Sunday, 26 April 2026
Home Blog Page 8765

ADV : Selama Bulan Ramadhan, Puskesmas Tetap Melayani Masyarakat

Bogor – Selama bulan Ramadhan 1.439 Hijriah ini, seluruh Puskesmas yang berjumlah 25 unit berikut 30 Puskesmas Pembantu (Pustu) yang tersebar di wilayah Kota Bogor selalu siap untuk tetap memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Kendati ada penyesuaian jam kerja sesuai dengan surat edaran dari Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor Nomor 061.2/1636-org.

Begitu pun untuk tenaga medisnya, seperti dikatakan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor Rubaeah, Kamis (17/05/2018), bahwa Dinkes Kota Bogor juga telah merekrut Pekerja Kontrak Waktu Tertentu (PKWT) untuk bisa memenuhi layanan kepada masyarakat.

“Untuk jam kerja sendiri kami (Dinkes) memang mengikuti aturan yang sudah ada sesuai dengan edaran dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. Meskipun kami juga ada beberapa Puskesmas rawat inap, sehingga pelayanannya tidak berubah karena adanya petugas yang tetap piket untuk melayani masyarakat selama 24 jam,” jelas Rubaeah.

Kendati dengan jumlah tenaga medis termasuk perawat masih dirasakan cukup kurang, namun Kadinkes memastikan bahwa hal tersebut tidak akan mengurangi pelayanan. Karena, walau bagaimana pun pelayanan optimal harus tetap diberikan kepada masyarakat.

“Jumlah tenaga dokter ini ada sekitar ratusan orang jumlahnya, sementara untuk perawat ada sekitar dua ratusan orang. Kalau jumlah bidan sendiri ada di kisaran 150 orang se-Kota Bogor. Memang ini masih sangat kurang. Di satu sisi kita tidak bisa merekrut atau mengangkat karena adanya moratorium, tapi di sisi lain yang pensiun kan terus berjalan. Kita maksimalkan saja tenaga yang ada,” katanya.

Sekedar informasi, jam kerja ASN berdasarkan surat edaran di lingkungan Pemerintah Kota Bogor untuk Senin sampai Kamis, masuk pukul 07.30 WIB dan pulang pukul 14.30 WIB. Khusus Jumat, jam masuk sama dan jam pulang pukul 15.00 WIB.

Untuk unit kerja yang memberlakukan 6 hari kerja, Senin sampai Kamis dan Sabtu masuk pukul 07.30 WIB sampai pukul 13.30 WIB. Sedangkan Jumat jam pulang pukul 14.00 WIB.

***

Modal Dana Swadaya, Renovasi Gedung PWI Bogor Hampir Selesai

BOGOR – Modal kebersamaan dan sedikit nekat membuat pekerjaan renovasi gedung sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Bogor bisa terlaksana. Sejak tahapan perbaikan dimulai pada 29 Maret 2018, perkembangan fisik saat ini sudah mencapai 70 persen atau sudah hampir selesai.

“Alhamdulillah, akhirnya renovasi kantor PWI bisa dilaksanakan. Ini karena adanya dukungan moril, kepedulian dan bantuan secara materi dari insan pers Bogor serta mitra-mitra PWI,” kata Plt Ketua PWI Kota Bogor, Arihta Utama Surbakti saat tasyakuran terlaksananya renovasi dan cucurak jelang ramadhan di PWI Jalan kesehatan.No. 4, Tanah Sereal, Kota Bogor, Selasa 15 Me 2018.

Menurut Arihta atau biasa dipanggil Arie, biaya pembangunan ulang gedung PWI Bogor yang ambruk pada 15 Maret 2015 silam, murni berasal dari swadaya, baik dari kalangan insan pers maupun donatur tak mengikat.

“Syukur alhamdulillah, karena kebersamaan dan modal nekat, kita bisa merehabilitasi gedung PWI ini. Masih yang peduli dan tulus bersahabat dengan kami,” ujar Arie.

