Monday, 6 April 2026
Home Blog Page 8992

Kabur ke Cileungsi, Bandit Jalanan Berhasil Diringkus

BOGOR DAILY– Tiga kawanan bandit jalanan dibekuk polisi lantaran melakukan penodongan terhadap barang mahasiswa di Jalan Raya Kasablanka, Tebet, Jakarta Selatan. Tiga kawanan bandit itu adalah Anjas (20), Gine (22), dan David (30).

Kapolsek Tebet Kompol Maulana J Karepesina mengatakan, modus pelaku saat beraksi, berpura-pura menanyakan jam pada korban. Adapun korban bernama Kautsar (18), berada di Kasablanka karena sedang menunggu ojek online pesanannya.

“Tiba-tiba datang pelaku Anjas berpura-pura menanyakan waktu pada korban. Korban tak memakai jam, lalu dia keluarkan hadphone iPhone 6 nya itu, saat itulah datang dua rekannya menodong korban,” ujarnya, Jumat (7/7/2017).

Menurut Maulana, Gine dan David menodongkan pisau dan memaksa korban untuk menyerahkan semua barang berharga, handphone, dan uangnya. Adapun pelaku diduga kerap melakukan aksi penodongan di kawasan mal yang ada di Jakarta.

“Usai menggasak harta korban itu, pelaku kabur. Pelaku kami tangkap di Cileungsi, Bogor di tempat persembunyiannya,” katanya.

Kini, atas perbuatannya itu pelaku dikenakan Pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan. Polisi juga turut mengamankan barang bukti pencurian berupa handphone yang dibawa oleh pelaku.

Demam Parno ‘Tas Bom’ di Bogor, Begini Saran Kapolres

BOGOR DAILY– Maraknya aksi teror yang belakangan terjadi, juga disoroti  jajaran Polres Bogor.
Adanya demam parno ‘tas bom’ yang muncul di beberapa kota, juga sempat menghebohkan warga di Kabupaten Bogor.

Kapolres Bogor AKBP AM Dicky berpesan agar masyarakat tak terlalu cemas menanggapi ter­or bom tersebut. “Ma­syarakat tidak perlu khawatir karena kejadian kemarin itu bukan bom, me­lainkan barang yang ketinggalan dan sampah yang dibuang seseorang,” kata Dicky.

Dicky juga meminta masyarakat sebisa mungkin tidak mengekspos atau menyebarluaskan informasi yang belum diyakini kebenarannya ke media sosial. Hal ini untuk meng­hindari kepanikan.

Bukan kita mau nutup-nutupin. Kalau memang benar itu bom tentu akan kita ekspos. Kalau bukan, tidak perlulah diekspos. Kita tidak mau masyarakat nanti jadi parno,” pintanya.

Ia mengakui bah wa penemu an barang miste­rius di Dramaga membuat warga khawat­ir. Termasuk penemuan kantong plastik merah di sam’ping SDN IV Leu­wiliang. “Seharusnya yang seperti ini masyara­kat tidak perlu tahu. Karena itu pun hasil pemeriksaan han­ya kardus minu­man, kayak penjual yang buru-buru, jadi ketinggalan,”sebutnya.

Dicky menjelaskan, dari hasil pemeriksaan kedua orang yang diduga menaruh barang secara sembarangan itu, tidak ditemukan ad­anya kesengajaan atau ingin melakukan teror. “Tidak ada. Mereka tidak ada niat neror, hanya buang sampah dan ketinggalan,”tandasnya

Ini Kata Pakar Kalau Bima Arya Jadi Cawagub Jabar

BOGOR DAILY- Nama Bima Arya belakangan jadi obrolan hangat di kancah politik Jawa Barat (Jabar). Wali Kota Bogor itu digadang-gadang jadi kandidat kuat Partai Amanat Nasional (PAN) sebagai calon gubernur (cawagub). Lalu, apa kata pakar politik jika Bima Arya benar-benar memilih terbang ke provinsi?

