Friday, 24 April 2026
Home Blog Page 7174

Ternyata! Windows 10 Akan Ikut Pensiun

Bogordaily.net – Windows 10 adalah bentuk dari kesempurnaan dari windows yang rilis dari sebelumnya, yaitu windows 8 dan windows 8.1

Windows 10 diperkenalkan pada 30 September 2014 dan rilis pada 2015 yang akan berakhir pada 14 oktober 2025.

Menurut halaman Windows home and pro, Microsoft akan Trus mendukung Windows 10 semi-Annual Chanel hingga 2025.

10

Microsoft telah mengerjakan seri dari Windows pada waktu lalu yaitu Windows 10X yang dirancang untuk perangkat layar ganda tetapi dibatalkan.

Rencananya Microsoft juga akan merilis versi terbaru dari Windows yaitu Windows 11 pada tanggal 24 juni mendatang.

Microsoft akan memperkenalkan desain yang bagus di Windows 11 yang mempunyai Tema tampilan Microsoft Office juga dapat berjumpa dengan tema Windows yang sudah diatur.***

Oksigen Langka, DPRD Kota Bogor Minta Pemkot Bergerak Cepat

Bogordaily.net – Kondisi pandemi Covid-19 d Kota Bogor kian mengkhawatirkan. Selain telah ditetapkannya sebagai zona merah, jumlah warga yang meninggal saat menjalani isolasi mandiri (isoman) juga cukup tinggi.

Berdasarkan catatan yang dimiki oleh Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Bogor Endah Purwanti, jumlahnya telah mencapai 52 orang.

Untuk itu, Endah pun meminta Pemerintah Kota Bogor dan tim Satgas Covid-19 Kota Bogor bergerak cepat menekan angka kematian saat menjalani isolasi mandiri ini.

Sebab berdasarkan informasi yang berhasil ia himpun, warga yang meninggal saat menjalani Isoman disebabkan oleh tidak tertangani di rumah sakit yang sudah penuh.

Selain itu juga karena minimnya oksigen yang seharusnya menjadi salah satu cara untuk mencegah kematian.

“Terkait krisis oksigen. Kami di Komisi IV mendorong Pemkot membentuk satgas oksigen di bawah BPBD. Karena ini bencana extraordinary. sehingga Dinkes bisa fokus pada tracing dan treatment, sedangkan BPBD memastikan pasukan oksigen aman,” kata Endah.

Komisi IV DPRD Kota Bogor saat melakukan sidak di Kantor Dinas Kesehatan Kota Bogor, beberapa waktu lalu.
(Foto: Dok. Pribadi/Bogordaily.net)

Tak hanya itu, politisi PKS ini juga meminta agar Pemkot segera melakukan refocusing anggaran agar bisa dilakukan penganggaran tabung oksigen kecil untuk stok di masing-masing puskesmas.

“Pemkot juga bisa memaksimalkan dana CSR, lalu berkomunikasi juga dengan provinsi dan BUMD provinsi. Kalau perlu dana CSR dari perusahaan bisa difokuskan ke satgas untuk pengadaan oksigen dan obat,” papar Endah.

Didorongnya Pemkot Bogor untuk bergerak cepat bukan tanpa landasan. Sebab, dikatakan oleh Endah, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) memperbolehkan Pemerintah Daerah (Pemda) untuk mengutak-atik anggaran selama PPKM Darurat diberlakukan.

“Landasannya ada pada Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2021 mengatur kepala daerah mendanai PPKM Darurat lewat APBD. Kepala daerah diberi kewenangan untuk mengubah alokasi APBD jika butuh dana tambahan,” pungkasnya.****

 

 

Catat! Dikira Sehat Makan Tempe, Justru Berbahaya Banget Untuk Orang Kondisi Ini

Bogordaily.net – Siapa yang menyangka kalau tempe ternyata bisa berbahaya bagi tubuh. Selama ini tempe dikenal sebagai makanan sehari-hari orang Indonesia.

Hampir tiap hari kita bisa menemukan tempe tersaji di meja makan. Saat tanggal tua, makanan ini juga jadi andalan karena harganya yang murah.