Bahkan, lanjut Ketua Tim Renovasi Ustadz Dudi Mauludi, hingga pelaksanaan berjalan 2 bulan, tim renovasi dan Pengurus PWI Kota Bogor belum mengirim proposal bantuan dana kepada Pemerintah Kota Bogor.

Ketua Tim Renovasi menegaskan, sampai tahap pemasangan rangka atap, rangka plafon, kusen dan finishing dinding, biayanya bukan bersumber dari anggaran pemerintah atau.non budgeter. Namun berasal dari sumbangan secara pribadi atau perorangan sejumlah donatur yang peduli kepada PWI.

Ia menjelaskan, kebutuhan kayu kusen dan plafon semunya sumbangan dari Sugeng Teguh Santoso. Untuk material, seperti besi, plafon, semen, papan, termasuk sebagian uang muka atap  baja ringan dibantu Dedie A. Rachim. Bantuan dana juga datang dari Zaenul Mutaqin, yang kemudian dibayarkan sebagian besar upah borongan pekerja.

Selain itu, Polres Bogor Kota melalui AKP Gatot Susanto juga berpartisipasi dengan mengirimkan bata merah. Bahkan, pengusaha senior Kabupaten Bogor, H. Tb Nasrul ikut menyumbang 40 zak semen. PWI juga mendapat bantuan  pasir dari Sekretaria Paguyuban BPD Kabupaten Bogor, H. Acep Misbach Sudur.

PWI Kota Bogor juga mendapat  bantuan dana tunai dari Sekretaris Daerah Pemkab Bogor Adang Suptandar, Kadisdik Kota Bogor, H. Fahrudin yang sempat berkunjung ke PWI Jl. Kesehatan, Kadispora Kota Bogor Eko Prabowo dan tokoh masyarakat H. Lilis juga ikut berpartisipasi memberi bantuan dana.

“Alhamdulillah sangat membantu kami untuk mewujudkan mimpi membangun ulang gedung PWI Bogor. Insya Allah detail bantuan akan kami sampaikan dalam Konfrensi nanti,” kata Arie.

Ustadz Dudi menambahkan, untuk menutupi sebagian biaya atap baja ringan akan ditutup dari penjualan kayu yang tidak jadi digunakan. Walau berat, lanjutnya, tim PWI Bogor optimitis bisa menyelesaikan renovasi.

“Kami belum menyebarkan proposal bantuan dana renovasi. Ada 10 proposal yang baru akan kami kirimkan. Jadi, sampai saat ini biaya renovasi murni swadaya,” jelas Ustadz Dudi.

Menurut Plt Ketua PWI, ditargetkan pada pertengahan Ramadhan ini,  gedung sekertariat PWI sudah bisa digunakan untukmenggelar acara buka puasa bersama. Sebab, awal pekan ini pekerjaan atap sudah selesai 100 persen, tinggal finishing.

Arir mengucapkan terima kasih kepada semua insan pers dan para mitra yang peduli terhadap agenda renovasi. Ia juga mengaku lega, karena niat dan kenekatan pengurus  PWI didukung wartawan-wartawan muda dan seniorx baik yang bertugas di Kota maupun Kabupaten Bogor.

 “Acara cucurak yang diadakan di halamana Sekertariat PWI ini yang dihadiri para senior, seperti Kang Azwar yang datang jauh-jauh dari Nunukan, Kalimantan Utara dan Mas Danang Donoroso menjadi pemicu semangat kami, untuk menuntaskan pekerjaan rehabilitasi sekertariat,” ujarnya.***

Macan Tutul Turun Gunung, Ada di Kolong Rumah Warga

BOGOR DAILY-Seekor macan tutul ngumpet di kolong rumah warga Hendi alias Goci (53) di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Macan tersebut bersembunyi usai memangsa ayam peliharaan Goci.

Macan tutul turun gunung dan masuk permukiman ini bikin heboh warga Kampung Perbawati, Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi. Informasi dihimpun, hewan liar tersebut bersembunyi sejak Rabu (16/5) malam.

