Sunday, 12 April 2026
Home Blog Page 8937

Sekjen Peradi: FPI Tidak Perlu Kepung Candi Borobudur…

0

BOGORDAILY- Sekretaris Jenderal Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Sugeng Teguh Santoso, SH turut mengungkapkan keprihatinannya terhadap penderitaan kelompok minoritas Muslim Rohingya di Myanmar. Krisis kemanusiaan dan genosida yang dihadapi kelompok etnis Rohingya sungguh di luar prikemanusiaan.

Menurut pendiri LBH Keadilan Bogor Raya itu, krisis Rohingya merupakan krisis kemanusiaan dan bukan konflik agama. “Serangan terhadap warga sipil non kombatan etnik Muslim Rohingya adalah pelanggaran HAM berat dalam klasifikasi genosida dan kejahatan kemanusiaan,” ujar bakal calon Walikota Bogor 2018 itu seperti dilansir kabarmerdeka.com, tadi malam.

“Pelanggaran HAM berat dengan aktor militer tampak sangat nyata, karena itu mekanisme internasional melalui ICC [Mahkamah Pidana Internasional -red] dapat menjangkau pemerintah Burma [Myanmar] dengan pemeriksaan aktor-aktor pengambil keputusan untuk diadili dalam kejahatan HAM berat tersebut,” sambungnya.

Selain mengecam kebrutalan operasi militer Myanmar, aktivis yang disebut dengan panggilan “Sang Pembela” itu juga mengingatkan kepada masyarakat agar mewaspadai politisasi isu Rohingya oleh kelompok tertentu di dalam negeri untuk mencetuskan konflik SARA.
“Krisis Rohingya harus dicegah untuk dipolitisasi oleh kelompok-kelompok gerakan populis Islam agar tidak disalahgunakan sebagai alasan persekusi, diskriminasi dan tindakan balas dendam berbasis SARA di Indonesia,” terangnya.

Ia pun mendorong agar PBB dan ASEAN melakukan peran aktif dengan mengintervensi kasus tersebut melalui utusan khusus kepada pemerintah Myanmar. “Juga negara-negara yang bergabung dalam ASEAN harus mengambil peran aktif seperti yang sudah dilakukan oleh utusan Indonesia Menteri Luar Negeri Retno Marsudi,” sambungnya.

“Sekali lagi ini bukan konflik berbasis agama tetapi adalah kejahatan kemanusiaan, karena itu saya mengutuknya dan sekaligus mengajak saudara sebangsa melihat secara jernih masalah ini agar tidak timbul implikasi kebencian pada kelompok-kelompok tertentu di Indonesia yang diidentifikasi sama secara agama,” tegasnya.

Menyusul ketegangan bersenjata di Myanmar Barat itu, muncul rencana FPI Jawa Tengah yang akan mengepung Candi Borobudur. Menurut Sugeng, rencana tersebut hanya akan memperkeruh situasi di Indonesia.

“Itu adalah kelompok-kelompok populis Islam yang justru membuat keruh situasi Indonesia. Itu (pengepungan Candi Borobudur) tidak perlu. Dibubarkan saja kelompok-kelompok yang tidak ada nalar itu,” tutupnya. (bd)

Puncak Bebas PKL, Kios Pedagang Akhirnya Rata dengan Tanah

BOGOR DAILYRatusan bangunan pedagang kaki lima (PKL) diratakan di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor. Pembongkaran tersebut dilakukan dari Simpang Taman Safari Indonesia sampai simpang Gadog Selasa (5/9/2017).

Pembongkaran tersebut dilakukan terkait pelebaran jalan. Selain itu, diharap hal tersebut dapat mengurai kemacetan yang ada.

Usai dibongkar, nantinya PKL yang ada akan direlokasi ke titik yang telah disiapkan oleh pemerintah. Dalam pembongkaran tersebut 700 personil tergabung terdiri dari TNI, Polri, Satpol PP hingga Linmas.

“Targetnya ini selesai dalam satu hari,” kata Kabid Penegakan Perundang-undangan Daerah Satpol PP Kabupaten Bogor, Agus Ridho.

