Friday, 17 April 2026
Home Blog Page 8319

Mudik Gratis Ditiadakan, Pemerintah Diminta Mewaspadai Bus AKAP ‘Gelap’ Angkut Pemudik

BOGORDAILY – Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno kembali mengingatkan agar pemerintah tegas untuk melarang atau meniadakan mudik Lebaran tahun 2020. Ini diperlukan untuk memutus mata rantai penularan Covid-19.

Saat ini, Kementerian Perhubungan memang sudah meniadakan program mudik gratis. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta pun diimbau untuk melakukan hal yang sama.

“Namun kendaraan antar kota antar provinsi (AKAP) ‘gelap’ diperkirakan bermunculan saat musim mudik Lebaran 2020. Salah satu faktornya, yakni dihapuskannya program mudik gratis oleh pemerintah mengantisipasi penyebaran virus Corona (Covid-19),” kata Djoko dikutip dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (20/4).

Data survei Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) dan Transmigrasi terkait mudik Lebaran 2020 mencatat bahwa 87,75 persen kepala desa menyatakan tidak setuju warganya yang berada di kota untuk mudik Lebaran 2020. Sementara 10,25 persen kepala desa lain menyatakan setuju warganya mudik.

Sementara, menurut survei online Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Perhubungan mencatat bahwa 57 persen warga memutuskan untuk tidak mudik di Lebaran 2020, 37 persen belum mudik dan 7 persen sudah mudik.

Dari data tersebut juga, sebanyak 99 persen sudah memahami dan mengetahui terkait virus corona atau Covid-19. Namun yang tidak paham nol persen, lalu yang sangat paham 55 persen, paham 44 persen, dan sisanya sangat tidak paham.

Selanjutnya, alasan melakukan mudik dini (7 persen) adalah 28,9 persen telah menerapkan work from home (WHF), 28 persen untuk menghindari penularan di tempat kerja/belajar, 15,5 persen penerapan belajar/kerja di rumah (e-learning), 6,9 persen tempat bekerja ditutup sementara, dan 20,7 persen alasan lainnya.

Hasil Survei

Survei Kementerian Perhubungan melibatkan 42.890 responden yang turut berpartisipasi. Responden berasal dari Jabodetabek 32,7 persen, lalu 12,3 persen Jatim, 12 persen Jateng, 9,7 persen Jabar, sisanya 33,3 persen dari daerah lain seluruh Indonesia.

“Lebih rinci lagi, moda yang digunakan terbanyak mobil pribadi 23,9 persen, sepeda motor 22,6 persen, pesawat udara 17,7 persen, kereta 14,6 persen, bus 10,1 persen dan kapal laut 1,1 persen,” jelas Djoko untuk mengingatkan pemerintah tetap memantau aru mudik.

Di samping itu, responden yang menyatakan belum mudik sebesar 37 persen. Namun, setelah mendapatkan informasi tentang bahaya virus corona, sebanyak 66 persen tidak jadi mudik dan 34 persen tetap akan mudik. Dari 34 persen yang tetap akan mudik, diperkirakan titik puncak arus mudik dan arus balik terjadi pada H-3 untuk arus mudik dan H+7 untuk arus balik.

“Menunda mudik bukan berarti tidak mudik. Cuma waktunya tidak sekarang, masih bisa diganti di lain hari. Keselamatan kesehatan keluarga dan lingkungan menjadi pertimbangan untuk menunda mudik. Berharap ketegasan pemerintah untuk meniadakan mudik lebaran tahun 2020,” tutupnya.

Menapaki Langkah Sukses Mohamad Wildan Menjadi Pejuang Property Syariah

Bogor Daily – Banyak cerita inspirasi dari orang-orang sukses yang dapat menjadi penyemangat kita semua untuk ikut sukses.

Bogor Daily merasa perlu untuk menyuguhkan hal tersebut, kali ini Bogor Daily akan membawa kita semua untuk lebih dekat mengenal sosok pria muda yang penuh akan langkah cerdasnya dalam mengemas dan menciptakan kawasan hunian dengan konsep desain yang berbeda-beda, penuh rasa kehangatan islami, dan yang perlu digaris bawahi adalah skema transaksi tanpa praktek ribawi di semua project Tasnim Group.

