Monday, 6 April 2026
Home Blog Page 8990

Bupati dan Anggota Dewan Sujud di Rumah Gubernur Jadi Viral

BOGOR DAILY– Bupati Kabupaten Lamandau Kalimantan Tengah, Marukan Hendrik, terkesan “Menyembah” Keluarga Gubernur Kalimantan Tengah, agar dalam Pilbup Lamandau mendukung Putra Daerah Setempat memimpin Kabupaten tersebut.

Sikap Bupati Lamandau dan sejumlah anggota DPRD Lamandau yang terkesan menyembah keluarga Gubernur Kalterng, diantaranya H Sugianto Sabran,  H Agustiar Sabran, Pengusaha H Abdul Rasid dan H Ruslan AS tersebut disampaikan melalui media sosial dan media cetak di Lamandau.

Video Bupati Lamandau, Marukan Hendrik, bersama sejumlah anggota dewan dan pejabat Lamandau yang menyembah keluarga Gubernur Kalteng tesebut, hingga, Sabtu (8/7/2017) jadi pembicaraan warga Kalteng.

Banyak yang mencibir sikap orang nomor satu di Lamandau tersebut, karena dianggap terlalu berlebihan dan terkesan terlalu rendah dilakukan oleh seorang bupati.

Dari rekaman video yang beredar, Marukan Hendrik dan sejumlah anggota dewan memohon kepada Gubernur Kalteng dan keluarganya untuk mendukung calon bupati yang akan ikut dalam Pilbup setempat tahun depan dari putra daerah setempat.

“Kami ingin yang memimpin Lamandau putra daerah.” ujarnya.

Bahkan di foto terlihat ada  yang sampai tiarap demi mendapatkan dukungan tersebut.

Pintu Kaca di Giant Yasmin Bogor Tiba-tiba Pecah, Nih Fotonya

BOGOR DAILY–  Peristiwa mengejutkan terjadi di Giant Yasmin, Kota Bogor. Pecahan kaca seketika membuat pengunjung heboh. Pasalnya, salah satu pintu masuk otomatis Giant Yasmin hancur Sabtu (8/7/2017) malam.

Pintu kaca tersebut tepat berada di samping salah satu tempat makan AW. Satu kaca di pintu besar tersebut hancur berkeping-keping seketika. Padahal, saat itu keadaan sedang tidak terjadi hujan maupun angin kencang.

Sebuah patung ikon AW pun hancur akibat pecahan kaca tersebut. Beruntung, dalam kejadian tersebut tidak ada korban jiwa.

Hingga berita ini diturunkan belum diketahui penyebab dari kejadian tersebut. Berikut foto-fotonya.

 

 

Pria Tak Dikenal Hilang di Sungai Cigede Babakanmadang

BOGOR DAILY–  Dua orang sedang mancing ini kaget saat tiba-tiba melihat seorang pria menceburkan diri ke sungai Cigede, Desa Leuwinutug, Babakan Madang, Kabupaten Bogor.

Sekretari Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten Bogor Budi Pranowo  menuturkan bahwa saat itu pihaknya menerima laporan tersebut pada pukul 16.00 WIB.

“Kejadiannya hari ini sekitar pukul 11.00 WIB, saksi mata yang melihat yaitu dua orang yang sedang mancing,” katanya.

Budi menambahkan bahwa menurut warga yang melihat, pria tersebut ciri-cirinya menggunakan celana jeans biru dan kaos hitam.

Menurut warga Kata Budi, usai mencebur kan diri pria tersebut tidak kembali muncul.

“Sejak tadi sore pihak BPBD kabupaten Bogor bersama BPBD Kota Bogor, Polsek Babakan Madang dan Koramil melakukan pencarian menggunakan perahu karet,” katanya.

Budi menambahkan bahwa pencarian dilakukan dengan menyisir sungai Cigede dan Sungai Cipamingkis.