Tapi, tahukah kalau makan tempe justru berbahaya banget untuk orang dengan kondisi ini. Harus dicatat supaya gak nyesel belakangan, seperti dilansir dari sajian sedap.

Bagi penderita Anemia yakni Kondisi ketika darah tidak memiliki sel darah merah sehat yang cukup.

Anemia yang disebabkan oleh kurangnya sel darah merah atau sel darah merah yang tidak berfungsi di dalam tubuh. Ini menyebabkan aliran oksigen berkurang ke organ tubuh.

Meski tempe dianggap bergizi, beberapa makanan ternyata tidak boleh dimakan secara berlebihan dan salah satunya adalah tempe.

Tempe memang dikenal rendah kalori. Ia juga dipercaya bisa mengendalikan kadar kolesterol dalam darah dan menormalkan tekanan darah tinggi.

Tetapi, mengonsumsi makanan yang terbuat dari kedelai terlalu sering juga tidak baik untuk kesehatan.

Hal ini bisa menyebabkan zat besi yang susah terserap dan berakibat anemia atau kurang darah.

Oleh sebab itulah, pada seseorang yang mengidap anemia tidak dianjurkan untuk mengonsumsi tempe secara berlebih.

Sementara itu, Penderita asam urat juga ternyata tidak boleh berlebihan mengonsumsinya.

Kelebihan atau kekurangan kadar asam urat dalam plasma darah ini sering menjadi indikasi adanya penyakit atau gangguan pada tubuh manusia

Melansir Health Line seperti dikutip dari Kompas dalam banyak kasus, penyebab pasti penyakit asam urat atau hiperurisemia tidak diketahui.

Dokter percaya kondisi itu mungkin terjadi karena kombinasi faktor keturunan, hormonal, dan makanan.

Sementara itu, melansir Buku Menu dan Resep untuk Penderita Asam Urat (2008) oleh Rita Ramayulis, DCN, M.Kes dan Ir. Trina Astuti, MPS., makanan sehari-hari lebih kurang mengandung 600-1.000 mg purin setiap harinya.

Pada seseorang yang memiliki faktor risiko penyakit asam urat atau pada kasus penderita asam urat, kandungan purin pada makanan sebaiknya dibatasi kira-kira 100-150 mg.

Berikut ini beberapa makanan yang mengandung purin tinggi (100-1.000 mg purin per 100 gram bahan) yang patut diwaspadai karena bisa menjadi makanan penyebab asam urat.

Diantara malan tersebut yakni, alkohol, bebek, angsa, ikan sarden, makarel, kerang, kepiting, jeroan, dan masih banyak lagi.

Nah, kacang kedelai sebagai bahan baku pembuatan tempe ternyata memiliki kadar purin sedang yang yaitu sekitar 9-100 mg purin per 100 gram bahan.

Namun, kalau diolah dengan cara digoreng atau ditambahkan bahan lain seperti garam, tempe bisa berubah jadi mengandung purin tinggi.

Sebab itu, penderita asam urat sangat disarankan untuk tidak mengonsumsi tempe sebagai olahan dari kacang kedelai itu sendiri.***

BNPB Beri Bantuan 20 Unit Oxygen Concentrator ke Kota Bogor 

Bogordaily.net – Di tengah kelangkaan oksigen yang kini masih dialami, Kota Bogor mendapatkan bantuan sebanyak 20 unit Oxygen Concentrator dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Oxygen Concentrator ini sebagai pengganti oksigen tabung untuk pasien Covid-19 yang membutuhkan.

Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim mengatakan, bantuan 20 unit konsentrator oksigen tersebut akan dialokasikan ke Rumah Sakit Perluasan RSUD Kota Bogor sebanyak 15 unit. Sementara sisanya dipergunakan di IGD RSUD Kota Bogor.

Oxygen

“Paling tidak dengan adanya oksigen konsentrator ini banyak warga Kota Bogor yang terbantu. Sementara kita masih menunggu pasokan oksigen yang seharusnya memang kebutuhannya sangat tinggi di RSUD,” kata Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim saat melihat langsung unit Oxygen Concentrator di RS Perluasan, GOR Padjajaran, Jumat 16 Juli 2021.

Dedie menyampaikan, kebutuhan oksigen di RSUD Kota Bogor sendiri membutuhkan setidaknya lebih dari 4,5 ton per-hari.

