Monday, 13 April 2026
Home Blog Page 8658

Sarwendah Hadiah Kuda Dari Belanda

0

Bogor Daily – Sarwendah baru saja ulang tahun ke-29. Tapi Ruben Onsu memberikan hadiah yang terbilang unik, yakni seekor kuda. Bahkan ia punya alasan kenapa memberikan kuda yang harganya selangit itu. ”Ya pengen punya hadiah yang bisa dia pakai juga gitu kalau barang-barang atau tas yang lain Wendah sudah ada lah. Kalau kuda itu kan lebih Wendah gunakan,” kata Ruben.

BAHKAN Ruben Onsu mem­beli kuda itu langsung dari Eropa. Butuh tiga bulan un­tuk Ruben membawanya ke Indonesia. ”Nyari kuda tiga bulan dibantu sama Na­billa Syakieb. Jadi, kudanya saya beli dari Amsterdam, kan prosesnya tuh panjang ya, jadi sampai Indonesia juga ada proses karantina dulu. Ya rata-rata ya me­mang kalau pemain kuda sih ngambilnya dari sana, jadi aku karena ada grup kuda gitu jadi paling ba­nyak kalau beli di sana,” bebernya.

Lantas kuda apa sih se­betulnya? Ruben menu­t u r ­k a n , kuda ter­s e b u t berspe­sifikasi khusus. ”Nant i l i h a t sendiri deh, karena memang tipe kuda yang Wendah mainin memang untuk Wendah bisa loncat sama kudanya. Kita kan nyari kuda tuh memang harus yang senyawa, jadi saya be­berapa pilihan, Nabila kirim bebe­rapa kandidat, ’ini oke, yah tapi harganya segini’. Jadi cukup lama prosesnya 3 bulan sampai ada di tangan saat ini,” ceritanya.

Sementara itu, memberikan kuda bukanlah permintaan Sarwendah, melainkan insiatif Ruben sendiri. ”Ng­gak (minta Wendah), inisiatif,” tukas­nya.

Puisi Zaman Keraguan

0

Oleh: Yudi Latif
Pemikir Kebangsaan dan Kenegaraan

Menjelang kematiannya pada 1873, pujangga agung Keraton Surakarta, R Ng Ranggawarsita, menulis puisi ratapan, “Serat Kalatidha” (Puisi Zaman Keraguan).

Bait pertama puisi tersebut bersaksi, “Kilau derajat negara lenyap dari pandangan. Dalam puing-puing ajaran kebajikan dan ketiadaan teladan. Para cerdik pandai terbawa arus zaman keraguan. Segala hal makin gelap. Dunia tenggelam dalam kesuraman”.

Hampir satu setengah abad kemudian, gambaran serupa membayangi pusat kekuasaan negara Republik Indonesia, yang mencapai titik zenitnya pada masa kepresidenan Joko Widodo (Jokowi). Seorang putra Surakarta dari kalangan kawula, yang karena sepak terjangnya sebagai political outsider yang berbeda dari kebanyakan politisi, melesat cepat menjadi presiden dengan gelembung harapan rakyat yang nyaris seperti ratu adil.

Namun, belum genap seratus hari pemerintahannya, harian bergengsi The New York Times, 17 Januari 2015, melukiskan nasib sang presiden dalam nada Serat Kalatidha. Bahwa bagi rakyat Indonesia, derajat kepemimpinan negara telah kehilangan “kilaunya” (“For Indonesians, President’s Political Outsider Status loses Its Lustre”).

Kegagalan mentalitas

Ujian mental bagi independensi presiden pengusung revolusi mental ini dilalui dengan kegagalan mentalitas, seperti tecemin dari serangkaian penyangkalan terhadap ide-idenya sendiri. Gagasan koalisi ramping demi kehebatan pemerintahan dirobohkan oleh susunan kabinet dan staf kepresidenan yang sarat kepentingan, menampilkan kombinasi menteri-menteri berkualitas rendah dan bertanda merah. Orientasi kerakyatan dihela dengan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) saat harga minyak dunia turun. Visi pemerintahan bersih dan peradilan independen dinodai dengan mengangkat Jaksa Agung dari kalangan partisan.

Presiden juga menerobos batas kepantasan dengan membentuk Dewan Pertimbangan Presiden yang didominasi orang- orang partai, dengan kualitas kenegarawanan yang jauh dari semangat asal Dewan Pertimbangan Agung. Batas etis pun dilanggar dengan mengajukan calon tunggal Kapolri bertanda merah dengan rekam jejak pelanggaran yang sudah terpublikasikan. Jurnal seratus hari pemerintahan Jokowi ditutup dengan sengketa KPK versus polisi, dengan posisi dan jawaban presiden yang tidak meyakinkan.

Apa gerangan yang membuat seorang presiden yang memenangkan mayoritas dukungan dalam pemilihan langsung begitu tak berdaya menentukan pilihan? Persoalannya jelas tak bisa ditanggung oleh Jokowi sendirian. Lewat symptomatic reading, kita bisa mengenali bahwa kegagalan mentalitas pemimpin baru ini hanyalah tanda permukaan dari arus bawah yang lebih sinister, yakni meluasnya dekadensi dalam demokrasi kita.

