Monday, 13 April 2026
Home Blog Page 8657

Bus Setia Negara Siap Beroperasi Antar Penumpang Bogor ke Cirebon

0

Bogor Daily – Warga Kota Bogor yang ingin pergi ke Kuningan dan Cirebon, kini bisa bernafas lega. Sebab, bus dari Perusahaan Otobus (PO) Setia Negara resmi beroperasi di Terminal Baranangsiang setelah merampungkan se­gala kelengkapan adminis­trasi. Mulai dari izin trayek, STNK dan kelengkapan admi­nistrasi lainnya.

Pengurus Bus Satia Negara, Gery Widiana, mengatakan, pihaknya mulai mengoperasi­kan satu unit yang sudah me­lengkapi segala persyaratan laik jalan dari dinas terkait. Bus dengan dominasi warga kuning itu bakal melayani penumpang dengan jurusan Cirebon dan Kuningan yang melintasi Tol  Cipali. “Alhamdulillah kelengkapan beres. Yang satu unit ini sudah siap operasi. Yang empat lagi sedang proses. Kini sudah tidak ada masalah lagi, kami bisa melayani penumpang dengan maksimal,” kata Gery.­

Gery menambahkan, peng­adaan unit baru ini diharap­kan bisa meningkatkan kua­litas pelayanan dan kenya­manan terhadap penumpang, sehingga menjaring lebih banyak penumpang. Apalagi, unit yang didatangkan meru­pakan unit keluaran 2018, sehingga menjamin segala kenyamanan berikut fasilitas yang ada. Pengadaan unit baru juga bakal mendatangkan peningkatan omset, lebih dari 100 persen.

Dia menjelaskan, jadwal pem­berangkatan Bus Setia Negara dari Terminal Baranangsiang ada dua, yakni pagi dan sore. Bus dengan to­tal kursi 59 penumpang, ber­tarif Rp90 ribu karena masuk kategori bus bisnis AC. “Selain itu, ada WiFi, TV, minuman ringan juga ada. Dengan pe­ningkatan kualitas pelayanan, ya tentu kami berharap penda­patan juga mengikuti lah. Apa­lagi sudah lengkap semua, tadi juga sudah dicek Kepala Terminal Baranangsiang nya langsung, jadi aman dan se­cara umum kami siap melay­ani penumpang ke Cirebon dan Kuningan dengan maksimal,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Ter­minal Baranangsiang Dedi Humaidi menuturkan, setiap bus yang masuk ke terminal tipe A itu harus tertib admi­nistrasi dan lengkap dari awal hingga keseluruhan, baru kemudian dilakukan cek fisik. “Secara administrasi, bus Sa­tia Negara sudah lengkap, sesuai dengan KP. Bisa bero­perasi di Terminal Baranangsi­ang. Saat ini baru satu unit yang operasi,” ungkapnya.

Ke depan, kata Dedi, setiap bus yang masuk ke terminal harus benar-benar tertib ad­ministrasi, minimal KP-nya sesuai, surat izin dan buku uji ada, serta semua adminis­trasi dalam kondisi berlaku. “Kalau fisik mah secara ber­kala, biasanya pada momen tertentu, misal lebaran dan tahun baru,” imbuhnya.

Dia mengakui, permasalahan administrasi di Terminal Ba­ranangsiang g menyita perha­tian. Sebab, ada beberapa bus yang bisa operasi meski surat-suratnya tidak lengkap. “Atau ada penyelewengan dan lainnya. Banyak yang tidak tertib admi­nistrasi. Nah dari sekarang lah harus di-cut itu, semua harus tertib administrasi,” tutupnya.

#bogorpedulilombok Aksi Lintas Dimensi Begitu Kata Camat Bogor Tengah

Dari Kiri Ketua #bogorpedulilombok Rizky, Camat Bogor Tengah Agustiansyah dan Humas #bogorpedulilombok Rizal M Yunus, saat menggelar keterangan pers di Gedung Kemuning Gading, Kamis (30/8).

Bogor Daily – Bencana gempa bumi yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat, beberapa waktu lalu, menggugah rasa kemanusiaan publik di seantero negeri, tak terkecuali di Kota Bogor. Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ) bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bersinergi untuk melakukan penggalangan dana dan bantuan kepada para korban gempa bumi, dengan menggelar acara seni dan budaya #BogorPeduliLombok, di Taman Kencana, Kecamatan Bogor Tengah, hari ini hingga Minggu (2/9) nanti.

