Friday, 17 April 2026
Home Blog Page 8893

Ini Hasil MotoGP Australia

0

BOGOR DAILY- Balapan MotoGP Australia berjalan seru dari awal hingga akhir. Pebalap Repsol Honda Marc Marquez akhirnya tampil sebagai pemenang, disusul Valentino Rossi dan Maverick Vinales.

Start dari pole position, Marquez menuntaskan balapan sepanjang 27 lap di Sirkuit Phillip Island, Minggu (22/10/2017), dalam waktu 40 menit 49,772 detik.

Rossi, yang sempat memimpin lomba dalam beberapa lap, akhirnya harus puas finis kedua. Posisi ketiga jadi milik Vinales, yang secara luar biasa melewati Johann Zarco di trek lurus menjelang garis finis.

Cal Crutchlow finis di posisi kelima, disusul Andrea Iannone, Jack Miller, Alex Rins, Pol Espargaro, dan Bradley Smith.

Raffi, Bocah Asal Cilebut Bogor Ini Ditinggal di Pasar Rebo

BOGOR DAILY- Seorang bocah bernama Raffi ditemukan petugas pekerja Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Anak yang berusia sekitar 5 tahun itu sudah diserahkan ke Posko Pengawasan dan Pengendalian Sosial (P3S) Suku Dinas Sosial Jakarta Timur di Pasar Rebo. “Kemarin ditemukan petugas PPSU sekitar pukul 11.40,” kata petugas pelayanan P3S Jakarta Timur, Petrus, Minggu, 22 Oktober 2017.

Petrus mengatakan bocah itu mengaku datang bersama ayahnya ke tempat itu. Tidak diketahui alasannya kenapa ia ditinggal begitu saja. Sedangkan berdasarkan keterangan pedagang kopi, Raffi datang bersama seorang pria sekitar pukul 09.00. Pria itu meminta Raffi menunggu sebentar karena ia akan membeli pulsa. Namun pria itu tidak pernah kembali.

Menurut Petrus, anak tersebut tidak memiliki kekurangan fisik maupun mental. Anak itu menyebut orang tuanya tinggal di Cilebut, Bogor. Namun dia tidak bisa menyebutkan alamat lengkap. “Ketika ditanya, ia bisa menjawab dengan baik,” ujar Petrus.

Petugas P3S membawa Raffi ke Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Cipayung, Jakarta Timur. “Jika ada yang mengenal anak ini silakan menjemputnya di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Cipayung, Jakarta Timur,” kata Petrus.

Feodalisme Politik

0

Oleh:

Sugeng Teguh Santoso, SH

(Calon Wali Kota Bogor 2018)

Belum lama ini seorang warga Bogor, sempat memposting gambar tengah berfoto dengan saya. Teh Isna namanya. Dalam foto itu dituliskan keterangan kalau foto yang diunggahnya pada 13 Oktober lalu akan menjadi tiket emas agar kelak keluhannya sebagai rakyat didengar walikota. Teh Isna juga menuliskan nama saya dengan menyertakan doa agar kelak Kota Bogor bisa jadi lebih baik.

“Foto ini akan menjadi tiket emas saat keluhan sy butuh di dengar walikota.. Amin, insha Allah… Sugeng Teguh Santoso hadir Utk bgr yg lebih baik,”begitu curahan hatinya dalam keterangan foto yang dimuat.

Bagi saya, postingan itu lebih dari sekadar curahan hati. Tapi, ada harapan sederhana darinya agar jika terpilih jadi walikota, saya tidak melupakan dirinya beserta keluhan warga kebanyakan.

Saya sangat memahami psikologis Teh Isna dan (mungkin) warga lainnya. Mungkin masih ada keraguan pada sikap pemimpin politik yang sudah berkuasa untuk berlaku amanah. Saya pun akhirnya terdorong membuat catatan tentang feodalisme politik yang berkembang dari masa ke masa. Termasuk, fenomena feodalisme politik yang terjadi saat ini.

Feodalisme sebagai nilai lama telah membentuk watak inferior warga kebanyakan – miskin dan marjinal-. Tak sedikit warga yang memposisikan diri mereka lebih rendah dari para bangsawan yang mengklaim sebagai utusan Tuhan di dunia. Mereka berjalan beringsut, menundukkan wajah ketika berpapasan.