Masalah terbesar politik Indonesia saat ini adalah semua orang tahu ada banyak masalah dalam demokrasi, tetapi seperti tak ada seorang pun yang bisa berbuat sesuatu untuk mengatasinya. Ketidaksanggupan warga untuk mengatasi masalah-masalah kolektif ini terjadi karena institusi-institusi representasi demokrasi dan lembaga publik tidak lagi di bawah kendali publik, tetapi jatuh ke tangan pengendalian segelintir pemodal kuat. Demokrasi tidak lagi menjadi sarana efektif bagi kekuatan kolektif untuk mengendalikan kepentingan perseorangan, malahan berbalik arah menjadi sarana efektif bagi kepentingan perseorangan untuk mengontrol institusi dan kebijakan publik.

Dalam perkembangan demokrasi di negeri ini, pintu masuk bagi penetrasi pemodal ke dalam domain publik itu melalui pengadopsian model demokrasi liberal padat modal. Suatu model demokrasi, yang bagi Amerika Serikat sendiri dengan ratusan tahun sejarah demokrasi dengan basis egalitarianisme yang kuat, dalam perkembangannya terbukti hanyalah menjadi tunggangan yang efektif bagi elevasi satu persen orang terkaya.

Di negeri ini, dengan warisan kesenjangan pasca-kolonial, pengadopsian demokrasi liberal padat modal di tengah samudra kemiskinan, membuat pemimpin terpilih—meskipun dengan dukungan mayoritas rakyat dalam pemilihan langsung—lebih berutang pada pemodal yang nyata ketimbang rakyat yang abstrak. Dalam konteks inilah kita melihat Jokowi sebagai presiden hanyalah pekerja partai-pemodal.

Dimensi struktural dari dekadensi demokrasi itu diperburuk oleh kapasitas pemimpin negara sebagai agen perubah. Menangkal kepentingan pemodal-perseorangan meniscayakan kesadaran dan strategi ideologis. Berbagai langkah blunder Jokowi dalam seratus hari pemerintahannya justru mencerminkan kelemahan daya baca dan referensi ideologis ini. Tanpa radar ideologis, seorang pemimpin tak memiliki kerangka referensial untuk membantu menentukan jenis manusia dan kebijakan apa yang sepatutnya dipilih.

Tekanan Jokowi pada pengetahuan praktis-pragmatis mengabaikan pentingnya “narrative knowledges”. Padahal, gagasan besar semacam revolusi mental harus diletakkan dalam kerangka strategi ideologis berbasis pengetahuan naratif (sejarah, antropologi, sosio-psikologi, ekonomi-politik dan praktik diskursif).

Ada semacam ilusi bahwa tindakan bisa dijalankan secara benar tanpa pemikiran yang benar. Padahal, seperti diingatkan Lyndon B Johnson, “Tugas terberat seorang presiden bukanlah mengerjakan apa yang benar, melainkan mengetahui apa yang benar.” Tanpa pengetahuan yang benar, ketangkasan bertindak hanya akan mempercepat kegagalan.

Anti-intelektualisme

Namun, Jokowi tidak berdiri sendirian. Kemunculan Jokowi sebagai pemimpin negara membawa arus besar anti-intelektualisme dalam masyarakat. Banyak orang yang tidak lagi menghargai pikiran, bahkan mengembangkan sinisme terhadap kedalaman pengetahuan. Para cerdik cendekia sendiri terbawa arus keraguan ini dengan tidak memercayai nilai pikirannya; ikut-ikutan mengagumi sensasi tindakan sesaat seperti pembakaran perahu yang telah lama terampas oleh menteri baru.

Gelombang anti-intelektualisme ini sebagian merupakan arus balik dari pengkhianatan intelektual, tetapi utamanya karena desakan kebutuhan sehari-hari yang tidak segera dipenuhi oleh konsepsi-konsepsi pemikiran. Seperti kata Bung Karno, “Orang lapar tidak bisa segera kenyang hanya dengan diberikan kitab konstitusi.” Pelarian dari kesulitan hidup ini dininabobokan oleh candu hiburan-hiburan dangkal-miskin pikir yang disajikan secara intensif dan masif lewat siaran televisi kita; membudayakan semacam “the cult of philistinism” (pemujaan terhadap budaya kedangkalan oleh perhatian yang berlebihan terhadap interes-interes material dan praktis).

Peluluhan daya pikir ini memberi prakondisi bagi supremasi pemodal untuk mengarahkan pilihan rakyat lewat kampanye media. Kekuatan pemodal yang cenderung menepikan kekuatan kritis bertemu dengan kecenderungan banalitas arus bawah. Lewat manajemen impresi, subtansi pemikiran dikalahkan oleh kesan pencitraan.

