Friday, 10 April 2026
Home Blog Page 8959

Mudahkan Investor, Pemkot Bikin Perwali Penataan Ruang

BOGOR DAILY-Pemerintah Kota (Pemkot) Bo­gor saat ini belum memiliki Peraturan Dae­rah (Perda) tentang Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), sehingga tak jarang banyak bangunan di Kota Bogor yang melanggar. Hal itu membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor berinisiatif membuat Peraturan Wali Kota (Perwali) tentang Penataan Ruang agar nantinya ada peraturan yang menga­tur bangunan secara detail.

Sekretaris Daerah Kota Bogor Ade Sarip mengatakan, pihaknya membuat perwali dengan tujuan memberikan kepastian ke­pada investor dalam membangun Kota Bogor ke depan. Bahkan dengan tim yang dibentuknya Badan Koordi­nasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) Kota Bogor hampir selesai dalam membahas pena­taan ruang.

“Perwali penataan ruang se­gera diterbitkan, karena pembangunan di Kota Bogor semakin gencar. Diharapkan segera selesai dan akan ditan­datangani wali kota” ujarnya. Selain itu, menurut dia, Per­wali ini dianggap penting se­belum rampungnya Peraturan Daerah (Perda) mengenai Ren­cana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) yang akan disahkan akhir 2017. Perwali tersebut nantinya akan memberikan kepastian kepada investor yang akan ataupun sudah investasi di Kota Bogor.

Menurut Ade, mengenai Ren­cana Detail Tata Ruang (RDTR) harus menunggu Perda RT/RW terlebih dulu. Perwali nantinya akan berisi poin aturan yang mengatur permasalahan di Kota Bogor. “Dengan adanya Perwali tersebut, maka regu­lasi dan setiap masalah dapat dibaca dengan sudut yang sama oleh berbagai dinas ter­kait,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bogor Erna Herawati menjelaskan, per­wali ini membahas beberapa hal untuk menyamakan persepsi kaitan dengan perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian tata ruang di Kota Bogor.

“Misalnya rumah sakit yang sifatnya umum, rumah sakit umum itu apa nah itu dijelaskan lebih detail. Jadi untuk Per­wali mengenai penataan ruang tidak sembarangan asal selesai. Tetapi dimatangkan dan dip­roses dengan baik,” paparnya.

Terpisah, anggota Komisi C DPRD Kota Bogor Yus Ruswan­di mengungkapkan, Pemkot Bogor tidak bisa membentuk Perwali jika tidak mempunyai Perda tentang RDTR. Karena dalam penataan ruang sesuai UU 26/2007 landasannya harus Perda bukan Perwali. “Tidak bisa ini aturannya tidak kuat, adanya perwali tersebut ketika RTRW kita habis dan bisa diter­bitkan perwali,” katanya.

Politisi Golkar ini juga mem­pertanyakan langkah pemkot yang tidak melanjutkan pem­bahasan RDTR. Padahal pem­kot dapat membuat RDTR sehingga tak harus ada per­wali yang dikeluarkan. “RTRW kita masih panjang karena sampai 2031 dan sekarang tinggal RDTR-nya,” pungkasnya.

Sweeping STNK Mati ke Rumah-rumah Tak Berlaku di Bogor

BOGOR DAILYDi balik rencana aparat kepolisian mendatangi rumah Wajib Pajak (WP) yang menunggak pajak kendaraan nampaknya tak berlaku di Jawa Barat, khususnya Kabupaten Bogor. Tidak adanya kebijakan di pemerintah daerah jadi pe­micunya.

Sekadar diketahui, bebera­pa hari terakhir Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Met­ro Jaya Kombes Pol Halim Panggara mengaku akan mendampingi petugas pajak mendatangi rumah WP yang menunggak pajak kendaraan. Itu merupakan tindak lanjut dari kebijakan pemutihan pajak yang segera berakhir pada akhir Agustus. ”Ya (kami) mendatangi (rumah) juga, kita mendampingi Badan Pa­jak,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Kasat Lantas Polres Bogor AKP Hasby Ristama meyakinkan jika di Kabupaten Bogor hal tersebut tak akan dilakukan. Kebijakan tersebut hanya dilakukan di Polda Metro, sedangkan di Jawa Barat tidak. “Tak ada di tempat kami. Beda wilayah beda kebijakan, tergantung pemerintah dae­rahnya,” katanya.

Hal senada disampaikan Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Humas) Polda Jabar Kombes Yusri Yunus. Menurut dia, rencana tersebut belum diterapkan di Jawa Barat. “Belum ada tuh,” ujar­nya.