Berikut petikan wawancara Bogor Daily dengan sosok Mohamad Wildan, CEO Tasnim Group :

1. Apa yang menggerakkan anda untuk fokus di bisnis Property Syariah ???…
Jawaban :
√ Salah satu yang utama adalah membangun Ekonomi Ummat sesuai muamalah syariah, dan menjauhi orang-orang dari riba serta hal-hal yang di larang Allah SWT.

2. Semangat apa yang membuat anda Sukses menjalani bisnis Property Syariah ?
Jawaban :
√ Semangat membangun Peradaban Islam dan semangat menumbuhkan manfaat untuk banyak orang.

3. Sejauh mana, Keluarga dan Teman membantu anda untuk Sukses di bisnis Property Syariah ?
Jawaban :
√ Selalu ada membantu, support dan mendukung.

4. Mengapa anda memberikan nama Tasnim untuk Project Besar anda di bisnis Property Syariah ?
Jawaban :
√ Tasnim sendiri artinya mata Air surga. Kita ingin menghadirkan suasana Surga di Dunia yang memberi keberkahan untuk semuanya.

5. Sejak kapan anda pertama kali belajar konsep bisnis Property Syariah ?
Jawaban :
√ Sejak di bangku kuliah, sudah mulai membangun proyek-proyek property.

6. Apa yang perlu dilakukan untuk sukses menjalani bisnis Property Syariah ?
Jawaban :
√ Istiqomah, jujur dan selalu memberi manfaat.

7. Harapan anda untuk pengembangan Tasnim Group apa ?
Jawaban :
√ Semoga bisa membangun peradaban Islam kembali Jaya.

8. Sebutkan satu kalimat yang menggambarkan tentang bisnis Property Syariah ?
Jawaban : Islami, alami dan berkah bermanfaat.

=============================

*• Biodata Lengkap •*
Mohamad Wildan
CEO Tasnim Group

√ Nama Lengkap : Mohamad Wildan

√ TTL : Bogor, 7 Desember 1990.

√ Alamat : Jalan Manunggal RT 04 RW 05 Desa Tegalwaru Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor.

√ Nama Istri : Muhimmatussadah.

√ Nama Anak :
1. Furqon
2. Hanif

√ hobby : Traveling.

√ Kata Mutiara : Manjadda Wajadda

√ Karir Property Syariah :
1. DPS JKT 1.
2. CEO DPS Terbaik 2019.
3. Ketua Humas DPS
4. Ketua Umum Hapsi

(Red-BDN).

Direktur PT KCI Klaim Jumlah Penumpang Turun Hingga 85 Persen Selama PSBB

BOGOR DAILY – Direktur Utama PT. Kereta Commuter Indonesia (KCI), Wiwik Widayanti mengklaim adanya penurunan jumlah penumpang.  Sejak  lima wilayah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yaitu Kabupaten/Kota Bogor, Bekasi dan Kota Depok (Bodebek), jumlah pengguna KL berkurang hinggal  85 persen.

Wiwik sapaan akrabnya ini mengatakan, pengurangan terjadi karena, jumlah aktivitas masyarakat berkurang dengan banyaknya kantor yang tutup di wilayah Jakarta.

“Ini tentunya mengalami penurunan mobilitas orang. Akan tetapi, dimungkinkan orang bergerak karena tidak semua kantor di wilayah Jakarta tutup. Jadi konsentrasi orang ada di pagi dan sore, itu menjadi perhatian kita,” katanya kepada wartawan, Minggu (20/4/2020).

Menurutnya, sebanyak 15 persen aktivitas masyarakat masih menggunakan KRL. Karena, ada beberapa perkantoran di Jakarta masih beroperasi dengan berbagai hal pertimbangan. Walaupun, DKI Jakarta menerapkan pemberlakuan PSBB.

“Ini masih banyak 15 persen aktivitasnya, kita upayakan pemantauan dipagi hari dan sore hari,” jelasnya.

Tidak hanya itu, Wiwik juga mengklaim. Bahwa, pihak PT KCI sudah melakukan standarisasi kesehatan di wilayah Stasiun Bogor, Cilebut, Bojonggede, Citayam dan Depok, dan juga melakukan rekayasa operasi.

“Kami memberikan tambahan kereta dari Bogor, Bojonggede, ada juga dua kereta menuju Jakarta kota, ada lagi dari Citayam kita ke Angke dan dari Depok total lima kereta dari Jakarta san Angke juga dan Jatinegara,” jelasnya.