Maka, para pemimpin terpilih mencerminkan defisit pemikiran. Dengan begitu, negara tidak memiliki topangan pemikiran dan pengetahuan yang kuat. Sengkarut negara mencerminkan sengkarut pemikiran. Hal ini tecemin mulai dari ketidakberesan hasil amandemen konstitusi, produk perundang-undangan, desain institusi-institusi demokrasi, hingga ketidaktepatan pilihan kebijakan dan orang.

Keadaan ini menempatkan negara di tepi jurang. Para pemikir kenegaraan lintas zaman dan lintas mazhab cenderung menyepakati hubungan integral antara negara dan pengetahuan. Negara sendiri didefinisikan sebagai organisasi rasional dari masyarakat. Bahkan Hegel menyatakan bahwa negara merupakan penjelmaan dari pikiran. Michel Foucault menegaskan, “Pemerintah, oleh karena itu, memerlukan lebih dari sekadar usaha mengimplementasikan prinsip-prinsip umum pemikiran, kebijaksanaan, dan kehati-hatian. Pengetahuan spesifik juga sangat diperlukan: pengetahuan yang konkret, tepat, dan terukur.”

Membanguan negara harus melalui cara bagaimana kedaulatan menyatakan dirinya dalam bidang pengetahuan. Negara dapat dipandang sebagai mesin-pengumpul kecerdasan (intelligence-gathering machine). Kedekatan antara negara dan kecerdasan, dan bahwa keselamatan negara ditentukan oleh kecerdasan, terlihat dari pemahaman umum yang cenderung mengaitkan istilah “intelijen” dengan badan inteligen negara, seperti Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Intelijen Strategis (BAIS), dan sejenisnya.

Sebuah negara yang dibangun tanpa landasan kecerdasan dan pengetahuan tak ubahnya seperti istana pasir. Oleh karena itu, jika demokrasi kita maksudkan sebagai jalan kemaslahatan bangsa, maka jalan sesat demokrasi dalam kendali plutokrasi-aristokrasi itu harus dihentikan dengan cara membangun demokrasi-meritokratis.

Demokrasi yang kita kembangkan harus menumbuhkan kembali daulat rakyat yang dipimpin oleh kekuatan akal budi (hikmat kebijaksanaan) dalam suasana deliberatif dan argumentatif (permusyawaratan perwakilan).

Kasihan, Gubuk Mak Enah Tertimpa Pohon

0

Bogor Daily – Nasib apes dia­lami Mak Enah, warga RT 06/02, Desa Pasirgaok, Kecamatan Ranca­bungur, Kabupaten Bogor. Gubuk atau rumah yang dihuni nenek berusia 74 tahun itu roboh akibat tertimpa pohon rambutan yang terhempas angin saat hujan melanda. “Saya kaget, anginnya kencang. Tiba-tiba rumah saya ke­timpa pohon,” katanya, seraya men­jelaskan saat kejadian ia tengah ter­tidur karena tidak enak badan.

Untuk itu, ia meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor dapat memperbaiki kondisi rumahnya. Se­bab, di rumah ini ia tinggal sebatang kara. “Emak mah yang penting dibe­nerin supaya bisa ditempatin lagi,” harapnya.

Sementara itu, Ketua RT 06, Supri­yadi, menuturkan, untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan, saat ini Mak Enah diungsikan terlebih dulu ke rumah tetangga. “Alhamdulillah, si Emak nggak apa-apa. Saat ini kita sedang buat laporan ke pemerintah setempat mengenai musibah ini,” ujarnya. 

Bisa Kurangi PENGANGGURAN

Bogor Daily – Dinas Tenaga Kerja dan Trans­migrasi (Disna­kertrans) Kabupaten Bogor telah membuka peluang bagi masyarakat dalam pameran bursa ker­ja yang diselenggarakan di PT Holcim Indonesia Tbk di Kecamatan Klapanunggal, kemarin. Selama dua hari, program hasil kerja sama dengan 40 peru­sahaan itu bertujuan menekan jumlah pengangguran melalui peningkatan penempatan tenaga kerja.

Sekretaris Daerah (Sekda) Ka­bupaten Bogor, Adang Suptandar, mengapresiasi seluruh perusa­haan yang telah bersedia men­jadi peserta pameran bursa kerja. Selain membantu Pe­merintah Kabupaten (Pemkab) Bogor dalam mengatasi ting­ginya angka pengangguran, bursa kerja ini secara langsung maupun tidak langsung be­rimplikasi pada meningkatnya persoalan sosial di tengah ma­syarakat.

“Dengan berpartisipasi dalam kegiatan ini, perusahaan telah memberikan kesempatan ma­syarakat untuk mengakses ke­sempatan kerja dan berperan aktif dalam pertumbuhan pe­rusahaan sesuai bidangnya masing-masing,” ujarnya. Adang menambahkan, saat ini Pe­merintah Kabupaten (Pemkab) Bogor terus berupaya melaks­anakan berbagai program kerja dan kegiatan yang bertu­juan mengurangi angka peng­angguran. Sehingga tingkat pengangguran di Kabupaten Bogor terbuka sejak 2014 sam­pai 2017 memiliki tren menu­run setiap tahunnya.