Itu semua untuk menangani pasien Covid-19 di sana. Di RSUD juga diperlukan sebanyak 210 tabung berukuran enam meter kubik.

“Jadi dengan kelangkaan dan kesulitan distribusi atau pasokan mengakibatkan penurunan kapasitas daya tampung. Sehingga mengakibatkan banyak orang melakukan isolasi mandiri,” ujarnya.

Di luar itu, tak hanya berbicara oksigen, Dedie juga menerangkan saat ini timbul permasalahan baru. Yakni soal ketersediaan obat-obat.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor meminta secara khusus kepada para penegak hukum untuk mencari kemana sebetulnya obat-obatan tersebut.

“Jangan sampai ada yang menimbun. Jika sampai terjadi penimbunan, harus segera ditindak. Karena masyarakat dalam kondisi darurat tidak bisa menunggu dan harus ada ketegasan dari aparat,” terangnya.

Di RSUD sendiri, masih kata Dedie, obat-obatan ini didistribusikan langsung dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Akan tetapi fakta yang terjadi, jika masyarakat yang mempunyai resep dan mencari ke apotek, justru tidak ditemukan obat yang dimaksud.

Jangan sampai, ada masyarakat yang membeli hanya untuk persediaan. Sedangkan kedaruratannya tidak tertangani karena tidak tersedia. Hal serupa terjadi di semua rumah sakit.***

Hati-Hati! Kuasai Teknik Pengereman Ketika Musim Hujan

Bogordaily.net – Ketika musim hujan mulai datang dan intensitasnya sangat deras. Persiapkan diri untuk kehujanan setiap hari.

Tidak seperti pemilik mobil, hujan sangat mengganggu perjalanan para pengendara sepeda motor.

Selain menyebabkan mogok dan mesin mati total, hujan dan banjir bisa membuat kasus kecelakaan lalu lintas meningkat.

Salah satu teknik yang harus dikuasai di musim hujan ini adalah pengereman yang tepat.

Dikutip dari Wahana Honda, ada teknik mengerem yang bisa dilakukan saat melewati jalan basah dan licin.

Teknik ini bisa membuat pengendara tidak jatuh terpeleset atau tergelincir.

Dengan menggunakan keempat jari kanan untuk melakukan rem ban depan. Ini bisa lebih maksimal untuk menghentikan laju kendaraan.

Ketika melewati jalan licin, rem motor tidak bisa bekerja secara maksimal risiko seperti terpeleset bisa terjadi.

Kedua, melepaskan gas motor. Jika ingin menghentikan kendaraan di tengah hujan atau jalan yang basah dan licin, kamu perlu melepaskan handle gas motor.

Tujuannya agar kendaraan bisa dapat berhenti lebih cepat. Percuma jika mengerem, tapi tetap menarik gas motor.

Ketiga, peganglah setang motor dengan erat dan kuat. Saat berkendara di tengah hujan, harus memegang setang motor dengan kuat.

Ini bertujuan untuk mengantisipasi ban motor selip di tengah jalan. Tujuannya agar bisa reflex dan menopang motor dengan kaki dan tubuh.

Keempat, kurangilah kecepatan secara bertahap. Ini untuk menghindari terjadinya ban selip. Bisa juga dengan melakukan pengereman secara bertahap.

Tentunya dengan memperhatikan kondisi jalanan yang dilewati. Jika jalanan sedang sepi, tentu lebih leluasa untuk melakukan pengereman secara bertahap ini.

Jika jalanan padat, ramai bahkan hingga macet, pengendara bisa menurunkan kecepatan dan berkendara dengan lebih pelan.

Kelima, hindari menggunakan rem belakang. Penggunaan rem belakang pada cuaca hujan justru akan membahayakan.

Risiko terjadi sliding bisa jauh lebih besar. Saat melewati tikungan atau jalan berliku, pengendara bisa jatuh dan tergelincir.***

Jual Obat Ini, Tiga Pemilik Apotek Jadi Tersangka

Bogordaily.net – Tingginya kasus penularan Covid-19, Kapolresta Bogor Kota, Kombespol Susatyo Condro Purnomo mengatakan, tiga pemilik apotek penjual obat Ivermectin 12 mg di Kota/Kabupaten Bogor ditetapkan sebagai tersangka.