Peluang Bima Arya maju di tingkat Jabar memang sudah terbuka. Ini menyusul ad­anya dua nama yang disodorkan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PAN, yakni Bima Arya dan Desy Ratnasari. Pakar Politik dari Univer

Iriawan Maksudi menyebut bahwa keinginan Bima itu sah-sah saja. Hanya saja dari kacamata politik, langkah itu belum tepat. “Di Kota Bogor saja masih banyak kekurangan, bagaimana bisa ke provinsi. Itu justru akan memberatkan dia sendiri,” ungkap mantan Dekan FISIP Unida ini. sitas Djuanda (Unida) Beddy

Terkecuali, lanjut dia, di akhir kepengurusannya Bima sang­gup melahirkan inovasi yang dampaknya langsung dirasa postif oleh warganya. Sebab, ia menilai selama kepemimpi­nan Bima-Usmar belum ada kebanggaan yang bisa di­unggulkan. “Lebih baik fokus saja selesaikan PR yang ada, melanjutkan visi-misinya yang belum terealisasi,” saran lelaki berkacamata itu.

Pandangan lain justru diutarakan Pengamat Politik LIPI Siti Zuhro. Menurutnya, tidak ada kepala daerah yang sanggup menyelesaikan visi-misinya dalam tempo lima ta­hun. Bagi Siti, selama pencalo­nannya itu dilakukan selepas jabatannya sebagai Wali Kota Bogor berakhir, maka tidak masalah naik kelas. “Prinsipnya jangan jadi politisi yang kutu loncat. Silakan. Toh Bima juga tidak asing-asing amat untuk Jabar,” jawab Siti.

Hanya saja, lanjutnya, DPP PAN harus jeli menentukan pilihannya sesuai kebutuhan masyarakat Jabar. “Artinya, dua orang itu (Bima dan Desy, red) harus betul-betul dihi­tung bagaimana tingkat elek­tabilitas dan akseptabilitasnya. Jangan hanya mengandalkan popularitasnya saja,” terang­nya.

Jika melihat hasil survei yang dilakukan Poltracking Indo­nesia, elektabilitas Bima Arya memang lebih unggul dari Desy Ratnasari. Namun tidak terpaut jauh, hanya selisih 0,12. Bima Arya 1,00 persen, sedangkan Desy Ratnasari 0,88 persen. Sedangkan tiga teratas masih diduduki Ridwan Kamil (38,13 persen), Dedy Mizwar (14,88 persen) dan Dedi Mulyadi (9,88 persen).

Tak heran jika PAN pun han­ya mengincar posisi cawagub dalam bursa Pilgub Jabar 2018. “PAN di Pilkada Jabar nggak ngotot di gubernur. Tetapi posisi wagub, kami banyak (calon, red),” tegas Ketua DPP PAN Yandri Su­santo. Dari calon tersebut, lanjutnya, dua di antaranya mengerucut pada sosok Bima Arya dan Desy Ratnasari.

Pakar Tata Negara Raden Mihradi menyarankan agar Bima Arya mempertimbang­kan lagi niatnya maju di Pilgub Jabar. Alasannya, kepemimpi­nan Bima dianggap belum tuntas. Ditambah masih ada kelemahan yang perlu jadi catatan. Di antaranya soal re­formasi birokrasi yang diang­gap masih banyak kekuran­gan. “Contohnya banyak kasus hukum yang belum selesai. Ini menandakan bahwa tata kelola pemerintahannya juga belum berjalan baik,” urainya.

Tak hanya itu, Mihradi men­gungkapkan, masih banyak keluhan dari masyarakat ter­kait pelayanannya. Termasuk soal adanya indikasi dishar­monis antara pemimpin dan anak buahnya yang terlihat dalam kepemimpinan Bima Arya.

“Ya saya sebagai orang luar memang melihatnya seperti itu. Memang secara aturan ti­dak apa-apa kalau maju di provinsi. Hanya saja melihat kelemahan itu, bagaimana bisa untuk memimpin 27 kota/kabupaten,” tandasnya

Belum Punya Izin, Pelamar di Toko Kue Syahrini Membludak

BOGOR DAILY– Aktris cantik Syahrini sudah bertekad bulat melebarkan bisnis barunya ‘Princess Cake’ di Kota Bogor. Kabarnya Juli ini, gerai itu akan dilaunching. Namun, hingga saat ini pemerintah kecematan Tanahsareal belum memberikan izin. Sementara, manajemennya sudah membuka lowongan kerja besar-besaran di Jalan Ahmad Yani Kelurahan Tanahsareal, Kecamatan Tanahsareal hingga pelamarnya membeludak.

