Saturday, 9 May 2026
Home Blog Page 7986

Pulang Dari Bogor, Pelajar Tasikmalaya Tertular Covid-19

0

BOGOR DAILY -Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Tasikmalaya mencatat hingga Senin (14/9/2020), jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19 mencapai 50 orang.

Data terbaru yang masuk, adanya siswa SD dan sang ibu asal Kecamatan Singaparna ikut tertular berdasarkan hasil swab PCR.

Juru Bicara Tim Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Tasikmalaya Heru Suharto menjelaskan, kedua pasien tersebut datang dari luar daerah.

“Iya kita kedatangan pasien terkonfirmasi positif Covid-19, yang mempunyai riwayat perjalanan dari Bogor. Ada satu siswa SD berikut dengan orang tuanya atau Ibunya,” terang Heru.

Saat ini, kata Heru, kedua pasien dalam perawatan dan isolasi di RSUD SMC Kabupaten Tasikmalaya. Kondisinya diklaim membaik.

Selain mengisolasi kedua pasien tersebut, pihaknya melakukan tracking kontak secara menyeluruh terhadap kerabat atau keluarga yang sempat kontak erat.

“Hasilnya tidak ada yang lainnya, informasi yang masuk ke tim gugus tugas Covid-19 ini, mudah-mudahan hanya dua orang pasien ini,” kata Heru.

Pihaknya juga berkoordinasi dengan dinas pendidikan dan UPTD pendidikan setempat untuk mengetahui apa saja kegiatan yang telah diikuti siswa tersebut.

Heru menambahkan, kaitan klaster keluarga penyebaran Covid-19 ini, harus diketahui dan diwaspadai oleh masyarakat. Karena kontak erat yang sangat dekat adalah lingkungan keluarga.

“Orangrua, ada ayah, ibu dan anak, jadi sangat mudah sekali menyebar, kami harap kluster keluarga diperhatikan lagi. Terapkan protokol kesehatan, gunakan masker dan mencuci tangan,” papar Heru.

Dari 50 orang terkonfirmasi positif Covid-19, terang Heru, sebanyak 41 sudah dinyatakan sembuh, isolasi atau dalam perawatan sebanyak 7 orang, dan yang meninggal dunia sebanyak 2 orang.

Shopee Liga 1 2020: Barito Putera Mengagendakan Dua Laga Uji Coba

0

BOGORDAILY – Tim kontestan Shopee Liga 1 2020 terus menggeber persiapan menjelang lanjutan kompetisi, yang rencananya bakal digelar pada bulan Oktober mendatang. Salah satunya yaitu Barito Putera yang mulai mengagendakan laga uji coba.

Pelatih Barito Putera Djajang Nurdjaman menyebut, dalam waktu dekat setidaknya sudah ada dua agenda uji coba yang dirancang dengan menghadapi tim lokal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

“Dalam seminggu ke depan sudah ada dua jadwal uji coba yang akan dilaksanakan oleh tim. Lawan uji coba tersebut sejauh ini adalah tim lokal Yogya dan satu tim lagi masih dalam proses konfirmasi,” kata pelatih yang akrab disapa Djanur kepada wartawan, Minggu (13/9/2020).

Pemain Barito Putera saat menjalani latihan di Yogyakarta

Pertandingan uji coba ini sendiri dijadwalkan bakal digelar di lapangan salah satu kampus di Yogyakarta. Djanur menegaskan, uji coba itu bakal digelar tertutup untuk penonton.

“Uji coba tertutup ini mengingat dan mematuhi anjuran pemerintah perihal larangan berkumpul terkait pandemi COVID-19,” begitu tegas coach Djanur.

Terkait pemain asing, mantan pelatih Persib Bandung itu mengatakan masih akan melihat kondisi mereka sesampainya di Indonesia dari negara mereka masing-masing. Sehingga tidak ada garansi menjadi pilihan utama saat laga melawan PSIS Semarang.