Ketua Panitia #BogorPeduliLombok Rizky Rifsadin mengatakan, pihaknya berinisiatif dalam mengumpulkan dana bagi masyarakat korban bencana gempa bumi di Lombok. Acara ini pun digelar atas nama kemanusiaan, dan bersifat non-profit. Keuntungan yang didapat dari #BogorPeduliLombok, akan disalurkan kepada para korban bencana di Lombok. “Teknis distribusi, panitia bekerjasama dengan Pemkot Bogor,” kata Rizky kepada Metropolitan, kemarin.

Pada acara #BogorPeduliLOmbok ini, sambung dia, ada 60 orang pengisi acara, baik secara personal maupun grup, yang akan menampilkan berbagai produk kesenian dan kebudayaan. Mulai dari lelang lukisan karya pelukis kenamaan Kota Hujan, doa lintas agama, penampilan 1000 origami, Kopi Brewbagi untuk Lombok, karya seni teater, tari, dongeng, stan kuliner dan tenant, hingga konser musik dari berbagai kelompok seniman jalanan yang tersebar se-Kota Bogor.

“Harapannya, berbagai elemen masyarakat hadir dan datang, demi donasi untuk Lombok. Sebab, warga bisa berdonasi dengan cara menghargai dan menikmati karya seniman-seniman Kota Hujan, yang bagus dan keren, dan lintas genre serta lintas usia. Ramai-ramai datang dan berdonasi,” ungkapnya.

Sementara itu, Camat Bogor Tengah Agustiansyah mengapresiasi acara penggalangan dana yang dicetus KPJ Bogor ini. Menurutnya, berbicara kemanusiaan berarti berbicara kerja sama lintas dimensi. Sehingga perlu ada sinergitas yang baik dari berbagai pihak untuk memberikan manfaat. “Pemkot mendukung penuh hal positif yang dilakukan warga. Apalagi dengan persiapan yang mepet, cuma seminggu, bisa mengelar acara kemanusiaan yang luar biasa manfaatnya,” katanya.

Mantan Kepala Bidang Pengendalian dan Operasional pada Satpol PP Kota Bogor ini menambahkan, pemkot tidak akan segan-segan untuk membantu jika ada kekurangan yang diperlukan saat acara. Buatnya, tidak boleh ada anggapan pemkot tidak mendukung acara yang bersifat kemanusiaan. “Kalau ada yang buntu-buntu, akan kami clear-kan. Semua kebutuhan harus dikomunikasikan. Ini acaranya orang Bogor, bentuk nyata sinergitas seluruh elemen masyarakat Kota Bogor,” pungkasnya.

Press Release

Ketua Ramugad Kiki, Walikota Bogor Bima Arya, Ketua Yayasan KPJ Rizal M Yunus, Ketua KPJ Mato serta perwakilan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor Uci Sanusi, usai audensi dengan Walikota Bogor pada Jumat (24/8).

Peristiwa bencana gempa bumi yang terjadi di Lombok, menggugah rasa kemanusiaan sebagai sesama saudara sebangsa. Karena itu Kami masyarakat Bogor, terdiri dari berbagai lapisan masyarakat dari lintas profesi, berinisiatif untuk melakukan penggalangan dana bagi masyarakat korban bencana gempa bumi di Lombok. Atas nama kemanusiaan acara ini bersifat non profit baik dari sisi kepanitiaan,  personal maupun komunal. Keuntungan yang didapat dari kegiatan Bogor peduli Lombok, seluruhnya akan disalurkan ke para korban bencana gempa bumi di Lombok. Adapun teknis pendistribusiannya panitia bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kota Bogor.

Acara akan diselenggarakan pada 31 Agustus – 2 September 2018, bertempat di Taman Kencana. Berikut rangkaian acara yang semua konten di dalam acara akan mengajak agar semua pengunjung berperan aktif untuk berdonasi. Berapapun nilai yang didonasikan akan sangat membantu saudara Kita di Lombok, yang saat ini sedang membutuhkan.

