Sunday, 5 April 2026
Home Blog Page 8995

Usai Liburan, Sekeluarga Keracunan Sampai Satu Orang Meninggal

BOGOR DAILY- Musibah keracunan menimpa tujuh orang di Kampung Balakang, RT01/07, Desa Cipicung, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Satu orang tewas, enam lainnya dirawat.

Keracunan diduga berasal dari makanan itu baru diketahui secara luas, Selasa 4 Juli 2017 sekitar pukul 20.00 WIB.

Informasi yang dihimpun, awalnya Resdi (13), Muhtarul Anwar (11), dan Nurmansyah (14), pergi berekreasi ke Pantai Pelabuhan Ratu, Sukabumi, bersama keluarga Nazir pada Minggu 2 Juli.

Kemudian mereka pulang dan tiba di rumah pada Senin 3 Juli sekitar pukul 17.00 WIB. Setiba di rumah, Resdi, Muhtarul, dan Nurmasyah langsung tidur.

Saat terbangun sekitar pukul 20.00 WIB, ketiga orang itu mengalami pusing, mual-mual dan muntah terus-menerus.

Dalam waktu bersamaan, Siti Saidah (24), Nur Ihsan (7), Rizky M (2,5), dan Siti Nuraisyah (11), yang masih kerabat keluarga Nazir ini juga mengalami gejala yang sama.

Namun nahas, Siti Nuraisyah meninggal di rumahnya sekitar pukul 22.00 WIB karena diduga mengalami dehidrasi akut.

Sementara enam orang lainnya langsung dibawa ke Puskesmas Cigombong untuk menjalani perawatan intensif.

“Keenam korban masih dirawat. Lima orang kondisinya mulai membaik, tapi satu orang dirujuk ke RS Sekarwangi karena kondisinya memburuk,” kata Kabid Pencegahan Pengendalian penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Agus Fauzi.

Menurut dia, pihak dokter masih menelusuri penyebab keracunan yang menimpa tujuh orang yang masih ada hubungan saudara tersebut. Sebab, dari keterangan korban, mereka tidak makan makanan yang sama.

“Masih ditelusuri. Petugas belum menemukan sampel makanan,” kata dia.

Enggak Pakai Ditendang, Parkir Liar Pasar Anyar Dibubarkan

BOGOR DAILY– Pemerintah Kota Bogor kembali menertibkan pedagang kaki lima (PKL) dan parkir liar di kawasan Pasar Anyar, Bogor, Jawa Barat, Selasa (4/7/2017). Namun kali ini penertiban tidak diwarnai insiiden tendangan.

Sejumlah lapak PKL dan motor yang parkir sembarangan langsung dibubarkan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor.

Penertiban kali ini merupakan tindak lanjut atas penertiban sebelumnya yang menyasar kepada PKL yang berjualan hingga ke badan jalan dan parkir liar.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bogor, Herry Karnadi mengatakan, penertiban dilakukan agar kawasan Pasar Anyar tidak lagi semerawut dan macet akibat ulah PKL yang bandel dan parkir liar yang dibiarkan.

Selain itu, langkah ini juga sebagai bentuk komitmen dalam mengawasi Pasar Anyar agar tetap menjaga ketertiban dan kenyamanan baik bagi pedagang maupun pembeli.

“Ini bukan semata-mata kita menghalangi usaha mereka (pedagang) untuk berjualan. Tapi secara tidak langsung, pedagang dan pembeli nantinya juga nyaman. Tidak semerawut, kacau, dan sumpek,” ungkap Herry seusai melakukan penertiban.

Herry menambahkan, untuk mencegah para PKL kembali berjualan hingga ke badan jalan dan parkir liar, pihaknya memberikan pembatas, sehingga para pedagang maupun yang akan memarkirkan kendaraannya tidak melewati batas yang telah ditentukan.

“Kita mengatur areanya untuk berjualan. Ada batas sampai mana jualannya termasuk parkir supaya tidak mengganggu kenyamanan. Kita garisi. Kalau ada yang melanggar, kita beri tindakan,” jelasnya.