Sementara itu, pembongkaran dibagi menjadi empat tahap. Pembongkaran tahap selanjutnya akan dilakukan di Kampung Naringgul, Desa Tugu Utara, Cisarua. Sedangkan untuk tahap tiga dilakukan dari simpang Taman Safari sampai tugu perbatasan Cianjur. Dan pada tahap empat pihaknya akan menyisir banhunan yang tertinggal untuk dibongkar.

“Totalnya ada 1.300 bangunan mulai dari lapak PKL, vila dan bangunan lainnya,” pungkasnya.

Berikut foto-foto pembongkaran PKL di Puncak

Ketahuan… Kades Hambalang Peras Warga

BOGOR DAILY-Kades Hambalang, inisial ED, terjaring operasi tangkap tangan (OTT) personel Polres Bogor. Ia diciduk polisi lantaran diduga memeras seorang warga. Proses OTT terhadap ED berlangsung di sebuah rumah makan, Jalan Pajajaran, Bogor, Jawa Barat, Senin (4/9) kemarin, sekitar pukul 16.30 WIB. Petugas memergoki Kades ED menerima uang puluhan juta rupiah.

“Saat dilakukan penangkapan, kades sedang menerima uang sebesar dua puluh juta rupiah,” ucap Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Yusri Yunus via pesan singkat, Selasa (5/9/2017).

Yusri mengatakan kasus ini terungkap dari laporan warga yang mengaku diperas ED. Menurut Yusri, korban diperas sang kades lantaran tengah mengurus surat-surat oper alih tanah garapan seluas 2.224 meter persegi yang berada di Desa Hambalang.

“Untuk keparluan pengurusan surat-surat, Kades Hambalang meminta biaya sebesar 15 ribu rupiah per meter persegi atau sebesar 33.360.00 rupiah untuk keseluruhan,” tutur Yusri.

Korban sudah menuruti permintaan ED. Sudah dua kali korban memberikan uang dengan total jumlah Rp 12.360.000. “Namun, kades tetap meminta uang 33.360.00 rupiah,” kata Yusri.

Merasa dirugikan lantaran surat-surat masih ada di tangan ED, korban melaporkan kejadian tersebut kepada Polres Bogor. Polisi merespons laporan tersebut.

Singkat cerita, personel Polres Bogor menangkap ED saat korbannya menyerahkan uang. Dalam perkara ini, polisi memangakap ED dan sopirnya. Polisi turut mengamankan korban berinisial FM untuk didengar keterangan.  “Kita masih akan dalami dengan melakukan gelar perkara dan pengembangan pemeriksaan,” kata Yusri.

Polisi Buru Pistol Misterius yang Menewaskan PNS Cantik Tewas

BOGOR DAILY– Sampai saat ini polisi masih mencari barang bukti yang dipakai untuk menewaskan pegawai  BNN, INdria Kameswari. Kapolres Bogor AKBP Andi M Dicky berujar hingga kini terduga pelaku pembunuhan ibu satu anak ini belum mengungkapkan soal penyimpanan barang bukti berupa senjata api.

Indria yang juga pegawai rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) itu ditemukan tak bernyawa dengan luka tembak di tubuh di kontrakannya di Perum River Valley RT 01/RW 08, Desa Palasari, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor pada Jumat (1/9/2017) lalu.

“Senjatanya masih kami cari, keterangan pelaku berbelit-belit. Kami sudah cek ke tempat yang disebutkan pelaku tapi belum ditemukan,” ujar Kapolres Bogor, AKBP Andi M Dicky, Selasa (5/9/2017).

Lebih lanjut dia mengatakan, sejauh ini sudah tujuh orang saksi yang diperiksa penyidik Polres Bogor dalam kasus pembunuhan yang menimpa wanita yang pernah menjadi janda empat kali itu.

“Saksi dari tetangga dilokasi kejadian dan anak korban sudah kami periksa, saat ini ada sekitar tujuh orang,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal Budi Waseso tidak berkomentar banyak saat ditanya soal senjata api yang menewaskan Indria Kameswari (38), pegawai BNN di rumah kontrakannya di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.

“Terkait senjata itu kita tunggu hasilnya,” ujarnya usai memberikan pengarahan bahaya narkoba kepada mahasiswa Universitas Pakuan di Asrama Pusdikzi, Lawang Gintung, Kota Bogor, Selasa (5/9/2017).

Ia pun menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian terkait senjata api yang dipakai untuk membunuh korban.