Posisi ini menjadikan manusia yang sederajat sebagai mahluk Tuhan menjadi berjarak. Bagi warga kebanyakan adalah anugerah ketika bangsawan menyapa mereka. Bahkan, ada yang rela anak gadisnya dijadikan pemuas birahi manusia sebagai selir kaum bangsawan.

Tidak ada harapan bagi warga dapat berdiri sejajar atau berbicara menyampaikan aspirasi dengan terbuka. Karena, seluruh hidup mereka dipercaya adalah anugerah para bangsawan tersebut. Inilah yang disebut dengan istilah feodalisme kultural.

Struktur kekuasaan itu kini telah surut, dibongkar zaman oleh para pembaharu. Para pembaharu pemikiran yang muncul juga dari kalangan bangsawan juga rakyat kebanyakan. Sebut saja Kartini, Soekarno, Muso, Karto Suwiryo, Tan Malaka dll

Mereka adalah para tokoh nasional yamg bicara tentang kesetaraan, demokrasi, kedaulatan rakyat, kesejateraan umum. Bahkan sisa feodalisme kultural yang secara politik nyata dalam wujud kuasa Kerajaan Mataram, saat ini bertransformasi menjadi raja yang melayani rakyat. Seperti yang terlihat dalam kepemimpinan  Sultan Hamengkubuwono IX yang terkenal dengan sikap Tahta untuk Rakyat.

Feodalisme kultural memang telah tenggelam digusur zaman. Akan tetapi roh feodalisme itu masih mencengkeram warga kebanyakan. Feodalisme kultural telah bertransformasi menjadi feodalisme politik pada zaman demokrasi ini.

Fenomena ini muncul dalam sikap relasi warga terhadap para peminpin politiknya. Warga tetap terkena sindrom inferioritas (rasa minder), minderjareght. Warga melihat para politisi sebagai kelompok penguasa baru yang terpisah dengan mereka.

Feodalisme politik ini terbentuk karena praktik politik yang terjadi. Karena, kebanyakan politisi tidak bersambung dengan harapan warga. Alih alih sebagai wakil rakyat yang melayani dan memperjuangkan amanat penderitaan rakyat, justru mereka menjadi kelompok elite yang teralienasi dengan rakyat.

Kekuasaan yang digenggaman bukan lagi diperuntukan bagi kepentingan rakyat, melainkan untuk  dirinya sendiri. Segala cara akan ditempuh agar kekuasaan itu abadi. Salah satunya, dengan menjadikan rakyat sebagai komoditi pada tahun-tahun politik. Bahkan kalau perlu, rakyat juga dimainkan serta dikorbankan dengan isu-isu politik yang belakangan marak terjadi. Seperti berkembangnya  Segregasi(diskriminasi) berbasis sara atau penyebaran kabar bohong dll.

Kalau perlu sistem pemerintahan dibentuk, dimainkan sedemikian rupa agar setiap sumber daya ekonomi yang ada bisa dikuasai oleh kelompok elite yang mengorganisir diri dalam oligarki politik. Konsensi konsesi kuasa diatur diantara mereka untuk selanjutnya mengatur konsesi-konsesi ekonomi.

Di bawah alam sadar warga,  mereka tetap inferior terhadap para politisi yang feodalistik ini. Warga kebanyakan akan merasa senang dan bangga bila disapa, didengar harapan mereka. Warga juga merasa dihargai kalau para politisi ini datang mengunjungi.

Solusi ekonomi dan sosial yang menjadi tanggung jawab para politisi bagi warga  adalah nomor sekian. Warga merasa tidak masalah kalau harus berjuang sendiri memenuhi kebutuhan hidup mereka. Ini fenomena yang  bertentangan  dalam bangun sistim demokrasi yang dianut. Apalagi merujuk pembukaan UUD 1945 tentang tujuan dibentuknya NKRI.

Warga akan menerima sikap pemimpin politik yang mengabaikan tanggung jawab untuk menyejahterakan mereka. Memang ada protes sebagai riak-riak, tetapi tidak akan menjadi gelombang protes besar yang merevolusi keadaan. Kalaupun ada, itu pasti ada kerjaan lawan politik yang sengaja menungganginya. Atau jika sampai terjadi peralihan kekuasaan baru, maka elite politik baru tersebut akan menjelma menjadi  feodalisme politik baru .