“Hasil survei angkatan kerja nasional yang dilakukan BPS 2017 menunjukkan tingkat pengangguran terbuka di Ka­bupaten Bogor sebesar 9,55 persen, menurun jika diban­dingkan 2015 sebesar 10,01 persen dan 2016 sebesar 9,62 persen,” jelas Adang.

Sementara itu, Kepala Disna­kertrans Kabupaten Bogor, Yous Sudrajat, menuturkan, pameran bursa kerja ini berlangsung dua hari sampai Kamis (30/8). Po­sisi kerja yang ditawarkan, mulai dari operator sampai manajer, dengan jumlah lo­wongan yang disediakan men­capai 1.500 lowongan peker­jaan

Menhub Minta LRT Keliling Bogor, Dishub: Belum Dibahas

0

Bogor Daily – Jalur Light Rail Transit (LRT) Jabodebek tak cuma diperpanjang hingga ke Bogor, tetapi juga akan dibuat mengelilingi pusat kota. Ini sesuai rencana Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk menambah rute dari Cibubur ke Bogor.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, nantinya LRT ini akan dibangun menyambung dari Cibubur hingga Terminal Baranangsiang Bogor. Ia mengaku pembangunan tersebut akan segera dilakukan. Menurutnya, pengerjaan proyek tersebut akan memakan waktu dua tahun. “Ini ada LRT, sekarang baru sampai Cibubur. Tapi dua tahun lagi sampai Bogor. LRT nanti sampai Terminal Baranangsiang,” kata Budi.

Setelah itu, LRT akan dibuat dengan ukuran yang lebih kecil untuk berkeliling Kota Bogor. “Nanti kita buat LRT yang lebih kecil mengelilingi Kota Bogor. Jadi dengan adanya LRT yang sudah disetujui Presiden (Joko Widodo) ini bisa dibangun dalam waktu dekat,” tambahnya.

Untuk dapat melaksanakan rencana tersebut, jelas Budi, pembangunannya akan mengikutsertakan perusahaan swasta dan menggunakan skema Kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).

Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno pun menyambut positif kerja sama tersebut. Menurutnya, banyak perusahaan swasta yang berminat terlibat di proyek LRT di Tanah Air.

“Saya pikir nanti berikutnya swasta saja, KPBU, kerja sama pemerintah dengan badan usaha. Saya yakin swasta mau karena penumpangnya banyak. Kalau swasta sudah bangun, pemerintah tinggal bantu subsidi saja,” jelasnya.

Menurut penilaiannya pun, pembangunan LRT Jabodebek ini cukup krusial. Terutama mengingat kian sesaknya penumpang KRL Commuter Line dan tipisnya kemungkinan penambahan gerbong.

Padahal, penumpangnya banyak yang berasal dari luar Jakarta seperti Bogor, Bekasi serta Depok. Adanya LRT pun diharapkan bisa menjadi moda transportasi alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk masyarakat, sekaligus mengurangi angka kemacetan.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor, Rakhmawati tak menapik adanya opsi rencana untuk LRT keliling Bogor. Hanya saja, persoalan itu hingga kini belum dibahas lebih lanjut.

“Belum ada pembahasan khusus. Jadi susah juga mau mengiyakan atau mengtakan tidak,”kata Rakhmawati

Sementara itu, jalur Kelapa Gading-Velodrome yang merupakan bagian dari LRT Jakarta-Cibubur tersebut telah dinyatakan layak beroperasi secara terbatas. Kata ‘terbatas’ pada syarat ini merujuk kepada penumpang undangan alias tamu, bukan masyarakat umum.

LRT Koridor 1 Fase I menggunakan jalur ganda layang melintasi lima stasiun yakni Velodrom, Pacuan Kuda, Pulomas, Kelapa Gading Boulevard serta Mall Kelapa Gading.

Setelah mendapatkan surat rekomendasi teknis yang diberikan Ditjen Perkeretaapian melalui surat Nomor 35/SRT/K3/DJKA/VIII/2018, manajemen proyek LRT, PT Jakarta Propertindo (Jakpro), mengadakan uji coba ‘terbatas’ yang berlangsung selama 30 hari, mulai 21 Agustus hingga 20 September 2018.

Diadakannya uji coba internal ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan sebelum akhirnya digunakan untuk umum. “Operasional secara fungsional ini bersamaan dengan perbaikan teknis sesuai rekomendasi tim pengujian Balai Pengujian Perkeretaapian,” ungkap Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Zulfikri.

Zonasi Guru Perlu Uji Coba

0

Bogor Daily – Sistem zonasi tak hanya berlaku saat penerimaan siswa baru, tetapi juga bakal diterapkan untuk guru. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Memendikbud) merencanakan adanya sistem zonasi sebagai rujukan memeratakan guru di Indonesia. Sehingga nantinya selain zonasi untuk siswa, pemerintah juga akan menerapkan zonasi untuk guru yang berstatus PNS.

