Saturday, 11 April 2026
Home Blog Page 8952

Begini Kondisi Rumah Bupati Bogor Pertama di Nanggung

BOGOR DAILY– Sebuah rumah panggung masih berdiri di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Sekilas, bangunan seluas 1,12 meter itu terlihat kokoh. Tetapi saat dimasuki, dinding-dindingnya terlihat keropos. Bangunan tua yang sudah ditinggalkan sejak 69 tahun silam itu adalah rumah dinas Bupati Bogor pertama, Ipik Gandamana. Namun, kini hanya jadi museum tak terawat.

Rumah kayu di pelosok Kabupaten Bogor itu jadi saksi sejarah Pemerintahan Bogor. Pada 1946, bangunan itu paling menonjol di antara rumah sekitarnya. Sebab, rumah itu biasa di­tempati Ipik Gandamana.

Rumah itu pun sempat jadi pengungsian saat terjadi Agresi Militer II. Selama dua tahun, pada 1947-1949, pusat pemerintahan terpaksa dipindah ke Desa Malasari. Hingga perang usai, bangunan itu akhirnya ditinggalkan dan menjadi salah satu peninggalan sejarah di Desa Malasari.

“Dulu memang bupati pertama sempat tidur di sini. Ibaratnya ini tempat pengungsiannya. Tapi nggak lama, karena beliau kem­bali ke pusat kota,” ujar Sekretaris Desa Malasari Sukandar.

Tak hanya bangunan, perka­kas rumah tangga yang ada pun kini diabadikan menjadi salah satu cagar budaya. Mulai dari tempat duduk hingga kasur yang pernah dipakai bupati juga masih sama seperti 69 ta­hun silam. Bahkan, bakul nasi dan cobek untuk alat masak juga masih dipamerkan di se­buah meja dalam rumah dinas tersebut.

Sekdes mengungkapkan, bangunan itu memang sudah keropok karena sudah terlam­pau lama. Namun, pemerintah desa sempat memugarnya pada 2013. “Itu juga bantuan dari Gubernur Jawa Barat,” ungkapnya.

Blak-blakan Politik Uang Jelang Pilkada Bogor 2018

BOGOR DAILY–  Jelang Pilkada Kota Bogor, fenomena politik uang jadi obrolan sejumlah politisi. Inipula jadi sorotan Wakil Ketua DPRD Kota Bogor Jajat Sudrajat. Menurutnya, politik uang di tiap gelaran Pilkada memang benar adanya.

“Pemilih dengan tigkat ekonomi dan pendidikan rendah menjadi pemicu money politik. Hal ini biasanya lebih rentan di wilayah pedesaan. Lain halnya di perkotaan yang lebih memilih calon berdasarkan figur tanpa embel-embel materi,” kata dia, Minggu (20/8/2017).

Politisi PKS ini menilai, cara untuk meminimalisir politik uang dalam event-event politik adalah dengan meningkatkan taraf ekonomi masyarakat, salah satunya dengan komitmen demokrasi.

“Demokrasi kerakyaatan ditentukan dengan komitmen anggaran, kalau komitmen anggaran fokus ke pada kerakyataan maka money politik bisa ditekan,” tambahnya.

Untuk itu, lanjut Jajat, dibutuhkan komitmen semua pihak, baik wali kota maupun pemimpin partai politik dalam menekankan persoalan tentang politik uang ini.

“Komitmen juga harus dari para pendidik yang tidak henti-hentinya mengedukasi kepada masyarakat agar tidak melakukan money politik. Dengan komitmen itu bisa menekan money politik,” terangnya.

Sementara itu, Ketua KPU Kota Bogor, Undang Suryatna mengatakan, undang-undang telah menyatakan ada unsur pidana, paling sedikit 36 bulan paling lama 42 bulan. Dengan denda Rp 200 juta atau denda Rp 1 miliar paling tinggi.

“Itu untuk perorangan ataupun partai politik. Sebetulnya undang-undang sudah membarikade. Saya kira sanksi pidana kalau betul-betul diterapkan, ke depan tidak akan terjadi lagi,” ujarnya.