Namun hingga saat ini pencarian masih belum membuahkan hasil. “Pihak BPBD sudah mengupayakan pencarian dengan memasangkan jaring, pencarian juga dihentikan untuk sementara dan akan dilanjut besok,”katanya.

Lagi! Bom Panci Meledak di Bandung

BOGOR DAILY- Pelaku peledakan bom panci di Buahbatu, Bandung telah diamankan polisi. Berdasarkan keterangan awal, pelaku bernama Agus Wiguna (21) belajar merakit bom dari internet.

“Tersangka merakit bom sejak tanggal 1 Juni 2017, membuat bom melihat dari internet dengan menggunakan Google,” kata Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Yusri Yunus, Sabtu (8/7/2017).

Peristiwa ledakan ini terjadi pada hari ini sekitar pukul 16.00 WIB. Tak ada korban dari peristiwa yang terjadi di Kampung Kubang Beureum RT 07/11, Sekejati, Buahbatu, Kota Bandung, Jawa Barat.

Polisi telah mengamankan seorang pelaku bernama Agus Wiguna (21) yang beralamat di Garut, Jabar. Bom yang meledak ini berisi paku.

Agus dibawa polisi guna pendalaman peristiwa ini. Polisi masih berada di lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Polisi memasang garis polisi di sekitar lokasi.

Ada Mobil Sedan Terbakar di Tol Jagorawi KM 9+800 Arah Bogor

BOGOR DAILY– Sebuah mobil jenis sedan terbakar di Tol Jagorawi arah Bogor. Petugas sudah ada di lokasi untuk menangani kebakaran tersebut.

“Benar, ada mobil sedan terbakar di Tol Jagorawi arah Bogor, tepatnya di KM 9+800. Saat ini sudah dalam penanganan petugas,” kata petugas call center PT Jasa Marga, Reno ketika dikonfirmasi, Sabtu (8/7/2017) pukul 20.05 WIB.

Informasi terbakarnya mobil tersebut masuk pada pukul 19.50 WIB. Belum diketahui penyebab terbakarnya sedan tersebut.

“Kita juga belum mendapatkan informasi mengenai identitas pengemudi dan kendaraan tersebut. Petugas masih fokus menangani kebakaran mobil,” ujarnya.

Peristiwa ini berdampak terjadinya kemacetan di sekitar lokasi terbakarnya mobil tersebut.

“Arah Bogor kondisi lalu lintas tersendat sedikit saja menjelang lokasi mobil terbakar, sekitar 1 Km ke belakang. Sementara arah sebaliknya terpantau lancar,” ucap dia.

Dewan Ogah-ogahan Bikin Aturan PKL di Kabupaten Bogor

BOGOR DAILY– Ren­cana DPRD Kabupaten Bogor membuat peraturan daerah (perda) inisiatif terkait pena­taan Pedagang Kaki Lima (PKL) nampaknya seperti jauh pang­gang dari api. DPRD Kabupaten Bogor seperti ogah-ogahan membuat aturannya. Sebab, sampai saat ini, badan legislatif belum meny­ampaikan rencana itu ke Pe­merintah Kabupaten (Pemkab) Bogor. Alasannya terbentur dengan pembahasan dua raperda yang baru diserahkan pemkab ke DPRD Kabupaten Bogor.

“Kemungkinan dilakukan seusai pembahasan KUA PPAS dan LKPj,” kata Wakil Ketua Badan Pembentukan Peratu­ran Daerah (BPPD) DPRD Kabupaten Bogor Juhanta.

Walaupun penyampaian rencana ini harus mundur, pihaknya tetap akan mem­prioritaskan untuk dibahas secara lanjut. Karena jika di­lihat dari statusnya, kebera­daan PKL di Kabupaten Bogor sudah urgent dan harus ada penataan. “Khususnya PKL yang ada di Cibinong itu su­dah berdampak kepada ke­macetan. Kita harus carikan solusinya,” ucap politisi PPP ini.

