Sunday, 12 April 2026
Home Blog Page 8941

Korban Pungli Bocimi Cabut Laporan, Nih Alasannya

BOGOR DAILY-Sidang kasus dugaan pungutan liar (pungli) dalam proyek Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) me­masuki babak baru. Kedua tersangka, A alias Ita dan E, harus mendengarkan kesaksian pelapor dalam persidangan yang dilakukan di ruang Kusumah Atmadja, Pengadilan Negeri (PN) Cibinong, Kabupaten Bogor, kemarin.

Sekadar diketahui, sidang yang dipimpin Hakim Ketua Rio D menjadwalkan memintai kete­rangan dari sembilan saksi yang mengetahui persoalan ini. Namun, saksi yang mengha­diri hanya ada tiga orang. Ke­tiganya pun langsung diberon­dong pertanyaan mengenai kasus yang melibatkan mantan Kaur Kesra Watesjaya dan man­tan Ketua RT di Desa Watesjaya.

Ada hal menarik yang terjadi dalam jalannya sidang kali ini. Beberapa saksi ada yang sudah mencabut laporannya, dengan alasan kasihan dengan terdakwa. Namun, masih ada juga saksi yang tidak mencabut laporan karena merasa dirugikan. ”Saya sudah ikhlas, nggak apa-apa karena kasihan,” kata saksi yang mem­beri keterangan, Asep G.

Sementara saksi lainnya, Her­man, mengaku enggan men­cabut laporannya. Sebab, pelaku tanpa sepengetahuannya telah memotong biaya sepuluh persen dari uang ganti rugi pembebasan lahan ini. ”Saya masih keberatan. Hasil tanah yang dijual harus dipotong,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Hakim Ketua Rio D mengatakan, sidang akan dilanjutkan Selasa (5/9) nanti dengan agenda men­dengarkan kesaksian para kor­ban lainnya. ”Dilanjutkan ming­gu depan. Masih sama, men­dengarkan keterangan saksi,” singkat Rio.

Sebelumnya, setelah mene­tapkan mantan Kaur Kesra Wa­tesjaya A alias Ita, Polres Bogor kembali menetapkan tersangka dalam kasus dugaan pungli dalam proyek Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi). Satu ter­sangka itu berinisial E, yang bertugas sebagai Ketua RT di Desa Watesjaya. “Setelah kita mendapatkan petunjuk dari jaksa akhirnya kita amankan satu lagi tersangka berinisial E,” kata Kepala Satuan (Kasat) Re­skrim Polres Bogor, AKP Biman­toro Kurniawan.

Walaupun yang bersangkutan tidak mengakui perbuatannya, pihaknya tak mau mengambil pusing untuk menetapkan E se­bagai tersangka. Sebab, hasil petunjuk dari jaksa, pelaku turut terlibat mengambil sepuluh per­sen dari total keseluruhan biaya ganti rugi atas pembebasan lahan di Bocimi.

Penampakan Jokowi di Stasiun Bogor Bikin Girang Penumpang

0

BOGOR DAILY-Kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Sukabumi menyisakan cerita menarik. Kehebohan pun tak terhindarkan saat kereta api VIP yang dinaiki Jokowi melintasi sejumlah stasiun dalam perjalanan ke Sukabumi, Jawa Barat. Termasuk ketika orang nomor satu di negeri itu tiba di Stasiun Bogor.

Banyak warga mendokumentasikan kereta api VIP Presiden karena jarang melihatnya. Setelah menempuh perjala­nan kurang lebih dua jam dari Stasiun Sukabumi, Kereta Luar Biasa (KLB) Jokowi akhirnya tiba di Stasiun Bogor. Kedatangan KLB itu disambut langsung Wali Kota Bogor Bima Arya.

Dengan mengenakan peci, jas hitam, ke­meja putih dan sarung merah, Jokowi tu­run dari KLB didampingi Ibu Negara Iriana dan putrinya, Kahiyang Ayu. Setelah itu Bima Arya menyambut di peron kedatangan.