“Bahkan seandainya kedatangan mereka agak terlalu mepet dengan pertandingan pertama Barito mungkin mereka belum kami turunkan dahulu. Karena pertandingan pertama Barito Putera dijadwalkan tanggal 2 Oktober 2020 melawan PSIS Semarang,” tegasnya merujuk pada jadwal lanjutan Shopee Liga 1 2020.

Urai Kepadatan KRL, Kemenhub Sediakan Bus Gratis untuk Angkut 510 Penumpang

0

BOGOR DAILY – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta masih menyediakan bus gratis untuk mengurai penumpang kereta rel listrik (KRL) di Bogor. Tercatat terdapat 26 bus yang mengangkut 510 penumpang.

Jumlah itu terdiri dari 15 bus dari Perusahaan Umum Pengangkutan Penumpang Djakarta (Perum PPD) yang mengangkut 380 penumpang. Kemudian, 11 bus dari Pemprov DKI Jakarta yang mengangkut 130 penumpang.

Direktur Angkutan Jalan pada Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Aca Mulyana menjelaskan tak terjadi kepadatan penumpang. Aca mengatakan, lengangnya penumpang ditengarai banyaknya calon penumpang yang work from home (WFH) lantaran adanya pengetatan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di DKI Jakarta.

“Kemungkinan karena diberlakukan PSBB di Jakarta,” kata Aca di Kota Bogor, Senin (14/9).

Selain itu, Aca mengatakan, pihaknya juga kembali membatasi penumpang bus. Dia menjelaskan, bus dari Perum PPD mulanya berkapasitas 30 penumpang. Namun, saat ini dikurangi menjadi 25 penumpang.

“Bus sekolah DKI Jakarta dari kapasitas 17 penumpang menjadi 12 penumpang,” jelas Aca.

Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim menjelaskan, bus untuk mengurai penumpang KRL di Bogor masih disediakan meskipun diberlakukannya PSBB secara ketat di DKI Jakarta. Dedie menjelaskan, bus bantuan untuk mengantisipasi lonjakan penumpang KRL.

“Kan kita berhitung, kemarin ada 75 bus, yang terpakai 50, kita kirim 50 yang terpakai 30,” ucap Dedie.

Rencana bus gratis masih berlaku hingga Desember 2020. Namun, dia menjelaskan, keputusan tetap menyediakan atau menarik bus gratis masih dipertimbangkan berdasarkan data.

“Intinya mengatur kondisi berdasarkan data dan fakta. Tapi kita pakai asumsi juga yang mendekatkan pada fakta lapangan,” ucapnya.

Ketua DPRD Kota Bogor Atang Trisnanto menjelaskan bus gratis harus tetap disediakan. Sebab, PSBB secara ketat di DKI direncanakan selama dua pekan.

Atang menilai, WFH kantor di DKI Jakarta tak berlaku bagi semua perusahaan selama PSBB secara ketat di DKI Jakarta. Oleh karena itu, layanannya tranportasi publik harus tetap diperhatikan untuk menghindari kerumaunan.

“Karena kita juga tidak mengetahui jumlah penumpang turun dan kapan naik. Sehingga harus tetap disiapkan transportasi publik yang memungkinkan agar tidak terjadi penumpukan,” ungkap Atang.

Berdasarkan data PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) hingga pukul 08.00 WIB, penumpang KRL sebanyak 92.546 orang. VP Corporate Communications KCI Anne Purba menjelaskan jumlah itu berkurang 19 persen dibandingkan Senin (7/9) yang mencapai 114.075 penumpang pada waktu yang sama.

Di Stasiun Bogor, Anne memerinci, jumlah  penumpang KRL sebanyak 6.920 orang atau turun 17 persen dibandingkan pekan lalu. Sementara itu, di Stasiun Bojonggede tercatat 6.899 penumpang atau turun 4 persen, Stasiun Citayam sebanyak 6.590 penumpang atau turun 18 persen, dan di Stasiun Bekasi tercatat 5.224 penumpang atau turun 25 persen.

