Saturday, 11 April 2026
Home Blog Page 8373

Jokowi Kembali Tegaskan Tak Ada Lockdown Hadapi Covid-19

BOGORDAILY – Presiden Joko Widodo atau Jokowi menggelar rapat terbatas bersama 34 gubernur seluruh Indonesia terkait Covid-19. Dia menegaskan, bahwa pemerintah tidak akan mengambil kebijakan lockdown.

“Ada yang bertanya kepada saya, kenapa kebijakan lockdown tidak kita lakukan, perlu saya sampaikan bahwa setiap negara memiliki karakter berbeda-beda, budaya berbeda-beda, memiliki kedisiplinan berbeda-beda, oleh sebab itu kita tidak memilih jalan itu,” kata Jokowi saat live di akun Sekretariat Presiden, Selasa (24/3).

Kepala negara mengaku sudah mempelajari kebijakan dan dampak lockdown dari semua negara. Jokowi juga terus memantau situasi setiap hari dari para duta besar.

“Dan itu sudah saya pelajari saya memiliki analisa analisa seperti ini. dari semua negara, kebijakan mereka apa, mereka melakukan apa, kemudian hasilnya apa, semuanya dari kementerian luar negeri dari dubes dubes yang ada terus kita pantau setiap hari,” tuturnya.

Menurut Jokowi, kebijakan paling pas untuk Indonesia ialah physical distancing atau menjaga jarak secara fisik. Jika hal tersebut disiplin dilakukan, dia yakin penyebaran corona bisa dicegah.

“Sehingga di negara kita paling pas adalah physical distancing, menjaga jarak aman, itu paling penting, kalau itu bisa kita lakukan saya yakin bahwa kita akan bisa mencegah penyebaran Covid-19 ini,” tuturnya.

Untuk itu, dia meminta agar semua pihak betul-betul disiplin terhadap kebijakan social distancing. Pemerintah sendiri telah mengeluarkan kebijakan belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah untuk menekan penyebaran corona.

“Saya baca sebuah berita, sudah diisolasi membantu tetangganya yang mau hajatan, ada yang sudah diisiolasi masih belanja di pasar, kedisiplinan untuk mengisolasi yang penting,” tutur Jokowi.

Sebelumnya, Jokowi menegaskan, kebijakan lockdown merupakan wewenang dari pemerintah Pusat. Kebijakan tersebut tidak boleh diambil oleh pemerintah daerah.

Sementara itu, jumlah pasien positif corona di Indonesia berjumlah 579 orang per Senin 23 Maret 2020. 49 pasien diantaranya dinyatakan meninggal dunia dan 30 dinyatakan sembuh.

Ini Pesan PSSI untuk Pecinta Sepakbola, Antisipasi Virus Corona

0

BOGORDAILY – Virus Corona sedang meluas di Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. PSSI memberi himbauan untuk meminimalisir penularan.

Virus Corona telah membuat sepakbola di Indonesia berhenti. Penyakit yang juga dikenal dengan Covid-19 ini sudah menginfeksi 579 orang di Indonesia, yang terdiri dari 49 meninggal dunia dan 30 orang sembuh.

Di saat sepakbola sedang kosong, PSSI tak mau kehilangan perannya untuk memberi himbauan kepada masyarakat pecinta sepakbola. Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan, menegaskan pentingnya hidup sehat dalam situasi ini.

“Cuci tangan yang bersih dengan sabun dari sela-sela jari, telapak dan punggung tangan. Lakukan minimal tiga kali setiap menyuci tangan hingga benar-benar bersih. Kesehatan Anda salah satu bentuk kepedulian kami” kata Iriawan seperti dikutip dari situs resmi PSSI.
Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan.

Tidak hanya aktivitas sepakbola saja yang berhenti karena virus Corona. Kegiatan pendidikan sampai perkantoran juga berhenti, namun ada yang melanjutkannya melalui rumah masing-masing.

“Dengan bekerja di rumah sementara waktu, kita membatasi interaksi fisik, serta menjaga jarak secara sosial dengan rekan rekan kita. Kita tidak tahu apakah orang-orang di sekitar kita mungkin adalah pembawa virus ini,” Iriawan mengungkapkan.

“Semoga wabah virus Corona di negara tercinta ini segera berakhir. Indonesia kuat, Indonesia bisa, PSSI Jaya!” Iriawan menegaskan.