Penumpang kereta api di Stasiun Bogor yang memang sudah menyemut pun antu­sias menyambut kedatangan Jokowi dan rombongan. Mer­eka pun mengabadikannya melalui kamera ponsel masing-masing. Jokowi dan Iriana pun kemudian melambaikan tangan ke arah penumpang kereta. Jokowi juga sempat meladeni permintaan foto bersama dari penumpang kereta.

Salah seorang penump­ang asal Tanahsareal, Murni (34), mengaku senang bisa mendapat kesempatan foto bersama Jokowi meski harus berdesak-desakan. “Senang, akhirnya ketemu Pak Pres­iden Jokowi di Stasiun Bogor. Ternyata benar-benar seder­hana,” ujar Murni.

Bahkan, beberapa pengun­jung juga tampak kaget bisa melihat persiden secara lang­sung di Stasiun Bogor. “Mimpi apa ya semalam dapat dadah-dadahan sama Pak Jokowi di depan mata di Stasiun Bogor,” kata pengunjung lainnya.

Pantauan di lokasi, Stasiun Bogor saat itu sangat ramai sekali. Pasukan keamanan dari pihak stasiun, kepolisian dan TNI pun melakukan penjagaan ketat di sekitar lokasi. Jokowi dan keluarga turun di Bogor karena langsung menuju ke­diamannya di Istana Bogor.

Sementara KLB yang mem­bawa rombongan tetap melanjutkan perjalanan sam­pai Stasiun Gambir. Kunjungan kerja Jokowi ke Sukabumi dimulai pada Kamis (31/8) lalu. Jokowi berangkat ke Sukabumi dari Stasiun Gambir menggunakan KLB. Selama di Sukabumi, Jokowi membagi­kan Kartu Indonesia Pintar, Kartu Program Keluarga Ha­rapan dan Sertifikat Tanah untuk Rakyat.

Tak hanya itu, Jokowi dan keluarga juga melaksanakan salat Idul Adha pada hari ini di Lapangan Merdeka, Suka­bumi. Tampak mendampingi Jokowi dalam kunjungan kerja yaitu Kepala Sekretariat Pres­iden Heru Budi Hartono dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Terlihat pula Deputi Bidang Protokol, Media dan Infor­masi Bey Triadi Machmudin, Sekretaris Militer Presiden Marsda TNI Trisno Hendradi dan Danpaspampres Mayjen TNI (Mar) Suhartono

Mau Disembelih, Sapi Ini Malah Mengamuk di Terminal

0

BOGOR DAILY– Selalu ada kejadian unik dari hewan kurban yang akan disembelih di Hari Raya Idul Adha, salah satunya seekor sapi yang akan disembelih mengamuk dan berlari ke terminal Purabaya, Surabaya.

Sontak sapi tersebut membuat geger beberapa penumpang bis diterminal tersebut. Bahkan beberapa penumpang merasa khawatir terhadap sapi yang berkeliaran di area terminal. Butuh waktu sekitar satu jam hingga akhirnya sapi itu bisa dijinakkan dan disembelih di sekitar terminal saat itu juga.

Ketua RW I Desa Bungurasih Irwan Hamonangan menjelaskan kejadian bermula saat seorang panitia kurban bersiap menggiring sapi ke musala untuk disembelih.

Namun, katanya, sapi secara tiba-tiba mengamuk dan menyerang salah seorang panitia kurban. “Karena sapi ini agak aneh dan lain daripada yang lain, akhirnya salah satu panitia, yakni Siun, tidak kuat menarik dan diserang. Hal itu karena tali tidak terikat di hidung sapi dan hanya diikat di leher,” kata pria berusia 45 tahun itu.

Dia mengatakan oleh karena hanya diikat di leher, membuat kekuatan sapi besar dibandingkan dengan jika diikat di hidung. Sapi tersebut lepas dan lari ke area terminal. Panitia yang panik dibantu warga sekitar mengejar sapi itu.