Lawan Malaysia, Tim Sepak Takraw Putri Terus-terusan Dicurangi

0

BOGOR DAILY– Cobaan seakan tak pernah berhenti mendera kontingen Indonesia ketika mengarungi SEA Games 2017. Setelah permasalahan non-teknis terkait bendera terbalik, kini masalah lain juga terjadi di dalam lapangan. Tim Sepak Takraw Putri Indonesia menjadi korbannya setelah merasa dicurangi oleh wasit ketika berhadapan dengan tuan rumah Malaysia dalam partai final yang berlangsung di Indoor Stadium Titiwangsa, Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (20/8/2017) malam.

Peristiwa itu terjadi ketika laga memasuki set kedua. Saat Indonesia unggul 16-10, para pemain merasa dikerjai wasit asal Singapura setelah servis yang mereka lakukan sering digagalkan. Akibatnya, tim Indonesia melakukan protes keras dengan melakukan walk-out (WO) dari arena.
Kejadian itu disaksikan langsung oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi. Usai pemain meninggalkan lapangan, Imam pun menghampiri mereka yang terlihat lunglai. “Saya melihatnya, apalagi kalian juga ada di sana. Tapi kenyataannya beginilah. Yang ingin sportif dan fair play, ternyata tak direspon dengan baik. Ini kecurangan yang luar biasa. Kalian tidak sendiri, ada saya di sini. Tetap semangat,” ujar Imam.
“Olahraga itu sportif, jujur, dan adil. Sangat jahat kalau kemenangan diraih dengan cara curang. Kali harus terus semangat. Karena di depan kalian masih banyak yang harus dibela,” sambungnya.
Pada kesempatan sama, asisten pelatih Tim Sepak Takraw Putri Indonesia, Abdul Gani, menyatakan indikasi kecurangan wasit yang memimpin sejatinya telah terlihat sejak awal laga. Akan tetapi, hal itu semakin nyata manakala memasuki set kedua. “Jadi ketika mau servis pertama dibatalin, sedikit lagi (servis), batal. Sedangkan dia (Malaysia), tidak ada batal. Kalau sedikit main batal, gimana anak-anak main. Ini sudah diatur,” tegasnya.
“Sebenarnya dari set pertama sudah ada indikasi. Alasan pembatalan (servis), karena kakinya terangkat. Tim kita ditekan terus dari awal supaya Malaysia menang. Tidak normal ini pertandingan. Kita ‘kan pelatih jadi sudah biasa tahu hal-hal yang begini,” lanjutnya.
Hingga saat ini belum diketahui hasil akhir pertandingan tersebut. Akan tetapi, tim Indonesia sudah dipastikan tak akan melanjutkan pertandingan setelah memilih meninggalkan arena

Polisi Sebut Adik Perempuan Bos First Travel Punya Pacar Cewek

0

BOGOR DAILY– Direktur Keuangan PT First Anugerah Karya atau First Travel Travel, Siti Nuraidah Hasibuan alias Kiki Hasibuan diduga memiliki pacar seorang perempuan.

Kabar tersebut diketahui ketika polisi menggeledah sebuah rumah di kawasan Kebagusan Dalam, Jakarta Selatan. Berdasarkan informasi dari sekuriti, kalau Kiki sering membawa perempuan yang diduga pacarnya ke rumah itu.

” Kekasihnya akan diperiksa juga untuk mengetahui apakah ada aset lainnya,” kata Kanit V Subdit V Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Ajun Komisatis Besar Polisi M Rivai Arvan.

Rivai mengatakan, kerudung yang digunakan Kiki hanya sebatas ketika kerja saja. Tapi, ketika sudah selesai bekerja, Kiki berpenampilan layaknya seorang laki-laki.

” Tapi kalau sudah diluar dilepas jilbabnya rambutnya jambul kelaki-lakian,” ujar dia

Saat ini, polisi telah menetapkan Kiki sebagai tersangka bersama bos PT First Anugerah Karya atau First Travel, Andika Surachman dan Anniesa Desvitasari Hasibuan.

https://www.instagram.com/p/BX-4jR3AEqe/?taken-by=korbanfirsttravel

Adik Ayu Azhari Nikahi Miliarder Cantik Bandung, Ini Maharnya

0

BOGOR DAILY– Lukman Azhari, adik bungsu Ayu Azhari, Sabtu 19 Agustus 2017 ini resmi mempersunting Medina Zein, pebisnis sukses asal Bandung. Ijab Qabulnya yang digelar tadi siang, dihadiri oleh keluarga kedua belah pihak.