Juhanta menjelaskan, yang diketahuinya tentang PKL adalah pedagang yang bukan berjualan di bangunan tetap seperti tukang pecel atau yang berjualan di gerobak. Sehingga komoditi seperti inilah yang nantinya akan diakomo­dasi dalam aturan untuk dicarikan solusi, di mana tempat yang tepat untuk mereka berjualan. “Kita lihat aturannya dulu. Nanti kita akan fasili­tasi juga,” jelasnya.

Sebelum Raperda PKL ini diusulkan kepada pemerintah, Juhanta mengaku akan men­coba menjalin komunikasi berkaitan dengan PKL. Pedengan beberapa pihak yang merintah daerah, pengusaha, PKL serta masyarakat sekitar Kabupaten Bogor. “Kita akan buatkan naskah akademik lalu undang beberapa unsur masyarakat terkait PKL. Kita akan carikan apa sih solusinya dan bagaimana aturan ini bisa dibentuk,” akunya. ­

Untuk daerah yang kemun­gkinan akan didatangi untuk dijadikan contoh dalam me­nata PKL, kemungkinan refe­rensinya ke Jogjakarta atau Bandung. Sebab, informasi yang didapat kedua wilayah itu sudah berhasil menata PKL. “Intinya ke tempat yang bagus dan berhasil menata PKL. Kami juga akan cari dulu re­ferensinya,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Perundang–Undangan Daerah Satpol PP Kabupaten Bogor Agus Ridho mengingatkan, jika berbicara usulan untuk Raperda PKL, dalam aturan ini perlu ditekankan bahwa PKL harus ditata kapan waktu ber­jualannya dan di mana lokasi atau zona yang bisa digunakan untuk berjualan. Semisal, PKL basah dan kuliner yang diper­bolehkan hanya berjualan se­jak sore hingga malam atau dini hari.

“Bisa juga kan dari pagi hingga sore mereka tidak diperbolehkan berjualan. Tem­pat yang steril dari PKL juga harus ditentukan. Makanya, ini sangat perlu diperhatikan,” tuturnya.

Tak hanya itu, kategori PKL ini juga harus dituangkan da­lam aturan. Di antaranya se­perti apakah yang berjualan baju seperti di pasar tradisio­nal atau yang berjualan dengan menggunakan kendaraan roda empat dan sebagainya. “Kalau ini sudah ada tentu akan tercipta ketertiban yang terencana dengan baik. Ka­rena prinsipnya kita melaku­kan penertiban yang melang­gar aturan,” imbuhnya.

Ia menambahkan, keberadaan PKL ini kebanyakan berdiri di wilayah perkotaan seperti Cibi­nong, Cileungsi, Ciawi, Parung hingga Leuwiliang. Sehingga inilah titik-titik yang harus jadi objek penataan dari aturan batu nantinya. Kalau semua sudah ditata dengan baik, ma­ka akan lebih rapi. “Kita menindak kalau sudah ada solusi lebih enak, tidak disalahkan saja. Se­mua ini harus dipikirkan agar semua lebih rapi,” ujar Ridho.

Penerimaan Siswa Baru Bikin Orang Tua Jengkel, Ini Alasannya

BOGOR DAILY- Aturan penerimaan siswa baru lewat sistem wilayah atau zonasi menuai protes. Merasa dirugikan atas kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, orang tua siswa di Bogor sampai membuat surat terbuka kepada sang menteri. Sebab dalam penerapannya, sekolah tak lagi melihat nilai semata, melainkan memprioritaskan peserta didik yang lolos karena faktor kedekatan antara jarak sekolah

Peraturan Menteri (Permen) Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 17 Tahun 2017 menimbulkan polemik di masyarakat. Dalam Pasal 11 (1), sekolah-sekolah negeri wajib menerima calon peserta didik yang domisilinya dekat dari sekolah. Tak tanggung-tanggung, kuota yang diberikan pun paling sedikit 90 persen dari total jumlah peserta didik yang diterima.