Kritik Formappi: Rapid Test Khusus Anggota DPR Perlihatkan Egoisme & Mengistimewakan Diri

BOGORDAILY – Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus mengkritisi dan menolak rencana rapid test Covid-19 bagi anggota DPR RI dan keluarga. Dia menegaskan hal tersebut bukan hal yang mendesak.

“Alasan utama tentu saja karena rapid test khusus terhadap anggota DPR ini memperlihatkan sikap egoisme DPR yang mengistimewakan diri mereka di tengah kebutuhan mendesak penanganan Covid-19 yang harusnya mendahulukan warga masyarakat yang berstatus ODP dan PDP,” kata dia kepada wartawan, Jakarta, Selasa (24/3).

Selain masyarakat yang berstatus orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP), rapid test Covid-19 juga harus diprioritaskan untuk mereka yang menunjukkan gejala klinis terpapar Covid-19.

“Mereka yang menunjukkan adanya gejala terpapar virus corona juga menjadi kelompok lain yang mestinya menjadi prioritas pengetesan dengan sarana rapid test,” tutur dia.

“Kalau DPR dan keluarga mereka mendatangkan alat rapid test tanpa gejala apapun yang mengarah ke dugaan tertular virus Corona, artinya mereka hanya mau memastikan diri saja. Kalau anggota DPR masih sehat-sehat saja, rasanya tidak urgen menyediakan fasilitas khusus bagi mereka untuk sekedar memuaskan rasa penasaran mereka saja,” ujar Lucius.

Lucius memandang, pemeriksaan menggunakan alat rapid test kepada anggota dan keluarga yang tak mempunyai gejala akan terlihat sebagai bentuk kesombongan DPR. Di hadapan begitu banyak warga masyarakat yang paling membutuhkan pengetesan itu, karena sudah mempunyai gejala dan juga punya sejarah bersentuhan dengan pasien positif Corona.

Rapid test khusus anggota DPR ini semakin tidak relevan karena hampir pasti proses pengetesan itu ditanggung oleh negara. Makin tidak relevan lagi karena bukan hanya anggota DPR yang menikmati fasilitas gratis itu tetapi anggota keluarga hingga staf-staf mereka.

“Ini kan namanya ‘aji mumpung’ banget. Padahal kita tahu, berdasarkan cerita banyak warga yang sudah mendatangi rumah sakit untuk melakukan pengecekan Corona, mereka yang datang sekedar ingin mengetahui kondisi tubuh tanpa gejala Corona ataupun yang terdiagnosa mengalami penyakit lain, mereka diharuskan untuk membayar jasa pelayanan medis yang jumlahnya cukup besar,” urai dia.

“Nah bagaimana bisa DPR yang mungkin saja sehat-sehat tetapi sekedar memastikan kondisi dirinya sehat, ia memeriksakan diri atas tanggungan negara pula,” imbuhnya.

Kebijakan test cepat khusus DPR dan keluarga, ujar Lucius, terasa jauh dari semangat solidaritas yang kini tengah tumbuh dalam masyarakat demi bersama-sama memastikan penyebaran virus ini segera berakhir. Juga semangat solidaritas agar para pekerja medis yang dibekali APD yang minim terus sehat agar bisa melayani warga yang sudah tertular.

Semangat solidaritas ini yang akan hilang dari perlakuan khusus DPR dalam kegiatan rapid test tersebut. “Padahal sebagai wakil rakyat, anggota DPR mestinya bisa menjadi teladan tentang solidaritas antar sesama. Kalau menyumbang materi mungkin anggota DPR tak rela, minimal kerelaan untuk berjuang bersama rakyat dalam membatasi laju penyebaran corona bisa dilakukan anggota DPR,” terang dia.

Karena itu, rencana tersebut tidak perlu dilanjutkan agar tak melukai batin rakyat. Lebih baik alat rapid test dan tenaga medis yang ada fokus untuk warga yang sudah bergejala terpapar virus corona.

“Jika ada satu dua anggota DPR yang mungkin bergejala, maka sebaiknya mengikuti Protokol yang dibuat pemerintah, yakni dengan mendatangi Rumah Sakit rujukan atau menghubungi call center BNPB demi proses pelayanan yang adil dari negara,” tandasnya.

APD Terbatas, Tenaga Medis di Jasinga Pakai Jas Hujan

BOGOR DAILY – Tenaga medias (Paramedis) di sejumlah puskesmas yang ada di Kabupaten Bogor keterbatasan Alat Pelindung Diri (APD). Hal itupun seperti yang terjadi di Puskesmas Kecamatan Jasinga, akibat tidak ada APD Paramedis itupun menggunakan Jas Hujan.