Sedangkan di Kabupaten Bogor, kesadaran warga mem­bayar pajak terbilang rendah. Hingga saat ini, jumlah WP yang belum membayar pajak kendaraan masih cukup ba­nyak. Cabang Pelayanan Pendapatan Daerah (PPD) Provinsi Jawa Barat wilayah Kabupaten Bogor mencatat jumlahnya mencapai 649.578 kendaraan.

Kepala Cabang PPD Wi­layah Kabupaten Bogor Ateng Kusnandar mengatakan, tung­gakan pajak yang belum te­realisasi dari Kendaraan Tidak Melakukan Daftar Ulang (KTMDU) hingga Juli 2017 mencapai 649.578 kendaraan bermotor. Yakni, roda empat sebanyak 34.000 kendaraan dan sisanya roda dua hampir 615.000 kendaraan. “Saat ini penghasilan pajak anggaran masih di angka 63 persen. Kita menargetkan triwulan ketiga ini penghasilan pajak naik menjadi 75 persen. Jadi sekitar 12 persen lagi untuk akhir September,” kata pria yang akrab disapa Ateng itu.

Untuk Pajak Kendaraan Ber­motor (PKB), lanjut dia, be­rada di angka Rp500 miliar dari kendaraan roda dua dan empat. Namun itu memang mayoritas kendaraan roda dua. Sehingga ditargetkan bisa mencapai 100,4 persen se­perti tahun sebelumnya. “Se­moga seperti tahun lalu, kita hampir 100,4 persen dari 34 Cabang untuk PKB. Namun untuk Bea Balik Nama Ken­daraan Bermotor (BBNKB2) memang cukup tinggi sudah hampir 86 persen,” ujarnya.

Untuk mencapai target yang sudah ditetapkan, pihaknya bakal menambah outlet pajak, terutama di Kabupaten Bogor bagian Barat. Tujuannya, WP tak terfokus membayar di kantor Samsat Cibinong. “Un­tuk angka KTMDU mudah-mudahan bisa berkurang dengan outlet layanan PKB ini,” katanya.

Begini Susahnya Bangun Sekolah di Ujung Gunung Suling Rumpin

BOGOR DAILY- Berdirinya bangunan sekolah di Kampung Haniwung, RT 09/03, Desa Rabak, Kecamatan Rumpin, yang dinantikan para siswa tidaklah mudah. Sebab, lokasinya yang berada di atas gunung membuat warga harus menggotong material bangunan dengan melewati jalanan berbatu yang terjal dan curam sejauh lima kilometer.

 

Sepintas tidak ada yang berbeda dari pembangunan gedung sekolah Kelas Jauh SDN Rabak 1 dengan sekolah lainnya. Namun jika dilihat dari kondisi sekolah yang berada di atas gunung, butuh kerja ekstra untuk membawa bahan bangunan sampai di lokasi tujuan.

Jalur menanjak menghiasi perjalanan membawa bahan bangunan. Akses jalan yang kurang lebih selebar dua meter ini memaksa kendaraan berat tidak bisa melaluinya. Kendaraan roda dua jadi alternatif mengangkut bahan bangunan ke atas gunung tersebut. “Perjuangan untuk menaikkan barang ini. Kalau bawa bahan bagunan kita gunakan ojek di sini,” kata Ketua RT 09, Kampung Haniwung, Dedi Setiawan (41).

Pihak sekolah dibantu warga sekitar harus menyewa sebanyak 35 sepeda motor untuk mengangkut bahan bangunan selama dua hari. “Dihitung per bahan bangunan, kayak satu hebel itu bisa Rp2.500, satu semen Rp15.000 dan besi per batang Rp4.000,” ucap lelaki yang dipercaya menjadi mandor dalam pembangunan ini.

Menurutnya, untuk tukang bangunan sendiri dipekerjakan dari luar Kampung Haniwung. Sementara untuk kenek bangunan diambil dari warga sekitar. Pekerjaan bangunan sendiri membutuhkan waktu kurang lebih 120 hari. “Biasanya tukang dibayar per hari Rp150 ribu dan keneknya Rp100 ribu,” imbuhnya.

Dirinya berharap setelah pembangunan ini selesai, para murid bisa belajar dengan tenang tanpa harus dihantui kekhawatiran terjadi sesuatu. “Keluhan selama ini kalau hujan datang mereka harus bubar. Sekarang bangunan sudah jadi dan lebih bagus, mereka tenang belajarnya,” tutupnya.