Apotek tersebut menjadi tersangka, setelah menjual obat Covid- 19 diatas Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Mereka mengambil keuntungan dua kali lipat dari harga yang tetapkan Pemerintah. Tiga apotek ini menjual di atas harga eceran. Satu kotak Ivermectin 12 mg dijual seharga Rp 300 ribu hingga Rp 350 ribu,” ujar Kapolresta Bogor Kota, Kombespol Susatyo Condro Purnomo, Jumat 16 Juli 2021.

Susatyo menyampaikan, ketiga apotek yakni, apotek Medical Jalan Pahlawan Kota Bogor, Apotek Tanjakan Puspa Citeureup Kabupaten Bogor, dan Apotek Sentral Pangestu.

“Ketiga apotek tersebut menjual Ivermectin menaikan harga dua kali lipat di atas HET yang ditetapkan pemerintah. Mereka juga menjual lewat online dengan harga cukup tinggi ditengah pandemi,” katanya.

Meski demikian, Pemerintah telah menetapkan harga termasuk PPN untuk obat ivermectin 12 mg botol isi 20 tablet Rp 157.700 atau setara Rp 7.885 per tablet.

“Ivermectin tidak boleh diperjual belikan secara umum. Apotek hanya dapat memberikan obat Ivermectin bagi pasien yang memiliki resep dokter. Apotek Medical ini juga secara online dan penjualannya juga hingga keluar Kota Bogor,” jelasnya.

Susatyo Purnomo Condro meminta masyarakat untuk segera melapor apabila ada yang menjual Ivermectin 12 mg dengan harga tinggi, baik secara online maupun offline. Termasuk obatan tanpa resep dokter.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota Kombes, Doni Erwanto mengatakan,  dari hasil serangkaian pemeriksaan terhadap sejumlah saksi, pihaknya telah menetapkan tiga tersangka dari tiga apotek tersebut

“Ketiga orang itu pemiliknya yang sudah kita tetapkan sebagai tersangka. Untuk dua apotek lainnya hasil pengembangan dari apotek di Jalan Pahlawan,” katanya.

Terlebih barang bukti yang diamankan yaitu 38 dus Ivermectin, dua dus obat Avigan, dan satu dus oseltamivir phosphate.

“Kalau jual secara online kan ga jelas, bebas siapa saja bisa. Harusnya kan disertai surat dokter,” pungkasnya.***

Pemerintah Sepelekan Covid-19, RR: Bikin Lelucon sampai Sewa Buzzer 78 Miliar

0

Bogordaily.net – Pakar ekonom senior Indonesia Dr Rizal Ramli, mengatakan bahwa pemerintah Indonesia terlalu sepelekan Covid-19 sejak awal kedatangannya.

Hal itu diungkapkannya di YouTube Refly Harun, pada Januari hingga Maret 2020, pemerintah melakukan pembantahan dan mengatakan bahwa Covid-19 tidak ada dan tidak akam masuk ke Indonesia.

“Dulu mengatakan Covid-19 tidak ada, Indonesia enggak mungin kena Covid,” jelas Rizal Ramli, Kamis 15 Juli 2021.

Selanjutnya, Pemerintah Joko Widodo (Jokowi) juga menganggap Covid-19 sebagai lelucon, dan RR juga menyindir beberapa kasus yang menganggap Covid-19 tidak penting.

“Dibilang orang Indonesia banyak kena matahari, jadi enggak akan kena Covid-19. Suka makan nasi kucing jadi bisa sembuh dan lain-lain,” ujarnya.

Menurut RR, dari awal munculnya Covid-19 pemerintah yang selalu sepelekan, membantah dan membuat lelucon, dan menyia-nyiakan waktu di 3 bulan pertama.

“Termasuk menyewa buzzer dengan menggelontorkan dana sebanyak 78 miliar untuk menyesatkan rakyat bahwa, Covid-19 tidak ada dan tidak penting,” bebernya.

Bahkan menurutnya, pemerintah Jokowi juga sempat menghabiskan uang puluhan miliar untuk memberikan insentif kepada turis asing untuk masuk ke Indonesia.