Dirinya berharap, dengan ditambahnya KRL pada pemberangkatan dan pulang bisa menghindari kerumunan atau penumpukan di gerbong.

“Penurunan secara total 85 persen, tapi untuk harian ini masih banyak dan terus biasanya Senin perlu kita perhatikan bersama, dan masih ada delapan kantor yang belum tutup masih buka,” tukasnya. (Andi).

Simpati Can buat Liverpool yang Harus Tunggu Gelar Liga

0

BOGORDAILY – Liverpool harus menunggu lagi sebelum mengakhiri penantiannya akan gelar juara Premier League gara-gara pandemi virus corona. Emre Can pun merasa simpati kepada eks klubnya itu.

Premier League tengah ditangguhkan karena pandemi virus corona. Saat liga dihentikan, Liverpool sebenarnya sudah sangat dekat dengan gelar juara yang mereka nantikan sejak 1990.

Liverpool tengah memimpin klasemen Liga Inggris dengan 82 poin dari 29 laga. Mohamed Salah dkk unggul 25 poin dari Manchester City yang ada di urutan kedua.

Otoritas Premier League dan klub kabarnya tetap ingin menuntaskan musim 2019/2020 ketika keadaan memungkinkan. Jika kompetisi kembali bergulir, kemungkinan terbesarnya adalah digelar tanpa penonton.

Can pun menyayangkan ketiadaan fans jika Liverpool nantinya benar-benar bisa dipastikan jadi juara Premier League. Merayakan berakhirnya penantian yang sudah berlangsung 30 tahun tanpa kehadiran suporter dinilainya akan terasa pahit untuk The Reds.

“Situasinya benar-benar sangat disayangkan dan pahit,” ujar Can kepada Bild.

“Tentu gelar juara akan jadi hal yang pantas jika musim dihentikan sekarang, tapi tim tidak bisa merayakan bersama fans yang begitu mendambakan gelar juara.”

“Saya harap perayaan itu akan terjadi di kemudian hari,” katanya pemain yang kini membela Borussia Dortmund itu.

Penumpang Angkutan Umum di Jabodetabek Berkurang Selama Masa Pandemi Corona

BOGORDAILY – Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) menyampaikan, ada penurunan pengguna atau penumpang angkutan umum di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) selam masa pandemi virus Corona (COVID-19). Penurunan, bahkan terjadi sebelum wilayah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Khususnya di DKI Jakarta pada bulan Maret 2020 sudah berinisiasi melakukan berbagai pembatasan termasuk pembatasan transportasi sehingga pada bulan Maret tersebut sudah mulai terjadi penurunan pengguna angkutan umum massal yang cukup berarti,” kata Polana B. Pramesti, dalam keterangannya, seperti dilihat detikcom, Senin (20/4/2020).

Pola memberi perhatian pada tiga angkutan masa utama di Jakarta, yaitu bus TransJakarta, Moda Raya Terpadu (MRT), kereta rangkaian listrik (KRL), dan kereta api ringan (Light Rail Transit/LRT). Jumlah penumpang di ke tiga moda tersebut menurun saat masa pandemi Corona dibanding hari-hari normal.

Untuk layanan TransJakarta selama bulan April 2020 sampai dengan tanggal 15, jumlah penggunanya mengalami penurunan cukup signifikan, yaitu sebanyak lebih kurang 83 ribu orang/hari. Padahal dalam kondisi normal pada bulan Januari 2020 jumlah penumpang mencapai lebih kurang 840 ribu orang/hari.

“Penurunan penumpang Transjakarta bahkan sudah dimulai sejak bulan Maret yaitu sebesar rata rata 550 ribu orang/hari atau turun 34,52% dibandingkan jumlah penumpang normal pada bulan Januari 2020,” kata Polana.

Untuk jumlah pengguna MRT, pada hari-hari normal di Januari 2020, penggunanya mencapai sekitar 85 ribu orang/hari. Pada bulan Maret, sudah mengalami penurunan sebesar 47,05%, yaitu sekitar 45 ribu orang/hari.

“Data pada bulan April sampai dengan tanggal 15, penguna hanya berkisar 5 ribu penumpang per hari, atau turun sebesar 94,11% dibanding Januari 2020,” kata Polana.