Jalur SSA Disetrilkan, Warga Dilarang Gowes Sepeda dan Buat Kegiatan di Sana

0

BOGOR DAILY – Sering adanya kerumunan di jalur Sistem Satu Arah (SSA) Istana Bogor, membuat Pemerintah Kota Bogor menerbitkan peraturan baru yakni tidak boleh ada aktifitas apapun di jalur tersebut.

Walikota Bogor, Bima Arya mengatakan, pada Pembatasan Sosial Berskala Mikro dan Komunitas (PSBMK atau PSBM) Pemkot Bogor akan menyeterilkan kawasan jalur SSA Istana Bogor.

“Jalur SSA tidak digunakan oleh aktifitas apapun, olahraga, goes, dan joging, terkecuali ada masyarakat yang sedang menunggu mobil (di perbolehkan),” ujar Bima Arya, saat melakukan jumpa pers di Balai Kota Bogor, Senin (14/9/2020).

Tidak hanya itu lanjut Bima, tempat pendestrian dan sarana olah raga yang dikelola oleh Pemkot Bogor akan di tutup sementara.

Politisi PAN ini menjelaskan, pada PSBM kali ini ada beberapa peraturan yang diterapkan oleh Pemkot Bogor yakni, jam operasional akan dibatasi sampai pukul 18:00 WIB.

Tempat usaha juga kata Bima, akan diberlakukan dalam penerapan PSBM maksimal pengunjung sebanyak 50 persen.

Dalam hal ini, yang bertindak untuk mengawasi hal tersebut dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bogor, jika memang peraturan yang dibuat Pemkot Bogor ini tidak digubris oleh pengusaha, maka akan ditindak tegas sesuai Perwali (Peraturan Walikota).

“Kita akan lakukan sanksi yang tegas sesuai dengan Perwali, penindakan lebih tegas. Kalau ada pelanggaran terus menerus akan di tutup, kalau masih bandel akan di cabut izinnya juga,” tegas Bima.

Bima menambahkan, PSBM kali ini juga diterapkan di tempat wisata seperti Kebun Raya Bogor agar membatasi pengunjungnya.

“Ini tentu akan kita batasi dan pengawasan, di himbau tidak memenuhi kapasitas maksimal. Ada beberapa wisata yang ramai tidak boleh full seperti Kebun Raya Bogor salah satu contoh,” imbuhnya.

Ditempat yang sama, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Bogor Zaenal menuturkan, pihaknya akan membantu semaksimal mungkin Pemkot Bogor dengan mengerahkan anggotanya mulai dari dokter umum sampai spesialis, untuk memberikan edukasi penerapan protokol kesehatan dalam penenganan Covid-19.

“Di sini kami diberikan tugas memberikan edukasi, kita akan cicil lakukan edukasi ke tempat usaha seperti cafe, resto bersama-sama komponen lain, kita melibatkan juga KNPI, Karang Taruna, HIPMI dan alim ulama,” singkatnya.

Untuk diketahui, pada PSBM kali ini Pemkot Bogor akan melibatkan pelaku usaha, alim ulama, IDI, pemuda di seluruh Kota Bogor dalam penanganan Covid-19. (Andi)

Masa Karantina Berakhir, Dalam Sehari 365 Santri Sembuh dari Covid-19

0

BOGORDAILY – Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi mengumumkan adanya tambahan 365 santri Pondok Pesantren Darussalam Blokagung yang sembuh dari virus Corona (Covid-19) dalam sehari per Minggu 13 September 2020.

Angka sembuh tersebut terbilang paling tinggi seiring berakhirnya masa karantina 14 hari klaster Ponpes Blokagung yang berakhir pada Sabtu 12 September.

“Adanya tambahan pasien sembuh sebanyak 365 orang, sehingga total kasus sembuh di Banyuwangi menjadi 656. Semua pasien yang sembuh hari ini dari klaster pondok pesantren. Ini seiring dengan masa karantina yang telah usai per tadi malam. Sehingga semua santri yang tidak bergejala lagi sudah dinyatakan sembuh,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Widji Lestariono, Minggu malam (13/9).