“Butuh waktu satu jam untuk panitia dibantu warga sekitar menjinakkan sapi tersebut dan kami memutuskan untuk langsung menyembelih sapi di terminal,” tuturnya.

Walau sempat menyeruduk dan membuat panik warga serta penumpang di terminal, peristiwa tersebut tidak sampai memakan korban

Cuma Asik duduk Rombongan Walikota Ditagih Rp30 Juta

0

BOGOR DAILY– Wali Kota Batam Muhammad Rudi diperas oleh warganya saat berada di salah satu restoran kawasan Nagoya. Saat itu Rudi sengaja duduk di restoran tersebut sembari menunggu malam takbiran Idul Adha pada Kamis malam (31/8). Bersama sejumlah pejabat daerah setempat dengan waktu yang tidak lama, lantas ditagih dengan invoice sebesar Rp 30 juta.

Angka sebanyak itu membuat orang nomor satu di Kota Batam itu terperanjat. Pasalnya dia hanya duduk sebentar dan minum air putih. Begitu rekannya yang ikut dalam rombongan hanya menikmati segelas kopi. Tagihan sebanyak itu dianggapnya sangat tidak masuk akal.

“Yang benar saja makan sampai Rp 30 juta,” ujar Rudi saat mendengar jumlah tagihan makan di tempatnya singgah.

Menurut dia, tagihan tersebut sangatlah tidak wajar. Sebab, jumlah rombongannya tak sampai ratusan orang. Apalagi yang dimakan tidaklah banyak. “Jumlah itu katanya karena menyewa tempat. Padahal hanya sebentar di sana. Apa menariknya tempat tersebut,” ujar Rudi yang kesal.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batam Jefridin pun tak kalah kesal. “Cuma minum air putih masak sampai Rp 30 juta,” tutur mantan Kadispenda Batam itu. Dia merasa tagihan tersebut sangat tidak wajar.

Di tempat yang sama, Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad menimpali bahwa saat itu dirinya hanya mencicipi segelas kopi. “Ada kopinya juga. Tapi, harga tersebut sangat tidak wajar,” ucapnya.

Sempat terjadi adu argumen antara pemilik resto dan beberapa perwakilan pegawai pemkot. Namun, akhirnya hal itu dapat diselesaikan karena pemilik resto memberikan diskon.

Di sisi lain, Kabag Tata Pemerintahan (Tapem) Rudi Panjaitan membenarkan adanya kejadian tagihan makan bernilai fantastis tersebut. Namun, menurut dia, jumlah tagihan itu tak sampai Rp 30 juta, melainkan lebih dari Rp 6 juta.

Karena tagihan yang dirasa kurang masuk akal, Rudi kembali menghitung jumlah harga makanan yang dipesan. Saat itu terdapat perbandingan harga yang cukup signifikan. Tagihan makan hanya lebih dari Rp 2 juta.

“Ternyata selisihnya jauh, kami hitung-hitung hanya lebih dari Rp 2 juta. Karena nilai beda tersebut, kami protes sama sang pemilik,” terangnya.

Menurut Rudi, saat protes bukannya mendapatkan respons yang baik, dia malah diserang balik oleh pemilik resto sembari mengancam. Sambil mengambil invoice pembayaran, pemilik resto mengancamnya.

“Invoice itu direbut, tapi dia tetap ngamuk dan bilang tak usah dibayar. Dia juga sempat mengancam kami. ‘Lihat aja apa yang terjadi nanti’,” ujar Rudi mengulang perkataan perempuan yang diduga sebagai pemilik resto tersebut.

Karena permasalahan itu, beberapa pegawai pemkot mencoba mencari jalan keluar dan bertemu perempuan yang diduga pemilik resto tersebut. Namun, di sana Rudi menilai perempuan itu kembali melebihi harga. Jumlah total makanan sebenarnya Rp 30 juta, tapi didiskon menjadi Rp 16 juta. “Katanya Rp 30 juta tersebut untuk sewa tempat, padahal kami tak menyewa tempat,” jelasnya.