Lihatlah saja fenomena yang terjadi. Bukankah kebanyakan pemimpin politik ingin dibedakan dengan rakyatnya? Walau jalanan macet parah, toh  pemimpin politisi sipil maupun pemimpin militer selalu meminta untuk diistimewakan. Warga dipaksa minggir ‘si komo’ mau lewat dengan pengawalan.

Kejadian yanag sering ditemui itu adalah fenomena politik orde baru dan pasca reformasi. Kalau sekarang ada peminpin baru yang bukan militer, bukan golongan bangsawan, dan bukan “pemilik ” partai  yang berusaha mengembalikan makna politik substantif  melayani rakyat, maka ia akan dinilai sebagai  kecelakaan politik.

Praktek kerakyatan yang dipertontonkan bagaikan menampar praktek politisi feodal yang berasal dr militer, darah biru politik, dan juga para pemilik partai politik. Maka apapun caranya sang pemimpin kerakyatan ini harus tumbang.

Nah saya mengingatkan sejatinya UUD 1945 telah mengamanatkan bahwa tujuan diadakannya negara adalah untuk melindungi seluruh bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan bangsa dan turut serta memelihara ketertiban dunia. Tujuan bangsa ini hanya dapat dicapai melalui para politisi yang berpihak pada rakyat, yang tidak elitis dan feodal.

Salam Sang Pembela

 

Sandiaga Uno Bantah Rombongannya Ditilang Polres Bogor

0

BOGOR DAILY- Beredar informasi rombongan Gubernur DKI Anies Baswedan ditilang saat pulang dari acara Tea Walk di Puncak. Wagub Sandiaga Uno memastikan informasi itu tidak benar. “Itu 100% tidak benar. Sudah diberikan klarifikasi,” kata Sandiaga di Masjid Istiqlal, Gambir, Jakarta Pusat, Minggu (22/10/2017).

“Tidak ada satu mobil pun dari rombongan Pak Anies yang ditilang, Pak Anies diarahkan. Tadi saya langsung klarifikasi, diarahkan menggunakan jalur alternatif. Saya pun kejebak macet,” tuturnya.

Menurut Sandiaga, era ini adalah era saat kebenaran menjadi tak terlalu penting ketimbang aspek yang lain bagi pembentukan opini. Tandanya, hoaks menggejala nyata di publik. “Dan ini adalah dunia ‘post-truth’ dan ‘post-fake’, di mana hoaks mendominasi,” ujar Sandiaga.

Sandiaga mengaku dirinya menggunakan jalur alternatif saat menempuh perjalanan pulang dari Bogor menuju Jakarta. Dia terjebak macet pada perjalanan Sabtu (21/10) kemarin itu.

Namun demikian, Sandiaga memandang kegiatan ‘tea walk’ itu justru telah menghidupkan ekonomi di Puncak, Bogor. Informasi ini didapatkannya dari Sekretaris Daerah DKI. Soalnya, 8 ribu hingga 10 ribu Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemprov DKI datang sekaligus dari sehari. “Tempat penginapannya penuh, makanannya juga laku, biasanya bayar WC Rp 5 ribu, kemarin bisa Rp 15 ribu,” kata dia.

Dia mengakui perlu perbaikan dalam hal pengaturan lalu lintas apabila ada lagi acara serupa dalam waktu mendatang. “Tapi dampaknya ya itu macet. Mesti dipikirkan pengaturannya ke depan. Harus ada shuttle bus, harus ada cara untuk memobilitasi aparat Pemprov supaya kendaraan pribadinya tidak memenuhi tempat acara,” ujar Sandiaga.

Calon Wali Kota Bogor Ini Dirikan Pusat Advokasi Anak

0

BOGOR DAILY-Untuk menjamin hak-hak dan pelindungan anak Indonesia, Sekjen Peradi Sugeng Teguh Santoso mendirikan Pusat Jaringan Advokasi Anak Indonesia (PJAAI).

Menurut Sugeng, Minggu (22/10/2017), pendirian PJAAI tersebut berangkat dari  rasa prihatin dirinya melihat banyaknya kasus-kasus yang di alami anak-anak di Kota Bogor,  mulai kasus bullying, pencabulan, hingga pengeroyokan yang menyebabkan meninggal dunia.