Rio juga menjelaskan perkembangan kasus Covid-19 di Banyuwangi ada tambahan 13 orang positif, sehingga total kasus di Banyuwangi menjadi 1025. Dari situ pihaknya terus mengingatkan masyarakat agar menjalankan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

“Kami terus mengingatkan warga masih tingginya potensi penyebaran virus corona di sekitar kita. Selama tiga minggu terakhir penambahan kasus baru terus terjadi dari transmisi lokal. Ini artinya membutuhkan disiplin yang lebih tinggi dari semua pihak,” ujarnya.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas sebelumnya telah mengeluarkan kebijakan WFH di lingkup kantor pemerintahan Pemkab. Anas meminta agar setiap rapat atau pertemuan kantor dilakukan outdoor, di ruangan terbuka atau ruangan yang memiliki sirkulasi udara yang lancar.

Selain itu, Pemkab Banyuwangi juga kembali melakukan pembatasan jam operasional pertokoan untuk menekan laju penyebaran virus corona, seperti yang pernah dilakukan pada saat masa awal pandemi. Pembatasan juga dilakukan pada kegiatan warga yang berpotensi menimbulkan kerumunan seperti pernikahan dan sunatan.

Selain itu, secara khusus Anas juga meminta masyarakat untuk lebih perhatian pada warga yang usia lanjut maupun warga yang memiliki riwayat penyakit jantung, diabetes, ginjal, dan hipertensi. Infeksi virus corona akan meningkatkan resiko bagi orang yang sebelumnya memiliki komorbid (penyakit penyerta).

Setelah masa karantina klaster Covid-19 Ponpes Darussalam Blokagung berakhir, pihaknya masih melakukan penelusuran santri apakah masih ada yang menunjukkan gejala akan menambah masa karantina.

“Dengan berakhirnya masa karantina malam ini, semua santri besok akan dinyatakan sembuh. Kecuali yang masih menunjukkan gejala, akan kita tambah karantinanya lima hari ke depan,” kata Rio.

Video Rombongan Sepeda Masuk Tol Jagorawi Bikin Geram Warganet

BOGOR DAILY -Sebuah video rombongan pesepeda masuk Tol Jagorawi kawasan Bogor viral di media sosial dan kini berbuntut panjang.

Kepala Induk Patroli Jalan Raya (PJR) Tol Jagorawi Korlantas Polri Kompol Fitrisia Kamila Tasran mengatakan pihaknya telah melakukan pemeriksaan terkait video viral itu.

“Menyikapi video yang viral tentang pesepeda memasuki jalan tol khususnya Tol Jagorawi KM46, dalam hal ini kami telah mengumpulkan bukti maupun keterangan saksi,” ujar Kompol Fitrisia Kamila Tasran.

Fitrisia menjelaskan awalnya pada Minggu sekira pukul 08.45 WIB pagi, rombongan pesepeda dengan pakaian safety yang lengkap ini memulai bersepeda menyusuri jalan perkampungan.

Jalan perkampungan diakses dari arah Katulampa, Kota Bogor hingga melintas jalan kecil tepat di belakang Rest Area Tol Jagorawi KM 45.

Kemudian untuk arah sebaliknya, para pesepeda diduga masuk dari Jalan Raya Sukabumi underpass yang menuju Tol Jagorawi.

Jalan tersebut tidak memiliki gerbang tol.

“Di KM 46 para pesepeda menyeberang dan berkendara melawan arus,” imbuh Fitrisia Kamila.

Berdasarkan kamera CCTV minimarket rest area KM 45, pada pukul 11.41 WIB para pesepeda ini datang dan beristirahat di depan minimarket tersebut.

Tak berapa lama, mereka menaikan sepedanya ke mobil pick up warna putih yang terparkir.