Dalam penertiban tersebut, sebanyak 250 personel gabungan dari jajaran Satpol PP, Dishub, Kodim, dan Polresta Bogor Kota turut dilibatkan.

Beberapa anggota Satpol PP juga terlihat membongkar sejumlah lapak pedagang yang ditertibkan.

Bima Arya Pasrah Digadang Jadi Cawagub Jabar

BOGOR DAILY- Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) yang juga Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto siap menjadi pendamping Gubernur Jawa Barat dalam ajang Pemilihan Gubernur Jawa Bara pada 2018. Bima mengakui partainya mengincar posisi calon wakil gubernur (cawagub) pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat 2018-2023.

“PAN menganalisis dan mempelajari hasil survei tidak terlalu mengarah kepada nomor satu, tapi siap mendampingi posisi yang diunggulkan di hasil survei. Jadi posisi cawagub,” kata Bima Arya seusai Halalbihalal Pemprov Jawa Barat di Gedung Sate Bandung, Selasa(4/7/2017).

Bima Arya mengakui, sejauh ini PAN menyodorkan dua kandidat internal pada Pilgub Jawa Barat 2018, yaitu anggota DPR RI Dessy Ratnasari dan dirinya. “Untuk Jabar betul ada dua nama, saya dan Desi Ratnasari. Sebagai kader tentunya kami harus siap untuk mengikuti arahan dan kebijakan partai,” ujarnya.

Akan tetapi, tentunya, ada sejumlah faktor-faktor yang dihitung oleh PAN, di antaranya hasil survei dan komunikasi dengan parpol lainnya. “Kedua itu menjadi penting, survei kami pelajari terus, semua survei Jawa Barat kami pelajari. Kedua, komunikasi dengan semua juga dibangun,” tuturnya.

Lebih lanjut Bima Arya mengatakan, dari aspek waktu yang masih tersisa menjelang tahapan Pilgub Jawa Barat 2018, maka segala skenario bisa terjadi. “Perjalanan masih panjang, segala skenario masih sangat mungkin jadi kita ikuti saja. Komunikasi (politik dengan parpol lainnya) yang sekarang sedang dibangun,” katanya.

Sementara itu, istri Gubernur Jawa Barat Netty Heryawan enggan menanggapi kesiapannya untuk terus maju menjadi cagub Jawa Barat. Dia mengatakan masih menunggu keputusan partai terkait pengusungan dirinya untuk maju sebagai cagub.

“Belum ada lampu hijau. Nanti saja, kan masih lama. Semua itu urusan elite partai, semua masih berpikir,” tandasnya.

Wow…Tiap Bulan 10 PNS di Bogor Jadi Janda

BOGOR DAILY– Masalah rumah tangga yang berujung pada perceraian dialami pegawai negeri sipil (PNS) di lingkup kota/kabupaten Bogor. Dari catatan Badan Kepegawaian Pengembangan dan Sumber Daya Aparatur (BKPSDA), selama 2017 ini sudah puluhan pegawai wanita mengajukan gugatan cerai.  Bahkan, tiap bulannya mencapai 10 PNS yang akhirnya terpaksa menjanda.

Tingkat perceraian di wilayah Bogor terbilang tinggi. Banyak percekcokan yang akhirnya berujung ke meja hijau. Seperti yang terjadi di Kota Bogor.

Dari total keseluruhan jumlah PNS yang mencapai 7595 orang, jumlah jandanya hampir di angka 10 persen. Atau sekitar 700 orang. Kepala Badan Kepegawaian Pengembangan dan Sumber Daya Aparatur (BKPSDA) Kota Bogor FettyQondarsyah mengatakan, kebanyakan, PNS yang menjanda dilatarbelakangi banyak kasus. Mulai dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), ditinggal meninggal hingga perselingkuhan.

“Ada juga yang jadi janda karena suaminya selingkuh, sehingga PNS ini sudah tidak ingin dengan suaminya dan beberapa alasan yang lainnya,”kata Fety.