Nyawa Etnis Rohingya Terus Berjatuhan

0

BOGOR DAILY– Akhir 2016, sekitar 22 penerima Nobel Perdamaian di dunia bersatu membuat surat terbuka. Isinya, meminta Aung San Suu Kyi, penasihat negara Myanmar sekaligus penerima Nobel Perdamaian, membuka mata dan mengakhiri derita etnis Rohingya.

Namun, rupanya seruan itu dianggap angin lalu. Represi kembali terjadi. Bahkan, versi pemerintah, jumlah korban tewas nyaris menyentuh angka 400 orang. Plus, 38 ribu orang lainnya melarikan diri.

Tentu saja, jumlah tersebut hanyalah hitungan di atas kertas. Praktisi HAM yakin kenyataannya jauh di atas itu. Mereka menuding pemerintah Myanmar tengah melakukan genosida alias pembunuhan masal terhadap etnis tertentu.

Rohingya memang tidak pernah diterima di Myanmar. Mereka berkali-kali menjadi sasaran represi militer. Bahkan, UU Kewarganegaraan Myanmar yang disahkan pada 1982 dengan jelas tidak mengakui Rohingya.
’’Militer menyuruh kami masuk rumah. Jika tidak menurut, mereka akan membakar rumah kami, menembaki kami, atau membunuh kami. Orang muslim tidak memiliki hak apa pun,’’ ujar Nobin Shauna, salah satu etnis Rohingya yang lari ke Bangladesh.

Aksi serupa pernah mereka alami pada Oktober tahun lalu. Menurut pemerintah Myanmar, 102 korban tewas dan 70 ribu orang lainnya menyelamatkan diri ke negara lain terdekat, Bangladesh.

Hingga Kamis (31/8), militer mengklaim telah menewaskan 370 anggota Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA). Lalu, ada dua pejabat pemerintah, 13 pasukan keamanan, dan 14 warga sipil yang menjadi korban. Militer mengabaikan korban yang tewas karena menyeberangi derasnya arus Sungai Naf atau Teluk Benggala saat melarikan diri. Dalam tiga hari terakhir, 46 etnis Rohingya tewas ketika dua kapal yang mereka tumpangi terbalik di Sungai Naf.

’’Kami yakin mereka adalah etnis Rohingya,’’ kata Letkol S. M. Ariful Islam, komandan pasukan penjaga perbatasan Bangladesh, kemarin (1/9).

Yang memilukan, ada 19 anak dalam daftar korban tewas tersebut. Keselamatan mereka yang masuk Bangladesh pun tidak terjamin. Mereka harus bertahan di ruang terbuka karena pemerintah setempat tidak punya lahan lagi untuk menampung pengungsi. Pemerintah Bangladesh angkat tangan.

PBB dan berbagai lembaga kemanusiaan menyalahkan sikap pemerintah Myanmar atas kejadian di Rakhine saat ini. Mereka menegaskan bahwa kelompok ARSA muncul tahun lalu lantaran pemerintah sudah melanggar HAM secara terus-menerus dan sistematis selama beberapa dekade. ’’Cara pemerintah merespons serangan ARSA pada Oktober tahun lalu kian memupuk ekstremisme,’’ tutur Kepala Lembaga HAM PBB Zeid Ra’ad Al Hussein.

Kritikan kepada Suu Kyi juga terus bermunculan. Direktur Eksekutif Nexus Fund Sally Smith menganggap pernyataan Suu Kyi di media membuat situasi makin panas. Suu Kyi menyebut mereka yang ditembaki militer sebagai teroris. Dia seakan membenarkan perlakuan militer Myanmar. ’’Dia adalah peraih Nobel Perdamaian, tapi tampaknya yang terjadi saat ini dia hanya peduli dengan kedamaian penduduk Buddha, bukan Rohingya,’’ tegasnya.