Kemunculan macan tutul ini terungkap saat Goci curiga suara mencurigakan. Dia terbangun saat mendengar ayam peliharaannya berbunyi keras malam tadi, sekitar pukul 23.30 WIB.

“Malam tadi ayam bunyi, saya lihat bulu awur-awuran (berserakan) di samping rumah. Saya ngikut ceceran bulu ayam. Saya bawa senter, pas senterin ke bawah kolong rumah, saya lihat macan tutul,” kata Goci, di rumahnya, Kamis (17/5/2018).

Selesai santap sahur bersama istrinya, Goci lalu menghubungi petugas Polsek Sukabumi, Resor Sukabumi Kota, sekitar pukul 04.30 WIB. Petugas datang ke lokasi dan berkoordinasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jabar dan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

Hingga kini macan tersebut masih bersembunyi di bawah kolong rumah Goci. Pengamatan di  areal perkampungan warga memang berada di kaki Gunung Gede Pangrango.

Beberapa polisi terlihat berjaga di sekitar lokasi. Semula para warga sempat merangsek ke seputaran rumah Goci untuk melihat dekat hewan tersebut.

Sejumlah warga mengatakan penampakan macan tutul di perkampungan jarang terjadi. “Terakhir tahun 96-97, dulu yang dimakan domba. Setelah itu jarang muncul, keluar lagi sekarang-sekarang,” tutur Jajat warga setempat

sumber detik.com

Kepsek Penyebar Hoax Bom Surabaya Ditahan

BOGOR DAILY-Polda Kalimantan Barat menetapkan FSA, kepala sekolah yang diduga menyebarkan hoax soal serangan bom di Surabaya, sebagai tersangka. Polisi saat ini telah menahan FSA.

“Sudah tersangka dan ditahan,” kata Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Nanang Purnomo. Nanang menjelaskan FSA dijerat dengan pasal 45A ayat 2 Jo pasal 28 ayat nomor 2 UU 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan UU nomor 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. Ancaman penjara maksimal 6 tahun dan denda maksimal 1 miliar.

FSA sebelumnya ditangkap pada Minggu (13/5) sekitar pukul 16.00 WIB oleh personel Satuan Reskrim Polres Kayong Utara di rumah kos. Polisi langsung melakukan pemeriksaan intensif terhadap FSA.

Polisi juga telah memeriksa ahli dalam kasus ini. Dari keterangan ahli, polisi menyatakan postingan FSA di Facebook telah memenuhi unsur hate speech.

Setelah itu, polisi melakukan gelar perkara dan menigkatkan status kasus tersebut ke tingkat penyidikan. FSA kemudian ditetapkan tersangka dengan pasal berlapis.

Berikut uraian jejak FSA terkait penyebaran hoax bom Surabaya.

Minggu, 13 Mei 2018

FSA ditangkap oleh personel Satuan Reskrim Polres Kayong Utara di rumah kos. FSA ditangkap karena menulis status analisisnya di akun Facebooknya tentang tragedi bom Surabaya adalah rekayasa pemerintah.

“Sekali mendayung 2-3 pulau terlampaui. Sekali ngebom: 1. Nama Islam dibuat tercoreng ; 2. Dana trilyunan anti teror cair; 3. Isu 2019 ganti presiden tenggelam. Sadis lu bong… Rakyat sendiri lu hantam juga. Dosa besar lu..!!!” tulis FSA, sebagaimana dikutip detikcom dari akun Facebook Fitri Septiani Alhinduan, yang menjadi barang bukti polisi.

FSA juga menulis status tragedi Surabaya sebuah drama yang dibuat polisi agar anggaran Densus 88 Antiteror ditambah.

“Bukannya ‘terorisnya’ sudah dipindahin ke NK (Nusakambangan)? Wah ini pasti program mau minta tambahan dana anti teror lagi nih? Sialan banget sih sampai ngorbankan rakyat sendiri? Drama satu kagak laku, mau bikin draama kedua,” tulis FSA juga.

Senin, 14 Mei 2018

FSA dibawa petugas Polres Kayong ke Polda Kalbar. FSA sudah diperiksa polisi sejak malam hari.