Konten acara beserta pengisi

Lelang Lukisan

Ibrahim Basalmah, Adnan Taufik, Ridwan Manantik, R. Yan Mulyana/ Dapur Pelukis Bogor, Duki Nurmala, Masaji/ Jasmine, Diana dee Mohy, Maya Augustina, M. Nufail Fudhoil, Inez Pangalila, Nina

Doa Lintas Agama & 1000 Lilin untuk Lombok dihadiri

pemuka lintas agama & masyarakat

Sebanyak 1000 Origami & Pohon Kemanusiaan untuk Lombok

Yayasan KPJ Merdeka & relawan,

kopi untuk Lombok

Brewbagi Bogor

Performance Art

Ridwan Rau rau, Teater Kaliyuga, Komunitas Teater Gunung, Teater Lentera, Ines Pangalila

Tari

Getar Pakuan, Sanggar Andika, Sanggar Ayundi, KNL, Setia Wargi, Ligar Mandiri, Citra Budaya,

Dongeng & Pemahaman Siaga Gempa

Dongeng Kota Hujan

Kuliner

Komunitas Tukang Masak Bogor

Konser Musik Untuk Lombok

Kaladhine (KPJ Merdeka), Rumah Kreatif Kebun Sastra, Kibar, Katapel, Caplin SBJ, Workshop Karinding Nusantara, Ncung n gang, Komunitas Penghuni terminal Baranangsiang, KPJ Jagorawi, Next Project, The Culangungs, Orkes Keroncong Merdeka, Farid mbah Surip, , Komunitas Penghuni Semeru, Repoeblik WC Umum dll,

Stand tenant

Pin untuk lombok (Himpunan Disabilitas Indonesia),  Baraya Kujang Pajajaran, Bogor Sketcher, Workshop Karinding, KOPPAJA

Jumlah keseluruhan pengisi acara berjumlah 60 baik secara personal maupun grup.

Atas terlibatnya banyak seniman di acara ini ditargetkan dapat mengumpulkan dana yang maksimal dari penjualan hasil karya.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan  berkaitan dengan transparansi & keuangan, kami mempersilahkan siapapun dari kalangan masyarakat untuk turut mengawasi, mulai dari kepanitiaan, pengumpulan donasi sampai pendistribusian.

Besar harapan kami selaku panitia bogor peduli lombok untuk dapat mengajak masyarakat bogor berkumpul  serta mengambil tanggung jawab bersama untuk kemanusiaan atas bencana yang terjadi di Lombok.

Bogor 30 agustus 2018

Atas nama kemanusiaan

Rizky Rifsadin
Ketua panitia

Mengintip Tunggangan Manusia Rp 570 Triliun, Jack Ma

0

 

Bogor Daily – Salah satu manusia terkaya di dunia (estimasi kekayaan USD 38,7 miliar atau hampir Rp 570 triliun), Jack Ma akan hadir di penutupan Asian Games 2018. Bos Alibaba itu akan menyambangi stadion Gelora Bung Karno pada 2 September mendatang.

Meski memiliki kekayaan yang sangat luar biasa, Ma dikenal sebagai pribadi yang ramah dan sederhana. Dalam artian, ia hanya mengeluarkan dananya untuk hal-hal yang dirasa perlu dan menunjang.

Dalam hal mobil misalnya, bos raksasa e-commerce dunia itu tak memiliki sportcar atau mobil retro layaknya jutawan dunia lain. Ma memang hanya memiliki tiga mobil mewah saja yaitu BMW 760Li, Maybach 62S, serta Roewe RX5.

BMW 760Li milik Ma dibeli pada tahun 2011 dengan banderolan USD 290.000 atau sekitar Rp 4 miliar dengan nilai tukar hari ini. Pada masanya, mobil itu merupakan salah satu kendaraan mewah di China. Tak diketahui apakah Ma masih menyimpan kendaraan asal Jerman tersebut atau tidak.

Selanjutnya Ma memiliki mobil lima penumpang mewah keturunan Mercedes-Benz S-Class, Maybach 62S. Mobil tersebut diboyongnya dengan banderolan USD 492.602 atau sekitar Rp 7,2 miliar. Pada tahun 2008, Maybach 62S dinobatkan sebagai mobil yang menyuguhkan kemewahan paling sempurna, mengalahkan Bentley dan Rolls-Royce.

Mobil itu juga sekaligus menjadi tunggangan darat Ma yang paling mahal.