Sementara itu, Mahkamah Agung (MA) India memberikan secercah harapan bagi etnis Rohingya yang mencari suaka di negara tersebut. Kemarin MA setuju mengadakan dengar pendapat alias hearing terkait dengan rencana Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi untuk mendeportasi seluruh etnis Rohingya di wilayahnya. Hearing akan dilakukan pada Senin (4/9).

Pernyataan Modi yang dilontarkan sebulan lalu itu tentu membuat sekitar 40 ribu etnis Rohingya di India ketir-ketir. Tidak ada pengecualian. Semua bakal dikembalikan. Baik itu yang tidak memiliki dokumen maupun yang sudah didata Badan Pengungsi PBB (UNHCR) sebagai pencari suaka. Pernyataan Modi tersebut menuai banyak kritik dari berbagai lembaga HAM, lembaga kemanusiaan, dan politisi. Tetapi, pemerintah India bergeming.

Etnis Rohingya jelas tidak mau kembali ke Rakhine, Myanmar. Terlebih, saat ini konflik kembali terjadi di wilayah tersebut. Kembali ke Myanmar sama saja dengan menyetorkan nyawa. Dua etnis Rohingya di India akhirnya mengajukan petisi. Mereka adalah Mohammad Salimullah dan Mohammad Shaqir. Salimullah datang ke India via Bangladesh pada 2012. Shaqir tiba setahun sebelumnya.

’’Anda tidak bisa mengusir seseorang untuk menghadapi kematian di negara lain. Itu melanggar pasal 21 tentang HAM,’’ jelas Prashant Bhushan, pengacara yang mewakili dua etnis Rohingya tersebut. Salah satu isi pasal 21 konstitusi India adalah melindungi hidup dan kebebasan personal bagi warga negara India maupun bukan.

Nasib etnis Rohingya ibarat bola yang dioper ke sana-kemari. Mereka tidak diakui di mana pun. Rohingya merupakan etnis terbesar yang tidak mempunyai negara alias stateless. Myanmar menolak etnis Rohingya sebagai warga negara meski mereka sudah tinggal di Rakhine selama berabad-abad. Bangladesh juga tidak mengakui Rohingya adalah etnis Bengali. Bangladesh menampung sekitar 450 ribu etnis Rohingya sejak konflik pecah pada 1990-an.

Mengerikan! Ada Ular Kobra Keliaran di Dealer

0

BOGOR DAILY-  Petugas Dinas Pemadam Kebakaran (Disdamkar) Garut, Jawa Barat menangkap seekor ular kobra yang berkeliaran di sebuah dealer mobil. Kemunculan ular berbisa sepanjang 1,5 meter itu dianggap telah meresahkan dan membahayakan.

Hewan melata ini pertama diketahui oleh salah satu pekerja dealer, Agus Mustevy (35), salah satu pekerja dealer, Jumat (1/9/2017) dini hari. Ular tersebut terpergok di bawah satu mobil yang berada dalam dealer.

Pekerja dealer resah sehingga mengontak petugas Damkar pada sore hari. Lalu Tim Penyelamat Non Kebakaran Disdamkar Garut yang menerima laporan pun meluncur dealer mobil yang terletak di Jalan Otto Iskandardinata, Tarogong Kidul, Kabupaten Garut.

“Sejak malam itu tidak ada yang berani mengevakuasi. Karyawan dealer ketakutan dengan adanya kobra,” kata Kadisdamkar Garut Aji Sukarmaji kepada detikcom via telepon. “Memang bahaya jika dievakuasi oleh warga yang bukan ahlinya,” sambungnya.

Setibanya di lokasi, petugas menemukan kobra masih bersembunyi di bawah mobil. Ular itu sempat melawan sewaktu hendak disergap petugas.  Lantaran berisiko mengancam keselamatan jiwa, menurut Aji, petugas memilih mengeksekusi kobra. Hantaman batu membuat ular tersebut mati. “Terpaksa (ularnya) dimatikan oleh petugas, ya karena membahayakan,” ujarnya.