Informasi dari pegawai minimarket, kata Fitrisia Kamila, di depan minimarket terparkir kendaraan pribadi diduga milik satu di antara pesepeda tersebut.

“Kejadian ini akan kami dalami lebih lanjut,” kata Fitrisia Kamila.

Diberitakan sebelumnya, video rombongan pesepeda masuk tol viral di media sosial.

Video yang juga beredar di WhatsApp itu terjadi di Tol Jagorawi kawasan Bogor.

Dalam video yang berdurasi 26 detik itu terlihat rombongan pesepeda tampak mengenakan pakaian safety lengkap, melaju terpisah di jalan tol.

Beberapa orang pesepeda melaju di sebelah kiri jalan tol dan beberapa yang lainnya di sebelah kanan jalan tol.

Video ini tampak direkam dari dalam mobil pengendara yang melintasi tol.

“Ini pesepeda masuk tol nih. Wah ini gimana nih,” ucap seorang pria di dalam video di dalam mobil.

“Wah gak bener ini,” sahut pria lain di dalam mobil tersebut.

Selain itu, di dalam video itu juga terlihat beberapa pesepeda ini menyeberang tol dan bergerak melawan arah.

“Parah dah. Lawan arah, lawan arah. Tol Bogor,” ucap pria di dalam video.

Kota Bogor Kembali Lagi Masuk Zona Merah

0

Kembali Zona Merah, Pemkot Bogor Perpanjang PSBMK

BOGOR DAILY – Kasus positif virus korona terus bertambah hal itu membuat Kota Bogor kembali ditetapkan menjadi zona merah penyebaran Covid-19.

Menanggapi hal tersebut Walikota Bogor, Bima Arya mengatakan, pihaknya kembali akan memperpanjang Pembatasan Sosial Berskala Mikro dan Komunitas (PSBMK).

“Mengenai detailnya kita sampaikan nanti,” ujar Bima Arya, Senin (14/9/2020).

Menurut politisi PAN ini, ditetapkan kembali zona merah penyebaran Covid-19 karena Kota Bogor masih terus melonjak.

“Tadi malam masih oranye dan pagi tadi (14/9/2020) kembali di tetapkan zona merah, ini karena masih banyak yang positif dan terus meningkat setiap harinya,” pungkasnya.

Untuk diketahui, data yang dihimpun Bogordaily.net saat ini kasus positif Covid-19 sebanyak 866 orang, dengan rincian 38 pasien meninggal dunia, 550 pasien sembuh, 278 masih dalam penanganan rumah sakit. (Andi)

Perbatasan Depok Masuk ke Bogor Diperketat Aparat

BOGORDAILY -Sejumlah wilayah perbatasan Kota Depok dengan Kabupaten Bogor akan dijaga secara ketat. Hal ini untuk mengawasi pergerakan orang dari Jakarta masuk wilayah Bogor tanpa menerapkan protokol kesehatan.

Terlebih, Pemprov DKI Jakarta telah menerapkan PSBB ketat menyusul kasus Covid-19 di wilayah tersebut cukup tinggi. Ditambah, warga Kabupaten Bogor banyak tertular virus tersebut dari luar Bogor.

Kasatpol PP Kabupaten Bogor Agus Ridhallah mengatakan, pihaknya akan menjalin kerja sama dengan Pemkot Depok dalam meningkatkan pengawasan di perbatasan dua wilayah tersebut.

“Sesuai arahan dari Gubernur Jawa Barat, pengawasan diperketat di wilayah Bodebek, untuk menyesuaikan dengan PSBB di DKI Jakarta,” terang Agus.

Agus menambahkan, akan mendirikan posko di tiga titik lokasi yang berbatasan dengan Kota Depok. Yaitu di Parung, Bojonggede, dan Cibinong.

“Modelnya sama ketika kerjasama dengan Pemkot Bogor. Di setiap perbatasan dengan Depok akan rutin dilaksanakan operasi gabungan seperti razia masker,” terangnya.