Dalam rangka pemeriksaan, polisi mengamankan barang bukti sebuah handphone dan nomor yang digunakan FSA.

Selasa, 15 Mei 2018

FSA kemudian diterbangkan ke Polda Kalimantan Barat (Kalbar). Dia terus menjalani pemeriksaan intensif sejak pukul 15.00 wita. Statusnya masih sebagai saksi.

“Ibu Kepala Sekolah SMPN Kayong hari ini dipanggil oleh penyidik Polda Kalbar, oleh Direktur Reserse Kriminal Khusus. Yang bersangkutan melanggar UU ITE pasal 19 ayat 6 tahun 2002. Ancaman hukumannya di atas 5 tahun lah dan bisa ditahan,” kata Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Nanang Purnomo.

Selain itu, polisi akan meminta akun Facebook milik FSA ditutup.”Facebook-nya sudah pasti akan melangkah ke tahap meminta Diskominfo men-takedown. Tapi kan awalnya kita mintai keterangan dia atas perbuatan dan tindakan yang dia lakukan itu benar tidak,” ujar Nanang.

Rabu, 16 Mei 2018

Polda Kalimantan Barat menetapkan FSA, kepala sekolah yang diduga menyebarkan hoax soal serangan bom di Surabaya, sebagai tersangka.

“Sudah tersangka,” kata Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Nanang Purnomo saat dihubungi, Rabu (16/5/2018).

Nanang menjelaskan FSA dijerat dengan pasal 45A ayat 2 Jo pasal 28 ayat nomor 2 UU 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan UU nomor 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. Ancaman penjara maksimal 6 tahun dan denda maksimal 1 miliar.


Rabu, 16 Mei 2018

Polisi saat ini resmi menahan FSA.

“Sudah tersangka dan ditahan,” kata Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Nanang Purnomo.

Sumber: detik.com

Ini Fakta Soal Viralnya Wanita Bercadar di Terminal

BOGOR DAILY-Sebuah video perempuan bercadar digiring keluar dari bus di Terminal Gayatri, Tulungagung, Jawa Timur, menghebohkan media sosial hingga menjadi viral. Petugas Dinas Perhubungan dan kepolisian setempat memastikan pengusiran itu tidak benar.

Video berdurasi 30 detik yang diunggah ke situs berbagi video itu jadi perbincangan lantaran diberi judul provokatif. Tidak ada pengusiran terhadap perempuan bercadar yang hendak naik bus jurusan Trenggalek pada Senin, 14 Mei pagi kemarin.

Koordinator Satuan Pelayanan (Korsatpel) Terminal Gayatri Tulungagung, Ony Suryanto mengatakan, tidak ada penolakan oleh penumpang terhadap perempuan bercadar seperti yang beredar di media sosial.

“Petugas yang memantau melalui kamera pengawas melihat perempuan itu seperti linglung saat berada di ruang tunggu terminal,” kata Ony di Tulungagung, Selasa (15/5/2018).

Perempuan itu ada di terminal seorang diri dan hanya berkaus kaki tanpa mengenakan alas kaki. Usai melihat kamera pengawas itu, petugas mencarinya dan menemukannya sudah berada di dalam bus jurusan Trenggalek.

Karena tak bisa menunjukkan kartu identitas dan kesulitan menjawab pertanyaan petugas, perempuan bercadar itu kemudian diajak ke pos keamanan terminal. Petugas terminal kemudian berkoordinasi dengan kepolisian. “Kami mengajaknya ke pos keamanan dengan sangat hormat. Dia baru menjawab pertanyaan saat polisi datang ke lokasi,” ucap Ony.

Belakangan diketahui perempuan itu adalah santri dan masih kelas 8 di salah satu pondok pesantren di Tulungagung. Ia pun menjelaskan tentang keberadaannya di terminal itu. Kepolisian kemudian mempertemukan santri itu dengan pengurus pondok di Mapolres Tulungagung.