Jualan Kue Lagi ‘Ngehits, Selebriti Serbu Bogor

BOGOR DAILY– Bisnis kue di ka­langan artis kini jadi tren. Banyak selebriti yang menyerbu ko­ta-kota besar untuk men­jajakan usahanya, termasuk di Kota Bogor.

Sejumlah artis banyak yang menyerbu kota ini untuk membuka bisnis kuliner. Mulai dari Shireen Sungkar, Syahrini hingga aktor tampan Ali Syakieb yang kema­rin baru membuka toko kuenya. ­

Tak cuma jago berakting, Ali Syakieb juga coba peruntun­gan bisnis kue di Kota Hujan. Ia meresmikan Cake Ala Ali di Jalan R E Martadinata Nomor 8, Kota Bogor, kemarin. Ali yang tampil dengan seragam chef dengan bendera merah putih menempel di dada kanannya, melayani lang­sung masyarakat yang datang untuk membeli kuenya.

“Makanya tema kali ini kita buat senasionalis mungkin. Karena kita sebagai generasi penerus tentu harus bisa men­gisi kemerdekaan dengan ses­uatu yang positif,” ujar Ali.

Sebelumnya, Ali juga menya­pa warga Kota Bogor dengan iring-iringan motor gedenya dari Tugu Kujang menuju R E Martadinata, lengkap dengan atribut merah putih. Pemeran lham dalam sinetron Kantini D’Hijabers ini sengaja memilih Kota Bogor untuk melebarkan sayapnya di bidang bisnis.

Menurutnya, Kota Bogor su­dah dikenal sebagai surganya kuliner. Ditambah lagi dengan Ali yang lahir dan besar di Bogor, membuat Ali merasa ingin berkontribusi terhadap perkembangan bisnis kuliner di Kota Hujan ini. “Kenapa tidak kita berkontribusi dalam memajukan wisata kuliner Kota Bogor,” ujarnya.

Ia pun mengelak jika disebut mematikan usaha lokal di Kota Hujan. “Saya positif saja dengan berbagai hal, termasuk usaha kue ini. Dengan bisnis ini juga saya bisa buka lapangan kerja warga Bogor kan,” ujarnya.

Ali berharap macam-macam kue yang ada di Cake Ala Ali bisa diterima semua kalangan ma­syarakat. Karena selain rasanya fa­miliar, harganya juga terjangkau.

Sebelum Ali, pesinetron Shireen Sungkar sudah lebih dulu membuka bisnis kuliner di Bogor pada 2 April 2017 dengan nama Bogor Rain­cake. Sedikitnya ada empat jenis kue yang tersedia di Bogor Raincake. Di antaranya vanilla cheesecake, green tea ovaltine cake, red taro cake dan crispy chocoolate cake.

“Untuk harga vanilla dan red taro Rp65.000, sedangkan green tea ovaltine Rp68.000. Kalau crispy chocoolate Rp66.000,” kata Manajer Operasional Bo­gor Raincake Vita.

Begitu juga dengan penyanyi kondang Syahrini yang mem­buka toko kue dengan nama besar Princess Cake Syahrini di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Tanahsareal, Kota Bogor.

Meski begitu, belum lama ini sebuah akun gosip justru membeberkan spekulasi bahwa hampir semua artis yang mem­buat bisnis kue kekinian itu bernaung dalam satu ikatan. Beberapa waktu lalu, akun Instagram @tante_rempongg mengunggah video di mana kebanyakan owner kue kekin­ian itu berkumpul. “Tuh kan 1 manajemen, pasti rasanya sama,” tulis @tante_rempongg.

Suporter Persikabo Ngamuk ke Tengah Lapangan, Lihat Fotonya

BOGOR DAILY– Suasana Stadion Persikabo berubah mencekam saat pertandingan Partai Pekan ke-11 Grup 2 Liga 2 Indonesia 2017 antara Persikabo vs Perserang Serang. Suporter Persikabo merangsek ke tengah lapangan begitu tahu pemain kebanggaannya kalah 1:3.

Di menit 73, pertandingan terpaksa berhenti menyusul aksi para suporter yang mengamuk lantaran kecewa terhadap hasil pertandingan. Mereka juga menganggap wasit berlaku tidak adil.

Pantauan Metropolitan, kejadian ini bermula saat Persikabo dalam situasi tertinggal 1-3 dari anak-anak Serang. Di awal menit 70 saat Munadi cs mulai membangun serangan, salah seorang pemain Persikabo dilanggar pemain lawan namun wasit tak bergeming dan tetap melanjutkan pertandingan. Sejak itu, tim pelatih yang berada di kursi cadangan pemain mulai menghampiri komite wasit dan melayangkan protes.