Rencananya, pada pertengahan Oktober 2018 ini, Mendikbud Muhadjir Effendy akan berdialog dengan seluruh dinas-dinas pendidikan untuk membahas rencana tersebut.

“Kita sudah punya peta kasar, peta awal, tentang zonasi di masing-masing kota. Nanti kita akan petakan, kita konfirmasi dengan kabupaten/kota, ini cocok atau belum? Sehingga nanti akan ada penyesuaian karena mereka yang lebih tahu detail di lapangan,” kata Muhadjir di Gedung A Kemendikbud, Rabu (29/8).

Setelah adanya pemetaan berdasarkan zona tersebut, lanjutnya, maka akan ada mutasi atau redistribusi guru. Sehingga guru-guru PNS tersebar dan tidak menumpuk di salah satu sekolah di daerah tertentu saja. Karena di satu sekolah harus terdiri dari empat kategori guru yaitu guru negeri yang sudah tersertifikat, guru negeri belum tersertifikat, guru tidak tetap (honorer) tetapi sudah tersertifikat dan guru tidak tetap belum tersertifikat.

“Jadi itu harus merata di semua sekolah. Tidak boleh ada sekolah yang isinya PNS semua tapi ada sekolah yang lain PNS-nya hanya satu yaitu kepsek. Daerah tidak boleh lagi melakukan itu,” tegas Muhadjir.

Ia menambahkan, aturan zonasi guru akan berlaku di sekolah negeri dan juga sekolah swasta. Sebab, hal itu sesuai instruksi Presiden RI Joko Widodo untuk mempercepat pemerataan dan kualitas pendidikan di berbagai daerah di Indonesia.

Bagi daerah yang tidak mengikuti aturan ini akan menerima sanksi. Sanksi tersebut berdampak pada pencairan dana yang telah dikonsultasikan dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

“Daerah tidak boleh lagi melakukan itu dan saya sedang berbicara dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Nanti ada sistem reward and punishment terhadap sekolah yang tidak mematuhi peraturan (zonasi guru, red),” ujar Muhadjir.

Dalam sistem zonasi guru, pihaknya juga akan melakukan rotasi berdasarkan tour of duty dan tour of area sesuai UU Aparatur Sipil Negara (ASN). Artinya, setiap guru akan diwajibkan berada di tempat pengabdian selama dua sampai lima tahun dan harus ada rotasi jika sudah melebihi angka tersebut.

“Jadi guru kalau sudah dua sampai lima tahun itu harus ada rotasi. Kemudian ada wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar). Semua guru wajib pernah punya pengalaman di daerah itu,” katanya.

Lalu bagaimana daerah menyikapinya?

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor Luthfi Syam mengatakan bahwa rencana itu masih tahap wacana. Sehingga bisa dilaksanakan ataupun tidak. “Ya nanti kita tunggu saja pembahasannya, namanya juga baru rencana,” kata Luthfie.

Sementara Sekretaris Dinas (Sekdis) Pendidikan Kota Bogor Jana Sugiana mengatakan, penerapan zonasi perlu ada uji coba terlebih dulu. “Menurut saya harus ada uji coba dulu di daerah yang jadi pilot project. Kalau memang itu berjalan, baru diterapkan peraturannya. Jangan langsung di semua daerah dilaksanakan,” pintanya.