Penyebab paling utama banyaknya PNS yang melakukan perceraian karena KDRT yang dilakukan oleh suaminya, sehingga banyak PNS wanita yang lebih dahulu mengajukan cerai kepada suaminya karena tidak tahan dengan tingkah laku sang suami. “Kalau untuk yang KDRT mereka banyak yang mengajukan cerai, tetapi memang ada juga beberapa yang di talak oleh suaminya,” paparnya.

Fetty menyebutkan, dari angka 10 persen, tahun ini hampir 50 orang yang rumah tangganya berakhir di pengadilan. Kebanyakan PNS tidak bisa menyelamatkan rumah tangganya hingga harus bercerai.

“Ya tahun di bawah 50 yang cerai,”ungkap mantan Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor.

Ia pun mengaku telah berupaya agar setiap PNS dilingkungan Pemkot Bogor tidak melakukan perceraian. Bahkan Fetty juga mengaku harus memanggil setiap PNS yang mengajukan perceraiaj ke BKPSDA untuk melakukan memediasi agar tidak jadi bercerai.

Untuk menjadi janda seorang PNS harus melalui proses yang cukup panjang, PNS tersebut harus melakukan mediasi beberapa kali dengan pasangannya, lalu meminta persetujuan atasannya hingga ke Walikota Bogor, serta mengurus berkas adiministrasi untuk menghapus berkas suaminya tersebut.

“Memang salah satu Tupoksi kita adalah memediasi dan melakukan pembinaan kepada PNS, nah salah satunya kepada PNS yang akan bercerai,” kata dia.

Kepala Bidang Pengembangan Karir pada Badan Kepegawaian Pengembangan dan Sumber Daya Aparatur (BKPSDA) Kota Bogor Henny Nuliani menambahkan, dari data yang dimiliki BKPSDA Kota Bogor dari tahun 2014 sampai Januari 2017 setidaknya ada 68 PNS yang melakukan perceraian.

“8 kasus perceraian sudah selesai, 5 kasus sedang proses perceraian dan 3 dalam proses di BKPSDA. Karena setiap PNS yang mau bercerai harus melalui BKPSD terlebih dahulu,” ujarnya.

Adapun PNS yang bercerai dari data yang ada didominasi dari Disdik. Sementara di Kabupaten Bogor, Pengadilan Agama (PA) Cibinong mencatat rata-rata tiap bulan sebanyak 2-6 kasus perceraian menimpa PNS. Kebanyakan, kasus ini terjadi pada kaum hawa. Jika dihitung-hitung, total PNS di Bogor yang terpaksa menjanda tiap bulannya berjumlah 10 orang.

Pelaksana Disubid Pembinaan Pegawai, Bangrir, Badan Kepegawaian, Pen didikan dan Pelatihan Kabupaten Bogor, Indra Setiadi menerangkan, kasus perceraian umum nya terjadi pada kaum Hawa.

PNS perempuan lebih dominan. Kasusnya, perselingkuhan dan ekonomi,” tuturnya.

Untuk persoalan ekonomi, kata Indra, para PNS perem puan kebanyakan tak tahan dengan ulah suaminya yang menganggur. “Kalau sudah tidak bisa dipertahankan, kami berikan rekomendasi untuk melanjutkan perkara tersebut ke pengadilan agama,” tandasnya

Pakai Cadar, Firza Husein Diperiksa Lagi Soal Chat Porno

BOGOR DAILY– Firza Husein memenuhi panggilan polisi untuk menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan pornografi di situs baladacintarizieq. Firza diperiksa sebagai tersangka kasus chat porno, untuk melengkapi keterangan sebelumnya setelah berkasnya dikembalikan ke penyidik (P19) oleh pihak kejaksaan.

Firza tiba di Gedung Direktorat Reskrimsus Polda Metro Jaya sekitar pukul 08.05 WIB, Selasa (4/7/2017). Dia datang dengan mengenakan gamis dan wajahnya ditutupi cadar serta berkaca mata hitam.