Mereka yang bergabung di sini adalah aktivis lintas partai non partisan, karena itu dia menyangkal PJJAI sebagai wadah politisasi.

“PJAAI tidak bisa di klaim sebagian aliran partai tertentu, karena tidak membawa misi politik, dan ini sepenuhnya untuk memenuhi hak-hak serta untuk perlindungan anak,” kilahnya.

Adapun tujuan didirikannya PJJAI ini sendiri adalah untuk menjamin hak-hak dan pelindungan anak Indonesia.

Panitia Anies Beberkan Bukti Pemberitahuan Acara ke Polres Bogor

BOGOR DAILY-Tim komunikasi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan-Sandiaga Uno tegas membantah adanya kabar menerobos arus satu jalur (one way) Puncak, Bogor, Sabtu (21/10), saat menggelar Tea Walk bersama pejabat Pemprov DKI Jakarta. Bahkan, ada kabar yang menyebut rombongan terkenal tilang polisi.

“Tidak benar adanya penilangan terhadap rombongan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Anies Baswedan itu. Perjalanan dari Gerbang Tol Ciawi sudah dikawal oleh Polres Bogor dan Dishub Bogor. Baik menuju ke Gunung Mas hingga turun kembali melewati Cibinong, Jawa Barat rombongan gubernur masih dikawal oleh Dishub dan kepolisian,” kata Tim Komunikasi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Naufal Firman Yursak dalam siaran pers, Minggu (22/10).

Menurutnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Perhubungan sudah bersurat kepada Pihak Kepolisian terkait kegiatan Tea Walk.

Surat dengan nomor 5150/1.731-1 tertanggal 10 Oktober 2017 itu dibuat oleh Dinas Perhubungan dan ditandatangani oleh Kepala Dinas Perhubungan Andri Yansyah ditujukan kepada Kakorlantas Mabes Polri.

 

Dengan perihal Permohonan Bantuan Perlintasan VVIP dan Pengaturan Lalu Lintas. Tak hanya itu, surat tembusan ke Polres Bogor juga telah dikirim dan diterima pada tanggal 12 Oktober atas nama Nurdin, katanya lagi.

“Rombongan gubernur sepenuhnya dipandu oleh petugas pengawalan dari Polres Bogor dan Dinas Perhubungan menuju jalur alternatif. Rute ditentukan oleh Patwal; termasuk saat melewati ruas jalan raya puncak sepanjang kurang lebih 3 kilometer menuju jalur alternatif,” kata Naufal lagi.

Rombongan itu mengikuti panduan Patwal Polres Bogor. Rombongan kemudian turun melalui jalur alternatif, bukan melalui jalur utama yang berlaku ‘one way’ hingga ke Kota Bogor melalui jalur alternatif Tapos Ciawi. Pada bagian inilah terjadi kesalahan komunikasi dari jajaran tim pengawalan, katanya.

“Panitia kegiatan Soliditas dan Solidaritas Anggota Korpri Provinsi DKI Jakarta telah berkoordinasi, baik dengan pengelola kawasan dan kepolisian terkait rencana kegiatan,” kata dia.

Kepadatan di jalur Puncak pada akhir pekan memang kerap terjadi, ditambah dengan adanya beberapa titik perbaikan jalan, kata Naufal.

Pihak penyelenggara rangkaian acara Korpri Provinsi DKI Jakarta memohon maaf atas ketidaknyamanan pengguna jalan di jalur menuju Puncak atau sebaliknya, katanya.

“Pemprov DKI berterima kasih atas koordinasi dan bantuan aparat Dishub dan Kepolisian Bogor dalam ikut mengawal rombongan gubernur DKI. Pemprov DKI Jakarta juga memohon maaf kepada masyarakat atas polemik yang ditimbulkan dari situasi ini,” kata Naufal lagi.

 

Begini Gelagat Pasutri Sebelum Tewas di Selarong Puncak

BOGOR DAILY- Meninggalnya Saepudin (48) dan Nurhayati (47) korban laka di Jalan Raya Puncak Bogor tepatnya di tanjakan Selarong depan Pijat Reflexi Bunda and Me, Kampung Cibogo Rt.03 Rw 05 Desa Cipayung Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor menyisakan duka yang mendalam bagi keluarganya, termasuk kakak korban, Hamzah.