Prosesi penting nan sakral  itu dilaksanakan di hotel mewah yakni Hotel Fairmont Jakarta. Ayu Azhari yang pernah memiliki konflik dengan adik bungsunya itu nampak tak hadir. Sedangkan Sarah Azhari dan Rahma Azhari turut hadir dan menyaksikan momen spesial adik bungsu mereka. Hal tersebut terlihat dari postingan mereka di Instagram story yang menampilkan prosesi Ijab Qabul Lukman dengan Medina.

Rahma Azhari bahkan merasa bahagia adik bungsunya itu bisa mendapatkan istri yang cantik.  Menikahi seorang pengusaha sukses, bungsu dari keluarga artis fenomenal itu membawa sederet mahar pernikahan mahal untuk pasangannya. Lukman juga berujar bahwa istrinya adalah sosok yang sangat baik dan ia beruntung bisa meminangnya.

“Ada uang sesuai tanggal perkawinan (Rp.19.082.017), terus ada seperangkat alat salat, perhiasan dan logam mulia. Meidina sosok yang baik, baik bukan hanya kepada saya tapi ke kakak-kakak saya juga,dia baik sama karyawan dan disayang karyawan, ya beruntung lah saya,” ungkap Lukman Azhari

Kepada wartawan, Meidina berujar pertemuan mereka berawal karena pekerjaan. Meidina mengaku malu dan segan saat pertama kali dipertemukan dengan keluarga Azhari itu. Namun ternyata ia disambut baik dan cocok dengan keluarga azhari.

Selain menceritakan pertemuan perta,a mereka, Meidina membocorkan rencana bulan madunya.”Pertama deg-degan banget, kita mah dari Ciwidey suka rada awal-awalnya malu terus apa namanya ya Alhamdulillah ya diterima. Rencana September bulan madu ke Turki atau Jepang, belum tahu ambil yang mana,” pungkas Meidina.

Stres Orang Tua Poligami, Leher Ditusuk-tusuk Sampai Tewas

BOGOR DAILY– Azan Magrib baru berkumandang. Keheningan di Kampung Bantarjatikaum, Kelurahan Bantarjati, Kecamatan Bogor Utara, mendadak pecah. Seorang wanita keluar dari rumah lantai dua di RT 02/12. Malam itu, Ariati berteriak ketakutan sambil meminta tolong warga. Nyawanya nyaris melayang di tangan ponakannya, Fahrudin (27), saat berebut gunting.

Kerumunan warga terlihat di Gang Mawar. Sebagian warga sudah berkumpul sambil membicarakan soal tragedi berdarah di rumah Fahrudin, seorang pemuda yang nekat menusukkan pisau ke lehernya hingga tewas. “Ih ngeri lihat lehernya sampai mau putus,” celetuk tetangganya yang berbisik membicarakan kasus bunuh diri Fahrudin.

Kematian tragis Fahrudin, cucu dari nenek Acih, jadi bahan perbincangan. Tak ada yang mengira jika lelaki itu nekat mengakhiri hidupnya dengan mengenaskan. Di rumah sang nenek di lantai dua, Fahrudin melukai dirinya sendiri dengan pisau dapur.

Sebelumnya sang bibi, Ariati, sempat beradu mulut dengan Fahrudin begitu tahu Fahrudin memegang gunting. Aar, sapaannya, berniat mengambil gunting itu karena takut sakit jiwa Fahrudin kambuh. Tetapi Fahrudin justru mendaratkan cekikan di leher sang bibi. “Memang pihak keluarga sudah tahu kalau dia agak stres. Makanya bibinya mau rebut gunting itu. Tapi malah dicekik, untung bisa lolos,” kata Istri Ketua RW 12, Sunarti (47).

Namun tak disangka, saat sang bibi coba melarikan diri, Fahrudin justru seperti kerasukan sambil berlari ke lantai atas dengan sebilah pisau digenggamnya. Di kamar itulah lelaki yang sudah mengalami gangguan jiwa sejak berusia 17 tahun itu menusuk-nusukkan pisau ke lehernya. “Sebenrnya keluarga sudah berusaha menghalangi. Tapi dia keburu tewas,” ujar Sunarti.

Usut punya usut, Fahrudin yang selama ini membantu ayahnya mencari pakan adalah korban perceraian kedua orang tuanya. Itu pula yang membuatnya mengalami stres. Hal ini pun diungkapkan Sunarti yang mengaku sudah mengenal almarhum sejak kecil. Ia tak menampik orang tuanya bercerai, Fahrudin jadi memiliki kepribadian aneh.