Penumpang KRL juga mengalami penurunan. Pada bulan Januari 2020 lalu, KRL setiap harinya masih melayani sebanyak kurang lebih 859 ribu orang. Pada bulan Maret, jumlahnya turun sebesar 30,38% menjadi sekitar 598 ribu orang/hari.

“Adapun untuk bulan April 2020 sampai dengan tanggal 15, terjadi penurunan penumpang yaitu hanya sebanyak 183 ribu orang/hari atau turun 78,69% dibanding kondisi normal Januari 2020,” kata Polana.

Sementara itu, untuk LRT Jakarta, pada masa normal Januari 2020 melayani penumpang sekitar 3.800 orang/harinya, mengalami penurunan sebesar 47,36% pada bulan Maret 2020 menjadi hanya mengangkut sekitar 2 ribu orang/hari.

“Pada bulan April ini sampai dengan tanggal 15 jumlah penumpang LRT Jakarta tinggal sekitar 264 orang/hari atau turun 93,05 % dibanding kondisi
normal Januari 2020,” kata Polana.

Sampai dengan saat ini belum diperoleh data volume penumpang angkutan umum di luar DKI Jakarta dalam wilayah Jabodetabek. Namun dengan adanya pengurangan jumlah penumpang angkutan umum massal tersebut, otomatis akan mengurangi jumlah penumpang- yang diangkut oleh feeder-feeder di masing-masing wilayah.

“Dalam beberapa waktu terakhir kami sangat intensif melakukan rapat koordinasi dengan Dishub Se-Jabodetabek, dan hasil pantauan lapangan mereka, pengguna angkutan umum cenderung menurun, “kata Polana.

BPTJ juga mendata penumpang bus antar kota antar provini (AKAP) di terminal-terminal yang menjadi kewenangannya. Polana menyebut, ada penurunan penumpang yang berangkat maupun yang turun di terminal-terminial tersebut.

“Penurunan jumlah penumpang juga terjadi pada pelayanan moda bus antar kota antar Provinsi. Setidaknya, hal tersebut terpantau dari evaluasi data pelayanan Terminal Bus dibawah kewenangan BPTJ yaitu Terminal Baranangsiang (Bogor) Terminal Jatijajar (Depok) Terminal Poris Plawad (Kota Tangerang) dan Terminal Pondok Cabe (Kota Tangerang Selatan),” kata Polana.

Untuk Terminal Baranangsiang, Bogor, pada Januari 2020 tercatat penumpang AKAP yang datang melalui terminal ini masih sejumlah 20.164 orang. Namun pada pada bulan Februari, mulai menurun menjadi 19.448 penumpang/hari (-3,55%), bulan Maret hanya 3.356 orang. (-83,35%).

Demikian pula untuk keberangkatan di Terminal Baranagsiang penumpang pada bulan Januari 2020 masih tercatat 50.718 penumpang. Namun selanjutnya cenderung menurun yaitu bulan Februari 43.832 orang (-13,57%) dan Maret hanya sejumlah 8.467 penumpang (-83,30%).

Di Terminal Pondok Cabe, Tangerang Selatan pada bulan Januari kedatangan penumpang tercatat masih sebanyak 1.401 orang. Namun kemudian cenderung menurun menjadi 998 orang (-28,76%) pada bulan Februari 2020 dan 882 orang (-37,04%) pada bulan Maret 2020.

Penumpang untuk keberangkatan di terminal ini juga menurun. Pada bulan Januari terdapat sebanyak 2.289 orang yang berangkat, turun menjadi 2003 orang (-12,49%) pada bulan Februari dan 2.102 orang (-8,16%) pada bulan Maret 2020.

Sementara, untuk Terminal Jatijajar Depok, jumlah penumpang kedatangan pada Januari sebesar 3.297 orang menurun menjadi 1734 orang (-47,40%) pada bulan Februari dan 1187 orang (-63,99%) pada bulan Maret.

Demikian pula untuk keberangkatan dimana pada bulan Januari 2020 masih tercatat 17.104 orang, menurun menjadi 14.225 orang (16,83 %) pada Februari dan 12.437 orang (-27,28 %) pada bulan Maret 2020.

Sedangkan, untuk Terminal Poris Plawad, Tangerang, pada bulan Januari masih mencatat kedatangan jumlah penumpang sebanyak 4.777 orang. Pada bulan Februari menurun menjadi 2.718 orang (-43,10%) dan bulan Maret tercatat 2246 orang (-52, 98%).