Polres Tulungagung membenarkan tak ada penolakan atau pengusiran terhadap perempuan bercadar itu. Petugas hanya memintai keterangan lantaran tampak kebingungan saat berada di dalam Terminal Gayatri Tulungagung.

“Ternyata dia bingung mau naik bus yang mana. Jika ada isu yang mengatakan ada penolakan dari penumpang, kami pastikan itu tidak benar,” kata Kasat Reskrim Polres Tulungagung AKP Mutijat Priyambodo.

Saat dimintai keterangan oleh polisi wanita, santri perempuan itu mengaku baru saja kabur dari pondok pesantren tempatnya belajar. Santri berinisial SA itu sengaja bercadar supaya tidak dikenali dan bisa lolos keluar dari pondok pesantren.

“Alasannya kabur karena tidak betah tinggal di pondok dan ingin pulang ke rumahnya di Jenangan, Ponorogo. Kami hubungi pengurus pesantren agar menjemputnya,” ujar Mustijat.

Berdasarkan keterangan pengurus pesantren, santriwati itu diketahui sebelumnya sudah tiga kali keluar pondok tanpa ijin. Polisi kemudian juga ikut mengantar santri itu kembali ke pesantren. Setelah kejadian ini, kepolisian mengimbau masyarakat agar tidak menyebarkan isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

“Jangan mudah terpancing dengan informasi di media social. Segera melapor ke petugas jika menemukan hal yang mencurigakan,” ucap Mustijat.

Anak Bomber Didoktrin Punya Cita-cita Mati Syahid

BOGOR DAILY-Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan salah satu anak pelaku bom di Surabaya punya cita-cita yang tidak biasa. “Pernah ditanya apa cita-citanya, lalu dia menjawab ingin mati syahid.” Risma menyampaikannya melalui siaran pers, Senin, 14 Mei 2018.

Anak pasangan pengebom Dita Oepriarto dan istrinya, Puji Kuswari itu tidak mau mengikuti pelajaran Pancasila alias Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN). Ia juga menolak mengikuti upacara bendera.

Sehari setelah peristiwa bom bunuh diri di tiga gereja Surabaya, Risma mendatangi rumah para pelaku bom bunuh diri itu di kawasan Wonorejo Asri, Kecamatan Rungkut. Ia meminta perkembangan informasi mengenai sosok keluarga Dita Oepriarto dan Puji Kuswari, beserta anak-anaknya.

Warga diminta membangun hubungan baik dengan lingkungan sekitar, termasuk dalam bentuk ucapan. “Kita harus peka akan hal-hal ini. Penting mendapatkan informasi awal untuk bisa mendeteksi lebih dalam.”

Risma pun segera membuat surat edaran kepada seluruh RT/RW guna mewaspadai orang-orang di sekeliling yang mencurigakan. Salah satunya dengan menghidupkan Siskamling dan Forum Komunikasi Warga.

Di sisi lain, Risma berpesan agar seluruh warga kota tak takut kepada segala upaya terorisme. “Ini adalah cobaan yang mana kita tidak boleh menyerah dan kita tidak boleh kalah dengan hal-hal yang sifatnya menakut-nakuti warga Surabaya semuanya. Ingat kita punya Tuhan Yang Maha Kuasa.”

Perempuan 55 tahun itu meminta agar warga Surabaya tetap tenang dalam situasi setelah rentetan ledakan bom di Surabaya pada Ahad dan Senin kemarin. Sebab, kata dia, jajaran mulai dari Pemerintah Kota Surabaya, Polres dan TNI sepakat untuk lebih intens menjaga Surabaya baik dari sisi strategi baru sampai intensitas keamanan.

Persija Gagal ke Final Piala AFC

BOGOR DAILY-Persija Jakarta gagal melaju ke final AFC Cup 2018 Zona Asia Tenggara. Mereka takluk 1-3 dari Home United, tim asal Singapura, di Jakarta, Selasa malam, sehingga secara agregat kalah 3-6.