Salah satu paramedis yang bertugas di Puskesmas Jasinga, Kecamatan Jasinga, Enung, mengatakan, saat ini para tenaga kesehatan di Puskesmas Jasinga khusunya, memakai jas hujan ditengah pandemi global Virus Korona Covid-19.

“Iya di, di Puskesmas Jasinga pakai Jas Hujan untuk melindungi badan. Denger-denger disemua puskesmas juga keterbatasan APD sih, gak tahu kalau Cigudeg sama Nanggung,” katanya kepada Bogordaily.net, melalui pesan WhatsApp nya. Selasa (24/3/2020).

Dirinyapun meminta, kepada Pemerintah Kabupaten Bogor segera mengirim APD untuk Puskesmas Jasinga. Hal tersebut guna menangani Orang Dalam Pemantauan (OPD) atau Orang Dalam Pengawasan (OPD).

Hal senada juga diutarakan oleh salah seorang Paramedis di Puskesmas Leuwiliang, Atih Djuarsih, ia mengatakan, pihaknya saat ini menggunakan jas hujan untuk menangani pasien di Puskesmas Leuwiliang yang merupakan ODP sebanyak 12 dan PDP sebanyak 2 orang.

“Yang ODP dan PDP ini rata rata baru pulang dari Arab. Ada juga yang kontak dengan dosen di Jepang,” singkatnya.

Sementara itu, menanggapi beberapa puskesmas di Kabupaten Bogor yang keterbatasan APD, Bupati Bogor, Ade Yasin membenarkan. Menurutnya, Keterbatasan APD bukan hanya terjadi di Bumi Tegar Beriman saja melainkan se-Indonesia.

“Bukan hanya kita, tapi seluruh indonesia APD nya terbatas, informasinya akan ada bantuan dari pemerintah yang turun untuk tenaga medis,” singkatnya juga. (Andi).

Jokowi Menyiapkan Skenario Ringan Hingga Terburuk Dampak Corona, Ini Daerah Paling Rentan

BOGORDAILY – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyiapkan beragam skenario dalam penanganan virus Corona (COVID-19). Jokowi ingin semua dampak virus Corona ini dikalkulasi secara matang.

“Skenario juga telah kita hitung, kita kalkulasi mengenai prediksi dari COVID-19 ini di negara kita Indonesia, bulan April seperti apa, bulan Mei seperti apa, skenario buruk seperti apa, skenario ringan seperti apa dan saya kira ingin kita berada skenario yang ringan, dan kalau memang betul-betul sulit dibendung ya kita paling tidak masuk ke skenario sedang jangan sampai masuk ke skenario paling buruk,” kata Jokowi saat memimpin ratas bersama para gubernur seperti ditayangkan dalam YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (24/3/2020).

Jokowi kemudian mensimulasikan skenario sedang dampak Corona ini di sejumlah daerah. Dia menyebut provinsi yang paling terkena dampak buruk dari Corona terkait buruh adalah Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Kita juga telah menghitung juga penurunan di beberapa provinsi mengenai daya tahan mengenai penurunan pendapatan dari setiap provinsi yang ada, ini saya berbicara skenario sedang saja misalnya provinsi untuk buruh kalau skenario sedang, yang terparah nanti akan berada di NTB, akan penurunan pendapat kurang lebih 25 persen, ini kita mampu bertahan di Juni dan September,” ujar dia.

Sedangkan untuk petani dan nelayan, akan terjadi penurunan pendapatan yang terparah di Kalimantan Barat. Daya tahan di provinsi tersebut diprediksi sampai Oktober-November.

“Kemudian untuk petani dan nelayan kita, ini juga tolong-tolong hati kalau skenarionya sedang yang terparah nanti di Kalimantan barat akan adan penurunan pendapatan sampai 34 persen, dengan daya tahan Oktober sampai November,” ujar dia.

Untuk pedagang-pedagang kecil, Jokowi menyebut provinsi yang paling terkena dampak adalah Kalimantan Utara. Sementara itu, Sumatera Utara diprediksi akan menjadi provinsi paling terkena dampak dalam skenario sedang virus Corona untuk sopir angkot dan bus.

“Kemudian pedagang mikro, kecil kalau skenario sedang yang berat adalah di Kalimantan Utara dan penurunan sampai 36 persen, kemampuan bertahan di Agustus sampai Oktober. Kemudian untuk sopir angkot dan ojek, yang paling berat di Sumatera Utara, ini turunnya hampir sampai 44 persen, angka-angka seperti ini mohon dikalkulasi secara detail di daerah sehingga persiapan bantuan sosial dan kota kabupaten betul-betul bisa disiapkan lewat yang tadi disampaikan,” ujarnya.