Sementara itu untuk keberangkatan pada bulan Januari 2020 pada terminal ini tercatat sebanyak 20.298 orang, menurun menjadi 18849 orang (-7,13) pada bulan Februari 2020. Namun khusus untuk bulan Maret angka keberangkatan kembali naik mendekat masa normal yaitu sebanyak 20292 orang.

Hari ke-6 PSBB, Wakil Walikota Bogor Sidak ke Stasiun Bogor

0

BOGOR DAILY-Wakil Wali Kota Bogor, Jawa Barat, Dedie A. Rachim berserta jajarannya hari ini melakukan inspeksi mendadak (sidak) dengan meninjau Stasiun Bogor di hari keenam penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Dari pantauan, tidak nampak antrean penumpang di area stasiun seperti yang terjadi pekan sebelumnya. Hal tersebut dikarenakan jam operasional KRL Commuter Line dimajukan menjadi pukul 04.30 dari sebelumnya mulai beroperasi pada pukul 06.00 WIB.

“Pagi ini kita melihat situasi di Stasiun Bogor lebih landai ya. Kenapa bisa terjadi situasi seperti ini? Karena keretanya beroperasi sejak 04.30 WIB. Ini bentuk antisipasi, apalagi Senin ya biasanya kita lihat penumpukan penumpang sangat tinggi,” ucap Dedie, Senin (20/4/2020).

Ia menambahkan, langkah tersebut sebagai bagian konsistensi PT KAI, PT KCI dan BPTJ dalam memastikan penerapan PSBB ini terjaga dengan baik.

“Jadi, apa yang kita lakukan tidak sia-sia. Sebelumnya perjalanan dimulai pukul 06.00 WIB itu pasti jumlah penumpukan akan sangat terjadi. Dengan begini paling tidak ada jalan keluar memastikan physical dan sosial distancing di dalam gerbong,” tambah Dedie.

Ia berharap kondisi seperti ini bertahan agar rantai penyebaran Covid-19 dapat ditekan dan jumlah pasien positif yang sembuh terus bertambah.

“Target kita menurunkan penyebaran Covid-19 di Kota Bogor maupun daerah lain yang ada di Jabodetabek. Ini konsistensinya harus kita jaga, masyarakat juga semakin paham dan yang pasti kita ingin tidak terjadi lagi, apalagi di Kota Bogor Alhamdulillah sudah enam yang sembuh dari Covid. Momentum ini jangan sampai jadi berbalik malah jadi satu penyebaran yang masif itu yang kita takutkan,” paparnya.

Sementara itu, Direktur Prasarana pada Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), Edi Nursalam mengatakan, berdasarkan pantauan, sudah 14 KRL Commuter Line yang diberangkatkan mulai pukul 05.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB.

“Kalau kita lihat dari rata-rata harian turunya sampai 85 persen, biasanya sampai jam 6 itu sudah sektar 10 ribu penumpang, sekarang kurang lebih hanya 1.700-an, sudah jauh sekali menurunya,” kata Edi.

Edi berharap, PSBB ini bisa berhasil karena memang targetnya mengurangi pergerakan orang semaksimal mungkin untuk memutus rantai penyebaran covid-19.

“BPTJ sudah rapat dua kali dengan instansi terkait kemudian malam hari kita dengan Menko Maritim, kita standby-kan bus 15 unit untuk antisipasi jika ada ledakan penumpang tapi ternyata tidak, bus tidak jadi digerakan tapi kita sudah siap,” tandasnya.

Bangun 400 Unit Huntap, Anggaran Pasca Bencana Sukajaya Capai Rp92,9Miliar

BOGOR DAILY-Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor Jawa Barat, dan wilayah sekitarnya diterjang longsor dan banjir bandang pada awal Januari 2020. Pemerintah Kabupaten Bogor menganggarkan Rp92,9 miliar untuk penanganan pascabencana di wilayah tersebut.

“Rp92,9 miliar untuk pembangunan huntara (hunian sementara), penyiapan lahan, penyediaan sarana pendukung huntap dan rehabilitasi rumah rusak,” kata Wakil Bupati Bogor, Iwan Setiawan, di Bogor, Minggu, 19 April 2020.

Anggaran berasal dari biaya tak terduga (BTT) pergeseran beberapa kegiatan dalam APBD Kabupaten Bogor 2020. Anggaran pembangunan hunian tetap (huntap) dan huntara untuk korban bencana diperkirakan mencapai Rp41 miliar.