Mahfud MD Memburu Korban

0
*Tony Rosyid*
Pengamat Politik dan Pemerhati Bahasa
Mahfudz MD nominasi cawapres Jokowi. Posisinya paling atas. Berada di urutan nomor satu.  Sudah 90% kata Romahurmuziy. Tinggal 10% lagi.
Segala rencana deklarasi dan daftar ke KPU sudah disiapkan. Mulai dari setor CV, kirim setelan baju ke istana, sampai sekenario boncengan sepeda motor ke KPU bersama Jokowi.
Tak mulus bagi Mahfudz, karena banyak kompetitor. Kompetitor paling agresif justru datang dari koleganya sendiri di PBNU dan PKB. Ada Muhaimin Iskandar yang sudah lama branding cawapres. Ada Said Aqil Siradj, ketua PBNU dua periode yang selama ini konsisten _back up_ Jokowi. Ada Ma’ruf Amin, Rais Am PBNU dan ketua MUI yang mondar-mandir diundang ke istana. Ada juga Romahurmuziy, ketua umum PPP yang setiap ucapannya berisi pembelaan dan pujian terhadap Jokowi.
Untuk mengalahkan Mahfudz, para kompetitor sepertinya kompak. “Seolah” telah terjadi kesepakatan diantara mereka; ABM (Asal Bukan Mahfudz). Mereka bermanuver. Manuver pertama ditujukan ke Jokowi. Tak ambil kader NU, NU tidur dan akan tinggalkan pemerintah. Bahasa medianya kata Mahfudz, NU tak bertanggungjawab secara moral terhadap pemerintahan jika tak mengambil kader NU sebagai cawapres. Intinya tak akan mendukung Jokowi di pilpres 2019.
Manuver kedua diarahkan kepada Mahfudz. Bahwa Mahfudz bukan kader NU.
Ending dari drama ini, mereka sukses mengkandaskan Mahfudz. Dan Mahfudz gagal jadi cawapres Jokowi di pilpres 2019. Tidak hanya gagal, Mahfudz juga tidak dianggap kader NU dan dituduh bahwa munculnya nama Mahfudz sebagai cawapres Jokowi hanya persepsi publik. Ini yang membuat Mahfudz tersinggung.
Sudah jatuh, ketimpa tangga pula. Itulah kira-kira yang dialami Mahfudz. Mahfudz terima? Kepada Jokowi, Mahfudz bilang tak kecewa. Tapi, curhat Mahfudz di ILC cukup mengancam kredibilitas dan elektabilitas Ma’ruf Amin. Otomatis juga merugikan pasangannya yaitu Jokowi. Dan Mahfudz dengan tegas menolak masuk timses Jokowi. Apakah ini linier dengan statement ketidakkecewaan Mahfudz? Tentu tidak. Publik pasti paham soal ini.
Pepatah Arab bilang: _lisaanul haal  afshahu min lisaanil maqaal_. “sikap lebih terpercaya dari pada ucapan”. Sikap Mahfudz menolak jadi timses Jokowi itu jadi pesan paling penting.
Tapi Mahfudz tegas bahwa ia tersinggung kapada Romy yang bilang “Pak Mahfudz kan maunya sendiri. Bikin baju sendiri. Siapa yang nyuruh? Itu kerja timsesnya”. “Jangan main-main sama saya. Setya Novanto aja masuk”. Mahfudz mengancam.
Tidak hanya Romy, Mahfudz juga sempat menyinggung soal kardus durian. Publik tahu, Mahfudz sedang menyasar Muhaimin. Sebab, kardus durian dipahami publik terkait dengan nama Muhaimin.
Mahfudz juga cerita bahwa ada ungkapkan Kiyai Said Aqil Siradj kalau dari semua daftar bakal cawapres Jokowi dari kader NU itu hanya Mahfudz dan Kiyai Said Aqil Siradj yang tidak korupsi. Yang lain korupsi? Bagaimana dengan Ma’ruf Amin? Apakah termasuk dalam daftar korupsi yang diungkapkan Kiyai Said Aqil Siradj?
Mahfudz bilang bahwa ia tahu kasus orang-orang itu: data, catatan dan kapan kejadiannya. Apakah ini juga bagian dari ancaman Mahfudz?
Apa yang diungkapkan Mahfudz tidak main-main. Beberapa hari setelah curhat Mahfudz di ILC, Romy dipanggil KPK. Untuk sementara sebagai saksi. Apakah akan naik jadi tersangka?
Jika Romy jadi tersangka, berarti ancaman Mahfudz sangat serius dan benar adanya. Kabarnya Mahfudz digandeng KPK untuk tuntaskan kasus. Kasus apa? Bisa kasus usulan Dana Perimbangan Daerah dalam anggaran APBN-P 2018 yang dugaannya menyeret nama Romy. Bisa juga kasus kasdus durian yang selalu dikaitkan dengan Muhaimin. Bisa juga menyasar Ma’ruf Amin jika apa yang diungkapkan Kiyai Said Aqil Siradj itu benar adanya.
Digandeng KPK bukan berarti Mahfudz jadi anggota KPK. Boleh jadi sebagai informan dan ahli yang membantu KPK. Sebelumnya Prof. Romli mendesak KPK untuk menindaklanjuti informasi awal dari Mahfudz di ILC (14/8/2018).
Jika Romy tersangka, maka tidak hanya petaka buat Romy secara personal, tapi juga akan jadi prahara buat PPP. Tidak hanya elektabilitas PPP di pileg 2019 yang akan goncang, tapi PPP kubu Romy bisa runtuh. Kemungkinan akan ada proses akuisisi di PPP.  Mengingat PPP ada dua kubu. Kubu Romy dan Djan Faridz. Jika proses akuisisi terjadi, belum tentu PPP akan dukung dan bekerja untuk Jokowi-Ma’ruf.
Situasi inilah yang ditunggu-tunggu kubu PPP non-Romy. Romy tersangka, peluangnya besar untuk diadakan munaslub. Agendanya: bukan hanya mengganti Romy, tapi mengakuisisi PPP kubu Romy. Ahmad Wafi, putera Kiyai Maemoen Zubair kabarnya sedang digadang-gadang dan dipersiapkan untuk jadi calon kuat pengganti Romy.
Selain Romy, Muhaimin bisa jadi obyek peluru nyasar Mahfudz. Kardus durian bisa dibuka. Kalau ini terjadi, maka Romy dan Muhaimin akan benar-benar jadi korban pertama dan kedua Mahfudz MD.
Jika 2014 Mahfudz dipersepsikan publik telah jadi tumbal PKB, dan 2019 gagal jadi cawapres Jokowi karena diduga dijegal Muhaimin cs, maka status tersangkanya Muhaimin, kalau itu benar-benar terjadi, akan jadi balasan telak Mahfudz kepada Muhaimin.
Setelah Romy dan Muhaimin jadi sasaran tembak Mahfudz, bagaimana dengan Ma’ruf Amin? Kena sasaran juga? Kita tunggu manuver dan peluru hukum Mahfudz selanjutnya.
Jakarta, 28/8/2018