Bahkan, kata dia, lelaki itu pernah berlarian keliling kampung dengan kondisi bugil sampai akhirnya dibawa ke dokter sama orang tua perempuannya. “Fahrudin sempat sekolah sampai SMP tapi akhirnya putus. Kalau lagi pikirannya sehat, dia suka ngobrol dengan warga,” katanya.

Senada, tetangga korban, Iin menambahkan, korban memang mengalami gangguan jiwa sejak umur 17 tahun. Sejak ibunya dengan orang tuanya pisah, sudah jarang ke rumah bapaknya. Apalagi bapaknya tinggal di kontrakan bersama istri mudanya dengan satu anak. “Makanya dia tinggal di rumah Nenek Acih sama bibinya dan pamannya. Pihak keluarga sudah menerima musibah ini. Jenazah korban pun langsung dibawa ke rumah orang tua perempuannya,” bebernya.

Terpisah, Kapolsek Bogor Utara Kompol Wawan Wahyudi mengaku langsung mengecek ke lokasi bersama anggotanya begitu mendapat laporan dari warga bahwa ada yang bunuh diri. Ia pun membenarkan bahwa korban mengalami depresi sejak orang tuanya bercerai.

Ketika ia mengamuk, pihak keluarga selalu mengamankan barang-barang berbahaya. Sedangkan saat kejadian, pihak keluarga seperti kecolongan. “Korban dibawa ke rumah sakit guna dilakukan autopsi. Rencananya akan dimakamkan di rumah orang tua perempuan di Desa Sukaraja, Kecamatan Sukaraja. Sedangkan barang bukti yang diamankan yakni berupa baju dan pisau yang digunakan untuk bunuh diri,” pungkasnya.

Politik Uang Ciptakan Pemerintah Berwatak PHP

Oleh: Hj. Ade Yasin, SH, MH

(Calon Bupati Bogor 2018)

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Bogor yang berlangsung 2018 masih satu tahun lagi. Namun, sejak saat ini sangat perlu diingatkan mengenai politik uang atau jual beli suara yang terjadi sesaat sebelum atau sesaat sesudah hari pencoblosan. Kebetulan pula saya menjadi salah satu narasumber dalam Silaturahim dan Dialog Politik yang diselenggarakan Bogor Political Club di Savero Golden Flower Hotel, Kota Bogor, Sabtu (19/8/2017).

Dalam acara yang dipandu Helmy Yahya dan Effendy Gazali itu juga tampil sebagai narasumber yakni Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Sjarifuddin Hasan, Wali Kota Bogor Bima Arya, anggota DPR RI Fraksi PKS Habib Aboe Bakar Al-Habsy, Wakil Wali Kota Bogor yang juga Plt Ketua DPC Partai Demokrat Kota Bogor Usmar Hariman, Jajat Sudrajat dan Haikal Hasan. Tema yang dipilih adalah “Memenangkan Pilkada 2018-2019 Tanpa Money Politics, Mungkinkan.”

Soal politik uang atau money politics itu perlu menjadi perhatian, karena dalam acara itu tergambar jelas dampak negatif politik uang. Saya sendiri berkesimpulan, calon atau kandidat yang berhasil memenangi pilkada karena politik uang akan menjadi pemerintah berwatak PHP atau pemberi harapan palsu.

Mengapa, karena pemenang akan merasa tak perlu lagi bertanggung jawab terhadap rakyat karena sudah membayar melalui praktik politik uang yang diberikan sesaat sebelum atau sesudah hari pencoblosan, baik dalam bentuk sembako, barang tertentu atau sejumlah uang yang jumlahnya mungkin hanya Rp50.000 atau Rp100.000.

Pemerintah berwatak PHP seperti ini sulit diharapkan bisa bersikap sensitif apalagi responsif terhadap berbagai persoalan yang dihadapi rakyat. Jangankan menyejahterakan rakyat, mengentaskan kemiskinan yang ada saja akan sulit diharapkan. Pemerintah berwatak PHP cenderung hanya asyik dengan diri sendiri dan kelompoknya. Melalui politik uang kedaulatan tak lagi berada di tangan rakyat, akan tetapi berpindah ke tangan rezim pemilik uang.