“Kami juga menganggarkan perbaikan rumah rusak sedang di angka Rp10 juta per unit dan rusak berat Rp25 juta per unit,” terang politikus Partai Gerindra itu.

Bupati Bogor Ade Yasin menyebutkan anggaran huntap hanya dipakai bagi sarana pendukung seperti air bersih, jalan lingkungan, listrik dan sarana peribadatan. Pembangunan huntap akan didanai oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Lahan bekas tanaman kelapa sawit seluas 3,8 hektare milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII Cikasungka di Desa Sukaraksa, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, akan dibangun sebanyak 223 unit huntap.

Ade Yasin menganggap lahan 3,8 hektare masih jauh dari kebutuhan yang diperkirakan mencapai 2.000 huntap. Hal itu membuat ia kembali mengajukan ke PTPN VIII Cikasungka untuk memperluas area relokasi menjadi 28,02 hektar.

Politikus PPP itu menerangkan, lahan seluas 28,02 hektare di Desa Sukaraksa itu diperkirakan hanya cukup untuk membangun 1.400 huntap. Sedangkan 200 huntap sisanya akan dibangun di Desa Sukamaju dengan luas lahan 5,6 hektare.

Pemkab Bogor juga mengajukan pembangunan 400 unit huntap di Desa Urug Kecamatan Sukajaya dengan luas lahan 10,3 hektare yang juga masih milik PTPN VIII Cikasungka. “Di Sukajaya hanya sebagian kecil karena beberapa wilayah di Sukajaya tak boleh dibangun karena masuk zona merah seperti Desa Cileuksa, Cisarua, dan Pasir Madang,” kata Ade Yasin.

Minta Sembako, Baznas Kabupaten Bogor Digeruduk Warga

BOGOR DAILY-Ratusan warga memenuhi Kantor Baznas, Jalan Bersih, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Senin (20/4) pagi. Mereka berebut untuk mendapat sembako, meski Baznas tidak mengundang mereka.

Salah satu warga Kelurahan Tengah, Kecamatan Cibinong, Ropiah (29), yang ikut mengantre mengaku mendapatkan informasi tentang adanya pembagian sembako, dari tetangganya.

“Tahunya dari tetangga, kalau mau ada pembagian sembako. Antre dari jam 6 tadi,” kata Ropiah sambil menggendong anaknya.

Dia mengatakan, datang ke Baznas hanya dengan membawa KTP dan Kartu Keluarga (KK) dan rela berdesak-desakan demi mendapatkan 5 kilogram beras dan 10 bungkus mie instan.

Warga lainnya, Tinah (33) mengaku mendapatkan informasi dari grup pesan singkat WhatsApp. “Dari grup WhatsApp RT. Ini bawa KK sama KTP doang kok buat dapat sembako,” kata Tinah.

Pantauan di lapangan, tidak sedikit perempuan usia lanjut ikut mengatre. Bahkan, mereka terhimpit di depan pagar kantor Baznas, karena petugas Satpol PP melarang mereka untuk masuk secara bergerombol.

Imbauan untuk menjaga jarak pun, tidak dihiraukan oleh warga yang mengantre sejak pagi. “Jaga jarak. Pasti kebagian semua,” kata salah satu anggota Satpol PP Kabupaten Bogor, Komar.

Sumber: Merdeka. Com

Zona Merah Covid 19 Menyebar di 16 Kecamatan

BOGOR DAILY-Zona merah rawan penularan virus corona atau Covid-19 di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, semakin meluas ke-16 kecamatan, setelah adanya penambahan kasus positif baru dalam seminggu terakhir.

Namun, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor masih kesulitan mendeteksi Orang Tanpa Gejala (OTG) terkait Covid-19.

Oleh sebab itu, Bupati Bogor Ade Yasin menegaskan harus mewaspadai OTG corona yang dinilai paling bahaya menyebarkan virus ke masyarakat.

Baca juga: Pasien Positif Covid-19 di Kabupaten Bogor Tambah 6, 4 Orang Sembuh

Sampai hari Jumat (17/4/2020), Ade mencatat penularan masih terjadi dan terus bertambah yang terkonfirmasi positif corona atau Covid-19.

“Data seminggu terakhir sudah 16 kecamatan masuk zona merah Covid-19. Apalagi sekarang ada yang disebut OTG atau orang tanpa gejala,” ucap Ade.