Terakhir ada Roewe RX5, SUV pintar yang selalu menemani Ma kemanapun. Berdesain sederhana serta berbanderol murah ($22.266 atau sekitar Rp 327 jutaan), mobil racikan Alibaba bersama SAIC Motor tersebut ternyata sangat canggih. Pada peluncurannya pada 2016 kemarin, Ma menyebutnya sebagai ‘mobil internet’ atau internet car.

Crossover kompak ini hadir sebagai respons Alibaba menghadapi tren kendaraan otonom yang juga sudah digarap serius beberapa perusahaan raksasa lainnya. RX5 (di foto atas) berkonsep mobil internet, mirip mobil KITT di film Knight Rider yang bisa diajak bicara oleh pengguna dalam setiap kesempatan. Mobil dibanderol USD 22.266 atau sekitar Rp 327 jutaan.

Selain itu, ada kendaraan fantastis yang dimiliki oleh Ma yakni pesawat jet privat 19 kursi, Gulfstream. Ia membawa kendaraan udara tersebut dengan mengeluarkan kocek sebesar USD 61,5 juta.

wow.. ada GRANDPRIZE di Wedding Expo 2018

Bogor Daily – Bagi para calon pengantin kini tak perlu repot mencari bahan persiapan resepsi. Sebab, pada 7 sampai 9 September bakal ada Wedding Expo 2018 di Main Atrium Cibinong City Mall (CCM) dengan menghadirkan 44 vendor dari berbagai kategori dan membantu Anda mewujudkan pernikahan impian.

KETUA Pelaksana Wedding Expo 2018, Priyanah, mengatakan, wedding expo kali ini bakal berbeda dengan wedding expo sebelumnya. Akan ada 44 vendor yang siap membantu pengantin merealisasikan resepsi idamannya. Mulai dari katering, suvenir, undangan dan dekorasi. Tak hanya itu, wedding expo 2018 juga akan mengusung konsep ,Flowry Garden Rustic. Tema tersebut sedang hits di sejumlah pernikahan tahun ini.

“Banyak sekali artis-artis yang menggunakan konsep Flowry Garden Rustic. Jadi, banyak calon pengantin yang mengikuti konsep itu,” terang Ana, sapaan akrabnya.

Menurut Ana, dalam wedding expo kali ini, pihaknya akan memberikan grandprize berupa cincin berlian dan hotel untuk berbulan madu. Sehingga calon pengantin tak perlu repot membeli cincin untuk pasangannya, begitu pula mencari tempat berbulan madu. “Jadi yang datang ke wedding expo bisa selesai semuanya. Mulai dari resepsi, katering, dekorasi sampai bulan madu,” paparnya.

Untuk wedding expo kali ini, sambung  Ana, pihaknya menargetkan 200 sampai 500 pasangan bisa menggunakan jasa dari 44 vendor tersebut. “Kita targetkan seperti itu. Apalagi 44 vendor itu memang sudah berpengalaman dan pernah menangani even-even besar,” ujarnya.

PB Porda Pastikan Persiapan Sempurna

0

Bogor Daily – Jelang Pekan Olahraga Daerah (Porda) Jawa Barat (Jabar), jajaran Pengurus Besar (PB) Porda Kabupaten Bogor gelar rapat internal demi memastikan kesiapan dan kelancaran pelaksanaan pesta olahraga antardaerah se-Jabar di Bumi Tegar Beriman pada Oktober mendatang.

Ketua Bidang Akomodasi dan Kon­sumsi PB Porda Alwin Bedsy Rumate menjelaskan, akomodasi, konsumsi serta pematangan tempat tinggal merupakan beberapa poin yang di­bahas pihaknya saat rapat di gedung Dinas Pemuda dan Olahraga (Dis­pora), kemarin siang.

”Intinya kita ingin memastikan se­muanya, khususnya tempat tinggal untuk panitia pelaksana di setiap ca­bang olahraga beserta wasit juri di porda nanti,” jelas Alwin.

Alwin mengatakan, 33 hotel yang tersebar di beberapa lokasi berbeda tengah disiapkan pihaknya guna menunjang suksesi pesta olahraga tersebut. Selain memastikan tempat tinggal, rapat itu sekaligus memberi pemahaman kepada semuanya ter­kait standar operasional yang berlaku di setiap cabang olahraga.