Firza datang ditemani pengacaranya, Azis Yanuar. Setibanya di Gedung Direktorat Reskrimsus Polda Metro Jaya, Firza dan pengacaranya langsung menuju ke ruang penyidik.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, pemeriksaan Firza tersebut untuk melengkapi kekurangan pada berkasnya yang sebelumnya dikembalikan ke penyidik.

“Iya besok jam 10.00 WIB akan diperiksa untuk P19-nya dia. Kita akan memeriksa tambahan,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Senin (3/7/2017).

Mengenai materi pemeriksaan, Argo menolak berkomentar. “Itu tidak bisa saya ungkapkan,” imbuhnya.

Sebelumnya, berkas Firza telah dilimpahkan ke Kejati DKI. Namun, jaksa penuntut umum kemudian mengembalikan berkas tersebut ke penyidik karena masih ada kekurangan yang harus dilengkapi.

Dalam kasus tersebut, selain Firza, polisi juga menetapkan Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab sebagai tersangkanya. Namun, hingga saat ini penyidik belum bisa memeriksa Rizieq karena masih berada di luar negeri. Setelah sebelumnya berada di Arab Saudi, Rizieq saat ini dilaporkan berada di Yaman.

Pemilik Tas Misterius di Depok Ternyata Warga Parung Bogor

BOGOR DAILY– Polisi mengamankan Daseng Rustana (33), pemilik tas mencurigakan yang sempat bikin heboh karena diduga berisi bom di depan ITC Depok, Jl Margonda Raya. Daseng mengaku lupa meninggalkan tasnya saat membeli minum.

“Dia lupa sewaktu beli minum,” ujar Kasubag Humas Polresta Depok AKP Rahmaningtyas, Selasa (4/7/2017).

Setelah menaruh tas di trotoar depan ITC Depok, Daseng lalu berjalan kaki ke rumahnya di Parung, Bogor. Dia tinggal bersama ayah tirinya Idang Suparman.

“Dia berjalan kaki ke Parung selama 4 jam dari Depok,” imbuhnya.

Dua buah tas hitam milik Desang itu sempat bikin heboh warga Depok. Warga mencurigai tas tersebut berisi bom lantaran ditinggal begitu saja oleh pemiliknya. Daseng sebelumnya diketahui naik angkot 03 rute Depok-Sawangan dan menyalami penumpang pada Senin (3/7) kemarin.

Setelah diperiksa tim Gegana, tidak ada bahan peledak di dalam tas tersebut. Tas tersebut berisi sejumlah pakaian, handphone dan barang lain yang tidak berbahaya.

Tidak lama setelah temuan tas tersebut, polisi mengamankan Desang di Parung, Bogor. Desang diamankan setelah teleponnya dihubungi oleh saksi bernama Rahmat yang kemudian memberikan alamat rumahnya di Parung, Bogor.

Lewat Jembatan Cipamingkis, Jangan Lupa Siapkan Receh

BOGOR DAILY- Meski telah dilarang pemerintah Kecamatan Jonggol, namun penarikan restribusi di jembatan alternatif Cipamingkis masih berjalan. Ada lebih 20 pengelola yang berjaga-jaga tak jauh dari jembatan untuk mengutip uang dari pengendara.

Tiap pengelola berbagi peran. Dua orang menarik retribusi, ada pula yang mengawal kendaraan di tengah sampai turunan jembatan. Meski harus mengeluarkan uang, sebagian pengendara mengaku tidak keberatan karena mereka merasa terbantu.

Seperti pengakuan Rina Marlina (29). Pengendara asal Tanjungsari ini mengaku takut lewat jembatan kalau tak ada pengelola yang membantu. Baginya, lewat jembatan alternatif ini cukup beresiko.

“Kalau tidak ada yang jaga saya takut karena tanjakan dan turunannya curam,” ujarnya, saat melintasi jembatan alternatif Cipamingkis.

Dia berharap, keputusan pembubaran pengelola atau pungutan restribusi ditinjau ulang. Apalagi, jembatan Cipamingkis hingga kini belum juga diperbaiki. “Wajar kalau pengendara kasih uang receh, yang penting tak ditarif,” ucapnya.