OTG adalah orang sudah tertular corona tetapi tidak menunjukkan gejala sudah tertular seperti batuk, pilek, demam, sesak dan lain sebagainya.

Ia menilai hal ini tidak bisa dipandang remeh, karena OTG cukup banyak menularkan corona kepada orang lain.

Jika tidak ada upaya-upaya serius, kata Ade, dikhawatirkan jumlah warga yang terkonfirmasi positif akan terus bertambah.

Menurutnya, upaya serius itu tidak bisa hanya dilakukan pemerintah saja, melainkan harus bersama dengan masyarakat.

“Justru kita harus waspada dengan OTG, karena itu enggak ketahuan bahkan orangnya sendiri enggak tahu kalau dia OTG, jadi waspadalah,” ujarnya.

PSBB Kabupaten Bogor

Pemkab Bogor pun sudah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) seluruh masyarakat.

Karena itu pula, untuk memutus mata rantai penularan adalah dengan menghindari kerumunan, menjaga jarak, memakai masker saat bepergian dan berada di luar rumah.

“Justru kita harus waspada terhadap OTG, siapa tahu di antara lingkaran kita ada yang OTG, makanya perlunya jaga jarak. Kerumunan adalah jebakan corona dan sangat berbahaya karena di kerumunan besar potensi tertular,” ungkapnya.

“Di kita ada yang positif tapi kondisinya bagus, seperti OTG. Tapi sudah masuk ke hitungan orang yang positif,” imbuh Ade saat ditanya alasan tak memunculkan data jumlah OTG yang diperkirakan jumlahnya cukup tinggi seperti daerah lain.

Ade yang juga sebagai Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Bogor merinci, setiap harinya ada yang tertular terhitung sejak tanggal 10 April-17 April.

“Tanggal 10 April ada 29 orang positif corona, 11 April 33 orang, 12 April 36 orang, 13 April 38 orang, 14 April 45 orang, 15 April 50 orang, 16 April 52 oang, dan 17 April 56 orang,” rincinya.

Ia memastikan, zona merah meluas ke-16 kecamatan karena setelah ada enam warga yang masing-masing berdomisili di Kecamatan Babakan Madang, Ciawi, Leuwisadeng, Gunung Sindur dan Tajurhalang yang dinyatakan positif terinfeksi Covid-19.

Pemkab Bogor Terjunkan Pasukan Amankan Stasiun

BOGOR DAILY – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor, langsung menindaklanjuti surat Kementerian Perhubungan Badan Pengelolaan Transportasi Jabodetabek, yang meminta adanya bantuan pengamanan di Stasiun Bojong Gede dan Cilebut.

Bupati Bogor, Ade Yasin, mengatakan, Pemkab Bogor sudah menerjunkan pengamanan sesuai permintaan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dalam pengamanan Stasiun di Bojong Gede dan Cilebut.

Akan tetapi, dirinya belum bisa menyebutkan berapa personil yang diterjunkan untuk bantuan pengamanan di tengah pemberlakuan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) ini.

“Intinya kita sudah terjunkan petugas keamanan. Saya hari ini menindaklanjuti surat yang diminta oleh Kemenhub, untuk lima daerah. Yaitu, Depok Bogor kabupaten dan kota serta Bekasi, kami diminta untuk mengamankan di hari pertama kerja ini,” katanya kepada wartawan, Senin (20/4/2020).

Ia menyebutkan, surat permohonan bantuan pengamanan dari Kemenhub tersebut diterima Pemkab Bogor pada Minggu (19/4/2020).

“Kami sudah menerjunkan personil di Stasiun Bojong Gede dan Cilebut. Karena, dua stasiun tersebut terletak di wilayah Kabupaten Bogor,” jelasnya.

Tidak hanya itu saja lanjut Ade sapaan akrabnya, dalam pemantauan tersebut masih banyak juga penumpang yang berdempetan. Padahal, anjuran pemerintah daerah dan aturan dari Kereta Rel Listrik (KRL) sendiri harus menjaga fisik Distancing.

“Tadi yang tidak boleh juga masih ada saya lihat, terus yang berdiri dan duduk berdempetan juga masih banyak. Artinya, memang ketika mereka masuk kereta dan mau jalan sangat sulit lagi untuk diatur,” tukasnya. (Andi).