Lebih lanjut pria yang akrab disapan Buwas itu mengatakan, pihaknya menyerahkan sepenuhnya kasus pembunuhan Indria Kameswari, pegawai BNN di Bagian Pendidikan dan Latihan (Badiklat) pusat rehabilitasi BNN Lido kepada pihak kepolisian.

“BNN sudah nenyerahkan segala sesuatunya sama pihak kepolisian, karena ranah pembunuhan itu tindak pidana murni, kejahatan itu yang menangani bukan BNN tapi kepolisian,” katanya.

Germo Gay Asal Maroko Diciduk di Puncak

BOGOR DAILY- Seorang pria asal Maroko yang diduga sebagai gremo homoseksual diamankan petugas. Ia ditangkap petugas Imigrasi Kelas I Bogor di sebuah kontrakan di Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Puncak Bogor.

Kapala Seksi Pengawasan dan Penindakan, Arief Haiziri Satoto, mengatakan bahwa pelaku berinisial N (33) selama menjadi pengungsi di kawasan Puncak ia juga menjelaskan bisnis seks sesama jenis.

“Dia menjadi perantara transasi antara pelanggan. Tapi kita juga curiga dia menjual dirinya ke turis Timur Tengah karena pengakuannya suka sama sesama jenis,” ujar Toto, Senin (4/8/2017).

Ia juga mengaku bahwa pihaknya menemukan dokumen yang tidak sesuai dengan pria berkulit putih itu yakni terkait jenis kelaminnya. “Di identitas UNHCR pria ini berjenis kelamin wanita namun aslinya pria. Diduga Germonya LGBT atau gay,” kata Toto.

Ia menyayangkan ulah para imigran yang kerap menyalahi aturan dengan beraktifitas di luar peraturan undang-undang yang berlaku serta meresahkan masyarakat. “Kantor imigrasi tak segan melaporkan ulah para imigran itu agar bisa dideportasi oleh Dirjen Imigrasi” katanya.

Sampai saat ini, Toto mengaku bahwa N masih ditahan oleh pihaknya di Kantor Imigrasi Klas I Bogor.

8 September, Tarif Tol Jagorawi Golongan I Dipukul Rata Rp6.500

BOGOR DAILY-Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sebut akan ada perubahan tarif pada transaksi di Tol Jakarta-Bogor-Ciawi (Jagorawi). Perubahan tarif tersebut menggunakan skema terbuka dengan hanya memberlakukan tarif sama untuk jarak jauh dan dekat.

Kepala BPJT Herry TZ mengatakan, pemerintah akan memberlakukan sistem terintegrasi. Di mana akan dilakukan perubahan untuk sistem transaksi Tol Jagorawi menjadi transaksi terbuka seluruh segmen dari Cawang-Ciawi dengan tarif tunggal dan satu kali transaksi. Dengan adanya perubahan ini maka transaksi GT Cibubur Utama dari Cimanggis Utama akan dihilangkan.

“Jadi kita mau hilangkan pintu Tol Cibubur Utama dan Cimanggis, itu hari-hari bisa macet sampai 7 kilometer (km). Untuk itu kita hilangkan dan kita buatkan sistem terbuka satu tarif, sama seperti di Karang Tengah, yang jauh dapat tarif lebih murah dan yang dekat dapat tarif lebih mahal,” ujarnya.

Herry mengatakan, nantinya penyelenggaraan tarif baru ini akan mengikuti Surat Keputusan Menteri PUPR. Di mana untuk tarif yang akan dikenakan sebesar tarif golongan I sebesar Rp6.500, golongan II sebesar Rp9.500, golongan III menjadi Rp13.000, golongan IV sebesar 16.000 dan golongan V Rp19.500.

Pengguna dari arah Jakarta ke Ciawi akan melakukan transaksi di off ramp (off ramp pay). Pengguna jalan tol dari arah Ciawi ke Jakarta melakukan transaksi di on ram (on ramp pay).

“Jadi tanggal 8 September nanti akan mulai diberlakukan. Usai Tol Jagorawi nanti ada Tol JORR, tapi tentu butuh waktu karena masalah pembangunannya,” ujarnya.