Kandidat yang melakukan praktik politik uang kemungkinan dilatarbelakangi sejumlah persoalan. Antara lain karena kandidat tidak siap membuat program yang bisa menjawab secara akurat persoalan riil yang dihadapi rakyat, baik di bidang sosial ekonomi (pengentasan kemiskinan), bidang keagamaan (meningkatkan kesolehan masyarakat) atau tidak siap dengan konsep pembinaan basis ekonomi rakyat seperti pengelolaan UMKM, BUMDes dan sejenisnya atau tidak siap dengan konsep pengelolaan kelompok tani, tidak siap dengan konsep sinergi dengan investor lokal, regional, nasional atau internasional dan lain sebagainya.

Kandidat yang juga mudah terjerumus ke dalam praktik politik uang adalah kandidat yang merasa tidak siap atau lemah dalam melakukan komunikasi politik yang baik dengan rakyat. Karena merasa tidak siap, maka politik uang dijadikan sebagai jalan pintas menarik simpati pemilih. Ada pula kandidat yang menjadikan politik uang sebagai jalan pintas karena sebelum bertanding sudah merasa kalah bersaing dengan kandidat lain. 

Selain itu, ketidakmampuan menggerakkan mesin partai juga berpotensi mendorong seorang kandidat mengambil jalan pintas melakukan praktik politik uang untuk meraih kemenangan secara tidak etis dan tidak elegan. Masih ada beberapa faktor yang berpeluang mendorong seorang kandidat melakukan praktik politik uang yang tidak saja membahayakan demokrasi, tapi juga membahayakan masa depan bangsa.

Pada pilkada yang dilaksanakan serentak di 101 daerah pada 2017 masih begitu banyak praktik politik uang. Tak kurang Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) menemukan sebanyak 600 praktik politik uang. Ini berarti praktik politik uang hampir terjadi di semua daerah yang sedang menyelenggarakan pilkada.
Dalam kerangka ini, kita harus menyambut baik Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada yang mengakomodir tidak pidana tidak saja bagi kandidat pelaku praktik politik uang, tetapi juga bagi pemilih yang menerima uang dari kandidat.

Pidana bagi kandidat pelaku politik uang secara jelas diatur dalam Pasal 187A Ayat (1) UU Nomor 10 Tahun 2016 berbunyi, setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan melawan hukum menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya sebagai imbalan kepada warga negara Indonesia baik secara langsung ataupun tidak langsung untuk mempengaruhi pemilih agar tidak menggunakan hak pilih, menggunakan hak pilih dengan cara tertentu sehingga suara menjadi tidak sah, memilih calon tertentu atau tidak memilih calon tertentu sebagaimana dimaksud pada Pasal 73 Ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 36 (tiga puluh enam) bulan dan paling lama 72 (tujuh puluh dua) bulan dan denda paling sedikit Rp200.000.000 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp1.000.000.000 (satu miliar rupiah). Dalam Ayat (2) disebutkan pidana yang sama diterapkan kepada pemilih yang dengan sengaja melakukan perbuatan melawan hukum menerima pemberian atau janji sebagaimana dimaksud pada Ayat (1).

Guna menciptakan Pilkada Kabupaten Bogor yang jujur dan adil dan dalam mencegah terpilihnya pemberitahuan berwatak PHP sangat perlu bagi semua pihak, seperti ulama, ustadz, para guru, pejabat pemerintahan, pengusaha terutama yang memiliki banyak karyawan, untuk ikut menyosialisasikan undang-undang tersebut, terutama pasal yang mengatur pidana bagi calon pemilih penerima politik uang.

Aktivis mahasiswa, LSM, pers dan kelompok masyarakat kritis lainnya di Kabupaten Bogor sangat perlu turut mengambil peran dalam berbagai bentuk untuk mengawasi jalannya proses pilkada. (*)

Berani Injak Foto Presiden, Siswa SMK Ini Akhirnya Ditangkap

0

BOGOR DAILY– Warganet yang mengunggah foto menginjak foto Presiden RI Joko Widodo ke akun Facebook ditangkap  aparat Sat Reskrim Polrestabes Medan. Setelah ditangkap,  pemilik akun Ringgo Abdillah itu ternyata seorang siswa SMK berinisial MFB (18).

“Ia ditangkap karena seringkali mengunggah hal yang provokatif dan melanggar Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Dia ditangkap pada Jumat (18/8) malam,” kata Kabid Humas Polda Sumatera Utara Komisaris Besar Rina Sari Ginting.