Suasana makin panas saat pemain Perserang terlihat mengulur-ulur waktu. Suporter pun mulai hingga mengeluarkan cacian ‘wasit goblok, wasit goblok,’ berulang kali.

Tiba-tiba elemen suporter Persikabo yang berada di tribun selatan mulai melempari botol minuman ke lapangan dan beberapa di antaranya mulai merangsek masuk serta berusaha mengejar wasit yang memimpin pertandingan.

Suasana makin tak terkendali saat elemen suporter Persikabo yang berada di tribun utara menyalakan flare hingga membuat stadion menjadi berkabut dan makin tak kondusif. Pertandingan pun distop.

Presiden Bragass, salah satu elemen pendukung Persikabo, Untoro menyayangkan terjadinya aksi tersebut. Menurutnya manajemen harus bisa bertanggung jawab dan melakukan evaluasi menyeluruh untuk menyelamatkan Laskar Pajajaran (julukan Persikabo, red) dari keterpurukan.

“Protes dari suporter kan wajar, karena kalah terus dan tak kunjung bangkit. Ditambah wasit yang tidak becus, wajar suporter marah dan masuk ke dalam lapangan,” katanya.

Untoro menambahkan, manajemen harus bisa memperbaiki situasi di dalam tim yang bisa menambah motivasi pemain agar tampil baik dan mampu beri kemenangan. “Harus bisa membuat situasi di tim dan pendukung kondusif. Kalau penampilan anak-anak baik, bisa menang, tentu pendukung pun tidak akan sampai bertindak seperti ini,” tegasnya.

Ini Foto-fotonya.

 

 

Amanah Kesejahteraan dari Pejuang Kemerdekaan

Oleh: Hj. Ade Yasin, SH, MH
(Calon Bupati Bogor 2018)

Seorang lelaki tua menyandarkan sepeda bututnya di parkiran balai desa. Karena baru saja datang, lelaki itu akhirnya duduk di antrean paling belakang. Satu jam sudah ia duduk mengantre di tempat itu.

Beberapa saat kemudian, tibalah kakek itu di antrean paling depan. Ia mengeluarkan sebuah map berwarna merah yang ia bungkus dengan kresek berwarna hitam dan menyerahkannya kepada si petugas kantor desa. Si petugaspun langsung memeriksa satu per satu isi map merah milik kakek tadi.

“Maaf pak, syarat-syarat bapak kurang lengkap. Bapak harus meminta surat keterangan tidak mampu dari ketua RT dan RW. Baru bapak bisa kembali lagi ke sini,” kata si petugas sambil menyerahkan kembali map merah milik kakek.

Lelaki tua itu tetap berusaha tersenyum. Sudah lebih dari sejam ia duduk menunggu disana namun ternyata semua itu sia-sia. Ia kembali menuju sepeda onthel tuanya yang diparkir diantara beberapa mobil dan sepeda motor.

Kakek tua yang sehari-hari bekerja sebagai kuli panggul di pasar itu dulunya adalah seorang pejuang kemerdekaan. Sudah banyak pengalaman pahit manis yang dialaminya. Ia telah kehilangan banyak sekali teman-teman seperjuangannya. Tapi kematian teman-temannya tersebut tidaklah sia-sia.

Kakek itu sekarang tinggal bersama istrinya di sebuah rumah sangat sederhana. Tapi sayangnya sang istri sekarang sedang sakit keras dan dirawat di rumah sakit. Sementara si kakek sedang mengusahakan pengobatan gratis bagi istrinya tersebut.

Saat diperjalanan pulang, tiba-tiba angin berhembus semakin kencang. Suara petir mulai terdengar dan awanpun berubah menjadi hitam tanda akan turun hujan. Dan benar saja, hujan turun dengan derasnya. Si kakek memutuskan untuk berteduh di emperan kios karena tak ingin map yang dibawanya tersebut menjadi basah dan rusak.

Ternyata dari tadi lelaki tua itu berteduh di depan warung sate. Pantas saja perutnya merasa semakin lapar. Ia ingat bahwa terakhir ia makan sudah sejak tadi malam. Sedangkan sekarang sudah jam dua lebih. Sekilas ia menengok ke dalam warung sate tadi, di dalamnya banyak orang sedang makan dengan lahapnya.