Domisili calon peserta didik tersebut berdasarkan alamat pada kartu keluarga yang diterbitkan paling lambat enam bulan sebelum pelaksanaan PPDB. Radius zona terdekat ditetapkan pemerintah daerah sesuai kondisi di daerah tersebut. Kemudian sebesar sepuluh persen dari total jumlah peserta didik dibagi menjadi dua kriteria, yaitu lima persen untuk jalur prestasi dan lima persen untuk peserta didik yang mengalami perpindahan domisili.

Keluarnya aturan ini langsung jadi polemik. Banyak orang tua yang protes karena merasa dirugikan. Sebab meski anaknya memiliki nilai tinggi, hal itu tidak menjamin bisa masuk sekolah negeri. Sebab, harus dikalahkan dengan siswa yang tempat tinggalnya dekat dengan sekolah meski nilainya pas-pasan. Orang tua murid di Gunungputri, Bunyamin, mengeluhkan soal aturan menteri yang baru.

Sebab saat mendaftar di SMP Negeri 1 Gunungputri yang terletak di Desa Wanaherang pada Senin (3/7) lalu, anaknya tak lolos meski memiliki nilai di atas rata-rata. Menurut Bunyamin, anaknya harus kalah saing dengan siswa lain yang nilainya jauh di bawah rata-rata anaknya namun diuntungkan karena tempat tinggalnya dekat dengan sekolah yang dituju. Ini pula yang membuat banyak orang tua jengkel.

“Saya mewakili orang tua lainnya memprotes kebijakan ini. Anak saya jadi menyesal berusaha dapat nilai bagus. Percuma belajar kalau nilai ternyata tidak berguna untuk daftar sekolah. Cukup tinggal dan beralamat nempel sekolah,” sindir Bunyamin. Protes ini juga dirasakan orang tua lainnya karena aturan zonasi yang dianggap merugikan. Bahkan, hampir di setiap daerah orang tua juga mengeluhkan hal sama. Seperti yang terjadi di Kota Bandung, Situbondo dan lainnya.

Lili Bukhori (40) yang hendak mendaftarkan anak ke SMP Negeri 1 Margahayu, yang bermastautin di Kampung Pameuntasan, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, menyadari betul jarak antara rumahnya dan sekolah yang dituju cukup jauh. Namun, dia tetap bertekad mendaftarkan sang anak ke SMP Negeri 1 Margahayu, salah satu sekolah yang dicap favorit di Kabupaten Bandung. Sehingga, ia pun mempertanyakan soal sejauh mana transparansi sekolah dalam proses penerimaan siswa ini.

Sementara Bunyamin berpendapat bahwa aturan zonasi justru membuat anak-anak jadi malas berkompetensi. Sebab, merasa nilai yang didapat pun tidak memberi pengaruh untuk mendapatkan sekolah negeri berkualitas. “Tujuannya memang baik, tetapi apakah Pak Menteri sudah memikirkan fasilitas yang ada dan dikaji betul,” sindirnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor TB Lutfie Syam mengatakan, awalnya kebijakan ini dibuat agar semua sekolah negeri ataupun swasta memiliki kualitas yang sama. “Untuk Kabupaten Bogor porsinya tidak 90:10 persen, tetapi 60:40 persen. Sebab, melihat kondisi geografis Kabupaten Bogor agar kebijakan ini efektif, tepat sasaran dan bermanfaat,” katanya.

Soal keluhan orang tua murid di Gunung Putri itu, Lutfie menilai sah-sah saja orang tua murid berpendapat demikian. Menurutnya, dulu sebelum permen ini diterbitkan, banyak siswa yang dekat dengan sekolah justru tidak bisa diterima di sekolah tersebut.

“Artinya, tidak ada lagi alasan siswa yang berada dekat dengan sekolah, yang tidak dapat diterima di sekolah dekat rumah. Tentu kebijakan ini banyak juga yang tidak setuju, dengan alasan buat apa punya nilai tinggi, tetapi kalah dengan mereka yang rumahnya dekat dengan sekolah tertentu, lebih baik bikin surat pindah dan sebagainya. Itulah resiko dari setiap kebijakan yang dibuat pemerintah,” ujarnya.