Salah satu pelamar Tantri (23) mengatakan, bahwa dirinya mendapatkan informasi dari temannya bahwa Syahrini membutuhkan karyawan untuk bekerja di toko kuenya. Hal tersebut ia dapatkan dari salah satu grop media sosial. Terlebih Tantri mengaku bahwa dirinya baru mengundurkan diri dari tempat kerjanya. “Iya pengen kerja sama Syahrini siapa tau aja bisa ketemu dia nantinya,” ujarnya.

Sementara, Camat Tanah Sareal Asep Kartiwa mengatakan, proses perizinan itu masih ditempuh sang diva. “Saat ini masih ada di kelurahan belum sampai di tangan saya memang seharusnya hari ini tetapi karena ada kagiatan jadi tertunda,” paparnya.

Asep meminta siapa pun tokoh, artis atau yang lainnya yang akan berinvestasi di Kecamatan TanahnSareal harus mengikuti peraturan yang ada, seperti memiliki izin dari warga atau Pemerintah Kota Bogor. Sehingga dengan begitu bisnis yang dijalankannya akan berjalan lancar. “Kota Bogor memang kota jasa dan bisnis sehingga siapapun yang akan berbisnis di bogor ini harus taat pada aturan yang berlaku,” katanya.

Selain itu, ia juga meminta kepada Syahrini agar dapat menyerap tenaga kerja yang cukup banyak khususnya bagi warga sekitar.

Hal senada diungkapkan oleh Ketua RT 01/02 Mayawati, menurutnya memang ketika pembangunan toko kue ini tidak ada izin kepada pihaknya walaupun keberadaan toko kue milik Syahrini tersebut bukan diwilayahnya melainkan diwilayah RT yang lain. Tetapi dampak lingkungan sangat terasa kepada warganya karena toko kue tersebut lebih dekat dengan wilayahnya.

“Memang belum ada, hanya saja pada bulan puasa kemarin ada notaris yang datang dan meminta izin kepada kita,” singkatnya.

Pemkot Bogor Incar 15 Titik untuk Sisir Pendatang

BOGOR DAILY– Pemerintah Kota Bogor menggelar operasi yustisi di sejumlah titik. Upaya itu dilakukan untuk menekan tingginya urbanisasi di kota ini.

“Penataan penduduk baru ini akan terus dilakukan hingga selesai yakni 15 titik. Kami targetkan selesai pada pertengahan bulan Juli 2017 ini. Usai penataan, kami akan rekap secara keseluruhan,” kata Kepala Kependudukan Disdukcapil Kota Bogor, Agus Suparman disela-sela agenda Rakerda Pemkot Bogor, di Hotel Padjajaran Suites, Kamis (6/7)

Ia mengungkapkan, pihaknya sampai saat ini telah melakukan pantauan yang telah dilakukan selama empat hari, yaitu Senin-Kamis (3-6/7). Dari hasil pantauan tersebut, pihaknya baru menemukan satu pendatang baru berasal dari Cirebon.

“Hasil sementara, kami baru mendapatkan satu keluarga yang tidak ber KTP Kota Bogor, dia (pendatang baru) asal Cirebon yang tinggal di Sindang Rasa,” ungkap Agus.

Selain di Sindang Rasa, pihaknya juga melakukan penyisiran ke tempat lain seperti ke wilayah Bantarjati, namun belum menemukan warga yang betul-betul baru dan kebanyakan warga tahun lalu yang ngontrak dan ngekost di Kota Bogor.

“Jadi, pendatang yang betul-betul baru datang ke Kota Bogor ini baru satu keluarga, sementara yang lainnya kebanyakan yang ngontrak dan ngekost dari tahun lalu atau kata lain pemudik (ber KTP Bogor) yang kembali lagi kesini,” ujarnya.

Menurut Agus, nantinya akan dilakukan meknisme penataan warga pendatang baru, nanti pihaknya memberikan formulir untuk diisi oleh pendatang baru, kemudian akan direkap di Disdukcapil.

Saya Adalah Mereka

Warga urban Bogor. Tinggal dalam petak-petak ukuran 3×4 meter. Yang kadang diisi lebih dari satu keluarga. Sanitasi seadanya. Pengab. Padat. Berkelok-kelok. Dalam lorong-lorong kecil kadang seukuran tubuh kita.

Mereka tinggal dalam rumah yang berada dalam lereng-lereng kota. Di daerah aliran sungai. Setiap saat terancam rumahnya longsor. Hancur. Bahkan nyawa melayang.