Bupati Bogor Ade Yasin mengatakan, salah satu upaya menekan penyebaran virus corona adalah mengawasi secara ketat pergerakan masyarakat Kota Jakarta yang hendak masuk ke wilayah Bogor.

“Orang Kabupaten Bogor ada yang kerja di Jakarta, Depok, dan Kota Bogor. Jadi semuanya harus kita awasi untuk mencegah penyebaran covid-19,” ucapnya.

 

Kegiatan Makan di Tempat di Bogor Paling Tinggi Selama PSBB

BOGORDAILY – Kegiatan makan di tempat (dine-in) selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi sudah mulai meningkat. Bahkan angka dine-in di Bogor mencapai 66 persen selama periode Juli-Agustus 2020, atau tertinggi dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya.

Riset Mandiri Institute , Senin, 14 September 2020, angka dine-in di beberapa kota juga sudah cukup tinggi. Tak hanya Bogor, kenaikan juga terjadi di Bekasi dan Surabaya yang masing-masing 55 persen, Medan 52 persen, dan Jakarta 49 persen.

“Kebijakan PSBB yang lebih longgar, terutama terkait dengan kebijakan operasional restoran mendorong tingginya angka dine-in di kota-kota tersebut,” tulis hasil riset tersebut.

Kenaikan signifikan angka dine-in berasal dari kunjungan restoran di Jabodetabek. Pada Juli angka dine-in di Jabodetabek 35 persen dan 54 persen pada Agustus. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan Makassar 45 dan 48 persen, Medan 36 dan 52 persen, Surabaya 37 dan 55 persen, serta Denpasar 36 dan 46 persen.

Secara keseluruhan makan di tempat pada restoran sudah mencapai 52,3 persen. Bahkan untuk kategori general yang menawarkan menu makanan beragam angkanya mencapai 54,5 persen, lebih tinggi dari restoran fast food 52,7 persen, restoran lokal 52,1 persen, dan restoran speciality 49 persen.

“Masyarakat kelas menengah bawah tampaknya sudah mulai berani untuk makan di tempat, terlihat dari angka dine-in pada restoran general, lokal, dan fast food di atas 50 persen. Sementara masyarakat kelas menengah atas sepertinya masih ragu untuk dine-in di restoran,” tulis hasil riset tersebut lagi.

Riset ini menggunakan metode pelacakan live tracking dari 5.968 lokasi toko dan 7.531 restoran di delapan kota besar. Data berasal dari Google Maps yang memberikan informasi seperti tingkat kunjungan, waktu kunjungan terpopuler, review, dan lain-lain.

Di samping itu, angka kunjungan ke ritel dan restoran didapatkan melalui ‘live-visit data’ yang terdapat pada Google Maps. Sementara periode pelacakan dilakukan pada minggu pertama Juli dan Agustus 2020.

Persepsi Warga Bogor Sola Covid-19 Lebih Rendah Dibandingkan Warga Jakarta

0

BOGOR DAILY – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bersama Lapor Covid-19 yang melibatkan saintis Nanyang Technological University (NTU), Singapura melakukan survei persepsi risiko Covid-19. Berdasarkan hasil survei kepada 21.544 responden mulai dari 15 Agustus 2020 hingga 1 Agustus 2020, Persepsi warga (risk perception) Kota Bogor terhadap Covid-19 berada di skor 3,212. Hasil ini terbilang rendah jika dibandingkan dengan Jakarta, yakni 3,30 dan Surabaya 3,42.

Hasil survei ini menurut Wali Kota Bogor, Bima Arya merupakan riset yang ada akan selalu menjadi landasan kebijakan Pemkot Bogor dalam mengambil keputusan, tidak hanya untuk penerapan Pembatasan Sosial Berskala Mikro dan Komunitas (PSBMK), namun juga untuk kepentingan anggaran tahun 2021, sehingga diketahui mana yang lebih diprioritaskan.