“Ini kan luar biasa, mohon maaf luar biasa dungunya ini,” pungkasnya.

Kini kasus Covid-19 di Indonesia telah terjadi penambahan kasus harian di Indonesia mencapai 54.517, tertinggi sejak kasus pertama muncul di Tanah Air.

Indonesia juga menempati peringkat kedua di dunia sebagai negara dengan penambahan kasus harian dan kematian akibat Covid-19 tertinggi setelah Brasil.Adv

Amankan Pasokan Biomassa: Sinergi 3 BUMN Wujudkan Indonesia Ramah Lingkungan

0

Bogordaily.net – PLN, PTPN Group dan Perhutani bersinergi dalam pelaksanaan co-firing di 52 lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara.

Hal ini diresmikan lewat penandatanganan Head of Agreement (HoA) penyediaan biomassa dan pengembangan industri biomassa untuk co-firing PLTU batu bara, oleh Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini, Direktur Utama PTPN Group Mohammad Abdul Ghani, dan Direktur Utama Perhutani Wahyu Kuncoro, Jumat 16 Juli 2021.

Turut menyaksikan secara daring adalah Wakil Menteri BUMN I Pahala Nugraha Mansury, Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Dadan Kusdiana, dan Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana.

HoA ini akan ditindaklanjuti dengan pelaksanaan penyediaan dan pengembangan industri biomassa untuk co-firing PLTU.

Wakil Menteri BUMN I Pahala Nugraha Mansury menyambut baik sinergi ketiga BUMN ini.

Co-firing PLTU punya kontribusi besar dalam peningkatan bauran energi baru terbarukan (EBT) serta jadi bagian dari ekosistem listrik kerakyatan. Untuk itu, sinergi tiga BUMN ini sangat penting dalam menjamin pasokan biomassa untuk program co-firing PLTU, serta memberi nilai tambah bagi bisnis Perhutani dan PTPN,” terang Pahala.

Di samping itu Pahala menekankan perlunya supply chain atau rantai logistik yang efisien, sehingga meningkatkan nilai keekonomian bagi ketiga BUMN.

“Saya nilai ini kerja sama yang win-win,” tambahnya.

Kementerian BUMN telah menargetkan program co-firing dalam Strategic Mapping BUMN untuk klaster energi untuk membangun ketahanan energi. Untuk itu, Pahala berharap kerjasama ini dapat segera ditindaklanjuti.

Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengatakan, Co-firing PLTU adalah upaya untuk memenuhi target nasional bauran EBT 23 persen pada 2025.

“Sejauh ini, PLN menargetkan 52 lokasi co-firing PLTU tersebar di seluruh Indonesia. Untuk itu, dibutuhkan pasokan biomassa sebesar 9 juta ton/tahun pada 2025 dan kedepannya yang diharapkan dapat dipenuhi dari Perhutani dan PTPN dari fasilitas yang posisinya terjangkau dari 52 lokasi tersebut,” ujar Zulkifli.

Dalam pokok-pokok HoA dijelaskan, nantinya Perhutani akan menyediakan woodchip dalam bentuk serbuk (sawdust), sementara PTPN memasok limbah perkebunan/tandan kosong segar. Dengan begitu, PLN sebagai pembeli, sementara Perhutani dan PTPN sebagai pemasok.

“Kerjasama ini adalah hal yang baru bagi ketiga perusahaan, karenanya kami mengapresiasi kolaborasi dari Perhutani dan PTPN Group, serta berharap dukungan dari Kementerian BUMN dan pihak pemerintah untuk kesuksesan program co-firing ini terutama dari sisi kebijakan dan regulasi terkait penyediaan biomassa,” lanjut Zulkifli.

Potensi PTPN Group

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PTPN Group, Mohammad Abdul Ghani, mengatakan program co-firing PLTU batu bara dengan biomassa merupakan salah satu program “Green Booster” untuk mendukung target bauran EBT Nasional.