Belum dan tidak ada solusi permanen dari Pemkot Bogor atas persoalan ini. Keadaan mereka bahkan lebih tidak aman dibandingkan saya dulu di Gang Rukun, Mangga Dua, Jakarta Pusat.

Mereka warga Kota Bogor. Ada yang lahir di Bogor dan asli orang Bogor. Ada urban dari Cilacap. Sukabumi. Cianjur. Dan lain-lain. Mereka bekerja di sektor informal: sopir, pedagang, kerja kasar, tukang batu. Dan banyak juga pengangguran.

Malam tadi di Sindangsari. Saya bertemu dengan komunitas yang sama dengan komunitas miskin kota Jakarta. Kondisi mereka memprihatinkan. Berada di pinggir sungai yang akan kena imbas banjir bila air  besar. Air akan masuk merendam isi rumah setinggi lutut. Meski rumah sudah ditinggikan. Tetap mengungsi sementara pada akhirnya.

Akan tetapi walau ada keluhan, mereka tetap merupakan orang-orang yang tegar. Tidak menyerah. Ketika saya datang. Mereka seperti mendapat forum untuk menumpahkan uneg-uneg mereka. Atas kondisi sanitasi lingkungan. Infrastruktur. Fasilitas sosial Posyandu. Dan lain-lain.

Mereka semua tumpahkan pada saya. Yang mereka tidak tumpahkan adalah soal sandang  dan pangan. Mereka mengaku bisa atasi sendiri walau pas-pasan.

Kondisi buruknya sanitasi dan ketiadaan ruang terbuka hijau dalam perkampungan, tentu kontras dengan gelontoran miliaran untuk sekedar membuat cantik pedestrian. Taman. Dan Lawang Salapan. Apakah ini politik pembuaian?

Secara psikologis, dapat saya tangkap mereka haus dikunjungi. Dijamah. Disapa. Ditepuk. Dan ditanya apa kabar saudara-saudara? Sapaan tersebut adalah kran yang akan meluncurkan puluhan keluhan seperti di atas.

Saya datang dan menyapa, maka setumpuk keluhan segera hadir. Apakah ini yang membuat para politisi, pejabat pemerintah takut turun ke bawah? Takut dituntut pemenuhan hak-hak mereka akan kesejahteraan sebagai warga negara?

Keluhan mereka harus diatasi. Wajib diatasi dan mereka wajib diberi fasilitas untuk sejahtera lahir dan batin. Pemerintah mampu dalam ukuran yang adil memenuhi hak-hak mereka.

Untuk itu saya turun pada mereka. Sebagai seorang yang pernah hidup sama dalam kemiskinan seperti mereka. Saya faham apa artinya empati. Simpati. Dan pertolongan.

Sebagai anak yang lahir dari ayah seorang sopir becak dan bajaj. Saya mengerti perasaan direndahkan. Dipandang sebelah mata.

Karenanya, saudara-saudaraku. Saya hadir untuk saudara-saudara semua. Kita harus atasi masalah-masalah saudara bersama-sama. Pemerintah dapat menjadi dinamisator dan fasilitator  kesejahteraan saudara-saudara. Dengan politik keuangan di APBD.

Tetapi saudara juga harus meningkatkan SDM. Anak-anak saudara harus diberi dukungan yang layak. Untuk dapat berhasil keluar dari lingkungan pengap ini. Bangkit memperbaiki taraf hidup.

Saya akan berjalan dan berdiri bersama dengan saudara-saudara. Karena saya tahu rasanya menjadi saudara saat ini.

 

Salam Juang,

 

Sugeng Teguh Santoso, SH

(Calon Walikota Bogor 2018)

 

Truk Pengangkut Kelapa Sawit Terjungkal, Isinya Berhamburan

BOGOR DAILY– Di­duga selip ban, truk dengan nomor po­lisi B 9050 OQ yang bermuatan minyak kelapa sawit tergu­ling di Jalan Raya Cilame, Kebonpe­des, Desa Suka­maju, Kecamatan Cigudeg. Akibatnya, puluhan kilo minyak berceceran di jalan hingga menggang­gu arus lalu lintas.

Warga sekitar, Rosid (60) menu­turkan, ketika akan melalui tanjakan, ban mobil truk mengalami selip dan tidak terkendali hingga truk terbalik.