Lelaki tua itu pun tersenyum. Ia merasa bangga karena perjuangannya dulu saat mengusir kompeni dari tanah airnya tidaklah sia-sia. Bila ia dan teman-teman seperjuangannya dulu gagal mengusir penjajah, mungkin mereka tak akan bisa menikmati suasana seperti ini.

Kakek tua itu kemudian mengalihkan pandangannya ke televisi yang dari tadi di setel oleh seorang pedagang kaset VCD yang berjualan tak jauh darinya. Televisi itu sedang menyiarkan seorang berpakaian jas hitam rapi dengan mengenakan dasi sedang berpidato di sebuah ruangan yang kelihatannya sangat mewah.

Si lelaki tua itu menebak bahwa orang yang sedang muncul di televisi tadi pastilah seorang pejabat negerinya. Dalam pidatonya, orang itu mengatakan bahwa rakyat di negerinya sudah kehilangan rasa nasionalisme. Rakyat dinegerinya juga dikatakan sudah kehilangan rasa cinta terhadap tanah airnya.

Sejenak ia berpikir merenungi kata-kata pejabat itu. Dalam hati ia bertanya, siapa sebenarnya yang tidak punya nasionalisme. Rakyat negerinya atau para pejabat itu?

Pertanyaan tersebut terus memenuhi pikirannya. Namun ia sadar ia harus pergi sekarang. Istrinya di rumah sakit pasti sudah menunggunya dan hujan pun kini telah reda. Lelaki tua itu kembali mengayuh sepedanya.

Sesampainya di rumah sakit, kekek tua itu memarkirkan sepedanya dan langsung bergegas menuju kamar tempat istrinya dirawat. Entah kenapa kakek itu selalu merasa tak tenang setiap jauh dari istrinya. Ia akan memastikan dulu bahwa istrinya tak membutuhkan bantuannya, baru ia akan berangkat lagi untuk mengurus surat keringanan ke ketua RT dan RW.

Saat sampai di depan kamar tempat istrinya dirawat, ia mendapati bahwa kamar sudah dalam keadaan kosong. Pintu kamarpun dalam keadaan terkunci sehingga tak bisa dibuka, padahal kakek itu yakin ia tidak salah kamar. Dalam hati ia berpikir bahwa mungkin istrinya telah sembuh sehingga dipindahkan ke tempat lain oleh dokter. Namun untuk memastikan, si kakek mencari seorang dokter yang tadi pagi memeriksa keadaan istrinya. Si kakek pun menanyakan kepada dokter tadi dimana istrinya sekarang berada. Dokter pun menatap wajah si kakek dengan mata berkaca-kaca.

“Maaf pak, kami sudah berusaha sebisa kami tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Istri bapak sudah meninggal sejam yang lalu.” Kata si dokter yang tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.

Si kakek pun meneteskan air matanya. Tubuhnya bergetar hebat. Map merah yang dibawanya jatuh dari pegangan tangannya. Pandangannya pun menjadi semakin kabur dan perlahan menjadi gelap gulita. Si kakek pun sekarang sudah tak ingat apa-apa lagi.

Keesokan harinya dua buah gundukan tanah baru muncul di kuburan. Yang satu bertuliskan Achmad bin Dasuki, seorang veteran tua yang sehari-hari bekerja sebagai kuli panggul. Sedangkan nisan yang satunya lagi bertuliskan Aisyah binti Ngatijo, istri dari sang veteran pejuang.

Meskipun sang veteran miskin itu sekarang telah tiada, namun di negerinya, negeri dimana kayu dan batu bisa jadi tanaman, masih banyak orang yang bernasib sama bahkan lebih tragis darinya. Mereka semua banyak yang rela bekerja keras membanting tulang memeras darah hanya sekedar untuk makan sekali sehari.

Demikian penggalan cerita yang saya baca dalam sebuah tulisan. Betapa mirisnya negeri ini. Bila kita semua tidak menghargai jasa para pejuang kemerdekaan beserta keluarganya.

Padahal bagi para pejuang, tidak ada yang lebih membanggakan mereka baik yang gugur di medan perang maupun yang tidak, selain memenuhi cita-cita mensejahterakan rakyat Indonesia dan menggapai kejayaan Bangsa Indonesia. Walaupun mereka kini tidak melihat, tetapi menyejahterakan rakyat adalah amanah para pejuang yang wajib dijalankan oleh setiap pemimpin.