Ia mengatakan, MFB kerapkali mengunggah tulisan maupun foto yang menghina Presiden Jokowi, Polri, dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Satu unggahannya yang viral di kalangan pengguna media sosial ialah menginjak foto Jokowi. Dalam foto itu, MFB juga memuat tulisan ingin menginjak secara langsung kepala sang presiden.

Rina menuturkan, MFB saat diperiksa sudah mengakui menjadi pemilik akun yang menyebarkan ujaran kebencian dan penghinaan simbol negara tersebut.

“Pelaku mengakui dengan menggunakan facebook tersebut telah melakukan penghinaan terhadap Presiden RI dan Kapolri dengan cara mengedit gambar Presiden dan Kapolri, serta dengan menggunakan kata-kata yang tidak benar atau fitnah,” terangnya.

Selain menangkap MFB, polisi juga mengita dua unit komputer jinjing, tiga ponsel, satu piranti penyimpan data, dan dua router yang  digunakan pelaku untuk menggelar aksinya.

“Selanjutnya, kami akan berkoordinasi dengan ahli bahasa dan ahli ITE untuk mendalami kasus ini,” tandas Rina.

 

Begini Ultimatum Dirjen SDA ke Pendaki Gede Pangrango…

BOGOR DAILY- Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Lingkungan Wiratno langsung sambangi Kantor Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP). Upaya ini untuk memantau keberadaan salah satu taman nasional tertua di Indonesia.

“Upaya penyelamatan kawasan konservasi itu tidak bisa sendiri, sehingga saya langsung turun ke TNGGP untuk menyemangati personil TNGGP,” jelasnya.

Menurutnya, semua komponen harus diajak terlibat untuk menjaga kawasan konservasi. Pihaknya menegaskan, agar pendaki harus ikut bersama – sama menjaga kawasan Gunung Gede Pangrango.

“Kami tekankan agar pendaki harus diberi penyuluhan untuk bisa menjaga lingkungan. Sehingga jika ditemukan pendaki yang terbukti membuang sampah sembarangan dia harus diblacklist dan tidak boleh mendaki,” tegasnya.

Menurutnya, jika kawasan TNGGP terjaga lingkungan sekitar kawasan tersebut akan terjaga. Pasalnya Gunung Gede ini salah satu kawasan penyumbang air bersih di Jabar.

“Masyarakat yang di 144 desa sekitar TNGGP kerap mendapatkan air dari Gunung Gede, sehingga mereka harus ikut aktif menjaganya. Jadi keberadaan salah satu taman nasional tertua di Indonesia itu bisa terjaga dengan baik,” tukasnya

Yuk, Intip Serunya Festival Kuliner Merah Putih

BOGOR DAILY– Peserta dan pengunjung antusias memeriahkan Festival Merah Putih di di Kodim 0606 Jl Jendral Sudirman, Pabaton, Bogor Tengah, Minggu (20/8/2017).  Acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati HU ke-72 RI di mana didalamnya juga terdapat berbagai kegiatan lomba.

Leni (54) warga Jakarta Timur Pondok Bambu  yang jauh-jauh datang dari Jakarta juga antusias menonton kegiatan ini. “Bagus mas, acara ini sangat mendidik dan menambah wawasan kita tentang kuliner,” ujarnya, Minggu  (20/8/2017).

 

Dalam kegiatan tersebut dimeriahkan lomba kuliner, battle cooking, lomba tumpeng dan lapis talas terpanjang. Dalam sambutannya Dandim 0606, Letkol. Arm. Doddy Suhadiman, selaku penanggung jawab mengatakan tujuan acara ini untuk mengangkat dan memperkenalkan kuliner Indonesia khususnya kuliner khas Bogor.

“Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan mengangkat atau memperkenalkan kuliner khas kota bogor kita,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, kegiatan Battle Cooking ini dinilai oleh juri Chef Hendro Dewan Pembina Komunitas  Tukang Masak Bogor. Menurutnya dengan adanya acara seperti ini akan menambah wawasan masakan kuliner nusantara terutama kuliner khas Bogor.

 

“Saya mendirikan komunitas tukang masak di Bogor, komunitas kita sudah berumur dua tahun, semoga dengan acara ini komunitas kita bisa semakin termotivasi,” ungkapnya.