Rencannya, truk milik perkebunan ke­lapa sawit PTPN VIII di Kampung Toge, Desa Mekarjaya, Kecamatan Cigudeg, akan dibawa ke daerah Bekasi.

”Tergulingnya truk itu terjadi sekitar pukul 22:00 WIB. Dalam kejadian terse­but, korban jiwa hanya sopir dan ker­netnya mengalami luka ringan. Sedang­kan truk sudah dievakuasi menggunakan alat berat,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Humas PTPN VIII Alit Pirmansyah mengaku prihatin adanya insiden truk minyak yang terguling. Truk yang terguling bukan milik PTPN VIII, tetapi truk ekspedisi yang hanya meme­liki minyak kelapa sawit di perusahaan.

”Pihak perusahaan hanya membantu sekadar kemanusiaan saja karena sipatnya bukan mitra kerja. Jadi di luar tanggung jawab PTPN,” pungkasnya.

Dua Rumah di Sukajaya Bogor Habis Dilumat Si Jago Merah

BOGOR DAILY- Dua rumah milik Rumsah (70) dan Sahada (21), warga Kampung Cibadak, RT 03/03, Desa Su­kamulih, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, habis dilumat Si Jago Merah. Diiduga api berasal dari percikan tungku.

Warga yang melihat kejadian tersebut berusaha memadamkan api, namun su­lit dipadamkan. Akibatnya, dua rumah warga hangus. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul pukul 14:00 WIB.

Kepala Desa Sukamulih Rukman Somad mengatakan, kebakaran yang menghangus­kan dua rumah itu diduga berasal dari tungku rumah milik Sahadah. Sebelum kejadian, Sahadah yang sedang memasak di tungku meninggalkannya sesaat. Tidak lama kemudian, api dari tungku tersebut menyambar dapur yang terbuat dari bi­lik bambu sehingga menyebabkan ke­bakaran.

”Percikan api dari tungku milik Sahadah membakar bilik bambu yang menjadi dinding dapur hingga menjalar ke rumah tetangganya,” ujarnya.

Ruhman menambahkan, warga yang mengetahui kejadian tersebut berusaha memadamkan api dengan peralatan seada­nya namun tak kunjung padam.

”Kedua kepala keluarga itu sementara ditampung di rumah kerabatnya. Keja­dian tersebut tidak menimbulkan korban jiwa, sedangkan kerugian ditaksir sekitar Rp150 juta,” pungkasnya.

Tas Diduga Bom Isinya Cuma Botol Plastik, Punya Siapa ya?

BOGOR DAILY– Warga sekitar SDN IV Leuwiliang, Kabupaten Bogor digegerkan penemuan bungkusan yang diduga berisi bom, Rabu (5/7). Polisi berhasil mengidentifikasi paket berupa bungkusan berwarna merah berisi botol plastik.

Menurut saksi mata, bungkusan plastik merah itu berisi benda mirip panci terlilit lakban dan kabel. Eko Okta (50) yang merupakan guru melihat bungkusan paket tersebut di selasar belakang sekolah dan jarang dilewati orang dan tidak pernah melihat tumpukan benda atau sampah di tempat tersebut.

“Saya melihat sekilas isinya seperti panci dan kabelnya dibungkus rapi. Saya curiga kalau itu bom. Tempat tersebut jarang dilalui dan selalu bersih. Makanya saya curiga,” paparnya.

Tak lama kemudian, tersebar kabar bungkusan itu adalah bom. Kecurigaan bertambah ketika salah seorang warga mencoba mengecek dan menendang bungkusan tersebut. Setelah ditendang, benda mencurigakan tersebut bergeming karena dirasa cukup berat.

Melalui kepala sekolah, informasi tersebut diteruskan kepada polisi setempat. Satuan penjinak bom dari Gegana Brimob Mabes Polri diterjunkan ke lokasi. Mereka langsung mensterilkan lokasi lalu melakukan oleh tempat kejadian.

Polisi juga memastikan keamanan lokasi dengan melakukan penyisiran melibatkan anjing pecak. Setelah diperiksa kurang lebih dari dua jam, personel penjinak bom kembali ke mobil dengan membawa tas yang diduga berisi barang mencurigakan tersebut.