Pelatih Stefano “Teco” Cugurra meminta maaf, tapi juga menekankan bahwa target timnya sudah terlampaui. “Sekali lagi saya minta maaf karena gagal ke final. Memang kami tersingkir dan itu membuat kami sedih tapi sekali lagi target tim di AFC sudah tercapai. Sekarang saatnya kita fokus di Liga kita punya target di sana untuk kita kejar,” kata pelatih asal Brasil ini, seperti dikutip laman Persija.

Teco juga berterima kasih kepada suporter yang memberikan dukungan maksimal di Stadion Utama Gelora Bung Karno. “Saya ucapkan terima kasih kepada Jakmania yang sudah memberikan dukungan. Sayangnya malam ini bukan milik kami. Kami memang kebobolan gol cepat namun ada penalti yang jadi polemik. Dua penalti awal memang sah penalti namun saat pemain kami dijatuhkan kembali wasit tidak bergeming,” ujar dia.

Teco meminta anak asuhnya agar bisa bangkit di laga selanjutnya. Saat ini Persija masih memiliki dua kompetisi lagi yang masih mereka ikuti. Di Liga 1 2018 mereka masih berada di peringkat delapan dengan poin 10. Di Piala Indonensia, mereka akan bertemu Persikabo Bogor di Babak 128 Besar.

Teco enggan menyalahkan pemain tertentu mengingat kekalahan Persija ini lantaran akibat kesalahan bersama. “Disini sekali lagi bukan kesalahan satu pemain saja tapi tim secara keseluruhan. Kesalahan gol di awal saya kira tim ke depannya harus fokus dan hati-hati,” kata dia.

Teco juga menyoroti konsentrasi lini pertahanan timnya yang kebobolan empat gol di 10 menit awal pada tiga pertandingan terakhir, termasuk saat dikalahkan Madura United 0-2.

“Kami kalah di tiga laga itu dan selalu kebobolan di menit-menit awal. Lini pertahanan kami kurang konsentrasi,” kata dia. “Sebelumnya juga sudah saya beritahukan ke pemain agar lebih hati-hati. Namun di lapangan apa saja bisa terjadi dan ternyata kami mengulangi kesalahan lagi.”

Faktor pengalaman juga dinilainya ikut berperan dalam kegagalan Persija. “Kami kurang pengalaman karena Persija sudah sangat lama tidak bermain di level internasional. Sementara lawan sudah berkali-kali tampil di Piala AFC,” kata Teco

Jenazah Teroris Gereja Surabaya Ditolak Keluarga dan Warga

BOGOR DAILY- Banyak fakta tak terduga yang ditemukan tentang latar belakang para pelaku bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, keluarga Dita Oepriarto (47).

Dita dikenal sebagai sosok yang santun dan ramah, bahkan pernah menjabat sebagai ketua RT selama 10 tahun. Begitu pula dengan sang istri, Puji Kuswati (43) yang pernah menjadi ketua PKK di RT yang sama.

Salah satu tetangga Dita tak mengira pria yang berprofesi sebagai distributor obat herbal ini adalah pelaku bom bunuh diri. “Terakhir saya ketemu kemarin, pulang dari musala. Dan beliau selalu menyapa, setelah itu tak berbicara banyak. Tapi selalu menyapa,” katanya.

Cara berpakaian keluarga yang tinggal di Wonorejo Asri, Rungkut ini juga biasa saja. “Kalau istrinya jarang keluar, tapi tak mencurigakan. Nggak pakai cadar juga, yang sering keluar adalah dua anaknya yang perempuan, main sepeda keliling komplek,” lanjut Unjung.

Sedangkan kedua anak laki-laki Dita selalu berboncengan menuju ke musala. Kelimanya dikenal rajin salat berjamaah di musala setempat.

Baik keluarga Dita maupun Puji pun syok dengan aksi yang mereka lakukan. “Kami sekeluarga syok, ibu dan bapak saya juga syok. Kami tak menyangka dia (Dita) melakukan itu,” kata Dentri, adik Dita saat ditemui detikcom di rumahnya.