Hari Ini Digusur, Besok PKL Puncak Langsung Ditampung PHRI

BOGOR DAILY- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor memastikan Pedagang Kaki Lima (PKL) Puncak akan direlokasi ke lahan sementara setelah pembongkaran dilakukan. Ini menyusul kabar belum adanya kepastian lahan relokasi sementara yang dapat digunakan pedagang yang terkena dampak pembongkaran pada tahap pertama.

Bupati Bogor Nurhayanti mengatakan, PKL yang terkena dampak pembongkaran pada tahap pertama akan direlokasi satu hari setelah pembongkaran. Di antaranya ke Taman Wisata Matahari (TWM), The Ranch dan hotel yang tergabung dalam Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). “Setelah pembongkaran, mereka akan masuk ke TWM dan hotel,” kata Nurhayanti.

Nurhayanti menjelaskan, pelebaran jalan dilakukan karena pedagang memanfaatkan daerah milik jalan (damija). Namun sesuai Keputusan Presiden (Kepres) maka ia menjamin akan menata keberadaan pedagang. “PKL tidak digusur melainkan digeser. Oleh karenanya sudah ada langkah konkret yang dilakukan seperti memasukkan ke TWM, The Ranch dan hotel PHRI,” jelasnya.

 

Mantan Sekda Kabupaten Bogor ini menuturkan, sebenarnya pembongkaran ini baru tahap pertama dari Gadog hingga Cisarua. Namun ketika sudah masuk tahap kedua, para PKL nantinya akan direlokasi ke tanah milik PT Sari Bumi Pakuan dan PT PN Gunung Mas. “Sudah disiapkan lahan untuk relokasi secara besarnya di lahan yang mau jadi rest area,” ucapnya.

Dirinya menambahkan, rencana relokasi ini pun terus dimatangkan satuannya, termasuk satgas di tingkat kecamatan. Sehingga tidak mungkin jika pemerintah melakukan pembongkaran tanpa memberi solusi. “Walaupun banyak komentar tidak manusiawi, kita tetap memedomani aturan, Insya Allah. Sudah dan dilakukan secara maraton tiap hari, termasuk hari ini kita terus membahasnya,” ujarnya.

31 Oktober, Duit Cash Enggak Laku Bayar Tol di Bogor

0

BOGOR DAILY- Mulai Oktober 2017 PT Marga Sarana Jabar menerapkan sistem transaksi pembayaran menggunakan uang elektronik atau e-money di Bogor Outer Ring Road (BORR). Artinya, para pengguna tol mulai akhir Oktober nanti PT MSJ tidak lagi menerima transaksi pembayaran secara tunai.

Direktur Utama PT Marga Sarana Jabar (MSJ), Hendo Admojo menuturkan penerapan sistem transaksi menggunakan e-money merupakan suatu bentuk dukungan terhadap program Gerakan Nasional Non Tunai yang dicanangkan Pemerintah Pusat.

“Jadi untuk mengurangi uang tunai juga, karena mencetak uang itu pemerintah memerlukan biaya, tapi dengan adanya gerakan non tunai ini beban pemerintah tentu akan berkurang,” ungkapnya kepada wartawan di Kantor PT. MSJ, Jalan Tol Lingkar Luar Bogor, Senin (4/9).

Hendro menuturkan, dengan diterapkannya sistem secara elektronik tersebut juga membuat pihaknya tak perlu lagi menyiapkan sejumlah uang untuk kembalian.

“Dalam satu hari itu kami menyiapkan uang Rp 100 juta untuk uang kebalian, kalau udah e-money kami tidak perlu menyiapkan lagi duit cash,” jelasnya.

Selain itu, kata dia, diberlakukannya transaksi elektrik pun akan meminimalisir adanya antrean kendaraan yang kerap terjadi di setiap pintu tol. Kata dia, dalam transaksi elektronik hanya memerlukan 1-2 detik untuk masuk/keluar gate. Bila dibandingkan dengan layanan tunai, transaksi bisa mencapai lebih dari 5 detik untuk setiap transaksi.

Lebih jauh dia mengatakan bahwa, penerapan sistem tersebut terlebih dahulu akan dilakukan masa uji coba selama satu bulan atau batas waktu hingga akhir Oktober.

“Jadi kalau ada yang belum menggunakan e-money itu masih diberi kesempatan untuk membeli kartu dan mencoba mengisi ulang saldo di gardu tol,” tuturnya.