Lakukan Penyemprotan Disinfektan, Hj. Endang Setyawati Perangi Covid-19

BOGORDAILY – Seolah tidak mau tinggal diam Anggota DPR RI Komisi IV
Fraksi Gerindra Dr.Ir.Hj.Endang Setyawati Thohari, DESS.,M.Sc ikut
memerangi pandemi Civid-19 dengan melakukan penyemprotan disinfektan
di lingkungan Perumahan Baranangsiang Indah, Kelurahan Baranang Siang
Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, Senin (23/3/20) hingga Selasa
(24/3/20).
Anggota DPR RI Komisi IV Fraksi Gerindra Dr.Ir.Hj.Endang Setyawati Thohari, DESS.,M.Sc ikut memerangi pandemi Civid-19 dengan melakukan penyemprotan disinfektan di lingkungan Perumahan Baranangsiang Indah.
Seperti Diketahui Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto, belum lama ini
divonis terpapar Covid-19. Bima merupakan salah satu warga yang tinggal
di Perumahan Baranang Siang Indah. Mengantisipasi penyebaran virus
yang sudah menjadi pandemi. Hj. Endang, berinisiatif melakukan
sterilisasi dengan melakukan penyemprotan disinfektan di rumah-rumah
serta lingkungan perumahan Baranang Siang Indah Kota Bogor.
Mengenakan alat pelindung diri (APD) Petugas melakukan penyemprotan
cairan antiseptik di tempat-tempat yang berpotensi menjadi media
penyebaran virus yang berasal dari Wuhan tersebut. (bdn)

Karena Virus Corona UEFA Tunda Final Liga Champions dan Liga Europa

0

BOGORDAILY – Virus corona mengacaukan agenda sepakbola Eropa. Hal itu membuat UEFA akan menunda gelaran final kompetisinya, termasuk Liga Champions serta Liga Europa.

Di situs resminya, UEFA memastikan bakal menunda gelaran final semua kejuaraan antarklubnya. Dari Liga Champions, Liga Europa, dan Liga Champions Perempuan juga diundur, yang seharunya digelar pada Mei.

Sedianya, UEFA akan menggelar final Liga Champions Perempuan pada 24 Mei 2020, final Liga Europa 27 Mei 2020, dan Liga Champions pada 31 Mei 2020. Lantaran belum jelasnya situasi Eropa akibat pandemi virus corona, badan sepakbola Eropa itu akhirnya menundanya.

“Dengan adanya krisis virus corona di Eropa, UEFA hari ini secara resmi mengambil keputusan akan menunda pertandingan selanjutnya, yang seharunya digelar pada Mei 2020,” tulis pernyataan UEFA.

“Belum ada keputusan yang dibuat untuk tanggal digelarnya kembali. Kelompok kerja, yang didirikan pekan lalu dalam konferensi para pemangku kepentingan sepakbola Eropa, yang diketuai Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, akan menganalisis opsi yang tersedia. Grup sudah memulai memeriksa kalender. Pengumuman akan dilakukan pada waktunya,” demikian pernyataan UEFA.

Virus corona sebelumnya sudah menghentikan kompetisi antarklub UEFA. Liga Champions terhenti di leg kedua babak 16 besar Liga Champions, Liga Europa di babak 32 besar, dan Liga Champions Perempuan terhenti di perempatfinal.

Sebelumnya, UEFA juga sudah menunda gelaran Piala Eropa. Pesta sepakbola se-Benua Biru itu akan diundur ke 2021, yang harusnya digelar pada musim panas 2020.

Guna Mencegah Menyebarnya Wabah Virus Corona, Savero Hotels Tutup Tiga Unit Hotel

Bogor Daily – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor telah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) terhadap wabah virus corona jenis baru atau covid-19 di Kota Bogor. Keputusan itu diambil usai diumumkannya tiga pasien terinfeksi positif corona, termasuk Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto. Maka dari itu, Savero Hotels Group memutuskan untuk menutup sementara operasional ketiga properti Savero Hotels dimulai pada 25 Maret 2020 sampai dengan waktu yang ditentukan kemudian hari.