”Ada 33 hotel yang telah kami siap­kan untuk 60 cabang olahraga, se­muanya tersebar di beberapa lokasi yang berdekatan dengan venue pertan­dingan,” bebernya.

Alwin berharap dengan diberikannya pemahaman standardisasi operasio­nal kepada seluruh peserta rapat da­pat memberi dampak positif bagi suksesi Porda Jabar 2018, khusus­nya pada 60 cabang olahraga yang dipertandingkan nanti.

”Kita semua berharap semua bisa berjalan sesuai harapan dan tanpa ada kendala berar­ti. Kita doakan saja semoga semuanya bisa terjadi,” ha­rapnya

ASIAN GAMES 2018 PAKANSARI SEPI

0

Bogor Daily – Kekalahan Tim Nasional Indonesia atas Uni Emirat Arab melalui drama adu penalti di babak 16 besar pada cabang olahraga sepak bola Asian Games 2018 Jakarta-Palembang beberapa waktu lalu, rupanya memberi dampak tersendiri bagi menurunnya animo pecinta sepak bola Tanah Air.

HAL tersebut ditandai dengan jum­lah penonton di Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, yang terpilih menjadi venue sepak bola untuk fase penyisihan Grup B semi­final hingga final. Minimnya animo masyarakat untuk menyaksikan laga semifinal dan final rupanya ti­dak terlepas dari gagalnya Merah Putih berlaga di stadion kebang­gaan warga Bumi Tegar Beriman tersebut.

Salah seorang pengunjung yang sengaja mampir di seputaran Kompleks Stadion Pakansari, Asep Saefudin (27), mengaku sama sekali tidak tertarik menyaksikan laga semifinal antara Vietnam dengan Korea Selatan yang berlangsung kemarin sore. ”Bukan Indonesia yang bermain, jadi malas nontonnya,” ungkap pria yang sedang asyik menikmati jajanan di seputaran Pakansari.

Sementara salah seorang petugas tiket pertandingan yang enggan di­sebutkan namanya membenarkan bahwa animo masyarakat, khususnya warga Kabupaten Bogor, sangat mi­nim. Pihaknya mengaku tidak bisa memastikan mengapa hal tersebut bisa terjadi. ”Kebanyakan yang non­ton supporter dari negaranya masing-masing. Kalau warga kita paling hanya beberapa,” tuturnya kepada Metropolitan.

Ia menjelaskan, pada fase penyi­sihan grup merupakan titik paling sepi yang pernah tercatat selama pertandingan pada cabang olah­raga sepak bola. Sekitar 200 hing­ga 350 tiket merupakan angka rata-rata penjualan dalam satu hari. ”Segini lumayan ramai. Pun­cak sepinya itu pas fase penyisi­han grup. Kayaknya kalau Indo­nesia main nggak akan seperti ini,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pemuda dan Olah­raga (Sarpras Dispora) Kabupaten Bogor Rudy Achdiyat menjelaskan, Stadion Pakansari memiliki kapasitas penonton dengan daya tampung ber­jumlah 30.000 kursi penonton. ”Kalau data yang punya, kapasitasnya sekitar 31.019 penonton,” jelasnya.

Berdasarkan data yang diperoleh Metropolitan, sekitar 5.000 tiket ha­bis terjual pada partai semifinal antara Vietnam kontra Korea Selatan. Hal tersebut tentu hanya sebagian kecil dari jumlah total kapasitas sta­dion yang memiliki daya tampung sekitar 30.000 lebih tersebut. ”Kalau tiket online terjual sekitar 4.000 tiket, kalau yang beli manual sekitar 1.000,” tutupnya.

Sarwendah Hadiah Kuda Dari Belanda

0

Bogor Daily – Sarwendah baru saja ulang tahun ke-29. Tapi Ruben Onsu memberikan hadiah yang terbilang unik, yakni seekor kuda. Bahkan ia punya alasan kenapa memberikan kuda yang harganya selangit itu. ”Ya pengen punya hadiah yang bisa dia pakai juga gitu kalau barang-barang atau tas yang lain Wendah sudah ada lah. Kalau kuda itu kan lebih Wendah gunakan,” kata Ruben.