Aji menduga kobra itu keluar dari semak-semak di belakang gedung dealer. “Sepertinya dari semak, karena tempatnya tertutup rumput dan batu,” ujar Aji.

Pemkab Bogor Bagi-bagi Daging Kurban, 78 Sapi dan 60 Kambing

BOGOR DAILY- Pemerintah Kabupaten Bogor membagikan ratusan hewan kurban kepada masyarakat di Hari Raya Idul Adha 1438 H. Nantinya hewan kurban tersebut akan dibagikan kepada majelis-majelis, pesantren dan masyarakat Kabupaten  Bogor.

“Tahun ini ada 78 Sapi dan 60 kambing yang akan dibagikan satu untuk DKM Mesjid Baitul Faidzin,” ujar Bupati Bogor, Nurhayanti seusai melaksanakan Sholat Idul Adha di Lapangan Tegar Beriman Cibinong Kabupaten Bogor, Jumat (01/9/2017).

Nurhayanti pun mengklaim bahwa tahun ini ada peningkatan yang luar biasa dari segi berkurban. “Ada peningkatan yang luar biasa dalam semangat berkurban tahun ini mudah-mudahan mendapatkan amal dan pahala yang setimpal,” katanya.

“Yang penting semangat Idul adha luar Biasa dan tinggi,” tegasnya.

Sementara itu, pelaksanaan sholat idul Adha, Bupati Bogor memilih sholat di Lapangan Tegar Beriman, Cibinong Kabupaten Bogor. Tampak ribuan warga juga ikut melaksanakan Sholat Idul Adha di lapangan tersebut dari mulai anak – anak hingga dewasa dimana untuk Khotib dipimpin langsung Khotib KH Sanusi Azhari, Imamnya  Ustad Deden Ibnu Akil, dan muroqi oleh Ustad Abdul Hamid.

Anak PNS Cantik yang Tewas Teriak ‘Papa Mama Berantem…”

BOGOR DAILY– PNS cantik yang ditemukan tewas di rumah kontrakannya ternyata bekerja sebagai PNS di Balai Diklat BNN Bogor. Ia bernama Indria Kameswari (38) yang menurut keterangan warga baru satu tahun mengontrak di Perumahan River Valley Blok B2 Nomor 31 RT 01/08 Desa Palasari, Kecamatan Cijeruk.

Salah seorang tetangga, Rizki, mengungkapkan sekitar pukul 07. 00 WIB pagi terdengar suara letusan. Namun belum dapat dipastikan apakah itu berasal dari senjata api atau bukan. Ketika itu warga hendak bersilaturahmi usai salat Idul Adha digegerkan penemuan wanita cantik tak bernyawa, Jumat pagi (01/09/2017) sekitar pukul 07.30 WIB.

Saat ditemukan tubuhnya masih hangat dengan gincu merah di bibirnya. Diduga korban meninggal baru beberapa jam lalu. Polisi akhirnya mengungkap keterangan lebih lanjut sebelum korban meninggal, anak korban sempat berteriak minta tolong ke para tetangga.

Kapolsek Cijeruk Kompol Safiuddin Ibrahim dilokasi mengatakan, dari keterangan tetangga korban, sebelum ditemukan tewas, anak korban lari ke luar rumah. “Anak korban lari ke tetangga dan bilang papa mama berantem,” terang Kapolsek.

Setelah pertengkaran itu, lanjut Kapolsek, sang suami pergi ke luar rumah. Dari hasil olah TKP petugas menemukan luka di bagian punggung korban. Saat ditanya apakah itu tembakan, Kapolsek belum mastikan.

“Masih dalam penyelidikan. Korban meninggalnya kenapa penyebabnya kami menunggu hasil forensik,” jawab Safiuddin

Libur Idul Adha, Jalanan Kota Bogor Lenggang

0

BOGOR DAILY- Situasi arus lalulintas di Polresta Bogor Kota saat libur panjang Idul Adha 1438 H Jumat (1/9) lengang. Sejumlah pintu exit tol yang terhubung ke Kota Bogor sepi dari kendaraan.