Lutfie menambahkan, permen ini harusnya jadi pemacu semangat untuk sekolah-sekolah swasta, agar memperbaiki kualitas sekolahnya, sehingga menjadi pilihan utama para siswa. “Jadi nantinya tidak ada lagi istilah sekolah favorit dan tidak favorit, semua sekolah akan punya kualitas sama. Kami di daerah sih patuh-patuh saja karena sudah aturan dari atas, tinggal kita mengaplikasikannya sesuai kebutuhan daerah tertentu, asal tujuan besarnya tetap tercapai,” bebernya. (Metropolitan)

Rampok Berpistol Tembak Warga Cilebut, Begini Akhirnya…

BOGOR DAILY–Bogor makin tak aman. Setelah aksi begal di perumahan Bukit Cimanggu City, kali ini rampok berpisotol beraksi di Cilebut.  Tepatnya di Kampung Bojong Sempu RT 03/06, Desa Cilebut Barat, Kecamatan Sukaraja.

Dari informasi yang berhasil dihimpun, kejadian bermula saat sekitar pukul 18.30 WIB, korban bernama Afrizal (21) mendengar sesuatu yang mencurigakan di depan rumahnya.

Ternyata, seorang pencuri sedang berusaha mencungkil sepeda motor Yamaha Vixion warna merah miliknya. Saat coba dihampiri, pelaku langsung menodongkan pistol ke arahnya. Sontak, korban pun kaget dan tiarap ke tanah untuk menghindari tembakan dari pelaku yang dilayangkan ke arah udara.

Mendengar suara tembakan, kakak korban Afis (30) langsung keluar rumah dan melihat adiknya tersungkur ke tanah. Sedangkan pelaku kemudian lari bersama kedua rekannya yang menunggu di ujung gang, mengendarai sepeda motor Honda Beat, dan terlihat menggunakan jaket ojek online.

Mengetahui kejadian tersebut, pihak kepolisian Sukaraja langsung tiba di tkp sekitar pukul 21.00 WIB, dan langsung melakukan penyelidikan.

Usai kejadian, korban Afrizal, masih mengalami trauma. Namun beruntung, motor gagal dibawa kabur.

“Pelaku menodong ke arah saya, spontan saya langsung tiarap menghindari tembakan, yang diarahkan agak keatas, namun saya tidak melihat jelas tembakannya,” katanya.

Saksi mata, yang juga kakak korban, Afis mengatakan, pelaku berjumlah tiga orang, satu orang bertugas mengeksekusi, sedangkan dua lainnya menunggu di ujung gang. “Mereka kabur menggunakan sepeda motor matik, dan langsung tancap gas begitu warga berhamburan keluar mendengar bunyi ledakan,” ucapnya.

Sementara itu, Kapolsek Sukaraja Musimin mengatakan pihak kepolisian kini masih menyelidiki kejadian percobaan perampokan disertai penembakan dengan senjata api tersebut. “Masih kami dalami bagaimana modus pelaku yang kami duga usaha pencurian sepeda motor. Untuk kepemilikan senjata api, masih perlu penyelidikan lebih lanjut,” tuntasnya. (cr1/c/feb)

 

PAN Bogor Setengah Hati Dukung Bima Jadi Cawagub

BOGOR DAILY-MesKi Bima Arya didorong maju sebagai Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Jawa Barat, namun tidak dengan  internal PAN Kota Bogor. Jajaran pengurusnya di tingkat Dewan Pimpinan Daerah (DPD) masih setengah hati melepas Walikota Bogor maju ke provinsi.

Hal ini seperti yang diutarakan Ketua DPD PAN Kota Bogor Safrudin Bima.

“Saya meyakini kalau Bima Arya tidak akan ke Jabar dan tetap di Kota Bogor,” ungkap Safrudin.