Sayangnya, Dentri enggan bercerita banyak terkait kepribadian kakaknya. Dia berdalih sudah lama tak bertemu dengan kakak kandungnya itu.

Hanya, dia mengaku kesal atas ulah Dita yang dengan tega mengajak keempat anaknya melakukan aksi bom bunuh diri. Ditambah lagi, kini ketenangan keluarganya terganggu setelah menjadi sorotan banyak pihak terkait aksi Dita.

“Otak dia ditaruh mana, kok tega ngajak anak melakukan itu,” tuturnya.

Bahkan keluarga Puji tak bisa ditemui. Yang ada hanya perwakilan keluarga yang memberikan keterangan didampingi Kepala Desa Tembokrejo.

Mendengar kabar Puji Kuswati, sebagai pelaku terorisme bom bunuh diri, pihak keluarga langsung syok. “Semua masih syok, mereka baru tahu dari siaran berita tadi malam,” ungkap Rusiono, perwakilan keluarga.

Keluarga tidak pernah menduga nasib Puji Kuswati, beserta anak-anaknya, berakhir tragis. Keluarga makin prihatin karena mobil Toyota Avanza yang digunakan Dita untuk melakukan serangan bom di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jalan Arjuna, dibeli di Banyuwangi.

“Ini mungkin mobil yang ketiga yang diberikan ke Puji. Dua mobil sebelumnya dijual. Tidak jelas karena apa dijual,” kata Rusiono.

Kemudian, keluarga di Banyuwangi kembali membelikan mobil, tanpa diberikan BPKB. Mobil ini yang diduga digunakan untuk meledakkan bom di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS).

“Keluarga kecewa, karena dua kali dibelikan mobil, lalu dijual dengan alasan yang kurang jelas. Akhirnya, dibelikan lagi, tapi tidak diberi BPKB. Mobil itu yang diduga dipakai pelaku,” tambahnya.

Meski sejak kecil diasuh saudara orangtuanya di Magetan, kata Rusiono, keluarga di Banyuwangi selalu peduli dengan keluarga Puji Kuswati. Bahkan, pelaku sempat dibelikan rumah seharga Rp 600 juta di Surabaya. “Semua untuk kepentingan keluarga Puji. Sempat juga memberi kabar jika akan menjual rumahnya, katanya tidak jelas,” tambahnya.

Setelah jenazah Dita dan keluarganya dievakuasi, rencananya mereka akan dimakamkan di TPU Tembok Gede, Jalan Tembok, Gang Kuburan, Tembok Dukuh. Pemakaman ini letaknya tak jauh dari rumah orang tua Dita.

Namun sebagian warga menolak jika jenazah Dita dimakamkan di wilayah mereka. “Saya hanya dengar bisik-bisik, ada warga yang tak mau Pak Dita dimakamkan di sini,” ungkap Ketua RT 8 RW 1 Abdul Hamid.

Warga RW 1 Kelurahan Tembok Dukuh, Bubutan, Surabaya pun menggelar rapat untuk membahas rencana pemakaman Dita. Warga di lingkungan rumah orang tua Puji di Banyuwangi juga menolak menerima jenazah wanita ini. Mereka beralasan Puji bukan warga desa setempat.

“Puji bukan warga Banyuwangi. Ya, seharusnya ikut dengan suaminya di Surabaya untuk dimakamkan,” jelas Rusiono

Tak hanya itu, keluarga Puji sendiri pun tak berharap jenazah pelaku dan kedua anaknya itu dimakamkan di Banyuwangi. Meskipun punya hubungan darah, kata Rusiyoni, pelaku tidak lagi dianggap sebagai anggota keluarga. Sebab, puji sudah lama berpisah lantaran diasuh oleh saudaranya. Ditambah lagi keluarga sebelumnya tidak merestui hubungan dengan sang suami, Dita Oeprianto.

“Alasan lain, keluarga sebelumnya tak menerima perbedaan prinsip dan pandangan mengenai aliran yang dianut,” ungkapnya.