Pasang Pompa Baru, PDAM Tirta Pakuan Tambah Kapasitas 200 l/det

0

Bogor Daily – Pemasangan pompa baru di Intake Cipaku yang mulai Kamis (30/08/18) pagi, diyakini dapat meningkatkan pelayanan air bersih PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor. Pompa buatan Eropa Timur yang punya kemampuan teknis hingga 300 liter perdetik (l/det) itu merupakan salah satu solusi perbaikan sistem pengaliran di wilayah zona III.

Direktur Teknik (Dirtek) PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor Syaban Maulana menyebutkan, pemasangan pompa transmisi air baku itu merupakan langkah PDAM untuk meningkatkan pelayanan di wilayah zona III. Karena beberapa waktu belakangan ini, sejumlah wilayah di Kecamatan Bogor Barat, Utara dan sebagian Bogor Selatan diidentifikasi belum terlayani 24 jam.

“Pemasangan pompa di Intake Cipaku ini merupakan salah satu solusi gangguan pelayanan di wilayah Cimahpar, Bogor Baru, perumahan Griya Melati hingga Bubulak. Ini sebagai solusi jangka pendek sambil SPAM Katulampa selesai,” ujar Dirtek saat menjadi inspektur apel khusus di halaman parkir PDAM Kota Bogor, Rabu (29/08/18).

Direksi sengaja mengadakan apel khusus untuk menyosialisasikan rencana pemasangan pompa ini kepada seluruh pegawai, agar para pegawai dapat membantu menginformasikan program ini kepada khalayak umum.

“Pengerjaan pemasangan pompa ini cukup memakan waktu, mungkin bisa seminggu lebih. Dan ini akan berdampak pada sistem pengaliran kita. Pasokan air bersih ke pelanggan akan terhambat. Jadi tolong bantu informasikan kepada tetangga, teman-teman atau keluarganya,” kata dirtek.

Dia menerangkan, tim dari Departemen Produksi dibantu NRW dan Trandis melakukan simulasi penghentian pasokan air selama dua jam pada Selasa (28/08/18) lalu. Meski hanya dua jam, dampaknya ternyata cukup signifikan. Banyak laporan air tidak mengalir via call center hingga beberapa jam.

“Kita lakukan simulasi (penghentian pompa sementara 100 l/det) pada pukul 18.00-20.00 WIB, air di rumah saya di Bantarjati mati sampai pukul 22.00. Berarti kan cukup lama juga gangguannya,” ujar Dirtek.

PDAM Siagakan 10 Mobil Tangki

Rencananya Kamis (30/08/18) pagi pukul 06.00 WIB, PDAM mulai menghentikan pompa sementara Intake Cipaku untuk memudahkan pengangkatan pompa lama. Diprediksi, gangguan pengaliran di pelanggan terjadi pada siang atau sore harinya. Untuk mengantisipasi gangguan, PDAM sudah menyiapkan sepuluh armada tangki membantu penyediaan air bersih bagi pelanggan yang terdampak gangguan.

“Kita siapkan sepuluh tangki yang terus bergerak selama pelanggan membutuhkan. Karena keterbatasan sopir, kita minta pegawai untuk turut serta membantu. Bahkan kami direksi siap menjadi sopir atau kenek jika dibutuhkan. Para manajer dan asisten manajer juga bisa turun membantu,” tambah Dirtek.

Seperti diketahui, PDAM akan mengerjakan pemasangan pompa transmisi air baku di Intake Cipaku dengan sumber air dari Sungai Cisadane pada Kamis (30/08/18). Pengerjaan diprediksi berlangsung 1-2 pekan ke depan.

Pengerjaan ini berpotensi menyebabkan gangguan pelayanan di wilayah zona III. Di antaranya sebagian Jl. Raya Pajajaran, Jl. Sukasari 1, 2, 3 dsk, Jl. NV. Sidik dsk, Jl. Duku, Jl Nanas Bantar Kemang, Jl Pajajaran Baranangsiang, Jl Pajajaran Indah, Villa Duta, Pajajaran Regency, Jl Ciheuleut, Bogor Lake Side.

Kemudian Griya Soka, Perum Botanica Cimahpar, Perum Haji Cimahpar, Perum Nurul Ichwan, Jl Sukasari, Jl Siliwangi, Jl Lawanggintung, Jl Sekip, Jl Batutulis, Kp. Jaya tunggal dsk, Perum Puri mas dsk, sebagian jl. Bondongan. Gunung Batu, Jalan Sindang Barang, Jl Loji, Griya Melati.