Setelah, sistem transaksi secara elektronik tersebut secara penuh akan diterapkan, November layanan pembayaran tol sepenuhnya menggunakan elektronik

Soal Macet, Bima Arya Sindir Warga yang Tidak Tertib

0

BOGOR DAILY- Selama kurang lebih empat tahun menjabat sebagai Wali Kota Bogor, Bima Arya masih memiliki pekerjaan yang hingga kini belum terselesaikan. Salah satunya masalah yang belum bisa terurai adalah soal kemacetan lalu lintas di Kota Bogor.

Bima mengaku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengatasi permasalahan ini. Namun, rendahnya tingkat kesadaran masyarakat dalam tertib berlalu lintas menjadi faktor utama penyebab kemacetan di Kota Bogor sulit teratasi.

“Kemacetan di Kota Bogor terjadi karena kultur masyarakatnya masih belum tertib. Padahal tertib itu penting, masyarakat harus cinta terhadap keselamatan lalu lintas di atas segalanya,” kata Bima, Senin (4/9/2017).

Orang nomor satu di Kota Bogor ini menekankan bahwa ketertiban dalam berlalu lintas harus dimulai sejak dini dan dari hal-hal yang kecil. Mulai dari menyeberang pada tempatnya, berhenti tidak sembarangan, memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM), menggunakan helm bagi pengendara motor, dan tidak menyalip sembarangan.

“Intinya tidak melanggar rambu-rambu lalu lintas, karena masalah kemacetan ini bukan hanya tanggung jawab Pemkot, tapi ini adalah tugas semua,” terang kader PAN ini.

Bima mengaku sedih bila melihat kondisi para pengendara kendaraan yang tidak sayang dengan diri dan jiwanya. Terlebih ketika ada pengendara yang belum cukup umur.

“Sampai saat ini, masih banyak warga atau sopir angkot yang berhenti sembarang di jalan. Ini kan miris, bagaimana kemacetan bisa teratasi kalau perilaku masyarakatnya seperti ini. Jadi ini semua persoalan kultur,” tegas ayah dua orang anak ini.

PNS Cantik yang Tewas Kenal Suami Lewat Facebook

BOGOR DAILY– Kematian pegawai Diklat BNN Lido, Indria Kameswari, masih menyisakan misteri. Pelaku yang ternyata adalah suami korban bernama Abdul Malik merupakan suami dari pernikahan kedua Indria. Hal ini dikonfirmasi pihak keluarga yang enggan disebutkan namanya.

Anggota keluarga Indria memberi keterangan bahwa Abdul Malik adalah suami kedua Indria. Keduanya saling berkenalan melalui Facebook dan menikah sekitar tahun 2012. “Indria kenal Akbar cuma dari Facebook, dan keluarga Akbar sangat tertutup,” ujar pihak keluarga Indria.

Dari pernikahan pertama, Indria memiliki seorang anak laki-laki yang sering dipanggil Gibran oleh keluarga. Indria dan suami pertama berpisah sejak anak pertama mereka balita. Sementara dari pernikahan kedua dengan Abdul Mlaik, Indria memiliki seorang balita berusia 3 tahun bernama Muti. Kabarnya pihak keluarga masih melakukan diskusi terkait pengasuhan kedua anak Indria.

Indria ditemukan tewas oleh anaknya di rumahnya di Perumahan River Valley, Bogor, Jawa Barat. Wanita berusia 38 tahun tewas ditembak oleh sang suami Abdul Malik, Jumat (1/9).  Peristiwa ini mengejutkan warga di sekitar perumahan, terlebih ketika kabar tewasnya Indria ini dilaporkan oleh anaknya yang masih berusia 3 tahun.

Tetangga yang kaget, kemudian masuk ke dalam rumah Indria. Mereka kaget menemukan wanita berkerudung tersebut sudah tergeletak dengan posisi tengkurap di dalam rumah dengan luka tembak di bagian punggung.

Penyelidikan pun dilakukan polisi, bekerja sama dengan BNN, tempat Indria bekerja. Tak butuh waktu lama, pada tanggal 3 September sekitar pukul 23.00 WIB, pelaku berhasil ditangkap oleh tim gabungan dari Polres Kabupaten Bogor, BNN dan Polda Kepulauan Riau, di kawasan Batam. Baik keluarga maupun tetangga Indria menyebut Akbar bekerja sebagai kontraktor.