Jejak-jejak perang kemerdekaan di Bogor, masih terlihat secara kasat mata. Istana Bogor, Balaikota Bogor di Jalan Juanda, Gedung Badan Pertanahan Nasional Bogor di Jalan Harupat, Kantor Pos di Jalan Juanda, Markas Kodim 0606 di Jalan Sudirman, Markas Korem 061 Suryakencana di Jalan Merdeka, Gedung Penelitian Bio Teknologi Pertanian di Jalan Taman Kencana, Hotel Salak di Jalan Juanda, Istana Bogor dan lain sebagainya adalah tinggalan sejarah pendudukan penjajah di Bogor.

Raden Saleh, Kapten Muslihat, Mas Ace Salmun Raksadikaria, KH Abdullah bin Nuh, KH Sholeh Iskandar, Mayor Oking, Nyi Raja Permas (ibu dari pahlawan nasional Raden Dewi Sartika), adalah beberapa pahlawan Bogor yang namanya sekarang dijadikan nama jalan. Bahkan kakek saya sendiri HM Syaripudin juga merupakan pejuang kemerdekaan yang kini namanya abadikan dalam nama jalan di Bogor. Ini bukti bahwa perang juga berkecamuk hebat di Bogor.

Bagi para pahlawan Bogor, baik yang namanya dijadikan nama jalan, maupun semua pejuang Bogor yang gugur dan sekarang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Dreded, gedung-gedung itu mungkin tidak lebih sebagai simbol kepongahan penjajah. Gedung-gedung itu memang harus dimanfaatkan karena bernilai ekonomis. Tetapi, cita-cita dan amanah yang tersirat dari kerelaan pejuang mengorbankan nyawa di medan perang, tentulah jauh lebih tinggi ketimbang gedung-gedung hebat itu.

“Kemerdekaan adalah jembatan emas yang di seberangnya kita bisa menyempurnakan kita punya masyarakat,” kata Bung Karno saat berpidato di hadapan Sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indoesia (BPUPKI) tanggal 1 Juni 1945.

Di wilayah admisnitratif Kabupaten Bogor, Tuhan menganugerahkan kekayaan yang melimpah. Tanahnya luas  mencapai 2.664 km persegi, sebuah daerah yang luasnya lebih tiga kali  luas negara Singapura yang hanya 719,1 km persegi, atau sekitar empat kali lebih luas dari luas DKI Jakarta yang hanya 661,5 km persegi.

Jumlah pendudukan Kabupaten Bogor sekitar  5,7 juta tahun 2016, terpaut sedikit dengan jumlah penduduk Singapura sebesar 5,5 juta tahun 2015, dan jauh lebih sedikit dibanding penduduk Jakarta yang mencapai  12,7 juta  tahun 2015.

Jumlah penduduk di lahan yang sangat luas seperti Kabupaten Bogor, adalah berkah. Di atas lahan yang begitu luas, teramat banyak yang bisa dilakukan untuk mensejahterakan warga Kabupaten Bogor.

Belum lagi potensi pengembangunan yang bisa dikembangkan di atas lahan yang luas dan subur. Saat ini sudah berkembang sejumlah komoditas unggulan untuk usaha sektor perikanan, antara lain: komoditi ikan hias dan benih ikan lele telah ditetapkan sebagai komoditi unggulan kawasan minapolitan Kabupaten Bogor. Sedangkan di sektor peternakan sudah berkembang komoditi yang menjadi unggulan seperti sapi perah dengan turunannya berupa susu Yoghurt dan bahan makanan lainnya.

Untuk usaha sektor tanaman pangan dan hortikultura, komoditi yang sudah menjadi unggulan adalah Talas Bogor, Nanas Gati, Pisang Rajabulu dan Manggis Raya. Keempat komoditi tersebut sudah ditetapkan sebagai komoditi unggulan khas Kabupaten Bogor.
Sektor industri yang sudah berkembang adalah industri air kemasan dan olahan karet, produk alas kaki, anyaman bambu dan kerajinan bunga kering.

Sektor pertambangan juga sudah berkembang yakni usaha penggalian dan pertambangan dengan pangsa pasar tersendiri. Namun masih terdapat sejumlah komoditi tambang yang menjadi unggulan antara lain: emas, perak, andesit, tanah liat dan batu kapur. Kemudian, untuk sektor pariwisata bahkan terdapat objek wisata eksotis di ratusan titik di Kabupaten Bogor.

Potensi yang besar ini harus diakui belum terkelola secara baik. Apabila sudah terkelola secara baik maka jumlah 9,6 persen dari 5,7 juta rakyat Kabupaten Bogor persen yang masih berstatus miskin, dalam waktu singkat bisa langsung terentaskan sekaligus meningkatkan kesejateraan rakyat.