“PTPN Group memiliki potensi biomassa berbasis komoditi perkebunan yang cukup besar antara lain Biomassa dari komoditi Kelapa Sawit, Karet dan Tebu yang dimiliki oleh PTPN I hingga PTPN XIV.  PTPN Group mengestimasikan dapat menyuplai 500 ribu ton tandan kosong segar kepada PLN dan angka tersebut dapat berkembang hingga 750 ribu ton tankos segar per tahun pada 2024 sesuai dengan RJPP PTPN Group.  Dan diharapkan program ini akan menghasilkan penurunan emisi GRK dan berdampak pada kualitas udara di sekitar menjadi lebih baik,” ujar Ghani.

Menurutnya, co-firing biomassa dengan batubara menawarkan aspek positif bagi lingkungan. Co-firing biomassa akan mengurangi emisi karbondioksida, di samping itu biomassa juga mengandung sulfur yang jauh lebih sedikit daripada kebanyakan batu bara. Hal ini program co-firing juga akan mengurangi emisi sulfur dioksida yang cukup signifikan.

Ia menambahkan perjanjian HoA ini sebagai salah satu bentuk Good Corporate Governance (GCG) yang dijalankan oleh BUMN, dalam menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan bagi masyarakat luas.

“Kami berharap melalui kerjasama penyediaan biomassa untuk PLTU batubara antara PTPN, Perhutani, dan PLN dapat menjadi pionir dan pemantik dalam pengembangan biomassa untuk suplai PLTU batu bara di dalam negeri,” kata Ghani.

Kesiapan Perhutani

Di sisi lain, Direktur Utama Perhutani Wahyu Kuncoro, mengatakan saat ini Perhutani memiliki sumber daya kawasan hutan seluas 2,4 juta Ha di pulau Jawa & Madura dan 1,3 juta Ha di luar Pulau Jawa.

Dikelola oleh anak perusahaan dan dapat dikembangkan menjadi hutan tanaman energi. Adapun yang telah dikembangkan hutan tanaman energi seluas ±27 ribu Ha dari rencana seluas sekitar 70 ribu Ha.

“Kedepannya Perhutani juga akan menyiapkan industri biomassa berbasis tanaman hutan, untuk menghasilkan produk wood pellet dan atau wood chip,” katanya.

Perhutani juga menyiapkan klaster tanaman energi seluas 70 ribu Ha dan rencana industri turunannya yaitu wood chip dan wood pellet sejak 2019, dan telah menjadi program dalam RJPP 2020-2024 karena peluang pasar luar negeri yang menjanjikan.

Tidak hanya itu, Perhutani juga ingin berperan dalam program pemerintah mencapai target bauran energi nasional sebesar 23 persen, pada 2025 dan target penurunan emisi sebesar 29 persen pada 2030 sesuai Paris Agreement. Adv

Beban Terlalu Berat, Sejumlah Nakes Mengundurkan Diri

0

Bogordaily.net – Sejumlah tenaga kesehatan (nakes) melakukan resign atau mengundurkan diri dari pekerjaannya di tengah lonjakan kasus Covid-19.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Dokter Indonesia Bersatu, Eva Sri Diana Chaniago, bahwa mereka mundur dikarenakan beban kerja terlalu berat dan insentif penanganan pandemi yang dijanjikan pemerintah belum cair.

“Gaji yang diterima mereka dari rumah sakit sekarang ini kan tidak sesuai dengan beban kerjanya. Sementara insentif dari pemerintah tidak cair. Ya mereka akhirnya lebih memilih mengundurkan diri,” kata Eva dikutip dari Kompas, Kamis 15 Juli 2021.

Lanjutnya, gaji yang dibayarkan RS untuk nakes karyawan tergolong kecil. Bahkan, para nakes yang berstatus relawan sama sekali tak digaji oleh rumah sakit. Karena itu, insentif bagi nakes di masa pandemi memang sudah menjadi suatu kewajaran.

Pemerintah sudah menetapkan besaran insentif berbeda-beda untuk tiap kategori nakes, mulai dari Rp 5-15 juta per bulan.

“Tapi pembayaran insentif ini sangat telat sekali. Insentif dari bulan November tahun lalu baru cair bulan ini,” ujarnya.

Selain beban kerja nakes sangat berat karena pasien Covid-19 terus berdatangan ke rumah sakit, banyak juga nakes yang akhirnya jatuh sakit dan ikut tertular Covid-19. Bahkan para nakes itu juga ikut menularkan virus ke keluarganya di rumah.