Menurutnya, penempatan rambu penunjuk arah di sepanjang jalur jembatan tak cukup membantu. Terlebih lagi saat kondisi jalan basah setelah hujan. “Kalau habis hujan, pengelola dorong motor dan ada yang narik agar saya tidak jatuh,” terangnya.

Menanggapi hal itu Kapolsek Jonggol, Kompol Agus Supriyanto menerangkan, larangan pungutan yang telah disepakati Muspika adalah pemungutan retribusi dengan cara paksa atau penentuan nominal.

Selama tidak diwajibkan dan tak ada paksaan, maka tindakan itu diperbolehkan. “Kami melarang ada pungutan yang memaksa pengendara saat melewati jembatan sementara dari bambu itu,” tegasnya.

Sejak putusnya jembatan Cipamingkis, kata dia, para pengendara motor diarahkan melewati jalur arternatif. Sementara yang akan menuju Cariu diarahkan melalui jalan Rawabogo desa Weninggalih

Organda Kota Bogor Tolak Angkot Ber-AC, Ini Alasannya

BOGOR DAILY– Munculnya rencana Pemkot Bogor untuk memasangi angkot dengan fasilitas AC mendapat tanggapan beragam. Organda Kota Bogor menolak rencana tersebut karena kondisinya yang dianggap tidak berpihak.

Ketua Organda Kota Bogor M Isak mengatakan, meski memiliki niat mulia untuk membuat penumpang nyaman, namun secara teknis program angkot ber-AC akan menyulitkan pengusaha. Pertama, setiap badan hukum mau tidak mau harus menyesuaikan prototipe angkot yang mendukung untuk dipasang fasiliats AC.

“Ini masalahnya teknis ya.. Sekarang lihat saja angkot yang ada itu pintunya lipat. Kalau dipasang AC otomatis harus ditutup. Itu ribet dengan model angkot yang ada saat ini,”kata Isak

Tak cuma itu, soal tarif pun mau tidak mau dengan adanya fasiliats AC, biaya angkot akan berubah minimal kenaiaknnya antara Rp500 sampai Rp1000. Belum lagi, pengusaha angkot harus bersaing dengan transportasi online yang sekarang ini sudah makin menjamur.

“Dengan tarif sekarang angkot saja sulit bersaing dengan transporatsi online. Gimana kalau tarifnya dinaikan. Jadi kalau kondisinya maish begini, Organda Kota Bogor menolak angkot ber-ac,”tegas Isak.

Bahkan ia menyinggung soal kebijakan Walikota Bogor Bima Arya yang dianggapnya masih setengah hati dalam menyelesaikan masalah transportasi.

“Teu pararuguh. Aya konversi, aya reroiting, ayeuna AC. Jadi loncat-loncat programnya,”sindir Isak.

Sementara itu pandangan lain justru diutarakan  Wakil Ketua DPRD Kota Bogor Jajat Sudrajat. Ia mengapresiasi pemberian bantuan Kementrian Perhubungan (Kemenhub) atas 10 unit mesin pendingin alias AC. Menurutnya,  fasilitas itu dapat memberikan kenyamanan penumpang dalam mengaskes moda transportasi.

“ Kami mengapresiasi. Tapi jangan dilupakan bahwa pembanguna jarngan jalan juga harus diprioritaskan. Arinya transporatsi kota bogor disesuaikan dengan kondisi lapangan.

Jajat pun mengingatkan agar Waliota Bogor Bima Arya komitmen dengan program B-TOP nya.

“Ya fokus saja di sana, kami dewan mneungu eksekusinya,”terang Jajat.

Terpisah, Sekjen Puslitbang Pelatihan dan Pengawasan Kebijakan Publik (P5KP) Kota Bogor Rudi Zaenudin mengatakan, program angkot ber AC harus dipertimbangkan kembali sebelum diterapkan di Kota Bogor. Sebab, ia tak ingin adanya fasilitas AC justru membebankan pengusaha hingga menimbulkan kerugian sama seperti Perusahaan Daerah Jasa Transportas (PDJT).