Yakni, bagaimana pemimpin menggerakan seluruh stakeholder Kabupaten Bogor untuk masing-masing mengambil bagian mengelola potensi pembangunan yang besar itu. Sebab tidak ada pemimpin yang bisa melakukan semuanya sendiri. Melainkan harus merajut kebersamaan atau gotong-royong  dengan seluruh stakeholder.

Investor regional, nasional dan internasional dipastikan akan terus masuk ke Kabupaten Bogor.  Pemerintah Kabupaten Bogor dan juga rakyat Bogor, tidak mungkin melarang investor masuk karena ada perundang-undangan yang mengaturnya. Sebaliknya harus menggelar karpet merah. Ini menjadi tantangan yang tidak kalah pentingnya. Bagaimana agar investor nasional, regional dan asing yang akan masuk ke Bogor itu mensejahterakan rakyat, bukannya menjadi bencana bagi warga Kabupaten Bogor sebagaimana terjadi pada masyarakat Melayu di Singapura, atau yang dialami sebagian masyarakat Betawi di Jakarta.

Momen peringatan Hari Kemerdekaan ke-72 Republik Indonesia sekarang ini kita diingatkan oleh semangat para pejuang kemerdekaan yang pantang menyerah. Semangat pantang menyerah ini merupakan modal yang sangat berharga, dan harus terus dihidupkan sebagai sumber motivasi untuk membangun kebersamaan dan bekerja lebih keras untuk membangun Kabupaten Bogor.

Oleh sebab itu, kita perlu mengheningkan cipta mendoakan arwah para pejuang, bersyukur dan sebagai pemimpin wajib memberikan perhatian pada seluruh elemen masyarakat. Termasuk perhatian kesejahteraan untuk keluarga besar para pejuang kemerdekaan.

Di era sekarang ini, pekik “Merdeka” para pejuang, juga haruslah diadopsi menjadi pekik pembangunan. Khusus di Kabupaten Bogor, pekik “Merdeka” haruslah diadopsi menjadi pekik: “Bangkit Bersama Bogor Milik Kita !!!” (*)

Bu RT Nyambi Jadi Germo, Tiga Gadis Diobral Rp400 Ribu

BOGOR DAILY– Seorang ibu rumah tangga di Kabupaten Bogor, ditangkap polisi lantaran diduga jadi germo yang memperdagangkan gadis di bawah umur. Tersangka Ny Sl (47 tahun) ditangkap polisi di Hotel Bumi Parahyangan, Jl Ciawi Kabupaten Bogor, Jumat (11/8) sekitar pukul 22.30 WIB.

Selain menangkap tersangka, polisi juga mengamankan tiga gadis d ibawah umur masing-masing AS (16), TP (14) dan SF (16). Ketiga gadis dibawah umur tersebut diorba; murah tersangka dengan tarif Rp 400 ribu.

Kebid Humas Polda Jabar Kombes Pol Drs Yusri Yunus, praktik eksploitasi secara seksual terhadap gadis di bawah umur ini dilakukan tersangka melalui media sosial. Kepada para calon konsumen, tersangka memberikan foto-foto gadis tersebut. Jika sudah sepakat dengan pilihan konsumen, tersangka akan membawanya ke hotel yang telah disepakati.

“Tersangka mendapatkan keuntungan Rp 100 ribu dari satu gadis di bawah umur. Sedangkan para gadis mendapatkan Rp 300 sekali kencan” ujar dia kepada para wartawan, Ahad (13/8).

Penangkapan tersangka berawal dari laporan masyarakat. Berbekal informasi tersebut, polisi kemudian melakukan penyelidikan hingga akhirnya menangkap tersangka dan ketiga gadis di bawah umur. Setelah ditangkap, polisi membawa terrsangka ke Polres Bogir untuk dilakukan penyidikan.

Terrsangka dijerat dengan Pasal 2 UU No 21 Tahun 2007 tentang Perlindungan Anak dan Perempuan. Sementara ketiga gadis d ibawah umur dimintai keterangan senagai saksi dan kemudian dilakukan pemanggilan terhadap orangtuanya. “Gadis tersebut menjadi korban praktik perdagangan mansuia,” kata Yusri.

Rumah Bos First Travel di Sentul Dipasangi Garis Polisi

BOGOR DAILY– Penyidikan kepolisian atas dugaan penipuan calon jemaah umrah dilakukan dengan memeriksa berbagai berkas dari Kantor First Travel. Polisi menyita sejumlah berkas untuk memastikan aliran dana sekaligus data korban gagal umrah, termasuk rumah pemilik First Travel juga turut diperiksa.