Ketiga properti Savero Hotels yaitu Grand Savero Bogor yang berlokasi di Jalan Pajajaran No.27, Savero Hotel Depok di Jalan Margonda Raya No.230A, dan yang terbaru Savero Style Bogor di Jalan Pajajaran No.38, mendukung program “Social Distancing” yang dikeluarkan oleh Pemerintah dengan meniadakan aktivitas dan meliburkan seluruh karyawan.

“Sehubungan dengan penurunan bisnis yang di sebabkan oleh COVID-19 sekaligus mendukung arahan pemerintah yang membatasi pergerakan massa untuk memutus rantai penyebaran virus tersebut, maka kami memutuskan untuk sementara waktu menutup servis dan fasilitas mulai dari tanggal 25 Maret,” kata Mustafa Rahmatono selaku General Manager Savero Hotels Group.

Menurutnya, menutup sementara tiga unit hotel yang dimiliki Savero Hotels juga demi memprioritaskan kesehatan dan kenyamanan tamu dan karyawan. Selama tidak beroperasi, Manajemen Savero Hotels akan melakukan peningkatan di bidang higienitas dan kebersihan di fasilitas-fasilitas publik di setiap unit hotel.

“Walau siapapun yang datang ke hotel kita cek suhu tubuhnya, kita sarankan cuci tangan dan pakai hand sanitizer, termasuk juga setiap karyawan yang masuk, tetap tidak menjamin penyebaran dan penularan virus ini.” tambahnya.

Manajemen Savero Hotels berharap kedepannya baik tamu-tamu dan karyawan tidak ada indikasi virus Corona dengan melakukan tindakan antisipasi diawal. “Saat ini, karyawan Savero Hotels bebas dari virus corona dan kami bekerja keras untuk mempertahankannya. Kami akan terus memantau situasi dan merespon sesuai dengan saran dari pemerintah. Kami berharap dapat menyambut para tamu kembali dalam waktu dekat,” ungkap Mustafa Rahmatono.

“Kami mengucapkan terima kasih untuk para Stake Holder yang selama ini telah mensupport hotel kami, khususnya para tamu pelanggan dan juga masyarakat. Covid-19 merupakan wabah nasional hingga dunia sehingga kami harus mengambil sikap antisipasi untuk menutup tiga unit hotel kami. Kami berharap dan berdo’a agar wabah ini segera diselesaikan oleh Allah SWT sehingga kita bisa kembali melanjutkan aktifitas seperti biasanya serta juga mengambil hikmah dari wabah ini.” tutupnya.

Bogor, Depok, Bekasi Paling Banyak Terjangkit Corona

BOGOR DAILY-Kota/ Kabupaten Bogor, Depok, dan Bekasi (Bodebek) menjadi wilayah terbanyak kasus positif COVID-19 di Provinsi Jawa Barat (Jabar). Sebab, ketiga lokasi ini berdekatan dengan Provinsi DKI Jakarta yang memiliki angka infeksi virus corona SARS-COV-2 terbesar di Indonesia.

“Bodebek adalah bagian dari Jawa Barat yang wilayahnya berdekatan dengan DKI Jakarta, di mana DKI Jakarta menjadi episentrum wabah virus corona,” kata Ridwan Kamil usai rapat koordinasi di rumah dinas wali kota Bogor, Minggu (22/3), dalam rangkaian kunjungan ke Kota Bekasi dan Kota Bogor untuk meninjau kasus corona di Bodebek.

Hadir pada rapat koordinasi tersebut antara lain, Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim, Bupati Bogor Ade Yasin, serta unsur forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopimda) Kota Bogor dan Kabupaten Bogor.

Menurut Ridwan Kamil, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Jawa Barat, hingga Sabtu (21/3), jumlah kasus positif COVID-19 di Jawa Barat ada sebanyak 55 kasus. Dari jumlah tersebut, 50 kasus ada di Bodebek dan lima kasus lainnya di luar Bodebek.

“Jumlah kasus positif COVID-19 di Bodebek sangat signifikan dibandingkan dengan daerah di luar Bodebek,” katanya.

Sementara itu, sampai Minggu, jumlah kasus positif COVID-19 di Jawa Barat sudah bertambah empat lagi menjadi 59 kasus.

Menurut Ridwan Kamil, menyikapi banyaknya kasus positif COVID-19, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan rumah sakit rujukan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.

“Rumah sakit Hasan Sadikin Bandung, saat ini menyiapkan ruangan di satu lantai untuk pasien positif COVID-19. Kalau jumlahnya bertambah, akan disiapkan ruangan lebih banyak lagi,” katanya.