“Saya kira bangkrutnya PDJT harsu jadi pelajaran pemkot. Teramsuk untuk menerapkan angkot ber-AC ini,”tandasya (metropolitan)

Gerindra Buka Peluang Ahok Dampingi Prabowo di Pilpres 2019

BOGOR DAILY- Nama Prabowo Subianto terus digadang-gadang jadi penantang Joko Widodo (Jokowi) untuk Pemilihan Presiden (Pilres) 2019 mendatang.  Partai Gerindra sebagai partai utama pengusung Prabowo hingga saat ini masih membuka peluang untuk calon pendamping sang Ketua Umum (Ketum).

Ketua DPP Partai Gerindra Desmond Junaidi Mahesa menilai semua pihak berpotensi mendampingi Prabowo Subianto pada Pilpres 2019. Termasuk terhadap sejumlah nama yang beredar belakangan.

Adapun sejumlah pihak yang dinilai cakap mendampingi Prabowo di Pilpres diantaranya datang dari internal PKS. Yakni, Presiden PKS Sohibul Iman, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, dan dan Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno.

“Ya semua orang berpotensi,” ujar Desmond di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (25/4).

Bahkan kata wakil ketua komisi III DPR itu, Gubernur DKI Jakarta yang juga mantan kader Partai Gerindra, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), juga memiliki peluang yang sama untuk mendampingi Prabowo di Pilpres 2019. “Termasuk Ahok juga kita calonkan menjadi wapres kalau memang masyarakat menerima,” pungkas Desmond.

Sebelumnya, nama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menguat untuk maju di Pilpres 2019 usai Pilkada DKI Jakarta. Dia dinilai masih pas menjadi penantang petahana Joko Widodo nantinya.

Lantas pertanyaan muncul soal siapa yang pas mendampingi mantan Danjen Kopassus di Pilpres 2019. Sejumlah nama mulai disebut-sebut. Salah satunya dari internal PKS.

Dari internal PKS, ada tiga figur yang disebut-sebut cocok jadi cawapres Prabowo. Yaitu, Presiden PKS Sohibul Iman, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, dan Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno

Jatuh ke Selokan, Pria Ini Tak Lama Langsung Meninggal

BOGOR DAILY–  Sehari sebelum ditemukan tak bernyawa di depan apotek Jalan Raya Puncak, Ciawi, Kabupaten Bogor, penderita stroke ini sempat alami kejadian menyakitkan.

Menurut karyawan apotek, Wahyu, pria berusia 58 tahun yang akrab disapa Pak Molin itu sempat terjatuh ke saluran air di pinggir jalan.

“Dia jatoh, ditolong warga, sama warga juga mau dipindahin, tapi pengen disini dianya,” ujar Wahyu

Pria bernama asli Lili ini biasanya tidur dan duduk di atas jembatan kayu kecil di depan pos ronda kosong Kampung Seseupan RW 07, Ciawi, dimana dibawahnya terdapat sebuah saluran air.

Akhirnya, Lili pun duduk dan tidur di depan pagar sebuah apotek samping pos ronda tersebut hingga sekitar pukul 13.00 WIB siang tadi, Wahyu mendapatinya sudah tidak bernyawa lagi.

Menurut ketua RT sekitar, A.M Zein Mahmud, Pak Lili sudah sering dijemput oleh anaknya untuk dirawat.

Namun entah kenapa ia kerap kembali ke tempat di sekitaran pos ronda tersebut untuk duduk dan tidur di sana.

“Dia sering dijemput sama keluarganya juga, tapi dia balik lagi ke sana terus. Banyak juga keluarganya yang ada di sini, sering juga dianter, udah dibawa, dateng lagi, dateng lagi,” ujarnya.

Kini janazah Pak Lili berada di RSUD Ciawi dimana pihak rumah sakit sedang menunggu kedatangan keluarganya.