Menurut keterangan tim penjinak kepada Kapolsek Leuwiliang, Komisaris Polisi I Nyoman Suparta, bungkusan yang dicurigai bom itu tidak terbukti. “Bungkusan itu berisi beberapa botol minuman di dalam kardus diduga milik seorang asongan,” jelasnya.

Kata dia, kardus tersebut dikemas dengan padat sehingga berat, sedangkan yang sebelumnya diduga merupakan lilitan kabel merupakan tali plastik dililitkan pada barang di dalam bungkusan plastik berwarna merah.

Dua pekan lalu, warga Dramaga Bogor dihebohkan dengan penemuan tas berwarna abu-abu yang diduga berisikan bom. Tas yang dicurigai sebagai bom tersebut ditemukan warga di Jalan Raya Dramaga No. 46, tepatnya di depan klinik Garfa.

Berdasarkan keterangan saksi Jamal (33), sebelum ditemukannya tas tersebut, terdapat satu unit mobil Toyota Avanza yang sempat berhenti di sekitar lokasi dan mondar-mandir di sekitar pospam.

Tidak lama mobil tersebut meninggalkan lokasi dengan meninggalkan tas tersebut, warga yang mencurigai langsung melaporkan ke pospam Dramaga bahwa di depan klinik Garfa telah diketemukan sebuah tas mencurigakan tersebut.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh Tim Gegana, ternyata dalam tas tersebut hanya berisi tumpukan plastik yang disimpan dalam tas berwarna abu abu.

Reponsif
Kapolres Bogor, Ajun Komisaris AM Dicky menambahkan, dari kedua peristiwa tersebut meyakini bahwa Bogor masih dalam kondisi aman. Benda-benda yang diduga bom tersebut tidak terbukti merupakan peledak atau rangkaian bom.

Meski tidak terbukti bom, Dicky tetap mengapresiasi laporan warga yang responsif terkait penemuan bungkusan tersebut. “Memang sudah menjadi tugas kewajiban polisi untuk menjaga. Masyarakat tak perlu takut dan khawatir dengan adanya teror. Masyarakat diharapkan melapor ” katanya.

Tidak hanya benda, Dicky juga meminta kepada masyarakat Bogor agar dapat mengawasi lingkungan sekitar dan terus melakukan pengawasan kepada orang-orang sekitar. Memastikan, bahwa mengenal antar tetangga, RT, dan RW setempat.

Karena tidak menutup kemungkinan para pelaku teror berbaur dan bermukim dan selain itu, tetap menggalakkan Siskamling setempat.

Berkas P21, Ki Gendeng Pamungkas Dilempar ke Kejari Bogor

BOGOR DAILY- Berkas penyidikan kasus dugaan diskriminasi ras dengan tersangka Ki Gendeng Pamungkas telah dinyatakan lengkap (P21). Penyidik Ditreskrimsus Polda Metro Jaya melimpahkan tahap dua Ki Gendeng ke kejaksaan.

“Penyerahan tersangka dan barang bukti (tahap dua) dilaksanakan pukul 11.00 WIB tadi,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono, Kamis (6/7).

Berkas Ki Gendeng dinyatakan lengkap pada Rabu 5 Juli kemarin. Selanjutnya, polisi melakukan penyerahan tersangka dan barang bukti perkara ke Kejari Bogor.

Sebelum dilakukan tahap dua, polisi melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap Ki Gendeng. Setelah proses pemeriksaan kesehatan dan administrasi selesai, Ki Gendeng dibawa ke Kejari Bogor dengan pengawalan sejumlah polisi.

Adapun, barang bukti yang diserahkan di antaranya sejumlah kaos dan stiker. Ki Gendeng dijerat dengan Pasal 4 huruf b jo Pasal 16 UU RI Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan atau Pasal 156 KUHP.

Sebelumnya Ki Gendeng ditangkap pada Selasa 9 Mei lalu di rumahnya di kawasan Bogor, Jawa Barat. Ki Gendeng ditangkap karena ujarannya yang mendiskreditkan suatu ras dan etnis tertentu melalui media sosial YouTube, Twitter dan Facebook.

Polisi menyebut Ki Gendeng sengaja menyebarkan kebencian terhadap suatu ras tertentu. Dia bahkan mencetak puluhan kaos bertulisan provokasi yang kemudian disebar ke sejumlah warga, termasuk anggota ormas yang didirikannya, Front Pribumi.