Menurutnya kedua adiknya tersebut dinilai sebagai orang baik dan tegas dalam keluarga.Dirinya pun merasa tidak mempunyai firasat apapun jika kedua adiknya akan pergi untuk selamanya dengan cara mengenaskan.

“Tadi itu adik-adik saya berangkat dari rumah untuk menuju ke Garut untuk menjenguk anaknya yang bersekolah di sana, namun belum sampai di sana adiknya mengalami musibah di Puncak Bogor,” ujarnya saat berada di Rumah duka, Sabtu (21/10/2017).

Namun, masih kata Hamzah, dalam seminggu ini adik iparnya yang juga suami dari adiknya ada perubahan yang sangat signifikan yaitu dari segi makan. “Belakangan adik ipar saya dalam seminggu ini makannya selalu banyak dan lahap, terakhir hari minggu kemarin,” ucapanya

Kini adik – adiknya tersebut telah dikebumikan di makam wakaf milik Iskandar, Kelurahan Loji, Kota Bogor. “Nanti akan makamkan di tanah wakap pak Iskandar, tidak jauh dari rumah ini,” katanya

Seperti diketahui, Saepudin (48) dan Nurhayati menjadi korban laka tadi pagi pukul 08.30 WIB.“Saat itu korban dari arah Puncak menuju jakarta  setibanya di TKP. Jalan menanjak dan menikung kekiri. Kendaraan bergerak agak kekanan. Pada saat bersamaan datang menabrak bagian depan samping kanan Kendaraan Mitsubishi Truck Colt Diesel No.Pol B-9015-EZ,” kata Kanit Laka Iptu Asep Saepudin.

Resort Milik M Sanusi di Bogor Dilelang KPK Rp 4,9 Miliar

BOGOR DAILY- KPK kembali melelang tanah dan bangunan yang dirampas dari terpidana kasus korupsi. Kali ini giliran aset milik mantan anggota DPRD DKI Jakarta M Sanusi yang dilelang.

Dilansir dari situs resmi KPK, Minggu (22/10/2017), aset milik Sanusi itu berupa tanah dan bangunan yaitu resort di Vimala Hills, Cluster Alpen, Jalan Alpen Permai nomor 1, Megamendung, Kabupaten Bogor. Luas tanah 540 m2 dengan luas bangunan 219 m2.

Harga limit untuk lelang yaitu Rp 4.911.297.000 dengan uang jaminan Rp 1 miliar. Penawaran lelang dilakukan secara online setelah peserta lelang menyetor uang jaminan melalui lelangdjkn.kemenkeu.go.id atau aplikasi e-auction sampai dengan Rabu (25/10). Sedangkan, proses lelang akan dilaksanakan pada Kamis (26/10).

M Sanusi dijerat KPK karena menerima suap Rp 2 miliar dari eks bos Agung Podomoro Land Ariesman Widjaja pada Maret 2016. Uang tersebut terkait dengan pembahasan Raperda Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Pantai Utara (RTRKSP) Jakarta di Balegda DPRD DKI.

Di pengadilan tingkat pertama, Sanusi divonis 7 tahun penjara dan denda Rp 250 juta subsider 2 bulan kurungan. Dia juga terbukti melakukan pencucian uang sebesar Rp 45 miliar atau tepatnya Rp 45.287.833.773,00.

KPK pun mengajukan banding. Hukuman Sanusi pun diperberat menjadi 10 tahun dan dedna Rp 500 juta subsider 4 bulan kurungan.

Selain itu, Sanusi dijatuhi pidana tambahan berupa pencabutan hak untuk dipilih dalam jabatan publik selama 5 tahun sejak terdakwa selesai menjalani pidana pokoknya. Aset-aset Sanusi yang berasal dari pencucian uang pun dirampas negara termasuk mobil Audi, Jaguar serta 5 rumah atau apartemen mewah di beberapa tempat.

Gagal Jenguk Anaknya, Pasutri Ini Keburu Tewas di Puncak

BOGOR DAILY-Pasangan suami istri yang tewas pada kecelakaan di jalur Puncak, tepatnya di turunan Selarong, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Sabtu (21/10/2017) pagi akan berangkat menuju tempat ini.