“Bagi masyarakat membutuhkan pasokan air melalui mobil tangki dapat menghubungi Call Center 24 Jam PDAM di nomor (0251) 8324111 dan Whatsapp 08111182123,” kata Dirtek.

Ngarep Direhab 9 Bulan Saja

0

Bogor DAily – Sidang perkara penyalahgunaan narkotika terdakwa Dhawiya Zaida memasuki agenda pledoi. Dalam sidang pledoi hari ini, kuasa hukum Dhawiya, Reyno Yohannes Romein meminta keringanan tuntutan menjadi 9 hingga 12 bulan rehabilitasi. “Itu berdasarkan pendapat ahli ya. Untuk menghitung masa penahanan yang telah dijalani oleh Dhawiya sekitar enam bulan, lalu kami sambungkan dengan keterangan ahli dari BNNK bahwa tiga sampai enam bulan, maka kami tarik kesimpulan bahwa Dhawiya ini berhak direhabilitasi selama sembilan bulan hingga satu tahun,” ungkap Reyno di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, kemarin.

Alasannya, Dhawiya telah kembali sehat dan bertindak kooperatif selama penahanan. Dhawiya juga sudah berhenti menggunakan obat-obatan terlarang tersebut, sehingga dua tahun rehabilitasi dirasa terlalu berat bagi Dhawiya. “Alasannya karena Dhawiya selama dalam penahanan tidak menggunakan narkoba dan dalam keadaan sehat. Seharusnya yang dilakukan adalah rehabilitasi sosial untuk mengembalikan Dhawiya secara mental untuk ke masyarakat. Jadi itu sudah kami sampaikan pertimbangan-pertimbangan itu kepada majelis hakim, bahwa tuntutan jaksa rehabilitasi selama dua tahun itu terlalu berat untuk Dhawiya,” lanjutnya.

Sebelumnya diketahui, pihak Jaksa Penuntut Umum awalnya memberikan dakwaan primer dan subsider kepada Dhawiya. Dakwaan primer dengan pasal 114 ayat 1 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika, serta dakwaan subsider dengan 112 ayat 1 UU RI Nomor 35 Tahun 2009. Pada pembacaan tuntutan pekan lalu, dakwaan primer pasal 114 ayat 1 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika tidak terpenuhi dan tidak terbukti, maka Dhawiya dibebaskan atas dakwaan primer. Begitu pun dengan pasal 112 ayat 1 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Sementara dalam dakwaan sub subsider Pasal 127 ayat 1 UU huruf a RI Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, unsur ini telah secara sah dan terbukti. Karenanya, Dhawiya dituntut untuk jalani rehabilitasi selama dua tahun.

Di Tenjo Ada Tol

0

Bogor Daily – Kerusakan infrastruktur jalan raya lintas kabupaten yang menghubungkan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Tanggerang sosial warga. Pasalnya jalan utama milik provinsi Jawa Barat ini, seolah dibiarkan tanpa ada perbaikan. Lokasi kerusakan terparah terjadi di jalan yang melintasi Desa Singabraja, Kecamatan Tenjo.

“Jalan ini sudah lama rusak dan hingga saat ini belum diperbaiki,” ujar Supeli (48)  warga Blok Manggung Desa  Tenjo saat ditemui Metropolitan, kemarin.

Menurutnya, kerusakan jalan tersebut telah sering mengakibatkan insiden kecelakaan, terutama bagi para pengendara sepeda motor.

“Ya kami harap Pemkab Bogor segera memperbaiki jalan ini. Jangan sampai ada korban jiwa, baru diperbaiki,” cetusnya.

Senada,  Iwan (40) pengendara motor mengatakan, di wilayah Tejo begitu sulit mencari jalan yang bagus.

“Hampir setiap hari mengunakan jalan ini sampai patah sobleker belakang akibat jalan  rusak keluhnya, ”

Terpisah, Camat Tenjo Asnan menjelaskan bahwa jalan utama Desa Singabraja sudah diajukan perbaikannya ditahun 2018 ini dan menjadi prioritas.

“Sekarang sudah masuk ke tahapan lelang di ULP. Volumenya itu kurang lebih dua kilometer. Cuma persis proses lelangnya saya belum tahu, coba saja tanya ke Dinas PUPR Kab. Bogor,” singkat  Asnan.

Pantauan Metropolitan, disepanjang jalan utama Tenjo menuju Tanggerang terutama yang melintasi wilayah Desa Singabraja memang kondisinya sudah cukup parah. Di beberapa titik, terlihat lubang-lubang menganga dengan diameter cukup lebar dan kedalaman sekitar 20 hingga 50 centimeter. Bahkan warga sekitar sengaja membuat sebuah tulisan besar di karton ‘Selamat datang di tol Tenjo’. Tentunya hal ini sebagai sebuah sindiran terhadap kondisi jalan yang rusak tersebut