“Ada yang resign bilangnya mendingan dagang, ada yang mau sekolah lagi, ada juga yang dilarang oleh suami,” paparnya.

Eva khawatir Rumah Sakit akan makin kolaps karena jumlah nakes terus berkurang di tengah lonjakan kasus Covid-19. Ia mengatakan, pemerintah bisa saja menambah ruang perawatan atau isolasi sebanyak mungkin.***

21 Rumah Sakit Alami Krisis Oksigen dan Obat-obatan

Bogordaily.net – Wakil Wali Kota Bogor Dedie Rachim menyebutkan hingga saat ini 21 rumah sakit di wilayahnya masih mengalami krisis oksigen dan obat-obatan.

Maka dari itu, kata dia, bantuan dari sejumlah pihak sangat dibutuhkan untuk mengatasi kelangkaan oksigen dan obat akibat lonjakan pasien Covid-19.

“Jadi dengan kelangkaan dan kesulitan distribusi atau pasokan mengakibatkan penurunan kapasitas daya tampung. Sehingga mengakibatkan banyak orang melakukan isolasi mandiri,” ungkap Dedie saat menerima bantuan 20 unit Oxygen Concentrator dari BNPB, Jumat 16 Juli 2021.

Di luar itu, tak hanya berbicara oksigen, Dedie juga menyebut saat ini timbul permasalahan baru, yakni ketersediaan obat – obatan.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor meminta secara khusus kepada para penegak hukum untuk mencari kemana sebetulnya obat-obatan tersebut.

“Jangan sampai ada yang menimbun. Jika sampai terjadi penimbunan, harus segera ditindak. Karena masyarakat dalam kondisi darurat tidak bisa menunggu dan harus ada ketegasan dari aparat,” terang Dedie.

Di RSUD, kata Dedie, obat-obatan ini didistribusikan langsung dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Akan tetapi fakta yang terjadi, jika masyarakat yang mempunyai resep dan mencari ke apotek, justru tidak ditemukan obat yang dimaksud.

Jangan sampai juga, ada masyarakat yang membeli hanya untuk persediaan. Sedangkan kedaruratannya tidak tertangani karena tidak tersedia. Hal serupa terjadi di semua rumah sakit.

“Ada 21 rumah sakit di Kota Bogor yang saat ini membutuhkan oksigen dan obat-obatan. Saya pikir pemerintah pusat dan daerah komitmen untuk membantu semaksimal mungkin keselamatan masyarakat, tetapi jangan ada oknum-oknum yang bermain. Dalam kondisi ini, kita tidak bisa mentolerir orang orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan,” tegasnya.

Dedie mengatakan, kebutuhan oksigen di RSUD Kota Bogor setidaknya lebih dari 4,8 ton per hari. Itu semua untuk menangani pasien Covid-19 di sana. Di RSUD juga diperlukan sebanyak 210 tabung berukuran enam meter kubik.

Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) RSUD Kota Bogor, Ilham Chaidir, menggambarkan, pasien Covid-19 dengan gejala berat rata – rata perlu pemakaian oksigen hampir 5 ton per hari. Karena memang, oksigen menjadi salah satu penanganan yang paling penting.

“Kemudian karena obat-obatan terbatas kita ada sekitar 200 lebih pasien atas rujukan dari rumah sakit yang pasiennya dalam kondisi sangat berat. Sehingga kebutuhan oksigennya bukan lagi 5 liter per menit, melainkan sudah minimal 15 liter per menit,” jelas Ilham.

Tentu dalam hal ini, pemakaian oksigen setiap harinya menjadi semakin banyak. Selain itu, para pasien covid ini juga sangat membutuhkan obat-obatan yang bisa mencapai 16 tablet obat setiap hari selama 5 hari untuk satu pasien.

“Sekarang dengan tidak ketersediaan obat ini, tentu kebutuhannya sangat banyak sekali. Karena obat-obatan ini tidak terpenuhi, terpaksa kami memakai plasma konvalesen. Ini pun sangat lambat dalam mencari para pendonor. Mungkin bagi para penyintas bisa mendonorkan darahnya sehingga kita lebih mudah menolong orang,” katanya.***