Berdasarkan kesimpulan yang disampaikan Profesor Sosiologi Bencana dari Nanyang Technological University (NTU), Singapura, Profesor Sulfikar Amir, secara umum warga kota Bogor mengaku menjaga protokol kesehatan secara baik namun lebih rendah dibanding Jakarta dan Surabaya.  Sementara, tingkat pengetahuan dan Informasi mengenai kondisi pandemi masih rendah dan harus terus ditingkatkan dengan memanfaatkan sumber informasi yang dipercaya publik.

Kondisi sosial dan ekonomi cukup memprihatinkan dan memiliki dampak signifikan terhadap rendahnya persepsi risiko secara umum.  Sikap warga kota Bogor terhadap test Covid-19 juga cenderung rendah, kecuali untuk aspek contact tracing yang sudah mencapai nilai ideal. Secara keseluruhan kota Bogor mencapai nilai RPI yang rendah sebesar 3.21.

Nilai ini paling rendah dibandingkan Jakarta dan Surabaya. Artinya, secara kolektif warga Kota Bogor cenderung menganggap remeh risiko penularan Covid-19 dan Covid Mood kota Bogor menunjukkan suasana psiko-sosial yang optimis. Kondisi ini memungkinkan penerapan pembatasan sosial secara lebih ketat.

“Dilihat dari jumlah sebaran, riset ini sangat ideal dan proporsional di semua wilayah. Yang paling mendasar dari survei adalah sebaran geografi dan kualitas sampel, dari seluruh kelurahan ada 12 yang kurang maksimal namun angkanya tetap bagus, secara overall (keseluruhan) respondennya cakap,” kata Bima Arya.

Dari total responden mayoritas diikuti laki-laki sebanyak 52,64 persen, sedangkan wanita sebanyak 46,64 persen.  Dari aspek pekerjaan sebanyak 29,27 persen responden didominasi ibu rumah tangga, selanjutnya pegawai swasta (17,74 persen), pekerja harian (13,69 persen) dan usaha sendiri (9,8 persen).

Sebagai tiga terbesar. Latar pendidikan dominannya adalah lulusan SMU sederajat sebanyak 47,43 persen, sarjana 17,31 persen, SMP 13,16 persen, SD 10,29 persen, diploma 7,34 persen dan pasca sarjana (4,47 persen).  Ini mewakili kondisi demografis secara keseluruhan. Dan hampir 17 persen responden pernah dan memiliki komorbid.  Untuk Persepsi Risiko berdasarkan hasil survei, sebanyak 42 persen warga Kota Bogor mengetahui informasi tentang Covid-19 dari televisi, media cetak dan radio.  Selanjutnya dari sosial media 37 persen dan ketiga adalah situs atau website Pemkot Bogor sebanyak 14,06 persen.

Untuk sumber informasi yang memiliki tingkat kepercayaan paling tinggi, warga Kota Bogor lebih mempercayai dokter atau pakar kesehatan (4, 01 persen) dan tokoh agama (3,71 persen), pejabat pemerintah sebesar 3,67 persen di urutan ketiga.  Perilaku kesehatan berupa penerapan 3 M (Mencuci tangan, Memakai Masker dan Menjaga Jarak).

Index menunjukkan 89,66 persen sering dan selalu mencuci tangan.  Untuk penggunaan masker menunjukkan 92,05 persen sering dan selalu menggunakan masker. Sementara untuk jaga jarak skornya hanya 77 persen, bahkan ada 19,38 persen responden menyatakan tidak menjaga jarak ketika keluar rumah.

“Untuk survei protokol kesehatan lebih bersifat self assessment,” jelas Prof. Sulfikar Amir.

Selanjutnya sebanyak 64 persen responden menyatakan sangat kecil dan kecil kemungkinan terkena Covid-19. Ini bisa diartikan merasa aman dan menganggap remeh atau enteng Covid-19.  Sementara untuk seberapa besar kemungkinan orang yang paling dekat terkena Covid-19, responden menyatakan 38,25 persen sangat kecil dan 26,25 menyatakan kecil.

