampuan 90 frame-per-detik,” Yang ujar lewat keterangan tertulisnya.

Selain itu, lanjut Yang, para pemain juga dapat meningkatkan pass mereka ke Elite Royale Pass dengan biaya 600 UC dan Elite Royale Pass Plus dengan biaya 1800 UC.

”Dengan meng-upgrade ke level Elite, seorang pemain berkesempatan untuk mendapatkan hadiah yang lebih bagus dan proses naik peringkat pun dapat menjadi lebih cepat,” dia menutup. (*)