Begini Nasib Anak Pengebom yang Selamat

BOGOR DAILY– Pihak kepolisian akan mengupayakan pendampingan kepada anak-anak pengebom Surabaya dan Sidoarjo yang menjadi korban. Mereka nantinya akan diserahkan kepada keluarga, dengan syarat dan catatan khusus.

“Kita berikan pendampingan kepada para anak-anak pelaku. Semua orang tua sudah meninggal tinggal diberikan kepada siapa. Mungkin neneknya, adik, kakak, dengan catatan orang punya pemahaman waras,” ujar Kapolda Jawa Timur Irjen Machfud Arifin dalam konferensi pers di Mapolda Jatim, Selasa (15/5/2018).

Machfud menjelaskan sejumlah anak pengebom saat ini berada di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. Salah satunya baru saja menjalani operasi dan masih dalam pengaruh bius.

“Ada satu anak yang terlempar kemarin kita lakukan upaya medis operasi. Masih dalam pengaruh bius, mudah-mudahan sudah sadar,” kata Machfud.

Sejumlah anak yang menjadi korban pengeboman yang dilakukan orang tuanya adalah AR (15, anak kedua Anton), FP (11, anak ketiga Anton), dan GHA (11, anak keempat Anton). Mereka adalah anak Anton dalam peristiwa pengeboman di Rusun Wonocolo, Sidoarjo, Jatim.

Dari 3 anak Anton, 2 di antaranya dirawat di RS Bhayangkara. Mereka yang dirawat adalah FP dan GHA. Sedangkan satu bocah juga menjadi korban pengeboman di Polrestabes Surabaya.

Polisi Tindak Ormas yang Sweeping di Bulan Puasa

BOGOR DAILY-Selama bulan suci Ramadan, polisi meminta agar organisasi massa (ormas) tidak bergerak sendiri untuk melakukan penyisiran atau sweeping kepada tempat-tempat yang dianggap melanggar atau tetap beroperasi.

“Diharapkan tidak sweeping, jika ada pengerahan massa untuk sweeping kami tindak. Bila masyarakat menemukan adanya pelanggaran, silakan melapor kepada kami dan tidak segan akan kami tindak,” kata Kapolresta Bogor Kota, Komisaris Besar Ulung Jaya Sampurna, Selasa (15/5).

Ulung menjelaskan, kepolisian telah melakukan sejumlah operasi cipta kondisi jelang Ramadan seperti operasi miras dan narkoba.

Dia meminta masyarakat untuk melaporkan kepada polisi jika ditemukan adanya barang-barang terlarang selama berlangsungnya bulan Ramadan.

“Silakan diinformasikan ke kita apabila memang ditemukan ada miras dan segala macam laporkan ke kami,” kata Ulung.

Selain melarang ormas untuk melakukan aksi sweeping, Polresta Bogor Kota juga melarang masyarakat melakukan aksi kebut-kebutan dan balap liar.

Sebelumnya, tiga hari menjelang Ramadan, tempat hiburan malam (THM) di Kota Bogor dilarang beroperasi. Larangan tersebut akan terus berlaku hingga tiga hari setelah Idul Fitri 2018. Pengusaha yang membandel, siap-siap menerima sanksi hingga penutupan paksa oleh pemkot.

“Seluruh THM di Kota Bogor diminta setop beroperasi sementara. Terhitung mulai H-3 puasa sampai H+3 Lebaran, sesuai dengan surat keputusan (SK) Wali Kota Bogor,” jelas Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Bogor Fordinan.

Ia mengatakan, SK Wali Kota No 300.45-127/2018 itu sudah diedarkan kepada seluruh THM yang berjumlah 30 unit usaha, seperti tempat karaoke, biliar, pub, dan lainnya. Menurutnya, pelarangan setop beroperasi itu bukan pertama kali dan rutin setiap tahunnya jelang jelang Bulan Suci Ramadan.

Fordinan menilai, dengan pelarangan tersebut bukan bermaksud untuk menghambat usaha, namun diharapkan agar kegiatan hiburan pada malam hari dikurangi untuk menghormati bulan suci Ramadan.