Sedangkan untuk seberapa besar kemungkinan orang di lingkungan tempat tinggal yang terkena Covid ada 31,91 persen menyatakan sangat kecil dan 26,39 persen menyatakan kecil kemungkinannya.  Jika dikelompokkan berdasarkan usia, rentang usia yang menganggap remeh Covid ada di 36-45 tahun sebanyak 12,95 persen, diikuti 26-35 (10,91 persen), 46-55 (8,97 persen), 55 tahun (4,53 persen) dan 18-25 (4,61 persen).

“Bisa jadi yang merasa aman ini karena persepsi yang bergantung pada masalah pengalaman, dimana belum pernah melihat teman, keluarga atau orang di lingkungannya yang terpapar Covid-19. Ini yang menjadi masalah,” ujar Prof. Sulfikar Amir.

Untuk lokasi penularan, indeks menunjukkan 30,16 persen menunjukkan kemungkinan besar akan tertular Covid-19 jika pergi ke pasar dan pusat perbelanjaan. Kemudian, transportasi umum menjadi yang tertinggi sebesar 30,80 persen dan hajatan (30,34 persen).

Yang menarik tempat ibadah dipilih responden sebagai lokasi yang relatif aman dari penularan Covid-19 yakni 27,04 persen.  Hasil survei berikutnya menunjukkan total 86 persen responden merasa yakin sembuh jika terpapar Covid-19.

Antara ekonomi dan kesehatan, responden menyatakan 80,31 persen sama penting. Namun ada 8,28 persen memilih kesehatan lebih penting dan ada 8,13 memilih ekonomi lebih penting. “Mereka (responden) bisa menapikan faktor kesehatan dan bisa menjadi carrier Covid-19 kemana-mana,” ujar Prof.

Sulfikar Amir. Seberapa rela menghadapi risiko Covid-19, ada 35,71 persen responden menyatakan tidak rela, sangat tidak rela sebanyak 23,70 persen, mungkin rela sebanyak 27,85 persen. Sebanyak 9,99 persen rela tertular Covid-19 dan 2,7 persen sangat rela.  “Jika ditotal hampir 13 persen warga Kota Bogor rela tertular Covid-19 asal penghasilannya tidak terganggu,” kata Prof. Sulfikar Amir.

Seperti diketahui bersama Pandemi Covid-19 memberi dampak yang sangat besar. Ini terlihat dari index hasil survei tentang seberapa besar penghasilan anda berkurang karena Covid-19 menunjukkan sebanyak 40,26 persen penghasilannya terdampak sangat besar, diikuti 21,82 persen terdampak secara besar.  Dari status pekerjaan total indeks menunjukkan 40 persen terdampak.

Lebih dari 50 persen responden membutuhkan bantuan sosial dari pemerintah.  Selain ekonomi dan kesehatan. Ada hasil riset yang menarik, total solidaritas atau kepedulian warga Kota Bogor yang menjadi modalitas menunjukkan lebih dari 70 persen, indeks dorongan untuk saling membantu diatas 60 persen serta total 58 persen warga Kota Bogor sering memberi bantuan kepada orang lain.

Untuk Covid-19 indeks hasil riset menunjukkan 16 persen menyatakan buatan manusia, 29 persen menyatakan bukan buatan manusia dan swing voter sebanyak 54 persen. Apakah Indonesia aman dari Covid-19 karena beriklim tropis, sebanyak 50 persen menyatakan tidak aman, 20,50 persen aman dan 29 persen tidak tahu.  Test Attitude menunjukkan, sebanyak 45,80 persen menyatakan tidak mengetahui berapa banyak orang yang dikenal telah melakukan tes Covid-19 dan 35 persen mengenal lebih dari 3 orang.  Untuk hasil test PCR (Swab), total lebih dari 54 persen responden mempercayai dan total lebih dari 58 persen yakin membantu mengurangi penularan Covid-19. Selebihnya ragu-ragu dan tidak yakin.