Sebab, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) belum menentukan pilihan apakah akan bulat mengusung Bima Arya atau Desy Ratnasari sebagai Cawagub.

“Karena bergantung juga dengan hasil survey yang dilakukan nanti,”ujar dia.

Meski begitu, ia mengaku tak bisa berbuat banyak jika DPP memutuskan akan membawa Bima ke kancah politik di tingkat provinsi.

Apalagi melihat Bima Arya  juga memiliki kapasitas tak kalah dengan kader PAN lainnya seperti Desi Ratnasari, Pasha Ungu, Primus dan lainnya.

“Kalau memang nanti diputuskan ya kita harus fatsun. Kalau pingin kan boleh juga kita mau  Bima tetap melanjutkan di Kota Bogor jadi enggak usah jadi Cawagub,”ujarnya

Senada, Ketua Komite Pemenangan Pemilu Daerah (KPPD) PAN Kota Bogor Mahakaty juga menyerahkan sepenuhnya kepada keputusan partai. DPD PAN akan mendukung apapun keputusan Bima yang kemungkinan akan menjadi keputusan DPP juga.

“Jadi kami belum bisa memastikan apakah Bima memang benar mau maju di Jabar atau bagaimana. Tapi, sebagai kader, biasanya jika DPP meminta ya harus siap apapun keputusannya,” singkat Mahakaty.

Sementara itu, tim sukses (Timses) Bima Arya saat dulu mengusungnya  pada Pilwakot 2013 turut memberikan respon soal penggadangan Bima sebagai Cawagub.

Sekretaris Paguyuban Bogor Boy Koesnan Kusumabrata menyatakan tak ambil pusing dengan keputusan apapun yang diambil Bima.

“Saya sih tidak tahu keingian kang bima tapi saya mendukung apapun keputusannya nanti. Karena toh dia punya kapasitas naik ke level lebih tinggi,”tandasnya

Merapat ke PPP, Nungki Ngarep Jadi Pendamping AY

BOGOR DAILY– Nama Fitri Putra Nugraha alias Nungki kembali mencuat, mengahapi burs apemilihan bupati (Pilbup) Bogor. Mantan anggota DPRD Kabupaten Bogor cukup meramaikan pertarungan memperebutkan kursi orang nomor 1 di Bumi Tegar Beriman pada Pilkada 2018 mendatang.

Bahkan, tersiar kabar bahwa dirinya sudah merapatkan barisan ke beberapa partai demi memuluskan langkahnya menjadi Bakal Calon Wakil Bupati Bogor untuk mendampingi Ade Yasin (AY) adik dari Rahmat Yasin (RY) untuk meneruskan program yang masih tertunda.

Salah satu tim sukses yang juga Sekretaris Balad Karya Ebing Sulbi Darsyah menerangkan, Nungki beserta Balad Karya akan sowan ke Hanura, Nasdem, Demokrat, PKB dan lainnya agar bisa menjadi Wakil Bupati mendampingi AY.

“Untuk memuluskan langkah menjadi Wakil Bupati, kami akan melalui jalur partai politik. Oleh karenanya, kami berupaya mendapatkan rekomendasi salah satu partai yang nantinya akan berkoalisi dengan PPP,” ujar Ebing Sulbi Darsyah kepada wartawan, Jumat (07/07/17).

Menurutnya, bahwa langkah mendapatkan rekomendasi dari partai politik tersebut diambil sesuai saran dari mantan Bupati Bogor Rahmat Yasin yang juga merupakan salah satu tokoh besar dan berpengaruh PPP.

“Kang Nungki begitu akrab dengan Rahmat Yasin (RY) dan RY. Makanya Nungki harus mendapatkan rekomendasi dari partai politik yang sekiranya akan berkoalisi dengan PPP di ajang Pemilihan Bupati (Pilbup) Bogor 2018. Dengan Partai Hanura sendiri kami sudah bertemu beberapa kali,” ujarnya.