BAHKAN Ruben Onsu mem­beli kuda itu langsung dari Eropa. Butuh tiga bulan un­tuk Ruben membawanya ke Indonesia. ”Nyari kuda tiga bulan dibantu sama Na­billa Syakieb. Jadi, kudanya saya beli dari Amsterdam, kan prosesnya tuh panjang ya, jadi sampai Indonesia juga ada proses karantina dulu. Ya rata-rata ya me­mang kalau pemain kuda sih ngambilnya dari sana, jadi aku karena ada grup kuda gitu jadi paling ba­nyak kalau beli di sana,” bebernya.

Lantas kuda apa sih se­betulnya? Ruben menu­t u r ­k a n , kuda ter­s e b u t berspe­sifikasi khusus. ”Nant i l i h a t sendiri deh, karena memang tipe kuda yang Wendah mainin memang untuk Wendah bisa loncat sama kudanya. Kita kan nyari kuda tuh memang harus yang senyawa, jadi saya be­berapa pilihan, Nabila kirim bebe­rapa kandidat, ’ini oke, yah tapi harganya segini’. Jadi cukup lama prosesnya 3 bulan sampai ada di tangan saat ini,” ceritanya.

Sementara itu, memberikan kuda bukanlah permintaan Sarwendah, melainkan insiatif Ruben sendiri. ”Ng­gak (minta Wendah), inisiatif,” tukas­nya.

Puisi Zaman Keraguan

0

Oleh: Yudi Latif
Pemikir Kebangsaan dan Kenegaraan

Menjelang kematiannya pada 1873, pujangga agung Keraton Surakarta, R Ng Ranggawarsita, menulis puisi ratapan, “Serat Kalatidha” (Puisi Zaman Keraguan).

Bait pertama puisi tersebut bersaksi, “Kilau derajat negara lenyap dari pandangan. Dalam puing-puing ajaran kebajikan dan ketiadaan teladan. Para cerdik pandai terbawa arus zaman keraguan. Segala hal makin gelap. Dunia tenggelam dalam kesuraman”.

Hampir satu setengah abad kemudian, gambaran serupa membayangi pusat kekuasaan negara Republik Indonesia, yang mencapai titik zenitnya pada masa kepresidenan Joko Widodo (Jokowi). Seorang putra Surakarta dari kalangan kawula, yang karena sepak terjangnya sebagai political outsider yang berbeda dari kebanyakan politisi, melesat cepat menjadi presiden dengan gelembung harapan rakyat yang nyaris seperti ratu adil.

Namun, belum genap seratus hari pemerintahannya, harian bergengsi The New York Times, 17 Januari 2015, melukiskan nasib sang presiden dalam nada Serat Kalatidha. Bahwa bagi rakyat Indonesia, derajat kepemimpinan negara telah kehilangan “kilaunya” (“For Indonesians, President’s Political Outsider Status loses Its Lustre”).

Kegagalan mentalitas

Ujian mental bagi independensi presiden pengusung revolusi mental ini dilalui dengan kegagalan mentalitas, seperti tecemin dari serangkaian penyangkalan terhadap ide-idenya sendiri. Gagasan koalisi ramping demi kehebatan pemerintahan dirobohkan oleh susunan kabinet dan staf kepresidenan yang sarat kepentingan, menampilkan kombinasi menteri-menteri berkualitas rendah dan bertanda merah. Orientasi kerakyatan dihela dengan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) saat harga minyak dunia turun. Visi pemerintahan bersih dan peradilan independen dinodai dengan mengangkat Jaksa Agung dari kalangan partisan.

Presiden juga menerobos batas kepantasan dengan membentuk Dewan Pertimbangan Presiden yang didominasi orang- orang partai, dengan kualitas kenegarawanan yang jauh dari semangat asal Dewan Pertimbangan Agung. Batas etis pun dilanggar dengan mengajukan calon tunggal Kapolri bertanda merah dengan rekam jejak pelanggaran yang sudah terpublikasikan. Jurnal seratus hari pemerintahan Jokowi ditutup dengan sengketa KPK versus polisi, dengan posisi dan jawaban presiden yang tidak meyakinkan.