Di gerbang tol (GT) Bogor  situasi lalulintas terpantau lancar kedua arah. Jumlah kendaraan yang melintas pukul 21.00 WIB – 06.00 WIB untuk arah Jakarta ada 6.728 mobil. Sedangkan arah Bogor, tercatat ada 7.181 kendaraan.

Untuk GT BORR yang terhubung ke Jalan Sholeh Iskandar dan Bogor Kota, situasi arus kedua arah lancar.  Di pusat Kota Bogor juga terlihat tidak menunjukkan kepadatan.

“Simpang Tugu Kujang juga lancar. Begitu juga di Lawang Salapan Jalan Otista dan simpang Denpom Jalan Ir. H. Juanda dan  Jalan Kapten Muslihat, serta simpang Yasmin, Jalan Raya Tajur, arus kendaraan kedua arah lancar,” kata Kompol Bramastyo Priaji, Kasat Lantas Polresta Bogor Kota.

2.498 Sapi, 11.301 Kambing Dipotong Massal Di Kota Bogor

0

BOGOR DAILY-Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Bogor, Jawa Barat, menyampaikan data jumlah hewan kurban yang dipotong massal pada Hari Raya Idul Adha 1438 Hijriyah mencapai 13.790 ekor.

“Jumlah tersebut terdiri atas, 2.498 sapi dan 11.301 kambing atau domba,” kata Ketua Baznas Kota Bogor, Jawa Barat, Ahmad Chotib Malik saat ditemui usai Salat Idul Adha di Masjid Raya Bogor (Masjid Al Mi’raj), Jumat (1/9).

Chotib mengatakan, Baznas secara khusus melakukan pendataan dan pencatatan jumlah kurban yang dilakukan di masing-masing kecamatan.

Pendataan dilakukan sejak 23 Agustus hingga 31 Agustus 2017 yang melibatkan enam petugas Baznas dan aparat kecamatan.

“Jumlah ini kemungkinan masih akan bertambah, karena selama hari tasyrik (tiga hari setelah Idul Adha) ada yang berkurban, perkiraan penambahan sampai 20 persen,” kata Chotib Menurut Chotib, pendataan hewan kurban baru pertama kali dilakukan oleh Baznas dalam rangka mendapatkan data jumlah hewan kurban yang disembelih setiap tahunnya.

“Ini (pencatatan) bagian dari syiar Islam. Dengan kita mengetahui data dan melaporkannya akan tersiarkan berapa banyak potensi umat muslim dalam berkurban,” katanya.

Ia menyebutkan, Idul Adha sejatinya mengandung dua dimensi, yakni Ketuhanan dan Kemanusiaan. Menyisihkan sebagian harta untuk hewan kurban yang akan disedekahkan bagi masyarakat banyak.

“Jadi Idul Adha ini adalah momentum untuk memperkuat keimanan kita kepada Allah dan kasih sayang kepada manusia,” kata Chatib.

Terhitung mulai 2017, Baznas Kota Bogor akan rutin mencatat jumlah hewan kurban yang disembelih setiap tahunnya pada Idul Adha di setiap kecamatan.

Berdasarkan data Baznas, rekapitulasi data sementara hewan kurban di Kota Bogor untuk kecamatan Bogor Utara sebanyak 512 sapi, 2.333 kambing/domba totalnya 2.845 ekor. Kecamatan Bogor Timur, 214 sapi dan 1.268 domba/kambing, total 1.482 ekor. Bogor Tengah 173 sapi, 947 kambing/domba, totalnya 1.120 ekor.

Kecamatan Bogor selatan, 288 sapi, 1.529 kambing/domba totalnya 1.817 ekor. Kecamatan Bogor Barat, 686 sapi, 2.835 kambing/domba, totalnya 3.521 ekor, dan Kecamatan Tanah Sareal 616 sapi, 2.389 kambing/domba, total 3.005 ekor.