Di Kantor First Travel yang berada di kawasan Cimanggis, Depok, polisi juga  mengambil berbagai barang bukti pada Sabtu, 12 Agustus 2017 malam. Polisi masih akan melakukan penggeledahan lanjutan lantaran banyaknya berkas dalam kantor tersebut.
Dalam penggeledahan, polisi menyita dokumen jumlah calon jemaah umrah yang sudah mendaftar serta paspor. Polisi juga telah mengamankan tiga unit kendaraan milik pemilik First Travel. Sejauh ini baru diperiksa sekitar 1.300 dokumen pendaftar umrah.
Tak hanya itu, rumah pemilik First Travel yang berada di kawasan Sentul, Bogor Jalan Taman Venesia Selatan juga tak luput dari pengawasan polisi. Kediaman Andika Surachman dan Anniesa Desvitasari Hasibuan tersebut sudah diberi garis polisi.
Pasangan suami istri yang merambah bisnis perjalanan ibadah umrah sejak 2011 itu ditangkap polisi pada 9 Agustus 2017 atas dugaan penipuan dan pencucian uang

PCNU Bogor Ikut Tolak Full Day School, Ini Alasannya…

BOGOR DAILY– Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bogor menolak program full day school  atau lima hari sekolah yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy.

“Kalau tujuannya untuk pendidikan duniawi, saya menolak karena lebih banyak mudaratnya,” ujar Ketua PCNU Kabupaten Bogor Romdoni, di Cipelang, Cijeruk, Bogor, Sabtu, 12 Agustus 2017.

Dia menyatakan, lembaga pendidikan agama Islam selama ini mampu mengubah karakter bangsa dengan baik. Tak hanya itu, lima hari sekolah tidak akan bermakna sebagai pendidikan karakter jika madrasah diniyah dan taman pendidikan Alquran (TPQ) gulung tikar.

Menurutnya, yang lebih dikhawatirkan full day school  adalah akan membuat anak tidak bisa belajar mengaji atau menghafal Alquran yang rutin mereka lakukan di majelis taklim maupun di madrasah.

“Karena sudah terlalu capek bersekolah seharian, anak-anak jadi malas belajar mengaji. Habis magrib pasti buat istirahat sambil nonton televisi,” terang dia.

Dengan begitu, anak-anak akan jauh dari pengetahuan agama sehingga berimplikasi pada menurunnya moral dan mental anak bangsa.

“Kalau di sekolah formal belajar agama hanya seadanya saja, berbeda dengan di majelis atau madrasah diniyah, lebih mendalam,” terang

Perjalanan Buya Syafii Naik KRL ke Istana Bogor Jadi Viral

BOGOR DAILY Perjalanan Anggota Anggota Dewan Pengarah Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP), Ahmad Syafii Maarif  dari Jakarta menuju Bogor kemudian  dari Stasiun Bogor  melanjutkan jalan kaki menuju Istana Bogor untuk menghadiri Peluncuran Program Penguatan Pendidikan Pancasila yang diresmikan Presiden Joko Widodo, kemarin, Sabtu, 12 Agustus 2017 menjadi viral di media sosial.

Foto yang diunggah netizen memperlihatkan Syafii Maarif  sedang duduk menunggu KRL di stasiun. Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang pria, sementara nampak tiga pelajar dalam sebangku itu. Langit masih terlihat gelap.

Sebuah foto lainnya, menampilkan Buya Syafii Maarif dengan kemeja batik lengan panjang  duduk dalam KRL dengan kedua tangannya menopang tongkat hitam, mantan Ketua PP Muhammadiyah itu di apit lelaki yang tertidur dan seorang yang nampaknya tak tahu siapa pria 82 tahun di sebelahnya itu.

Anita Yossihara dalam akun Facebook-nya menuliskan status: Pagi-pagi buta, Buya Syafii Maarif ke Bogor menggunakan KRL. Buya harus menempuh perjalanan paling cepat 1,5 jam berkereta dari Jakarta ke Stasiun Bogor, di lanjut ke istana Bogor jalan kaki untuk menghadiri Program Penguatan Pendidikan Pancasila jam 08.00. kami saja yang muda masih ngos-ngosan kalau jalan kaki dari Stasiun Bogor ke Istana Kepresidenan Bogor… Sehat terus ya Buya.

Kisah perjalanan Buya Syafii Maarif untuk menghadiri Program Penguatan Pendidikan Pancasila di Istana Bogor itu banyak mendapat apresiasi netizen