Apa gerangan yang membuat seorang presiden yang memenangkan mayoritas dukungan dalam pemilihan langsung begitu tak berdaya menentukan pilihan? Persoalannya jelas tak bisa ditanggung oleh Jokowi sendirian. Lewat symptomatic reading, kita bisa mengenali bahwa kegagalan mentalitas pemimpin baru ini hanyalah tanda permukaan dari arus bawah yang lebih sinister, yakni meluasnya dekadensi dalam demokrasi kita.

Masalah terbesar politik Indonesia saat ini adalah semua orang tahu ada banyak masalah dalam demokrasi, tetapi seperti tak ada seorang pun yang bisa berbuat sesuatu untuk mengatasinya. Ketidaksanggupan warga untuk mengatasi masalah-masalah kolektif ini terjadi karena institusi-institusi representasi demokrasi dan lembaga publik tidak lagi di bawah kendali publik, tetapi jatuh ke tangan pengendalian segelintir pemodal kuat. Demokrasi tidak lagi menjadi sarana efektif bagi kekuatan kolektif untuk mengendalikan kepentingan perseorangan, malahan berbalik arah menjadi sarana efektif bagi kepentingan perseorangan untuk mengontrol institusi dan kebijakan publik.

Dalam perkembangan demokrasi di negeri ini, pintu masuk bagi penetrasi pemodal ke dalam domain publik itu melalui pengadopsian model demokrasi liberal padat modal. Suatu model demokrasi, yang bagi Amerika Serikat sendiri dengan ratusan tahun sejarah demokrasi dengan basis egalitarianisme yang kuat, dalam perkembangannya terbukti hanyalah menjadi tunggangan yang efektif bagi elevasi satu persen orang terkaya.

Di negeri ini, dengan warisan kesenjangan pasca-kolonial, pengadopsian demokrasi liberal padat modal di tengah samudra kemiskinan, membuat pemimpin terpilih—meskipun dengan dukungan mayoritas rakyat dalam pemilihan langsung—lebih berutang pada pemodal yang nyata ketimbang rakyat yang abstrak. Dalam konteks inilah kita melihat Jokowi sebagai presiden hanyalah pekerja partai-pemodal.

Dimensi struktural dari dekadensi demokrasi itu diperburuk oleh kapasitas pemimpin negara sebagai agen perubah. Menangkal kepentingan pemodal-perseorangan meniscayakan kesadaran dan strategi ideologis. Berbagai langkah blunder Jokowi dalam seratus hari pemerintahannya justru mencerminkan kelemahan daya baca dan referensi ideologis ini. Tanpa radar ideologis, seorang pemimpin tak memiliki kerangka referensial untuk membantu menentukan jenis manusia dan kebijakan apa yang sepatutnya dipilih.

Tekanan Jokowi pada pengetahuan praktis-pragmatis mengabaikan pentingnya “narrative knowledges”. Padahal, gagasan besar semacam revolusi mental harus diletakkan dalam kerangka strategi ideologis berbasis pengetahuan naratif (sejarah, antropologi, sosio-psikologi, ekonomi-politik dan praktik diskursif).

Ada semacam ilusi bahwa tindakan bisa dijalankan secara benar tanpa pemikiran yang benar. Padahal, seperti diingatkan Lyndon B Johnson, “Tugas terberat seorang presiden bukanlah mengerjakan apa yang benar, melainkan mengetahui apa yang benar.” Tanpa pengetahuan yang benar, ketangkasan bertindak hanya akan mempercepat kegagalan.

Anti-intelektualisme

Namun, Jokowi tidak berdiri sendirian. Kemunculan Jokowi sebagai pemimpin negara membawa arus besar anti-intelektualisme dalam masyarakat. Banyak orang yang tidak lagi menghargai pikiran, bahkan mengembangkan sinisme terhadap kedalaman pengetahuan. Para cerdik cendekia sendiri terbawa arus keraguan ini dengan tidak memercayai nilai pikirannya; ikut-ikutan mengagumi sensasi tindakan sesaat seperti pembakaran perahu yang telah lama terampas oleh menteri baru.