Pasangan suami istri tersebut adalah Saepudin Yusuf (48) yang mengalami luka di kepala, dan sang istri Nurhayanti (47). Hamzah, kakak dari almarhum Saepudin menuturkan bahwa adiknya itu rencananya akan pergi menuju Garut.

Saepudin berangkat dari kediamannya di Gang Bambu Kuning 1, Kelurahan Loji, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor pada pagi tadi sekitar pukul 06.30 WIB dengan menggunakan motor Honda Megapro.

Namun saat sedang melaju di Jalan Raya Puncak, tanjakan Selarong, korban yang berboncengan dengan sang istri terlibat kecelakaan. “Iya namanya musibah takdir, kita selaku keluarga ikhlas, dan tabah, Insya Allah,” ujarnya.

Hamzah menambahkan bahwa adiknya itu akan berangkat menuju Garut untuk menjenguk anaknya.  “Anaknya yang kuliah di Garut lagi sakit, jadi mau nengok, namanya orangtua kan pasti kalau ke anak sayang banget,” katanya.

Hingga siang tadi sekitar pukul 15.00 WIB, jenazah pasangan suami istri itu pun tampak sedang dimandikan. Beberapa para teman, kerabat dan saudara pun berbondong-bondong melayat.

Bikin Macet Puncak, Panitia Tea Walk Anies-Sandi Ditilang

BOGOR DAILY-Kapolres Kabupaten Bogor, AKBP Andi Moch Dicky melapor ke Kapolda Jawa Barat usai anggotanya melakukan serangkaian penilangan terhadap panitia acara Korpri DKI yang dihadiri Anies-Sandi di Agrowisata Gunung Mas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (21/10/2017).

Dalam laporan yang dibuat Kasat Lantas Polres Bogor, AKP Hasby Ristama, telah melakukan one way ke arah Puncak sejak pukul 07.30.

Tapi kemudian terjadi kepadatan di arus keluar-masuk Agrowisata Gunung Mas akibat aktivitas DKI 1 (Anies-Sandi) beserta jajaran Pemprov.

Polres Bogor memperkirakan acara di Gunung Mas dihadiri 15 ribu orang. Akibatnya jalur puncak terkunci dengan simpul kemacetan di daerah Gunung Mas.

Dalam laporan itu juga disebut bahwa panitia kegiatan Pemprov DKI bersama Anies-Sandi di Gunungmas tak memberitahukannya ke satuan wilayah setempat.

Dilaporkan pula ke Kapolda Jabar sejak pagi banyak kendaraan dari arah Gunungmas melawan arah. Sehingga petugs di beberapa kali melaksanakan penilangan dan peneguran.

Sebab akibat aksi melawan arah membuat proses one way terhambat. Sejak dimulai pukul 07.30, one way ke arah puncak baru terbuka lebar pukul 09.30. Padahal seharusnya pukul 08.00 sudah terbuka lebar.

Langkah-langkah yang dilakukan petugas kepolisian, antara lain :

1. Petugas kepolisian melakukan pengaturan arus disepanjang jalur puncak dengan jumlah personel sebanyak 150 orang.
2. Melaksanakan penutupan arus lalin di pintu masuk gunung mas.
3. Memberitahukan situasi arus lalin melalui medsos dan media mainstrem.
4. Memberitahu kepada panitia acara DKI Jakarta di Gunungmas untuk tetap tertib dan tidak melawan arus.
5. Menghimbau kepada masyarakat agar bisa menggunakan jalur selain puncak mengingat antrian dari gadog simpang puncak memanjang kurang lebih hampir 10 Kilometer lebih mendekat interchange bogor.
6. Melaksanakan public address disepanjang jalur puncak untuk memberitahukan situasi puncak terupdate
7. Dimohon masyarakat agar tertib berkendaraan dan mematuhi aturan berlalu lintas.

Begitulah laporan yang disampaikan Kapolres Bogor ke Kapolda Jawa Barat terkait tersendatnya arus lalu lintas di jalur Puncak.

Kapolres Bogor, AKBP Andi Moch Dicky, mengatakan, pihaknya kini tengah berjuang keras mengatur one way dari bawah ke arah puncak.

“Sekitar jam 13.00, one way ke bawah kita mulai supaya yang terjebak diatas bisa turun ke bawah,” kata Andi ketika dihubungi, Sabtu (21/10/2017).