Gelombang anti-intelektualisme ini sebagian merupakan arus balik dari pengkhianatan intelektual, tetapi utamanya karena desakan kebutuhan sehari-hari yang tidak segera dipenuhi oleh konsepsi-konsepsi pemikiran. Seperti kata Bung Karno, “Orang lapar tidak bisa segera kenyang hanya dengan diberikan kitab konstitusi.” Pelarian dari kesulitan hidup ini dininabobokan oleh candu hiburan-hiburan dangkal-miskin pikir yang disajikan secara intensif dan masif lewat siaran televisi kita; membudayakan semacam “the cult of philistinism” (pemujaan terhadap budaya kedangkalan oleh perhatian yang berlebihan terhadap interes-interes material dan praktis).

Peluluhan daya pikir ini memberi prakondisi bagi supremasi pemodal untuk mengarahkan pilihan rakyat lewat kampanye media. Kekuatan pemodal yang cenderung menepikan kekuatan kritis bertemu dengan kecenderungan banalitas arus bawah. Lewat manajemen impresi, subtansi pemikiran dikalahkan oleh kesan pencitraan.

Maka, para pemimpin terpilih mencerminkan defisit pemikiran. Dengan begitu, negara tidak memiliki topangan pemikiran dan pengetahuan yang kuat. Sengkarut negara mencerminkan sengkarut pemikiran. Hal ini tecemin mulai dari ketidakberesan hasil amandemen konstitusi, produk perundang-undangan, desain institusi-institusi demokrasi, hingga ketidaktepatan pilihan kebijakan dan orang.

Keadaan ini menempatkan negara di tepi jurang. Para pemikir kenegaraan lintas zaman dan lintas mazhab cenderung menyepakati hubungan integral antara negara dan pengetahuan. Negara sendiri didefinisikan sebagai organisasi rasional dari masyarakat. Bahkan Hegel menyatakan bahwa negara merupakan penjelmaan dari pikiran. Michel Foucault menegaskan, “Pemerintah, oleh karena itu, memerlukan lebih dari sekadar usaha mengimplementasikan prinsip-prinsip umum pemikiran, kebijaksanaan, dan kehati-hatian. Pengetahuan spesifik juga sangat diperlukan: pengetahuan yang konkret, tepat, dan terukur.”

Membanguan negara harus melalui cara bagaimana kedaulatan menyatakan dirinya dalam bidang pengetahuan. Negara dapat dipandang sebagai mesin-pengumpul kecerdasan (intelligence-gathering machine). Kedekatan antara negara dan kecerdasan, dan bahwa keselamatan negara ditentukan oleh kecerdasan, terlihat dari pemahaman umum yang cenderung mengaitkan istilah “intelijen” dengan badan inteligen negara, seperti Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Intelijen Strategis (BAIS), dan sejenisnya.

Sebuah negara yang dibangun tanpa landasan kecerdasan dan pengetahuan tak ubahnya seperti istana pasir. Oleh karena itu, jika demokrasi kita maksudkan sebagai jalan kemaslahatan bangsa, maka jalan sesat demokrasi dalam kendali plutokrasi-aristokrasi itu harus dihentikan dengan cara membangun demokrasi-meritokratis.

Demokrasi yang kita kembangkan harus menumbuhkan kembali daulat rakyat yang dipimpin oleh kekuatan akal budi (hikmat kebijaksanaan) dalam suasana deliberatif dan argumentatif (permusyawaratan perwakilan).

Kasihan, Gubuk Mak Enah Tertimpa Pohon

0

Bogor Daily – Nasib apes dia­lami Mak Enah, warga RT 06/02, Desa Pasirgaok, Kecamatan Ranca­bungur, Kabupaten Bogor. Gubuk atau rumah yang dihuni nenek berusia 74 tahun itu roboh akibat tertimpa pohon rambutan yang terhempas angin saat hujan melanda. “Saya kaget, anginnya kencang. Tiba-tiba rumah saya ke­timpa pohon,” katanya, seraya men­jelaskan saat kejadian ia tengah ter­tidur karena tidak enak badan.

Untuk itu, ia meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor dapat memperbaiki kondisi rumahnya. Se­bab, di rumah ini ia tinggal sebatang kara. “Emak mah yang penting dibe­nerin supaya bisa ditempatin lagi,” harapnya.

Sementara itu, Ketua RT 06, Supri­yadi, menuturkan, untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan, saat ini Mak Enah diungsikan terlebih dulu ke rumah tetangga. “Alhamdulillah, si Emak nggak apa-apa. Saat ini kita sedang buat laporan ke pemerintah setempat mengenai musibah ini,” ujarnya.